Hubungan Interaksi Anak Dalam Keluarga Dengan Kecerdasan



Keterangan eBook
CreationDate 2008-02-26T11:23:14+07:00
Author INTEL
Creator PScript5.dll Version 5.2.2
Producer Acrobat Distiller 7.0 (Windows)
ModDate 2008-02-26T11:23:33+07:00
Title Microsoft Word - skripsi Desty Pujianti A54103019
Pages 86 Page
Ukuran File 312 KB
Dibuka 19 Kali
Topik Contoh Proposal
Tanggal Unggah Tuesday, 22 Nov 2016 - 10:30 AM
Link Unduh
Baca Halaman Penuh BUKA
Rating eBook
Bagi ke Yang Lain

Kesimpulan

21 HUBUNGAN INTERAKSI ANAK DALAM KELUARGA DENGAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA KELAS BERTARAF INTERNASIONAL (Studi Kasus di SMAN 1 Bogor) DESTY PUJIANTI PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

22 HUBUNGAN INTERAKSI ANAK DALAM KELUARGA DENGAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA KELAS BERTARAF INTERNASIONAL (Studi Kasus di SMAN 1 Bogor) DESTY PUJIANTI Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada program studi gizi masyarakat dan sumberdaya keluarga PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

23 JUDUL : HUBUNGAN INTERAKSI ANAK DALAM KELUARGA DENGAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA KELAS BERTARAF INTERNASIONAL (Studi Kasus di SMAN 1 Bogor) NAMA MAHASISWA : DESTY PUJIANTI NOMOR POKOK : A54103019 Menyetujui, Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr NIP. 131 124 019 Tanggal Lulus : Dosen Pembimbing I Dr. Ir. Herien Puspitawati, M.Sc MSc NIP131640679 Dosen Pembimbing II Dr. Ir. Diah K Pranadji M.S NIP131476543

24 RINGKASAN DESTY PUJIANTI. Hubungan Interaksi Anak dalam Keluarga dengan Kecerdasan Emosional Siswa Kelas Bertaraf Internasional (Studi Kasus di SMAN 1 Bogor). Di Bawah Bimbingan HERIEN PUSPITAWATI dan DIAH K PRANADJI. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan interaksi anak dalam keluarga dengan kecerdasan emosional siswa kelas bertaraf internasional. Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk: 1) Mengidentifikasi karakteristik individu dan keluarga; 2) Mengidentifikasi interaksi anak dalam keluarga, dan kecerdasan emosional; 3) Menganalisis hubungan antara karakteristik individu, dan keluarga dengan interaksi dalam keluarga; 4) Menganalisis hubungan interaksi anak dalam keluarga dengan kecerdasan emosional siswa kelas bertaraf internasional. Penelitian ini menggunakan disain Cross Sectional Study yang dilakukan pada siswa SMA kelas bertaraf internasional. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 1 Bogor, Jawa Barat. Pengambilan data dilakukan pada bulan Maret sampai Juni 2007. Contoh yang akan diteliti adalah siswa Kelas X dan XI. Contoh diperoleh dengan menggunakan sensus yaitu meneliti seluruh siswa kelas bertaraf internasional. Total sampel penelitian yang diteliti sebanyak 73 siswa. Data yang digunakan untuk penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui kuesioner yang diisi oleh contoh, sedangkan data sekunder diperoleh dari pihak sekolah. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan komputer program Microsoft Excel dan SPSS versi 13.0 for windows. Tahap pengolahan data terdiri dari pengkodean, pengentrian, dan editing. Data diolah dengan menggunakan analisis deskriptif, uji beda Mann Whitney, dan Korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan lebih dari separuh contoh berjenis kelamin perempuan. Rata-rata umur contoh pada Kelas X yaitu 16 tahun sedangkan Kelas XI yaitu 17 tahun. Sebagian besar contoh mempunyai tujuan hidup dan cita-cita meneruskan ke perguruan tinggi, bekerja keras dan belajar tekun, berbakti pada orangtua dan guru, bertanggung jawab atas perbuatannya, berteman yang baik, dan menghindari masalah di sekolah. Rata-rata uang saku per bulan yang diterima contoh Kelas XI lebih tinggi (Rp 460 945.95) dibandingkan Kelas X (Rp 441 527.78). Sebagian besar umur orangtua contoh berada pada kelompok umur produktif yaitu pada rentang umur 36-55 tahun. pendidikan ayah contoh pada Kelas XI lebih tinggi (S2) dibandingkan Kelas X (S1), sedangkan persentase terbesar pendidikan tertinggi ibu contoh yaitu S1. Proporsi terbesar ayah contoh bekerja sebagai PNS sedangkan proporsi terbesar ibu contoh sebagai ibu rumah tangga. Persentase terbesar pendapatan keluarga pada kisaran Rp >6 000 000. Proporsi terbesar contoh berasal dari keluarga kecil (<4 orang). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara karakteristik contoh, dan karakteristik keluarga pada kedua kelas. Lebih dari separuh contoh memiliki hubungan yang baik dengan orangtuanya. Hubungan yang banyak dilakukan antara contoh dan ayahnya yaitu dalam hal saling membantu apabila memerlukan sesuatu (dimensi kehangatan), dan mengkritik perbuatan yang dilakukan keduanya. Perlakuan ayah kepada contoh baik dalam hal dimensi kehangatan maupun kekasaran memiliki total skor yang lebih tinggi daripada perlakuan contoh kepada ayahnya. Ibu memiliki skor tertinggi dalam mempedulikan masalah yang sedang dihadapi contoh dibandingkan ayah. Selain itu, perlakuan ibu kepada contoh juga memiliki total skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan ayah kepada contoh baik

25 dalam dimensi kehangatan maupun kekasaran. Skor tertinggi dari variabel hubungan yang terjadi antara ayah dan ibu yaitu dalam hal saling mempedulikan masalah yang sedang dihadapi (dimensi kehangatan), dan mengkritik perbuatan (dimensi kekasaran). Kualitas hubungan antara contoh dan ibu adalah lebih besar dobandingkan antara contoh dan ayah. Lebih dari separuh contoh memiliki kualitas hubungan yang tergolong puas/bahagia dengan orangtuanya dan rata-rata skor Kelas X sedikit lebih besar (20.1) dibandingkan Kelas XI (19.9). Sebagian besar contoh memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, dengan rata-rata skor kecerdasan emosional tertinggi yaitu kemampuan empati dan terrendah dalam hal memotivasi diri. Rata-rata skor kecerdasan emosi onal contoh Kelas X lebih tinggi (102.0) dibandingkan Kelas XI (98.6). Namun hasil uji statistik tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antara kedua Kelas. Hasil uji Rank Spearman menunjukkan terdapat hubungan nyata positif antara: (1) tujuan hidup dan cita-cita dengan interaksi antara ibu dan contoh; (2) Interaksi antara ayah dan contoh, ibu dan contoh, ayah dan ibu, dan kualitas hubungan dengan interaksi keluarga; (3) Interaksi antara ayah dan contoh, ibu dan contoh, dan kualitas hubungan dengan sedangkan kecerdasan emosional. Tujuan hidup dan cita-cita mempunyai hubungan yang erat dengan interaksi yang terjadi antara ibu dan contoh, dan kecerdasan emosional. Bagi lingkungan keluarga dan sekolah diharapkan menciptakan interaksi yang baik, sehingga anak merasa berharga terutama dalam pencapaian tujuan hidup dan cita-cita. Akhirnya akan meningkatkan kecerdasan emosional. Bagi siswa agar lebih memotivasi dirinya dengan lebih baik terutama dalam hal membuat jadwal agenda harian yang dilakukan setiap harinya. Sebaiknya dalam mata pelajaran tertentu seperti agama juga perlu dimasukkan muatan kecerdasan emosional.

26 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 12 Desember 1985. Penulis merupakan anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan Suparman dan Sri Hartati. Pendidikan SD ditempuh pada tahun 1991 sampai tahun 1997 di SDN Kampung Utan 2 Ciputat. Tahun 1997 penulis melanjutkan sekolah di SLTPN 2 Ciputat sampai tahun 2000. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan sekolah di SMUN 2 Ciputat dan memperoleh kelulusan pada tahun 2003. Penulis diterima sebagai mahasiswa IPB pada tahun 2003 melalui jalur USMI di Program studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian. Selama menyelesaikan studinya di IPB, penulis cukup aktif dalam mengikuti beberapa kegiatan kepanitiaan dan organisasi. Penulis pernah menjabat sebagai staf biro pers dan media forum keluarga rohis Fakultas (2003-2004), staf biro PSDM forum keluarga musholla GMSK (2003-2004), staf biro seni budaya departemen minat dan bakat BEM Faperta IPB (2004-2005), kepala biro Pengembangan Organisasi BEM Faperta IPB (2005-2006), dan Wakil ketua departemen PSDM Bina Desa IPB (2005-2006). Penulis juga pernah menjadi finalis tingkat Nasional dalam LKTM Seni (2006), finalis lomba cerpen dalam writing competition tingkat IPB (2006), Juara tiga penulisan artikel untuk media massa tingkat Fakultas (2006), dan juara umum dalam penulisan essay peringatan hari ibu tingkat IPB (2006). Selain itu, penulis juga pernah menjadi asisten pada mata kuliah Metode Penulisan dan Penyajian Ilmiah (2007), serta mata kuliah Gender dan Keluarga (2007).

27 PRAKATA Syukur alhamdulillah segala puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Tak lupa penulis haturkan salam serta shalawat kepada junjungan Nabi Muhammad SAW. Penulis mengucapkan terimakasih kepada: 1. Kedua orangtua (Suparman dan Sri Hartati) yang telah memberikan kasih sayang, semangat, perhatian, dan doa yang tulus. 2. Dr.Ir. Herien Puspitawati, MSc, MSc dan Dr.Ir. Diah K Pranadji, MS yang telah membimbing penulis dengan penuh kesabaran dari awal pembuatan proposal hingga terselesaikannya skripsi ini, serta atas dukungannya baik moril maupun spiritual yang telah diberikan. 3. Tien Herawati, SP, MS, yang telah banyak membantu dan memberikan dukungan pada penulis dalam proses penyelesaian skripsi ini. 4. Ir Melly Latifah, MSi selaku dosen pemandu dan penguji yang telah bersedia memandu dan menguji, serta memberikan saran-saran. 5. Adik-adik (Setiya, de’Ika dan kaka Ipat), serta Tyan yang telah memberikan kasih sayang, dukungan, keceriaan, do’a, dan waktunya untuk penulis. 6. Seluruh warga SMA Negeri 1 Bogor atas dukungan, kerjasama, dan semangatnya untuk penulis 7. Keluarga Sekolah Tanah Tingal (Bu Enni dan keluarga, Pa Inong, Pa Ikin, Bu Ati, Bu Eka, Mba Novi, Mba Ina, Mas Rifa, Mas Agus, Indra, Taufik, dan Didin) atas do’a dan dukungannya. 8. Teman-teman satu penelitian (Ita Agustriyani dan Juliani), dan sahabat terbaik (Indy Fitria Adicita) terima kasih atas cinta, kasih sayang, dukungan, kerja sama, semangat, dan waktunya dalam suka maupun duka. 9. Para pembahas (Dina, Ita, dan Pritha) yang telah memberikan masukan saran, dan dukungan untuk penulis. 10. Saudara-saudariku tersayang di GMSK 40, Ira, Eva, Novera, Inna, Widi, Vivi, Dewi, Mutia, Jowie, Wirna, Ursula, Sanya, Sendi, Yudith, Kuswan, Tirta, Anna, dan Tintin terimakasih atas perhatian dan doanya. 11. Teman-teman GMSK 40-41, GM42, IKK42 dan para staf GMSK, atas dorongan semangat untuk penyelesaian skripsi ini.

28 Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis. Penulis berharap agar skripsi ini dapat berguna dan dapat dijadikan sebagai perbandingan maupun penambah pengetahuan para pembaca umumnya. Bogor, Januari 2008 Penulis

29 DAFTAR ISI Halaman RIWAYAT HIDUP...................................................................................... PRAKATA.................................................................................................. DAFTAR ISI................................................................................................ DAFTAR TABEL......................................................................................... DAFTAR GAMBAR..................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................. PENDAHULUAN Latar Belakang....................................................................................... Perumusan Masalah............................................................................... Tujuan Penelitian ................................................................................... Kegunaan penelitian............................................................................... TINJAUAN PUSTAKA Kecerdasan Emosional.......................................................................... Kecerdasan Emosional dan Proses Belajar........................................... Interaksi Anak dalam Keluarga.............................................................. Pendekatan Teori................................................................................... Masa Remaja......................................................................................... Karakteristik keluarga............................................................................. KERANGKA PEMIKIRAN.......................................................................... METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu.................................................................... Penarikan Contoh................................................................................... Jenis dan Cara Pengumpulan Data........................................................ Pengolahan dan Analisis Data............................................................... Definisi Operasional.............................................................................. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian ........................................................ Karakteristik Individu ............................................................................. Karakteristik Keluarga............................................................................ Interaksi dalam Keluarga........................................................................ Hubungan Contoh dengan Ayahnya................................................. Hubungan Contoh dengan Ibunya.................................................... Hubungan Ayah dan Ibu................................................................... Kualitas Hubungan ........................................................................... Kecerdasan Emosional........................................................................... Hubungan Antar Variabel....................................................................... Hubungan Karakteristik Individu dengan Interaksi Anak dalam Keluarga........................................................................................... Hubungan Karaktersitik Keluarga dengan Interaksi Anak dalam Keluarga........................................................................................... iiiivviviiiix1355 691015171921242425262728283032363639414346494950

30 Hubungan Antara Interaksi Anak dalam Keluarga dengan Kecerdasan Emosional..................................................................... Pembahasan Umum.............................................................................. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ............................................................................................ Saran ................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. LAMPIRAN…..……………………………………………………...…..……… 505154555760

31 DAFTAR TABEL Halaman 1. Peubah, skala, jenis data, item pertanyaan, dan α Cronbach………..... 2. Sebaran contoh berdasarkan jenis kelamin .......................................... 3. Sebaran contoh berdasarkan umur ....................................................... 4. Sebaran contoh berdasarkan tujuan/cita-cita......................................... 5. Sebaran contoh berdasarkan tingkat tujuan/cita-cita............................. 6. Sebaran contoh berdasarkan besarnya uang saku per bulan.............. 7. Sebaran contoh berdasarkan umur orangtua ....................................... 8. Sebaran contoh berdasarkan pendidikan orangtua............................... 9. Sebaran contoh berdasarkan pekerjaan orangtua ............................... 10. Sebaran contoh berdasarkan pendapatan per bulan ............................ 11. Sebaran contoh berdasarkan besar keluarga ....................................... 12. Sebaran contoh berdasarkan interaksi ayah dan contoh...................... 13. Sebaran contoh berdasarkan tingkat interaksi ayah dan contoh........... 14. Sebaran contoh berdasarkan interaksi ibu dan contoh....................... 15. Sebaran contoh berdasarkan tingkat interaksi ibu dan contoh.............. 16. Sebaran contoh berdasarkan interaksi ayah dan ibu............................ 17. Sebaran contoh berdasarkan tingkat interaksi ayah dan ibu................. 18. Sebaran contoh berdasarkan kualitas hubungan.................................. 19. Sebaran contoh berdasarkan tingkat kualitas hubungan....................... 20. Sebaran contoh rata-rata skor ayah dan ibu dalam berinteraksi dengan keluarga..................................................................................... 21. Sebaran contoh berdasarkan berdasarkan kecerdasan emosional...... 22. Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecerdasan emosional................ 23. Hasil uji korelasi Spearman karakteristik keluarga dengan interaksi anak dalam keluarga.............................................................................. 25 31 31 32 32 33 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 44 45 4849 50

32 DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Kerangka pemikiran hubungan antara interaksi anak dalam keluarga dengan kecerdasan emosional siswa kelas bertaraf internasional........... 23

33 DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Cara pengukuran variabel................................................................... 2. Rata-rata skor interaksi dalam keluarga dan kecerdasan emosional.. 3. Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecerdasan emosional ............. 4. Tabulasi silang antar variabel.............................................................. 5. Matriks korelasi hubungan antar variabel penelitian........................... 60 62 67 68 69

34 PENDAHULUAN Latar Belakang Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas merupakan salah satu modal yang penting dalam pembangunan suatu bangsa. Suatu bangsa akan lebih maju dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia apabila memiliki SDM yang bermutu tinggi. Kualitas SDM suatu bangsa dapat diukur melalui Human Development Index (HDI). Semakin tinggi HDI suatu bangsa maka semakin tinggi kualitas. Angka HDI diolah berdasarkan tiga dimensi yaitu kesehatan, ekonomi, dan pendidikan. Indikator pendidikan diantaranya menyangkut angka melek huruf (literacy rate) dan angka partisipasi pendidikan. Kualitas SDM Indonesia menurut HDI mengalami sedikit peningkatan dari tahun ke tahun. Tahun 1999 angka HDI Indonesia sebesar 64.3, sedangkan pada tahun 2002 menjadi 65.8. Data terakhir pada tahun 2005 HDI Indonesia telah mencapai 69.6. Pemerintah bertanggung jawab terhadap pencapaian indikator pendidikan melalui sekolah formal. Sesuai dengan visi dan misi pendidikan nasional dalam mewujudkan sistem dan iklim pendidikan nasional yang demokratis dan berkualitas, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta berdaya tahan terhadap pengaruh globalisasi maka diperlukan upaya untuk memaksimalkan kecerdasan kognitif dan kecerdasan emosional terutama pada remaja. Kelompok remaja yang berjumlah sekitar 22.5 persen dari jumlah penduduk Indonesia memiliki tanggung jawab sebagai penerus pembangunan di masa yang akan datang. Studi-studi komparatif Internasional seperti Program of Internasional Student Assesment (PISA) pada tahun 2000 menempatkan prestasi belajar siswa Indonesia pada peringkat yang amat rendah. Hal itu juga tercermin dari nilai Ebtanas SMA empat tahun terakhir yang memiliki rata-rata nasional 5.46 dalam standar 0-10. Hal ini menunjukkan keprihatinan karena dapat dikategorikan sebagai nilai kurang. Namun, di satu sisi remaja Indonesia berprestasi dalam olimpiade fisika pada tingkat Asia dan Internasional dengan meraih dua medali emas, satu perak, dan tiga perunggu dalam olimpiade Fisika Asia di Almaty, Kazakhstan. Terdapat sekitar 150 pelajar dari 18 negara yang mengikuti olimpiade fisika. Hal ini menunjukkan remaja Indonesia dapat bersaing secara global (Kompas 2006). Keberhasilan para remaja dalam memperoleh prestasi tidak terlepas dari dukungan keluarga dan lingkungan sekolah dalam bentuk interaksi. Interaksi

35 sosial yang pertama kali dialami oleh anak adalah hubungan anak dengan ibunya, kemudian meluas dengan ayah dan anggota keluarga yang lain. Hubungan yang baik dalam keluarga antara ayah, ibu, dan anak-anak disamping anggota keluarga akan dapat terjalin dengan baik apabila komunikasi berjalan dengan baik. Selain komunikasi, kualitas dan keeratan hubungan yang baik juga dapat menentukan keberhasilan dan kesuksesan anak di sekolah (Freeman & Munandar 2000). Perkembangan intelektual anak sangat terkait erat dengan keadaan emosionalnya. Perasaan anak terhadap diri dan kemampuan dapat berpengaruh besar terhadap keberhasilan di sekolah. Anak yang mengalami gangguan emosi dan sosial dapat mempengaruhi prestasi belajar dan anak membutuhkan waktu untuk mengejar ketertinggalannya. Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang dimiliki seseorang yang berhubungan dengan kemampuan kognitifnya, sedangkan kecerdasan emosional adalah kecerdasan seseorang yang berhubungan dengan kemampuan untuk mengenali, mengendalikan emosi serta kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain sehingga akan memberikan dampak positif bagi diri sendiri maupun orang lain. Selama ini ada anggapan bahwa kecerdasan intelektual merupakan faktor utama yang menentukan masa depan. Anak yang memiliki skor intelegensi (IQ) tinggi kemungkinan besar akan diterima di sekolah yang terbaik dan kelak akan mendapatkan pekerjaan yang baik pula di masa dewasa. Tetapi, pada kenyataannya, pendapat ini tidak selalu berlaku demikian (Goleman 1995). Hasil penelitian beberapa ahli yang bergerak di bidang tes kecerdasan menemukan ada anak yang cerdas, tetapi mengalami kegagalan dibidang akademis, dalam karir, dan juga dalam kehidupan sosialnya. Sebaliknya, anak yang memiliki taraf kecerdasan rata-rata mencapai kesuksesan di kemudian hari. Penjelasan dari fenomena tersebut adalah tes intelegensi hanya mengukur sebagian kecil kemampuan manusia saja, dan belum melihat keterampilan menghadapi aneka tantangan hidup. Faktor IQ dianggap hanya menyumbang 20 persen terhadap keberhasilan seseorang. Sementara sisanya ditentukan oleh kemampuan seseorang dalam mengatasi berbagai masalah kehidupan yang tidak berkaitan dengan kecerdasan intelektual, melainkan dengan tingkat kecerdasan emosinya (Goleman 1995). Goleman (1995) menyatakan bahwa kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi saling berhubungan, dan tidak dapat dipisahkan. Sebagai

36 contoh, hasil tes IQ juga ditentukan oleh kecerdasan emosi, seperti ketekunan, dan motivasi. Kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi merupakan bagian yang integratif dalam jiwa raga. Kecerdasan emosi merupakan faktor penentu keberhasilan masa depan anak (Goleman 1999). Hasil penelitian di bidang psikologi anak telah membuktikan bahwa anak-anak yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi adalah anak-anak yang bahagia, percaya diri, popular, dan lebih sukses di sekolah. Anak-anak tersebut lebih mampu menguasai gejolak emosi, menjalin hubungan yang manis dengan orang lain, bisa mengelola emosi, dan memiliki kesehatan mental yang baik (Shapiro 1999). Selain itu, anak yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi, oleh gurunya dipandang sebagai murid yang tekun, dan disukai oleh teman-temannya sehingga mempengaruhi prestasi belajar. Prestasi belajar tidak hanya ditentukan oleh faktor kecerdasan emosi melainkan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain seperti motivasi, konsentrasi, kesehatan jasmaniah, ambisi dan tekad, lingkungan, cara belajar, perlengkapan dan sikap di sekolah (Thabrany & Hasbullah 1997, diacu dalam Hulu 2004). Oleh karena itu, sekolah ikut berperan penting dalam mewujudkan prestasi belajar anak. Dalam upaya meningkatkan pendidikan dan sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pemerintah menggulirkan program pengembangan Sekolah Nasional Bertaraf Internasional (SNBI) di seluruh wilayah Indonesia. Sekolah bertaraf Internasional adalah salah satu sekolah yang didirikan oleh pemerintah dengan tujuan meningkatkan kualitas SDM. Bahasa Inggris dijadikan bahasa pengantar dan di dukung dengan fasilitas yang lebih lengkap dibandingkan dengan sekolah pada umumnya. Perumusan Masalah Tuntutan globalisasi semakin mendesak Bangsa Indonesia untuk meningkatkan SDM terutama di bidang pendidikan baik laki-laki maupun perempuan. Human Development Index (HDI) merupakan angka untuk mengukur kualitas SDM. HDI Indonesia pada tahun 2005 sebesar 69.6, sedangkan di Jawa Barat 69.9. Kota Bogor sebagai salah satu wilayah di Jawa Barat menduduki peringkat tiga tertinggi di Jawa Barat (74.3) setelah Kota Depok (77.1), Kota Bekasi (74.6), dan Kota Bandung (74.3). HDI Kota Bogor memiliki

37 nilai yang tinggi dari tahun ke tahun, pada tahun 1999 sebesar 69.7, tahun 2002 sebesar 71.9 dan tahun 2005 sebesar 74.3 (BPS 2004). Tahun 2004/2005 jumlah siswa SMA negeri dan swasta di Jawa Barat sebesar 13.5 persen (459 368) dari total 33 provinsi (3 402 615). Jumlah ini adalah jumlah terbesar dibandingkan wilayah Indonesia lainnya. Jumlah siswa yang memasuki sekolah negeri lebih besar (249 810) dibandingkan yang memasuki sekolah swasta (209 558) (BPS 2005). Meningkatnya jumlah siswa menandakan semakin baiknya angka partisipasi pendidikan guna mencapai keberhasilan belajar. Selama ini orang beranggapan bahwa IQ merupakan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang. Namun, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosi sama pentingnya dengan kecerdasan intelektual dalam menentukan keberhasilan studi anak (Shapiro 1999). Sekolah Nasional Bertaraf Internasional (SNBI) di Jawa Barat sebanyak 12 dari 100 sekolah baik negeri maupun swasta yang terdaftar di seluruh Indonesia (8.33%). Sekolah yang terdaftar sebagai SNBI di Jawa Barat meliputi SMAS Krida Nusantara, SMAN 3 Bandung, SMAN 1 Subang, SMAN 2 Depok, SMAS Cakrabuana, SMAS Lazuardi, SMAN 1 Tambun, Islamic Boarding School, SMAN 5 Bekasi, SMAN 1 Bogor, SMAN 2 Cirebon, dan SMAN 2 Tasikmalaya (Anonim 2006). Berdasarkan uraian tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan interaksi anak dalam keluarga dengan kecerdasan emosi siswa kelas bertaraf internasional. Penelitian ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan penelitian sebagai berikut: (1) Bagaimana interaksi antara anak dalam keluarga; (2) Bagaimana kecerdasan emosional, serta; (3) Bagaimana hubungan antara interaksi anak dalam keluarga dengan kecerdasan emosional siswa kelas bertaraf internasional.

38 Tujuan Penelitian Tujuan umum Mengetahui hubungan interaksi anak dalam keluarga dengan kecerdasan emosional siswa kelas bertaraf Internasional Tujuan khusus 1. Mengidentifikasi karakteristik individu, dan keluarga 2. Mengidentifikasi interaksi anak dalam keluarga 3. Mengidentifikasi kecerdasan emosional siswa kelas bertaraf internasional 4. Menganalisis hubungan antara karakteristik individu, dan keluarga dengan interaksi anak dalam keluarga 5. Menganalisis hubungan interaksi anak dalam keluarga dengan kecerdasan emosional Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi bagi orangtua dan pihak sekolah tentang hubungan interaksi anak dalam keluarga dengan kecerdasan emosional siswa. Selain itu, orangtua juga dapat mengetahui interaksi yang efektif untuk diterapkan pada remaja sehingga dapat tercipta remaja yang memiliki perkembangan kecerdasan emosional yang baik. Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah bahan pertimbangan organisasi yang berhubungan dengan pendidikan untuk mengembangkan usaha-usaha yang membantu perkembangan emosional anak.

39 TINJAUAN PUSTAKA Kecerdasan Emosional Definisi Kecerdasan Emosional Istilah kecerdasan emosi diciptakan oleh Peter Salovey dan John Mayer 1990. Kecerdasan emosional amat penting peranannya bagi seseorang karena manusia merupakan makhluk emosi. Sering kali seseorang membuat keputusan seharian dengan tidak berlandaskan logika tetapi karena terbawa oleh perasaan atau emosi diri. Orang yang memiliki kecerdasan emosional rendah akan terombang-ambing dengan perasaan yang tidak menentu, sehingga sukar dalam membuat keputusan yang cepat (Segal 2000, diacu dalam Tanmella 2002). Kecerdasan emosional merupakan kecerdasan emosi dan keterampilan-keterampilan dalam mengatur emosi yang menyediakan kemampuan untuk menyeimbangkan emosi sehingga dapat memaksimalkan kebahagiaan hidup jangka panjang. Kehidupan emosi memang merupakan wilayah yang dapat ditangani dengan keterampilan-keterampilan yang lebih tinggi atau lebih rendah, dan membutuhkan keahlian tersendiri (Goleman 1999). Emosi atau perasaan merupakan suasana psikis atau suasana batin yang dihayati seseorang pada suatu saat. Dalam kehidupan sehari-hari keduanya sering diartikan sama. Namun, sesungguhnya perasaan menunjukkan suasana batin yang lebih tenang, sedangkan emosi menggambarkan suasana batin yang lebih dinamis, bergejolak, terbuka, dan menyangkut ekspresi-ekspresi jasmaniah. Emosi seperti halnya perasaan juga membentuk suatu kontinum, bergerak dari emosi positif sampai yang bersifat negatif (Sukmadinata 2003). Minimal ada empat ciri emosi, yaitu adanya pengalaman emosional bersifat subjektif/pribadi, adanya perubahan aspek jasmaniah, adanya ekspresi dari emosi dalam bentuk perilaku, dan emosi sebagai motif yang mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan (Sukmadinata 2003). Emosi memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia karena merupakan aspek dari kemampuan pengembangan pola tingkah laku seseorang. Emosi dikatakan penting karena orang yang matang adalah orang yang telah memiliki pengendalian dan kemandirian dalam tingkah lakunya, karena sangat penting bagi cara pengambilan keputusan yang rasionalitas (Goleman 1999). Goleman (1995) menyatakan bahwa kecerdasan emosional memegang peranan dalam keberhasilan seseorang dibandingkan dengan IQ, yang sudah

40 lama dipercaya orang dapat meramalkan keberhasilan. IQ tidak dapat bekerja dengan sebaik-baiknya tanpa kecerdasan emosional. IQ tidak menawarkan persiapan menghadapi gejolak dan kesempatan-kesempatan atau kesulitan-kesulitan yang ada dalam kehidupan, sedangkan orang yang secara emosional terampil memiliki keuntungan dalam setiap bidang kehidupan. Dengan memiliki kecerdasan emosi yang tinggi, individu dapat menghadapi berbagai macam kejadian yang tidak terduga dalam kehidupannya. Hal ini sangat menolong dalam melakukan penyelesaian dengan lingkungan dan orang lain (Goleman 1995). Goleman (1995) menyatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan-kemampuan seperti mampu untuk memotivasi diri sendiri dan bertindak gigih/bertahan menghadapi keadaan-keadaan yang frustasi; mengendalikan dorongan hati/rangsangan dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati, dan berdoa. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosional Layaknya kecerdasan kognitif, kecerdasan emosional anak-anak ditentukan oleh kepribadian yang dibawa sewaktu anak lahir (genetik) dan dibentuk juga oleh interaksi-interaksi dengan orangtua dan lingkungannya (Gottman & DeClaire 1998). Oleh karena itu, orangtua dan lingkungan sekolah sebenarnya memiliki peluang besar untuk mempengaruhi kecerdasan emosional anak-anak dengan menolong anak mempelajari suatu emosi yang cerdas. Menurut Sarwono (1976) pertumbuhan dan perkembangan emosi ditentukan oleh proses pematangan dan proses belajar. Kecerdasan emosi menurut Goleman (1995) meliputi mengenali emosi, mengelola emosi, memotivasi diri, mengenali emosi orang lain, dan seni membina hubungan. Mengenali emosi diri. Adanya kesadaran akan perasaan diri sendiri sewaktu perasaan itu terjadi dibutuhkan dalam mengenali emosi diri. Kesadaran diri (self awarness) menurut Goleman (1995) berarti waspada baik terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati. Penggolongan emosi menurut Goleman (1997) yaitu amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan (bahagia), cinta, terkejut, jengkel, dan malu. Mengelola emosi. Pengendalian emosi dilakukan bukan dengan menekan emosi melainkan mampu menyalurkan emosi dan mengalihkan suasana hati melalui kegiatan positif seperti nonton, membaca buku, aerobik,

41 mandi air panas, makan makanan kegemaran, pergi berbelanja, mencoba untuk melihat permasalahan dari sudut pandang baru, dan menolong orang lain (Goleman 1999). Emosi yang terlalu ditekan akan tercipta kebosanan dan kesenjangan. Emosi yang tidak dapat dikendalikan dapat menyebabkan gangguan emosi. Bila emosi berlangsung dengan intensitas tinggi dan melampaui titik wajar, emosi akan beralih menjadi hal-hal ekstrim yang menekan seperti kecemasan kronis, amarah yang tidak terkendali, bahkan depresi. Tujuan pengelolaan emosi adalah tercapainya emosi yang wajar, yang merupakan keselarasan antara perasaan dan lingkungan. Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci kesejahteraan emosi (Goleman 1995). Bila emosi mengalahkan konsentrasi, yang dilumpuhkan adalah kemampuan mental yang sering disebut dengan ingatan kerja, yakni kemampuan untuk menyimpan dalam benak semua informasi yang berkaitan dengan tugas yang sedang dihadapi (Goleman 1995). Memotivasi diri. Memotivasi merupakan salah satu dasar kecerdasan emosional yang akan meningkatkan keberhasilan dalam segala bidang suatu kumpulan perasaan antusiasme, gairah, dan keyakinan diri dalam mencapai prestasi. Banyak orang mencapai prestasi tinggi karena mempunyai tingkat ketahanan dan ketekunan yang bergantung pada sifat emosional antusiasme serta kegigihan menghadapi tantangan (Goleman 1995). Orang dapat menjadi tahan dan tekun dalam mengerjakan sesuatu jika menunda kepuasan sementara. Emosi-emosi seperti kepuasan pada hasil kerja dapat mendorong untuk berprestasi. Kecerdasan emosional mempunyai kemampuan yang mendalam untuk mempengaruhi semua kemampuan lain, baik memperlancar maupun menghambat kemampuan-kemampuan lain (Goleman 1995). Mengenali emosi orang lain. Empati adalah kemampuan untuk mengetahui perasaan orang lain. Empati dibangun berdasarkan kesadaran diri. Semakin terbuka seseorang terhadap emosinya sendiri, semakin terampil membaca perasaan. Kegagalan untuk mengetahui perasaan orang lain merupakan kekurangan utama dalam kecerdasan emosional. Cara untuk menunjukan empati adalah mengidentifikasikan perasaan orang lain, yaitu dengan menempatkan diri secara emosional pada posisi orang lain (Goleman 1995). Seni membina hubungan. Mampu memahami emosi orang lain merupakan inti membina hubungan yang merupakan salah satu aspek dari

42 kecerdasan emosi. Untuk dapat menangani emosi orang lain dibutuhkan keterampilan emosional yang lain yaitu manajemen diri dan empati. Dengan landasan itu, keterampilan berhubungan dengan orang lain akan menjadi matang. Kemampuan sosial seperti ini memungkinkan seseorang membentuk hubungan, untuk menggerakkan dan mengilhami orang lain, membina kedekatan hubungan, meyakinkan, mempengaruhi, dan membuat orang lain merasa nyaman (Goleman 1995). Berangkat dari dua keterampilan emosi dasar dalam menangani emosi orang lain, maka kunci kecakapan sosial adalah seberapa baik atau buruk seseorang mengungkapkan perasaan diri sendiri. Semakin terampil seseorang secara sosial, semakin baik mengendalikan emosi (Goleman 1995). Kecerdasan Emosional dan Proses Belajar Perkembangan intelektual anak sangat terkait erat dengan keadaan emosionalnya. Perasaan anak terhadap diri dan kemampuan dapat berpengaruh besar terhadap keberhasilan di sekolah. Anak yang mengalami gangguan emosi dan sosial dapat mempengaruhi prestasi belajar dan anak butuh waktu untuk mengejar ketertinggalan. Pendapat ini diperkuat oleh Freeman dan Munandar (2002) bahwa masalah emosional bisa mengganggu kegiatan belajar. Menurut Schaefer dan DiGeronimo ada anak-anak yang tidak cukup dewasa dalam perkembangannya untuk bisa mengikuti pelajaran dengan baik, mungkin anak sebenarnya cukup pintar, hanya karena ketertinggalan perkembangan emosional dan sosial membuat anak bisa tinggal kelas (Nakita 2001). Hasil riset menunjukkan bahwa anak-anak cerdas bisa menyesuaikan diri secara emosional, lebih baik daripada anak-anak biasa. Anak lebih sedikit mempunyai masalah-masalah emosional dan lebih mampu mengatasi masalah yang dihadapinya. Secara emosional anak yang cerdas lebih stabil dan lebih matang dibanding teman-teman seusianya, anak cerdas lebih bergembira,dan lebih antusias terhadap hidup (Beck 1998). Goleman (1995) menjelaskan bahwa EQ lebih utama daripada kemampuan kognitif. Ketika seseorang terganggu emosi sulit baginya untuk berpikir jernih, mengingat, konsentrasi belajar dan kapasitas intelektualnya terganggu. Hasil penelitian Terman, anak yang EQ nya tinggi punya prestasi yang baik, yaitu lebih original, lebih ulet, lebih bermotivasi untuk dapat berprestasi yang paling baik. Selain itu juga lebih baik dalam penyesuaian sosial,

43 sehingga dapat menyelesaikan pendidikannya dengan baik (Monk, Knoers, Haditono 1987) Sukiat (1986) menyatakan bahwa anak-anak yang berhasil dan dapat berprestasi secara optimal, memiliki ciri–ciri antara lain punya tanggung jawab pribadi yang lebih besar dan bersikap positif dalam hubungan dengan orang lain, kurang punya hambatan emosional, serta mampu mengatasi hambatan-hambatan yang berhubungan dengan taraf perkembangan fisik. Anak-anak cerdas ada yang memiliki sifat lincah, bisa bergaul dengan siapapun, sangat bersahabat, tetapi ada juga yang pemalu dan suka menyendiri (Freeman & Munandar 2000). Hari pertama anak masuk sekolah, anak-anak cerdas lebih mandiri dan cukup dalam pelajaran-pelajaran. Umumnya sangat peka terhadap orang lain, terlebih pada kedua orang tua. Pengaruh teman sangat penting bagi perkembangan emosi dan intelektual anak (Freeman & Munandar 2000). Anak-anak yang tidak memiliki teman lebih suka tumbuh menjadi orang dewasa yang stabil dan seimbang. Selain itu, anak-anak yang cerdas menerima banyak simpati dan kasih sayang serta memiliki kemampuan beradaptasi, dan suka berteman. Anak-anak yang memiliki bakat untuk bergaul memiliki banyak teman dan mudah mengerti perasaan anak-anak lain, meskipun tidak berarti lebih cerdas daripada teman-teman yang lain. Puspitawati (2006) menyatakan bahwa faktor pendukung yang berkontribusi signifikan secara langsung dalam mempengaruhi kenakalan pelajar adalah tingkat hubungan dengan teman-temannya. Pelajar bersama-sama dengan teman seusianya merasa memiliki keterkaitan dan hubungan atau emotional bonding dengan peer grupnya, sehingga tercipta suatu perasaan ikatan kesamaan baik tujuan, nasib, pengalaman, maupun motivasi hidup. Ikatan perasaan inilah kemudian melahirkan adanya komitmen bersama dalam melakukan tindakan. Interaksi Anak Dalam Keluarga Orangtua berperan besar dalam perkembangan kepribadian anak. Orangtua menjadi faktor dalam menanamkan dasar kepribadian yang ikut menentukan corak dan gambaran seseorang setelah dewasa. Jadi gambaran kepribadian yang terlihat dan diperlihatkan seorang remaja banyak ditentukan oleh keadaan dan proses yang ada dan yang terjadi sebelumnya (Gunarsa & Gunarsa 1990).

44 Sikap orangtua mempengaruhi cara orangtua memperlakukan anak dan perlakuan orangtua terhadap anak sebaliknya mempengaruhi sikap dan perilaku anak terhadap orangtua. Pada dasarnya hubungan orangtua-anak tergantung pada sikap orangtua. Sikap orangtua sangat menentukan hubungan keluarga. Sekali hubungan terbentuk, maka cenderung bertahan. Orangtua yang mempunyai kemampuan yang baik tentu akan mempunyai cara, sikap, dan waktu yang tepat untuk berkomunikasi dengan anak. Tingkah laku orangtua dapat mempengaruhi dalam pembinaan anak-anak. Hubungan yang baik dalam keluarga antara ayah, ibu, dan anak-anak disamping anggota keluarga akan dapat terjalin dengan baik apabila komunikasi berjalan dengan baik dalam lingkungan keluarga (Effendi et al 1995, diacu dalam Kunarti 2004). Interaksi sosial yang pertama kali dialami oleh anak adalah hubungan anak dengan ibunya, kemudian meluas dengan ayah dan anggota keluarga yang lain. Dalam pemberian stimulasi mental pada anak maka peran seorang ibu untuk pengasuhan anak sangat besar. Interaksi ibu-anak sebagai suatu pola perilaku yang mengikat ibu dan anak secara timbal balik yang mencakup berbagai upaya keluarga secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Puspitawati (2006) dalam penelitiannya mengindikasikan orangtua yang berkompeten adalah yang melakukan pengasuhan dengan hangat dan mendukung, menghargai anaknya, mencintai anaknya, melakukan kegiatan bersama, menanyakan pendapat, dan membantu memecahkan masalah bersama. Gaya pengasuhan yang dilakukan baik oleh ibu maupun ayah merupakan variabel mediator antara keadaan sosial-ekonomi keluarga dan outcome pelajar di SMK TI dan SMU (tingkat penghargaan diri, tingkat kecerdasan emosional, dan perilaku kenakalan pelajar). Ilmu sosiologi menggunakan pendekatan bahwa hubungan antar manusia harus didahului oleh kontak dan komunikasi. Hubungan antar manusia saling mempengaruhi antar satu dengan yang lainnya melalui pengertian yang diungkapkan, informasi yang dibagi, dan semangat yang disumbangkan. Model interaksi dari proses komunikasi juga menunjukkan perkembangan peran (role development), pengambilan peran (role-taking) dan pengembangan diri sendiri (development of self) karena manusia berkembang melalui interaksi sosialnya. Komunikasi manusia juga terjadi dalam konteks budaya tertentu, mempunyai batas-batas tertentu. Keluarga mempunyai interaksi yang memberikan ikatan

45 bonding (hubungan biologis dan hubungan intergenerasi serta ikatan kekerabatan) yang jauh lebih lama dibandingkan dengan kelompok sosial lainnya. Interaksi dalam keluarga ini lebih dipandang sebagai suatu interaksi umum antar anggota keluarga, suatu seri interaksi yang dilakukan oleh kedua belah pihak (dyadic), sejumlah interaksi antara sub-kelompok keluarga: dyadic, triadic, tetradic, dan sistem hubungan internal keluarga sebagai reaksi terhadap sistem sosial yang lebih luas ( Klein dan White 1996, diacu dalam Puspitawati 2006). Hubungan diadik antara orangtua dan anak dibagi menjadi dimensi kehangatan dan kekasaran. Hubungan diadik adalah hubungan dua arah antara dua individu yang mengindikasikan aspek pengaruh individu yang diakibatkan karena kontak hubungan. Penelitian Puspitawati (2006) menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat jumlah contoh dari sekolah negeri maupun sekolah swasta melaporkan adanya hubungan yang hangat dan mendukung dari pihak ayah maupun ibu terhadap anaknya. Sikap tersebut tercermin dari perilaku ayah dan ibu dalam hal menanyakan pendapat, mendengarkan pendapat, menghargai pendapat, memberikan kepedulian, mencintai dengan hangat, membantu pekerjaan, tertawa bersama, bertindak sportif dan pengertian, dan menyatakan cinta kepada anaknya. Hubungan diadik antara orangtua dan anak adalah hubungan timbal balik dua arah yang didasari oleh perasaan dan perilaku saling menyayangi, menolong atau membenci antara satu dengan yang lainnya. Merujuk pada Rohner (1986) bahwa perilaku kekasaran orangtua mengarah pada tindakan penolakan, kasar, dan keras dari orangtua terhadap anaknya. Pada penelitian Puspitawati (2006) ditemukan bahwa kurang dari setengah jumlah contoh dari sekolah negeri maupun swasta mendapatkan perlakuan dan hubungan yang keras dan kasar dari orangtuanya. Hal tersebut tercermin dari perlaku orangtua yang mengancam, membuat perasaan bersalah, memukul, menarik rambut, bertengkar, menangis, tersedu-sedu apabila tidak puas dengan perbuatan anaknya, menyindir atau sumpah serapah, berbicara dengan kasar, dan memanggil dengan panggilan yang jelek terhadap anaknya. Permasalahan keluarga yang semakin rentan akhir-akhir ini dikarenakan semakin melemahnya kualitas komunikasi antara anggota keluarga sehingga memudarnya fungsi keluarga dalam melindungi anggotanya dari pengaruh pihak luar. Pengaruh luar terhadap pribadi keluarga semakin kuat akibat peningkatan

46 teknologi komunikasi di era informasi globalisasi (Susanto-Sunario 1995, diacu dalam Puspitawati 2006). Komunikasi dan interaksi dalam keluarga adalah bagian dari proses sosialisasi anak yang dilakukan oleh orangtua. Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam proses sosialisasi, yaitu: pola perilaku yang disosialisasikan, agen yang berpartisipasi dalam proses sosialisasi (termasuk orangtua, anak, teman, guru), dan teknik pelaksananan dari proses sosialisasi (Kalish dan Collier 1981, diacu dalam Puspitawati 2006). Kreppner dan Lerner (Zeitlin 1995) mengemukakan pendapat bahwa keluarga merupakan suatu sistem yang menekankan pada dimensi interaksi keluarga, suatu seri dari interaksi timbal balik dua arah, dan gabungan dari interaksi dari semua sub kelompok keluarga, dan suatu sistem hubungan internal yang menyangkut dukungan sosial, dan hubungan intergenerasi. Suatu sikap yang sering terlihat pada orangtua yang lupa bahwa anaknya yang mulai menginjak remaja, justru membutuhkan lebih banyak waktu dan perhatian untuk menciptakan hubungan timbal balik, hubungan komunikatif dan dialogis, agar permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh remaja memperoleh bantuan, dorongan, dan dukungan dari orangtua untuk mengatasinya (Gunarsa & Gunarsa 2004). Orangtua diharapkan memiliki kesadaran penuh dalam membimbing remaja dalam memperoleh nilai-nilai sebagai pegangan hidup. Hal ini bisa dicapai dengan pemeliharaan hubungan baik antara orangtua dan remaja, dan kesempatan yang cukup banyak untuk berbicara antara orangtua dan remaja. Anak yang menghadapi masalah, baik kecil maupun besar mengidamkan orangtua sebagai tempat bernaung yang dapat diperoleh melalui komunikasi. Komunikasi akan terbentuk bila hubungan timbal balik selalu terjalin antara ayah, ibu, dan remaja. Meluangkan waktu bersama merupakan syarat utama untuk menciptakan komunikasi antara orangtua dan anak, sebab dengan adanya waktu bersama, barulah keintiman dan keakraban dapat diciptakan diantara anggota keluarga(Gunarsa & Gunarsa 2004). Kualitas Hubungan Antar Anggota Keluarga Hubungan antar pribadi dalam keluarga yang meliputi hubungan antara anak dengan tokoh yang dekat dalam kehidupannya berpengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian anak yang dalam hal-hal tertentu bisa menjadi sumber permasalahan perilaku anak. Hubungan kasih sayang antara

47 orangtua dan anak akan mendekatkan anak dengan orangtuanya, memudahkan orangtua memberikan hadiah dan hukuman yang sepadan jika anak berbuat tidak baik. Anak juga akan lebih mudah menerima nilai-nilai orangtua dan menirunya (Gunarsa & Gunarsa 2004). Eratnya keterikatan antara anak dengan orang dewasa yang ada dalam rumah tangga bisa berbeda-beda, sesuai dengan intensitas jalinan hubungan antara orangtua dan anak. Rasa cemas yang sering dialami anak dapat meningkatkan intensitas keterikatan, karena anak dapat memperoleh perasaan aman kedekatan dengan ibu atau pengasuhnya. Akan tetapi hubungan antara orangtua dan anak yang terlalu dekat dapat menyebabkan anak tidak mau lepas dan anak akan menjadi sangat bergantung pada orangtuanya. Sebaliknya jika hubungan antara keduanya renggang atau orangtua bersikap acuh tak acuh terhadap anaknya menyebabkan dalam diri anak timbul reaksi frustasi, begitu juga jika orangtua terlalu keras terhadap anaknya dapat menyebabkan hubungan menjadi jauh(Gunarsa & Gunarsa 2004). Pengasuhan Berbicara mengenai pengasuhan, ditemukan adanya korelasi antara pengasuhan dengan kemampuan kontrol diri anak. Perilaku anak dipengaruhi oleh perlakuan orang tua terhadap dirinya. Orangtua yang menerapkan pengasuhan dengan gaya permisif akan menyebabkan kurangnya kemampuan kontrol diri pada diri anak-anaknya, dan sebaliknya. Adapun pengasuhan anak dan kurangnya kontrol diri pada anak-anak dapat disebabkan oleh faktor-faktor lainnya seperti kecenderungan genetik, kemiskinan atau lingkungan sosial dan sejarah keluarga (Santrock dan Yussen 1989). Schaefer (Hughes dan Noppe 1985) menyoroti dimensi pengasuhan dari perpaduan baik sisi tingkatan afeksi maupun sisi kekuasaan (power) yang dijabarkan ke dalam dua dimensi yang kontinyu yaitu cinta (hangat, diterima, dan diakui) versus kekerasan (dingin, ditolak, dan tidak diakui), dan otonomi (bebas dan fleksibel) versus kontrol (posesif dan rigid). Hampir sama dengan Schaefer, Rohner (1986) menyebutkan pola pengasuhan yang terdiri atas: kehangatan kasih sayang orangtua (parental acceptance) yang meliputi dua ekspresi yaitu secara fisik (seperti memeluk, mencium, membelai, dan tersenyum) dan secara verbal (memuji, dan mengatakan hal-hal yang menyenangkan), dan penolakan orangtua (parental rejection) yang meliputi sikap: (a) kekerasan dan agresi (hostility dan agression) dengan ciri memukul, menendang, mendorong,

48 meremehkan, dan memberi kata-kata kasar, (2) sikap tidak peduli dan melalaikan (indifference dan neglect) dengan ciri ketidakmampuan orangtua secara fisik dan psikologi dalam memenuhi kebutuhan anak, dan mengabaikan, serta (c) penolakan (unindifference rejection) dengan ciri tidak dicintai, tidak diinginkan dari penolakan orangtua tanpa adanya indikator yang secara jelas verbal maupun fisik. Pendekatan Teori Pendekatan struktural-fungsional menekankan pada keseimbangan sistem yang stabil dalam keluarga dan kestabilan sistem sosial dalam masyarakat. Eshleman (1991, Gelles (1995) dan Newman dan Grauerholz (2002) menyatakan bahwa pendekatan teori struktural fungsional dapat digunakan dalam menganalisis peran keluarga agar dapat berfungsi dengan baik untuk menjaga keutuhan keluarga dan masyarakat. Adapun Farington dan Chertok (Boss et al 1993) menyatakan bahwa konsep keseimbangan mengarah kepada konsep homeostatis suatu organisme yaitu suatu kemampuan untuk memelihara kestabilan agar kelangsungan suatu sistem tetap terjaga dengan baik meskipun didalamnya mengakomodasi adanya adaptasi dengan lingkungan. Penerapan teori struktural fungsional dalam konteks keluarga terlihat dari struktur dan peraturan yang diterapkan. Chapman (2000) menyatakan bahwa keluarga adalah unit universal yang memiliki peraturan, seperti peraturan untuk anak-anak agar dapat belajar untuk mandiri. Tanpa aturan atau fungsi yang dijalankan oleh unit keluarga maka unit keluarga tersebut tidak memiliki arti yang dapat menghasilkan suatu kebahagiaan. Bahkan dengan tidak adanya peraturan maka akan tumbuh atau terbentuk suatu generasi penerus yang tidak mempunyai daya kreasi yang lebih baik dan akan mempunyai masalah emosional serta hidup tanpa arah. Prasyarat dalam teori struktural fungsional menjadikan suatu keharusan yang harus ada agar keseimbangan sistem tercapai, baik pada tingkat masyarakat maupun tingkat keluarga. Levy (Megawangi 1999) menyatakan bahwa persyaratan struktural yang harus dipenuhi oleh keluarga agar dapat berfungsi, yaitu meliputi : (1) diferensisasi peran yaitu alokasi peran/tugas dan aktivitas yang harus dilakukan dalam keluarga, (2) alokasi solidaritas yang menyangkut distribusi relasi antara anggota keluarga, (3) alokasi ekonomi yang menyangkut distribusi barang dan jasa antar anggota keluarga untuk mencapai tujuan keluarga, (4) alokasi politik yang menyangkut distribusi kekuasaan dalam

49 keluarga, dan (5) alokasi integrasi dan ekspresi yaitu meliputi cara/teknik sosialisasi internalisasi maupun pelestarian nilai-nilai maupun perilaku pada setiap anggota keluarga dalam memenuhi tuntutan norma-norma yang berlaku. Saxton (1990) menyatakan bahwa keluarga berperan dalam menciptakan stabilitas, pemeliharaan, kesetiaan dan dukungan bagi anggotanya. Namun apabila fungsi keluarga tersebut tidak dapat dilakukan dengan optimal, maka akan timbul berbagai hal negatif baik bagi anggota keluarga itu sendiri maupun bagi masyarakat. Teori sistem mempunyai pengertian dan konsep yang sama dengan teori struktural-fungsional, namun teori sistem lebih menekankan pada beroperasinya hubungan antara satu set dengan set yang lainnya, sedangkan teori struktural-fungsional lebih menekankan pada mekanisme struktur dan fungsi dalam mempertahankan keseimbangan struktur, Kedua teori tersebut terkadang dipandang sebagai teori yang sama, dan keduanya diterapkan pada analisis kehiduoan keluarga. Pendekatan teori sistem sosial diperkenalkan oleh seorang ahli ekonomi Adam Smith yang menyangkut adanya konsep kesatuan dan saling ketergantungan antar individu dan masyarakat (Campbell 1981). Pendekatan ini digunakan dalam menganalisis keluarga dengan menerapkan konsep keluarga sebagai ekosistem dan keluarga sebagai suatu sistem sosial. Keluarga sebagai suatu sistem terdiri dari suatu set bagian berbeda, namun berhubungan dan saling tergantung satu dengan yang lainnya.. Keluarga juga menerapkan praktek komunikasi antar organisasi yang menyangkut kemampuan manusia dan perilakunya dalam menggunakan bahasa dan penafsiran simbol-simbol yang berkaitan dengan sistem sosial di sekelilingnya (Ruben 1988; Nisjar dan Winardi 1997). Bronfenbrenner (1981) menyajikan model pandangan dari segi ekologi dalam mengerti sosialisasi anak-anak. Model tersebut menempatkan posisi anak atau keluarga inti pada pusat didalam model yang secara langsung dapat berinteraksi dengan lingkungan yang berada disekitarnya, yaitu lingkungan mikrosistem yang merupakan lingkungan terdekat dengan anak berada, meliputi keluarga, sekolah, teman sebaya, dan tetangga. Lingkungan yang lebih luas disebut lingkungan mesosistem yang berupa hubungan antara lingkungan mikrosistem satu dengan mikrosistem yang lainnya, misalnya hubungan antara lingkungan keluarga dengan sekolahnya, dan hubungan antara lingkungan keluarga dengan teman sebayanya. Lingkungan yang lebih luas disebut

50 lingkungan exosistem yang merupakan lingkungan anak tidak secara langsung mempunyai peran secara aktif , misalnya lingkungan keluarga besar atau lingkungan pemerintahan. Akhirnya lingkungan yang paling luas adalah lingkungan makrosistem yang merupakan tingkatan paling luas yang meliputi struktur sosial budaya suatu bangsa secara umum. Masa Remaja Steinberg (2001) menyatakan bahwa masa remaja merupakan suatu masa yang menyenangkan dalam rentang kehidupan manusia, remaja menjadi individu yang telah dapat membuat keputusan-keputusan yang baik bagi dirinya sendiri dan dipandang telah mampu untuk bekerja serta mempersiapkan perkawinan. Santrock (1998) mengemukakan bahwa bersamaan dengan berkembangnya aspek kognitif, sering muncul perbedaan pendapat dengan orang tua atau orang dewasa lainnya. Remaja tidak lagi memandang orang tua sebagai sosok manusia yang mengetahui segalanya, sehingga banyak orang berpikir bahwa masa remaja merupakan masa yang penuh dengan pertentangan dan menolak nilai-nilai yang digariskan oleh orang tuanya. Bila dilihat dari keseluruhan perjalanan dan perkembangan hidup manusia, maka tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa masa remaja adalah masa yang paling menarik dan paling banyak mendapat perhatian, karena sifatnya yang khas dan perannya yang cukup menentukan dalam kehidupan individu dan dalam masyarakat (Sarwono S W 2003). Sebagian masyarakat ada yang memandang bahwa remaja merupakan kelompok yang biasa-biasa saja tidak berbeda dengan kelompok orang-orang lainnya. Ada juga orang yang memandang bahwa remaja merupakan kelompok yang sering membuat masalah dalam masyarakat. Ada juga yang berpendapat bahwa remaja merupakan generasi penerus bangsa sehingga potensinya perlu dimanfaatkan (Monks 1987). Para ahli psikologi pada umumnya membagi masa remaja menjadi beberapa fase seperti diungkapkan oleh Monks (1987) yaitu fase remaja awal usia antara 12-15 tahun, fase remaja pertengahan berusia antara 15-18 tahun dan fase remaja akhir berusia antara 18-21 tahun. Pada remaja awal biasanya ditandai oleh adanya pertumbuhan fisik yang cukup. Pada remaja pertengahan biasanya sudah mulai mengembangkan cara berpikir yang lebih baik, sudah mulai melakukan peran-peran orang dewasa dan berpandangan realistik, sedangkan individu yang berada pada masa remaja akhir biasanya ditandai oleh

51 telah selesainya persiapan-persiapan menjadi orang dewasa dan masa ini dipandang sebagai masa konsolidasi. Masa remaja merupakan masa yang paling potensial dalam kehidupan manusia karena memasuki umur dengan penuh vitalitas dalam melakukan berbagai aktivitas. Ada lima aspek menurut Gymnastiar yang harus diperhatikan dalam mempelajari remaja, yaitu kondisi fisik, kebebasan emosi, interaksi sosial, dan pengetahuan tentang kemampuan diri, dan penguasaan diri terhadap nilai-nilai moral dan agama (MQS 2004). Tujuan Hidup dan Cita-Cita Remaja biasanya memiliki minat tertentu dalam kehidupannya. Minat yang paling penting dan paling universal pada remaja salah satunya adalah minat terhadap pendidikan. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap remaja terhadap pendidikan yaitu sikap teman sebaya, sikap orangtua, nilai-nilai, relevansi atau nilai praktis dari berbagai mata pelajaran, sikap terhadap guru, keberhasilan dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler, derajat dukungan sosial di antara teman-teman sekolah. Prestasi yang baik dapat memberikan kepuasan pribadi dan ketenaran. Hal ini menyebabkan prestasi baik dalam olahraga, akademik ataupun prestasi lainnya menjadi minat yang kuat sepanjang masa remaja (Hurlock 1980). Minat remaja pada pekerjaan sangat mempengaruhi besarnya minat mereka terhadap pendidikan. Pendidikan tinggi dianggap sebagai batu loncatan untuk meraih pekerjaan. Pada umumnya remaja lebih menaruh minat pada pelajaran-pelajaran yang nantinya dapat bermanfaat dalam bidang pekerjaan yang dipilihnya. Remaja terutama anak sekolah menengah atas, mulai memikirkan masa depan dengan bersungguh-sungguh. Anak laki-laki lebih bersungguh-sungguh dalam hal pekerjaan dibandingkan anak perempuan yang memandang pekerjaan sebagai pengisi waktu luang sebelum pernikahan (Al-Mighwar 2006). Cita-cita merupakan perwujudan dari minat, yang berkaitan dengan masa depan yang direncanakan seseorang dalam menentukan pilihannya, baik yang berkaitan dengan masalah teman hidup, pekerjaan, jenjang pendidikan, atau hal lain yang berkaitan dengan dirinya kelak. Selama masa remaja, minat dan cita-cita terus berkembang. Minat atau cita-cita remaja awal terhadap sekolah dan jabatan banyak dipengaruhi oleh minat orangtua dan kelompoknya. Remaja awal akan berminat pada sekolah yang menghantarkannya ke perguruan tinggi dan

52 menuju cita-cita jabatannya jika orangtua dan kelompoknya berorientasi ke sana. Ane Roe dalam Al-Mighwar (2006) menyatakan bahwa pola pendidikan orangtua mempunyai pengaruh yang besar terhadap pilihan jabatan. Pada masa remaja akhir, minat dan cita-cita pendidikan atau jabatan telah mantap. Sehingga faktor yang mempengaruhi pemilihan cita-cita yaitu minat dan aspirasi sendiri, minat dan aspirasi orangtua, kesan-kesan teman sebaya. Karakteristik Keluarga Keluarga adalah tempat yang paling penting bagi anak dalam memperoleh dasar dalam membentuk kemampuannya agar menjadi orang yang berhasil. Keluarga khususnya orang tua bertanggung jawab dalam menjaga, menumbuhkan, dan mengembangkan anggota-anggotanya. Herni (2000) dan Wade (2004) menyatakan bahwa pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan orang tua sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar anak. Keluarga merupakan lingkungan pertama kali dikenal oleh anak dan tempat anak dididik. Segala nilai-nilai dan norma-norma dalam keluarga akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Karakteristik keluarga diantaranya meliputi tingkat pendidikan, pendapatan, jenis pekerjaan, dan besar keluarga. Tingkat Pendidikan Orangtua Setiap orang memiliki tIngkat pendidikan yang berbeda-beda, baik dari segi jenis maupun kualitas. Gunarsa dan Gunarsa (2004) menyatakan tingkat pendidikan orangtua baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi komunikasi antara orangtua dan anak dalam lingkungan keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki pendidikan formal yang rendah dan tidak bekerja memiliki partisipasi yang sedikit pada segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas sekolah anaknya dibandingkan dengan orangtua yang berpendidikan tinggi. Hal ini secara tidak langsung akan berpengaruh pada prestasi belajar anak karena orangtua berperan sebagai pengetahuan/disiplin, pengembangan karir, memberikan fasilitas belajar , dan pembentukan karakter anak. Pendapatan Keluarga Salah satu faktor yang penting pada kehidupan keluarga adalah keadaan sosial ekonomi, yang berpengaruh pada kehidupan mental dan fisik individu yang berada dalam keluarga. Ekonomi keluarga akan digunakan sebagai salah satunya pemeliharaan anak dalam keluarga. Adanya kondisi keluarga yang memiliki tingkat pendapatan rendah menyebabkan orangtua memperlakukan

53 anak dengan kurang perhatian, penghargaan, pujian untuk berbuat baik yang mengikuti peraturan, kurangnya latihan dari penanaman nilai moral (Gunarsa & Gunarsa 2000) Jenis Pekerjaan Peranan orangtua terhadap pengasuhan anak sangat dibutuhkan, seorang ayah sebaiknya tidak menyerahkan tugas membimbing anak hanya kepada ibunya saja. Ibu masa kini disamping mengurus rumah tangga, juga sibuk bekerja diluar rumah, baik di organisasi maupun bekerja untuk menambah pendapatan keluarga (Santoso & Karyadi 1986, diacu dalam Tanmella 2002). Besar Keluarga Semakin banyak anggota keluarga maka jumlah interaksi interpersonal yang terjadi akan semakin banyak dan kompleks (Guhardja, Puspitawati, Hartoyo &Hastuti 1992). Adanya kepadatan dalam keluarga akan mengganggu pola dan corak hubungan antar anggota keluarga sehingga jaringan komunikasi antara anggota keluarga tidak berjalan sebagaimana mestinya (Gunarsa & Gunarsa 2000).

54 KERANGKA PEMIKIRAN Bronfenbrenner (1981) menyajikan model pandangan dari segi ekologi dalam memahami proses sosialisasi pada anak. Model tersebut menempatkan posisi anak pada pusat di dalam model yang secara langsung dapat berinteraksi dengan lingkungan yang berada disekitarnya yang meliputi lingkungan mikrosistem, mesosistem, dan makrosistem. Lingkungan mikrosistem merupakan lingkungan terdekat dengan anak berada, meliputi keluarga, sekolah, teman sebaya, dan tetangga. Lingkungan yang lebih luas disebut lingkungan mesosistem yang berupa hubungan antara lingkungan mikrosistem satu dengan mikrosistem yang lainnya, misalnya hubungan antara lingkungan keluarga dengan sekolahnya, dan hubungan antara lingkungan keluarga dengan teman sebayanya. Lingkungan yang lebih luas disebut lingkungan exosistem yang merupakan lingkungan anak tidak secara langsung mempunyai peran secara aktif , misalnya lingkungan keluarga besar atau lingkungan pemerintahan. Akhirnya lingkungan yang paling luas adalah lingkungan makrosistem yang merupakan tingkatan paling luas yang meliputi struktur sosial budaya suatu bangsa secara umum. Perkembangan intelektual atau kecerdasan anak sangat terkait erat dengan keadaan emosionalnya. Perasaan anak terhadap diri sendiri dan terhadap kemampuan dapat berpengaruh besar terhadap keberhasilan di sekolah. Anak yang mengalami gangguan emosi dan sosialnya dapat mempengaruhi prestasi belajarnya dan anak butuh waktu untuk mengejar ketertinggalannya. Hasil penelitian Terman, anak yang kecerdasan emosionalnya (EQ) tinggi punya prestasi yang baik, lebih ulet, lebih bermotivasi untuk dapat berprestasi yang paling baik. Selain itu anak akan dapat melakukan penyesuaian sosia dengan lebih baikl, sehingga dapat menyelesaikan pendidikannya dengan lebih memuaskan. Freeman & Munandar (2000) mengungkapkan bahwa anak-anak akan menunjukkan prestasi terbaiknya di sekolah jika orangtua dan guru bekerjasama secara harmonis. Orangtua yang kehilangan keterlibatan dalam keberhasilan dan kesuksesan sekolah anak dapat menyebabkan anak merasakan bahwa orangtua tidak menghargai keberhasilannya sehingga berakibat anak tidak termotivasi untuk mencapainya. Hasil penelitian Hidayanti (1998) menyatakan bahwa pada anak yang memiliki prestasi tinggi, motivasi belajar, hubungan interaksi siswa

55 dengan orangtua dan gurunya sangat berpengaruh pada pola belajar siswa tersebut. Interaksi anak terhadap keluarga yang terdiri dari pengasuhan yang dilakukan orangtua kepada anak dan kualitas hubungan sangat erat hubungannya dengan kecerdasan emosional yang dipengaruhi oleh karakteristik individu, dan keluarga. Beberapa faktor individu yang diduga dapat berpengaruh terhadap kecerdasan emosional adalah jenis kelamin, usia, cita-cita/tujuan, dan uang jajan. Faktor keluarga yang diduga dapat berpengaruh terhadap kecerdasan emosional adalah umur orangtua, tingkat pendidikan orangtua, pendapatan orangtua, jenis pekerjaan orangtua, dan besar keluarga yang dapat dihubungkan dengan interaksi anak dalam keluarga. Latar belakang keluarga misalnya karakteristik sosial ekonomi keluarga, tingkat pendidikan orangtua dan posisi sosial orangtua menjadi determinan dari perkembangan kreativitas anak dan penyebab yang sangat kuat terhadap pencapaian prestasi akademik. Latar belakang status sosial ekonomi yang baik mempengaruhi terhadap peningkatan pencapaian pendidikan (Thonthowi 1991, diacu dalam Hulu 2004). Secara umum penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan interaksi anak dalam keluarga dengan kecerdasan emosional siswa. Lebih jelasnya mengenai hubungan interaksi anak dalam keluarga dengan kecerdasan emosional siswa dapat dilihat pada Gambar 1.

56 Karakteristik contoh: • Jenis kelamin • Umur • Cita-cita/ tujuan • Uang saku Karakteristik keluarga: • Umur orangtua • Tingkat pendidikan orangtua • Jenis pekerjaan orangtua • Pendapatan orangtua • Besar keluarga Interaksi dalam keluarga: • Hubungan contoh dengan ayah • Hubungan contoh dengan ibu • Hubungan ayah dengan ibu • Kualitas hubungan Gambar 1. Kerangka pemikiran hubungan interaksi anak dalam keluarga dengan kecerdasan emosional siswa kelas bertaraf internasional Kecerdasan emosional

60METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Desain penelitian ini adalah cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 1 Bogor, Kota Bogor Provinsi Jawa Barat. Lokasi penelitian dilakukan secara Purposive dengan pertimbangan sekolah tersebut adalah satu-satunya sekolah bertaraf internasional di Kota Bogor. Waktu penelitian berlangsung bulan April hingga Juli 2007. Penarikan Contoh Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas internasional di SMAN 1 Bogor. Contoh diperoleh dengan menggunakan sensus yaitu meneliti seluruh siswa kelas bertaraf internasional di sekolah tersebut. Total sampel penelitian yang akan diambil adalah seluruh siswa di Kelas X dan XI yaitu sebanyak 73 siswa seperti yang terlihat pada kerangka sampel berikut ini. Sekolah di Kota Bogor SMAN 1 Kelas Bertaraf Internasional Kelas X Kelas XI 12 Laki-laki 24 Perempuan 12 Laki-laki 25 Perempuan Gambar 2. Kerangka sampling penelitian purposive purposive purposive sensus

61Jenis dan Cara Pengumpulan Data Tabel 1 Peubah, skala, jenis data, item pertanyaan, dan α Cronbach No Peubah Skala Jenis Data Pertanyaan α Cronbach 1 Karakteristik individu Nominal primer Jenis kelamin Nominal primer Umur Rasio primer Cita-cita/tujuan Ordinal primer 10 0.657 Uang jajan Rasio primer 2 Karakteristik Keluarga Tingkat pendidikan ayah/ibu Ordinal primer Pendapatan Ordinal primer Pekerjaan ayah/ibu Nominal primer Besar keluarga Rasio primer 3 Interaksi dalam keluarga 86 0.682 Hubungan ayah dan contoh Ordinal primer 18 0.893 Hubungan ibu dan contoh Ordinal primer 18 0.693 Hubungan ayah dan ibu Ordinal primer 18 0.882 Kualitas hubungan Ordinal primer 6 0.8924 Kecerdasan emosional Ordinal primer 25 0.715 Tabel 1 menjelaskan mengenai peubah, skala, jenis data, jumlah item pertanyaan, dan α cronbach dari variabel yang diteliti. Adapun cara pengukuran variabel disajikan pada Lampiran 1. Data yang digunakan untuk penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer meliputi: (1) Karakteristik contoh; (2) Karakteristik keluarga contoh; (3) interaksi yang dilakukan contoh; dan (4) kecerdasan emosional. Data sekunder adalah profil SMAN 1. Pengolahan dan Analisis Data Data yang diperoleh diolah melalui proses editing, coding, skoring, entry data ke komputer, cleaning data dan analisis data dengan bantuan komputer menggunakan program Microsoft Excel 2003 dan SPSS versi 13.0 for Windows. Uji coba kuesioner sebelum pengumpulan data dilakukan, untuk mengetahui pilihan bentuk kuesioner (pernyataan atau pertanyaan), kedalaman pertanyaan, ketepatan pemilihan kata, dapat tidaknya suatu pertanyaan ditanyakan, pilihan jawaban yang dimungkinkan, serta lama maksimal wawancara dan mengukur reliabilitas kuesioner (alpha cronbach). Data karakteristik contoh terdiri dari jenis kelamin, usia, tujuan hidup, dan besarnya uang saku. Tujuan hidup di kategorikan menjadi tidak penting (<24), cukup penting (24-37), dan sangat penting (>37) berdasarkan sebaran interval. Uang saku dikategorikan menjadi Rp 150 000-300 000, Rp 300 001-450 000, Rp 450 001-600 000, dan Rp >600 001. Data karakteristik keluarga contoh terdiri dari umur orangtua, pendidikan orangtua, pekerjaan orangtua, pendapatan orangtua, dan besar keluarga.

62Pendidikan orangtua dikategorikan berdasarkan lama pendidikan yang ditempuh atau jumlah tahun pendidikan (tidak sekolah, tamat SD, tamat SMP, tamat SMA, D3, S1, S2, dan S3). Pekerjaan orangtua dikelompokkan menjadi PNS, Pegawai BUMN, TINI/Polri, Pegawai swasta, Wiraswasta, Ibu rumahtangga, dan lainnya. Pendapatan keluarga dikelompokkan menjadi tujuh macam yaitu: 6 000 000. Besar keluarga dikelompokkan menjadi keluarga kecil (<4), sedang (5-6), dan besar (>6). Data interaksi yang dilakukan contoh dalam keluarga dikategorikan menjadi kurang baik, cukup baik, dan baik serta tidak puas, cukup puas, dan puas. Data kecerdasan emosional contoh dikategorikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi. Uji beda dilakukan untuk melihat adanya perbedaan variabel dependent dan independent antara Kelas X dan Kelas XI, uji beda yang digunakan adalah uji beda Mann-Whitney untuk skala data yang bersifat ordinal. Analisis korelasi Rank Spearman dilakukan untuk melihat hubungan antar variabel yang diteliti.

63Definisi Operasional Karakteristik individu adalah ciri-ciri khas contoh yang diteliti yang meliputi jenis kelamin, umur, tujuan hidup dan cita-cita, dan uang saku. Contoh adalah siswa yang berusia 12-17 tahun siswa di kelas bertaraf internasional. Tujuan dan cita-cita adalah hal yang dianggap penting untuk dicapai di masa depan (goals) yang berhubungan dengan pendidikan tinggi, etos kerja, kepemilikan material, budi pekerti, dan menghindari masalah. Karakteristik keluarga adalah keadaan keluarga yang meliputi umur orangtua, tingkat pendidikan orangtua, jenis pekerjaan orangtua, pendapatan total keluarga, dan besar keluarga. Besar keluarga adalah jumlah orang yang memiliki hubungan keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak dan hidup dari sumberdaya yang sama. Pendidikan orangtua adalah jenjang pendidikan tertinggi yang dilalui oleh orangtua. Pekerjaan orangtua adalah pekerjaan utama yang dilakukan oleh orangtua yang memberikan penghasilan terbesar. Pendapatan total orangtua adalah jumlah uang yang diterima anggota keluarga, dapat berasal dari kepala keluarga, istri, anak, anggota keluarga yang lain, maupun sumbangan setiap bulannya. Interaksi dalam keluarga adalah tindakan konkrit yang terjalin antara contoh dengan orangtua yang meliputi pengasuhan (hubungan kehangatan dan kekasaran) ayah-anak, ibu-anak, dan ayah-ibu; keeratan hubungan; komunikasi; dan kualitas hubungan. Pengasuhan (kehangatan dan kekerasan) adalah praktek yang biasa dilakukan orangtua dalam mendidik dan mengasuh contoh yang banyak dilandasi oleh perilaku mencintai, menanyakan pendapat, menghargai, mendukung, mempedulikan, marah, mengkritik, membentak, bertengkar, dan memukul baik hubungan ayah dan anak, hubungan ibu dan anak, serta hubungan ayah dan ibu. Kualitas Hubungan adalah perasaan puas dan bahagia yang dirasakan contoh dalam berhubungan dengan orangtua baik hubungan ayah dan anak, hubungan ibu dan anak, serta hubungan ayah dan ibu..

64Kecerdasan emosional adalah kemampuan contoh dalam mengenali emosi, mengelola emosi, memotivasi diri, berempati, dan kemampuan membina hubungan dengan orang lain.

65HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Sekolah Menengah Atas Negeri 1 (SMAN1) Bogor merupakan satu-satunya Sekolah Nasional Bertaraf Internasional (SNBI) di Kota Bogor yang beralamat di Jl Ir H Juanda No 16 Kelurahan Paledang, Kecamatan Kota Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat (Anonim 2006). Sekolah ini dikepalai oleh Drs H Agus Suherman. Tenaga pengajar terdiri dari 56 orang guru tetap, dan 14 orang guru tidak tetap. Sarana dan prasarana yang dimiliki yaitu tanah dan halaman sekolah dengan status milik Negara dan memiliki luas tanah 3 135 meter persegi, lapangan olahraga dan upacara 480 meter persegi dan pagar 30 meter. Gedung bangunan sekolah yang dimiliki status milik Negara dengan luas bangunan 1 619 meter persegi. Bangunan terdiri dari satu ruang kepala sekolah, satu ruang tata usaha, satu ruang guru, dua ruang perpustakaan, satu ruang Bimbingan Konseling (BK), satu ruang dapur, 18 ruang Kelas, satu ruang laboratorium komputer, dua ruang laboratorium Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dua ruang musholla, delapan ruang Organisasi Intra Sekolah (OSIS), tujuh ruang sanitasi, satu lokal kantin sekolah, satu ruang koperasi, satu ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS), satu ruang gedung, satu ruang penjaga sekolah, satu ruang laboratorium bahasa, satu ruang broadcast, dan satu ruang seni. Kegiatan ekstrakurikuler terdiri dari ekstrakurikuler akademik dan non akademik. Ekstrakurikuler akademik meliputi kegiatan komputer, Kelompok Ilmiah Remaja, Praktikum IPA, dan kelompok Bahasa Inggris. Kegiatan ekstrakurikuler non akademik meliputi pembinaan terhadap Tuhan YME, pembinaan berbangsa dan bernegara, pembinaan pendidikan pendahuluan bela Negara, pembinaan kepribadian dan budi pekerti luhur, pembinaan berorganisasi, pendidikan politik dan kepemimpinan, pembinaan keterampilan kewirausahaan, pembinaan kesegaran jasmani dan daya kreasi, pembinaan persepsi, apresiasi dan kreasi seni. Kegiatan ekstrakurikuler non akademik dilaksanakan melalui wadah Organisasi Intra Sekolah (OSIS), Dewan Keluarga Masjid (DKM), Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), Pecinta Alam (PA), Palang Merah Remaja (PMR), Pramuka, Olah Raga dan Seni, serta perkumpulan bela diri. Kurikulum yang diterapkan pada SNBI menggunakan kurikulum 2004 plus dengan penambahan jam pelajaran MIPA untuk pengembangan penelitian ilmiah. Bahasa pengantar yang digunakan berupa 40 persen bahasa Inggris untuk Kelas X, 60 persen untuk Kelas XI, dan 80 persen untuk Kelas XII. Sarana

66dan prasarana yang disediakan untuk Kelas Rintisan Bertaraf Internasional adalah ruang belajar memakai Air Conditioner (AC), sarana belajar berbasis Information and Communication Technology (ICT) seperti laptop terhubung internet, Liquid Crystal Display (LCD), Overhead Projektor (OHP), Laboratorium komputer, bahasa, fisika, kimia, dan biologi. Keunggulan SMAN 1 adalah terletak pada kualitas sumberdaya manusia atau siswa yang masuk ke sekolah. Batas nilai ebtanas murni (NEM) terendah yang dapat diterima di sekolah ini pada setiap tahun adalah tertinggi di Kota Bogor. Pada tahun 2007, Pass In Grade SMAN 1 Bogor adalah 28,13 dari total nilai 30 yang berasal dari tiga mata ajaran yaitu Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris . Sebagian besar siswa berasal dari keluarga yang mampu dengan tingkat pendidikan orang tua rata-rata tinggi (lulusan atau pernah menempuh Perguruan Tinggi). Potensi unggulan lainnya adalah SMAN 1 memiliki lokasi sekolah yang strategis. Sekolah Nasional Bertaraf Internasional (SNBI) adalah suatu program pendidikan yang bertujuan agar sekolah memiliki budaya untuk terus menerus melakukan peningkatan mutu layanan pendidikan, meningkatkan mutu pembelajaran dan standar kompetensi bertaraf internasional, dan agar siswa mendapatkan pengakuan dan perlakuan sama dengan sekolah internasional lain di dunia untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri (Dinas Pendidikan 2005). Pada tahun 2006 terdapat seratus sekolah yang menyelenggarakan program ini yang tersebar di seluruh Indonesia. Di Kota Bogor, program SNBI baru dilaksanakan di SMAN 1. Program SNBI mengintegrasikan kurikulum nasional dengan kurikulum internasional. Proses belajar mengajar menggunakan metode yang bervariasi dan menekankan pada contectual teaching learning yang merupakan konsep pembelajaran yang membantu guru untuk mengaitkan antara materi ajar dengan situasi dunia nyata siswa, yang dapat mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dipelajari dengan penerapannya dalam kehidupan. Salah satu bentuknya adalah outdoor teaching misalnya ke museum. Jam belajar per hari pada Kelas ini juga lebih lama dibandingkan dengan Kelas biasa karena terdapat tambahan jam belajar untuk mata pelajaran MIPA .

67Karakteristik Individu Jenis Kelamin Contoh pada penelitian ini berjumlah 73 orang dengan proporsi 36 orang Kelas X dan 37 orang Kelas XI. Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh contoh berjenis kelamin perempuan baik pada Kelas X (66.7%) maupun XI (67.6%). Tabel 2 Sebaran contoh Kelas X dan XI berdasarkan jenis kelamin (n=73) Jenis Kelamin Kelas X Kelas XI n% n %Laki-laki 12 33.3 12 32.4Perempuan 2466.725 67.6Total 36 100.0 37 100.0 Umur Umur contoh termasuk ke dalam kategori remaja yang berkisar antara 15-18 tahun. Menurut Monks (1987) fase remaja yang berkisar antara 15-18 tahun disebut fase remaja pertengahan. Pada remaja pertengahan biasanya sudah mulai mengembangkan cara berpikir yang lebih baik, mulai melakukan peran-peran orang dewasa dan berpandangan realistik. Tabel 3 menjelaskan bahwa persentase terbesar umur contoh pada Kelas X yaitu 16 tahun (61.1%), sedangkan pada Kelas XI yaitu 17 tahun (70.3%). Sebaran contoh berdasarkan umur contoh disajikan pada Tabel 3. Tabel 3 Sebaran contoh Kelas X dan Kelas XI berdasarkan umur (n=73) Umur (Tahun) Kelas X Kelas XI n %n %15 6 16.7 1 2.716 2261.14 10.817 8 22.2 26 70.318 0 0.0 6 16.2Total 36 100.0 37 100.0Min 15 15 Max 17 18 Rata-rata ± SD 16.01 ±0.6 17.0 ±0.6 Tujuan Hidup dan Cita-cita Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan informasi bahwa sebagian besar contoh baik Kelas X (83.3%) maupun XI (97.3%) mempunyai tujuan hidup dan cita-cita yang dianggap sangat penting. Sebagian besar contoh (91.8%) menganggap sangat penting untuk mempunyai cita-cita meneruskan ke perguruan tinggi. Menuntut ilmu hingga perguruan tinggi menjadi tujuan terbesar contoh. Prinsip-prinsip yang berhubungan dengan etos kerja yang baik seperti

68belajar rajin agar nilainya bagus, belajar keras dan tekun, serta beraktivitas di sekolah dengan baik dianggap penting bahkan sangat penting oleh lebih dari separuh contoh. Proporsi terbesar contoh juga menganggap sangat penting tujuan hidup yang berhubungan dengan kebaikan budi pekerti yang meliputi berbakti pada orangtua dan guru, bertanggung jawab atas perbuatannya, dan berteman dengan baik. Adapun tujuan hidup yang berkaitan dengan kemapanan status sosial seperti menabung dan hidup hemat juga dianggap penting oleh lebih dari separuh contoh (53.4%). Proporsi terbesar contoh (36.9%) menganggap sangat penting menghindari masalah di sekolah, sedangkan sepertiga contoh (35.6%) menyatakan hidup bersenang-senang adalah kurang penting. Sebaran contoh berdasarkan tingkat tujuan dan cita-cita dapat dilihat pada Tabel 4 berikut ini. Tabel 4 Sebaran contoh berdasarkan tujuan dan cita-cita (n=73) Pernyataan Persentase (%) A B C D E 1. Meneruskan ke perguruan tinggi 0.0 0.0 0.0 8.2 91.82. Belajar yang rajin agar nilainya bagus 0.0 1.4 9.6 57.5 31.53. Bekerja keras dan belajar tekun 0.0 0.0 11.0 43.8 45.24. Beraktivitas disekolah dengan baik 0.0 1.4 9.6 52.1 37.05. Berbakti pada orangtua dan guru 0.0 0.0 1.4 38.4 60.36. Bertanggung jawab atas perbuatan kita 0.0 0.0 2.7 38.4 58.97. Berteman yang baik 0.0 0.0 2.7 38.4 58.98. Menghindari masalah disekolah 2.7 2.7 24.7 32.9 37.09. Hidup bersenang-senang 15.135.627.4 20.6 1.410.Menabung dan hidup hemat 0.0 0.0 12.3 53.4 34.3 Keterangan: A:Tidak penting B:Kurang penting C:Cukup penting D:Penting E:Sangat penting. Apabila skor tujuan/cita-cita dikategorikan menjadi tiga, maka persentase terbesar contoh baik Kelas X maupun Kelas XI menganggap tujuan hidup menjadi sangat penting. Hal ini dapat dikatakan bahwa contoh telah memiliki tujuan dan orientasi yang jelas mengenai hal-hal yang penting untuk dilakukan di masa depan. Hasil uji statistik menyatakan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara tujuan hidup contoh kedua Kelas. Tabel 5 Sebaran contoh berdasarkan tingkat tujuan dan cita-cita (n=73) Tujuan Hidup dan Cita-cita Kelas X Kelas XI n % n %Tidak Penting (<24) 0 0.0 0 0.0Cukup Penting (24-37) 6 16.7 1 2.7Sangat Penting (>37) 3083.336 97.3Total 36 100.0 37 100.0Min 34 36 Max 48 48 Rata-rata ± SD 42.4 ±4.0 42.0 ±2.8 p-value 0.679

69 Uang Saku Tabel 6 menunjukkan bahwa persentase terbesar uang saku per bulan contoh baik pada Kelas X maupun XI berada pada kisaran Rp 300 001-450 000. Rata-rata uang saku per bulan yang diterima contoh Kelas XI lebih tinggi (Rp 460 945.95) dibandingkan dengan uang saku per bulan Kelas X (Rp 441 527.78). Hal ini diduga kegiatan dan kebutuhan Kelas XI lebih besar dibandingkan Kelas X. Hasil uji statistik menyatakan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara uang saku contoh kedua Kelas. Tabel 6 Sebaran contoh Kelas X dan Kelas XI berdasarkan besarnya uang saku per bulan (n=73) Uang saku Bulanan Siswa (Rupiah) Kelas X Kelas XI n %n %150 000-300 000 13 36.1 8 21.6300 001-450 000 1438.912 32.4450 001-600 000 5 13.9 12 32.4>600 001 4 11.1 5 13.5Total 36 100.0 37 100.0Min 200 000 150 000 Max 1 500 000 750 000 Rata-rata ± SD 441 527.8 ±239 096.0 460 945.9 ±175 846.5 p-value 0.693 Karakteristik Keluarga Umur Orangtua Tabel 7 berikut ini menjelaskan sebaran contoh berdasarkan umur orangtua. Tabel 7 Sebaran contoh Kelas X dan XI berdasarkan umur orangtua (n=73) Umur Orangtua (Tahun) Kelas X Kelas XI n % n %Ayah 36-40 0 0.0 0 0.041-45 13 37.1 12 33.346-50 1851.416 44.451-55 2 5.7 8 22.256-60 2 5.7 0 0.0Total 35 100.0 36 100.0Min 41 42 Max 60 55 Ibu 36-40 10 27.8 5 13.541-45 1850.022 59.546-50 7 19.4 6 16.251-55 1 2.8 4 10.8Total 36 100.0 37 100.0Min 37 36 Max 51 52

70Proporsi terbesar contoh memiliki ayah yang berumur 46-50 tahun (51.4% Kelas X dan 44.4% Kelas XI), dan ibu yang berumur 41-45 tahun (50.0% Kelas X dan 59.5% Kelas XI). Sebagian besar contoh Kelas X dan Kelas XI mempunyai orangtua yang berada pada kelompok umur produktif yaitu pada rentang umur antara 36-55 tahun. Umur ayah contoh yang berada pada kelompok umur lansia (lebih dari 55 tahun) ditemukan pada contoh Kelas X yaitu 5.7 persen, sedangkan pada contoh Kelas XI tidak ditemukan umur ayah yang lanjut usia. Pendidikan Orangtua Pendidikan formal merupakan segala sesuatu (proses belajar mengajar) yang diupayakan untuk mengubah segenap perilaku seseorang (Gunarsa dan Gunarsa, 2004). Pendidikan orang tua dikelompokkan menjadi delapan tingkat, yaitu tidak sekolah, tamat SD, tamat SMP, tamat SMA, D3, S1, S2, dan S3. Berdasarkan pada Tabel 8, dapat dilihat bahwa pendidikan ayah contoh pada Kelas XI lebih tinggi (S2) dibandingkan Kelas X (S1). Hal ini berbeda dengan tingkat pendidikan ibu. Persentase terbesar pendidikan tertinggi ibu contoh baik pada Kelas X maupun Kelas XI yaitu S1. Tabel 8 Sebaran contoh Kelas X dan Kelas XI berdasarkan pendidikan orangtua Pendidikan Orangtua Kelas X Kelas XI n % n %Ayah 0 0.0 0 0.0Tidak Sekolah 0 0.0 0 0.0Tamat SD 0 0.0 0 0.0Tamat SMP 0 0.0 0 0.0Tamat SMA 3 8.3 1 2.8D3 2 5.6 1 2.8S1 1130.613 36.1S2 10 27.8 14 38.9S3 10 27.8 7 19.4Total 36 100.0 36 100.0Ibu Tidak Sekolah 0 0.0 0 0.0Tamat SD 0 0.0 0 0.0Tamat SMP 2 5.6 1 2.7Tamat SMA 8 22.2 9 24.3D3 5 13.9 6 16.2S1 1438.913 35.1S2 3 8.3 7 18.9S3 4 11.1 1 2.7Total 36 100.0 37 100.0

71Gunarsa dan Gunarsa (2004) menyatakan tingkat pendidikan orangtua baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi komunikasi antara orangtua dan anak dalam lingkungan keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki pendidikan formal yang tinggi dan bekerja, tingkat partisipasi pada segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas sekolah anaknya lebih banyak dibandingkan dengan orangtua yang berpendidikan rendah. Hal ini secara tidak langsung akan berpengaruh pada prestasi belajar anak karena orangtua berperan sebagai sumber pengetahuan/disiplin, pengembangan karir, memberikan fasilitas belajar dan pembentukan karakter anak. Pekerjaan Orangtua Pekerjaan ayah contoh pada Kelas X lebih bervariasi daripada Kelas XI. Kategori pekerjaan ayah contoh terdiri dari PNS, pegawai BUMN, TNI/Polri, pegawai swasta, wiraswasta, dan lainnya seperti dokter, bankir, direktur keuangan, arsitek developer, konsultan, dan notaris. Tabel 9 menunjukkan bahwa proporsi terbesar ayah contoh bekerja sebagai PNS (45.7% Kelas X dan 50.0% Kelas XI). Proporsi terbesar ibu contoh pada kedua Kelas tidak bekerja atau sebagai ibu rumahtangga (Tabel 9). Selebihnya sebagai PNS, pegawai BUMN, pegawai swasta, wiraswasta, dan lainnya seperti psikolog dan notaris. Ibu masa kini disamping mengurus rumahtangga, juga sibuk bekerja diluar rumah, baik di organisasi maupun bekerja untuk menambah pendapatan keluarga (Santoso & Karyadi 1986, diacu dalam Tanmella 2002). Tabel 9 Sebaran contoh Kelas X dan Kelas XI berdasarkan pekerjaan orangtua Pekerjaan Orangtua Kelas X Kelas XI n % n %Ayah PNS 1645.718 50.0Pegawai BUMN 4 11.4 0 0.0TNI/Polri 1 2.9 0 0.0Pegawai Swasta Wiraswasta Lainnya 73420.08.611.412 2 4 33.35.611.1Total 35 100.0 36 100.0Ibu PNS 1438.911 29.7Pegawai BUMN 1 2.8 1 2.7Pegawai Swasta 2 5.6 0 0.0Wiraswasta 5 13.9 1 2.7Ibu Rumahtangga 1438.922 59.5Lainnya 0 0.0 2 5.4

72Total 36 100.0 37 100.0 Pendapatan Keluarga Salah satu faktor yang penting pada kehidupan keluarga adalah keadaan sosial ekonomi, yang berpengaruh pada kehidupan mental dan fisik individu yang berada dalam keluarga. Berdasarkan Tabel 10 dapat diketahui bahwa pendapatan keluarga pada kedua Kelas menyebar normal dengan kisaran Rp 1 000 001 sampai lebih dari Rp 6 000 000. Persentase terbesar pendapatan keluarga kedua Kelas yaitu terletak pada kisaran Rp >6 000 000 (47.2% untuk Kelas X dan 40.5% untuk Kelas XI). Besarnya pendapatan yang diperoleh keluarga berhubungan dengan pendidikan akhir orangtua dan mempengaruhi interaksi dalam keluarga. Adanya kondisi keluarga yang memiliki tingkat pendapatan tinggi menyebabkan orangtua memperlakukan anak dengan lebih perhatian, penghargaan, pujian untuk berbuat baik yang mengikuti peraturan, dan latihan dari penanaman nilai moral (Gunarsa & Gunarsa 2000). Hasil uji statistik menyatakan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pendapatan keluarga contoh pada kedua Kelas. Sebaran contoh berdasarkan pendapatan per bulan dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10 Sebaran contoh Kelas X dan Kelas XI berdasarkan pendapatan keluarga per bulan (n=73) Pendapatan Keluarga(Rupiah/Bulan) Kelas X Kelas XI n % n %<1 000 001 0 0.0 0 0.01 000 001-2 000 000 6 16.7 6 16.22 000 001-3 000 000 4 11.1 6 16.23 000 001-4 000 000 5 13.9 6 16.24 000 001-5 000 000 2 5.6 1 2.75 000 001-6 000 000 2 5.6 3 8.1>6 000 000 1747.215 40.5Total 36 100.0 37 100.0 Besar Keluarga Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi jumlah anggota keluarga contoh terbesar sebanyak empat orang yang terdiri dari orangtua dan dua orang anak. Merujuk pada standar BKKBN, maka dapat dikatakan bahwa proporsi terbesar contoh s(55.6% pada Kelas X dan 48.7% Kelas XI) berasal dari keluarga kecil (BKKBN, 1997). Semakin banyak anggota keluarga maka jumlah interaksi interpersonal yang terjadi akan semakin banyak dan kompleks (Guhardja, Puspitawati, Hartoyo

73& Hastuti 1992). Hasil uji statistik menyatakan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara besar keluarga contoh kedua Kelas. Tabel 11 Sebaran contoh Kelas X dan Kelas XI berdasarkan besar keluarga Besar Keluarga (orang) Kelas X Kelas XI n %n %Kecil (≤4) 2055.618 48.7Sedang (5-6) 15 41.7 18 48.7Tinggi (>6) 1 2.8 1 2.7Total 36 100.0 37 100.0Min 3 3 Max 9 7 Rata-rata ± SD 4.5 ±1.1 4.6 ±0.8 p-value 0.583 Interaksi dalam Keluarga Hubungan Contoh dengan Ayahnya Hubungan yang terjadi antara contoh dengan ayah didasari oleh perasaan dan perilaku saling menyayangi, menolong atau membentak dan berlaku kasar atau berlaku kasar antara satu dengan lainnya (Tabel 12). Pada penelitian ini ada dua dimensi yang mendasari hubungan antara orangtua dan anaknya yaitu dimensi kehangatan dan kekasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi terbesar contoh melaporkan adanya hubungan yang baik dengan ayahnya. Sepertiga contoh (36.6%) menyatakan bahwa ayahnya cukup mempedulikan masalah yang dihadapi walaupun jarang sekali berbuat sesuatu yang membuat contoh merasa dicintai (39.4%). Selain itu, 35.2 persen contoh menyatakan jarang sekali mendiskusikan dan membantu apabila contoh membutuhkan sesuatu (39.4%). Hubungan yang baik antara ayah dan anaknya menyebabkan adanya hubungan timbal balik yang baik juga antara anak dan ayahnya. Kondisi tersebut terlihat dari perilaku contoh dalam hal memberikan kepedulian, mencintai dengan hangat, mendiskusikan sesuatu, dan membantu pekerjaan atau sesuatu. Hubungan antara contoh dan ayah menunjukkan bahwa proporsi terbesar contoh cukup mempedulikan (40.9%), melakukan sesuatu yang membuat ayah merasa dicintai (60.6%), dan mendiskusikan sesuatu (35.2%) kepada ayahnya meskipun jarang sekali membantu ayah (45.1%). Dimensi kekasaran yang mengarah pada tindakan penolakan, dan kekasaran dari orangtua kepada anak disajikan pada Tabel 12. Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa kurang dari setengah jumlah contoh jarang sekali mendapatkan perlakuan dan hubungan yang keras dan kasar dari

74ayahnya. Hal ini tercermin dari proporsi terbesar contoh yang menyatakan bahwa ayahnya jarang sekali marah-marah dan cukup mengkritik (45.1%), membentak (47.9%), dan bertengkar (39.4%). Sebagian besar contoh (78.9%) menyatakan bahwa ayahnya tidak pernah memukul ataupun menampar. Proporsi terbesar contoh menyatakan bahwa ayahnya jarang sekali marah-marah, membentak (47.9%), dan bertengkar (39.4%), dan cukup mengkritik (45.1%). Sebagian besar contoh (78.9%) menyatakan bahwa ayahnya tidak pernah memukul ataupun menampar. Adanya hubungan timbal balik antara ayah dan anak yaitu kekasaran yang dilakukan ayah menyebabkan adanya hubungan kekasaran pula yang dilakukan contoh. Tabel 12 menjelaskan bahwa contoh jarang sekali marah-marah (39.4%), dan mengkritik (36.6%) ayahnya. Lebih dari separuh contoh (63.4%) tidak pernah membentak ayahnya dengan marah, dan bertengkar dengan ayah (47.9%). Hampir seluruh contoh (98.6%) tidak pernah memukul atau menampar ayahnya. Tabel 12 Sebaran contoh berdasarkan hubungan ayah dan contoh (n=71) Pernyataan Persentase (%) A B C D E Perlakuan Ayah kepada Contoh Dimensi Kehangatan 1. Ayah mempedulikan masalah yang sedang saya hadapi 23.9 26.8 36.6 12.7 0.02. Ayah berbuat sesuatu yang kemudian membuat saya merasa dicintai 18.339.4 29.6 11.3 1.43. Ayah mendiskusikan sesuatu dengan saya sehingga saya merasa dihargai 21.135.2 28.2 12.7 2.84. Ayah membantu saya bila saya perlu sesuatu 38.039.4 15.5 7.0 0.0Dimensi Kekasaran 1. Ayah marah-marah pada saya 8.545.1 26.8 14.1 5.62. Ayah mengkritik perbuatan saya 1.4 16.9 45.1 32.4 4.23. Ayah membentak saya dengan marah 21.147.9 19.7 11.3 0.04. Ayah bertengkar dengan saya 35.239.4 15.5 8.5 1.45. Ayah memukul atau menampar saya 78.918.3 2.8 0.0 0.0Perlakuan Contoh kepada Ayah Dimensi Kehangatan 1. Saya mempedulikan masalah yang sedang ayah hadapi 11.3 29.6 40.9 15.5 2.82. Saya berbuat sesuatu yang kemudian membuat ayah merasa dicintai 5.6 21.1 60.6 11.3 1.43. Saya mendiskusikan sesuatu dengan saya sehingga ayah merasa dihargai 8.5 39.4 35.2 15.5 1.44. Saya membantu ayah bila ayah perlu sesuatu 19.745.1 29.6 4.2 1.4Dimensi Kekasaran 1. Saya marah-marah pada ayah 28.239.4 25.4 5.6 1.42. Saya mengkritik perbuatan ayah 16.936.6 29.6 15.5 1.43. Saya membentak ayah dengan marah 63.423.9 9.9 2.8 0.0

754. Saya bertengkar dengan ayah 47.933.8 8.5 8.5 1.45. Saya memukul atau menampar ayah98.61.4 0.0 0.0 0.0Keterangan: A: Tidak pernah, B: Jarang sekali, C: Cukup, D: Sering, E: Selalu Secara umum, hubungan yang banyak dilakukan antara contoh dan ayahnya yaitu dalam hal saling membantu apabila memerlukan sesuatu (dimensi kehangatan), dan mengkritik perbuatan yang dilakukan keduanya (Lampiran 2a). Perlakuan ayah kepada contoh yang memiliki skor terkecil yaitu dalam hal mendiskusikan sesuatu yang membuat contoh merasa dihargai (dimensi kehangatan), dan memukul atau menampar contoh (dimensi kekasaran), sedangkan perlakuan contoh kepada ayahnya yang memiliki skor terkecil yaitu dalam hal berbuat sesuatu sehingga ayah merasa dicintai (dimensi kehangatan), dan memukul atau menampar ayah (dimensi kekasaran). Lampiran 2a menunjukkan bahwa perlakuan ayah kepada contoh baik dalam hal dimensi kehangatan maupun kekasaran memiliki total skor yang lebih tinggi daripada perlakuan contoh kepada ayahnya. Hal ini memiliki arti bahwa ayah lebih menunjukkan perlakuan yang baik kepada contoh meskipun intensitas mengkritiknya lebih besar dibandingkan contoh. Apabila contoh dikelompokkan menjadi tiga golongan maka lebih dari separuh contoh (71.4% Kelas X dan 66.7% Kelas XI) memiliki hubungan yang baik dengan ayahnya. Hal ini diartikan bahwa contoh merasakan hubungan dengan ayahnya saling menghargai, peduli, membantu jika kesulitan, dan tidak pernah memukul atau menampar. Selain itu, 28.6 persen contoh Kelas X dan 30.6 persen Kelas XI berada pada kategori cukup baik. Artinya adalah contoh cukup dapat berinteraksi dengan ayahnya. Namun, masih terdapat contoh yang memiliki interaksi yang kurang baik. Hal ini diartikan bahwa contoh merasa dengan ayahnya kurang saling membantu, kurang saling menghargai, tidak peduli, kadang-kadang ayah marah, memukul, dan membentak. Hasil uji statistik menyatakan terdapat perbedaan yang signifikan antara hubungan ayah dan contoh kedua Kelas. Interaksi yang terjalin dengan baik diduga berhubungan dengan pendidikan formal yang ditempuh ayah contoh. Gunarsa dan Gunarsa (2004) menyatakan tingkat pendidikan orangtua baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi interaksi antara orangtua dan anak dalam lingkungan keluarga. Sebaran contoh berdasarkan tingkat hubungan ayah dan contoh terlihat pada Tabel 13 berikut.

76 Tabel 13 Sebaran contoh Kelas X dan Kelas XI berdasarkan tingkat hubungan dengan ayah dan contoh (n=71) Hubungan Ayah dan Contoh Kelas X Kelas XI n% n %Kurang Baik (18-42) 0 0.0 1 2.8Cukup Baik (43-66) 10 28.6 11 30.6Baik (67-90) 2571.424 66.7Total 35 100.0 36 100.0Min 46 42 Max 88 80 Rata-rata ± SD 70.2±8.6 65.8 ±9.0 p-value 0.040 Hubungan Contoh dengan Ibunya Interaksi sosial yang pertama kali dialami oleh anak adalah hubungan anak dengan ibunya, kemudian meluas dengan ayah dan anggota keluarga yang lain. Peran seorang ibu untuk pengasuhan anak sangat besar dalam pemberian simulasi mental. Hubungan ibu-anak sebagai suatu pola perilaku yang mengikat ibu dan anak secara timbal balik yang mencakup berbagai upaya keluarga yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak (Gunarsa dan Gunarsa 2004). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan kehangatan ibu terhadap contoh tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh ayah contoh. Ibu lebih banyak melakukan sesuatu yang membuat contoh merasa dipedulikan (50.7%), dan dicintai (37.0%) dibandingkan yang dilakukan oleh ayah kepada contoh. Sebaliknya, hampir separuh contoh menyatakan bahwa ibunya sering mendiskusikan sesuatu sehingga contoh merasa dihargai (42.5%), dan membantu contoh (45.2%) meskipun 43.8 persen contoh menyatakan ibunya cukup marah-marah dan sering mengkritik (48.0%). Sebesar 45.2 persen contoh jarang sekali dibentak dan bertengkar oleh ibunya. Lebih dari separuh contoh (72.6%) menyatakan ibunya tidak pernah memukul atau menamparnya. Hampir separuh contoh cukup peduli (42.5%), dan berbuat sesuatu yang membuat ibu merasa dicintai (46.6%). Sepertiga contoh sering mendiskusikan sesuatu (37.0%), dan membantu ibu (45.2%). Hampir dari separuh contoh (49.3%) jarang sekali marah-marah, dan mengkritik ibunya (38.4%). Proporsi terbesar contoh (56.2%) tidak pernah membentak, dan bertengkar (34.2%) dengan ibunya. Seluruh contoh (100.0%) tidak pernah memukul ataupun menampar ibunya. Secara umum, tidak terdapat perbedaan antara hubungan ibu kepada contoh dengan hubungan ayah kepada contoh. Namun dalam dimensi kehangatan, ibu

77memiliki skor tertinggi dalam mempedulikan masalah yang sedang dihadapi contoh dibandingkan ayah. Selain itu, perlakuan ibu kepada contoh juga memiliki total skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan ayah kepada contoh baik dalam dimensi kehangatan maupun kekasaran (Lampiran 2b). Hal ini menunjukkan bahwa ibu memiliki hubungan yang baik dengan contoh terutama dalam hal mempedulikan dan membantu contoh meskipun sering mengkritik perbuatan yang dilakukan contoh. Sebaran contoh berdasarkan pernyataan interaksi dengan ibunya terdapat pada Tabel 14. Tabel 14 Sebaran contoh berdasarkan interaksi dengan ibu (n=73) Pernyataan Persentase (%) ABC D EPerlakuan Ibu kepada Contoh Dimensi Kehangatan 1. Ibu mempedulikan masalah yang sedang saya hadapi 0.0 5.5 15.1 28.8 50.72. Ibu berbuat sesuatu yang kemudian membuat saya merasa dicintai 1.4 2.7 17.8 41.1 37.03. Ibu mendiskusikan sesuatu dengan saya sehingga saya merasa dihargai 2.7 5.5 21.9 42.5 27.44. Ibu membantu saya bila saya perlu sesuatu 1.4 4.1 8.2 45.2 41.1Dimensi Kekasaran 1. Ibu marah-marah pada saya 4.1 28.843.8 21.9 1.42. Ibu mengkritik perbuatan saya 2.7 11.0 35.6 48.0 2.73. Ibu membentak saya dengan marah 8.245.227.4 16.4 2.74. Ibu bertengkar dengan saya 23.339.721.9 13.7 1.45. Ibu memukul atau menampar saya 72.619.2 6.9 1.4 0.0Perlakuan Contoh kepada Ibu Dimensi Kehangatan 1. Saya mempedulikan masalah yang sedang ibu hadapi 1.4 6.942.5 30.1 19.22. Saya berbuat sesuatu yang kemudian membuat ibu merasa dicintai 1.4 8.246.6 31.5 12.33. Saya mendiskusikan sesuatu dengan ibu sehingga ibu merasa dihargai 1.4 8.2 35.6 37.0 17.84. Saya membantu ibu bila ibu perlu sesuatu 0.0 2.7 35.6 45.2 16.4Dimensi Kekasaran 1. Saya marah-marah pada ibu 19.249.319.2 11.0 1.42. Saya mengkritik perbuatan ibu 16.438.432.9 12.3 0.03. Saya membentak ibu dengan marah 56.227.4 9.6 6.9 0.04. Saya bertengkar dengan ibu 34.335.6 19.2 9.6 1.45. Saya memukul atau menampar ibu 100.00.0 0.0 0.0 0.0Keterangan: A: Tidak pernah, B: Jarang sekali, C: Cukup, D: Sering, E: Selalu Tabel 15 menjelaskan bahwa lebih dari separuh contoh (72.2% pada Kelas X dan 62.2% pada Kelas XI) memiliki hubungan yang baik dengan ibunya. Hal ini berarti bahwa contoh memiliki hubungan baik dengan ibunya. Hal ini diartikan bahwa contoh merasakan hubungan dengan ibunya saling menghargai,

78peduli, membantu jika kesulitan, dan tidak pernah memukul atau menampar. Sebesar 25.0 persen contoh Kelas X dan 37.8 persen Kelas XI berada pada kategori cukup baik. Artinya adalah contoh cukup dapat berinteraksi dengan ibunya. Namun, masih terdapat contoh yang memiliki interaksi yang kurang baik. Hal ini menggambarkan bahwa contoh kurang dapat berinteraksi dengan ibunya. Hasil uji statistik menyatakan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hubungan contoh dengan ibunya pada kedua kelas. Sebaran contoh berdasarkan tingkat hubungan contoh dengan ibunya terlihat pada Tabel 15. Tabel 15 Sebaran contoh Kelas X dan Kelas XI berdasarkan tingkat hubungan dengan ibunya (n=73) Hubungan Ibu dan Contoh Kelas X Kelas XI n%n %Kurang Baik (18-42) 1 2.8 0 0.0Cukup Baik (43-66) 9 25.0 14 37.8Baik (67-90) 2672.223 62.2Total 36 100.0 37 100.0Min 31 47 Max 81 83 Rata-rata ± SD 69.2±10.6 68.1 ±9.3 p-value 0.634 Hubungan Ayah dengan Ibu Tingkah laku orangtua dapat mempengaruhi pembinaan anak-anaknya. Hubungan yang baik di dalam keluarga antara ayah, ibu, dan anak-anak akan terjalin apabila komunikasi berjalan dengan baik (Effendi et al 1995, diacu dalam Kunarti 2004). Proporsi terbesar contoh menunjukkan adanya hubungan yang mendukung antara ayah dan ibu. Hasil penelitian memberikan informasi bahwa interaksi yang selalu dilakukan oleh orangtua contoh berupa kepedulian dan penghargaan. Ayah sedikit lebih mempedulikan masalah yang sedang dihadapi ibu (49.3%) dibandingkan ibu (40.9%). Namun separuh contoh menyatakan bahwa ibu (50.7%) lebih banyak mendiskusikan sesuatu kepada ayah dibandingkan ayah kepada ibu (46.5%). Separuh contoh (50.7%) juga menyatakan bahwa ibu selalu berbuat sesuatu yang membuat ayah merasa dicintai meskipun ayah sering melakukan hal tersebut kepada ibu (39.4%). Hampir separuh contoh (46.5%) menyatakan bahwa ayah selalu membantu ibu, sedangkan ibu jarang sekali membantu ayah bila memerlukan sesuatu. Hampir separuh contoh menyatakan ayah cukup marah-marah kepada ibu (43.7%), dan sebaliknya (45.1%). Ayah juga cukup mengkritik (47.9%) dan membentak ibu (52.1%) meskipun proporsi terbesar contoh menyatakan bahwa

79ibu tidak pernah mengkritik (45.1%) dan jarang membentak ayah (59.2%). Sebagian besar contoh menyatakan bahwa ayahnya tidak pernah bertengkar dengan ibu (88.7%), begitu pula dengan ibu (93.0%). Lebih dari separuh contoh menyatakan bahwa ayahnya tidak pernah memukul atau menampar ibu (56.3%), dan hampir seluruh ibu (93.0%) tidak pernah memukul atau menampar ayah. Secara umum, skor tertinggi hubungan yang terjadi antara ayah dan ibu yaitu dalam hal saling mempedulikan masalah yang sedang dihadapi (dimensi kehangatan), dan mengkritik perbuatan (dimensi kekasaran). Namun pada perlakukan ibu kepada ayah, skor tertinggi juga terdapat dalam hal membantu ayah jika memerlukan sesuatu. Hal ini menunjukkan hubungan yang baik antara ayah dan ibu meskipun total skor pada dimensi kehangatan sedikit lebih tinggi ibu daripada ayah (Lampiran 2c). Tabel 16 Sebaran contoh berdasarkan hubungan ayah dengan ibu (n=71) Pernyataan Persentase (%) A B C D E Perlakuan Ayah kepada Ibu Dimensi Kehangatan 1. Ayah mempedulikan masalah yang sedang ibu hadapi 1.4 1.4 21.1 26.8 49.32. Ayah berbuat sesuatu yang kemudian membuat ibu merasa dicintai 1.4 2.8 28.2 39.4 28.23. Ayah mendiskusikan sesuatu dengan ibu sehingga ibu merasa dihargai 2.8 2.8 18.3 29.6 46.54. Ayah membantu ibu bila ibu perlu sesuatu 1.4 4.2 15.5 32.4 46.5Dimensi Kekasaran 1. Ayah marah-marah pada ibu 7.0 25.443.7 22.5 1.42. Ayah mengkritik perbuatan ibu 0.0 35.247.9 9.9 7.03. Ayah membentak ibu dengan marah 4. Ayah bertengkar dengan ibu 5. Ayah memukul atau menampar ibu 0.088.756.326.82.821.152.1 5.6 18.3 15.5 0.0 1.4 5.62.82.8Perlakuan Ibu kepada Ayah Dimensi Kehangatan 1. Ibu mempedulikan masalah yang sedang ayah hadapi 1.4 5.6 21.1 31.0 40.92. Ibu berbuat sesuatu yang kemudian membuat ayah merasa dicintai 2.8 2.8 15.5 38.0 40.93. Ibu mendiskusikan sesuatu dengan ayah sehingga ayah merasa dihargai 1.4 4.2 11.3 32.4 50.74. Ibu membantu ayah bila ayah perlu sesuatu 8.546.538.0 7.0 0.0Dimensi Kekasaran 1. Ibu marah-marah pada ayah 5.6 26.845.1 21.1 1.42. Ibu mengkritik perbuatan ayah 45.140.9 14.1 0.0 0.03. Ibu membentak ayah dengan marah 16.959.219.7 4.2 0.04. Ibu bertengkar dengan ayah 93.04.2 2.8 0.0 0.05. Ibu memukul atau menampar ayah93.02.8 4.2 0.0 0.0

80Keterangan: A: Tidak pernah, B: Jarang sekali, C: Cukup, D: Sering, E: Selalu Apabila hubungan variabel ayah dan ibu contoh dikelompokkan menjadi tiga kategori, maka hasil menunjukkan bahwa proporsi terbesar orangtua contoh (80.0% Kelas X dan 72.2% Kelas XI) memiliki interaksi yang baik dengan rata-rata skor 74.1 pada Kelas X dan 71.0 pada Kelas XI (Tabel 17). Hal ini berarti bahwa terjadi interaksi yang baik antar kedua orangtua contoh. Selain itu, 20.0 persen contoh Kelas X dan 27.8 persen Kelas XI berada pada kategori cukup baik. Artinya adalah orangtua contoh cukup berinteraksi antara keduanya, sedangkan interaksi yang kurang baik tidak terjadi pada kedua orangtua contoh. Hasil uji statistik menyatakan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hubungan orangtua contoh kedua Kelas. Tabel 17 Sebaran contoh Kelas X dan Kelas XI berdasarkan tingkat interaksi ayah dan ibu pada (n=71) Interaksi Ayah dan Ibu Kelas X Kelas XI n% n %Kurang Baik (18-42) 0 0.0 0 0.0Cukup Baik (43-66) 7 20.0 10 27.8Baik (67-90) 2880.026 72.2Total 35 100.0 36 100.0Min 58 48 Max 84 89 Rata-rata ± SD 74.1±7.1 71.0 ±10.3 p-value 0.144 Kualitas Hubungan Hubungan kasih sayang antara orangtua dan anak akan mendekatkan anak dengan orangtuanya, memudahkan orangtua memberikan hadiah dan hukuman yang sepadan jika anak berbuat tidak baik. Anak juga akan lebih mudah menerima nilai-nilai orangtua dan menirunya (Gunarsa & Gunarsa, 2004). Berdasarkan Tabel 18 dapat diketahui bahwa secara umum separuh contoh pada dasarnya puas dan puas sekali terhadap keadaan hubungan antara ayah, ibu, dan antara orangtua contoh. Proporsi terbesar contoh pada dasarnya memiliki kategori hubungan yang memuaskan (49.3% dengan ibu dan 43.8% dengan ayah), dan membahagiakan (46.6% dengan ibu dan 43.8% dengan ayah). Selain itu, contoh juga menilai bahwa 52.1 persen puas dan 54.8% bahagia mengenai hubungan antara ayah terhadap ibunya. Kualitas hubungan yang memiliki skor terbesar yaitu contoh merasa bahagia dengan keadaan hubungan dengan ibunya, sedangkan skor terkecil terletak pada rasa puas contoh terhadap hubungan yang terjadi dengan ayahnya. Secara keseluruhan, kualitas hubungan yang paling tinggi terletak pada hubungan antara contoh dan

81ibunya, selanjutnya antara ayah dan ibu, dan terakhir dengan ayahnya (Lampiran 2d). Sebaran contoh berdasarkan kualitas hubungan dapat dilihat pada Tabel 18. Tabel 18 Sebaran contoh berdasarkan kualitas hubungan (n=73) Pernyataan Persentase (%) A B C D 1. Seberapa puaskah hubungan antara anda dan ibu anda? 1.4 6.9 49.3 42.52. Seberapa bahagiakah anda dengan keadaan hubungan anda dengan ibu anda? 1.4 6.9 45.2 46.63. Seberapa puaskah hubungan antara anda dan ayah anda? 5.5 8.2 43.8 42.54. Seberapa bahagiakah anda dengan keadaan hubungan anda dengan ayah anda? 4.1 8.2 43.8 43.85. Seberapa puaskah hubungan antara ayah dan ibu anda? 2.7 6.9 38.4 52.16. Seberapa bahagiakah anda dengan keadaan hubungan ayah dengan ibu anda? 5.5 5.5 34.3 54.8Keterangan: A: Sangat tidak puas/tidak bahagia B: Pada dasarnya tidak puas/tidak bahagia, C: Pada dasarnya puas/bahagia, D: Puas/bahagia sekali Tabel 19 menjelaskan bahwa lebih dari separuh contoh (66.7% Kelas X dan 54.1% Kelas XI) memiliki kualitas hubungan yang tergolong puas dengan orangtuanya dan rata-rata skor Kelas X sedikit lebih besar (20.1) dibandingkan Kelas XI (19.9). Artinya contoh merasa puas/bahagia terhadap hubungannya dengan orangtuanya. Contoh merasa bahwa orangtuanya telah memenuhi kebutuhan secara fisik maupun secara psikologis dengan baik. Selain itu, 33.3 persen contoh Kelas X dan 37.8 persen contoh Kelas XI merasa cukup puas/bahagia terhadap hubungan dengan orangtuanya. Hal ini berarti baik ayah maupun ibu cukup memenuhi kebutuhan contoh baik secara fisik maupun psikologis. Namun, masih terdapat beberapa contoh yang tidak puas/bahagia dengan hubungannya dengan ayah dan ibu. Hal ini menandakan bahwa orangtua tidak dapat memenuhi kebutuhan contoh baik secara fisik maupun psikologis (Tabel 19). Hasil uji statistik menyatakan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kualitas hubungan contoh pada Kelas X dan Kelas XI. Tabel 19 Sebaran contoh Kelas X dan Kelas XI berdasarkan tingkat kualitas hubungan (n=73) Kualitas Hubungan Kelas X Kelas XI n%n %Tidak puas/bahagia (6-12) 0 0.0 3 8.1Cukup puas/bahagia (13-18) 12 33.3 14 37.8Puas/bahagia (19-24) 2466.720 54.1Total 36 100.0 37 100.0Min 13 10 Max 24 24 Rata-rata ± SD 20.1±3.1 19.9 ±4.1 p-value 0.775

82Berdasarkan uji beda Mann Whitney dalam pengukuran variabel interaksi dalam keluarga, terdapat perbedaan yang nyata positif antara interaksi ayah dan ibu dalam hal kehangatan, kekasaran, keeratan hubungan, komunikasi, dan interaksi antara orangtua dengan contoh. Hal ini menunjukkan bahwa contoh merasakan kehangatan, dan berinteraksi lebih banyak kepada ibu dibandingkan kepada ayah (Tabel 20). Tabel 20 Rata-rata skor ayah dan ibu dalam berinteraksi dengan keluarga Variabel Interaksi dalam keluarga Nilai Rata-rata Uji Beda t (p) Ayah Ibu Kehangatan orangtua kepada contoh 14.916.4 .01** Kehangatan contoh kepada orangtua 13.714.4 .11 Kekasaran orangtua kepada contoh 18.417.2 .03* Kekasaran contoh kepada orangtua 21.020.6 .36 Kualitas hubungan orangtua dengan contoh 6.56.7 3.33 Interaksi contoh dengan orangtua 117.2124.1 .02* ** korelasi signifikan pada level 0.01 (2-tailed). * korelasi signifikan pada level 0.05 (2-tailed). Berdasarkan laporan contoh diketahui bahwa ibu lebih memberikan pengasuhan yang dilandasi kehangatan lebih tinggi daripada ayah. Tabel 20 menjelaskan bahwa rata-rata interaksi contoh dengan ibu (skor rata-rata=124.1) adalah lebih tinggi dan signifikan (p<0.05) dibandingkan interaksi contoh dengan ayah (skor rata-rata 117.2). Hal ini dapat diartikan bahwa interaksi antara contoh dan ibu lebih baik dibandingkan interaksi antara contoh dan ayah. Interaksi tersebut meliputi tingginya rata-rata nilai kehangatan ibu kepada contoh, dan rendahnya kekasaran ibu kepada contoh. Hal ini dikarenakan ibu adalah orang terdekat dan orang yang melahirkan dan merawat anaknya sampai dewasa. Selain itu, ibu memiliki kesempatan bersama dengan anak yang lebih tinggi dibandingkan dengan ayah yang merupakan bagian dalam keluarga yang bertugas sebagai pencari nafkah. Hal ini mendukung pernyataan Puspitawati (2006) bahwa kontribusi peran pengasuhan yang dilakukan oleh ibu mempunyai keistimewaan yang lebih besar dibandingkan dengan peran pengasuhan yang dilakukan ayah.

83Kecerdasan Emosional Kecerdasan emosional memegang peranan penting dalam keberhasilan seseorang dibandingkan dengan IQ. Kecerdasan emosional yang tinggi dapat membantu menghadapi berbagai macam kejadian yang tidak terduga dalam kehidupannya. Hal ini sangat menolong dalam melakukan penyelesaian dengan lingkungan dan orang lain (Goleman 1995). Kecerdasan emosional menurut Goleman (1995) meliputi mengenali emosi, mengelola emosi, memotivasi diri, mengenali emosi orang lain, dan seni membina hubungan. Adanya kesadaran akan perasaan diri sendiri sewaktu perasaan itu terjadi dibutuhkan dalam mengenali emosi diri. Kesadaran berarti waspada baik terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati. Tabel 21 menjelaskan bahwa contoh lebih stabil dalam mengenali emosi diri. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa proporsi terbesar contoh dapat mengetahui kekuatan (38.4%) dan kelemahan (43.8%) emosi yang ada pada dirinya, mengerjakan sesuatu dengan benar (52.1%) , dan mempunyai kualitas bagus dalam dirinya (45.2%). Contoh cenderung dapat mengelola emosi meskipun agak sulit untuk mengontrol dan marah ketika dikecewakan teman. Namun sepertiga contoh (38.4%) dapat menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan amarahnya ketika sedang bad mood dan lebih dari separuh contoh (54.8%) berusaha menyesuaikan diri walaupun terkadang agak berat. Begitu pula dalam hal memotivasi diri, proporsi terbesar contoh (35.6%) tidak malu meminta nasihat kepada orangtua dalam memecahkan masalah sehingga merasa yakin dengan diri sendiri. Proporsi terbesar contoh dapat mengenali emosi orang lain dan dapat membina hubungan dengan baik. Proporsi terbesar contoh suka berteman dengan siapa saja (50.7%), dan mengucapkan salam ketika berangkat ke sekolah (75.3%). Pengendalian emosi dilakukan bukan dengan menekan emosi melainkan mampu menyalurkan emosi dan mengalihkan suasana hati melalui kegiatan positif seperti nonton, membaca buku, aerobik, makan makanan kegemaran, pergi berbelanja, mencoba untuk melihat permasalahan dari sudut pandang baru, dan menolong orang lain (Goleman 1999). Nilai tertinggi dalam mengenali emosi diri terletak dalam hal mengetahui kelemahan emosi, sedangkan terendah dalam hal mengerjakan sesuatu dengan benar. Hal ini menunjukkan bahwa contoh memiliki kemampuan mengenali emosinya dengan baik terutama dalam mengetahui kelemahan emosinya

84meskipun dalam hal mengerjakan sesuatu dengan benar dilakukan cukup baik. Contoh memiliki nilai yang tinggi dalam hal menyesuaikan diri walupun agak berat dalam hal mengelola emosi, sedangkan nilai terkecil dalam hal marah ketika dikecewakan oleh teman. Hal ini berarti bahwa contoh memiliki kemampuan dalam mengelola emosi terutama dalam menyesuaikan diri, meskipun mudah marah jika dikecewakan oleh teman. Goleman (1999) menyatakan bahwa memotivasi merupakan salah satu dasar kecerdasan emosional yang akan meningkatkan keberhasilan dalam segala bidang suatu kumpulan perasaan antusiasme, gairah, dan keyakinan diri dalam mencapai prestasi. Nilai tertinggi pada penelitian ini dalam hal motivasi terletak pada masalah yang dihadapi semakin membuat contoh tidak dapat mengenali dirinya sendiri, sedangkan nilai terendah terletak pada jadwal agenda harian yang dimiliki contoh. Hal ini menunjukkan bahwa contoh kurang dapat termotivasi dalam hal menghadapi masalah dan memiliki agenda harian. Nilai empati tertinggi yang dilakukan contoh dalam hal menghormati teman yang beribadah, sedangkan nilai terendah terletak dalam hal membuang sampah pada tempatnya. Hal ini menunjukkan jiwa toleransi antar umat beragama sangat baik dilakukan oleh contoh meskipun empati terhadap kebersihan kurang baik. Seni membina hubungan yang paling tinggi dilakukan contoh yaitu dalam hal mengucapkan salam kepada orangtua ketika akan berangkat ke sekolah, sedangkan yang paling kecil dalam hal memulai suatu pembicaraan terhadap orang dewasa. Hal ini berarti bahwa contoh memiliki kemampuan membina hubungan yang baik dengan oranglain, terutama dalam mengucapkan salam kepada orangtua meskipun cukup baik dalam memulai suatu pembicaraan dengan oranglain (Lampiran 2e). Secara keseluruhan, kecerdasan emosional yang paling tinggi dilakukan sebagian besar contoh yaitu kemampuan empati dan paling rendah dalam hal memotivasi diri (Lampiran 3). Sebaran contoh berdasarkan pernyataan kecerdasan emosional terletak pada Tabel 21.

85Tabel 21 Sebaran contoh berdasarkan kecerdasan emosional Pernyataan Persentase (%) A B C D E Mengenali Emosi Diri 1. Saya merasa tidak mempunyai kekuatan untuk mengubah hal-hal yang penting dalam hidup saya 1.4 8.2 24.7 38.427.42. Saya selalu mengerjakan sesuatu dengan benar 0.0 4.1 52.1 42.5 1.43. Saya merasa punya kualitas bagus 1.4 9.6 34.3 45.29.64. Saya dapat memahami dan mengenali diri saya sendiri 1.4 1.4 21.9 50.724.75. Saya mengetahui kelemahan emosi saya 1.4 6.9 16.4 43.831.5Mengelola Emosi Diri 1. Saya dapat mengontrol emosi saya 1.4 8.2 50.7 31.5 8.22. Dimanapun saya berada, saya berusaha untuk menyesuaikan diri walaupun terkadang agak berat 0.0 2.7 12.3 54.830.13. Saya bertindak dan bersikap positif 0.0 4.1 52.1 42.5 1.44. Saya akan menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan amarah saya muncul ketika sedang bad mood 0.0 6.9 28.8 38.426.05. Ketika dikecewakan oleh teman, saya akan marah kepadanya 5.5 24.7 39.7 28.8 1.4Motivasi 1. Saya tidak malu untuk minta nasihat pada orangtua dalam memecahkan masalah-masalah saya 2.7 12.3 27.4 35.621.92. Masalah yang saya hadapi membuat saya semakin tidak dapat mengenali diri saya 1.4 8.2 28.8 41.120.63. Saya sangat yakin pada diri saya sendiri 1.4 5.5 34.3 43.815.14. Saya tidak pernah berhenti belajar sampai mengerti 0.0 12.3 42.5 37.0 8.25. Saya memiliki jadwal agenda harian yang akan dilakukan setiap harinya 17.8 32.9 30.1 11.0 8.2Empati 1. Saya membantu nenek menyeberang jalan 9.6 0.0 1.4 0.089.02. Saya membuang sampah ditempat sampah 15.1 0.0 11.0 0.074.03. Saya memberi bantuan keuangan kepada teman yang membutuhkan sesuai kemampuan 0.0 0.0 6.9 0.093.24. Saya tidak ambil pusing jika teman saya membentuk kelompok 0.0 0.0 1.4 0.098.65. Saya menghormati teman yang beribadah 2.7 0.0 30.1 0.067.1Seni Membina Hubungan 1. Mudah sekali bagi saya untuk memulai suatu pembicaraan dengan orang dewasa 2.7 19.2 26.0 38.413.72. Saya selalu mengucapkan salam kepada orangtua ketika akan berangkat ke sekolah 0.0 0.0 4.1 20.675.33. Saya suka berteman dengan siapa saja 2.7 0.0 8.2 38.450.74. Saya orang yang sangat menyenangkan dan gampang diajak kerjasama 1.4 4.1 23.3 52.119.25. Saya bisa menyimpan rahasia teman 1.4 15.1 45.2 38.4 0.0Keterangan: A: Saya sama sekali tidak seperti itu, B: Kemungkinan besar saya tidak seperti itu C: Saya antara seperti itu dan tidak seperti itu, D: Kemungkinan besar saya seperti itu E: Saya selalu seperti itu

86Sebagian besar contoh (88.9% Kelas X dan 78.4% Kelas XI) memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Hal ini berarti bahwa contoh memiliki kemampuan yang baik dalam mengenali emosi, mengelola emosi, memotivasi diri, berempati, dan kemampuan membina hubungan dengan orang lain. Selain itu, terdapat 11.1 persen contoh Kelas X dan 21.6 persen Kelas XI yang memiliki kecerdasan emosional sedang. Hal ini menunjukkan bahwa contoh memiliki kemampuan yang cukup baik dalam mengenali emosi, mengelola emosi, memotivasi diri, berempati, dan kemampuan membina hubungan dengan orang lain. Kecerdasan emosional yang rendah tidak ditemukan pada contoh baik Kelas X maupun Kelas XI. Rata-rata kecerdasan emosi contoh Kelas X (102.0) lebih tinggi dari Kelas XI (98.6). Namun hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan antara kecerdasan emosi keduanya. Tabel 22 Sebaran contoh Kelas X dan Kelas XI berdasarkan tingkat kecerdasan emosional (n=73) Kecerdasan Emosional Kelas X Kelas XI n% n %Rendah (25-58) 0 0.0 0 0.0Sedang (59-91) 4 11.1 8 21.6Tinggi (92-125) 3288.929 78.4Total 36 100.0 37 100.0Min 78 75 Max 120 115 Rata-rata ± SD 102.0±10.3 98.6 ±8.8 p-value 0.127 Hubungan Antar Variabel Hubungan Karakteristik Individu dengan Interaksi Anak dalam Keluarga Berdasarkan uji korelasi Spearman yang dilakukan untuk melihat hubungan karakteristik individu dengan interaksi anak dalam keluarga, terdapat hubungan antara tujuan hidup dan cita-cita dengan interaksi yang terjadi antara ibu dan contoh (Lampiran 5a). Semakin tinggi tujuan hidup dan cita-cita anak di masa yang akan datang maka interaksi anak dengan ibu semakin baik. Interaksi sosial yang pertama kali dialami oleh anak adalah hubungan anak dengan ibunya, kemudian meluas dengan ayah dan anggota keluarga yang lain. Peran seorang ibu untuk pengasuhan anak sangat besar dalam pemberian simulasi mental. Hubungan ibu-anak sebagai suatu pola perilaku yang mengikat ibu dan anak secara timbal balik yang mencakup berbagai upaya keluarga yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak (Gunarsa dan Gunarsa 2004).

87Hubungan Karakteristik Keluarga dengan Interaksi Anak dalam Keluarga Karakteristik keluarga contoh meliputi umur ayah dan ibu, tingkat pendidikan ayah dan ibu, jenis pekerjaan ayah dan ibu, pendapatan keluarga per bulan, dan besar keluarga. Interaksi anak dalam keluarga terdiri dari pengasuhan yang bersifat warmth support, dan kualitas hubungan orangtua. Berdasarkan hasil uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara umur ayah dan ibu dengan interaksi anak dalam keluarga. Tetapi umur ayah, dan tingkat pendidikan ayah memiliki hubungan yang positif dengan umur ibu, dan tingkat pendidikan ibu. Hal ini menunjukkan homogenitas yang dimiliki contoh tinggi sehingga tidak cukup varian untuk membuktikannya. Tabel 23 Hasil uji korelasi Spearman karakteristik keluarga dengan interaksi anak dalam keluarga ** korelasi signifikan pada level 0.01 (2-tailed). * korelasi signifikan pada level 0.05 (2-tailed). Hubungan Interaksi Anak dalam Keluarga dengan Kecerdasan Emosional Kecerdasan emosional ditentukan oleh kepribadian yang dibawa sewaktu lahir (genetik), dan dibentuk juga oleh interaksi-interaksi dengan orangtua dan lingkungannya. Hasil uji korelasi spearman menunjukkan bahwa hubungan antara ayah dan contoh, ibu dan contoh, kualitas hubungan, dan interaksi anak dalam keluarga mempunyai hubungan yang nyata positif dengan kecerdasan emosional. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi hubungan antara ayah dan contoh, hubungan antara ibu dan contoh, kualitas hubungan, dan interaksi yang dilakukan dalam keluarga maka kecerdasan emosionalnya akan semakin baik (Lampiran 5c). Variabel Umur Ayah Umur Ibu Pddkn Ayah Pddkn Ibu Pdptn OrangtuaBesar keluarga Interaksi KeluargaUmur Ayah Umur Ibu .61** Pendidikan Ayah -.00 .11 Pendidikan Ibu .11 .18 .61** Pendapatan Orangtua -.07 -.18 .08 .22 Besar keluarga -.08 -.05 .02 -.17 .09 Interaksi Keluarga -.03 .00 .05 -.03 .21 -.08

88Interaksi sosial yang pertama kali dialami oleh anak adalah hubungan anak dengan ibunya, kemudian meluas dengan ayah dan anggota keluarga yang lain. Dalam pemberian stimulasi mental pada anak maka peran seorang ibu untuk pengasuhan anak sangat besar. Interaksi ibu-anak sebagai suatu pola perilaku yang mengikat ibu dan anak secara timbal balik yang mencakup berbagai upaya keluarga secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Interaksi keluarga yang semakin baik, maka kecerdasan emosional yang terbentuk akan baik. Keluarga yang harmonis dan saling berinteraksi antara orangtua dan anak serta adanya kasih sayang dan kebersamaan dalam keluarga, akan memberikan suatu lingkungan yang kondusif bagi kecerdasan emosional anak (Gunarsa dan Gunarsa 2004). Hal ini mendukung pernyataan Gottman & DeClaire (1998) bahwa kecerdasan emosional cenderung meningkat dengan meningkatnya interaksi yang terjadi dengan orangtua. Schikendanz (1995), diacu dalam Megawangi (2004) menyatakan bahwa anak yang hidup dalam lingkungan keluarga yang aman dan bahagia maka akan mampu berkembang dengan baik, sehingga mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar keluarga terutama di lingkungan sekolah. Pembahasan Umum Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan interaksi anak dalam keluarga dengan kecerdasan emosional siswa kelas bertaraf internasional. Penelitian ini menempatkan contoh sebagai seorang remaja yang menjadi anggota dari suatu organisasi baik organisasi keluarga, organisasi sekolah maupun organisasi dari suatu kumpulan pemuda. Pemahaman akan peran dan fungsi remaja baik sebagai anak maupun sebagai pelajar didekati melalui sistem interaksi dan pendekatan teori ekosistem dalam keluarga (Bronfenbrenner 1981). Bronfenbrenner (1981) menyajikan model pandangan dari segi ekologi dalam memahami proses sosialisasi pada anak. Model tersebut menempatkan posisi anak pada pusat di dalam model yang secara langsung dapat berinteraksi dengan lingkungan yang berada disekitarnya yang meliputi lingkungan mikrosistem, mesosistem, dan makrosistem. Lingkungan mikrosistem merupakan lingkungan terdekat dengan anak berada, meliputi keluarga, sekolah, teman

89sebaya, dan tetangga. Lingkungan yang lebih luas disebut lingkungan mesosistem yang berupa hubungan antara lingkungan mikrosistem satu dengan mikrosistem yang lainnya, misalnya hubungan antara lingkungan keluarga dengan sekolahnya, dan hubungan antara lingkungan keluarga dengan teman sebayanya. Lingkungan yang lebih luas disebut lingkungan exosistem yang merupakan lingkungan anak tidak secara langsung mempunyai peran secara aktif , misalnya lingkungan keluarga besar atau lingkungan pemerintahan. Akhirnya lingkungan yang paling luas adalah lingkungan makrosistem yang merupakan tingkatan paling luas yang meliputi struktur sosial budaya suatu bangsa secara umum. Hasil penelitian menemukan adanya hubungan yang signifikan antara cita-cita dengan hubungan antara contoh dengan ibunya yang akhirnya akan mempengaruhi kecerdasan emosional. Hal ini memberikan bukti bahwa semakin tinggi cita-cita yang ingin dicapai maka akan semakin baik pula hubungan yang dilakukan contoh kepada ibunya. Selain itu terdapat hubungan tidak langsung dari karakteristik sosial ekonomi orangtua seperti tingginya pendidikan ayah dan ibu yang berhubungan erat dengan semakin tingginya tingkat pendapatan keluarga. Tidak adanya hubungan antara karakteristik keluarga dengan interaksi anak dalam keluarga dikarenakan sampel yang digunakan homogen atau tidak terdapat perbedaan antara Kelas X dan XI. Tingginya tingkat pendapatan keluarga akan berdampak pada baiknya fungsi sosialisasi dan pengasuhan yang dilakukan orangtua. Hal ini kemudian akan berdampak pada kualitas hubungan antara orangtua dan anak, yang akhirnya akan berpengaruh pada kecerdasan emosional anak. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa tingkah laku orangtua dapat mempengaruhi pembinaan anak-anaknya. Secara umum, skor tertinggi hubungan yang terjadi antara ayah dan ibu yaitu dalam hal saling mempedulikan masalah yang sedang dihadapi (dimensi kehangatan), dan mengkritik perbuatan (dimensi kekasaran). Namun pada perlakuan ibu kepada ayah, skor tertinggi juga terdapat dalam hal membantu ayah jika memerlukan sesuatu. Perlakuan ayah kepada contoh baik dalam hal dimensi kehangatan maupun kekasaran memiliki skor yang lebih tinggi daripada perlakuan contoh kepada ayahnya. Secara umum, tidak terdapat perbedaan antara hubungan ibu kepada contoh dengan hubungan ayah kepada contoh. Pada dimensi kehangatan, ibu memiliki skor tertinggi dalam mempedulikan masalah yang

90sedang dihadapi contoh dibandingkan ayah. Selain itu, perlakuan ibu kepada contoh juga memiliki total skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan ayah kepada contoh baik dalam dimensi kehangatan maupun kekasaran. Hasil penelitian Puspitawati (2006) mengindikasikan orangtua yang berkompeten adalah yang melakukan pengasuhan dengan hangat dan mendukung, menghargai anaknya, mencintai anaknya, melakukan kegiatan bersama, menanyakan pendapat, dan membantu memecahkan masalah bersama. Gaya pengasuhan yang dilakukan baik oleh ibu maupun ayah merupakan variabel mediator antara keadaan sosial-ekonomi keluarga dan tingkat kecerdasan emosional pelajar di SMK TI dan SMU. Jadi karakteristik orangtua yang kompeten dalam penelitian ini adalah orangtua yang mampu melakukan pengasuhan dengan penuh kehangatan dan dukungan, mempedulikan masalah yang sedang dihadapi, mencintai anaknya, menghargai anaknya, mendiskusikan sesuatu, dan membantu menyelesaikan masalah. Keluarga merupakan sumber institusi paling awal dan paling kuat dalam mensosialisasikan anak-anaknya. Pengasuhaan yang diberikan ibu memberi hubungan yang erat dengan kecerdasan emosional. Pengasuhan ibu dan ayah mempunyai hubungan yang signifikan dalam meningkatkan kecerdasan emosional. Hal ini konsisten dengan pernyataan Puspitawati (2006) yang menyatakan bahwa keluarga merupakan sumber institusi paling awal dan paling kuat dalam mensosialisasikan anak-anaknya, baik pelajar laki-laki di SMK-TI maupun pelajar perempuan di SMK-TI dan SMU sesuai dengan nilai-nilai keluarga dan norma masyarakat yang dianut. Merujuk pada pendekatan teori ekologi keluarga/teori system, apabila salah satu subsistem terganggu, maka berakibat pada terganggunya sub-sistem lainnya. Pengasuhan yang cenderung mengarah pada hubungan yang baik antara ayah dan contoh, ibu dan contoh, dan interaksi yang terjadi dalam keluarga akan memiliki kualitas hubungan yang baik. Akhirnya apabila orangtua mendampingi dan membimbing anaknya dengan baik, maka akan mempengaruhi tingginya kecerdasan emosional anak. Jadi dapat dikatakan bahwa apabila orangtua dapat mengoptimalkan peranannya dalam menjalankan fungsi pengasuhan yang baik, maka anak akan mampu menguasai dan mengontrol emosinya. Penelitian ini telah membuktikan Teori Bronfenbrenner (1981) bahwa outcome anak yang berupa kecerdasan emosional dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya khususnya lingkungan keluarga.

91KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Siswa Kelas bertaraf internasional yang menjadi sampel penelitian ini berjumlah 73 orang. Lebih dari separuh contoh berjenis kelamin perempuan. Rata-rata umur contoh pada Kelas X yaitu 16 tahun sedangkan Kelas XI yaitu 17 tahun. Sebagian besar contoh mempunyai tujuan hidup dan cita-cita meneruskan ke perguruan tinggi, bekerja keras dan belajar tekun, berbakti pada orangtua dan guru, bertanggung jawab atas perbuatannya, berteman yang baik, dan menghindari masalah disekolah. Uang saku per bulan berada pada kisaran Rp 300 001-450 000. Rata-rata uang saku per bulan yang diterima contoh Kelas XI lebih tinggi (Rp 460 945.95) dibandingkan Kelas X (Rp 441 527.78). Sebagian besar umur orangtua contoh berada pada kelompok umur produktif yaitu pada rentang umur 36-55 tahun. Pendidikan ayah contoh pada Kelas XI lebih tinggi (S2) dibandingkan Kelas X (S1), sedangkan persentase terbesar pendidikan tertinggi ibu contoh yaitu S1. Proporsi terbesar ayah contoh bekerja sebagai PNS sedangkan ibu sebagai ibu rumahtangga. Persentase terbesar pendapatan keluarga pada kisaran Rp >6 000 000. Proporsi terbesar contoh berasal dari keluarga kecil (<4 orang). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara karakteristik contoh, dan karakteristik keluarga pada keduanya. Lebih dari separuh contoh memiliki hubungan yang baik dengan orangtuanya. Hubungan yang banyak dilakukan antara contoh dan ayahnya yaitu dalam hal saling membantu apabila memerlukan sesuatu (dimensi kehangatan), dan mengkritik perbuatan yang dilakukan keduanya. Perlakuan ayah kepada contoh baik dalam hal dimensi kehangatan maupun kekasaran memiliki total skor yang lebih tinggi daripada perlakuan contoh kepada ayahnya. Ibu memiliki skor tertinggi dalam mempedulikan masalah yang sedang dihadapi contoh dibandingkan ayah. Selain itu, perlakuan ibu kepada contoh juga memiliki total skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan ayah kepada contoh baik dalam dimensi kehangatan maupun kekasaran. Skor tertinggi hubungan yang terjadi antara ayah dan ibu yaitu dalam hal saling mempedulikan masalah yang sedang dihadapi (dimensi kehangatan), dan mengkritik perbuatan (dimensi kekasaran). Kualitas hubungan antara contoh dengan ibunya lebih besar dibandingkan antara contoh denan ayahnya. Lebih dari separuh contoh memiliki kualitas hubungan yang tergolong puas/bahagia dengan orangtuanya dan rata-

92rata skor Kelas X sedikit lebih besar (20.1) dibandingkan Kelas XI (19.9). Kualitas hubungan yang paling tinggi terletak pada hubungan antara contoh dan ibunya, selanjutnya antara ayah dan ibu, dan terakhir dengan ayahnya Sebagian besar contoh memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, dengan rata-rata skor kecerdasan emosional tertinggi yaitu kemampuan empati dan terrendah dalam hal memotivasi diri. Rata-rata skor kecerdasan emosi onal contoh Kelas X lebih tinggi (102.0) dibandingkan Kelas XI (98.6). Namun hasil uji statistik tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antara kedua Kelas. Hasil uji Rank Spearman menunjukkan terdapat hubungan nyata positif antara: (1) tujuan hidup dan cita-cita dengan interaksi antara ibu dan contoh; (2) Interaksi antara ayah dan contoh, ibu dan contoh, ayah dan ibu, dan kualitas hubungan dengan interaksi keluarga; (3) Interaksi antara ayah dan contoh, ibu dan contoh, dan kualitas hubungan dengan sedangkan kecerdasan emosional. Saran Secara umum diketahui tujuan hidup dan cita-cita mempunyai hubungan yang erat dengan interaksi yang terjadi antara ibu dan contoh, dan kecerdasan emosional. Oleh karena itu diperlukan kerjasama orangtua dan sekolah dalam membimbing siswa menentukan tujuan hidupnya. Bagi lingkungan sekolah diharapkan menciptakan interaksi yang baik, sehingga anak merasa berharga terutama dalam pencapaian tujuan hidup dan cita-cita. Akhirnya akan meningkatkan kecerdasan emosional. Selain itu, lingkungan sekolah dapat memfasilitasi adanya pertemuan orangtua murid secara rutin sewaktu pengambilan raport yang diisi dengan ceramah atau pelatihan singkat dengan mengundang motivator atau profesional dikalangan psikologi yang bekerjasama dengan komite sekolah. Sebaiknya dalam mata pelajaran tertentu seperti agama juga perlu dimasukkan muatan kecerdasan emosional. Bagi siswa agar lebih memotivasi dirinya dengan lebih baik terutama dalam hal membuat jadwal agenda harian yang dilakukan setiap harinya. Interaksi antara orangtua, anak, dan sekolah sangat penting. Oleh karena itu, interaksi dalam bentuk komunikasi lebih ditingkatkan. Disiplin yang lebih ditegakkan dalam keluarga dan lingkungan sekolah juga berguna untuk mengurangi perilaku negatif siswa. Bagi lingkungan keluarga, peran ayah dalam hal pengasuhan anak lebih ditingkatkan dengan cara memanfaatkan waktu libur dengan keluarga.

93Saran untuk pengembangan ilmu keluarga yaitu adanya penelitian dengan membandingkan antara kelas bertaraf internasional dengan kelas reguler atau melakukan perbandingan dengan beberapa sekolah di Kota Bogor. Selain itu, diperlukan instrumen teknis untuk mengukur kecerdasan emosional, dan sumber kuesioner tidak hanya berasal dari sekolah dan siswa saja, melainkan juga pihak-pihak terkait seperti orangtua, dan teman-teman.

94DAFTAR PUSTAKA Agustian AG. 2003. Rahasia sukses membangun kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ). Jakarta: Arga Altaria V. 2004. Intelegensi Versus Prestasi Belajar. http://www.bpkpenabur-bdg.sch.id [2 Maret 2007]. Anonim. 2005. Pengarusutamaan Gender. Jakarta: Kementerian Pemberdayaan Perempuan Anonim. 2006. Daftar Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. http://www.smun2-tsm.sch.id [14 Desember 2006]. Atasasih H. 2002. Status Anemia dan Hubungannya dengan Prestasi Belajar Siswa-Siswi SMUN 30 Jakarta Pusat [skripsi]. Bogor. Program Sarjana, Institut Pertanian Bogor Atkinson R. L., R.C. Atkinson, E.R. Hildard (terj). 1983. Pengantar Psikologi. Jakarta: Erlangga Bronfenbrenner U. 1981. The Ecology of Human Development: Experiments By Nature and Design, USA: Library of Congress Cataloging in Publication Data. [BKKBN] Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. 1997. Gerakan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera. Jakarta: Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional [BPS] Badan Pusat Statistik. 2004. Data Statistik Indonesia. Jakarta: Badan Pusat Statistik [BPS] Badan Pusat Statistik. 2005. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menurut Provinsi dan Kabupaten/Kota. Jakarta: Badan Pusat Statistik De Rossa P. 1995. Definition of Family. http://www.historicaldebates .oireachtas.ie. [2 Maret 2007]. Desiyani F. 2003. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi dan Sikap Mahasiswa IPB tentang Kepemimpinan Laki-laki dan Perempuan : Suatu Pendekatan Analisis Gender [skripsi]. Bogor: Program Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Dinas Pendidikan. 2005. Program Penyelenggaraan Sekolah Nasional Bertaraf Internasional SMA Negeri 1 Bogor. Bogor: Pemerintah Kota Bogor Freeman J & U. Munandar. 2000. Cerdas dan Cemerlang. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Goleman J. 1999. Emotional Intelligence (terj). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

95Gunarsa S.D. & Y.S.D. Gunarsa. 2004. Psikologi Praktis : Anak, Remaja, dan Keluarga. Jakarta: BPK Gunung Mulia Hulu DB. 2004. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Status Anemia dan Kaitannya dengan Prestasi Belajar pada Siswi SMKN 1 Bogor [skripsi]. Bogor: Program Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Kunarti. 2004. Pengaruh Interaksi Keluarga dan Tekanan Ekonomi terhadap Kenakalan Remaja di Sekolah Menengah Kejuruan Teknik Industri (SMK-TI) Kota Bogor [skripsi]. Bogor: Program Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Megawangi R. 1999. Membiarkan Berbeda?: Sudut Pandang Baru Tentang Relasi Gender. Bandung: Mizan , Melly L, W.F. Dina. 2004. Pendidikan Holistik Untuk Menciptakan Lifelong Learners. Bogor: Indonesia Heritage Foundation. Monks. 1987. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Muhammad H. 2006. Pembelajaran Matematika dan IPA dalam Bahasa Inggris (Bilingual). Jakarta: Depdiknas Nara N. 2006. Prestasi Olimpiade Fisika: Secercah Optimisme bangsa di bidang pendidikan. http:///www.kompas.com [2 Maret 2007]. Puspitawati H. 2006. Pengaruh Faktor Keluarga, Lingkungan, Teman dan Sekolah terhadap Kenakalan Pelajar di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) di Kota Bogor [Disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor Sadli S. 1986. Intelegensi Bakat dan Test IQ. Jakarta: Gaya Favorit Santrock. 1998. Adolescent. Ed. ke 7. Mc Graw Hill, Inc. Sarwata IM. 2000. Hubungan Emotional Bonding Ibu-Remaja dengan Kenakalan Remaja (SMU Jakarta Pusat) [skripsi]. Bogor: Program Sarjana, Institut Pertanian Bogor Sarwono S.W. 2003. Psikologi Remaja. Bandung: Raja Grafindo Perkasa Shapiro L.E. 1999. Mengajarkan Emotional Intelligence Pada Anak. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Singarimbun M. & S. Effendi. 1991. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta, Jakarta. Stanistaus S. 1993. Hubungan antara pola asuh orangtua dengan agresifitas remaja. [Tesis]. Bandung: Program Pascasarjana, Universitas Padjajaran.

96Steinberg. 2001. Adolescence. “Ed ke-6”. MC Graw Hill Higher Education. Sukiat. 1986. Motivasi dan Inteligensi dalam S. Sadli (Ed.), Inteligensi, Bakat dan Tes IQ. Jakarta: Gaya Favorite Press Sukmadinata N.S. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

97 LAMPIRAN

98 Lampiran 1 Cara pengukuran variabel Tujuan Hidup dan Cita-cita : Variabel ini terdiri dari 10 butir pertanyaan dengan skala likert 1-5. Pertanyaan berupa keinginan meneruskan ke perguruan tinggi, belajar dengan rajin agar memperoleh nilai yang baik, bekerja keras dan belajar dengan tekun, beraktivitas dengan baik di sekolah, berbakti pada orangtua dan guru, bertanggung jawab atas perbuatan, berteman dengan baik, menghindari masalah di sekolah, hidup bersenang-senang, serta menabung dan hidup hemat. Pilihan jawaban diberi skor 1-5 (1= tidak penting, 2= kurang penting, 3= cukup penting, 4= penting, 5= sangat penting), kemudian dikelompokkan berdasarkan kelas interval (1= sangat penting, 2= cukup penting, 3= tidak penting). Rentang nilai dari 10-50. Pertanyaan tersebut merupakan replikasi dari Puspitawati (2006). Gaya Pengasuhan Contoh : Variabel ini terdiri dari 54 butir pertanyaan dengan skala likert 1-5 mengenai hubungan dengan ayahnya (18 butir pertanyaan) , ibunya (18 butir pertanyaan), dan orangtua (18 butir pertanyaan). Adapun hal yang ditanyakan adalah tentang mempedulikan, mencintai, menghargai, membantu, marah-marah, bertengkar, dan memukul. Pilihan jawaban diberi skor 1-5 (1= tidak pernah, 2= jarang sekali, 3= cukup, 4= sering, 5= selalu), kemudian dikelompokkan berdasarkan kelas interval (1= kurang baik, 2= cukup baik, 3= sangat baik). Rentang nilai dari 18-90. Pertanyaan ini merupakan replikasi dari Puspitawati (2006). Kualitas Hubungan antar keluarga: Variabel ini terdiri dari enam butir pertanyaan (dua pertanyaan kualitas hubungan ayah dan contoh, dua pertanyaan kualitas hubungan ibu dan contoh, dua pertanyaan kualitas hubungan ayah dan ibu) dengan skala 1-4 mengenai kualitas hubungan antara contoh dengan orangtuanya. Pilihan jawaban diberi skor 1-4 (1= sangat tidak puas, 2= pada dasarnya tidak puas, 3= pada dasarnya puas, 4= sangat puas sekali), kemudian dikelompokkan berdasarkan kelas interval (1= tidak puas, 2= cukup puas, 3= puas). Rentang nilai dari 6-24. Pertanyaan ini replikasi dari Center for family Research-Iowa State University (1994) yang dimodifikasi oleh Puspitawati (2006). Kecerdasan Emosional : Variabel ini terdiri dari 25 butir pertanyaan dengan skala likert 1-5 dalam penilaian kecerdasan emosi. Adapun hal yang ditanyakan mengenai mengenali emosi, mengelola emosi, memotivasi diri, empati, dan seni

99membina hubungan. Pilihan jawaban diberi skor 1-5 (1= saya sama sekali tidak seperti itu, 2= kemungkinan besar saya tidak seperti itu, 3= saya antara seperti itu dan tidak seperti itu, 4= kemungkinan besar saya seperti itu, 5= saya selalu seperti itu), kemudian dikelompokkan berdasarkan kelas interval (1= rendah, 2= sedang, 3= tinggi). Rentang nilai dari 25-125. Pertanyaan ini disusun dengan merujuk pada Goleman (2000).

100 Lampiran 2 Rata-rata skor interaksi dalam keluarga dan kecerdasan emosional 2a Hubungan contoh dengan ayahnya Pernyataan Rata-Rata Skor Perlakuan Ayah ke Contoh Dimensi Kehangatan 1 Ayah mempedulikan masalah yang sedang saya hadapi 3.6 2 Ayah berbuat sesuatu yang kemudian membuat saya merasa dicintai 3.6 3 Ayah mendiskusikan sesuatu dengan saya sehingga saya merasa dihargai 3.6 4 Ayah membantu saya bila saya perlu sesuatu 4.1 Total 14.9 Dimensi Kekasaran 1 Ayah marah-marah pada saya 2.6 2 Ayah mengkritik perbuatan saya 3.2 3 Ayah membentak saya dengan marah 2.2 4 Ayah bertengkar dengan saya 2.0 5 Ayah memukul atau menampar saya 1.2 Total 11.3 Perlakuan Contoh ke Ayah Dimensi Kehangatan 1 Saya mempedulikan masalah yang sedang ayah hadapi 3.3 2 Saya berbuat sesuatu yang kemudian membuat ayah merasa dicintai 3.2 3 Saya mendiskusikan sesuatu dengan ayah sehingga ayah merasa dihargai 3.4 4 Saya membantu ayah bila ayah perlu sesuatu 3.8 Total 13.6 Dimensi Kekasaran 1 Saya marah-marah pada ayah 2.1 2 Saya mengkritik perbuatan ayah 2.5 3 Saya membentak ayah dengan marah 1.5 4 Saya bertengkar dengan ayah 1.8 5 Saya memukul atau menampar ayah 1.0 Total 9.0 Keterangan: 1: Tidak pernah, 2: Jarang sekali, 3: Cukup, 4: Sering, 5: Selalu

101 2b Hubungan contoh dengan ibunya Pernyataan Rata-rata skor Perlakuan Ibu ke Contoh Dimensi Kehangatan 1 Ibu mempedulikan masalah yang sedang saya hadapi 4.2 2 Ibu berbuat sesuatu yang kemudian membuat saya merasa dicintai 4.1 3 Ibu mendiskusikan sesuatu dengan saya sehingga saya merasa dihargai 3.9 4 Ibu membantu saya bila saya perlu sesuatu 4.2 Total 16.4 Dimensi Kekasaran 1 Ibu marah-marah pada saya 3.1 2 Ibu mengkritik perbuatan saya 3.4 3 Ibu membentak saya dengan marah 2.6 4 Ibu bertengkar dengan saya 2.3 5 Ibu memukul atau menampar saya 1.4 Total 12.8 Perlakuan Contoh ke Ibu Dimensi Kehangatan 1 Saya mempedulikan masalah yang sedang ibu hadapi 3.6 2 Saya berbuat sesuatu yang kemudian membuat ibu merasa dicintai 3.5 3 Saya mendiskusikan sesuatu dengan ibu sehingga ibu merasa dihargai 3.6 4 Saya membantu ibu bila ibu perlu sesuatu 3.8 Total 14.4 Dimensi Kekasaran 1 Saya marah-marah pada ibu 2.3 2 Saya mengkritik perbuatan ibu 2.4 3 Saya membentak ibu dengan marah 1.7 4 Saya bertengkar dengan ibu 2.1 5 Saya memukul atau menampar ibu 1.0 Total 9.4 Keterangan: 1: Tidak pernah, 2: Jarang sekali, 3: Cukup, 4: Sering, 5: Selalu

102 2c Hubungan ayah dengan ibu Pernyataan Rata-rata skor Perlakuan Ayah ke Ibu Dimensi Kehangatan 1 Ayah mempedulikan masalah yang sedang ibu hadapi 4.2 2 Ayah berbuat sesuatu yang kemudian membuat ibu merasa dicintai 3.9 3 Ayah mendiskusikan sesuatu dengan ibu sehingga ibu merasa dihargai 4.1 4 Ayah membantu ibu bila ibu perlu sesuatu 4.2 Total 16.4 Dimensi Kekasaran 1 Ayah marah-marah pada ibu 2.4 2 Ayah mengkritik perbuatan ibu 2.9 3 Ayah membentak ibu dengan marah 1.9 4 Ayah bertengkar dengan ibu 2.0 5 Ayah memukul atau menampar ibu 1.2 Total 10.4 Perlakuan Ibu ke Ayah Dimensi Kehangatan 1 Ibu mempedulikan masalah yang sedang ayah hadapi 4.3 2 Ibu berbuat sesuatu yang kemudian membuat ayah merasa dicintai 4.0 3 Ibu mendiskusikan sesuatu dengan ayah sehingga ayah merasa dihargai 4.1 4 Ibu membantu ayah bila ayah perlu sesuatu 4.3 Total 16.7 Dimensi Kekasaran 1 Ibu marah-marah pada ayah 2.4 2 Ibu mengkritik perbuatan ayah 2.9 3 Ibu membentak ayah dengan marah 1.7 4 Ibu bertengkar dengan ayah 2.1 5 Ibu memukul atau menampar ayah 1.1 Total 10.2 Keterangan: 1: Tidak pernah, 2: Jarang sekali, 3: Cukup, 4: Sering, 5: Selalu

103 2d Kualitas hubungan Pernyataan Rata-rata skor Hubungan Contoh dan Ibu 1 Seberapa puaskah hubungan antara anda dan ibu anda? 3.3 2 Seberapa bahagiakah anda dengan keadaan hubungan anda dengan ibu anda? 3.4 Total 6.7 Hubungan Contoh dan Ayah 3 Seberapa puaskah hubungan antara anda dan ayah anda? 3.2 4 Seberapa bahagiakah anda dengan keadaan hubungan anda dengan ayah anda? 3.2 Total Hubungan Ayah dan Ibu 5 Seberapa puaskah hubungan antara ayah dan ibu anda? 3.3 6 Seberapa bahagiakah anda dengan keadaan hubungan ayah dengan ibu anda? 3.3 Total 6.7 Keterangan: 1: Sangat tidak puas/tidak bahagia 2: Pada dasarnya tidak puas/tidak bahagia, 3: Pada dasarnya puas/bahagia, 4: Puas/bahagia sekali

1042e Kecerdasan emosional Pernyataan Rata-rata skor Mengenali Emosi Diri 1 Saya merasa tidak mempunyai kekuatan untuk mengubah hal-hal yang penting dalam hidup saya 3.8 2 Saya selalu mengerjakan sesuatu dengan benar 3.4 3 Saya merasa punya kualitas bagus 3.5 4 Saya dapat memahami dan mengenali diri saya sendiri 4.0 5 Saya mengetahui kelemahan emosi saya 4.0 Total 18.7 Mengelola Emosi Diri 1 Saya dapat mengontrol emosi saya 3.4 2 Dimanapun saya berada, saya berusaha untuk menyesuaikan diri walaupun terkadang agak berat 4.1 3 Saya bertindak dan bersikap positif 3.7 4 Saya akan menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan amarah saya muncul ketika sedang bad mood 3.8 5 Ketika dikecewakan oleh teman, saya akan marah kepadanya 3.0 Total 18.0 Motivasi 1 Saya tidak malu untuk meminta nasihat pada orangtua dalam memecahkan masalah saya 3.6 2 Masalah yang saya hadapi membuat saya semakin tidak dapat mengenali diri saya 3.7 3 Saya sangat yakin pada diri saya sendiri 3.7 4 Saya tidak pernah berhenti belajar sampai mengerti 3.4 5 Saya memiliki jadwal agenda harian yang akan dilakukan setiap harinya 2.6 Total 17.0 Empati 1 Saya membantu nenek menyeberang jalan 4.6 2 Saya membuang sampah ditempat sampah 3.2 3 Saya memberi bantuan keuangan kepada teman yang membutuhkan sesuai dengan kemampuan 4.2 4 Saya tidak ambil pusing jika teman saya membentuk kelompok 4.9 5 Saya menghormati teman yang beribadah 5.0 Total 21.8 Seni Membina Hubungan 1 Mudah sekali bagi saya untuk memulai suatu pembicaraan dengan orang dewasa 3.4 2 Saya selalu mengucapkan salam kepada orangtua ketika akan berangkat kesekolah 4.7 3 Saya suka berteman dengan siapa saja 4.3 4 Saya orang sangat menyenangkan dan gampang diajak kerjasama 3.8 5 Saya bisa menyimpan rahasia teman 4.2 Total 17.1

67 Lampiran 3 Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecerdasan emosional Kecerdasan Emosional Kelas Total X-9 XI-9 n%n %n% Mengenali Emosi diri Rendah (5-11) 0 0.0 1 2.7 1 1.4 Sedang (12-18) 16 44.4 16 43.2 32 43.8 Tinggi (19-25) 2055.62054.14054.8 Total 36 100.0 37 100.0 73 100.0 Mengelola Emosi Rendah (5-11) 0 0.0 2 5.4 2 2.7 Sedang (12-18) 2055.62259.54257.5 Tinggi (19-25) 16 44.4 13 35.1 29 39.7 Total 36 100.0 37 100.0 73 100.0 Memotivasi Diri Rendah (5-11) 2 5.6 1 2.7 3 4.1 Sedang (12-18) 2055.63081.15068.5 Tinggi (19-25) 14 38.9 6 16.2 20 27.4 Total 36 100.0 37 100.0 73 100.0 Empati Rendah (5-11) 0 0.0 0 0.0 0 0.0 Sedang (12-18) 1 2.8 2 5.4 3 4.1 Tinggi (19-25) 3597.23594.67095.9 Total 36 100.0 37 100.0 73 100.0 Seni Membina Hubungan Rendah (5-11) 1 2.8 0 0.0 1 1.4 Sedang (12-18) 6 16.7 6 16.2 12 16.4 Tinggi (19-25) 2980.63183.86082.2 Total 36 100.0 37 100.0 73 100.0

68 Lampiran 4 Tabulasi silang antar variabel 4a Tabulasi silang antara interaksi ayah dan contoh dengan kecerdasan emosional Kecerdasan Emosional Interaksi Ayah dan Contoh Kurang Baik Cukup Baik n % n % Rendah 0 0.0 0 0.0 Sedang 5 41.7 6 10.2 Tinggi 7 58.3 53 89.8 Total 12 100.0 59 100.0 4b Tabulasi silang antara interaksi ibu dan contoh dengan kecerdasan emosional Kecerdasan Emosional Interaksi Ibu dan Anak Kurang Baik Cukup Baik n %n %Rendah 0 0.0 0 0.0Sedang 2 20.0 10 15.9Tinggi 880.053 84.1Total 10 100.0 63 100.0 4c Tabulasi silang antara interaksi ayah dan ibu dengan kecerdasan emosional Kecerdasan Emosional Interaksi Ayah dan Ibu Kurang Baik Cukup Baik n %n %Rendah 0 0.0 0 0.0Sedang 2 28.6 9 14.1Tinggi 571.455 85.9Total 7 100.0 64 100.0 4d Tabulasi silang antara kualitas hubungan dengan kecerdasan emosional Kecerdasan Emosional Kualitas Hubungan Tidak Puas Puas n %n %Rendah 0 0.0 0 0.0Sedang 3 42.9 9 13.6Tinggi 457.1 57 86.4Total 7 100.0 66 100.0

69Lampiran 5 Matriks korelasi hubungan antar variabel penelitian Variabel X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10X1 X2 .00 X3 .01 .61** X4 -.19 .08 .22 X5 .07 .02 -.17 .09 X6 .19 .03 -.02 .15 -.09 X7 .34** .07 .10 .01 -.15 .40 X8 .06 -.12 -.10 .26 -.01 .48** .38** X9 .06 -.01 .00 .03 -.05 .21 .48** .68** X10 .21 .05 -.03 .21 -.08 .91** .56** .69** .37**X11 .60** -.04 -.05 .00 -.14 .35** .28* .19 .25* .33**** korelasi signifikan pada level 0.01 (2-tailed). * korelasi signifikan pada level 0.05 (2-tailed). Keterangan: X1: Tujuan Hidup dan Cita-cita X7: Hubungan Ibu-Contoh X2: Pendidikan Ayah X8: Hubungan Ayah-Ibu X3: Pendidikan Ibu X9: Kualitas Hubungan X4: Pendapatan Orangtua X10: Interaksi Keluarga X5: Besar Keluarga X11: Kecerdasan Emosional X6: Hubungan Ayah-Contoh

705a Matriks korelasi hubungan karakteristik contoh dengan interaksi dalam keluarga Variabel Tujuan hidup dan Cita-cita Hubungan ayah-contoh Hubungan ibu-contoh Hubungan ayah-ibu Kualitas hubungan Tujuan hidup dan Cita-cita Hubungan Ayah-Contoh .19 Hubungan Ibu-Contoh .34** .40 Hubungan Ayah-Ibu .06 .48** .38** Kualitas Hubungan .06 .21 .48** .68**Interaksi Keluarga .21 .91** .56** .69** .37**** korelasi signifikan pada level 0.01 (2-tailed). * korelasi signifikan pada level 0.05 (2-tailed). 5b Matriks korelasi hubungan karakteristik keluarga dengan interaksi dalam keluarga Variabel Pendidikan Ayah Pendidikan Ibu Pendapatan Orangtua Besar KeluargaHubungan Ayah-Contoh Hubungan Ibu-Contoh Hubungan Ayah-Ibu Kualitas HubunganPendidikan Ayah Pendidikan Ibu .61** Pendapatan Orangtua .08 .22 Besar Keluarga .02 -.17 .09 Hubungan Ayah-Contoh .03 -.02 .15 -.09 Hubungan Ibu-Contoh .07 .10 .01 -.15 .40 Hubungan Ayah-Ibu -.12 -.10 .26 -.01 .48** .38** Kualitas Hubungan -.01 .00 .03 -.05 .21 .48** .68**Interaksi Keluarga .05 -.03 .21 -.08 .91** .56** .69** .37**** korelasi signifikan pada level 0.01 (2-tailed). * korelasi signifikan pada level 0.05 (2-tailed).

715c Matriks korelasi hubungan interaksi dalam keluarga dengan kecerdasan emosional Variabel Hubungan Ayah-Contoh Hubungan Ibu-Contoh Hubungan Ayah-Ibu Kualitas HubunganInteraksi KeluargaHubungan Ayah-Contoh Hubungan Ibu-Contoh .40 Hubungan Ayah-Ibu .48** .38**Kualitas Hubungan .21 .48** .68** Interaksi Keluarga .91** .56** .69** .37**Kecerdasan Emosional .35** .28* .19 .25* .33**** korelasi signifikan pada level 0.01 (2-tailed). * korelasi signifikan pada level 0.05 (2-tailed).

Dokumen Terkait

Garis Panduan Researchukmmy

Garis Panduan Researchukmmy

Pusat pengurusan penyelidikan dan instrumentasi crim garis p.

Contoh Proposal / 11 kali tayang / 377KB

Karakteristik Bencana Webunairacid

Karakteristik Bencana Webunairacid

Peristiwa atau rangkaian peristiwa akibat fenomena alam akib.

Contoh Proposal / 8 kali tayang / 593KB

Proposal Usaha Kue Brownies Bing Pdfdirppcom

Proposal Usaha Kue Brownies Bing Pdfdirppcom

Proposal usaha kue browniespdf free pdf download now source.

Contoh Proposal / 10 kali tayang / 31KB

Panduan Penyusunan Proposal Penyelenggaraan Program

Panduan Penyusunan Proposal Penyelenggaraan Program

Dari berbagai satuan pendidikan mendapat bantuan biaya pendi.

Contoh Proposal / 8 kali tayang / 147KB

Agenda Ui Terkini Uiupdate

Agenda Ui Terkini Uiupdate

Peluncuran buku saparinah sadli terkait isu perempuan menjad.

Contoh Proposal / 14 kali tayang / 1,378KB

Unair Accounting Week Universitas Negeri Malang

Unair Accounting Week Universitas Negeri Malang

Proposal kegiatan unair accounting week himpunan mahasiswa a.

Contoh Proposal / 15 kali tayang / 1,015KB