Semantik Bahasa Jawa Staffunyacid



Keterangan eBook
Producer GPL Ghostscript 8.15
CreationDate 2011-10-24T14:42:09-04:00
ModDate 2011-10-24T14:42:09-04:00
Title Microsoft Word - SEMANTIK BAHASA JAWA
Creator PScript5.dll Version 5.2.2
Author Acer Account
Pages 19 Page
Ukuran File 168 KB
Dibuka 38 Kali
Topik Contoh Proposal
Tanggal Unggah Thursday, 17 Nov 2016 - 05:15 PM
Link Unduh
Baca Halaman Penuh BUKA
Rating eBook
Bagi ke Yang Lain

Kesimpulan

i Drs. Mulyana, M. Hum Semantik Bahasa Jawa Kajian Lengkap Dinamika Makna Dalam Bahasa Oktober 2008 KATA PENGANTAR

ii Alhamdullilah, segala puji hanya pantas baagi Allh SWT, atas segala Rahmat dan Karunia-Nya, penulisan buku yang berjudul “SEMANTIK BAHASA JAWA, KAJIAN LENGKAP DINAMIKA DALA M BAHASA ini telah berhasil terselesaikan dengan baik . Buku ini ditulis dengan tujuan semata-mata bagi pe ngembangan ilmu pengetahuan, khusunya bidang kajian ilmu lingu istik (kebahasaan). Perhatian kepada ilmu linguistik sudah berkembang d engan pesat, namun ada sejumlah persoalan musykil terkait dengan seder et pertanyaan, bagaimana bahasa dapat berfungsi dengan baik dan te pat dalam pemakaian sehari-hari. Bagamana pula para pemakai b ahasa bisa saling memahami pesan, makna, dan amksud bahasa yang digun akan dalam berkomunikasi. Buku ini diharapkan hadir dengan mem bawa setumpuk harapan bagi para peminat bahasa, para peneliti, gu ru, mahasiswa, pelajar, dan siapa saja yang berminat memahami baha sa, terutama dalam bidang semantik. Buku atau pustaka kajian makna dalam bahasa Jawa m asih sangat langka, bahkan nyaris belum ada yaang memberi perha tian serius. Hal ini terbukti tidak adanya buku kajian makna dalam bahas a Jawa. Sungguh keadaan yang cukup memprihatinkan. Perkembaangan ba hasa Jawa demikian maju pesat, namun kurang diimbangi keberad aan sumber regerensi yang memadai. Sekali lagi, kehadiran buku ini semoga bisa menjadi penawar dahaga para peminat bahasa. Dalam kesempatan ini, penulis menyampaiakn rasa te rima kasih yaang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang tela h membantu terwujudnya buku ini. Kepada Bapak Rektor, Pembantu Rektor 2, Dekan FBS, Ketua Jurusan PBD, kang Wardi, mas Afendy, par a mahasiswa yang ikut membaca, mengedit, mengkritisi, sungguh kebaik an mereka semoga dicatat sebagai amal dholeh dan mendapat pahala yan g berlipat dari Allah SWT. Akhirnya, penulis tetap menunggu kritik, saran dan masukan dari para pembaca budiman demi perbaikan buku ini selanj utnya. Semoga bermanfaat. Kemloko, Oktober 2008 Mulyana

iii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Pengertian Semantik 1. Etimologi Istilah Semantik 2. Semantik Sebagai Ilmu 3. Istilah yang Dekat dengan Semantik 4. Cabang-cabang Semantik B. Ruang Lingkup Kajian Semantik C. Kedudukan Semantik dalam Kajian Lingusitik D. Hubungan Semantik dengan Ilmu-ilmu Lain 1. Semantik dan Filsafat 2. Semantik dan Psikologi 3. Semantik dan Antropologi 4. Semantik dan Sastra 5. Semantik dan Linguistik E. Tujuan Studi Semantik BAB II OBJEK KAJIAN SEMANTIK A. Pengertian makna B. Faktor-Faktor Penentu Makna C. Teori Makna 1. Teori Makna Referensial 2. Teori Makna Ideasional 3. Teori Makna Behavioral 4. Teori Makna Kontekstual BAB III RELASI BENTUK DAN MAKNA A. Prinsip Relasi Bentuk dan Makna 1. Sinonim 2. Homonim 3. Homograf

iv 4. Homofon 5. Antonim 6. Hiponim 7. Hiponim dan Hipernim 8. Polisemi B. Faktor Terjadinya Perubahan Bentuk 1. Faktor Bentuk 2. Faktor Pemakaian 3. Faktor Dialek BAB IV TIPE MAKNA DAN ETIMOLOGI MAKNA A. Tipe Makna 1. Tipe Makna Denotatif 2. Tipe Makna Konotatif 3. Tipe Makna Gramatikal 4. Tipe Makna Leksikal 5. Tipe Makna Stilistika dan Majas a. Pemilikan Diksi b. Jenis-jenis Majas BAB V LEKSIKOLOGI DAN LEKSIKOGRAFI A. Leksikologi 1. Pengertian Leksikologi 2. Ruang lingkup Leksikologi Jawa B. Leksikografi 1. Pengertian Leksikografi 2. Leksikografi dan Bahasa Jawa 3. Perkamusan a. Jenis-jenis Kamus b. Sifat Kamus c. Penyusunan Kamus BAB VI PERKEMBANGAN DAN PERUBAHAN MAKNA

v A. Sifat Dinamis Bahasa B. Faktor Perubahan Makna 1. Perkembangan dalam Ilmu dan Teknologi 2. Perkembangan Sosial Budaya 3. Perbedaan Bidang Pemakaian 4. Adanya Asosiasi 5. Pertukaran Tanggapan Indera 6. Perbedaan Tanggapan 7. Adanya Penyingkatan 8. Proses Gramatikal 9. Pengembangan Istilah C. Jenis-jenis Perubahan Makna 1. Berdasarkan Ruang Lingkup a. Perubahan Spesifikasi b. Perubahan Generalisasi 2. Berdasarkan Nilai rasa a. Perubahan Ameliorasi b. Perubahan Peyorasi BAB VII IDIOM SEMANTIK A. Idiom Bernuansa Kultural B. Idiom dalam Bahasa Jawa 1. Penyebab Terjadinya Idiom 2. Jenis Idiom Dalam Bahasa Jawa a. Paribasan b. Bebasan c. Saloka d. Wangsalan e. Parikan f. Singkatan dan Akronim BAB VIII PENGKAJIAN DAN PENELITIAN SEMANTIK

vi A. Bahan Pengkajian Semantik B. Teknik dan Metode Analisis Semantik 1. Teknik Analisis Deskriptif-Strukturalis 2. Teknik Analisis Komponensial 3. Teknik Analisis Medan Makna Asosiatif C. Contoh Penelitian Semantik BAB IX PENUTUP DAFTAR PUSTAKA

1 BAB I PENDAHULUAN A. Pengertian Semantik 1. Etimologi Istilah Semantik Semantik berasal dari bahasa Yunani sema ‘tanda’, kemudian berubah menjadi semainein ‘bermakna’ atau ‘berarti’. Bentuk ini kemudian berubah lagi menjadi semantickos ‘berarti atau penting’. Dari kata terakhir inilah diturunkan istilah bidang kajian baru, yaitu semantics ( istilah dalam bahasa Inggris) atau semantik (Istilah dalam bahasa Indonesia). Secara historis, dari sinilah diawalinya sebuah perhatian tentang sesuatu yang memiliki ‘makna’. Pada perkembangannya, Mulyana (19 64:1) mengatakan bahwa, “semantik ialah bidang pengkajian makna kata dalam konteks bahasa tertentu. Wilayah kajiannya meluas sampai pa da asal usul kata, perubahan dan perkembangan makna. Sematik juga mengandung makna to signify atau memaknai. Sebagai istilah teknis, semantik mengandung pengert ian “studi tentang makna”. Dengan anggapan bahwa makna menjadi bagian dari bahasa, maka semantik merupakan bagian dari linguistik. Sep erti halnya bunyi dan tata bahasa, komponen makna dalam hal ini juga mend uduki tingkatan tertentu. Apabila komponen bunyi umumnya menduduki tingkat pertama, tata bahasa pada tingkat kedua, maka komponen makna menduduki tingkat paling akhir. Hubungan ketiga komponen itu sesuai dengan kenyataan bahwa : a) Bahasa pada awalnya merupakan bunyi-bunyi abstra k yang mengacu pada adanya lambang-lambang tertentu. b) Lambang-lambang merupakan seperangkat sistem yan g memiliki tatanan dan hubungan tertentu. c) Seperangkat lambang yang memiliki bentuk dan hub ungan itu mengasosiasikan adanya makna tertentu (Palmer, 1981 : 5).

2 Berdasarkan perkembangannya, bidang semantic kemudi an menjadi ilmu tersendiri yang mapan. Dari istilah semainein ‘berarti’, kemudian berubah menjadi ‘semantics’ yang berarti ‘ the study of meaning’ (kajian tentang makna). Istilah inilah yang kemudia n diambil dalam bahasa Indonesia menjadi ‘semantik’, yang berarti ‘ilmu ar ti kata’. Dalam khazanah kajian linguistic bahasa Jawa, semantic ny aris tidak atau belum tersentuh. Sehingga bidang ini tidak ditemukan dala m buku-buku paramasastra Jawa. Istilah untuk bidang inipun samp ai sekarang belum dikenal luas. Coba kita bandingkan padanan istilah Indonesia dan Jawa berikut: (1) Fonologi tata / kawruh swara (2) Morfologi tata / kawruh tembung (3) Sintaksis tata / kawruh ukara (4) Semantic tata / kawruh teges, makna, arti (?) Secara istilah, semantic adalah salah satu cabang i lmu bahasa yang mengkhususkan perhatian dan pengkajiannya dala m persoalan makna. Hal dan makna yang sama dipakai juga oleh bi dang semantic bahasa Jawa. 2. Semantik Sebagai Ilmu Semantik sebagai ilmu yang berdiri sendiri baru mun cul abad ke-19, sekitar tahun 1820-1925. Ilmu yang relative bar u ini belum disadari oleh ahli yang pada waktu itu. Namun, dorongan kuat untuk mendeskripsikan bahasa dalam banyak demensi, menyeb abkan bidang ini pelan-pelan berkembang dan menjadi solusi bagi seju mlah persoalan yang dihadapi bahasa. Selama ini, banyak masalah te rkait bahasa yang tidak dapat dipecahkan oleh kajian linguistic struc tural-deskripstif. Kajian fonem, morfem, dan kaidah struktur kalimat, lama-la ma dianggap membosankan. Persoalan-persoalan nonstructural, sep erti apa makna kalimat itu sebenarnya? Apa maksud istilah itu? Pes an apa yang dikandung dalam ungkapan ini? dan seterusnya; benar -benar membuat

3 pusing para ahli bahasa deskripstif kala itu. Hal i tu disebabkan bidang-bidang linguistic structural sebelumnya (seperti fo nologi, morfologi, dan sintaksis), tidak cukup memiliki jawaban yang memu askan terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dalam perkembangannya, semantic kemudian semakin ma pan sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah, obje ktif, dan logis. Sejumlah syarat sebagai ilmu pengetahuan ilmiah dim iliki semantik, antara lain: memiliki objek, ada metode, system yang manta p, dan kebenaran universal. (1) Objek studi semantic adalah makna, arti, dan at au maksud suatu kata, kalimat, ungkapan, wacana. (2) System dalam semantic berkaitan dengan system m akna, yaitu pola-pola makna, perubahan dan perkembangan makna. (3) Metode dalam semantic sama dengan metode yang d igunakan dalam pendekatan bahasa, seperti metode kontekstual , metode deskripstif. (4) Sementara itu, kebenaran universal dalam kajian semantic dapat diuji secara ilmiah oleh semua peneliti dalam penel itian kebahasaan. 3. Istilah Yang Dekat Dengan Semantik Kata semantik sebenarnya merupakan istilah yang men unjuk pada studi tentang makna (=arti, Inggris meaning). Istilah semantik sebenarnya merupakan istilah baru di dalam bahasa Inggris. Men genai sejarah istilah itu dapat dibaca karangan A.W. Read yang berjudul, “An Account of the world Semantic ” yang dimuat di dalam majalah Word, No. 4 tahun 19 48 (78-79). Meskipun sudah ada istilah sematik, misaln ya dalam kelompok kata semantic philosophy pada abad ke-17, istilah s emantic baru muncul dan diperkenalkan melalui organisasi filologi Ameri ka (=American Philological Assosiation ) tahun 1894 dengan judul, “ Reflebted Meanings A Point in Sematics ”.

4 Sementara itu, di Perancis berkembang pengkajian ma kna bahasa yang belum tegas benar dalam pengkajian bahasa, khu susnya di bidang semantic berkembang pesat di Perancis istilah yang berpadanan dengan istilah semantics di dalam bahada Inggris yakni sem antique yang diserap melalui bahasa Grika dan diperkenalkan oleh Breal. Di dalam kedua istilah itu, sebenarnya semantik belum tegas membicarakan m akna atau belum tegas membicarakan makna sebagai obyeknya. Yang dib icarakan lebih banyak pada sejarahnya (=historical semantic). Coseriu dan Geckeler (1981:8) mengatakan bahwaa ist ilah semantik yang mulai dipopulerkan tahun 50-an mula-m ula diperkenalkan oleh sarjana Perancis yang bernama M. Breal tahun 1883. Pada halaman yang sama Coseriu dan Geckeler mengatakan, sekurang-kurangnya ada tiga istilah yan g berhubungan dengan semantik yakni : a. Linguistics semantics b. The semantics of logicians c. General semantics 4. Cabang-Cabang Semantik Sematik memiliki obyek studi makna dalam keseluruha n semantika bahasa, namun tidak semua tataran bahasa memiliki m asalah semantic. Hal itu dapat dilihat dari bagan berikut :

5 Tataran tata bahasa atau gramatika dibagi menjadi d ua subtataran, yaitu morfologi dan sintaksis. Morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajar i struktur intern kata, serta proses pembentukannya. Satuan da ri morfologi yaitu morfem dan kata. Contoh : Ajar pe-lajar be-lajar pe- dan be- dapat membedakan makna Sedangkan sintaksis, adalah studi mengenai hubunga n kata dengan kata dalam membentuk satuan yang lebih besar , yaitu frase, klausa, dan kalimat. Sintaksis memiliki satu an yaitu frasa, klausa dan kalimat. Semantik sintaktikal memiliki t ataran bawahan yang disebut : a. Fungsi gramatikal b. Kategori gramatikal c. Peran gramatikal Contoh analisis semantik sintaktikal : Kata Fungsi Si Udin menjaga adiknya di rumah sakit fungsi subjek predikat obyek keterangan kategori nomina verba nomina nomina peran agent benefaktif patient locative Satuan dari proses morfologi dan sintaksis memiliki makna. Oleh karena itu, pada tataran ini ada masalah-masalah se mantik yang disebut semantik gramatikal karena obyek studinya adalah makna-makna gramatikal dari tataran tersebut.

6 Kalau yang menjadi obyek penyelidikan adalah semant ik leksikon, maka jenis semantiknya adalaj semantik leksikal. Semantik leksikal menyelidiki makna yang ada pada l eksem dari bahasa. Oleh karena itu, makna yang ada dalam lekse m disebut makna leksikal. Leksem adalah satuan bahasa bermakna. Istilah lekse m ini dapat dipadankan dengan istilah kata, yang lazim di gunakan dalam studi morfologi dan sintaksis, dan yang lazim didef inisikan sebagai satuan gramatik bebas terkecil. Baik kata tunggal m aupun kompoitum. Contoh : kambing nama hewan hitam jenis warna kambing hitam “orang yang dipersalahkan” B. Ruang Lingkup Kajian Sematik Istilah semantik lebih umum digunakan dalam studi l inguistik dari pada istilah untuk ilmu makna lainnya, seperti semiotika, semiologi, semasiologi, sememik, dan semik. Ini dikarenakan istilah-istilah yang lainnya itu mempunyai cakupan obyek yang cukup luas , yakni mencakup makna tanda atau lambang pada umumnya. Ter masuk tanda lalu lintas, morse, tanda matematika, dan jug a tanda-tanda yang lain sedangkan batasan cakupan dari semantik adalah makna atau arti yang berkenaan dengan bahasa sebagai alat komunikas i vernal. Dari uraian diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa makna bahasa, khususnya makna kata, terpengaruh oleh berbagai kon teks. Makna kata dapat dibangun dalam kaitannya dengan benda at au obyek si luar bahasa. Dalam konsepsi ini, kata berperan sebagai l abel atau pemberi nama pada benda-benda atau obyek-obyek yang berada di alam semesta. Makna kata juga dapat dibentuk oleh konsep si atau pembentukan konsepsi yang terjadi dalam pikiran pen gguna bahasa.

7 Proses pembentukannya terkait dengan pengetahuan at au persepsi penggunaan bahasa tersebut terhadap fenomena, benda atau peristiwa yang terjadi di luar bahasa. Dalam kontek s ini, misalnya penggunaan bahasa akan tidak sama dalam menafsirkan makna kata demokrasi karena persepsi dan konsepsi mereka berbe da terhadap kata itu. Selain kedua konsepsi itu, makna kata jug a dapat dibentuk oleh kaitan antara stimulus, kata dengan respon yan g terjadi dalam suatu peristiwa ujaran. Beranjak dari ketiga konsep si ini maka kajian semantik pada dasarnya sangat bergantung pada dua k ecenderungan. Pertama , makna bahasa dipengaruhi oleh konteks di luar bah asa, obyek dan peristiwa yang ada di alam semesta. Kedua, kajian makna bahasa ditentukan oleh konteks bahasa, yakni oleh a turan kebahasaan satu bahasa. Penamaan Uraian diatas menunjukkan bahwa beberapa konsep das ar dalam semantik penting untuk dipahami. Contoh pengertian sense berbeda dari pengertian reference. Pertama, merujuk kepada hubungan antar kata dalam suatu sistem bahasa dilihat dari kaitan maknanya. Sedangkan yang kedua merujuk kepada hubungan antara kata dengan benda, obyek atau peristiwa di luar bahasa dalam pe mbentukan makna kata. Begitu pula dengan pengertian tentang kalimat, ujar an dan porposisi perlu dipahami dalam kajian antik. Dalam keseharian, kerap tidak kita bedakan atau kalimat dengan ujaran. Kali mat sebagaimana kita pahami satuan tata bahasa yang sekurang-kurang nya terdiri dari subyek dan predikat. Sedangkan ujaran dapat terdiri dari satu kata, frasa atau kalimat yang diujarkan oleh seorang penu tur yang ditandai oleh adanya unsur fonologis, yakni kesenyapan, dala m semantik kedua konsep ini memperlihatkan sosok kajian makna yang berbeda. Makna ujaran, misalnya lebih banyak dibahas dalam s emantik tindak

8 tutur. Peran konteks pembicaraan dalam mengungkapka n makna ujaran sangat penting. Sementara kajian makna kalim at lazimnya lebih memusatkan pada koteks tata bahasa dan usur lain ya ng dapat dicakup dalam tata bahasa dalam bahasa Inggris, mis alnya unsur waktu dapat digramatikakan yang terwujud dalam perb edaan bentuk kata kerja. Mengingat pentingnya konsep-konsep itu, Anda sebaga i pembelajar semantik hendaknya mencermati batasan da n penerapan konsep itu dalam kajian makna bahasa. C. Kedudukan Semantik dalam Kajian Linguistik 1. Aristoteles (384-322 SM) Kata adalah satuan terkecil yang mengandung makna. Yaitu (1) makna yang hadir dari kata itu sendiri secara otono m (makna leksikal), dan (2) makna yang hadir akibat proses g ramatika (makna gramatikal). (Ullman 1977:3) 2. Plato (429-347 SM) Bunyi-bunyi bahasa secara implicit mengandung makna tertentu. Memang ada perbedaan pendapat antara Plato dan Aris toteles. Plato mempercayai tentang adanya hubungan berarti a ntara kata (bunyi-bunyi bahasa) dengan referent-nya. Sedangkan Aristoteles, berpendapat bahwa hubungan antara bentuk dan arti k ata adalah soal antar pemakaiannya (Moulton 1976:3). 3. C. Chr.Reisig (1825) Konsep baru mengenai gramatika : Gramatika terdiri dari tiga unsur utama, yaitu : a) Semasiologi – studi tentang tanda b) Sintaksis – studi tentang susunan kalimat c) Etimologi – studi tentang asal usul kata, peruba han bentuk kata, dan perubahan makna.

9 4. Michel Breal (akhir abad XIX) Dalam karangannya, Essai de Semantique, telah menggunakan istilah semantik. Dan menyebutnya sebagai suatu bid ang ilmu yang baru. 5. Ferdinand de Saussure Dalam bukunya Cours de Linguistique Generale (1916). “Studi linguistik harus difokuskan pada keberadaan bahasa pada waktu tertentu. Pendekatannya harus sinkronis, dan studinya harus deskriptif”. De Saussure juga mengajukan konsep signe (tanda) untuk menunjukkan hubungan antara signifie (yang ditandai) dan signifiant ( yang menandai). Signifie adalah makna atau konsep dari signifiant yang berwujud bunyi-bunyi bahasa. Signifie dan signifiant sebagai signe linguistique adalah satu kesatuan yang merujuk pada satu referent. Yaitu ses uatu berupa benda atau hal yang diluar bahasa. Secara singkat telah diketahui apa yang dimaksud de ngan istilah semantik. Pengertian Linguistik telah kita pahami pula. Untuk itu kita akan melihat semantik lebih dahulu dari si stematika bahasa. Berhaar (1981:124) menggambarkan semantik dilihat d ibawah ini. Kita pun telah mengetahui tataran-tataran linguisti k. Tataran linguistik itu sendiri hanya buatan ahli bahasa seb ab di dalam kehidupan sehari-hari, orang berbicara selamanya di dalam wujud kalimat-kalimat. HRF PT. Team Metal Indonesia Batam . Dilihat dari segi tataran linguistik akan terlihat sperti ini : Wacana Sintaksis Morfologi Morfofonologi

10 Kalau kita perhatikan sebuah bentuk, apakah kata, f rasa, klausa atau kalimat, sebenarnya terdiri dari dua lapis, ya kni lapis bentuk dan lapis makna. Lapisan ini jangan dikacaukan deng an lapis musis dan lapis fasis seperti yang dikemukakan oleh Uhlenbeck (1982:10). Lapis musis yang dimaksud oleh Uhlenbeck berupa intonasi kalimat, melodi kalimat, sedangkan yang di maksudnya dengan laois fatis yakni lapisan yang meliputi kata -kata yang membentuk kalimat. Untuk membicarakan lapis bentuk dan lapis makna, kita ambil bentuk Meja Meja tulis Meja tulis kepunyaan adik Meja tulis kepunyaan adik dan sekarang sudah rusak Setiap bentuk dari deretan diatas, pasti kita tahu maknanya. Dengan demikian ada makna yang muncul pada tataran morfologi, disini bentuk meja dan meja tulis, ada yaang muncul pada tataran sintaksis disini meja tulis itu, meja tulis itu kep unyaan adik, meja tulis itu kepunyaan adik dan sekarang sudah rusak. Persoalan sekarang, bagaimanakah hubungan antara be ntuk dan makna? Hubungan antara bentuk dan makna telah lama

11 dipersoalkan para filsuf. Yang jelas hubungan itu b ersifat arbiter, manasuka. Dengan demikian pula dengan rujukannya. D ikatakan arbiter karena untuk benda yang disebut rumah terla lu banyaak nama lain sesuai dengan nama yang terdapat didalam bahasa yang bersangkutan. Untuk menjelaskan hubungan antar a bentuk, makna dan rujukan. Perhatikan gambar dibawah ini ! Linguistik membatasi diri pada persoalan I dan II, karena hal yang berhubungan dengan III urusan bidang lain. Misalnya bagaimana caranya agar bentuk rumah memenuhi kelayakan sebaga i tempat tinggal. Hal seperti ini menjadi urusan bidang aris tektur. Demikian pula bagaimana penataan ruangan, variasi warna dind ing dan sebagainya yang semuanya merupakan urusan si penata halaman, si penata ruangan dan si penata dekorasi. Semantik lebih menitik beratkan pada bidang II dengan berpangkal dari ruju kan dan bentuk atau lambang. Rujukan boleh saja konkret, bo leh juga abstrak.

12 DAFTAR PUSTAKA Adisumarto, Mukidi. 1992. Pengantar Semantik. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta. Bloomfield, Leonard. 1993. Language. New York: Holt and Co. Chefe, Wallace L. 1973. Meaning and The Structure of Language . Chicago: The University of Chicago Press. Chomsky, Noam. 1965. “Deep Structure, Surface Struc ture, and Semantics Interpretation”, dalam An Interdiciplinary Reader in Philosophy Linguistics and Psychology . Danny D. Soembarg and Leon A. New York: Cambridge UP. Hyems, Dell. 1972. “Model of The Interaction of lan guage and Social Life”, dalam Direction in Sociolinguistics . New York: Holt Inc. Lyons, Jhon. 1976. Semantics. Volume I. London: Cambridge University Press. Nurhayati, Endang. 2006. Linguistik Jawa. Yogyakarta: media Abadi. Palmer, FR. 1981. Semantics. London: Cambridge UP. Poerwadarminto, WJS. 1936. Baoesastra Djawa. Batavia: Groningen. Sasongko. Sri satria. 1998. Paramasastra Jawa gagrag Anyar . Jakarta : Pusat bahasa Jakarta. Subroto, Edi D. 1998. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Jawa . Jakarta: Depdikbud. Sudaryanto, dkk. 2001. Tata Bahasa Baku Bahasa Jawa . Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Suhono, Antun. 1952. Paramasastra Djawa. Djogja:Hien Hoo Sien. Tarigan, henry G. 1979. Pengajaran Semantik. Badung: Angkasa. Ullman, Stephen. 1977. Semantics An Introduction to the Science of Meaning . Oxford: basil blacwll. Wedhawati. dkk. 1988. Tipe-tipe Semantik Bahasa Jawa . Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud.

13

Dokumen Terkait

Pembayaran Seketika Pertama Di Dunia Talk Fusion

Pembayaran Seketika Pertama Di Dunia Talk Fusion

Pembayaran seketika pertama di dunia rencana kompensasi tang.

Contoh Proposal / 43 kali tayang / 3,619KB

Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa Melalui

Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Mahasiswa Melalui

Volume 6 no 2 januari 2010 jurnal administrasi bisnis 1 peng.

Contoh Proposal / 22 kali tayang / 122KB

Analisis Permintaan Dan Penawaran Ebookplusin

Analisis Permintaan Dan Penawaran Ebookplusin

Analisis permintaan dan penawaran pdf books lists discover a.

Contoh Proposal / 16 kali tayang / 42KB

Rekap Surat Masuk Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas

Rekap Surat Masuk Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas

Rekap surat masuk jurusan budidaya pertanian fakultas pertan.

Contoh Proposal / 17 kali tayang / 355KB

Brownie Adventures Printables Girlguiding 1st Loftus

Brownie Adventures Printables Girlguiding 1st Loftus

Brownie adventures printables robert baden powell held use p.

Contoh Proposal / 14 kali tayang / 837KB

The Life Of Riley Volume Two Pdf Free Download Booksread

The Life Of Riley Volume Two Pdf Free Download Booksread

Proposal jalan jalan pdf books free download here pdfsdocume.

Contoh Proposal / 18 kali tayang / 46KB