Mathematical Habits Of Mind Mhm Berbasis Masalah Terhadap



Keterangan eBook
Title Microsoft Word - 4Ali Mahmudi dan Utari Sumarmo EDIT
Author Windows XP
Creator Microsoft Word - 4Ali Mahmudi dan Utari Sumarmo EDIT
Producer doPDF Ver 7.0 Build 323 (Windows XP Professional Edition (Service Pack 3�
CreationDate 2011-06-21T12:27:37+07:00
Pages 14 Page
Ukuran File 133 KB
Dibuka 10 Kali
Topik Contoh Proposal
Tanggal Unggah Friday, 25 Nov 2016 - 05:44 AM
Link Unduh
Baca Halaman Penuh BUKA
Rating eBook
Bagi ke Yang Lain

Kesimpulan

216 PENGARUH STRATEGI MATHEMATICAL HABITS OF MIND MHM BERBASIS MASALAH TERHADAP KREATIVITAS SISWA Ali Mahmudi dan Utari Sumarmo FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta dan Sekolah Pascasarjana UPI (ali_uny73@yahoo.com; HP: 081328728725) Abstract: The Effects of the Problem-Based MHM Strategy on the Mathematical Creative Thinking Ability and Perception of Creativity. This paper presents findings from a quasi-experimental study with a static group comparison design by using the problem-based MHM instructional strategy conducted to investigate students’ mathematical creative thinking ability (MCTA) and perception of creativity (PoC). The study involved 126 students from two junior high schools of high and middle categories in Yogyakarta. The instruments were a test of Mathematical Prior Ability (MPA), a test of MCTA, and a scale of PoC. The data were analyzed using the two-way ANOVA and Chi-Square test. The study found that the problem-based MHM instructional strategy was able to improve students’ MCTA better than the conventional instruction, there was association between MCTA and PoC, there was an interaction between the school category and the instructional category on PoC, and there was no such interaction on MCTA. Keywords: problem-based MHM instructional strategy, mathematical creative thinking ability, perception of creativity PENDAHULUAN Dalam kehidupannya, tiap individu senantiasa menghadapi masalah, dalam skala sempit maupun luas, sederhana maupun kompleks. Kesuksesan indivi-du antara lain ditentukan oleh kreati-vitasnya dalam menyelesaikan masalah. Individu kreatif memiliki beberapa ka-rakteristik yang berbeda dengan indi-vidu biasa. Individu kreatif meman-dang masalah sebagai tantangan yang harus dihadapi, bukan dihindari. Indi-vidu kreatif juga memandang masalah dari berbagai perspektif yang memung-kinkannya memperoleh berbagai alter-natif solusi. Kemampuan berpikir kreatif meru-pakan salah satu kemampuan yang di-kehendaki dunia kerja (Career Center Maine Department of Labor USA, 2001). Selain itu, pengembangan kemampuan berpikir kreatif merupakan salah satu fokus pembelajaran matematika. Mela-lui pembelajaran matematika, siswa diharapkan memiliki kemampuan ber-pikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta memiliki kemampuan bekerja sama (Depdiknas, 2004). Institusi pendidikan memiliki peran dan tanggung jawab untuk membekali peserta didik kemampuan-kemampuan yang berguna bagi kehidupan mereka.

217 Pengaruh Strategi Mathematical Habits of Mind (MHM) Berbasis Masalah Namun demikian, peran dan tanggung jawab tersebut tampaknya belum di-lakukan secara optimal. Hasil penelitian McGregor (2007) menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga orang di Amerika yang berusia 16 sampai 25 tahun me-nyatakan bahwa institusi pendidikan tidak membekali mereka kemampuan-kemampuan penting yang diperlukan untuk menghadapi tantangan kehidup-an. Kemampuan-kemampuan tersebut diantaranya adalah kemampuan ber-pikir kreatif. Isaksen, et al. (Grieshober, 2004) mendefinisikan berpikir kreatif sebagai proses konstruksi ide yang menekankan pada aspek kelancaran, keluwesan, ke-baruan, dan keterincian. Komponen ke-baruan dalam berpikir kreatif juga di-kemukakan oleh McGregor (2007); Livne (2008); dan Martin (2009). Mc Gregor (2007) mendefinisikan berpikir kreatif sebagai berpikir yang mengarah pada pemerolehan wawasan baru, pen-dekatan baru, perspektif baru, atau cara baru dalam memahami sesuatu. Menu-rut Livne (2008), kemampuan berpikir kreatif merujuk pada kemampuan un-tuk menghasilkan solusi bervariasi yang bersifat baru terhadap masalah yang bersifat terbuka. Martin (2009) mende-finisikan kemampuan berpikir kreatif sebagai kemampuan untuk menghasil-kan ide atau cara baru dalam meng-hasilkan suatu produk. Pengembangan kemampuan ber-pikir kreatif dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu faktor tersebut adalah persepsi terhadap kreativitas. Secara umum, terdapat dua pandangan ber-beda mengenai kreativitas. Pandangan pertama menyatakan bahwa kreativitas hanya dimiliki oleh individu dengan karakteristik tertentu (Berg, 1999; Getzel & Jackson dalam Alexander, 2007; Briggs dan Davis, 2008). Menurut Berg (2009), kreativitas hanya dimiliki oleh individu jenius berkemampuan luar biasa pada bidang-bidang tertentu, se-perti sains, sastra, atau seni. Kreativitas juga dipandang bersifat magis dan mis-terius yang melibatkan aktivitas bawah sadar. Sementara, menurut Getzel dan Jackson (Alexander, 2007), kreativitas sering dikaitkan dengan sikap meng-ganggu dan membuat gaduh yang sulit dikendalikan. Briggs dan Davis (2008) melaporkan bahwa hanya sedikit maha-siswa yang memandang bahwa kreati-vitas berkaitan dengan cara berpikir. Pandangan kedua mengenai kreati-vitas dinyatakan oleh Dunbar dan Weisberg (Matlin, 2003) dan Treffinger (Alexander, 2007) bahwa kreativitas da-pat dimiliki oleh individu dengan ke-mampuan biasa. Dunbar dan Weisberg (Matlin, 2003) menyatakan bahwa kre-ativitas merujuk pada penggunaan ke-mampuan berpikir dalam menyelesai-kan masalah sehari-hari yang dapat di-lakukan oleh individu berkemampuan biasa. Treffinger (Alexander, 2007) me-ngemukakan bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki potensi kreatif. Pandangan-pandangan tersebut mene-gaskan bahwa kreativitas dapat dimiliki oleh siapapun, tidak hanya oleh indivi-du berkemampuan luar biasa. Pengembangan kemampuan berpi-kir kreatif perlu dilakukan secara si-multan dengan pengembangan persepsi yang tepat terhadap kreativitas. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Mann (2005) yang menunjukkan bahwa per-

218 Cakrawala Pendidikan, Juni 2011, Th. XXX, No. 2 sepsi terhadap kreativitas merupakan salah satu penduga yang baik bagi kreativitas. Siswa yang memiliki per-sepsi positif terhadap kreativitas lebih berpotensi menjadi kreatif. Sebaliknya, persepsi yang tidak tepat menjadikan pengembangan kreativitas tidak mudah dilakukan. Hal ini dapat dipahami ka-rena individu yang memiliki persepsi tidak tepat, seperti meyakini diri tidak kreatif dan di sisi lain juga meyakini bahwa kreativitas hanya dimiliki oleh individu jenius, tentu tidak akan me-lakukan upaya sadar untuk mengem-bangkan kemampuan berpikir kreatif. Kesuksesan individu sangat diten-tukan oleh kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan. Kebiasaan-kebiasaan positif yang dilakukan secara konsisten ber-potensi dapat membentuk kemampuan-kemampuan positif. Cara berpikir de-mikian dirujuk oleh Millman dan Jacobbe (2008) untuk mengembangkan strategi Mathematical Habits of Mind (MHM) yang dapat digunakan untuk membangun kemampuan berpikir kre-atif melalui pembiasaan atau pembu-dayaan berpikir matematis. Mengem-bangkan kemampuan berpikir kreatif matematis dengan cara mengembang-kan kebiasaan berpikir matematis se-jalan dengan pendapat Sternberg (2006) yang memandang kreativitas sebagai kebiasaan. Hasil penelitian Jacobbe (Millman dan Jacobbe, 2008) menun-jukkan bahwa siswa yang mengikuti pembelajaran dengan strategi MHM berbasis masalah memiliki kinerja yang baik dalam pemecahan masalah. Menurut Millman dan Jacobbe (2008), strategi MHM terdiri atas enam kegiatan, yaitu (1) mengeksplorasi ide-ide matematis; (2) merefleksi kebenaran atau kesesuaian jawaban; (3) mengiden-tifikasi strategi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang le-bih luas; (4) bertanya pada diri sendiri apakah terdapat “sesuatu yang lebih” dari aktivitas matematika yang dilaku-kan (generalisasi); (5) memformulasi per-tanyaan; dan (6) mengkonstruksi con-toh. Kegiatan-kegiatan ini dapat dipan-dang sebagai kebiasaan-kebiasaan ber-pikir matematis yang apabila dilakukan secara konsisten berpotensi dapat mem-bentuk kemampuan berpikir kratif ma-tematis. Kemampuan berpikir kreatif mate-matis tidak tumbuh di ruang hampa, melainkan memerlukan daya dukung. Menurut Isaksen (Alexander, 2007), da-ya dukung tersebut dapat berupa kon-teks, situasi, atau faktor sosial. Konteks tersebut dapat berupa masalah yang menantang sebagai pemicu bagi proses belajar siswa. Dalam hal ini, masalah tidak lagi dipandang sebagai penerapan konsep yang ditempatkan di akhir pem-belajaran, melainkan di tahap awal pem-belajaran sebagai pemicu proses belajar siswa dalam membangun pengetahuan dan mengembangkan kemampuan ma-tematis. Pembelajaran yang memiliki karakteristik demikian disebut pem-belajaran berbasis masalah (Fogarty, 1997; Center for Instructional Development & Research, 2004; dan Roh, 2003). Keunggulan pembelajaran berbasis masalah dibandingkan pembelajaran konvensional dilaporkan beberapa pe-neliti, seperti Permana (2004) serta Rat-naningsih dan Herman (2006). Permana (2004) melaporkan bahwa siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis masa-

219 Pengaruh Strategi Mathematical Habits of Mind (MHM) Berbasis Masalah lah memiliki kemampuan pemecahan masalah, penalaran, dan komunikasi matematis yang lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran se-cara konvensional. Ratnaningsih dan Herman (2006) melaporkan bahwa sis-wa yang mengikuti pembelajaran ber-basis masalah memiliki kemampuan penalaran matematis yang lebih baik daripada siswa yang mengikuti pem-belajaran secara konvensional. Uraian di atas menunjukkan bahwa strategi MHM dan pembelajaran ber-basis masalah memiliki potensi untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif. Hal demikian mendorong pe-neliti untuk mengintegrasikan pembe-lajaran berbasis masalah dengan stra-tegi MHM. Selanjutnya, pembelajaran demikian disebut pembelajaran dengan strategi MHM berbasis masalah. Mela-lui pembelajaran demikian, secara kola-boratif siswa melakukan kebiasaan-ke-biasaan berpikir matematis untuk meng-eksplorasi masalah, fakta, informasi, da-ta, atau strategi penyelesaian masalah. Siswa juga mengkonstruksi contoh dan memformulasi pertanyaan terkait pe-ngetahuan yang telah dibangun atau soal yang telah diselesaikan. Melalui kegiatan-kegiatan demikian, siswa da-pat membangun pengetahuan dan se-kaligus mengembangkan kemampuan berpikir kreatif matematis. Pembelajar-an dengan strategi MHM berbasis ma-salah juga berpotensi sebagai sarana un-tuk mengembangkan persepsi yang te-pat terhadap kreativitas. Misalnya, me-lalui pembelajaran demikian, siswa me-yakini bahwa soal matematika dapat memiliki lebih dari satu solusi atau stra-tegi penyelesaian. Strategi MHM ber-basis masalah perlu dipraktikkan dalam pembelajaran matematika untuk selan-jutnya dikaji pengaruhnya terhadap ke-mampuan berpikir kreatif matematis dan persepsi terhadap kreativitas. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kuasi-eksperimen dengan desain per-bandingan kelompok statis (Ruseffendi, 2005). Penelitian ini melibatkan dua ka-tegori kelas sampel, yaitu kelas ekspe-rimen dan kelas kontrol. Kelas-kelas sampel tidak dibentuk dengan cara me-nempatkan secara acak subjek-subjek penelitian ke dalam kelas-kelas sampel tersebut, melainkan menggunakan ke-las-kelas yang ada. Di kelas eksperimen dan kelas kontrol berturut-turut dilak-sanakan pembelajaran dengan strategi MHM berbasis masalah dan pembe-lajaran secara konvensional. Pada akhir pembelajaran, siswa kedua kelas diberi tes kemampuan berpikir kreatif mate-matis dan skala persepsi terhadap kre-ativitas. Penelitian ini dilaksanakan pada Juli sampai November 2009. Penelitian ini mengkaji pengaruh pembelajaran dengan strategi MHM berbasis masalah terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis dan persepsi terhadap kreativitas. Pengkajian lebih komprehensif dilakukan dengan me-ninjau atau melibatkan faktor Kemam-puan Awal Matematis (KAM) dan fak-tor kategori sekolah sebagai variabel kontrol. Populasi penelitian ini adalah se-luruh siswa dari dua SMP di Kota Yog-yakarta dengan kategori berbeda, yaitu kategori atas dan kategori sedang. Dari masing-masing kategori sekolah terse-

220 Cakrawala Pendidikan, Juni 2011, Th. XXX, No. 2 but dipilih dua kelas sampel, yaitu ke-las eksperimen dan kelas kontrol. Kelas-kelas ini tidak ditentukan secara acak, melainkan dipilih kelas-kelas yang ti-dak memiliki jadwal beririsan karena peneliti bertindak sebagai pengajar. Pa-da sekolah kategori atas, banyaknya sis-wa kelas eksperimen dan kelas kontrol masing-masing adalah 31 siswa. Pada sekolah kategori sedang, masing-ma-sing adalah 32 siswa. Tes kemampuan berpikir kreatif ma-tematis terdiri atas 6 butir soal uraian untuk mengukur aspek-aspek kemam-puan berpikir kreatif matematis, yaitu aspek kelancaran, keluwesan, kebaruan, dan keterincian. Berikut adalah contoh soal kemampuan berpikir kreatif mate-matis. Ali dan Joko melakukan perjalanan dari kota A ke kota B. Mereka berang-kat pada saat yang sama dan melalui jalan yang sama. Ali menempuh se-paruh jarak perjalanannya dengan kece-patan 1V dan separuh jarak berikutnya dengan kecepatan 2V. Joko menempuh separuh waktu perjalanannya dengan kecepatan 1V dan separuh waktu beri-kutnya dengan kecepatan 2V. Siapakah yang lebih dahulu sampai ke kota B? Gunakan beberapa cara untuk men-jelaskan jawabanmu. Skala persepsi terhadap kreativitas terdiri atas 15 butir pernyataan masing-masing dengan 4 kategori pilihan, yaitu sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Persepsi terhadap kreativitas mencakup lima aspek, yaitu aspek potensi kreatif, lingkup kreati-vitas, karakteristik ide kreatif, individu kreatif, dan pengembangan kreativitas. Berikut diberikan beberapa contoh butir skala persepsi terhadap kreativitas.  Orang berkemampuan biasa bisa menjadi kreatif.  Kreativitas diperlukan pada semua bidang kehidupan, termasuk mate-matika.  Kreativitas dapat dihasilkan dengan menggabungkan, mengubah, atau memperbaiki ide-ide yang telah ada.  Orang kreatif sulit menerima pen-dapat yang berbeda dari orang lain.  Pembelajaran matematika dapat di-gunakan untuk mengembangkan kreativitas siswa. Analisis data menggunakan anova dua jalur untuk menguji pengaruh pem-belajaran dengan strategi MHM ber-basis masalah terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis dan persepsi terhadap kreativitas dengan meninjau faktor kategori sekolah dan faktor KAM. Pengujian asosiasi antara ke-mampuan berpikir kreatif matematis dengan persepsi terhadap kreativitas digunakan uji Chi-Kuadrat. HASIL Berikut berturut-turut disajikan des-kripsi data kemampuan berpikir kreatif matematis siswa dan persepsi siswa terhadap kreativitas.

221 Pengaruh Strategi Mathematical Habits of Mind (MHM) Berbasis Masalah Tabel 1. Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa Berdasarkan Kategori KAM, Sekolah, dan Pembelajaran Kategori KAM Ukuran Statatistik MHM Berbasis Masalah Konvensional Sekolah Atas Sekolah Sedang Total Sekolah Atas Sekolah Sedang Total Tinggi Banyak Siswa 10 2 12 9 0 9 Rata-rata 43,90 43,50 43,83 41,56 0 41,56 Simpangan Baku 8,17 6,36 7,64 10,84 0 10.84 Sedang Banyak Siswa 11 11 22 12 19 31 Rata-rata 37,46 40,64 39,05 33,42 32,79 33,10 Simpangan Baku 13,71 9,86 11,77 9.81 12,01 11,04 Rendah Banyak Siswa 10 19 29 10 13 23 Rata-rata 39,80 36,90 37,90 30,10 25,00 27,51 Simpangan Baku 10,61 9,40 9,75 8,21 12,68 11.02 Total Banyak Siswa 31 32 63 31 32 63 Rata-rata 40,29 38,59 39,43 34,71 29,63 32,13 Simpangan Baku 11,13 9,42 10,25 10,42 12,68 11,81 Catatan: Skor ideal adalah 70 Tabel 2. Persepsi Siswa terhadap Kreativitas Berdasarkan Kategori KAM, Sekolah dan Pembelajaran Kategori KAM Ukuran Statatistik Pembelajaran MHM Pembelajaran Konvensional Sekolah Atas Sekolah Sedang Total Sekolah Atas Sekolah Sedang Total Tinggi Banyak Siswa 10 2 12 9 0 9 Rata-rata 45,64 38,97 44,53 41,95 0 41,95 Simpangan Baku 6,84 1.88 6,73 6,17 0 6,17 Sedang Banyak Siswa 11 11 22 12 19 31 Rata-rata 43,24 42,66 42.95 46,90 38,77 41,91 Simpangan Baku 4.81 2,36 3,71 6,04 5,56 6,93 Rendah Banyak Siswa 10 19 29 10 13 23 Rata-rata 47,00 44,71 45,50 43,51 37,57 40,15 Simpangan Baku 3,55 5,349 4,87 3,99 4,85 5,33 Total Banyak Siswa 31 32 63 31 32 63 Rata-rata 45,23 43,65 44,42 44,37 38,28 41,27 Simpangan Baku 5,30 4,58 4,97 5,73 5,24 6,25 Keterangan: Skor ideal adalah 58,23 Hasil analisis data menunjukkan bahwa pada masing-masing kategori sekolah maupun secara keseluruhan, pembelajaran dengan strategi MHM

222 Cakrawala Pendidikan, Juni 2011, Th. XXX, No. 2 berbasis masalah berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis siswa; dengan nilai probabilitas uji (nilai p) berturut-turut adalah 0,049; 0,001; dan 0,000. Pada sekolah kategori sedang maupun secara keseluruhan, pembelajaran dengan strategi MHM berbasis masalah juga berpengaruh ter-hadap persepsi siswa terhadap kreati-vitas. Sebaliknya, pada sekolah kategori atas tidak terdapat pengaruh demikian; dengan nilai p berturut-turut adalah 0,000; 0,001; dan 0,393. Hasil analisis data menunjukkan bahwa faktor kategori sekolah ber-pengaruh terhadap persepsi terhadap kreativitas dan sebalimya tidak ber-pengaruh terhadap kemampuan berpi-kir kreatif matematis; dengan nilai p berturut-turut adalah 0,000 dan 0,086. Di sisi lain, pada masing-masing kate-gori sekolah, faktor KAM tidak berpe-ngaruh terhadap persepsi terhadap kre-ativitas; dengan nilai p berturut-turut adalah 0,654 dan 0,394. Pada sekolah kategori atas, faktor KAM berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis. Sebaliknya, pada sekolah kategori sedang, tidak terdapat penga-ruh demikian; dengan nilai p berturut-turut adalah 0,040 dan 0,114. Hasil analisis data juga menunjuk-kan bahwa faktor pembelajaran ber-interaksi dengan faktor kategori sekolah terhadap persepsi siswa terhadap kre-ativitas dan sebaliknya faktor pembe-lajaran tidak berinteraksi dengan faktor kategori sekolah terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis; dengan nilai p berturut-turut adalah 0,388 dan 0,017. Interaksi antara faktor pembelajaran de-ngan faktor kategori sekolah terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis dan persepsi terhadap kreativitas ber-turut-turut disajikan pada Gambar 1 dan Gambar 2 berikut. Gambar 1. Grafik Interaksi antara Faktor Pembelajaran dengan Faktor Kategori Sekolah terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis (KBKM AtasSedangTotalKategori SekolahPemb MHM Berbasis Masalah40.290338.593839.4286Pemb Konvensional34.709729.62532.127051015202530354045Rata-Rata KBKM

223 Pengaruh Strategi Mathematical Habits of Mind (MHM) Berbasis Masalah Gambar 2. Grafik Interaksi antara Faktor Pembelajaran dengan Faktor Kategori Sekolah terhadap Persepsi terhadap Kreativitas (PtK) Hasil analisis data menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif ma-tematis siswa berasosiasi dengan per-sepsi siswa terhadap kreativitas dengan koefisien kontingensi C = 0,508 dan nilai p adalah 0,005. Berikut disajikan tabel kontingensi antara kemampuan berpi-kir kreatif matematis dengan persepsi terhadap kreativitas. Tabel 3. Asosiasi antara Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa dengan Persepsi Siswa terhadap Kreativitas Persepsi terhadap Kreativitas Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Tinggi Sedang Rendah Total Sangat Tinggi 2 1 1 4 Tinggi 0 8 12 20 Sedang 0 15 8 23 Rendah 3 4 8 15 Sangat Rendah 0 0 1 1 Total 5 28 30 63 PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bah-wa pembelajaran dengan strategi MHM berbasis masalah berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis siswa. Pembelajaran demikian juga ber-pengaruh terhadap persepsi siswa ter-hadap kreativitas, terutama pada se-kolah kategori sedang. Temuan ini me-nunjukkan bahwa strategi MHM ber-basis masalah lebih unggul daripada pembelajaran konvensional dalam me-ngembangkan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa maupun per-sepsi siswa terhadap kreativitas, teruta-ma pada siswa sekolah kategori sedang. AtasSedangTotalKategori SekolahPemb MHM Berbasis Masalah45.2343.6544.42Pemb Konvensional44.3738.2841.2734363840424446Rata-Rata PtK

224 Cakrawala Pendidikan, Juni 2011, Th. XXX, No. 2 Temuan ini mengindikasikan bahwa siswa sekolah kategori sedang memper-oleh manfaat lebih dari pembelajaran dengan strategi MHM berbasis masalah dalam mengembangkan persepsi siswa terhadap kreativitas. Keunggulan pembelajaran dengan strategi MHM berbasis masalah di-bandingkan pembelajaran secara kon-vensional dalam mengembangkan ke-mampuan berpikir kratif matematis dan persepsi siswa terhadap kreativitas da-pat dijelaskan sebagai berikut. Kebiasa-an mengeksplorasi ide-ide matematis dalam rangkaian pembelajaran dengan strategi MHM berbasis masalah men-dorong siswa berpikir fleksibel. Cara berpikir demikian memungkinkan sis-wa memperoleh berbagai solusi atau strategi penyelesaian masalah. Sangat dimungkinkan salah satu solusi atau strategi tersebut bersifat baru atau unik. Dengan demikian, kebiasaan tersebut dapat mengembangkan aspek-aspek ke-mampuan berpikir kreatif, yaitu ke-luwesan dan kebaruan. Kebiasaan lain yang dibina dalam rangkaian pembelajaran MHM berbasis masalah adalah memformulasi perta-nyaan dan mengkonstruksi contoh yang menantang. Kebiasaan demikian me-rupakan latihan yang baik untuk me-ngembangkan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa dalam aspek kelancaran, keluwesan, dan kebaruan. Penjelasan tersebut sejalan dengan te-muan Leung (1997) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signi-fikan antara kemampuan berpikir kre-atif matematis dengan kemampuan mengajukan pertanyaan. Kebiasaan lain yang dibangun me-lalui pembelajaran dengan stratgei MHM berbasis masalah adalah meng-identifikasi strategi pemecahan masalah yang dapat diterapkan untuk menye-lesaikan masalah dalam skala lebih luas dan bertanya pada diri sendiri apakah terdapat “sesuatu yang lebih” dari ak-tivitas matematika yang telah dilaku-kan. Kebiasaan-kebiasaan demikian me-mungkinkan siswa membangun penge-tahuan atau konsep dan strategi mereka sendiri untuk menyelesaikan masalah. Kebiasaan demikian merupakan sejalan dengan filosofi konstruktivisme. Menu-rut Hein (1996), konstruktivisme meng-asumsikan bahwa siswa harus meng-konstruksi pengetahuan mereka sendi-ri. Kebiasaan demikian memungkinkan siswa mengembangkan potensi kreatif-nya. Konstruktivisme dan berpikir kre-atif mempunyai ide atau kata kunci sama, yakni mengkonstruksi atau men-cipta. Individu dikatakan kreatif apabila ia mampu mencipta atau mengkons-truksi. Sebaliknya dapat dikatakan bah-wa pembelajaran dengan filosofi kon-struktivisme sebagai proses kreatif. Masalah kontekstual juga berperan penting sebagai sarana bagi siswa un-tuk membangun kemampuan berpikir kreatif matematis. Kemampuan tersebut tidak tumbuh di ruang hampa, melain-kan memerlukan daya dukung. Menu-rut Isaken (Alexander, 2007), daya du-kung tersebut dapat meliputi konteks, tempat, situasi, iklim, atau faktor sosial. Dalam hal ini, masalah kontekstual berperan sebagai pemicu bagi proses berpikir kreatif siswa untuk melakukan aktivitas-aktivitas kreatif seperti mela-kukan uji coba, mengajukan dugaan,

225 Pengaruh Strategi Mathematical Habits of Mind (MHM) Berbasis Masalah mengeksplorasi berbagai alternatif stra-tegi penyelesaian masalah, dan me-nyimpulkan untuk menemukan solusi atau strategi kreatif. Aktivitas belajar siswa secara indi-vidual maupun berkolaborasi dengan siswa lain dalam rangkaian pembe-lajaran dengan strategi MHM berbasis masalah memberi peluang berkem-bangnya kemampuan aktual dan poten-sial siswa sesuai dengan teori yang di-kemukakan oleh Vigotsky (1978). Per-kembangan aktual diperoleh ketika sis-wa melakukan aktivitas matematis se-perti menyelesaikan masalah matematis secara individual dan perkembangan potensial dicapai ketika siswa berinter-aksi dengan orang lain dengan kemam-puan lebih tinggi. Dalam konteks pem-belajaran, orang lain tersebut adalah guru atau teman diskusi kelompok yang memiliki kemampuan lebih. Per-kembangan potensial ini dapat dipicu dengan masalah yang menantang. Kebiasaan matematis yang dilaku-kan secara bersinambung juga dapat menumbuhkan persepsi yang tepat ter-hadap kreativitas. Ketika siswa mene-mukan beragam solusi atau strategi pe-nyelesaian masalah, mereka akan me-yakini bahwa masalah matematis dapat memiliki lebih dari satu jawaban atau strategi. Selain itu, ketika siswa menya-dari bahwa ia dapat menyelesaikan suatu masalah dengan strategi mereka sendiri, siswa juga akan memandang positif diri mereka sendiri. Dari Tabel 1 diketahui bahwa ke-cuali pada sekolah kategori sedang, se-makin tinggi kemampuan awal mate-matis (KAM) siswa, semakin tinggi pula kemampuan berpikir kreatif matematis-nya. Temuan ini menunjukkan bahwa faktor KAM berpengaruh terhadap ter-hadap kemampuan berpikir kreatif ma-tematis siswa. Dari Tabel 1 diketahui pula bahwa siswa dengan kategori KAM tinggi pada sekolah kategori atas lebih banyak daripada siswa dengan kategori KAM tinggi pada sekolah kate-gori sedang. Selain itu, siswa dengan kategori KAM rendah pada sekolah kategori sedang lebih banyak daripada siswa dengan KAM rendah pada seko-lah kategori atas. Temuan ini meng-gambarkan bahwa katagori sekolah se-jalan dengan kategori KAM. Hasil penelitian menunjukkan bah-wa faktor KAM tidak berpengaruh ter-hadap persepsi terhadap kreativitas. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ter-dapat perbedaan persepsi siswa terha-dap kreativitas antarkategori KAM. Dari Tabel 2 diketahui bahwa siswa de-ngan KAM rendah memiliki persepsi yang lebih baik terhadap kreativitas daripada siswa dengan kategori KAM lebih tinggi. Temuan ini mengindikasi-kan bahwa siswa dengan kategori KAM rendah memperoleh manfaat lebih dari strategi MHM berbasis masalah dalam mengembangkan persepsi terhadap kreativitas. Temuan ini sejalan dengan temuan lain yang menunjukkan bahwa siswa sekolah kategori sedang memper-oleh manfaat lebih dari strategi MHM berbasis masalah dalam pencapaian ke-mampuan berpikir kreatif matematis. Di sisi lain, kategori KAM sejalan de-ngan kategori sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bah-wa faktor kategori sekolah berpengaruh terhadap persepsi terhadap kreativitas dan sebaliknya tidak berpengaruh

226 Cakrawala Pendidikan, Juni 2011, Th. XXX, No. 2 terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis siswa. Hasil analisis lebih lanjut dengan uji-t menunjukkan bahwa siswa sekolah kategori atas yang meng-ikuti pembelajaran secara konvensional memiliki kemampuan berpikir kreatif matematis yang lebih baik daripada sis-wa sekolah kategori sedang yang meng-ikuti pembelajaran demikian. Di sisi la-in, tidak terdapat perbedaan kemampu-an berpikir kreatif matematis siswa yang mengikuti pembelajaran dengan strategi MHM berbasis masalah antar-kategori sekolah. Temuan demikian mengindikasikan bahwa siswa sekolah kategori sedang memperoleh manfaat lebih dari pembelajaran dengan strategi MHM berbasis masalah dalam penca-paian kemampuan berpikir kreatif ma-tematis. Sebagaimana diuraikan di atas, sis-wa dengan kategori KAM rendah dan siswa sekolah kategori sedang memper-oleh manfaat lebih dari strategi MHM berbasis masalah dalam pencapaian ke-mampuan berpikir kreatif matematis dan persepsi terhadap kreativitas. Man-faat lebih ini diduga kuat disebabkan oleh karateristik bahan ajar yang di-gunakan, yaitu LKS. LKS ini memuat masalah-masalah kontekstual disertai pertanyaan-pertanyaan acuan yang ber-sifat terstruktur guna membantu proses belajar siswa. Karakteristik bahan ajar demikian sangat membantu siswa de-ngan KAM rendah atau siswa sekolah kategori sedang. Manfaat lebih yang diperoleh siswa dengan KAM rendah dalam pencapaian kemampuan berpikir kreatif matematis juga disebabkan oleh faktor keterlibatan siswa dalam aktivitas diskusi. Melalui aktivitas diskusi, siswa saling berbagi pengetahuan. Siswa dengan kemampu-an matematis tinggi dapat lebih mem-perkokoh pemahamannya, sedangkan siswa dengan kemampuan matematis rendah dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik ketika memperoleh pen-jelasan dari teman mereka yang mung-kin lebih mudah dipahami. Hal demi-kian sejalan dengan pendapat Vigotsky (1978) bahwa melalui interaksinya de-ngan siswa lain, siswa dapat mengem-bangkan kemampuan potensialnya. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa bahwa faktor pembelajaran ber-interaksi dengan faktor kategori sekolah terhadap persepsi terhadap kreativitas. Sebaliknya, faktor pembelajaran tidak berinteraksi dengan faktor kategori se-kolah terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis. Temuan ini menun-jukkan bahwa pengaruh pembelajaran dengan strategi MHM berbasis masalah terhadap persepsi terhadap kreativitas bergantung pada kategori sekolah. Se-baliknya, pengaruh pembelajaran demi-kian terhadap kemampuan berpikir kre-atif matematis tidak bergantung pada kategori sekolah. Dapat dikatakan bah-wa pengaruh pembelajaran dengan stra-tegi MHM berbasis masalah terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis pada masing-masing kategori sekolah adalah serupa. Dengan kata lain, pem-belajaran dengan strategi MHM berba-sis masalah relatif sesuai untuk me-ngembangkan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa pada sekolah kategori atas maupun sedang. Di sisi lain, pembelajaran demikian relatif lebih sesuai untuk mengembangkan

227 Pengaruh Strategi Mathematical Habits of Mind (MHM) Berbasis Masalah persepsi terhadap kreativitas siswa se-kolah kategori sedang. Hasil penelitian menunjukkan bah-wa kemampuan berpikir kreatif mate-matis berasosiasi dengan persepsi ter-hadap kreativitas. Temuan ini menun-jukkan bahwa siswa yang memiliki per-sepsi yang positif terhadap kreativitas cenderung memiliki kemampuan berpi-kir kreatif matematis yang baik. Seba-liknya, siswa yang memiliki persepsi yang kurang tepat terhadap kreativitas cenderung memiliki kemampuan berpi-kir kreatif matematis yang rendah. Te-muan ini sejalan dengan hasil penelitian Mann (2005) yang menunjukkan bahwa persepsi terhadap kreativitas merupa-kan salah satu penduga yang baik bagi kreativitas. PENUTUP Berdasarkan hasil analisis data di-simpulkan bahwa pembelajaran dengan strategi MHM berbasis masalah ber-pengaruh terhadap pencapaian kemam-puan berpikir kreatif matematis. Pem-belajaran demikian juga berpengaruh terhadap pencapaian persepsi siswa berkaitan dengan kreativitas, terutama pada sekolah kategori sedang. Selain itu, disimpulkan bahwa tidak terdapat interaksi antara faktor pembelajaran de-ngan faktor kategori sekolah terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis. Sebaliknya, terdapat interaksi antara faktor pembelajaran dengan faktor kate-gori sekolah terhadap persepsi terhadap kreativitas. Disimpulkan juga bahwa kemampuan berpikir kreatif matematis berasosiasi dengan persepsi terhadap kreativitas. Implikasi penting penelitian ini ada-lah bahwa kebiasaan-kebiasaan berpikir matematis yang dilakukan secara bersi-nambung melalui aktivitas diskusi un-tuk mengeksplorasi masalah konteks-tual mendukung pencapaian kemampu-an berpikir kreatif matematis siswa dan persepsi siswa terhadap kreativitas. Ber-dasarkan hasil penelitian ini direko-mendasikan bahwa strategi pembelajar-an dengan strategi MHM berbasis ma-salah dapat digunakan sebagai alterna-tif untuk mengembangkankan kemam-puan berpikir kreatif matematis dan persepsi terhadap kreativitas. Selain itu, direkomendasikan pula bahwa pengem-bangan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa perlu dilakukan secara simultan dengan pengembangan per-sepsi siswa terhadap kreativitas. Peneliti mengucapkan terima kasih kepada kepala sekolah atas azin dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk melakukan penelitian ini. Peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada guru-guru mitra maupun seluruh siswa yang terlibat dalam penelitian ini atas kesediaan bekerja sama dan berbagi pengalaman dengan peneliti. UCAPAN TERIMA KASIH Pada kesempatan ini, terima kasih kami ucapkan kepada Redaktur yang telah memberi masukan yang berharga sehingga tulisan ini dapat disajikan di Jurnal Cakrawala Pendidikan. Terima ka-sih juga kami ucapkan kepada seluruh pengurus Jurnal Cakrawala Pendidikan yang telah memberi ruang diskusi.

228 Cakrawala Pendidikan, Juni 2011, Th. XXX, No. 2 DAFTAR PUSTAKA Alexander, K. L. 2007. Effects Instruction in Creative Problem Solving on Cog-nition, Creativity, and Satisfaction among Ninth Grade Students in an Introduction to World Agricultural Science and Technology Course. http://etd.lib.ttu.edu/theses/available/etd-01292007-44648/unrestri-cted/ Alexander_Kim_ Disserta-tion.pdf, Diunduh 9 Mei 2008. Berg, R. A. 1999. Social Constructions of Creativity in a Middle School Math Classroom. http://www.jrrb.com/-examples/SocialConst_Creativity. pdf. Diunduh 9 Mei 2008. Briggs, M & Davis, S. 2008. Creative Teaching Mathematics in the Early Years & Primary Classrooms. New York USA: Madison Ave. Career Center Maine Departmeny of Labor. 2001. Today’s Work Com-petence in Maine. http://www.-maine.gov/labor/lmis/pdf/EssentialWorkCompe-tencies.pdf. Diun-duh 9 Mei 2008. Center for Instructional Development & Research. 2004. Problem-Based Learning. http://depts.washing-ton.edu/cidrweb/Bulletin/PBL.html. Diunduh 16 Maret 2009. Depdiknas. 2004. Kurikulum 2004. Stan-dar Kompetensi Mata Pelajaran Ma-tematika Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Depdiknas. Fogarty, R. 1997. Problem-Based Learning and Other Curriculum Models for the Multiple Intelligences Class-room. Australia: Hawker Brown-low. Grieshober, W. E. 2004. Continuing a Dictionary of Creativity Terms & Definition. http://www. Buffalo-state.edu/orgs/cbir/ReadingRoom/ theses/Grieswep.pdf. Diunduh 7 Juni 2008. Hein, G. E. 1996. Constructivism Learning Theory. http://www. Exploratori-um.edu/ifi/resources/constructivistlearning.html. Diunduh 15 Mei 2009. Leung, S. S. 1997. On the Role of Creative Thinking in Problem Posing. http:-//www.fiz.karlsruhe.de/fiz/publications/zdmZDM Volum 29 Num-ber 3. Electronic Edition ISSN 1615-679X. Diunduh 6 Agustus 2002. Livne, N. L. 2008. Enhanching Mathe-matical Creativity through Multiple Solution to Open-Ended Problems Online, dari http://www.iste.org/ Content./NavigationMenu/Rese-arch/NECC_Research_Paper_Archives/NECC2008/Livne.pdf. Di-unduh 7 Mei 2009. Mann, E. L. 2005. Mathematical Creativity and School Mathematics: Indicators of Mathematical Creativity in Mid-dle School Students. Disertasi Uni-versity of Connecticut. http://-www.gifted.uconn.edu/Siegle/Di

229 Pengaruh Strategi Mathematical Habits of Mind (MHM) Berbasis Masalah ssertations/Eric%20Mann.pdf. Diunduh 15 November 2007. Martin. 2009. Convergent and Divergent Thinking. http://www. Erupting-mind.com/convergent-divergent-creative-thinking/. Diunduh [20 Maret 2009. Matlin, M.W. 2003. Cognition. Fifth Edit-ion. USA: John Wiley & Sons, Inc. McGregor, D. 2007. Developing Thinking Developing Learning. Poland: Open University Press. Millman, R. S. & Jacobbe, T. 2008. “Fostering Creativity in Preservice Teachers through Mathematical Habits of Mind. Proceeding of the Discussing Group 9”. The 11th International Congress on Mathema-tical Education. Monterrey, Mexi-co, July 2008. http://dg.icme11.-org/document/get/272. Diunduh 19 Desember 2008. Permana, Y. 2004. “Pengembangan Ke-mampuan Penalaran dan Konek-si Matematis Siswa SMA melalui Pembelajaran Berbasis Masalah”. Tesis pada Sekolah Pascasarjana UPI. Tidak diterbitkan. Ratnaningsih, N. & Herman, T. 2006. “Developing the Mathematical Reasoning of High School Stu-dents through Problem Based Learning”. Transaction of Mathe-matical Education for College and University Vol.9 No.2 Japan Society of Mathematics Education, Division for College and University. Roh, K. H. 2003. Problem-Based Learning in Mathematics. Artikel pada Educa-tional Resources Information Center (ERIC). http://www. Ericdigests.-org/2004-3/math.html. Diunduh 19 Maret 2009. Ruseffendi, H. E. T. 2005. Dasar-dasar Penelitian Pendidikan & Bidang Non-Eksakta Lainnya. Bandung: Tarsito. Sternberg, R.. 2006. Creativity as a Habit. http://www. Worldscibooks.com-/etextbook/6211/6211_chap01.pdf. Diunduh 11 Januari 2009. Vygotsky, L. 1978. Mind in Society: The Development of Higher Mental Pro-cesses. Cambridge, MA, Harvard University Press.

Dokumen Terkait

Profil Pesantren Al Matuq 2016 2017 5 Lampiran Struktur

Profil Pesantren Al Matuq 2016 2017 5 Lampiran Struktur

Profil pesantren al matuq 2016 2017 5 lampiran struktur kuri.

Contoh Proposal / 10 kali tayang / 251KB

Analisis Dan Perancangan Sistem Informasi Restoran Pada

Analisis Dan Perancangan Sistem Informasi Restoran Pada

Pada restoran nasi goreng bakar mr puencheng yogyakarta nask.

Contoh Proposal / 9 kali tayang / 1,102KB

Laporan Tugas Akhir Proses Produksi Paket Berita Di Antara

Laporan Tugas Akhir Proses Produksi Paket Berita Di Antara

Communication pada akhir abad 19 para penemu yang ada di atl.

Contoh Proposal / 10 kali tayang / 1,021KB

P U T U S A N Nomor 17 G 2014 Ptun Pbr Demi

P U T U S A N Nomor 17 G 2014 Ptun Pbr Demi

Hal 1 dari 74 hal putusan no dengan acara biasa bahwa sampai.

Contoh Proposal / 9 kali tayang / 263KB

Cukdw

Cukdw

Pengertian keputusan pembelian menurut kotler armstrong sepe.

Contoh Proposal / 8 kali tayang / 645KB

Lap Agustus 2014 Aidsindonesiaorid

Lap Agustus 2014 Aidsindonesiaorid

Wisma sirca lantai 2 jalan johar no 18 jakarta indonesia 103.

Contoh Proposal / 13 kali tayang / 7,791KB