Prosiding Ispijatengorg



Keterangan eBook
Author ACER
Creator Microsoft® Word 2013
CreationDate 2015-03-17T19:04:21+07:00
ModDate 2015-03-17T19:04:21+07:00
Producer Microsoft® Word 2013
Pages 351 Page
Ukuran File 4,468 KB
Dibuka 629 Kali
Topik Contoh Proposal
Tanggal Unggah Tuesday, 15 Nov 2016 - 08:24 PM
Link Unduh
Baca Halaman Penuh BUKA
Rating eBook
Bagi ke Yang Lain

Kesimpulan

PROSIDING ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN 2014 IKATAN SARJANA PENDIDIKAN INDONESIA (ISPI) JAWA TENGAH “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Surakarta, 15 November 2014 Bekerjasama dengan: FKIP UNS, FKIP UMS, FKIP UNISRI, FKIP UTP, FKIP UNIVET dan FKIP UNWIDA

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN 2014 IKATAN SARJANA PENDIDIKAN INDONESIA (ISPI) JAWA TENGAH “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Surakarta, 15 November 2014 Tim Editor:  Agung Nugroho Catur Saputro, S.Pd., M.Sc.  Dr. Winarno, M.Si. Setting dan Layout:  Bayu Ishartono, S.Pd. Diterbitkan oleh: Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Bekerjasama dengan FKIP UNS, FKIP UMS, FKIP UNISRI, FKIP UTP, FKIP UNIVET dan FKIP UNWIDA ISBN: 978-602-19840-1-7 Dicetak oleh: PELANGI PRESS Kepuhsari RT 03/11, Mojosongo, Jebres, Surakarta 57126 Telp. (0271) 208 8181, Hunting 085 227 522 735 email: alesihasale34@yahoo.com

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 iii SUSUNAN PANITIA SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN 2014 IKATAN SARJANA PENDIDIKAN INDONESIA (ISPI) JAWA TENGAH “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Surakarta, 15 November 2014 Penanggung Jawab : Ketua ISPI Jawa Tengah Penasehat : Rektor UNISRI Surakarta Rektor UNS Surakarta Rektor UNIVET Bantara Sukoharjo Rektor UMS Surakarta Rektor UNWIDHA Klaten Rektor UTP Surakarta Pengarah : Dekan FKIP UNISRI Surakarta Dekan FKIP UNS Surakarta Dekan FKIP UNIVET Bantara Sukoharjo Dekan FKIP UMS Surakarta Dekan FKIP UNWIDHA Klaten Dekan FKIP UTP Surakarta Ketua : Dr. Siti Supeni, SH., M.Pd. (FKIP UNISRI) Dr. Samino, MM. (FKIP UMS) Sekretaris : Dr. Winarno, M.Si. (FKIP UNS) Drs. A. Roedy K., M.Pd. (FKIP UNISRI) Bendahara : Drs. Dono Suko, M.Pd. (FKIP UTP) Dra. Sri Hartini, M.Pd. (FKIP UNISRI) Sie Persidangan : Dr. Herry Agus Susanto Dr. Tjipto Subadi, M.Pd. Drs. Bambang Partono, M.Pd. Dr. Herlastuti, M.Pd. Dr. Sri Haryati, M.Pd. Dr. Siti Fadillah, M.Pd. Sie Artikel dan Prosiding : Drs Tukiyo M.Pd. (FKIP UNWIDHA) : Agung Nugroho CS., S.Pd., M.Sc. (FKIP UNS) Sie Perlengkapan : Bagian Rumah Tangga UNISRI Surakarta Sie Konsumsi : Dra. Usmani Haryanti, S.Pd., SH. (FKIP UTP) Sie Dokumentasi dan Akomodasi : Sihono Sie Pendaftaran Anggota ISPI : Oktiana Handini, S.Pd., M.Pd. (FKIP UNISRI) Sie Among Tamu : Semua Pengurus ISPI Surakarta

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 iv SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum wr. wb. Salam sejahtera untuk kita semua Kepada segenap pengurus dan anggota Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Wilayah Provinsi Jawa Tengah yang kami hormati. Teriring doa dan syukur semoga hidayah dan ridho Tuhan Yang Maha Esa senantiasa dilimpahkan kepada kita semua anggota ISPI Jawa Tengah dalam rangka upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Jawa Tengah khususnya dan nasional maupun pada tingkat global pada umumnya. Aamiin. Suatu kebanggaan dan apresiasi secara tulus kepada segenap pengurus ISPI daerah SOLO RAYA yang telah berhasil menyelenggarakan seminar nasional dan workshop di penghujung tahun 2014 dengan tema “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen melalui penulisan jurnal ilmiah Pendidikan”. Kerjasama yang sangat baik dari berbagai kalangan perguruan tinggi di daerah Solo Raya yang dikoordinir oleh Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) bersama Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Tunas Pembangunan (UTP), Universitas Widya Dharma (UNWIDA), Universitas Muhammadiyah (UMS), Universitas Veteran Bangun Nusantara (UNIVET-BANTARA) yang memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan serta bidang non pendidikan tetapi peduli terhadap pemikiran dalam upaya memajukan kualitas pendidikan. Publikasi ilmiah, seperti prosiding adalah cara yang populer dan efektif untuk berkomunikasi bagi para lulusan sarjana, magister maupun doktor yang mempunyai keahlian bidang-bidang ilmu yang sama atau berkaitan di kancah nasional maupun global. Melalui publikasi ilmiah, kepakaran seseorang akademisi diuji dan kemudian akan mendapatkan tempat diantara para pakar lainnya, disitasi sebagai inspirasi, serta kritik menjadi media dalam menemukan kebaharuan-kebaharuan ilmiah. Semoga selalu mengilhami bagi seluruh lulusan sarjana, magister, maupun doktor yang akan menjadi motivasi para guru maupun dosen dalam meningkatkan profesionalitasnya. Selanjutnya menjadi kebanggaan bersama kita bergabung menjadi kekuatan yang besar bagi ISPI JAWA TENGAH dalam ikut mengatasi masalah guru dan dosen yang ada di wilayah Provinsi Jawa Tengah khususnya dalam hal upaya memotivasi untuk menulis karya ilmiah yang menjadi tanggung jawabnya. Hal tersebut merupakan program prioritas disamping program kerja lainnya yang akan kita persembahkan kepada pemerintah Provinsi Jawa Tengah sebagai suatu bentuk kepedulian organisasi profesi ini dalam rangka mempercepat kemampuan menulis karya ilmiah dalam bentuk training kepada para guru-guru maupun dosen. Terima kasih kami haturkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah yang selama ini telah

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 v memberikan bantuan finansial dan sangat bermanfaat bagi kelancaran pelaksanaan kegiatan sebagai program kerja ISPI. Semoga mendatang akan terbentuk Tim Kolaborasi antara ISPI dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah dalam mengembangkan profesionalitas berkelanjutan bagi guru dan dosen yang ada di wilayah Provinsi Jawa Tengah dengan dibentuk suatu Tim bersama. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senatiasa meridhoi upaya kita semua dan sukses. Aamiin. Wassalamualaikum wr.wb. Ketua ISPI Jawa Tengah Prof. Dr. Trisno Martono

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 vi SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 DAFTAR ISI Susunan Panitia ........................................................................................ iii Kata Pengantar ......................................................................................... iv Daftar Isi .................................................................................................... vi SESI PLENO ............................................................................................. 1 MENULIS ARTIKEL UNTUK JURNAL ILMIAH BEREPUTASI ................. 2-6 Ali Saukah PARADIGMA RISET PERGURUAN TINGGI MASA DEPAN ................... 7-8 Sunaryo Kartadinata PENGEMBANGAN DAN TATA KELOLA ILMIAH SECARA BERKALA .. 9-14 Burhan Nurgiyantoro SESI PARALEL MIPA ............................................................................. 15 PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA SEKOLAH MENEGAH PERTAMA MELALUI PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK ....................................... 16-24 Utami Murwaningsih, Erika Laras Astutiningtyas dan Nuryani Tri Rahayu IMPLIKASI PENGGUNAAN MEDIA FLASH SWiSHmax TERHADAP PRESTASI BELAJAR STATISTIKA MATEMATIKA I DITINJAU DARI KECERDASAN LOGIS MATEMATIS MAHASISWA ... 25-33 Andhika Ayu Wulandari, Utami Murwaningsih dan Erika Laras Astutiningtyas PROFIL PROSES BERFIKIR PADA PEMECAHAN MASALAH KOMBINATORIK DITINJAU DARI KETERAMPILAN METAKOGNITIF MAHASISWA .............................................................. 34-43 Erika Laras Astutiningtyas, Andhika Ayu Wulandari dan Isna Farahsanti PEMANFAATAN KISAH PENDIRIAN BENTENG BESI ISKANDAR ZULKARNAIN SEBAGAI SUMBER INSPIRASI DALAM PEMBELAJARAN KIMIA SMA/MA KONSEP SEL ELEKTROKIMIA DAN PEMBENTUKAN KARAKTER INSAN MULIA .... 44-52 Agung Nugroho Catur Saputro PROFIL INTUISI DAN TINGKAT KREATIVITAS SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH GEOMETRI ......................... 53-68 Budi Usodo dan Partia Iswati

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 vii PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEAM ASSISSTED INDIVIDUALIZATION (TAI) DENGAN MACROMEDIA FLASH UNTUK MENINGKATKAN PROSES DAN HASIL BELAJAR KIMIA KELAS X-1 SEMESTER GENAP DI SMA KEBAKKRAMAT KARANGANYAR .................................................................................... 69-76 Budi Utami MEMBANTU MENGATASI KESULITAN PEMECAHAN SOAL CERITA MATEMATIKA PADA SISWA SEKOLAH DASAR ......... 77-85 Heru Kurniawan SESI PARALEL IPS ................................................................................ 86 REFLEKSI PELAKSANAAN RINTISAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (PPG SMK) KOLABORATIF DI JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK DAN KEJURUAN FKIP UNS ................................................................. 87-100 Yuyun Estriyanto BALSEM (BAL SEMEN) PENGUAT OTOT TANGAN PADA TOLAK PELURU TERKAIT PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA SMP NEGERI WONOBOYO ................................................................ 101-105 Sukiman STRATEGI UNTUK PENINGKATAN MUTU SEKOLAH BERDASARKAN ANALISIS FISHBONE DI SD NEGERI MARGOLELO, KANDANGAN, TEMANGGUNG .................................. 106-120 Tri Sadono, Bambang Ismanto dan Arief Sadjiarto GAMIFICATION: ADAPTASI GAME DALAM DUNIA PENDIDIKAN .... 121-131 Eric Kunto Aribowo PENINGKATAN KUALITAS PROSES PEMBELAJARAN MATA KULIAH KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN POLITIK MELALUI LESSON STUDY DI PROGRAM STUDI PPKN FKIP UNS . 132-138 Winarno SESI PARALEL IP .................................................................................. 139 STRATEGI MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU MELALUI SUPERVISI KLINIS DI SD 3 JAMPIROSO KABUPATEN TEMANGGUNG ............................................................. 140-151 Agus Widi Sucahyo

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 viii SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 PENTINGNYA PENJAGA SEKOLAH MENUJU STANDAR PELAYANAN MINIMAL SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN TRETEP KABUPATEN TEMANGGUNG ............................................. 152-157 Walminto, Slamet Hidayat ACADEMIC SUPERVISION MANAGEMENT THE STATE PRIMARY SCHOOL MIJEN 2 KEBONAGUNG DEMAK ...................... 158-165 Mufarikin dan Bambang Ismanto MANAJEMEN PEMBELAJARAN BERBASIS TECHNOLOGICAL PEDAGOGICAL AND CONTENT KNOWLEDGE (TPACK) UNTUK MENCIPTAKAN SUMBER DAYA MANUSIA HiTech DI ERA DIGITAL ............................................................................................... 166-172 Tituk Nurdiana Fatmawati PEMBELAJARAN BERBASIS PERMAINAN SIMULASI P4 SEBAGAI PENGEMBANGAN SCIENTIFIC DI SEKOLAH DASAR ..... 173-179 Tri Sulistyowati MENINGKATKAN KEDISIPLINAN MENGERJAKAN PEKERJAAN RUMAH MELALUI LAYANAN KONSELING KELOMPOK SEBAYA PESERTA DIDIK KELAS VIIA SMP NEGERI 12 SURAKARTA SEMESTER GENAP TAHUN 2012/2013 .. 180-188 Gunawan SESI PARALEL BAHASA ...................................................................... 189 MEMPERKENALKAN PEMBELAJARAN MEMBACA DENGAN TEKNIK POS DI TK ............................................................. 190-202 Basuki MENGENAL SISWA MELALUI PERKEMBANGAN BAHASANYA ...... 203-212 Tri Astuti Rahayu PENYULIHAN DALAM NOVEL “EMPRIT ABUNTUT BEDHUG” KARYA SUPARTO BRATA .................................................................. 213-222 Bayu Indrayanto PENILAIAN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA .......................................................................................... 223-235 Sukini dan Esti Pramuki MOTIVASI MEMBACA DAN KETERAMPILAN MENULIS ILMIAH BAGI GURU DAN DOSEN ................................................................... 236-244 Samino

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 ix MEMBANGUN KECERDASAN ANAK 0-3 TAHUN MELALUI MEMBACA DAN BERMAIN ................................................................. 245-252 Agung Prasetyo SESI PARALEL UMUM .......................................................................... 253 KONFIGURASI MEMBANGUN MODEL PEDOMAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEGIATAN MAHASISWA ......... 254-260 Hassan Suryono MENDIDIK GENERASI Z BERKARAKTER BANGSA .......................... 261-267 Nurul Ngaeni PEMBELAJARAN ANAK DI SEKOLAH DASAR .................................. 268-279 Kusnadi SOLO HAPPY TOUR (MODEL PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER NILAI-NILAI BUDAYA JAWA UNTUK ANAK USIA DINI) ..................... 280-284 Furi Pratiwi PENGELOLAAN UKS (USAHA KESEHATAN SISWA) DI TK COR YESU TEMANGGUNG ................................................................ 285-293 Tambah Setyowati, Dwi Kuntari GURU PROFESIONAL DAN BERMARTABAT .................................... 294-300 Krisna Pebryawan PERKEMBANGAN ANAK SELAMA MASA SEKOLAH DASAR ........... 301-308 Sulasmi MEMBANGUN BUDAYA ILMIAH GURU MELALUI PENELITIAN DAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ........................................................ 309-314 Bambang Ismanto ESENSI PENULISAN JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN DALAM RANGKA PENGEMBANGAN PROFESI BAGI GURU DAN DOSEN ........................................................................................ 315-321 Ana Setyandari ETIKA ISTRI DALAM BERUMAH TANGGA MENURUT SERAT SEH JANGKUNG DAN RELEVANSINYA DENGAN AJARAN ISLAM ......... 322-328 Luwiyanto

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 x SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 STRATEGI MENYUSUN KARYA ILMIAH UNTUK PUBLIKASI JURNAL INTERNASIONAL .............................................. 329-335 Tjipto Subadi LAMPIRAN 1 DAFTAR PEMAKALAH SESI PARALEL ........................ 336-340

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 1 SESI PLENO

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 2 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 MENULIS ARTIKEL UNTUK JURNAL ILMIAH BEREPUTASI Ali Saukah1,* 1Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang *Keperluan korespondensi: alisaukah@yahoo.com 1 2 3 4 5 6

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 3 7 8 9 10 11 12

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 4 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 13 14 15 16 17 18

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 5 19 20 21 22 23 24

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 6 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 25 26 27 28 29 30

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 7 PARADIGMA RISET PERGURUAN TINGGI MASA DEPAN Sunaryo Kartadinata1 1Ketua Umum PP Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia 1 2 3 4 5 6

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 8 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 7 8 9 10 11 12

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 9 PENGEMBANGAN DAN TATAKELOLA ILMIAH SECARA BERKALA Burhan Nurgiyantoro1 1FBS PPs LPPMP Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 1 2 3 4 5 6

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 10 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 7 8 9 10 11 12

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 11 13 14 15 16 17 18

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 12 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 19 20 21 22 23 24

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 13 25 26 27 28 29 30

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 14 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 31 32 33 34

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 15 PARALEL MIPA

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 16 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA SEKOLAH MENEGAH PERTAMA MELALUI PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK Utami Murwaningsih1,*, Erika Laras Astutiningtyas2 dan Nuryani Tri Rahayu3 1,2,3Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo *Keperluan korespondensi: utamimurwaningsih@yahoo.co.id ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa melalui pengembangan perangkat pembelajaran materi Aljabar dengan pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik berdasarkan Kurikulum 2013 yang meliputi: (1) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, (2) Buku Siswa, (3) Lembar Kerja Siswa, (4) Buku Petunjuk Guru dan (5) Perangkat Tes Hasil Belajar Siswa, pada materi Aljabar di kelas VII SMP. Sesuai dengan tujuan penelitian, maka penelitian ini tergolong dalam penelitian eksperimental semu yang didahului dengan penelitian pengembangan. Perangkat pembelajaran matematika realistik berdasarkan Kurikulum 2013 yang dikembangkan dalam penelitian ini meliputi: (1) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, (2) Buku Siswa, (3) Lembar Kerja Siswa, (4) Buku Petunjuk Guru dan (5) Perangkat Tes Hasil Belajar Siswa, pada materi Aljabar di kelas VII SMP. Model pengembangan perangkat pembelajaran yang digunakan adalah dengan memodifikasi model 4-D (Four D model) dari Thiagarajan, Semmel dan Semmel. Prosedur pengembangan perangkat pembelajaran terdiri dari tiga tahap, yaitu: a) pendefinisian (define) dan perancangan (design), b) pengembangan (develop), dan (c) penyebaran (desseminate). Tahap pertama dan kedua telah dilaksanakan. Sedangkan penelitian ini ada pada tahap ketiga yaitu penyebaran (desseminate). Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai berikut. (1) Untuk mengumpulkan data hasil penilaian, koreksi dan saran perbaikan dari validator terhadap perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian, digunakan lembar penilaian validator terhadap perangkat pembelajaran dan kesesuaiannya dengan Kurikulum 2013. (2) Untuk mengumpulkan data kemampuan siswa yang dikenai dengan pendekatan pembelajaran matematika realistik, dilakukan dengan memberikan tes hasil belajar pada kelas eksperimen, yaitu kelas yang dikenai pendekatan pembelajaran matematika realistik dan kelas kontrol, yaitu kelas yang dikenai pembelajaran konvensional. Analisis data untuk merevisi perangkat tes dilakukan dengan: (a) analisis validitas butir soal dan (b) analisis reliabilitas perangkat tes. Analisis ini menggunakan software Anates. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Prestasi belajar matematika siswa yang dikenai pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang dikenai pembelajaran konvensional bagi siswa pada materi aritmatika sosial, perbandingan, himpunan serta materi persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel. Kata kunci: prestasi belajar, matematika realistik, aljabar PENDAHULUAN Kurikulum 2013 mulai diterapkan secara bertahap mulai 15 Juli 2013. Ada 6 perbedaan Kurikulum 2013 dibanding kurikulum lama. Sedikitnya, ada enam perubahan yang dapat dilakukan bersamaan dengan penerapan Kurikulum 2013," demikian rilis Kemendikbud yang disampaikan Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemendikbud, Ibnu Hamad pada 14 Juli 2013. Pertama, terkait dengan penataan sistem perbukuan. Lazim berlaku selama ini, buku ditentukan oleh penerbit, baik menyangkut isi maupun harga, sehingga beban berat dipikul peserta didik dan orang tua. Menyangkut isi, karena keterbatasan wawasan dan kepekaan para penulis, kegaduhan terhadap isi buku pun sering terjadi. Penataan sistem perbukuan dalam implementasi Kurikulum 2013 dikelola oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan dan substansinya diarahkan oleh tim pengarah dan pengembang kurikulum. Tujuannya agar isi dapat dikendalikan dan kualitas lebih baik. Selain itu, harga bisa ditekan lebih wajar

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 17 (public awareness). Kedua, penataan Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) di dalam penyiapan dan pengadaan guru. Ketiga, penataan terhadap pola pelatihan guru. Keempat, memperkuat budaya sekolah melalui pengintegrasian kurikuler, ko-kurikuler, dan ekstrakurikuler, serta penguatan peran guru bimbingan dan konseling (BK). Kelima, terkait dengan memperkuat NKRI. Melalui kegiatan ekstrakurikuler kepramukaanlah, peserta didik diharapkan mendapat porsi tambahan pendidikan karakter, baik menyangkut nilai-nilai kebangsaan, keagamaan, toleransi dan lainnya. Keenam, ini juga masih terkait dengan hal kelima, memperkuat integrasi pengetahuan-bahasa-budaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa melalui pengembangan perangkat pembelajaran materi Aljabar dengan pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik berdasarkan Kurikulum 2013 yang meliputi: (1) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, (2) Buku Siswa, (3) Lembar Kerja Siswa, (4) Buku Petunjuk Guru dan (5) Perangkat Tes Hasil Belajar Siswa, pada materi Aljabar di kelas VII SMP. Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) merupakan operasionalisasi dari suatu pendekatan pendidikan matematika yang telah dikembangkan di Belanda dengan nama Realistic Mathematics Education (RME) yang artinya pendidikan matematika realistik. Pembelajaran matematika realistik pada dasarnya adalah pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika, sehingga mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik. Freudental, Treffers, Grafemeijer, de Moor dan de Lange (dalam Fauzan, 2001: 1), mengemukakan bahwa RME adalah suatu pendekatan pembelajaran yang memandang matematika sebagai suatu kegiatan manusia. Pendekatan ini telah digunakan di Belanda sejak lebih dari 30 tahun yang lalu dan menunjukkan hasil yang memuaskan. RME juga dikembangkan di beberapa negara lain seperti USA, Afrika Selatan, Malaysia, Inggris, Brazil dan lain-lain. Proyek pertama RME di USA, disebut Mathematics in Context (MC), dan telah menghasilkan suatu kurikulum untuk kelas V-IX. Becher dan Selter (dalam Yuwono, 2001: 1), mengemukakan bahwa di Belanda implementasi RME terbukti telah berhasil merangsang penalaran dan kegiatan berpikir siswa. Menurut Marpaung (2001: 4 – 5), PMR ini memiliki prospek lebih berhasil untuk diterapkan di Indonesia dibandingkan dengan pendekatan-pendekatan lainnya, seperti pendekatan strukturalistik, empiristik dan mekanistik. Karena pendekatan strukturalistik, bagi siswa terlalu abstrak, sehingga sangat sedikit siswa yang mampu memahami struktur itu. Pendekatan empiristik, lebih mudah diterima siswa, tetapi kurang berarti dalam kemampuan matematis, sebab kurang memuat komponen matematika vertikal. Pendekatan mekanistik boleh dikatakan tidak ada maknanya dilihat dari sudut matematika, karena kurang menanamkan pengertian. Sedangkan PMR bertolak dari masalah-masalah yang kontekstual, siswa aktif, guru berperan sebagai fasilitator, anak bebas mengeluarkan idenya, siswa sharing ide-idenya, artinya mereka bebas mengkomunikasikan ide-idenya satu sama lain. Guru membantu mereka membandingkan ide-ide itu dan membimbing mereka untuk mengambil keputusan tentang ide mana yang lebih baik buat mereka. Soedjadi (2001a: 2-3), mengemukakan bahwa PMR pada dasarnya adalah pemanfaatan realita dan lingkungan yang telah dipahami siswa untuk memperlancar proses pembelajaran matematika, dengan harapan agar tujuan pembelajaran matematika dapat dicapai lebih baik dari pada masa yang lalu. Yang dimaksud realita adalah hal-hal nyata atau konkrit, yang dapat diamati atau dipahami siswa melalui membayangkan. Sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan adalah lingkungan tempat siswa berada, baik lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat yang dapat dipahami siswa. Dengan kata lain yang dimaksud dengan lingkungan adalah kehidupan sehari-hari yang dialami atau dapat dipahami siswa.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 18 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Treffers (dalam Wijaya, 2012: 21) merumuskan lima karakteristik Pendidikan Matematika Realistik. (a) Penggunaan konteks. Konteks atau permasalahan realistik digunakan sebagai titik awal pembelajaran matematika. Konteks tidak harus berupa masalah dunia nyata namun bisa dalam bentuk permainan, penggunaan alat peraga, atau situasi lain. Melalui penggunaan konteks, siswa dilibatkan secara aktif untuk melakukan kegiatan eksplorasi permasalahan. (b) Penggunaan model untuk matematisasi progresif. Dalam Pendidikan Matematika Realistik, penggunaan model berfungsi sebagai jembatan dari pengetahuan dan matematika tingkat konkrit menuju pengetahuan matematika tingkat formal. (c) Pemanfaatan hasil konstruksi siswa. Siswa memiliki kebebasan untuk mengembangkan strategi pemecahan masalah sehingga diharapkan akan diperoleh strategi yang bervariasi. Hasil kerja dan konstruksi siswa selanjutnya digunakan untuk landasan pengembangan konsep matematika. (d) Interaktifitas. Pemanfaatan interaksi dalam pembelajaran matematika bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan kognitif dan efektif siswa secara simultan. (e) Keterkaitan. Konsep-konsep dalam matematika tidak bersifat parsial, namun banyak konsep matematika yang memiliki keterkaitan. Oleh karena itu, konsep-konsep matematika tidak dikenalkan kepada siswa secara terpisah atau terisolasis satu sama lain. Pendidikan Matematika Realistik menempatkan keterkaitan antar konsep matematika sebagai hal yang harus dipertimbangkan dalam proses pembelajaran. Menurut De Lange (dalam Hadi, 2005: 37) Pembelajaran matematika dengan pendekatan PMR meliputi aspek-aspek berikut. (a) Memulai pelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang “riil” bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya, sehingga siswa segera terlibat dalam pelajaran secara bermakna. (b) Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pelajaran tersebut. (c) Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan atau masalah yang diajukan. (d) Pengajaran berlangsung secara interaktif: siswa menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikannya, memahami jawaban temannya (siswa lain), setuju terhadap jawaban temannya, menyatakan ketidak setujuan, mencari alternativ penyelesaian yang lain, dan melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pelajaran. Berdasarkan latar belakang masalah, dapat dirumuskan tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa melalui pengembangan perangkat pembelajaran materi Aljabar dengan pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik berdasarkan Kurikulum 2013 yang meliputi: (1) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, (2) Buku Siswa, (3) Lembar Kerja Siswa, (4) Buku Petunjuk Guru dan (5) Perangkat Tes Hasil Belajar Siswa, pada materi Aljabar di kelas VII SMP. METODE PENELITIAN Sesuai dengan tujuan penelitian, maka penelitian ini tergolong dalam penelitian eksperimental semu yang didahului dengan penelitian pengembangan. Perangkat pembelajaran matematika realistik berdasarkan Kurikulum 2013 yang dikembangkan dalam penelitian ini meliputi: (1) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, (2) Buku Siswa, (3) Lembar Kerja Siswa, (4) Buku Petunjuk Guru dan (5) Perangkat Tes Hasil Belajar Siswa, pada materi Aljabar di kelas VII SMP. Model pengembangan perangkat pembelajaran yang digunakan adalah dengan memodifikasi model 4-D (Four D model) dari Thiagarajan, Semmel dan Semmel (1974: 5-9).

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 19 Keterangan: : garis pelaksanaan : garis siklus yang mungkin dilaksanakan : garis hasil kegiatan : kegiatan : hasil kegiatan Gambar 1 Modifikasi Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran dari Model 4-D (Four D Model) Tahap Desiminasi Prosedur pengembangan perangkat pembelajaran terdiri dari tiga tahap, yaitu: a) pendefinisian (define) dan perancangan (design), b) pengembangan (develop), dan (c) penyebaran (desseminate). Tahap pertama dan kedua telah dilaksanakan. Sedangkan penelitian ini ada pada tahap ketiga yaitu penyebaran (desseminate) sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 3.1 di atas. Pada pengembangan tahap ini terdiri atas tiga kegiatan yang dilakukan secara berturut-turut, yaitu: (a) penilaian ahli, (b) uji keterbacaan dan simulasi RPP tertentu kemudian (c) uji coba perangkat pembelajaran. Instrumen penelitian yang digunakan sebagai alat pengumpul data dalam penelitian ini meliputi: (a) Lembar Penilaian Validator Terhadap Perangkat Pembelajaran dan Instrumen Penelitian, (b) Lembar Observasi Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran, (c) Lembar Observasi Aktivitas Siswa Selama Mengikuti Proses Pembelajaran, (d) Lembar Angket Respon Guru Terhadap Komponen Perangkat dan Pelaksanaan Pembelajaran, (e) Lembar Angket Respon Siswa Terhadap Komponen Perangkat dan Pelaksanaan Pembelajaran dan (f) Instrumen Tes Hasil Belajar. Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara sebagai berikut. (1) Untuk mengumpulkan data hasil penilaian, koreksi dan saran perbaikan dari validator terhadap perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian, digunakan lembar penilaian validator terhadap perangkat pembelajaran dan kesesuaiannya dengan Kurikulum 2013. (2) Untuk mengumpulkan data kemampuan siswa yang dikenai dengan pendekatan pembelajaran matematika realistik, dilakukan dengan memberikan tes hasil belajar pada kelas eksperimen, yaitu kelas yang dikenai pendekatan pembelajaran matematika realistik dan kelas kontrol, yaitu kelas yang dikenai pembelajaran konvensional. Analisis data untuk merevisi perangkat tes dilakukan dengan: (a) analisis validitas butir soal dan (b) analisis reliabilitas perangkat tes. Analisis ini menggunakan software Anates. Validasi Ahli Revisi Uji Luas Keterbacaan & Simulasi RPP Tertentu Penyebaran (desiminasi) Tahun III Revisi Uji Coba LuasPerangkat Pembelajaran Analisis Perangkat Pembelajaran yang Valid Analisis Revisi Draft IV Draft V Draft VI Draft VII/ Draft Final Analisis Hasil Penilaian, ko-reksi dan saran per-baikan dari Ahli Data hasil Uji Luas Keterbacaan & Simulasi RPP Tertentu Data hasil Uji Coba Luas Perangkat Pembelajaran

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 20 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Uji Coba Perangkat Pembelajaran Kegiatan ini telah dilaksanakan selama tujuh hari dengan jadwal kegiatan sebagaimana tercantum pada Tabel 1 berikut ini. Tabel 1 Jadwal Kegiatan Uji Coba Perangkat Pembelajaran No. Hari/Tanggal Jam Jenis Kegiatan Tempat Banyak Siswa Hadir 1. 2. 3. Rabu, 19 Maret 2014 Senin, 24 Maret 2014 Rabu, 26 Maret 2014 07.40-09.00 07.40-09.00 08.20-09.40 Uji Coba Perangkat I (Himpunan) Postes LTHB Himpunan SMPN Gatak 2 Sukoharjo 32 siswa 32 siswa 32 siswa 4. 5. 6. Selasa, 18 Maret 2014 Rabu, 19 Maret 2014 Selasa, 25 Maret 2014 09.15-10.35 07.00-08.20 08.20-09.40 Uji Coba Perangkat II (Perbandingan) Postes LTHB Perbandingan SMPN 2 Sukoharjo 32 siswa 32 siswa 32 siswa 7. 8. 9. Selasa, 1 April 2014 Selasa, 8 April 2014 Rabu, 9 April 2014 07.00-08.20 07.00-08.20 07.00-08.20 Uji Coba Perangkat III (PLSV dan PtLSV) Postes LTHB PLSV dan PtLSV SMPN 4 Sukoharjo 32 siswa 32 siswa 32 siswa 10. 11. 12. Selasa, 15 April 2014 Rabu, 16 April 2014 Selasa, 22 April 2014 07.00-08.20 07.00-08.20 07.00-08.20 Uji Coba Perangkat IV (Aritmatika Sosial) Postes LTHB Aritmatika Sosial SMPN Gatak 2 Sukoharjo 32 siswa 32 siswa 32 siswa Analisis Data Untuk Merevisi Perangkat Tes Hasil Belajar Siswa Revisi perangkat tes hasil belajar siswa dari draft VI menjadi draft VII (draft final) dalam penelitian ini adalah didasarkan dari hasil analisis validitas dan reliabilitas perangkat tes. Berdasarkan hasil dari analisis validitas dan reliabilitas tiap materi adalah sebagai berikut.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 21 Materi Himpunan Materi Perbandingan Materi PLSV dan PtLSV Materi Aritmatika Sosial

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 22 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Berdasarkan hasil anates di atas, secara keseluruhan perangkat tes ini cukup dapat mengukur dengan tepat tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Dari hasil analisis reliabilitas perangkat tes, ternyata memiliki reliabilitas sangat tinggi, berarti perangkat tes ini memiliki keajegan yang sangat tinggi untuk digunakan sebagai alat penilaian hasil belajar siswa. Rancangan dan Hasil Uji Coba Perangkat Pembelajaran Rancangan yang akan digunakan dalam uji coba perangkat pembelajaran adalah two-group design. Sampel pertama sebagai kelas eksperimen yang dikenai perangkat pembelajaran dengan pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik,yaitu kelas VII G, sedangkan sampel kedua sebagai kelas kontrol yang menggunakan perangkat pembelajaran konvensional, yaitu kelas VII H. Sebelum dikenai perlakuan, dilakukan uji keseimbangan dengan rumus t-test independent. Setelah diketahui data tersebut homogenitas dan normal, maka langkah selanjutnya adalah menghitung data dengan rumus t-test sebagai berikut.Tabel 2. Hasil Uji Coba Perangkat Pembelajaran Matematika Realistik terhadap Prestasi Belajar No. Materi Normalitas Homogenitas t-test Keputusan 1. Himpunan: Eksperimen Kontrol L= 0,502 L = 0,304 F = 0,406 t = 8,518 > 1,987 Ho ditolak 2. Perbandingan: Eksperimen Kontrol L= 0,488 L= 0,330 F= 4,818 t = 8,932 > 1,987 Ho ditolak 3. PLSV dan PtLSV: Eksperimen Kontrol L= 0,151 L= 0,422 F = 0,241 t = 7,275 > 1,987 Ho ditolak 4. Aritmatika Sosial Eksperimen Kontrol L= 0,712 L= 0,320 F =3,012 t =5,274 > 1,987 Ho ditolak Berdasarkan tabel di atas, dapat ditarik kesimpulan ada perbedaan rerata yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol pada materi Himpunan. Untuk mengetahui prestasi belajar siswa manakah yang lebih baik, maka dibandingkan rerata marginal dari kedua populasi (karena hanya terdapat 2 populasi saja). Rerata untuk kelas eksperimen adalah 80,78sedangkan rerata kelas kontrol adalah 76,45, sehingga prestasi belajar matematika siswa pada kelas eksperimen lebih baik daripada prestasi belajar siswa pada kelas kontol. Dengan kata lain, prestasi belajar matematika siswa yang dikenai pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang dikenai pembelajaran konvensional bagi siswa kelas VII SMP pada materi Himpunan. Ada perbedaan rerata yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol pada materi Perbandingan. Rerata untuk kelas eksperimen adalah 80,30 sedangkan rerata kelas kontrol adalah 76,74, sehingga prestasi belajar matematika siswa pada kelas eksperimen lebih baik daripada prestasi belajar siswa pada kelas kontol. Dengan kata lain, prestasi belajar matematika siswa yang dikenai pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang dikenai pembelajaran konvensional bagi siswa kelas VII SMP pada materi Perbandingan. Ada perbedaan rerata yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol pada materi PLSV dan PtLSV. Rerata untuk kelas eksperimen adalah 84,89 sedangkan rerata kelas kontrol adalah 80,93, sehingga

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 23 prestasi belajar matematika siswa pada kelas eksperimen lebih baik daripada prestasi belajar siswa pada kelas kontol. Dengan kata lain, prestasi belajar matematika siswa yang dikenai pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang dikenai pembelajaran dengan pendekatan langsung bagi siswa kelas VII SMP pada materi PLSV dan PtLSV. Ada perbedaan rerata yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol pada materi Aritmatika Sosial. Rerata untuk kelas eksperimen adalah 82,28 sedangkan rerata kelas kontrol adalah 78,78, sehingga prestasi belajar matematika siswa pada kelas eksperimen lebih baik daripada prestasi belajar siswa pada kelas kontol. Dengan kata lain, prestasi belajar matematika siswa yang dikenai pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang dikenai pembelajaran dengan pendekatan langsung bagi siswa kelas VII SMP pada materi Aritmatika Sosial. KESIMPULAN Kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Prestasi belajar matematika siswa yang dikenai pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang dikenai pembelajaran konvensional bagi pada materi Himpunan. (2) Prestasi belajar matematika siswa yang dikenai pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang dikenai pembelajaran konvensional pada materi Perbandingan. (3) Prestasi belajar matematika siswa yang dikenai pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang dikenai pembelajaran dengan pendekatan langsung bagi siswa pada materi persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel. (4) Prestasi belajar matematika siswa yang dikenai pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang dikenai pembelajaran dengan pendekatan langsung bagi siswa pada materi aritmatika sosial. DAFTAR PUSTAKA Kemendikbud. 2012. Dokumen Kurikulum 2013. Jakarta: Puskur & Balitbang Depdiknas. Fauzan, A. 2001. “Pengembangan dan Implementasi Prototipe I & II Perangkat Pembelajaran Geometri untuk Siswa Kelas IV SD Menggunakan Pendekatan RME”. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Realistics Mathematic Education (RME) di UNESA Surabaya, 24 Pebruari 2001. Fauzi, KMS. A. (2002). “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Realistik Pada Pokok Bahasan Pembagian di Kelas IV SD”. Makalah Komprehensif. Surabaya: PPs UNESA Surabaya. Gafur, A. 1989. Disain Instruksional (Suatu Langkah Sistematis Penyusunan Pola Dasar Kegiatan Belajar Mengajar). Solo: Tiga Serangkai. Gravemeijer, K. 1994. Developing Realistic Mathematics Education. Utrecht: Freudental Institute. Marpaung, Y. 1992. “Profil Kemampuan Siswa SMP di Yogyakarta Menyelesaikan Soal-soal Perbandingan Senilai dan Perbandingan berbalik Nilai”. Yogyakarta: FMIPA IKIP Sanata Dharma. ----------. 2001. “Pedekatan Realistik dalam Pembelajaran Matematika”. Makalah disajikan pada Seminar Nasional “Pendidikan Matematika realistik” di Uneversitas Sanata Dharma Yogyakarta. Tanggal, 14 - 15 Nopember 2001. Mudhoffir. 1987. Teknologi Instruksional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Soedjadi, R. 2001 a. “Pemanfaatan Realitas dan lingkungan dalam

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 24 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Pembelajaran Matematika”. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Realistics Mathematic Education (RME) di UNESA Surabaya, 24 Pebruari 2001. ----------. 2001 b. “Pembelajaran Matematika berjiwa RME (Suatu Pemikiran Rintisan Ke Arah Upaya Baru)”. Makalah disajikan pada Seminar Nasional Realistics Mathematic Education (RME) di UNESA Surabaya, Juni 2001. ----------. 2001 c. “Pembelajaran Matematika Realistik (Pengenalan Awal dan Praktis)”. Makalah disapaikan kepada para guru SD/MI terpilih di Surabaya. Thiagarajan, S. , Semmel, D. S. dan Semmel, M. I. 1974. Instructional Development for Teacher of Exceptional Children. Bloomington: Indiana University. TANYA JAWAB Penanya : Agung Nugroho CS Pemakalah : Utami Murwaningsih Pertanyaan : Deskripsikan tentang matematika realistic ! Jawaban : Pendekatan pembelajaran matematika realistic merupakan pendekatan pembelajaran yang mengarahkan peserta didik menemukan konsep abstrak dari masalah kongkrit.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 25 IMPLIKASI PENGGUNAAN MEDIA FLASH SWiSHmax TERHADAP PRESTASI BELAJAR STATISTIKA MATEMATIKA I DITINJAU DARI KECERDASAN LOGIS MATEMATIS MAHASISWA Andhika Ayu Wulandari1,*, Utami Murwaningsih2 dan Erika Laras Astutiningtyas3 1,2,3Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo *Keperluan korespondensi: dhika.math@yahoo.co.id ABSTRAK Statistika Matematika I adalah mata kuliah wajib di Program Studi Matematika/Pendidikan Matematika yang sangat luas penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, berdasarkan data nilai Statistika Matematika I mahasiswa Univet Bantara Sukoharjo semester IV Tahun Ajaran 2012/2013 menunjukkan bahwa 54,6% mahasiswa belum memberikan hasil yang memuaskan. Berdasarkan angket, 30% mahasiswa menganggap materi kuliah sangat sulit, 56% menyatakan media pembelajaran kurang menarik dan sisanya menyatakan referensi sulit dicari. Peneliti mencoba untuk mengkaji faktor ektern dan intern yang menyebabkan prestasi belajar Statistika Matematika I rendah dengan menerapkan media Flash SWiShmax dalam proses pembelajaran dan meninjau kecerdasan logis matematis mahasiswa. Tujuan dari penelitian ini adalah ingin melihat bagaimana implikasi penggunaan Flash SWiSHmax sebagai media pembelajaran Statistika Matematika I terhadap prestasi belajar mahasiswa ditinjau dari kecerdasan logis matematis (LM) mahasiswa. Berdasarkan sampling yang dilakukan oleh peneliti, diperoleh 2 kelas sebagai sampel yaitu kelas 4C (eksperimen) dan 4D (kontrol). Dari uji prasyarat penelitian menggunakan data hasil pre-test, disimpulkan bahwa kedua kelas dalam keadaan seimbang sebelum media Flash SWiSHmax digunakan sebagai media pembelajaran. Dari kedua kelas tersebut diperoleh skor kecerdasan logis matematis yang kemudian diubah menjadi skala ordinal tinggi, sedang, dan rendah. Data hasil post-test kemudian dianalisis dengan anava dua jalan. Asumsi normalitas dan homogenitas variansi dipenuhi. Dari hasil analisis data diperoleh kesimpulan bahwa mahasiswa yang menggunakan Media Flash SWiSHmax lebih baik prestasinya dibandingkan mahasiswa pada kelas konvensional dan kecerdasan LM berpengaruh pada prestasi belajar mahasiswa. Pada kelas eksperimen, mahasiswa dengan kecerdasan LM tinggi dan rendah mempunyai prestasi yang sama. Akan tetapi mahasiswa dengan kecerdasan LM tinggi lebih baik prestasinya dibandingkan mahasiswa dengan kecerdasan LM sedang. Sedangkan pada kelas kontrol, mahasiswa dengan kecerdasan LM tinggi lebih baik prestasinya dibanding mahasiswa dengan kecerdasan LM rendah. Kata kunci: Flash SWiSHmax, kecerdasan logis matematis, prestasi belajar PENDAHULUAN Statistika Matematika I adalah mata kuliah wajib di Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo yang dilaksanakan pada semester 4. Tujuan pembelajaran Statistika Matematika I adalah agar mahasiswa mengerti konsep teori peluang, mengenali model-model distribusi peluang yang terkenal, dan dapat menerapkannya pada kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain bahwa mata kuliah ini sangat luas penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari namun membutuhkan penguasaan logika dan kalkulus yang memadai. Mengingat pentingnya mata kuliah Statistika Matematika, maka dosen sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran harus selalu berupaya meningkatkan kinerja dan profesionalitas dosen. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mencari inovasi baru yang dapat meningkatkan ketertarikan mahasiswa pada mata kuliah Statistika Matematika I yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar mahasiswa.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 26 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Data nilai Statistika Matematika I pada Tahun Ajaran 2012/2013 menunjukkan bahwa 54,6% mahasiswa belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Hal ini mendorong peneliti untuk lebih lanjut mencari tau penyebab rendahnya hasil belajar mahasiswa pada perkuliahan Statistika Matematika I dengan menyebar angket pada 50 mahasiswa semester IV Tahun Ajaran 2012/2013. Berikut disajikan tabel 1 yang menggambarkan beberapa penyebab rendahnya hasil belajar Statistika Matematika I berdasarkan angket yang telah disebar. Tabel 1. Penyebab Rendahnya Hasil Belajar Statistika Matematika I Mahasiswa Semester IV Tahun Ajaran 2012/2013. Penyebab Jumlah Responden yang menjawab materi sulit dipahami 15 referensi sulit dicari 7 media pembelajaran kurang menarik 28 Jumlah responden seluruhnya 50 Berdasarkan tabel di atas, diperoleh kesimpulan bahwa 56% mahasiswa menyatakan media pembelajaran yang digunakan dosen kurang menarik dan 30% menganggap materi Statistika Matematika I sulit dipahami. Oleh karena itu, peneliti yang sekaligus sebagai dosen pengampu Statistika Matematika I mencoba mengkaji permasalahan tersebut dan mencari alternatif penyelesainnya. Salah satunya dengan mengukur tingkat kecerdasan logis matematis (LM) mahasiswa dan menerapkan media pembelajaran Flash SWiSHmax. Menurut Edgar Dale dalam Cecep Kustandi dan Bambang Sutjipto (2011), mengemukakan bahwa kemampuan manusia memperoleh ilmu pengetahuan atau pengalaman belajar diperoleh dari indra penglihatan sebanyak 75%, melalui indra pendengaran sebanyak 13%, dan selebihnya melalui indra lainnya. Hasil yang sama juga dinyatakan oleh Computer Technology Research dalam Munir (2012) menyatakan bahwa orang hanya mampu mengingat 20% dari yang dilihat dan 30% dari yang didengarnya. Sedangkan orang dapat mengingat 50% dari yang dilihat kemudian didengar dan 80% dari yang dilihat dan didengar sekaligus. Sihkabuden, dkk (2005) mengemukakan bahwa pembelajaran merupakan sebuah sistem yang berisi komponen-komponen yang saling berkaitan atau berhubungan satu sama lain. Komponen-komponen tersebut antara lain adalah tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, metode pembelajaran, alat dan sumber belajar yang didalamnya termasuk media pembelajaran, dan penilaian hasil belajar. Secara umum, pembelajaran digambarkan sebagai berikut: Gambar 1. Komponen Pembelajaran Salah satu aspek yang menentukan keberhasilan dalam belajar mengajar adalah pemilihan media pembelajaran yang tepat. Menurut Hamalik dalam Azhar Arsyad (2006), media pembelajaran yang tepat dapat membangkitkan motivasi, keinginan minat, dan rangsangan kepada peserta didik. Pada hakikatnya, media pembelajaran bukan merupakan kunci keberhasilan belajar. Akan TUJUAN MATERI EVALUASI METODE MEDIA PEMBELAJARAN

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 27 tetapi, keberhasilan penggunaan media yang meliputi isi pesan, cara menjelaskan pesan, dan karakteristik penerima pesan. Dengan demikian dalam memilih dan menggunakan media, perlu diperhatikan ketiga faktor tersebut. Apabila ketiga faktor tersebut mampu diterapkan tentunya akan memberikan hasil yang maksimal. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini mendorong peneliti untuk berusaha melaksanakan proses pembelajaran yang berbasis ICT dengan memanfaatkan multimedia sebagai media pembelajaran. Salah satu media yang dianggap mampu meningkatkan ketertarikan mahasiswa adalah dengan menggunakan Flash SWiSHmax. Aplikasi ini digunakan untuk membuat animasi flash seperti halnya Macromedia Flash MX. Flash SWiSHmax sangat mudah dipelajari dan dapat membuat animasi dengan teks, gambar, grafik dan suara dalam waktu singkat sehingga materi dapat disajikan lebih menarik dan terstruktur. Selain itu, dengan media Flash SWiSHmax mahasiswa dapat mempelajari materi secara berulang-ulang karena dapat dicopy (di burning) pada CD dalam bentuk video. Flash SWiSHmax merupakan software untuk membuat animasi yang kompleks dalam waktu cepat. Hal lain yang menonjol dalam Flash SWiSHmax adalah hasil karya yang dapat dieksport kedalam format swf., yaitu format file yang digunakan oleh Macromedia Flash sehingga animasi yang dibuat dapat dimainkan di setiap personal computer yang sudah terinstalasi Flash Player. Selain itu, animasi Flash SWiSHmax dapat disisipkan ke dalam halaman Web atau bahkan diimpor ke dalam dokumen Microsoft PowerPoint (Arry Maulana Syarif, 2005). Flash SWiSHmax adalah software animasi flash yang dapat digunakan untuk keperluan pembuatan presentasi, animasi, website serta bisa dijadikan tambahan untuk pembuatan video editing tanpa menggunakan Adobe Flash. SWiSHmax sangat mudah dipelajari karena koleksi script dan effectnya yang mudah dipahami dan di modifikasi. Kualitas flash yang dihasilkan oleh SWiSHmax tidak kalah dengan yang dihasilkan oleh Macromedia Flash MX atau Adobe Flash. Keunggulan SWiSHmax menurut Dodi dalam http://belajardisain.wordpress.com/ adalah sebagai berikut: 1. Relatif lebih mudah digunakan dibandingkan dengan Macromedia Flash 2. Sudah dilengkapi dengan berbagai animasi yang menarik dan mudah digunakan 3. Mampu menangani link antar objek maupun dokumen 4. Flash SWiSHmax memungkinkan melakukan import file aminasi seperti animasi flash dan dapat dipadukan dengan beberapa aplikasi program lain seperti Photoshop, Corel Draw. Sedangkan menurut Ikhsan, (http://teknologipendidikan.wordpress.com/) menyatakan kekurangan Flash SWiSHmax antara lain: 1. Memerlukan peralatan khusus dalam penyajian, 2. Memerlukan tenaga listrik, 3. Memerlukan keterampilan khusus dan kerja tim dalam pembuatan. Selain media pembelajaran, kecerdasan yang dimiliki mahasiswa kemungkinan besar juga berpengaruh pada prestasi belajar mahasiswa. Salah satu kecerdasan yang berkaitan erat dengan Statistika Matematika I adalah kecerdasan logis matematis. Lwin (2008) berpendapat bahwa kecerdasan logis matematis adalah kemampuan untuk menangani bilangan dan perhitungan, pola dan pemikiran logis. Sedangkan Campbell (2006) mengatakan bahwa ” Logical mathematical intelligence encompasses mathematical calculations, logical thinking, problem-solving, deductive and inductive reasoning, and the discernment of patterns and relationships.” Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas, dirumuskan tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana implikasi penggunaan Flash SWiSHmax pada pembelajaran Statistika Matematika I terhadap hasil belajar mahasiswa semester IV

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 28 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Tahun Ajaran 2013/2014 dengan meninjau kecerdasan logis matematis mahasiswa. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo pada semester IV Tahun Ajaran 2013/2014. Jenis penelitian ini adalah eksperimental semu (Quasi eksperimental) karena ditujukan untuk memperoleh informasi sebagai perkiraan informasi dari eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol semua variabel yang relevan (Budiyono, 2003). Sampling dilakukan secara random dengan memilih 2 kelas sampel dari 4 kelas yang ada. Pada penelitian ini diperoleh 2 kelas sampel yaitu kelas 4C sebagai kelas eksperimen (kelas dengan media Flash SWiSHmax) dan kelas 4D sebagai kelas kontrol (kelas dengan pembelajaran konvensional). Instrumen yang digunakan adalah media Flash SWiSHmax, angket kecerdasan logis matematis, dan instrumen soal pre-test post-test. Semua instrumen dinilai terlebih dahulu oleh validator sebelum digunakan. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis dua jalan karena ada dua variabel bebas yang dikaji yaitu media dan kecerdasan LM mahasiswa. Sebelum kelas 4C diberi perlakuan (menggunakan media Flash SWiSHmax), terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis dengan uji-t untuk mengetahui apakah kedua kelas sampel dalam keadaan seimbang. Analisis data dengan anava dua jalan dilakukan berdasarkan data hasil post-test. Sebelum dilakukan analisis dengan anava, maka sebelumnya dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas variansi terlebih dahulu. Metode Lilliefors dilakukan untuk uji nomalitas dan metode Barltett untuk uji homogenitas variansi. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dapat dilaksanakan dengan lancar dan media dapat digunakan dengan baik. Mahasiswa lebih antusias mengikuti perkuliahan dibandingkan saat pembelajaran dengan pendekatan konvensional. Hal ini terlihat dari banyaknya mahasiswa yang berminat untuk mengcopy media sebagai salah satu bahan belajar. Berdasarkan penilaian dari validator, secara keseluruhan media sudah baik. Akan tetapi, perlu ada beberapa tambahan icon seperti icon home untuk memudahkan pengguna kembali ke menu utama seperti terlihat pada gambar berikut: Gambar 2. Scene home

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 29 Gambar 3. Scene 1 “Probabilitas (peluang)” Lembar angket kecerdasan LM yang digunakan dalam penelitian ini divalidasi oleh 2 expert judgement. Validasi angket dilihat dari sisi psikologi dan matematisnya agar diperoleh angket yang benar-benar valid sehingga diperoleh data yang akurat. Validator I dan II menyatakan bahwa angket layak digunakan dengan sedikit revisi terutama dalam bahasa, kontruksi penulisan yang digunakan dan waktu pengerjaan yang perlu ditambah. Sedangkan untuk instrumen soal, validator menilai bahwa 6 soal pre-test valid dan 1 soal tidak valid karena tidak berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Untuk soal post-test, validator menilai bahwa soal nomor 3 dan 4 mempunyai indikator yang sama sehingga dipilih salah satu saja. Oleh karena itu, dalam penelitian digunakan 5 soal pre-test dan 3 soal post test sebagai instrumen pengumpul data. Data nilai pre-test dengan materi “ruang sampel” digunakan sebagai data kemampuan awal. Data ini digunakan uji keseimbangan karena pada saat materi ruang sampel diajarkan, kedua kelas sampel belum menggunakan media Flash SWiSHmax dalam proses pembelajaran Statistika Matematika I. Sehingga data ini dapat digunakan untuk melihat bagaimana implikasi penggunaan Flash SWiSHmax sebagai media pembelajaran Statistika Matematika terhadap prestasi belajar mahasiswa. Deskriptif statistik data kemampuan awal kedua kelas disajikan pada tabel 2 berikut: Tabel 2. Deskriptif Statistik Data Kemampuan Awal Kelas N Mean Std. Deviation nilai 4C (eksperimen) 39 79,1026 3,0418 4D (kontrol) 31 79,2903 4,3451 Data hasil pre-test yang telah diperoleh kemudian dianalisis dengan uji t. Berdasarkan uji asumsi disimpulkan bahwa kedua kelas sampel berdistribusi normal dan variansi kedua kelas sampel homogen. Sedangkan dari analisis data dengan uji-t disimpulkan bahwa t = -0,2124  DK, maka H0 diterima. Ini berarti bahwa kelas 4C dan 4D dalam keadaan seimbang sebelum kelas 4C menggunakan media Flash SWiSHmax. Pada penelitian ini, untuk mengetahui bagaimana implikasi penggunaan Flash SWiSHmax sebagai media pembelajaran Statistika Matematika I terhadap prestasi belajar mahasiswa, dilakukan analisis data nilai hasil post-test. Deskripstif statistik untuk data nilai hasil post-test disajikan sebagai berikut:

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 30 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Tabel 3. Deskriptif Statistik Data Prestasi Belajar Statistika Matematika I Kelas N Mean Std. Deviation Nilai 4C (eksperimen) 39 80,9231 2,3327 4D (kontrol) 31 78,8387 2,9450 Sedangkan deskriptif skor angket kecerdasan logis matematis mahasiswa adalah sebagai berikut: Tabel 4 Deskriptif Statistik Skor Angket Kecerdasan Logis Matematis Kelas N Mean Std. Deviation nilai 4C (eksperimen) 39 68,6667 3,2552 4D (kontrol) 31 67,4194 3,0743 Dari skor nominal yang telah diperoleh kemudian diubah menjadi skor ordinal dengan 3 tingkat kecerdasan tinggi, sedang, dan rendah dan diperoleh data sebagai berikut: Tabel 5. Jumlah Mahasiswa Dengan Tingkat Kecerdasan Logis Matematis Tinggi, Sedang, dan Rendah Kelas Tingkat kecerdasan logis matematis tinggi sedang Rendah Jumlah mahasiswa 4C (eksperimen) 10 11 10 4D (kontrol) 11 14 14 Rata-rata prestasi belajar mahasiswa disajikan dalam tabel berikut: Tabel 6. Rataan Data Prestasi Belajar Mahasiswa Kelas Kecerdasan LM Rataan Marginal tinggi sedang rendah Kontrol 81,1000 78,9091 76,5000 78,8364 Eksperimen 83,1818 79,2857 80,7857 81,0844 Rataan Marginal 82,0909 79,0974 78,6429 Berdasarkan data di atas, selanjutnya dilakukan uji prasyarat anava yaitu uji normalitas dan homogenitas variansi. Berdasarkan uji normalitas yang dilakukan 5 kali dengan metode Lilliefors, diperoleh hasil yang disajikan pada tabel berikut: Tabel 7. Rangkuman Hasil Uji Normalitas Data Nilai Post-Test p L DK Keputusan H0 Kesimpulan Distribusi Kelas 4C (eksperimen) > 0,15 0,0819 0,1419 diterima Normal 4D (kontrol) > 0,15 0,1209 0,1591 diterima Normal Kecerdasan Logis Matematis Tinggi > 0,15 0,1220 0,1866 diterima Normal Sedang > 0,15 0,1271 0,1730 diterima Normal Rendah 0,056 0,1273 0,1764 diterima Normal Sedangkan hasil dari uji homogenitas variansi yang dilakukan 2 kali dengan metode Bartlett diperoleh hasil yang disajikan pada tabel berikut:

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 31 Tabel 8. Rangkuman Hasil Uji Homogenitas Variansi p χ2 DK Keputusan H0 Kesimpulan variansi Kelas kontrol dan eksperimen 0,178 1,812 3,841 diterima homogen Kecerdasan Logis Matematis tinggi, sedang, rendah 0,152 3,766 5.991 diterima homogen Berdasarkan uji normalitas dan homogenitas variansi, disimpulkan bahwa asumsi normalitas dan homogenitas variansi dipenuhi sehingga analisis data dilanjutkan dengan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama. Analisa data dilakukan pada tingkat signifkansi  = 5%. Dengan bantuan software Minitab 11.0 for windows, diperoleh rangkuman analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama seperti berikut: Tabel 9. Rangkuman Analisis Variansi Dua Jalan Sumber JK dk RK F p Keputusan Uji Kelas(A) 86,689 1 86,689 20,77 0,000 H0 ditolak Kecerdasan LM (B) 157,897 2 78,948 18,91 0,000 H0 ditolak Interaksi (AB) 45,924 2 22,962 5,50 0,006 H0 ditolak Galat 267,160 64 4,174 - - - Total 542,000 69 - - - - Berdasarkan tabel di atas, diperoleh kesimpulan bahwa pa, pb, dan pab <  (5%) maka H0A, H0B dan H0AB ditolak. Ini berarti bahwa: 1. Ada perbedaan prestasi belajar mahasiswa antara pembelajaran Statistika Matematika 1 yang menggunakan metode konvensional atau dengan media Flash SWiSHmax. Dilihat dari rataan marginalnya (Tabel 5), disimpulkan bahwa mahasiswa yang menggunakan media Flash SWiSHmax lebih baik prestasinya dibandingkan dengan mahasiswa pada kelas konvensional. 2. Ada perbedaan efek diantara ketiga tingkat kecerdasan logis matematis terhadap prestasi belajar mahasiswa. Setelah dilakukan uji lanjut dengan metode Scheffe’ diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 10. Rangkuman Komparasi Ganda Antar Kolom H0 Fobs 2F0,05;2,64 P Kesimpulan 1. = 2. 24,5023 (2)(3,145) = 6,29 < 0,05 H0 ditolak 2. = 3. 0,6059 (2)(3,145) = 6,29 > 0,05 H0 diterima 1. = 3. 31,9007 (2)(3,145) = 6,29 < 0,05 H0 ditolak Berdasarkan tabel di atas disimpulkan bahwa prestasi belajar mahasiswa dengan kecerdasan LM tinggi berbeda dengan mahasiswa dengan kecerdasan LM sedang dan rendah. Dilihat dari rataan marginalnya, mahasiswa dengan kecerdasan LM tinggi lebih baik prestasinya dibandingkan mahasiswa dengan kecerdasan LM sedang atau rendah. 3. Ada interaksi antara media yang digunakan dalam pembelajaran Statistika Matematika I dengan kecerdasan logis matematis terhadap prestasi belajar mahasiswa. Hal ini mengindikasikan bahwa pada kelas kontrol maupun eksperimen, tingkat

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 32 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 kecerdasan logis matematis memberikan efek yang berbeda terhadap prestasi belajar. Begitu juga sebaliknya, pada tingkat kecerdasan tinggi, sedang dan rendah penggunaan media Flash SWiShmax belum tentu efektif memberikan prestasi belajar yang lebih tinggi dibandingkan penggunaan metode konvensional. Oleh karena itu, perlu dilakukan uji lanjut yaitu komparasai ganda antar sel. Setelah dilakukan komparasi antar sel diperoleh hasil seperti pada Tabel 10. Berdasarkan Tabel 10, disimpulkan bahwa mahasiswa dengan kecerdasan LM tinggi lebih baik prestasinya dibanding mahasiswa dengan kecerdasan LM rendah jika pembelajaran dilaksanakan dengan metode konvensional. Sedangkan jika digunakan Flash SWiSHmax sebagai media pembelajaran, mahasiswa dengan kecerdasan LM tinggi mempunyai prestasi yang sama dengan mahasiswa dengan kecerdasan LM rendah. Akan tetapi, lebih baik prestasinya dibanding mahasiswa dengan tingkat kecerdasan sedang. Selain itu, disimpulkan juga bahwa penggunaan media Flash SWiSHmax akan lebih efektif jika digunakan pada mahasiswa dengan kecerdasan LM rendah. Tabel 11. Rangkuman Komparasi Ganda Antar Sel H0 Fobs 5F0,05;5,64 P Kesimpulan 11 = 12 6,0237 (5)(2,365) = 11,823 > 0,05 H0 diterima 12 = 13 7,2833 (5)(2,365) = 11,823 > 0,05 H0 diterima 11 = 13 25,3474 (5)(2,365) = 11,823 < 0,05 H0 ditolak 21 = 22 22,4021 (5)(2,365) = 11,823 < 0,05 H0 ditolak 22 = 23 3,7734 (5)(2,365) = 11,823 > 0,05 H0 diterima 21 = 23 8,4730 (5)(2,365) = 11,823 > 0,05 H0 diterima 11 = 21 5,4387 (5)(2,365) = 11,823 > 0,05 H0 diterima 12 = 22 0,2093 (5)(2,365) = 11,823 > 0,05 H0 diterima 13 = 23 25,6689 (5)(2,365) = 11,823 < 0,05 H0 ditolak SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan pada bab sebelumnya, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. secara umum, media pembelajaran Statistika Matematika I dengan Flash SWiSHmax dapat meningkatkan prestasi belajar mahasiswa. Akan tetapi, jika dilihat dari kecerdasan logis matematisnya, media Flash SWiSHmax akan memberikan prestasi belajar yang sama jika diberikan pada mahasiswa dengan kecerdasan logis matematis tinggi atau sedang, 2. tingkat kecerdasan logis matematis mahasiswa berpengaruh pada prestasi belajar yang diperoleh mahasiswa, 3. pada kelas dengan metode konvensional, mahasiswa dengan kecerdasan logis matematis tinggi lebih baik prestasinya dibandingkan mahasiswa dengan kecerdasan logis matematis rendah. Sedangkan pada kelas yang menggunakan media Flash SWiSHmax, mahasiswa dengan kecerdasan logis matematis tinggi lebih baik prestasinya dibanding mahasiswa dengan kecerdasan logis matematis sedang. Adapun beberapa saran yang dapat disampaikan peneliti berdasarkan kesimpulan yang sudah ada adalah sebagai berikut: 1. Flash SWiSHmax akan dapat digunakan sebagai alternatif media pembelajaran yang efektif jika peserta didik mempunyai sarana dan prasarana yang mendukung penggunaannya, 2. hendaknya dosen selalu berupaya mencari model pembelajaran yang sesuai dengan karaketeristik mahasiswa

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 33 dan meninjau faktor-faktor lain yang mungkin berpengaruh terhadap prestasi belajar mahasiswa, 3. efektivitas media Flash SWiSHmax dapat dikaji untuk mata kuliah yang lain dan dapat dikaji pula pada subyek penelitian yang berbeda, 4. hendaknya pembelajaran konvensional sudah tidak digunakan lagi dan beralih pada pembelajaran yang berbasis ICT dengan menggunakan multimedia sebagai media pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA Arry Maulana Syarif. 2005. Cara Cepat Membuat Animasi Flash Menggunakan SWiSHmax. Yogyakarta: Penerbit ANDI Azhar Arsyad. 2006. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada Budiyono. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surakarta: UNS Press Campbell, Linda, dkk. 2006. Metode Praktis Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences. Depok: Intuisi Press Cecep Kustandi dan Bambang Sutjipto. 2011. Media Pembelajaran Manual dan Digital. Bogor: Ghalia Indonesia Dodi. 2012. Belajar Disain. http://belajardisain.wordpress.com/. diunduh pada tanggal 02 Februari 2014 Ikhsan. 2012. Teknologi Pendidikan. http://teknologipendidikan.wordpress.com/. diunduh pada tanggal 02 Februari 2014 Lwin, May. 2008. How to Multiply Your Child’s Intelligence. Yogyakarta: Penerbit Indeks Munir. 2012. Multimedia Konsep Dan Aplikasi Dalam Pendidikan. Bandung: Alfabeta Sihkabuden, dkk. 2005. Multimedia Pembelajaran. Malang: Elang Press TANYA JAWAB Penanya : Sri Yamtinah Pemakalah : Andhika Ayu W Pertanyaan : Kesimpulan 2 dan kesimpulan 3, mohon penjelasan agar dapat dipahami maknanya! Jawaban : Secara umum, media Flash Swisthmax dapat meningkatkan prestasi belajar mahasiswa. Akan tetapi, jika dilihat dari kecerdasan logis matematisnya, media Flash Swishmax akan lebih mampu meningkatkan prestasi belajar mahasiswa jika diterapkan pada mahasiswa dengan kecerdasan logis matematis rendah.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 34 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 PROFIL PROSES BERFIKIR PADA PEMECAHAN MASALAH KOMBINATORIK DITINJAU DARI KETERAMPILAN METAKOGNITIF MAHASISWA Erika Laras Astutiningtyas1,*, Andhika Ayu Wulandari2 dan Isna Farahsanti3 1,2,3Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo Jl. Letjend. S. Humardani No.1 Jombor Sukoharjo *Keperluan korespondensi: astutiningtyas@yahoo.co.id ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir mahasiswa dengan keterampilan metakognitif tinggi, sedang dan rendah dalam memecahkan masalah matematika. Proses pemecahannya meliputi memahami masalah, membuat rencana pemecahan masalah, melaksanakan perencanaan pemecahan masalah dan memeriksa hasil pemecahan masalah matematika. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif eksploratif dengan subyek mahasiswa semester VI program studi pendidikan matematika FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo Tahun Akademik 2013/2014. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan tujuan untuk memperoleh satuan sampling yang memiliki tingkat keterampilan metakognitif tinggi, sedang, dan rendah. Analisis data tertulis dilakukan berdasarkan kebenaran pemecahan yang dilakukan siswa. Jawaban siswa diklasifikasian dan diidentifikasi. Selanjutnya menarik kesimpulan dari data yang telah dikumpulkan dan memverifikasi kesimpulan tersebut. Analisis data hasil wawancara diawali reduksi data. Hasil analisis data tes tertulis dan wawancara dibandingkan atau dilakukan triangulasi untuk mendapatkan data yang valid. Berdasarkan penelitian diperoleh hasil berikut. (1) Proses berpikir mahasiswa yang mempunyai tingkat keterampilan metakognitif tinggi dalam memahami masalah dengan melakukan proses berpikir abstraksi secara penuh. Rencana pemecahan masalah dilakukan dengan melakukan proses berpikir asimilasi dan mengarah pada abstraksi. Pelaksanaan rencana pemecahan masalah dengan melakukan proses berpikir asimilasi dan mengarah pada abstraksi. Proses memeriksa kembali hasil pemecahan dengan melakukan proses berpikir asimilasi yang mengarah ke abstraksi. (2) Proses berpikir mahasiswa yang mempunyai tingkat keterampilan metakognitif sedang dalam memahami masalah dilakukan dengan melakukan proses berpikir antara akomodasi dan asimilasi tetapi lebih condong ke asimilasi. Perencanaan pemecahan masalah dilakukan dengan melakukan proses berpikir berpikir antara akomodasi dan asimilasi tetapi lebih condong ke asimilasi. Proses melaksanakan rencana pemecahan masalah dengan melakukan proses berpikir berpikir antara akomodasi dan asimilasi tetapi lebih condong ke asimilasi.Proses memeriksa kembali hasil pemecahan dengan melakukan proses berpikir asimilasi. (3) Proses berpikir mahasiswa yang mempunyai tingkat keterampilan metakognitif rendah dalam memahami masalah dengan melakukan proses berpikir antara akomodasi. Perencanaan pemecahan masalah dengan melakukan proses berpikir berpikir antara akomodasi dan asimilasi tetapi lebih condong ke akomodasi. Pelaksanaan rencana pemecahan masalah dengan melakukan proses berpikir berpikir antara akomodasi dan asimilasi tetapi lebih condong ke akomodasi. Proses memeriksa kembali hasil pemecahan dengan melakukan proses berpikir asimilasi. Kata kunci: proses berfikir, pemecahan masalah, keterampilan metakognitif PENDAHULUAN Kombinatorik adalah salah satu materi pada mata kuliah Matematika Diskrit. Kombinatorik mencakup beberapa materi yang akan diajarkan pada jenjang Sekolah Menengah yaitu kaidah pencacahan, permutasi, kombinasi dan penjabaran binom. Mahasiswa S1 program studi Pendidikan Matematika yang outputnya adalah guru sekolah mengengah diharapkan memiliki kemampuan pemecahan masalah yang baik pada materi tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan perkuliahan untuk memperbaiki kemampuan mahasiswa untuk memecahkan masalah kombinatorik. Pengembangan kualitas perkuliahan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 35 merupakan salah tanggung jawab bagi dosen. Berbagai kendala yang muncul dalam perkulihan menjadi pendorong untuk melakukan pengembangan pembelajaran. Salah satu langkahnya adalah dengan melakukan berbagi kajian ilmiah melalui penelitian. Berikut ini adalah bagan penelitian yang sudah dan akan dilakukan pada perkuliahan Matematika Diskrit. Keterangan: : Sudah dilaksanakan : Sedang dilaksanakan : Direncanakan untuk dilaksanakan : Rencana penelitian pengembangan yang akan dilakukan Gambar 1. Bagan penelitian Berdasar hasil penelitian yang sudah dilakukan, diperoleh hasil bahwa peer assessment membantu mahasiswa dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah pada materi Kombinatorik dan Teori Graf. Sehingga peer assessment dapat digunakan sebagai teknik penilaian dalam mata kuliah Matematika Diskrit. Selanjutnya akan diteliti pendekatan pembelajaran yang tepat untuk perkuliahan Matematika Diskrit. Penelitian Andria Young and Jane D. Fry tahun 2008 berjudul Metacognitive awareness and academic achievement in college students yang termuat dalam Journal of the Scholarship of Teaching and Learning, Vol. 8, No. 2, May 2008, pp. 1-10 memberikan hasil bahwa ada korelasi antara skor Metacognition Awareness Inventory (MAI) dengan indeks prestasi mahasiswa. Metacognition Awareness Inventory (MAI) adalah tes untuk menentukan keterampilan metakognitif. Penelitian ini akan dilakukan untuk mengetahui profil proses berfikir mahasiswa dalam pemecahan masalah. Hal ini dimaksudkan agar memperoleh gambaran, apakah nantinya diperlukan suatu pembelajaran yang mampu meningkatan keterampilan metakognitif. Schraw & Dennison dalam Rosi Kurniawati dan Tino Leonardi (2013) pada Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Vol. 2, No. 01, April 2013 mendefinisikan metakognisi sebagai kemampuan merenung, memahami dan mengontrol pembelajaran. Livingston dalam Anathime (2009) membagi pengetahuan metakognitif menjadi 3 kategori, yaitu pengetahuan tentang variabel-variabel personal, variabel-variabel tugas, dan variabel-variabel strategi. Pengetahuan tentang variabel-variabel personal berkaitan dengan pengetahuan tentang bagaimana Pengaruh peer assessment terhadap social skills dan kemampuan pemecahan masalah kombinatorik Pengaruh pembelajaran metakognitif terhadap prestasi Mahasiswa Pengembangan rubrik peer assessment untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah teori Graf Determinasi Model Korelasi antara Keterampilan Metekognitif dan Kemampuan Pemecahan Masalah Kombinatorik Profil Proses Berfikir pada Pemecahan Masalah Kombinatorik ditinjau dari Keterampilan Metakognitif Mahasiswa. Pengembangan Perangkat Perkuliahan Matematika Diskrit Implikasi peer assessment untuk mengembangkan Keterampilan Metekognitif Mahasiswa

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 36 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 mahasiswa belajar dan memproses informasi serta pengetahuan tentang proses-proses belajar yang dimilikinya. Pengetahuan tentang variabel-variabel tugas melibatkan pengetahuan tentang sifat tugas dan jenis pemrosesan yang harus dilakukan untuk menyelesaikan tugas itu. Sebagai contoh, mahasiswa sadar bahwa membaca dan memahami teks ilmu pengetahuan memerlukan lebih banyak waktu dari pada membaca dan memahami sebuah novel. Pengetahuan tentang variabel-variabel strategi melibatkan pengetahuan tentang strategi-strategi kognitif dan metakognitif serta pengetahuan kondisional tentang kapan dan di mana strategi tersebut digunakan. Indikator-indikator keterampilan metakognitif adalah sebagai berikut: (1) mengidentifikasi tugas yang sedang dikerjakan, (2) mengawasi kemajuan pekerjaannya, (3) mengevaluasi kemajuan, dan (4) memprediksi hasil yang akan diperoleh. Ide tentang langkah-langkah pemecahan masalah dirumuskan oleh beberapa ahli. Carson dalam Titin Masingatin (2012) menuliskan langkah-langkah pemecahan masalah menurut beberapa ahli pada tabel 1 berikut. Tabel 1. Perbandingan Langkah dalam Pemecahan Masalah John Dewey (1933) George Polya (1988) Krulik and Rudnick (1980) Mengenali masalah (Confront Problem) Memahami masalah (Understanding the Problem) Membaca (Read) Diagnosis atau pendefinisian masalah (Diagnose or Define Problem ) Membuat rencana pemecahan (Devising a Plan) Mengeksplorasi (Explore) Mengumpulkan beberapa solusi pemecahan (Inventory Several Solutions ) Melaksanakan rencana pemecahan (Carrying Out the Plan ) Memilih suatu strategi (Select a Strategy) Menduga solusi (Conjecture Consequences of Solutions) Memeriksa kembali (Looking Back) Penyelesaian (Solve) Mengetes dugaan (Test Consequences) Meninjau kembali dan mendiskusikan (Review and Extend) Pada penelitian ini akan menggunakan langkah pemecahan masalah menurut Polya, dengan alasan: (1) langkah-langkah proses pemecahan masalah yang dikemukakan Polya cukup sederhana, (2) aktifitas pada setiap langkah yang dikemukakan Polya jelas maknanya, dan (3) langkah pemecahan masalah menurut Polya secara implisit mencakup langkah pemecahan masalah yang dikemukakan oleh ahli yang lain pada Tabel 1. Proses berpikir pada penelitian ini adalah proses yang dimulai dari penerimaan informasi (dari dunia luar atau dari dalam diri mahasiswa), pengolahan informasi, penyimpanan dan pemanggilan informasi yang diarahkan untuk menghasilkan pemecahan masalah. Pemecahan masalah matematika menyangkut proses berpikir. Proses berpikir dimulai dari penerimaan informasi kemudian mahasiswa akan mengolah informasi yang ada pada masalah tersebut untuk diselesaikan dengan menggunakan informasi (yang selanjutnya disebut skema) yang telah dimilikinya secara asimilasi, akomodasi maupun abstraksi. Proses berpikir didefinisikan sebagai proses yang dimulai dari penerimaan informasi, pengolahan, penyimpanan dan pemanggilan informasi yang diarahkan untuk menghasilkan pemecahan masalah, dimana

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 37 pengolahan informasi terjadi melalui proses asimilasi, akomodasi, maupun abstraksi. Untuk dapat mengetahui seorang mahasiswa menggunakan proses berpikir asimilasi dan akomodasi dalam pemecahan masalah matematika, maka dikembangkan indikator proses berpikir asimilasi dan akomodasi. Indikator yang digunakan sebagai dasar analisa data tentang proses berfikir mengacu pada Muhtarom (2012) dan telah dimodifikasi oleh peneliti terlihat pada Tabel 2. berikut ini. Tabel 2. Indikator Proses Berpikir Asimilasi dan Akomodasi Pemecahan Masalah Indikator Pemecahan masalah Indikator Proses Berpikir Asimilasi dan Akomodasi 1 2 3 Memahami masalah 1. Mahasiswa dapat menentukan syarat cukup (hal-hal yang diketahui) dan syarat perlu (hal-hal yang ditanyakan). 2. Mahasiswa dapat menentukan apakah syarat cukup tersebut sudah memenuhi untuk menjawab syarat perlu.  Mahasiswa dikatakan menggunakan proses berpikir asimilasi jika mahasiswa dapat mengintegrasikan secara langsung informasi baru setelah mambaca masalah tersebut ke dalam skema yang sudah ada dalam pikirannya sehingga dengan mudah dan benar mahasiswa dapat mengetahui apa yang diketahui, yang ditanyakan pada masalah, dan dapat menentukan apakah hal yang diketahui sudah cukup menjawab apa yang ditanyakan.  Akomodasi jika mahasiswa tidak dapat mengasimilasikan informasi baru dengan pengetahuan yang dimiliki. Hal ini terjadi karena skema yang dimiliki oleh mahasiswa tidak cocok dengan informasi baru sehingga terjadi “konflik” di pikiran mahasiswa= Abstraksi jika mahasiswa mampu menyatakan informasi yang ada pada soal dengan menggunakan simbol-simbol. Membuat rencana pemecahan masalah 1. Mahasiswa dapat menentukan keterkaitan antara informasi yang ada pada soal. 2. Mahasiswa dapat menentukan syarat lain yang tidak diketahui pada soal seperti rumus atau informasi lainnya; jika ada 3. Mahasiswa dapat menggunakan semua informasi penting pada soal. 4. Mahasiswa dapat merencanakan penyelesaian atau pemecahan masalah  Mahasiswa dikatakan menggunakan proses berpikir asimilasi jika mahasiswa dapat mengintegrasikan secara langsung informasi yang baru ke dalam skema yang sudah ada dalam pikirannya sehingga dengan mudah dan benar mahasiswa dapat menyebutkan pengetahuan lain yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah, dapat membuat kaitan antar hal yang diketahui berdasarkan skema yang telah dimilikinya, dapat membuat rencana pemecahan masalah berdasarkan hal yang diketahui.  Akomodasi jika mahasiswa tidak dapat mengasimilasikan informasi baru dengan pengetahuan yang dimiliki. Misalnya mahasiswa membuat kaitan antar hal yang diketahui sehingga mampu menggabung-gabungkan skema yang sudah dimiliki untuk memecahkan masalah pada akhirnya diperoleh cara lain untuk memecahkan masalah.  Absraksi jika mahasiswa mampu menyusun rencana pemecahan dengan menggunakan simbol-simbol matematika Melaksanakan rencana pemecahan masalah 1. Mahasiswa dapat menggunakan langkah-langkah secara benar  Mahasiswa dikatakan menggunakan proses berpikir asimilasi jika mahasiswa berhasil menjawab masalah dengan benar berdasarkan langkah-langkah pemecahan masalah yang telah dibuat dan algoritma perhitungan yang dilakukan juga benar

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 38 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 2. Mahasiswa terampil dalam algoritma dan ketepatan menjawab soal.  Mahasiswa dikatakan menggunakan proses berpikir akomodasi jika mahasiswa tidak mampu mengasimilasikan rencana yang telah dibuat dan membuat pemecahan masalah yang berbeda dengan rencana pemecahan yang dibuat sejak awal.  Abstraksi jika mahasiswa mampu melakukan manipulasi aljabar dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah dan menggunakan simbol-simbol dalam melaksanakan rencana penyelesiaan. Memeriksa kembali 1. Mahasiswa dapat meyakini kebenaran dari solusi masalah tersebut (dengan melihat kelemahan dari solusi yang didapatkan, seperti langkah-langkah yang tidak benar) 2. Mahasiswa dapat menemukan metode atau cara pemecahan masalah yang lain.  Mahasiswa dikatakan menggunakan proses berpikir asimilasi jika mahasiswa meyakini kebenaran hasil yang didapatkan dengan melihat kembali langkah-langkah yang dilakukan saat melaksanakan pemecahan masalah.  Mahasiswa dikatakan menggunakan proses berpikir akomodasi jika mahasiswa mampu mengasimilasikan informasi baru dengan pengetahuan yang dimiliki, misalnya mahasiswa tidak yakin dengan kebenaran hasil yang didapatkan dan mampu membuat pemecahan masalah yang lain.  Abstraksi jika mahasiswa mampu mengecek solusi dengan menggunakan simbol-simbol dan melakukan manipulasi aljabar METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif eksploratif. Disebut penelitian kualitatif karena prosedur penelitiannya menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang atau perilaku yang diamati, dan disebut eksploratif karena penelitian ini akan mengungkap proses berpikir mahasiswa dalam memecahkan masalah matematika. Data penelitian yang diperoleh berupa catatan hasil pekerjaan mahasiswa dalam memecahkan masalah matematika berdasarkan langkah Polya secara tertulis dan hasil transkrip wawancara penelti dengan subyek penelitian setelah subyek penelitian mengerjakan masalah matematika. Subyek Penelitian Subyek penelitian ini adalah mahasiswa semester VI Tahun Akademik 2013/2014 program studi Pendidikan Matematika Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling karena satuan sampling dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu dengan tujuan untuk memperoleh satuan sampling yang memiliki karakteristik yang dikehendaki. Karakteristik yang dikehendaki yaitu tingkat keterampilan metakognitif tinggi, sedang, dan rendah. Instrumen Penelitian Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti yang bertujuan untuk mencari dan mengumpulkan data langsung dari sumber data. Instrumen bantu pertama berupa item untuk tes keterampilan metakognitif. Penelitian ini menggunakan instrumen tes Metacognition Awareness Inventory (MAI) yang dikembangkan oleh Schraw (1994) yang dipublikasikan dalam Jurnal Contemporary Educational Psychology Vol. 19. 1994, pp 460-475. Instrumen pengukur kemampuan pemecahan masalah memuat beberapa pertanyaan yang berisi tentang materi Kombinatorik yang terdiri dari 5 soal tes uraian. Uji validitas yang dilakukan adalah uji validitas isi. Instrumen bantu ketiga berupa pedoman wawancara yang dibuat oleh peneliti sebagai alat bantu dalam pengambilan data lapangan. Pedoman wawancara dibuat sebagai acuan dalam melakukan wawancara kepada subyek ketika menyelesaikan soal tes yang diberikan.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 39 Sebelum digunakan instrumen ini divalidasi oleh validator. Teknik Pengumpulan Data Penelitian Data penelitian dari mahasiswa diperoleh dengan meminta mahasiswa menulis dan menyampaikan apa yang dipikirkan ketika memecahkan masalah matematika, kemudian diwawancarai. Untuk mengetahui proses berpikir mahasiswa berdasarkan tingkat keterampilan metakognitif mahasiswa dalam menyelesaikan masalah matematika, maka dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut. (1) Mahasiswa diberi tugas untuk menyelesaikan masalah matematika. (2) Peneliti mengemukakan pertanyaan hanya jika diperlukan untuk mengklarifikasi apa yang sedang dipikirkan mahasiswa. (3) Penilaian dilakukan dengan mengacu kriteria penilaian pada Tabel 2.3. (4) Peneliti mengadakan wawancara berkaitan dengan jawaban pemecahan masalah yang telah dikerjakan oleh subyek penelitian. Teknik-teknik yang digunakan untuk alidasi adalah sebagai berikut: (1) menggunakan teknik yang digunakan untuk kredibilitas, (2) metode overlap, yaitu dengan triangulasi seperti pada aplikasi kredibilitas, dan (3) teknik replikasi bertahap, yaitu dibentuk studi oleh dua tim yang independen tetapi secara periodik bertemu dan (4) teknik audit, yang dasarnya kejujuran dan ketepatan sudut pandang auditor. Dependabilitas dijaga dengan teknik seperti yang dijelaskan untuk menjaga kredibilitas dan teknik audit dengan cara mempresentasikan hasil penelitian ini pada pertemuan ilmiah. Teknik Analisa Data Proses analisis data, baik data tertulis maupun data hasil wawancara menggunakan langkah-langkah sebagai berikut. Analisis pertama yang dilakukan adalah analisis data tertulis. Analisis soal tertulis dilakukan berdasarkan kebenaran pemecahan yang dilakukan mahasiswa dipandu petunjuk penyelesaian dan kunci jawaban. Jawaban mahasiswa diklasifikasian dan diidentifikasi (berdasarkan tabel 2.1), yaitu menuliskan kumpulan data yang terorganisir dan terkategori sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan dari data tersebut. Selanjutnya menarik kesimpulan dari data yang telah dikumpulkan dan memverifikasi kesimpulan tersebut. Analisis data kedua adalah analisis data hasil wawancara. Analisis data hasil wawancara diawali dengan reduksi data, yaitu kegiatan yang mengacu pada proses pemilihan, pemusatan perhatian, penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data mentah yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Apabila terdapat data yang tidak valid, maka data itu dikumpulkan tersendiri dan mungkin dapat digunakan sebagai verifikasi ataupun hasil-hasil samping lainnya. Dari jawaban mahasiswa tersebut dilakukan pengklasifikasian dan identifikasi data (berdasarkan Tabel 2.1) yaitu menuliskan kumpulan data yang terorganisir dan terkategori sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan tersebut. Selanjutnya menarik kesimpulan dari data yang telah dikumpulkan dan memverifikasi data tersebut. Hasil analisis data tes tertulis dan data wawancara dibandingkan atau dilakukan triangulasi untuk mendapatkan data yang valid. Data yang valid tersebut digunakan untuk mengetahui proses berpikir mahasiswa dalam memecahkan masalah matematika berdasarkan langkah Polya dan sebagai dasar mendeskripsikan alur proses berpikir mahasiswa dalam memecahkan masalah yang diberikan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil tes tertulis dan wawancara telah dijabarkan sebelumnya. Pada bagian ini akan dibahas hasil tes dan wawancara untuk setiap kategori keterampilan metakognitif. Berikut adalah penjelasan profil proses berfikir mahasiswa pada pemecahan masalah kombinatorik untuk setiap tingkatan keterampilan metakognitif. Mahasiswa dengan keterampilan metakognitif tinggi dalam memahami masalah menggunakan proses berpikir abstraksi karena mampu menyatakan informasi yang ada pada soal dengan menggunakan simbol-simbol. Mahasiswa dengan jelas menyebutkan apa yang ditanyakan yaitu

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 40 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 banyak bilangan ribuan yang habis dibagi 5 atau yang harus memuat pengulangan angka, dan menyimbolkannya dengan AB. Mahasiswa dengan keterampilan metakognitif tinggi menyusun rencana pemecahan masalah menggunakan proses berpikir asimilasi dan abstraksi. Proses berpikir asimilasi diidentifikasi ketika dapat menyebutkan konsep yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah dan mampu mengaitkan pengetahuan yang dimilikinya sehingga dapat memecahkan masalah dan akhirnya mampu membuat rencana pemecahan masalah dengan benar. Mahasiswa mampu menyebutkan bahwa untuk menyelesaikan permasalahan tersebut diperlukan prinsip inklusi eksklusi. Sedangkan proses berpikir abstraksi diidentifikasi ketika mahasiswa mampu menyusun rencana pemecahan dengan menggunakan simbol-simbol matematika. Mahasiswa mampu merumuskan 3 hal berikut. (1) n(A) = banyak bilangan ribuan yang habis dibagi 5. (2) n(B) = banyak bilangan ribuan yang harus memuat pengulangan angka. (3) n(AB) = banyak bilangan ribuan yang habis dibagi 5 dan harus memuat pengulangan angka. (4) n(AB) = banyak bilangan ribuan yang habis dibagi 5 atau harus memuat pengulangan angka. Pelaksanakan rencana pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan proses berpikir asimilasi dan abstraksi. Mahasiswa tersebut dikatakan menggunakan proses berfikir asimilasi karena mampu menjawab permasalahan dengan benar, dan abstraksi diidentifikasi karena telah mampu merumuskannya dalam simbol matematis. Mahasiswa dengan keterampilan metakognitif tinggi memeriksa kembali hasil pemecahan menggunakan proses berpikir asimilasi dan abstraksi. Hal ini terlihat pada kemampuan mahasiswa untuk mengoreksi kembali langkah yang dilakukan dan mengaitkannya dengan konsep-konsep yang dipakai untuk memecahkan masalah. Mahasiswa dengan keterampilan metakognitif sedang dalam memahami masalah menggunakan proses berpikir akomodasi dan asimilasi. Proses berfikir akomodasi terjadi karena tidak dapat mengasimilasikan informasi baru dengan pengetahuan yang dimiliki. Skema yang dimiliki oleh mahasiswa tidak cocok dengan informasi baru sehingga terjadi “konflik” di pikiran mahasiswa. Proses asimilasi diidentifikasi karena mahasiswa mengetahui apa yang diketahui, dan apa yang ditanyakan dengan benar. Hal ini terlihat pada ketidakmampuan mahasiswa untuk menyebutkan konsep apa yang digunakan untuk memecahkan masalah. Mahasiswa dengan keterampilan metakognitif sedang menyusun rencana pemecahan masalah menggunakan proses berpikir antara akomodasi dan asimilasi. Rencana pemecahan yang disusun sudah benar akan tetapi tidak sesuai dengan konsep yang disebutkan pada tahap sebelumnya. Mahasiswa menyebutkan bahwa konsep yang dipakai adalah permutasi, tetapi pada perumusannya prinsip inklusi ekslusi dan tidak menggunakan konsep permutasi. Proses asimilasi diidentifikasi ketika mahasiswa mampu mengaitkan pengetahuan yang dimilikinya sehingga dapat memecahkan masalah dan akhirnya mampu membuat rencana pemecahan masalah dengan benar. Sedangkan proses berpikir abstraksi belum dapat dapat diidentifikasi karena mahasiswa belum mampu menyusun rencana pemecahan dengan menggunakan simbol-simbol matematika. Pelaksanakan rencana pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan proses berpikir antara akomodasi dan asimilasi. Proses ini terlihat karena mahasiswa mampu bekerja sesuai dengan algoritma yang dilakukan akan tetapi hasil yang diperoleh tidak tepat, karena salah dalam identifikasi kaus dalam pemecahan masalah. Mahasiswa dengan keterampilan metakognitif rendah memeriksa kembali hasil pemecahan menggunakan proses berpikir asimilasi karena tidak mampu mencari pemecahan dengan cara yang lain. Mahasiswa dengan keterampilan metakognitif rendah dalam memahami masalah menggunakan proses berpikir akomodasi. Proses berfikir akomodasi terjadi karena mahasiswa tidak dapat

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 41 mengasimilasikan informasi baru dengan pengetahuan yang dimiliki. Skema yang dimiliki oleh mahasiswa tidak cocok dengan informasi baru sehingga terjadi “konflik” di pikiran mahasiswa. Mahasiswa tidak mampu memahami maksud soal, terlihat pada ketidakmampuan untuk membedakan antara boleh ada pengulangan dan tidak boleh ada pegulangan. Mahasiswa dengan keterampilan metakognitif rendah menyusun rencana pemecahan masalah menggunakan proses berpikir antara akomodasi, asimilasi, dan abstraksi tetapi proses asimilasi dan abstraksi tidak tuntas. Hal ini terlihat dari ketidakmampuan mahasiswa untuk menginterpretasi soal dan model matematika yang telah dibuat. Akomodasi dan asimilasi teridentifikasi karena mahasiswa tidak dapat menyebutkan konsep yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tetapi mampu membuat rencana pemecahan masalah dengan benar. Sedangkan proses berpikir abstraksi dapat diidentifikasi karena mahasiswa sudah mampu menyusun rencana pemecahan dengan menggunakan simbol-simbol matematika meskipun pemaknaannya tidak tepat. Pelaksanakan rencana pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan proses berpikir antara asimilasi dan akomodasi karena mahasiswa mampu melaksanakan pemecahan sesuai rencana akan tetapi hasil yang diperoleh tidak tepat karena salah memahami maksud soal. Mahasiswa dengan keterampilan metakognitif rendah memeriksa kembali hasil pemecahan menggunakan proses berpikir asimilasi karena tidak mampu mencari pemecahan dengan cara yang lain. Pembahasan dari hasil tes tertulis dan wawancara secara keseluruhan dapat dirangkum dalam bagan berikut. Tabel. 3. Hasil Analisa Data Tahap Pemecahan Masalah Proses Berfikir Tingkat Keterampilan Metakognitif Tinggi Sedang Rendah Memahami masalah Akomodasi Asimilasi Abstraksi Membuat rencana pemecahan masalah Akomodasi Asimilasi Abstraksi Melaksanakan rencana pemecahan masalah Akomodasi Asimilasi Abstraksi

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 42 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Memeriksa kembali Akomodasi Asimilasi Abstraksi KESIMPULAN Berdasarkan penelitian dan hasil analisa data yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan beberapa hal berikut. (1) Pengembangan rubrik peer assessment dengan model ADDIE pada mata kuliah Teori Graf untuk penelitian dibatasi tiga tahapan yaitu analysis, design, dan development. Tahap analysis meliputi studi pendahuluan guna pengumpulan data untuk menentukan pengembangan yang akan dilakukan. Tahap design meliputi perancangan draft modul perkuliahan dan rubrik peer assessment. Tahap development meliputi expert judgement dan uji terbatas produk yang sudah divalidasi pakar. Serangkaian proses tersebut akan menghasilkan draft awal untuk tahapan pengembangan selanjutnya. (2) Hasil pengembangan rubrik peer assessment dengan model ADDIE pada mata kuliah Teori Graf meliputi modul perkuliahan, dan rubrik peer assessment pada pemecahan masalah. (3) Pengembangan rubrik peer assessment dengan model ADDIE pada mata kuliah Teori Graf dapat menghasilkan kemampuan pemecahan masalah lebih tinggi daripada traditional assessment pada perkuliahan Teori Graf. Berdasarkan hasil penelitian pengambangan yang telah dilakukan, disarankan beberapa hal berikut. (1) Proses berpikir mahasiswa yang mempunyai tingkat keterampilan metakognitif tinggi dalam memahami masalah dengan melakukan proses berpikir abstraksi secara penuh. Rencana pemecahan masalah dilakukan dengan melakukan proses berpikir asimilasi dan mengarah pada abstraksi. Pelaksanaan rencana pemecahan masalah dengan melakukan proses berpikir asimilasi dan mengarah pada abstraksi. Proses memeriksa kembali hasil pemecahan dengan melakukan proses berpikir asimilasi yang mengarah ke abstraksi. (2) Proses berpikir mahasiswa yang mempunyai tingkat keterampilan metakognitif sedang dalam memahami masalah dilakukan dengan melakukan proses berpikir antara akomodasi dan asimilasi tetapi lebih condong ke asimilasi. Perencanaan pemecahan masalah dilakukan dengan melakukan proses berpikir berpikir antara akomodasi dan asimilasi tetapi lebih condong ke asimilasi. Proses melaksanakan rencana pemecahan masalah dengan melakukan proses berpikir berpikir antara akomodasi dan asimilasi tetapi lebih condong ke asimilasi.Proses memeriksa kembali hasil pemecahan dengan melakukan proses berpikir asimilasi. (3) Proses berpikir mahasiswa yang mempunyai tingkat keterampilan metakognitif rendah dalam memahami masalah dengan melakukan proses berpikir antara akomodasi. Perencanaan pemecahan masalah dengan melakukan proses berpikir berpikir antara akomodasi dan asimilasi tetapi lebih condong ke akomodasi. Pelaksanaan rencana pemecahan masalah dengan melakukan proses berpikir berpikir antara akomodasi dan asimilasi tetapi lebih condong ke akomodasi. Proses memeriksa kembali hasil pemecahan dengan melakukan proses berpikir asimilasi. DAFTAR PUSTAKA Anathime. 2009. Keterampilan Metakognitif . [online]. Tersedia: http://biologyeducationresearch.blogspot.com/2009/12/keterampilan-metakognitif.html Muhtarom. 2012. Proses Berpikir Mahasiswa Kelas IX Sekolah Menengah

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 43 Pertama dalam Memecahkan Masalah Matematika. Tesis tidak dipublikasikan. Surakarta: Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. Rosi Kurniawati dan Tino Leonardi. 2013. Hubungan Antara Metakognisi dengan Prestasi Akademik pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga yang Aktif Berorganisasi di Organisasi Mahasiswa Tingkat Fakultas. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan, Vol. 2, No.1, pp. 01-06 Schraw, G., and Dennisson, R.S. 1994. Assessing Metacognitive Awarness. Contemporary Educational Psychology, Vol.19, pp. 460-475 Titin Masingatin. 2012. Proses Berpikir Mahasiswa Sekolah Menengah Pertama dalam Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau dari Adversity Quotient. Tesis. Surakarta : Universitas Sebelas Maret Young, Andria and Fry, Jane D. 2008. Metacognitive awareness and academic achievement in college students. Journal of the Scholarship of Teaching and Learning, Vol. 8, No. 2, May 2008, pp. 1-10 TANYA JAWAB Penanya : Sri Yamtinah Pemakalah : Erika Laras A Pertanyaan : Bagaimana pembelajaran yang dapat digunakan untuk menjembatani mahasiswa dengan metakognisi rendah dan sedang agar dapat menerima pembelajaran dengan baik? Jawaban : Memberikan banyak soal open ended sehingga mahasiswa terlatih untuk memahami soal, membantu siswa dengan soal uraian terbimbing kemudian ditingkatkan menjadi uraian bebas dan menerapkan penilaian alternative seperti peer dan self assessment. Penanya : Budi Utami Pemakalah : Erika Laras A Pertanyaan : Bagaimana cara mengukur kemampuan akomodasi, asimilasi, dan abstraksi ? Jawaban : Disediakan instrument berupa test pemecahan masalah, yang berupa soal uraian bebas. Soal yang diberikan berbentuk open ended. Pengukurannya : Dari soal yang disusun dikategorikan menjadi 4 bagian mulai dari perencanaan, menyusun rencana pemecahan, memecahkan masalah, dan evaluasi. Selanjutnya jawaban siswa diketegorikan menurut tahap berfikir asimilasi, akomodasi dan abstraksi sesuai indicator yang ditentukan.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 44 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 PEMANFAATAN KISAH PENDIRIAN BENTENG BESI ISKANDAR ZULKARNAIN SEBAGAI SUMBER INSPIRASI DALAM PEMBELAJARAN KIMIA SMA/MA KONSEP SEL ELEKTROKIMIA DAN PEMBENTUKAN KARAKTER INSAN MULIA Agung Nugroho Catur Saputro1,* *Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami 36 A Surakarta *Keperluan korespondensi: Telp: +62-81329023054; Email: anc_saputro@yahoo.co.id ABSTRAK Kisah tentang kebesaran raja Iskandar Zulkarnain telah dicatat dalam sejarah peradaban manusia. Al Quran juga mengabadikan kisah sang raja tersebut dalam surat Al-Kahfi ayat 83-98. Sejarah barat mengabadikan kisahnya dengan sebutan Alexander The Great (Alexander Agung). Walaupun ada perbedaan penafsiran tentang kebenaran bahwa iskandar Zulkarnain adalah Alexander The Great, ada satu peristiwa dalam sejarah kehidupan Iskandar Zulkarnain yang dapat dijadikan sumber inspirasi bagi pembentukan karakter insan mulia bagi siswa SMA/MA dan keterkaitannya dengan pelajaran kimia SMA/MA konsep Sel Elektrokimia. Tujuan penulisan ini adalah untuk 1). Menginformasikan bahwa pendirian benteng besi Iskandar Zulkarnain menggunakan pengetahuan sel elektrokimia, 2). Mengetahui nilai-nilai karakter insan mulia yang dapat diambil dari kisah pendirian benteng besi oleh Iskandar Zulkarnain, 3). Mengetahui strategi pengintegrasian kisah pendirian benteng besi Iskandar Zulkarnain dalam pelajaran kimia SMA/MA konsep sel elektrokimia. Tulisan ini disusun dengan menggunakan metode telaah literatur dan didukung pemikiran dan penalaran penulis tentang keterkaitan kisah pendirian benteng besi Iskandar Zulkarnain dengan konsep sel elektrokimia di pelajaran kimia SMA/MA dan nilai-nilai karakter insan mulia yang dapat diambil dari kisah tersebut sebagai bahan inspirasi bagi pembentukan karakter siswa SMA/MA. Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa 1). Pendirian benteng besi oleh Iskandar Zulkarnain telah menggunakan konsep sel elektrokimia, dimana logam besi lebih mudah mengalami korosi sehingga perlu dilapisi dengan cairan logam tembaga yang lebih sukar mengalami korosi. Hal ini didukung oleh data potensial reduksi dari logam besi dan tembaga., 2). Nilai-nilai karakter insan mulia yang dapat digali dari kisah pendirian benteng besi oleh Iskandar Zulkarnain antara lain adalah suka ilmu pengetahuan, berwawasan luas, beriman kepada Allah Swt, tidak takabur ataupun sombong dengan kemampuannya, rendah hati, tawakal kepada Allah Swt, segala kemampuannya semata-mata karena rahmat Allah Swt., 3). Strategi mengintegrasikan kisah pendirian benteng besi oleh Iskandar Zulkarnain dalam pelajaran kimia SMA/MA konsep Sel elektrokimia adalah a). Sebagai apersepsi di awal pelajaran sebagai tantangan bagi siswa untuk mengkaji ayat-ayat Allah Swt, b). Di tengah pelajaran setelah membahas metode perlindungan logam terhadap korosi sebagai tambahan informasi bahwa pengetahuan sel elektrokimia telah lama digunakan oleh Iskandar Zulkarnain, c). Sebagai pengayaan materi sel elektrokimia dikaitkan dengan informasi ilmiah dalam kitab suci Al Qur’an. Kata Kunci: Benteng besi, Iskandar Zulkarnain, Sel Elektrokimia, Integrasi iptek dan relegius, Karakter insan mulia, pelajaran Kimia SMA/MA PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Karakter adalah kunci keberhasilan individu. Dari sebuah penelitian di Amerika, 90 persen kasus pemecatan disebabkan oleh perilaku buruk seperti tidak bertanggung jawab, tidak jujur, dan hubungan interpersonal yang buruk. Selain itu, terdapat penelitian lain yang mengindikasikan bahwa 80 persen keberhasilan seseorang di masyarakat ditentukan oleh emotional quotient (W ibowo, 2014). Pendidikan karakter, sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tetapi

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 45 di rumah dan di lingkungan sosial. Bahkan sekarang ini peserta pendidikan karakter bukan lagi anak usia dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa. Mutlak perlu untuk kelangsungan hidup Bangsa ini. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat (Wibowo, 2014). Pembentukan karakter yang baik pada siswa SMA/MA merupakan suatu hal yang mendesak untuk dilakukan. Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education) dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja khususnya siswa sekolah menengah, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas, oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan karakter (Haryanto, 2014) Kisah-kisah perjalanan hidup seseorang ataupun peristiwa di alam sekitar dapat dimanfaatkan untuk menanamkan pendidikan karakter pada siswa. Tahir, dkk (2005) telah menggunakan film “Shark Attack” untuk menanamkan rasa kepedulian terhadap lingkungan dan pembentukan etika penelitian ilmiah dalam pembelajaran mata kuliah Metodologi Penelitian. Suyanta (2013) mengemukakan sepuluh kisah inspiratif sebagai bahan ice breaking dalam pembelajaran kimia yang dapat dimanfaatkan guru dan dosen dalam pembelajaran kimia yang menginspiratif. Ada sepuluh kisah inspiratif yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran kimia. Sepuluh kisah inspiratif tersebut adalah 1). Arsen dalam rambut Napoleon?, 2). Fritz Haber : Pembunuh atau Dewa Penolong?, 3). Penyalahgunaan H2 yang berakibat terjadinya tragedy Hindenburg, 4). Kemampuan cairan helium memanjat dinding gelas, 5). Penemuan Fransium dapat Menenangkan Hati Napoleon di Alam Kubur, 6). Ribuan Bayi Lahir Cacat Karena Thalidomida, 7). Struktur Benzena Terinspirasi oleh Mimpi Ular Kekule, 8). Penemuan secara Kebetulan Sifat Antikanker Cisplatin, 9). Tabel Periodik Mendeleev : Berkat Tidur Siangnya?, 10). Kehancuran Sebuah Pesawat Ruang Angkasa karena Kelalaian Mengkonversi Satuan Gaya (Suyanta, 2013). Dalam makalah ini akan dikaji kemungkinan pemanfaatan kisah pendirian benteng besi oleh Iskandar Zulkarnain sebagai sumber inspirasi menanamkan karakter insan mulia kepada siswa SMA/MA ketika mempelajari materi kimia konsep sel elektrokimia. 2. Identifikasi Masalah dan Perumusan Masalah a. Identifikasi Masalah Pendirian benteng besi oleh Iskandar Zulkarnaian yang dikisahkan dalam Al Quran surat Al-Kahfi ayat 96-98 ternyata merupakan bukti penerapan konsep sel elektrokimia pada zaman dulu. Ketika selesai pendirian benteng besi tersebut, Iskandar Zulkarnain memperlihatkan sikap atau karakter seorang raja yang beriman pada Tuhannya dan menunjukkan sifat-sifat mulia. Kisah pendirian benteng besi oleh Iskandar Zulkarnaian ini dapat digunakan sebagai inspirasi mengajarkan konsep sel elektrokimia dalam pembelajaran kimia SMA/MA yang mengintegrasikan dengan nilai-nilai relegius. Pengintegrasian kisah pendirian benteng besi oleh Iskandar Zulkarnaian dalam pelajaran kimia SMA/MA konsep sel elektrokimia memerlukan strategi dan metode yang tepat agar tujuan pembelajaran yang mencakup aspek sikap relegius,

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 46 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 sosial, pengetahuan dan ketrampilan tercapai. b. Rumusan Masalah 1).Bagaimana penerapan konsep sel elektrokimia dalam kisah pendirian benteng besi oleh Iskandar Zulkarnaian ? 2).Nilai-nilai karakter insan mulia apa saja yang terdapat dalam kisah pendirian benteng besi oleh Iskandar Zulkarnaian? 3).Bagaimana strategi pengintegrasian kisah pendirian benteng besi oleh Iskandar Zulkarnaian dalam pembelajaran kimia SMA/MA konsep sel elektrokimia? 3. Studi Kepustakaan a. Pendidikan Karakter Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Pendidikan adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik. Pendidikan adalah juga suatu usaha masyarakat dan bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan. Keberlangsungan itu ditandai oleh pewarisan budaya dan karakter yang telah dimiliki masyarakat dan bangsa. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warganegara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif (Hasan dkk, 2010). Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa (Haryanto, 2010). Namun ada beberapa ahli telah memberikan defines dari pendidikan karakter. Thomas Lickona (dalam Haryanto, 2010) menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti. Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun Negara (Haryanto, 2010). Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010 dalam Haryanto, 2010). Menurut kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982 dalam Haryanto, 2010). Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter bangsa. Oleh karena itu, pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam lingkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang berangkutan. Artinya, pengembangan budaya dan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial,budaya masyarakat, dan budaya bangsa (Hasan, 2010). b. Karakter Insan Mulia Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 47 Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat (Wibowo, 2014). Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yang dikembangkan oleh Kemendiknas yaitu, Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai prestasi, Bersahabat/komunikatif, Cinta Damai, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli social, Tanggung jawab (Hasan, 2010). Karakter Insan Mulia merupakan karakter islami yang dijiwai oleh nilai-nilai relegius yang bersumber dari Al Quran dan Al Hadits (Saputro, 2011). Karakter islami atau karakter insan mulia dapat diintegrasikan dalam pembelajaran kimia di kelas. Pengintegrasian nilai-nilai karakter insan mulia dalam pembelajaran kimia SMA/MA dapat ditempuh melalui penyampaian secara lisan ataupun penyampaian secara tertulis (Saputro, 2004, Saputro, 2008., Saputro, 2011). Pengintegrasian nilai-nilai karakter insan mulia secara lisan dapat ditempuh antara lain dengan 1). Mengutip beberapa ayat Al Quran yang ada hubungannya dengan materi pelajaran yang akan dipelajari disertai penjelasan maknanya pada awal pelajaran sebelum memasuki materi pelajaran., 2). Menyisipkan nilai-nilai relegius dalam materi pelajaran, misalnya setelah selesai menjelaskan subpokok bahasan tertentu., 3). Mengkaitkan kesimpulan materi pelajaran dengan nilai-nilai relegius dengan merujuk kepada ayat-ayat Al Quran maupun Al Hadist., 4). Memberikan suatu kasus yang mengandung nilai-nilai relegius untuk dihayati dan direnungkan secara mendalam oleh siswa (Saputro, 2011). Metode alternatif untuk mengintegrasikan nilai-nilai karakter islami secara tulisan adalah misalnya dalam bahan ajar baik berupa modul, hand out, LKS, maupun buku ajar disisipkan hal-hal berikut : 1). Menuliskan kalimat Basmalah pada kata pengantar buku (Kartanegara, 2007)., 2). Memulai setiap bab dengan kutipan ayat-ayat Al Quran yang berkaitan dengan tema atau konsep yang akan dibahas (Saputro dan Nugraha, 2008)., 3). Menjelaskan makna kutipan ayat-ayat Al Quran dan dikaitkan dengan permasalahan yang akan dibahas pada bab tersebut., 4). Memberikan uraian refleksi terhadap kasus-kasus dalam pembahasan buku yang dapat mendorong terbentuknya kesadaran dan peng-Agung-an kebesaran Tuhan, misalnya pembentukan molekul air dari atom hydrogen dan oksigen hanya mungkin terjadi karena kemurahan Allah Swt., 5). Menampilkan tokoh-tokoh ilmuwan muslim yang telah berjasa mengembangkan ilmu sains sebagai cara untuk menghidupkan kembali tradisi ilmiah yang telah dilakukan ilmuwan-ilmuwan muslim zaman dulu (Kartanegara, 2007)., 6). Menyisipkan kata-kata mutiara yang bisa diambilkan dari kata-kata hikmah atau hadits-hadits Rasulullah SAW. Pengintegrasian nilai-nilai karakter insan mulia yang berlandaskan karakter islami dan berdasarkan nilai-nilai relegius dapat dituangkan dalam tahap-tahap pembelajaran dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), tetapi yang terpenting adalah bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran kimia sudah mengintegrasikan nilai-nilai karakter islami (Saputro, 2011). c. Materi Pelajaran Kimia SMA/MA Konsep Sel Elektrokimia yang Terkait Kisah Pendirian Benteng Besi oleh Iskandar Zulkarnain Setiap logam mempunyai sifat reduktor, sebab cenderung melepaskan elektron atau mengalami oksidasi. Ada yang bersifat reduktor kuat (mudah teroksidasi) seperti logam-logam alkali, namun juga ada logam yang bersifat reduktor lemah (sukar teroksidasi) seperti logam-logam mulia. Pada tahun 1825, Alessandro Giuseppe Volta (1745-1827) dari Italia menyusun urutan logam-logam yang dikenal saat itu, yang baru berjumlah 20 jenis, dari reduktor terkuat sampai reduktor terlemah berdasarkan eksperimen. Urutan logam-logam itu disebut Deret Volta. Makin ke kiri letak suatu logam dalam deret Volta, sifat reduktornya makin

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 48 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 kuat. Oleh karena itu, suatu logam dalam deret Volta mampu mereduksi ion-ion di sebelah kanannya, tetapi tidak mampu mereduksi ion-ion di sebelah kirinya. Sekarang telah diketahui bahwa logam-logam yang ada dalam system periodic unsure ada 70 jenis, yang sebagian besar belum dikenal pada masa Alessandro Volta, maka urutan kekuatan sifat reduktornya tidak praktis jika disusun dalam bentuk deret. Pada dasawarsa abad ke-20, para ahli kimia mengemukakan konsep Potensial Reduksi (potensial electrode) untuk mengetahui dan mengukur kekuatan sifat reduktor logam-logam. Potensial reduksi, dengan lambang E, didefinisikan sebagai potensial listrik yang ditimbulkan apabila suatu ion logam menangkap elektron (mengalami reduksi) menjadi logamnya. Makin mudah suatu ion logam mengalami reduksi, makin besar potensial reduksi (E) yang ditimbulkan. Konsep sel elektrokimia juga diaplikasikan dalam upaya pencegahan korosi logam. Beberapa cara mencegah atau memperlambat korosi pada logam antara lain : 1). Pada pembuatan logam diusahakan agar zat-zat yang dicampurkan (impurities) tersebar secara homogen dalam logam tersebut. 2). Melapisi permukaan logam dengan cat atau minyak untuk mencegah kontak antara permukaan logam dengan udara. 3). Melakukan galvanisasi (penyalutan), misalnya besi disalut dengan lapisan tipis seng. Seng memiliki Eo lebih kecil daripada besi, sehingga seng segera teroksidasi membentuk lapisan ZnO yang melindungi permukaan besi. 4). Korosi logam juga dapat diperlambat dengan metode mengorbankan anode untuk melindungi katode. Beberapa logam yang lebih mudah mengalami oksidasi sengaja dikorbankan untuk mengamankan logam yang dikehendaki. (Anshory & Achmad, 2003) PEMBAHASAN 1. Kisah Pendirian Benteng Besi oleh Iskandar Zulkarnain Al-Qur’an di dalam surat Al Kahfi ayat 83-98 mengisahkan petualangan Iskandar Zulkarnain, seorang raja yang gagah nan perkasa, mempunyai wilayah kekuasaan yang luas tetapi tetap beriman dan tunduk pada perintah-perintah Tuhannya. Dalam suatu perjalanannya, dia sampai di daerah antara dua gunung dimana disitu tinggal orang-orang Ya’juj dan Ma’juj yang suka membuat kerusakan di muka bumi. Maka orang-orang minta bantuan kepada Zulkarnain agar dibuatkan dinding (benteng) untuk melindungi mereka dari gangguan orang-orang Ya’juj dan Ma’juj. Zulkarnain kemudian meminta orang-orang untuk mengumpulkan besi dan membakarnya sampai berwarna merah seperti api, kemudian Zulkarnain menuangkan cairan tembaga panas di atas besi panas tersebut. Dinding dari besi tersebut sangat kuat, tidak bisa didaki dan dilubangi. Kisah ini diabadikan dalam Al Quran Surat Al Kahfi ayat 96 : “Berilah aku potongan-potongan besi” Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Zulkarnain,”Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata,”Berilah aku tembaga (mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu” (QS. Al-Kahfi : 96) Setelah selesai, kemudian Zulkarnain berkata,”Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 49 luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar”(QS. Al-Kahfi : 98). 2. Nilai-nilai Karakter Insan Mulia dalam Kisah Pendirian Benteng Besi oleh Iskandar Zulkarnain Kisah tentang pendirian benteng atau dinding besi oleh Iskandar Zulkarnain dalam Al Quran Surat Al-kahfi : 96, membuat kita takjub dengan kecerdasan Zulkarnain, karena dia telah mengetahui ilmu elektrokimia. Bagaimana dia bisa mempunyai pengetahuan kalau tembaga sukar mengalami korosi sedangkan besi lebih mudah mengalami korosi, maka untuk melindungi dinding besinya dia menuangkan cairan tembaga di atas dinding besinya? Bagaimana dia tahu semua hal itu, sedangkan pada masa itu orang belum mengenal tentang cara pencegahan korosi? Cerita ini membuktikan bahwa Iskandar Zulkarnain adalah seorang raja yang suka ilmu pengetahuan dan dia banyak memperoleh ilmu pengetahuan selama petualangannnya mengunjungi negeri-negeri lain. Cerita ini juga mengandung pelajaran berharga tentang seorang hamba Allah yang mempunyai sifat tawadhu’ dan rendah hati, tidak sombong dengan kepandaian dan kekuasaannya. Makanya ketika benteng besinya sudah selesai dibuat, Zulkarnain berkata, “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar”(QS. Al-Kahfi : 98). Cerita tentang pendirian dinding besi oleh Iskandar Zulkarnain tersebut diabadikan oleh Allah SWT dalam salah satu surat dalam Al-Qur’an, yaitu surat Al-Kahfi menunjukkan kalau Iskandar Zulkarnain merupakan manusia mulia yang diberi rahmat Allah sehingga mampu mempunyai daerah kekuasaan yang sangat luas dan penguasaan ilmu pengetahuan yang tinggi. Proses pendirian dinding besi tersebut sengaja diinformasikan kepada umat islam dan umat manusia pada umumnya karena mengandung informasi ilmiah yang sangat berharga, yaitu ilmu sel elektrokimia tentang sifat reduktor logam. 3. Keterkaitan Kisah Pendirian Benteng Besi Iskandar Zulkarnain dengan Konsep Sel Elektrokimia Cerita Iskandar Zulkarnain yang diabadikan Allah dalam surat Al-kahfi ayat 83-98 mengandung informasi ilmiah yang baru terbukti di masa sekarang. Ketika membuat dinding besi, mengapa Zulkarnain menuangkan cairan tembaga di atas dinding besi tersebut? Apakah dinding besi tidak cukup kuat untuk menahan serangan orang-orang Ya’juj dan Ma’juj? Nah, di sinilah letak kehebatan dan kecerdasan Zulkarnain. Rahasia kekuatan dinding besi berlapiskan tembaga buatan Zulkarnain ini baru terungkap setelah diketahuinya reaksi-reaksi elektrokimia. Lalu apa hubungannya antara dinding besi Zulkarnain dengan reaksi-reaksi elektrokimia? Kita semua pasti sudah tahu kalau besi bersifat mudah mengalami korosi (berkarat) dan proses ini dapat menyebabkan besi rusak. Sedangkan tembaga bersifat tidak mudah mengalami korosi. Oleh karena itu jika besi yang mudah berkarat itu dilapisi dengan tembaga, maka secara tidak langsung besi terlindungi dari pengaruh udara luar sehingga tidak mengalami korosi. Hal inilah yang menyebabkan dinding besi berlapiskan tembaga buatan Zulkarnain kuat dan tahan lama karena tidak mengalami korosi. Selain dengan menggunakan cat, perlindungan besi dari korosi juga bisa dengan menggunakan logam lain yang kurang reaktif di banding besi (mempunyai potensial reduksi lebih positif), seperti timah atau tembaga. Kalau kita lihat harga potensial reduksi Fe menjadi Fe2+ harga Eonya -0,44 volt, sedangkan Sn menjadi Sn2+ mempunyai harga Eo = +0,14 volt dan Cu menjadi Cu2+ mempuyai harga Eo = 0,34 volt. Berdasarkan data potensial reduksi tersebut menunjukkan bahwa logam Fe lebih cenderung mempunyai sifat reduktor lebih kuat atau cenderung melepaskan elektron atau mengalami reaksi oksidasi dibandingkan logam Sn maupun Cu. Dari harga Eo ini maka kita dapat menyimpulkan sendiri bahwa yang paling

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 50 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 mudah teroksidasi adalah besi (Saputro dan Nugraha, 2009). 4. Strategi Pengintegrasian karakter Insan Mulia dari Kisah Pendirian Benteng Besi oleh Iskandar Zulkarnain dalam Pembelajaran Kimia SMA/MA Konsep Sel Elektrokimia Kisah pendirian benteng besi oleh Iskandar Zulkarnain yang diabadikan dalam Al Quran Surat Al-Kahfi ayat 96-98 memberikan informasi ilmiah tentang penerapan konsep sel elektrokimia, khususnya tentang metode pencegahan terjadinya korosi. Kisah tersebut dapat diintegrasikan dalam pembelajaran kimia konsep sel elektrokimia khususnya tentang metode-metode untuk mencegah terjadinya korosi pada material-material yang terbuat dari logam besi. Penyampaian kisah pendirian benteng besi oleh Iskandar Zulkarnain dalam pembelajaran kimia SMA/MA konsep sel elektrokimia khususnya metode pencegahan korosi logam bertujuan untuk memberikan informasi ilmiah yang terdapat dalam kitab suci Al Quran yang hakikatnya bukan literature ilmiah, untuk menunjukkan keajaiban Al Quran. Di sampaing itu juga untuk menginformasikan kepada siswa SMA/MA bahwa metode pencegahan korosi logam dengan metode perlindungan katoda yang dipahami sekarang ini ternyata sudah dipahami dan diterapkan oleh Iskandar Zulkarnain pada zaman dulu. Selain berkaitan dengan konsep sel elektrokimia, kisah tersebut juga memberikan contoh sikap mulia yang ditunjukkan oleh seorang raja yang berkuasa dengan daerah kekuasaan yang sangat luas dan mempunyai pengetahuan yang tinggi tetapi tetap rendah hati dan tunduk pada tuhannya. Penyampaian kisah Iskandar Zulkarnain dalam mendirikan benteng besinya tersebut dapat dilakukan di awal pelajaran konsep sel elektrokimia, di tengah maupun di akhir pembelajaran sebagai bahan pengayaan. Strategi mengintegrasikan kisah pendirian benteng besi oleh Iskandar Zulkarnain dalam pelajaran kimia SMA/MA konsep Sel elektrokimia adalah a). Sebagai apersepsi di awal pelajaran sebagai tantangan bagi siswa untuk mengkaji ayat-ayat Allah Swt, b). Di tengah pelajaran setelah membahas metode perlindungan logam terhadap korosi sebagai tambahan informasi bahwa pengetahuan sel elektrokimia telah lama digunakan oleh Iskandar Zulkarnain, c). Sebagai pengayaan materi sel elektrokimia dikaitkan dengan informasi ilmiah dalam kitab suci Al Qur’an. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa: 1) Pendirian benteng besi oleh Iskandar Zulkarnain telah menggunakan konsep sel elektrokimia, dimana logam besi lebih mudah mengalami korosi sehingga perlu dilapisi dengan cairan logam tembaga yang sukar mengalami korosi. Hal ini didukung oleh data potensial reduksi dari logam besi dan tembaga. 2) Nilai-nilai karakter insan mulia yang dapat digali dari kisah pendirian benteng besi oleh Iskandar Zulkarnain antara lain adalah suka ilmu pengetahuan, berwawasan luas, beriman kepada Allah Swt, tidak takabur ataupun sombong dengan kemampuannya, rendah hati, tawakal kepada Allah Swt, segala kemampuannya semata-mata karena rahmat Allah Swt. 3) Strategi mengintegrasikan kisah pendirian benteng besi oleh Iskandar Zulkarnain dalam pelajaran kimia SMA/MA konsep Sel elektrokimia adalah a). Sebagai apersepsi di awal pelajaran sebagai tantangan bagi siswa untuk mengkaji ayat-ayat Allah Swt, b). Di tengah pelajaran setelah membahas metode perlindungan logam terhadap korosi sebagai tambahan informasi bahwa pengetahuan sel elektrokimia telah lama digunakan oleh Iskandar Zulkarnain, c). Sebagai pengayaan materi sel elektrokimia dikaitkan dengan informasi ilmiah dalam kitab suci Al Qur’an. Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat disaran sebagai berikut:

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 51 1) Dalam setiap pembelajaran kimia SMA/MA, setiap guru harus berusaha mengintegrasikan nilai-nilai religius dalam materi kimia. 2) Setiap guru harus berusaha mengindentifikasi nilai-nilai karakter insan mulia apa saja yang dapat ditumbuhkan dalam pelajaran konsep-konsep kimia. 3) Agar mampu mengkaitkan aspek relegius dalam kitab suci dengan materi kimia, setiap guru harus berfikir dan menalar serta menghayati ayat-ayat dalam Al Quran. DAFTAR PUSTAKA Anshory, I dan Achmad, H., 2003, Acuan Pelajaran Kimia SMU untuk Kelas 3, Jakarta : Penerbit Erlangga. Haryanto, 2014, Pengertian Pendidikan Karakter, tersedia online di http://belajarpsikologi.com/pengertian-pendidikan-karakter/ diakses tanggal 7 November 2014). Hasan, S.H. dkk, 2010, Pengembangan Budaya dan Karakter Bangsa, Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa, Jakarta : Kemendiknas. Kartanegara, M., 2007, Reaktulasi Tradisi Ilmiah Umat Islam, Ceramah kepada peserta Nominator Lomba Penulisan Buku MIPA, Program STEP-2, Departemen Agama di kantor CIPSI, Jakarta Pusat tanggal 24 Juni 2007. Saputro, A.N.C., 2004, Analisis Nilai-Nilai Keimanan dan Ketakwaan (imtaq) dan Aplikasinya dalam Kehidupan Beragama pada Pelajaran Ikatan Kimia. Makalah : Lomba Karya Tulis (LKT) Peningkatan Keimanan dan Ketakwaan Siswa Melalui Integrasi IMTAQ – IPTEK yang Diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Saputro, A.N.C., 2008. Analisis Nilai-nilai Relegius dalam Konsep Ikatan Kimia pada Pelajaran Kimia SMA. Jurnal SainMat, Volume II No. 12. Saputro, A.N.C., dan Nugraha, I.. 2007. Kimia : Seandainya Kehidupan tanpa Kimia? Jilid 1. Buku pelajaran kimia untuk siswa SMA/MA kelas X. Jakarta : Direktorat Pendidikan Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Departemen Agama RI. Saputro, A.N.C., dan Nugraha, I.. 2009. Kimia : Seandainya Kehidupan tanpa Kimia? Jilid 3. Buku pelajaran kimia untuk siswa SMA/MA kelas XII. Belum diterbitkan. Saputro, A.N.C., dan Nugraha, I. 2008. Bertualang di Dunia Kimia. Buku referensi kimia untuk SMA/MA. Yogyakarta : PT.Pustaka Insan Madani. Saputro,A.N.C., 2011, Pengintegrasian Nilai-nilai Relegius dalam Buku Pelajaran Kimia SMA/MA sebagai Metode Alternatif Membentuk Karakter Insan Mulia pada Siswa, Prosiding Seminar Nasional VIII, Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA FKIP UNS, Surakarta, ISBN : 978-979-1533-24-9. Suyanta, 2013, Sepuluh Kisah Inspiratif Sebagai Bahan Ice Breaking dalam Pembelajaran Ilmu Kimia, Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia (SN-KPK) V, Program Studi Pendidikan Kimia PMIPA FKIP UNS, ISBN : 979363167-8. Tahir, I., Narsito, Wahyuningsih, T.D., 2005, Materi Etik Peneliti Pada Kuliah Metodologi Penelitian Melalui Diskusi Scientific Movie “Shark Attack”, Prosiding Seminar Nasional Kimia XVII, Laboratorium Kimia Dasar Jurusan Kimia FMIPA UGM Yoyakarta, ISSN : 1410-8313. Wibowo,T., 2014, Pentingnya Pendidikan Karakter Dalam Dunia Pendidikan,

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 52 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 tersedia online di http://www.pendidikankarakter.com/pentingnya-pendidikan-karakter-dalam-dunia-pendidikan/, diakses tanggal 7 November 2014).

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 53 PROFIL INTUISI DAN TINGKAT KREATIVITAS SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH GEOMETRI Budi Usodo1,* dan Partia Iswati2 1Dosen pada Program Studi S2 Pendidikan Matematika UNS 2Mahasiswa Program Studi S2 Pendidikan Matematika UNS *Keperluan korespondensi: budi_usodo@yahoo.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) profil intuisi siswa dalam memecahkan masalah geometri, (2) tingkat kreatifitas siswa dalam memecahkan masalah geometri, (3) kaitan antara intuisi dan tingkat kreativitas siswa dalam memecahkan masalah geometri. Sejalan dengan tujuan penelitian tersebut maka dalam penelitan ini menggunakan metode penelitian diskriptif kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Sragen. Subjek dipilih berdasarkan tingkat kemampuan matematika, yaitu subjek CECK (subjek berkemampuan matematika tinggi) dan subjek MDS (subjek berkemampuan rendah). Metode pengambilan data adalah tes dan wawancara. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi, pengecekan anggota dan kecukupan referensi. Teknik analisis data melalui langkah-langkah reduksi data, pemaparan data penafsiran data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian sebagai berikut; (1) profil intuisi yang digunakan siswa yang berkemampuan tinggi dalam memecahkan masalah geometri adalah intuisi yang didasarkan pada pemikiran matematis dan intuisinya cenderung dapat menyelesaikan masalah dengan tepat, sedangkan intuisi yang digunakan siswa yang berkemampuan matematika rendah adalah intuisi yang didasarkan pada indera dan intuisinya cenderung menghasilkan jawaban yang tidak tepat, (2) tingkat kreativitas siswa yang berkemampuan matematika tinggi berada pada tingkat kreatifitas 4, yang memenuhi karakteristik kefasihan, fleksibilitas dan kebaruan, sedangkan Tingkat kreativitas siswa yang berkemampuan matematika rendahi berada pada tingkat kreatifitas 0, yang tidak memenuhi semua karakteristik kefasihan, fleksibilitas dan kebaruan, (3) Siswa dengan tingkat kreativitas tinggi (tingkat 4) mempunyai intuisi yang didasarkan pada pemikiran matematis, sedangkan siswa dengan tingkat kreativitas rendah (tingkat 0) mempunyai intuisi yang didasarkan pada indera Kata kunci: profil, intuisi, tingkat kreativitas PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Beberapa penelitian yang pernah dilakukan pada beberapa SMA di wilayah eks Karesidenan Surakarta pada tahun 2005, 2006 dan tahun 2013 menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memecahkan masalah non rutin (tidak ada cara atau prosedur) sangat rendah. Dari hasil pengamatan pada saat guru matematika mengajar di sekolah tersebut, kegiatan pembelajaran matematika yang dilakukan cenderung mekanistik dan lebih banyak memberikan masalah yang bersifat algoritmik (masalah rutin). Selain itu guru tidak mengajarakan kepada siswa bagaimana menyelesaikan permasalahan matematika, tetapi lebih pada guru menunjukkan kemampuannya kepada para siswanya bahwa dia mampu menyelesaikan soal matematika. Bahkan terkesan guru merasa bangga bila dapat mendemontrasikan kemampuannya walaupun para siswa masih kebingungan kenapa cara pengerjaannya demikian, dari mana trik yang diperoleh dan lain sebagainya. (Marjuki, Budi Usodo, 2005, Budi Usodo, Ponco Sujatmiko, 2006, Budi Usodo, Ponco Sujatmiko, Dyah Ratri Aryuna, 2013). Bila diperhatikan pada kegiatan pembelajaran tradisional, beberapa guru matematika terkadang tidak melakukan upaya bagaimana agar para siswa menjadi problem solver yang handal. Seharusnya jangan sampai terjadi siswa hanya mampu menyelesaikan permasalahan matematika

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 54 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 bila telah diberikan caranya dari guru. Dengan kondisi demikian, maka yang sering terjadi adalah pada saat siswa menyelesaikan permasalahan matematika seringkali dihadapkan pada beberapa kesulitan. Misalnya bila diberikan soal matematika terkadang tidak tahu apa yang harus diperbuat dengan soal tersebut atau bila telah dapat memberikan jawaban, namun mengalami kemacetan di tengah penyelesaian soal tersebut. Keadaan tersebut semakin parah bila pembelajaran hanya menekankan pada penggunaan prosedur atau cara untuk menyelesaikan masalah. Sehingga pembelajaran matematika lebih berorientasi penggunaan prosedur atau acara, bukan diarahkan untuk mengembangkan bagaimana memperoleh cara atau prosedur yang digunakan dalam memecahkan masalah. Dengan demikian siswa tidak mempunyai kesempatan yang cukup untuk mengembangkan kreativitasnya dalam memecahkan masalah. Untuk menghasilkan kreativitas dalam memunculkan ide atau gagasan tersebut perlu dikembangkan “intuisi” pada diri siswa. Intuisi yang dimaksudkan adalah kognisi segera (immediate cognition) yang keberadaannya tidak melalui proses penalaran secara deduktif serta mempunyai ciri-ciri yaitu diterima secara langsung (direct), self evident, pasti secara intrinsik (intrinsic certainty), penggiringan (coerciveness), ekstrapolatif atau holistik. Intuisi dapat berupa ide atau gagasan yang digunakan untuk memecahkan masalah. Di lain pihak, Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengembangkan dan mengimplementasikan Kurikulum 2013. Salah satu alasan dilakukan perubahan kurikulum dari kurikulum 2006 (KTSP) ke kurikulum 2013 adalah untuk mengembangkan kreativitas peserta didik (Kemendikbud, 2013). Hal tersebut dilakukan karena pada era sekarang dan era mendatang Sumber Daya Manusia (SDM) yang dibutuhkan adalah SDM yang tidak hanya cakap dalam melaksanakan prosedur atau cara, namun SDM yang dibutuhkan adalah SDM yang mempunyai kreativitas, baik dalam menyelesaikan permasalahan maupun kreativitas dalam menperoleh cara atau prosedur yang digunakan untuk menyelesaikan masalah. Beberapa teori menjelasakan bahwa pengembangan kreativitas sangat dimungkinkan dalam proses pembelajaran. Kreativitas setiap peserta didik pada dasarnya tidak sama, kreativitas seringkali dianggap sebagai proses yang digunakan ketika peserta didik memunculkan ide–ide baru dan dianggap sebagai sesuatu ketrampilan yang didasarkan pada bakat alam. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Rusda dan Azizah (2012), “Creativity is the thnking of imaginative and original problem solving. Provision of problem solving questions can simultaneously hone students' skills and creative thinking can help students to better understand the concepts being studi“ Menurut Dyers, J.H. et al (Kemendikbud, 2013), menjelaskan bahwa 2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan, 1/3 sisanya berasal dari genetik. Kebalikannya berlaku untuk kemampuan kecerdasan yaitu 1/3 dari pendidikan, 2/3 sisanya dari genetik. Dikatakan pula bahwa Pembelajaran berbasis kecerdasan tidak akan memberikan hasil siginifikan (hanya peningkatan 50%) dibandingkan yang berbasiskreativitas (sampai 200%). Kreativitas dapat dipandang sebagai produk dari berpikir kreatif, sedangkan aktivitas kreatif merupakan kegiatan dalam pembelajaran yang diarahkan untuk mendorong atau memunculkan kreativitas siswa. Dengan demikian perlu mengembangkan kreativitas di dalam pembelajaran matematika. Dalam upaya memecahkan masalah geometri, peran intuisi sangat penting. Dalam proses pemecahan masalah matematika selalu diawali proses intuitif yang ditandai adanya ide-ide dari siswa. Ide-ide tersebut sangat dipengaruhi dengan karakteristik materi geometri yang banyak berupa gambar dan bentuk. Pada langkah pemecahan masalah berikutnya ide-ide yang digunakan dalam memecahkan masalah tersebut akan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 55 dijustifikasi dengan proses formal (kognisi formal) melalui serangkaian langkah-langkah seperti penalaran diduktif dan pemikiran analitis. Oleh sebab itu sangat mungkin melihat keterkaitan antara intuisi dengan kreativitas. Selain itu dengan mengetahui profil intuisi dan kreatifitas siswa dapat digunakan mengembangkan model pembelajaran yang berbasis intuisi untuk meningkatkan kreativitas siswa. 2. Identifikasi Masalah dan Rumusan Permasalahan Dari latar belakang masalah di atas dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut: a. Pembelajaran matematika masih cenderung melakukan kegiatan yang bersifat mekanistik, sehingga tidak menumbuhkan ide-ide kreatif dalam memecahkan masalah matematika. b. Kreativitas siswa dalam memecahkan masalah masih sangat terbatas, sehingga memerlukan pengembangan intuisi dalam proses pemecahan masalah matematika. c. Kebiasaan menggunakan soal-soal konvergen dan jarang menggunakan soal yang bersifat divergen menyebabkan kreatifitas siswa dalam menyelesaikan masalah kurang berkembang. Rumusan permasalahan dalam makalah ini adalah: a. Bagaimana profil intuisi siswa dalam memecahkan masalah geometri b. Bagaimana tingkat kreatifitas siswa dalam memecahkan masalah geometri c. Bagaimana kaitan antara intuisi dan tingkat kreativitas siswa dalam memecahkan masalah geometri. 3. Kerangka Teori a. Pemecahan Masalah Matematika Menurut Resnick and Glaser (Mustaji dan Sugiarso, 2005) masalah dapat diartikan sebagai suatu keadaan di mana seseorang melakukan tugasnya yang tidak ditemuinya di waktu sebelumnya. Masalah pada umumnya timbul karena adanya kebutuhan untuk mendekatkan kesenjangan antara kondisi nyata dengan kondisi yang diharapkan. Menurut Hudojo (1988), suatu pertanyaan akan merupakan masalah hanya jika seseorang tidak mempunyai aturan/hukum tertentu yang segera dapat dipergunakan untuk menemukan jawaban pertanyaan tersebut. Masalah bersifat subjektif bagi setiap orang, artinya suatu pertanyaan dapat merupakan masalah bagi seseorang, namun bukan merupakan masalah bagi orang lain. Suatu pertanyaan dapat dijawab dengan menggunakan prosedur rutin baginya, namun bagi orang lain untuk menjawab pertanyaan tersebut memerlukan pengorganisasian pengetahuan yang telah dimiliki secara tidak rutin. Selain itu pertanyaan merupakan masalah pada suatu saat, namun bukan lagi merupakan masalah saat berikutnya, bila masalah itu sudah dapat diketahui cara penyelesaiannya. Dari uraian tentang masalah matematika yang disampaikan beberapa ahli tersebut, maka yang dimaksud masalah matematika pada penelitian ini adalah suatu keadaan yang berupa pertanyaan atau tugas, dimana tidak ada aturan/hukum tertentu yang segera dapat dipergunakan untuk menemukan jawaban dari pertanyaan atau memecahkan tugas tersebut. Kneeland ( 2001) menyatakan bahwa, pemecahan masalah tidak berhubungan dengan kecerdasan, tapi berhubungan dengan proses secara benar sehingga kemampuan memecahkan masalah dapat diajarkan kepada siswa melalui pendekatan pemecahan masalah. Karena kemampuan memecahkan masalah dapat diajarkan, maka siswa perlu dilatih agar trampil dalam menghadapi masalah, khususnya masalah matematika. Dengan terbiasa memecahkan masalah matematika diharapkan siswa dapat dengan mudah memecahkan masalah lain seperti pada masalah ilmu pengetahuan, bisnis, dan masalah kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu pengertian pemecahan masalah matematika adalah upaya menyelesaikan masalah matematika dengan menggunakan berbagai cara, ide atau gagasan secara efektif dan efisien. b. Intuisi

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 56 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Menurut Fiscbein (1999), tidak ada definisi intuisi yang diterima secara bersama-sama oleh para ahli. Istilah intuisi biasanya digunakan sebagai istilah primitif dalam matematika, seperti titik, garis, himpunan dan lain-lain. Namun demikian para ahli menerima sifat-sifat secara implisit dari intuisi yaitu self evident yang berlawanan dengan usaha secara logika dan analitis. Penjelasan tentang intuisi oleh para ahli, diantaranya adalah Bruner menjelaskan intuisi dengan memperbandingkan pemikiran analitik, Poincaré membandingkan intuisi dengan logika, Skemp membandingkan pemikiran intuitif dengan pemikiran reflektif sebagai gaya aktivitas mental yang berbeda (Tall, 1991). Sedangkan, Descartes dan Spinoza, mempresentasikan intuisi sebagai sumber asli dari pengetahuan yang benar. Bergson membedakan antara intelegensi dan intuisi, (Fischbein, 1999). Fischbein (1997) mendefinisikan intuisi sebagai immediate knowledge (kognisi segera) yang disetujui secara langsung tanpa pembenaran. Sejalan dengan itu Piaget (Tall, 1991) memandang intuisi sebagai kognisi yang diterima langsung tanpa kebutuhan untuk menjastifikasi atau menginterpretasi secara eksplisit. Selain itu kognisi yang dikembangkan individu yang tidak bergantung kepada pembelajaran tetapi sebagai efek dari pengalaman pribadi, disebut kognisi intuitif primer (primary intuitive cognition) (Henden, G, 2004). Sebagai contoh anak sekolah dasar kelas I dan II mempunyai intuisi bahwa pembagian akan mengasilkan sesuatu yang lebih kecil, karena anak tersebut melihat dari kejadian sehari-hari sesuatu yang dibagi-bagi akan menjadi lebih sedikit. Pada sisi lain, intuisi baru dapat dikembangkan melalui pembelajaran atau pelatihan sistematik kita sebut kognisi intuitif sekunder (secondary intuitive cognition), misalnya siswa yang telah dikenalkan bilangan rasional dan diajarkan pembagian dengan bilangan rasional akan memiliki intuisi bahwa pembagian dengan pembagi kecil sekali akan menghasilkan sesuatu yang lebih besar. Fischbein (1999) telah menyajikan karakteristik umum dari kognisi intuitif dalam matematika, yang merupakan sesuatu yang mendasar dan yang sangat jelas dari suatu kognisi intuitif. Karakteristik intuisi tersebut adalah sebagai berikut. 1) Kognisi langsung, kognisi self evident (direct, self evident cognitions) Kognisi langsung, kognisi self evident yang dimaksud adalah bahwa intuisi adalah kognisi yang diterima sebagai feeling individu tanpa membutuhkan pengecekan dan pembuktian lebih lanjut. 2) Kepastian intrinsik (intrinsic certainty). Kepastian intuisi biasanya dihubungkan dengan feeling tertentu dari kepastian intrinsik. Intrinsik bermakna bahwa tidak ada pendukung eksternal yang diperlukan untuk memperoleh semacam kepastian langsung (baik secara formal atau empiris) 3) Pemaksaan (coerciveness). Intuisi menggunakan efek memaksa pada strategi penalaran individual. Hal ini berarti bahwa individu cenderung menolak interpretasi alternatif yang akan mengkontradiksi intuisinya. 4) Extrapolativeness Sifat penting dari kognisi intuitif adalah kemampuan untuk meramalkan di balik suatu pendukung empiris. Sebagai contoh: pernyataan ”melalui satu titik diluar garis hanya dapat digambar satu dan hanya satu garis sejajar dengan garis tersebut” mengekspresikan kemampuan ekstrapolasi dari intuisi. 5) Keseluruhan (Globality) Intuisi adalah kognisi global yang berlawanan dengan kognisi yang diperoleh secara logika, berurutan dan secara analitis. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa intuisi adalah kognisi yang self evident (secara subyektif kebenarannya terkandung di dalamnya), sebagai pengetahuan segera (immediate knowledge), bersifat holistik, mempunyai efek memaksa, bersifat ekstrapolatif, tanpa suatu proses penalaran secara sadar (mendalam) dan tidak bersifat

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 57 analitik. Sedangkan membuat dugaan dengan cepat, menghasilkan gagasan yang menarik sebelum disadari manfaatnya, dan mendapatkan akal dalam pembuktian, merupakan contoh-contoh tindakan intuitif. c. Jenis-jenis Intuisi Menurut Fischbein (1999), intuisi dikategorikan menjadi dua, yaitu intuisi afirmatori (affirmatory intuition) dan intuisi antisipatori (anticipatory intuition). Semua pembahasan karakteristik umum dalam matematika seperti yang di sampaikan di atas merupakan intuisi afirmatori. Intuisi afirmatori berupa pernyataan, representasi, interpretasi, solusi yang secara individual dapat diterima secara langsung, self evident, global dan cukup secara instrinsik. Disamping kategori intuisi afirmatori, terdapat kategori intuisi lain yang berbeda, disebut intuisi antisipatori. Karakteristik intuisi antisipatori adalah sebagai berikut. a) intuisi tersebut akan muncul selama berusaha keras untuk memecahkan masalah. b) intuisi tersebut menyajikan ciri-ciri yang bersifatr global. c) intuisi tersebut bertentangan dengan dugaan pada umumnya, dan intuisi ini berasosiasi dengan feeling, meskipun pembenaran secara rinci atau bukti belum ditemukan. Selain jenis-jenis intuisi yang disampaikan Fischbein di atas, Poincare (http://www-history.mcs.st-andrews.ac.uk/Extras/Poincare_Intuition.html) membagi intuisi menjadi 3 jenis, yaitu: (1) intuisi yang didasarkan pada indera dan imajinasi, (2) intuisi yang didasarkan pada generalisasi dengan induksi, seperti prosedur pada ilmu pengetahuan ekxperimental, (3) intuisi yang mengarah kepada menggunakan pemikiran matematika secara nyata, seperti intuisi dari bilangan murni yang menghasilkan aksioma yang dikenal dengan prinsip induksi matematika. d. Peran Intuisi Dalam Memecahkan Masalah Di dalam essainya, yaitu “Towards a disciplined intuition”, Bruner mengkarakterisasi dua alternatif pendekatan untuk memecahkan masalah, yaitu intuisi dan analitik. In virtually any field of intellectual endeavour one may distinguish two approaches usually asserted to be different. One is intuitive, the other analytic ... in general intuition is less rigorous with respect to proof, more oriented to the whole problem than to particular parts, less verbalized with respect to justification, and based upon a confidence to operate with insufficient data. (Bruner 1974). Dari ungkapan di atas, intuisi berlawanan dengan analitik. Intuisi kurang ketat (rigour), lebih berorientasi pada masalah global, kurang verbal dan didasarkan pada keyakinan dengan data yang tidak mencukupi. Menurut Roger W alcot Sperry dalam Edward (1996), dalam memecahkan masalah dua belahan otak kiri dan otak kanan sangat diperlukan. Otak kanan mempunyai peran sebagai pemroses data secara menyeluruh (holistic) dan otak kiri menguji kelogisannya yang diperlukan dalam pemecahan masalah. Ketika penyelesaiannya didapat, otak kanan akan bertugas memperhatikan situasi secara menyeluruh untuk memeriksa jawaban yang diperoleh. Dengan demikian dalam memecahkan masalah akan mengaktifkan otak kanan maupun kiri. Sedangkan dari hasil penelitian Fischbein et al (1996), intuisi selalu didasarkan pada struktur skemata tertentu. Selain itu ditemukan pula bahwa intuisi sebagai dugaan spontan yang merupakan fakta dibalik layar skemata. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa intuisi dapat terjadi karena struktur skemata tertentu. Oleh sebab itu jika siswa sedang memecahkan masalah, tentunya akan menggunakan struktur skema yang dimiliki, sehingga sangat mungkin pada saat memecahkan masalah, muncul intuisi yang merupakan dugaan spontan akibat fakta dibalik layar skemata. e. Kreativitas Taylor & Baron (dalam Shouksmith, 1979) menyebut 4 aspek berbeda dalam mengkaji berbeda dalam mengkaji kreativitas, yaitu: (1) produk kreatif, (2) proses kreatif, (3) pengembangan alat ukur kreativitas, dan (4)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 58 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 karakteristik personalitas dan motivasi orang kreatif. Mooney (dalam Shouksmith, 1979) membedakan 4 pendekatan dalam membahas kreativitas, yaitu produk yang diciptakan (the product created), proses penciptaan (the process of creating), individu pencipta (the person of the creator), dan lingkungan yang menjadi asal penciptaan (the environment in which creating come about). Pembagian ini tidak berarti pemisahan yang lepas satu dengan yang lainnya, tetapi memberi penekanan pada suatu aspek tertentu misalkan pada produk saja. Penekanan ini masih terkait dengan aspek yang lain. Definisi kreativitas yang menekankan pada produk, misalkan Hurlock (1999) menyebutkan “kreativitas menekankan pembuatan sesuatu yang baru dan berbeda; kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. Ia dapat berupa kegiatan imajinatif atau sintesis pemikiran yang hasilnya tidak hanya perangkuman. Ia mungkin mencakup pembentukan pola baru dan gabungan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya dan pencangkokkan hubungan lama ke situasi baru dan mungkin mencakup pembentukan hubungan baru. Ia harus mempunyai maksud atau tujuan yang ditentukan, bukan fantasi semata, walaupun merupakan hasil yang sempurna dan lengkap.” Munandar (1999a) menyebutkan “kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan/menciptakan sesuatu yang baru; kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna sosial”. Definisi yang menekankan faktor pendorong atau dorongan secara internal dikemukakan Simpson (dalam Munandar, 1999) bahwa kemampuan kreatif merupakan sebuah inisiatif seseorang yang diwujudkan oleh kemampuannya untuk mendobrak pemikiran yang biasa. Kreativitas tidak berkembang dalam budaya yang terlalu menekankan konformitas dan tradisi, dan kurang terbuka terhadap perubahan atau perkembangan baru. Amabile (dalam Munandar, 1999) menyebutkan bahwa kreativitas tidak hanya bergantung pada keterampilan terhadap suatu bidang, tetapi juga pada motivasi intrinsik (dorongan internal) untuk bekerja dan lingkungan social yang mendukung (dorongan eksternal). Dalam penelitian ini berdasar beberapa pandangan ahli yang disebutkan (sebagian besar mengarah pada sesuatu/produk yang baru) dan untuk kepentingan pembelajaran matematika, maka pengertian kreativitas adalah aktivitas kognitif yang berupa produk berpikir untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan berguna dalam memandang suatu masalah atau situasi. Ada beberapa indikator untuk mengetahui kreativitas peserta didik dalam memecahkan permasalahan matematika. Beberapa ahli mengatakan dalam Laiken and Lev (2007), “Torrance (1974) defined fluency, flexibility and novelty as main components of creativity. Krutetskii (1976), Ervynck (1991), and Silver (1997) connected the concept of creativity in mathematics with multiple-solution tasks. In this context (Silver, 1997, Ervynck, 1991, Leikin, accepted), flexibility refers to the number of solutions generated by a solver, novelty refers to the conventionality of suggested solutions (see later in this paper a more precise definition), and fluency refers to the pace of solving procedure and switches between different solutions” Sehingga, menurut beberapa pendapat para ahli tersebut bahwa kefasihan (fluency), fleksibilitas (flexibility) dan kebaruan (novelty) merupakan 3 aspek yang sangat penting dalam kreativitas. Menurut Krisnawati (2012) aspek kefasihan mengacu pada kebenaran jawaban yang diberikan peserta didik. Aspek fleksibilitas mengacu pada cara-cara berbeda yang diberikan oleh peserta didik dalam memecahkan masalah, sedangkan aspek kebaruan mengacu pada jawaban yang diberikan tidak biasa untuk tingkat pengetahuan peserta didik pada umumnya atau juga bisa mengacu pada cara baru yang ditampilkan peserta didik. Cara yang baru tersebut bisa saja merupakan cara kombinasi

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 59 dari pengetahuan yang diperoleh peserta didik sebelumnya. Kemampuan kreativitas dalam berpikir matematika peserta didik dalam memecahkan masalah memiliki tingkatan–tingkatan. Penjenjangan tingkatan kreativitas tersebut terkait dengan kemampuan peserta didik memenuhi indikator fleksibilitas, kefasihan, dan kebaruan dalam memecahkan masalah matematika. Menurut Siswono (2011) kreativitas dibagi menjadi 5 tingkatan yaitu, tingkat 4 (sangat kreatif), tingkat 3 (kreatif), tingkat 2 (cukup kreatif), tingkat 1 (kurang kreatif), dan tingkat 0 (tidak kreatif). Peserta didik pada tingkat 4 mampu menyelesaikan suatu masalah dengan lebih dari satu alternatif jawaban maupun cara penyelesaian dan membuat masalah yang berbeda-beda (baru) dengan lancar (fasih) dan fleksibel. Dapat juga peserta didik hanya mampu mendapat satu jawaban yang “baru” (tidak bisa dibuat peserta didik pada tingkat berpikir umumnya) namun dapat menyelesaikan dengan berbagai cara (fleksibel). Peserta didik pada tingkat 3 mampu membuat suatu jawaban yang “baru” dengan fasih, namun tidak dapat menyusun cara berbeda (fleksibel) untuk mendapatkan jawaban yang beragam, meskipun jawaban tersebut tidak baru. Selain itu, peserta didik dapat membuat masalah yang berbeda (baru) dengan lancer (fasih) meskipun cara penyelesaian masalah itu tunggal atau dapat membuat masalah yang beragam dengan cara penyelesaian yang berbeda-beda, meskipun masalah tersebut tidak baru. Peserta didik disini cenderung mengatakan bahwa membuat soal lebih sulit dari pada menjawab soal, karena harus mempunyai cara untuk penyelesaiannya. Peserta didik cenderung mengatakan bahwa mencari cara yang lain lebih sulit dari pada mencari jawaban yang lain. Peserta didik pada tingkat 2 mampu membuat satu jawaban atau membuat masalah yang berbeda dari kebiasaan umum (baru) meskipun tidak dengan fleksibel ataupun fasih, atau peserta didik mampu menyusun berbagai cara penyelesaian yang berbeda meskipun tidak fasih dalam menjawab maupun membuat masalah dan jawaban yang dihasilkan tidak baru. Peserta didik kelompok ini cenderung mengatakan bahwa membuat soal lebih sulit dari pada menjawab soal, karena belum biasa dan perlu memperkirakan bilangannya, rumus maupun penyelesaiannya. Cara lain yang dikonstruksi peserta didik sebagai bentuk rumus lain yang ditulis berbeda. Peserta didik tingkat 1 mampu menjawab atau membuat masalah yang beragam (fasih), tetapi tidak mampu membuat jawaban atau membuat masalah yang berbeda “baru” dan tidak dapat menyelesaikan masalah dengan cara yang berbeda-beda (fleksibel). Peserta didik ini cenderung mengatakan bahwa membuat soal tidak sulit (tetapi tidak berarti mudah) dari pada menjawab soal, karena tergantung kepada kerumitan soalnya. Cara yang lain dikonstruksi peserta didik sebagai bentuk rumus lain yang ditulis “berbeda”. Soal yang dibuat cenderung bersifat matematis dan tidak mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Sedangkan peserta didik pada tingkat 0 tidak mampu membuat alternatif jawaban maupun cara penyelesaian atau membuat masalah yang berbeda dengan lancar (fasih) dan fleksibel. METODE PENELITIAN Penelitian ini untuk mengungkap hakekat gejala yang muncul dari subyek penelitian. Hakekat tersebut digunakan untuk menemukan profil intuisi dan kreativitas siswa yang digunakan siswa dalam memecahkan pemasalahan geometri. Hakekat tersebut ditelusuri melalui suatu wawancara yang berbasis pada tugas. Oleh sebab itu jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif eksploratif yang data utamanya berupa kata-kata tertulis dan/atau lisan. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 2 Sragen. Subjek dipilih tidak secara acak, namun diambil berdasarkan tingkat kemampuan matematika, yang terdiri dari siswa dengan kemampuan tinggi dan siswa dengan kemampuan rendah. Dari pemilihan subjek penelitian seperti tersebut di atas, maka subjek penelitian ini adalah CECK

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 60 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 (subjek berkemampuan matematika tinggi) dan MDS (subjek berkemampuan rendah). Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai instrumen utama dan intrumen bantu adalah lembar tugas pemecahan masalah geometri untuk memperoleh profil intuisi siswa dan lembar pemecahan masalah untuk memperoleh profil kreatifitas siswa dalam memecahkan masalah geometri. Data dalam penelitian ini data hasil wawancara dengan subyek penelitian yang terdiri dari data hasil wawancara untuk menggali intuisi siswa dan data hasil wawancara untuk menggali kreativitas siswa dalam memecahkan masalah geometri. Pada penelitian ini data dikatakan absah atau valid jika data tersebut memenuhi syarat kredibel. Untuk memenuhi kriteria kredibel dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: a. Menggunakan triangulasi waktu, yaitu dengan membandingkan dua hasil wawancara dalam waktu yang berbeda. Jika hasil wawancara pertama hasilnya cenderung sama dengan hasil wawancara yang kedua maka dikatakan data wawancara pertama valid. b. Garis besar atau ikhtisar wawancara dikonfirmasikan dengan subjek Si untuk mendapatkan komentar. Kegiatan ini memberikan peluang untuk membetulkan kesalahan dalam membuat ikhtisar wawancara atau mendapatkan informasi tambahan. Dengan demikian peneliti melakukan pengecekan “anggota”. c. Hasil penelitian perlu diuji/dicocokkan dengan referensial (rujukan), seperti catatan lapangan, rekaman kamera audiovisual, dan transkrip wawancara. Dengan demikian peneliti melakukan ketepatan/kecukupan referensial. Sedangkan analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:: a. Reduksi data yaitu kegiatan yang mengacu pada proses pemilihan, pemusatan perhatian penyederhanaan pengabstraksian dan transformasi data mentah di lapangan. b. Pemaparan data yang meliputi pengklasifikasi dan identifikasi data, yaitu menuliskan kumpulan data yang terorganisir dan terkategori sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan dari data tersebut. c. Menarik kesimpulan dari data yang telah dikumpulkan dan menverifikasi kesimpulan tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil dan pembahasan data hasil wawancara kepada siswa dalam penggunaan intuisi untuk memecahkan masalah geometri a. Data Intuisi Siswa Berkemampuan Matematika Tinggi dalam Menyelesaikan Masalah Analisis data ini dilakukan berdasarkan hasil wawancara berbasis tugas dengan memberikan lembar tugas pemecahan masalah sebagai berikut: Tiga buah paralon berbentuk lingkaran berjari-jari 30 cm diikat erat dengan sebuah sabuk, lihat gambar di samping. Berapa panjang sabuk minimal yang digunakan? Gambar 1. Tiga buah paralon berbentuk lingkaran yang diikat dengan sabuk Dari hasil wawancara berbasis tugas, subjek CECK dalam memahami masalah adalah secara langsung dari teks soal. Hal ini dapat dilihat bahwa subjek CECK dengan membaca soal langsung memahami apa yang diketahui soal dan apa yang ditanyakan soal. Subjek CECK juga tidak melakukan upaya tertentu untuk memahami soal, misalnya

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 61 dengan membuat ilustrasi atau gambar, subjek CECK langsung menuliskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan. Dengan demikian yang dilakukan subjek CECK dalam memahami masalah adalah langsung dari teks soal. Berarti subjek CECK tidak melakukan upaya terlebih dahulu dalam memahami masalah. Penerimaan secara langsung dari suatu fakta yang berupa teks soal tanpa serangkaian proses berpikir dapat dikatakan suatu kognisi segera. Dengan demikian subjek CECK dalam memahami masalah menggunakan intuisi. Oleh karena subjek CECK dalam memahami masalah melakukan dengan menerima secara langsung dari suatu fakta yang berupa teks soal sehingga intuisi yang digunakan dalam memahami masalah adalah intuisi afirmatori yang bersifat langsung (direct), yaitu langsung dari teks soal. Dalam membuat rencana penyelesaian, subjek CECK mencoba akan menggunakan gambar Gambar yang dimaksud adalah gambar ketiga lingkaran seperti pada jawaban tertulis untuk memahami masalah. Setelah mencermati gambar, subjek CECK kemudian menyimpulkan bahwa panjang sabuk S = panjang keliling lingkaran ditambah panjang keliling segitiga sama sisi Jadi rumus dalam menentukan panjang sabuk diperoleh dari mencermati gambar. Subjek juga mempunyai rencana untuk menunjukkan bahwa gabungan ketiga busur lingkaran adalah sebuah lingkaran, dan garis singgung lingkaran luar merupakan sisi-sisi segitiga sama sisi. Berdasarkan hal-hal tersebut subjek CECK dalam membuat rencana dalam menghitung panjang sabuk adalah dengan perhitungan (rumus) panjang keliling lingkaran ditambah panjang keliling segitiga sama sisi. Perhitungan (rumus) tersebut benar-benar diperoleh dari mencermati gambar. Subjek CECK dalam membuat rencana penyelesaian dengan menggunakan rumus tersebut muncul setelah membuat dan mencermati gambar. Karena munculnya pemikiran pada subjek CECK menggunakan rumus tersebut adalah sesaat setelah mencermati gambar, maka dikatakan bahwa subjek CECK tidak menggunakan pemikiran eksplisit dalam menemukan rumus tersebut. Sehingga dikatakan bahwa subjek CECK menggunakan kognisi segera, yang berupa pemikiran penggunaan rumus atau perhitungan bahwa panjang sabuk adalah S = panjang keliling lingkaran ditambah panjang keliling segitiga sisi, dengan panjang sisi segitiga sama dengan panjang garis singgung luar lingkaran. Oleh karena terdapat penggunaan kognisi segera dalam membuat rencana penyelesaian, sehingga dikatakan bahwa subjek CECK menggunakan intuisi. Dengan memperhatikan apa yang dilakukan subjek CECK dalam melaksanakan rencana penyelesian, tampak bahwa subjek S langsung mengerjakan dengan menulis rumusnya, yaitu S = 6R + 2πR dan mengerjakan berdasarkan rumus tersebut sampai diperoleh jawaban. Subjek CECK tidak menggunakan cara lain selain dari apa yang telah di rencanakan. Dengan demikian pemikiran CECK dalam melaksankan rencana penyeesaian dengan menggunakan pemikiran langsung yang berupa kognisi formal, maka dikatakan bahwa subjek tidak menggunakan intuisi dalam melaksanakan rencana penyelesaian. Di samping itu berdasarkan jawaban tertulis pada saat wawancara memberikan penjelasan bahwa rumus yang digunakan dan jawaban yang diberikan Subjek CECK dalam memeriksa kembali jawaban dengan mengulangi dalam menjawab, yaitu memeriksa jawaban langkah demi langkah. Karena dalam memeriksa dilakukan langkah demi langkah, sehingga dapat dikatakan bahwa subjek CECK dalam memeriksa jawaban dengan menggunakan pemikiran yang berupa kognisi formal. Dengan demikian tidak ada pemikiran yang berupa kognisi segera yang dilakukan subjek CECK dalam memeriksa jawaban. Oleh karena tidak ada pemikiran subjek yang menggunakan kognisi segera, sehingga dapat dikatakan bahwa subjek CECK dalam memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 62 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 b. Data Intuisi Siswa Berkemampuan Matematika Rendah dalam Menyelesaikan Masalah Dari hasil wawancara menunjukkan bahwa subjek MDS dalam memahami masalah adalah tidak langsung dari teks soal tetapi memerlukan gambar untuk memperjelas maksud soal. Subjek MDS dalam memahami masalah adalah melakukan upaya tertentu terlebih dahulu yang dengan menggunakan gambar. Subjek dalam memahami masalah melakukan serangkaian proses dan tidak secara langsung. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa subjek dalam memahami masalah tidak menerima begitu saja apa yang ada pada teks soal. Sehingga tidak ada kognisi segera yang digunakan subjek dalam memahami masalah. Jadi dapat dikatakan bahwa subjek MDS. Dari petikan wawancara, subjek MDS berusaha menggambar persegi kemudian menghitung keliling bangun yang dibentuk dari tiga persegi tersebut. Dari petikan wawancara, terlihat bahwa sebenarnya subjek MDS berusaha keras untuk dapat membuat rencana penyelesaian masalah. Namun akhirnya rencana yang diperoleh adalah menggunakan persegi sebagi gantinya lingkaran. Subjek MDS memandang bahwa dengan membuat persegi akan memudahkan untuk diukur panjangnya. Karena subjek memandang bahwa panjang sabuk sama dengan keliling persegi yang digambar. Dengan menggunakan penggaris mengukur keliling persegi mudah dilakukan. Tentu saja rencana yang digunakan subjek MDS adalah salah. Akhirnya rencana yang dibuat dengan membuat gambar persegi dan mencoba menggunakan gambar tersebut untuk menentukan panjang sabuk, yaitu panjang sabuk adalah panjang dari persegi-persegi yang dibuat yang diukur dengan penggaris. Oleh karena itu terdapat penggunaan kognisi segera dalam membuat rencana penyelesaian, sehingga dikatakan bahwa subjek MDS menggunakan intuisi. Di samping itu, karena perhitungan atau rumus pada rencana penyelesaian diperoleh dari mengamati gambar, maka intuisinya didasarkan dari indera dan imajinasi. Dengan memperhatikan apa yang dilakukan subjek MDS dalam melaksanakan rencana penyelesian, tampak bahwa subjek MDS langsung mengerjakan dengan menggunakan rencana yang dibuat. Subjek MDS tidak menggunakan cara lain selain dari apa yang telah di rencanakan. Dengan demikian pemikiran subjek MDS dalam melaksankan rencana penyelesaian dengan menggunakan pemikiran langsung yang berupa kognisi formal. Sehingga subjek MDS tidak menggunakan pemikiran yang berupa kognisi segera. Karena dalam melaksanakan rencana penyelesaian tidak ada kognisi segera, maka dikatakan bahwa subjek tidak menggunakan intuisi. Subjek MDS dalam memeriksa kembali jawaban dengan mengulangi dalam menjawab, yaitu dengan mengukur lagi persegi yang digambar. Subjek MDS juga tidak memeriksa lagi apakah cara yang digunkana sudah benar atau masih salah. Subjek MDS juga tidak melakukan cara lain untuk memeriksa kebenaran jawaban. Dengan demikian tidak ada pemikiran yang berupa kognisi segera yang dilakukan subjek MDS dalam memeriksa jawaban, sehingga dapat dikatakan bahwa subjek MDS dalam memeriksa jawaban tidak menggunakan intuisi. 2. Analisis data hasil wawancara kepada siswa untuk menggali kreativitas siswa dalam memecahkan masalah geometri a. Analisis Data wawancara Siswa Berkemampuan Matematika Tinggi dalam Menyelesaikan Masalah Analisis data ini dilakukan berdasarkan hasil wawancara berbasis tugas dengan memberikan lembar tugas pemecahan masalah sebagai berikut: Sebuah persegi dibagi seperti yang ditunjukkan berikut ini:

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 63 Gambar 2. Persegi 1. Berapa bagian ������ daerah persegi yang diarsir? 2. Tentukan ������ persegi yang diarsir tersebut dengan cara-cara yang kamu ketahui? 3. Adakah cara lain yang baru, untuk mencari ������ daerah persegi yang diarsir? Jika ada tunjukkan dan gunakan cara tersebut. 1) Soal Nomor 1 Soal yang pertama ini, didesain untuk mengukur kreativitas peserta didik dalam kriteria kefasihan. Subjek CECK mampu memenuhi kriteria kefasihan. Berikut cuplikan wawancara dan jawaban dengan subjek CECK. P- TA-7 : Apa yang Cynthia pahami dari pertanyaan tersebut? S-CECK.7 : Diminta mencari Luas daerah arsiran DEHG. P- TA-8 : Baik, kalau begitu dapatkah Cynthia kerjakan dan jelaskan mengenai pertanyaan tersebut S-CECK.8 : Dapat kak (sambil menggambar 2 persegi dengan panjang sisi yang telah diketahui) yaitu panjang sisi yang pertama 5 cm dan panjang sisi yang kedua adalah 4 cm Cynthia membuat perbandingan untuk mencari nilai FH untuk mencari panjang HE yaitu dengan cara HE=FE-FH. Kemudian Cynthia menentukan Luas daerah arsiran DEHG dengan cara L DEHG=L persegi DEFG-L segitiga HFG. Berdasarkan wawancara dan hasil jawaban peserta didik tersebut, kriteria kefasihan subjek CECK terungkap karena subjek CECK mampu menentuakn ������ daerah arsiran ���� dengan tepat dan lancar sehingga ������ daerah arsiran ���� yaitu 14,4 cm2. 2) Soal Nomor 2 Soal nomor 2 didesain untuk mengukur kreativitas peserta didik dengan kriteria fleksibilitas. Dalam menyelesaikan soal nomor 2 subjek CECK mampu memenuhi kriteria fleksibilitas, hal ini terlihat bahwa subjek CECK mampu mencari ������ daerah arsiran ���� dengan cara yang pernah didapatkan disekolah pada proses pembelajaran matematika. Berikut cuplikan wawancara dan jawaban subjek CECK. P- TA-10 : Baik sekarang kita ke nomor 2, coba dik Cynthia bacakan soalnya. S-CECK.10: Gunakan cara yang kamu ketahui untuk menyelesaikan permaslahan tersebut? P- TA-11 : Yang diperintahkan adalah mencari Luas daerah arsiran DEHG dengan cara yang telah diketahui. S-CECK.11: Ya kak, saya mau coba menggunakan cara yang telah saya dapat dari sekolah dulu (sambil menggambar trapesium). Berdasarkan cuplikan wawancara dan jawaban subjek CECK tersebut, tampak jelas subjek CECK dengan mudah menyelesaikannya, hal ini dimungkinkan subjek tersebut sudah hafal dengan rumus mencari ������ daerah arsiran menggunakan ������ trapesium. Peneliti juga mencoba menanyakan terkait konsep ������ daerah arsiran dan subjek CECK ternyata memahami konsep ������ bangun datar dalam hal ini trapesium sehingga subjek pun bisa memberikan cara yang pernah ia dapat dalam mencari ������ daerah arsiran ���� berdasarkan konsep yang dihapami, oleh karena itu penulis menyimpulkan bahwa subjek CECK mememuhi kriteria fleksibilitas. Berikut wawancara dan jawabannya. P- TA-12 : Selanjutnya apa yang harus dilakukan? Sebelum Cynthia

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 64 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 mencari cara yang berbeda tersebut, apa yang Cynthia pahami tentang Luas trapesium? S-CECK.12: Jumlah sisi sejajar di bagi dua di kali tinggi kak. P- TA-13 : Nah kalau begitu bisa dik sintia jabarkan atas apa yang dipikirkan? S-CECK.13: Ya ya kak, bisa kak. P- TA-14 : Maka kalau begitu Cynthia bisa menemukan cara yang lain untuk mencari Luas daerah arsiran DEHG. S-CECK.14: Ya kak. P- TA-15 : Bagimana S-CECK.15: Luas Trapesium=((3,2+4))/2.4 (sambil menulis dilembar jawaban). Maka Luas daerah arsiran DEHG=14,4 cm2 3) Soal Nomor 3 Soal nomor 3 didesain untuk mengukur kreativitas peserta didik dalam kriteria kebaruan. Dalam mengerjakan soal nomor 3 subjek CECK mampu memenuhi kriteria kebaruan. Berikut cuplikan wawancara dan jawaban dengan subjek CECK S-CECK.16: Adakah cara baru untuk memecahkan permasalahan tersebut, jika ada tunjukkan dan gunakan cara tersebut. P- TA-17 : Apakah dik Cynthia paham dengan pertanyaan tersebut? S-CECK.17: Paham kak, saya terinspirasi memakai cara saya sendiri dengan menggunakan perbandingan. P- TA-18 : Baik, kemudian bagaimana lagi? S-CECK.18: Mencari Luas. P- TA-19 : Berapa Luasnya? S-CECK.19: 14,4 cm2 (Luasnya sama dengan jawaban ke 1 dan ke dua). Berdasarkan hasil jawaban subjek CECK terlihat jelas bahwa ������ daerah arsiran ���� untuk soal nomor 3 adalah 14,4 ����2. Hal ini terlihat bahwa subjek CECK dapat menemukan cara baru sendiri. W alaupun subjek CECK menentukan ������ daerah ���� menggunakan cara ������ daerah ����=������ ������������ ����−������ �������������� ��� namun dari hasil wawancara subjek CECK menyatakan bahwa itu merupakan cara dia sendiri untuk menyelesaikan pertanyaan nomor 3. Ini berarti subjek CECK memenuhi kriteria kebaruan. Dari hasil wawancara di atas, dapat diperoleh hasil berikut: Tabel 1. Hasil wawancara Soal Tes Kriteria kreativitas yang diperoleh Soal No.1 Peserta didik CECK mampu mencari luas daerah yang diarsir ���� dengan lancar dan benar sehingga peserta didik CECK mampu memenuhi kriteria kefasihan. (S- CECK.7 –=pJ=CECKK8)=Soal No.O=Peserta didik CECK mampu menentukan luas daerah arsiran ���� dengan benar menggunakan cara yang diperoleh di sekolah, dalam hal ini peserta didik CECK mampu memenuhi kriteria fleksibelitas. (S- CECK.10 - S- CECK.15) Soal No.3 Peserta didik CECK memenuhi kreativitas kriteria kebaruan karena subjek mampu mencari luas daerah arsiran ���� dengan cara dia sendiri dengan benar. Hal ini di katakan oleh subjek saat diadakan wawancara dan menjawab pertanyaan. Dia menyatakan bahwa jawabannya merupakan hasil pemikiran dia sendiri. (S- CECK.16 –=pJ=CECKK19F=Berdasarkan hasil di= atas, maka= dapat disimpulkan bahwa subjek= CECK=mampu memenuhi=karakteristik kefasihan, fleksibilitas dan kebaruan=(Tingkat kreativitas 4). b. Analisis Data wawancara Siswa Berkemampuan Matematika rendah dalam Menyelesaikan Masalah 1) Soal Nomor 1 Pada soal yang pertama ini peserta didik MDS tidak mampu memenuhi

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 65 kreativitas kriteria kefasihan, hal ini terlihat peserta didik MDS tidak mampu menentukan luas daerah arsiran ����. Berikut cuplikan wawancara dan jawaban dengan peserta didik MDS. P-VS-4 : Baik, dari soal tersebut apa yang bisa Denis tangkap atau pahami? S- MDS.4 : Untuk soal no.1 diperintahkan mencari luas daerah yang diarsir DEHG. P-VS-5 : Kalau begitu dapatkah Denis jelaskan dan jawab pada lembar penyelesaian? S- MDS.5 : Ya kak, saya coba. (peserta didik Denis mencoba menjelaskan jawabannya) P-VS-6 : Bisa ditunjukkan langkah-langkahnya? S- MDS.6 : Bisa kak, saya menggunakan pytagoras terlebih dahulu kak. Subjek MDS diduga belum paham konsep pytagoras sehingga untuk mencari panjang sisi yang lain pun subjek MDS kesulitan, berikut cuplikan wawancara dan jawabannya P-VS-7 : Baik, apakah benar mencari BG sebagai sisi miring? S- MDS.7 : Ya kak. P-VS-8 : Bisa Denis langkah selanjutnya? S- MDS.8 : Iya kak bisa. (Subjek mengerjakan di kertas) Berdasarkan jawaban subjek MDS, bahwasanya MDS menjawab pertanyaan nomor 1 tidak tepat. Hal ini menunjukkan bahwa subjek MDS salah konsep dalam menyelesaikan soal tersebut. 2) Soal Nomor 2 Pada soal yang kedua ini peserta didik MDS tidak mampu memenuhi kreativitas kriteria fleksibelitas, hal ini terlihat peserta didik MDS menjawab pertanyaan dengan kebingungan. Berikut cuplikan wawancara dan jawaban dengan peserta didik MDS. P-VS-9 : Baik, sekarang kita menuju soal yang kedua. Sambil saya bacakan, tolong disimak “Gunakan cara yang kamu ketahui untuk menyelesaikan permasalahan tersebut” S- MDS.9 : Ya kak, saya paham dengan pertanyaan ini, tapi saya merasa belum pernah mendapatkan cara-cara untuk menyelesaikan soal nomor 2 ini. P-VS-10 : Apakah denis tidak pernah membaca di buku, internet, bahkan sumber belajar yang lain untuk menyelesaikan permasalahan ini? S- MDS.10 : Tidak pernah kak. P-VS-11 : Benarkah tidak pernah? S- MDS.11 : Ia kak benar. 3) Soal Nomor 3 Pada soal yang ketiga ini, subjek MDS mampu memenuhi kriteria fleksibilitas, hal ini terlihat bahwa subjek MDS mampu mencari keliling bangun datar persegi panjang dengan cara yang berbeda mencari keliling persegi panjang tersebut. Berikut cuplikan wawancara dan jawaban dengan subjek MDS P-VS-12 : Baik sekarang kita menuju soal yang no. 3. Tolong disimak sambil saya bacakan. Adakah cara baru, untuk memecahkan permasalahan tersebut? Jika ada tunjukkan dan gunakan cara tersebut? S- MDS.12 : Saya tidak memiliki cara baru kak untuk menyelesaikan soal nomor 3 ini. P-VS-13 : Coba direnungkan terlebih dahulu. S- MDS.13 : Ya kak. Saya benar-benar tidak punya cara yang baru. Dari analisis data di atas, diperoleh hasil sebagai berikut:

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 66 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Tabel 2. Hasil W awancara Soal Tes Tes Soal Pertama Peserta didik MDS tidak mampu menentukan Luas daerah arsiran ���� sehingga peserta didik MDS tidak mampu memenuhi kreativitas kriteria kefasihan. (S- MDS.4–=pJ=MDpK8)=Soal Kedua =Peserta didik MDS tidak mampu membuat menentukan= Luas= daerah= arsiran ���� dengan cara yang pernah didapatkan, sehingga peserta didik MDS tidak mampu memenuhi kreativitas kriteria fleksibelitas. (S- MDS.9–pJ=MDpK11F=Soal Ketiga=Peserta didik MDS juga= tidak mampu membuat menentukan= Luas= daerah=arsiran ���� dengan caranya sendiri, sehingga peserta didik MDS tidak mampu memenuhi kreativitas kriteria kebaruan. (S- MDS.12 –=pJ=MDpK13F=Kesimpulan :=Berdasarkan nasil di= atas, =maka= dapat disimpulkan bahwa subjek= MDS tidak memenuhi=karakteristik kefasihan, fleksibilitas dan kebaruan=(Tingkat kreativitas 0). 3. Kaitan antara intuisi dan kreativitas siswa dalam memecahkan permasalahan geometri. Dengan memperhatikan hasil-hasil diatas, bahwa subjek yang berkemampuan tinggi dalam memecahkan masalah geometri, terutama pada upaya untuk membuat rencana penyelesaian masalah menggunakan intuisi dan intuisinya didasarkan dari pemikiran matematematis. Sedangkan pada subjek yang berkemampuan matematika rendah, walaupun juga menggunakan intuisi dalam memecahkan masalah namun intuisi yang digunakan adalah intuisi yang didasarkan dari indera yaitu dengan mengamati gambar. Selain itu tampak bahwa intuisi yang digunakan subjek 1 memperoleh jawaban yang benar sedangkan intuisi yang digunakan oleh subjek yang berkemampuan matematika rendah tidak dapat digunakan menyelesaikan masalah. Bila diperhatikan dari kreativitas yang dimiliki oleh subjek yang berkemampuan tinggi, menunjukka bahwa tingkat kreativitas yang dimiliki adalah tingkat kreativitas 4. Sedangkan tingkat kreativitas yang dimiliki subjek yang berkemampuan matematika rendah adalah tingkat kreativitas 0. Dari hasil tersebut Nampak terdapat kaitan antara intuisi yang digunakan untuk memecahkan masalah dengan tingkat kreativitas siswa. Siswa yang tingkat kreativitasnya tinggi cenderung memiliki intuisi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah geometri dengan tepat, sebaliknya siswa dengan tingkat kreativitas rendah memiliki intuisi yang menghasilkan jawaban yang tidak tepat. SIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan a. Profil intuisi yang digunakan siswa yang berkemampuan tinggi dalam memecahkan masalah geometri adalah intuisi yang didasarkan pada pemikiran matematis dan intuisinya cenderung dapat menyelesaikan masalah dengan tepat, sedangkan intuisi yang digunakan siswa yang berkemampuan matematika rendah adalah intuisi yang didasarkan pada indera dan intuisinya cenderung menghasilkan jawaban yang tidak tepat. b. Tingkat kreativitas siswa yang berkemampuan matematika tinggi berada pada tingkat kreatifitas 4, yang memenuhi karakteristik kefasihan, fleksibilitas dan kebaruan, sedangkan Tingkat kreativitas siswa yang berkemampuan matematika rendahi berada pada tingkat kreatifitas 0, yang tidak memenuhi semua karakteristik kefasihan, fleksibilitas dan kebaruan.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 67 c. Siswa dengan tingkat kreativitas tinggi (tingkat 4) mempunyai intuisi yang didasarkan pada pemikiran matematis, sedangkan siswa dengan tingkat kreativitas rendah (tingkat 0) mempunyai intuisi yang didasarkan pada indera. 2. Saran a. Dengan memperhatika hasil penelitian bahwa intuisi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah dengan tepat adalah intuisi yang didasarkan pada pemikiran matematis, maka untuk dapat menghasilkan intuisi yang baik diperlukan kegiatan pembelajaran yang menekankan untuk terbiasa memunculkan dan menggunakan intuisi yang tepat (tidak hanya hanya sekedar intuisi) sehingga siswa akan terlatih dalam memunculkan intuisi yang tepat dalam mmecahkan masalah. b. Perlu ada upaya pengembangan model pembelajaran yang lebih menekankan pada peningkatan tingkat kreativitas siswa, misalnya menggunakan pembelajaran yang lebih menekankan pada penyelesaian permasalahan divergen atau pemberian soal-soal open ended, sehingga siswa meningkat karakteristik kreativitas, yaitu kefasihan, fleksibilitas dan kebaruan dalam memecahkan masalah geometri. DAFTAR PUSTAKA Budi Usodo, Ponco Sujatmiko 2006. Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Pada Pembelajaran Matematika Di SMA (Upaya untuk Meningkatkan Kemampuan Problem Solving Siswa SMA). Penelitian tidak dipublikasikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta. Budi Usodo, Ponco Sujatmiko, Dyah Ratri A. 2013. Pengembangan Model Pembelajaran berbasis Pada Pengembangan Intuisi untuk meningkatkan kemampuan Pemecahan Masalah Siswa SMA. Penelitian tidak dipublikasikan. UNS Bruner, J.S. 1974 ‘Bruner on the learning of mathematics – A “process” orientation. Dalam Aichele, D.B., Readings in Secondary School Mathematics. Boston : Prindle, Weber, & Schmidt. Edward, Betty. 1996. The Left and Right Sides of the Brain. http://members. ozemail. com.au. Download 3 Juli 2009 Fischbein, E. 1999. Intuitions and Schemata in Mathematical Reasoning. Educational Studies in Mathematics. 38,11–50. Fischbein, E. & Schnarch, D. 1996. The Evolution With Age of Probabilistic, Intuitively based Misconseptions. Journal Reasearch Teacher and Mathematics Education. Vol No. Vol 28. Fischbein, E., Grossman, A. 1997, “Schemata and Intuitions in Combinatorial Reasoning’,Educational Studies in Mathematics 34, 27–47 Fischbein, E. 1994. “The Interaction between the Formal, the Algorithmic, and the Intuitive Components in a Mathematical Activity”. In R. Biehler, R. W. Scholz, R. Sträßer, & B. Winkelmann (Eds.), Didactics of Mathematics as a Scientific Discipline (pp.231-245). Dordrecht: Kluwer Academic Publishers. Herman Hudoyo. 1988. Mengajar Belajar matematika. Jakarta : Dirjen DIKTI Henden, G. 2004. “Intuition and Its Role in Strategic Thinking”. Unpublished Dissertation. BI Norwegian School of Management Kemendikbud. 2013. Bahan Penyegaran Nara Sumber Pelatihan Guru untuk Implementasi Kurikulum 2013 Jakarta, 26-28 Juni 2013 Krisnawati, E. 2012 Kreativitas Siswa Dalam Memecahkan Masalah Matematika

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 68 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Divergen Berdasarkan Kemampuan Matematika Siswa. MATHE unesa, 1.1. ejournal.unesa.ac.id. ISO 690. Kneeland, Steve.2001. Pemecahan Masalah. Terjemahan Kusnandar. Jakarta: Elex Media Komputindo Leikin, R. and Lev, M. 2007. Proceedings of the 31st Conference of the International Group for the Psychology of Mathematics Education, Vol. 3, pp. 161-168. Seoul: PME. Mardjuki, Budi Usodo. 2005. Pengembangan Intuisi Siswa Sekolah Menengah Atas Dalam Memecahkan Masalah Matematika, Penelitian tidak dipublikasikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta Munandar, U. 2009. Pengembangan kreativitas anak berbakat. Jakarta: Rineka Cipta. Mustaji, Sugiarso. 2005. Pembelajaran Berbasis Kunstruktivistik. Surabaya : University Press UNESA Rusda, Q.L. & Azizah, U. 2012. Implementation Of Problem Solving Model To Train Students Creative Thinking Skill. Unesa Journal of Chemical Education Vol. 1, No. 2, pp. 40-45. ISSN: 2252-9454. Siswono, T.Y.E. 2008. Model Pembelajaran Matematika Berbasis Pengajuan Dan Pemecahan Masalah Untuk Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kreatif. Surabaya :Unesa university press. Siswono, T.Y.E. 2011. Level of student’s creative thinking in classroom mathematics. Educational Research and Review Vol. 6 (7), pp. 548-553. Tall, D. 1991. Intuition and rigour :the role of visualization in the calculus, Visualization in Mathematics (ed. Zimmermann & Cunningham), M.A.A., Notes No. 19, 105–119 TANYA JAWAB Penanya : Agung Nugroho CS Pemakalah : Budi Usodo Pertanyaan : Bagaimana cara pengambilan data intuisi siswa dan guru agar data tidak bias? Jawaban : Dengan wawancara berbasis tugas, dengan dipandu pedoman wawancara yang mengacu pada karakteristik intuisi siswa, yaitu self evident, ekstrapolatif, holistic. Agar datanya valid dilakukan dengan triangulasi waktu, memperpanjang keikutsertaan dan kecukupan referensi.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 69 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEAM ASSISSTED INDIVIDUALIZATION (TAI) DENGAN MACROMEDIA FLASH UNTUK MENINGKATKAN PROSES DAN HASIL BELAJAR KIMIA KELAS X-1 SEMESTER GENAP DI SMA KEBAKKRAMAT KARANGANYAR Budi Utami1,* 1Dosen Prodi Pendidikan Kimia, PMIPA, FKIP, Universitas Sebelas Maret, Surakarta *Keperluan korespondensi: bu_uut@yahoo.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan: 1) menerapan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) berbantuan macromedia flash untuk meningkatkan kualitas proses belajar siswa pada materi kimia hidrokarbon kelas X-1, 2) menerapan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) berbantuan macromedia flash untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi kimia hidrokarbon kelas X-1. Metode penelitian yang dilaksanakan adalah Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari dua siklus. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X-1 SMA Negeri Kebakkramat Karanganyar tahun pelajaran 2013/2014. Sumber data berasal dari guru dan siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes dan non tes. Analisis data merupakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) berbantuan macromedia flash dapat meningkatkan kualitas proses belajar siswa pada materi kimia hidrokarbon kelas X-1 yaitu 1) Siswa mencatat materi yang disampaikan guru sebanyak 97% pada siklus I, meningkat 100% pada siklus II, 2) Siswa bertanya mengenai materi yang diajarkan sebanyak 47% pada siklus I dan meningkat menjadi 67% pada siklus II, 3) Siswa mengerjakan soal latihan dalam kelompok sebanyak 88% pada siklus I dan meningkat menjadi 100% pada siklus II, 4) Siswa menjawab pertanyaan guru tanpa ditunjuk sebanyak 33% pada siklus I dan meningkat menjadi 50% pada siklus II, 5) Siswa memberikan ide/gagasan dalam pemecahan masalah sebanyak 66% pada siklus I dan meningkat menjadi 83% pada siklus II, 6) Siswa mengajukan pertanyaan pada kelompok yang presentasi sebanyak 33% pada siklus I dan meningkat menjadi 42% pada siklus II. Penerapan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) berbantuan macromedia flash dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi kimia hidrokarbon kelas X-1 yaitu 1) Persentase hasil belajar kognitif pada siklus I sebesar 36,11 % meningkat menjadi 77,78 % pada siklus II. 2) Persentase hasil belajar afektif pada siklus I adalah 83,42 % dan pada siklus II adalah 83,44 %. Kata Kunci: model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI), hasil belajar, hidrokarbon, macromedia flash PENDAHULUAN Mata pelajaran kimia merupakan salah satu mata pelajaran wajib bagi siswa SMA jurusan Ilmu Pengetahuan Alam. Kimia sangat perlu dipelajari karena berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian besar siswa, mata pelajaran kimia dirasa sulit sehingga menyebabkan prestasi belajar rendah atau di bawah Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). SMA Negeri Kebakkramat merupakan salah satu sekolah menengah atas negeri di Kabupaten Karanganyar. SMA Negeri Kebakkramat memiliki 30 kelas, dengan masing-masing tingkatan sebanyak 10 kelas. SMA Negeri Kebakkramat menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang cukup tinggi untuk mata pelajaran kimia kelas X tahun ajaran 2013/2014 yaitu 75. Siswa dengan nilai di atas 75 dinyatakan tuntas, sedangkan siswa dengan nilai di bawah 75 dinyatakan tidak tuntas sehingga perlu mengikuti remedial. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kimia serta observasi kelas X di SMA Negeri Kebakkramat pada tanggal 15 Januari

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 70 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 2014, metode pembelajaran yang selama ini digunakan adalah metode konvensional, yaitu metode ceramah dan diskusi disertai lembar kerja siswa. Penggunaan metode ini kurang efektif karena interaksi antara guru dan siswa hanya berlangsung satu arah saja. Saat kegiatan pembelajaran berlangsung, hanya sedikit siswa yang mengajukan pertanyaan maupun mengemukakan pendapat. Masih banyak siswa yang belum menguasai konsep-konsep kimia dengan baik, sehingga ketika menyelesaikan persoalan dalam kimia khususnya materi hidrokarbon merasa kesulitan. Hal tersebut dapat dilihat dari prestasi belajar siswa pada materi hidrokarbon tahun ajaran 2011/2012 dan 2012/2013 dari kelas yang memiliki persentase ketuntasan rendah yakni kelas X-1. Persentase ketuntasan siswa kelas X-1 untuk materi pokok hidrokarbon selama dua tahun terakhir ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Nilai Rata-rata Kimia Hidrokarbon Kelas X-1 Semester II SMA Negeri Kebakkramat Karanganyar Kelas Tahun Pelajaran 2011/2012 Tahun Pelajaran 2012/2013 KKM Ketuntasan (%) KKM Ketuntasan (%) X-1 70 50 75 13,8 (Sumber: Daftar Nilai Siswa Kelas X-1) Prosentase ketuntasan yang rendah tersebut mengindikasikan adanya permasalahan-permasalahan dalam proses pembelajaran kimia di SMA Negeri Kebakkramat. Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa-siswi kelas X, permasalahan tersebut antara lain: 1) mendominasinya penggunaan metode ceramah yang membuat siswa bosan, 2) minat belajar siswa terhadap pelajaran kimia rendah karena menganggap kimia sebagai pelajaran yang sulit, 3) kurangnya penggunaan media pembelajaran yang sesuai dengan materi kimia, 4) keaktifan siswa di kelas yang masih tergolong rendah, hanya beberapa siswa saja yang mau mengajukan pertanyaan maupun menjawab pertanyaan, 4) kemampuan siswa dalam menganalisis materi baru relatif rendah karena kegiatan pembelajaran yang monoton. Hal ini diindikasikan banyak siswa yang mengeluh kesulitan dalam mempelajari materi baru dan menghubungkan dengan materi yang telah lalu. Dengan adanya permasalahan-permasalahan di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar yang rendah disebabkan karena pembelajaran di kelas berpusat kepada guru (teacher center learning). sehingga siswa menjadi pasif. Oleh karena itu guru harus dapat mengubah cara mengajar menjadi berpusat kepada siswa (student center learning), agar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menganalisis materi sehingga nantinya akan meningkatkan prestasi belajar siswa. Karakteristik materi hidrokarbon berisi hafalan yang memerlukan pemahaman konsep pada siswa. Kemampuan siswa dalam memahami dan menganalisis materi ini tentu saja berbeda-beda. Ada siswa yang mudah memahami materi dan ada siswa yang sulit memahami materi. Oleh karena itu diperlukan usaha yang dapat mempermudah siswa dalam memahami dan menganalisis materi dengan baik. Dalam hal ini dibutuhkan metode pembelajaran yang sesuai dan penggunaan media pembelajaran sebagai penunjang untuk mempermudah dalam mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Kasboelah (2001: 21) untuk meningkatkan kualitas praktik pembelajaran di sekolah, relevansi pendidikan, mutu hasil pendidikan, serta efisiensi pengelolaan pendidikan, dapat dilaksanakan melalui Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh guru maupun pengajar untuk mencermati kegiatan pembelajaran peserta didik dengan memberikan suatu treatment atau tindakan. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas belajar siswa SMA Negeri Kebakkramat khususnya pada materi

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 71 pokok Hidrokarbon di kelas X dilakukan penelitian tindakan kelas dengan metode dan media pembelajaran yang mampu menciptakan kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan dan meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Dalam penelitian ini kualitas proses selama proses pembelajaran meliputi aspek pengamatan selama proses pembelajaran di kelas yaitu siswa mencatat materi yang disampaikan oleh guru, siswa bertanya mengenai materi yang diajarkan, siswa aktif mengerjakan soal latihan, siswa menjawab pertanyaan guru tanpa ditunjuk, siswa memberikan ide dalam pemecahan masalah dan bertanya pada kelompok yang presentasi. Dan ini hasil belajar yang dimaksud adalah ketuntasan belajar siswa yang meliputi aspek kognitif, dan afektif. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi berbagai permasalahan dalam pembelajaran kimia adalah dengan menerapkan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI). Model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) merupakan metode pembelajaran secara kelompok dimana ada salah satu anggota kelompok yang menjadi assisten yang bertugas membantu teman dalam kelompoknya yang kurang mampu. TAI memiliki berbagai dinamika motivasi karena para siswa saling mendukung dan saling membantu satu sama lain untuk berusaha keras karena mereka semua menginginkan tim mereka berhasil. Tanggung jawab individu bisa dipastikan hadir karena satu – satunya skor yang diperhitungkan adalah skor akhir dan siswa melakukan tes akhir tampa bantuan teman satu timnya (Slavin, 2008:15). Berdasarkan penelitian Awofala, (2013) menyatakan bahwa metode pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) lebih efektif daripada metode tradisional karena siswa memiliki kesempatan untuk bekerja sama dalam tim , berbagi pandangan dan pendapat, dan terlibat dalam pemikiran untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan kinerja matematik. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan Ariani, Mulyani dan Yulianingrum menyebutkan bahwa pembelajaran dengan metode kooperatif TAI dilengkapi modul dan penilaian portofolio dapat meningkatkan prestasi belajar penentuan ΔH reaksi siswa. Dalam penelitian ini diharapkan penggunaan macromedia flash, mampu mengefektifkan pembelajaran dan mendukung dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa pada materi Hidrokarbon. Macromedia flash merupakan sebuah program yang digunakan untuk membuat animasi multimedia yang interaktif dan website yang dinamis (Darmawan, 2011 : 232). Menurut Leveille John dan Leveille Joey (2009 : 1) macromedia flash adalah lingkungan berbasis animasi vektor yang memungkinkan penciptaan yang sangat dinamis dan pengalaman multimedia interaktif. Pengalaman ini dapat disampaikan melalui web atau sebagai aplikasi yang berdiri sendiri. Keunggulan macromedia flash lain adanya fasilitas timeline yang siap digunakan untuk membuat game, presentasi multimedia, animator, pembuat halaman web dan untuk pelajaran maupun pengajar multimedia. Pembelajaran dengan macromedia flash dapat membuat proses belajar mengajar lebih menarik dan siswa tidak merasa bosan. Pemilihan media macromedia flash untuk materi hidrokarbon didasarkan pada pertimbangan kemampuan spasial/abstrak dan visual siswa. Kemampuan spasial adalah kemampuan siswa untuk membayangkan suatu benda dalam pikiran. Dalam indikator kompetensi materi pokok Hidrokarbon yaitu sifat fisik dan sifat kimia senyawa hidrokarbon, kemampuan spasial siswa sangat dibutuhkan. Sedangkan dalam indikator materi mengidentifikasi unsur C, H, O dalam senyawa organik serta menentukan tata nama senyawa hidrokarbon diperlukan kemampuan visual siswa. Penyajian media macromedia flash ini dilengkapi dengan gerakan-gerakan dan warna-warna yang menarik. Pembelajaran menggunakan multimedia efektif untuk mempelajari pelajaran kimia karena dapat membantu menjelaskan materi yang abstrak, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa (Lou, Lin, Shih, Tseng, 2012:135-141). Hasil penelitian Pekdag (2010 : 4) disimpulkan bahwa teknologi informasi

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 72 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 dan komunikasi memberikan peluang ynag signifikan untuk pembelajaran kimia. Selain itu, penggunaan metode dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi lebih menguntungkan dan efektif. Demikian pula hasil penelitian Liswijaya (2012) menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran berbantuan komputer dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik pada materi kimia kelas X pada materi reaksi reduksi oksidasi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut pada kelas eksperimen siswa yang mencapat ketuntasan belajar sebanyak 27 siswa dan hanya 2 siswa yang belum tuntas, sedangkan pada kelas kontrol sebanyak 20 siswa tuntas dan 9 siswa belum tuntas. Dengan demikian diharapkan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) berbantuan macromedia flash dapat membuat siswa lebih tertarik dalam mempelajari kimia khususnya materi Hidrokarbon, karena di dalam macromedia flash disajikan animasi unik yang memudahkan siswa dalam memahami materi Hidrokarbon. Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Apakah model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) berbantuan macromedia flash dapat meningkatkan kualitas proses belajar siswa kelas X pada materi pokok Hidrokarbon? 2) Apakah model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) berbantuan macromedia flash dapat meningkatkan kualitas hasil belajar siswa kelas X pada materi pokok Hidrokarbon? METODE PENELITIAN Subjek penelitian adalah siswa kelas X-1 semester genap tahun ajaran 2013/2014 di SMA Kebakkramat Karanganyar. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini mencakup data yang dikumpulkan dari siswa yaitu :1) Nilai dari hasil pengamatan proses belajar siswa yaitu keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas-tugas individual, 2) Nilai dari hasil pengamatan proses belajar siswa yaitu keaktifan siswa dalam kerja kelompok, diskusi dan presentasi, 3) jawaban siswa dalam menyelesaikan soal post tes dan ulangan harian, 4) catatan lapangan dan 5) dokumentasi. Sumber data dikumpulkan dari berbagai sumber yang meliputi: 1) Narasumber yaitu guru dan siswa , 2) hasil observasi peneliti pada pembelajaran kimia materi Hidrokarbon semester genap tahun ajaran 2013/2014, 3) hasil tes siklus. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan post tes, lembar penilaian proses belajar dan angket. Validitas data dicek dengan teknik triangulasi, dalam hal ini beberapa data mengenai siswa dikonfirmasi berdasarkan imformasi atau data yang dimiliki dosen dan anggota penelitian. Analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif yang dikembangkan Miles dan Huberman (1992) yang terdiri dari tiga tahap kegiatan yaitu : 1) mereduksi data, 2) menyajikan data dan 3) menarik kesimpulan dan verifikasi. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif sedangkan jenis penelitiannya adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Desain penelitian yang digunakan mengacu pada model Kemmis dan M.C.Taggart (1988) yang terdiri dari : (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi dan (4) refleksi. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas X-1 SMA Negeri Kebakkramat Karanganyar tahun pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 36 siswa. Data yang diperoleh dalam penelitian adalah prestasi belajar dan kualitas proses belajar siswa pada materi pokok hidrokarbon menggunakan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI). Dalam penelitian ini dilakukan observasi untuk mengetahui aktivitas siswa saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung. Hasil pengamatan pada siklus I dan II dapat dilihat pada Tabel 1.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 73 Tabel 1. Hasil Observasi Kegiatan Siswa Kelas X-1 SMA Negeri Kebakkramat Karanganyar Tahun Pelajaran 2013/2014 pada siklus I dan II No Observasi Pertemuan ke- (Jumlah siswa) Siklus I Rata-rata Rata-rata (%) Siklus II Rata-rata (%) 1 2 3 4 1 1 Siswa mencatat materi yang disampaikan guru 33 36 36 35 35 97.22 36 100 2 Siswa bertanya mengenai materi yang diajarkan 0 8 12 15 17 47.22 24 66.67 3 Siswa aktif mengerjakan soal latihan 14 20 24 30 32 88.00 36 100.00 4 Siswa menjawab pertanyaan guru tanpa ditunjuk 2 4 5 9 12 33.33 18 50.00 5 Siswa memberikan ide/gagasan dalam pemecahan masalah 12 13 18 20 24 66.67 30 83.33 6 Siswa mengajukan pertanyaan pada kelompok yang presentasi 10 9 13 15 12 33.33 15 41.67 Pada siklus I dapat diketahui bahwa siswa sudah tampak antusias belajar di kelas karena guru menerapkan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) berbantuan macromedia flash. Materi yang akan dibahas adalah identifikasi unsur-unsur dalam senyawa hidrokarbon, kekhasan atom karbon, kedudukan atom karbon dan penggolongan senyawa hidrokarbon berdasarkan bentuk rantai dan kejenuhan ikatan. Guru mengawali pembelajaran dengan mengkondisikan siswa,mengecek kehadiran siswa, dan memberikan apersepsi berupa pertanyaan kepada siswa terkait materi yang diajarkan. Pada kegiatan inti guru menjalankan ekperimen virtual menggunakan macromedia flash terkait identifikasi unsur C, H dan O dalam senyawa karbon. Pertemuan selanjutnya materi yang disampaikan adalah tatanama senyawa alkana dan membuat struktur alkana., tatanama alkena dan alkuna. Penyampaian materi menggunakan macromedia flash. Guru hanya memberikan garis besar materi kemudian siswa berdiskusi dalam kelompok memecahkan masalah berupa soal tatanama senyawa alkana dan membuat struktur alkana., tatanama alkena dan alkuna. Siswa berdiskusi dengan kelompok memecahkan masalah yang diajukan oleh guru dengan dibimbing seorang asisten tiap kelompok. Jika ada siswa yang masih kesulitan dalam menjawab soal-soal yang diberikan oleh guru, siswa berdiskusi dalam kelompok, bersama-sama memecahkan masalah dan dibantu oleh asisten. Dari hasil pengamatan selama proses pembelajaran siklus I siswa aktif mencatat materi yang disampaikan guru, siswa bertanya mengenai materi yang diajarkan pada asisten, siswa bersemangat mengerjakan soal latihan, siswa menjawab

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 74 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 pertanyaan guru tanpa ditunjuk, siswa memberikan ide/gagasan dalam pemecahan masalah dan siswa mengajukan pertanyaan pada kelompok yang presentasi. Pada akhir pembelajaran, guru memberikan soal evaluasi untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari. Untuk penilaian aspek kognitif siklus I dan II dilakukan dengan memberikan tes berupa soal pilihan ganda. Data ketuntasan belajar kognitif disajikan secara ringkas pada Tabel 2. Tabel 2. Ketuntasan Belajar Kognitif Materi Hidrokarbon Kategori Siklus I Siklus II Jumlah Siswa Persentase (%) Jumlah Siswa Persentase (%) Tuntas 13 36,11 28 77,78 Tidak Tuntas 23 63,89 8 22,22 Berdasarkan hasil tersebut, terdapat 2 indikator kompetensi yang belum tuntas, namun masih terdapat soal yang belum tuntas dengan indikator soal: 1) Siswa dapat memperkirakan senyawa hasil identifikasi unsur C, H dan O dalam senyawa karbon, berdasarkan data hasil percobaan, 2) Siswa dapat menentukan titik didih tertinggi dari senyawa homolog alkana, 3) Siswa dapat menentukan titik didih terendah dari beberapa senyawa hidrokarbon berdasarkan data yang disajikan, 4) Diberikan rumus molekul hidrokarbon, siswa dapat menentukan jumlah isomer dari senyawa hidrokarbon, 5) Siswa dapat mengkategorikan jenis rekasi oksidasi, subtitusi, adisi, atau eliminasi dari suatu reaksi senyawa hidrokarbon. Karena itu perlu dilakukan siklus II untuk memperbaiki pembelajaran sehingga semua indikator dapat tercapai. Ketidaktercapaian target untuk hasil belajar kognitif dimungkinkan karena siswa masih terlalu pasif dalam berdiskusi memecahkan masalah dengan kelompoknya, Jumlah anggota kelompok terlalu banyak, yaitu 6 anak, membuat hanya beberapa anak yang aktif mengerjakan sedangkan yang lain hanya menerima hasil diskusi dan mencatatnya. Oleh karena itu pada siklus II jumlah anggota kelompok akan direduksi menjadi 4 orang. Model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) merupakan model pembelajaran berpusat pada siswa, dimana siswa secara berkelompok menyelesaikan permasalahan dalam pembelajaran kimia dibantu oleh asisten teman sebaya. Proses pembelajaran didominasi oleh kegiatan siswa sehingga guru hanya membimbing dan memfasilitasi setiap kelompok dalam menyelesaikan soal diskusi. Berdasarkan hasil tes kognitif terjadi peningkatan jumlah siswa yang tuntas dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I hanya 13 siswa tuntas dari 36 siswa atau sebesar 36,11 %. Hasil tes kognitif pada siklus I belum sesuai dengan target ketuntasan yang diharapkan yaitu 50 % siswa tuntas. Selanjutnya dilakukan siklus II terhadap indikator yang belum tuntas dan dilakukan tes kognitif siklus II. Pada siklus II sebanyak 28 dari 36 siswa tuntas atau sebesar 77,78 %. Hal ini sudah sesuai dengan target ketuntasan siswa yang diharapkan yaitu 60 % siswa tuntas. Berikut histogram yang menyatakan ketuntasan hasil belajar kognitif siswa pada siklus I dan siklus II terdapat pada Gambar 1. Gambar 1. Histogram Kriteria Ketuntasan Hasil Belajar Kognitif Siklus I dan II Persentase Ketuntasan (%)Kriteria KetuntasanSiklus Isiklus II

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 75 Prestasi belajar aspek afektif juga diukur dalam penelitian ini menggunakan angket. Data hasil belajar aspek afektif siklus I dan siklus II disajikan secara ringkas dalam Tabel 3. Tabel 3. Hasil Belajar Aspek Afektif Siswa Siklus I dan Siklus II Aspek Capaian (%) Siklus I Siklus II Sikap 86,71 86,57 Minat 80,00 81,39 Nilai 86,48 85,18 Konsep Diri 80,89 81,43 Moral 83,03 82,61 Rata-rata 83,42 83,44 Berdasarkan penilaian aspek afektif diperoleh bahwa penilaian afektif siswa cenderung stabil. Pada siklus I capaian rata-rata sebesar 83,42 % dan pada siklus II sebesar 83,44 %. Berikut histogram yang menyatakan ketuntasan hasil belajar afektif siswa pada siklus I dan siklus II terdapat pada Gambar 2. Gambar 2. Histogram Hasil Belajar Afektif siklus I dan siklus II Berdasarkan hasil penelitian Wahyuning, dkk (2013), model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pelajaran matematika kelas VIII SMP. Sehingga dalam penelitian ini mencoba menggunakan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran kimia kelas X SMA. Penelitian Tindakan Kelas dapat dikatakan berhasil apabila masing-masing indikator yang diukur telah mencapai target yang telah ditetapkan. Penelitian ini dapat dikatakan berhasil karena masing-masing indikator proses dan hasil belajar siswa yang diukur telah mencapai target yang diharapkan. Dari hasil tindakan, pengamatan dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) berbantuan macromedia flash dapat meningkatkan prestasi belajar (kognitif dan afektif) siswa pada materi hidrokarbon kelas X-1 SMA Negeri Kebakkramat Karanganyar tahun pelajaran 2013/2014. SIMPULAN DAN SARAN 1. Simpulan a. Penerapan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) berbantuan macromedia flash dapat meningkatkan kualitas proses belajar siswa kelas X pada materi pokok Hidrokarbon. b. Penerapan model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) berbantuan macromedia flash dapat meningkatkan kualitas hasil belajar siswa kelas X pada materi pokok Hidrokarbon. 2. Saran Guru dapat menerapkan model pembelajaran aktif dan inovatif sesuai dengan karakteristik materi kimia. DAFTAR PUSTAKA Awofala, A.O.A., Arigbabu, A.A., & Awofala, A.A. (2013). Effect of Framing and Assisted Individualised Instructional Strategis on Senior Secondary School Students Attitudes Toward Mathematics. Acta Didactica Napocensia, Volume 6, Number 1, 2013. Diperoleh 06 Februari 2014, dari www.stanonline.org Darmawan, D. (2012). Inovasi Pendidikan Pendekatan Praktik Teknologi Multimedia dan Pembelajaran CapaianAspekCapaian (%)Siklus ICapaian (%)Siklus II

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 76 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Online. Bandung : PT Remaja Rosdakarya Kasboelah, K. (2001) . Penelitian Tindakan Kelas . Malang : Universitas Negeri Malang Kemmis,S. dan M.C.Taggart,R. 1988. The Action Research Planner. Victoria : Deakin University Press. Leveille, J & Leveille J. (2009). Sexy SAS/IntrNet®: A Macromedia Flash front-end for SAS® Web Applications. Diperoleh 4 Februari 2014, dari http://www2.sas.com/proceedings/sugi30/010.30.pdf Liswijaya. 2012. Pengembangan Media Pembelajaran Kimia Berbantuan Komputer Pada Materi Reaksi Reduksi Oksidasi Untuk Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar Peserta Didik SMA/MA Kelas X. Tesis. UNY; http://eprints.uny.ac.id/view/creators diakses 21 Maret 2014 Lou, Lin, Shih, Tseng, 2012. Improving The Effectiveness Of Organic Chemistry Experiments Through Multimedia Teaching Materials For Junior High School Students. TOJET: The Turkish Online Journal of Educational Technology – April 2012, volume 11 Issue 2. Akses 10 Maret 2014. Miles,M.B. dan Huberman,A.M. 1992. Analisis Data Kualitatif. Terjemahan oleh Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta : Universitas Indonesia. Pekdag, B. (2010). Alternative Methods in Learning Chemistry: Learning with Animation, Simulation, Video and Multimedia. Journal of Turkish Science Education, 7 (2), 111-118. Diperoleh 4 Februari 2014, dari http:// www.tused.org/internet/tused/.../tusedv7i2a5.pdf Slavin,RE. 2008. Coooperative Learning. Terjemahan. Bandung : Nusa Media Wahyuning, K. Arie; Candiasa, M.; dan Marhaeni, A. 2013. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe “Tai” dengan Teknik Tutor Sebaya Terhadap Prestasi Belajar Matematika Dengan Pengendalian Kemampuan Penalaran Formal Siswa Kelas Viii Bilingual SMP RSBI Denpasar. e-Journal Pasca Sarjana UNDIKSHA Volume 3 Tahun 2013 TANYA JAWAB Penanya : Budi Usodo Pemakalah : Budi Utami Pertanyaan : Apakah pembelajaran mengikuti kurikulum 2013 yang menerapkan pendekatan saintifik? Jawaban : Ya, sudah menggunakan kurikulum 2013, menerapkan pendekatan saintifik. Jadi menerapkan langkah-langkah model pembeajaran TAI dimasukkan pada langkah-langkah pendekatan sainstifik.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 77 MEMBANTU MENGATASI KESULITAN PEMECAHAN SOAL CERITA MATEMATIKA PADA SISWA SEKOLAH DASAR Heru Kurniawan1,* 1Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Purworejo Keperluan korespondensi: heru.kurniawan2983@yahoo.com ABSTRAK Salah satu masalah pembelajaran matematika di Sekolah Dasar adalah munculnya kesulitan siswa dalam mengerjakan soal cerita.Untuk menyelesaikan soal cerita matematika diperlukan keterampilan untuk memahami setiap kata sehingga dapat diubah ke dalam persamaan/ model matematika.Keterampilan tersebut dapat dibelajarkan kepada siswa melalui penerapan Teori Belajar yang dikemukakan oleh Bruner. Dalam teori yang dikemukakannya, Bruner menyatakan bahwa proses belajar memuat tahap enaktif, ikonik, dan simbolik. Disamping menggunakan teori Bruner, Guru juga dapat menerapkan langkah dari Polya yang terdiri dari prosedur: diketahui, ditanya, dan jawab. Dengan adanya pemahaman mengenai tahap-tahap tersebut, akan dapat dirancang strategi pembelajaran yang tepat untuk membantu siswa menyelesaikan soal cerita matematika. Kata kunci: Teori Belajar Bruner, Polya, Soal Cerita Matematika PENDAHULUAN Salah satu indikator kualitas pembelajaran matematika di dunia dapat diukur melalui hasil survei dari TIMSS (Trends in Mathematics and Science Study). Prestasi matematika Indonesia di tahun 2011berada di urutan ke-38 dengan skor 386 dari 42 negara.Skor Indonesia ini turun 11 poin dari penilaian tahun 2007.Dari hasil TIMSS di tahun 2007 diperoleh informasi bahwa, hanya 5% siswa Indonesia yang dapat mengerjakan soal-soal dalam katagori tinggi dan advance (memerlukan reasoning). Dalam perspektif lain, 78% siswa Indonesia hanya dapat mengerjakan soal-soal dalam katagori rendah (hanya memerlukan knowing, atau hafalan). Fakta di atas didukung pula dengan adanya hasil penelitian yang menyatakan bahwa siswa Sekolah Dasar masih banyak yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita.Kemampun pemahaman soal cerita kebanyakan berada pada katagori analisis, sintesis, atau evaluasi.Dengan fakta ini memberikan gambaran bahwa siswa perlu dibantu dalam memahami sekaligus menyelesaikan masalah matematika yang disajikan dalam bentuk soal cerita. Mata pelajaran matematika sesuai dengan Permendiknas nomor 22 tahun 2006 bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. 1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah. 2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. 3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. 4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. 5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Tujuan pembelajaran matematika tersebut senada dengan Standar NCTM (Van de Walle, 2008:4) “sebagai standar utama dalam pembelajaran matematika yaitu

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 78 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 kemampuan pemecahan masalah (problem solving), kemampuan komunikasi (communication), kemampuan koneksi (connection), kemampuan penalaran (reasoning), dan kemampuan representasi(representation)”. Kelima standar tersebut mempunyai peranan penting dalam kurikulum matematika. Berdasarkan pada tujuan pembelajaran yang dikemukakan di atas, maka sangatlah tidak mungkin apabila matematika dilepaskan dari soal cerita.Secara teori, keberhasilan penyelesaian soal cerita terletak pada sejauh mana seorang siswa mampu memahami maksud yang terkandung dalam soal tersebut. Kemampuan pemahaman mengenai suatu bacaanakan dapat dimiliki seorang siswa apabila siswa memiliki kebiasaan membaca yang baik. Penelitian yang dilakukan oleh Meyer (2012) menyebukan bahwa terdapat korelasi positif dan signifikan mengenai kemampuan membaca dengan penyelesaian soal cerita matematika. Korelasi ini memberikan makna bahwa ketika siswa membaca soal cerita ia mampu mengimajinasi atau menerjemahkan kalimat-kalimat soal ke dalam bentuk operasi matematika sesuai permintaan dari soal. Hasil penelitian ini juga memberikan dorongan untuk mengupayakan suatu strategi agar siswa memiliki kegemaran membaca yang baik. Dari paparan di atas maka perlu untuk memahami proses penyelesaian soal cerita yang dilakukan oleh siswa beserta masalah-masalah yang ditimbulkannya. Setelah itu diperlukan suatu strategi pembelajaran untuk membantu siswa menyelesaikan soal cerita matematika. HASIL DAN PEMBAHASAN Masalah Mengenai Soal Cerita Matematika pada Anak SD Sebagaimana disinggung di depan, diperoleh temuan bahwa sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal cerita. Penyebab munculnya permasalahan ini adalah kurangnya keterampilan siswa dalam menerjemahkan kalimat sehari-hari ke dalam kalimat matematika.Mengapa hal semacam ini dapat terjadi? Diduga hal ini terjadi karena siswa belum cukup memiliki gambaran yang jelas, khususnya mengenai cara mengaitkan antara keadaan nyata/ real yang mereka temui sehari-hari dengan kalimat matematika yang bersesuaian. Mungkin pula hal itu terjadi karena siswa kurang terlibat aktif secara mental (aktif mendayagunakan pikirannya) dalam pemecahan masalah. Jika keadaan seperti ini berlanjut tentu akan semakin membuat matematika menjadi mata pelajaran yang tidak menyenangkan dan pada akhirnya membuat siswa takut pada pelajaran tersebut. Terkait dengan hal tersebut, hasil penelitian dari Meyer yang telah dikemukakan di atas dapat diimplementasikan dengan pengamatan kecil yang dilakukan penulis sebagai berikut.“Siswa dalam satu kelas diminta untuk mencari bahan bacaan yang paling mereka sukai.Siswa diberikan kesempatan untuk membacanya sampai habis.Setelah itu siswa diminta untuk menutup buku bacaannya dan menceritakan kembali apa yang dia baca”. Dari kegiatan kecil di atas diperoleh amatan bahwa hampir sebagian besar siswa tidak mampu untuk menceritakan kembali apa yang dia baca. Artinya bacaan tersebut belum dapat diimajinasikan secara real di dalam pikirannya sehingga muncul anggapan bahwa bacaan tinggal bacaan saja yang tidak ada maknanya. Melihat dari perilaku di atas maka sudah jelas akan muncul kendala kesulitan dalam memahami soal cerita matematika. Kasus yang juga mudah untuk dijumpai dalam pemecahan soal cerita di Sekolah Dasar dapat diilustrasikan sebagai berikut. Soal : Siswa kelas 6 Sekolah Dasar yang terdiri dari 35 anak masing-masing mengumpulkan 8 mie instan yang akan disumbangkan kepada korban bencana alam. Jika mie instan yang terkumpul tersebut dibagikan kepada 70 orang, maka berapa mie instan yang diterima oleh masing-masing orang? Guru : “Anak-anak, coba kalian selesaikan soal di atas?”

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 79 Siswa : “Bu Guru, angkanya dijumlah, dikali, atau dibagi?” Dialog singkat antara guru dan siswanya tersebut semakin memberikan petunjuk bahwa kebanyakan siswa tidak memahami maksud rangakain kalimat tersebut sebagai sebuah operasi matematika. Mereka seolah-olah menyingkirkan kata-kata yang ada di soal dan mengambil secara mentah angka-angkanya saja.Kemudian siswa menduga angkanya dijumlahkan, dikali, ataukah dibagi.Tentu saja langkah yang demikian adalah langkah yang salah. Memecahkan soal cerita memerlukan pemahaman membaca yang sangat baik dan keterampilan menerjemahkan.Siswa sering mengalami kesulitan mengganti istilah yang digunakan dalam kalimat menjadi simbol operasi/ aljabar Namun demikian, ketika siswa mampu mengubah kalimat-kalimat tersebut dalam bentuk model matematika, maka persoalan tersebut akan mudah untuk diselesaikan. Strategi Pembelajaran Soal Cerita Matematika Untuk membantu memecahkan soal cerita dapat diikuti 10 langkah berikut ini. Langkah 1 Minta anak untuk membaca seluruh kalimat yang ada di soal sebanyak tiga kali.Pada kesempatan pertama, lakukan pembacaan secara cepat untuk memindai prosedur apa yang akan digunakan. Pada kesempatan kedua, dorong anak untuk menjawab tiga pertanyaan berikut ini: (1) Apa masalah yang dimunculkan di soal tersebut? (Masalah biasanya muncul di akhir pertanyaan/ soal); (2) Apa saja informasi yang berguna untuk menyelesaikan soal tersebut? (Coret informasi yang tidak diperlukan); dan (3) Masalah tersirat apa yang mungkin muncul? (Biasanya sesuatu/ fakta yang perlu untuk diingat oleh siswa).Pada kesempatan yang ketiga, dorong siswa untuk emmeriksa kembali sehingga siswa sepenuhnya memahami maksud yang terkandung dalam soal tersebut. Langkah 2 Minta Siswa untuk membuat gambar/ skema sederhana dari masalah agar ltampak ebih nyata/ konkrit. Langkah 3 Dorong siswa untuk membuat tabel informasi dan memberikan ruang kosong untuk informasi yang belum dipahami. Langkah 4 Dorong siswa untuk menggunakan segala sesuatu di sekitar mereka untuk mengingat, menemukan, dan memahami segala informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan soal. Langkah 5 Siswa diminta untuk menerjemahkan istilah-istilah ke dalam bentuk/ model matematika(persamaan aljabar). Langkah 6 Baca kembali persamaan yang telah diperoleh pada langkah sebelumnya dan dicek kembali apakah sudah sesuai dengan kalimat soal sebelumnya. Langkah 7 Siswa diminta untuk meninjau kembali informasi yang telah diperoleh sebelumnya, barangkali soal yang sekarang dihadapi terdapat informasi yang terkait dengan apa yang telah mereka pelajari sebelumnya Langkah 8 Memecahkan persamaan menggunakan aturan matematika. Langkah 9 Siswa diminta untuk melihat kembali, apakah jawaban yang diperoleh sudah sesuai atau tidak dengan apa yang ditanyakan soal. Langkah 10 Siswa diminta untuk memasukkan kembali jawaban tersebut ke persamaan yang diperoleh untuk melihat apakah sudah benar. Teori Belajar Bruner Selain berpijak pada 10 langkah di atas, guru dapat membantu kesulitan penyelesaian soal cerita dengan meninjau kembali teori belajar apa yang tepat. Bruner mengungkapkan dalam bukunya “Toward the theory of Instruction” bahwa ada tiga tahapan supaya anak dapat belajar dengan baik. Ketiga tahapan itu adalah: (1) konkrit/enactive, (2) semi konkrit/econic, dan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 80 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 (3) abstrak/symbolic. Jika pembelajaran matematika berlangsung seperti itu Bruner menjamin bahwa ”siswa akan mampu mengembangkan pengetahuannya jauh melebihi apa yang pernah ia/mereka terima dari gurunya”. Menurut Bruner dalam Fadjar Shadiq dan Nur Amini Mustajab (2011: 36) menyatakan bahwa: Jika suatu topik dalam pembelajaran (khususnya matematika) bersifat baru (dalam arti prasyarat atau pengalaman sebelumnya belum ada) maka langkah-langkah pembelajarannya harus dimulai dari konkrit (enactive) terlebih dahulu. Setelah konkrit terlewati segera dilanjutkan ke semi konkrit (econic). Begitu semi konkritnya dilalui dan tercapai dengan baik segera ditindaklanjuti dengan abstrak (symbolic). Berdasar pada pernyataan tersebut, maka muncul pertanyaan mengenai seperti apakah pembelajaran yang disebut konkrit (enactive), semi konkrit (econic), abstrak (symbolic)? 1. Konkrit (Enactive) Salah satu strategi pembelajaran yang dapay digunakan dalam kegiatan konkrit ini adalah bermain peran (Role Play). www.p4tkmatematika.org menyebutkan bahwa: Bermain peran pada prinsipnya merupakan metode untuk ‘menghadirkan’ peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/ pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap. Misalnya: menilai keunggulan maupun kelemahan masing-masing peran tersebut, dan kemudian memberikan saran/ alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut. Metode ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran. Dalam metode ini, guru perlu membuat skenario yang tepat dan mempersiapkan kata-kata kunci yang akan digunakan dalam penerapan belajar soal cerita matematika. Sementara bentuk soal ceritanya akan mudah diciptakan jika kata-kata kuncinya sudah dicatat dan dipersiapkan dari rumah. Peran guru di sini selain memandu peragaan bermain peran, juga menerjemahkan arti soal cerita yang dimainperankan dalambentuk bahasa matematika, yaitu bahasa yang hanya memuat angka-angka, tanda-tanda operasi (+ , – , × , : ) dan tanda-tanda relasi (= , > , <) saja. Kata-kata kunci yang dapat digunakan untuk kegiatan bermain peran yang melibatkan pengetahuan soal cerita matematika antara lain. Tabel 1. Kata kunci Penjumlahan Pengurangan Diberi Diminta Digabung Dijual Dibelikan Dipinjam Minta lagi Diberikan kepada Memetik lagi, dll Pergi, dll Melalaui penggunaan beberapa kata kunci di depan, diharapkan siswa akan lebih mudah untuk memahami, menangkap makna, dan mampu mengubah kata-kata tersebut dalam model/ persamaan matematika. 2. Semi Konkrit (Econic) Istilah semi konkrit artinya peraga tidak lagi berupa benda nyata tetapi diganti dengan gambar/ skema. Salah satu perangkat pembelajaran yang dapat digunakan adalah LKS (Lembar Kerja Siswa) yang menggambarkan ciri-ciri konsep. Konsep-konsep yang dimunculkan dalam LKS hendaknya menggunakan kata-kata kuncui yang sudah diajarkan dalam kegiatan bermain peran sebelumnya. 3. Abstrak (Symbolic) Maksud abstrak dalam hal ini adalah soal-soalnya sudah 100% dalam bentuk lambang, yakni dalam bentuk huruf-huruf dan angka-angka saja, sama sekali tidak ada gambar-gambar yang bersifat menuntun dan menerangkan. Kegiatan yang dilakukan siswa di sini adalah mengerjakan LTS (Lembar

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 81 Tono + = Hasan = - Tugas Siswa). Dalam LTS ini sama sekali sudah tidak ada lagi misi penanaman konsep. Misi penanaman konsep dianggap sudah tercapai saat kegiatan bermain peran dan kegiatan mengisi LKS. Penerapan Teori Belajar Bruner Berdasarkan pada urutan teori kegiatan-kegiatan pembelajaran Bruner yang meliputi, konkrit, semi konkrit, dan abstrak di atas maka perlu disusun tahapan/ prosedur pembelajaran yang meliputi ketiga kegiatan di atas. 1. Tahap Enaktif. Sebagaimana disampaikan di depan, para siswa didorong untuk mempelajari matematika dengan menggunakan sesuatu yang “konkret” atau “nyata”, yang berarti dapat diamati dengan menggunakan panca indera. Contohnya, ketika akan membahas penjumlahan dan pengurangan di awal pembelajaran, siswa dapat belajar dengan menggunakan batu, kelereng, buah, lidi, atau yang lainnya. Dalam kegiatan ini misalnya digunakan metode main peran. Guru menyusun skenario peran sebagai berikut: “Ada 3 orang anak yang sedang bermain kelereng, yaitu: Andi, Hasan, dan Tono. Andi memiliki 15 kelereng, Hasan memiliki 20 kelereng, dan Tono memiliki 10 kelereng.Masing-masing memberikan 5 kelereng pada tempat yang disediakan untuk diperebutkan oleh ketiganya.Pada permainan tersebut Tono memenangkan 10 kelereng dan Andi 5 kelereng, sedankan Hasan mengalami kekalahan.Berapa jumlah kelereng yang dimiliki oleh masing-masing anak sekarang?” Kegiatan main peran tersebut terdapat dua kata kunci yaitu “memberikan” kelereng yang diartikan sebagai operasi (–) dan “memenagkan” kelereng yang diartikan sebagai operasi (+). Dengan metode main peran tersebut diharapkan anak akan lebih mudah memahami kata-kata kunci tersebut dan mengubahnya dalam bentuk operasi/ persamaan matematika. Selain skenario main peran tersebut, Guru juga dapat mengembangkan peran lain yang sesuai. 2. Tahap Ikonik. Setelah memahami permainan peran yang mereka lakukan sebelumnya, siswa didorong untuk dapat mempelajari suatu pengetahuan dalam bentuk gambar atau diagram sebagai perwujudan dari kegiatan yang menggunakan benda konkret atau nyata. Dari contoh di atas dapat diperagakan gambar yang disajikan dalam LKS sebagai berikut. Gambar 1. Peragaan tahap ikonik 3. Tahap Simbolik. Menurut Bruner, pada tahap simbolik ini merupakan tahap dimana pengetahuan tersebut diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol abstrak. Dengan kata lain, siswa harus mengalami proses abstraksi dan idealisasi. Proses abstraksi terjadi pada saat seseorang menyadari adanya kesamaan di atara perbedaan-perbedaan yang ada (Cooney dan Henderson, 1975). Pada contoh di atas, siswa diharapkan sudah dapat mengerjakan soal tersebut dengan mengubahnya menjadi model/ persamaan matematika. 10 + 10 = 20 dan 20 – 5 = 5.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 82 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 ? + + + ? Dari ketiga tahap di atas, menurut Bruner, pembelajaran sebaiknya dimulai dengan menggunakan benda nyata lebih dahulu.Karenanya, seorang guru ketika mengajar matematika hendaknya menggunakan model atau benda nyata untuk topik-topik tertentu yang dapat membantupemahaman siswanya. Dengan menggunakan tahap-rahap teori Bruner di atas, diharapkan siswa lebih mudah mengerjakan soal yang lebih kompleks lagi, Misalnya: “4 orang anak akan iuran masing-masing menyumbang 5 mie instan yang akan dibagikan kepada dua keluarga yang mnjadi korban banjir. Berapa mie instan yang diterima masing-masing keluarga?” Pada contoh di atas melalui kegiatan konkrit anak sudah dapat mengidentifikasi bahwa “masing-masing menyumbang” diartikan sebagai operasi (×) dan “dibagikan kepada” diartikan sebagai operasi pembagian. Selanjutnya anak dapat membuat skema sebagai berikut. Gambar 2. Skema operasi perkalian Dari diagram di atas siswa dapat menyusun persamaan sebagai berikut (4 × 5 ) / 2 = 10. Berdasarkan pada tahap-tahap belajar tersebut (konkrit, semi konkrit, dan abstrak), Bruner mengembangkan empat teori yang terkait dengan asas peragaan, yakni: 1. Teorema konstruksi menyatakan bahwa siswa lebih mudah memahami ide-ide abstrak dengan menggunakan peragaan kongkret (enactive) dilanjutkan ke tahap semi kongkret (iconic) dan diakhiri dengan tahap abstrak (symbolic). Dengan menggunakan tiga tahap tersebut, siswa dapat mengkonstruksi suatu representasi dari konsep atau prinsip yang sedang dipelajari. 2. Teorema notasi menyatakan bahwa simbol-simbol abstrak harus dikenalkan secara bertahap, sesuai dengan tingkat perkembangan kognitifnya. Sebagai contoh:

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 83 a. Notasi 3×2 dapat dikaitkan dengan 3×2 tablet. b. Soal seperti ... + 4 = 7 dapat diartikan sebagai menentukan bilangan yang kalau ditambah 4 akan menghasilkan 7. Notasi yang baru adalah 7 − 4 = ... 3. Teorema kekontrasan atau variasi menyatakan bahwa konsep matematika dikembangkan melalui beberapa contoh dan bukan contoh seperti ditunjukkan gambar di bawah ini tentang contoh dan bukan contoh pada konsep trapesium Gambar 3. Teorema kekontrasan 4. Teorema konektivitas menyatakan bahwa konsep tertentu harus dikaitkan dengan konsep-konsep lain yang relevan. Sebagai contoh, perkalian dikaitkan dengan luas persegi panjang dan penguadratan dikaitkan dengan luas persegi. Penarikan akar pangkat dua dikaitkan dengan menentukan panjang sisi suatu persegi jika luasnya diketahui. Lebih lanjut, berbagai jenis kegiatan dalam pembelajaran yang menerapkan teorema-teorema Bruner dapat diwujudkan dalam berbagai kegiatan seperti yang dikemukakan oleh Edgar Dale dalam Fadjar Shadiq dan Nur Amini Mustajab (2011) dalam bukunya “Audio Visual Methods in Teaching” sebagaimana dikutip Heinich, Molenda, dan Russell (1985:4) sebagai berikut. 1. Pengalaman langsung. Artinya, siswa diminta untuk mengalami, berbuat sendiri dan mengolah, serta merenungkan apa yang dikerjakan. 2. Pengalaman yang diatur. Sebagai contoh dalam membicarakan sesuatu benda, jika benda tersebut terlalu besar atau kecil, atau tidak dapat dihadirkan di kelas maka benda tersebut dapat diragakan dengan model. Contohnya: peta, gambar benda-benda yang tidak mungkin dihadirkan di kelas, model kubus, dan kerangka balok, 3. Dramatisasi. Misalnya: permainan peran, sandiwara boneka yang bisa digerakkan ke kanan atau ke kiri pada garis bilangan. 4. Demonstrasi. Biasanya dilakukan dengan menggunakan alat-alat bantu seperti papan tulis, papan flanel, OHP dan program komputer. Banyak topik dalam pembelajaran matematika di SD yang dapat diajarkan melalui demonstrasi, misalnya: penjumlahan, pengurangan, dan pecahan.. 5. Karyawisata. Kegiatan ini sebenarnya sangat baik untuk menjadikan matematika sebagai atau menjadi pelajaran yang disenangi siswa. Kegiatan yang diprogramkan dengan melibatkan penerapan konsep matematika seperti mengukur tinggi objek secara tidak langsung, mengukur lebar sungai, mendata kecenderungan kejadian dan realitas yang ada di lingkungan merupakan kegiatan yang sangat menarik dan sangat bermakna bagi siswa serta bagi daya tarik pelajaran matematika di kalangan siswa. 6. Pameran. Pameran adalah usaha menyajikan berbagai bentuk model-model kongkret yang dapat digunakan untuk membantu memahami konsep matematika dengan cara yang menarik. Berbagai bentuk permainan dan kegiatan matematika yang dikemukakan di atas, ternyata dapat menarik perhatian siswa untuk mencobanya, sehingga jenis kegiatan ini juga cukup bermakna untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika. Penyelesaian Soal Cerita Menggunakan Langkah Polya Lenchner dalam Sri Wardhani, Sapon Suryo Purnomo, dan Endah Wahyuningsih (2010: 14-15) menyatakan kriteria suatu tugas/ soal dikategorikan sebagai masalah adalah sebagai berikut. 1. Suatu pertanyaan akan menjadi masalah hanya jika pertanyaan itu menunjukkan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 84 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 adanya tantangan yang tidak dapat dipecahkan dengan suatu prosedur rutin yang sudah diketahi oleh si penjawab soal. 2. Suatu masalah bagi Si A belum tentu menjadi malah bagi Si B jika Si B sudah mengetahui prosedur untuk menyelesaikannya, sedangkan Si A belum pernah mengetahui prosedur untuk menyelesaikannya. Langkah pemecahan masalah yang sering dipakai sebagai acuan adalah langkah pemecahan yang diperkenalkan oleh Polya. Selanjutnya, Polya dalam http://kangguru.wordpress.com menyajikan kerangka kerja pemecahan masalah sebagai berikut. 1. Memahami masalahnya. 2. Membuat rencana pemecahan masalah. 3. Melaksanakan rencana. 4. Menafsirkan dan mengecek hasilnya. Langkah tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. Gambar 4. Langkah Pemecahan masalah Polya Aplikasi dalam langkah Polya ini, diwujudkan dengan prosedur penyelesaian soal yang meliputi: 1. Diketahui, berisi fakta-fakta yang ditemukan dalam soal. 2. Ditanya, mengenai apa yang diinginkan atau diselesaiakn dari soal tersebut. 3. Jawab, berisi prosedur langkah penyelesaian hingga diperoleh jawaban akhir. KESIMPULAN Soal cerita merupakan salah satu masalah matematika yang dapat menimbulkan kesulitan bagi siswa.soal cerita pada dasarnya adalah proses mengubah kata-kata/ istilah dalam bentuk model/ persamaan matematika. Proses mengubah kata/ istilah menjadi model/ peramaan matematika diperlukan strategi khusus agar siswa tidak mengalami kesulitan. Guru harus secara kreatif menyajikan prosedur pembelajaran untuk membantu menyelesaiakn soal cerita melalui 10 langkah, pemanfaatan teori Belajar Bruner, atau langkah dari Polya. Dengan demikian diharapkan kemampuan berpikir siswa dapat didorong ke arah High Order Thinking (proses berpikir tingkat tinggi) DAFTAR PUSTAKA Anonim 1.2007. Teknik Pemecahan Masalah Ala Polya.Diambil pada hari Minggu, 6 Desember 2010 http://kangguru.wordpress.com/2007/teknik-pemecahan-masalah-ala-g-polya/pada pukul 13.00 WIB. Anonim 2. _____. Kupulan Metode Pembelajaran/ Pendampingan. Diambil dari www.p4tkmatematika.org Cooney, T.J.; Davis, E.J.; Henderson, K.B. 1975.Dynamics of Teaching Secondary School Mathematics. Boston: Houghton Mifflin Company.Kementerian Pendidikan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 85 dan Kebudayaan RI. 2013. Paparan Uji Publik Kurikulum 2013. Fadjar Shadiq, Nur Amini Mustajab. 2011. Penerapan Teori Belajar dalam Pembelajaran Matematika di SD. Kementerian Pendidikan Nasional: P4TK Matematika Yogjakarta. Fadjar Shadiq. 2011. Aplikasi Teori Belajar. Kementerian Pendidikan Nasional: P4TK Matematika Yogjakarta. Marsudi Raharjo. 2008. Pembelajaran Soal Cerita Berkait Penjumlahan dan Pengurangan di SD. Kementerian Pendidikan Nasional: P4TK Matematika Yogjakarta. Sri Wardani dan Rumiyati. 2011. Instrumen Penilaian Hasil Belajar Matematika Siswa SMP: Belajar dari PISA dan TIMSS. Kementerian Pendidikan Nasional Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan: P4TK Matematika.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 86 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 PARALEL IPS

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 87 REFLEKSI PELAKSANAAN RINTISAN PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (PPG SMK) KOLABORATIF DI JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK DAN KEJURUAN FKIP UNS Yuyun Estriyanto1 1Program Studi Pendidikan Teknik Mesin JPTK FKIP UNS ABSTRAK Implikasi dari pengakuan guru sebagai profesi sebagaimana UU No. 14 Tahun 2005 adalah guru harus menjalani proses sertifikasi untuk mendapatkan sertifikat pendidik. Sertifikasi guru dalam jabatan akan segera berakhir dan kemudian akan digantikan dengan sertifikasi guru pra jabatan dalam bentuk Pendidikan Profesi Guru. PPG SMK Kolaboratif di Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan FKIP UNS merupakan salah satu model PPG Pra Jabatan yang diujicobakan Dikti. Tulisan ini menyampaikan refleksi keabsahan pelaksanaan program tersebut ditinjau dari sudut pandang aspek legal kelembagaan, substansi program berdasarkan tata aturan mengenai PPG Pra Jabatan, dan spektrum keahlian SMK. Kata Kunci: sertifikasi guru, Pendidikan Profesi Guru, PPG SMK Kolaboratif, PPG Pra Jabatan, spektrum keahlian SMK PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pada era globalisasi, profesi guru memiliki peran yang sangat strategis karena guru mengemban tugas sejati bagi proses kemanusiaan, pemanusiaan, pencerdasan, pembudayaan, dan pembangun karakter bangsa. Esensi dan eksistensi makna strategis profesi guru telah diakui dalam realitas sejarah pendidikan di Indonesia. Pengakuan tersebut baru memiliki kekuatan formal pada tanggal 2 Desember 2004 saat presiden pada waktu itu, Soesilo Bambang Yudhoyono, mencanangkan guru sebagai profesi. Satu tahun kemudian, lahir Undang-undang (UU) No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen sebagai dasar legal pengakuan atas profesi guru dengan segala dimensinya. Di dalam UU No. 14 Tahun 2005 ini disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sebagai implikasi dari UU No. 14 Tahun 2005, guru harus menjalani proses sertifikasi untuk mendapatkan sertifikat pendidik. Oleh karena itu, sejak tahun 2006 pemerintah telah memulai untuk mensertifikasi guru dalam jabatan sebagai legalisasi pengakuan profesionalisme guru yang telah bertugas sesuai dengan urutan kepangkatan guru di setiap dinas pendidikan kota/kabupaten. Pemerintah mencanangkan proses sertifikasi guru dalam jabatan tersebut akan tuntas pada tahun 2015. Dan setelah itu, maka sertifikasi guru akan dilaksanakan dalam bentuk pendidikan dan pelatihan pra jabatan yang kemudian disebut dengan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Lebih jauh lagi, direncanakan bahwa mulai 2016 maka rekrutmen guru baru harus sudah bersertifikat. Hal tersebut mengindikasikan bahwa mulai tahun 2016 maka rekrutmen guru diperuntukkan bagi lulusan program PPG. Dalam kurun waktu tahun 2012-2014 ini, Direktorat Pendidikan Tinggi telah mengujicobakan beberapa model PPG pra jabatan, antara lain: PPG Sarjana Mendidik Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T), PPG Terintegrasi Berasrama dan Berkewenangan Tambahan (disebut dengan PPGT Berkewenangan Tambahan), PPG SMK Kolaboratif. Program-program tersebut itu dikenal dengan program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI).

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 88 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Program SM-3T adalah program pengabdian sarjana pendidikan untuk berpartisipasi dalam percepatan pembangunan pendidikan di daerah 3T selama satu tahun sebagai penyiapan pendidik profesional yang akan dilanjutkan dengan program PPG. Program ini bertujuan untuk: (1) membantu daerah 3T dalam mengatasi permasalahan pendidikan terutama kekurangan tenaga pendidik; (2) memberikan pengalaman pengabdian kepada sarjana pendidikan sehingga terbentuk sikap profesional, cinta tanah air, bela negara, peduli, empati, terampil memecahkan masalah kependidikan, dan bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsa, serta memiliki jiwa ketahanmalangan dalam mengembangkan pendidikan pada daerah-daerah tergolong 3T; (3) menyiapkan calon pendidik yang memiliki jiwa keterpanggilan untuk mengabdikan dirinya sebagai pendidik profesional pada daerah 3T; dan (4) mempersiapkan calon pendidik profesional sebelum mengikuti program PPG. PPGT Berkewenangan Tambahan merupakan salah satu sub program dari program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia yang dimaksudkan untuk memenuhi kekurangan guru pada daerah yang masuk katagori terdepan, terluar dan tertinggal. Oleh karena itu peserta Program Rintisan PPGT diprioritaskan berasal dari daerah yang memiliki latar belakang katagori tersebut dan memiliki kualifikasi akademik minimal lulus Sekolah Lanjutan Atas (SMA/MA/SMK) dari satuan pendidikan yang terakreditasi. Kewenangan tambahan yang dimaksud adalah kewenangan dalam melaksanakan tugas sebagai guru yang terdiri dari kewenangan utama dan kewenangan tambahan. Sebagai contoh, kewenangan utama guru SD adalah sebagai guru kelas dengan kewenangan tambahan sebagai guru SMP pada salah satu dari lima (5) mata pelajaran pokok di SD (Bahasa Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan, Matematika, IPA, IPS), sedangkan pada Guru SMK kewenangan utamanya adalah sebagai guru pada mata pelajaran produktif (mata pelajaran yang berisikan kompetensi keahlian yang menuntut konsep relevansi dengan dunia industri) dengan kewenangan tambahan sebagai guru pada salah satu mata pelajaran adaptif yang relevan (mata pelajaran yang berfungsi menyiapkan kemampuan dasar yang memiliki daya transfer terhadapt mata pelajaran keahlian). PPG SMK Kolaboratif merupakan PPG SMK bidang produktif langka yang bertujuan untuk menghasilkan guru-guru SMK profesional untuk bidang-bidang keahlian yang tidak ada LPTK penghasil gurunya. Saat ini ada beberapa kebutuhan guru program studi di SMK yang belum mampu disediakan oleh LPTK misalnya guru produktif untuk program keahlian di SMK Penerbangan, Pertanian, Pariwisata, dan Perikanan. Di lain pihak, ada beberapa bidang keahlian di SMK yang kebutuhan gurunya terlalu banyak sehingga jumlahnya tidak terpenuhi oleh jumlah lulusan LPTK misalnya bidang keahlian Teknik Otomotif dan Teknik Informatika dan Komputer. Dikti mengambil kebijakan untuk menyertakan beberapa bidang keahlian reguler yang kekurangan guru tersebut dalam kegiatan PPG Kolaboratif dan diamanahkan kepada beberapa LPTK yang dipercaya. Menurut Surat Keputusan Dirjen Mandikdasmen, No.251/c/Kep/MM/2008 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan, terdapat tidak kurang dari 121 jenis kompetensi keahlian yang dipelajari di jenjang pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan. Data tersebut tentunya menunjukan keragaman keahlian yang dapat dipersiapkan oleh SMK untuk menghasilkan lulusan yang terkompetensi pada jenis-jenis keahlian tersebut. Walaupun begitu pada kenyataannya keragaman keahlian atau kompetensi ini tidak diimbangi dengan ketersedian guru atau para pendidik yang mumpuni dalam mengampu proses pembelajaran keahlian di jenjang pendidikan SMK tersebut. Bahkan, saat ini masih terjadi disparitas guru yang sesuai dengan struktur kurikulum pada jenjang SMK. Data di kementerian menyebutkan bahwa tidak kurang dari 5.980 guru adaptif di butuhkan untuk mengisi kekurangan guru yang

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 89 mengampu pembelajaran mata pelajaran yang dikatagorikan adaptif, sedangkan untuk mata pelajaran produktif tercatat memiliki kekurangan guru sebanyak 18.165 orang guru. Gambaran kekurangan guru kedua mata pelajaran ini berbanding terbalik dengan kondisi mata pelajaran normatif, dimana terjadi kelebihan guru sebanyak 16.046 guru. Program Rintisan PPGT Kolaboratif lahir atas kebutuhan tersebut. Program ini dilaksanakan melalui integrasi dan kolaborasi antara dua institusi (LPTK dengan Politeknik atau Universitas) dalam menjalankan program pendidikan profesi guru SMK bidang produktif. Program ini ditujukan untuk keahlian-keahlian yang tidak ada program studinya di LPTK. Bersamaan dengan program ini diujicobakan juga program PPG kolaboratif untuk bidang umum yang jumlah kebutuhannya terlalu besar seperti keahlian teknik otomotif dan teknik informatik dan komputer. Melalui SK Dirjen Dikti No 67a/DIKTI/Kep/2012 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Penyelenggara Rintisan Program Kolaborasi Pendidikan Profesi Guru Sekolah Menengah Kejuruan Produktif FKIP Universitas Sebelas Maret ditunjuk sebagai salah satu penyelenggara program pendidikan tersebut dengan berkolaborasi dengan Sekolah Vokasi UGM (SV UGM) untuk menyelenggarakan Rintisan Program Kolaborasi PPG SMK Produktif bidang Teknik Otomotif. 2. Identitifikasi Masalah Sesuai dengan yang telah dikemukakan sebelumnya, bahwa pemerintah baru akan melaksanakan program PPG pra jabatan pada tahun 2015, maka dapat dikatakan pelaksanaan Program PPG SMK bidang produktif tersebut merupakan program PPG percontohan karena program PPG reguler belum dilaksanakan. Salah satunya adalah program PPG SMK SMK Kolaboratif di Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan FKIP UNS. Oleh karena itu evaluasi terhadap program tersebut diperlukan untuk memberikan justifikasi keabsahan program tersebut ditinjau dari sudut pandang legal formal maupun dari segi substansi program. Hal ini sekaligus dapat menjadi rekomendasi bagi pelaksanaan PPG reguler mendatang, khususnya PPG SMK bidang produktif. 3. Studi Kepustakaan a. Kajian Tata Peraturan Perundangan Mengenai PPG Menurut Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan Peraturan Pemerintah No 74 Tahun 2008 tentang Guru, mewajibkan guru memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik. Pada Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 ditegaskan bahwa sertifikat pendidik bagi guru diperoleh melalui program pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat. Saat ini ada dua macam payung hukum PPG, yaitu PPG dalam jabatan dan PPG pra jabatan. PPG dalam jabatan diatur dalam permendiknas No. 9 tahun 2010, sedangkan PPG pra jabatan diatur dalam permendiknas No. 8 tahun 2009 yang saat ini telah diperbaharui dengan permedikbud No. 87 tahun 2013. Sebagaimana yang tersirat dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 maka tujuan umum program PPG adalah untuk menghasilkan guru-guru kompeten untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Selanjutnya, tujuan yang lebih khusus dijelaskan pada permendiknas No. 8 Tahun 2009 yang kemudian diperbaharui dalam permendikbud No. 87 Tahun 2013 yaitu untuk mengembangan profesionalitas secara berkala dan berkelanjutan, menghasilkan guru yang memiliki multi kompetensi yaitu: (1) merancang, melaksanakan serta menilai pembelajaran; (2) menindaklanjuti hasil penilaian dengan memberikan bimbingan serta pelatihan kepada siswa; dan (3) melakukan penelitian dan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 90 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 mengembangkan profesionalitas secara berkelanjutan. Dari sisi LPTK yang telah mendapatkan ijin penyelenggara Program PPG maka saat ini baru ada SK Mendiknas 126/P/2010 tentang Penetapan LPTK Penyelenggara PPG dalam jabatan. Dalam SK tersebut, beberapa prodi di bawah FKIP UNS telah ditunjuk sebagai pelaksana program PPG dalam jabatan. Salah satunya adalah Program Studi Pendidikan Teknik Mesin (PTM). Program PPG dalam jabatan itu sendiri belum terlaksana sampai dengan saat ini. LPTK yang ditunjuk sebagai pelaksana program PPG dalam jabatan tersebut diseleksi berdasarkan ketentuan pada permendiknas No. 9 tahun 2010. Menurut permendiknas No. 9 tahun 2010 maka syarat LPTK penyelenggara PPG adalah: (1) memiliki program studi kependidikan strata satu (S1) yang sama dengan program PPG yang akan diselenggarakan, terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BANPT) dengan peringkat paling rendah B, memiliki dosen tetap paling sedikit 2 (dua) orang berkualifikasi doktor (S3) dengan jabatan akademik paling rendah Lektor, dan 4 (empat) orang berkualifikasi Magister (S2) dengan jabatan akademik paling rendah Lektor Kepala berlatar belakang pendidikan sama dan/atau sesuai dengan program PPG yang akan diselenggarakan, paling sedikit salah satu latar belakang strata pendidikan setiap dosen tersebut adalah bidang kependidikan; (2) memiliki sarana dan prasarana yang mendukung penyelenggaraan program PPG, termasuk asrama mahasiswa sebagai bagian integral dalam proses penyiapan guru profesional; (3) memiliki rasio antara dosen dengan mahasiswa pada masing-masing program studi sesuai SPMI; (4) memiliki program peningkatan dan pengembangan aktivitas instruksional atau yang sejenis dan berfungsi efektif; (5) memiliki program dan jaringan kemitraan dengan sekolah-sekolah mitra terakreditasi paling rendah B dan memenuhi persyaratan untuk pelaksanaan program pengalaman lapangan (PPL); (6) memiliki laporan evaluasi diri dan penjaminan mutu berdasar fakta, paling sedikit 2 (dua) tahun terakhir. b. Kajian Mengenai Spektrum Keahlian SMK Untuk bidang kejuruan, jumlah paket keahlian di SMK mencapai 121 paket keahlian (Keputusan Dirjen Mandikdasmen No. 251/C/Kep/MM/2008 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan Kejuruan). Bahkan keputusan tersebut kini telah diperbaharui menjadi 128 paket keahlian sesuai dengan keputusan Dirjen Dikmen No. 7013/D/KP/2013. Struktur kurikulum membagi kelompok mata diklat/mata pelajaran ke dalam 3 (tiga) kelompok, yaitu kelompok normatif, adaptif, dan produktif. Kelompok mata pelajaran produktif mempersiapkan peserta didik untuk memiliki kompetensi yang handal yang saat ini dikelola dalam 128 paket keahlian. Setiap kompetensi keahlian produktif menuntut penguasaan konsep-konsep dan ketrampilan yang relevan dengan bidang keahlian untuk menjamin kompetensi lulusan yang kompetitif. Jika dicermati maka akan dapat dengan mudah dipahami bahwa sertifikasi guru SMK sangat berbeda dengan sertifikasi guru mapel. Pada mapel sekolah umum seperti Matematika, Fisika, Biologi, Bahasa Indonesai, dan lain-lain sertifikasi hanya khusus satu mapel saja. Sertifikasi mapel umum dilaksanakan oleh salah satu prodi sejenis di LPTK dan fokus hanya pada mapel tersebut. Untuk guru SMK maka basis sertifikasi belum ditentukan apakah berbasis program keahlian atau paket keahlian mengacu pada pembagian spektrum keahlian pada Keputusan Dirjen Pendidikan Menengah No. 7013/D/KP/2013 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan Kejuruan. Sampai

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 91 dengan saat ini masih menjadi pembahasan dan belum ada payung hukum yang menjelaskan secara gamblang basis sertifikasi untuk guru SMK tersebut. c. Kajian Keabsahan Program Di samping penyelenggaraan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang konsekutif (setelah S1) dicoba untuk dikembangkan Program Profesi Guru yang terintegrasi dan kolaboratif sebagai rintisan. PPG Terintegrasi adalah pendidikan profesi guru yang diselenggarakan dalam kurun waktu yang bersamaan dengan dalam program akademik baik substansi bidang studi maupun substansi bidang kependidikan dan diakhiri dengan PPL yang intensif di sekolah yang relevan. PPG Kolaboratif adalah LPTK melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi/politeknik yang memliki sumber daya yang relevan dengan program studi keahlian yang diperlukan dan belum dimiliki oleh LPTK. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 8 Tahun 2009 tentang Pendidikan Profesi Guru Pra Jabatan Pasal 3 ayat (3) dinyatakan bahwa: Dalam hal belum ada program studi yang terakreditasi atau dalam hal belum ada program studi yang sesuai dengan dengan mata kuliah di perguruan tinggi, menteri dapat menetapkan perguruan tinggi penyelenggara PPG untuk bekerja sama dengan perguruan tinggi yang memiliki sumber daya yang relevan dengan program studi tersebut. Pasal tersebut tetap dipertahankan dalam peraturan menteri tentang PPG yang baru, itu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 87 Tahun 2013 pasal 3 ayat (3). Menurut SK Dirjen Dikti No 67a/DIKTI/Kep/2012 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Penyelenggara Rintisan Program Kolaborasi Pendidikan Profesi Guru Sekolah Menengah Kejuruan Produktif, FKIP Universitas Sebelas Maret ditunjuk sebagai salah satu penyelenggara program pendidikan tersebut dengan berkolaborasi dengan Sekolah Vokasi UGM (SV UGM) untuk menyelenggarakan Rintisan Program Kolaborasi PPG SMK Produktif bidang Teknik Otomotif. Penunjukan mitra kolaborasi FKIP UNS – SV UGM tersebut kemudian diperkuat dengan Nota Kesepakatan Dekan FKIP UNS No. 1494/UN27.02/KS/2013 dengan Direktur Sekolah Vokasi UGM tentang Kerjasama Penyelenggaraan Program Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi Sekolah Menengah Kejuruan (PPGT SMK) Kolaboratif. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Gambaran Pelaksanaan Program a. Gambaran Umum Rintisan Program Kolaborasi PPG SMK Produktif dilaksanakan FKIP UNS dengan berkolaborasi dengan Sekolah Vokasi UGM. Adapun bidang keahliannya adalah bidang Teknik Otomotif yang mana dalam pelaksanaannya dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Teknik Mesin Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan FKIP UNS dan Program Diploma Mesin Sekolah Vokasi UGM. Dalam program ini dinyatakan 30 peserta yang lolos seleksi, akan tetapi yang meneruskan hingga daftar ulang adalah 26 peserta. Daerah perguruan tinggi asal peserta adalah Surakarta 38%, Semarang 38%, Yogyakarta 15%, dan Padang 8%. Seluruh peserta merupakan lulusan kependidikan.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 92 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Tabel 1. Distribusi Daerah/LPTK Asal Peserta PPG SMK Kolaboratif FKIP UNS Daerah Asal LPTK Asal Jumlah Prosentase (%) Surakarta UNS 10 38 Semarang UNNES 10 38 Yogyakarta UNY 4 15 Padang UNP 2 8 Selama kegiatan berlangsung di FKIP UNS maka peserta tinggal di rumah kontrak yang ditempati bersama-sama. Lokasi rumah kontrak terletak di dekat kampus FKIP UNS Pabelan untuk memudahkan transportasi peserta. Demikian juga pada saat kegiatan berlangsung di Program Diploma SV UGM, para peserta juga tinggal di rumah kontrak bersama. Hal ini bertujuan untuk kemudahan koordinasi dan kemudahan kegiatan pembinaan karakter. Salah satu kegiatan bersama peserta adalah olah raga yang dilakukan secara berkala. b. Struktur Kurikulum Struktur program ini telah distandarkan oleh Dikti untuk seluruh LPTK penyelenggara. Struktur Program PPG tersebut meliputi: (1) pendalaman pedagogis dan pendalaman bidang studi; (2) workshop pengembangan perangkat pembelajaran (SSP); (3) praktek pengalaman lapangan (PPL); dan (4) uji kompetensi. Realisasi pelaksanaan program pada PPG SMK Kolaboratif di Prodi Pendidikan Teknik Mesin JPTK FKIP UNS adalah sebagaimana yang digambarkan pada Gambar 1. Adapun struktur kurikulum yang lebih lengkap adalah sebagaimana yang terlihat pada Tabel 2. Gambar 1. Struktur Program PPG SMK Kolaboratif FKIP UNS – SV UGM

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 93 Tabel 2. Struktur Kurikulum Program PPGT SMK Kolaboratif FKIP UNS – SV UGM c. Penyelenggaraan Program Pelaksanaan program dimulai pada 10 Desember 2012 dengan blok pendalaman materi pedagogis di UNS (sejumlah 5 mata kuliah teori/ 12 SKS/ 192 JPP) dan selesai pada 15 Februari 2013. Kemudian dilanjutkan dengan blok pendalaman materi substansi otomotif yang dilaksanakan di Sekolah Vokasi UGM yang dimulai pada 18 Februari 2013 hingga 5 April 2013 (sejumlah 9 SKS teori dan 3 SKS praktek / 240 JPP). Tahap selanjutnya adalah blok workshop pengembangan perangkat pembelajaran atau yang lebih dikenal dengan isitilah workshop subject specific pedagogis (SSP) yang kembali dilaksanakan di UNS sebanyak 10 SKS praktek (320 JPP). Workshop SSP dilaksanakan selama 320 JP mulai pada tanggal 15 April dan berakhir pada tanggal 31 Mei 2013. Dalam workshop SSP ini masing-masing peserta diwajibkan untuk mengembangkan 6 paket perangkat pembelajaran yang terdiri dari: (1) silabus; (2) RPP; (3) media pembelajaran; (4) materi pembelajaran; dan (5) perangkat evaluasi pembalajaran. Penyusunan perangkat pembelajaran berdasarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang sesuai dengan Kurikulum SMK. Masing-masing mahasiswa menyusun perangkat pembelajaran yang berbeda. Pembagian berdasarkan kesepakatan bersama mahasiswa difasilitasi oleh dosen pengampu dan calon guru pamong pada pertemuan pleno di awal workshop SSP. Masing-masing perangkat pembelajaran diujicobakan dalam praktek peer teaching, yaitu praktek mengajar di depan teman sejawat dengan keterampilan mengajar yang komprehensif.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 94 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Gambar 2. Tahapan dalam Workshop SSP Selama perkuliahan berlangsung, perkuliahan dilaksanakan dengan Berbasis ICT yaitu perkuliahan dilaksanakan dengan perlengkapan ICT yang memadai. Doen mengajar dengan laptop, LCD, dan kelengkapannya, serta difasilitasi dengan komunikasi pembelajaran berbasis email dan group media sosial. Ruang kuliah juga dalam jangkauan wifi sehingga mahasiswa dapat mendapatkan referensi online secara langsung dari ruang kuliah. Perkuliahan dilaksanakan dengan menerapkan Active Learning in Higher Education (ALIHE). Pembelajaran dilaksanakan dengan menjadikan peserta PPGT sebagai subjek belajar. Hal ini ditandai dengan banyaknya aktifitas pembelajaran yang tidak hanya dilakukan satu arah dari dosen kepada mahasiswa melainkan menjadikan mahasiswa aktif dengan diskusi, mengangkat permasalahan-permasalahan sendiri sehingga terbangun suasana pembelajaran yang aktif. Pada pembelajaran pendalaman materi substansi keahlian otomotif, mahasiswa dituntut untuk secara aktif menyelesaikan permasalahan teknis dengan berbagai perangkat peraga pembelajaran yang disediakan dengan pendampingan tenaga instruktur di Sekolah Vokasi. Pembelajaran juga telah mengintegrasikan pendidikan karakter dalam perkuliahan yang diwujudkan dengan format silabus dan RPP pada

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 95 workshop SSP yang telah mengintegrasikan PBKB (Penanaman Budaya dan Karakter Bangsa). Untuk pelaksanaan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) FKIP UNS bekerjasama dengan SMK 2 Surakarta dan SMK 5 Surakarta sebagai mitra untuk pelaksanaan PPL. Kedua sekolah tersebut dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa kedua SMK tersebut terakreditasi A dengan jumlah guru pamong yang memiliki sertifikat pendidikan cukup memadai. Kegiatan PPL didalului dengan berkoordinasi awal sebelum workshop SSP dilaksanakan. Hal ini bertujuan agar pemilihan SK/KD mata pelajaran yang akan dijadikan tugas pengembangan perangkat pembelajaran pada saat workshop SSP sesuai dengan mata pelajaran yang diampu oleh guru pamong. Jumlah peserta yang PPL di SMK N 2 Surakarta dan SMK N 5 Surakarta masing-masing sejumlah 13 orang. PPL dilaksanakan mulai tanggal 3 bulan Juni 2013 sampai dengan akhir bulan November 2013. d. Uji Kompetensi dan Kelulusan Uji kompetensi Program PPG SMK Kolaboratif terdiri dari Ujian Kinerja, Ujian Tulis Lokal, dan Ujian Tulis Nasional. Ujian kinerja merupakan ujian praktek mengajar yang dilaksanakan di sekolah tempat PPL dengan penguji dari dosen penguji, guru pamong, dan guru independent. Ujian ini dilaksanakan sekaligus pada penghujung program PPL. Ujian tulis lokal terdiri dari ujian tulis pedagogis dan ujian tulis keahlian otomotif. Ujian tulis lokal dilaksanakan pada tanggal 27 November 2013. Ujian Tulis Nasional merupakan ujian yang dilaksanakan secara serempak oleh Dikti secara online. Ujian dilaksanakan pada tanggal 29 November 2013 bertempat di laboratorium komputer jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan FKIP UNS. Ujian ulang dilaksanakan ada tanggal 4 Desember 2013, baik ujian tulis nasional maupun ujian tulis lokal. Dalam program ini, semua nilai dikelola di sistem informasi manajemen program milik Dikti. Sistem Dikti yang menampung dan mengolah nilai yang kemudian diumumkan kelulusannya ke LPTK penyelenggara. Dari 26 peserta yang mengikuti program PPG SMK Kolaboratif di Jurusan PTK FKIP UNS ini dinyatakan lulus sejumlah 25 peserta dan 1 orang tidak lulus. Adapun pasing grade untuk kelulusan program adalah 50 untuk score UTN dan 70 untuk score kelulusan akhir. Kepada yang lulus saat ini telah diberikan sertifikat pendidik dan diberikan gelar Gr (Guru) sebagaimana yang diatur dalam Permendikbud No. 87 Tahun 2013. Sertifikat Pendidik ditandatangani oleh Rektor Universitas Sebelas Maret. Sesuai dengan Struktur Program PPG SMK Kolaboratif sebagaimana dijelaskan pada Gambar 1 maka peserta juga mendapatkan sertifikat keahlian Teknik Otomotif dari Sekolah Vokasi UGM. e. Penjaminan Mutu Penjaminan mutu pelaksanaan Rintisan Program Kolaborasi PPG SMK Produktif di FKIP UNS dilakukan penjaminan mutu internal dan eksternal. Penjaminan mutu internal dilaksanakan dengan menggunakan angket penilaian kinerja dosen, sedangkan untuk mengetahui tingkat kepuasan mahasiswa dipergunakan angket kepuasan mahasiswa. Secara umum, penilaian mahasiswa terhadap kinerja dosen dalam pembelajaran sudah baik (rerata score total 3,09 dari skala 4). Demikian juga dengan kepuasan mahasiswa terhadap layanan penyelenggara juga sudah baik dengan rerata score total 3,75 dari skala 5. Untuk penjaminan mutu eksternal dilakukan oleh tim monev Dikti yang hasilnya dilaporkan ke Dikti sebagai bahan evaluasi pelaksanaan program secara nasional. 2. Pembahasan a. Aspek Legal Pelaksanaan Program Semua program pendidikan wajib dilihat aspek legalnya untuk memberikan keyakinan kepada peserta dan juga

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 96 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 masyarakat akan keabsahan program tersebut. Penunjukan FKIP UNS sebagai pelaksana program PPG SMK Kolaboratif dilandasi dengan penunjukan Dikti yang diformalkan dengan SK Dirjen Dikti No. 67a/DIKTI/Kep/2012 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Penyelenggara Rintisan Program Kolaborasi Pendidikan Profesi Guru Sekolah Menengah Kejuruan Produktif. Dalam SK tersebut FKIP UNS ditunjuk berkolaborasi dengan program diploma Sekolah Vokasi UGM untuk melaksanakan program PPG SMK bidang studi Otomotif. SK tersebut memiliki kekuatan yang cukup sebagai dasar bagi FKIP UNS untuk melaksanakan program tersebut. Sebagai konsekuensi maka UNS sebagai LPTK berkewajiban mengeluarkan sertifikat pendidik dan memberikan gelar Gr (Guru) sebagaimana Permendiknas No. 8 tahun 2009 pasal 14 yang pada saat kelulusan program ini sudah berlaku. Pasal tersebut menyebutkan “Sebutan profesional lulusan program PPG adalah guru yang penggunaan dalam bentuk singkatan Gr ditempatkan di belakang nama yang berhak atas sebutan profesional yang bersangkutan”. Penyelenggaraan program PPG SMK Kolaboratif yang merupakan salah satu program rintisan Pendidikan Profesi Guru. Tujuan dari rintisan ini adalah untuk mencari model terbaik pelaksanaan PPG sehingga pada waktunya dilaksanakan PPG reguler LPTK penyelenggara telah memiliki pola pelaksanaan PPG yang mapan baik dari segi struktur program, manajemen, maupun kelengkapan sarana dan prasarana. Program rintisan ini kemudian dipayungi dengan peraturan menteri, yaitu Permendikbud No. 87 Tahun 2013 ayat (13), yang merupakan perubahan pada Permendiknas No. 8 tahun 2009. Dalam pelaksanaannya program ini dilaksanakan di Prodi Pendidikan Teknik Mesin (PTM). Ditinjau dari persyaratan prodi pelaksana program PPG sebagaimana yang dipersyaratkan pada permendiknas No. 9 tahun 2010 bahwa LPTK penyelenggara wajib memiliki program studi kependidikan strata satu (S1) yang sama dengan program PPG yang akan diselenggarakan maka dalam hal ini seolah-olah terjadi miss match. Namun demikian jika dilihat dari kurikulum prodi PTM terlihat bahwa dalam Prodi S1 PTM terdapat konsentrasi keahlian otomotif. Secara legal formal hal ini wajib diluruskan sehingga bidang keahlian Otomotif di FKIP UNS seharusnya berdiri sendiri sebagai prodi. Hal ini sesuai dengan ketentuan kodifikasi program studi S1 sebagaimana yang tertera pada SK Dirjen Dikti No. 163/DIKTI/Kep/2007 tentang Penataan Dan Kodifikasi Program Studi Pada Perguruan Tinggi. b. Aspek Pelaksanaan Program Struktur kurikulum Program PPG SMK Kolaboratif ditetapkan oleh tim formatur Dikti dengan struktur sebagaimana yang telah dijelaskan pada Gambar 1. Jumlah total beban belajar adalah sejumlah 40 SKS. Di sisi lain, Dikti juga telah mempublikasikan buku panduan PPG pada tahun 2010. Buku panduan tersebut telah menjelaskan secara utuh mengenai program PPG termasuk mengenai struktur kurikulum PPG dan sistem pembelajarannya. Menurut panduan PPG Dikti 2010, maka beban belajar program PPG untuk menjadi guru pada satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB atau bentuk lain yang sederajat dan satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat, baik lulusan S1/D IV Kependidikan maupun lulusan S-1/D IV Non Kependidikan adalah 36 (tiga puluh enam) sampai dengan 40 (empat puluh) satuan kredit semester. Hal tersebut mengacu pada Permendiknas No. 8 Tahun 2009 ayat (7). Selanjutnya, secara lebih rinci panduan tersebut juga menjelaskan perbedaan beban belajar tidak hanya berdasar pada Dik/Non Dik akan tetapi juga

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 97 membedakan ada tidaknya PPL pada kurikulum S1 bagi lulusan kependidikan. Tabel 3. Beban Belajar Program PPG Pra jabatan SMA/MA/SMALB/SMK/MAK Menurut Buku Panduan PPG Dikti 2010 Sesuai dengan kondisi yang ada pada program PPG SMK kolaboratif di Jurusan PTK FKIP UNS, bahwa seluruh peserta berasal dari lulusan kependidikan, maka perlu dilihat lebih jauh bagaimanakah kurikulum S1 LPTK asal peserta. Hasil analisis yang lebih detil mengenai kurikulum LPTK asal peserta program maka diketahui bahwa 100% peserta telah mengikuti PPL pada saat pendidikan sarjana. Dengan demikian maka sesuai dengan panduan PPG Dikti 2010 tersebut, beban belajar pada program PPG haruslah terdiri dari: (1) Pemantapan bidang studi dan pendidikan bidang studi (subject enrichment and subject specific pedagogy); dan (2) PPL Kependidikan. Sesuai dengan buku panduan tersebut, maka kurikulum program PPG SMK Kolaboratif telah sesuai dengan ketentuan. Pendalaman pedagogis di LPTK dan pendalaman keahlian yang dilaksanakan di SV UGM merupakan bagian dari pendalaman bidang studi (subject enrichment) sebagai calun guru SMK Otomotif. Distribusi beban belajar masing-masing jenis beban belajar, dalam hal ini jumlah SKS masing-masing beban belajar sebagaimana yang tercantum pada Struktur Kurikulum Program PPG SMK Kolaboratif Gambar 1 merupakan kesepakatan tim formatur dengan semua koordinator penyelenggara dari seluruh LPTK yang didasari pada kebutuhan riil karakteristik keahlian guru SMK Produktif. Hal ini diperbolehkan sebagaimana dinyatakan pada pasal 10 ayat (8) permendiknas No. 8 tahun 2009, dan diperbaharui dalam pasal dan ayat yang sama pada permendikbud No. 87 Tahun 2013, yang menyatakan bahwa

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 98 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Ketentuan lebih lanjut mengenai penjabaran beban belajar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (7) ke dalam distribusi mata kuliah sesuai struktur kurikulum diatur oleh LPTK yang bersangkutan. Pasal (1) sampai dengan pasal (7) yang dimaksud dalam ayat tersebut merupakan ayat yang menjelaskan mengenai beban belajar PPG berbagai jenjang pendidikan dasar menengah. c. Basis Keahlian Sertifikasi Guru SMK Dalam program PPG SMK Kolaboratif ini semua hal distandarkan oleh Dikti. Beberapa hal yang distandarkan utamanya adalah kurikulum dan ujian tulis nasional. Tata kelola data peserta termasuk semua nilai hasil ujian dikelola oleh Dikti. Dan pada pencetakan sertifikat juga langsung dicetak dari sistem Dikti. Dalam hal ini LPTK hanya berkewajiban mencetak dengan menggunakan form sertifikat pendidik LPTK dan memberikan segala aspek legalnya, sedangkan redaksi yang tertulis dalam sertifikat telah distandarkan pada sistem Dikti. Sesuai dengan karakteristik keahlian SMK, bagian yang paling perlu untuk dicermati adalah kodifikasi pencantuman keahlian. Tidak sebagaimana sertifikat pendidik guru mata pelajaran umum yang mencantumkan nama bidang studi, misalnya Matematika, Bahasa Inggris, PPKN, maka hal tersebut tidak relevan diterapkan untuk bidang kejuruan. Guru mapel bidang umum tersebut dihasilkan oleh satu program studi S1 tertentu pada LPTK sedangkan untuk SMK hal tersbeut tidak berlaku. SMK terbagi dalam paket keahlian-paket keahlian sesuai dengan yang diatur dalam Keputusan Dirjen Pendidikan Dasar Menengah No.251/c/Kep/MM/2008 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan (atau yang telah diperbaharui dengan Keputusan Dirjen Pendidikan Menengah No. 7013/D/KP/2013 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan Kejuruan). Dalam ketentuan tersebut terdapat tiga terminologi: bidang keahlian, program keahlian, dan paket keahlian. Contoh dari kodifikasi spektrum keahlian untuk SMK adalah sebagaimana pada Tabel 4. Tabel 4. Contoh Kodifikasi Spektrum Keahlian SMK (Program Keahlian Teknik Mesin dan Teknik Otomotif) Bidang Keahlian Program Keahlian Kode Paket Keahlian Teknologi dan Rekayasa Teknik Mesin 013 Teknik Pemesinan 014 Teknik Pengelasan 015 Teknik Fabrikasi Logam 016 Teknik Pengecoran Logam 017 Teknik Pemeliharaan Mekanik Industri 018 Teknik gambar mesin Teknik Otomotif 043 Teknik Kendaraan Ringan 044 Teknik Sepeda Motor 045 Teknik Alat Berat 046 Teknik Perbaikan Bodi Otomotif Untuk lulusan PPG SMK Kolaboratif 2013, redaksi sertifikat pendidik adalah “ ... dinyatakan sebagai GURU PROFESIONAL Program Keahlian Teknik Otomotif, Paket Keahlian Teknik Kendaraan Ringan, dan Kepadanya diberikan sebutan Guru (Gr) beserta hak dan wewenang yang melekat

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 99 pada sebutan tersebut”. Pencantuman tersebut sudah cukup mengakomodir karakteristis spektrum keahlian di SMK akan tetapi masih sangat memungkinkan polemik sejauh manakah kewenangan yang melekat pada sertifikat pendidik tersebut. Pencantuman Paket Keahlian Teknik Kendaraan Ringan sudah dapat dipastikan bahwa yang bersangkutan berkewenangan untuk mengajar pada paket keahlian Teknik Kendaraan Ringan. Namun, bagaimanakah kewenangannya untuk mengajar pada paket keahlian lain yang masih dalam program keahlian yang sama Teknik Otomotif seperti Teknik Sepeda Motor, Teknik Alat Berat, dan Teknik Perbaikan Bodi Otomotif. Polemik ini didasari pada kenyataan bahwa pada jenjang pendidikan S1 yang ada adalah Teknik Otomotif. Mengacu pada kodifikasi program studi S1 yang diatur pada SK Dirjen Dikti No. 163/DIKTI/KEP/2007 tentang Penataan dan Kodifikasi Program Studi pada Perguruan Tinggi dan mengacu pada Permendikbud No. 87 Tahun 2013 tentang PPG Pra jabatan Pasal 3 ayat (1) dan (2) bahwa PPG dapat dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program studi S1 yang sama dengan program PPG yang akan diselenggarakan maka seharusnya batas kewenangan sertifikat pendidik bagi lulusan PPG bidang kejuruan adalah Program Keahlian karena adanya program S1 di LPTK lebih mengacu pada Program Keahlian, bukan Paket Keahlian. Dengan demikian, batas kewenangannya bisa melebar untuk semua paket keahlian pada program keahlian yang sama sebagaimana cakupan kurikulum program sarjana S1 kependidikan pada program studi yang sesuai. KESIMPULAN 1. Program PPG SMK Kolaboratif FKIP UNS – Sekolah Vokasi UGM merupakan program yang sah karena merupakan mandat dari Dirjen Dikti sebagai salah satu rintisan program PPG pra jabatan. 2. Program PPG SMK Kolaboratif antara FKIP UNS dan Sekolah Vokasi UGM telah berjalan dengan baik dan meluluskan sejumlah 25 guru profesional yang saat ini telah memperoleh sertifikat pendidik yang sah. 3. Muatan program PPG SMK Kolaboratif telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku baik menurut panduan program PPG SMK Kolaboratif maupun peraturan menteri tentang PPG pra jabatan. Rekomendasi Berdasarkan refleksi terhadap pelaksanaan Rintisan Program Kolaborasi PPG SMK Produktif FKIP UNS di atas maka direkomendasikan beberapa sebagai berikut: 1. Untuk penyiapan guru SMK produktif maka penguatan kemampuan kompetensi kejuruan adalah keniscayaan akan tetapi bentuk penguatan dengan pembelajaran kolaboratif perlu dikaji ulang untuk bidang keahlian reguler karena LPTK telah memiliki kemampuan, SDM, dan sarana prasarana yang diperlukan. 2. Perlu segera dilakukan kajian yang lebih konmprehensif oleh semua pihak yang berkepentingan terhadap pencantuman basis kodifikasi keahlian pada sertifikat pendidik guru SMK sehingga terjadi linieritas antara dapodik guru, spektrum keahlian SMK, dan kodifikasi program sarjana LPTK selaku pihak penyelenggara sertifikasi guru. 3. Perlu adanya pengkajian ulang terhadap pemberian sertifikat keahlian bagi lulusan PPG Kolaboratif disamping sertifikat pendidik karena hal ini tidak diatur dalam permendikbud mengenai PPG pra jabatan. 4. Konsentrasi otomotif yang ada di dalam Prodi Pendidikan Teknik Mesin harus berdiri sebagai sebuah program studi tersendiri sebagaimana kodifikasi program studi yang diatur oleh Dikti supaya keabsahan untuk melaksanakan PPG program keahlian otomotif lebih terjaga.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 100 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 DAFTAR PUSTAKA Agus Setiawan. (2013). Upaya Pengembangan Pendidikan Voasional dalam Kerangka Globalisasi. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Vokasi. Yogyakarta: Fakultas Teknik UNY Benardus Sentot Wijanarka. (2013). Pendidikan Profesi Guru Sekolah Menengah Kejuruan di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Vokasi. Yogyakarta: Fakultas Teknik UNY Dikti. (2010). Panduan Pendidikan Profesi Guru (PPG), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional. Jakarta. Dwi Rahdiyanta. (2013). Tantangan Guru Pendidikan Vokasi di Era Global. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Vokasi. Yogyakarta: Fakultas Teknik UNY. Kemdikbud. (2014). Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal, Menempa Diri Demi Ibu Pertiwi. Jakarta: Kemdikbud Keputusan Dirjen Pendidikan Menengah No. 7013/D/KP/2013 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan Kejuruan. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional 126/P/2010 tentang Penetapan LPTK Penyelenggara PPG Bagi Guru dalam Jabatan. Keputusan Dirjen Dikti No 67a/DIKTI/Kep/2012 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Penyelenggara Rintisan Program Kolaborasi Pendidikan Profesi Guru Sekolah Menengah Kejuruan Produktif. Keputusan Dirjen Pendidikan Dasar Menengah No.251/c/Kep/MM/2008 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan. Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi No. 163/DIKTI/KEP/2007 tentang Penataan dan Kodifikasi Program Studi pada Perguruan Tinggi. Modul Kebijakan Pengembangan Profesi Guru, Pendidikan dan Latihan Profesi Guru, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2012. Nota Kesepakatan Dekan FKIP UNS No. 1494/UN27.02/KS/2013 dengan Direktur Sekolah Vokasi UGM tentang Kerjasama Penyelenggaraan Program Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi Sekolah Menengah Kejuruan (PPGT SMK) Kolaboratif. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 9 tahun 2010 tentang PPG dalam Jabatan. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 8 tahun 2009 tentang PPG Pra Jabatan. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 87 tahun 2013 tentang PPG Pra Jabatan. Peraturan Pemerintah No 74 Tahun 2008 tentang Guru. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pedoman Pelaksanaan Rintisan Program Kolaboratif Pendidikan Profesi Guru SMK Produktif, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan Tinggi, 2012. Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. UPI. (2012). Booklet Hasil Rembug Nasional SMK Membangun Bangsa. Kerjasama UPI – Direktorat PSMK – APTEKINDO. Bandung: UPI.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 101 BALSEM (BAL SEMEN) PENGUAT OTOT TANGAN PADA TOLAK PELURU TERKAIT PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA SMP NEGERI WONOBOYO Sukiman1 1SMPN I Wonoboyo ABSTRAK Penulisan artikel ini bertujuan untuk memanfaatkan alam sekitar sebagai sumber dan media pembelajaran. Pada materi ajar tolak peluru guru mengalami kesulitan dengan terbatasnya peluru yang ada di sekolah. Untuk memaksimalkan latihan otot tangan sebagai latihan siswa maka guru berkolaborasi membuat peluru sederhana. Alat dan bahan mudah didapat karena hanya memanfaat bola plastic, adonan semen, pasir, dan kerikil. Pembuatan dapat dilakukan siswa dengan bimbingan guru. Percobaan demi percobaan yang dilakukan maka terciptalah balsem yakni bal semen. Proses pembuatan balsam (bal Semen) melalui beberapa tahap. Keterkaitan antara proses pembuatan dengan karakter mandiri dan kreatif sangat erat. Karakter ini diajarkan agar siswa dapat berkembang sesuai dengan kemampuannya dengan harapan dapat menghadapi tantangan global. Kata kunci: balsem, tolak peluru, karakter PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Tolak peluru merupakan salah satu cabang olahraga atletik pada nomor lempar. Tujuan cabangan olahraga ini adalah untuk mencapai hasil tolakan sejauh-jauhnya. Peluru bukan dilemparkan melainkan ditolakkan. Pangkal bahu menjadi tumpuan peluru dengan cengkeraman tangan yang kuat. Cabang olahraga ini membutuhkan tenaga yang sangat kuat. Maka diperlukan latihan rutin dengan ketangkasan, ketepatan, waktu, kecepatan melempar dan kekuatan. Pada dasarnya prestasi tolak peluru dapat diraih dengan baik jika ada koordinasi antara bahu sebagai tumpuan, kekuatan otot tangan, daya tahan tubuh, dan konsentrasi. Kebutuhan akan konsentrasi akan membawa dampak pada pembelajaran karena anak SMP masih dalam tahap perkembangan. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya cedera baik ringan maupun cedera berat. Pembelajaran tolak peluru untuk siswa SMP diberikan dengan teknik-teknik dasar terlebih dahulu. Pengaruh kekuatan otot tangan mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam melakukan teknik tolakan. Menyatunya otot tangan dengan kekuatan bahu sebagai tumpuan memberikan pengaruh besar pada capai tolakan. Dorongan tangan dikoordinasikan dengan keseimbangan pegangan peluru dengan baik merupakan modal awal untuk latihan siswa SMP. Ukuran tolak peluru untuk siswa SMP tidaklah sama karena cabang olahraga ini masih memperhatikan gender. Berat tolak peluru untuk siswa mulai dari 6,25kg sampai 7,25 kg, siswa dengan berat 3 kg sampai 4 kg. Ukuran anak sekolah berat peluru 6,25 kg diperuntukkan untuk siswa sedangkan siswi dengan berat 3 kg. Ukuran berat peluru anak sekolah dengan ukuran internasional sedikit berbeda putra 7,25 kg dan putri 4 kg. Peluru harus terbuat dari besi utuh keras (silidron), kuningan, atau logam lain yang tidak lunak harus berbentuk bulat dengan permukaan halus dan licin. Pengadaan peluru yang tidak mencukupi untuk semua siswa maka guru mengadakan inovasi pada materi pembelajaran ini. Hasilnya berupa bal semen yaitu perpaduan bola plastik dengan adonan pasir, kerikil, dan semen. Pembuatan bal semen ini dibuat oleh siswa sendiri dengan bimbingan guru. Kerjasama siswa dengan temannya membentuk karakter kreatif dan mandiri. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kekuatan otot tangan berdampak terhadap capaian tolakan peluru, pembuatan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 102 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 peluru bal semen dibuat siswa sendiri dapat menumbuhkan karakter mandiri dan kreatifitas. Pentinganya pembuatan media ajar buatan siswa sendiri memupuk pemberdayaan sumber daya siswa secara mandiri. 2. Identifikasi Masalah a. Guru kesulitan dalam membentuk kekuatan otot tangan pada cabang olahraga tolak peluru. b. Guru kesulitan memenuhi kebutuhan peluru bagi siswa c. Guru kesulitan membentuk karakter krearif dan mandiri. 3. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: a. Bagaimanakah cara membentuk kekuatan otot pada cabang olahraga tolak peluru? b. Bagaimanakah guru memenuhi kebutuhan peluru? c. Bagaimanakah guru membentuk karakter kreatif dan mandiri? 4. Studi Kepustakaan Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kekuatan adalah “tenaga dan gaya”. Dalam bahasa Inggris “strength” adalah tenaga yang digunakan untuk merubah bentuk benda. Kekuatan dapat membantu membangkitkan tegangan terhadap suatu tahanan. Kekuatan otot merupakan unsur yang sangat penting untuk meningkatkan ketahanan fisik secara keseluruhaan. Ketahanan fisik yang baik akan mempengaruhi kegesitan dalam melakukan berbagai kegiatan. Chandra (2010: 102) mengatakan bahwa kekuatan otot tubuh tergantung pada bagaimana kebiasaan melatih daya tahan otot. Berbagai latihan kekuatan akan membentuk ketahanan fisik seseorang. Kekuatan otot berkembang dengan baik jika dilakukan makin meningkat. Latihan juga dilakukan secara rutin dan dengan kesadaran tinggi. Kekuatan otot dilatih melalui latihan pendahuluan meliputi: peluru dipegang dengan satu tangan secara bergantian, peluru diletakkan pada bahu kemudian diangkat ke atas, peluru dipegang dengan kedua tangan, posisi badan membungkuk kemudian kedua tangan digerakkan. Kekuatan otot tangan menurut Nawir kekuatan otot tangan adalah kekuatan yang dihasilkan oleh otot-otot tangan yang bergerak sesuai dengan derajat kebebasan yang dimiliki. Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kekuatan otot tangan adalah kekuatan yang diperoleh dari hasil latihan secara kontiniu. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hakikat Bal Semen Bal semen merupakan sebuah karya siswa yang dapat digunakan untuk media pembelajaran materi tolak peluru. Asas keberadaannya tidak ada rotan akarpun jadi. Karena memang kekurangan peluru untuk pembelajaran. Media yang sangat sederhana menjadi sesuatu yang luar biasa manakala dibuat oleh siswa sendiri. Kreativitas siswa untuk menciptakan balsem patut diacungi jempol. Pada usia SMP anak-anak mulai berpikir kreatif untuk menciptakan sesuatu yang berguna bagi proses belajarnya. Cara pandang siswa membuahkan hasil yang luar biasa dengan diciptakan balsam (bal semen). Benda ini tercipta dengan memodifikasi bola plastik biasa disulap menjadi balsem. Pembuatannya masih sangat sederhana mula-mula bola diiris atau dilubangi sedikit. Sediakan adonan pasir, semen, dan kerikil. Bola yang sudah dilubangi diberi adonan tersebut sedikit demi sedikit. Bola plastik diisi secara penuh dengan maksud jangan sampai ada ruang yang tersisa. Tujuannya agar bola mempunyai kekerasan yang utuh. Bola-bola plastik yang sudah terisi dengan baik didiamkan beberapa hari agar adonan semen membeku dengan maksimal. Bal semen siap dipergunakan siswa untuk berlatih kekuatan otot tangan. Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan adalah ukuran bal semen memenuhi standar ukuran yang telah ditentukan. Keberadaan bal semen dapat dimiliki oleh setiap siswa agar dapat berlatih

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 103 bersama. Pengisian bola plastik sesuai dengan ketentuan berat peluru yakni 6,25 kg diperuntukkan untuk siswa sedangkan siswi dengan berat 3 kg. 2. Pola Latihan Otot Tangan Teknik memegang bal semen ada tiga meliputi: a) Jari-jari direnggangkan sementara jari kelingking agak ditekuk dan berada di samping peluru, sedang ibu jari dalam sikap sewajarnya; b) untuk orang yang berjari kuat dan panjang. Jari-jari agak rapat, ibu jari di samping, jari kelingking berada di samping belakang peluru; b) biasa dipakai oleh para juara. Seperti cara di atas, hanya saja sikap jari-jari lebih direnggangkan lagi, sedangkan letak jari kelingking berada di belakang peluru. Cocok untuk orang yang tangannya pendek dan jari-jarinya kecil. Tidak cocok untuk anak anak dibawah sembilan tahun. Latihan kekuatan otot ada tiga yakni; a) peluru dipegang dengan tangan kanan dan diletakkan di bahu dengan benar, luruskan lengan ke atas tengkuk, kemudian turunkan kembali dan lakukan secara berulang-ulang; b) peluru dipegang dengan salah satu tangan kemudian gerakan ke atas bawah secara bergantian; c) peluru dipegang dengan kedua tangan, dari sikap berdiri lalu membungkuk, kemudian ayunkan kedua lengan dari depan ke belakang dan peluru digelindingkan ke depan. Lakukan latihan ini secara kontinui dengan kapasitas beban bertambah. Penambahan beban ini dimaksudkan untuk mempertahankan kekuatan dan menambah stamina tubuh. 3. Pemenuhan kebutuhan Peluru Kebutuhan peluru yang digunakan siswa sangat terbatas maka guru beserta siswa berpikir untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Atas gagasan guru diadakan pemenuhan dengan membuat peluru secara sederhana. Awal mula peluru yang digunakan hanya berupa bal plastik yang diisi pasir. Percobaan ini belum menumbuhkan hasil yang maksimal. Tolakan peluru pasir dirasakan tidak nyaman dan kurang efektif. Guru bersama siswa mengadakan percobaan berikut dengan menambah kerikil dan semen. Bahan tersebut dibuat adonan seperti adonan untuk membuat cor pada bangunan. Pertama bola plastik dilubangi dengan pisau kemudian diisi adonan sedikit demi sedikit. Biarkan bal semen ini sampai kering betul. Langkah berikutnya ukur berat bal semen tersebut sesuai ukuran standar. Pengukuran bal semen jika belum memenuhi standar berat maka diadakan perbuatan lagi sampai mencapai standar. Bungkus bola plastiknya dibuang agar terlihat lebih manis. Untuk mempercantik bal semen tahap berikutnya diberi cat dengan beraneka warna. Keragaman warna menarik minat siswa untuk menuangkan kreasi. Ada beberapa siswa yang tidak membuang bungkus bola plastiknya tetapi langsung diberi warna. Hasil bal semen kreasi siswa digunakan untuk latihan otot tangan pada cabang tolak peluru. Harapan ke depan siswa dapat berkreasi lagi pada materi-materi mata pelajaran lain. Guru sebagai motivator selalu member motivasi kepada siswa-siswanya untuk berbuat sesuatu yang dapat bermanfaat pada pembelajaran. 4. Hakikat Karakter Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai tabiat; watak; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada lain. Dari pengertian ini dapat dikatakan bahwa membangun karakter adalah proses membuat atau memahat jiwa seseorang sehingga terbentuk sesuatu yang berbeda dari orang lain. Karakter bisa diartikan sikap yang menonjol dari seseorang. Menurut Doni Koesoema A. (2007) karakter diartikan sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri atatu karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan. Sembilan pilar pendidikan karakter, antara lain (1) religius, (2) tanggung jawab, kedisplinan, dan kemandirian, (3) kejujuran, (4) hormat dan santun, (5) dermawan, suka menolong dan gotong royong/kerjasama, (6) percaya diri, kreatif dan bekerja keras, (7) kepemimpinan dan keadilan, (8) baik dan rendah hati, (9) toleransi kedamaian dan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 104 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 kesatuan.Terkait dengan pembuatan bal semen dengan karakter adalah sikap kemandirian dengan kreatifitas. Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kecerdasan semata bukan segala-galanya tetapi pendidikan karakter kuat akan membentuk siswa yang tangguh dalam menghadapi tantangan dan persaingan di masa mendatang. Menyadari pendidikan karakter kuat pada siswa merupakan faktor utama dalam kesinambungan hubungan dalam kehidupan mendatang. Kecerdasan yang tinggi tanpa dibarengi pendidikan karakter yang kuat akan melahirkan kehancuran, karenanya dengan kecerdasan itu akan lahirlah kejahatan-kejahatan yang lebih canggih yang akan menyengsarakan kehidupan manusia. Dengan karakter yang kuat dapat menciptakan siswa menjadi makhluk yang mulia dan sempurna. Lickona menekankan pentingnya komponen karakter yang baik yaitu (1) moral knowing atau pengetahuan tentang moral, (2) moral feeling atau perasaan tentang moral, (3) moral action atau perbuatan bermoral. Hal ini diperlukan agar siswa mampu memahami, merasakan dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebajikan. Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa pentingnya pendidikan karakter ditanamkan secara dini untuk menghadapi tantangan regional dan global dengan maksud siswa selain mempunyai kemampuan koqnitif , aspek afektif dan moral juga dikuasai. Untuk itu pendidikan karakter diperlukan untuk mencapai siswa yang mempunyai integritas nilai-nilai moral sehingga mempunyai karakter yang kuat. SIMPULAN DAN SARAN Tolak peluru merupakan salah satu cabang olahraga atletik pada nomor lempar. Pada dasarnya prestasi tolak peluru dapat diraih dengan baik jika ada koordinasi antara bahu sebagai tumpuan, kekuatan otot tangan, daya tahan tubuh, dan konsentrasi. Pengadaan peluru yang tidak mencukupi untuk semua siswa maka guru mengadakan inovasi pembuatan peluru sendiri. Pelutu memanfaatkan bola plastik dan adonan semen, kerikil, pasir menjadi solusinya. Latihan otot tangan secara rutin dengan peluru yang dimiliki siswa dapat meningkatkan pencapai materi ajar. Pembuatan bal semen menumbuhkembangkan karakter mandiri dan kreatifitas siswa. Bagi guru hendaknya melakukan inovasi pada setiap pembelajaran. Siswa digali kemampuannya untuk menuangkan ide-ide. Kebersamaan guru dengan siswa merupakan kolaborasi yang tidak dapat dipisahkan. Alam sekitar dimanfaatkan sebagai sumber belajar. DAFTAR PUSTAKA Chandra Sodikin dan Esnoe Achmad.2010. Pendidikan Jasmani olahraga dan Kesehatan.Pusbuk. Kemdiknas. Elektro Matra Mandiri Depdiknas.2002.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta.Gramedia Gunawan Heri.2012.Pendidikan Karakter,Konsep dan Implementasi.Bandung.Alfabeta Koesoema Doni. 2007.Pendidikan Karakter, Strategi Mendidik Anak di Zaman Global.Jakarta.PT Grasindo Prastowo Andi.2011.Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif.Yogyakarta.Diva Press Rusyan Tabrani. 2006. Pendidikan Budi Pekerti. Bandung. Sinergi Pustaka Indonesia Sulhan Najib. 2006. Pembangunan Karakter pada Anak. Surabaya. Surabaya Intelektual Club Sulistyowati Tri.2014. Building The Student Character By a Touch Of Love Have An Impact For The Learning Process. Makalah Internasional dipresentasikan tanggal 7-8 Mei 2014 di UNY Yogyakarta Tim Penjaskes. 1997.Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Yudhistira Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas .........., 2011 Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter,

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 105 Kemdiknas.Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan. ……….., 2012.Nurdin Fatah dan Kemala Aisyah. Kekuatan Otot Lengan Atlek Atletik PPLP di Jakarta. Gladi Jurnal Ilmu Keolahragaan,Vol.6, No.1 April 2012 ……….., 2011. Nawir Nukhrawi. Konteribusi Kekuatan Otot Tangan dan Daya Tahan Otot Lengan dengan Kemampuan Memanah Jarak 30 Meter Pada Atlet Panahan Sulawesi Selatan.Competitor.No.2 tahun 3, Juni 2011

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 106 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 STRATEGI UNTUK PENINGKATAN MUTU SEKOLAH BERDASARKAN ANALISIS FISHBONE DI SD NEGERI MARGOLELO, KANDANGAN, TEMANGGUNG Tri Sadono1,*, Bambang Ismanto2 dan Arief Sadjiarto3 1SD Negeri Margolelo 2,3UKSW Salatiga ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang menyebabkan menurunnya mutu sekolah di SD Negeri Margolelo dan strategi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Penelitian deskriptif kualitatif ini menggunakan analisis Fishbone, dan dalam mengumpulkan data menggunakan FGD, wawancara, observasi, dokumentasi dan metode penelusuran bahan dari internet. Hasil penelitian ini adalah Faktor yang menyebabkan menurunnya mutu sekolah yaitu Faktor internal dan eksternal yang meliputi: sumber daya manusia, sarana prasarana, metode pembelajaran dan material/sumber belajar. Selain itu, terdapat beberapa strategi yang harus dilakukan untuk meningkatkan mutu sekolah di SD Negeri Margolelo. Harapan dari penelitian ini adalah sekolah dapat melaksanakan strategi yang sudah dibuat dengan baik. Kata Kunci: Strategi, Mutu Pendidikan, Ujian Sekolah, Fishbone. PENDAHULUAN Sekolah dasar merupakan jenjang pendidikan yang paling penting keberadaannya, sebagai dasar dari semua jenjang pendidikan. Keberhasilan seorang anak didik mengikuti pendidikan di sekolah dasar dapat menentukan keberhasilan dalam jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Oleh karena itu, keberadaan sekolah dasar di Indonesia harus bermutu. Menurut Sudrajat (2005) pendidikan bermutu adalah pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang mempunyai kemampuan dalam bidang akademik maupun kejuruan, yang dilandasi oleh kemampuan personal dan sosial. Sehingga sekolah diharapkan menghasilkan lulusan yang menghasilkan prestasi belajar yang tinggi sesuai dengan tujuan sekolah tersebut. SD Negeri Margolelo merupakan sekolah dasar yang berada di Dusun Bleder, Desa Margolelo, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung. Sekolah ini adalah satu-satunya sekolah dasar yang ada di Desa Margolelo, sehingga sebagian besar penduduk desa ini menyekolahkan anaknya di SD Negeri Margolelo. Menurut ketua komite sekolah SD Negeri Margolelo, penduduk di desa ini sangat berharap anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang bermutu. Dengan memberikan pendidikan yang bermutu diharapkan nantinya output yang dihasilkan oleh SD Negeri Margolelo juga bermutu. Namun berdasarkan hasil Ujian Sekolah (US) selama empat tahun berturut-turut, yaitu mulai tahun ajaran 2010/2011 sampai 2013/2014 SD Negeri Margolelo mengalami penurunan yaitu dari nilai rata-rata 7,64 menjadi 5,99. Rata – rata hasil Ujian Sekolah terendah terjadi pada tahun Ajaran 2013/2014, yaitu 5,99 dan merupakan peringkat terendah di antara SD di lingkungan Kecamatan Kandangan. Hal ini dapat dilihat pada tabel 1 Hasil Ujian Sekolah SD Negeri Margolelo di bawah ini:

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 107 Tabel 1 Hasil Ujian Sekolah SD Negeri Margolelo Tahun Ajaran Jumlah Siswa Mata Pelajaran Jumlah Rata- rata Peringkat Sekolah Dasar di Tingkat Kecamatan Bahasa Indonesia Matematika IPA 2010/2011 19 7,69 7,54 7,70 22,93 7,64 14 2011/2012 28 6,96 6,96 7,01 20,93 6,98 21 2012/2013 27 7,44 6,23 5,76 19,43 6,48 21 2013/2014 20 7,37 5,20 5,40 17,97 5,99 23 Sumber: Data primer SD Negeri Margolelo Tahun 2011-2014 (diolah) Studi pendahuluan yang dilakukan dalam kunjungan rapat wali murid kelas VI (enam) SD Negeri Margolelo pada tanggal 17 April 2014, memperlihatkan bahwa wali murid SD Negeri Margolelo berharap supaya anak mereka mendapatkan nilai US yang baik. Menurut peraturan Panitia Peserta Didik Baru (PPDB), hasil nilai US ini digunakan untuk mendaftarkan di jenjang sekolah selanjutnya. Wali murid mengeluh ketika mendaftar di jenjang SMP yang favorit ditolak karena hasil nilai Ujian Sekolah-nya rendah. Oleh karena itu, wali murid SD Negeri Margolelo menjadikan hasil ujian sekolah ini sebagai tolok ukur keberhasilan prestasi belajar anak-anaknya. Untuk mengatasi permasalahan ini diperlukan suatu strategi untuk meningkatkan hasil Ujian Sekolah di SD Negeri Margolelo. SD Negeri Margolelo sebagai sebuah lembaga pendidikan perlu memuaskan apa yang menjadi harapan pelanggan yaitu wali murid. Dalam melayani pelanggan, sekolah ini didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu guru – guru yang sebagian besar sudah berpendidikan S1, sarana dan prasarana/tool, material/sumber belajar dan metode pembelajaran. Dengan tersedianya pendukung tersebut, hasil ujian sekolah SD Negeri Margolelo tidak sesuai yang diharapkan dan bisa dikatakan mutu SD Negeri Margolelo mengalami penurunan. Oleh karena itu untuk meningkatkan mutu SD Negeri Margolelo perlu mengetahui akar permasalahan yang mengakibatkan menurunnya hasil Ujian Sekolah. Menurut Haslindah (2013) diagram Fishbone berguna untuk memperlihatkan faktor-faktor utama yang berpengaruh pada kualitas dan mempunyai akibat masalah. Yamit (2004:48) berpendapat bahwa diagram Fishbone sangat tepat digunakan digunakan untuk mengidentifikasi penyebab masalah dan mengidentifikasi tindakan atau strategi untuk menciptakan hasil yang diinginkan. Oleh karena itu, dalam penelitian ini diagram tersebut digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang menentukan mutu sekolah di SD Negeri Margolelo. Sehingga dapat diketahui faktor yang menjadi penyebab utama terkait mutu sekolah. Setelah mengetahui faktor utama tersebut, diharapkan dapat memberikan alternatif pemecahan untuk mengatasi menurunnya mutu sekolah di SD Negeri Margolelo berupa strategi. Dalam proses penyusunan strategi ini melibatkan kepala sekolah, guru dan komite. Kajian Pustaka Evaluasi dalam proses belajar ini merupakan salah satu tahapan penting untuk meraih tujuan belajar. Pada tahap ini diketahui kemampuan siswa, ketepatan metode mengajar yang digunakan, dan keberhasilan siswa dalam meraih tujuan pembelajaran. Sehingga sekolah dapat mengambil keputusan secara tepat mengenai tahapan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan prestasi belajar yang lebih baik berdasarkan data yang diperoleh dari evaluasi. Tyler (dalam Arikunto, 2009) mengatakan bahwa evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk dapat menentukan sejauh mana pendidikan dilakukan, dalam hal apa saja pendidikan dilakukan, dan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 108 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 bagaimana tujuan pendidikan tersebut sudah tercapai. Jika belum, bagaimana yang belum dan apa sebabnya. Sedangkan menurut Gibson dan Mitchel (dalam Uman, 2007:91) berpendapat bahwa proses evaluasi adalah untuk mencoba menyesuaikan data objektif dari awal hingga akhir pelaksanaan program sebagai dasar penilaian terhadap pendapat di tujuan program. Berdasarkan teori di atas maka dapat dikatakan bahwa evaluasi adalah suatu kegiatan atau suatu proses menentukan nilai dari proses pembelajaran dalam pendidikan, sehingga dapat diketahui hasilnya. Berdasarkan hasil ini dapat diketahui suatu program berhasil atau tidak dalam mencapai tujuannya. Dalam konteks pendidikan formal, menurut Purwanto (2006) prestasi belajar adalah suatu hasil yang diperoleh oleh sesorang dalam usaha belajar yang dinyatakan dalam raport. Sedangkan Tirtonegoro (2006:43) menyatakan bahwa prestasi belajar merupakan penilaian aktivitas belajar siswa yang dinyatakan dalam bentuk huruf, simbol, angka, maupun kalimat yang dapat menggambarkan hasil yang sudah dapat dicapai siswa dalam proses pembelajaran. Semiawan (dalam Tarmidi, 2005) menyatakan bahwa prestasi belajar terkait data otentik yang diperoleh dari tes hasil belajar. Arikunto (2006:276) menyebutkan bahwa prestasi harus mencerminkan tingkatan-tingkatan siswa sejauh mana telah dapat mencapai tujuan yang ditetapkan setiap bidang studi. Simbol yang digunakan untuk menyatakan nilai, baik huruf maupun angka, hendaknya merupakan gambaran tentang prestasi saja. Menurut Syah (2008:141), Prestasi Belajar merupakan tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai hasil yang telah ditargetkan dalam sebuah program. Berdasarkan pengertian ini, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan seseorang dalam mempelajari materi pelajaran yang sudah diprogramkan dan dinyatakan dalam bentuk nilai. Jadi evaluasi prestasi belajar siswa adalah suatu kegiatan mengukur nilai keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran yang telah diterimanya. Ujian Sekolah (US) merupakan kegiatan dalam mengukur pencapaian kompetensi siswa yang dilakukan oleh sekolah untuk memperoleh pengakuan atas hasil prestasi belajar dan merupakan sebuah syarat kelulusan dari suatu jenjang pendidikan (Kemendiknas, 2007). Sebagai tanda kelulusan suatu jenjang pendidikan, siswa diberikan surat tanda lulus dan ijazah. Surat tanda lulus adalah surat pernyataan untuk siswa yang dinyatakan lulus dalam mengikuti ujian sekolah dan memuat daftar nilai hasil ujian seluruh mata pelajaran yang diujikan. Fungsi Ujian Sekolah sebagai alat pengendali kualitas sebuah pendidikan, pendorong peningkatan mutu pendidikan, dan bahan dalam menentukan kelulusan siswa. Dengan demikian fungsi ujian sekolah dimaksudkan untuk mengetahui efektivitas dan tingkat pencapaian atau keberhasilan suatu program pengajaran di sebuah sekolah. Menurut Kasir (2014) Hasil Ujian Sekolah juga akan digunakan sebagai tolok ukur untuk dapat menempuh ke jenjang berikutnya, yakni Sekolah Menengah Pertama (SMP). Nilai US akan digunakan untuk diterima masuk sekolah. Sehingga hanya siswa yang memperoleh nilai US yang tinggi yang dapat diterima di sekolah favorit sedangkan siswa yang mendapatkan nilai rendah tidak dapat diterima masuk ke sekolah favorit tersebut. Udiutomo (2013) mengatakan bahwa ada beberapa alasan yang mendukung tetap dilangsungkannya Ujian Sekolah di akhir masa sekolah. Alasannya adalah: 1) Evaluasi adalah dimensi penting dalam manajemen, tidak terkecuali di bidang pendidikan, yaitu digunakan untuk mewujudkan perbaikan yang berkesinambungan; 2) Inti pesoalan adalah Ujian sebagai syarat kelulusan, bukan keberadaan Ujian itu sendiri; 3) Keberadaan ujian sebagai bentuk evaluasi banyak mendorong sikap positif; 4) Salah satu fungsi Ujian Sekolah adalah pemetaan kualitas pendidikan di Indonesia dan fungsi ini perlu dipertahankan; 5) Ujian sekolah adalah salah satu proyek pemerintah yang berorientasi output, dan hal ini perlu dipresiasi; 6) Kualitas identik dengan standar dan Ujian Sekolah mencoba untuk menghadirkan standar

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 109 tersebut. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa ujian sekolah merupakan suatu kegiatan penilaian akhir bagi siswa untuk mengetahui keberhasilan proses belajar mengajar pada jenjang pendidikan tertentu. Ujian sekolah bukan suatu program yang salah, bahkan dengan adanya ujian sekolah menjadi acuan yang tepat bagi pemerintah untuk mengetahui kondisi mutu pendidikan di Indonesia. Syah (2008:132-139) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mendukung prestasi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: 1) Faktor Internal (faktor yang ada dalam diri siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa. 2) Faktor Eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan yang ada di sekitar siswa. 3) Faktor Pendekatan Belajar (approach to learning), yakni strategi dan metode yang digunakan siswa yang merupsksn upaya belajar siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran. Menurut Purwanto (2006:112), faktor - faktor yang menyebabkan prestasi belajar dapat dibedakan menjadi dua factor: 1) Faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang disebut faktor individual, yang termasuk faktor individual antara lain: faktor kecerdasan, motivasi, kematangan/pertumbuhan, , latihan, dan faktor pribadi. 2) Faktor di luar individu yang disebut faktor sosial, yang termasuk faktor sosial adalah keluarga, guru dan metode mengajarnya, alat peraga, lingkungan belajar dan kesempatan yang tersedia, dan motivasi. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, dapat diketahui bahwa faktor- faktor yang dapat menyebabkan prestasi belajar dapat digolongkan menjadi dua yaitu: 1) Faktor internal, yaitu faktor yang berkaitan dengan diri siswa itu sendiri yang dapat berupa kemandirian belajar, motivasi, bakat, minat belajar, kebiasaan belajar, kepandaian, kesehatan, sikap, dan faktor pribadi lainnya. 2) Faktor eksternal, yaitu faktor di luar diri siswa itu sendiri. Faktor ini dapat berupa sarana dan prasarana, lingkungan belajar siswa, metode pembelajaran, guru, media pembelajaran, sumber belajar dan lain - lainnya. Pada faktor internal, minat belajar siswa mempunyai peran yang sangat penting. Karena dengan memiliki minat belajar, seorang siswa akan tumbuh motivasi belajarnya, sehingga kemandirian belajarnya akan muncul pada dirinya. Menurut Belly (2006:4), Minat adalah suatu keinginan yang muncul setelah melihat, mengamati dan membandingkan serta mempertimbangkan dengan kebutuhannya. Sedangkan belajar Menurut Slavin (dalam Anni, 2004) merupakan proses kemampuan yang berasal dari pengalaman. Dari teori tersebut dapat dijelaskan bahwa minat belajar adalah keinginan untuk memperoleh kemampuan setelah melalui rangkaian tahapan pengalaman melihat, mengamati, dan membandingkan. Minat belajar pada diri siswa perlu ditumbuhkan. Karena dengan adanya minat belajar, seorang siswa dapat tumbuh motivasi, kemandirian belajar, kebiasaan belajar dan perubahan sikap yang mendukung ke arah prestasi belajar yang lebih baik. Menurut Chandler (dalam Rangkuti, 2006: 3) Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan organisasi dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut, serta prioritas alokasi sumber daya. Sanjaya (2006:126) berpendapat bahwa strategi adalah metode yang digunakan untuk memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan. Berdasarkan teori para pakar di atas dapat dipahami bahwa strategi adalah metode yang digunakan oleh sebuah organisasi untuk mendapatkan keberhasilan dalam mencapai tujuan organisasi. Dalam menentukan strategi sangat perlu merumuskan sebuah tujuan organisasi yang jelas dan harus mengetahui faktor-faktor yang mendukung keberhasilan dalam mencapai tujuan organisasi tersebut. Sebuah organisasi berharap dapat menggunakan strategi secara tepat sehingga tujuannya dapat tercapai, yaitu meningkatkan mutu organisasinya. Salah satu indikator yang menunjukkan suatu organisasi bermutu dapat dilihat dari kinerjanya. Dalam bidang pendidikan, mutu meliputi input, proses dan output yang ada dalam dunia pendidikan (Sukmadinata, 2006). Input

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 110 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 pendidikan yang dimaksud adalah semua yang dibutuhkan untuk berjalannya suatu proses. Sedangkan proses adalah proses pengambilan sebuah keputusan, proses dalam belajar mengajar, pengelolaan organisasi proses pengelolaan program, dan proses monitoring dan evaluasi, dapat dikatakan bahwa proses belajar mengajar merupakan paling penting dibandingkan dengan proses - proses lainnya. Output pendidikan yaitu capaian sebuah proses pendidikan. Output sekolah bermutu tinggi apabila prestasi siswanya tinggi dalam prestasi akademik yang berupa nilai ulangan umum, Ujian Sekolah, lomba akademik; dan prestasi non-akademik, seperti Pramuka. Sementara Sagala (2010) menjelaskan mutu adalah gambaran secara utuh tentang jasa pelayanan pendidikan secara internal maupun eksternal yang menunjukkan kemampuannya memuaskan kebutuhan yang diharapkan atau yang tersiratBerdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan mutu pendidikan adalah kemampuan sekolah dalam mengelola komponen – komponen yang ada di sekolah sehingga menghasilkan lulusan yang memiliki pencapaian prestasi belajar yang tinggi. Djauzak (dalam Nuraniyah, 2012) mengatakan peningkatan mutu pendidikan adalah kemampuan sekolah dalam pengelolaan secara operasional dan efisien terhadap komponen-komponen yang ada di sekolah sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma/standar yang berlaku. Menurut Zamroni (2007) peningkatan mutu berkaitan dengan target yang harus dicapai, proses untuk mencapai dan faktor-faktor yang terkait. Dalam peningkatan mutu perlu diperhatikan dua aspek, yaitu aspek kualitas dan aspek proses mencapai hasil tersebut. Dari pendapat - pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa peningkatan mutu pendidikan adalah suatu proses yang dilakukan oleh sekolah dengan melibatkan komponen-komponen yang ada untuk meningkatkan kualitas hasil sesuai dengan tujuan sekolah, yaitu prestasi belajar siswa yang tinggi. Strategi peningkatan mutu di SD terkait dengan implementasi wajib belajar 9 tahun dilaksanakan dalam kerangka Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Mulyasa (2009) menyatakan, bahwa MBS merupakan pemberian kewenangan yang luas kepada sekolah agar sekolah dapat lebih leluasa dalam mengelola sumber daya dan sumber dana sesuai kebutuhannya. Sedangkan menurut Hasbullah (2006), MBS merupakan model pengelolaan yang menjadikan sekolah sebagai proses pengambilan keputusan. Dari pendapat tersebut dapat dipahami bahwa MBS adalah pemberian kewenangan yang luas kepada sekolah untuk mengelola komponen yang ada dan mengambil keputusan demi tercapainya tujuan sekolah. Namun dalam melaksanakan kewenangannya, sekolah juga harus memperhatikan skala prioritas kebutuhan dari sekolah tersebut. Dalam hal ini, Rohiat (2008) berpendapat bahwa tujuan MBS adalah meningkatkan kinerja sekolah melalui pemberian kewenangan dan tanggung jawab yang lebih besar (otonomi) untuk mengelola potensi sumber daya yang dimiliki, baik sumber daya manusia maupun sumber daya lainnya (uang, peralatan dan waktu). Sedangkan Slamet (dalam Widiasmara, 2007) mengungkapkan bahwa tujuan MBS adalah untuk usaha pemberdayaan sekolah, melalui pengelolaan sumber daya manusia yang dan sumber lainnya ada di sekolah dengan pemberian kewenangan, fleksibilitas untuk mengatasi persoalan yang dihadapi oleh sekolah. Rohiat (2010:21) mengemukakan terdapat tujuh komponen manajemen sekolah, komponen-komponen tersebut meliputi: Manajemen Kurikulum; Manajemen Program Pembelajaran atau Pengajaran; Manajemen Tenaga Kependidikan; Manajemen Kesiswaan; Manajemen Keuangan; Manajemen Sarana Prasarana; Manajemen Hubungan Masyarakat. Sedangkan Mulyasa (2009) menambahkan satu lagi komponen yang menjadi komponen manajemen sekolah, yaitu manajemen layanan khusus yang terdiri dari manajemen kesehatan, perpustakaan dan keamanan sekolah.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 111 Kerangka Pikir Penelitian Kerangka pikir penelitian ini diawali dengan adanya harapan tentang pendidikan yang bermutu. Sebagai mengukur mutu pendidikan oleh pemerintah diadakan Ujian Sekolah. Setelah diadakan Ujian Sekolah selama 4 tahun berturut-turut ternyata SD Negeri Margolelo mengalami penurunan hasil Ujian Sekolah. Maka dilakukanlah konfirmasi keberadaan masalah menurunnya hasil Ujian Sekolah di SD Negeri Margolelo. Pada tahap ini dikumpulkan data sekunder yang diperoleh dari observasi lapangan peneliti. Tahap selanjutnya menganalisis faktor penyebab menurunnya mutu sekolah di SD Negeri Margolelo. Pada tahap ini dilakukan diskusi kelompok terfokus atau Focus Group discussion (FGD) yang dilakukan bersama pengawas sekolah, kepala sekolah, guru dan komite. FGD akan menggunakan alat analisa fishbone diagram berdasarkan kerangka pikir 4 M (man, machine, methode dan material). Tahap selanjutnya penentuan penyebab menurunnya mutu sekolah di SD Negeri Margolelo. Pada tahap akhir penelitian ini dilakukan kajian pustaka terkait masalah menurunnya mutu sekolah di SD Negeri Margolelo dan temuan penelitian untuk menghasilkan strategi untuk pemecahan masalah menurunnya mutu sekolah di SD Negeri Margolelo. Draft strategi yang dihasilkan kemudian ditawarkan kepada pihak sekolah. Pihak sekolah yaitu kepala sekolah, guru dan pengawas sekolah memberikan masukan dan saran untuk memperbaiki strategi tersebut. Selain itu juga terdapat masukan dari pakar. Tahap terakhir dari penelitian ini adalah penyusunan strategi untuk peningkatan mutu sekolah di SD Negeri Margolelo berdasarkan analisis Fishbone disertai masukan dari teman sejawat dan pakar.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 112 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Gambar 1 Kerangka Berpikir METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini digunakan pendekatan yang bersifat deskriptif kualitatif yaitu mencoba menggambarkan faktor- faktor yang menjadi akar permasalahan yang ada di SD Negeri Margolelo yang mengakibatkan menurunnya mutu sekolah dan menentukan strategi yang tepat untuk mengatasi permasalahan yang mengakibatkan menurunnya mutu sekolah di SD Negeri Margolelo. Penelitian ini dilakukan di SD Negeri Margolelo yang berada di Dusun Bleder, Desa Margolelo, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung. Fokus dari penelitian ini adalah mencari faktor-faktor yang menjadi akar permasalahan yang ada di SD Negeri Margolelo yang mengakibatkan menurunnya mutu sekolah dan mencari strategi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Metode pengumpulan data kualitatif dapat dilakukan dengan wawancara secara mendalam, observasi partisipasi, bahan dokumenter, serta metode-metode baru seperti metode penelusuran bahan internet. Prinsipnya jenis data dikategorikan atas dua hal yaitu data primer dan data sekunder. Penelitian ini menggunakan sumber data primer yang diperoleh langsung dari sumber data. Data primer dalam penelitian ini berupa faktor-faktor yang menjadi akar permasalahan SD Negeri Margolelo mengalami masalah menurunnya hasil Ujian Sekolah Analisis faktor-faktor Penyebab masalah menurunnya hasil Ujian SD Negeri Margolelo Penentuan penyebab menurunnya hasil Ujian SD Negeri Margolelo Strategi untuk peningkatan hasil Ujian SD Negeri Margolelo Analisis Fishbone 4 M Mutu Pendidikan Ujian Sekolah

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 113 menurunnya mutu sekolah SD Negeri Margolelo. Sedangkan data sekunder berupa profil sekolah, kualifikasi pendidikan pendidik, nilai ujian sekolah, hasil kelulusan 4 tahun terakhir diperoleh melalui studi dokumentasi. Untuk mendapatkan data primer dalam penelitian ini digunakan metode Focus Group Discussion (FGD). FGD merupakan suatu proses diskusi untuk mengidentifikasi masalah, analisis, dan penyebab masalah, dan menentukan cara-cara penyelesaikan masalah, dan mengusulkan berbagai alternatif pemecahan masalah dengan mempertimbangkan sumber daya yang tersedia. Kegiatan diskusi kelompok ini untuk mengumpulkan informasi mengenai suatu permasalahan tertentu. Dalam penelitian ini, FGD dilaksanakan pada hari Selasa, 19 Agustus 2014 di ruang guru SD Negeri Margolelo. Dalam kegiatan ini melibatkan unsur pengawas sekolah, kepala sekolah, guru dan komite. FGD ini dilakukan untuk mendapatkan data tentang akar permasalahan dalam rangka peningkatan mutu sekolah di SD Negeri Margolelo yang didasarkan yaitu aspek input, aspek proses, aspek output. Dalam FGD ini terjadi curah pendapat/brainstorming. Setelah FGD tahap selanjutnya adalah melakukan proses analisis data melalui analisis Fishbone. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis Fishbone. Analisis ini dalam bentuk diagram. Diagram Fishbone dikembangkan oleh Dr. Kaoru Ishikawa. Diagram ini bentuknya menyerupai kerangka tulang ikan yang bagian - bagiannya meliputi kepala, sirip, dan duri. Diagram fishbone digunakan pada proses mengidentifikasi suatu permasalahan dan menentukan penyebabnya. Untuk mengecek keabsahan data, peneliti menggunakan teknik Trianggulasi. Triangulasi penelitian ini dilakukan dengan menggali sumber data yang berbeda, yaitu dengan cara FGD, observasi, pengamatan dan dokumentasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Permasalahan menurunnya hasil Ujian Sekolah di SD Negeri Margolelo dilatarbelakangi faktor-faktor yang dikategorikan empat faktor, yaitu faktor sumber daya manusia, faktor sarana prasarana, faktor metode pembelajaran dan faktor material/sumber belajar. Faktor internal yang merupakan faktor yang berkaitan dengan diri siswa sendiri terletak pada faktor sumber daya manusia, yaitu minat belajar siswa rendah. Sedangkan faktor eksternal yang merupakan faktor yang ada di luar diri siswa itu sendiri, yaitu lingkungan belajar siswa terletak pada faktor sumber daya manusia, sarana prasarana, metode pembelajaran dan material/sumber belajar. Faktor penyebab paling dominan adalah terletak pada faktor sarana prasarana yang merupakan faktor eksternal. Setelah mengetahui faktor internal dan eksternal yang menyebabkan menurunnya mutu Sekolah di SD Negeri Margolelo maka dapat disusun diagram Fishbone, seperti pada Gambar 2. Diagram Fishbone Menurunnya Mutu Sekolah.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 114 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Cause Effect Gambar 2. Diagram Fishbone Menurunnya Mutu Sekolah Berdasarkan gambar 2. Diagram Fishbone, menurunnya Mutu Sekolah disebabkan oleh beberapa faktor yang menjadi penyebab masalah yaitu sumber daya manusia, tool / sarana prasarana, metode pembelajaran dan material/sumber belajar. Penyebab masalah pada faktor sumber daya manusia adalah pembagian tugas guru yang tidak merata, Guru kurang terampil menggunakan alat peraga, guru kurang menguasai Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), minat belajar siswa rendah dan ketergantungan wali murid mengenai kemajuan prestasi siswa hanya kepada sekolah. Sedangkan penyebab masalah pada faktor sarana prasarana adalah kondisi sekolah dan ruang kelas yang kurang memadai, alat peraga kurang, alat peraga banyak yang rusak, pemanfaatan alat peraga belum maksimal, fasilitas perpustakaan belum dimanfaatkan secara maksimal, kondisi ruang perpustakaan kurang memadai, buku referensi dan buku pengayaan kurang dimanfaatkan, buku ajar siswa kurang. Material Man Machine/Tools Metode Alat peraga banyak yang rusak Guru kurang terampil menggunakan alat peraga Metode yang digunakan monoton Guru kurang menguasai TIK Alat peraga kurang Minat belajar siswa rendah Kondisi sekolah dan ruang kelas kurang memadai Wali murid hanya menggantungkan kemajuan prestasi siswa kepada pihak sekolah Pembagian tugas guru tidak merata Pemanfaatan alat peraga belum maksimal Buku referensi dan pengayaan kurang dimanfaatkan Ruang perpustakaan kurang memadai Pelaksanaan metode mengajar kurang menarik Fasilitas perpustakaan belum dimanfaatkan maksimal Materi belum tuntas diajarkan Menurunnya Mutu Sekolah Materi pelajaran sulit

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 115 Penyebab masalah pada faktor metode pembelajaran adalah metode yang sering digunakan dalam guru mengajar monoton, yaitu ceramah, pelaksanaan metode mengajar kurang menarik. Penyebab masalah pada faktor material/sumber belajar adalah materi pelajaran dianggap sulit oleh siswa dan materi belum tuntas diajarkan. Berdasarkan diagram Fishbone dihasilkan strategi untuk meningkatkan hasil Ujian Sekolah di SD negeri Margolelo. Strategi yang disarankan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. Strategi untuk Peningkatan Mutu Sekolah di bawah ini. Tabel 2. Strategi untuk Peningkatan Mutu Sekolah No Faktor-faktor yang diamati Masalah yang terjadi Strategi 1 Sumber Daya Manusia Pembagian tugas guru yang tidak merata Mengadakan pemerataan tugas sesuai dengan kemampuannya supaya lebih proposional Guru kurang terampil menggunakan alat peraga Mengadakan pelatihan penggunaan alat peraga di kegiatan Kelompok Kerja Guru ( KKG) Guru kurang menguasai TIK Mengadakan pelatihan TIK pada saat jam luang yang dipandu oleh guru yang sudah menguasai TIK Minat belajar siswa rendah Merencanakan kegiatan pembelajaran yang lebih menarik Wali murid hanya menggatungkan kemajuan prestasi siswa kepada pihak sekolah Memberikan pelajaran tambahan kepada siswa dengan cara membuat kelompok kecil sesuai daerah tempat tinggalnya. 2 Sarana Prasarana Kondisi sekolah dan ruang kelas kurang memadai Menata kembali penyimpanan alat peraga dan mengadakan jadwal senam pagi untuk setiap kelasnya. Kurangnya alat peraga Mengadakan pelatihan membuat alat peraga di kegiatan KKG Alat peraga banyak yang rusak Mengadakan jadwal perawatan alat peraga berkala dua minggu sekali yang dilakukan oleh guru secara bergiliran Alat peraga yang ada belum digunakan secara maksimal Mengadakan pelatihan tentang penggunaan alat peraga di kegiatan KKG Fasilitas perpustakaan belum dimanfaatkan secara maksimal Mewajibkan siswa untuk mengunjungi perpustakaan minimal 1 kali dalam seminggu Kondisi ruang perpustakaan kurang memadai Menata perpustakaan dengan melibatkan guru dan murid sebagai petugasnya. Buku referensi dan buku pengayaan kurang dimanfaatkan mencanangkan program gemar membaca dengan mewajibkan siswa membaca minimal 2 judul buku yang tersedia di perpustakaan setiap minggunya

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 116 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Buku ajar siswa kurang Pemanfaatan sumber belajar dengan menggunakan pembelajaran berbasis TIK melalui power point dan buku elektronik. 3 Metode Pembelajaran Metode yang digunakan monoton Mengadakan pelatihan penggunaan metode mengajar Penggunaan metode mengajar kurang menarik Mengembangkan kreativitas guru melalui lomba kreativitas tentang metode pembelajaran 4 Materi/sumber belajar Materi pelajaran sulit Menambah jam pelajaran dengan cara tutor sebaya Materi belum tuntas diajarkan Memberikan bimbingan belajar intensif kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar Minat belajar siswa bukanlah satu-satunya faktor internal. Karena selain minat belajar siswa, masih ada faktor internal lainnya yang dapat menyebabkan prestasi belajar, yaitu kemandirian belajar, motivasi, bakat, minat belajar, kebiasaan belajar, kepandaian, kesehatan, sikap, dan faktor pribadi lainnya. Namun minat belajar siswa memiliki pengaruh yang besar bagi faktor internal lainnya. Ketika siswa mempunyai minat untuk belajar, maka siswa tersebut akan termotivasi dan bersikap untuk belajar. Sehingga kemandirian belajar juga akan tertanam di dalam siswa tersebut. Persoalan sumber daya manusia adalah Pembagian tugas guru yang tidak merata; Guru kurang terampil menggunakan alat peraga, guru kurang menguasai TIK; Minat belajar siswa rendah; dan Ketergantungan wali murid mengenai kemajuan prestasi siswa hanya kepada sekolah. Sedangkan faktor eksternal penyebab masalah pada kategori sarana prasarana adalah kondisi sekolah dan ruang kelas yang kurang memadai, alat peraga kurang, alat peraga banyak yang rusak, pemanfaatan alat peraga belum maksimal, fasilitas perpustakaan belum dimanfaatkan secara maksimal, kondisi ruang perpustakaan kurang memadai, buku referensi dan buku referensi dan buku pengayaan kurang dimanfaatkan, buku ajar siswa kurang. Faktor eksternal penyebab masalah pada kategori metode pembelajaran adalah metode yang sering digunakan dalam guru mengajar monoton, yaitu ceramah, pelaksanaan metode mengajar kurang menarik. Sedangkan faktor eksternal penyebab masalah pada kategori material/sumber belajar adalah materi pelajaran dianggap sulit oleh siswa dan materi belum tuntas diajarkan. Pada penelitian ini disusun strategi peningkatan mutu berdasarkan analisis fishbone yang memperoleh pertimbangan dan rekomendasi pengawas sekolah, kepala sekolah dan guru SD Negeri Margolelo. Pengawas sekolah memberikan pendapatnya tentang strategi ini adalah Suyantini, M.Pd, pengawas yang bertugas di UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Kandangan. Beliau berpendapat bahwa strategi yang disusun ada yang sudah sesuai namun juga ada yang harus ditambah. Strategi untuk faktor sumber daya manusia menurut Suyantini adalah sebagai berikut: mengadakan pemerataan tugas tambahan sesuai dengan kemampuannya untuk mengatasi pembagian tugas tambahan guru yang tidak merata, dinilai sudah tepat. Sedangkan strategi untuk mengatasi kurang terampilnya guru menggunakan alat peraga, selain mengadakan pelatihan penggunaan alat peraga di kegiatan Kelompok Kerja Guru ( KKG), strategi yang dapat ditempuh adalah dengan diskusi dengan teman sejawat di sekolah. Dengan diskusi ini, guru dapat saling berbagi pengalaman tentang penggunaan alat peraga yang baik. Pemecahan permasalahan tentang kurangnya guru menguasai TIK dapat dilakukan dengan mengadakan pelatihan TIK pada saat jam luang yang dipandu oleh guru yang sudah menguasai TIK. Namun sebelumnya harus diubah dulu mindset guru yang belum menguasai TIK

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 117 agar mampu menggunakan TIK. Mengatasi minat Minat belajar siswa rendah dapat dilakukan dengan cara merencanakan kegiatan pembelajaran yang lebih menarik dan memberi reward bagi siswa yang berprestasi. Dengan memberi penghargaan ini, diharapkan dapat meningkatkan minat belajar siswa. Wali murid hanya menggatungkan kemajuan prestasi siswa kepada pihak sekolah dapat diatasi dengan memberikan pelajaran tambahan kepada siswa dengan cara membuat kelompok kecil sesuai daerah tempat tinggalnya. Selain itu, mengadakan sosialisasi pada wali murid tentang pentingnya peran wali murid terhadap prestasi belajar siswa dengan mendatangkan nara sumber yang berkompeten. Pada faktor sarana dan prasarana kepala sekolah berpendapat bahwa strategi yang digunakan untuk mengatasi kondisi sekolah dan ruang kelas kurang memadai adalah menata kembali penyimpanan alat peraga dan mengadakan jadwal senam pagi untuk setiap kelasnya. Strategi ini sudah dinilai sesuai. Untuk mengatasi kurangnya alat peraga dapat diatasi dengan cara memanfaatkan alat peraga alamtakambang (alat peraga yang ada di sekitar kita). Alat peraga belum digunakan secara maksimal dapat diatasi dengan cara Mengadakan pelatihan tentang penggunaan alat peraga di kegiatan KKG dan mewajibkan guru membaca petunjuk penggunaan alat peraga. Menurut guru SD Negeri Margolelo, untuk mengatasi fasilitas perpustakaan belum dimanfaatkan secara maksimal dapat dilakukan dengan cara guru memberi tugas membaca bacaan anak di perpustakaan minimal seminggu sekali. Sedangkan strategi menata perpustakaan dengan melibatkan guru dan murid sebagai petugasnya, mencanangkan program gemar membaca dengan mewajibkan siswa membaca minimal dua judul buku yang tersedia di perpustakaan setiap minggunya, dan pemanfaatan sumber belajar dengan menggunakan pembelajaran berbasis TIK melalui power point dan buku elektronik dinilai sudah tepat. Untuk mengatasi metode yang digunakan monoton, Suyantini berpendapat hal ini dapat didiskusikan dengan teman sejawat. Dengan adanya diskusi akan mendapatkan pengalaman penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi. Strategi yang digunakan untuk mengatasi Penggunaan metode mengajar kurang menarik adalah Mengembangkan kreativitas guru melalui lomba kreativitas tentang metode pembelajaran, dinilai sudah tepat. Karena dengan adanya lomba kreativitas guru dapat muncul. Untuk mengatasi masalah materi pelajaran sulit, menurut Suyantini dapat dilakukan dengan cara memberi tambahan tugas atau latihan-latihan soal. Sedangkan untuk mengatasi masalah materi belum tuntas, Suyantini berpendapat bahwa memberikan bimbingan belajar intensif kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar sudah dinilai tepat. Menurut Dr. Jumintono, strategi yang disusun, sudah baik. Beliau memberikan saran untuk mengatasi materi pelajaran yang sulit adalah dengan menciptakan situasi belajar yang lebih kontekstual. Hal ini akan membantu siswa untuk lebih memahami materi pelajaran. Sehingga siswa dapat mengatasi permasalahannya dalam belajar. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Menurunnya mutu sekolah disebabkan karena faktor internal yaitu minat belajar siswa yang rendah dan faktor eksternal. Faktor eksternal dari hasil penelitian ini, pertama terdapat dalam kategori sumber daya manusia (pembagian tugas guru yang tidak merata; Guru kurang terampil menggunakan alat peraga, guru kurang menguasai TIK; Minat belajar siswa rendah; dan ketergantungan wali murid mengenai kemajuan prestasi siswa hanya kepada sekolah). Kedua, pada katagori sarana prasarana, seperti kondisi sekolah dan ruang kelas yang kurang memadai, alat peraga kurang, alat peraga banyak yang rusak,

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 118 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 pemanfaatan alat peraga belum maksimal, fasilitas perpustakaan belum dimanfaatkan secara maksimal, kondisi ruang perpustakaan kurang memadai, buku referensi dan buku pengayaan kurang dimanfaatkan, serta buku ajar siswa kurang. Ketiga, pada metode pembelajaran ditemukan metode yang sering digunakan dalam guru mengajar monoton, yaitu ceramah, pelaksanaan metode mengajar kurang menarik dan keempat pada katagori material/sumber belajar adalah materi pelajaran dianggap sulit oleh siswa dan materi belum tuntas diajarkan. Dari keempat katagori dalam faktor eksternal itu, katagori sarana prasarana merupakan penyebab yang paling dominan dalam menurunnya hasil mutu sekolah. 2. Strategi untuk meningkatkan mutu sekolah di SD Negeri Margolelo adalah 1) Mengadakan pemerataan tugas sesuai dengan kemampuannya supaya lebih proposional; 2) Mengadakan pelatihan penggunaan alat peraga di kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG); 3) Diskusi dengan teman sejawat di sekolah; 4) Mengadakan pelatihan TIK pada saat jam luang yang dipandu oleh guru yang sudah menguasai TIK; 5) Mengubah mindset guru yang belum menguasai TIK agar mampu menggunakan TIK; 6) Merencanakan kegiatan pembelajaran yang lebih menarik; 7) Memberi reward bagi siswa yang berprestasi; 8) Memberikan pelajaran tambahan kepada siswa dengan cara membuat kelompok kecil sesuai daerah tempat tinggalnya; 9) Mengadakan sosialisasi pada wali murid tentang pentingnya peran wali murid terhadap prestasi belajar siswa dengan mendatangkan nara sumber yang berkompeten; 10) Menata kembali penyimpanan alat peraga dan mengadakan jadwal senam pagi untuk setiap kelasnya; 11) Mengadakan pelatihan membuat alat peraga di kegiatan KKG; 12) Manfaatkan alat peraga alamtakambang (alat peraga yang ada di sekitar kita); 13) Mengadakan jadwal perawatan alat peraga berkala dua minggu sekali yang dilakukan oleh guru secara bergiliran; 14) Pemakai alat peraga bertanggung jawab atas keutuhan alat; 15) Mengadakan pelatihan tentang penggunaan alat peraga di kegiatan KKG; 16) Guru harus membaca petunjuk penggunaan alat peraga; 17) Mewajibkan siswa untuk mengunjungi perpustakaan minimal 1 kali dalam seminggu; 18) Guru memberi tugas membaca bacaan anak di perpustakaan minimal seminggu sekali; 19) Menata perpustakaan dengan melibatkan guru dan murid sebagai petugasnya; 20) Mencanangkan program gemar membaca dengan mewajibkan siswa membaca minimal 2 judul buku yang tersedia di perpustakaan setiap minggunya; 21) Pemanfaatan sumber belajar dengan menggunakan pembelajaran berbasis TIK melalui power point dan buku elektronik; 22) Mengadakan pelatihan penggunaan metode mengajar; 23) Diskusi dengan temann sejawat; 24) Mengembangkan kreativitas guru melalui lomba kreativitas tentang metode pembelajaran; 25) Menambah jam pelajaran dengan cara tutor sebaya; 26) Memberi tambahan tugas / latihan-latihan 27) Menciptakan situasi belajar yang lebih kontekstual; dan 28) Memberikan bimbingan belajar intensif kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar. Berdasarkan analisis dan pembahasan penelitian ini, saran yang dapat dijadikan pertimbangan adalah: a. Sekolah Sebaiknya sekolah membuat visi yang lebih spesifik dan terukur dengan target jangka waktu pencapaian yang jelas sehingga misi yang akan dilakukan juga jelas. b. Kelompok Kegiatan Guru (KKG) Sebaiknya kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) lebih dimaksimalkan karena selama ini kegiatan KKG yang direncanakan dua kali dalam sebulan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 119 tidak dilakukan secara rutin. Padahal di dalam forum KKG ini ketika ada permasalahan dapat diadakan pembahasan untuk mencari solusinya. c. Dinas Pendidikan Sebaiknya sering mengadakan pelatihan, penataran dan diklat untuk meningkatkan kompetensi Pengawas, Kepala Sekolah, dan Guru. Program ini dilakukan dengan mengidentifikasi permasalahan pendidikan dan pembelajaran di sekolah terkait dengan peningkatan mutu belajar. DAFTAR PUSTAKA Anni, Catharina Tri.(2004). Psikologi Belajar. Semarang: UPT UNNES Press. Arikunto, Suharsimi (2006) Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, edisi Revisi. Jakarta:PT. Rineka Cipta. ___________________. (2009). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara Belly, Ellya dkk. (2006). Pengaruh Motivasi terhadap Minat Mahasiswa Akuntasi. Padang: Simposium Nasional Akuntasi 9. Hasbullah. (2006). Otonomi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Haslindah, A. (2013). Analisa Pengendalian Mutu Minuman Rumput Laut dengan Menggunakan Metode Fishbone Chart pada PT. Jasuda di Kabupaten Takalar. Makasar : Jurnal ILTEK. Kasir, Musliar. (2014). Tak Ada Ujian Sekolah untuk Siswa SD Ini Penggantinya. Jakarta : Kompas .Sumber:http://edukasi.kompas.com/read/2014/03/15/0959086/Tak.Ada.Ujian.Nasional.untuk.Siswa.SD.Ini.Penggantinya. diunduh pada tanggal 23 Mei 2014. Kemendiknas. (2005). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2005 tentang Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2005/2006. Jakarta: Kemendiknas ______________. (2007). Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 Tentang Standar Penilaian Pendidikan .Jakarta : BNSP. Mulyasa, E. (2009). Manajemen Berbasis Sekolah, Bandung: Remaja Rosdakarya. Nuraniyah, Titik. (2012). Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan di SDN 3 Candimulyo Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung. Tesis. Salatiga: MMP- UKSW Purwanto, Ngalim. (2006). Psikologi Pendidikan. Bandung:PT Rosda Karya Rangkuti, Freddy. (2006). Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Rohiat. (2008). Manajemen Pendidikan. Jakarta: Kencana. _______. (2010). Manajemen Sekolah. Bandung: Refika Aditama. Sagala, Syaiful. (2010). Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Sanjaya, W ina. (2006). Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Sudrajat, Hari. (2005). Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah; Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Implementasi KBK, Bandung : Cipta Lekas Garafika. Sukmadinata, Nana Syaodih Dkk. (2006). Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah: Konsep, Prinsip, dan Istrumen. Bandung: Refika Aditama. Syah, Muhibbin. (2008). Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Tarmidi & Lita Hadiati Wulandari. (2005). Prestasi Belajar Ditinjau dari Persepsi Siswa Terhadap Iklim Kelas Pada Siswa yang Mengikuti Program Percapatan Belajar. Jurnal PSIKOLOGIA. Volume I No. 1.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 120 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Tirtonegoro, Sutratinah. (2006). Anak Supernormal dan Program Pendidikan. Jakarta:PT. Bina Aksara. Udiutomo, Purwa. (2013). 6 Alasan mendukung Ujian Nasional. Jakarta: kantorberitapendidikan.net Sumber: http://kantorberitapendidikan.net/6-alasan-mendukung-ujian-nasional/ diunduh pada tanggal 12 Agustus 2014. Uman, Suherman. (2007). Manajemen Bimbingan dan Konseling. Bekasi: Azzam Media. Widiasmara, Nur. Dkk. (2007). Keterlibatan Orang Tua dalam Pendidikan Anak Ditinjau dari Motivational Belief, Persepsi pada Invitation for Involvement dan Life Context. Yogyakarta: UII Yogyakarta. Yamit, Zulian. (2004). Pengendalian Kualitas Barang dan Jasa. Yogyakarta: Ekonisia. Zamroni (2007). Meningkatkan Mutu Sekolah. Jakarta: PSAP Muhammadiyah.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 121 GAMIFICATION: ADAPTASI GAME DALAM DUNIA PENDIDIKAN Eric Kunto Aribowo1,* 1Unwidha Klaten *Keperluan korespondensi: erickunto@unwidha.ac.id ABSTRAK Sudah ada banyak pendapat yang mengakui kebutuhan dan urgensi bahwa sekolah harus disesuaikan dengan teknologi digital dan mengubah cara praktik pedagogisnya secara radikal. Dalam tulisan ini, game melalui mekanisme gamification diuraikan dalam rangka menunjukkan bagaimana game lebih mampu menarik antusiasme pemainnya. Unsur-unsur gamification ternyata merujuk pada bagaimana memotivasi pengguna melalui points, badges, levels, dan leaderboards. Kata kunci: gamification, antusiasme, motivasi PENDAHULUAN Jamak ditemui bahwa dalam dunia pendidikan kita terdapat berbagai macam problematika yang harus dipecahkan. Permasalahan ini barangkali sudah menjadi menu favorit yang senantiasa kita jumpai mulai dari tingkat dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi. Sebut saja fenomena-fenomena yang lazim didapati sebagaimana saya sebut berikut. (1) Biasanya peserta didik hanya diberitahu apa yang harus dilakukan tanpa memahami manfaat yang lebih besar dari apa yang mereka kerjakan. (2) Biasanya sebagian besar siswa tidak menyadari seberapa besar kemajuan yang mereka peroleh hingga mereka mengambil tes atau ujian. (3) Terkadang sulit bagi siswa untuk mengikuti metode belajar baru yang telah disiapkan. (4) Sangat sulit bagi peserta didik untuk mengatasi pengalaman yang kurang menyenangkan, seperti kegagalan dalam ujian dan hasil kinerja yang rendah. (5) Dalam pendidikan, taruhan kegagalan sangat beresiko tinggi dan siklus umpan balik terhadap siswa relatif membutuhkan waktu yang lama. (6) Dalam lingkungan pendidikan, pengakuan terhadap sebuah keberhasilan (penguatan atau reinforcement) sebagian besar hanya disediakan oleh guru/instruktur, sedangkan peran peserta didik lain sangat terbatas. Hal-hal tersebut di atas, sebenarnya sudah diupayakan jalan keluarnya melalui penelitian-penelitian yang bermunculan pada dekade terakhir ini. Sayangnya, penelitian yang ada di Indonesia masih berorientasi pada bagaimana cara mengupayakan peningkatan prestasi peserta didik serta menciptakan sebuah lingkungan belajar yang lebih menyenangkan. Adapun untuk peningkatan motivasi belajar siswa masih terbatas pada permainan-permainan sederhana atau tradisonal (baca Nugrahani, 2007; Arum dan Achmad, 2012; serta Nugroho, dkk., 2013). Permainan digital seperti game belum pernah ditemukan dalam usaha meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Padahal, tidak perlu kita perdebatkan lagi bahwa game sudah seperti zat aditif bagi anak-anak yang mayoritas berperan sebagai pelajar. Gamification merupakan suatu hal yang baru yang merupakan adopsi dari mekanisme video game pada bidang-bidang lain. Sejak tahun 2011 hingga saat ini jumlah tulisan yang berkaitan dengan tema ini melonjak tajam (lihat ulasan Hamari, dkk., 2014)di basis data Scopus, ScienceDirect, EBSCOHost, Web of Science, ACM Digital library, AISel, Google Scholar, and Proquest.Ulasan mereka mengindikasikan bahwa gamification memberikan efek yang positif. Bagaimanapun juga, besarnya efektivitas tersebut tergantung pada seberapa besar konteks gamification yang diterapkan, yang juga digunakan oleh para penggunanya. Telah ada peningkatan dalam penelitian di berbagai ranah di mana kombinasi antara teknologi dan desain game telah dieksplorasi sebagai sarana untuk memotivasi orang-

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 122 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 orang dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Zicherman (2011) telah mendesain sistem yang diadopsi dari mekanisme game untuk meningkatkan produktivitas para karyawan. Selain itu, desain pembelajaran di pendidikan tinggi melalui gamification telah dilaksanakan dengan apik oleh O’Donovan, dkk. (2013). Melalui Vula–gamedaring yang didesain olehnya– beliau berusaha untuk meningkatkan kehadiran dosen, pemahaman materi, skill mahasiswa dalam memecahkan masalah, dan antusiasme. Dengan sistem poin (XP) yang diterapkan berdasar pada ketercapaian materi (10XP untuk capaian 70—79%; 20XP untuk 80—89%; dan 30XP untuk 90—100%) antusiasme mahasiswa dapat diraih. Ditambah lagi, leaderboards disediakan untuk menampilkan deretan 20 nama mahasiswa peringkat teratas. Bahkan, untuk 10 mahasiswa terbaik memenangkan kaos yang berlogo game tersebut. Uji coba tersebut membuktikan bahwa keaktifan siswa dan dosen meningkat. Artinya, pendekatan gamification merupakan pendekatan yang efektif dalam ruang lingkupdunia pendidikan. Teknik gamification yang digunakan pada desain pembelajaran secara signifikan meningkatkan pemahaman dan secara khusus pada antusiasme pebelajar. Melalui tulisan ini, penulis mencoba memaparkan bagaimana gamification dapat dimanfaatkan untuk menjawab enam permasalahan yang telah dikemukakan di awal dengan jalan menguraikan kelebihan apa yang ada pada teknik ini –yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran dan mampu memotivasi peserta didik. Selain itu, penulis juga mencoba mengagas sebuah metode pembelajaran yang diadaptasikan dari gameyang dapat membuat siswa menjadi bersemangat, antusias, dan termotivasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Gamification merupakan kosakata dalam bahasa Inggris yang berasal dari kata “game” dan sufiks –ication yang bermakna ‘making or 1Keempat game ini merupakan koleksi penulis sehingga telah diuji-coba dan dimainkan causing something’. Jull (2003) memberikan definisi yang eksplisit tentang game yang berhubungan dengan proses belajar.Menurutnya: “a game is a rule-based formal system with a variable and quantifiable outcome, where different outcomes are assigned different values, the player exerts effort in order to influence the outcome, the player feels attached to the outcome, and the consequences of the activity are optional and negotiable.” Secara sederhana gamificationmerujuk pada “the use of game elements in contexts that originally had no link to game-related”. Sebagaimana diungkapkan oleh Erin (2013). Dalam pengertian lain, gamification juga diartikan sebagai “a process of enhacing a service with affordances for gameful experiences in order to support user's overall value creation.” (Houtari dan Hamari, 2012). Gamification juga dimaknai sebagai “the addition of elements commonly assocciated with games (e.g. game mechanics) to an educational or training program in order to make the learning process more engaging.” (Landers dan Rachel, 2011). Gamification, atau penggunaan elemen permainan dalam konteks non-game, telah menjadi pendekatan yang semakin populer dalam rangkameningkatkan antusiasme pengguna dalam berbagai konteks, termasuk produktivitas karyawan (Landers dan Rachel, 2011; Harris, 2014), penjualan (Houtari dan Hamari, 2012), dan pendidikan (Fitz-Walter, dkk., 2012; Glover 2013; Gonzalez dan Area, 2013; Miller, 2013; Reiners,dkk., 2012, Ormsbydkk., 2012). Pada pembahasan awal,akan kami menunjukkan bahwa gamification dapat digunakan untuk meningkatkan keterlibatan siswa dan pembelajaran dengan pengujian aplikasi mobile game. Pernyataan-pernyataan yang hadirkami buktikan berdasarkan eksplorasi terhadap empat mobilegame1 yang diunduh dari appstore: (a) The SimsTM FreePlay2, (b) 2Dikembangkan oleh Electronic Arts dengan kategori usia (12+) dapat diunduh dari

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 123 Bridge Constructions3, (c) Hay Day4, dan (d) Dental Surgery5. Sebelum memaparkan kelebihan mengenai gamification lebih jauh, ada baiknya kami sajikan unsur ataupun elemen yang menjadi karakteristik gamification. Unsur-unsur ini kami adaptasikan dari berbagai sumber (yang kami rujuk dari rerefensi yang tercantum pada daftar pustaka) serta melakukan cek silang terhadap keempat game yang digunakan dalam tulisan ini. Yang perlu menjadi perhatian penting adalah game yang hadir di era saat ini telah mengalami evolusi sedemikian rupa sehingga sangatlah berbeda dengan gameyang lahir pada tahun 1980-an hingga 1990-an. Dahulu, kita hanya mengenal game-game sederhana seperti Pac Man, Mario Bross, Contra, MortalKombatyang terdapat dalam konsol Arcade, Nintendo, Brick Game, Play Station. Game dahulu identik dengan konten yang berisikan kekerasan dan pornografi. Saat ini, game telah menjelma menjadi sesuatu permainan yang lebih kreatif, realistis, dan futuristik. Bahkan, banyak game yang didesain untuk mensimulasikan kehidupan nyata, misalnya saja game yang kami manfaatkan dalam tulisan ini: (a) The SimsTM FreePlay, yang mensimulasikan kehidupan sosial bermasyarakat. Game ini menyuguhkan pemain (melalui avatar6) sebagai pelaku dalam dunia virtual berikut aktivitas-aktivitas yang biasa dilakukan manusia, mulai dari bangun tidur, buang air, mandi, sekolah atau bekerja, membaca buku, memasak, membayar tagihan, membeli perabotan, bersosialisasi dengan teman atau tetangga, bahkan tidur malam. (b) Bridge Constructions, yang memberi kita https://itunes.apple.com/id/app/the-sims-freeplay/id466966101?mt=8 3Dikembangkan oleh Headup Games GmbH & Co KG dengan kategori usia (4+) dapat diunduh dari https://itunes.apple.com/id/app/bridge-constructor-playground/id578203499?mt=8 4Dikembangkan oleh Supercell dengan kategori usia (4+) dapat diunduh dari kesempatan menjadi seorang insinyur yang bertugas membangun jembatan guna dilewati oleh berbagai sarana transportasi seperti mobil dan truk. (c) Hay Day, yang menempatkan kita pada posisi sebagai pewaris resmi sebuah peternakan sehingga kita mendapat tugas untuk mengelola lahan yang ada untuk menghasilkan komoditas dari hasil bercocok tanam seperti: wortel, gandum, tebu, jagung, kacang hijau; beternak ayam, sapi, babi, bahkan kuda; dan mengolahhasil panen dan ternak menjadi barang yang siap dikonsumsi seperti: krim, cookies, popcorn, dan gula. Komoditas tersebut yang nantinya akan kita jual kepada para pelanggan kita menurut permintaan yang sebelumnya dikirimkan kepada kita. (d) Virtual Dental Surgery, yang merupakan sebuah game di mana kita berprofesi sebagai seorang dokter gigi yang selalu siap menolong para pasien dengan berbagai macam keluhan atau gangguan yang berhubungan dengan gigi, mulai dari melakukan rontgen, membius, mencabut gigi, menambal gigi, hingga menjahit gusi yang merupakan aktivitas yang akan menjadi rutinitas kita. 1. Karakteristik Dasar Gamification Karakteristik gamification berikut ini diadaptasi dari Erin (2013); Glover (2013); Kapp (2013); O’Donnovan (2013). Setidaknya unsur-unsur yang mayoritas terdapat dalam game antara lain: points, badges, leaderboards, level, dan scenario. Berikut masing-masing penjelasan unsur tersebut. Hal ini perlu disampaikan untuk mengindikasikan bagaimana game sukses meningkatkan antusiasme pemainnya. https://itunes.apple.com/id/app/hay-day/id506627515?mt=8 5Dikembangkan oleh Alex CHEN dengan kategori usia (4+) dapat diunduh dari https://itunes.apple.com/id/app/virtual-dental-surgery/id744834978?mt=8 6Representasi visual dari karakteristik pengguna atau pemain dalam game

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 124 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Gambar 1. Elemen-Elemen Dasar Gamification (a) Points–adabeberapa game menyebut dengan istilah experience points (XP)– merupakan imbalan untuk tindakan baik maupun buruk (lihat Gambar 1A). Points dapat digunakan untuk menandai peningkatan dan dapat digunakan untuk membuka konten yang terkunci, bahkan dapat berfungsi sebagai mata uang yang dapat digunakan untuk membeli benda-benda virtual yang kita inginkan. (b) Badges merupakan emblem atau lencana digital yang kita peroleh apabila telah berhasil menuntaskan misi atau tantangan tertentu(lihat Gambar 1B). Badges dapat berupa pita, tropi, atau lambang lain. Pemain biasanya mendapatkan badges untuk mengukur pencapaian di skill tertentu yang dimaksud pada game. (c) Leaderboards7 merupakan “a list of the individuals who have the highest scores or most points or who have achieved higher levels.” (Kapp, 2013: 291). Dengan kata lain, 7Ada pula yang menyebutkan dengan highscores leaderboards merupakan daftar nama-nama pemain peringkat atas menurut kesuksesan mereka dalam game (lihat Gambar 1D). Hal ini merupakan penunjuk perolehan points sementara. Konsep yang sama yang biasanya digunakan dalam bidang olahraga –klasemen–, tetapi lebih digunakan untuk game yang multi-player, khususnya yang dibatasi oleh waktu atau misi tertentu. Leaderboards bersifat real-time sehingga kita dapat mengetahui posisi kita secara langsung. Dengan demikian, kita mengetahui dengan pasti berapa jumlah points kita, peringkat kita, serta pemimpin (peringkat pertama) berikut perolehan points-nya. Khusus untuk game yang dimainkan dari platform iOS memiliki portal khusus untuk game yang bernama Game Center. Fitur ini merupakan portal yang berisi riwayat atau data mengenai game-game yang telah dan sedang dimainkan. Karena mendukung layanan daring (online), maka kita dapat

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 125 mengurutkannya atau melakukan pengecekan ranking dalam skala global (dunia) maupun skala kecil (nasional) yang informasinya dipancarkan melalui GPS peranti kita. Selain itu, kita juga dapat melakukan sinkronisasi kepada teman-teman kita melalui aplikasiFacebook terhadap game yang sama. Perolehan nilai dan ranking yang kita capai dapat kita post-kan ke dinding Facebook kita sehingga kita pun merasa bangga atas hasil tersebut. Sebagai tambahan, kita pun bisa mendapatkan komentar melalui Facebook yang tentunya merupakan wujud apresiasi teman-teman kita. (d) Levels merupakan jenjang atau tingkat kesulitan (lihat Gambar 1C). Semakin tinggi level berarti semakin tinggi pula kesulitan serta kekompleksan misi atau tugas yang harus diselesaikan. Level 1 harus dituntaskan apabila kita ingin memainkan level 2 (meskipun ada beberapa game yang membatasi dengan beberapa level sekaligus). Intinya, ada fitur-fitur atau level-level tertentu yang terkunci (unlocked) dan belum bisa dimainkan apabila kita belum menyelesaikan misi, tugas, atau level sebelumnya. (e) Scenario (cerita dan tema) merupakan jalan cerita yang menghidupkan permainan. Ini dibuat guna membuat game lebih menarik dan senyata mungkin, sehingga ada konteks-konteks tertentu pada sebuah tema yang terdapat pada game tertentu. Misalnya gameVirtual Dental Surgery yang diawali dengan kisah seorang siswa bernama James yang gigi bawahnya tanggal karena terkena lemparan bola ketika bermain softball. Karena kecelakaan itu, James datang ke klinik untuk melakukan implan gigi palsu. Singkatnya, game dibuat senyata mungkin dengan kondisi masyarakat pada umumnya. Game tidak meminta kita melaakukan sesuatu tanpa suatu sebab. Bahkan, Prosedur Operasional Standar didesain agar mampu mensimulasikan keadaan yang sesungguhnya, misalnya sebelum memeriksa gigi, kita harus melakukan rontgen melalui penyinaran sinar-X untuk melakukan pengecekan mengenai kesehatan tulang rahangnya. Artinya, game tidaklah suatu hal yang selalu merujuk pada dunia fiktif. Unsur-unsur (a), (b), (c), dan (d) merupakan unsur pokok karena digunakan untuk melacak atau mengukur progres atau peningkatan pemain dalam bermain game. 2. Mengapa gamification? Berikut penulis sampaikan efek dari hadirnya elemen-elemen dalam gamification yang dapat berimbas pada penggunanya. Keunggulan inilah yang nantinya dapat diadaptasikan dalam proses pembelajaran.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 126 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Gambar 2. Aktivitas yang Terjadi dalam Game (a) Kompetisi and Kolaborasi Game pada umumnya dapat dimainkan secara multi-players. Dengan demikian, kita dapat bersaing dengan pemain lain dalam satu game yang sama. Adanya GameCenter dan Facebook memungkinkan kita untuk terhubung secara daring dalam rangka mendapatkan lawan atau rekan (untuk membentuk sebuah tim yang akan melawan tim lain). Selain itu, elemen-elemen gamfication seperti points, badges, levels, dan leaderboards merupakan unsur pembukti aktualisasi diri melalui game. Kompetisi ditopang dengan adanya leaderboards yang berguna sebagai motivator yang kuat. Leaderboards pada umumnya dimanfaatkan dalam aktivitas yang kompetitif, meskipun demikian dapat pula digunakan untuk menstimulus kerja tim. Dengan adanya unsur points, badges, dan level pemain dibedakan. Para pemain yang memperoleh skor tertinggi berada di daftar paling atas. Pemain lain tentunya akan berusaha untuk mengejar ketertinggalan mereka. Inilah sebabnya mengapa game bersifat aditif atau membuat kecanduan. Begitu pula pada gameThe SimsTM FreePlay. Kita dapat menjadikan rumah virtual kita sebagai rumah yang termewah, menjadikan avatar kita sebagai avatar yang memiliki teman terbanyak, atau menjadi pemain yang menduduki level tertinggi. Itu akan kita peroleh secara bertahap karena di awal permainan, kita akan diberi modal yang sama, tidak ada perbedaan antara pemain satu dengan pemain yang lain. Ini tergantung bagaimana manajemen kita menjalani kehidupan virtual tersebut. Artinya, pemain yang lebih lama belum tentu menjadi pencetak skor tertinggi. Oleh karena itu, kompetisi di dunia game sangat tinggi karena secara naluriah, kita akan berusaha untuk mengungguli perolehan pemain lain. Di samping kompetisi, game juga memfasilitasi kita untuk terhubung dengan pemain lain dalam rangka bekerja sama atau menjalin hubungan. Dalam gameThe SimsTM FreePlay kita dapat berkunjung ke rumah virtual pemain lain, memanfaatkan perabotan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 127 mereka, berinteraksi dengan avatar mereka, atau menjalin pertemanan (lihat Gambar 2A). Bahkan, ada sebuah misi di mana kita diminta untuk bertindak romantis guna menjalin percintaan dengan avatar lain. Hal inilah yang secara tidak langsung mengajarkan kita untuk berkolaborasi dengan pemain lain dalam tujuan yang sama. (b) Tujuan Jelas, Tantangan yang Adil Game didesain dengan misi atau tujuan yang sangat jelas. Oleh karena itu, apapun yang kita lakukan tidak akan menyelesaikan level atau misi tertentu kecuali apa yang diminta atau diperintahkan dipenuhi. Sebagai contoh pada gameHay Day, saat kita diminta untuk memenuhi toko milik Susan (kita berperan sebagai penyuplai kebutuhan dasarnya) berupa 3 gandum, 3 jagung, dan 3 krim, maka Susan tidak akan menawarkan permintaan lain kepada kita sebelum tugas tersebut terpenuhi (lihat Gambar 2B). Di samping itu, masih ada pula pembeli partai kecil (eceran) yang akan datang sewaktu-waktu untuk membeli kebutuhannya dari kita. Stok barang pun harus kita jaga karena juga merupakan benih dari tanaman-tanaman tersebut yang harus kita semaikan. Apabila benih habis, maka kita tidak dapat bertani dan panen. Dengan demikian, kita akan berusaha keras untuk menuntaskan pekerjaan secepat mungkin agar secepatnya mendapatkan misi baru. Tantangan ini melatih kita untuk menerapkan strategi yang baik sehingga misi (permasalahan) yang ada dapat kita selesaikan melalui learning by doing. (c) Feedback yang Kontinyu Feedback sangat dibutuhkan untuk mengetahui hasil atau imbas dari aktivitas (pekerjaan) yang kita lakukan. Bagian mana yang telah kita lakukan dengan benar dan bagian mana yang perlu kita dibenahi. Selain itu, feedback juga dapat berfungsi ganda sebagai motivator (yang dalam dunia pendidikan kita kenal dengan istilah penguatan). Bentuknya dapat berupa verbal maupun non-verbal. Dalam kenyatannya, saat mengoreksi atau mengevaluasi hasil kerja siswa dibutuhkan beberapa waktu, hari, bahkan minggu. Belum lagi penguatan yang kita berikan ke siswa pun terbatas (tidak dapat dipenuhi satu per satu kepada siswa). Sebaliknya, game mampu memberikan feedback secara serta-merta dan kontinyu, game The Sims misalnya. Sebagaimana kita ketahui, setiap game memiliki aturan main tersendiri. Aturan tersebut dapat dipelajari pemain tanpa harus membaca dan memahami buku manual. Secara otomatis, game menghadirkan opsi, menu, atau fitur tertentu atas apa yang kita lakukan. Misalnya saat kita memainkan gameThe Sims ini. Avatar (pemain dalam game) akan menyesuaikan progress bar yang ada, yang berdasar pada segala aktivitas kita. Apabila indikator tidur kita menipis dan kita tidak segera menjalankannya untuk beristirahat, maka avatar akan merasa pusing. Apabila indikator kebersihan menipis dan tidak segera membersihkan diri, maka muncul bau yang tidak sedap di sekitar tubuh kita (lihat Gambar 2C). Apabila kita jarang membaca buku, maka nilai rapor kita akan jelek. Feedback tidak hanya diberikan apabila kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai permintaan sistem. Feedback muncul ketika kita melakukan sesuatu dengan benar atau baik, misalnya ketika kita berangkat kerja disiplin tepat waktu, maka beberapa saat kemudian kita akan dipromosikan untuk naik jabatan. Bahkan, bonus seperti Simoleons (mata uang dalam game ini) dan barang-barang lain menjadi hak kita. Singkatnya, game menawarkan feedback yang melimpah dari segala detil aktivitas yang dilakukan. Feedback akan didapatkan saat kita melakukan sesuatu dengan benar dan juga yang kurang tepat. Secara otomatis, feedback akan muncul dengan segera melalui berbagai macam bentuk: visual dan audio visual. Bukti konkrit feedback dalam game adalah pemberian points dan badges serta peningkatan level kepada para pemain. (d) Pilihan dan Kesempatan Dalam proses pembelajaran di kelas, siswa terkadang tidak difasilitasi dengan berbagai model belajar yang dapat mereka

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 128 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 pilih sesuai dengan karakteristik mereka. Kebebasan inilah yang dapat kita dapatkan dalam game. Sebagaimana telah disebutkan bahwa game terdiri dari berbagai macam level dan misi yang harus diselesaikan. GameBridge Construction memberi kita misi untuk menjadi perancang jembatan yang aman untuk dilewati kendaraan. Selain aman, sebisa mungkin biaya pembangunan jembatan tidak melebihi anggaran yang disediakan (lihat Gambar 2D). Dengan material yang disediakan kita diminta untuk memenuhi setiap tantangan yang ada. Tantangan ini dibatasi oleh biaya dan daya tahan jembatan. Artinya, kita bebas membangun struktur jembatan dengan material yang kita pilih (material baja misalnya dengan daya tahan yang lebih kuat, tetapi biaya yang agak mahal; material kayu dengan harga yang lebih murah, tetapi dengan resiko berupa daya tahan yang lebih lemah; atau kita bisa menguatkannya dengan bantuan kawat besi). Bentuknya pun dapat kita variasikan, seperti dengan rangka utama berbentuk segitiga, menambahkan deck atau geladak, tiang pondasidengan tinggi tertentu, serta penambahan gerbang dan kabel penarik. Artinya, pemain bebas memilih seperti apa jembatan yang akan dibuatnya asalkan sesuai dengan kriteria yang diminta. Di lain pihak, apabila setelah melalui proses uji coba dengan beberapa kendaraan yang melintas ternyata jembatan tersebut ambruk, kita dapat mengulang game tersebut di level yang sama. Bahkan, kita dapat mengulang level-level sebelumnya untuk mendapatkan poin yang lebih tinggi dengan jalan membuat jembatan yang seringan dan semurah mungkin. Dalam game, kita dapat memilih segala opsi yang ada karena 100% kontrol permainan ada di tangan pemain. Kita dapat mencoba segala pilihan sesuai apa yang kita mau. Artinya, kita memiliki kesempatan yang besar untuk mengeksplorasi dan memahami game tersebut dengan baik. (e) Investasi dalam Kekalahan (Kegagalan) Kegagalan seringkali menjadi momok bagi peserta didik. Jawaban yang kurang tepat atau kegagalan dalam sebuah tes, bisa menjadi pemicu menurunnya antusiasme dan motivasi mereka dalam belajar. Jarang sekali penulis dapati sebuah kegagalan yang diadaptasi sebagai sesuatu yang positif dalam rangka pembenahan diri. Bertolak belakang dengan hal tersebut, gamebagi seorang pemain merupakan suatu tantangan yang harus dikalahkan atau ditaklukkan. Sering ditemui bahwa seorang pemain tidak akan puas setelah menyelesaikan misi atau level pada game tertentu, meskipun kegagalan demi kegagalan harus mereka dapatkan. Artinya, kegagalan dalam game akan diadaptasi secara baik oleh pemain. Tentunya, pemain tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Dengan demikian, mereka akan mencari solusi lain demi mencapai keberhasilan. Solusi tersebut didapatkan dari memahami dan mempelajari kesalahan yang sebelumnya dilakukan. Dalam gameVirtual Dental Surgery, kita akan dihadapkan pada prosedur-prosedur dan alat-alat tertentu yang berkaitan dengan bidang medis, khususnya kedokteran gigi. Prosedur tersebut tentunya harus dilakukan dengan berurutan dan benar. Alat-alat yang digunakan pun harus tepat, misalnya jika kita ingin melakukan pengecekan melalui sinar-X kita harus memberikan pasien positioner, berupa alat yang ditaruh pada mulut, saat pertama kali memberikan tindakan kita diharuskan membubuhkannumbling gelpada gusi sebelum memberikan injeksi, untuk membantu mengangkat gigi kita dapat memanfaatkan elevator yang kemudian dilanjutkan dengan menggunakan forceps, begitu pula seterusnya. Apabila kita melakukan kesalahan, kita akan mendapatkan konsekuensi berupa pengurangan poin (-100) dan denyut jantung pasien akan semakin tinggi (meningkat). Semakin banyak kesalahan yang kita lakukan akan berakibat pada ketidakstabilan pasien yang berujung pada gagalnya operasi. Peserta didik memerlukan pengalaman kegagalan untuk belajar, yaitu gagal dengan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 129 melalaikan sebuah prosedur, keliru dalam menggunakan alat, menerapkan metode yang salah, atau berada dalam masalah serius. Dalam kehidupan nyata, kegagalan umumnya terkait dengan situasi yang beresiko tinggi, di mana menerapkan alat yang salah bisa mengakibatkan kematian. Game dapat membantu kita mengurangi kesalahan yang akan kita lakukan di dunia nyata melalui berbagai macam simulasi. SIMPULAN DAN SARAN Sebuah game yang efektif adalah game yang memotivasi, aditif, dan menghadirkan stimulasi melalui misi-misi singkatnya. Dengan demikian, pemain dapat gagal dan mencoba lagi hingga berhasil. Di sekolah, apabila salah seorang siswa gagal dalam sebuah tes atau ujian, memungkinkannya untuk gagal dalam keseluruhan pelajaran. Sebagai simpulan, penulis berpendapat bahwa: (1)Game dapat membuat kita menjadi orang lain (melakoni) profesi tertentu. Hal ini memberikan kita kesempatan untuk menggali wawasan sebanyak-banyaknya dan memahami bagaimana melakukan pekerjaan dengan baik dan benar. (2)Gametidak hanya sebatas kepuasan pemain dalam mengisi waktu luangnya. Gamemembuat orang menjadi cerdas melalui tugas atau misi-misi yang disediakan dalam permainan tersebut. Dan yang terakhir, (3)Gamification melibatkan sisi kognitif dan psikomotor seseorang. Artinya, game–yangmensimulasikan keterampilan kognitif dan motorik– yang diperlukan dalam situasi dunia nyata lebih mungkin untuk mengarah pada hasil belajar yang sukses daripada game yang lebih abstrak. Dalam pandangan saya, gamification intinya adalah bagaimana kita memberikan motivasi, penghargaan atas capaian tertentu kepada para siswa setelah berhasil memecahkan sebuah masalah. Di akhir tulisan ini, penulis memberikan beberapa saran/rekomendasi bagi orang-orang yang terlibat dalam dunia pendidikan, khususnya pengajar, peserta didik, dan orang tua. Teknologi digital, dalam hal ini game sudah selayaknya dapat kita manfaatkan dalam tujuan-tujuan positif di bidang pendidikan karena selama ini game layaknya buah simalakama, “disukai anak, dibenci orang tua dan guru”. Untuk itu, penulis menawarkan beberapa saran berikut. (1) Bagi Pengajar Buatlah materi pelajaranmu layaknya sebuah game! Anda dapat melakukannya dengan dua cara: (a) mensimulasikan dari dunia nyata ke maya; atau mengadaptasi dunia maya ke nyata. Cara pertama dapat Anda tempuh dengan mendesain materi pembelajaran ke dalam (video) game agar lebih menarik. Bubuhi dengan segala permasalahan yang berkaitan dengan tema tersebut. Jikalau itu menguras biaya yang terlampau tinggi, coba telusuri game-game yang berhubungan dengan topik Anda. Adopsikan beberapa game yang sesuai dalam materi. Itu akan menumbuhkan daya saing yang sehat di antara siswa. Atau yang lebih mudah lagi dengan cara kedua. Adaptasikan unsur game dalam pembelajaran Anda. Mulailah mengubah nilai atau bobot nilai dengan sistem poin, misalnya nilai 100 dengan poin 100.000 (atau bobot 10% dengan poin 10.000). Berikan misi pembelajaran yang lebih terstruktur dengan jelas, bervariatif, serta menyuguhkan tantangan yang lebih menarik lagi, misalnya berikan poin pada siswa yang datang paling awal, yang membaca buku hingga mencapai halaman tertentu, yang berkunjung ke perpustakaan, yang menelusuri halaman situs yang bermanfaat, atau yang mem-post-kan gambar yang terkait dengan tema pembelajaran sehingga Anda dan siswa lain bisa memberikan komentar (feedback) kapan pun dan dari mana pun. Motivasi mereka dengan memberikan badge atau pin yang ditempel di kerah atau lengan baju mereka apabila mereka berhasil mencapai prestasi tertentu, misalnya “siswa terpopuler” bagi siswa yang berkunjung minimal sekali sebulan ke perpustakaan atau yang tiga kali mengunggah gambar atau video sesuai tema! Buat pula sistem level semisal: “profesor”, “doktor”, “magister”, “sarjana”, atau “diploma” bagi siswa menurut perolehan poin dan misi

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 130 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 yang telah dituntaskan. Umumkan pada leaderboards atau papan ranking yang ditaruh pada tempat strategis sehingga mereka dapat mengecek update capaian yang telah mereka tempuh. Dan mulailah bergabung dalam permainan mereka! (2) Bagi Pelajar Tidak perlu ragu! Tetaplah bermain game dan menangkan game-mu! Akan tetapi, ingat jangan curang! Belajar dari kesalahan yang lalu lakukan sehingga bisa mencatatkan namamu di peringkat teratas. Berbagilah trik dengan rekanmu! Dan terakhir, manajemen waktumu dengan baik agar tidak dimarahi orang tuamu! (3) Bagi Orang Tua Lebih berbaik sangka apabila mendapati putra-putri Anda yang sedang bermain game. Yakini bahwa mereka bermain sambil belajar. Luangkan waktu Anda untuk mengamati bagaimana cara mereka menyelesaikan misi (masalah) yang ada, niscaya itu akan membuat Anda takjub. Apabila Anda tidak percaya, silakan coba mainkan game putra Anda. Bandingkan permainan (bagaimana Anda menyelesaikan misi) Anda dengan putra Anda. Jangan lupa, pastikan mereka memilih kategori game yang tepat berdasarkan usianya. (4) Bagi Pembaca Ini adalah bonus bagi para pembaca. Gamification sebenarnya tidak hanya dapat diaplikasikan di pendidikan. Mekanisme ini dapat dimanfaatkan dalam setiap aktivitas kehidupan manusia, misalnya meningkatkan kinerja karyawan, transaksi jual-beli untuk meningkatkan daya beli konsumen, dan lain sebagainya. Untuk itu, desainlah gamification pada dunia yang Anda geluti. Dan terakhir, terima kasih dan selamat Anda mendapatkan badges atas niat baik Anda membaca tulisan ini. Gambar 3. Badge bagi Pembaca yang Telah Meluangkan Waktunya DAFTAR PUSTAKA Arum, Rachma Nur Kartika dan Achmad Lutfi. 2012.“Memotivasi Siswa Belajar Materi Asam Basa melalui Media Permainan Rangking One Chemistry Quiz”. Dalam Unesa Journal of Chemical EducationVol. 1, No. 1, hal. 174—179 Mei 2012. Erenli, Kai. 2013. “The Impact of Gamification: Recommending Education Scenarios”. Dalam jurnaliJET – Volume 8, Special Issue 1: "ICL2012", January 2013. Fitz-Walter, Zachary, Tjondronegoro, Dian W., & W yeth, Peta. 2011. “Orientation passport: using gamification to engage university students”. Dalam Proceedings of the 23rd Australian Computer-Human Interaction Conference, ACM, Australian National University, Canberra, ACT. Glover, Ian. 2013.“Play as you learn: gamification as a technique for motivating learners”. DalamProceedings of World Conference on Educational Multimedia, Hypermedia and Telecommunications 2013. González, C. and Area M. 2013. “Breaking the Rules: Gamification of Learning and Educational Materials”. Dalam Proceedings of the 2nd International W orkshop on Interaction Design in Educational Environments, hal. 47—53 Hamari, J., Koivisto, J., & Sarsa, H. 2014. “Does Gamification W ork? – A Literature Review of Empirical

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 131 Studies on Gamification”. DalamProceedings of the 47th Hawaii International Conference on System Sciences, Hawaii, USA, January 6-9, 2014. Harris, Scot dan Kevin O'Gorman. 2014. Mastering Gamification: Customer Engagement in 30 Days. Birmingham: Impackt Publishing Ltd. Huotari, Kai dan Juho Hamari. 2012. “Defining Gamification: A Service Marketing Perspective”. dalam MindTrek 2012, October 3—5, 2012, Tampere, FINLAND. Juul, J. (2003). “The Game, the Player, the World: Looking for a Heart of Gameness”. Dalam Proceedings of Level Up: Digital Games Research Conference, hal. 30—45. Diakses: 2/11/2014 melalui http://www.jesperjuul.net/text/gameplayerworld/ Kapp, Karl M. 2013. The Gamification of Learning and Instruction Fieldbook. San Fransisco: Wiley. Landers, Richard N. dan Rachel C. Callan. 2011. “Casual Social Games as Serious Games: The Psychology of Gamification in Undergraduate Education and Employee Training”. Dalam M. Ma et al. (eds.). Serious Games and Edutainment Applications. London: Springer. Miller, Craig. 2013. “The Gamification Of Education”. Dalam Developments in Business Simulation and Experiential Learning, volume 40, 2013 Nugrahani,Rahina. “Media Pembelajaran Berbasis Visual Berbentuk Permainan Ular Tangga untuk Meningkatkan Kualitas Belajar Mengajar di Sekolah Dasar”. Dalam Lembaran Ilmu Kependidikan Jilid 36, NO. 1, JUNI 2007. Nugroho, Aris Prasetyo, Trustho Raharjo, dan Daru Wahyuningsih.2013. “Pengembangan Media Pembelajaran Fisika Menggunakan Permainan Ular Tangga Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa Kelas VIII Materi Gaya”. Dalam Jurnal Pendidikan Fisika (2013) Vol.1 No.1. hal. 11—18. O’Donovan, Siobhan, James Gain, dan Patrick Marais. 2013. “A Case Study in the Gamification of a University-level Games Development Course”. dalam SAICSIT '13, October 07—092013, East London, South Africa. Reiners, T., Wood, L. C., Chang, V., Guetl, C., Herrington, J., Gregory, S., & Teräs, H. 2012. “Operationalising gamification in an educational authentic environment”. Dalam Kommers, Piet, Issa, Tomayess, & Isaías, Pedro (Eds.), IADIS International Conference on Internet Technologies & Society 2012.hal. 93—100. Disajikan pada International Conference on Internet Technologies & Society 2012, Perth, Australia: IADIS Press. Robert Ormsby, Robin Daniel & Marka Ormsby. 2011.Preparing for the Future with Games for Learning: Using Video Games and Simulat ions to Engage Students in Science, Technology, Engineering, and Math, Ast ropolit ics, 9:2-3, hal. 150—164. Tzouvara, K. and Zaharias, P. 2013. “Towards a framework for applying Gamification in Education”. DalamProceedings of the 7th International Conference in Open and Distance Learning (ICODL 2013). Zichermann, Gabe. 2011. Gamification by Design. O'Reilly Media. iBooks.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 132 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 PENINGKATAN KUALITAS PROSES PEMBELAJARAN MATA KULIAH KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN POLITIK MELALUI LESSON STUDY DI PROGRAM STUDI PPKN FKIP UNS Winarno1,* 1Prodi PPKn FKIP UNS Surakarta *Keperluan korespondensi: winarno_uns@yahoo.co.id ABSTRAK Mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan Politik di Program studi PPKn FKIP UNS diberikan pada semester 6 dan merupakan kelompok mata kuliah pilihan. Masalah pembelajaran yang muncul pada perkuliahan mata kuliah tersebut pada semester genap Januari-Juli 2013 adalah bagaimana kualitas proses pembelajaran yang terjadi dapat meningkatkan interaksi antar mahasiswa, mahasiswa dengan dosen dan mahasiswa dengan sumber belajar. Berdasar masalah tersebut, upaya yang dilakukan adalah mengadakan lesson study yang dilakukan sebanyak 4 siklus atau 4 kali open class dengan tahapan Plan, Do, See. Lesson studi dilakukan oleh dosen model dengan bantuan dosen lain sebagai observer. Data dikumpulkan dari hasil pengamatan dan refleksi bersama kemudian dianalisis secara kualitatif. Setelah dilakukan lesson study, dapat dirumuskan kesimpulan bahwa lesson study dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang ditandai dengan interaksi yang baik antar mahasiswa selama berdiskusi kelompok, interaksi dosen dengan mahasiswa selama dilakukan tanya-jawab secara terus menerus, dan interaksi dengan sumber belajar dengan cara penugasan mengkaji sumber. Direkomendasikan agar lembar observasi dalam lesson study disusun sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Kata kunci: lesson study, pembelajaran PENDAHULUAN Bahwa mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan Politik yang dimuat dalam kurikulum PPKn FKIP UNS diperuntukkan bagi mahasiswa PPKn semester 6, berbobot 2 sks dan merupakan kelompok mata kuliah pilihan. Berdasarkan silabus mata kuliah dinyatakan bahwa kuliah ini merupakan mata kuliah pilihan yang mengkaji konsep, perspektif, isi dan strategi pendidikan politik serta praktik pendidikan politik di Indonesia. Kompetensi standar yang diharapkan adalah mahasiswa mampu menganalisis konsep, perspektif, isi dan strategi pendidikan politik, merancang serta mengevaluasi praktik pendidikan politik di Indonesia (Winarno, 2012 a). Pada masa perkuliahan semester genap Januari-Juli 2013, mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan Politik diikuti oleh 11 mahasiswa PPKn angkatan 2010 yang terdiri atas 7 perempuan dan 4 laki-laki. Hal demikian oleh karena kebijakan dari program studi PPKn untuk melakukan distribusi secara merata pada semua mata kuliah pilihan, agar tidak muncul kelas mata kuliah dengan jumlah mahasiswa yang besar sementara mata kuliah pilihan lain sedikit mahasiswa yang ikut karena tidak banyak dipilih. Dengan demikian perkuliahan Kapita Selekta Pendidikan Politik, merupakan kelas kecil. Kelas kecil umumnya mudah didalam pengendalian dan pengelolaan kelas sebagai bagian dari manajemen pembelajaran. Namun demikian manajemen pembelajaran yang efektif tidak hanya karena pengelolaan kelas yang baik tetapi juga perlu komponen lain yakni : jadwal kegiatan guru-siswa; strategi pembelajaran; pengelolaan bahan praktik; pengelolaan alat bantu; pembelajaran bertim; program remidi dan pengayaan; dan peningkatan kualitas pembelajaran (Made Wena, 2009). Oleh karena itu, berkaitan dengan perkuliahan Kapita Selekta Pendidikan Politik, terdapat beberapa hal yang perlu dipertanyaan dan sesungguhnya perlu dicari jawabannya. Permasalahan tersebut antara

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 133 lain;, bagaimana pengaturan jadwal atau kontrak perkualihan antara dosen dengan mahasiswa dilakukan, strategi pembelajaran apa yang dilakukan, bagaimana memperlakukan bahan ajar kuliahnya, bagaimana menggunakan media pembelajaran, apa tolok ukur untuk memberi program remidi dan pengayaan dan bagaimana cara meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah tersebut. Berdasar pengalaman penulis selaku pengampu mata kuliah ini, mata kuliah tersebut memang belum pernah dilakukan pengujian terhadap permasalahan- permsalahan tersebut. Berdasar identifikasi di atas, penulis memutuskan untuk mencari jawab atas permasalahan yang terakhir yakni bagaimana cara meningkatkan kualitas pembelajaran mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan Politik. Kualitas yang dimaksud lebih dimasudkan sebagai kualitas proses, bukan pada kualitas hasil. Pilihan atas rumusan masalah diatas dikarenakan bahwa pertama, didasarkan asumsi bahwa hasil pembelajaran yang baik amat dipengaruhi oleh kualitas proses pembelajaran yang sebelumnya dilakukan dan kedua , dipengaruhi oleh paradigma bahwa pembelajaran adalah suatu rangkaian events (kondisi, peristiwa, kejadian, dsb ) yang secara sengaja dirancang untuk mempengaruhi pembelajar, sehingga proses belajarnya dapat berlangsung mudah (Gagne dan Briggs dalam Diknas, 2004). Pembelajaran bukan hanya terbatas pada kegiatan yang dilakukan guru atau dosen, seperti halnya dengan konsep mengajar, tetapi proses yang dilakukan siswa atau mahasiswa. Pada intinya adalah kualitas proses pembelajaran yang baik sesungguhnya menunjukkan serangkaian kegiatan atau aktifitas yang dilakukan oleh siswa/mahasiswa. Paradigma ini sejalan dengan tuntutan pendekatan yang berorientasi pada keaktifan siswa (student centered). Kualitas proses pembelajaran merupakan hal yang penting oleh karena juga adanya tuntutan bahwa bidang civics education menekankan perlunya democratic learning sebagai usaha mengembangkan warga negara yang baik dan cerdas. pembelajaran demokratis merupakan proses pembelajaran yang dilandasi oleh nilai-nilai demokrasi, yaitu: (1) Penghargaan terhadap kemampuan., (2) Menjunjung keadilan.dan (3) Menerapkan persamaan kesempatan, dan memperhatikan keragaman peserta didik. (Diknas, 2004). Hal ini bisa dilakukan dengan cara bagaimana pera serta aktif mahasiswa dilibatkan agar mampu menggambarkan kualitas proses pembelajaran yang baik. Berdasar masalah yang dipilih serta argumen yang melatarbelakanginya di atas, maka tujuan dari upaya pemecahan masalah tersebut adalah meningkatkan kualitas proses pembelajaran mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan Politik, dengan terlebih dahulu teridentifikasinya beberapa kelemahan yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung dan dilakukannya perubahan atau perbaikan model pembelajaran untuk meningkatkan kualitas proses tersebut . Untuk melakukan hal tersebut maka cara yang ditempuh adalah melakukan Lesson Studi. Lesson Study merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan berkelanjutan oleh sekelompok guru atau dosen. Tulisan ini merupakan hasil kegiatan Lesson Studi yang penulis lakukan dengan beberapa dosen kolaborator pada perkuliahan mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan Politik di Program Studi PPKn FKIP UNS. Kegiatan Lesson studi dilaksanakan pada semester genap Januari-Juli 2013. METODOLOGI PENELITIAN Sebagaimana dinyatakan pada bagian Pendahuluan, cara mengatasi permasalahan pembelajaran mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan Politik adalah dengan Lesson Studi. Menurut Kamus Maya Wikipedia (2007) bahwa Lesson Study dilakukan melalui empat tahapan dengan menggunakan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA). Sementara itu, Slamet Mulyana (2007) mengemukakan tiga tahapan dalam Lesson Study, yaitu : (1) Perencanaan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 134 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 (Plan); (2) Pelaksanaan (Do) dan (3) Refleksi (See). Berkenaan dengan tahapan Lesson Studi tersebut maka kegiatan ini dilakukan dengan 3 tahapan yakni tahap Perencanaan (Plan); Pelaksanaan (Do) dan Refleksi (See). Lesson studi ditujukan pada perkuliahan Kapita Selekta Pendidikan Politik, Prodi PPKn FKIP UNS yang diikuti oleh sebanyak 11 mahasiswa PPKn semester 6. Perkuliahan dilaksanakan pada semester genap Januari-Juli 2013 bertempat di ruang kuliah PPKn lt 2 Gedung C FKIP UNS. Kegiatan Lesson studi dilakukan sebanyak 4 siklus/4 kali open class yakni setiap hari Jumat jam 07.30 – 09.00 pada tanggal 2, 30 Maret, 11 Mei dan 27 Juni 2013 . Setiap siklus meliputi tahapan Perencanaan (Plan), Pelaksanaan (Do) dan Refleksi (See). Subyek yang dikaji sebagai sumber data adalah prose pembelajaran mata kuliah Kapita Selekta Pendidikan Politik yang diikuti oleh 11 mahasiswa PPKn. Adapun tim dosen yang terlibat adalah sebagai berikut; Penanggung Jawab : Dr. Sri Haryati, MPd, (Ketua Prodi PPKn) Model : Dr W inarno, M Si Observer : Dra. Rusnaini, M Si Rima Vien Permata H, SH, MH Wijianto, S Pd, M Sc Dokumentasi : Mahasiswa Untuk melaksanakan tahapan Perencanaan (plan) maka penulis sebagai model telah menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berdasar silabus yang telah disusun sebelumnya. RPP yang disusun disesuaikan tanggal siklus yang dijalankan dengan topik /pokok kajian yang berbeda setiap siklus. Dalam tahapan pelaksanaan, dilakukan pengamatan oleh dosen observer didukung oleh dokumentasi yang dilakukan oleh mahasiswa, dalam hal ini dengan shoting kegiatan. Pengamatan dosen observer dilakukan dengan lembar observasi. Sedangkan tahap refleksi dilakukan segera setelah kegiatan pengamatan berlangsung. Instrumen pengumpulan data menggunakan lembar pengamatan yang didukung oleh hasil diskusi antara dosen model dengan observer. Analisis data menggunakan uraian yang bersifat kualitatif. HASIL DAN PEMBAHASAN Siklus pertama Siklus pertama atau open class pertama dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 2 Maret 2013 jam 07.30 -09.00 WIB. Tatap muka pada hari tersebut merupakan tatap muka yang ke-3 dari 16 tatap muka yang direncanakan. Topik materi yang dibelajarkan pada pertemuan tersebut adalah hubungan pendidikan politik dengan sosialisasi politik. Dalam tahap Plan, dosen model telah menyusun RPP untuk kegiatan pembelajaran di tatap muka tersebut. Sehari sebelumnya telah dilakukan pertemuan dengan dosen observer untuk membahas rancangan RPP yang disusun. Hasil pertemuan adalah RPP supaya disusun dalam ukuran landscape, diberi tambahan tujuan pembelajaran tidak hanya indikator, dan karakter yang dikembangkan. Dalam tahap Do, dosen model melakukan pembelajaran di kelas dengan diikuti pengamatan oleh dosen observer. Sesuai dengan RPP yang ada, dosen model melakukan kegiatan pembelajaran mulai dari kegiatan pendahuluan, inti sampai penutup. Dalam kegiatan pendahuluan, dilakukan kegiatan kegiatan antara lain; mengungkap kembali materi tentang hubungan pendidikan politik dengan PKn dan tujuan dari pendidikan politik, menguji pemahaman atas materi tersebut , dan meminta mahasiswa untuk menyiapkan materi selanjutnya yakni hubungan pendidikan politik dengan sosialisasi politik. Dalam kegiatan inti dilakukan kegiatan berupa; mengkaji isi bacaan, mendiskusikan tentang tipe dan cara-berlangungnya sosialisasi dan membuat skema tentang sosialisasi politik dan berdiskusi dan saling curah pendapat antar kelompok tentang perbedaan, persamaan maupun hubungan pendidikan politik dengan sosialisasi politik, serta tanya jawab tentang sosialisasi politik maupun pendidikan politik

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 135 yang terjadi di Indonesia. Sedangkan dalam penutup, dilakukan penyimpulan materi. Kegiatan See dilakukan oleh dosen observer dengan melakukan kegiatan diskusi bersama setelah perkuliahan selesai. Diskusi dilakukan di ruang prodi PPKn hari itu juga. Dalam kegiatan refleksi ini dikemukakan hasil-hasil pengamatan dari dosen observer dan juga refleksi dari dosen model. Berdasar refleksi open class pertama, ditemukan hal-hal sebagai berikut; 1. Pada menit-menit awal pembelajaran, kelas masih ramai. Mahasiswa mulai berkonsentrasi untuk belajar setelah pembukaan dan pembagian kelompok diskusi, yakni jam 07.50 2. Secara umum, interaksi mahasiswa dengan dosen dan dosen dengan mahasiswa baik. Interaksi antar mahasiswa terjadi dalam satu kelompok, sedang interaksi dosen dengan mahasiswa terjadi ketika dosen menjelaskan atau meriviu materi. Hal ini dimungkinkan penataan kelompok berbentuk setengah lingkaran dan setiap mahasiswa menggunakan kartu nama. 3. Meskipun interaksi cukup baik antar mahasiswa maupun dengan dosen, tetapi ada banyak waktu/ situasi kesenyapan yang tercipta. 4. Saat-saat mahasiswa tidak aktif atu konsentrasi adalah setelah masing-masing kelompok maju membuat peta konsep sosialisasi politik, dan hanya yang menguasai materi yang mampu membuat peta konsep dengan baik. 5. Kegiatan pembelajaran tidak hanya diskusi, ekspositori dan penugasan tetapi juga kegiatan membaca materi, sebab mahasiswa sudah memiliki modul/hand out materi. Meskipun demikian sumber belajar ini minim, sebab mahasiswa tidak membawa sumber-sumber pustaka lain yang menunjang. 6. Pada waktu-waktu tertentu, dosen model tidak menunjukkan upaya mengaktifkan mahasiswa yang belum terlihat aktif, misalnya terhadap mahasiswa yang berbaju hitam. Model juga lebih banyak fokus pada kelompok tertentu. Masih kurang terjadinya interaksi mahasiswa antar kelompok. Siklus kedua Siklus kedua atau open class kedua dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 30 Maret 2013 jam 07.30 -09.00 WIB. Tatap muka pada hari tersebut merupakan tatap muka yang ke-5 dari 16 tatap muka yang direncanakan. Topik materi yang dibelajarkan pada pertemuan tersebut adalah isi pendidikan politik. Dalam tahap Plan, dosen model telah menyusun RPP untuk kegiatan pembelajaran di tatap muka tersebut. Pertemuan membahas rancangan open lesson dilakukan pada hari itu juga sebelum perkualihan dimulai. Tidak ada perubahan hasil RPP, mengingat dari sisi struktur RPP sudah baik dan disepakati seperti pada open lesson pertama. Dalam tahap Do, dosen model melakukan pembelajaran di kelas dengan diikuti pengamatan oleh dosen observer. Dalam kegiatan pendahuluan, dilakukan kegiatan kegiatan antara lain; mengungkap kembali materi tentang perspektif pendidikan politik guna menempatkan dan menganalisis isi /materi secara proporsional; menguji pemahaman atas materi tersebut dengan tanya jawab; dan meminta mahasiswa untuk menyiapkan materi selanjutnya yakni isi pendidikan politik. Dalam kegiatan inti dilakukan kegiatan berupa; mengkaji isi bacaan, mendiskusikan tentang isi pendidikan politik, mendiskusikan kemudian memberi simpulan tentang isi pendidikan politik melalui pembuatan skema dan tanya jawab tentang isi pendidikan politik. Sedangkan dalam penutup, dilakukan penyimpulan materi. Kegiatan See dilakukan oleh dosen observer dengan melakukan kegiatan diskusi bersama setelah perkuliahan selesai. Diskusi dilakukan di ruang prodi PPKn hari itu juga. Dalam kegiatan refleksi ini dikemukakan hasil-hasil pengamatan dari dosen observer dan juga refleksi dari dosen model. Hasil refleksi dari open class kedua didapatkan temuan –temuan sebagai berikut; 1. Mahasiswa mulai konsentrasi belajar pada pukul 07.30 dan selesai pada pukul 08.30.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 136 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 2. Secara umum interaksi antar mahasiswa maupun mahasiswa dengan dosen cukup baik, terutama interkasi yang terjadi dalam kelompok dan ketika dosen memantapkan materi, namun masih perlu ditingkatkan. Misal dengan menata kelompok dalam bentuk U, sebab kelompok hanya terdiri atas 3. 3. Meskipun telah ada interaksi, mahasiwa naampaknya belum cukup belajar untuk pembelajaran hari ini, terbukti mereka belum mampu menjelaskan apa yang mereka lakukan jika menjadi fasilitator pendidikan politik. 4. Adanya keterbatasan sumber belajar yang digunakan mahasiswa. Mahasiswa hanya mendasarkan pada hand out yang telah dibagikan dosen model. Namun pembelajaran hari itu sudah didukung dengan bahan tayang melalui media LCD. Siklus ketiga Siklus ketiga atau open class ketiga, dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 11 Mei 2013 jam 07.30 -09.00 WIB. Tatap muka pada hari tersebut merupakan tatap muka yang ke-12 dari 16 tatap muka yang direncanakan. Topik materi yang dibelajarkan pada pertemuan tersebut adalah rancangan strategi pendidikan politik untuk warga. Dalam tahap Plan, dosen model menyusun RPP untuk kegiatan pembelajaran di tatap muka tersebut. Pertemuan membahas rancangan untuk open class dilakukan pada hari itu juga sebelum perkualihan dimulai. Tidak ada perubahan hasil RPP, mengingat dari sisi struktur RPP sudah baik dan disepakati seperti pada open lesson pertama. Dalam tahap Do, dosen model melakukan pembelajaran di kelas dengan diikuti pengamatan oleh dosen observer. Dalam kegiatan pendahuluan, dilakukan kegiatan kegiatan antara lain; merefleksikan kembali materi tentang praktik pendidikan politik hasil penelusuran dari media, mengkaitkan materi tersebut sebagai bagian dari kajian pendidikan politik dan memberikan informasi tentang materi yang akan dikerjakan yakni usulan tentang program pendidikan politik. Dalam kegiatan inti dilakukan kegiatan berupa; membentuk kelompok , mendiskusikan untuk menentukan masalah yang akan dijadikan program pendidikan politik, tanya jawab tentang apa saja yang perlu dipersiapkan untuk suatu program pendidikan politik dan diskusi kelompok untuk merancang program pendidikan politik. Sedangkan dalam penutup, dilakukan memantapkan hasil diskusi kelompok dan tindak lanjut untuk pertemuan mendatang yakni kelompok mempresentasikan hasil. Kegiatan See dilakukan oleh dosen observer dengan melakukan kegiatan diskusi bersama setelah perkuliahan selesai. Diskusi dilakukan di ruang prodi PPKn hari itu juga. Dalam kegiatan refleksi ini dikemukakan hasil-hasil pengamatan dari dosen observer dan juga refleksi dari dosen model. Hasil refleksi dari open class ketiga didapatkan temuan –temuan sebagai berikut; 1. Mahasiswa mulai konsentrasi belajar saat dosen model melakukan apersepsi . Misal mahasiswa bernama Samuri. Mahasiswa mulai tidak berkonsentrasi ketika mahasiswa lain sedang menjawab pertanyaan dosen model. 2. Interaksi dosen dengan mahasiswa cukup baik, sementara interaksi mahasiswa dengan mahasiswa dan dengan sumber belajar kurang terbangun. 3. Konsentrasi mahasiswa berhenti ketika dilakukan pertanyaan pada mahasiswa lain. Hal ini terjadi ketika kegiatan tanya jawab. 4. Ada mahasiswa yang terlambat datang. 5. Dosen model telah berupaya mengaktifkan mahasiswa dengan pertanyaan lanjutan. Upaya ini cukup berhasil dimana 70 % mahasiswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Siklus keempat Siklus ketiga atau open class keempat, dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 27 Juni 2013 jam 07.30 -09.00 WIB. Tatap muka pada hari tersebut merupakan tatap muka yang ke-16 dari 16 tatap muka yang direncanakan. Jadi merupakan tatap muka terakhir. Topik materi yang dibelajarkan pada

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 137 pertemuan tersebut adalah laporan dan evaluasi terhadap hasil kunjungan tentang praktik pendidikan politik yang dilakukan oleh suatu partai politik. Pada pertemuan sebelumnya telah dilakukan kunjungan ke sebuah partai politik. Dalam tahap Plan, dosen model telah menyusun RPP untuk kegiatan pembelajaran di tatap muka tersebut. Pertemuan membahas untuk untuk open class dilakukan pada hari itu juga sebelum perkuliahan dimulai. Disetujui untuk dilakukan open class sebagaimana pada siklus-siklus sebelumnya. Dalam tahap Do, dosen model melakukan pembelajaran di kelas dengan diikuti pengamatan oleh dosen observer. Dalam kegiatan pendahuluan, dilakukan kegiatan kegiatan antara lain; merefleksikan kembali kegiatan yang dilakukan selama kunjungan lapangan ke partai politik, menyampaikan kompetensi dari pertemuan ini yakni mampu menilai suatu praktik pendidikan politik dan memfasilitasi setiap kelompok untuk menyiapkan diri guna presentasi hasil kunjungan yang telah didiskusikan sebelumnya. Dalam kegiatan inti dilakukan kegiatan berupa; setiap kelompok menyajikan hasilnya, kelompok lain memberi tanggapan dan konfirmasi dari setiap temuan kelompok. Sedangkan dalam penutup, dilakukan kegiatan memantapkan hasil diskusi, mengadakan umpan balik untuk mengetahui kompetensi yang telah dicapai dan memberi tindak lanjut. Kegiatan See dilakukan oleh dosen observer dengan melakukan kegiatan diskusi bersama setelah perkuliahan selesai. Diskusi dilakukan di ruang prodi PPKn hari itu juga. Dalam kegiatan refleksi ini dikemukakan hasil-hasil pengamatan dari dosen observer dan juga refleksi dari dosen model. Hasil refleksi dari open class keempat didapatkan temuan –temuan sebagai berikut; 1. Konsentrasi mahasiswa mulai terlihat ketika 5 menit sebelum pembelajaran dimulai dan konsentrasi mulai berhenti ketika 10 menit pelajaran akan diakhiri. 2. Interaksi dosen dengan mahasiswa dan antar mahasiswa cukup baik serta dengan media juga baik sebab menggunakan teknologi informasi (LCD dan Laptop). 3. Kelompok dua dalam melaporkan hasil kunjungan lapangan cukup baik dan menguasai materi, sementara kelompok 1 cukup kritis mempertanyaan kinerja partai. 4. Mahasiswa cukup aktif dan antusias dalam berdiskusi dan mempresentasikan hasilnya. Hal ini dimungkinkan hasil diskusi merupakan hasil pengalaman langsung yang dipertemukan dengan hasil pengalaman langsung kelompok lain. Berdasar pada hasil-hasil refleksi pada masing-masing open class di atas dapat ditemukan hasil-hasil pembahasan sebagai berikut; 1. Bahwa pembelajaran aktif (student centered) yang menjadi tuntutan paradigma pembelajaran saat ini dapat dilakukan dengan cara menciptakan strategi pembelajaran yang mengaktifkan interaksi antar mahasiswa dan juga interaksi dosen mahasiswa. Metode yang digunakan adalah diskusi dan presentasi kelompok dimana dosen memberi tugas-tugas yang sifatnya menantang, tidak teoritis, berdasarkan kasus. Sementara itu dosen dalam melakukan ekspositori selalu diikuti dengan variasi tanya jawab dan pertanyaan lanjutan yang bersifat menyebar. Hal demikian juga dapat membuat konsentrasi belajar mahasiswa tetap terjaga. 2. Bahwa kualitas proses pembelajaran terjadi apabila proses belajar itu menekankan keaktifan mahasiswa/siswa dalam berinteraksi dengan dosen, antar mahasiswa, dan mahasiswa dengan sumber atau media. Dosen dalam hal ini menjaga konsentrasi belajar mahasiswa dengan jalan ikut terlibat, mengamati, jeli terhadap mahasiswa yang tidak aktif dan memberi pancingan berupa pertanyaan-pertanyaan berdasar materi secara terus –menerus dan sedikit banyak menghilangkan waktu kesenyapan yang terlalu lama.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 138 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 3. Bahwa Lesson Studi dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang sedang berlangsung manakala hasil-hasil refleksi pada setiap akhir open class, direspons secara positif oleh dosen model dan dilakukan perubahan sesuai dengan hasil refleksi. Di sisi lain, lembar observasi yang digunakan dosen observer menekankan pada butir-butir mengenai kualitas proses pembelajaran. SIMPULAN DAN SARAN Berdasar temuan dan pembahasan di atas, dirumuskan kesimpulan dan saran sebagai berikut; 1. Kesimpulan a. Kualitas proses pembelajaran yang menekankan pada student centered ditandai dengan terjadinya interaksi akademik yang intens dan dengan frekwensi yang tinggi antara mahasiswa dengan dosen, antara mahasiswa dengan mahasiswa lain dan antara mahasiswa dengan media atau sumber belajar b. Proses pembelajaran yang menungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran yang baik dapat dilakukan dengan ragam metode seperti diskusi dan presentasi oleh mahasiswa dan ekspositori yang didukung secara penuh oleh tanya jawab c. Lesson studi dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran dengan cara menyusun lembar observasi yang memuat item-item proses pembelajaran yang aktif. 2. Saran a. Perlunya dikembangkan secara terus-menerus dan terjaga interaksi mahasiswa dengan dosen, dengan mahasiswa lain dan dengan sumber belajar selama proses pembelajaran. Dapat dilakukan pada awal pembelajaran yakni saat pemberian motivasi b. Dosen perlu secara kreatif memunculkan model atau metode pembelajaran yang mampu menjaga terjadinya interaksi secara kontinyu c. Perlunya membuat lembar-lembar pengamatan untuk keperluan Lesson Studi yang khas disesuaikan dengan tujuan kegiatan yang direncanakan. Misal Lesson studi untuk meningkatkan kualitas penggunaan media pembelajaran DAFTAR PUSTAKA Akhmad Sudrajat. 2008. Lesson Study untuk Meningkatkan Proses dan Hasil Pembelajaran.http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/22/lesson-study-untuk-meningkatkan-pembelajaran/ Depdiknas. 2004. Kurikulum dan Hasil Belajar. Jakarta: Dikmenum Made Wena.2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Jakarta. Bumi Aksara Slamet Mulyana. 2007. Lesson Study (Makalah). Kuningan: LPMP-Jawa Barat Wikipedia.2007. Lesson Study. Online: http://en.wikipedia.org/wiki/Lesson_study Winarno.2012a. Silabus Mata Kuliah Kapita Selekta Pendidikan Politik. Surakarta: tidak diterbitkan Winarno.2012b. Hand out Mata Kuliah Kapita Selekta Pendidikan Politik. Surakarta: tidak diterbitkan.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 139 PARALEL IP

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 140 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 STRATEGI MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU MELALUI SUPERVISI KLINIS DI SD 3 JAMPIROSO KABUPATEN TEMANGGUNG Agus Widi Sucahyo1,* 1SDN 3 Jampiroso, Kabupaten Temanggung *Keperluan korespondensi: agus73tn@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan keprofesional guru dalam proses belajar mengajar di SD Negeri 3 Jampiroso melalui supervisi klinis. Kompetensi profesional guru SD 3 Jampiroso diduga masih rendah terutama dalam menerapkan pembelajaran atau kompetensi pedagogik. Hal ini didasarkan pencapaian standar KKM yang dibawah 6.00 sedangkan standar ideal sesuai dengan pencapaian SNP adalah 7.50. Responden penelitian adalah guru-guru SD N 3 Jampiroso yang terdiri dari 6 guru kelas,1 guru Penjaskes,1 guru Pendidikan Agama. Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi guru SD N3 Jampiroso khususnya dan sekolah sekitar pada umumnya. Alat pengumpulan data yang digunakan angket dan dokumentasi, butir soal untuk mengukur keprofesional terkait penguasaan materi, instrumen pengamatan class action dokumentasi. Desain penelitian menggunakan 4 tahap dalam melakukan supervisi klinik (Planning, Implementasi, Refleksi, Tindak lanjut). Dari data yang diperoleh kemudian dianalisa dan dijadikan sebagai bahan perencanaan tindakan berikutnya. Hasil analisa data menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan guru dalam proses pembelajaran mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat pada hasil pengamatan supervisi pada siklus 1 dengan kategori cukup 57,1%, atau dari 5 orang guru, 3 memiliki penguasaan materi yang cukup tinggi. Artinya kemampuan akademiknya bisa ditransfer ke peserta didik dengan baik. Hanya 42,9% guru atau 5 orang guru yang memiliki kemampuan akademis yang sangat rendah. Begitu pula hasil yang ditunjukkan pada siklus 2 sudah ada peningkatan dengan pencapaian 95,7% artinya masih ada 1 guru yang pencapaiannya masih belum baik. Dengan penerapan supervisi klinis yang terarah menjadikan guru lebih terbuka untuk menguraikan permasalahan yang dihadapi,sehingga supervisi klinis yang dterapkan menjadi lebih “bersahabat” tidak menakutkan bagi guru,tetapi justru merupakan hal yang dinanti-nanti oleh guru.Dan tentunya akan meningkatkan hasil pembelajaran bagi siswa yang melebihi dari KKM Kata kunci: kompetensi profesional guru, supervisi klinis PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan terus-menerus.Guru adalah profesi yang mulia, mendidik dan mengajarkan pengalaman baru bagi anak-anak didiknya. Masyarakat mempercayai, mengakui dan menyerahkan kepada guru untuk mendidik tunas-tunas muda dan membantu mengembangkan potensinya secara profesional. Kepercayaan, keyakinan, dan penerimaan ini merupakan substansi dari pengakuan masyarakat terhadap profesi guru. Implikasi dari pengakuan tersebut mensyaratkan guru harus memiliki kualitas yang memadai. Tidak hanya pada tataran normatif saja namun mampu mengembangkan kompetensi yang dimiliki, baik kompetensi personal, profesional, maupun kemasyarakatan dalam selubung aktualisasi kebijakan pendidikan. Hal tersebut lantaran guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tataran institusional dan eksperiensial, sehingga upaya meningkatkan mutu pendidikan harus dimulai dari aspek “guru” dan tenaga kependidikan lainnya yang menyangkut kualitas keprofesionalannya maupun kesejahteraan dalam satu manajemen pendidikan yang profesional.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 141 Dengan demikian, salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah kualitas guru itu sendiri dalam menguasai proses pembelajaran.Guru merupakan komponen pendidikan yang sangat dominan dalam peningkatan mutu pendidikan. Hal ini karena guru adalah orang yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran di sekolah. Agar proses pembelajaran berkualitas maka guru-gurunya juga harus berkualitas dan profesional. Menurut pendapat Usman (2002) menyatakan bahwa: “Guru yang profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan, sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal”. Di samping itu, guru sangat erat kaitannya dengan mutu lulusan sekolah. Imron (1995) mengemukakan: “kadar kualitas guru ternyata dipandang sebagai penyebab kadar kualitas output sekolah”. Thomas Stanley dalam Stain and Book (2003: 35) mengemukakan lima faktor teratas yang dianggap paling berperan dalam keberhasilan, yaitu: (1) Jujur kepada semua orang, (2) Menerapkan disiplin, (3) Bergaul baik dengan orang lain, (4) Memiliki suami atau isteri yang mendukung, (5) Bekerja lebih giat daripada kebanyakan orang, Gambaran di atas menunjukan bahwa pendidik atau guru yang tugasnya menyiapkan calon sumber daya manusia (SDM) di masa depan maka ia harus memiliki kualifikasi dan kompetensi keprofesionalan yang memadai. Dalam meningkatkan keprofesionalan maka guru harus mau membuka diri untuk berkolega dengan teman sejawat dan supervisor.Namun apa yangterbayang dibenak guru ketika mendengar besuk akan ada supervisi kelas yang dilakukan kepala sekolah atau pengawas.Dalam hati para guru mengatakan “memang saya sudah lama mengajar di kelas namun saya akui memang banyak hal yang harus saya kerjakan tetapi belum dapat saya lakukan dengan maksimal. Sebenarnya saya malu kalau dilihat kekurangan dalam mengajar”. Demikian kira-kira yang dirasakan oleh guru SD Negeri 3 Jampiroso. SD Negeri 3 Jampiroso merupakan salah satu pendidikan sekolah dasar di Kabupaten Temanggung. Terletak di tengah kota Kabupaten Temanggung. Berkaitan dengan mutu pendidikan di sekolah ini dalam meningkatkan SDM yang berkualitas dan tangguh semakin berat. Sebagian guru SD Negeri 3 Jampiroso masih beranggapan bahwa tugas guru adalah mentransfer ilmu/ mengajar, asal peserta didik memperoleh nilai tinggi dapat dikatakan pembelajarannya berhasil. Pendidikan tidak cukup hanya berhenti pada memberikan pengetahuan yang paling mutakhir,namun juga harus mampu membentuk dan membangun sistem keyakinan dan karakter kuat setiap peserta didik sehingga mampu mengembangkan potensi diri dan menemukan tujuan hidupnya.Untuk mampu mengimbangi perubahan kehidupan ,guru perlu membekali diri dengan karakter dan keprofesionalan. Namun tidak semua guru mampu memahami keadaan dirinya maka diperlukan bantuan dalam peningkatan keprofesionalan yakni salah satunya dengan supervisi klinik. Istilah “supervisi klinis” mengacu kepada misi utama pembelajaran, yaitu kegiatan yang ditujukan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses sehingga dapat mengajar dengan baik . Dengan kata lain, supervisi klinis adalah kegiatan yang berurusan dengan perbaikan dan peningkatan proses dan hasil pembelajaran di kelas. Dalam konteks profesi pendidikan, khususnya profesi mengajar, mutu pembelajaran merupakan refleksi dari kemampuan profesional guru. Karena itu, supervisi klinis berkepentingan dengan upaya peningkatan kemampuan profesional guru yang berdampak terhadap peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran. Tidak perlu disangsikan lagi,bahwa guru yang profesional sangat diharapkan kehadirannya mengingat peserta didik membutuhkan figur dari guru sendiri. Dalam era digital ini, guru menjadi penjaga nilai-nilai

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 142 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 dan mentransformasi ilmu. Semua orang saling mempengaruhi. Namun ada yang perlu ditingkatkan yakni kinerja atau performa guru. Performa guru hanya bisa terbentuk melalui motivasi dan potensi. Bimbingan dan dukungan kepala sekolah selaku supervisor sangat diharapkan demi menciptakan suasana kerja yang kondusif di sekolah. 2. Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah 2.1 Identifikasi masalah Selama dalam supervisi dijumpai beberapa guru dalam melaksanakan tugasnya di kelas masih belum optimal.Hal ini terbukti dengan ketidaksiapan guru dalam menyiapkan administrasi seperti: RPP, penguasaan materi dan penguasaan kelas. Bedasarkan fakta yang dialami guru SD Negeri 3 Jampiroso ditemukan permasalah yang terjadi, yaitu: 1. Apakah dengan dilakukan supervisi klinis akan meningkatkan profesional kinerja guru SD 3 Jampiroso Kabupaten Temanggung? 2. Adakah pengaruh supervisi klinis terhadap profesional guru di SD 3 Jampiroso Kabupaten Temanggung ? Dengan memperhatikan berbagai hal tentang diagnosa untuk menemukan faktor penyebab masalah yang dialami oleh para guru SD 3 Jampiroso sehingga mutu guru kurang meningkat adalah: 1. Masih kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh kepala sekolah secara menyeluruh terhadap kinerja guru. 2. Guru kurang siap dalam menghadapi supervisi klinik oleh kepala sekolah. 3. Guru belum biasa dengan supervisi klinik sehingga nampak supervisi kurang bersahabat. 4. Supervisi masih dianggap sarana menghakimi guru sehingga dalam pelaksanaannya masih menakutkan. 2.2 Rumusan Masalah Berdasarkan masalah yang muncul yaitu guru belum menunjukkan keprofesionalan dalam melaksanakan tugas dan ketidaktahuan tentang supervisi klinis maka dapat dirumuskan masalahnya yaitu “Bagaimana strategi meningkatkan profesional guru melalui supervisi klinik di SDN 3 Jampiroso?” 3. Kerangka Teori 3.1 Profesionalisme Guru a. Pengertian Profesionalisme Kata profesionalisme atau dalam istilah profesion mengandung dua unsur yaitu: 1. Unsur keahlian (kecakapan teknik) 2. Unsur panggilan (kematangan etika) Sehingga seorang”Profesional”harus memadukan dalam diri pribadinya kecakapan teknik yang diperlukan untuk menjalankan pekerjaan dan kematangan etik. Menurut Edgar Shine yang dikutip oleh Parmono Atmadi (1993) sarjana arsitektur pertama yang berhasil meraih gelar doktor di Indonesa merumuskan pengertian professional; 1. Bekerja sepenuhnya (full time). 2. Mempunyai motivasi yang kuat. 3. Mempunyai pengetahuan (science) dan ketrampilan (skill) 4. Berorientasi pada pelayanan (service orientation) 5. Mempunyai hubungan kepercayaan dengan klien 6. Mempunyai kekuasaan (power) dan status dalam bidangnya. Profesionalisme menjadi tuntutan dari setiap pekerjaan. Apalagi profesi guru yang sehari-hari menangani benda hidup yang berupa anak-anak atau siswa dengan berbagai karakteristik yang masing-masing tidak sama. Pekerjaaan sebagai guru menjadi lebih berat tatkala menyangkut peningkatan kemampuan anak didiknya, sedangkan kemampuan dirinya mengalami stagnasi. Guru yang profesional adalah mereka yang memiliki kemampuan profesional dengan berbagai kapasitasnya sebagai pendidik. Studi yang dilakukan oleh Ace Suryani menunjukkan bahwa Guru yang bermutu dapat diukur dengan lima indikator, yaitu: pertama, kemampuan profesional (professional capacity), sebagaimana terukur dari ijazah, jenjang pendidikan, jabatan dan golongan, serta pelatihan. Kedua, upaya profesional (professional efforts), sebagaimana terukur dari kegiatan mengajar, pengabdian dan penelitian. Ketiga, waktu

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 143 yang dicurahkan untuk kegiatan profesional (teacher’s time), sebagaimana terukur dari masa jabatan, pengalaman mengajar serta lainnya. Keempat, kesesuaian antara keahlian dan pekerjaannya (link and match), sebagaimana terukur dari mata pelajaran yang diampu, apakah telah sesuai dengan spesialisasinya atau tidak, serta kelima, tingkat kesejahteraan (prosperiousity) sebagaimana terukur dari upah, honor atau penghasilan rutinnya. Tingkat kesejahteraan yang rendah bisa mendorong seorang pendidik untuk melakukan kerja sambilan, dan bilamana kerja sambilan ini sukses, bisa jadi profesi mengajarnya berubah menjadi sambilan. Dewasa ini banyak guru, dengan berbagai alasan dan latar belakangnya menjadi sangat sibuk sehingga tidak jarang yang mengingat terhadap tujuan pendidikan yang menjadi kewajiban dan tugas pokok mereka. Seringkali kesejahteraan yang kurang atau gaji yang rendah menjadi alasan bagi sebagian guru untuk menyepelekan tugas utama yaitu mengajar sekaligus mendidik siswa. Guru hanya sebagai penyampai materi yang berupa fakta-fakta kering yang tidak bermakna karena guru menang belajar lebih dulu semalam daripada siswanya. Terjadi ketidaksiapan dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar ketika guru tidak memahami tujuan umum pendidikan. Bahkan ada yang mempunyai kebiasaan mengajar yang kurang baik yaitu tiga perempat jam pelajaran untuk basa-basi bukan apersepsi dan seperempat jam untuk mengajar. Suatu proporsi yang sangat tidak relevan dengan keadaan dan kebutuhan siswa. Guru menganggap siswa hanya sebagai pendengar setia yang tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai dengan kemampuannya. Banyak kegiatan belajar mengajar yang tidak sesuai dengan tujuan umum pendidikan yang menyangkut kebutuhan siswa dalam belajar, keperluan masyarakat terhadap sekolah dan mata pelajaran yang dipelajari. Guru memasuki kelas tidak mengetahui tujuan yang pasti, yang penting demi menggugurkan kewajiban. Idealisme menjadi luntur ketika yang dihadapi ternyata masih anak-anak dan kalah dalam pengalaman. Banyak guru enggan meningkatkan kualitas pribadinya dengan kebiasaan membaca untuk memperluas wawasan. Jarang pula yang secara rutin pergi ke perpustakaan untuk melihat perkembangan ilmu pengetahuan. Kebiasaan membeli buku menjadi suatu kebiasaan yang mustahil dilakukan karena guru sudah merasa puas mengajar dengan menggunakan LKS (Lembar Kegiatan Siswa) yang berupa soal serta sedikit ringkasan materi. Tingkat kesejahteraan guru yang kurang mengakibatkan banyak guru yang malas untuk berprestasi karena disibukkan mencari tambahan kebutuhan hidup yang semakin berat. Anggaran pendidikan minimal 20 % harus dilaksanakan dan diperjuangkan unutk ditambah karena pendidikan menyangkut kelangsungan hidup suatu bangsa. Apabila tingkat kesejahteraan diperhatikan, konsentrasi guru dalam mengajar akan lebih banyak tercurah untuk siswa. Penataran dan pelatihan mutlak diperlukan demi meningkatkan pengetahuan, wawasan dan kompetensi guru. Kegiatan ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tetapi hasilnya juga akan seimbang jika dilaksanakan secara baik. Jika kegiatan penataran, pelatihan dan pembekalan tidak dilakukan, guru tidak akan mampu mengembangkan diri, tidak kreatif dan cenderung apa adanya. Kecenderungan ini ditambah dengan tidak adanya rangsangan dari pemerintah atau pejabat terkait terhadap profesi guru. Rangsangan itu dapat berupa penghargaan terhadap guru-guru yang berprestasi atau guru yang inovatif dalam proses belajar mengajar. Guru harus diberi keleluasaan dalam menetapkan dengan tepat apa yang digagas, dipikirkan, dipertimbangkan, direncanakan dan dilaksanakan dalam pengajaran sehari-hari, karena di tangan gurulah keberhasilan belajar siswa ditentukan, tidak oleh Bupati, Gubernur, Walikota, Pengawas, Kepala Sekolah bahkan Presiden sekalipun. Mutlak dilakukan ketika awal menjadi guru adalah memahami tujuan umum

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 144 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 pendidikan, mamahami karakter siswa dengan berbagai perbedaan yang melatar belakanginya. Sangatlah penting untuk memahami bahwa siswa balajar dalam berbagai cara yang berbeda, beberapa siswa merespon pelajaran dalam bentuk logis, beberapa lagi belajar dengan melalui pemecahan masalah (problem solving), beberapa senang belajar sendiri daripada berkelompok. Cara belajar siswa yang berbeda-beda, memerlukan cara pendekatan pembelajaran yang berbeda. Guru harus mempergunakan berbagai pendekatan agar anak tidak cepat bosan. Kemampuan guru untuk melakukan berbagai pendekatan dalam belajar perlu diasah dan ditingkatkan. Jangan cepat merasa puas setelah mengajar, tetapi lihat hasil yang didapat setelah mengajar. Sudahkah sesuai dengan tujuan umum pendidikan. Perlu juga dipelajari penjabaran dari kurikulum ang dipergunakan agar yang diajarkan ketika di kelas tidak melencenga dari GBBP/kurikulum yang sudah ditentukan. Guru juga perlu membekali diri dengan pengetahuan tentang psikologi pendidikan dalam menghadapai siswa yang berneka ragam. Karena tugas guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi sekaligus sebagai pendidik yang akan membentuk jiwa dan kepribadian siswa. Maju dan mundur sebuah bangsa tergantung pada keberhasilan guru dalam mendidik siswanya. Pemerintah juga harus senantiasa memperhatikan tingkat kesejahteraan guru, karena mutlak diperlukan kondisi yang sejahtera agar dapat bekerja secara baik dan meningkatkan profesionalisme. Makin kuatnya tuntutan akan profesionalisme guru bukan hanya berlangsung di Indonesia, melainkan di negara-negara maju. Seperti Amerika Serikat, isu tentang profesionalisme guru ramai dibicarakan pada pertengahan tyahun 1980-an. Jurnal terkemuka manajemen pendidikan, Educational Leadership edisi Maret 1933 menurunkan laporan mengenai tuntutan guru profesional. Menurut Jurnal tersebut, untuk menjadi profesional, seorang guru dituntut memiliki lima hal, yakni: 1) Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Ini berarti bahwa komitmen tertinggi guru adalah kepada kepentingan siswanya. 2) Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkan serta cara mengajarkannya kepada siswa. Bagi guru, hal ini meryupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. 3) Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi, mulai cara pengamatan dalam perilaku siswa sampai tes hasil belajar. 4) Guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya, dan belajar dari pengalamannya. Artinya, harus selalu ada waktu untuk guru guna mengadakan refleksi dan koreksi terhadap apa yang telah dilakukannya. Untuk bisa belajar dari pengalaman, ia harus tahu mana yang benar dan salah, serta baik dan buruk dampaknya pada proses belajar siswa. 5) Guru seyogianya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya, misalnya PGRI dan organisasi profesi lainnya (Supriadi, 1999:98). 3.2 Pengertian Supervisi Konsep supervisi modern dirumuskan oleh Kimball Wiles (1967) sebagai berikut: “Supervision is assistance in the devolepment of a better teaching learning situation”. Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi pembelajaran yang lebih baik. Rumusan ini mengisyaratkan bahwa layanan supervisi meliputi keseluruhan situasi belajar mengajar (goal, material, technique, method, teacher, student, an envirovment). Situasi belajar inilah yang seharusnya diperbaiki dan ditingkatkan melalui layanan kegiatan supervisi. Dengan demikian layanan supervisi tersebut mencakup seluruh aspek dari penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran. Pada hakekatnya isi yang terkandung dalam definisi yang rumusannya tentang sesuatu tergantung dari orang yang mendefinisikan. W iles secara singkat telah

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 145 merumuskan bahwa supervisi sebagai bantuan pengembangan situasi mengajar belajar agar lebih baik. Adam dan Dickey merumuskan supervisi sebagai pelayanan khususnya menyangkut perbaikan proses belajar mengajar. Sedangkan Depdiknas (1994) merumuskan supervisi sebagai berikut: “ Pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik “. Dengan demikian, supervisi ditujukan kepada penciptaan atau pengembangan situasi belajar mengajar yang lebih baik. Untuk itu ada dua hal (aspek) yang perlu diperhatikan: a. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar b. Hal-hal yang menunjang kegiatan belajar mengajar Karena aspek utama adalah guru, maka layanan dan aktivitas kesupervisian harus lebih diarahkan kepada upaya memperbaiki dan meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar. Untuk itu guru harus memiliki yakni: a. Kemampuan personal b. Kemampuan professional c. Kemampuan sosial (Depdiknas, 1982). Atas dasar uraian diatas, maka pengertian supervisi dapat dirumuskan sebagai berikut “ serangkaian usaha pemberian bantuan kepada guru dalam bentuk layanan profesional yang diberikan oleh supervisor ( Pengawas sekolah, kepala sekolah, dan Pembina lainnya) guna meningkatkan mutu proses dan hasil belajar mengajar. Karena supervisi atau pembinaan guru tersebut lebih menekankan pada pembinaan guru tersebut pula “Pembinaan profesional guru“ yakni pembinaan yang lebih diarahkan pada upaya memperbaiki dan meningkatkan kemampuan profesional guru. Supervisi dapat kita artikan sebagai pembinaan. Sedangkan sasaran pembinaan tersebut bisa untuk kepala sekolah,guru dan pegawai tata usaha. Namun yang menjadi sasaran utama supervisi adalah pembinaan guru. Kegiatan supervisi kelas merupakan kegiatan yang wajib dilaksanakan dalam penyelenggaraan pendidikan. Pelaksanaan kegiatan supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah dalam memberikan pembinaan kepada guru. Hal tersebut karena proses belajar-mengajar yang dilaksakan guru merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh karena kegiatan supervisi dipandang perlu untuk memperbaiki kinerja guru dalam proses pembelajaran. Kegiatan supervsi yang dilakukan oleh Kepala Sekolah kepada guru-guru. Secara rutin dan terjadwal Kepala Sekolah melaksanakan kegiatan supervisi kepada guru-guru dengan harapan agar guru mampu memperbaiki proses pembelajaran yang dilaksanakan. Dalam prosesnya, kepala sekolah memantau secara langsung ketika guru sedang mengajar. Guru mendesain kegiatan pembelajaran dalam bentuk rencana pembelajaran kemudian kepala sekolah mengamati proses pembelajaran yang dilakukan guru. Saat kegiatan supervisi berlangsung, kepala sekolah menggunakan lembar observasi yang sudah dibakukan, yakni Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG). APKG terdiri atas APKG 1 (untuk menilai Rencana Pembelajaran yang dibuat guru) dan APKG 2 (untuk menilai pelaksanaan proses pembelajaran) yang dilakukan guru. METODE PENELITIAN 2.1 Jenis Metode dan lokasi Penelitian Penelitian ini mengkaji lebih dalam tentang meningkatkan profesional guru di SDN 3 Jampiroso Kecamatan Temanggung.Penelitian ini termasuk penelitian kausal komparatif.Penelitian Kausal Komparatif adalah penelitian yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat (Suryabrata, 1998). Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian survaei.Menurut

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 146 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Singarimbun (2004), penelitian survei merupakan penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan mengunakan konsioner sebagai alat pengumpulan data pokok. Penelitian tindakan sekolah (school action research) dilaksanakan di SDN 3 Jampiroso.Penelitian dilakukan dari tanggal 2 Januari 2014 sampai tanggal 23 April 2014.Peneliti adalah Kepala Sekolah Dasar dan Sebagai subyek penelitian adalah guru kelas I sampai kelas VI ,1 guru Penjaskes, dan 1 guru Agama Islam SD Negeri 3 Jampiroso. 3.2. Teknik Analisa Data a. Instrumen Penelitian Instrumen yang dipergunakan dalam melaksanakan penelitian ini adalah: Instrumen observasi pembelajaran Nama guru : ………………….. Tanggal : ………………….. Pokok Bahasan : ………………….. Waktu : ………………….. No Unsur Yang Diamati Penilaian Komentar Keterangan A B C D 1 Persiapan dan apersepsi 2 Relevansi materi dgn tujuan instruksional A. amat baik 3 Penguasaan materi B. baik 4 Strategi C. cukup 5 Metode D. kurang 6 Manajemen kelas 7 Pemberian motivasi kepada siswa 8 Nada dan suara 9 Penggunaan Bahasa 10 Gaya dan sikap prilaku b. Catatan harian penelitian, berupa catatan kejadian atau perubahan yang dijumpaiselama kegiatan pembelajaran dkelas. Untuk menganalisa data hasil penelitian ini menggunakan metode : 1. Metode Pengamatan / Observasi Metode pengamatan digunakan dengan cara melakukan pengamatan pada saat guru melaksanakan proses belajar mengajar di kelas. Dengandemikian dapat diketahui kelebihan atau kekurangan yang terjadi dalam proses pembelajaran. 2. Metode Evaluasi Evaluasi diadakan setelah selesai proses pembelajaran pada siklus I dan siklus II dan kriterianya sebagai berikut: a. 9,00 – 10,00 katagori A (amat baik) b. 7,51 – 8,99 katagori B (baik) c. 6,00 – 7,50 katagori C (cukup) d. Kurang dari 6,00 katagori D (kurang) Dari hasil penelitian ini dapat diketahui apakah dengan menggunakan supervisi dapat meningkatkan profesional guru dalam proses pembelajaran sehingga dapat diketahui apakah hasil pada siklus ke II akan ada perubahan kearah lebih baik dari pada siklus I.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 147 Gambar 3. Tahap siklus penelitian 3.3. Prosedur Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan 2 siklus secara berkelanjutan dan setiap siklus terdiri 4 tahap yakni tahap perencanaan,tahap aksi atau tahap pelaksanaan tindakan,tahap pengamatan, dan tahap evaluasi / refleksi.Dalam pelaksanaan penelitian memerlukan persiapan antara lain: 1. Menentukan kesepakatan guru kelas yang akan digunakan penelitian 2. Mendiskusikan materi pelajaran yang akan diajarkan pada saat supervisi 3. Memberi masukan dan pengertian supervisi dilakukan untuk memberi bantuan teknis yang diperlukan guru. 4. Membagi peran dan menyusun tugas antara supervisor dan guru. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus.Setiap siklus dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan.Siklus 1 dilaksanakan pada Minggu pertama dan kedua bulan Januari .Untuk minggu pertama dua pertemuan dan minggu kedua satu kali satu jam pembelajaran ( satu jam pembelajaran selama 35 menit ).Siklus ke 2 dilaksanakan pada tanggal 18 Maret 2014 sampai 22 April 2014.Alur kegiatan siklus menggunakan alur dari Kemmi (1995) seperti pada gambar berikut ini: Setiap siklus lanjutan direncanakan berdasarkan refleksi dari siklus sebelumnya, sehingga masing-masing siklus saling berkaitan. Siklus berikutnya merupakan modifikasi dari siklus sebelumnya untuk mencapai hasil yang lebih baik. Dengan kata lain kekurangan atau kelemahan yang ditemui dalam satu silklus dijadikan sebagai bahan perencanaan untuk siklus sebelumnya. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Deskripsi Siklus I Penelitian tindakan siklus I dilaksanakan tanggal 2 Januari 2014 dan tanggal 17 Maret 2014. Kegiatan penelitian dalam siklus I meliputi antara lain: a) Perencanaan Dalam tahap perencanaan, kegiatan yang dilaksanakan antara lain: 1) Membuat kesepakatan kapan akan dilaksanakan supervisi kelas dengan guruyang bersangkutan. 2) Mendiskusikan materi /sub pokok bahasan yang akan diajarkan pada saat supervisi klinis. 3) Memberi masukan masukan dalam membuat persiapan mengajar. 4) Memberi arahan bahwa supervisi dilakukan untuk memberi bantuan teknis yang diperlukan guru. 5) Mempersiapkan instrumen yang akan dipergunakan untuk pengamatan dan penilaian. b) Pelaksanaan Tindakan Peneliti memulai melaksanakan apa yang direncanakan sebelumnya dan kolabulator yang duduk di bangku belakang mengamati dan mencatat dengan sikap netral: c) Observasi atau pengamatan Observasi kelas merupakan salah satu cara yang tepat untuk memberikan supervisi pembelajaran karena dapat melihat kegiatan guru, murid dan masalah yangtimbul dalam Reflecting (Refleksi) Planning (Perencanaan) Observing (Pengamatan) Acting (Pelaksanaan)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 148 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 proses pembelajaran. Hasilnya dapat dilihat dari lembar observasi. Adapun data hasil penelitian adalah sebagai berikut: Gambar 2. Histogram hasil supervisi siklus I Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa dalam siklus 1. Hasil yang ditunjukkan guru kelas kelas 1 sebesar 70 katagori C ,kelas II 73 katagori C,kelas III sebesar 80 katagori B,kelas IV sebesar 66 katagori C,kelas V sebesar 65 katagori C,dan kelas VI sebesar 76 katagori B.Guru Penjas 90,dan guru Agama 65. Dengan data yang ada menunjukkan kemampuan profesional guru masih dibutuhkan bantuan untuk peningkatan selanjutnya. d) Refleksi Berdasarkan hasil analisa data dan pemantauan ditemukan kelemahan-kelemahan yang perlu direncanakan kembali pada siklus berikutnya, yaitu : 1) Guru kurang persiapan sebelum melakukan proses pembelajaran. 2) Semangat guru dalam menciptakan kondisi pembelajaran yang baik masih kurang. 3) Belum dioptimalkan alat peraga untuk membantu mengajar dalam menjelaskan materi yang diajarkan. 4) Penguasaan kelas masih kurang terbukti siswa masih banyak yang bicara dan main sendiri. 5) Guru masih malu dalam melakukan proses pembelajaran selama belangsungnya supervisi di kelas. 6) Dalam kegiatan akhir pembelajaran tidak melakukan refleksi terhadap materi yang diajarkan. 2. Deskripsi Siklus II Penelitian tindakan kelas siklus II dilaksanakan tanggal 18 Maret 2014 sampai dengan 22 April 2014. Hasil dari diskusi bersama kolabulator untuk mengadakan refleksi tindakan-tindakan yang telah dilakukan guru tentang upaya kesungguhan guru atau kelemahan-kelemahan selama pelaksanaan tindakan akan dijadikan dasar dalam membuat perbaikan perencanaan siklus kedua. Kemungkinan siklus kedua muncul permasalahan yang harus dipecahkan. Permasalahan pertama diperbaiki bersama sehingga fokus penelitian akan bertambah dalam siklus yang kedua ini. Kegiatan penelitian dalam siklus II meliputi antara lain: a) Perencanaan Berdasarkan refleksi, observasi dan penilaian pada siklus I, maka siklus II merupakan perbaikan dari siklus I. Adapun rencana tindakan siklus II meliputi: 1) Mempertegas tentang rencana aksi yang akan dilakukan (urutan kegiatan, waktu pelaksanaan, bahan yang diperlukan).

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 149 2) Membahas kembali kelemahan-kelemahan yang dilakukan dalam siklus I. 3) Meyakinkan kepada guru bahwa supervisor bukan untuk mengawasi tapi sekedar memberi bantuan teknis yang diperlukan guru. b) Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan siklus II pada dasarnya sama dengan siklus I, hanya pada siklus II diadakan perubahan-perubahan sesuai dengan kekurangan pada siklus I. Sehingga pada siklus II ini terjadi peningkatan hasil. Rata-rata hasil kemampuan guru dalam pembelajaran siklus II dapat di lihat pada data dibawah ini: Gambar 2. Histogram hasil supervisi siklus II Untuk kriteria penilaian dalam supervisi ,sebagai berikut : 1) 9,00 – 10,00 katagori A (amat baik) 2) 7,51 – 8,99 katagori B ( baik ) 3) 6,00 – 7,50 katagori C (cukup) 4) Kurang dari 6,00 katagori D (kurang) Dibanding hasil kemampuan profesional guru pada siklus I dengan siklus II rata-rata mengalami perbaikan. c) Refleksi Berdasarkan analisa data siklus II didapat beberapa kekurangan yang perlu ditindaklanjuti guna perbaikan pada siklus: 1) Kehadiran supervisor di kelas masih dirasa menakutkan dan guru tidak leluasa mengembangkan kemampuanya dalam proses pembelajaran, sehingga supervisi berkesan tidak bersahabat. 2) Guru masih malu untuk diketahui kekurangan yang ada pada dirinya, Dalam hati para guru mengatakan, “Memang saya sudah lama mengajar di kelas, namun saya mengakui banyak hal yang seharusnya saya kerjakan tetapi belum dapat saya lakukan dengan maksimal. Dalam kegiatan pembelajaran sangat sukar menentukan mana yang benar dalam praktek mengajar karena mengajar menurut Siswoyo (1997), sebagai seni dan filsuf. Menurut pendapat di atas mengajar dalam pekerjaan di sekolah bukan pekerjaan yang mudah, sehingga kepala sekolah dalam demonstrasi pembelajaran tidak perlu mengakui kelemahan dan perlu mencarikan ahli yang dapat memberikan gambaran tentang pembelajaran yang baik. 2. Deskripsi Temuan Dengan adanya supervisi kelas di SD Negeri 3 Jampiroso pada siklus I untuk peningkatan keprofesionalan guru dalam proses pembelajaran belum memperoleh hasil yang diharapkan.Keraguan dan sikap malu masih mendominasi perilaku guru di saat diadakan supervisi klinis terutama guru kelas IV dan kelas V terbukti masih belum bisa mengembangkan proses pembelajaran dengan baik.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 150 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Kekurangan dalam siklus I ditindak lanjuti pada siklus II, dengan diberikan pengertian bahwa supervisi untuk membantu guru dalam mengatasi permasalahan bukan mencari kekurangan barulah ada perubahan yang cukup signifikan. Kesan menyenangkan dan bersahabat dalam supervisi klinis yang diadakan cukup mendapat tanggapan positif di mata para guru, sehingga keberadaan supervisi kelas ini sangat diharapkan oleh para guru. SIMPULAN DAN SARAN Salah satu strategi peningkatan profesional guru adalah melalui supervisi klinis. Pelaksanaan supervisi Klinis perlu dilakukan secara sistematis oleh kepala sekolah bertujuan memberikan pembinaan kepada guru-guru agar dapat melaksanakan tugasnya secara efektif dan efisien. Dalam pelaksanaannya, kepala sekolah menggunakan lembar pengamatan yang berisi aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam peningkatan kinerja guru dan kinerja sekolah. Untuk mensupervisi guru digunakan lembar observasi yang berupa alat penilaian kemampuan guru (APKG), Implementasi kemampuan profesional guru mensyaratkan guru agar mampu meningkatkan peran yang dimiliki, baik sebagai informatory (pemberi informasi), organisator, motivator, director, inisiator (pemrakarsa inisiatif), transmitter (penerus), fasilitator, mediator, dan evaluator sehingga diharapkan mampu mengembangkan kompetensinya. Mewujudkan kondisi ideal di mana kemampuan profesional guru dapat diimplementasikan dalam pembelajaran, bukan merupakan hal yang mudah. Hal tersebut lantaran aktualisasi kemampuan guru tergantung pada berbagai komponen sistem pendidikan yang saling berkolaborasi. Supervisi klinik juga berkepentingan dengan upaya peningkatan kemampuan profesional guru yang berdampak terhadap peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut: 1. Supervisi hendaknya memberikan kesan yang bersahabat jangan berkesan seperti hantu sehingga guru akan merasa membutuhkan untuk peningkatan keprofesionalannya. 2. Kepala sekolah harus dapat memberikan arahan,bimbingan,contoh dalam proses pembelajaran disekolah. 3. Guru harus mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Ini berarti bahwa komitmen tertinggi guru adalah kepada kepentingan siswanya. 4. Guru harus menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkan serta cara mengajarkannya kepada siswa. Bagi guru, hal ini merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. 5. Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi, mulai cara pengamatan dalam perilaku siswa sampau tes hasil belajar. 6. Guru harus mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya, dan belajar dari pengalamannya. Artinya, harus selalu ada waktu untuk guru guna mengadakan refleksi dan koreksi terhadap apa yang telah dilakukannya. Untuk bisa belajar dari pengalaman, ia harus tahu mana yang benar dan salah, serta baik dan buruk dampaknya pada proses belajar siswa. 7. Guru seyogianya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya, misalnya PGRI dan organisasi profesi lainnya (Supriadi, 1999:98). DAFTAR PUSTAKA Depdiknas. (2001). Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah(Buku 1). Jakarta: Depdiknas. Fullan & Stiegerbauer.(1991). TheNew Meaning of Educational Change. Boston: Houghton Mifflin Company. Mulyasa,(2011).Manajemen Kepemimpinan Kepala Sekolah.Jakarta : Bumi Aksara 212-256

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 151 Sahertian, Piet A.( 2000). Konsep-Konsep dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta. Sapari, Achmad. (2002). PemahamanGuru Terhadap Inovasi Pendidikan. Artikel. Jakarta: Kompas (16 Agustus 2002). Sucipto. (2003). Profesionalisasi Guru Secara Internal, Akuntabiliras Profesi. Makalah Seminar Nasional. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 152 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 PENTINGNYA PENJAGA SEKOLAH MENUJU STANDAR PELAYANAN MINIMAL SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN TRETEP KABUPATEN TEMANGGUNG Walminto1,*, Slamet Hidayat2 1,2Program Pascasarjana MMP Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga *Keperluan korespondensi, email: tmg13163@gmail.com; telp: 08562914121 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan dan membuktikan tentang pentingnya Penjaga Sekolah dalam meningkatkan standar pelayanan minimal sekolah dasar di Kecamatan Tretep Kabupaten Temanggung. Teknik pengumpulan data dilaksanakan dengan observasi ke sekolah terkait. Kecamatan Tretep terdiri dari 11 Sekolah Dasar dan 4 Madrasah Ibtidaiyah dan berlokasi di ujung utara Kabupaten Temanggung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Hanya ada 2 Sekolah Dasar yang mempunyai penjaga sekolah yang sudah PNS, (2) kebanyakan penjaga sekolah bersifat honorer dan kontrak, (3) Penjaga Sekolah sangat membantu dalam meningkatkan pelayanan di Sekolah Dasar. Sekolah Dasar merupakan elemen penting dala pembinaan karakter dan watak mulia. Sekolah sangat berperan dalam membimbing siswa dalam kemampuan pembinaan karakter dan watak siswa. Sebagai Kecamatan yang terletak di sudut kota Temanggung, Kecamatan Tretep terletak sekitar 40 kilometer dari pusat kota Temanggung. Kata kunci: Penjaga sekolah dan Sekolah Dasar PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan upaya mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemerintah merumuskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjelaskan bahwa pendidikan dilakukan agar mendapatkan tujuan yang diharapkan bersama yaitu: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepadaTuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Pasal 3 UU RI No 20/ 2003). Dari penjelasan pendidikan yang telah dijelaskan dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 sangatlah jelas bahwa pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam mewujudkan tujuan tersebut dibutuhkan tenaga ahli. Hal ini juga mendukung adanya tenaga administrasi dalam memberikan layanan prima kepada masyarakat khususnya kepada konsumen pendidikan. Tenaga Administrasi Sekolah saat ini dijadikan sebagai pusat pelayanan publik dalam meningkatkan pencitraan sekolah karena para tenaga administrasi sekolah merupakan pusatnya dalam mengelola pendidikan. Dengan kata lain dapat dikatakan juga sebagai dapur informasi sekolah. Tenaga Administrasi Sekolah dalam hal ini menempati peran penting sebagai tenaga kependidikan dengan tugasnya yang bukan hanya sekedar membantu sekolah dalam urusan administrasi melainkan meliputi beberapa kegiatan penting dalam pengembangan kualitas sekolah seperti pengelolaan, pengembangan, pengawasan dan pelayanan teknis. Dengan kata lain Tenaga Administrasi Sekolah ini bertugas bertugas sebagai pendukung berjalannya proses pendidikan di sekolah melalui layanan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 153 administratif guna terselenggaranya proses pendidikan yang efektif dan efisien di sekolah. Serta berperan dalam usaha mencapai standar pelayanan minimal dalam Sekolah Dasar. Adapun administrasi sekolah terdiri dari beberapa petugas diantaranya petugas Tata Usaha serta Penjaga Sekolah. Pentingnya Penjaga Sekolah dalam meningkatkan standar pelayanan minimal sekolah dasar di Kecamatan Tretep Kabupaten Temanggung merupakan hal yang sangat menarik untuk diteliti. Teknik pengumpulan data dilaksanakan dengan observasi ke sekolah terkait. Kecamatan Tretep terdiri dari 11 Sekolah Dasar dan 4 Madrasah Ibtidaiyah dan berlokasi di ujung utara Kabupaten Temanggung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Hanya ada 2 Sekolah Dasar yang mempunyai penjaga sekolah yang sudah PNS, (2) kebanyakan penjaga sekolah bersifat honorer dan kontrak, (3) Penjaga Sekolah sangat membantu dalam meningkatkan pelayanan di Sekolah Dasar. Sekolah Dasar merupakan elemen penting dalam pembinaan karakter dan watak mulia. Sekolah sangat berperan dalam membimbing siswa dalam kemampuan pembinaan karakter dan watak siswa. Sebagai Kecamatan yang terletak di sudut kota Temanggung, Kecamatan Tretep terletak sekitar 40 kilometer dari pusat kota Temanggung. 2. Identifikasi Masalah Rumusan masalah dari artikel ini adalah: a. Apa Tugas dari Penjaga Sekolah? b. Bagaimana keadaan Penjaga Sekolah di Sekolah Dasar di Kecamatan Tretep Kabupeten Temanggung ? 3. Studi Kepustakaan a. Sekolah Dasar Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Sekolah dasar (disingkat SD; bahasa Inggris: Elementary School) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Saat ini murid kelas 6 diwajibkan mengikuti Ujian Nasional (dahulu Ebtanas) yang memengaruhi kelulusan siswa. Lulusan sekolah dasar dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama (atau sederajat). Pelajar sekolah dasar umumnya berusia 7-12 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara berusia 7-15 tahun tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni sekolah dasar (atau sederajat) 6 tahun dan sekolah menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun. Sekolah dasar diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001, pengelolaan sekolah dasar negeri (SDN) di Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional, kini menjadi tanggung jawab pemerintah daerahkabupaten/kota. Sedangkan Departemen Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang standar nasional pendidikan. Secara struktural, sekolah dasar negeri merupakan unit pelaksana teknis dinas pendidikan kabupaten/kota. Sekolah adalah bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran (menurut tingkatannya, ada)dasar sekolah tempat memperoleh pendidikan sbg dasar pengetahuan untuk melanjutkan ke sekolah yg lebih tinggi. b. Penjaga Tenaga Kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang Penyelenggaraan Pendidikan.Yang termasuk kedalam tenaga kependidikan adalah:Penjaga sekolah adalah seorang seorang yang berada di lingkungan sekolah ,namun tidak terlibat langsung dalam proes kegitan belajar mengajar yang berlangsung secara berkelanjutan. Penjaga Sekolah bisa di sebut pesuruh juga bisa di sebut pak bon (Tukang Kebun). Tugas pokok seorang Penjaga Sekolah adalah menjaga keamanan, kebersihan dan kenyamanan.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 154 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Hal ini memang harus dilakukan setiap hari agar saat guru,siswa dan karyawan sekolah mulai berdatangan, sekolah sudah dalam keadaan siap dilaksanakan proses belajar mengajar yang merupakan rutinitas setiap hari. Saat jam sekolah benar-benar selesai, seorang penjaga sekolah tidak serta merta selesai juga tugasnya. Saat inilah tugas yang lain harus dikerjakan. Ketika sekolah mulai sepi ditinggalkan para siswa serta karyawan sekolah yang lain pulang, seorang penjaga sekolah harus mengontrol sudut-sudut sekolah. Itulah gambaran sekilas tugas seorang penjaga sekolah. Kalau proses belajar mengajar disekolah berlangsung mulai pukul 07.00 wib hingga 14.00 wib, seorang penjaga sekolah harus bekerja mulai jam 06.00 wib sampai 14.00 wib. Bisa dibayangkan betapa kuat fisik seorang penjaga sekolah yang harus bekerja lebih dari 8 jam setiap hari dari pagi hingga sore harinya. Itu Harus dilakukan setiap harinya jika tidak ada tanggal merah maka hal tersebut harus dilaksanakan. Namun anehnya Penjaga Sekolah justru malah di pandang sebelah mata dan di anggap oleh umum ,kalau penjaga sekolah adalah orang yang lemah ekonominya dan tidak punya pengalaman atau tidak mengerti apa-apa. HASIL DAN PEMBAHASAN Profesi ditinjau secara etimologi, berasal dari bahasa inggris yaitu Profession atau bahasa latinProfecus yang artinya mengakui, adanya pengakuan, menyatakan mampu, atau ahli dalam melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan secara terminologi, profesi berarti suatu pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan tinggi sebagai pelakunya yang ditekankan pada pekerjaan mental, yaitu adanya persyaratan pengetahuan teoritis sebagai instrumen untuk melakukan perbuataan praktis, bukan pekerjaan manual. Dalam keberadaannya ini, profesi adalah suatu pekerjaan yang dalam melaksanakan tugasnya memerlukan atau menuntut keahlian, menggunakan teknik-teknik, serta dedikasi yang tinggi. Keahlian itu didapat melalui pendidikan dan pelatihan khusus dalam waktu yang lama. Profesi itu pekerjaan, namun tidak semua pekerjaan adalah profesi. Profesi mempunyai karakteristik sendiri yang membedakannya dari pekerjaan lainnya. Ciri-ciri atau karakteristik suatu profesi menurut Oteng Sutisna dalam Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis untuk Praktek Profesional (1989: 360), terdapat beberapa indikator yang menjadi karakteristik sebuah profesi, diantaranya: 1. Suatu dasar ilmu atau teori yang sistematis 2. Kewenangan profesional yang diakui oleh klien 3. Sanksi dan pengakuan masyarakat akan keabsahan kewenangannya 4. Kode etik yang regulatif 5. Kebudayaan profesi 6. Persatuan profesi yang kuat dan berpengaruh Berdasarkan karakteristik profesi yang dikemukakan oleh dua ahli di atas, maka dalam hal ini bisa dilihat akan perlunya pemenuhan karakteristik tersebut untuk mencapai suatu profesi yang ideal. Orang yang menyandang suatu profesi disini dapat disebut sebagai seseorang yang bekerja secara profesional yang dapat menampilkan unjuk kerja sesuai dengan profesinya. Seseorang yang bekerja secara profesional bila orang tersebut memiliki: kemampuan (ability) dan motivasi (motivation). Kemampuan dan motivasi merupakan dua faktor yang sangat menentukan profesionalitas seseorang. Profesionalitas dengan demikian menunjuk kualitas sikap para anggota suatu profesi terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki untuk dapat melakukan tugas-tugasnya. Sebutan profesionalitas lebih menggambarkan suatu keadaan derajat keprofesian seseorang dilihat dari sikap, pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya. Motivasi terkait dengan profesionalisme yaitu sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 155 mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya. Pada dasarnya profesionalisme itu merupakan motivasi intrinsik pada diri penjaga sekolah sebagai pendorong. Bertugas menjaga keamanan sekolah dan lingkungan agar tercipta suasana aman, tertib, nyaman, dan berwibawa, bertanggung jawab kepada Kepala Tenaga Administrasi Sekolah, dengan rincian tugas diantaranya: 1. Memeriksa kelengkapan kendaraan (surat-surat dan peralatan) yang diperlukan untuk kelancaran melaksanakan tugas 2. Mengatasi hal-hal yang menggangu keamanan dan ketertiban sekolah 3. Mengamankan pelaksanaan kegiatan sekolah 4. Menjaga ketenangan dan keamanan kompleks sekolah pada waktu siang dan malam hari 5. Mengisi buku catatan kejadian gangguan keamanan dan ketertiban sekolah 6. Melaporkan dengan cepat kejadian gangguan keamanan sekolah dan hal-hal lain yang terkait dengan tugasnya 7. Mengawasi keluar dan masuknya orang, barang, kendaraan di lingkungan sekolah 8. Mencatat dan mengatur tamu ke tempat yang dituju 9. Merawat peralatan penunjang tugas mengamankan sekolah 10. Mengawal kegiatan kedinasan guru dan siswa di luar lingkungan sekolah 11. Mengawal bendahara sekolah pada saat melakukan transaksi keuangan si luar sekolah 12. Menjaga kebersihan posko keamanan sekolah 13. Mengoperasikan peralatan pemadam kebakaran Kecamatan Tretep terdiri dari 11 Sekolah Dasar yang hampir semua penjaga sekolahnya masih berstatus Honorer atau Wiyata bakti. Walaupun juga sudah ada beberapa penjaga sekolah yang sudah masuk daftar Honorer Kategori 2 (K2) yang sudah terdaftar pada Menteri PAN dan RB dan mereka sudah pernah mengikuti tes untuk seleksi menjadi CPNS pada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan namun masih gagal. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan data di bawah ini: Tabel.1 Nama Sekolah dan status kepegawaian No Nama Sekolah Nama Penjaga Status PNS NON PNS 1 SD N Gandikan Sujadi √==O=SD N campurejo=Zaenatun==√=P=SD N Sarangan=Heri===√=Q=SD N Nglarangan=Muna==√=R=SD N Sigedong=Marsono=√==S=SD N Donorojo=Musafak==√=T=SD N Tretep=Riyanah==√=U=SD N Simpar=Sarmidá==√=V=SD N Tlogo=Sriyadá==√=10=SD N 1 Bendungan=Santoso==√=11=SD N 2 Bendungan=Puji==√= Dari data tersebut dapat diperoleh hasil bahwa dari 11 Sekolah Dasar di Kecamatan Tretep hanya 2 Sekolah saja yang penjaga sekolahnya sudah Pegawai Negeri Sipil (PNS) sedang yang 9 Sekolah masih berstatus Non PNS. Adapun penghasilan dari penjaga sekolah ini masih sangat minim atau jauh dari harapan padahal mereka harus menghidupi keluarga. Tabel.2 Penghasilan Penjaga Sekolah No Nama Sekolah Nama Penjaga Gaji/Honor 1 SD N Gandikan Sujadi Golongan 3a 2 SD N Campurejo Zaenatun Rp. 300.000,- 3 SD N Sarangan Heri Rp. 250.000,- 4 SD N Nglarangan Muna Rp. 250.000,- 5 SD N Sigedong Marsono Golongan 3a 6 SD N Donorojo Musafak Rp. 200.000,- 7 SD N Tretep Riyanah Rp. 250.000,- 8 SD N Simpar Sarmidi Rp. 250.000,- 9 SD N Tlogo Sriyadi Rp. 250.000,- 10 SD N 1 Bendungan Santoso Rp. 300.000,- 11 SD N 2 Bendungan Puji Rp. 200.000,-

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 156 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Dari data tersebut dapat diperoleh data bahwa penghasilan penjaga wiyata bakti yang ada di Kecamatan Tretep berpenghasilan Rp 200.000 sampai dengan Rp. 300.000,- per bulannya. Dengan penghasilan yang seperti itu mereka harus menghidupi keluarganya. Tabel. 3 Status perkawinan penjaga sekolah No Nama Sekolah Nama Penjaga Status Nkh Blm 1 SD N Gandikan Sujadi √==O=SD N Campurejo=Zaenatun=√==P=SD N Sarangan=Heri==√==Q=SD N Nglarangan=Muna==√=R=SD N Sigedong=Marsono=√==S=SD N Donorojo=Musafak==√=T=SD N Tretep=Riyanah=√==U=SD N Simpar=Sarmidá=√==V=SD N Tlogo=Sriyadá=√==10=SD N 1=Bendungan=Santoso=√==11=SD N 2 Bendungan=Puji=√===Dari= data= diatas= dapat diperoleh hasil bahwa rataJrata= penjaga sekolah yang= ada sudah berstatus menikah terdapat= 9 orang yang= sudah menikah dan 2 orang penjaga sekolah saja yang masih perjaka.=Tabel. 4=Pendidikan Terakhir dari penjaga=sekolah=No=Nama Sekolah=Nama Penjaga=Pendidikan=N=SD N Gandikan=Sujadi=SLTP=O=SD N Campurejo=Zaenatun=SLTP=P=SD N Sarangan=Heri==SMA=Q=SD N Nglarangan=Muna=SMA=R=SD N Sigedong=Marsono=SLTP=S=SD N Donorojo=Musafak=SMA=T=SD N Tretep=Riyanah=SMA=U=SD N Simpar=Sarmidá=SMA=V=SD N Tlogo=Sriyadá=SMA=10=SD N 1 Bendungan=Santoso=SMA=11=SD N 2 Bendungan=Puji=SMA=Dari= data= diatas= dapat diperoleh hasil bahwa rataJrata= penjaga sekolah yang= ada sudah berpendidikan SMA terdapat=8 orang yang= sudah berpendidikan SMA dan 3 orang penjaga sekolah saja= yang= masih berpendidikan SLTPK=Maka= secara= tidak langsung peran penjaga sekolah sangat besar sekali= terhadap= kemajuan= pendidikan= di=Indonesia khususnya di Kecamatan Tretep.==KESIMPULAN Penjaga sekolah merupakan ujung tombak terhadap kemajuan sekolah disamping guru serta unsur penunjang lainnya. Pendidikan yang sehat hanya dapat terwujud dengan lingkung dan bangunan sekolah yang layak, bersih dan sehat. Dengan demikian seharusnya pemerintah lebih memperhatikan nasib dari para penjaga sekolah yang telah berjuang tanpa lelah dalam memajukan dunia pendidikan di Indonesia pada umumnya. Pemerintah seharusnya lebih mementingkan mengangkat penjaga sekolah daripada mengurusi hal-hal yang kurang bermanfaat akan lebih baiknya jika pemerintah bisa mengusahakan melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan walaupun hanya mengengkat penjaga sekolah tersebut sebagai tenaga kontrak kalaupun tidak demikian pemerintah mengusahakan untuk menaikkan gaji/honor dari penjaga tersebut untuk setara dengan Upah Minimum Regional (UMR) yang berlaku di setiap daerahnya. DAFTAR PUSTAKA Aulia, Fikri. (2011). Konsep Profesionalisasi. [Online]. Tersedia: http://fikriauliafikri.wordpress.com/2011/ 04/12/konsep-profesionalisasi/. [17 April 2013] Komara, Sinsin Yasini. (2012). Rekrutmen dan Seleksi Tenaga Administrasi Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Sukasari Kota Bandung. Skripsi Administrasi Pendidikan UPI Bandung: Tidak diterbitkan BPHN. (-). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. [Online]. Tersedia: http://www.bphn.go.id/data/documents/10pp006.doc [17 April 2013] Purba, Iwan Rio. (2010). Profesionalisasi Pendidikan. [Online]. Tersedia: http://iwan-rio-purba.blogspot.com/2010/11/profe

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 157 sionalisasi-pendidikan.html. [17 April 2013] Staff Unila. (2011). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/ Madrasah. [Online]. Tersedia: http://staff.unila.ac.id/radengunawan/files/2011/09/Permendiknas-No.-24-Tahun-2008.pdf[17 April 2013] Sutisna, Oteng. (1989). Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis untuk Praktek Profesional. Bandung: Angkasa USU. (-). Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. [Online]. Tersedia: http://www.usu.ac.id/sisdiknas.pdf.[17 April 2013] _____. (2009). Peranan dan Fungsi Tenaga Administrasi Sekolah/ Madrasah dan Upaya Mengefektifkannya. [Online]. Tersedia: http://smpn29samarinda.wordpress.com/2009/02/24/peranan-dan-fungsi-tenaga-administrasi-sekolahmadrasah-dan-upaya-mengefektifkannya/. [17 April 2013] Kartono, Kartini. 1997. Tinjauan Politik Mengenai Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Anem Kosong Anem Makmun, Syamsudin Abin. 1999. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya Nana Sudjana, 2004, Proses Belajar Mengajar. Bandung: CV Algesindo Sidi, Djati Indra. 2003. Menuju Masyarakat Belajar. Jakarta: Paramadina Suryabrata, Sumadi. 2004. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada Tirtarahardja, Umar. 2000. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Th. 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Cemerlang.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 158 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 ACADEMIC SUPERVISION MANAGEMENT THE STATE PRIMARY SCHOOL MIJEN 2 KEBONAGUNG DEMAK Mufarikin1,* dan Bambang Ismanto2,** 1SD Negeri Mijen 2 Kebonagung Demak 2Program Pascasarjana MMP UKSW Salatiga *Keperluan korespondensi: mufarikin@gmail.com; HP.081226927337/ 085848887392 **Keperluan korespondensi: bam_ismanto@yahoo.com ABSTRAK Fokus Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengelolaan supervisi akademik di SD Negeri Mijen 2 Kebonagung Demak. Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik perencanaan supervisi, pelaksanaan supervisi, umpan balik supervisi oleh kepala sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan subjeknya adalah kepala sekolah dan guru SD Negeri Mijen 2 Kebonagung Demak. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data terdiri dari; reduksi data; penyajian data, dan pengambilan kesimpulan. Uji keabsahan data menggunakan kredibilitas, tranferabilitas, konfirmabilitas dan dependabilitas. Hasil penelitian ini berupa (1) Perencanaan supervisi akademik berupa perencanaan tujuan, sasaran, waktu, tempat, dan instrumen untuk pengembangan situasi pembelajaran yang dilakukan guru di kelas. (2) Implementasi supervisi akademik dilakukan dengan kunjungan kelas secara rutin, melakukan kegiatan yang melibatkan guru dan siswa, pelaksanaan penataran kurikulum baru, penilaian kinerja guru dan reward yang dijanjikan; (3) Umpan balik supervisi akademik berupa pemberian penguatan, kepuasan, motivasi, kerja sama, intervensi memberi bantuan didaktis atau bimbingan, supervisi terhadap diri sendiri dan diberi pengetahuan tambahan. Tindak lanjut hasil supervisi akademik berupa penguatan, menganalisis pencapaian tujuan pembelajaran, menganalisis target keterampilan pembelajaran, menyimpulkan hasil dari apa yang diperolehnya selama supervisi akademik, mendorong guru untuk merencanakan latihan-latihan, sekaligus menetapkan rencana berikutnya Kata kunci: pengelolaan, supervisi, akademik PENDAHULUAN Pendidik sebagai agen pembelajaran, menempati posisi strategis dalam peningkatan mutu lulusan SD. Aktivitasnya dilakukan mulai perencanaan, mengelola PBM, dan menilai ketercapaian tujuan pendidikan. Perkembangan teknologi informasi dan laju kehidupan global tidak akan mengubah atau meniadakan pendidik dalam proses pendidikan. Sebagai tenaga profesional, untuk meningkatkan tugasnya dilakukan supervisi. Hal ini menunjukkan komitmen guru dalam melakukan fungsinya sebagai agen pembelajaran. Supervisi selalu mengacu pada kegiatan memperbaiki proses pembelajaran. Kegiatan-kegiatan tersebut juga tidak bisa lepas dari tujuan akhir setiap sekolah, yaitu menghasilkan lulusan yang berkualitas. Studi pendahuluan di SD Negeri Mijen 2 Kebonagung Demak memperlihatkan bahwa perencanaan yang dilakukan kurang memperhatikan kinerja tahun sebelumnya. Dinamika perkembangan pendidikan dan berbagai perubahan di luar sekolah setiap saat mengalami perubahan. Perencanaan yang disusun di tahun berikutnya harus ada perubahan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Seiring dengan dinamika perkembangan pendidikan, guru harus merubah perencanaan pengajaran setiap tahunnya. Peningkatan pendidikan yang saat ini tercermin dalam perkembangan teknologi, maka perencanaan dan proses pembelajaran harus memanfaatkan teknologi. Tugas Pokok Kepala Sekolah Kunci keberhasilan sekolah terletak pada efisiensi dan efektivitas kerja seorang kepala sekolah. Kemampuan dasar yang perlu

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 159 dimiliki oleh kepala sekolah yaitu tercermin melalui sifat-sifat: jujur, percaya diri, tanggung jawab, berani mengambil resiko dan keputusan, berjiwa besar, emosi yang stabil dan teladan. Sifat dasar seperti itu dengan sendirinya akan diikuti oleh guru atau staf kerja. Berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi kepala sekolah, ada konsep yang memudahkan untuk diingat yaitu EMASLIM (Edukator, Manager, Administrator, Supervisor, Leader, Inovator, Motivator). Dari kepemimpinan yang profesional tersebut berarti juga merupakan proses menggerakkan, mempengaruhi, memberikan motivasi dan mengarahkan orang-orang di dalam lembaga pendidikan. Tentunya akan lebih mudah untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Tuntutan lain yang berkaitan dengan tugas kepala sekolah yaitu mempunyai dasar kompetensi kepribadian, managerial, supervisi dan kewirausahaan. Kompetensi managerial juga sangat diperlukan seorang kepala sekolah. Diantara dari kompetensi tersebut, yang tidak kalah pentingnya adalah kompetensi supervisi. Pelaksanaannya disesuaikan prosedur dan teknik-teknik yang sesuai. Kompetensi Guru Profesional Agar dapat melaksanakan tanggung jawab dan tugas dengan baik, maka seorang guru dituntut memiliki keterampilan dan kemampuan tertentu. Hal tersebut merupakan perwujudan dari kompetensi profesional guru. Merujuk pada UU No.14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, maka guru harus memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi profesional, pedagogis, personal, dan sosial. Dari keempat kompetensi tersebut dapat dimaknai sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diwujudkan dalam tindakan yang cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya. Pada Kepmendiknas no. 045/U/2002 juga disebutkan bahwa kompetensi merupakan seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu. Ditandaskan lagi lebih mengerucut dalam Permendiknas No.16 tahun 2007 tentang standar kompetensi akademik dan kompetensi guru, bahwa standar kompetensi guru terdiri dari kompetensi inti guru dan kompetensi profesional guru. Dari dasar tersebut maka yang dimaksud kompetensi profesional guru adalah kemampuan dan wewenang guru dalam melaksanakan profesinya sebagai guru. Pengelolaan Supervisi Akademik Supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran. Hal itu sama sekali bukan menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran, melainkan membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalnya. Hal ini bukan semata-mata ditekankan pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan mengajar guru, melainkan juga pada peningkatan komitmen (commitmen) atau kemauan (willingness) atau motivasi (motivation) guru, sebab dengan meningkatkan kemampuan dan motivasi kerja guru, kualitas pembelajaran akan meningkat. Upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, diperlukan sumber data supervisi yang dikenal dengan istilah sasaran supervisi. Penyelenggaraan supervisi akademik dilakukan dengan cara pemberian diskusi, pelatihan, dan konsultasi. Prosesnya dilakukan dengan beberapa tahapan, antara lain tahapan perencanaan, implementasi, dan umpan balik. Perencanaan Supervisi Akademik Perencanaan merupakan salah satu syarat mutlak bagi setiap organisasi atau lembaga dan bagi setiap kegiatan, baik perseorangan maupun kelompok. Perencanaan dimulai dari pertemuan awal, observasi kelas, wawancara hingga diskusi dan tindak lanjutnya. Berkaitan dengan hal tersebut bahwa perencanaan ini meliputi: perencanaan tujuan, waktu, tempat dan instrumen yang diperlukan demi kelancaran proses supervisi. Perincian perencanaan disusun bersama antara pengawas, kepala

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 160 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 sekolah dan guru. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan koordinasi antara keduanya, sehingga pelaksanaan supervisi tidak tumpang tindih. Dalam perencanaan supervisi pembelajaran kepala sekolah bersama guru sekaligus menghadirkan pengawas berdiskusi menyusun rencana kerja untuk kurun waktu tertentu, dalam satu tahun kemudian dibagi menjadi rencana catur wulan dan bulan. Implementasi Supervisi Akademik Kegiatan pelaksanaan supervisi akademik merupakan implementasi dari perencanaan yang telah disusun. Pelaksanaan supervisi akademik dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Teknik supervisi bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu teknik supervisi individual dan teknik supervisi kelompok. Klasifikasi ini untuk mempermudah menjangkau tujuan. Dalam implementasinya perlu menyesuaikan kondisi dan situasi setempat. Pengaruh ataupun efek yang muncul sesaat di lapangan perlu dicatat untuk menemukan solusinya, sekaligus sebagai bahan perbaikan supervisi berikutnya. Umpan Balik Supervisi Akademik Pertemuan balikan dilakukan segera setelah melaksanakan observasi pengajaran. Namun terlebih dahulu melakukan analisis terhadap hasil observasi. Pertemuan balikan ini merupakan tahap yang penting untuk mengembangkan perilaku guru dengan cara memberikan balikan tertentu. Umpan balik ini berupa pemberian penguatan, kepuasan, motivasi, kerja sama, intervensi memberi bantuan didaktis atau bimbingan, supervisi terhadap diri sendiri dan diberi pengetahuan tambahan. Tindak lanjutnya berupa penguatan, menganalisis pencapaian tujuan pengajaran, menganalisis target keterampilan pembelajaran, menyimpulkan hasil dari apa yang diperolehnya selama supervisi akademik, mendorong guru untuk merencanakan latihan-latihan, sekaligus menetapkan rencana berikutnya. Adapun pemberian umpan balik (feed back) oleh Dharma (2004: 8) dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 1. Skema pemberian umpan balik Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa fungsi balikan dalam pelaksanan supervisi adalah mengkomunikasikan hasil supervisi kepada guru sebagai feedback atau balikan untuk memperbaiki kesalahan dengan tindak lanjutnya. Dengan adanya balikan ini dapat mempengaruhi pembelajaran yang diinginkan (umpan balik motivasi) dan mempengaruhi bentuk pembelajaran yang diinginkan (umpan balik formatif). Umpan balik tersebut diharapkan ada perbaikan proses pembelajaran. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Melihat permasalahan dan tujuan penelitian ini, maka jenisnya terlihat sebagai pola hubungan bersifat interaktif. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hal ini jelas tampak karakteristiknya yaitu bersifat diskriptif, tidak menekan angka, Proses Kondisi Hasil Umpan balik motivasi Umpan balik formatif

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 161 dan data berupa kata-kata ataupun gambar. Penulis ingin mengungkap perilaku manusia dalam konteks natural atau alamiah, bulat, menyeluruh dan apa adanya. Subjek dan Lokasi Penelitian Subjek penelitian ini adalah kepala sekolah dan guru. Lokasi penelitian ini di SD Negeri Mijen 2 Kebonagung Demak Provinsi Jawa Tengah Indonesia. Definisi Operasional Konsep Penelitian 1. Kinerja merupakan hasil penilaian kerja yang dicapai oleh seorang pegawai, baik berupa produk atau jasa berdasarkan pada kuantitas, kualitas dan waktu penyelesaian pekerjaan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. 2. Kepala sekolah dalam peran dan fungsinya sebagai EMASLIM (Edukator, Manager, Administrator, Supervisor, Leader, Inovator, Motivator). 3. Kompetensi profesional guru diimplementasikan sebagai Kinerja Guru memiliki kompetensi professional, pedagogis, personal, dan sosial; 4. Supervisi Akademik merupakan usaha yang sifatnya membantu guru atau melayani guru agar mengarah pencapaian tujuan pendidikan dan meningkatkan mutu pendidikan; 5. Perencanaan merupakan salah satu syarat mutlak bagi setiap organisasi atau atau lembaga dalam melaksanakan kegiatan. 6. Implementasi supervisi akademik merupakan Pelaksanaan yang dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. 7. Umpan balik merupakan suatu kegiatan pertemuan balikan dilakukan segera setelah melaksanakan observasi pengajaran. Teknik Pengumpulan Data Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan lewat partisipasi, observasi, wawancara, dokumentasi, dan focus group discussion. 1. Pengamatan lewat partisipasi berarti keikutsertaan pengamat dalam kegiatan penelitian. 2. Observasi pada penelitian ini difokuskan pada pelaksanaan supervisi akademik serta data-data pendukung lain yang diperlukan. 3. Wawancara ini digunakan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan supervisi akademik. Teknis wawancara dilakukan secara terbuka. 4. Dokumentasi sebagai pelengkapnya, yang berupa tulisan, rekaman, buku-buku pedoman, laporan resmi catatan harian serta notulen rapat. 5. Focus Group Discussion (FGD) adalah untuk mengekplorasi masa lebih spesifik. Hal itu berkaitan dengan topik yang dibahas, sehingga teknik ini menghindari pemaknaan yang salah dari peneliti terhadap masalah yang diteliti. Teknik Analisis Data Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Data penelitian dianalisis menggunakan model analisis interaktif, yaitu pengumpulan data (data collection), reduksi data (data reduction), display data (data display) dan penarikan kesimpulan/verifikasi (conclution). Pengecekan Keabsahan Data Untuk memperoleh penafsiran yang sesuai, pelaksanaannya didasarkan atas (1) derajad kepercayaan (credibility), (2) keteralihan (transferability), (3) kebergantungan (dependability), (4) kepastian (confirmability). Triangulasi Data Triangulasi digunakan dengan melalui berbagai cara yaitu: triangulasi sumber; triangulasi metode; konfirmasi; dan dependabilitas. HASIL DAN PEMBAHASAN Perencanaan supervisi akademik dilakukan oleh kepala sekolah SD Negeri Mijen 2 Kebonagung Demak untuk

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 162 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 memberikan layanan dan bantuan kepada guru-guru, tujuannya agar dapat mengembangkan situasi pembelajaran yang dilakukan guru di kelas. Selain itu juga untuk mengkoordinasi, menstimulasi, mendorong ke arah partumbuhan profesi guru dan memperbaiki proses. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini berupa perencanaan tujuan, waktu, tempat, dan instrumen. Dari keempat hasil tersebut perlu dikembangkan sesuai situasi pembelajaran yang dilakukan guru di kelas. Langkah kongkrit implementasi supervisi akademik dilakukan dengan cara: kunjungan kelas, observasi pembelajaran, dan administrasi guru. Langkah selanjutnya dikomunikasikan dengan guru yang bersangkutan. Secara berkala diadakan rapat mengevaluasi pelaksanaan supervisi akademik. Supervisi dilaksanakan sesuai jadwal atau rencana program yang telah dikomunikasikan kepada guru-guru. Kepala sekolah mengatur sesuai dengan jadwal yang disusun, kemudian mengadakan kunjungan kelas dan observasi. Hasil penelitian dari implementasi supervisi akademik ini berupa kegiatan kunjungan kelas secara rutin, melakukan kegiatan yang melibatkan guru dan siswa, pelaksanaan penataran dan worksoap kurikulum, penilaian kinerja guru dan reward yang dijanjikan. Secara keseluruhan proses kegiatan Umpan balik atau feedback hasil supervisi yang dilaksanakan oleh kepala sekolah di SD Negeri Mijen 2 Kebonagung Demak, dapat dirangkum atau digambarkan dalam skema gambar sebagai berikut: Gambar 2. Skema balikan hasil supervisi Hasil penelitian ini berupa pemberian penguatan, kepuasan, motivasi, kerja sama, intervensi memberi bantuan didaktis atau bimbingan, supervisi terhadap diri sendiri dan diberi pengetahuan tambahan. Tindak lanjut hasil supervisi akademik berupa penguatan, menganalisis pencapaian tujuan pengajaran, menganalisis target keterampilan pembelajaran, menyimpulkan hasil dari apa yang diperolehnya selama supervisi akademik, mendorong guru untuk merencanakan latihan, sekaligus menetapkan rencana berikutnya. Pembahasan Penelitian Tujuan perencanaan supervisi akademik di SD Negeri Mijen 2 Kebonagung Demak adalah untuk memberikan layanan dan bantuan kepada guru-guru dalam mengembangkan situasi pembelajaran yang dilakukan guru di kelas. Proses manajemennya diawali dengan perencanaan setiap awal tahun pelajaran oleh kepala sekolah. Program perencanaan supervisi disusun dan disampaikan kepada sasaran supervisi yaitu guru–guru dan siswa. Salah satu agendanya berupa penentuan jadwal supervisi yang disesuaikan dengan kalender akademik dan kegiatannya melibatkan guru. Pelaksanaannya berdasarkan program yang Umpan balik Kondisi awal guru Proses pembelajaran Hasil yang diharapkan Umpan balik

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 163 telah disusun dan disepakati bersama dengan seluruh pihak sekolah. Perencanaan sarana yang digunakan dalam supervisi akademik di SD Negeri Mijen 2 Kebonagung Demak berupa pembuatan format supervisi akademik, gunanya untuk mencatat apa saja yang dilihat selama pelaksanaan pembelajaran secara sistematis. Implementasi supervisi akademik dilakukan dengan cara observasi dan berkomunikasi dengan guru yang bersangkutan. Langkah kongkritnya yaitu dengan cara kunjungan kelas, observasi pembela- jaran, administrasi guru, kemudian dikomunikasikan dengan guru yang bersangkutan, bila diperlukan kepala sekolah turut memberikan solusi demi keberhasilan pembelajaran. Secara berkala diadakan rapat untuk mengevaluasi pelaksanaan supervisi akademik. Umpan balik dari hasil supervisi akademik yang dilakukan oleh kepala sekolah berupa pemberian penguatan, kepuasan, motivasi, kerja sama, intervensi memberi bantuan didaktis atau bimbingan, supervisi terhadap diri sendiri dan diberi pengetahuan tambahan. umpan baliknya merupakan rangkaian pembicaraan kepala sekolah dengan guru, dalam hal ini kepala sekolah berusaha melakukan motivasi terhadap guru. Umpan balik ini diberikan secara langsung setelah kepala sekolah selesai melakukan supervisi. Apabila sudah dikomunikasikan dan terjadi kesepakatan bersama maka tindak lanjutnya adalah sesuai masalah yang dihadapi oleh tiap-tiap guru. Tindak lanjut supervisi akademik berupa penguatan, menganalisis pencapaian tujuan pengajaran, menganalisis target keterampilan pembelajaran, menyimpulkan hasil dari apa yang diperolehnya selama supervisi akademik, mendorong guru untuk merencanakan latihan-latihan, sekaligus menetapkan rencana berikutnya. Sikap ini bertujuan untuk mempersiapkan skill atau kemampuan guru dalam kegiatan pembelajaran sehingga mampu membentuk guru profesional. Meningkatnya kinerja guru terlihat dari tingkat kehadiran guru, semangat bertambah dan hasil perolehan siswa yang maksimal setelah evaluasi. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan: Supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran. Secara urut yang didapat adalah: (1) perencanaan supervisi akademik merupakan suatu rencana awal untuk memberikan layanan dan bantuan kepada guru-guru, yaitu perencanaan tujuan, waktu, tempat, dan instrumen untuk pengembangan situasi pembelajaran yang dilakukan guru di kelas. (2) Implementasi supervisi akademik merupakan realisasi perencanaan supervisi. Mekanisme kongkrit implementasi supervisi pembelajaran dilakukan dengan cara kunjungan kelas secara rutin, melakukan kegiatan yang melibatkan guru dan siswa, pelaksanaan penataran kurikulum baru, penilaian kinerja guru dan reward yang dijanjikan. (3) Umpan balik supervisi akademik berupa pemberian penguatan, kepuasan, motivasi, kerja sama, intervensi memberi bantuan didaktis atau bimbingan, supervisi terhadap diri sendiri dan diberi pengetahuan tambahan. (4) Tindak lanjut hasil supervisi akademik berupa penguatan, menganalisis pencapaian tujuan pengajaran, menganalisa target keterampilan pembelajaran, menyimpulkan hasil dari apa yang diperolehnya selama supervisi akademik, mendorong guru untuk merencanakan latihan-latihan, sekaligus menetapkan rencana berikutnya. Saran: Pertama: bagi guru harus selalu siap juga mampu melaksanakan tugas tanggung jawab dengan baik, dapat mempertahankan dan meningkatkan nilai prestasi kerja dalam perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, evaluasi pembela- jaran dan disiplin tugas, agar hasil kinerja guru selalu meningkat dan berkompeten. Kedua: bagi Kepala Sekolah hendaknya menggunakan metode-metode yang

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 164 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 bervariasi dalam pelaksanaan supervisi pembelajaran sehingga semua guru merasa termotivasi selalu siap memperbaiki kekurangannya. Ketiga: Bagi pengawas diharapkan membantu dalam program supervisi akademik di sekolah berupa penguatan, menganalisa tujuan keterampilan, menganalisa pencapaian target dengan memfasilitasi program umpan balik seperti kegiatan pembinaan yang efektif. DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2008. Metode dan Teknik Supervisi. Departemen Pendidikan Nasional. Diakses tanggal 10 Mei 2010. ________, 2009. Laporan Penilaian Kinerja Kepala Sekolah. Departemen Pendidikan Nasional. Diakses tanggal 10 Mei 2010. Alfonso, RJ., Firth, G.R., & Neville, R.F.2007.Instructional Supervision, A Behavior System, Boston: Allyn and Bacon. Aqib dan Rohmanto, 2007. Profesionalisme Guru dan Pengawas Sekolah.Bandung: Yrama Widya. Arifin dan Permadi, 2007. Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah dan Komite Sekolah, Bandung: Panca Karya Nusa. Arikunto, Suharsimi. 2006. Dasar-dasar Supervisi. Jakarta: Rineke Cipta. B. Miles, Matthew dan Huberman, A. Michael, 2006. Analisis data Kualitatif, UI, Bandung. Black. 2003. TAFE head teachers: Discourse brokers at the management/teaching interface oleh Meadowbank College of TAFE Northern Sydney Institute. Bloom. 2003. Journal of Case Studies in Education leadership effectiveness and instructional supervision: the case of the failing twin. Bungin, Burhan, 2008. Analisis data Penelitian Kualitatif, Jakarta: Rajawali Pers. ________, Burhan, 2009. Penelitian kualitatif. Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan publik dan ilmu sosial lainnya. Jakarta: Kencana Prevada Media Group. Campbell. Corbally and Nystrand. 1993. Introduction to Educational Administration. Boston: Allyn and Bacon, Inc. Childs and Casey. 2007. Canadian Journal of Educational Administration and Policy, January 14, 2007 berjudul Teacher Education Program Admission Criteria and What Beginning Teachers Need to know to be Successful. Danim, Sudarwan, Husaini 2006. Menjadi peneliti Kualitatif, CV. Pustaka, Jakarta. Dharma, Agus. 2006. Manajemen Supervisi. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Ekosusilo, Madyo. 2008. Hasil Penelitian Kualitatif Supervisi Pengajaran dalam Latar Budaya Jawa, Solo: Sukoharjo Univet Bantara Press. Glickman. 2005. Supervision of Instruction. Boston: Allyn And Bacon Inc. Goldhammer, Anderson, dan Krajewski. 2001. Clinical Supervision: Special Methods for the Supervision of Teaching. Second Edition. New York: Holt, Rinehart, and Winston. Gwynn. 2001. Theory and Practice of Supervision. New York: Dodd, Mead & Company. Hartoyo. 2006. Supervisi Pendidikan. Semarang: Pelita Insan. Herabudin. 2009. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia. Ihalauw, john J.O.I., 2008. Konstruksi Teori, Komponen dan Proses. Jakarta: Grasindo. Kimbrough and Burkett. 2000. The Principalship: Concepts and Practices. Englewood Cliffs: Prentice Hall, Inc. Lincoln & Guba, 2005. Naturalistic Inquiry, Beverly Hul. Sage Publication.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 165 Lunenburg Fred, C. & Orsntein Allan. C., 2007. Educational Administration.Wards Worth Concepts and Practices, Third Edition. Miles Matthew, B. & Huberman, A. Michael, 2007. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: UI Press. Moleong, Lexy,J. 2007, Metodologi Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosdakarya. Muhroji, dkk. 2008. Manajemen Pendidikan : Pedoman Bagi Kepala Sekolah dan Guru. Surakarta: Muhammadiyah Universitas Press. Mulyasa, E., 2007. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: Remaja Rosda Karya. ________, E. 2008. Menejemen Berbasis Sekolah Konsep Stratregi dan Implementasi. Bandung; Remaja Rosda Karya. ________, E. 2013. Uji Kompetensi dan Penilaian Kinerja Guru. Bandung; Remaja Rosda Karya. Mutandwa, Muropa and Gadzirayi. 2007. Journal Effectiveness of the blended Supervision model: a case study of Student teachers learning to teach in High schools of Zimbabwe Zimbabwe Journal of Educational Research. Nasution. 2002. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito. Neagley. and Evan. 1980. Handbook for Effective Supervision of Instruction. New Jersey: Prentice Hall, Inc Pidarta, M. 2009. Supervisi Pendidikan Konstektual. Jakarta: Rineka Cipta. PP nomor 74 tahun 2008 tentang Guru Jakarta: CV Mini Jaya Abadi. Priyadi, Budi Puspo, 2006. Motodologi Penelitian Kualitatif (Terjemahan How To Use Qualititative Methodes in Evalution, Michael Quinn patton). Purwanto N. 2006. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Rucinski and Hazi. 2007. Teachers Supervision as Professional Development: Compatible or Strange Bedfellows in the Policy Quest for Increased Student Achievement. Sahertian Piet, A. & Maheteru Frans. 2005. Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan. Surabaya: Usaha National. ________, A. 2008. Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan. Jakarta: Rineke Cipta. Sugiyono, 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta. Sukmadinata, N. S. (2010). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosadakarya. Sergiovanni. 2007. The Principalship, A Reflective Practice Perspective. Boston: Allyn and Bacon. Triatna dan Komariah. 2006. Visionary Leadership: Menuju Sekolah Efektif. Jakarta: Bumi Aksara. Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: CV Mini Jaya Abadi. Undang-undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: CV Mini Jaya Abadi.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 166 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 MANAJEMEN PEMBELAJARAN BERBASIS TECHNOLOGICAL PEDAGOGICAL AND CONTENT KNOWLEDGE (TPACK) UNTUK MENCIPTAKAN SUMBER DAYA MANUSIA HiTech DI ERA DIGITAL Tituk Nurdiana Fatmawati1,* 1SMP Negeri 2 Dempet, Demak, Jawa Tengah *Keperluan korespondensi: titukfatmawati@yahoo.com ABSTRAK Revolusi teknologi masa kini, khususnya komputer dan internet telah mengubah cara pandang dan berpikir masyarakat secara praktis dan efisien. Di dunia pendidikan, kita dihadapkan pada ambang gerbang transisi yang berbasis teknologi, dimana kecepatan penyampaian dan menangkap suatu informasi menjadi sangat penting dalam rangka memajukan pendidikan. Berbagai penelitian baik di dalam maupun di luar negeri menunjukkan bahwa pemanfaatan bahan ajar yang dikemas dalam bentuk media berbasis ICT dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Makalah ini membahas tentang manajemen pembelajaran berbasis Teknologi Informasi. Manajemen pembelajaran yang digunakan adalah Technological Pedagogical and Content Knowledge (TPACK). TPACK merupakan suatu model komplek sistematis yang memadukan materi, pedagogik dan teknologi dalam satu kerangka yang utuh. Komponen-komponennya yakni Content, Pedagogical, dan Knowledge mensyaratkan terjadinya multi interaksi dan kombinasi antar komponen yakni materi pelajaran, pedagogik dan teknologi yang unik dan sinergis dan berbasis TIK. Selanjutnya, akan dibahas tentang berbagai macam aplikasi yang dapat digunakan dalam manajemen pembelajaran berbasis TPACK. Tujuan jangka panjang dari makalah ini adalah tersedianya pembelajaran online berbasis TPACK yang disajikan dalam bentuk blended learning. Tahapan-tahapannya adalah mengintegrasikan TIK dengan menggunakan kerangka kerja TPACK, pengembangan konten pembelajaran dan mengimplementasikan pembelajaran dalam bentuk blended learning. Aplikasi yang dapat digunakan dalam manajemen pembelajaran ini antara lain: moodle, f-learning, webnode, schoology, edmodo, google drive, dll. Dengan adanya manajemen TPACK ini akan mampu menghasilkan sumber daya manusia, khususnya pendidik yang “melek teknologi”. Banyaknya pendidikan yang berkualitas tentunya akan menciptakan generasi penerus yang unggul, berjiwa mandiri dan mampu berkompetisi di tingkat dunia. Kata Kunci: Technological Pedagogical And Content Knowledge (TPACK) PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Revolusi teknologi masa kini, khususnya komputer dan internet telah mengubah cara pandang dan berpikir masyarakat secara praktis dan efisien. Di dunia pendidikan, kita dihadapkan pada ambang gerbang transisi yang berbasis teknologi, dimana kecepatan penyampaian dan menangkap suatu informasi menjadi sangat penting dalam rangka memajukan pendidikan. Kebutuhan akan suatu konsep dan mekanisme belajar mengajar berbasis ICT menjadi tidak terelakkan lagi. Konsep yang kemudian terkenal dengan sebutan e-learning ini membawa pengaruh terjadinya proses transformasi pendidikan konvensional ke dalam bentuk digital, baik secara isi (content) dan sistemnya. Saat ini konsep e-learning sudah banyak diterima oleh masyarakat dunia, terbukti dengan maraknya implementasi e-learning khususnya di lembaga pendidikan. Mendayagunakan teknologi komunikasi dan informasi di sekolah adalah salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Berbagai penelitian baik di dalam maupun di luar negeri menunjukkan bahwa pemanfaatan bahan ajar yang dikemas dalam bentuk media berbasis ICT dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada masa sekarang ini memegang

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 167 peranan penting, baik dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, geografi, agama, dan juga berbagai bidang lainnya. TIK merupakan suatu hal yang bisa dijadikan sarana untuk menunjukkan maju atau tidaknya suatu negara. TIK dipandang sebagai suatu hal yang dapat mengangkat citra bangsa, negara-negara di dunia berlomba-lomba untuk memajukan teknologi, informasi dan komunikasi. TIK dipandang sangat penting untuk dikembangkan di Indonesia, karena penyebab bangsa Indonesia tertinggal oleh bangsa-bangsa lain salah satunya adalah karena minimnya perkembangan TIK di Indonesia. Kebanyakan bangsa kita lebih senang memanfaatkan TIK, tetapi tidak banyak yang berminat untuk bisa menguasai dan mengembangkannya. Struktur kurikulum 2013 tidak mencantumkan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai mata pelajaran di sekolah dasar dan menengah. Berkenaan dengan akan diterapkannya kurikulum 2013, mata pelajaran TIK terintegrasi pada semua mata pelajaran. Artinya, meskipun tidak dicantumkan mata pelajaran TIK namun keterampilan menggunakan peralatan TIK mutlak digunakan untuk kelancaran proses pembelajaran. Keterampilan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dibutuhkan untuk melakukan individualisasi pembelajaran pada semua mata pelajaran. Jika kurikulum 2013 diterapkan maka semua kelas akan memiliki satu unit komputer untuk setiap siswa. Siswa akan mengeksplor pengetahuannya dari peralatan TIK. Makalah ini membahas tentang manajemen pembelajaran berbasis Teknologi Informasi. Manajemen pembelajaran yang digunakan adalah Technological Pedagogical and Content Knowledge (TPACK). Selanjutnya, akan dibahas tentang berbagai macam aplikasi yang dapat digunakan dalam manajemen pembelajaran berbasis TPACK. Tujuan jangka panjang dari makalah ini adalah tersedianya pembelajaran online berbasis TPACK yang disajikan dalam bentuk blended learning. Tahapan-tahapannya adalah pertama mengintegrasikan TIK dengan menggunakan kerangka kerja TPACK, kedua, pengembangan konten pembelajaran dan ketiga mengimplementasikan pembelajaran dalam bentuk blended learning. Hasil dari makalah ini diharapkan dapat digunakan untuk memperkaya khasanah teori tentang manajemen pembelajaran Technological Pedagogical and Content Knowledge (TPACK), sehingga pada akhirnya dapat memberi sumbangan pemikiran baru untuk penelitian lanjutan serta dapat digunakan bahan perbandingan dalam penelitian sejenis. Selain itu, hasil dari makalah ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi para guru SMP untuk dapat mengetahui manajemen pembelajaran berbasis TPACK, dan macam-macam aplikasi yang digunakan, sehingga mempermudah proses pembelajaran berbasis teknologi informasi. 2. Rumusan Masalah Rumusan masalah dari makalah ini adalah bagaimanakah manajemen pembelajaran berbasis Teknologi Informasi yaitu menggunakan Technological Pedagogical and Content Knowledge (TPACK)? HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Kajian teori tentang TPACK TPACK merupakan singkatan dari Technological Pedagogical and Content Knowledge. Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai pengetahuan teknologi, pedagogik, dan isi. Konsep ini dikembangkan berdasarkan konsep pengetahuan pedagogik dan isi yang dikembangkan oleh Dr. Lee Schulman yang menggabungkan kedua domain tersebut dalam pembelajaran. Konsep TPACK dikembangkan oleh Punya Mishra dan Matthew J. Koehler, oleh karena adanya perkembangan teknologi yang pesat di masyarakat. Kemajuan teknologi memungkinkan banyak sekali penelitian dan diskusi berkaitan dengan ini. Banyak kegiatan pendidikan melalui konferensi dan forum nasional dan internasional yang dilakukan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 168 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 secara tatap muka maupun online. Salah satu komunitas Internasional yang cukup terkenal adalah International Society in for Technology in Education. Komunitas ini melahirkan 21st century Educational Technology Standard atau standar teknologi pendidikan abad 21 bagi siswa, guru, administrator, pelatih, dan guru komputer. Pada prinsipnya TPACK merupakan penggabungan pengetahuan teknologi, pedagogik, dan isi yang diterapkan sesuai dengan konteks. Mishra & Khoehler menjelaskan bahwa pengajaran yang berkualitas membutuhkan nuansa pemahaman yang kompleks yang saling berhubungan diantara tiga sumber utama pengetahuan: teknologi, pedagogik, dan isi, dan bagaimana ketiga sumber itu diterapkan sesuai dengan konteksnya (Koehler & Mishra, 2008, 2009; Mishra & Koehler, 2006). Hubungan-hubungan tersebut dapat tergambarkan pada gambar di bawah ini: Gambar 1. Hubungan teknologi, paedagogik dan isi Hubungan-hubungan di atas dapat dijabarkan secara rinci berikut ini. a. Pedagogical Content Knowledge atau PCK Hubungan yang pertama adalah hubungan pengetahuan pedagogik dan isi (Pedagogical Content Knowledge atau PCK). Hubungan ini menggambarkan bagaimana seorang pengajar harus menguasai pedagogik dan isi agar dapat menyelenggarakan pembelajaran sesuai dengan karakter peserta didik dan teori belajar dan metode serta pengukuran yang tepat sehingga peserta didik dapat belajar materi tertentu dengan baik. b. Technological Content Knowledge atau TCK Hubungan yang kedua adalah hubungan pengetahuan teknologi dan isi (Technological Content Knowledge atau TCK). Pengetahuan teknologi merupakan pengetahuan akan berbagai macam teknologi yang dalam hal ini adalah keberadaan teknlogi dan komponennya, dan kegunaannya dalam pembelajaran. Demikian pula pengetahuan tentang dampak perubahan yang dihasilkan dalam pembelajaran ketika menggunakan teknologi tersebut. Dengan demikian, jika kedua pengetahuan ini digabungkan maka akan menghasilkan kemampuan bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendesain materi/isi dengan tampilan maupun cara susunan yang menarik sehingga siswa dapat belajar materi tertentu dengan bantuan teknologi sehingga mereka mudah mencari dan medapatkan informasi terkait dengan materi tersebut. c. Technological Pedagogical Knowledge atau TPK Hubungan yang ketiga adalah hubungan pengetahuan teknologi dan pedagogik (TechnologicalPedagogical Knowledge atau TPK). Pengetahuan ini merupakan pengetahun tentang keberadaan teknologi, komponen dan kemampuan teknologi untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran sehingga tercipta pembelajaran yang menarik. Dengan kemampuan ini seorang pengajar dapat menyelenggarakan pembelajaran dengan bantuan teknologi. d. Technological Pedagogical and Content Knowledge (TPACK) Hubungan yang ke empat adalah hubungan antara ketiganya yaitu teknologi, pedagogik, dan materi/isi. Hubungan ketiganya ini menggambarkan kemampuan seorang pengajar dalam memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran sehingga dapat mendesain materi maupun bagaimana proses pembelajaran yang akan berlangsung sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan isi/materi dapat ditampilkan dengan kondisi yang menarik sehingga mudah diakses dan menambah minat peserta didik untuk belajar.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 169 Berdasarkan uraian di atas, didapatkan sebuah gambaran bahwa seorang pendidik diharapkan bukan sekedar menguasai materi, hanya mampu menyampaikan tetapi harus mampu mendesain pembelajaran dengan bantuan teknologi yang saat ini sedang berkembang sehingga akan menambah modifikasi dan inovasi pembelajaran yang tidak harus tatap muka saja tetapi bisa secara online. Tampilan materi yang tidak hanya berupa teks dan gambar akan menambah daya tarik bagi peserta didik untuk lebih giat belajar dan mudah mengakses dan belajar dimana dan kapan saja. 2. Blended Learning Secara etimologi istilah Blended Learning terdiri dari dua kata yaitu Blended dan Learning. Kata blend berarti “campuran, bersama untuk meningkatkan kualitas agar bertambah baik” (Collins Dictionary). Sedangkan learning memiliki makna umum yakni belajar, dengan demikian sepintas blended learning mengandung makna pola pembelajaran yang mengandung unsur pencampuran,atau penggabungan antara satu pola dengan pola yang lainnya. Pembelajaran dengan model blended learning adalah pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online dalam rangka untuk mengurangi pembelajaran dengan tatap muka. Terdapat lima kunci pelaksanaan pembelajaran dengan blended learning menurut Jared M. Carmen. Lima kunci yang dimaksud dapat diuraikan berikut ini. a. Live Event Pembelajaran langsung atau tatap muka secara sinkronous dalam waktu dan tempat yang sama (classroom) ataupun waktu sama tapi tempat berbeda (seperti virtual classroom). Bagi beberapa orang tertentu, pola pembelajaran langsung seperti ini masih menjadi pola utama. Namun demikian, pola pembelajaran langsung inipun perlu didesain sedemikian rupa untuk mencapai tujuan sesuai kebutuhan. Pola ini, juga bisa saja mengkombinasikan teori behaviorisme, kognitivisme dan constructivisme sehingga terjadi pembelajaran yang bermakna. b. Self-Paced Learning Yaitu mengkombinasikan dengan pembelajaran mandiri (self-paced learning) yang memungkinkan peserta belajar belajar kapan saja, dimana saja dengan menggunakan berbagai konten (bahan belajar) yang dirancang khusus untuk belajar mandiri baik yang bersifat text-based maupun multimedia-based (video, animasi, simulasi, gambar, audio, atau kombinasi dari kesemuanya). Bahan belajar tersebut, dalam konteks saat ini dapat didelivered secara online (via web maupun via mobile device dalam bentuk: streaming audio, streaming video, e-book, dll) maupun offline (dalam bentuk CD, cetak, dll). c. Collaboration Mengkombinasikan kolaborasi, baik kolaborasi pengajar, maupun kolaborasi antar peserta belajar yang kedua-duanya bisa lintas sekolah. Dengan demikian, perancang blended learning harus meramu bentuk-bentuk kolaborasi, baik kolaborasi antar teman sejawat atau kolaborasi antar peserta belajar dan pengajar melalui tool-tool komunikasi yang memungkinkan seperti chatroom, forum diskusi, email, website/webblog, listserv, mobile phone, dll. Tentu saja kolaborasi diarahkan untuk terjadinya konstruksi pengetahuan dan keterampilan melalui proses sosial atau interaksi sosial dengan orang lain, bisa untuk pendalaman materi, problem solving, project-based learning, dll. d. Assessment Tentu saja, dalam proses pembelajaran jangan lupakan cara untuk mengukur keberhasilan belajar (teknik assessment). Dalam blended learning, perancang harus mampu meramu kombinasi jenis assessment baik yang bersifat tes maupun non-tes, atau tes yang lebih bersifat otentik (authentic assessment/portfolio) dalam bentuk project, produk, dll. Disamping itu, juga pelru mempertimbangkan ramuan antara

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 170 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 bentuk-bentuk assessment online dan assessmen offline. Sehingga memberikan kemudahan dan fleksibilitas peserta belajar mengikuti atau melakukan assessmen tersebut. e. Performance Support Materials Jika kita ingin mengkombinasikan antara pembelajaran tatap muka dalam kelas dan tatap muka virtual, pastikan sumber daya untuk mendukung hal tersebut siap atau tidak, ada atau tidak. Bahan belajar disiapkan dalam bentuk digital, apakah bahan belajar tersebut dapat diakses oleh peserta belajar baik secara offline (dalam bentuk CD, MP3, DVD, dll) maupun secara online (via website resmi tertentu). Atau, jika pembelajaran online dibantu dengan suatu Learning/Content Management System (LCMS), pastikan juga bahwa aplikasi sistem ini telah terinstal dengan baik, mudah diakses, dan lain sebagainya. 3. Penjaminan Mutu Pembelajaran Online Seringkali dalam menilai sebuah pembelajaran online ataupun pembelajaran berbasis teknologi, masing-masing pengajar memiliki persepsi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, perlu adanya instrumen standar yang mampu mengukur hal tersebut. Dalam penelitian ini digunakan rubrik dari Quality Matters Program (MarylandOnline Inc., 2011). Dalam rubrik tersebut terdapat delapan komponen penilaian utama. a. Course overview and introduction Ringkasan materi dan perkenalan merupakan bagian utama yang harus ada dalam pembelajaran online. Dalam bagian ini ada kejelasan tentang bagaimana dan dari mana perserta didik mulai belajar, struktur perpelajaranannya, pengetahuan dan keahlian awal yang harus dimiliki untuk dapat mengikuti perpelajaranan, dan perkenalan antara pendidik dan mahasiswa. b. Learning objectives (competencies) Komponen yang kedua adalah tujuan pembelajaran. Dalam komponen ini, disebutkan dengan jelas tentang hasil akhir dari pembelajaran materi tersebut yang dapat dengan mudah diukur. Dalam hal ini, perserta didik dapat melihat perkembangan hasil belajarnya. c. Assessment and measurement Komponen yang berikutnya adalah penilaian dan pengukuran. Dalam komponen ini diharapkan terdapat kesesuaian antara tujuan pembelajaran dengan aktifitas online yang dinilai, materi, dan sumber belajarnya. Sistem penilaian juga dijelaskan di sini. d. Instructional materials Komponen yang keempat adalah materi instruksional. Dalam hal ini materi yang digunakan dapat membantu ketercapaian tujuan pembelajaran. Bagaimana materi-materi tersebut digunakan juga dijelaskan dalam komponen ini. Semua materi adalah up-to-date atau terkini serta dapat dipertanggungjawabkan melalui pemberian referensi atau sumber materi tersebut. e. Learner interaction and engagement Komponen yang ke lima adalah interaksi perserta didik dan ketertarikan. Dalam hal ini aktifitas belajar siswa harus sesuai dengan tujuan pembelajaran dan memberikan kesempatan untuk adanya interaksi untuk mendukung terjadinya belajar aktif. Waktu untuk memberi respon dan umpan balik juga dijelaskan. f. Course technology Komponen yang ke enam adalah teknologi. Dalam komponen ini dijelaskan tentang teknologi yang digunakan untuk mendukung pembelajaran. Teknologi yang digunakan juga mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar. Tombol navigasinya juga mudah untuk dikendalikan. Teknologi yang digunakn adalah terkini dan dapat langsung digunakan oleh perserta didik g. Learner support Komponen yang berikutnya adalah dukungan bagi perserta didik. Dalam kelas online ini disediakan link bantuan dan layanan bagi perserta didik yang kesulitan mengakses pelajaran online tersebut. h. Accessibility Komponen yang berikutnya adalah aksesibilitas. Dalam komponen ini,

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 171 desain pembelajaran harus memberikan panduan untuk kemudahan dalam mengakses dan membaca dan juga meminimalkan adanya gangguan. 4. Penerapan TPACK dengan Blended Learning Untuk dapat menerapkan kerangka kerja TPACK dengan model pembelajaran terpadu menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, maka ada beberapa langkah persiapan awal yang harus dilakukan oleh peneliti sebelum dilaksanakan pembelajaran. Langkah pertama adalah membuat silabus dan mempersiapan bahan ajar. Dalam pembuatan silabus mata pelajaran, komponen-komponen utama yang terdapat dalam rubrik Quality Matters juga dimasukan dan di unggah ke dalam kelas yang dibuka. Semua materi yang digunakan juga dipersiapkan dan dirancang sedemikian rupa agar dapat diakses dengan mudah nantinya di dalam aplikasi yang digunakan. Materi-materi tersebut berupa materi multimedia yang dapat berupa kombinasi antara teks dan audio, teks dan visual, atau teks dan video. Langkah selanjutnya adalah membuat kelas dan desain materi di aplikasi yang akan digunakan. Aplikasi-aplikasi yang dapat digunakan dalam pembelajaran berbasis TPACK antara lain : moodle, f-learning, webnode, schoology, edmodo, google drive, dll. Setelah dirancang pembelajarannya, langkah berikutnya adalah mendaftarkan peserta didik kedalam pembelajaran tersebut. Dalam hal ini pendaftaran dapat dilakukan secara otomatis dengan menyediakan enrolment key atau kata kunci bagi para peserta agar dapat masuk kedalam kelas online tersebut. SIMPULAN DAN SARAN TPACK merupakan suatu model komplek sistematis yang memadukan materi, pedagogik dan teknologi dalam satu kerangka yang utuh. Komponen-komponen yakni C, P, dan K mensyaratkan terjadinya multi interaksi dan kombinasi antar komponen yakni materi pelajaran, pedagogik dan teknologi yang unik dan sinergis dan berbasis TIK. Tahapan-tahapan dalam manajemen berbasis TPACK adalah pertama mengintegrasikan TIK dengan menggunakan kerangka kerja TPACK, kedua, pengembangan konten pembelajaran dan ketiga mengimplementasikan pembelajaran dalam bentuk blended learning. Aplikasi-aplikasi yang dapat digunakan dalam pembelajaran berbasis TPACK antara lain : moodle, f-learning, webnode, schoology, edmodo, google drive, dll. Dengan adanya manajemen TPACK ini akan mampu menghasilkan sumber daya manusia, khususnya pendidik yang “melek teknologi”. Banyaknya pendidikan yang berkualitas tentunya akan menciptakan generasi penerus yang unggul, berjiwa mandiri dan mampu berkompetisi di tingkat dunia. Agar manajemen pembelajaran berbasis Teknologi Informasi yaitu menggunakan Technological Pedagogical and Content Knowledge (TPACK) berjalan optimul, maka seharusnya sekolah menyediakan sarana-prasarana Teknologi Informasi yang memadai, yaitu jumlah computer yang relevan dengan jumlah siswa, ketersediaan sumber listrik dan internet yang memadai. DAFTAR PUSTAKA Baran, E. TPACK: AN EMERGING RESEARCH AND DEVELOPMENT TOOL FOR TEACHER EDUCATORS. University of British Columbia TOJET: The Turkish Online Journal of Educational Technology – October 2011, volume 10 Issue 4 Chai, C.-S., Koh, J. H.-L., & Tsai, C.-C. (2013). A Review of Technological Pedagogical Content Knowledge. Educational Technology & Society, 16 (2), 31–51. Koehler, M. J., & Mishra, P. (2008). Introducing TPCK. AACTE Committee on Innovation and Technology. The handbook of technological pedagogical content knowledge (TPCK) for educators

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 172 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 (pp. 3–29). Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates. Koehler, M. J., & Mishra, P. (2009). What is technological pedagogical content knowledge? Contemporary Issues in Technology and Teacher Education, 9(1). Retrieved from http://www.citejournal.org/vol9/iss1/general/article1.cfm. McGrath, J., Karabas, G., & Willis. J. (2011). From TPACK concept to TPACK practice: An analysis of the suitability and usefulness of the concept as a guide in the real world of teacher development. International Journal of Technology in Teaching and Learning, 7(1), 1-23. Mishra, P., & Koehler, M. J. (2006). Technological pedagogical content knowledge: A framework for integrating technology in teacher knowledge. Teachers College Record, 108(6), 1017–1054.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 173 PEMBELAJARAN BERBASIS PERMAINAN SIMULASI P4 SEBAGAI PENGEMBANGAN SCIENTIFIC DI SEKOLAH DASAR Tri Sulistyowati1,* 1SD Negeri Pateken *Keperluan korespondensi: sragentinawati@gmail.com ABSTRAK Peran kurikulum dalam pendidikan nasional sebagai integrator sistem nilai,pengetahuan dan keterampilan. Oleh sebab itu, pemerintah mengadakan pengkajian dan pengembangan. Muncullah kurikulum 2013 yang masih menuai pro dan kontra. Acuan pengembangan kurikulum untuk merubah mindset dalam menghadapi generasi 21. Perjalanan kurikulum 2013 tidak sesuai dengan rencana masih ada beberapa hambatan dilapangan. Guru belum mengusai pendekatan scientific, pembelajaran tematik integrative, pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian. Dua hal yang mendasar kesulitan guru adalah pendekatan scientific dengan pembelajaran tematik integrative. Solusi yang penulis tawarkan yakni memadukan permainan ke dalam pembelajaran dengan pendekatan Scientific. Permainan sebagai media pembelajaran penulis beri nama “ Permainan Simulasi P4 Sebagai Pengembangan Scientific”. Pentingnya permainan diintegrasikan dengan materi ajar agar pembelajaran berlangsung secara aktif dan interaktif. Kata Kunci:pembelajaran, permainan simulasi, scientific PENDAHULUAN Latar Belakang Pasal 3 UU No 20 Sisdiknas tahun 2003 menyatakan berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Kompetensi yang terkandung di dalamnya meliputi: a) pengetahuan/ berilmu; b) keterampilan terdiri kecakapan dan kreatif; c) sikap ada sikap spiritual dan sosial. Peran kurikulum dalam pendidikan nasional sebagai integrator sistem nilai,pengetahuan dan keterampilan. Untuk itu pemerintah mengadakan pengkajian dan pengembangan kurikulum 2013.Tujuan dikembangkan kurikulum KTSP menjadi kurikulum 2013 adalah untuk mengikuti perkembangan jaman, pembentukan karakter, dan peserta didik dapat berpikir secara ilmiah. Selain itu memberikan acuan kepada kepala sekolah guru, dan tenaga kependidikan lainnya yang ada di sekolah dalam pengembangan program-program yang dilaksanakan. Kurikulum 2013 menjadi sangat menarik dibahas di kalangan masyarakat khususnya pendidik. Kurikulum yang masih menuai pro dan kontra. Salah satu sisi menerima kehadiran kurikulum 2013 sedangkan sisi yang lain mempertimbangkan pelaksanaannya, satu lagi yang amat menyakitkan menolak kurikulum 2013. Hal yang mendasar atas sikap menolak karena memang kurikulum 2013 menjadi amat rumit dalam pelaksanaannya. Kesan mendadak dan sedikit dipaksakan menjadikan guru banyak yang strees. Kurangnya sosialisasi sehingga guru kesulitan memahami dan memaksakan diri untuk melaksanakannya. Kenyataan dilapangan jauh dari kesempurnaan dan harapan pemerintah. Kurikulum 2013 bagi guru ibarat makanan yang masih mentah. Kebingungan, pertanyaan, dan keraguan muncul di sana-sini. Kemana harus lari? Ketika seorang pendamping kurikulum sendiri tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukkan guru. Sebenarnya penerapan pembelajaran tematik integratifpun belum dikuasai guru, pendamping kurikulum maupun pengawas sekolah. Teori dengan praktik jauh berbeda. Teori pembelajaran tematik

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 174 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 integrative dapat diterima namun impilkasinya pada pembelajaran masih rancu. Hubungan antara tema dengan sub tema sudah ada dalam buku, guru tinggal melaksanakan pembelajaran secara terintegratif. Ramuan dalam pembelajaran sudah menyatu dengan model pembelajaran dan pendekatan scientific namun ada ketidaknyambungan ketika RPP itu disajikan. Masalah muncul ketika pembelajaran integrative tidak menyatu melainkan hanya berupa pengantian muatan pelajaran secara berurutan. Pembelajaran tidak menyentuh semu ranah yaitu: sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Salah satu ranah terabaikan. Hambatan lain muncul manakala seorang guru sudah berumur kebingungan dalam penilaian. Dari KI-1 sampai dengan KI-4 menjadi beban pikiran tersendiri. Guru dengan kemampuan computer yang rendah bahkah tidak bisa sama sekali dijadikan alasan untuk melaksanakan kurikulum 2013 dengan baik. Hal ini menjadi problematika yang sulit untuk dipecahkan. Guru tidak mau maju untuk menguasai IT padahal jika dipelajari dengan tekun computer dalam ditaklukkan dan dapat membantu pekerjaan sehari-hari. Dari beberapa uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 menuntut perubahan mindset dalam menyongsong abad 21. Pergeseran paradigma belajar abad 21 bercirikan: a) informasi model pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik mencari tahu dari berbagai sumber observasi; b) komputasi model pembelajaran diarahkan untuk mampu merumuskan masalah (menanya), bukan hanya menyelesaikan masalah (menjawab); c) otomasi model pembelajaran diarahkan untuk melatih berpikir analistis (pengambilan keputusan) bukan berpikir mekanistis (rutin); d) komunikasi model pembelajaran menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Kerangka kompetensi abad 21 meliputi: a) life and career skills menunjukkan sikap fleksibel dan adaptif, berinisiatif dan mandiri, keterampilan social dan budaya, produktif dan akuntabel, kepemimpinan dan bertanggungjawab; b) learning and innovation mempunyai sikap kreatif dan inovatif, berpikir kritis menyelesaikan masalah, komunikasi dan kolaborasi; dan c) informasi media and technology skills mempunyai kemampuan melek informasi, melek media dan melek teknologi informasi komonikasi (sumber 21 st century skills, education, competitiveness. Partnership for 21 st century, 2008). Kerangka abad 21 menunjukkan bahwa pengetahuan yang dimiliki peserta didik tidak mencukupi melainkan dilengkapi dengan kemampuan kreativitas, kritis, berkarakter kuat. Disamping itu didukung dengan kemampuan informasi dan berkomunikasi. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Ada keterkaitan antara pendidikan di Indonesia dengan kerangka kompetensi abad 21. Oleh karena itu, pemerintah mempersiapkan generasi muda untuk menyongsong abab 21. Dunia pendidikan mengadakan pengembangan kurikulum untuk membenahi pendidikan di Indonesia. Berdasarkan uraian di atas maka penulis mempunyai gagasan untuk memadukan permainan ke dalam pembelajaran dengan pendekatan Scientific. Media ini hasil refleksi dari jaman orde baru yang mana pada masa itu menjadi tren. Permainan sebagai media pembelajaran penulis beri nama “ Permainan Simulasi P4 Sebagai Pengembangan Scientific”. Deskripsi singkat mengenai permainan simulasi P4 sama persis dengan permainan jaman orde baru yaitu sebuah permainan dengan berbagai macam bentuk soal dan dimainkan secara berkelompok. Pemain bergantian melempar dadu kemudian meletakkan halma di papan permainan. Di tempat itulah terdapat soal yang harus dijawab pemain. Permainan dilakukan secara bergantian. Integratif permainan dengan pendekatan scientific pada pembelajaran

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 175 diharapkan dapat membantu guru dari kerisauan tentang pembelajaran tematik integrative. Pentingnya guru membuat media permainan simulasi P4 (Pengamatan, Pertanyaan, Penalaran, Percobaan, dan Penciptaan) agar pembelajaran tematik integrative dengan pendekatan scientific berjalan dengan lancar dan pembelajaran bermakna. Identifikasi Masalah Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan guru tentang implementasi kurikulum 2013, diperoleh masalah sebagai berikut: a. Guru kesulitan dalam memahami pendekatan scientific b. Guru kesulitan menerapkan pembelajaran tematik integrative. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: a. Apakah dengan pembelajaran berbasis permainan simulasi P4 dapat meningkatkan pemahaman guru tentang pendekatan scientific? b. Bagaimanakah penerapan pembelajaran berbasis permainan simulasi P4 terhadap pembelajaran tematik integrative? Studi Kepustakaan Program pendidikan yang ideal didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan dan akal sebagai potensi jiwa manusia. Tiga kemampuan perlu mendapat perhatian dan perhitungan dalam pendidikan Barnadib (1997:71). Tekanan pendidikan membantu perkembangan anak-anak mengenai nafsu dan kemauan. Oleh karena itu, manusia dikaruniai akal untuk untuk mendelegasikan potensi jiwa. Aristoteles dalam Barnadib, juga memandang sangat penting perkembangan moral dengan memanfaatkan filsafat sebagai alatnya. Latihan-latihan dalam lapangan diutamakan karena proses pendidikan kearah kebijaksanaan. Pembentukan moral melalui kebiasaan dimulai pada anak usia dini atau pada kelas rendah. Pada tingkat ini ditanamkan kesadaran menurut aturan-aturan moral. Berdasarkan teori di atas maka dapat diambil rekomendasi bahwa perkembangan anak dalam dunia pendidikan dibutuhkan bimbingan. Tujuannya agar pembelajaran di kelas dapat dicapai dengan baik. Guru sebagai pembimbing di sekolah diharapkan mempunyai kemampuan yang mumpuni dalam mengorganisasikan iklim kelas konduksif. Menurut Hyman dalam Apriliya (2007:7) iklim kelas konduksif meliputi : a) interaksi yang bermanfaat di antara peserta didik; b) mempertegas pengalaman guru dan siswa; c) menumbuhkan semangat yang memungkinkan kegiatan di kelas berlangsung dengan baik; d) mendukung salin pengertian antara guru dan peserta didik. Teori perkembangan kognitif menurut Piaget, anak usia SD yakni antara umur 7 tahun sampai dengan 11 tahun termasuk masa operasional konkrit. Pada masa ini mempunyai kekhususan memncapai kemampuan untuk berpikir sistimatik terhadap hal-hal atau objek-objek yang konkrit. Mencapai kemampuan mengkonservasikan. Penilaian autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai aspek sikap, pengetahuan, keterampilan mulai dari masukan, proses sampai keluaran (out put) pembelajaran. Penilaian autentik bersifat alami, apa adanya, tidak dalam suasana tertekan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembelajaran Berdasarkan UU No. 20 Thn 2003 Tentang Sisdiknas pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 176 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (UU RI No. 20 :2003, bab 1 Pasal 1 ayat 20) peran guru di depan kelas sebagai pembelajar bekerja secara professional. Pengelolaan kelas sangat berarti bagi proses pembelajaran. Guru bertanggungjawab sepenuhnya pada kegiatan pembelajaran agar peserta didik giat belajar dan memperoleh pengalaman dari prosesnya. Interaktif yang komunitif mendorong peserta didik untuk menumbuhkembangan nafsunya untuk mempelajari sesuatu. Hal seperti ini selogisnya terjadi di kelas pembelajaran aktif dan interaktif. Empat pilar pendidikan yang melandasi pembelajaran, yaitu learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to do (belajar untuk melakukan), learning to live together untuk hidup bersama, dan learning to be (belajar untuk menjadi). Kegiatan pembelajaran menjadi sangat berarti jika guru berkreasi menciptakan kondisi kelas yang mendukung peserta didik untuk belajar. Learning to know atau belajar untuk mengetahui secara implicit pilar ini mengandung makna belajar seumur hidup. Hakekat belajar tidak terbatas waktu dan ruang maksudnya tidak batasan waktu dan tempat untuk belajar. Belajar dapat dilakukan di mana saja dengan asumsi bahwa belajar tidak harus berada di bangku sekolah. Masyarakat belajar juga tidak terbatas usia, berarti belajar dapat dilakukan seumur hidup dan dapat dilakukan dimana saja. Learning to do atau belajar sebagai landasan dalam pembelajaran, peserta didik mendapat pengalaman belajar dengan melakukan kegiatan atau menghasilkan sesuatu produk. Pada pilar ini tidak diajarkan keterampilan mekanis saja tetapi kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain, dan problem solving untuk mengatasi konflik. Inti learning to do adalah melahirkan peserta didik yang terampil. Learning to live together untuk hidup bersama mengandung makna bahwa peserta didik tidak hanya dibekali ilmu pengetahuan, menguasai ilmu pengetahuan, teknologi namun harus mampu hidup bersama di masyarakat. Keberkaitan dengan tugas guru di sekolah kehidupan mendidik peserta didik sebagai mahkluk social harus dapat bersosialisasi dengan kehidupan masyarakat dengan kemajemukannya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan empat pilar pendidikan dari UNESCO mendelegasikan guru untuk bertanggungjawab terhadap transfer pengetahuan yang dimiliki, menciptakan peserta didik terampil, mampu bersosialisasi di masyarakat, dan senantiasa berusaha untuk menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Media Permainan Berbasis Simulai P4 Media berarti alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembelajaran atau pengajaran. Pembelajaran adalah suatu proses yang sistematis secara berulang-ulang atau ajeg dengan selalu memberikan peningkatan materi pembelajaran. Jadi media pembelajaran merupakan alat atau bahan yang digunakan pada proses pembelajaran dan mammpu merangsang peserta didik berpikir logis. Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pebelajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar. Batasan ini cukup luas dan mendalam mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran / pelatihan (http://belajarpsikologi.com/pengertian-media-pembelajaran). Media pembelajaran mampu memanfaatkan dan mengidentifikasi berbagai sumber belajar yang dapat digali di lingkungan sekitar. Sesuai dengan perkembangan peserta didik yang memasuki tahap operasional konkrit maka penulis mencoba menuangkan gagasan tentang media belajar melalui permainan. Karena

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 177 anak usia SD masih menyukai permainan sebagai sarana untuk bersosialisasi dengan teman-temannya. Permainan merupakan sesuatu yang digunakan untuk bermain, barang atau sesuatu yang dipermainkan, mainan, hal bermain, atau perbuatan bermain (bulu tangkis, sepak bola, gobag sodor, jamuran dan sebagainya) Prastowo dalam bukunya panduan kreatif membuat bahan ajar inovatis (2011:39). Kamus Besar Bahasa Indonesia arti Simulasi berarti motede latihan yang meragakan sesuatu dalam bentuk tiruan yang mirip dengan keadaan yang sesungguhnya. Pada masa orde baru simulasi sering digunakan untuk penataran P4. Metode ini melibatkan pemain atau simulator atau juga sebagai penonton yang dapat memberi penilaian. Moderator bertugas mempimpin simulasi dan memperhatikan jalannya simulasi serta dapat mengambil isi dari materi pembelajaran. Proses pembelajaran simulasi sebagai sarana dan latihan belajar melalui permainan sesuai dengan tema. Keistimewaan metode simulasi mengajak bergembira, memotivasi siswa, dan mengembangkan keberanian menjawab pertanyaan. Permainan simulasi dipadukan dengan pembelajaran tematik integrative dan pendekatan scientific diramu dengan apik membantu guru dalam penerapan K13. Permainan simulasi sesuai dengan perkembangan anak usia sekolah dasar. Pendekatan Scientific Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi paedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran sebagaimana yang dimaksud mengamati (observing), menanya (Questioning), mencoba (Experimenting), menalar (associating), dan membentuk jejaring. Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap, pengetahuan, dan keterampilan dan hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa”. Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa.”Dimana hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Peta konsep pendekatan saintifik:

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 178 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Gambar 1. Peta konsep pendekatan saintifik Implikasi Pada Pembelajaran Pengalaman penulis masih remaja untuk merefleksikan kembali masa keemasan orde baru. Pengabungan metode simulasi P4 menjadi menarik untuk penulis ungkap kembali. Sebagai guru penulis ingin membangkitkan simulasi menjadi sebuah media pembelajaran interaktif integrative. Pemunculan kembali simulasi P4 dipadukan dengan tema pembelajaran pada K13. Simulasi P4 era K13 menjadi barang baru untuk dicobakan pada peserta didik yang mana sudah mengenal simulasi P4. Simulasi ini bukan P4 masa orde baru namun hasil modifikasi. P4 mengandung unsur pendekatan scientific yaitu Pengamatan, Pertanyaan, Penalaran, Percobaan, dan Penciptaan. Sesuai amanat K13 maka simulasi dijadikan media pembelajaran tematik integrative. Simulasi dalam pelaksanaan menjadi penting manakala siswa berperan aktif dalam permainannya. Tiga ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan akan tercapai sesuai dengan tujuan. Implikasi dalam pembelajaran guru sebagai moderator, siswa sebagian pemain dan yang lain menjadi penonton. Jalannya simulasi sesuai dengan aturan main sebagai berikut: 1. Sekelompok siswa jadi pemain 2. Sekelompok siswa lain menjadi penonton yang dapat mengambil isi simulasi dan dapat member tanggapan 3. Satu atau tiga yang bermain sosiodrama jika ada tema bermain peran 4. Guru sebagai moderator Simulasi disesuaikan tema contoh kelas empat dengan tema hemat energy dan sub tema pemanfaat energy. Pada tema 2 itu materi dikemas dengan bentuk-bentuk pengamatan, pertanyaan, penalaran, percobaan, dan penciptaan. Pengamatan peserta didik ditayangkan LCD kemudian mengajukan pertanyaan. Petugas yang mendapat tugas sebagai pemeran mendemonstasikan kincir angin dengan jalan ditiup. Kelompok pemain menjawab pertanyaan-pertanyaan. Peserta didik disuruh membuat rancangan pembuatan kincir angin dan air. Rancangan awal dicocokkan dengan percobaan. Kelompok siswa mempresentasikan hasil diskusi dengan memberi tanggapan. Selanjutnya peserta didik membaca artikel artikel tentang energi air dan pompa air, tenaga angin untuk menambah informasi. Penciptaan kincir air secara sedehana. Simulasi dapat dilakukan secara bergantian. Untuk evaluasi semua peserta ikut di dalamnya. Guru sebagai moderator

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 179 memotivasi siswa agar menjawab pertanyaan yang berada dalam papan simulasi. Media ini seperti permainan ulartangga namun di dalamnya memuat soal-soal yang harus dikerjakan sesuai dengan peroleh dadu. Pengerjaannya secara mandiri dengan bantuan teman yang dipandang pandai untuk menjadi moderator. Hasil pengerjaan soal dikumpulkan kemudian dibahas bersama dan diadakan refleksi dengan membuat kesimpulan. SIMPULAN DAN SARAN Pada kenyataannya kurikulum 2013 masih menuai pro dan kontra. Banyak hambatan yang terjadi lapangan. Kedewasaan dan sikap mental ketidaksiapan guru dalam menghadapi perubahan menjadi kendala yang serius. Pemerintah mengadakan pengembangan kurikulum 2013 dalam rangka menyongsong abad 21. Kerangka abad 21 menunjukkan bahwa pengetahuan yang dimiliki peserta didik tidak mencukupi melainkan dilengkapi dengan kemampuan kreativitas, kritis, berkarakter kuat. Disamping itu didukung dengan kemampuan informasi dan berkomunikasi. Empat pilar pendidikan yang melandasi pembelajaran, yaitu learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be. Kegiatan pembelajaran menjadi sangat berarti jika guru berkreasi menciptakan kondisi kelas yang mendukung peserta didik untuk belajar. Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi paedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.Salah satu solusi agar guru tidak kesulitan menerapkan kurikulum 2013 penulis membuat suatu permainan interaktif. Permainan yang dimaksud adalah permainan simulasi P4. Permainan ini dipadukan dengan pembelajaran tematik integrative dan pendekatan scientific diramu dengan apik membantu guru dalam penerapan K13. Penulis merumuskan permainan simulasi P4 karena memang sesuai dengan perkembangan anak usia sekolah dasar. Diharapkan guru dalam menghadapi setiap perkembangan pendidikan dengan bersikap positif thinking. Guru berperan aktif pada kegiatan pembelajaran sesuai dengan perkembangan kurikulum 2013. Pentingnya guru dalam menciptakan sesuatu yang berguna bagi pembelajaran menjadi harapan di dunia pendidikan. DAFTAR PUSTAKA Apriliya Seni.2007. Manajemen Kelas Untuk Menciptakan Iklim Belajar Yang Konduksif. Jakarta Timur. Visindo Media Persada Barnadib Imam.1997.Filsafat pendidikan system&metode, Yogyakarta: ANDI Depdiknas.2002.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta.Gramedia Kemendikdub. 2013. Pengembangan Kurikulum 2013.Jakarta Kemendikbud.2013.Konsep Pendekatan Scientific. Jakarta Prastowo Andi.2011.Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif.Yogyakarta.Diva Press Singgih.2011. Dasar&Teori Perkembangan Anak. Jakarta.Libri Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas Undang-Undang RI No.14 tahun2005 tentang Guru dan Dosen

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 180 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 MENINGKATKAN KEDISIPLINAN MENGERJAKAN PEKERJAAN RUMAH MELALUI LAYANAN KONSELING KELOMPOK SEBAYA PESERTA DIDIK KELAS VIIA SMP NEGERI 12 SURAKARTA SEMESTER GENAP TAHUN 2012/2013 Gunawan1 1SMPN 12 Surakarta ABSTRAK Tujuan umum penelitian adalah secara umum meningkatkan kedisiplinan peserta didik SMP Negeri 12 Surakarta dalam mengerjakan PR, ,sedangkan secara khusus melalui penelitian ini, peneliti ingin meningkatkan kedisiplinan peserta didik dalam mengerjakan pekerjaan rumah (PR) melalui tindakan layanan bimbingan konseling dengan layanan konseling kelompok sebaya. Setting dan subyek penelitian Penelitian Penelitian ini kami lakukan selama enam bulan mulai bulan Januari 2012 sampai dengan Juli 2012. Prosedur dalam penelitian ini dalam siklus I dan II meliputi langkah-langkah sebagai berikut rencana tindakan mencakup 1) apersepsi :mengidentifikasi siswa yang diduga mempunyai kebiasaan mengerjakan PR di sekolah, dengan menyebarkan angket tentang kebiasaan menyontek siswa VIIA 2) Inti : melakukan tindakan pendekatan layanan konseling kelompok sebaya kelompok besar pada siklus I dan pendekatan layanan konseling kelompok sebaya kelompok kecil pada siklus II. 3)Penutup , mengadakan evaluasi sesudah layanan tindakan konseling kelompok sebaya. Pengumpulan datanya adalah datar pertanyaan tertutup yang berisi tentang disiplin mengerjakan PR , sedangkan teknik observasi dengan menggunakan panduan observasi tentang kebiasaan mengerjakan PR di sekolah. Analisa dalam penelitian ini, analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif deskriptif komparasi dengan membandingkan prosentase perilaku mengerjakan PR di sekolah sebelum tindakan, sesudah layanan konseling kelompok sebaya besar dan sesudah layanan konseling kelompok sebaya kecil. Berdasarkan pelaksanaan tindakan layanan konseling kelompok, maka diperoleh hasil penelitian sebagai berikut, dari segi hasil tindakan bimbingan konseling 1)Hasil konseling: terjadinya peningkatan dalam kedisiplinan mengerjakan PR di rumah. Adapaun peningkatan kedisiplinan tersebut yaitu terjadinya peningkatan skor kedisiplinan siswa dalam mengerjakan skor kedisiplinan dari rerata 73,20 menjadi 92,37 atau meningkat sebesar 19,17%.2) Proses konseling kelompok:siswa yang terbuka , kesungguhan, dan keaktifan meningkat 50%. Kata kunci: Kedisiplinan Mengerjakan PR, Konseling Kelompok Sebaya PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Tujuan bimbingan konseling perkembangan adalah membentuk peserta didik untuk membentuk kepribadian mandiri. Salah satu bentuk kepribadian mandiri tercermin dalam kedisiplinan. Kedisiplinan peserta didik di sekolah dapat dilihat dalam berbagai bentuk antara lain disiplin masuk sekolah,disiplin mengikuti pelajaran,disiplin mengerjakan tugas dari guru. Di SMP Negeri 12 Surakarta, berdasarkan pengamatan peneliti pada bulan November 2012 ,setiap pada saat waktu menjelang pelajaran pertama dan pada waktu istirahat banyak dijumpai kebiasaan peserta didik mengerjakan tugas di sekolah,khususnya di kelas VIIA, hal ini didukung oleh hasil angket tentang kebiasaan mengerjakan PR, tercatat semua peserta didik pernah mengerjakan PR di sekolah, rata-rata lebih dari 75 % dari 28 peserta didik pada waktu tersebut digunakan untuk mengerjakan pekerjaan sekolah yang mestinya dikerjakan di rumah, keadaan ini menunjukkan bahwa kedisiplinan peserta didik dalam mengerjakan tugas-tugas rumah sangat rendah. Terhadap kebiasaan peserta didik tersebut di atas karena ketidakdisiplinan mengerjakan PR bersifat klasikal, maka dalam program semester genap klas VIIA tahun 2012 konselor mengadakan layanan penguasaan content atau pembelajaran dalam bimbingan konseling terdapat materi

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 181 layanan tentang menciptakan kebiasaan belajar termasuk di dalamnya kebiasaan mengerjakan tugas di rumah, dengan menggunakan pendekatan ceramah , tanya jawab, demonstrasi, secara klasikal konselor sebagai peneliti telah melatih peserta didik untuk melakukan kedisiplinan termasuk didalamnya mengerjakan tugas sekolah. Tujuan layanan bimbingan konseling bidang belajar dan pribadi adalah membentuk peserta didik yang mempunyai kepribadian mandiri dalam bidang belajar, Bersamaan dengan pelaksanaan proses bimbingan konseling khususnya melalui layanan konseling kelompok tersebut semestinya di dalam kepribadian peserta didik sudah terbentuk kebiasaan diri peserta didik yang mandiri dan disiplin dalam berbagai kebiasaan belajar, termasuk di dalamnya mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah. Dalam penelitian ini, tingkat kedisplinan mengerjakan pekerjaan rumah peserta didik SMP Negeri 12 Surakarta klas VIIA tergolong sangat rendah, pada hal harapannya semua peserta didik disiplin dalam mengerjakan pekerjaan rumah di rumah, sehingga tujuan pembelajaran untuk memiliki kompetensi suatu mata pelajaran tercapai. Di sisi lain, kebiasaan perilaku peserta didik yang salah dalam belajar merupakan tugas dan fungsi konselor dalam meningkatkan kemandirian peserta didik. Konselor dengan kompetensinya mestinya mampu mengatasi kebiasaan yang salah tersebut, melaui layanan konseling kelompok dengan memberdayakan anggota kelompok yang sudah mempunyai kedisiplinan yang tinggi dalam mengerjakan PR. Untuk mengatasi kebiasaan perilaku yang salah dari peserta didik khususnya ketidakdisiplinan mengerjakan pekerjaan rumah, maka perlu diadakan suatu cara atau suatu tindakan oleh konselor sendiri yaitu dengan melakukan layanan konseling kelompok teman sebaya.. 2. Identifikasi Masalah dan Perumusan Masalah Dalam penelitian ini, peneliti mengajukan beberapa masalah yang berkaitan dengan ketidakdisiplinan peserta didik dalam mengerjakan pekerjaan rumah, antara lain: a. Mengapa kedisiplian peserta didik dalam mengerjakan pekerjaan rumah rendah? b. Mengapa kedisiplinan peserta didik dalam mengerjakan pekerjaan rumah perlu ditingkatkan ? c. Faktor apa saja yang menyebabkan kedisiplinan peserta didik dalam mengerjakan pekerjaan rumah meningkat ? Dalam penelitian ini, peneliti mengajukan rumusan masalah sebagai berikut “Apakah melalui layanan konseling kelompok sebaya dapat meningkatkan kedisiplinan peserta didik dalam mengerjakan pekerjaan rumah?”. 3. Kerangka Teori a. Disiplin Mengerjakan Pekerjaan Rumah 1) Pengertian Disiplin Secara etimologis , kata disiplin berasal dari kata Latin discipline (murid). Istilah disiplin mengacu pada proses pembelajaran. Yang selalu dikaitkan dengan relasi antara guru dan murid. Sikap disiplin lebih ditujukan pada kesdiaan pribadi individu untuk menerima tata aturan bersama sehingga keteraturan social dapat terjaga (Doni Koesoema, 2007: 237). Doni Koesoesuma, mengutip pendapat F.W.Foerster, bahwa disiplin adalah keseluruhan ukuran bagi tindakan-tindakan yang menjamin kondisi-kondisi moral yang diperlukan sehingga proses pendidikan berjalan lancar dan tidak terganggu (2007: 233).Sedangkan Abdul kadir mengatakan bahwa seseorang dikatakn disiplin apabila mmenuhi cirri-ciri sebagai berikut a) tegas dan benar dalam bicara,b) tepat waktu dan hemat (2008:35). 2) Tujuan Disiplin Menurut Komemsky, tujuan diadakannya pendisiplinan antara lain

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 182 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 1) memberikan pembelajaran bagi yang sering melanggar peraturan, agar pelanggarnya tidak mengulangi perbuatannya lagi, 2) untuk mengurangi kebiasan-kebiasaan buruk siswa menuju suatu pembelajaran dan sekolah yang bertata dengan lebih baik, 3) untuk menciptakan suasana kenyamanan siswa dalam melakukan pembelajaran (Doni Koesoema, 2007: 235). Sedangkan Soedargo, mengemukakan tujuan disiplin adalah menciptakan kondisi yang baik guna memenuhi fungsi pendidikan (Soedargo, 1981: 81). Doni Koesoema mengutip pendapat Komensky, ada tiga tujuan yang berkaitan dengan kedisiplinan antara lain : 1) agar pelanggar tidak mengulangi lagi dan menyadari manfaat disiplin bagi dirinya sendiri, 2) ,mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk siswa sehingga pembelajaran dan sekolah tertata dengan lebih baik, 3) membantu menciptakan suasana yang mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan psikologis siswa (2007: 236). Sedangkan Abdul kadir, menafsirkan tujuan disiplin sebagai fungsi dari adanya kedisiplinan meliputi 1)membatasi perilaku yang salah atau kliru, 2) berutjuan mendidik,3) memperkuat dorongan seseorang untuk menghindarkan diri dari tingkah laku yang menyimpang (2008:36). a) Aspek-aspek Disiplin Menurut Abdul Kadir dan kawan-kawan, aspek-aspek dalam kedisiplinan adalah (1) sikap mental yang merupakan sikap taat dan tertib, (2) pemahaman yang baik mengenai system aturan tingkah laku, (3) sikap dan tingkah laku yang menunjukkan kesungguhan hati untuk mentaati segala hal secara cermat ( 2008:27). Macam-macam Disiplin Pendidikan: Disiplin pribadi adalah pengarahan di ke setiap tujuan yang diinginkan melalui latihan dan peningkatan kemampuan; Disiplin sosial adalah perwujudan dari adanya disiplin pribadi yang berkembang melalui kewajiban pribadi dalam individu.perintah tersebut; Disiplin nasional adalah kemampuan dan kemauan mengendalikan diri untuk mematuhi semua ketentuan yang telah ditentukan negara; Disiplin ilmu adalah mematuhi semua ketentuan yang telah ditentukan sebagai ilmuwan dan Disiplin tugas adalah mematuhi semua ketentuan yang telah ditentukan oleh atasan atau kepala sekolah ( Kadir,2008:31). Dalam penjelasannya dikatakan bahwa bentuk-bentuk ketaatan disiplin pada tugas sekolah meliputi (a) mendengarkan dan memahami perintah dengan sebauik-baiknya,(b) melipatgandakan kesabaran saat melaksanakanan perintah tersebut,(c)melaksanakan dengan segera ,walaupun tidak sesuai dengan pendapat atau keinginananya,(d) meminta izin dan memberikan masukan sebelum pimpinan mengambil keputusan. b) Cara Meningkatkan Kesadaran Berdisiplin Menurut Doni Koesoema mengutip pendapat dari Komensky, ada beberapa pendekatan teknis yang perlu diciptakan dan dihindari berkaitan dengan kedisiplinan siswa anatara lain : 1) menanamkan kedispilinan bukan dengan cara menunjukkan kelemahannnya, menunjukkan amarah dan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 183 kebencian, namun dengan menggunakan kelembutan agar pelanggar disiplin itu menyadari bahwa disiplin tersebut diterapkan demi kebaikannnya sendiri ,2) pendekatan kekerasan harus dihindari karena akan menimbulkan antipati dan kebencian yang berkaitan dengan sekolah, maka kesabaran dan kelembutan untuk menemani merupakan cara yang baik, 3) pendekatan kedisiplinan harus dengan menggunakan cara-cara yang selaras dengan perkembangan dan kebutuhan siswa sehingga semakin jatuh cinta pada kegiatan belajar ( 2007 : 236 ). b. Konseling Kelompok Sebaya 1) Hakekat Konseling Kelompok Konseling kelompok merupakan upaya bantuan kepada peserta didik dalam rangka memberikan kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhannya dalam suasana kelompok (Achmad Juntika, 2005: 11). Dikatakan bahwa dalam konseling kelompok ada suatu proses pribadi yang dinamis yang terpusat pada pemikiran dan perilaku yang sadar dan melibatkan fungsi-fungsi terapi seperti sifat permisif, orientasi pada kenyataan, katarsis, saling mempercayai, saling memperlakukan dengan mesra, saling pengertian, saling menerima dan saling mendukung (2005: 11). Prayitno berpendapat bahwa konseling kelompok mempunyai cirri-ciri sebagai berikut: Tujuannya adalah membahas dan memecahkan masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota kelompok; Anggotanya dibatasi sampai 10 orang; Kondisi dan karakter anggotanya adalah homogennya; Anggota mempunyai peran aktif membahas permasalahan tertentu dalam membantu memecahkan masalah kawan sekelompok, anggota menyumbang pemecahan masalah bagi kawannya di kelompok; Ada interaksi multiarah antar peserta kelompok; Sifat pembicaraan pribadi dan rahasia dan Pelaksananya adalah guru pembimbing (1995: 71). Adapun prosedur konseling kelompok meliputi: Tahap Pembentukan (Kegiatan ini merupakan tahap pengenalan diri, pelibatan diri atau proses memasukkan diri dalam kelompok); Tahap Peralihan (Dalam tahap ini pembimbing kelompok bertugas membawa peserta melewati tahap peralihan yang dikenal sebagai tahap menegangkan. Pembimbing kelompok memantapkan kembali asas kerahasiaan, asas keterbukaan, asas kesukarelaan dan asas kenormatifan); Tahap Kegiatan (Tahap ini merupakan kegiatan yang sebenarnya dalam konseling kelompok, karena dalam tahap ini seluruh peserta berperan aktif dan terbuka mengemukakan apa yang dirasakannya, dipikirkannnya dan apa yang dialaminya yaitu mengemukakan masalah pribadinya yang sedang dialami atau dideritanya, dan kemudian dibahas secara bersama-sama dalam kelompok); Tahap Pengakhiran (Tahap ini berupa kegiatan pembimbing meminta beberapa anggota kelompok menyimpulkan hasil yang diperoleh dalam kegiatan kelompok hari itu dan kesan-kesan masing-masing anggota kelompok diungkapkan). 2) Layanan Konseling Sebaya Menurut Rogacion, konseling sebaya merupakan pertolongan yang diberikan oleh invidu-awam yang sebaya, bukan hanya sama umurnya, melainkan juga sama dalam hal berbagai pengalaman hidup lainya, seperti pekerjaan, permasalahan yang sedang dihadapinya atau

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 184 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 “sebaya” dalam hal apa saja ( A. Supratiknya, 2000 : 5 ). Lebit lanjut dikatakan bahwa sasaran konseling sebaya adalah siswa baru, yang belum berhasil menyesuaikan diri dengan lingkungannya di sekolah sehingga merasa sepi dan terasing, dan mereka perlu ditolong karena memiliki kekurangan tertentu, baik fisik maupun psikis namun yang secara umum masih disebut sehat-normal. Tujuan konselintg sebaya adalah menolong anak muda mengatasi aneka perasaan negative terhadap diri mereka sendiri termasuk perasaan sepi dan terisolasi dan tidak punya teman, dan mengajari mereka dengan berbagai ketrampilan yang diperlukan untuk hidup atau life skills,seperti ketrampilan berkomunikasi, memecahkan masalah, mengatasi konflik, mengambil keputusan, mengatasi kecemasan serta stress dan sebagainya ( Supratiknya,2000, 7 ). 3) Layanan Konseling Kelompok Sebaya Pengertian konseling, konseling kelompok, dan konseling sebaya telah disampaikan di atas, maka dalam hal konseling kelompok sebaya dapat diartikan sebagai konseling kelompok yang beranggotakan teman-teman sebaya yang berfungsi sebagai pembantu pembimbing sebaya, di samping guru pembimbing sendiri sebagai pembimbing utama. 4. Kerangka Berpikir Kedisiplinan mengerjakan PR adalah perilaku mengerjakan Pekerjaan Rumah yang ditandai dengan siswa mengerjakan PR dengan tepat waktu, secara tuntas bertanggungjawab, dikerjakan secara mandiri di rumah. Untuk meningkatkan kedisiplinan mengerjakan PR diperlukan suatu system layanan bimbingan konseling yang memungkinkan peserta didik merubah kebiasaan tersebut antara lain ,layanan konseling kelompok sebaya. Layanan konseling kelompok sebaya adalah suatu layanan konseling kelompok yang melibatkan beberapa peserta didik menjadi konselor sebaya dan membantu pemimpin kelompok menjadi fasilitator dalam proses konseling kelompok. Dalam layanan konseling kelompok sebaya, secara teori memungkinkan terjadinya kemudahan dalam proses konseling kelompok mulai dari proses pembentukan, peralihan, kegiatan dan penutup, karena bersama anggota konselor yang sebaya memungkinkan anggota kelompok lebih bebas untuk mengemukakan problem kedisiplinan mengerjakan PR. Berdasarkan teori tersebut dipredisksikan akan mmeningkatkan kedisiplinan dalam mengerjakan PR. Pada tindakan siklus II, layanan konseling kelompok sebaya kelompok kecil, memungkinkan pembahasan masalah yang terjadi dalam kelompok semakin lebih intensif dan efektif karena anggota hanya sedikit. Sehingga berdasarkan teori tersebut siklus ke II mempunyai kelebihan dari pada siklus I, hal memungkinkan proses konseling kelompok berjalan efektif, dengan demikian karena tindakan II merupakan siklus terakhir sehinbgga diduga melalui layanan konseling kelompok sebaya kelompok besar dan kelompok kecil akan mampu meningkatkan kedisiplinan siswa dalam mengerjakan PR di rumah. Untuk selengkapnya dapat dilihat pada skema kerangka berpikir di bawah ini.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 185 Gambar 1. Skema kerangka berpikir Hipotesis Tindakan Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir, maka peneliti membuat hipotesis tindakan sebagai berikut :Melalui konseling kelompok sebaya dapat meningkatkan kedisiplinan mengerjakan PR pada peserta didik klas VIIA semester genap tahun pelajaran 2012/2013 SMP Negeri 12 Surakarta. METODE PENELITIAN Pelaksanaan penelitian ini dilakukanselama 6 (enam) bulan, di mulai bulan Januari 2013 sampai dengan Juni 2013, dilakukan di Surakarta karena peneliti sekarang ini tingggal di kota Surakarta, sedang sekolah tempat penelitian adalah SMPN 12 Surakarta pada siswa klas VIIA dengan subyek penelitian adalah semua siswa kelas VIIA di mana banyak ditemukan siswa yang mengalami ketidakdisiplinan dalam mengerjakan pekerjaan rumah ( PR) yang terdiri 28 siswa dengan perincian laki-laki 14 siswa, sedangkan siswa perempuannya 14 siswa. Adapaun rincian tentang sumber data sebagai berikut: Sumber data kondisi awal adalah status rekapitulasi peserta didik tidak disiplin pada kondisi awal; Sumber data siklus I adalah rekapitulasi ketidakdisiplinan dalam mengerjakan tugas siswa, sesudah kegiatan konseling kelompok sebaya kelompok besar, dan sebagai sumber wawancara; Sumber data siklus II adalah rekapitulasi ketidakdisiplinan dalam mengerjakan tugas (PR) sesudah kegiatan konseling kelompok sebaya kelompok kecil. Peneliti menggunakan teknik antara lain observasi, wawancara, dan angket.teknik pengumpulan data berupa angket dengan alat pengumpulan data berupa daftar pertanyaan.. Selain itu alat pengumpulan data yang digunakan adalah pedoman wawancara, dan pedoman observasi. Validitas data peneliti menggunakan, metode triangulasi, hal ini disebabkan bentuk data yang diungkap adalah data kualitatif, bukan data kuantitatif. Oleh karena itu dalam rangka memenuhi unsur validitas data penelitian kualitatif, peneliti menggunakan metode triangulasi sumber data dan triangulasi teknik pengumpulan data. Analisis data menggunakan analisis data kualitatif, hal ini disebabkan teknik pengumpulan data yang digunakan berupa non tes yaitu wawancara, observasi. Analisis data dilakukan dengan membandingkan hasil dari ketiga teknik tersebut di atas. Adapun rincian analisisnya sebagai berikut: Analisis I, adalah membandingkan hasil triangulasi sumber dan triangulasi teknik dari kondisi awal dengan hasil setelah diberikan tindakan siklus I; Analisis II, adalah membandingkan hasil triangulasi hasil tindakan siklus I dengan hasil analisis siklus II. HASIL DAN PEMBAHASAN 1.Deskripsi Kondisi Awal Seperti dikemukakan di atas bahwa dari sejumlah siswa klasVIIA sejumlah 28 siswa,

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 186 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 dapat dijabarkan menjadi sebaran tingkat kedisiplinan siswa sebagai berikut . Dari hasil wawancara dan observasi terdapat 7 peserta didik yang dianggap mempunyai tingkat kedisiplinan yang baik antara lain: Verlina Zahwa, Wulan Indah, Ayu Putri Lestari, Lintang Ayu M,Aprilia Setyowati, Muchin, dan Nurul Aini. Dari ke tujuh peserta didik inilah yang nantinya akan dijadikan sebagai konselor sebaya. 2. Deskripsi Hasil Siklus I Setelah penyebaran angket kedisiplinan mengerjakan PR maka diadakan analisis kedisiplinan sesudah tindakan siklus I, dengan hasil sebagai berikut: nilai kedisiplinan tertinggi 39, nilai terendah 26, dan nilai rata-rata 34,25. Hasil pengamatan yang dilakukan pada siklus I, diperoleh melalui lembar pengamatan yang mencakup materi, (a) keterbukaan, (b) kesungguhan menengarkan, (c) partisipasi dalam konseling. Dari hasil pengamatan diperoleh informasi bahwa dari 28 siswa yang mengikuti konseling kelompok, yang terbuka dalam mengungkapkan masalahnya 15 siswa ( 53,57 %), ),yang sungguh-sungguh mengikuti konseling kelompok sebanyak 15 siswa .( 53,57 %), sedangkan yang berpartisipasi dalam konseling kelompok sebanyak 15.siswa ( 53,57 %). Dari pendapat siswa sisolated mengatakan bahwa dia merasa terkesan ternyata teman-teman mau memberikan masukan padanya sehingga dia dapat maju berkembang. Sedangkan dari siswa peserta mengatakan bahwa melalui konseling kelompok mereka juga merasa terkesan karena dapat memberikan masukan pada temannya yang pendiam. 3. Hasil Deskripsi Siklus II Setelah penyebaran angket kedisiplinan mengerjakan PR maka diadakan analisis kedisiplinan sesudah tindakan siklus II, dengan hasil sebagai berikut: nilai kedisiplinan tertinggi, 39, nilai terendah 30, nilai rata-rata kdisiplinan 36,25. Hasil pengamatan yang dilakukan pada siklus II, diperoleh melalui lembar pengamatan yang mencakup materi, (a) keterbukaan, (b) kesungguhan menengarkan, (c) partisipasi dalam konseling. Dari hasil pengamatan diperoleh informasi bahwa dari 28 peserta didik yang mengikuti konseling kelompok, yang terbuka dalam mengungkapkan masalahnya 23 peserta didik ( 82,14 %), ),yang sungguh-sungguh mengikuti konseling kelompok sebanyak 23 peserta didik.( 82,14 %), sedangkan yang berpartisipasi dalam konseling kelompok sebanyak 23 peserta didik ( 82,14 %). Dari pendapat peserta didik yang disiplin maupun yang tidak disiplin mengatakan bahwa dia merasa terkesan ternyata teman-teman mau memberikan masukan padanya sehingga dia dapat maju berkembang. Sedangkan dari peserta didik peserta mengatakan bahwa melalui konseling kelompok mereka juga merasa terkesan karena dapat memberikan masukan pada temannya yang tidak disiplin dalam mengerjakan PR.. 4.Pembahasan dan Diskusi a. Refleksi I (Dari kondisi awal ke siklus I ) Tingkat kedisiplinan meningkat, dari nilai tertinggi naik 6 % dari 94 ke 100, nilai terendah naik 33 % dari 33 menjadi 66, nilai rata-rata naik 14,4 % dari nilai 73,42 menjadi 87,82. Dalam hal proses proses konseling kelompok meningkat.prosentase peningkatan keterbukaan, kesungguhan dan partisipasi dalam konseling kelompok sebesar 21,43%. b.Refleksi II (Dari Siklus I ke Siklus II) Terjadi peningkatan skor kedisiplinan baik dalam nilai tertinggi, nilai terendah maupun rata-rata nilai kedisiplinan peserta didik. Adapun prosentase kenaikan nilai kedisiplinan sebagai berikut, nilai tertinggi tetap ,nilai terendah meningkat 10 %, dan rata-rata meningkat 4,55%. Proses konseling kelompok meningkat. Prosentase peningkatan keterbukaan, kesungguhan dan partisipasi dalam konseling kelompok sebesar 28,57 %. c.Refleksi III (Dari kondisi awal ke siklus II) Peningkatan skor kedisiplinan baik dalam nilai tertinggi, nilai terendah maupun rata-rata nilai kedisiplinan peserta didik. Adapun

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 187 prosentase kenaikan nilai kedisiplinan sebagai berikut, nilai tertinggi 6 %,nilai terendah meningkat 43 %, dan rata-rata meningkat 19,17%. Proses konseling kelompok meningkat, prosentase peningkatan keterbukaan, kesungguhan dan partisipasi dalam konseling kelompok sebesar 50. Berdasarkan data-data tersebut diatas maka diperoleh kesimpulan hasil tindakan sebagai berikut bahwa melalui layanan konseling kelompok sebaya dapat meningkatkan kedisiplinan siswa dalam mengerjakan PR di sekolah pada siswa klas VIIA pada semester genap tahun 2012/2013 dari kondisi awal skor kedisiplinan rerata 73,20 menjadi 92,37 atau meningkat sebesar 19,17 %. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Simpulan Hasil Bimbingan Konseling Berdasarkan hipotesis seperti tertulis di depan bahwa Melalui konseling kelompok sebaya dapat meningkatkan kedisiplinan mengerjakan PR pada peserta didik klas VIIA semester genap tahun pelajaran 2012/2013 SMP Negeri 12 Surakarta.dan ternyata dari hasil pengolahan dan analisis data ternyata terdapat peningkatan kedisiplinan mengerjakan PR dari rata-rata skor kedisiplinan rerata 73,20 menjadi 92,37 atau meningkat sebesar 19,17 %, maka dapat disimpulkan bahwa melalui konseling kelompok sebaya dapat meningkatkan kedisiplinan siswa dalam mengerjakan PR di rumah.. 2. Simpulan Proses Bimbingan Konseling Berdasarkan pengamatan setelah pelaksanaan konseling kelompok terdapat peningkatan dalam kualitas komunikasi kelompok yang ditujukkan meningkatnya keterbukaan mengungkapkan pendapat, kesungguhan dalam mengikuti proses konseling kelompok, maupun partisipasi aktif peserta didik dalam kegiatan konseling kelompok. Dengan terbuktinya bahwa kedisiplinan mengerjakan PR dapat ditingkatkan dengan layanan konseling kelompok sebaya maka hal ini membawa implikasi sebagai berikut: Pembimbing harus mengintensifkan bentuk layanan yang memberdayakan siswa yang mempunyai kelebihan untuk aktif dalam layanan konseling kelompok konselor sebaya; Bagi teman sejawat guru pembimbing : Sebaikniya selalu menggunakan pendekatan yang relevan dan novatif dalam membantu menyelesaikan masalah peserta didik. Bagi peserta didik yang merasa mempunyai kebiasaan tidak disiplin dalam mengerjakan PR, sebaiknya mulai membuka diri bagi dan untuk orang lain demi pengembangan dirinya bnersama orang-orang di sekitar yang mempunyai kelebihan tentang kedisiplinan. Guru pembimbing sebaiknya selalu berusaha menggunakan pendekatan yang berorientasi pada pemecahan masalah peserta didik dengan mencoba berbagai pendekatan inovatif. Sekolah sebaiknya mulai memberikan fasilitasi terhadap pelayanan pendidikan dari segala bidang baik akademik maupun non akademik, khususnya layanan bimbingan konseling. DAFTAR PUSTAKA Ahmad Juntika I, 2005. Teknik Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Depdiknas. Ahmad Badawi, 1984. Teknik Bimbingan Kelompok, Yogyakarta,: IKIP Press. Arif Furchan. 1982. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, Surabaya : Usaha Nasional Depdiknas, 2004, Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta. Doni Koesoema,2007, Pendidikan Karakter-Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, Grasindo, Jakarta. Edy Legowo, 2008. Bimbingan Konseling, Surakarta, UNS. Bimo Walgito. 2006. Psikologi Kelompok, Yogyakarta : Andi Offset.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 188 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Kadir,Abdul,2008,Pendidikan Anti KorupsiTanggungjawab,Disiplin,Jujur,KPK,Jakarta Mulyadi. 2005. Penelitian Tindakan Kelas, Semarang, Depdiknas. Nasution. 1988. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, Bandung : Tarsito. Poerwadrminta. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta : balai Pustaka. Prayitno.1995 . Layanan Bimbingan Konseling Kelompok, Jakarta : Ghalia Indonesia. Suardiman.1990. Psikologi Dalam. Yogyakarta.Perct. Studing. Suharsimi.1989. Manajemen Penelitian Pendidikan. Jakarta : Depdiknas. Supratiknya.2000. Tumbuh Bersama Sahabat. Yogyakarta : Kanisius. Sutrisno Hadi.1990. Metodologi research. Yogyakarta : Andi offset.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 189 PARALEL BAHASA

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 190 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 MEMPERKENALKAN PEMBELAJARAN MEMBACA DENGAN TEKNIK POS DI TK Basuki1 1Universitas Widya Dharma Klaten ABSTRAK Pembelajaran membaca dengan teknik POS menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi berbagai permasalahan pembelajaran membaca di TK. Model pembelajaran membaca dengan teknik POS mudah dilaksanakan dan efektif mencapai tujuan pembelajaran. Materi pembelajaran membaca dengan teknik POS berasal dari objek atau benda di sekitar kehidupan anak yang dikemas melalui ”bermain sambil belajar” dan ”belajar sambil bermain”. Langkah-langkah pembelajaran dirancang secara prosedural yang dituangkan dalam rencana kegiatan harian (RKH) dengan kegiatan pembelajaran PAKEM (pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan). Kata kunci: Membaca, Pelabelan Objek Sekitar (POS) PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Beberapa hal yang menjadi permasalahan dalam pembelajaran membaca antara lain terkait dengan profesionalisme dan kualifikasi guru. Latar belakang kualifikasi dan pendidikan guru yang beragam di sekolah menimbulkan persoalan tersendiri, terutama terkait dengan persepsi guru mengenai sistem pembelajaran pada umumnya, dan pembelajaran membaca pada khususnya. Di samping itu, latar belakang pendidikan guru TK yang beragam dan pengalaman kerja yang bervariasi juga berpengaruh pada kualitas pembelajaran baik yang menyangkut pemilihan materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, metode yang dipilih, maupun cara-cara penilaian yang dilaksanakan. Permasalahan lain dalam pembelajaran membaca awal di TK adalah terkait penyusunan program pembelajaran dan pemilihan materi pembelajaran. Data di lapangan menunjukkan bahwa Program Semesteran dan RKM dihasilkan pada forum KKG ataupun melalui tim yang dibentuk oleh yang berwenang. Persoalan muncul ketika setiap guru harus menyiapkan RKH yang harus disesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing. Di samping itu, latar belakang anak yang beragam, cukup menyulitkan guru dalam mempersiapkan materi dalam RKH. Selanjutnya adanya perbedaan kondisi afektif dan psikomotor anak-anak yang menyebabkan perbedaan minat pada tiap-tiap anak. Keunikan ini tentunya juga menuntut kemampuan ekstra dari guru dalam menyiapkan dan melaksanakan pembelajaran di kelas. Sementara itu untuk membuat agar anak tertarik terhadap pembelajaran membaca awal, guru dituntut untuk kreatif menggunakan metode pembelajaran, mengatur dan memilih materi pembelajaran termasuk memilih dan menggunakan media pembelajaran dan cara-cara penilaian menjadi persoalan tersendiri bagi guru-guru TK. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak guru TK yang melaksanakan pembelajaran membaca dengan cara-cara “mekanistik” yang lebih berorientasi kepada segi akademis yang dirasa terlalu membebani anak sehingga pembelajaran berlangsung kurang menarik. Akibatnya pembelajaran menjadi monoton, perhatian anak tidak fokus, dan kondisi kelas cenderung ramai. Pembelajaran berpusat pada guru dan anak-anak menjadi objek dalam pembelajaran. Di samping itu, masih banyak guru TK yang tidak menyiapkan media secara khusus dalam pembelajaran. Banyak alasan yang dikemukakan, di antaranya media sulit diadakan dan tiadanya anggaran untuk pengadaan, pada hal banyak penelitian yang membuktikan bahwa media pembelajaran menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak dan mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran. Demikian halnya terkait

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 191 dengan pemilihan bahan dan sumber pembelajaran, masih banyak guru TK yang menghadapi kendala keterbatasan materi pembelajaran dan sumber pembelajaran. Berdasarkan fakta dan permasalahan yang ditemukan di lapangan pengembangan model pembelajaran yang relevan untuk mengatasi keadaan tersebut masih sangat diperlukan. Pembelajaran membaca dengan teknik Pelabelan Objek Sekitar (POS) menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi berbagai permasalahan dalam pembelajaran membaca di TK. Model pembelajaran membaca dengan teknik POS mampu mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan mudah dilaksanakan. Dengan demikian model pembelajaran membaca dengan teknik POS berhasil mencapai tujuan pembelajaran membaca yang ditetapkan. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Pembelajaran Membaca Permulaan dengan Teknik Pelabelan Objek Sekitar (POS) a. Asumsi Dasar Pembelajaran membaca dengan Teknik Pelabelan Objek Sekitar adalah nama model pembelajaran membaca yang diasumsikan sebagai teknik pembelajaran yang efektif untuk digunakan dalam pembelajaran membaca pada anak usia TK. Beberapa asumsi yang mendasari adalah sebagai berikut. Pertama: pemilihan materi pembelajaran membaca yang terkait dengan benda atau objek yang berada di sekitar aktivitas rutin anak akan membantu dan memudahkan anak untuk mempelajari pola berbahasa yang dicontohkan oleh orang tua/guru, khususnya kosa kata yang terkait dengan kata-kata sederhana dan konkret di sekitar mereka. Kedua : upaya mempertimbangkan aspek-aspek perkembangan lingkungan siswa yang terjadi saat pembelajaran berlangsung, dan lingkungan budaya, sosial, dan religiusitas yang melatarbelakangi para siswa, akan membuat proses pembelajaran berjalan secara lebih menyenangkan, sehingga anak tidak cepat merasa bosan. Pertimbangannya adalah bahwa yang menjadi tema pembelajaran adalah sesuatu yang konkret dan familiar bagi anak-anak TK, sehingga sangat membantu anak lebih cepat memahami materi yang disampaikan selama proses pembelajaran. Selain itu, anak memiliki kesempatan luas untuk memperlihatkan minat dan kemampuan mereka untuk tumbuh serasi dengan perkembangan lingkungan, budaya, sosial dan agama. Ketiga : pembelajaran melalui bentuk pengulangan akan membuat memori menjadi lebih panjang. Selanjutnya memori jangka panjang (long-term memory) dapat bertahan dari waktu harian, bulanan, tahunan, bahkan dapat menjadi memori seumur hidup (Soenjono Dirdjowijojo, 2003: 271). Maka, model pembelajaran membaca dengan teknik POS merekomendasikan bahwa seorang anak yang sejak dini telah dikenalkan pada tulisan yang dilabelkan pada sebuah benda konkret misalnya tulisan meja yang ditempelkan pada objek meja sebagai benda yang setiap hari berada di sekitar anak, sangat membantu anak dalam pembelajaran membaca. Pertimbangannya adalah bahwa karena anak secara terus-menerus akan menemukan objek dan tulisan tersebut dalam setiap aktivitasnya sehingga terjadi pengulangan secara kontinyu pada saraf motorik anak. Pengulangan dan kontinyuitas ini akan merangsang seorang anak untuk menyimpan apa yang dilihatnya dalam sebuah memori jangka panjang. Semua itu akan lebih memudahkan anak untuk menghafalkan deretan abjad yang membentuk bunyi meja dan tertempel pada objek meja (abjad: m, e, j, a), dibandingkan jika seorang anak harus menghapal deretan huruf tersebut secara lepas.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 192 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Pertimbangan selanjutnya, memori konseptual (conceptual memory) sebagai memori yang digunakan untuk membangun suatu konsep berdasarkan fakta-fakta yang masuk, dan memori kata (word memory) sebagai memori yang mengaitkan konsep dengan wujud bunyi dari konsep tersebut, merupakan konsep yang sangat memadai untuk menjadi pelengkap teknik POS. Asumsinya adalah bahwa anak akan lebih mudah untuk mengenal deretan abjad yang dilabelkan pada objek meja yaitu abjad (m, e, j, a) karena ada keterkaitan antara wujud bunyi sebagai sebuah konsep yang berupa deretan vokal dan konsonan dengan objeknya yang bersifat konkret. Dibandingkan jika kita meminta anak untuk menghapal deretan abjad tersebut secara lepas yang tidak ada relevansinya dengan objek konkret. Keempat : adalah faktor relevansi dan keteraturan. Semakin sering anak menjumpai deretan suatu abjad yang dilihatnya konkret dan relevan dengan objek di sekitarnya yang ditata secara teratur akan lebih memudahkan anak untuk mengenali deretan abjad tersebut. Sejauh deretan abjad tersebut bersifat teratur serta memiliki signifikansi dan relevansi dengan objek yang diberi label. Selanjutnya akan lebih mudah bagi seorang anak untuk memahami deretan abjad (m, e, j, a) yang memiliki makna karena sesuai dengan objek konkretnya dibanding jika kita meminta anak untuk menghafalkan deretan abjad (a, j, e, m) yang bersifat lepas dan abstrak. Kelima : teknik POS adalah model pembelajaran membaca yang berupaya mengenalkan anak memahami makna bahasa dari struktur yang terendah menuju struktur yang tertinggi (morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana). Pertimbangannya adalah bahwa karena seorang anak dalam memproduksi kalimat, selalu dimulai dari pengenalan morfem tunggal, lalu berkembang pada kata yang lebih kompleks hingga wacana. b. Landasan Teoritis Pembelajaran Membaca dengan Teknik POS Mueller menyatakan bahwa pembelajaran membaca yang efektif bagi anak usia 3-8 tahun adalah dengan menggunakan media tulisan benda-benda yang ada di sekitar anak. Tulisan di sekitar anak merupakan alat pengembangan kemampuan membaca dan menulis. Tulisan berpotensi menjadi penggerak semangat baca dan penggunaan bahasa pada anak usia dini. Bagaimanapun juga, manfaat tulisan di sekitar kita dalam pengembangan kemampuan baca-tulis anak berhubungan langsung dengan tingkat bimbingan orang dewasa yang mengasuhnya dalam menggunakan bahasa dan menekankan hubungan tulisan-tulisan tersebut dengan abjad, kata, dan pesan. Hal ini sudah dibuktikan dalam berbagai penelitian. Bimbingan dari orang dewasa dapat dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, seperti membacakan komik dengan suara nyaring atau melibatkan anak balita “membaca” tanda-tanda yang sudah dikenal selama perjalanan (Mueller, 2006:8). Hal ini sejalan dengan pernyataan Whitehurst dan Lonigan (1998:199) yang menjelaskan bahwa kendati kebanyakan anak belajar membaca di sekolah, namun sebagian besar anak belajar tentang membaca di rumah dan sekitarnya. Mereka belajar simbol tertulis melalui benda-benda yang dilihatnya. Mereka mungkin dapat mengidentifikasi Coca Cola, Burger King, atau tanda Fruit Loops ketika melihatnya, tetapi hal ini bukan benar-benar membaca. Apa yang mereka lihat dan pelajari bersama orang yang lebih dewasa merupakan tahapan menyusun kemampuan membaca yang sebenarnya. Lebih lanjut Mueller menjelaskan bahwa interaksi anak dengan orang

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 193 dewasa sangat penting untuk memaksimalkan manfaat tulisan di sekitar sebagai alat pengembangan kemampuan baca-tulis. Interaksi ini dapat dimulai dengan penggunaan petunjuk-petunjuk kontekstual secara bertahap (gambar, tokoh kartun, warna, bentuk bidang, foto dan sebagainya) dan huruf hingga kata tertulis itu sendiri. Guru dan pembimbing dapat mengembangkan penggunaan tulisan sebagai alat pengajaran dalam konteks, latar belakang, dan penggunaan yang bervariasi. Sasarannya antara lain untuk mengembangkan hubungan antara tulisan yang dilihat anak di lingkungan rumahnya, dan bagaimana ia dapat menggunakannya untuk belajar melalui interaksi dengan orang dewasa yang mengasuhnya. Penggunaan alat yang telah tersedia ini berpotensi untuk memotivasi dan mendorong keterlibatan orangtua dan pembimbing, yang jika tidak dilakukan, mungkin akan memberikan rasa enggan dalam proses membaca dan menulis. Penggunaan benda atau objek di sekitar anak dalam pembelajaran membaca juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Muehl (1962: 181-186) dengan judul “The Effects of Letter-Name Knowledge on Learning to Read a Word List in Kindergarten Children.” Penelitian ini menganalisis pengaruh model pembelajaran dengan menggunakan “nama-nama yang ditemukan dan yang diasosiasikan.” Metodenya adalah dengan membagi sampel penelitian menjadi 2 kelompok berdasarkan pengalaman anak. Sebuah grup belajar nama-nama untuk 3 huruf yang kemudian muncul sebagai rangsangan penting bagi anak untuk membentuk kata. Setelah menemukan dan membentuk 3 buah kata, kata-kata tersebut diminta untuk dipasangkan dengan gambar benda-benda yang akrab dengan anak untuk membuat berpasangan-asosiasi. Penelitian menyimpulkan bahwa model nama-nama yang ditemukan dan yang diasosiasikan, memberikan pengaruh positif pada anak dalam pembelajaran membaca. Benda atau objek yang digunakan dalam pembelajaran membaca sangat beragam. Bahan-bahan yang akan digunakan dalam pembelajaran membaca, penting mempertimbangkan sosial-ekonomi, jenis kelamin, serta budaya dan bahasa yang dipelajari anak-anak sebelumnya. Budaya mayoritas atau budaya tertentu tidak boleh diasumsikan mewakili latar belakang semua anak. Tulisan yang digunakan bervariasi pada setiap kelompok belajar, pada masyarakat perkotaan akan berbeda dengan masyarakat perdesaan, masyarakat berbahasa tunggal berbeda dengan lingkungan masyarakat multilingual. Guru harus paham bahwa tulisan tertentu mungkin akan menyinggung perasaan, atau tidak dikenal kelompok anak tertentu. Jika anak-anak dilibatkan dalam pengumpulan materi pembelajaran maka perlu dipilih secara hati-hati agar tujuan tercapai. Kegiatan ini sekaligus dapat memperdalam pengertian anak-anak mengenai kosa kata baru, budaya, masyarakat, jenis kelamin dan bahasa lain (Mueller, 2006:9). Implementasi pembelajaran membaca dengan menghubungkan benda-benda sekitar anak secara rinci dapat dilaksanakan sebagai berikut: (1) anak-anak mencocokkan benda-benda di sekitarnya dengan tulisan-tulisan yang telah dibuat oleh guru/orang tua sebelumnya; (2) anak-anak menghubungkan tulisan di sekitar mereka dengan buku dan cerita; (3) anak-anak menghubungkan tulisan di sekitar mereka dengan kegiatan kelompok, gerakan, dan musik; (4) anak-anak menghubungkan tulisan di sekitar mereka dengan blok, bangunan dan papan pengumuman; (5) anak-anak menghubungkan tulisan di sekitar mereka dengan matematika; (6) anak-

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 194 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 anak menghubungkan tulisan di sekitar mereka dengan ilmu pengetahuan; (7) anak-anak menghubungkan tulisan di sekitar mereka dengan kemampuan motorik halus dan aktivitas; (8) anak-anak menghubungkan tulisan di sekitar mereka dengan permainan drama; (9) anak-anak melalui aktivitas menghubungkan tulisan di sekitar mereka dengan rumah dan sekolah; (10) anak-anak menghubungkan tulisan di sekitar mereka dengan lingkungan tempat tinggal (Mueller 2006:15). Selanjutnya sasaran yang diharapkan dengan teknik mengunakan tulisan dan objek di sekitar anak adalah sebagai berikut: 1) Anak mempelajari aturan bahasa tulis yang meliputi aktivitas: a) Mengenal bagian depan dan belakang sebuah buku. b) Mengikuti tulisan dari kiri ke kanan, atas ke bawah pada sebuah buku. c) Membedakan makna tulisan dan gambar di ruang kelas, rumah, dan lingkungan sekitar. d) Mengikuti tulisan saat dibacakan dengan keras. e) Membedakan antara huruf dan kata. f) Mengetahui bahwa kalimat tersusun dari kata-kata yang terpisah. g) Memahami bahwa cetakan dan tulisan tangan membawa pesan tertentu dengan mengenal label, tanda, dan bentuk tertulis lainnya. h) Mengembangkan pengertian akan fungsi dan bentuk-bentuk tulisan seperti daftar, label, dan tanda. 2) Anak mengenal aturan bahasa verbal/berbicara dan mendengar, dalam hal ini anak mendengarkan untuk mendapat informasi dan kesenangan, juga mengungkapkan gagasan, termasuk melatih kemampuan anak untuk berbagi cerita, dan mengemukakan pendapat secara verbal yang meliputi aktivitas: a) Mendengarkan cerita yang dibacakan dengan keras. b) Mendengarkan dan mengikuti petunjuk verbal. c) Berbagi informasi mengenai cerita, karya seni, dan peristiwa. d) Ikut berpartisipasi dalam diskusi dan percakapan. e) Menceritakan kembali atau membacakan puisi, sajak, dan lagu sederhana. 3) Anak menunjukkan kemampuan untuk mengaplikasikan suara pada simbol abjad yang meliputi aktivitas: a) Mengenal huruf alfabet, khususnya huruf-huruf dalam nama mereka. b) Mengenali nama mereka dalam bentuk tulisan. c) Mengenal bunyi yang tepat dalam huruf tertentu. 4) Anak memiliki pemahaman fonologis/fonemis, dalam hal ini anak memiliki kemampuan untuk mendengar, mengenal, dan mengubah satuan bunyi terkecil (fonem) dalam ucapan, dan bagian-bagian besar dari bahasa ucap, seperti; suku kata, rima, kata dan bunyi awal yang meliputi aktivitas: a) Membedakan fonem-fonem secara terpisah dalam bahasa ucap (misal bunyi pertama dari kata ”paku” adalah /p/). b) Mengenal kata yang dimulai dan diakhiri dengan bunyi yang sama (semisal kata ”susu”, ”sabun”, ”sapi”, kesemuanya diawali huruf yang sama yaitu /s/). c) Mendengar, mengenal, dan membuat rima secara verbal. d) Mendengar, menghitung, dan mengolah suku kata dalam bahasa ucap.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 195 e) Membedakan bunyi akhir dalam kata-kata sederhana. f) Menyatukan fonem-fonem untuk mengucapkan kata (/a/ /y/ /a/ /m/= ayam). g) Memisahkan fonem-fonem dari kata-kata sederhana (”buku” = /bu/ /u/ /k/ /u/). 5) Anak memiliki kemampuan mengembangkan dan memperluas pengetahuan tentang kata-kata dan makna kata. Meliputi aktivitas: a) Meningkatkan kemampuan mendengar dan mengucapkan kosa kata. b) Mengerti kosa kata yang menunjukkan posisi dan arah. c) Mengaitkan pengalaman dan kata baru dengan pengetahuan yang sudah ada. d) Menggunakan kata-kata baru dan bahasa secara tertulis dan menuliskan kembali berdasarkan pengalaman yang didapat. 6) Anak mengenali makna dan pengertian dari kata-kata lisan dan tertulis. Meliputi aktivitas: a) Menggunakan kecakapan prabaca untuk mengembangkan pemahaman. b) Menceritakan kembali, memperagakan, atau mendramatisasi cerita-rangkaian kejadian, atau peristiwa yang sudah dikenal. c) Menarik makna dari gambar. d) Menjawab pertanyaan mengenai cerita atau kejadian. 7) Anak mengenali proses menulis, seperti; menggunakan tulisan, mendiktekan tulisan, menggambarkan atau mengungkapkan perasaan lewat tulisan yang meliputi: a) Membangun pengertian bahwa tulisan dan gambar dapat digunakan sebagai alat komunikasi. b) Mampu mengunakan simbol dan gambar serta huruf untuk menulis nama ataupun kata lain. c) Mampu mengunakan huruf dan bunyi huruf untuk menulis dan mengeja kata-kata secara sederhana. d) Menjiplak, menyalin, dan menuliskan huruf abjad, nama atau kata-kata. 8) Anak mulai membaca, dalam hal ini anak mengenali kata dalam teks secara tepat. Meliputi aktivitas: a) Mampu mengenal dan membaca nama mereka masing-masing. b) Membaca secara sederhana teks yang sudah dikenal. c) Mengenal kata-kata dasar yang sudah sering dipakai. d) Membaca kalimat sederhana (Mueller, 2005: 12-14). Asumsi teoritik lain yang juga mendukung pembelajaran membaca awal dengan teknik POS adalah Model Tematik dari Fredericks, Meinbach dan Rothlein (1993). Teori pembelajaran membaca awal yang disusun ini mengkombinasikan beberapa literatur bacaan anak dengan tema tertentu sebagai upaya untuk memperluas konsep atau tema yang ditetapkan. Selanjutnya, tema tersebut diorganisir secara baik dalam sebuah strategi pembelajaran membaca. Setiap unit tematik bersifat multidisiplin dan multidimensi, tidak ada batasan untuk anak, sebab tujuannya adalah memberi kesempatan pada anak untuk memperlihatkan minat, kemampuan, dan kebutuhan mereka serta menghormati hak-hak anak untuk tumbuh secara serasi. Pendekatan tematik pembelajaran membaca menawarkan suatu sikap realistis dalam pembelajaran bahasa sehingga anak dapat memanfaatkan sejumlah konteks dan beragam jenis bacaan yang mereka

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 196 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 minati sesuai tema yang telah dipilih. Semua komponen materi pembelajaran pada modeltematik dintegrasikan ke dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan. Beberapa langkah yang perlu direncanakan dalammemilih tema agar model pembelajaran tematik dapat berjalan baik menurut Meinbach dan Rothlein harus memperhatikan hal-hal berikut (1) Isu topik aktual yang ada di sekitar anak yang sekiranya akan menarik perhatian, (b) Permasalahan bahwa keterkaitan tema-tema dengan permasalahan secara aplikatif bersifat universal, (c) Peristiwa khusus bahwa keterkaitan tema dipilih dengan peristiwa khusus di sekitar anak seperti hari libur atau hari besar nasional, (d) Tema yang dipilih sesuai minat dan perhatian anak dapat menyangkut hobi atau kegemaran mereka,dan (e) Minat yang terkait dengan karya sastra yang menarik dapat dipilih, atau buku-buku yang terkait seperti legenda dan sebagainya (Fredericks, Meinbach. & Rothlein, 1993: 9). Selanjutnya untuk mengorganisasi tema menurut Meinbach dan Rothlein, paling tidak dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: (1) Jaringan tema adalah kerangka yang mengkaitkan dan memadukan aspek-aspek materi kegiatan pembelajaran dengan tema. (2) Jaringan buku yaitu pengembangan kegiatan pembelajaran yang bertolak dari buku atau bacaan yang telah diseleksi untuk kegiatan pembelajaran (Fredericks, Meinbach. & Rothlein, 1993: 11). Tujuan model pembelajaran tematik adalah memberi pengalaman yang luas untuk ‘bergaul langsung’ dengan berbagai jenis dan tipe bahan atau sumber belajar. Bahan dan sumber belajar yang diperlukan dapat didiskusikan dengan anak, bahkan pengadaannya pun dapat disiapkan oleh guru bersama anak. Beberapa sumber belajar yang dapat digunakan adalah: (1) Bahan cetakan seperti surat kabar, majalah, jurnal, pamflet, catatan pesan, pemandu perjalanan, surat, peta, iklan, brosur, ensiklopedi, kamus, buklet, katalog. (2) Bahan audio-visual, seperti video, kaset, software computer, slide programs, film, cd-rooms, overhead proyector, (3) Artefak, seperti catut, pisau, pembuka pintu, kerekan kecil, pembuka kaleng, penjepit, lensa pembesar, peniti/lencana, gambar gunung, kostum atau busana tradisional (Fredericks, Meinbach. & Rothlein, 1993: 20). Berbagai aktivitas pembelajaran dan kegiatan di atas harus dirancang secara sadar dan sengaja, agar ada kejelasan tujuan dan dampak belajar yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Berdasarkan alasan yang jelas itulah kegiatan belajar disusun atau dipadukan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mendesain atau merancang aktivitas pembelajaran, yaitu: (1) Mengintegrasikan seluruh aspek materi pembelajaran bahasa seperti; membaca, menulis, berbicara, dan menyimak. (2) Memiliki keterkaitan dengan dunia nyata atau kenyataan; (3) Mempertimbangkan gagasan atau usulan para siswa; (4) Memperhatikan pengetahuan/keterampilan yang telah dimiliki para siswa dengan kenyataan yang akan mereka pelajari; (5) Memungkinkan siswa memperoleh informasi dan pengetahuan sehingga mereka dapat melakukan aktivitas produktif terkait dengan apa yang mereka pelajari; (6) Memberi kesempatan siswa secara penuh untuk melakukan aktivitas produktif yang memungkinkan mereka menghasilkan suatu karya, dan bukan hanya sebagai kegiatan yang bersifat mengisi waktu; (7) Memiliki kejelasan bagaimana aktivitas tersebut dilakukan, individual, kelompok, di dalam atau di luar kelas, serta jangka waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan berbagai aktivitas tersebut, semisal satu jam, satu hari, atau satu minggu; (8) Menantang dan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 197 memotivasi siswa tanpa mengabaikan kurikulum; (9) Mempunyai keterkaitan dengan tema yang telah ditetapkan (Fredericks, Meinbach. & Rothlein, 1993: 23). Model pembelajaran tematik memerlukan evaluasi untuk melihat bagaimana keadaan siswa selama proses pembelajaran terjadi dan kemudian mengetahui hasil belajar yang telah dicapai siswa. Alat evaluasi yang dapat digunakan dapat berupa tes ataupun nontes, observasi, dan panduan wawancara (Fredericks, Meinbach. & Rothlein, 1993: 23-24). Teori lain yang juga digunakan untuk melandasi rancangan pembelajaran membaca model POS adalah teori Psikologi Eksperimental yang dikemukakan oleh psikolog Jerman Herman Ebbinghaus (1850-1909) tentang memori manusia. Teori ini menyatakan bahwa dalam diri manusia ada dua macam memori yaitu: memori yang hidup singkat (short-term-memory) dan memori jangka panjang (long-term memory). Memori jangka panjang (long-term memory) dapat bertahan dari waktu harian, bulanan, tahunan, bahkan dapat menjadi memori seumur hidup (Soenjono Dardjowidjojo, 2005: 274). Teori ini menyatakan bahwa memori dibentuk dan dipakai berdasarkan tiga tahapan, yaitu: (a) input, bahwa seseorang akan menerima masukan (input) baik yang berupa lisan atau tulisan dan memberikan interpretasi atas masukan itu agar dapat memahami maknanya; (b) depository, yang akan disimpan dalam sebuah memori adalah maknanya dan bukan kata-katanya; dan (c) output, akan dinyatakan kembali sesuai dengan makna yang dipahaminya dan bukan berdasarkan seluruh kata yang ditangkap (Clark dan Clark, 1977: 134-136). Teori berikutnya adalah dari Penfield dan Roberts (1959:228-230) yang menyebutkan bahwa memori itu dibedakan atas: (a) memori pengalaman (experience memory); yaitu memori yang terkait dengan hal-ikhwal masa lalu, bahwa makin bermakna pengalaman maka makin lama suatu memori itu akan disimpan dan diingat (b) memori konseptual (conceptual memory) adalah memori yang digunakan untuk membangun suatu konsep berdasarkan fakta-fakta yang masuk dan (c) memori kata (word memory) adalah memori yang mengaitkan konsep dengan wujud bunyi dari konsep tersebut. Berdasarkan beberapa teori yang telah diuraikan tersebut maka secara ringkas dapat dinyatakan bahwa model POS adalah model pembelajaran membaca awal dengan teknik pelabelan terhadap objek yang berada di sekitar anak. Objek dapat berupa benda maupun tiruannya yang berupa gambar atau foto. Materi pembelajaran membaca mempertimbangkan aspek-aspek perkembangan lingkungan yang terjadi baik lingkungan budaya, sosial, maupun religiusitas yang melatarbelakangi kehidupan anak. Model POS juga merupakan teknik pembelajaran membaca yang mengemas pembelajaran dengan nuansa menyenangkan dalam bentuk permainan. Tema pembelajaran diambil dari sekitar kehidupan anak yang bersifat konkret dan familier sehingga mudah diterima anak. 2. Prosedur Pembelajaran Membaca dengan Teknik POS Langkah awal yang harus dijalankan terkait dengan implementasi pembelajaran membaca dengan teknik POS adalah sebagai berikut. a. Prinsip-prinsip Penyajian 1) Materi pembelajaran mengambil objek dari sekitar anak yang sudah dikenal. 2) Materi pembelajaran dipilih dari objek sekitar, disampaikan dengan cara pelabelan, atau objek yang telah memiliki “label”, seperti kemasan kue, pasta gigi, minuman, dan sebagainya.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 198 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 3) Pemilihan materi dimulai dari pengenalan kata benda (benda-benda), baru diikuti kata lain seperti kata kerja (perbuatan, peristiwa), kata sifat (keadaan), dan kata bilangan. 4) Materi pembelajaran diberikan dengan sistem tubian dan dapat dilaksanakan di sekolah maupun di rumah. 5) Menciptakan suasana yang menunjang untuk mempercepat tercapainya tujuan belajar membaca permulaan dengan pelabelan benda atau gambar di sekitar anak baik di sekolah maupun di rumah. 6) Bimbingan dilaksanakan secara terus menerus, di sekolah dilakukan guru dan di rumah dilakukan oleh orang tua. 7) Pembelajaran berpusat pada anak dan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut : a) Penyajian menyenangkan dan dapat dilakukan dengan permainan. b) Penyajian dengan peraga atau gambar-gambar tiruanya, terutama hal-hal yang menjadi perhatian anak seperti binatang kesukaannya, nama benda-benda mainan, nama kerabat dekat, nama makanan, nama minuman, dan sebagainya. c) Tema bahan ajar yang dipilih menunjang tercapainya tujuan pembelajaran bahasa yang ditetapkan dalam kurikulum. 8) Pada tahap awal, tulisan dibuat dengan jelas dan menarik agar dapat merangsang saraf motorik halus anak. Tulisan dibuat warna-warni, ditulis besar-besar (tinggi 2 cm) dan secara bertahap dikurangi. 9) Evaluasi dilakukan sebelum beralih pada bahan atau materi pembelajaran pada tahap berikutnya. b. Langkah-Langkah Pembelajaran Langkah-langkah pembelajaran membaca dengan teknik POS dirancang secara prosedural yang dituangkan dalam RKH (Rencana Kegiatan Harian) dengan kegiatan pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). 1) Pembelajaran yang Aktif Dalam proses pembelajaran, guru harus dapat menciptakan suasana kondusif yang memungkinkan siswa berperan aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Untuk mengaktifkan anak dalam pembelajaran guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menarik atau menantang, berbagi cerita, mengajak anak-anak bernyanyi bersama-sama, memberikan umpan balik kepada anak-anak hingga menanyakan gagasan-gagasan anak. Anak dipancing untuk berani bertanya, menyampaikan pendapat atau gagasannya hingga mempertanyakan pendapat atau gagasan orang lain. Pembelajaran merupakan proses aktif yang melibatkan anak dalam memahami berbagai informasi, pengalaman dan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, dalam pembelajaran guru dituntut mampu menciptakan suasana yang memungkinkan anak-anak berperan aktif dalam memahami pengetahuan,

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 199 memperoleh ruang untuk mengembangkan keterampilan dan sikap positifnya. Untuk mengaktifkan anak agar terkondisi atau siap memasuki pembelajaran di antaranya dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: a) Berbagi cerita: guru dapat mengawali cerita yang berkaitan dengan tema pembelajaran atau guru dapat menanyakan kepada anak-anak apa yang dikerjakan setelah bangun tidur, bepergian ke rumah nenek, berwisata dan sebagainya. b) Tanya-jawab: guru menanyakan sesuatu yang telah dikenal sehubungan dengan tema yang disajikan. Tanya-jawab dapat dilakukan secara klasikal maupun individual. c) Menyanyi bersama: pilihan lagu seyogyanya berhubungan dengan tema pembelajaran. Misalnya pembelajaran dengan tema diri sendiri, sub tema anggota tubuh, guru dapat mengajak anak-anak menyanyi lagu ”Dua Mata Saya”. 2) Kreatif Dalam proses pembelajaran, guru hendaknya mampu menciptakan kegiatan pembelajaran yang beragam atau bervariasi sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan anak. Guru dituntut mampu mengembangkan berbagai kegiatan sehingga kejemuan dapat dihindarkan. Oleh karena itu, guru juga dituntut untuk mengadakan dan menciptakan media pembelajaran yang menunjang pemahaman anak terhadap materi pembelajaran. Melalui pembelajaran yang kreatif diharapkan mampu merangsang kemampuan anak berpikir kritis dan memecahkan berbagai masalah yang dihadapi. Pembelajaran merupakan proses pengembangan kreativitas anak atas dasar potensi dan kemampuan masing-masing anak. Dengan kegiatan-kegiatan yang menarik akan membangkitkan rasa keingintahuan anak dan mampu memotivasi anak berpikir kritis. Dengan demikian pembelajaran menempatkan posisi anak sebagai subjek, bukan sebagai objek. Untuk menunjang pengembangan kreativitas anak secara maksimal, implementasi model pembelajaran membaca dengan teknik POS ini menyarankan kepada guru pada setiap pembelajaran hal-hal sebagai berikut: a) Menyiapkan alat peraga yang berupa gambar-gambar sesuai tema pembelajaran. b) Menyiapkan kartu huruf, kartu suku kata, dan kartu kata. c) Menyiapkan lembar kerja. d) Merancang pembelajaran dalam bentuk permainan. 3) Efektif Pembelajaran dikatakan efektif jika pembelajaran dapat mencapai tujuan yang ditetapkan. Dengan kata lain,

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 200 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 menghasilkan apa yang harus dikuasai anak setelah proses pembelajaran berlangsung, baik yang berupa pengetahuan, keterampilan maupun sikap positif anak. Kompetensi baru yang diperoleh setelah pembelajaran dapat diketahui melalui penilaian. Efektivitas pembelajaran di antaranya dapat dilakukan melalui: a) Pengulangan materi pembelajaran yang diikuti dengan bentuk-bentuk penugasan melalui tanya jawab, unjuk kerja, dan sebagainya. b) Mengerjakan tugas dengan lembar kerja yang telah dipersiapkan. Tugas dapat bersifat individual maupun kelompok. 4) Menyenangkan Jika nuansa pembelajaran menyenangkan, suasana pembelajaran berlangsung baik, enak, terasa tidak membebani anak atau membelenggu, sehingga anak memusatkan perhatiannya secara penuh selama pembelajaran. Keadaan yang menyenangkan akan memotivasi anak untuk berani mencoba, bertanya dan berpendapat, mereka tidak merasa takut salah atau ditertawakan anak-anak lainnya. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran agar diusahakan : a) Berlangsung alami tidak terlalu membebani anak-anak. b) Pembelajaran dikemas melalui permainan. Penerapan PAKEM dalam pembelajaran sejalan dengan PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 19 ayat (1) ”Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”. Di samping itu secara tegas dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 40 ayat (2) disebutkan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis. Lebih lanjut dalam Pedoman Pembelajaran di Taman Kanak-kanak (Depdiknas, 2005: 7) dijelaskan bahwa Kegiatan Pembelajaran di TK menggunakan PAKEM yaitu pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Oleh karena itu, guru hendaknya mampu menciptakan kegiatan-kegiatan yang menarik, yang membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berpikir kritis, dan kreatif dalam suasana yang menyenangkan. c. Penilaian Penilaian adalah alat yang digunakan untuk melihat kinerja semua komponen yang terkait dengan proses pembelajaran. Hasil yang diharapkan dari penilaian adalah untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan pada awal proses pembelajaran dapat dicapai, faktor-

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 201 faktor yang tidak tercapai dan apa yang menjadi penghambatnya. Akhirnya hasil dari penilaian akan digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran demi tercapainya tujuan yang diharapkan secara lebih optimal. Penilaian yang dirancang untuk mengukur kesiapan anak-anak belajar membaca disebut tes kesiapan membaca. Tes kesiapan membaca menekankan keterampilan yang perlu untuk tingkat membaca usia dini. Keterampilan ini mencakup perbendaharaan kata, menderetkan atau mencocokkan kata-kata, mencocokkan gambar, huruf, atau kata secara visual, atau menyebut nama huruf-huruf dan membaca kata (Seefeldt dan Wasik, 2006: 324). Di samping itu, penilaian pembelajaran membaca di TK dapat dilaksanakan dengan metode penilaian sejati. Menurut Meisels (dalam Seefeldt dan W asik, 2006: 237) penilaian sejati adalah penilaian yang dihubungkan dengan kegiatan atau program yang berkesinambungan dan dikaitkan dengan kurikulum. Metode sejati juga memberikan gagasan yang jelas bagi guru tentang pertumbuhan, pembelajaran, dan perkembangan anak. Metode sejati mencakup (a) pengamatan, (b) daftar cek dan skala pemeringkatan, (c) wawancara terstruktur, (d) contoh-contoh kerja dan porto folio, dan (e) evaluasi diri. Pengamatan dilaksanakan dengan mencermati perkembangan dan kemajuan pembelajaran membaca melalui format pengamatan berkesinambungan. Pengamatan yang lebih terstruktur dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek dan skala pemeringkatan. Wawancara digunakan untuk mengetahui seberapa konsistensi jawaban anak, seberapa akurat jawaban anak, seberapa benar jawaban itu, apakah jawaban anak jelas, penalarannya jelas, logis dan dapat diterima. Portofolio adalah kumpulan karya anak-anak yang menggambarkan usaha, kemajuan, dan prestasi mereka. Jika portofolio digunakan sebagai alat untuk menilai, dianjurkan menggunakan pendekatan terstruktur (Seefeldt dan Wasik, 2006 ). Penilaian diri dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang telah mereka pelajari, pelajaran kesukaannya, apa yang dirasa paling sulit dan sebagainya. Jawaban mereka digunakan guru untuk merencanakan pembelajaran selanjutnya dan bahan masukan kepada orangtua siswa. SIMPULAN DAN SARAN Sekalipun di pasaran banyak beredar buku Pembelajaran Membaca-Menulis, tetapi belum dibarengi dengan metode pembelajarannya. Pelaksanaan pembelajaran di lapangan bergantung pemahaman dan penafsiran masing-masing guru karena tidak dilengkapi dengan prosedur baku dan metode pembelajarannya. Kehadiran buku Pembelajaran Membaca-Menulis yang dilengkapi dengan metode pembelajarannya seperti buku Belajar Membaca-Menulis dengan teknik POS sangat diperlukan. Dari segi guru, kehadiran buku Belajar Membaca-Menulis yang diikuti metode pembelajarannya, sangat membantu dalam melaksanakan tugasnya. Dari segi orangtua, dapat menggunakan buku tersebut untuk membimbing anak belajar membaca di rumah. Dari segi anak, buku Belajar Membaca-Menulis menarik minat anak karena disajikan melalui permainan dan disajikan dengan gambar-gambar yang menarik. Membaca merupakan proses yang rumit yang melibatkan aktivitas auditif dan visual untuk memahami makna dari simbol tertulis

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 202 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 yang berupa huruf dan kata. Membaca permulaan menekankan pemahaman hubungan antara huruf dan bunyi dengan mengubah simbol-simbol tertulis berupa huruf dan bunyi dengan mengubah simbol-simbol tertulis berupa huruf atau kata menjadi sistem bunyi bahasa. Hal tersebut memerlukan latihan rutin dan terpola dengan model pembelajaran yang mudah dilaksanakan dan efektif mencapai tujuan. Ujicoba telah membuktikan bahwa model pembelajaran membaca dengan teknik POS efektif mencapai tujuan pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA Alderson, J.C. 2000. Assessing Reading. Cambridge: Cambridge University Press. Anstey, Michele & Bull, Geoff. 1996. The Literacy Labyrinth: Sydney: Prentice Hall Australia Pty Ltd. Brody, B.A., Kinney, H. C., et al. 1987. ”Sequence of Central Nervous System Velination in Human Infancy I” An Autopsy Study Myelination. Journal of Neuropathology and Experimental Neurology. Crowley. S.J. dan Mountain, L. 1995. Strategies for Guiding Content Reading. Boston: Allyn and Bacon. Eisele, A. Julie., dan Dorothy M. Aram. 2000. “Lexical and Grammatical Development in Children with Early Hemisphere Damage: a Cross-sectional View from Birth to Adolescence” dalam Paul Fletcher dan Brian MacW hinney. The Handbook of Child Language. Cambridge-Massachusetts: Blackwell Publisher Inc. Finn, P.J. 1985. Helping Children Learn to Read. New York: Random House Inc. Fisher, B. 1998. Joyful Learning in Kidergarten. New York: Rnadom House, Inc. Joko Nurkamto. 2001. ”Berbahasa dalam Budaya Konteks Rendah dan Budaya Konteks Tinggi” Makalah Kongres Linguistik Nasional IX di TMII-Jakarta 28-31 Juli. 2001 Owens, JR., Robert., E. 1992. Language Development an Introduction. New York: Macmillan Publishing Company. Ramsburg, D. 1998. Understanding Literacy Development in Young Children. Paren News Archives April 1998. http//npin.org/p news/1998/ pnew4986.html. diunduh Desember 2007. Seefeldt, Carol dan Barbara A. Wasik. 2006. Early Education: Three-, Four-, and Five- Year- Olds Go to School. Pearson Education, Inc. Upper Saddle River, New Jersey Soenjono Dardjowidjojo. 2000. Echa Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia. Jakarta: Grasindo. Uhlenbeck, E.;M. 1978. Studies In Javanese Morphology. The Hague: Martinus Nijhoff. Whitehuest,G.J.& Lonigan, C.J. 1998. Child Development. New York: Mc. Graw-Hill Book Co.Inc.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 203 MENGENAL SISWA MELALUI PERKEMBANGAN BAHASANYA Tri Astuti Rahayu1,* 1SD Negeri 1 Katekan Ngadirejo Temanggung *Keperluan korespondensi: mbaktutik54tn@gmail.com ABSTRAK Perkembangan bahasa merupakan kemampuan khas manusia yang paling kompleks dan mengagumkan. Kemampuan berbahasa anak tidak diperoleh secara tiba-tiba atau sekaligus, tetapi bertahap. Kemajuan berbahasa mereka berjalan seiring dengan perkembangan fisik, mental, intelektual, dan sosialnya. Perkembangan bahasa anak ditandai oleh keseimbangan dinamis atau suatu rangkaian kesatuan yang bergerak dari bunyi-bunyi atau ucapan yang sederhana menuju tuturan yang lebih kompleks. Perkembangan bahasa anak dimuali dari meraban, kalimat satu kata, dua kata, tata bahasa dan kompetensi lengakap dan pada akhirnya anak akan memperoleh bahasa. Pemerolehan bahasa adalah proses-proses yang berlaku di dalam otak seorang anak ketika memperoleh bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa anak pun bertahap dan beragam dan berpengaruh terhadap perkembangan kognitif anak dan dipengaruhi factor biologis,lingkungan social, dan intelegensi. Kata kunci: anak,perkembangan, bahasa PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain dibutuhkan sarana yaitu bahasa. Berkomunikasi di mana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan, ataupun isyarat. Melalui bahasa inilah manusia dapat mengenali dirinya, lingkungan, juga pengetahuan. Bahasa merupakan salah satu alat dalam perkembangan kognitif. Konsep-konsep permasalahan yang dikaji akan lebih mudah dimengerti dengan bantuan bahasa. Kemampuan berbahasalah yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Sejak lahir manusia dibekali warisan biologis berupa kemampuan berkomunikasi yang dimulai dengan bahasa ibu. Pada anak, pemerolehan bahasa merupakan proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal. Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi dari pada bentuk bahasanya. Vygotsky dalam Rifa’I (2011:35) menyatakan bahwa anak menggunakan bahasa bukan hanya untuk berkomunikasi saja, tetapi juga untuk merencanakan dan memonitor perilaku mereka dengan caranya sendiri. Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak anak-anak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang anak-anak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua. 2. Identifikasi Masalah dan Perumusan Masalah a. Identifikasi Masalah Dari uraian latar belakang di atas, maka identifikasi masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Perkembangan bahasa pada anak 2. Tahap –tahap perkembangan bahasa 3. Pemerolehan bahasa pada anak b. Perumusan masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut di atas, diajukan rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana perkembangan bahasa pada anak ?

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 204 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 2. Bagaimana tahap-tahap perkembangan bahasa pada anak ? 3. Bagaimana pemerolehan bahasa dalam perkembangan bahasa pada anak ? 3. Studi Kepustakaan Bahasa adalah sarana komunikasi yang penting bagi manusia. Melalui bahasa, seseorang dapat menyampaikan ide atau gagasan kepada orang lain. Menurut Tarigan (1986: 2) bahwa keterampilan berbahasa sangat penting dimiliki oleh setiap manusia karena bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang dalam berbahasa, maka semakin jelas pula jalan pikiran orang tersebut. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia dituntut untuk mempunyai kemampuan berbahasa yang baik. Seseorang yang mempunyai kemampuan berbahasa yang memadai akan lebih mudah menyerap dan menyampaikan informasi baik secara lisan maupun tulisan. a. Perkembangan Bahasa Perkembangan bahasa dalam psikolinguistik diartikan sebagai proses untuk memperoleh bahasa, menyusun tatabahasa dari ucapan- ucapan, memilih ukuran tatabahasa yang paling tepat dan paling sederhana dari bahasa tersebut. (Tarigan,1986: 243). Proses perkembanhgan bahasa dapat dijelaskan melalui dua pendekatan, yaitu (1) navistik atau organismic innatences hypothesis, dan (2) empiristik atau behaviorist hypothesis. b. Tahap – tahap Perkembangan Bahasa 1) Tahap Pralinguistik 2) Tahap Halofrastik 3) Tahap Kalimat Dua Kata 4) Tahap Perkembangan Tata Bahasa 5) Tahap Perkembangan Tata Bahasa menjelang Dewasa 6) Tahap Kompetensi Lengkap c. Pemerolehan Bahasa Pemerolehan bahasa adalah proses-proses yang berlaku di dalam otak seorang anak ketika memperoleh bahasa ibunya. Proses-proses ketika anak sedang memperoleh bahasa ibunya terdiri atas dua aspek. Pertama, aspek performance yang terdiri atas aspek-aspek pemahaman dan pelahiran. Kedua, aspek kompetensi yang meliputi proses-proses pemahaman dengan melibatkan kemampuan mengamati atau kemampuan mempersepsikan kalimat-kalimat yang didengar. Sedangkan proses pelahiran melibatkan kemampuan melahirkan atau mengucapkan kalimat-kalimat sendiri. Kedua kemampuan ini apabila telah betul-betul dikuasai seorang anak akan menjadikan kemampuan linguistiknya berkembang dengan baik. Berdasarkan pengamatan dan kajian para ahli bahasa dapat disimpulkan bahwa manusia telah dilengkapi sesuatu yang khusus dan secara alamiah untuk dapat berbahasa dengan cepat dan mudah. Chomsky dalam Faisal (2010) menyebutkan LAD (language acquisition device) yang intinya bahwa setiap anak telah memiliki LAD yang dibawa sejak lahir. Sistem pikiran yang terdapat pada anak-anak dibangun sedikit demi sedikit apabila ada rangsangan dunia sekitarnya sebagai masukan atau input (yaitu apa yang dilihat anak, didengar, dan yang disentuh yang menggambarkan benda, peristiwa, dan keadaan sekitar anak yang mereka alami). Lama kelamaan pikirannya akan terbentuk dengan sempurna. Setelah itu sistem bahasanya lengkap dengan perbendaharaan kata dan tata bahasanya pun terbentuk. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Perkembangan Bahasa Perkembangan bahasa merupakan kemampuan khas manusia yang paling kompleks dan mengagumkan.Kemampuan berbahasa anak tidak diperoleh secara tiba-tiba atau sekaligus, tetapi bertahap.Kemajuan berbahasa mereka berjalan seiring dengan perkembangan fisik, mental, intelektual, dan sosialnya. Perkembangan bahasa anak ditandai oleh keseimbangan dinamis atau

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 205 suatu rangkaian kesatuan yang bergerak dari bunyi-bunyi atau ucapan yang sederhana menuju tuturan yang lebih kompleks. Masa bayi atau balita (di bawah lima tahun) adalah masa yang paling signifikan dalam kehidupan manusia. Seorang bayi dari hari ke hari akan mengalami perkembangan bahasa dan kemampuan bicara, namun tentunya tiap anak tidak sama persis pencapaiannya, ada yang cepat berbicara ada pula yang membutuhkan waktu agak lama. Untuk membantu perkembangannya, ibu dapat membantu memberikan stimulasi yang disesuaikan dengan keunikan masing-masing anak. Sejalan dengan perkembangan kemampuan serta kematangan jasmani terutama yang bertalian dengan proses bicara, komunikasi tersebut makin meningkat dan meluas. Terdapat perbedaan antara pengertian bahasa dan berbicara. Bahasa mencakup segala bentuk komunikasi, baik yang diutarakan dalam bentuk lisan, tulisan, bahasa isyarat, bahasa gerak tubuh, ekspresi wajah pantomim atau seni. Sedangkan bicara adalah bahasa lisan yang merupakan bentuk yang paling efektif untuk berkomunikasi, dan paling penting serta paling banyak dipergunakan. Perkembangan bahasa tersebut selalu meningkat sesuai dengan meningkatnya usia anak. Orang tua sebaiknya selalu memperhatikan perkembangan tersebut, sebab pada masa ini, sangat menentukan proses belajar. Hal ini dapat dilakukan dengan memberi contoh yang baik, memberikan motivasi pada anak untuk belajar dan sebagainya. 2. Tahap-tahap Perkembangan Bahasa Perkembangan bahasa pada anak sangatlah bertahap yang di bagi dalam beberapa tahap. Tahapan perkembangan bahasa anak ( Achmad Rifa’I dan Chaterina,2011; 37) dapat dibagi atas: a. Tahap Pralingustik atau Meraban (0 – 12 bulan) Tahapan ini merupakan permulaan perkembangan bahasa. Pada tahap ini anak mengeluarkan bunyi ujaran dalam bentuk ocean yang mempunyai fungsi komunikatif,anak mengeluarkan bunyi ujaran sebagai reaksi terhadap orang lain. Sebelum mampu mengucapkan suatu kata, bayi mulai memperoleh bahasa ketika berumur kurang dari satu tahun.Namun pada tahap ini, bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan anak belumlah bermakna.Bunyi-bunyi itu berupa vokal atau konsonan tertentu tetapi tidak mengacu pada kata atau makna tertentu. Untuk itulah sehingga perkembangan bahasa anak pada masa ini disebut tahap pralinguistik (Tarigan, 1988; Tarigan dkk., 1998; Ellies dkk.,1989). Bahkan pada awalnya, bayi hanya mampu mengeluarkan suara yaitu tangisan.Pada umumnya orang mengatakan bahwa bila bayi yang baru lahir menangis, menandakan bahwa bayi tersebut merasa lapar, takut, atau bosan.Sebenarnya tidak hanya itu saja terjadi. Para peneliti perkembangan mengatakan bahwa lingkungan memberikan mereka halangan tentang apa yang dirasakan oleh bayi, bahkan tangisan itu sudah mempunyai nilai komunikatif. Bayi yang berusia 4 – 7 bulan biasanya sudah mulai mengahasilkan banyak suara baru yang menyebabkan masa ini disebut masa ekspansi (Dworetzky, 1990). Suara-suara baru itu meliputi: bisikan, menggeram, dan memekik. Setelah memasuki usia 7 – 12 bulan, ocehan bayi meningkat pesat dikenal dengan masa connical. b. Tahap Halofrasik atau Kalimat Satu-Kata (1 – 1,8 tahun ) Pada usia satu tahun anak mulai mengucapkan kata-katanya pertama. Satu kata yang diucapkan anak harus dipandang satu kalimat penuh, mencakup aspek psikologis (intelektual,emosional), dan visional,untuk menyatakan mau tidaknya terhadap sesuatu. Pada masa ini, anak sudah mulai belajar menggunakan satu kata yang memiliki arti yang mewakili keseluruhan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 206 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 idenya.Satu-kata mewakili satu atau bahkan lebih frase atau kalimat.Kata-kata pertama yang lazim diucapkan berhubungan dengan objek-objeknyata atau perbuatan.Kata-kata yang sering diucapkan orang tua sewaktu mengajak bayinya berbicara berpotensi lebih besar menjadi kata pertama yang diucapkan si bayi. Memahami makna kata yang diucapkan anak pada masa ini tidaklah mudah.Untuk menafsirkan maksud tuturan anak harus diperhatikan aktivitas anak itu dan unsur-unsur non-linguistik lainnya seperti gerak isyarat, ekspresi,dan benda yang ditunjuk si anak.Mengapa begitu?Menurut Tarigan dkk, (1998)ada dua penyebab, yaitu sebagai berikut. Pertama, bahasa anak masih terbatas sehingga belum memungkinkan mengekspresikan ide atau perasaannya secara lengkap. Keterbatasan berbahasanya diganti dengan ekspresi muka, gerak tubuh, atau unsur-unsur nonverbal lainnya. Kedua, apa yang diucapkan anak adalah sesuatu yang paling menarik perhatiannya saja. Sehingga, tanpa mengerti konteks ucapan anak, kita akan kesulitan untuk memahami maksud tuturannya. Walaupun memahami makna kata yang diucapkan anak pada masa ini tidaklah mudah, tetapi komunikasi aktif dengan si anak sangat penting dilakukan. Untuk dapat berbicara, anak perlu mengetahui perbendaharaan katayang akan disimpan di otaknya dan ini bisa didapat ketika orang tua mengajak bicara. Selain itu, yang perlu diperhatikan dalam menghadapi anak yang memasuki usia ini adalah“jangan memakai bahasa bayi untuk anak-anak, melainkan dengan orang dewasa.” Maksudnya, ucapkanlah dengan bahasa yang seharusnya di dengar sehingga si anak juga terpacu untuk berkomunikasi dengan baik. c. Tahap Kalimat Dua Kata (1,8 – 2 tahun ) Pada tahapan ini, anak mulai lebih banyak kemungkinan untuk menyatakan maksud dan berkomunikasi dengan menggunakan kalimat dua kata,dengan dua holofrase yang dirangkai cepat. Kata-kata yang diucapkan ketika masih tahap satu kata dikombinasikan dalam ucapan-ucapan pendek tanpa kata penunjuk, kata depan, atau bentuk-bentuk lain yang seharusnya digunakan. Pada tahap dua kata ini anak mulai mengenal berbagai makna kata tetapi belum dapat menggunakan bentuk bahasa yang menunjukkan jumlah, jenis kelamin, dan waktu terjadinya peristiwa. Selain itu, anak belum dapat menggunkan pronomina saya, aku, kamu, dia, mereka, dan sebaginya. d. Tahap Perkembangan Tata Bahasa (2 – 5 tahun) Pada tahapan ini, anak mulai mengembangkan sejumlah sarana tata bahasa, panjang kalimat bertambah, ucapan-ucapan yang dihasilkan semakin kompleks,dan mulai menggunakan kata jamak dan tugas. Penambahan dan pengayaan terhadap jumlah dan tipe kata secara berangsur-angsur meningkat sejalan dengan kemajuan dalam kematangan perkembangan anak. Pada saat anak mencapai usia 3 tahun, anak semakin kaya dengan perbendaharaan kosakata. Mereka sudah mulai mampu membuat kalimat pertanyaan, penyataan negatif, kalimat majemuk, dan berbagai bentuk kalimat. Terkait dengan itu, Tompkins dan Hoskisson dalam Tarigan dkk. (1998) menyatakan bahwa pada usia 3 – 4 tahun, tuturan anak mulai lebih panjang dan tatabahasanya lebih teratur. Dia tidak lagi menggunakan hanya dua kata, tetapi tiga atau lebih. Pada umur 5 – 6 tahun, bahasa anak telah menyerupai bahasa orang dewasa.Sebagian besar aturan gramatika telah dikuasainya dan pola bahasa serta panjang tuturannya semakin bervariasi. Anak telah mampu menggunakan bahasa

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 207 dalam berbagai cara untuk berbagai keperluan, termasuk bercanda atau menghibur. e. Tahap Perkembangan Tata Bahasa menjelang Dewasa ( 5 – 10 Tahun ) Pada tahap ini anak mulai mengembangkan struktur tata bahasa yang lebih rumit melibatkan gabungan kalimat sederana dengan komplementasi, relativasi,dan konjungsi ( Tarigan,1986:267 ). Perbaikan dan penghalusan yang dilakukan oleh anak-anak pada periode ini mencakup belajar mengenai berbagai pengecualian diri keteraturan-keteraturan tata bahasa dan fonologi dalam bahasa terkait. f. Perkembangan Kompetensi Lengkap ( 11 tahun sampai dewasa ) Pada masa akhir kanak-kanak perbendaharaan kata terus meningkat, gaya bahasa seseorang mengalami perubahan,dan seseorang semakin lancar dan fasih dalam berkomunikasi dengan bahasa. Keterampilan dan performansi tata bahasa terus berkembang kea rah tercapainya kompetensi berbahasa secara lengkap sebagai kmpetensi komunikasi. Jeanne Ellis Ormrod dalam Psikologi Pendidikan jilid 2, membagi perkembangan bahasa sebagai berikut: a. Perkembangan kosakata Satu perubahan nyata dalam bahasa anak-anak semasa tahun-tahun sekolah adalah peningkatan kosakata. Anak-anak mempelajari beberapa kata melalui pengajaran kosakata langsung di sekolah. Perkembangan siswa mengenai makna kata (semantic) tidaklah bersifat mutlak. Seiring dengan berkembangnya usia,pengalaman, dan pengajaran yang diterima, para siswa terus memperbaiki pemahaman mereka terhadap kata-kata. Selain itu banyak definisi yang awalnya konkret menjadi semakin abstrak. Dalam batas-batas tertentu,kita tentunya harus menyesuaikan materi pengajaran dan bahan bacaan dengan kosakata siswa. Meski demikian, kita didak membatasi pengajaran hanya pada kata-kata yang telah diketahui siswa.Salah satu cara mendorong perkembangan semantika siswa adalah dengan mengajarkan kosakata-kosakata baru beserta definisinya secara langsung. b. Perkembangan Sintaksis Aturan-aturan sintaksis memungkinkan kita meletakkan berbagai kata sekaligus menjadi kalimat-kalimat yang memiliki tata bahasa yang tepat. Aturan-aturan sintaksis sangatlah rumit,namun dalam sebagian besar kasus kita tidak menyadari adanya aturan-aturan tersebut. (Chomsky, N.C.Ellis dalam Psikologi Pendidikan, Jeenne Ellis Ormord ). c. Perkembangan Kemampuan Mendengarkan Kemampuan siswa memahami apa yang didengar dipengaruhi oleh pengetahuan mereka mengenai kosakata dan sintaksis, namun factor-faktor lain juga berpengaruh. Anak-anak pada masa awal SD menganggap diri sebagai pendengar yang baik jika mereka telah duduk diam tanpa menginterupsi guru. Baru pada usia 11 tahun anak memahami bahwa mendengar dengan baik melibatkan pemahaman terhadap apa yang dikatakan. ( Mc Devitt,Sheehan,Lennon,& Story 1990 dalam Psikologi Pendidikan, Jeenne Ellis Ormord ). d. Perkembangan Keterampilan Komunikasi Lisan Selama masa taman kanak-kanak dan awal sekolah dasar, banyak anak mengalami kesulitan melafalkan bunyi-bunyi tertentu seperti r dan ny.Saat berusia 8-9 tahun, sebagian besar siswa telah menguasai bunyi-bunyi bahasa ibu.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 208 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Sebuah komponen komunikasi yang efektif adalah pragmatika, yakni konvensi-konvensi social yang mengarahkan interaksi lisan yang tepat dengan orang lain. e. Perkembangan Kesadaran Metalinguistik Kesadaran metalinguistik adalah kemampuan memikirkan hakikat bahasa itu sendiri. Sepanjang masa-masa sekolah, siswa bermain dengan bahasa. Hal ini membantu siswa memahami kata-kata dan frase-frase yang seringkali memiliki lebih dari satu makna. Kesadaran metlinguistik berkembang dengan lambat seiring berlalunya waktu. Seiring dengan perkembangan bahasa, berkembang pula penguasaan anak-anak atas sistem bahasa yang dipelajarinya. Sistem bahasa itu terdiri atas subsistem, yaitu: fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatic. a. Perkembangan Fonologis Sebelum masuk SD, anak telah menguasai sejumlah fonem/bunyi bahasa, tetapi masih ada beberapa fonem yang masih sulit diucapkan dengan tepat. Menurut W oolfolk (1990) sekitar 10 % anak umur 8 tahun masih mempunyai masalah dengan bunyi s, z, v. Hasil penelitian Budiasih dan Zuhdi (1997) menunjukkan bahwa anak kelas dua dan tiga melakukan kesalahan pengucapan f, sy, dan ks diucapkan p, s, k. Terkait dengan itu, Tompkins (1995) juga menyatakan bahwa ada sejumlah bunyi bahasa yang belum diperoleh anak sampai menginjak usia kelas awal SD, khususnya bunyi tengah dan akhir, misalnya v, zh, sh,ch. Bahkan pada umur 7 atau 8 tahun anak masih membuat bunyi pengganti pada bunyi konsonan kluster. Kaitannya dengan anak SD di Indonesia diduga pun mengalami kesulitan dalam pengucapan r, z, v, f, kh, sh, sy, x, dan bunyi kluster misalnya str, pr, pada kata struktur dan pragmatik. b. Perkembangan Morfologis Afiksasi bahasa Indonesia merupakan salah aspek morfologi yang kompleks. Hal ini terjadi karena satu kata dapat berubah makna karena proses afiksasinya (prefiks, sufiks, simulfiks) berubah-ubah. Zuhdi dan Budiasih (1997) menyatakan bahwa anak-anak mempelajari morfem mula-mula bersifat hapalan. Hal ini kemudian diikuti dengan membuat simpulan secara kasar tentang bentuk dan makna morfem. Akhirnya anak membentuk kaidah. Proses yang rumit ini dimulai pada priode prasekolah dan terus berlangsung sampai pada masa adolesen. c. Perkembangan Sintaksis Brown dan Harlon (dalam Nurhadi dan Roekhan, 1990) berkesimpulan bahwa kalimat awal anak adalah kalimat sederhana, aktif, afirmatif, dan berorientasi berita. Setelah itu, anak baru menguasai kalimat tanya, dan ingkar. Berikutnya kalimat anak mulai diwarnai dengan kalimat elips, baik pada kalimat berita, tanya, maupun ingkar. Sedangkan menurut hasil pengamatan Brown dan Bellugi terhadap percakapan anak, memberi kesimpulan bahwa ada tiga macam cara yang biasa ditempuh dalam mengembangkan kalimat, yaitu: pengembangan, pengurangan, dan peniruan. Dilihat dari segi frase, menurut Budiasih dan Zuchdi (1997) bahwa frase verba lebih sulit dikuasai oleh anak SD dibanding dengan frase nomina dan frase lainnya. Kesulitan ini mungkin berkaitan dengan perbedaan bentuk kata kerja yang menyatakan arti berbeda. Misalnya ditulis, menuliskan, ditulisi, dan seterusnya. Dari segi pola kalimat lengkap, anak kelas awal cenderung menggunakan struktur sederhana bila berbicara. Mereka sudah mampu memahami bentuk yang lengkap namun belum dapat memahamai bentuk kompleks seperti kalimat pasif (W ood dalam Crown, 1992). Menurut Emingran siswa kelas atas SD menggunakan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 209 struktur yang lebih kompleks dalam menulis daripada dalam berbicara (Tompkins, 1989). d. Perkembangan Semantik Selama periode usia sekolah dan dewasa, ada dua jenis penambahan makna kata. Secara horisontal, anak semakin mampu memahami dan dapat menggunakan suatu kata dengan nuansa makna yang agak berbeda secara tepat. Penambahan vertikal berupa penambahan jumlah kata yang dapat dipahami dan digunakan dengan tepat (Owens dalam Budiasih dan Zuchdi, 1997). Menurut Lindfors, perkembangan semantik berlangsung dengan sangat pesat di SD. Kosa kata anak bertambah sekitar 3000 kata per tahun (Tompkins,1989). Kemampuan anak kelas rendah SD dalam mendefinisikan kata meningkat dengan dua cara. Pertama, secara konseptual yakni dari definisi berdasar pengalaman individu ke makna yang bersifat sosial atau makna yang dibentukbersama. Kedua, anak bergerak secara sintaksis dari definisi kata-kata lepas kekalimat yang menyatakan hubungan kompleks (Owens, 1992). Menurut Budiasih dan Zuchdi (1997), anak usia SD sudah mampu mengembangkan bahasa figuratif yang memungkinkan penggunaan bahasa secara kreatif. Bahasa figuratif menggunakan kata secara imajinatif, tidak secara literal atau makna sebenarnya untuk menciptakan kesan emosional. Yang termasuk bahasa figuratif adalah (a) ungkapan, (b)metafora, (c) kiasan, (d) pribahasa. e. Perkembangan Pragmatik Perkembangan pragmatik atau penggunaan bahasa merupakan hal paling penting dibanding perkembangan aspek bahasa lainnya pada usia SD. Hal inipada usia prasekolah anak belum dilatih menggunakan bahasa secara akurat, sistematis, dan menarik. Berbicara tentang pragmatik ada 7 faktor penentu yang perlu dipahami anak (1) kepada siapa berbicara (2) untuk tujuan apa, (3) dalam konteks apa, (4) dalam situasi apa, (5) dengan jalur apa, (6) melalui media apa, (7) dalam peristiwa apa (Tarigan, 1990). Ke-7 faktor penentu komunikasi tersebut berkaitan erat dengan fungsi (penggunaan) bahasa yang dikemukakan olehM.A.K Halliday: instrumental, regulator, interaksional, personal, imajinatif, heuristik, dan informatif. 3. Pemerolehan Bahasa Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Pemerolehan bahasa pertama terjadi bila anak yang sejak semula tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa anak, anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk bahasanya. Pemerolehan bahasa anak-anak dapat dikatakan mempunyai ciri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit. Pemerolehan bahasa pertama (B1) sangat erat hubungannya dengan perkembangan kognitif. Jika anak dapat menghasilkan ucapan-ucapan yang berdasar pada tata bahasa yang teratur rapi, tidaklah secara otomatis mengimplikasikan bahwa anak telah menguasai bahasa yang bersangkutan dengan baik. Persyaratan-persyaratan kognitif terhadap penguasaan bahasa lebih banyak dituntut pada pemerolehan bahasa kedua (PB2) daripada dalam pemerolehan bahasa pertama (PB1). Manusia memiliki warisan biologi yang sudah dibawa sejak lahir berupa kesanggupannya untuk berkomunikasi dengan bahasa khusus manusia dan itu tidak ada hubungannya dengan kecerdasan atau pemikiran. Kemampuan berbahasa hanya sedikit korelasinya terhadap IQ manusia . Kemampuan berbahasa anak yang normal sama dengan anak-anak yang cacat. Kemampuan berbahasa sangat erat

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 210 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 hubungannya dengan bagian-bagian anatomi dan fisiologi manusia, seperti bagian otak tertentu yang mendasari bahasa. Tingkat perkembangan bahasa anak sama bagi semua anak normal; semua anak dapat dikatakan mengikuti pola perkembangan bahasa yang sama, yaitu lebih dahulu menguasai prinsip-prinsip pembagian dan pola persepsi. Kekurangan hanya sedikit saja yang dapat melambangkan perkembangan bahasa anak. Bahasa tidak dapat diajarkan pada makhluk lain. Bahasa bersifat universal, pemerolehan bahasa pertama erat kaitannya dengan permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial, dan kognitif pralinguistik. Perkembangan pemerolehan bahasa anak dapat dibagi atas tiga bagian penting yaitu (a) perkembangan prasekolah (b) perkembangan ujaran kombinatori, dan (c) perkembangan masa sekolah. Perkembangan pemerolehan bahasa pertama anak pada masa prasekolah dapat dibagi lagi atas perkembangan pralinguistik, tahap satu kata dan ujaran kombinasi permulaan. Perkembangan pralinguistik ditandai oleh adanya pertukaran giliran antara orang tua khususnya ibu dengan anak. Pada masa perkembangan pralinguistik anak mengembangkan konsep dirinya. Ia berusaha membedakan dirinya dengan subjek, dirinya dengan orang lain serta hubungan dengan objek dan tindakan pada tahap satu kata anak terus-menerus berupaya mengumpulkan nama benda-benda dan orang yang ia jumpai. Kata-kata yang pertama diperolehnya tahap ini lazimnya adalah kata yang menyatakan perbuatan, kata sosialisasi, kata yang menyatakan tempat, dan kata yang menyatakan pemerian. Pada masa tahap 2 ada tiga sarana ekspresif yang dipakai oleh anak-anak, yang dapat membuat kalimat-kalimat mereka menjadi lebih panjang yaitu kemunculan morfem-morfem gramatikal secara inklusif dalam ujaran anak, pengertian atau penyambungan bersama-sama hubungan dua hal tersebut, dan perluasan istilah dalam suatu hubungan/relasi. Perkembangan pemerolehan bunyi anak-anak bergerak dari membuat bunyi menuju ke arah membuat pengertian. Periode pembuatan pembedaan atas dua bunyi dapat dikenali selama tahun pertama yaitu (1) periode vokalisasi dan prameraban serta (2) periode meraban. Anak lazimnya membuat pembedaan bunyi perseptual yang penting selama periode ini, misalnya membedakan antara bunyi yang berekspresi marah dengan yang bersikap bersahabat, antara suara anak-anak dengan orang dewasa, dan intonasi yang beragam. Anak-anak mengenali makna-makna berdasarkan persepsi mereka sendiri terhadap bunyi kata-kata yang didengarnya. Anak-anak menukar atau mengganti ucapan mereka sendiri dari waktu ke waktu menuju ucapan orang dewasa, dan apabila anak-anak mulai menghasilkan segmen bunyi tertentu, hal itu menjadi perbendaharaan mereka. Perkembangan ujaran kombinatori anak-anak dapat dibagi dalam empat bagian yaitu perkembangan negatif/ penyangkalan, perkembangan interogratif/ pertanyaan, perkembangan penggabungan kalimat, dan perkembangan sistem bunyi. Ada tiga tipe struktur interogatif yang utama untuk mengemukakan persyaratan, yaitu pertanyaan yang menuntut jawaban ya atau tidak, pertanyaan yang menuntut informasi, dan pertanyaan yang menuntut jawaban salah satu dari yang berlawanan (polar). 4. Ragam Pemerolehan Bahasa Anak Ragam atau jenis pemerolehan bahasa anak menurut Tarigan (1988) dapat ditinjau dari berbagai sudut pandangan, antara lain: a. berdasarkan bentuk Ditinjau dari segi bentuk, dikenal ragam: 1) pemerolehan bahasa pertama, 2) pemerolehan bahasa kedua, 3) pemerolehan-ulang. b. berdasarkan urutan Ditinjau dari segi urutan, dikenal ragam: 1) pemerolehan bahasa pertama 2) pemerolehan bahasa kedua c. berdasarkan jumlah

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 211 Ditinjau dari segi jumlah, dikenal ragam: 1) pemerolehan satu bahasa 2) pemerolehan dua bahasa. d. berdasarkan media Ditinjau dari segi media, dikenal ragam: 1) pemerolehan bahasa lisan 2) pemerolehan bahasa tulis e. berdasarkan keaslian Ditinjau dari segi keaslian atau keasingan, dikenal ragam: 1) pemerolehan bahasa asli 2) pemerolehan bahasa asing 5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemerolehan Bahasa Anak Ada dua persyaratan dasar yang memungkinkan anak dapat memperoleh kemampuan berbahasa, yaitu potensi faktor biologis yang dimiliki sang anak, serta dukungan sosial yang diperolehnya. Selain itu, ada beberapa faktor penunjang yang merupakan penjabaran dari kedua hal di atas yang dapat mempengaruhi tingkat kemampuan bahasa yang diperoleh anak. Faktor-faktor yang dimaksud adalah sebagai berikut: a. faktor biologis; b. faktor lingkungan sosial; dan c. faktor intelegensi. SIMPULAN DAN SARAN Perkembangan bahasa pada anak sangat penting karena dengan bahasa sebagai dasar kemampuan seorang anak akan dapat meningkatkan kemampuan-kemampuan yang lain. Perkembangan bahasa merupakan kemampuan khas manusia yang paling kompleks dan mengagumkan. Kemampuan berbahasa anak tidak diperoleh secara tiba-tiba atau sekaligus, tetapi bertahap. Perkembangan bahasa anak dimuali dari meraban, kalimat satu kata,dua kata, tata bahasa dan kompetensi lengkap dan pada akhirnya anak akan memperoleh bahasa. Pemerolehan bahasa adalah proses yang digunakan oleh anak-anak dalam memiliki kemampuan berbahasa, baik berupa pemahaman atau pun pengungkapan, yang berlangsung secara alami, dalam situasi formal, spontan, dan terjadi dalam konteks berbahasa yang bermakna bagi anak. Ragam pemerolehan bahasa anak dapat ditinjau dari berbagai sudut pandangan. Bagi seorang guru/orang tua sebaiknya lebih memperhatikan anak-anak usia dini didalam berbicara dengan baik, karena berbicara yang baik untuk diajari kepada anak sangatlah susah didalam menyebutkan kosa kata/pengucapan dengan sempurna kepada anak didalam perkembangan bicara. Pendidik perlu menerapkan ide-ide yang dimilikinya untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak, memberikan contoh penggunaan bahasa dengan benar, menstimulasi perkembangan bahasa anak dengan berkomunikasi secara aktif. Anak terus perlu dilatih untuk berpikir dan menyelesaikan masalah melalui bahasa yang dimilikinya. Kegiatan nyata yang diperkuat dengan komunikasi akan terus meningkatkan kemampuan bahasa anak. Lebih daripada itu, anak harus ditempatkan di posisi yang terutama, sebagai pusat pembelajaran yang perlu dikembangkan potensinya. DAFTAR PUSTAKA Ellis Ormrod,Jeanne. 2009. Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang Jilid 1. Jakarta : Erlangga _______________. 2009. Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang Jilid 2. Jakarta : Erlangga Rifa’i, Achmad dan Catharina. 2011. Psikologi Pendidikan. Semarang: Universitas Negeri Semarang Press. Tarigan dkk., Henry Guntur. 1988. Pengajaran Pemerolehan Bahasa. Bandung: Angkasa. Tarigan dkk., Djago dkk. 1998. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Depdikbud. Zuchdi, Darmiati dan Budiasih. 1997. Pendidikan Bahasa dan Sastra

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 212 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Depdikbud.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 213 PENYULIHAN DALAM NOVEL “EMPRIT ABUNTUT BEDHUG” KARYA SUPARTO BRATA Bayu Indrayanto1 1PBSD FKIP UNWIDHA KLATEN ABSTRAK This research is a descriptive qualitative research attempting at describing : the position and constituent duration between substituted aspect and substitutor of “Emprit Abuntut Bedhug” novel written by Suparto Brata. The research data are Javanesse narrative discourse which its substitution aspect located in the discource former sentences. The data obtained from the written source–series novels of Detective Handaka EAB written by Suparto Brata. Conclusion is the substitution of EAB novel is mostly substituted constituent standing as either anaphoric or even cataphoric or both. Mean while, the duration between the constituent and the substituted aspect with the substitutor constituent are sometimes narrows and remote. Its narrow and remote duration between substitutor and substituted aspect can be viewed in the sentences of one paragraph, among sentences in one paragraph, and sentences of the paragraphs. Key Words: Substitution,substituted constituent, substitutor PENDAHULUAN Penelitian tentang bahasa Jawa dari beberapa aspek sudah banyak dilakukan. Namun, sejauh pengamatan penulis, penelitian bahasa Jawa dari aspek wacana masih jarang dilakukan. Penelitian wacana berbahasa Jawa yang khusus membahas sebuah novel sedikit sekali intensitasnya. Oleh karena itu, penulis mengangkat topik penelitian wacana naratif berbahasa Jawa yang datanya diambil secara khusus dari sebuah novel berjudul ”Emprit Abuntut Bedhug” (untuk selanjutnya disingkat EAB) karya Suparto Brata (Narasi, 2007). Novel EAB diambil sebagai sumber data penelitian karena novel tersebut merupakan novel yang apik. Keapikan novel EAB didukung oleh adanya penghargaan yang diberikan kepada pengarang novel itu. Penghargaan itu diberikan oleh Menteri Pendidikan Nasional Indonesia dan dipilih menerima hadiah The S.E.A Write Award dari Kerajaan Thailand. Nama pengarang Suparto Brata juga sudah tercatat di buku Five Thousand Personalities of the World 1998 yang diterbikan oleh The American Biographical Institute, Raleight, North Carolina 27622 USA. Selain itu, cerita novel EAB sangat terkenal di tahun 1960-1990-an dikalangan sastrawan Jawa modern. Novel ini merupakan cerita berseri detektip Handaka yang muncul pada tahun 1963. Di samping merupakan novel yang apik, novel EAB dipandang merupakan novel yang dapat mewakili pemakaian bahasa Jawa pada saat ini. Telaah penyulihan di sini merupakan salah satu telaah kohesi. Dalam penelitian ini peneliti memusatkan pada kohesi yang mengacu pada unsur tersulih dan unsur penyulih. Sebagai diskripsi awal, ikhwal yang dikaji di sini dikemukakan contoh data (1) sebagai berikut. (1) Jarot kelingan dina iki malem Jumat, surup-surup malem Jumat. Bubar nglengek nyeritakake jam banjur saya sengka anggone mancal sepedhane. Dheweke ora gelem kecekel pulisi maneh mung merga bengi-bengi numpak sepedha tanpa lampu. Miturut wong gedhe dhuwur kuwi pengalaman ndhek sepisan winginane kae pancen gawe kapok. Durung cetha apa sebabe, grobyag ! Sepedhane ambruk, dheweke wis krungkep ning dalan. “Jarot teringat hari ini malam Jumat, senja-senja malam Jumat. Selesai menoleh sana-sini menceritakan jam selanjutnya semakin kuat mengayun sepedanya. Ia tidak mau tertangkap oleh polisi lagi karena cuma malam-malam menaiki sepeda tanpa lampu. Menurut orang yang tinggi besar itu pengalaman yang pertama kemarin itu memang membuat jera. Belum jelas apa

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 214 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 sebabnya, (grobyag !) Sepedanya jatuh, ia sudah jatuh menghadap ke jalan.’(EAB/SB/2007/15)” Kepaduan antara kalimat data (1) tersebut disebabkan oleh adanya kohesi penyulihan yang unsur penggantinya berupa pronomina persona, yaitu dheweke ‘ia’ dan wong gedhe dhuwur kuwi ‘orang yang tinggi besar itu’. Satuan lingual dheweke ‘ia’dan sepedhane ‘sepedanya, ’serta satuan lingual wong gedhe dhuwur kuwi ‘orang yang tinggi besar itu’ menggantikan Jarot. Sehingga, konstituen Jarot merupakan konstituen tersulih. Selanjutnya, konstituen dheweke, serta wong gedhe dhuwur kuwi merupakan konstituen penyulih. Contoh wacana di atas menunjukkan adanya penyulihan. Perlu dipertanyakan bagaimana bentuk penyulihan. Konstruksi kalimat pembentuk wacana tulis bahasa Jawa yang bagaimana dapat mengalami penyulihan. Setelah ditemukan adanya konstituen penyulihan itu, apakah mempunyai fungsi di dalam pembentukan wacana yang kohesif dan koheren. Selanjutnya, bagaimana posisi dan jarak antara konstituen yang mengalami penyulihan itu. Permasalahan yang muncul penulis anggap sangat penting dikaji karena diharapkan dengan temuan-temuan ini akan didapatkan seperangkat pola-pola ilmiah berupa kaidah tata bahasa Jawa khususnya kaidah penyulihan. Namun, dalam makalah ini hanya membatasi pada permasalahan posisi dan jarak antara konstituen yang mengalami penyulihan dalam novel EAB karya Suparto Brata. Kajian Teori 1. Penyulihan Kohesi substitusi atau disebut penggantian atau penyulihan(Ramlan, 1984 : 9). Penyulihan ialah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa penggantian satuan lingual tertentu (yang telah disebut) dengan satuan lingual lain dalam wacana untuk memperoleh unsur pembeda (Sumarlam, 2003 : 28). Menurut Ebah Suhebah (1996 : 18) penyulihan adalah penggantian suatu bentuk dengan bentuk lain yang mempunyai referen yang sama dengan bentuk yang digantikannya sehingga menjadikan suatu tuturan menjadi kohesif (padu). Penyulihan terlibat dua unsur, yaitu konstituen tersulih dan konstituen penyulih. Konstituen tersulih yaitu konstituen yang digantikan oleh konstituen lain, sedangkan konstituen penyulih merupakan konstituen yang menggantikan konstituen lain dalam rangka memelihara kekohesian suatu wacana (Ebah Suhebah, 1996 : 18). Berdasarkan kategori sintaksis unsur penggantinya, penyulihan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (1) penyulihan pronomina persona dan (2) penyulihan pronomina nonpersona. a. Penyulihan Pronomina Persona Penyulihan pronomina persona (kata ganti orang) yang berfungsi sebagai penanda kohesi penyulihan adalah pronomina persona ketika, yaitu dheweke ‘ia, dia, mereka’ yang dapat bermakna ‘tunggal’ (menggantikan orang yang berjumlah satu) ataupun ‘jamak’ (menggantikan lebih dari satu orang) (Sumadi, 1998 : 14). Untuk kejelasannya perhatikan alinea di bawah ini. (2) Sersan Parta manthuk-manthuk. Dheweke ngerti lan bisa nampa apa sing dadi katrangane Inspektur Indra. Dheweke uga wis ngerti menyang ngendi keplase Jarot. “Sersan Parta mengangguk-angguk. Ia mengerti dan bisa menerima apa yang menjadi keterangan Inspektur Indra. Ia juga sudah mengerti kemana perginya Jarot.’(EAB/SB/2007/29)” Alinea (2) tersebut terdiri atas tiga kalimat. Kalimat-kalimat itu adalah sebagai berikut. (2a) Sersan Parta manthuk-manthuk : “Sersan Parta mengangguk-angguk.” (2b) Dheweke ngerti lan bisa nampa apa sing dadi katrangane Inspektur Indra : ‘Ia mengerti dan bisa menerima apa yang menjadi keterangan Inspektur Indra.’

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 215 (2c) Dheweke uga wis ngerti menyang ngendi keplase Jarot : ‘Ia juga sudah mengerti kemana perginya Jarot.’ Kepaduan antara kalimat (2a), (2b), dan (2c) tersebut disebabkan oleh adanya kohesi substitusi yang unsur penggantinya berupa pronomina persona, yaitu dheweke ‘ia’pada alinea (2) di atas bermakna ‘tunggal’. Kata dheweke ‘ia’ pada kalimat (2b) dan (2c) merupakan konstituen penyulih menggantikan Sersan Parta yang disebut pada kalimat (2a) sebagai konstituen tersulih. Data (2) konstituen tersulih dan konstituen menempati fungsi sintaktik sebagai S. (3) Bareng ilang Hyang Bagaskara ing burining gunung, Andy lan Hardono wis rampung anggone nyuleti lampu. Dheweke banjur padha adus ing belik secedhaking omahe : ‘Bersamaan hilangnya matahari di belakang gunung, Andy dan Hardono sudah selesai menyalakan lampu.Mereka lalu mandi di perigi di dekan rumahnya.’(EAB/SB/2007/15) Alinea (3) tersebut terdiri atas dua kalimat. Kalimat-kalimat itu adalah sebagai berikut. (3a) Bareng ilang Hyang Bagaskara ing burining gunung, Andy lan Hardono wis rampung anggone nyuleti lampu : ‘Bersamaan hilangnya matahari di belakang gunung, Andy dan Hardono sudah selesai menyalakan lampu.’ (3b) Dheweke banjur padha adus ing belik secedhaking omahe : ‘Mereka lalu mandi di perigi di dekan rumahnya.’ Kata dheweke ‘mereka’ dan enklitik {-e} ‘nya’ yang melekat pada kata omahe ‘rumahnya’ pada pada kalimat (3b) merupakan konstituen penyulih menggantikan AndylanHardono yang bermakna ‘jamak’ sebagai konstituen tersulih. AndylanHardono pada kalimat (3a) menempati fungsi sintaktik sebagai S, dheweke ‘mereka’ pada kalimat (3b) menempati fungsi sintaktik sebagai S, dan enklitik {-e} ‘nya’ yang melekat pada kata omahe ‘rumahnya’ pada pada kalimat (3b) menempati fungsi sintaktik sebagai Ket. b. Penyulihan Pronomina Nonpersona Penyulihan pronomina nonpersona adalah penyulihan yang unsur penggantinya berupa selain pronomina persona atau kata ganti orang (Sumadi, 1998 : 14). Unsur pengganti itu berupa pronomina demonstratif (kata ganti penunjuk), yaitu iku ‘itu’ ; pronomina lokatif (kata ganti tempat) yaitu kono ‘situ’. (4) Jarwadi tak sawang terus ing tengahing gunuruhe swara radio kang tetrambulan karo swara udan. Nanging sing ketok sekli sarta klebu ati mung udude. Panggah wae dheweke nyerot lan ngetokake peluke. Iku nganti tekan parak esuk : ‘Jarwadi selalu saya pandang ditengah gemuruh suara radio yang bersamaan dengan suara hujan. Akan tetapi, yang kelihatan indah serta menarik hati hanya cara merokoknya. Terus-menerus ia menghisap dan mengeluarkan asapnya. Itu sampai menjelang pagi.’ Kohesi penyulihan yang menyebabkan kepaduan antara kalimat-kalimat pembentuk alinea (4) diatas berupa pronomina demonstratif dengan penanda kata iku yang menggantikan klausa nyerot lan ngetokake peluke ‘menghisap dan mengeluarkan asapnya’. c. Penyulihan Nominal Penyulihan nominal adalah penggantian satuan lingual yang berkategori nomina (kata benda) dengan satuan lingual lain yang juga berkategori nomina (Sumarlam, 2003 : 28).Misalnya kata derajat, tingkat diganti dengan pangkat, kata gelar diganti dengan titel. (5) Agus sekarang sudah berhasil mendapatkan gelar Sarjana Sastra. Titel kesarjanaannya itu akan digunakan untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 216 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 (6) Hanya saja, jangan sampai lupa : derajat yang sudah kita peroleh sekarang ini sedapat mungkin bawalah sebagai bekal untuk meraih tingkat yang lebih tinggi. Pilihlah sekolah yang murid-muridnya sudah menjadi berpangkat. d. Penyulihan Verbal Penyulihan verbal adalah penggantian satuan lingual yang berkategori verba (kata kerja) dengan satuan lingual lainnya yang juga berkategori verbaSumarlam, 2008 : 29). Misalnya kata mengarang digantikan dengan kata berkarya pada contoh berikut ini. (7) Wisnu mempunyai hobi mengarang cerita pendek. Dia berkarya sejak masih di bangku sekolah menengah pertama. e. Penyulihan Frasal Penyulihan frasal adalah penggantian satuan lingual tertentu yang berupa kata atau frasa dengan satuan lingual lainnya yang berupa frasa (Sumarlam, 2008 : 29). Penyulihan frasal ini misalnya tampak pada contoh berikut. (8) Maksud hati mau menengok orang tua. Mumpung hari Minggu, senyampang hari libur. f. Penyulihan Klausal Penyulihan klausal adalah penggantian satuan lingual tertentu yang berupa klausal atau kalimat dengan satuan lingual lainnya yang berupa kata atau frasaSumarlam, 2008 : 30). Penyulihan klausal ini misalnya tampak pada contoh berikut. (9)A : “Jika perubahan yang dialami oleh Anang tidak bisa diterima dengan baik oleh orang-orang disekitarnya ; mungkin hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa orang-orang itu banyak yang tidak sukses seperti Anang”. B : “Tampaknya memang begitu”. Posisi dan Jarak Konstituen Antara Unsur Tersulih dan Penyulih dalam Novel EAB Karya Suparto Brata Ada dua macam letak posisi konstituen tersulih.Pertama, konstituen tersulih berada di sebelah kiri konstituen penyulih atau disebut lebih dahulu (anaforis).Kedua, konstituen tersulih berada di sebelah kanan konstituen penyulih atau disebut kemudian (kataforis).Jarak konstituen tersulih dan penyulih ada yang dekat jaraknya dan ada pula yang jauh jaraknya.Jauh dekatnya jarak antara unsur penyulih dan unsur tersulih dapat dilihat dalam kalimat dalam satu paragraf, antar kalimat dalam satu paragraf, dan kalimat antar paragraf.Perhatikan kutipan data yang berupa posisi dan jarak antara konstituen tersulih dan penyulih dalam novel EAB karya Suparto Brata sebagai berikut. (10) Mesthi wae aku tepung karo Dhik Erawati iki. Rong minggu lawase dheweke nginep ana ngomahku, dakkandhani kowe! La kowe, apane? wangsulanewong bagus iki tumantang. Apa?! Edan apa!? pambengokeibu Guru Klambi biru kang disebut jeneng Erawati ngeget. Ssttt, Jeng! Aja gawe rebut! panyegahewong kuru. Ora nantang maneh.Sareh. Leres, kok, Mas Handaka.Menika tiyang ingkang ngetutaken kula kala wingi. Kala wingi rasukanipun lorek-lorek abrit! Sing ngomong ngono iku nom-noman gothot pideksa. Wong iku mara-mara uga muncul ana sandhinge wong bagus mau : ‘Jelas saja aku kenal dengan Dik Erawati ini. Dua minggu lamanya dia menginap di rumahku, kuberitahu kamu! La kamu, apanya? jawab oarng tampan ini menantang. Apa?! Gila apa!? teriaknya ibu Guru baju biru yang disebut dengan nama Erawati terkejut. Ssttt, Non! jangan bikin rebut! cegah orang kurus. Tidak menantang lagi.Sabar. Betul, kok, Mas Handaka.Itu orang yang mengikuti saya kemarin. Kemarin bajunya lurik merah! Yang bicara seperti itu pemuda gagah.Orang itu tiba-tiba juga muncul di dekat orang tampan tadi.’ (EAB/SB/2007/59)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 217 Data (10) tersebut terdiri atas delapankalimat.Kalimat-kalimat itu adalah sebagai berikut. (10a) Mesthi wae aku tepung karo Dhik Erawati iki : ‘Jelas saja aku kenal dengan Dik Erawati ini.’ (10b) Rong minggu lawase dheweke nginep ana ngomahku, dakkandhani kowe! La kowe, apane? wangsulanewong bagus iki tumantang. Apa?! Edan apa!? pambengokeibu Guru Klambi biru kang disebut jeneng Erawati ngeget. Ssttt, Jeng! ‘Aja gawe rebut! panyegahewong kuru : ‘Dua minggu lamanya dia menginap di rumahku, kuberitahu kamu! La kamu, apanya? jawab oarng tampan ini menantang. Apa?! Gila apa!? teriaknya ibu Guru baju biru yang disebut dengan nama Erawati terkejut. Ssttt, Non! jangan bikin rebut! cegah orang kurus.’ (10c) Ora nantang maneh : ‘Tidak menantang lagi.’ (10d) Sareh : ‘Sabar.’ (10e) Leres, kok, Mas Handaka : ‘Betul, kok, Mas Handaka.’ (10f) Menika tiyang ingkang ngetutaken kula kala wingi : ‘Itu orang yang mengikuti saya kemarin.’ (10g) Kala wingi rasukanipun lorek-lorek abrit! Sing ngomong ngono iku nom-noman gothot pideksa : ‘Kemarin bajunya lurik merah!Yang bicara seperti itu pemuda gagah.’ (10h) Wong iku mara-mara uga muncul ana sandhinge wong bagusmau : ‘Orang itu tiba-tiba juga muncul di dekat orang tampan tadi.’ Data (10) terbagi atas dua paragraf, paragraf pertama terdiri atas empat kalimat yaitu (10a), (10b), (10c), dan (10d), paragraf yang kedua terdiri atas empat kalimat yaitu (10e), (10f), (10g), dan (10h). Konstituen penyulih yang berupa pronomina persona I tunggal bebas aku ‘saya’ pada kalimat (10a) yang berjarak satu kalimat dalam satu paragraf dan enklitik –ku pada kalimat (10b) berjarak dalam satu kalimat, mengacu pada konstituen tersulih yang berposisi di sebelah kanannya yaitu wong bagus ‘orang tampan’ pada kalimat (10b). Selain diacu oleh konstituen yang berada di sebelah kirinya, konstituen wong bagus ‘orang tampan’ diacu pula oleh konstituen penyulih di sebelah kanan yaitu wong bagus mau ‘orang tampan tadi’ pada kalimat (10h) berjarak lima kalimat dengan paragraf selanjutnya. Dengan demikian, konstituen tersulih tersebut bersifat anaforis dan kataforis karena konstituen penyulihnya ada di sebelah kiri dan kanan konstituen tersulihnya. Konstituen penyulih yang berupa pronomina persona III tunggal bebas dheweke ‘ia’pada kalimat (10b) yang berjarak satu kalimat dalam satu paragraf dan ibu guru klambi biru ‘ibu guru berbaju biru’ pada kalimat (10b) yang berjarak satu kalimat dalam satu paragraf, mengacu pada konstituen tersulih yang berposisi di sebelah kirinya yaitu Dhik Erawati pada kalimat (10a). Konstituen tersulih Dhik Erawati bersifat anaforis, karena konstituen penyulihnya ada di sebelah kanan konstituen tersulihnya. Berbeda dengan konstituen penyulih yang berupa frasa wong kuru ‘orang kurus’ pada kalimat (10b) berjarak tiga kalimat dengan paragraf selanjutnya dan pronomina II tunggal bebas kowe ‘kamu’ pada kalimat (10b) berjarak tiga kalimat dengan paragraf selanjutnya, mengacu pada konstituen tersulih yang berposisi di sebelah kanan yaitu Mas Handaka pada kalimat (10e). Dengan demikian, konstituen tersulih tersebut bersifat kataforis karena konstituen penyulihnya ada di sebelah kiri konstituen tersulihnya. Konstituen penyulih yang berupa frasa nominal wong iku ‘orang itu’ pada kalimat (10h) berjarak satu kalimat dalam satu paragraf, mengacu pada konstituen tersulih yang berposisi di sebelah kiri yaitu nom-noman gothot pideksa ‘pemuda gagah’ pada kalimat (10g). Konstituen tersebut bersifat anaforis, karena konstituen penyulihnya ada di sebelah kanan konstituen tersulihnya.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 218 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Perhatikan kutipan data yang berupa posisi dan jarak antara konstituen tersulih dan penyulih dalam novel EAB karya Suparto Brata sebagai berikut. (11) Tingkahe wong klambi abang iku sajak nyalawadi. Wiwit mau Jarot wis rumangsa dietutake, saiki mindhik-mindhik ana ing samburine. Nalika iku uga Jarot nglirik wong sing mbuntuti dheweke. Wong iku ngingeti Jarot, nanging ora mencereng nantang. Mung ndlongop sajak gela-gela dene sing dietutake kok nyingklak sepedhahe. Jarot wis ora preduli. Wong bagus klambi abang lorek-lorek kuwi ditinggal klepat : ‘Perilaku orang berbaju merah itu kelihatan mencurigakan.Sejak tadi Jarot sudah merasa diikuti, sekarang sembunyi-sembunyi ada dibelakangnya.Ketika itu juga Jarot melirik orang yang mengikuti dirinya.Orang itu melihat Jarot, tetapi tidak memandang tajam menantang.Hanya termangu kelihatan kecewa sedangkan yang diikuti kok naik sepedanya.Jarot sudah tidak peduli.Orang tampan berbaju merah lurik itu ditinggal pergi.’(EAB/SB/2007/19) Data (11) tersebut terdiri atas tujuh kalimat.Kalimat-kalimat itu adalah sebagai berikut. (11a) Tingkahe wong klambi abang iku sajak nyalawadi : ‘Perilaku orang berbaju merah itu kelihatan mencurigakan.’ (11b) Wiwit mau Jarot wis rumangsa dietutake, saiki mindhik-mindhik ana ing samburine : ‘Sejak tadi Jarot sudah merasa diikuti, sekarang sembunyi-sembunyi ada dibelakangnya.’ (11c) Nalika iku uga Jarot nglirik wong sing mbuntuti dheweke : ‘Ketika itu juga Jarot melirik orang yang mengikuti dirinya.’ (11d) Wong iku ngingeti Jarot, nanging ora mencereng nantang : ‘Orang itu melihat Jarot, tetapi tidak memandang tajam menantang.’ (11e) Mung ndlongop sajak gela-gela dene sing dietutake kok nyingklak sepedhahe : ‘Hanya termangu kelihatan kecewa sedangkan yang diikuti kok naik sepedanya.’ (11f) Jarot wis ora preduli : ‘Jarot sudah tidak peduli.’ (11g) Wong bagus klambi abang lorek-lorek kuwi ditinggal klepat : ‘Orang tampan berbaju merah lurik itu ditinggal pergi.’ Konstituen penyulih berupa frasa nominal wong iku ‘orang itu’ pada kalimat (11d) yang berjarak tiga kalimat dalam satu paragraf dan frasa nominal wong bagus klambi abang lorek-lorek kuwi ‘orang tampan berbaju merah lurik itu’ pada kalimat (11g) yang berjarak enam kalimat dalam satu paragraf, mengacu pada konstituen tersulih yang berposisi di sebelah kirinya yaitu wong klambi abang iku ‘orang berbaju merah itu’ pada kalimat (11a). Konstituen penyulih yang berupa pronomina persona III tunggal bebas dheweke ‘ia’ pada kalimat (11c) berjarak satu kalimat dalam satu paragraf, mengacu pada konstituen tersulih yang berposisi di sebelah kiri yaitu Jarot pada kalimat (11c). Dengan demikian, wacana (11) di atas bersifat anaforis, karena konstituen penyulihnya ada di sebelah kanan konstituen tersulihnya. Perhatikan kutipan data yang berupa posisi dan jarak antara konstituen tersulih dan penyulih dalam novel EAB karya Suparto Brata sebagai berikut. (12) Sajrone Pak Indra ngurus Jarot, Handaka meneng wae.Dheweke mung ngrungokake, lan rumangsa ora duwe wenang melu-melu bab prekarane Jarot. Nanging bareng Inspektur Indrawis waleh, wis judheg ora oleh dalan mbongkar wewadine Jarot, banjur nyambat wong kuru kuwi kanthi nyereng, lagi Handaka wani gumregah. “Piye, Dhik Handaka, pamrayogamu? Wong iki kudu ditahan, rak iya, ta?” : ‘Selama Pak Indra mengurus Jarot, Handaka diam saja. Dia hanya mendengarkan, dan merasa tidak punya hak ikut campur bab perkara Jarot. Akan tetapi

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 219 setelah Inspektur Indra sudah mulai menyerah, sudah tidak tahu lagi harus bagaimana mendapat jalan membongkar kasusnya Jarot, lalu meminta tolong orang kurus itu dengan tegas, baru Handaka berani bertindak. Bagaimana, Dik Handaka, pendapatmu? Orang ini harus ditahan, betul tidak?’ (EAB/SB/2007/31) Data (12) tersebut terdiri atas empatkalimat.Kalimat-kalimat itu adalah sebagai berikut. (12a) Sajrone Pak Indra ngurus Jarot, Handaka meneng wae : ‘Selama Pak Indra mengurus Jarot, Handaka diam saja.’ (12b) Dheweke mung ngrungokake, lan rumangsa ora duwe wenang melu-melu bab prekarane Jarot : ‘Dia hanya mendengarkan, dan merasa tidak punya hak ikut campur bab perkara Jarot.’ (12c) Nanging bareng Inspektur Indrawis waleh, wis judheg ora oleh dalan mbongkar wewadine Jarot, banjur nyambat wong kuru kuwi kanthi nyereng, lagi Handaka wani gumregah : ‘Akan tetapi setelah Inspektur Indra sudah mulai menyerah, sudah tidak tahu lagi harus bagaimana mendapat jalan membongkar kasusnya Jarot, lalu meminta tolong orang kurus itu dengan tegas, baru Handaka berani bertindak.’ (12d)“Piye, Dhik Handaka, pamrayogamu? Wong iki kudu ditahan, rak iya, ta?” : ‘Bagaimana, Dik Handaka, pendapatmu? Orang ini harus ditahan, betul tidak?’ Konstituen penyulih yang berupa pronomina persona III tunggal bebas dheweke‘ia’ pada kalimat (12b) yang berjarak satu kalimat dalam satu paragraf, frasa nominal wong kuru kuwi ‘orang kurus itu’ berjarak dua kalimat dalam satu paragraf pada kalimat (12c), dan frasa nominal dhik Handaka pada kalimat (12d) yang berjarak tiga kalimat dalam satu paragraf, mengacu pada konstituen tersulih yang berposisi di sebelah kirinya yaitu Handaka pada kalimat (12a). Konstituen penyulih yang berupa frasa nominal inspektur Indra pada kalimat (12c) berjarak satu kalimat dalam satu paragraf, mengacu pada konstituen tersulih yang berposisi di sebelah kiri yaitu Pak indra pada kalimat (12a). Konstituen penyulih yang berupa penyulih wong iku pada kalimat (12d) berjarak satu kalimat dalam satu paragraf, mengacu pada konstituen tersulih Jarot pada kalimat (12c). Wacana (12) di atas bersifat anaforis, karena konstituen penyulihnya ada di sebelah kanan konstituen tersulihnya. Perhatikan kutipan data yang berupa posisi dan jarak antara konstituen tersulih dan penyulih dalam novel “Emprit Abuntut Bedhug” karya Suparto Brata sebagai berikut. (13) Awake Jarot gedhe dhuwur, saben dina gladhen olahraga, dheweke anggota kumpulan sport Wong Kuwat Surabaya. ‘Badan Jarot tinggi besar, setiap hari berlatih olahraga, dia anggota perkumpulan sport Wong Kuwat Surabaya.’ (EAB/SB/2007/18) Wacana (13) hanya terdiri dari satu kalimat.Konstituen tersulih Jarot berposisi di sebelah kiri konstituen penyulih pronominal persona III tunggal bebas dheweke ‘ia.’Wacana (13) di atas bersifat anaforis, karena konstituen penyulih berada di sebelah kanan konstituen tersulih. Perhatikan kutipan data yang berupa posisi dan jarak antara konstituen tersulih dan penyulih dalam novel “Emprit Abuntut Bedhug” karya Suparto Brata sebagai berikut. (14) Nanging bareng weruh yen sing nyrempet mau sawijine cah wadon klambi kuning kang nyepedha padha ener karo dheweke, nepsune mendha. Erawati mau ora nganti tiba, mung sepedhahe uga ambruk.Rujine kecanthol pedhale Jarot. Nanging wong wadon rok kuning iku trengginas bali nyandhak sepedhahe, didegake ora ana rusake, banjur enggal-enggal nerusake laku. Patrape kesusu kaya dioyak uwong, ora mreduli Jarot, ora mreduli yen kanthonge jiblok. ‘Dhik, eh, Dhik! Kanthonge!aloke Jarot marang Erawati.’ : ‘Akan tetapi setelah melihat yang

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 220 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 menyerempet tadi seorang wanita berbaju kuning yang bersepeda bersamaan dengan dia, nafsunya mereda. ‘Erawati tadi tidak sampai jatuh, hanya sepedanya juga roboh.Jerujinya tersangkut kayuh Jarot.Akan tetapi orang wanita rok kuning itu sigap kembali memegang sepedanya, diberdirikan tidak ada yang rusak, kemudian cepat-cepat melanjutkan perjalanan.Rautnya terburu-buru seperti dikejar orang, tidak peduli Jarot, tidak peduli jika kantongnya jatuh.’ ‘Dik, eh, Dik! Kantongnya!sapa Jarot kepada Erawati.’ (EAB/SB/2007/16) Data (14) tersebut terdiri atas enam kalimat.Kalimat-kalimat itu adalah sebagai berikut. (14a) Nanging bareng weruh yen sing nyrempet mau sawijine cah wadon klambi kuning kang nyepedha padha ener karo dheweke, nepsune mendha : ‘Akan tetapi setelah melihat yang menyerempet tadi seorang wanita berbaju kuning yang bersepeda bersamaan dengan dia, nafsunya mereda.’ (14b) Erawati mau ora nganti tiba, mung sepedhahe uga ambruk : ‘Erawati tadi tidak sampai jatuh, hanya sepedanya juga roboh.’ (14c) Rujine kecanthol pedhaleJarot : ‘Jerujinya tersangkut kayuhnya Jarot.’ (14d) Nanging wong wadon rok kuning iku trengginas bali nyandhak sepedhahe, didegake ora ana rusak, banjur enggal-enggal nerusake laku : ‘Akan tetapi orang wanita rok kuning itu sigap kembali memegang sepedanya, diberdirikan tidak ada yang rusak, kemudian cepat-cepat melanjutkan perjalanan.’ (14e) Patrape kesusu kaya dioyak uwong, ora mreduli Jarot, ora mreduli yen kanthonge jiblok : ‘Rautnya terburu-buru seperti dikejar orang, tidak peduli Jarot, tidak peduli jika kantongnya jatuh.’ (14f) “Dhik, eh, Dhik!Kanthonge!” aloke Jarot marang Erawati : ‘Dik, eh, Dik! Kantongnya! sapa Jarot kepada Erawati.’ Data (14) terbagi atas dua paragraf, paragraf pertama terdiri atas satu kalimat yaitu (14a), paragraf yang kedua terdiri atas enam kalimat yaitu (14b), (14c), (14d), (14e), dan (14f). Konstituen penyulih yang berupa frasa nominal cah wadon klambi kuning ‘seorang wanita berbaju kuning’ pada kalimat (14a) berjarak satu kalimat beda paragraf, mengacu pada konstituen tersulih yang berposisi di sebelah kanannya yaitu Erawati pada kalimat (14b). Selain diacu oleh konstituen yang berada di sebelah kirinya, konstituen Erawati diacu pula oleh konstituen penyulih di sebelah kanan yaitu enklitik {-e} yang melekat pada kata rujine ‘jerujinya’ kalimat (14c) berjarak satu kalimat dalam satu paragraf, frasa nominal wong wadon rok kuning iku ‘orang wanita rok kuning itu’ pada kalimat (14d) berjarak dua kalimat dalam satu paragraf, dan dhik pada kalimat (14f) berjarak tiga kalimat dalam satu paragraf. Dengan demikian, konstituen tersulih Erawatitersebut bersifat anaforis dan kataforis karena konstituen penyulihnya ada di sebelah kiri dan kanan konstituen tersulihnya. Konstituen penyulih dheweke ‘ia’ pada kalimat (14a) berjarak dua kalimat beda paragraf, mengacu pada konstituen tersulih yang berposisi di sebelah kanannya yaitu Jarot pada kalimat (14b). Konstituen tersulih Jarot di atas bersifat kataforis, karena konstituen penyulih berada di sebelah kiri kontituen tersulihnya. Posisi dan jarak konstituen antara unsur tersulih dan penyulih dalam Novel EAB Karya Suparto Brata. Apabila konstituen tersulih berada di sebelah kiri konstituen penyulih atau disebut lebih dahulu (anaforis), sedangkan konstituen tersulih berada di sebelah kanan konstituen penyulih atau disebut kemudian (kataforis).Penyulih dalam Novel “Emprit Abuntut Bedhug” Karya Suparto Brata kebanyakan konstituen tersulih berposisi atau bersifat anaforis, meskipun juga ada yang bersifat kataforis atau keduanya.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 221 Jarak konstituen tersulih dan penyulih ada yang dekat jaraknya dan ada pula yang jauh jaraknya.Jauh dekatnya jarak antara unsur penyulih dan unsur tersulih dapat dilihat dalam kalimat dalam satu paragraf, antar kalimat dalam satu paragraf, dan kalimat antar paragraf.Seperti yang tertera dalam bagan 1 penyulihan di bawah ini. Gambar 1. Bagan penyulihan Konstituen penyulih yang banyak ditemukandalam Novel EAB karya Suparto Brata berupa kata ganti orang (pronomina persona baik bentuk I, II, dan III) yang menggantikan konstituen tersulih berupa nama orang dan nama panggilan. Hal ini menunjukkan, bahwa konstituen penyulih kata ganti orang (pronomina persona baik bentuk I, II, dan III) mempunyai jarak dekat dengan konstituen tersulih berupa nama orang dan nama panggilan. Konstituen penyulih ciri fisik, pakaian yang dikenakan, watak yang diperlihatkan dalam cerita memiliki jarak yang jauh/relatif jauh dengan konstituen tersulih, sebab hanya ditemukan sedikit penggunaannya di dalam novel EAB. Munculnya penyulihan di dalam suatu tindak komunikasi dapat ditentukan oleh berbagai faktor yang erat berkaitan dengan penutur, lawan bicara, dan situasi penuturan. Faktor-faktor itu adalah situasi (resmi dan tidak resmi), kekerabatan (berkerabat dan tidak berkerabat), keintiman (intim dan tidak intim), status (lebih tinggi, sederajat dan lebih rendah), umur (lebih tua, sebaya dan lebih muda), jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), status perkawinan (kawin dan tidak kawin), dan asal (kota dan desa). SIMPULAN DAN SARAN Posisi dan jarak konstituen antara unsur tersulih dan penyulih dalam novel “Emprit Abuntut Bedhug” Karya Suparto Brata. Penyulihan dalam Novel “Emprit Abuntut Bedhug” Karya Suparto Brata kebanyakan konstituen tersulih berposisi atau bersifat anaforis, meskipun juga ada yang bersifat kataforis atau keduanya. Sedangkan jarak konstituen antara unsur tersulih dengan konstituen penyulih ada yang dekat jaraknya dan ada pula yang jauh jaraknya.Jauh dekatnya jarak antara unsur penyulih dan unsur tersulih dapat dilihat dalam kalimat dalam satu paragraf, antar kalimat dalam satu paragraf, dan kalimat antar paragraf. DAFTAR PUSTAKA Ebah Suhaebah, dkk. 1996. Penyulihan Sebagai Alat Kohesi dalam Wacana. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ramlan, M. 1984. ”Berbagai Pertalian Semantik Antarkalimat dalam Satuan Wacana Bahasa Indonesia”. Yogyakarta: Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada. Sumadi, dkk. 1998. Kohesi dan Koherensi dalam Wacana Naratif Bahasa Jawa. Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. KONSTITUEN TERSULIH ciri fisik, pakaian yang dikenakan, watak yang diperlihatkan dalam cerita Nama orang, nama panggilan Kata ganti pronominal persona (I, II, III)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 222 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Sumarlam. 2003. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta : Pustaka Cakra. …………... 2008 . Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta : Pustaka Cakra. Suparto Brata. 2007. Emprit Abuntut Bedhug. Yogyakarta : Narasi.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 223 PENILAIAN AUTENTIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA Sukini1,* dan Esti Pramuki2,** 1,2PBSU Universitas Terbuka *Keperluan korespondensi: sukinibima@gmail.com **Keperluan korespondensi: epramuki@gmail.com ABSTRAK Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan penilaian autentik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian pustaka. Berdasarkan hasil pembahasan, dapat disimpulkan bahwa: (1) penilaian autentik merupakan model penilaian yang dimaksudkan untuk memeriksa/menguji secara langsung perbuatan atau prestasi peserta didik berkaitan dengan tugas intelektual yang layak; (2) Penilaian autentik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan memberikan tugas -tugas yang menuntut siswa berkinerja sesuai dengan tuntutan dalam kehidupan dunia nyata berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai. Beberapa macam penilaian autentik yang bisa diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu penilaian kinerja, observasi, pertanyaan terbuka, portofolio, penilaian diri, dan jurnal. Kata kunci: penilaian autentik, unjuk kerja, bermakna, pembelajaran Bahasa Indonesia PENDAHULUAN Perubahan kurikulum selalu diikuti kebijakan-kebijakan baru dari pemerintah untuk mengatur dan mendukung pengimplementasian kurikulum baru. Kebijakan-kebijakan pemerintah berkenaan dengan pengimplementasian kurikulum senantiasa mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Standar Nasional pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu (salinan lampiran Permendikbud No. 66 Tahun 2013). Standar Nasional Pendidikan terdiri atas delapan standar, salah satunya adalah Standar Penilaian Pendidikan yang tertuang dalam Permendikbud No. 66 Tahun 2013. Mengenai pengertian dan tujuan standar penilaian pendidikan dijabarkan secara jelas dalam Permendikbud tersebut pada Bab I dan II. Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan berdasarkan standar penilaian pendidikan yang berlaku secara nasional (Bab II). Sementara itu, pada Bab I dijelaskan, Standar Penilaian Pendidikan bertujuan untuk menjamin; (a) Perencanaan penilaian peserta didik sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dan berdasarkan prinsip-prinsip penilaian; (b) Pelaksanaan penilaian peserta didik secara profesional, terbuka, edukatif, efektif, efisien, dan sesuai dengan konteks sosial budaya; dan (c) Pelaporan hasil penilaian peserta didik secara objektif, akuntabel, dan informatif. Penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup: penilaian autentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian sekolah/madrasah (Bab II salinan Permendikbud No. 66 Th 2013). Di antara banyak penilaian pendidikan tersebut, yang hendak dibahas dalam makalah ini adalah penilaian autentik (dalam pembelajaran bahasa Indonesia), meliputi: konsep penilaian autentik, landasan teoretis dan landasan pedagogis, kelebihan dan kelemahan penilaian autentik, dan penerapan penilaian

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 224 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 autentik dalam pembelajaran bahasa Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Pengertian Penilaian Dalam sistem evaluasi hasil belajar, penilaian merupakan langkah lanjutan setelah dilakukan pengukuran. Griffin dan Nix (1991:4) mengatakan bahwa penilaian merupakan proses pengumpulan hasil dari pencapaian pembelajaran siswa. Selanjutnya, Tuckman (dalam Nurgiyantoro, 2012:6) mengatakan bahwa penilaian adalah suatu proses untuk mengetahui (menguji) apakah suatu kegiatan, proses kegiatan, keluaran suatu program telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang telah ditentukan. Sementara itu, Menurut Mardapi (1999:8) penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran. Menurut Cangelosi (1995: 21) penilaian adalah keputusan tentang nilai. Berdasarkan pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa penilaian adalah suatu proses pengumpulan dari pencapaian pembelajaran siswa atau kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan untuk mengambil keputusan tentang nilai dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes dan mengetahui (menguji) apakah kegiatan, proses kegiatan, keluaran suatu program telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang telah ditentukan. 2. Konsep Penilaian Autentik Penilaian autentik mementingkan penilaian proses dan hasil sekaligus (Nurgiyantoro ,2011:251). Mueller (2008) mengatakan, “authentic Assessment: a form of assessment in which students are asked to perform real-world tasks that demonstrate meaningful application of essential knowledge and skills”. Penilaian autentik adalah bentuk penilaian saat para siswa diminta untuk melakukan tugas-tugas nyata yang menunjukkan/menggambarkan penerapan pengetahuan dan keterampilan penting yang bermakna. Sejalan dengan pendapat di atas, Kerka (1995) menyatakan bahwa penilaian dikatakan autentik jika penilaian itu memeriksa/menguji secara langsung perbuatan atau prestasi peserta didik berkaitan dengan tugas intelektual yang layak. Jadi, bentuk penilaian dikatakan autentik jika penilaian itu memeriksa/menguji dan mementingkan proses saat para siswa diminta untuk melakukan tugas-tugas nyata atau perbuatan atau prestasi peserta didik secara langsung yang berkaitan dengan tugas intelektual yang layak dan hasilnya sekaligus menunjukkan/menggambarkan penerapan pengetahuan dan keterampilan penting yang bermakna. Artinya, seluruh tampilan peserta didik dalam rangkaian kegiatan pembelajaran dapat dinilai secara objektif, apa adanya, dan tidak semata-mata berdasarkan hasil akhir (produk) saja. Kinerja peserta didik harus ditampilkan selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran sehingga penilaiannya haruslah dilakukan selama dan sejalan dengan berlangsungnya kegiatan proses pembelajaran. Ada dua kata kunci untuk penilaian autentik, yaitu kinerja dan bermakna. Pengukuran hasil pembelajaran haruslah berupa kinerja/unjuk kerja, dan bermakna, artinya bersifat kontekstual; kinerja yang ditampilkan itu ditemukan dan dibutuhkan dalam kehidupan, misalnya di dunia kerja. Dalam hal ini penilaian autentik menuntut peserta didik menjadi pelaku (orang) yang efektif yang memiliki pengetahuan yang dibutuhkan. Pembelajaran yang diukur oleh penilaian itu memiliki nilai di luar kelas serta bermakna bagi peserta didik. Jadi, penilaian autentik mengamanatkan keterampilan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas yang sesungguhnya. Penilaian autentik seperti yang dikemukakan Valencia, Hiebert, dan Afflerbach (dalam Paris & Ayres, 1995) meliputi empat aspek utama, yaitu: a. Authentic assessment is consistent with classroom practices (Penilaian autentik konsisten terhadap praktik-praktik kelas).

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 225 b. Authentic assessment collects diverse evidence of students’ learning from multiple activities. Rather than relying on single tests or narrow samples of students’ knowledge, authentic assessment involves gathering evidence over time from many different academic activities (Calfee & Hiebert, 1990). (Penilaian autentik mengumpulkan berbagai bukti dari pembelajaran siswa dari berbagai kegiatan, tidak sekadar berdasar pada tes tunggal atau contoh semata dari pengetahuan siswa, penilaian autentik melibatkan pengumpulan bukti selama beberapa saat dari berbagai kegiatan akademik). c. Authentic assessment promotes learning and teaching among the participants. Assessment is functional, pragmatic, and beneficial. (Penilaian autentik melibatkan pembelajaran dan pengajaran antarpartisipan. Penilaian ini fungsional, bermanfaat, dan bermakna). d. Authentic assessment reflects local values, standards, and control. (Penilaian autentik menunjukkan nilai-nilai, standar, dan kontrol setempat). Konsep penilaian autentik tersebut dapat digambarkan dalam bagan berikut. Gambar 1. Konsep penilaian autentik Bagan: Konsep Penilaian Autentik Di dalam penilaian autentik terdapat beberapa prinsip sebagai berikut. a. Penilaian terpadu dalam kegiatan belajar mengajar; b. Mengembangkan strategi yang sesuai agar penilaian dapat berfungsi sebagai cermin diri; c. Melakukan berbagai strategi penilaian yang menyediakan berbagai jenis informasi tentang kompetensi belajar peserta didik; d. Mempertimbangkan berbagai kebutuhan khusus peserta didik; e. Mengembangkan dan menyediakan sistem perekaman yang bervariasi dalam pengamatan kegiatan belajar peserta didik; f. Menggunakan cara dan alat penilaian yang bervariasi (cara tertulis, lisan, produk, portofolio, unjuk kerja, projek, tingkah laku) dalam rangka mengumpulkan informasi (TOT Nasional ALIHE). Secara umum penilaian autentik memerlukan bermacam-macam formulir penilaian yang menunjukkan pembelajaran peserta didik, prestasi, dan sikap mereka yang relevan dengan kegiatan-kegiatannya. Bermacam-macam penilaian autentik yang memberi kesempatan kepada guru dan peserta didik untuk mengevaluasi prestasi dan kemajuan peserta didik sesuai dengan kenyataannya, yaitu: (1) portofolio, (2) contoh-contoh tulisan, (3) tatap muka guru-peserta didik, (4) rubrik dari penugasan projek, (5) checklist pengamatan guru, (6) wawancara

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 226 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 lisan, (7) penugasan-penugasan kinerja, (8) tes-tes berkaitan dengan norma, dan (9) penilaian diri (Greenleaf, Mary Kay Gee, &Ronda Balingger, 1997:1). Lebih lanjut dijelaskan langkah-langkah yang dilakukan untuk merencanakan penilaian autentik, sebagai berikut. a. Tentukan tujuan penilaian. Ada banyak tujuan penilaian, dan setiap penilaian akan memiliki tujuannya sendiri. Beberapa tujuan penilaian adalah untuk memandu perintah, memberi balikan kepada peserta didik, mengamati kemajuannya. b. Jelaskan tujuan instruksional yang akan diuji. c. Rencanakan cara untuk mengumpulkan bukti prestasi belajar peserta didik atas tujuan tersebut. Buatlah penilaian tugas, checklist, formulir tatap muka seperti yang diperlukan, dan telitilah instrumen-instrumen yang sudah ada untuk memenuhi tujuan yang sudah dibuat pada langkah a dan b. d. Lakukan penilaian autentik terhadap peserta didik. e. Gunakan kriteria yang sudah dibuat dengan jelas untuk mengevaluasi penilaian. Ada banyak strategi yang bisa digunakan guru untuk membuat kriteria dengan jelas, termasuk tujuan-tujuan kelas, tujuan-tujuan peserta didik yang disusun dari tatap muka peserta didik dengan guru, skala peringkat, dan rubrik. Khusus rubrik akan berguna dalam memberi kriteria penilaian pada peserta didik sebelum produk atau proyek diselesaikan sehingga hal itu bisa berdampak pada pengalaman peserta didik. Seperti halnya formulir-formulir evaluasi penilaian autentik, rubrik menunjukkan secara detil hasil spesifiknya. Hasil ini memberi panduan atas kinerja peserta didik dan hasilnya menjadi untaian dalam rubrik jenjang. 3. Penilaian Autentik dalam Kaitannya dengan Penilaian Formatif dan Sumatif Salah satu implikasi dari diterapkannya standar kompetensi adalah proses penilaian yang dilakukan oleh guru baik yang bersifat formatif maupun sumatif harus menggunakan acuan kriteria. Untuk itu, dalam menerapkan standar kompetensi guru harus: Mengembangkan matriks kompetensi belajar (learning competency matrix) yang menjamin pengalaman belajar yang terarah; Mengembangkan penilaian autentik berkelanjutan (continuous authentic assessment) yang menjamin pencapaian dan penguasaan kompetensi. Penilaian autentik adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan anak didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai. Penilaian autentik pada hakikatnya adalah penilaian formatif yang dilakukan selama proses belajar. Namun demikian, penilaian autentik dapat digunakan untuk penilaian sumatif. Maka, bila akan dilakukan hal ini dibutuhkan periode mana yang akan dijadikan sebagai satu masa penilaian utuh. Misalnya apakah tiap catur wulan, tiap setengah semester, atau tiap semester. Periodisasi ini penting karena hasilnya harus dikomunikasikan kepada pihak terkait salah satunya orang tua (Haryono, 2009). 4. Landasan teoretis dan Landasan Pedagogis a. Landasan Teoretis tentang Belajar Bahasa dan Strateginya Belajar bahasa menurut Kaplan (2002:115) melibatkan identitas peserta didik karena bahasa itu sendiri tidak hanya sistem linguistik tanda-tanda dan simbol-simbol; juga merupakan praktik sosial yang kompleks di mana nilai dan makna ditentukan oleh orang yang berbicara. Selanjutnya, Breen dan Candlin (1980:90) menyatakan bahwa belajar bahasa adalah belajar bagaimana untuk berkomunikasi sebagai anggota dari kelompok sosial-budaya tertentu. Sementara itu, dari perspektif sosiolinguistik, Heller (

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 227 2007:2) berpendapat bahwa bahasa harus dipandang sebagai seperangkat sumber daya yang beredar dengan cara yang tidak sama dalam jaringan sosial dan ruang diskursif. Penulis sependapat dengan pendapat Breen dan Candlin (1980:90) yang menyatakan bahwa belajar bahasa adalah belajar bagaimana untuk berkomunikasi sebagai anggota dari kelompok sosial-budaya tertentu. Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran bahasa tidak boleh hanya terfokus pada pembelajaran tentang kaidah-kaidah bahasa, lebih dari itu, dalam pembelajaran bahasa peserta didik dilatih agar terampil menggunakan kaidah-kaidah bahasa yang dikuasainya untuk keperluan berkomunikasi. Peserta didik dikatakan berhasil dalam belajar bahasa apabila selain menguasai kaidah-kaidah bahasa yang dipelajarinya, juga mampu menggunakannya untuk berkomunikasi. Oleh karena itu, untuk mengetahui kompetensi riil peserta didik dalam berbahasa, digunakanlah penilaian autentik, berupa tes tulis dan unjuk kerja. Dalam belajar bahasa, diperlukan strategi tertentu agar pembelajaran menjadi efektif dan efisien. Rubin (dalam Mokhtari, 2007:15) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran bahasa adalah strategi yang secara langsung atau tidak langsung memfasilitasi perluasan sistem bahasa. Sementara itu, Wenden & Rubin (1987:3-13) mengatakan, definisi yang paling komprehensif tentang strategi pembelajaran bahasa adalah sebagai berikut. 1) Strategi belajar bahasa mengacu pada tindakan atau teknik tertentu, bukan karakteristik yang menggambarkan pendekatan umum pembelajar. 2) Beberapa strategi pembelajaran bahasa dapat diamati, yang lain tidak. 3) Strategi berorientasi pada masalah dan bekerja untuk merespons kebutuhan belajar, atau untuk memfasilitasi akuisisi, penyimpanan, pencarian, atau penggunaan informasi. 4) Strategi mengacu pada perilaku belajar bahasa yang memberikan kontribusi langsung kepada peserta didik, seperti bagaimana mengatur pembelajaran. Strategi juga mengacu pada perilaku belajar bahasa yang berkontribusi secara tidak langsung pada peserta didik, seperti bagaimana berkomunikasi dengan pengetahuan linguistik yang terbatas, dan bagaimana menciptakan kesempatan untuk belajar dan menggunakan bahasa target. 5) Kadang-kadang strategi dapat dikembangkan secara sadar. Namun, mereka dapat secara otomatis dan tetap di bawah kesadaran atau berpotensi sadar dengan mengembangkan fasilitas yang digunakan dalam strategi. 6) Strategi setuju untuk berubah karena sebagai bagian dari perangkat lunak mental kita, bisa dipelajari, dimodifikasi, atau ditolak. 7) Strategi melibatkan banyak aspek dari peserta didik, bukan hanya kognitif. 8) Strategi dipengaruhi oleh berbagai faktor. 9) Strategi memungkinkan peserta didik untuk menjadi lebih mandiri. Berdasarkan definisi tersebut dapat diambil simpulan bahwa strategi pembelajaran bahasa adalah tindakan atau teknik tertentu untuk mempengaruhi sikap peserta didik dan cara peserta didik dalam mengatur, atau mengintegrasikan pengetahuan baru dalam belajar bahasa. b. Landasan Pedagogis 1) Teori Behaviorisme Tokoh aliran ini adalah John B. Watson (1878 – 1958) yang di Amerika dikenal sebagai bapak Behaviorisme. Teorinya memumpunkan perhatiannya pada aspek yang dirasakan secara langsung pada perilaku berbahasa serta hubungan antara stimulus dan respons pada dunia sekelilingnya. Menurut teori ini, semua perilaku, termasuk tindak balas (respons) ditimbulkan oleh adanya rangsangan (stimulus). Jika rangsangan telah diamati dan diketahui maka gerak balas pun dapat diprediksikan. Watson juga dengan tegas menolak pengaruh naluri (instinct) dan kesadaran terhadap perilaku. Jadi setiap perilaku dapat

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 228 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 dipelajari menurut hubungan stimulus-respons. Seorang behavioris menganggap bahwa perilaku berbahasa yang efektif merupakan hasil respons tertentu yang dikuatkan. Respons itu akan menjadi kebiasaan atau terkondisikan, baik respons yang berupa pemahaman atau respons yang berwujud ujaran. Seseorang belajar memahami ujaran dengan mereaksi stimulus secara memadai dan memperoleh penguatan untuk reaksi itu. Salah satu percobaan yang terkenal untuk membentuk model perilaku berbahasa dari sudut behavioris adalah yang dikemukakan oleh Skinner (1957) dalam Verbal Behavior. Percobaan Skiner dikenal dengan percobaannya tentang perilaku binatang yang terkenal dengan kotak skinner. Teori skinner tentang perilaku verbal merupakan perluasan teorinya tentang belajar yang disebutnya operant conditioning. Konsep ini mengacu pada kondisi ketika manusia atau binatang mengirimkan respons atau operant (ujaran atau sebuah kalimat) tanpa adanya stimulus yang tampak. Operant itu dipertahankan dengan penguatan. Misalnya, jika seorang anak kecil mengatakan minta susu dan orang tuanya memberinya susu, maka operant itu dikuatkan. Dengan perulangan yang terus menerus operant semacam itu akan terkondisikan. 2) Teori Nativisme Berbeda dengan kaum behavioristik, kaum nativistik atau mentalistik berpendapat bahwa pemerolehan bahasa pada manusia tidak boleh disamakan dengan proses pengenalan yang terjadi pada hewan. Mereka tidak memandang penting pengaruh dari lingkungan sekitar. Selama belajar bahasa pertama sedikit demi sedikit manusia akan membuka kemampuan lingualnya yang secara genetis telah terprogramkan. Dengan perkataan lain, mereka menganggap bahwa bahasa merupakan pemberian biologis. Menurut mereka bahasa terlalu kompleks dan mustahil dapat dipelajari oleh manusia dalam waktu yang relatif singkat lewat proses peniruan sebagaimana keyakinan kaum behavioristik. Jadi beberapa aspek penting yang menyangkut sistem bahasa menurut keyakinan mereka pasti sudah ada dalam diri setiap manusia secara alamiah. Istilah nativisme dihasilkan dari pernyataan mendasar bahwa pembelajaran bahasa ditentukan oleh bakat. Bahwa setiap manusia dilahirkan sudah memiliki bakat untuk memperoleh dan belajar bahasa. Teori tentang bakat bahasa itu memperoleh dukungan dari berbagai sisi. Eric Lenneberg (1967) membuat proposisi bahwa bahasa itu merupakan perilaku khusus manusia dan bahwa cara pemahaman tertentu, pengkategorian kemampuan, dan mekanisme bahasa yang lain yang berhubungan ditentukan secara biologis. Chomsky dalam Hadley (1993:48) yang merupakan tokoh utama golongan ini mengatakan bahwasannya hanya manusialah satu-satunya makhluk Tuhan yang dapat melakukan komunikasi lewat bahasa verbal. Selain itu bahasa juga sangat kompleks oleh sebab itu tidak mungkin manusia belajar bahasa dari makhluk Tuhan yang lain. Chomsky juga menyatakan bahwa setiap anak yang lahir ke dunia telah memiliki bekal dengan apa yang disebutnya “alat penguasaan bahasa” atau LAD (language Acquisition Device). Menurut Chomsky (dalam Hadley, 1993:50) bahwa belajar bahasa merupakan kompetensi khusus bukan sekadar subset belajar secara umum. Cara berbahasa jauh lebih rumit dari sekadar penetapan Stimulus-Respon. Lebih lanjut Chomsky (dalam Hadley, 1993:48) mengatakan bahwa eksistensi bakat bermanfaat untuk menjelaskan rahasia penguasaan bahasa pertama anak

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 229 dalam waktu singkat, karena adanya LAD. Menurut golongan ini belajar bahasa pada hakikatnya hanyalah proses pengisian detil kaidah-kaidah atau struktur aturan-aturan bahasa ke dalam LAD yang sudah tersedia secara alamiah pada manusia tersebut. 3) Teori Kognitivisme Laughlin dalam Elizabeth (1993: 54) berpendapat bahwa dalam belajar bahasa seorang anak perlu proses pengendalian dalam berinteraksi dengan lingkungan. Pendekatan kognitif dalam belajar bahasa lebih menekankan pemahaman, proses mental atau pengaturan dalam pemerolehan, dan memandang anak sebagai seseorang yang berperan aktif dalam proses belajar bahasa. Selanjutnya menurut Piaget dalam Pateda (1990: 67), salah seorang tokoh golongan ini mengatakan bahwa struktur komplek dari bahasa bukanlah sesuatu yang diberikan oleh alam dan bukan pula sesuatu yang dipelajari lewat lingkungan. Struktur tersebut lahir dan berkembang sebagai akibat interaksi yang terus menerus antara tingkat fungsi kognitif si anak dan lingkungan lingualnya. Struktur tersebut telah tersedia secara alamiah. Perubahan atau perkembangan bahasa pada anak akan bergantung pada sejauh mana keterlibatan kognitif sang anak secara aktif dengan lingkungannya. Menurut Ausubel dalam Elizabeth (1993: 59), proses belajar bahasa terjadi bila anak mampu mengasimilasikan pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan baru. Proses itu melalui tahapan memperhatikan stimulus yang diberikan, memahami makna stimulus, menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami. Selanjutnya menurut Bruner dalam Mansoer Pateda (1990: 49), proses belajar bahasa lebih ditentukan oleh cara anak mengatur materi bahasa bukan usia anak. Proses belajar bahasa didapat melalui: enaktif yaitu aktivitas untuk memahami lingkungan; ikonik yaitu melihat dunia lewat gambar dan visualisasi verbal; simbolik yaitu memahami gagasan-gagasan abstrak. 5. Manfaat Penilaian Autentik Saat ini penilaian autentik sangatlah disarankan untuk digunakan. Hal tersebut disebabkan penilaian autentik menekankan pencapaian peserta didik untuk menunjukkan kinerja, melakukan sesuatu. Kegiatan tersebut ditunjukkan dengan kesiapan peserta didik untuk berunjuk kerja setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Manfaat penggunaan penilaian autentik menurut Mueller (2008) sebagai berikut. a. Memungkinkan dilakukannya pengukuran secara langsung terhadap kinerja peserta didik sebagai indikator capaian kompetensi yang dibelajarkan. Dalam kegiatan ini, peserta didik dituntut untuk berunjuk kerja dalam situasi konkret dan sekaligus bermakna yang secara otomatis juga mencerminkan penguasaan dan keterampilan keilmuannya. Unjuk kerjanya bersifat langsung terkait dengan konteks situasi dunia nyata dan tampilannya juga dapat diamati langsung. b. Memberikan kesempatan peserta didik untuk mengkonstruksikan hasil belajarnya. Peserta didik diminta untuk mengkonstruksikan hal yang telah diperoleh ketika mereka dihadapkan pada situasi konkret. c. Memungkinkan terintegrasikannya kegiatan pengajaran, belajar, dan penilaian menjadi satu paket kegiatan yang terpadu sehingga saat peserta didik dihadapkan pada satu topik, peserta didik juga diminta untuk berunjuk kerja mempraktikkannya dalam sebuah situasi konkret yang sengaja diciptakan. d. Memberikan kesempatan peserta didik untuk menampilkan hasil belajarnya. 6. Kompetensi yang Lebih Tepat Dinilai dengan Penilaian Autentik Penilaian autentik menekankan kemampuan peserta didik untuk

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 230 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 mendemonstrasikan pengetahuan yang dimiliki secara nyata dan bermakna. Kegiatan penilaian tidak sekedar menanyakan atau menyadap pengetahuan yang telah diketahuipeserta didik, melainkan kinerja nyata dari pengetahuan yang telah dikuasai tersebut. Jadi penilaian autentik merupakan suatu bentuk tugas yang meminta peserta didik untuk menunjukkan kinerja sebagai mana dilakukan di dunia nyata secara bermakna yang merupakan penerapan esensi pengetahuan dan keterampilan. Dapat juga diartikan bahwa penilaian autentik merupakan penilaian kinerja yang meminta peserta didik untuk mendemonstrasikan keterampilan dan kompetensi tertentu yang merupakan penerapan pengetahuan yang dikuasainya. Artinya, penilaian autentik adalah penilaian kinerja (performance assessment) atau penilaian langsung (direct assessment). Penilaian autentik merupakan penilaian terhadap tugas-tugas seperti kegiatan membaca dan menulis seperti halnya di dunia nyata. Tugas-tugas tersebut dimaksudkan untuk mengukur berbagai kemampuan dan keterampilan dalam berbagai konteks yang mencerminkan situasi di dunia nyata, di mana keterampilan-keterampilan tersebut diperlukan. 7. Perbedaan Utama antara penilaian Autentik dengan Penilaian Konvensional (Tes) Pelaksanaan penilaian autentik tidak lagi menggunakan format-format penilaian konvensional (multiple-choice, matching, true-false, dan paper and pencil test), tetapi menggunakan format yang memungkinkan siswa untuk menyelesaikan suatu tugas atau mendemonstrasikan suatu performasi dalam memecahkan suatu masalah. Format penilaian ini dapat berupa (a) tes yang menghadirkan benda atau kejadian asli ke hadapan siswa (hands-on penilaian), (b) tugas (tugas keterampilan, tugas investigasi sederhana dan tugas investigasi terintegrasi), (c) format rekaman kegiatan belajar siswa (misalnya : portofolio, interviu, daftar cek, presentasi oral dan debat). Prosedur penilaian autentik adalah menunjukkan kemampuan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) peserta didik secara nyata. Penekanan penilaian autentik adalah pada; penilain yang tidak hanya mengacu pada hasil akan tetapi penilaian pada proses, bagaimana peserta didik memperoleh dan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu peserta didik agar mampu mempelajari (learning how to learn) sesuatu, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran. Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan dari hasil, dan dengan berbagai cara. Tes hanya merupakan salah satu cara penilaian. (Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, 2003: 10-20). Berdasarkan penjelasan tersebut dapatlah diterjemahkan bahwa penilaian autentik merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn) sesuatu, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran. Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melulu hasil, dan dengan berbagai cara. Tes hanya salah satunya itulah hakikat penilaian yang sebenarnya. 8. Teknik yang Digunakan dalam Penilaian Autentik Berbagai macam tugas dan kegiatan yang dapat dikelompokkan dalam penilaian autentik. Menurut Nurgiyantoro (2013:315-318), teknik yang dapat digunakan untuk melakukan penilaian autentik yaitu: a. Penilaian kinerja (performance assessment) Penilaian ini digunakan untuk menguji kemampuan peserta didik dalam medemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan, menguji apa yang mereka ketahui dan dapat dilakukan sebagaimana ditemukan dalam dunia

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 231 nyata. Unjuk kerja dalam konteks pembelajaran bahasa berkaitan dengan kinerja aktif-produktif lewat berbicara dan menulis. Kegiatan berbicara dan menulis adalah wadah atau bentuk kemampuan berbahasa, sedangkan topik, gagasan, atau informasi yang dijadikan bahan pembicaraan dan penulisan dapat berupa apa saja persoalan aktual dan kontekstual yang dijumpai dalam kehidupan. Dalam konteks penilaian bahasa di sekolah ketepatan kinerja tersebut harus ditekankan pada ketepatannya mempergunakan bahasa dan sekaligus muatan informasinya. b. Wawancara lisan (oral interview) Wawancara lisan dapat juga disebut sebagai penilaian kinerja kebahasaan. Sesuai dengan namanya, dalam aktivitas wawancara lisan, terjadi wawancara antara pihak yang mewawancara (guru) dan diwawancarai (peserta didik) tentang apa saja informasi yang diinginkan oleh pewawancara. Dalam konteks penilaian autentik, benar atau kurangnya bahasa peserta didik tidak semata-mata dinilai dari ketepatan struktur dan kosakata melainkan ketepatan atau kejelasan informasi yang disampaikan sebagaimana halnya fungsi bahasa yang sebagai sarana komunikasi. c. Pertanyaan terbuka (contructed-response items) Penilaian bentuk ini memberikan pertanyaan atau tugas yang harus dijawab atau dilakukan peserta didik secara tertulis atau lisan. Pertanyaan haruslah memaksa peserta didik untuk mengreasi jawaban yang sekaligus mencerminkan penguasaannya terhadap pengetahuan tertentu. Jawaban yang diberikan peserta didik harus berupa uraian yang menunjukkan kualitas berpikir, mengembangkan argumentasi, menjelaskan sebab-akibat sesuatu, dan akhirnya sampai pada kesimpulan. Kemampuan peserta didik dalam memilih atau mengreasikan pesan dan bahasa secara akurat dan tepat mencerminkan kualitas berpikir tingkat tinggi. d. Menceritakan kembali teks atau cerita (story or text retelling) Tugas ini adalah untuk melatih peserta didik dalam menceritakan kembali wacana yang didengar ataupun dibaca. Tugas ini dapat dilakukan secara lisan ataupun tertulis. Tugas ini pun terutama dimaksudkan untuk mengukur kompetensi pemahaman isi dan informasi yang terkandung dalam wacana yang didengar ataupun yang dibaca dalam wacana. Wacana yang dipilih haruslah kontekstual, relevan, dan yang sesuai dengan perkembangan pengalaman peserta didik. e. Portofolio (portfolio) Portofolio merupakan kumpulan karya peserta didik yang dikumpulkan secara sengaja, terencana, dan sistemik yang kemudian dianalisis secara cermat untuk menunjukkan perkembangan peserta didik dalam setiap waktu. Portofolio ini digunakan dalam penilaian proses. f. Proyek (projects) Tugas penilaian dalam bentuk ini dapat berupa tugas melakukan penelitian kecil-kecilan. Sebagai contoh, menganalisis unsur penokohan dan moral dalam sejumlah karya fiksi, menganalisis tajuk rencana bermuatan kependidikan di sejumlah media massa, mementaskan drama atau pembaacaan berbagai teks kesastraan yang tentu saja semuanya relevan dengan materi kurikulum dan kompetensi pembelajaran yuang ingin dicapai. Harus diingat bahwa pemilihan topik proyek haruslah didiskusikan dengan peserta didik dan kegiatan tersebut pun harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu. 9. Piranti yang Digunakan dalam Penilaian Autentik Dalam diskusi antarteman yang dilakukan penulis, hasil pelaksanaan kegiatan pendampingan terhadap sekolah penyelenggara Kurikulum 2013 menunjukkan bahwa sekolah masih sedang mencari bentuk pelaksanaan penilaian autentik yang sesuai dengan target SKL yang sekolah harapkan.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 232 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Guru-guru pada beberapa SMA yang terpantau belum terbekali dengan instrumen yang dapat menilai input, proses, dan output pembelajaran secara komprehensif. Instrumen atau piranti penilaian komprehensif mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. a. Penilaian kompetensi sikap Penilaian kompetensi sikap dilakukan melalui observasi, penilaian diri, penilaian “teman sejawat”(peer evaluation) oleh peserta didik dan jurnal. Instrumen yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antarpeserta didik adalah daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik. Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Pada penilaian diri pendidik menggunakan lembar penilaian diri. Penilaian antarpeserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antarpeserta didik. Penilaian dalam bentuk jurnal berupa catatan pendidik yang diperoleh dari kegiatan boservasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati di dalam dan di luar kelas. Muatan jurnal berupa informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku b. Penilaian kompetensi Pengetahuan Penilaan pengetahuan melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan. Instrumen tes tulis berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian yang dilengkapi pedoman penskoran. Instrumen tes lisan berupa daftar pertanyaan. Instrumen penugasan berupa pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas. c. Penilaian kompetensi Keterampilan Penilaian kompetensi keterampilan dapat pendidik lakukan melalui penilaian kinerja dalam mendemonstrasikan kompetensi tertentu, tes praktik, proyek, dan portofolio. Instrumen yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik. Penilaian portofolio adalah penilaian yang dilakukan dengan cara menilai kumpulan seluruh karya peserta didik dalam bidang tertentu yang bersifat reflektif-integratif untuk mengetahui minat, perkembangan, prestasi, dan/atau kreativitas peserta didik dalam kurun waktu tertentu. Karya yang dinilai dapat berbentuk tindakan nyata peserta didik. Untuk merealisasikan konsep tersebut hendaknya guru dibekali dengan instrumen penilain autentik yang sederhana, praktis, namun mencakup seluruh dimensi yang perlu guru amati sehingga seusai melaksanakan pembelajaran guru memiliki hasil penilaian selama proses pembelajaran berlangsung. 10. Rubrik Penilaian Penilaian autentik menggunakan pendekatan penilaian acuan kriteria (criterion referenced measures) untuk menentukan nilai capaian subjek didik. Dengan demikian, nilai seorang pembelajar ditentukan seberapa tinggi kinerja ditampilkannya secara nyata yang menunjukkan tingkat capaian kompetensi yang dibelajarkan. Untuk menentukan tinggi rendahnya skor kinerja yang dimaksud, haruslah dipergunakan alat skala untuk memberikan skorskor tiap kriteria yang telah ditentukan. Alat yang dimaksud disebut rubrik (rubric). Rubrik dapat dipahami sebagai sebuah skala penyekoran (scoring scale) yang dipergunakan untuk menilai

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 233 kinerja subjek didik untuk tiap kriteria terhadap tugas-tugas tertentu (Mueller, 2008). Dalam sebuah rubrik terdapat dua hal pokok yang harus dibuat, yaitu kriteria dan tingkat capaian kinerja (level of performance) tiap kriteria. Kriteria berisi hal-hal esensial standar (kompetensi) yang ingin diukur tingkat capaian kinerjanya yang secara esensial dan konkret mewakili standar yang diukur capaiannya. Dengan membatasi kriteria pada hal-hal esensial, dapat dihindari banyaknya kriteria yang dibuat yang menyebabkan penilaian menjadi kurang praktis. Selain itu, kriteria haruslah dirumuskan atau dinyatakan (jadi: berupa pernyataan dan bukan kalimat) singkat padat, komunikatif, dengan bahasa yang gramatikal, dan benarbenar mencerminkan hal-hal esensial (dari standar/kompetensi) yang diukur. Dalam sebuah rubrik, criteria mungkin saja atau boleh juga dilabeli dengan kata-kata tertentu yang lebih mencerminkan isi, misalnya dengan kata-kata: unsur yang dinilai. Tingkat capaian kinerja, di pihak lain, umumnya ditunjukkan dalam angka-angka, dan yang lazim adalah 1—4 atau 1—5, besar kecilnya angka sekaligus menunjukkan tinggi rendahnya capaian. Tiap angka tersebut biasanya mempunyai deskripsi verbal yang diwakili, misalnya skor 1: tidak ada kinerja, sedang skor 5: kinerja sangat meyakinkan dan bermakna. Bunyi deskripsi verbal tersebut harus sesuai dengan kriteria yang akan diukur. Yang pasti terdapat banyak variasi dalam pembuatan rubrik, juga untuk kriteria dan angka tingkat capaian kinerja. Penilaian tingkat capaian kinerja seorang pembelajar dilakukan dengan menandai angka-angka yang sesuai. Rubrik lazimnya ditampilkan dalam tabel, kriteria ditempatkan di sebelah dan tingkat capaian di sebelah kanan tiap kriteria yang diukur capaiannya itu. Misalnya, untuk mengukur tampilan pidato seorang siswa, dibuatkan rubrik sebagai berikut. Contoh Rubrik Penilaian Kemampuan Berpidato Tabel 1. Rubrik penilaian kemampuan berpidato No Aspek yang Dinilai Tingkat Capaian Kinerja 1 2 3 4 5 1. Ketepatan Lafal dan Intonasi 2. Ketepatan Diksi 3. Ketepatan Struktur Gramatikal 4. Gaya Penuturan 5. Pemahaman dan Kelancaran 6. Ketepatan Gagasan 7. Keakuratan Gagasan 8. Keluasan Gagasan 9. Keterkaitan Antargagasan 10. Kebermaknaan Penuturan 11. Contoh Penilaian Autentik dalam Salah Satu Keterampilan Berbahasa Penggunaan portofolio sebagai salah model penilaian hasil belajar bahasa dan sastra cocok digunakan dalam penilaian autentik, karena dengan cara ini mahasiswa/siswa dipaksa atau terpaksa harus membuat karya tulis. Penilaian model portofolio juga menjamin memberikan data autentik tentang capaian kemampuan berbahasa. Penilaian portofolio merupakan salah bentuk penilaian berbasis kelas yang merupakan penilaian yang dilakukan dalam proses pembelajaran. Penilaian berbasis kelas merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan guru dengan menetapkan tingkat pencapaian dan penguasaan berkaitan dengan kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum (Supranata & Hatta, 2004:5). Portofolio antara lain diperoleh lewat penugasan yang diberikan secara terencana dan terstruktur. Jadi, selain untuk menilai hasil belajar peserta didik, portofolio juga dapat difungsikan sebagai sarana untuk memantau perkembangan kemajuan belajar. Pemahaman yang tidak berbeda dikemukakan oleh Mueller (2008) yang

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 234 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 menyatakan bahwa portofolio adalah kumpulan karya peserta didik yang secara khusus diseleksi untuk menunjukkan keadaan secara khusus keadaan peserta didik. Portofolio merupakan bukti (evidence) pengalaman yang dihasilkan sepanjang waktu pembelajaran yang dijadikan objek penilaian. Penilaian model portofolio tepat untuk melatih siswa atau mahasiswa menghasilkan karya tulis secara konkret, faktual, dan kontekstual. Karya yang diperoleh adalah hasil kerja langsung mahasiswa, maka portofolio merupakan bahan untuk penilaian autentik sekaligus penilaian kinerja (performance assessment) dan juga menjadi bagian dari penilaian berbasis kelas. Bahan yang termasuk portofolio sebenarnya dapat apa saja yang menyangkut semua perilaku siswa ketika mengikuti kegiatan pembelajaran. Penilaian portofolio haruslah sesuai dengan tujuan atau kompetensi yang akan diukur. Karena portofolio dapat bermacam-macam tergantung tujuan yang ingin dicapai, pembuatan portofolio haruslah secara jelas untuk menunjukkan kompetensi yang mana. Misalnya, apakah yang menyangkut kompetensi kognitif, psikomotor, atau afektif. Untuk tampilan ranah kognitif juga dapat dibedakan ke dalam berbagai macam portofolio. Misalnya, portofolio yang dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan kemampuan menulis: menulis ilmiah, menulis berbagai bentuk surat, menulis iklan, menulis kreatif, dan lain-lain. Selain itu, penilaian portofolio juga berkaitan dengan berapa jumlah karya yang dibutuhkan, bagaimana cara memilih dan melibatkan peserta didik yang bersangkutan, bagaimana cara menilai (misalnya dengan mengembangkan rubrik), dan lain-lain. Pengembangan rubrik untuk tiap jenis portofolio belum tentu sama, tergantung komponen yang akan diukur. SIMPULAN DAN SARAN Penilaian autentik sangatlah penting untuk dilaksanakan karena melalui penilaian autentik, guru maupun dosen dapat melakukan penilaian proses sekaligus melihat hasil/kinerja yang diperoleh peserta didik. Artinya, seluruh tampilan peserta didik dalam rangkaian kegiatan pembelajaran dapat dinilai secara objektif, apa adanya, dan tidak semata-mata berdasarkan hasil akhir (produk) sehingga penilaiannya haruslah dilakukan selama dan sejalan dengan berlangsungnya kegiatan proses pembelajaran. Hal tersebut dimaksudkan untuk memeriksa/menguji secara langsung perbuatan atau prestasi peserta didik berkaitan dengan tugas intelektual yang layak. Penilaian autentik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan memberikan tugas-tugas yang menuntut siswa berkinerja sesuai dengan tuntutan dalam kehidupan dunia nyata berdasarkan pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai. Penilaian autentik yang bisa diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu penilaian kinerja, observasi, pertanyaan terbuka, portofolio, penilaian diri, dan jurnal. DAFTAR PUSTAKA Anonim. Tth. Pembelajaran Aktif di Perguruan Tinggi: Paket TOT Nasional ALFHE Decentralized Basic Education 2. Amerika: USAID. Breen, M., & Candlin, C. 1980. The Essentials of A Communicative Curriculum in Language Teaching, Applied Linguistics, http://dx.doi.org/10.1093/applin/1.2.89 Brown. H. Dauglas. 2000. Priciples of Language Learning and Teaching (5th edition), New York . Calongesi, J.S. 1995. Merancang Tes untuk Menilai Prestasi Siswa. Bandung : ITB. Ewing. 1988. Alternative Assessment: Popularity, Pitfalls and Potensial (Electronic Version). Update 1-2 Nov. 2012. Greenleaf, Connie, Mary Kay Gee, &Ronda Balingger. 1997. Authentic Assessment:Getting Started. Washington, DC.: National Workplace Literacy Program.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 235 Griffin, Patrick E. and Petter Nix. 1991. Educational Assessment and Reporting: A New Approach. Sydney: Harcourt Brace Jovanovich. Hadley, Alice Omaggio. 1993. Teaching Language 2nd Edition. Boston: Heinle and Heinle Publishers. Hart, Diane. 1994. Authentic Assessment : A Handbook for Educators. Longman: Addison-Wesley Longman, Incorporated. Haryono, Agung. 2009. Authentic Assessment dan Pembelajaran Inovatif dalam Pengembangan Kemampuan Siswa. JPE-Volume 2, Nomor 1. Heller, M. 2010. Bilingualism: A social approach. New York: Palgrave Macmillan. Kaplan, R. 2002. The Oxford handbook of applied linguistics. Oxford, England: Oxford University Press. Lesh, Richard (Ed.) and Susan J. Lamon (ed.). 1992. Assessment of Authentic Performance in School Mathematics. W ashington, DC: AAAS Press. Mardapi, Djemari. 1999. Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi. Makalah disampaikan pada Penataran evaluasi pembelajaran matematika untuk guru inti matematika tanggal 8 – 23 Nopember 1999 di PPPG Matematika Yogyakarta. -------------------. 2008. Penilaian Autentik. Jurnal Cakrawala Budaya. November 2008, Th. 27. No 23. Mokhtari, Azita. 2007. Language Learning Strategies And Beliefs About Language Learning: A Study Of University Students Of Persian In The United States. Austin: The University Of Texas At Austin. Mueller, J. 2008. Authentic Assessment Toolbox. North Central Collegehttp://www.noctrl.edu/ Naperville, http://jonathan Mueller. Faculty.noctrl.edu/toolbox/index.-htm. Diunduh Selasa, 8 April 2014 Nurgiyantoro, Burhan. 2011. Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Bahasa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. --------------------------. 2012. Penilaian Pembelajaran Bahasa. Yogyakarta: BPFE. Paris, Scott G & Linda R. Ayres. 1995. Becoming Reflective Students and Teachers with Portofolio and Authentic Assessment. American Phychological Association. Pateda, Mansoer. 1990. Aspek-aspek Psikolinguistik. Flores: Nusa Indah. Rieken, Elizabeth. 1993. Teaching Language in Context. Boston: Heinle & Heinle Publiser. Salinan Permendikbud No. 66 Tahun 2013 beserta lampirannya. Supranata, Sumarna dan Muhammad Hatta. 2004. Penilaian Portofolio, Implementasi Kurikulum 2004. Jakarta:Rosda. Wenden, A. & Rubin, J. 1987. Learner Strategies in Language Learning. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 236 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 MOTIVASI MEMBACA DAN KETERAMPILAN MENULIS ILMIAH BAGI GURU DAN DOSEN Samino1 1FKIP-UM Surakarta ABSTRAK Guru dan dosen merupakan sumber daya terpenting dalam lembaga pendidikan. Apabila guru dan dosen maju dan berkembang dapat dipastikan lembaga pendidikan juga akan maju dan berkembang. Oleh karena itu, guru dan dosen itu sendiri disamping menjalankan program-program lembaga secara baik, maka dituntut juga untuk mengembangkan diri sendiri secara sungguh-sungguh. Salah satu cara mengembangkan diri sendiri adalah melalui memupuk dan memotivasi untuk senantiasa gemar membaca dan menulis ilmiah. Membaca dan menulis ilmiah merupakan pangkal utama untuk memajukan dan mengembangkan diri dosen sekaligus juga mengembangkan karir dosen. Ciri Negara maju, salah satunya adalah pendidikannya maju, dan ciri pendidikan yang maju salah satunya adalah guru atau dosennya memiliki motivasi yang tinggi dalam membaca dan menulis ilmiah. Kata kunci: dosen, guru, ilmiah, membaca, menulis, motivasi PENDAHULUAN Latar Belakang Reformasi Indonesia telah dimulai sejak tahun 1998 yang ditandai dengan berakhirnya orde baru atau turunnya Presiden Suharto digantikan oleh BJ Habibie. Sampai dengan sekarang ini telah banyak perubahan yang dapat dirasakan, perubahan tersebut terjadi hampir dalam semua bidang , baik bidang politik, hukum, sosial-budaya, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan sebagainya. Dalam bidang pendidikan, khususnya guru dan dosen telah lahir Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta peraturan-peraturan terkait lainnya. Guru dan dosen sama-sama diusahakan untuk dikembangkan seoptimal mungkin. Dalam UU Nomor 14 tahun 2005 pasal 7 ayat 2 disebutkan bahwa: “Pemperdayaan profesi guru atau pemberdayaan profesi dosen diselenggarakan melalui pengembangan diri yang dilakukan secara demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif, dan berkelanjutan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai cultural, kemajemukan bangsa, dank ode etik profesi”. Oleh karena itu, pengembangan diri semestinya tidak tergantung kepada pemerintah atau pihak lain. Disamping terdapat upaya pengembangan yang diprogramkan oleh pemerintah melalui berbagai cara, antara lain melalui upgrading, penataran, pelatihan, seminar, simposium, dan lain sebagainya, harus ada upaya pengembangan diri yang dilakukan secara individu oleh guru dan atau dosen yang bersangkutan. Cara yang dapat dilakukan untuk pengembangan diri melalui individu guru dan dosen yang bersangkutan adalah memupuk motivasi atau semangat membaca dan banyak berlatih untuk menulis ilmiah. Untuk menulis karya ilmiah dalam berbagai bentuk, seperti artikel, buku, tesis, cerpen, laporan penelitian dan sebagainya, tanpa banyak membaca tidak akan dapat berhasil dengan baik. “Membaca adalah sebuah jendela yang membuat seseorang bisa menelaah dan mengetahui segala sesuatu yang dimiliki orang lain dengan cara yang sangat mudah dan simpel. Hal inilah yang diajarkan agama kita yang lurus dan mulia” (As-Sirjani & Al-Madari. 2007: 67). Bagi umat Islam tentunya semua faham bahwa dalam sejarahnya Nabi Muhammad Saw selalu berprihatin melihat dan memikirkan akhlaq bangsa Arab yang rusak. Pada aktu menyendiri di Gua Qira’ Ia mendapat wahyu pertama, diperintah untuk membaca atau bacalah (iqra’). Turunnya wahyu yang pertama tersebut secara lengkap terdapat dalam Qur’an Surat Al-‘alaq ayat 1 sd 5. Artinya: “(1) Bacalah dengan (menyebut)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 237 nama Tuhanmu yang menciptakan, (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, (3) Bacalah, dan Tuhanmulah yang maha mulia, (4) Yang mengajar (manusia) dengan pena, (5) Dan mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”. Berdasarkan ayat-ayat di atas, pada dasarnya antara membaca dan menulis tidak dapat dipisahkan, sebagaimana disebutkan dalam ayat empat (4) tersebut. Guru dan dosen memiliki kedudukan yang sangat strategis pada lembaga pendidikan dan mereka selalu bergelut dalam keilmuan. Dengan kata lain, memiliki amanah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Oleh karena itu, guru dan dosen harus memiliki semangat yang tinggi untuk selalu membaca dan menulis. Berkaitan dengan menulis dalam konteks perguruan tinggi, Rose dan Nicholl (dalam Sukirno. 2010: 2-3) menyatakan bahwa perubahan pada suatu abad diibaratkan prahara yang selalu menantang pengajaran dan cara belajar tradisional tidak banyak bermanfaat. Agar eksistensi dosen terus bermanfaat, dosen harus kreatif melakukan eksperimen-eksperimen cara belajar cepat dengan menggunakan strategi belajar menulis yang dapat menumbuhkan motivasi belajar mahasiswa. Jika model itu dieksplisitkan, sebagian besar dosen dapat menjadi pengajar yang sangat efektif dan efisien. Selanjutnya disebutkan oleh Sukirno bahwa satu hal yang perlu mendapat perhatian dalam belajar menulis adalah seperti yang dinyatakan oleh Rose dan Nicholl bahwa cara belajar cepat adalah mahasiswa dan dosen mengakui setiap manusia memiliki cara belajar pribadi yang cocok. Sesuatu yang cocok dengan gaya belajar pribadi berarti belajar dengan cara alami. Sesuatu yang alami menjadi lebih mudah dan lebih cepat. Berdasarkan uraian tersebut di atas, jika ditarik dalam kehidupan guru berarti guru juga harus berusaha dengan kreatif untuk mengembangkan diri dan peserta didiknya. Salah satu kreatifitas yang dituntut adalah harus rajin membaca dan menulis. Untuk kegiatan membaca meskipun belum maksimal, tetapi dapat dikatakan lebih mudah jika dibandingkan dengan menulis. Oleh karena itu, agar lebih kreatif dan produktif serta dapat memenuhi tuntutan sebagai pendidik yang profesional, maka harus punya motivasi atau semangat dan dapat mempertahankan motivasi atau semangatnya itu. Idealnya peserta didik sejak SMP yang sederajat dan SMA yang sederajat selayaknya telah diajari menulis di media massa atau melalui media cetak. Akan tetapi belum semua guru memiliki kemampuan menulis karya ilmiah secara maksimal. Maka dari itu, untuk mengawali yang paling tepat barangkali dimulai dari gurunya. Demikian juga pada perguruan tinggi dosen harus menjadi suri teladan dalam membaca dan menulis karya ilmiah. Baik pada peserta didik (siswa dan mahasiswa) maupun guru dan dosen titik beratnya adalah memiliki motivasi atau semangat yang tinggi dan motivasi tersebut tetap dipelihara dan dipertahankan. Identifikasi Masalah Berangkat dari latar belakang tersebut, dapat diidentifikasi masalah-masalah yang ada dalam kehidupan guru dan dosen berkaitan dengan semangat membaca dan keterampilan menulis ilmiah, yaitu: 1). Motivasi atau semangat guru dan dosen dalam membaca dan menulis ilmiah masih tergolong rendah atau perlu ditingkatkan. 2). Guru dan dosen memiliki potensi dan posisi yang sangat strategis dalam mengembangkan potensi sumber daya manusia pada lembaga pendidikan, maka motivasi guru dan dosen dalam membaca dan menulis ilmiah perlu dipupuk terus. 3). Apabila guru dan dosen memiliki motivasi yang tinggi dalam membaca dan keterampilan menulis ilmiah, maka akan dapat memotivasi peserta didik (siswa dan mahasiswa) untuk rajin membaca dan gemar menulis ilmiah. 4). Motivasi menjadi bagian penting dalam membantu mengembangkan potensi guru dan dosen dalam meningkatkan kemampuan membaca dan menulis ilmiah. Perumusan Masalah

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 238 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Berdasarkan identifikasi masalah tersebut dapat disusun perumusan masalah sebagai berikut. 1). Apakah pemberian dan penanaman motivasi dapat meningkatkan kemampuan guru dan dosen dalam membaca dan keterampilan menulis ilmiah? 2). Pemberian motivasi seperti atau jenis apa saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan guru dan dosen dalam membaca dan meningkatkan keterampilan menulis ilmiah? Studi Kepustakaan a. Semangat membaca terkait erat dengan kemajuan sebuah bangsa dan Negara; Sebuah penelitian tentang persentase rata-rata baca manusia di seluruh dunia yang digambarkan sebagai sampelnya adalah Jepang, Eropa, Arab, dan Indonesia. Hal tersebut dikemukakan oleh As-Sirjani & Al-Madari. (2007: 79-80) bahwa persentase rata-rata bacaan seorang laki-laki biasa – yang bekerja di toko dan sebagai pekerja biasa – di Jepang adalah 40 buku dalam setahun. Selanjutnya bacaan setiap orang di tengah-tengah masyarakat Eropa adalah 10 buku dalam setahun. Adapun persentase rata-rata bacaan orang Dunia Arab adalah sepersepuluh buku (20 lembar) dalam setahun. Kemudian khusus Indonesia tidak diberi penjelasan atau masih tanda tanya (belum diketahui). Selanjutnya dijelaskan bahwa Yahudi yang jumlah penduduknya tidak lebih 1 % saja dari penduduk dunia Arab mampu mengalahkan dunia Arab dalam berbagai hal. Dalam sisi lain As-Sirjani & Al-Madari. (2007: 133-134) menegaskan pentingnya “Baca, dan Tulislah!”. Selanjutnya dijelaskan bahwa cara terbaik dan paling efektif untuk melakukan haal itu, tak lain adalah dengan menulis dan mengikatnya. Apa yang mesti ditulis? Anda bisa mengabadikan manfaat yang sangat berguna yang anda dapatkan. Atau, menukil kutipan yang akurat, analisis yang jeli, atau bisa juga sistematika penyampaian yang baik serta kutipan dan hikmah yang menarik. Atau, meringkas kesimpulan yang jeli, ringkasan yang seksama, dan lain sebagainya. Berdasarkan uraian di atas, dapat difahami bahwa membaca yang hanya sekedar membaca tanpa memiliki keterampilan menuliskannya pada dasarnya banyak banyak memperoleh kemubadziran. Seandainya mendapatkan manfaat hanyalah sedikit. Oleh karena itu, dalam kehidupan seorang guru dan dosen perlu banyak membaca, akan tetapi harus ditindaklanjuti dengan menulis. Dengan kata lain antara membaca dan menulis merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan antara yang sebagian dengan bagian yang lain. b. Menjadikan menulis sebagai panggilan hidup; Menulis karya ilmiah semestinya harus dijadikan sebuah panggilan hidup, artinya memang telah menjadi bagian dalam hidupnya. Ibarat tiada hari tanpa menulis, baik untuk menulis buku, menulis artikel, menulis cerpen, menulis laporan penelitian maupun yang lainnya. Hakim (2001: 14) menyatakan bahwa menulis dapat dijadikan sebagai profesi dan panggilan hidup, karena dari menulislah kita bisa hidup dan bisa berbuat baik untuk kehidupan dan kemanusiaan. Dengan menulis, kita berniat menyumbangkan ide dan gagasan untuk kebaikan umat manusia. Ini tentu merupakan kepuasan rokhani dan psikologis. Bahkan banyak penulsi yang ide-idenya bisa mempengaruhi umat manusia dalam kurun yang panjang. Pengaruh sebuah ide dan tulisan (biasanya buku) bahkan bisa melebihi umur manusia. Misal : Karl Marx, Adam mith, Sigmeund Freud, Prof Hamka, Sutan Takdir Ali Syahbana, HB Yasin, QuraishSihab, dan sebagainya. Bahkan banyak karya filsof-filsof Yunani sebelum masehi (SM) masih mempengaruhi pemikiran di abad ini. c. Kontribusi para pemikir muslim dalam penulisan karya ilmiah mengalami penurunan; Peradaban umat manusia selalu mengalami pasang surut, begitu juga

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 239 kontribusi para pemikir muslim terhadap khazanah pemikiran manusia. Banyak pernyataan berharga dari Cendekiawan barat tentang kontribusi sarjana Muslim terhadap kemajuan ilmiah. Salah satunya dari George Sarton: (kaya-karya) paling berharga, orisinal, dan kaya ditulis dalam bahasa Arab. Dari paruh kedua abad ke-11, Bahasa Arab merupakan bahasa ilmiah umat manusia yang progresif. Selama periode tersebut, setiap orang yang ingin mendapat banyak informasi dan berpengetahuan harus belajar bahasa Arab. Cukup di sini disebut beberapa nama gemilang tanpa tandingan di dunia Barat kontemporer; Jabir Ibn Hayyan, Al-Kindi, Al-Khawarizmi, Al-Farghani, Al-Razi, Tsabit bin Qurrah, Al-Battani, Hunain Ibn Ishaq, Al-Farabi, Ibrahim Ibn Siman, Al-Mas’udi, Al-Thabari, Abu Al-W afa’, Ali ibn Al-Jazzar, Al-Biruni, Al-Zaqali, Umar Khayyan – rentetan nama besar. Jika seseorang memberi tahu Anda bahwa Abad Pertengahan secara ilmiah mandul, sebut saja orang-orang ini. Semua cendekiawan ini muncul pada periode relative singkat antara 750 dan 1100 (Badi dan Tajdin. 2007: 182). Kejayaan tersebut ternyata tidak dapat bertahan lama, hanya sekitar tiga setengah abad. Itulah pentingnya memelihara semangat atau motivasi, agar karya-karya besar dapat dilanjutkan dari generasi kegenerasi. Jika tidak ada upaya sungguh-sungguh, maka kejayaan suatu bangsa, termasuk dalam menulis karya ilmiah akan mengalami menurunan bahkan hilang dari percaturan dunia. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Pengembangan Potensi Diri Dalam pengembangan potensi diri agar peserta didik tidak pasif, terdapat pernyataan Confucius 2400 tahun yang lalu yang sangat terkenal, yaitu: “Apa yang saya dengar, saya lupa; Apa yang saya lihat, saya ingat; Apa yang saya lakukan, saya paham”. Oleh karena itu, bagi ilmuwan dan calon ilmuwan tidak cukup jadi pendengar, karena akan mudah terlupakan. Maka agar memiliki ingatan yang kuat harus diikuti dengan melihat, sehingga membaca, melihat skema, memakai alat peraga, dan lainnya dapat meningkatkan daya ingat. Akan tetapi, hal tersebut belum dapat membawa pemahaman yang kuat, sehingga untuk dapat memiliki pemahaman yang kuat diperlukan praktik atau melakukan sesuatu sesuai dengan yang dipelajari. Menulis karya ilmiah bukanlah pekerjaan yang sulit, jika hal itu diikuti dengan latihan-latihan atau praktik. Apabila hal-hal itu hanya menguasi teori tanpa paraktik ibarat seperti filosof, sebaliknya praktik yang tanpa teori akan mudah mendapatkan kesalahan-kesalahan, bahkan ada yang menyebutkan seperti orang gila yang praktik tanpa menggunakan teori sama sekali. Motivasi atau semangat membaca dan menulis merupakan jembatan untuk dapat menjadi pribadi yang unggul. Toms memberikan tips beberapa cara untuk menjadi pribadi yang unggul, namun tidak akan dibahas semua di sini. Berkaitan dengan konteksnya Toms (2008: 2-5) mengemukakan beberapa kalimat kunci, antara lain: (2) Berpikirlah positif agar sikap kita menjadi positif; (2) Ubah fokus Anda pada hal-hal yang positif saja; (3) Tetaplah rendah hati agar kita tidak menjadi sombong; dan (4) Saat kita melihat segala sesuatu dari sisi positif maka kita akan melihat banyak hal yang positif dan bernilai baik. Dengan kata lain, dalam kegiatan membaca dan menulis agar berhasil dengan baik, hendaknya senantiasa berpikir positif. 2. Ugensi Motivasi dalam Bekarya Motivasi atau merupakan pangkal utama dalam mensukseskan sebuah usaha, baik dalam kehidupan pibadi maupun dalam oganisasi. Selanjutnya dalam bebagai kajian semangat sering disederajatkan atau disamakan dengan motivasi. Oleh kaena itu, dalam konteks pembahasan ini antara istilah semangat dan istilah motivasi pada dasarnya memiliki makna yang sama. Motivasi merupakan bagian yang sangat penting dalam pengarahan atau penggerakan, karena meskipun banyak potensi sumberdaya manusia yang tersedia apabila tidak ada motivasi tidak dapat bermanfaat secara

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 240 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 maksimal. Dalam kesebelasan sepakbola misalnya, meskipun pemainnya lengkap dan sudah terlatih tetapi kalau dalam permainan atau pertandingan tidak memiliki motivasi atau semangat yang tinggi. maka permainannya akan kurang bergairah dan bisa jadi memperoleh kekalahan. Bisa jadi mungkin kesebelasan sepakbola lawan yang tingkat kehandalannya dibawahnya tetapi memiliki motivasi yang kuat, bermain penuh gairah, kompak, bertahan, dan berjuang mati-matian untuk mendapatkan kemenangan dalam rangka mempertahankan nama baik kesebelasan khususnya serta bangsa dan negaranya, maka akhirnya dapat memperoleh kemenangan. Untuk itu motivasi harus senantiasa terus dikembangkan sejak dini dan berjalan terus tanpa batas waktu. Kalau ada ”Tradisi tiada henti” dan juga ”Inovasi tiada henti” seperti slogan atau visi dalam dan TV Yogya dan perusahaan HONDA, maka tak ada salahnya kalau ada slogan ”Semangat tiada henti” atau ”Motivasi tiada henti”. Dalam sekolah dan atau perguuan tinggi misalnya, juga dapat terjadi seperti contoh kesebelasan tesebut. Guru dan atau dosen memiliki kecedasan tinggi atau IQ di atas rata-rata, tanpa motivasi yang kuat untuk membaca dan menulis karya ilmiah, belum tentu memiliki hasil r yang lebih tinggi dibandingkan dengan guru atau dosen yang memiliki kecedasan atau IQ dibawahnya tetapi penuh dengan motivasi atau memiliki semangat yang tinggi. Dengan demikian, dosen, guru, mahasiswa, dan murid, untuk memiliki produktivitas yang tinggi sangat diperlukan adanya motivasi. Apalagi guru dan dosen, disamping memiliki motivasi yang tinggi juga harus mampu memberikan motivasi kepada murid atau mahasiswa, demikian juga pimpinan harus mampu memberikan motivasi kepada bawahannya. Kemudian muncul pertanyaan, apa sebenarnya motivasi itu? Untuk dapat memberikan jawaban juga tidak lepas dengan pendapat dari berbagai ahli. Banyak istilah yang digunakan untuk menyebut motivasi atau motivation, antara lain: kebutuhan (need), desakan (urge), keinginan (wish), dan dorongan (drive). Meskipun istilah yang digunakan banyak dan mungkin kadang-kadang silih berganti digunakan, tetapi pada dasarnya yang digunakan disini sesuai dengan yang digunakan kebanyakan ahli maka menggunakan istilah motivasi. Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai tujuan. Motivasi yang ada pada seseorang menurut Handoko (2003: 252) merupakan kekuatan pendorong yang akan mewujudkan suatu perilaku guna mencapai tujuan kepuasan dirinya. Motivasi sebagaimana telah dijelaskan di muka merupakan masalah sangat kompleks dan rumit dalam organisasi, sehingga banyak ahli yang memberikan perhatian secara serius dan melakukan kajian atau pembahasan secara mendalam. Salah satu pelopor yang mendalami tentang teori motivasi adalah Abraham Maslow dan sumbangan pemikirannya sampai sekarang masih diakui ahli-ahli lain, baik di kalangan akademisi maupun di kalangan praktisi. Menurut Maslow (dalam Siagian. 2005: 110-111 ) manusia memilki kebutuhan terdiri dari lima macam yang diklasifikasikan pada hirarki kebutuhan manusia, yaitu (1) kebutuhan fisiologis, (2) kebutuhan akan keamanan, (3) kebutuhan sosial, (4) kebutuhan esteem atau harga diri, (5) kebutuhan untuk aktualisasi diri (Siagian. 2005: ). Selain teori motivasi yang dikemukakan oleh A. Maslow tersebut di atas, banyak teori motivasi yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain: a. Teori ERG: Adelfer; Adelfer setuju dengan Maslow bahwa kebutuhan-kebutuhan individual tersusun secara hirarki. Namun demikian hirarki kebutuhan yang diusulkannya hanya terdiri dari tiga kebutuhan, yaitu: (1) Existence (eksistensi): kebutuhan-kebutuhan terpuaskan oleh faktor-faktor seperti makan, udara, air, gaji, dan kondisi pekerjaan.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 241 (2) Relatedness (keterkaitan): kebutuhan-kebutuhan terpuaskan dengan adanya hubungaan sosial dan interpersonal yang berarti. (3) Growth (pertumbuhan): Kebutuhan-kebutuhan yang terpuaskan oleh seorang individu menciptakan kontribusi yang kreatif atau produktif. b. Teori Dua Faktor: Herzberg; Federick Herzberg mengembangkan teori motivasi dua faktor atas hasil penelitiannya, yaitu: (1) Terdapat satu kelompok kondisi ekstrinsik (konteks pekerjaan), yang meliputi: upah, keamanan kerja, kondisi kerja, status, prosedur perusahaan, mutu penyeliaan, dan mutu hubungan interpersonal antar sesama rekan kerja atasan dan bawahan. Hal-hal di atas kalau tidak dipenuhi merupakan penyebab ketidakpuasan, sehingga kondisi ekstrinsik disebut ketidakpuasan atau faktor higieni. (2) Terdapat satu kondisi intrinsik, isi kerja yang meliputi: pencapaian prestasi, pengakuan, tanggungjawab, kemajuan, pekerjaan itu sendiri, kemungkinan berkembang. Hal-hal diatas apabila dapat dipenuhi akan membawa kepada kepuasan atau membentuk motivasi yang kuat untuk menghasilkan motivasi kerja yang baik, yang disebut pemuas atau motivator. c. Teori Kebutuhan menurut McClelland; David C McClelland berdasarkan hasil penelitiannya mengajukan teori kebutuhan motivasi yang dipelajari yang erat hubungannya dengan konsep belajar. Ia percaya bahwa banyak kebutuhan yang didapatkan dari kebudayaan masyarakat. Tiga dari kebutuhan yang dipelajari, ialah: (3) kebutuhan berprestasi (n Ach), (4) kebutuhan berafiliasi (n Aff), (5) kebutuhan berkuasa (n Pow). Menurut McClelland suatu kebutuhan kuat berada dalam diri seseorang, efeknya adalah memotivasi dia untuk menggunakan tingkah laku yang mengarah pada pemuasan kebutuhan. Contoh: seorang pekerja dengan (n Ach) tinggi akan menetapkan tujuan yang menantang, bekerja keras untuk mencapai tujuan, dan menggunakan keterampilan dan kemampuannya untuk mencapainya. d. Teori X dan Teori Y; Douglas Mc Gregor mengemukakan dua pandangan yang berbeda mengenai manusia, yang pada dasarnya positif dan negatif yang biasa disebut dengan teori X dan teori Y. Teori X merupakan pengandaian bahwa karyawan tidak menyukai kerja, malas, tidak menyuakai tanggungjawab, dan harus dipaksa agar berprestasi. Menurut teori X, empat pengandaian yang dipegang para manajer adalah sebagai berikut: (6) Karyawan secara inheren (tertanam dalam dirinya) tidak menyukai kerja dan bilamana dimungkinkan, akan mencoba menghindarinya. (7) Karena karyawan tidak menyukai kerja, mereka harus dipaksa, diawasi, atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan. (8) Karyawan akan menghindari tanggung jawab dan mencari pengarahan formal bilamana dimungkinkan. (9) Kebanyakan karyawan menaruh keamanan di atas semua faktor lain yang dikaitkan dengan kerja dan menunjukkan sedikit saja ambisi.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 242 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Kontras dengan pandangan negatif ini mengenai kodrat manusia, yaitu teori Y, yang merupakan pengandaian bahwa karyawan menyukai kerja, kreatif, berusaha bertanggung jawab dan dapat menjalankan pengarahan diri. Selanjutnya McGregor mendaftar empat pengandaian positif dalam teori Y tersebut, yaitu: (1) Karyawan dapat memandang kerja sama wajarnya seperti istirahat atau bermain. (2) Orang-orang akan menjalankan pengarahan diri dan pengawasan diri jika mereka komit pada sasaran. (3) Rata-rata orang dapat belajar untuk menerima, bahkan mengusahakan tanggung jawab. (4) Kemampuan untuk mengambil keputusan inovatif (pembaharuan) tersebar meluas dalam populasi dan tidak hanya milik dari mereka yang berada dalam posisi manajemen. Berdasarkan teori X dan Y tersebut di atas, McGregor sendiri menganut keyakinan bahwa pengandaian Teori Y lebih sahih (valid) daripada Teori X. Oleh karena itu, Ia mengusulkan ide-ide seperti pengambilan keputusan partisipatif, pekerjaan yang bertanggung jawab dan menantang, dan hubungan kelompok yang baik sebagai pendekatan-pendekatan yang akan memaksimalkan motivasi pekerjaan seorang karyawan. Kelima teori motivasi tersebut (Maslow, Adelfer, Herzbeg, McClelland, dan Mc Gregor) kalau dikaji secara mendalam pasti semua memiliki kelebihan dan kelemahan, untuk itu tidak dapat disimpulkan bahwa salah satu teori motivasi yang paling benar dan sempurna, sedangkan yang lainnya salah. Disamping itu sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan juga muncul teori-teori proses, antara lain: (1) teori pengharapan, (2) pembentukan perilaku, (3) teori Porter-Lawler, dan (4) teori keadilan (Handoko. 2003: 262). Selanjutnya timbul pertanyaan bagaimana motivasi ditinjau dari ajaran agama (khususnya Islam)? Dalam Islam telah ditegaskan bahwa pada dasarnya semua usaha atau amal yang dilakukan tidak ada yang gratis, semuanya pasti punya pengharapan atau imbalan, dan tentu motivasinya juga berbeda-beda. Dalam Islam berbuat baik atau beramal shalih sering dikaitkan dengan motivasi imbalan pahala dan bagi yang melakukan kemaksiayatan atau kejahatan diancam dengan dosa atau siksa. Bagi yang berpahala masuk surga dan bagi yang berdosa masuk neraka. Berbuat baik atau beribadah yang mengharapkan pahala tersebut ada yang menganggap belum tinggi derajatnya, yang paling tinggi adalah yang berbuat baik atau beribadah hanya untuk mencari ridho Allah Swt. Setelah membahas hal-hal yang terkait dengan motivasi, lantas bagaimana jika dikaitkan dengan motivasi dalam menulis ilmiah? Keperhasilan seorang penulis tidak dapat dilepaskan dengan semangat atau motivasi seseorang dalam membaca. Seorang penulis, makin banyak membaca kemungkinan besar makin produkdif dalam menulis ilmiah. Khusus berkaitan dengan motivasi menulis di media massa, menurut Hakim (2001: 49) terdapatdua hal penting, yaitu: Pertama, dengan menulis di media massa, maka ide dan gagasan kita tentu akan dibaca dan diapresiasi oleh khalayak luas. Hal ini merupakan factor idealism. Soal mencuatnya posisi pro dan kontra dari para pembaca menyoal tulisan kita tentunya merupakan hal yang biasa dan manusiawi. Jika ide dan gagasan kita tergolong bagus, berbobot, dan inspiratif, mungkin saja akan bisa mempengaruhi konstruk nilai dan kesadaran (sebagian) pembaca. Bukankah ini merupakan kepuasan batin yang ternilai? Kedua, dengan menulis di media massa, kita bisa mendapatkan imbalan dan honorarium yang lumayan. Hal ini terkait dengan factor kemandirian dan kebutuhan hidup. Motivasi menulis di media massa di atas, baru merupakan contoh tertentu, bahwa

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 243 menulis memiliki manfaat yang sangat besar, bukan hanya pada media massa tetapi seluruh menulis ilmiah. Menulis ilmiah sangat banyak jenisnya, antara lain menulis artikel yang dimuat dalam tabloid, majalah, dsb. Disamping itu dapat menulis cerita pendek (cerpen), dan cerita bersambung (cerbung) pada majalah atau media massa lainnya, menulis buku bacaan umum, buku ajar, opini, laporan penelitian, dan lain-lain pada dasarnya semuanya merupakan karya tulis ilmiah. Oleh karena itu, bagi guru dan dosen harus senantiasa memupuk semangat untuk banyak membaca dan menulis ilmiah. Menulis ilmiah tidak akan dapat terwujud tanpa banyak membaca. Selanjutnya harus senantiasa mengajak dan member teladan kepada siswa dan mahasiswa untuk rajin membaca dan menulis. SIMPULAN DAN SARAN Banyak cara yang dapat dilakukan agar seseorang dapat menjadi penulis ilmiah yang baik. Akan tetapi untuk menjadi penulis yang baik tidak semata-mata terjadi dengan sendirinya, melainkan harus juga menjadi pembaca yang baik. Oleh karena itu, harus memiliki semangat atau motivasi yang tinggi dalam membaca. Membaca dan menulis merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Sekarang ini dapat dikatakan bahwa tidak ada kemapuan atau keahlian menulis ilmiah tanpa diimbangi dengan kemampuan membaca. Penulis dongeng dan pelawak sekalipun, agar berkualitas produknya, salah satunya harus banyak membaca. Tentu membaca yang dimaksud adalah membaca hal-hal yang terkait dan mendukung dengan karya ilmiah yang dikembangkan. Menulis ilmiah tidak dapat dipandang sebagai bakat semata, akan tetapi lebih merupakan keterampilan yang dapat dipelajari, dilatih, dan dikembangkan. Maka dari itu, jika seseorang memiliki motivasi yang tinggi dan diikuti dengan ikhtiar secara maksimal kemungkinan besar akan berhasil. Banyak belajar dan berlatih merupakan kunci keberhasilan, disamping itu harus didukung dengan sarana dan prasarana seperti sumber bacaan, perpustakaan pribadi, perpustakaan sekolah, lap top, dan sebagainya. Disamping itu juga harus didukung fasilitas dari media elektronika seperti lewat internet dan sejenisnya. Budaya membaca dan menulis ilmiah harus menjadi gerakan semua guru dan dosen pada semua lembaga pendidikan, sehingga guru dan dosen betul-betul menjadi contoh atau suri teladan bagi peserta didiknya (siswa dan mahasiswa). Perpustakaan harus betul-betul menjadi jantung dalam lembaga pendidikan dalam melakukan gerakan budaya membaca dan menulis ilmiah. Pemerintah dan masyarakat harus mendukung sepenuhnya gerakan membaca dan menulis ilmiah tersebut melalui dukungan pemberian fasilitas yang memadai sejak dari bahan bacaan, ruang baca, taman baca, saluran pengembangan diri dalam menulis karya ilmiah, dan sebagainya. Berdasarkan uraian tersebut di atas, agar guru dan dosen memiliki motivasi yang tinggi dan kemampuan menulis ilmiah, penulis menyampaikan saran/rekomendasi sebagai berikut. 1. Kepada Guru dan Dosen; a. Hendaknya guru dan dosen betul-betul berusaha untuk mengembangkan diri melalui gemar membaca dan menulis ilmiah. b. Hendaknya guru dan dosen menjadi suri teladan dan pembimbing bagi peserta didik (siswa dan mahasiswa) pada lembaga pendidikan dalam melakukan gerakan semangat membaca dan menulis ilmiah. 2. Kepada Lembaga Pendidikan; a. Menyiapkan sarana dan prasarana untuk suskesnya gerakan gemar membaca dan menulis ilmiah, baik melalui media cetak maupun media elektronika. b. Menyediakan perpustakaan yang lengkap dan memadai, sehingga dapat menjadi jantung lembaga pendidikan dan dapat digunakan untuk meningkatkan daya baca dan menulis ilmiah. 3. Kepada Pemerintah; a. Memberikan dukungan yang penuh baik material maupun spiritual kepada semua

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 244 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 guru dan dosen pada setiap lembaga pendidikan untuk mengembangkan diri melalaui membaca dan menulis. b. Berpartisipasi aktif dan membantu sarana dan prasarana yang memadai untuk suksesnya gerakan gemar membaca bagi guru dan dosen serata bagi siswa dan mahasiswa. 4. Kepada Masyarakat; Ikut berpartisipasi dan memantau agar gerakan gemar membaca dan menulis ilmiah dapat berhasil serta memberikan bantuan sarana dan prasarana secara proporsional. Membaca dan menulis ilmiah merupakan salah satu cara dapat dilakukan untuk mengembangkan diri guru dan dosen. Oleh karena itu, memotivasi atau memberikan semangat merupakan bagian penting untuk keberhasilan guru dan dosen dalam melakukan gerakan gemar membaca dan menulis ilmiah. Tulisan atau paparan tersebut diharapkan dapat memberikan andil dalam menggerakkan dan mengembangkan diri guru dan dosen melelui gerakan gemar membaca dan menulis ilmiah. DAFTAR PUSTAKA Al-Madari, Amir & As-Sirjani, Raghib. 2007. Spiritual Reading, Hidup Lebih Bermakna dengan Membaca (terjemahan oleh Sarwedi & Hasibuan). Solo: Aqwam. Badi, Jamal & Tajdin Mustapha. 2007. Islamic Creative Thinking, Berpikir Kreatif Berdasarkan Metode Qurani (terjemahan oleh Munir Mun’im). Bandung: Mizan Pustaka. Hakim, M. Arief. 2001. Kiat Menulis Artikel di Media Cetak, Dari Budaya, Iptek sampai Agama. Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia. Handoko, Hani T. 2003. Manajemen (Edisi 2). Yogyakarta: BPFE-UGM. Kementerian Agaama RI. 2013. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Solo: Tiga Serangkai. Sairin, Weinata. 2010. Himpunan Peraturan dibidang Pendidikan. Jakarta: Jala Permata Aksara. Siagian, S. P. 2005. Fungsi-Fungsi Manajerial. Jakarta: Bumi Aksara. Sukirno. 2010. Belajar Cepat Menulis Kreatif Berbasis Kuantum. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Toms. 2008. Cara Sederhana menjadi Pribadi Unggul. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 245 MEMBANGUN KECERDASAN ANAK 0 – 3 TAHUN MELALUI MEMBACA DAN BERMAIN Agung Prasetyo1,* 1Prodi PAUD Universitas PGRI Semarang *Keperluan korespondensi: agungpras2011@yahoo.com ABSTRAK Pendidik yang baik mampu mendeteksi kecerdasan anak dengan cara mengamati perilaku, kecenderungan, minat, cara dan kualitas anak saat bereaksi terhadap stimulus yang diberikan. Semua indikator kecerdasan dapat dikenali pendidik untuk kemudian dibuat profil kecerdasannya. Oleh karena itu, sebaiknya setiap pendidik anak usia dini mengetahui cara mengembangkan kecerdasan anak didiknya, dengan cara mengindentifikasi setiap indikator kecerdasan anak dan menyadarin pentingnya pengembangan semua kecerdasan yang dimiliki anak. Dan salah satunya metode yang cukup strategis yang diterapkan anak TK adalah metode bermain. Hal ini mengacu pada kenyataan bahwa bermain dapat membawa harapan dan antisipasi tentang dunia yang memberikan kegembiraan dan memungkinkan anak dapat berkayal seperti sesuatu atau seseorang, atau dunia yang dipersiapkan untuk berpetualang dan mengadakan telaan;suatu dunia anak-anak kegiatan bermain memberikan pengalaman kepada anak untuk membangun dunianya tersendiri. Anak usia dini merupakan masa usia bermain, oleh karena itu pendekatan dalam kegiatan bermain dapat membuat anak menjadi gembira serta dapat berkhayal serta berimajinasi. Membaca merupakan kegiatan yang sehat, membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anak pun akan berkembang kreatifitasnya dan kecerdasannya. Kata kunci: kecerdasan, membaca, metode bermain, kreatifitas PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Setiap anak di dunia ini memiliki berbagai kecerdasan dalam tingkat dan indikator yang berbeda. Hal ini menunjukan bahwa semua anak,pada hakikatnya, adalah cerdas. Perbedaan terletak pada tingkatan indikator kecerdasannya. Perbedaan tersebut ditentukan oleh berbagai factor. Salah satunya adalah rangsangan yang diberikan pada saat anak masih berusia dini. Perbedaan kecerdasan diantara anak didik menurut cara berpikir pendidik yang adil dan eksistensialis. Oleh sebab itu, pendidik perlu bertanya pada diri sendiri berkaitan dengan kecerdasan anak didiknya. Setiap pendidik anak usia dini diharapkan mengetahui cara mengembangkan kecerdasan anak didiknya, dengan cara mengindentifikasi setiap indikator kecerdasan anak dan menyadarin pentingnya pengembangan semua kecerdasan yang dimiliki anak. Dan salah satunya metode yang cukup strategis yang diterapkan anak TK adalah metode bermain. Hal ini mengacu pada kenyataan bahwa bermain dapat membawa harapan dan antisipasi tentang dunia yang memberikan kegembiraan dan memungkinkan anak dapat berkayal seperti sesuatu atau seseorang, atau dunia yang dipersiapkan untuk berpetualang dan mengadakan telaan;suatu dunia anak-anak.(Gordon dan Browne dalam Moeslichatoen; 2004: 24) Pengertian Kecerdasan Anak Setiap anak di dunia ini memiliki berbagai kecerdasan dalam indikator yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa semua anak pada hakikatnya adalah cerdas. Perbedaan terletak pada tingkatan dan indikator kecerdasannya. Perbedaan tersebut ditentukan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah rangsangan yang diberikan pada anak masih usia dini. Menurut Gardner (dalam Monty P. Satiadarma dan Fidelis E. Waruwu, 1983: 5-6) misalnya, menjelaskan bahwa intelegensi bukan merupakan suatu konstruk unit

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 246 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 tunggal, namun merupakan kosntruk sejumlah kemampuan yang masing-masing dapat berdiri-sendiri. Ia beranggapan bahwa sekurang-kurangnya ada 7 bentuk inteligensi yaitu : 1) Inteligensi bahasa (linguistik), 2) Intelegensi logika-matematika (logic-mathematical), 3) Intelegensi Keruangan (Spatial), 4) Intelegensi Musikal (musical), 5) Inteligensi kinestetik (bodily-kinesthetic), 6) Inteligensi interpersonal, 7) Intelegensi Intrapersonal, 8) Inteligensi naturalis, 9) Inteligensi spiritual, 10) Intelegensi eksistensial. Menurut Howard Gardner (dalam Tadkiroatun Musfiroh, 2005: 48-49), pengertian kecerdasan adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau produk yang dibuat dalam satu beberapa budaya (Gardner, 1993) secara terperinci, kecerdasan dapat didefinisikan sebagai: a. Kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan nyata. b. kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan. c. kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang. Macam-Macam Kecerdasan Menurut Gardner kecerdasan dalam multiple intelligences meliputi kecerdasan verbal–lingustik (cerdas kata), cerdas logis-matematis, (cerdas angka), kecerdasan visual-spatial (cerdas gambar warna), cerdas musical (cerdas musik-lagu), cerdas kinestik (cerdas gerak) kecerdasan inerperpersonal (cerdas sosial), kecerdasan interpersonal (cerdas diri), kecerdasan naturalis (cerdas alam), kecerdasan eksistensial (cerdas hakikat). Setiap kecerdasan dala multiplr intrlligrncr ememiliki indikator tertentu. 1) Kecerdasan Verbal-Linguistik Kecerdasan ini ditunjukkan dengan kepekaan anak pada bunyi, struktur, makna, fungsi kata dan bahasa. Anak yang memiliki kecerdasan ini cenderung menyukai dan efektif dalam hal berkomunikasi lisan dan tulisan. 2) Kecerdasan Logis-Matematis Kecerdasan ini ditandai dengan kepekaan pada pola-pola logis dan memiliki kemampuan mencerna pola-pola tersebut, termasuk juga numerik serta mampu mengolah alur pemikiran yang panjang. mencari jalan keluar yang logis, menemukan pola, dan menggunakan simbol abstrak. 3) Kecerdasan Visual-Spasial Kecerdasan ini ditandai dengan kepekaan mempersepsi dunia visual-spasial secara akurat dan mentransformasinya, pandai dalam navigasi dan menemukan arah. 4) Kecerdasan Musikal Kecerdasan ini ditandai dengan kemampuan menciptakan dan mengapresiasi irama pola titi nada, warna nada ; juga kemampuan mengapresiasi bentuk-bentuk ekspresi musical, serta memahami struktur musik. 5) Kecerdasan Kinestetik Kecerdasan ini ditandai dengan kemampuan mengenal gerak tubuh dan kemahiran mengelola obyek mudah memanipulasikan benda-benda (dengan tangan), membuat benda-benda gerak-gerik yang anggun, dan pandai menggunakan bahasa tubuh. 6) Kecerdasan Interpersonal Kecerdasan ini ditandai dengan kemampuan mencerna dan merespon secara tepat suasana hati, temperamen, motivasi, dan keinginan orang lain, berkomunikasi, berinteraksi, berempati dan bersimpati, memimpin dan mengorganisasikan kelompok. 7) Kecerdasan Naturalis Kecerdasan ini ditandai dengan keahlian membedakan anggota-anggota suatu spesies mengenali eksistensi spesies lain, dan memetakan hubungan antara spesies baik mengklasifikasi flora dan fauna, menemukan pola dalam alam, serta mengidentifikasikan pola dalam alam.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 247 8) Kecerdasan Intrapersonal Kecerdasan ditandai dengan kemampuan memahami perasaan sendiri dan kemampuan membedakan emosi serta pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan diri berfikir dan merenung, mereka selalu melakukan instropeksi, mematuhi tujuan diri yang realistis dan memahami. 9) Kecerdasan Eksistensial Seseorang yang cerdas secara eksistensial cenderung dan mempertanyakan hakikat kehidupan, mencari inti dari setiap permasalahan, merenungkan berbagai hal atau peristiwa yang dialami, memikirkan hikmah atau makna di balik peristiwa atau masalah, dan mengkaji ulang setiap pendapat dan pemikiran. Banyaknya bentuk kecerdasan yang telah menjadi potensi anak, tentu memberikan peluang yang lebih besar untuk perkembangan kemampuan kecerdasan, semua kemajemukan kecerdasan di atas dapat berfungsi secara maksimal, sehingga menghasilkan bentuk kekuatan kecerdasan yang sempurna. Pengertian Membaca Membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berfikir, psikolinguistik, dan metakognitif sebagai proses visual membaca, merupakan proses menterjemahkan, simbol tulisan (huruf) kedalam kata-kata lisan. Sebagai suatu proses berfikir, membaca mencakup aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi, membaca kritis, dan pemahaman kreatif. Pengenalan kata bisa berupa aktivitas membaca kata-kata dengan menggunakan kamus (Crawley dan Montain, 1995). Klien, dkk (dalam Rahim, 2005 ; 3) mengemukakan bahwa definisi membaca mencakup : 1) Membaca merupakan suatu proses. Maksudnya adalah informasi dari teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peranan yang utama dalam membentuk makna. 2) Membaca adalah strategis, pembaca yang efektif menggunakan berbagai strategi membaca yang sesuai dengan teks dan konteks dalam rangka mengkonstruk makna ketika membaca. 3) Membaca merupakan interaktif, keterlibatan pembaca-pembaca dengan teks tergantung pada konteks. Orang yang senang membaca suatu teks yang ingin dicapainya teks yang dibaca seseorang harus mudah dipahami (Readable) sehingga terjadi interaksi antara pembaca dan teks. Tumpubolon (1993) menjelaskan pada hakikatnya membaca adalah kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dari tulisan, walaupun dalam kegiatan itu terjadi proses pengenalan huruf-huruf. Dikatakan kegiatan fisik karena bagian-bagian tubuhnya khususnya mata yang melakukannya. Dikatakan kegiatan mental karena bagian-bagian pikiran khususnya persepsi dan ingatan, terlibat didalamnya. Dari definisi ini kiranya dapat dilihat bahwa menemukan makna dari bacaan (tulisan) adalah tujuan utam membaca dan bukan mengenali huruf. Diperjelas oleh pendapat Smith (dalam Ginting, 2005) bahwa membaca merupakan suatu proses membangun pemahaman dari teks yang tertulis. Pengertian Bermain Sebagian besar orang mengerti apa yang dimaksud dengan bermain, namun demikian mereka tidak dapat memberikan batasan apa yang dimaksud dengan bermain. Adapun batasan yang diberikan tentang pengertian bermain, bermain membawa harapan dan antisipasi tentang dunia yang memberikan kegembiraan, dan memungkinkan anak berkhayal seperti sesuatu atau sesorang, suatu dunia yang dipisahkan untuk berpetualang dan mengadakan telaah ; sesuai dunia anak-anak (Gordon Dan Browde, 1985 – 265) melalui bermain anak belajar mengendalikan diri

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 248 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 sendiri, memahami dunianya, jadi bermain merupakan cermin perkembangan anak. Menurut beberapa pengertian, aktivitas bermain tidak sama dengan aktivitas lainnya seperti belajar, mandi , makan dan tidur. Namun dalam bermain sebenarnya anak sedang belajar, ciri-ciri yang membedakan antara lain : a) Aktivitas bermain bisa menimbulkan efek yang menyenangkan dan gembira. Jika situasi pada saat bermain tidak menimbulkan efek seperti disebutkan di atas, maka bermain tidak lagi menarik bagi anak, ini mengapa anak sering dikatan cepat bosan oleh orang dewasa. b) Aktivitas bermain bisa dilakukan secara spontanitas dan suka rela tidak ada unsur paksaan. Anak baik sendiri maupun secara bersama–sama dapat menciptakan suasana bermaian yang menyenangkan ketika anak sedang sendiri. c) Dalam bermain ada aturan yang diciptakan oleh pemainnya sendiri yang sifatnya insidentil. Aturan main itu tidaklah sama bila dilakukan ditempat yang berbeda dan dengan orang berbeda pula. Lain tempat lain beda orang, lain pula aturannya. d) Dalam bermain anak bisa termotivasi untuk menyenangi permainan, misalnya saja anak bisa betah bertahan lama dan mencari alat permainan. Pengaruh Permaian bagi Perkembangan Anak Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan, tanpa empertimbangkan hasil akhir. Ada orang tua yang berpendapat bahwa anak yang terlalu banyak bermain akan membuat anak menjadi malas bekerja dan bodoh. Anggapan ini kurang bijaksana karena beberapa ahli psikologi mengatakan permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak. Faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak: a) Kesehatan Anak-anak yang sehat mempunyai banyak energi untuk bermain dibandingkan dengan anak-anak yang kurang sehat, sehingga anak-anak yang sehat menghabiskan banyak waktu untuk bermain yang membutuhkan banyak energi. b) Inteligensi Anak-anak yang cerdas lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak yang kurang cerdas. Anak-anak yang cerdas lebih mengurangi permainan-permainan yang bersifat intelektual atau permainan yang banyak mengrangsang daya pikiran mereka, misalnya permainan drama, menonton film, atau membaca bacaan-bacaan yang bersifat intelektual. c) Jenis Kelamin Anak perempuan lebih sedikit melakukan permainan yang mengahbiskan banyak energi, misalnya ; memanjat, berlari-lari, atau kegiatan fisik yang lain. Perbedaan ini hukan berarti bahwa anak perempuan kurang sehat dibanding anak laki-laki. Melainkan pandangan masyarakat bahwa anak perempuan sebaiknya menjadi anak yang lembut dan bertingkah laku yang halus. d) Lingkungan Anak yang dibesarkan dilingkungan yang kurang menyediakan peralatan, waktu, dan ruang bermain bagi anak akan menimbulkan aktivitas bermain anak berkurang. e) Status Sosial Ekonomi Anak yang dibesarkan dilingkungan keluarga yang status sosial ekinominya tinggi, lebih banyak tersedia alat-alat permainan yang lengkap dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan dikeluarga yang status ekonominya rendah. Macam-macam Permainan dan Manfaatnya bagi Perkembangan Jiwa Anak. a. Permainan Aktif 1) Bermain bebas dan spontan atau eksplorasi Dalam permainan ini tidak ada aturan-aturan dalam permainan selama permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anak akan berhenti apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 249 2) Drama Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan , menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan yang nyata, atau dalam mass media. 3) Bermain Musik Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah aku sosialnya, dengan teman-teman sebayanya dalam memproduksi musik, menyanyi, berdandan atau memainkan alat musik. 4) Mengumpulkan atau mengakhiri sesuatu Mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk bersifat jujur, berkerja sama dan bersaing. 5) Permainan Olahraga Dalam permainan olah raga, anak banyak menggunakan energi fisiknya, sehingga sangat membantu pertumbuhan fisiknya. Disamping itu kegiatan ini mendorong sosiallisasi anak dengan belajar bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai diri dan kemampuannya secara realistik dan sportif. b. Permainan Pasif 1) Membaca Membaca merupakan kegiatan yang sehat membaca akan memperluas wawasan dan pegetahuan anak, sehingga anak pun akan berkembang kreativitas dan kecerdasannya. 2) Mendengarkan radio Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik secara positif maupun negatif. Pengaruh positifnya adalah anak akan bertambah pengetahuannya, sedangkan kepengaruh negatifnya yaitu apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan, kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya. 3) Menonton Televisi Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun negatifnya. Cara Membangun Kecerdasan Anak Usia 0-3 Tahun Melalui Membaca dan Bermain. Orang tua adalah contoh yang baik untuk mendukung perkembangan membaca anak. Membaca dapat menjadi bagian dalam kehidupan anak sebelum masuk sekolah. Anak belajar dari segala sesuatu yang mereka lihat dan lakukan di rumah dan dimana saja. Kegiatan mengelompokkan benda-benda sesuai warna, bentuk dan ukuran adalah merupakan bagian tahapan untuk membaca. Berikut ini terdapat beberapa ide dan informasi penting bagi orang tua yang ingin membantu anak-anaknya belajar membaca sesuai dengan kebutuhan anak. 1. Kegiatan Membaca Anak Usia 0 – 36 Bulan, Bayi 0-1 Bulan a. Usia 0-1 bulan 1) Begitu bayi lahir ke dunia sampai ia berusia satu bulan ia menggunakan pendengaran untuk menjelajah lingkungan karena penglihatannya belum maksimal mungkin. 2) Satu bulan pertama kehidupan bayi, ia hanya dapat melihat wajah ibunya. 3) Bayi suka mengamati wajah ibunya. Bayi suka mengamati wajah-wajah, bentuk-bentuk dengan warna yang kontras dan segala sesuatu yang bergerak. Dukungan kita : a) Berbicara dengan suara yang lembut dan penuh perhatian pada setiap kegiatan yang dilakukan bersama bayi. b) Berbicara dengan kalimat lengkap disertai intonasi yang teratur dan stabil. b. Bayi 1-4 Bulan 1) Bayi usia ini belum dapat meraih dan menggenggam benda, namun mereka menjelajahi lingkungan melalui aktivitas melihat dan mengamati. Di awal usia ini mereka juga belum dapat melakukan gerakan-gerakan motorik tubuh. 2) Mereka menyukai segala sesuatu yang berwarna kontras dan gerakan-gerakan terputus-putus (gerakan scatato) misalnya seperti bermain ciluk ba dan tepuk tangan. Dukungan kita : a) Menggantung gambar-gambar yang berwarna-warni dan menarik di tempat

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 250 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 tidur bayi dan di tempat ganti baju (Baby tafl) b) Membacakan sajak-sajak pada bayi. c. Bayi 4-8 Bulan 1) Bayi pada usia ini dapat menggenggam sesuatu dan memainkannya. 2) Mereka menjelajah tidak hanya dengan telinga dan maka tetapi juga dengan tangan dan mulutnya. Segala sesuatu akan mereka ambil / raih dan memasukkan kedalam mulut. 3) Dalam bermain bayi mungkin akan melakukan gerakan-gerakan memukul, melambai, atau menepuk benda-benda yang mereka pegang. Dukungan kita : a) Karena bayi pada usia ini sudah dapat mengangkat kepala lebih baik, kita bisa membacakan buku dengan posisi banyi duduk dipangkuan. Posisi ini memungkinkan bayi untuk melihat ke arah buku lebih aman. b) Buku dengan gambar-gambar sederhana dan warna yang cerah, masih merupakan pilihan yang menarik untuk bayi diusia ini. d. Bayi Usia 8- 12 Bulan 1) Diusia ini bayi menggunakan keterampilan yang sudah dimiliki sebelumnya dengan tujuan yang lebih jelas. Muncul perilaku yang baru seperti memindahkan benda dari satu tangan-ketangan lain, membalik-balikan benda, menggunakan jari tangan untuk menyentuh, menarik serta menggulung-gulung gerakan mengegenggam dan melepaskan benda dengan satu tangan sambil memegang benda di tangan yang lain. 2) Selama periode ini, kecenderungan memasukkan benda ke dalam mulut menurun, mereka senang berlatih dan menguasai keterampilan-keterampilan baru. 3) Perkembangan penting lainnya menjelang usia 1 tahun adalah kemampuan untuk mengucapkan kata-kata pertama. Pemahaman mereka terus meningkat terhadap apa yang dilaksanakan orang lain. Seperti merespon saat dinya , “dimana hidungmu? Dan ketika diminta mama beri cium. Dukungan kita a) Diusia ini bayi mulai tertarik dengan isi cerita dibandingkan dengan karakteristik fisik dari buku. Mereka sekarang mengenal, memahami, dan menghubungkan benda dengan kejadian yang dialaminya. Jadi pilihlah buku dengan gambar-gambar benda atau kegiatan-kegiatan yang sudah bisa dilihat atau dilakukan. b) Pilihlah buku yang dibuat dari karton tebal dan kaku , tempatkan buku di pojokan yang dapat didatangi dan digunakan oleh bayi sewaktu -waktu. e. Anak Usia 12 – 18 Bulan 1) Berpura-pura akan lebih sering dilakukan anak dewasa ini ; anak akan menggunakan benda untuk bermain simbolik (main pura-pura) seperti misalnya mengambil boneka dan memainkannya di mobil mainan atau mobil-mobilan, menidurkan bonekannya. 2) Mulai menunjuk benda dan dan memberi nama pada benda-benda yang dilihat atau meniru tindakan dari benda yang dilihat atau menirukan suara yang didengar tubuh diusia ini. 3) Mereka menghubungkan benda dengan kejadian secara lengkap layaknya wadah yang ditutup lengkap. 4) Perkembangan bahasa pesat diusia ini mereka bisa mengucapkan. Dukungan kita : a) Karena anak diusia ini mulai suka menyanyi, mereka juga senang dengan buku-buku yang berisi nyanyian-nyanyian. Buku-buku dengan pengulangan irama yang sama, sangat disukai diusia ini.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 251 b) Tetap teruskan membaca sajak, sajak yang telah dibacakan sejak kecil. f. Anak Usia 18-24 Bulan 1) Karakteristik dari usia ini adalah setiap tindakan yang ditunjukkan atau dilakukan, mempunyai maksud yang telah ditentukan oleh anak. 2) Kemampuan berbahasa berkembang sangat pesat, anak yang sebelumnya hanya tahu beberapa kata, sekarang dapat berbicara dalam beberapa kalimat sederhana, meski belum sesuai dengan tata bahasa. Seperti mengucapkan , ‘Ade tambah’ untuk ‘Ade mau tambah, ‘ atau, “Ade putih, “untuk Ade mau air putih.’ 3) Ketertarikan anak dengan lingkungannya semakin luas. Karena itu, banyak muncul pengulangan pertannyaan ‘kenapa >’ dari anak itu diakhiri periode ini. Dukungan kita : a) Buku-buku berisi cerita nyata saat ini dapat dinikmati, cerita-cerita yang berisi tentang kehidupan anak toddler yang sibuk, dapat menjadi petunjuk untuk kita memilih tema yang menarik untuk mereka. b) Buku dengan cerita yang bagaimana kerja dari suatu benda, atau bagaimana membuat sesuatu terjadi, itu membantu bagi anak toddler yang suka bertanya, “kenapa?”. g. Anak 34- 36 Bulan 1) Kosa kata semakin berkembang dengan pesat, ditunjukkan dengan kalimat yang bertambah panjang. Kalimat yang hanya semula terdiri dari 3-4 kata, kini menjadi 4-6 kata dalam mengekspresikan kebutuhan dan keinginannya. 2) Menggunakan fungsi bahasa untuk menayangkan sesuatu atau mendapatkan kebutuhannya, saat berinteraksi dengan teman. 3) Main pura-pura juga terus berkembang. Anak diusia ini juga mulai menghubungkan kejadian-kejadian kedalam urutan-urutan seperti makan boneka, 4) Kemampuan dirinya semakin berkembang , mereka mulai tidur di tempat tidur besar dan mulai bisa ke kamar mandiri sendiri. 5) Kemampuan berbahasanya juga semakin baik. Anak dapat mencerminkan kembali cerita-cerita yang sudah dikenal, sama persis dengan isi cerita atau teks, menurut caranya sendiri (terutama menurut buku yang berulang-ulang dibacakan pada anak) Dukungan kita : a) Anak di usia ini menggunaka banyak waktunya untuk melihat dan mengamati gambar-gambar yang ada di dalam buku, dan banyak mengajukan pertanyaan tentang apa yang dilihat. Buku dengan gambar-gambar yang diikuti teks akan diminati oleh anak usia dini. Mereka berusaha menghubungkan apa yang menurut mereka dengar dengan apa yang mereka lihat pada gambar. b) Buku cerita yang tepat dan sangat menarik untuk anak toddler adalah buku cerita yang terdiri dari gambar-gambar yang sama persis dengan teksnya, kalimatnya diulang-ulang, dan berirama, karena itu mereka dapat terlibat dalam proses membaca secara aktif dengan arahan diri sendiri. Seiring dengan kemampuan mereka dalam membuat urutan kejadian, mereka aktif dalam menebak kejadian dalam cerita berdasarkan urutannya. Ada empat langkah strategis membaca, yaitu ; 1) Dapatkan perhatian anak, atau fokus pada gambar yang menjadi perhatian anak, dengan mengatakan ‘lihat’ atau “oh lihat itu!”. 2) Bertanya dengan pertanyaan yang bersifat fakta-fakta pada anak, misalnya : a) Apa itu ? b) Apa yang sedang dilakukannya ? c) Apa yang kamu lihat disna ?

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 252 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 3) Tunggu respon jawaban dari anak atau jika diperlukan, berikan jawabannya. Mungkin akan akan merespon dengan berbagai cara, misalnya ia tersenyum saat mengenali gambar yang dilihat. Tunggu respon anak dengan sabar karena kerja anak masih lambat. Dengan demikian kita harus menunggu sampai proses kerja otaknya selesai. Bila proses ini dipotong dampaknya akan mengganggu pikirannya. 4) Berikan respon baik Jika anak menjawab dengan senyum, suara-suara, atau kata, maka ucapkanlah respon baik seperti, “ya” lalu berikan jawaban atau mengulang jawaban anak, dalam pengucapan yang benar (contoh ; ‘ya, itu monyet”) . Jika anak emberi nama yang salah pada gambar, sebaiknya kita ucapkan, “ya, memang itu berekor seperti anjing, tetapi sebenarnya itu monyet, monyet juga punya ekor yang panjang”. SIMPULAN DAN SARAN Manusia adalah makhluk yang unik artinya tidak ada satu pun individu yang sama dalam hal apapun. Salah satu perbedaan yang sering kita jumpai adalah dalam hal kecepatan dan kemampuan individu dalam memecahkan suatu masalah atau persoalan yang dihadapai. Salah satu metode yang tepat untuk diterapkan pada anak usia dini adalah dengan metode bermain. Karena hal ini dapat mengacu pada kenyataan bahwa bermain dapat membawa harapan serta antisipasi tentang dunia yang memberikan kegembiraan. Serta kesenangan dan sedangkan proses membaca harus diberikan secara khusus yang dimulai dari tahapan membaca yang merupakan rangkaian yang dimulai dari bayi. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan bermain memberikan pengalaman kepada anak untuk membangun dunianya tersendiri. Anak usia dini merupakan masa usia bermain, oleh karena itu pendekatan dalam kegiatan bermain dapat membuat anak menjadi gembira serta dapat berkhayal serta berimajinasi. Membaca merupakan kegiatan yang sehat, membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anak pun akan berkembang kreatifitasnya dan kecerdasannya. DAFTAR PUSTAKA Musfiroh, Tadkirotul. 2008. Pengembangan Kecerdasan Majemuk. Jakarta: Pustaka Populer. Musfiroh, Tadkirotul. 2005. Bermain Sambil Belajar dan Mengasah Kecerdasan. Jakarta: Rineka Cipta. Prasetyono, Dwi Sunar. 2007. Biarkan Anakmu Bermain. Jogjakarta : Diva Press. Rahim, Farida. 2008. Pengqjaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: PT Bumi Aksara. R, Moeslichatoen. 1999. Metode Pengajaran. Jakarta: Rineka Putra. Satiadarma, Monty Dan Fidelis E Waruwu. 2003. Mendidik Kecerdasan Anak. Jakarta: Depdiknas Syuropati, Muhammad. 2009. Inspirasi Anak Anda Dengan Permainan yang Mencerdaskan. Jogjakarta: In Asna Books. Wismiarti, Retno Soendari & Neni Arriyani. 2008. Membangun Kecerdasan Anak 0-3 Tahun Melalui Membaca dan Bermain. Jakarta: Arga Printing

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 253 PARALEL UMUM

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 254 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 KONFIGURASI MEMBANGUN MODEL PEDOMAN PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI KEGIATAN MAHASISWA Hassan Suryono1,* 1Prodi PPKn FKIP UNS *Keperluan korespondensi: hassansuryono@yahoo.com ABSTRAK Pendidikan karakter melaIui pelestarian lingkungan hidup, peningkatan bakat, minat serta kepedulian sosial dapat dimasukkan dalam mata kuliah umum atau khusus atau bahkan menjadi program kegiatan kurikuler hal ini tergantung dari kebijakan pemangku kepentingan di Perguruan Tinggi masing masing. Paling tidak sebelum menerapkan program pendidikan yang dimaksud dirasa perlu memberi pemahaman terlebih dahulu tentang dan sekitar urgensi pendidikan karakter. Berdasarkan pada pembahasan pedoman pendidikan karakter dalam kegiatan mahasiswa bersifat ekstra kurikuler harus didasarkan pada pedoman standar tahapan yang telah dibuat yang pada setiap tahap ada kesinambungan dengan tahap berikutnya. Pedoman standard tersebut meliputi tahapan petunjuk teknis pelaksanaan program, persiapan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi serta pelaporan. Kata kunci: pedoman pendidikan karakter, kegiatan mahasiswa PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kita telah melihat dan mendengar baik melalui radio, televesi dan media cetak sering kali mendengar dan melihat kata pelestarian lingkungan, minat, bakat dan peduli sosial .Ada beberapa fenomena ( fakta) antara lain adanya kerusakan lingkungan, minat, bakat mahasiswa yang belum tersalurkan dan masih terpendam serta kepedulian sosial mahasiswa yang belum dioptimalkan. Melihat dan mendengar yang demikian itu kadang kadang banyak orang belum tergerak untuk ikut berpartisipasidalam mewujudkan agar para mahasiswa tergerak untuk lebih mengoptimalkan peran serta mereka untuk mewujudkan lingkungan hidup yang serasi, mengoptimalkan bakat dan minatnya serta meningkatkan kepedulian sosial. Hasil jajak pendapat dari 58 mahasiswa yang berasal dari Fakultas FKIP, Teknik dan Ekonomi Universitas Sebelas Maret diperoleh bahwa yang memilih program pelestarian lingkungan paling banyakpeminatnya yaitu 25 orang atau 43.10 % ,disusul minat dan bakat sebanyak 13 orang atau 22.41 % dan ke tiga pada program kepedulian sosial sebanyak 10 orang atau 17.24 %.(Hassan Suryono, 2011: 4). Bersamaan gerakan pendidikan berbasis karakter dan menyiapkan generasi Indonesia tahun 2045 serta menyongsong 100 tahun Indonesia merdeka. Menjadi tugas kita bersama untuk mencari pola / format /pendidikan karakter bagi mahasiswa melalui berbagai aktivitas baik intra maupun ekstra, agar mahasiswa tumbuh rasa cinta dan bangga terhadap upaya melestarikan lingkungan hidup yang nyaman, serasi ,dan seimbang serta mempunyai minat , bakat dan kepedulian sosial yang tinggi.Memang tidak mudah akan mewujudkan hal tersebut namun kita harus berupaya mencari pola /standard yang baik untuk mewujudkannya. 2. Identifikasi Masalah dan Perumusan masalah Pendidikan karakter melaIui pelestarian lingkungan hidup, peningkatan bakat, minat serta kepedulian sosial dapat dimasukkan dalam mata kuliah umum atau khusus atau bahkan menjadi program kegiatan kurikuler hal ini tergantung dari kebijakan pemangku kepentingan di Perguruan Tinggi masing masing.Paling tidak sebelum menerapkan program pendidikan yang dimaksud dirasa perlu memberi pemahaman terlebih dahulu tentang dan sekitar urgensi pendidikan karakter. Pemahaman yang dimaksud adalah apa yang menjadi tujuan diberi bahan ajar

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 255 pendidikan karakter? Apa ruang lingkup pendidikan karakter? Bagaimana pengertian pendidikan karakter? Bagaimana menerapkan konsep pendidikan karakter melalui kegiatan atau program yang telah ditentukan? Misalnya ada kasus perusakan lingkungan hidup jika kita sepakat anti terhadap tindakan itu, maka terlebih dahulu harus ada upaya pemahaman pengetahuan tentang itu, untuk selanjutnya timbul sikap dan kesadaran anti perusakan lingkungan hidup. Jika sampai disini dengan instrumen tertentu apakah hal tersebut sudah bisa dikatakan berkarakter anti perusakan lingkungan hidup? Dan jika belum lalu bagaimana? atau dengan instrumen apa mereka sudah dikatakan melaksanakan anti perusakan lingkungan hidup?. Berbagai kegiatan yang bermaksud mendidik karakter nampaknya sangat beragam ,konsep dan strategi apa yang dipilih pada masing masing kegiatan berbeda satu dengan yang lain.Hal ini tidak berarti tidak ada konsep atau strategi tunggal yang dapat dipakai sebagai pedoman dalam menanamkan karakter pada program kegiatan yang diajukan.Pedoman ini harus dilandasi oleh dasar pertimbangan sebagai alasan mengapa pedoman itu dibuat dan ada dasar hukum yang memberi wewenang mereka pedoman itu dibuat.Dalam hal ini pemakalah akan mencoba menyusun strategi atau cara yang dapat dipakai oleh beberapa kegiatan. Berdasarkan pada identifikasi permasalahan diatas dalam makalah ini akan terfokus pada permasalahan Bagaimana strategi tahapan program kegiatan pendidikan karakter agar dapat mencapai hasil yang optimal? 3. Studi Kepustakaan Perguruan Tinggi agar dapat mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta out-put yang memadai (ready for use), dengan melakukan pembinaan dan pengembangan kurikulumnya. Pengembangan kurikulum ini dilakukan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan tujuan Pendidikan Nasional yaitu menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3 UU RI No 20 tahun 2003). Standar Nasional Pendidikan memberi amanah pada Perguruan Tinggi untuk mengembangkan kerangka dasar struktur kurikulum Pendidikan Tinggi .Setiap Program Studi memuat Mata Kuliah Agama, pendidikan kewarnegaraan, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Dan wajib memuat Mata Kuliah yang bermuatan kepribadian, kebudayaan serta Mata Kuliah Statistika dan atau Matematika (PP Nomor 19 tahun 2005). Perguruan tinggi diharapkan menjadi pusat penyelenggaraan dan pengembangan pendidikan tinggi yang mengabdi kepada masyarakat serta meningkatkan mutu kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Perguruan tinggi sebagai lembaga Pendidikan yang secara formal merupakan jenjang teratas, maka dari segi moral lembaga ini mempunyai tanggung jawab yang besar untuk memberikan andil dalam ikut serta memecahkan masalah-masalah masyarakat. Perguruan Tinggi sebagai salah satu lembaga yang efektif untuk mengembangkan dan memproses manusia sebagai sumber daya (human resources), secara terus-menerus harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi tidak hanya menyangkut transformasi fenomena/ fakta/ serta pengetahuan, tetapi menyangkut pula sikap mental dan perilaku peserta didik yang harus dikembangkan menjadi sadar dan taat serta bertindak konsisten sesuai dengan nilai nilai dan kebijakan yang telah ditentukan atau dengan kata lain satu kesatuan pengetahuan., mental dan perilaku. Pengetahuan tidak boleh hanya bersifat hafalan saja, tetapi juga peserta didik harus dapat merasakan serta mengalami sendiri dinamika yang timbul dalam perilaku. Pendidikan Karakter merupakan upaya yang

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 256 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 sangat strategis untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan dapat diandalkan di bidang kepribadian dengan usaha secara sungguh-sungguh untuk meningkatkan kinerja seluruh jajaran Pendidikan Tinggi baik menyangkut manajemen kelembagaan, dan kualitas sumber daya manusia, sehingga dapat menjalankan proses pembelajaran dimulai persiapan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi serta pelaporan sebagai wujud tanggung jawab. Program pendidikan karakter yang akan dilaksanakan hendaknya berprinsip pada Akuntabilitas, transparansi, kewajaran, kebijakan dan kontrol kebijakan (Hassan Suryono, 2013: 23-25). Akuntabilitas mengacu pada kesesuaian antara aturan dan pelaksanaan kerja. Semua lembaga mempertanggungjawabkan kinerjanya sesuai dengan aturan main, baik dalam bentuk konvensi (de facto) maupun konstitusi (de jure), baik pada level budaya (individu dengan individu) maupun pada level lembaga. Akuntabilitas harus dapat diukur dan dipertanggungjawabkan melalui mekanisme pelaporan dan dipertanggungjawabkan atas pelaksanaan semua kegiatan. Evaluasi atas kinerja administrasi, proses pelaksanaan, dampak dan manfaat yang diperoleh masyarakat baik secara langsung maupun manfaat jangka panjang dan sebuah kegiatan.Prinsip akuntabilitas dapat mulai diterapkan oleh mahasiswa dalamkehidupan sehari-hari sebagai mahaiswa di kampus. Misalnya program-program kegiatan kemahasiswaan harus dibuat dengan mengindahkan aturan yang berlaku di kampus dan dijalankan sesuai dengan aturan. Transparansi adalah prinsip yang mengharuskan semua proses kebijakan dilakukan secara terbuka, sehingga segala bentuk penyimpangan dapat diketahui oleh publik. Prinsip transparansi dapat mulai diterapkan oleh mahasiswa dalam kehidupan di kampus. Misalnya, program kegiatan kemahasiswaan dan laporan kegiatan harus dapat diakses oleh seluruh mahasiswa. Prinsip kewajaran. Prinsip fairness atau kewajaran ini ditujukan untuk mencegah terjadinya manipulasi (ketidakwajaran) dalam penganggaran, baik dalam bentuk mark up maupun ketidakwajaran lainnya. Kewajaran atau fairness ditujukan untuk mencegah terjadinya manipulasi (ketidakwajaran) dalam penganggaran, baik dalam bentuk mark up maupun ketidakwajaran lainnya. Untuk menghindari pelanggaran terhadap prinsip kewajaran (fairness), khususnya dalam proses penganggaran, diperlukan beberapa langkah sebagai berikut: 1) Komprehensif dan disiplin; 2) Fleksibilitas; 3) Terprediksi; 4) Kejujuran; dan 5) Informative.Prinsip kewajaran dapat mulai diterapkan oleh mahasiswa dalam kehidupan di kampus. Misalnya, dalam penyusunan anggaran program kegiatan kemahasiswaan harus dilakukan secara wajar, demikian pula dalam menyusun laporan pertanggungjawaban harus disusun dengan penuh tanggung jawab. Kebijakan merupakan sebuah upaya untuk mengatur tata interaksi dalam ranah sosial. Prinsip kebijakan juga dapat mulai diterapkan oleh mahasiswa dalam kehidupan di kampus. Misalnya dalam membuat kebijakan atau aturan main tentang kegiatan kemahasiswaan harus mengindahkan seluruh aturan dan ketentuan yang berlaku di kampus. Kontrol kebijakan. Kontrol kebijakan merupakan upaya agar kebijakan yang dibuat betul-betul efektif.Prinsip kontrol kebijakan dapat mulai diterapkan oleh mahasiswa dalam kehidupan kemahasiswaan di kampus. Misalnya, dengan melakukan kontrolpada kegiatan kemahasiswaan, mulai dari penyusunan program kegiatan, pelaksanaan program kegiatan, sampai dengan pelaporan. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebagaimana sudah dijelaskan pada bagian latar belakang masalah bahwa jenis kegiatan yang banyak dipilih oleh mahasiswa adalah jenis program pelestarian lingkungan hidup, minat, bakat dan kepedulian sosial .Sebelum menguraikan tahapan tahapan yang harus dilalui dalam membuat program pendidikan karakter, maka pemakalah akan menguraikan terlebih dahulu jenis program

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 257 pendidikan karakter yang paling banyak diminati mahasiswa. 1. Jenis Program Pendidikan karakter a. Pelestarian Lingkungan Hidup Nilai karakter yang akan dikembangkan dalam Pelestrarian lingkungan hidup adalah peduli lingkungan, kerja keras dan tanggung jawab. Peduli lingkungan yaitu mengembangkan sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam sekitarnya dan mengembangkan upaya upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.Kerja keras yaitu mengembangkan perilaku yang menunjukkan upaya yang sunguh sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan dalam melestarikan lingkungan.Tanggung jawab yaitu mengembangkan sikap dan perilaku untuk melaksanakan tugas dan kewajibanya yang seharusnya mereka lakukan dalam upaya melestarikan lingkungan. b. Minat dan Bakat Nilai karakter yang akan dikembangkan dalam kegiatan Minat dan bakat yaitu nilai kreatif dan menghargai prestasi .Program yang akan dilakukan pada bidang minat dan bakat antara lain seni dan olah raga. Adapun nilai yang akan dikembangkan pada masing masing jenis program tersebut berbeda satu dengan yang lain.Untuk seni nilai yang akan dikembangkan adalah kreatif. Kreatif dalam arti agar mahasiswa berfikir dan melakukan sesuatu untuk cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. Sedangkan dalam olah raga nilai yang akan dikembangkan menghargai prestasi yaitu agar mahasiswa bersikap dan bertindak dan dapat mendorong dirinya untuk menghargai sesuatu yang berguna bagi masyarakat dan mengakui ,serta menghormati keberhasilan orang lain. c. Kepedulian Soal Nilai karakter yang akan dikembangkan dalam Kepedulian sosial yaitu peduli sosial dan kerja keras.Nilai karakter peduli sosial dimaksudkan agar mahasiswa bersikap dan selalu bertindak ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.Nilai Karakter kerja keras agar mahasiswa dapat menunjukkan upaya yang maksimal dan sungguh sungguh untuk mengatasi berbagai kesulitan /hambatan yang terjadi di masyarakat. 2. Pedoman Pendidikan Karakter Dalam Program Kegiatan Mahasiswa Sebagai pedoman yang dapat dipakai oleh berbagai kegiatan dalam pendidikan karakter baik mengenai kegiatan pelestarian lingkungan hidup, minat dan bakat serta kepedulian sosial ,maka secara berurutan akan dijelaskan teknis pelaksanaan program, persiapan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi serta pelaporan. a. Teknis Pelaksanaan Program Pelaksanaan program pembinaan karakter melalui kegiatan pelestarian lingkungan hidup,minat bakat dan kepedulian social perlu adanya suatu pedoman teknis pelaksanaannya. (1) Perlu adanya surat permohonan dari lembaga kemahasiswaan atau Unit Kegiatan mahasiswa (UKM) yang relevan kepada Rektor dalam hal ini Pembantu Rektor/ wakil Rektor III/ Pembantu Dekan/ Wakil Dekan IIIdengan melampirkanpropusal kegiatan, (2) kemudian diproses oleh Biro administrasi kemahasiswaan bagian Minalwa dengan membuatkan surat ijin kegiatan untuk disampaikan kepada Rektor/ Pembantu rektor/wakil Rektor III/ Pembantu Dekan/ Wakil Dekan III (3). Mendapat persetujuan atau ijin dari Rektor/ Pembantu Rektor/Wakil Rektor III/ Pembantu Dekan/ Wakil Dekan III (4) Melaporkan hasil kegiatan dan pertanggung jawaban keuangan b. Persiapan Sebelum program pembinaan karakter mahasiswa melalaui kegiatan pelestarian lingkungan hidup,minat bakat dan kepedulian sosial dilaksanakan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 258 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 pelaksana yang ditunjuk perlu melakukan berbagai persiapan agar semua komponen yang telah direncanakan dapat dikelola dengan baik. Langkah langkah persiapan dalam pembinaan karakter mahasiswa melalui kepedulian sosial yang perlu ditempuh adalah: (1) Membuat skenario apa saja yang harus dilakukan oleh dosen, mahasiswa dan unit akademik dalam rangka pelaksanaan pembinaan karakter mahasiswa, (2) Mempersiapkan segala fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan, (3) Mempersiapkan cara merekam, mendeskripsikan dan menganalisis hasil pelaksanaan pembinaan karakter mahasiswa. c. Pelaksanaan Jika tahap persiapan sebagaimana tersebut sudah selesai ,maka perencanaan yang telah ditentukan dapat dilaksanakan. Pelaksanaan ini merupakan hal yang pokok. Apa yang harus dilakukan dosen dalam pembinaan karakter mahasiswa, dan mahasiswa melakukan apa setelah menerima pembinaan, demikian juga apa yang harus dilakukan oleh unit akademik. Dosen melakukan penyuluhan dan pembekalan kepada mahasiswa agar mereka gemar melakukan kegiatan kemanusiaan, merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat/ masyarakat. Pihak Universitas atau fakultas dalam hal ini sebagai fasilitator/ penyedia sarana prasarana termasuk di dalamnya dana agar program ini dapat berjalan lancar. Mahasiswa melakukan aktivitas terhadap program kepedulian sosial, sedangkan unit akademik melakukan inventarisasi terhadap proses pelaksanaan program kepedulian tersebut. d. Pemantauan dan evaluasi Pada tahap ini diperlukan adanya observasi dan interpretasi secara bersama sama. Dari interpretasi ini kemudian dilakukan analisis dan refleksi. Dari hasil analisis dan refleksi ini akan dapat diketahui apakah tujuan, manfaat dan dampak program berhasil atau tidak. Kegiatan evaluasi meliputi dua hal yaitu mengukur dan menilai. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan suatu ukuran, sedangkan menilai berarti mengambil keputusan terhadap sesuatu. Evaluasi sebagai proses yang sistematis. Sebagai proses berarti evaluasi bukan suatu kegiatan yang final tetapi kegiatan yang terus menerus berkelanjutan dalam arti setelah evaluasi dilakukan selanjutnya disertai tindakan lain berdasar atas hasil evaluasi tersebut. Sedangkan sistematis berarti langkah langkah dalam melaksanakan evaluasi disusun menurut prosedur tertentu atau dengan pedoman yang telah ditentukan sebelumnya (Sarwiji Suwandi, 2009). Evaluasi keberhasilan pendidikan karakter tersebut dilakukan oleh pimpinan Universitas/ fakultas/ jurusan atau ketua pelaksana kegiatan. Evaluasi keberhasilan setiap program dapat dilihat dari pencapaian tujuan, manfaat serta dampak dari kegiatan tersebut. e. Pelaporan Tahap pelaporan ini akan menyampaikan laporan hasil kegiatan , dengan format dan struktur sesuai dengan program pembinaan karakter mahasiswa yang telah ditentukan. Laporan tersebut disampaikan kepada Pembantu Rektor/wakil Rektor III untuk mendapat pengesahan dan ditanda tangani oleh ketua pelaksana kegiatan, .Adapun format laporan dapat memuat: (1) Cover laporan, (2) Halaman pengesahan, (3) Kata pengantar, (4) Daftar isi, (5) Latar belakang, (6) Dasar kegiatan program, (7) Tujuan, (8) Sasaran, (9) Luaran, (10) Pelaksanaan, (11) Evaluasi dan (12) Penggunaan anggaran. 3. Pendekatan Agar Pedoman Pendidikan Karakter Dijalankan Pendekatan agar pedoman pendidikan karakter tersebut berjalan sesuai dengan ketentuan yang telah dibuat maka dapat ditempuh melalui pendekatan pada posisi sebelum adanya pelanggaran terhadap

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 259 pedoman itu dan pendekatan setelah adanya pelanggaran. Pendekatan sebelum adanya pelanggaran (Preventif) dapat dilakukan dengan jalan mengarahkan pada mahasiswa agar melaksanakan ketentuan pedoman tersebut secara konsekwen dan mematuhi rambu rambu yang ada pada setiap tahapan. Sedangkan pendekatan setelah terjadinya pelanggaran (Kuratif) dengan jalan Penegakan hukum. Hal ini dilakukan jika pelaksana dari suatu program tidak melaksanakan apa yang sudah ditentukan. Atau dengan kata lain jika program dilaksanakan tidak mengindahkan prinsip prinsip Akuntabilitas, transparansi, kewajaran, kebijakan dan kontrol kebijakan, maka perlu adanya penindakan terhadap pelanggarnya. Strategi ini harus dibuat dan dilaksanakan terutama dengan diarahkan untuk memberikan sanksi yang setimpal secara cepat dan tepat kepada pihak-pihak yang terlibat dalam program pendidikan karakter. Dengan dasar pemikiran ini proses penanganan pelanggarnya sejak dari tahap persiapan sampai pelaporan hasil perlu dikaji untuk dapat disempurnakan di segala aspeknya, sehingga proses penanganan tersebut dapat dilakukan secara cepat dan tepat. Namun implementasinya harus dilakukan secara terintregasi, dalam arti melibatkan ketua program/ jurusan/ Fakultas dan universitas. Upaya penindakan dilakukan kepada mereka yang terbukti melanggar dengan diberikan peringatan, dan bahkan yang akan datang tidak diperbolehkan mengajukan kegiatan dalam hal yang sama atau sejenis. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan pada pembahasan pedoman pendidikan karakter dalam kegiatan mahasiswa dapat disimpulkan beberapa hal antara lain: 1. Pendidikan karakter dalam kegiatan mahasiswa yang bersifat ekstra kurikuler harus didasarkan pada pedoman standard tahapan yang telah dibuat yang pada setiap tahap ada kesinambungan dengan tahap berikutnya. 2. Pedoman standard tersebut meliputi tahapan petunjuk teknis pelaksanaan program, persiapan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi serta pelaporan. Berdasarkan pada pembahasan tersebut diatas dapatlah disarankan beberapa hal antara lain: 1. Kegiatan mahasiswa dalam menanamkan pendidikan karakter hendaknya dipilih oleh sebagian besar mahasiswa. 2. Agar pendidikan karakter melalui program kegiatan mahasiswa dapat berjalan sesuai dengan standard yang telah ditentukan diperluakan adanya tindakan preventif dan kuratif. DAFTAR PUSTAKA Hassan Suryono, 2011. Peran PKn dalam pendidikan karakter bangsa. Makalah disampaikan di FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta pada tanggal 18 Juni 2011 Hassan Suryono dkk, 2011. Penyusunan SOP pendidikan karakter mahasiswa Universitas Sebelas Maret, Tp Hassan Suryono, 2013. Pendidikan Integritas anti korupsi dalam perspektif pendidikan, sosial dan hukum. Surakarta: UNS Pers Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 155/U/1988 tentang Pedoman umum organisasi kemahasiswaan di Perguruan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum tahun 2010. Pengembangan pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Pusat kurikulum Kementrian Pendidikan Nasional. 2011. Naskah akademik Pendidikan karakter di Perguruan Tinggi.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 260 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Peraturan Pemerintah RepublikIndonesia No 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Peraturan Rektor Universitas Sebelas Maret Nomor 150A/J27/HK/2007 tentang Pedoman pembinaan mahasiswa Universitas Sebelas Maret Peraturan Rektor Universitas Sebelas Maret Nomor 559A/H27/PP/2008 tentang Komisi disiplin mahasiswa Universitas Sebelas Maret Peraturan Rektor Universitas Sebelas Maret Nomor 398A/H27/HK/2009 tentang Pedoman pembinaan olah raga mahasiswa Universitas Sebelas Maret Sarwiji Suwandi. 2009. Model Assesmen dalam pembelajaran. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru (PSG) Rayon 13 Surakarta. Undang Undang Republik Indonesia No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 261 MENDIDIK GENERASI Z BERKARAKTER BANGSA Nurul Ngaeni1,* 1SDN Kejajar *Keperluan korespondensi: nurul76tn@gmail.com ABSTRAK Pendidikan adalah Usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan pembimbingan, pengajaran dan/atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang. Crow and Crow (1960) mengemukakan fungsi utama pendidikan adalah bimbingan terhadap individu dalam upaya memenuhi kebutuhan dan keinginan yang sesuai dengan potensi yang di miliki sehingga dia memperoleh kepuasan dalam seluruh aspek kehidupan pribadi dan sosialnya. Pada generasi Z yaitu generasi yang lahir dan dibesarkan di era digital, dengan aneka teknologi yang komplet dan canggih. Sejak kecil, sudah mengenal dan akrab dengan berbagai gadget yang canggih itu, dan secara langsung atau pun tidak langsung akan berpengaruh terhadap perkembangan perilaku dan kepribadiannya. Karakteristik generasi Z diantaranya adalah fasih teknologi,sosial dan multitasking, fasih teknologi: “generasi digital” yang mahir dan gandrung akan teknologi informasi dan berbagai aplikasi komputer.Dalam segi sosial: Intens berkomunikasi dan berinteraksi dengan semua kalangan, khususnya dengan teman sebaya melalui berbagai situs jejaring, seperti: FaceBook, twitter, atau melalui SMS. Multitasking: berbiasa dengan berbagai aktivitas dalam satu waktu yang bersamaan. Mereka bisa membaca, berbicara, menonton, atau mendengarkan musik dalam waktu yang bersamaan. Mereka menginginkan segala sesuatunya dapat dilakukan dan berjalan serba cepat.Untuk keseimbangan hubungan sosialnya pendidikan karakter sangatlah dibutuhkan dalam kehidupan .Pendidikan karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan maupun kebangsaan. Kata kunci: mendidik, generasi Z, pendidikan karakter PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pendidikan dapat mempengaruhi perkembangan manusia dalam aspek kepribadian dan kehidupannya. Pendidikan memiliki pengaruh yang dinamis dalam kehidupan manusia di masa depan juga dapat mengembangkan berbagai potensial yang dimiliki secara optimal yaitu pengembangan potensi individu yang setinggi–tingginya dalam aspek fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual sesuai dalam tahap perkembangan. Menurut Driyarkara (1980), pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia muda. Sedangkan Crow and Crow (1960) mengemukakan “harus diyakini bahwa fungsi utama pendidikan adalah bimbingan terhadap individu dalam upaya memenuhi kebutuhan dan keinginan yang sesuai dengan potensi yang di miliki sehingga dia memperoleh kepuasan dalam seluruh aspek kehidupan pribadi dan sosialnya”. Hal ini sejalan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1 dinyatakan Pendidikan adalah Usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan pembimbingan, pengajaran dan/atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang. Juga tertuang dalam UU Sisdiknas pasal 3 yang mengatakan bahwa fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 262 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Dalam membentuk watak yang berperadapan bangsa dibutuhkan pendidikan karakter. Pada era generasi digital (generasi Z) bangsa ini, nilai-nilai luhur yang bermuatan etika atau akhlak atau budi pekerti yang diwariskan oleh nenek moyang banyak terkikis oleh arus digital yang amat laju. Nilai-nilai luhur yang diwariskan melalui budaya, dituangkan dalam sisa-sisa pancasila dan penjabarannya yang dijiwai oleh nilai-nilai luhur agama tampaknya kurang memberi bekas dalam kepribadian anak bangsa. Anak–anak generasi Z lebih asyik dengan kesenangannya sehingga cuek dengan lingkungan dan pudarnya tata krama. 2. Identifikasi Masalah dan Perumusan Masalah Dari uraian diatas tujuan pendidikan nasional untuk merkembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dan menekan pada karakter bangsa ,akan tetapi kenyataan pada generasi Z akhak mulia kian terkikis. Generasi Z yang fasih teknologi digital, canggih komunikasi verbal, tidak mau lepas HP menjadikan malas bekerja yang menggunakan tenaga, kurangnya bergaul dengan masyarakat, berkurang dalam komunikasi secara verbal, cenderung bersikap egosentris dan individualis. Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: a. Bagaimanakan mendidik generasi Z agar berkarakter bangsa? b. Apakah kendala yang dihadapi dalam mendidik karakter generasi Z agar berkarakter bangsa? 3. Studi Kepustakaan a. Pendidikan Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang ditransfer dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan.Sedangkan didalam UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Menurut kamus Bahasa Indonesia Kata pendidikan berasal dari kata ‘didik’ dan mendapat imbuhan ‘pe’ dan akhiran ‘an’, maka kata ini mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan mendidik. Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia) Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.Hal tersebut mempunyai arti bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Menurut UU No. 20 tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 263 ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. Sedangkan pengertian pendidikan menurut H. Horne, adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada Tuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia. Dari beberapa pengertian pendidikan menurut ahli tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan adalah Bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain. b. Generasi Z Dalam teori generasi (Generation Theory) hingga saat ini dikenal ada 5 generasi, yaitu: (1) Generasi Baby Boomer, lahir 1946-1964, (2) Generasi X, lahir 1965-1980, (3) Generasi Y, lahir 1981-1994, (4) Generasi Z, lahir 1995-2010, dan (5) Generasi Alpha, lahir 2011-2025. Generasi Z (disebut juga iGeneration, Generasi Net, atau Generasi Internet) terlahir dari generasi X dan Generasi Y. Mereka lahir dan dibesarkan di era digital, dengan aneka teknologi yang komplet dan canggih, seperti: komputer/laptop, HandPhone, iPads, PDA, MP3 player, BBM, internet, dan aneka perangkat elektronik lainnya. Sejak kecil, mereka sudah mengenal (atau mungkin diperkenalkan) dan akrab dengan berbagai gadget yang canggih itu, yang secara langsung atau pun tidak langsung akan berpengaruh terhadap perkembangan perilaku dan kepribadiannya. Tuhana Taufiq Andrianto dalam Jusuf AN (2011) memperkirakan akan terjadi booming Generasi Z sekitar tahun 2020. Sementara Christoper Oey, Senior Brand Manager Rinso menjelaskan pada Generasi Z melahirkan anak-anak pintar dan bermental juara .Generasi Z memiliki karakteristik perilaku dan kepribadian yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Beberapa karakteristik umum dari Generasi Z diantaranya adalah: 1) Fasih Teknologi. Mereka adalah “generasi digital” yang mahir dan gandrung akan teknologi informasi dan berbagai aplikasi komputer. Mereka dapat mengakses berbagai informasi yang mereka butuhkan secara mudah dan cepat, baik untuk kepentingan pendidikan maupun kepentingan hidup kesehariannya. 2) Sosial. Mereka sangat intens berkomunikasi dan berinteraksi dengan semua kalangan, khususnya dengan teman sebaya melalui berbagai situs jejaring, seperti: FaceBook, twitter, atau melalui SMS. Melalui media ini, mereka bisa mengekspresikan apa yang dirasakan dan dipikirkannya secara spontan. Mereka juga cenderung toleran dengan perbedaan kultur dan sangat peduli dengan lingkungan. 3) Multitasking. Mereka terbiasa dengan berbagai aktivitas dalam satu waktu yang bersamaan. Mereka bisa membaca, berbicara, menonton, atau mendengarkan musik dalam waktu yang bersamaan. Mereka menginginkan segala sesuatunya dapat dilakukan dan berjalan serba cepat. Mereka tidak menginginkan hal-hal yang bertele-tele dan berbelit-belit. Karakteristik tersebut memiliki dua sisi yang berlawanan, bisa positif- memberikan manfaat bagi dirinya dan atau lingkungannya atau justru malah negatif yang dapat merugikan diri sendiri maupun lingkungannya. Wawan (2011) dalam tulisannya yang dipublikasikan di

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 264 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Wikimu, mengatakan bahwa karena mereka fasih dengan teknologi digital, mereka sangat cocok bekerja di perusahaan besar, perusahaan yang mampu menyediakan fasilitas modern. Namun mereka akan kesulitan jika diminta mengelola sebidang tanah, dengan fasilitas pengairan, dan modal uang secukupnya. Karena yang ada di benak mereka adalah komputer, laptop dan HP, bukan peternakan, perikanan dan pertanian. Merurut Tuhana Taufiq Andrianto, sebagaimana disampaikan oleh Jusuf AN dalam tulisannya yang berjudul “Masa Depan Anak-Anak “Generasi Z” bahwa anak cenderung berkurang dalam komunikasi secara verbal, cenderung bersikap egosentris dan individualis, cenderung menginginkan hasil yang serba cepat, serba-instan, dan serba-mudah, tidak sabaran, dan tidak menghargai proses. Kecerdasan Intelektual (IQ) mereka mungkin akan berkembang baik, tetapi kecerdasan emosional mereka jadi tumpul. Sementara itu, Choiron (2011) menyoroti tentang bahaya dari kecenderungan generasi Z yang gemar mendengarkan musik melalui earphone, yang dapat menyebabkan kecelakaan lalu lintas dan gangguan pada pendengaran. c. Pendidikan Karakter Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia karangan Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat; watak; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada lain. Dari pengertian ini dapat dikatakan bahwa membangun karakter adalah proses membuat atau memahat jiwa seseorang sehingga terbentuk sesuatu yang berbeda dari orang lain. Karakter bisa diartikan sikap yang menonjol dari seseorang. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan aturan-aturan agama, tata krama, budaya, dan adat istiadat, 9 pilar pendidikan karakter, antara lain (1) religius, (2) tanggung jawab, kedisplinan, dan kemandirian, (3) kejujuran, (4) hormat dan santun, (5) dermawan, suka menolong dan gotong royong/kerjasama, (6) percaya diri, kreatif dan bekerja keras, (7) kepemimpinan dan keadilan, (8) baik dan rendah hati, (9) toleransi kedamaian dan kesatuan. Menyadari pendidikan karakter kuat pada siswa merupakan faktor utama dalam kesinambungan hubungan dalam kehidupan mendatang.Dengan karakter yang kuat dapat menciptakan siswa menjadi makhluk yang mulia dan sempurna. Lickona menekankan pentingnya komponenkarakter yang baik yaitu (1) moral knowing atau pengetahuan tentang moral, (2) moral feeling atau perasaan tentang moral, (3) moral action atau perbuatan bermoral. Hal ini diperlukan agar siswa mampu memahami, merasakan dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebajikan.Pendidikan karakter penting ditanamkan sejak dini untuk menghadapi tantangan regional dan global dengan maksud agar siswa mempunyai kemampuan koqnitif , aspek afektif dan moral . HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Mendidik generasi Z agar berkarakter bangsa Dalam mendidik generasi Z agar berkarakter bangsa dalam kesibukan gadget nya di butuhkan guru yang mempunyai wawasan luas tentang karakter perkembangan anak dan pengguasaan teknologi modern, hal-hal yang harus dilakukan guru (Najib Sulhan, 2006) adalah (1) menerapkan manajemen, (2) memahami karakter siswa, (3) mengenali problematik belajar siswa (4) menerapkan model pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswa.Dapat di uraikan sebagai berikut: a. Menerapkan manajemen

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 265 Generasi Z dengan segala karakteristiknya yang amat kompleks membawa implikasi tersendiri terhadap pendidikan, diantaranya: 1) Kita tidak menghendaki generasi yang gagap teknologi dan kita juga tidak mengharapkan teknologi dipegang oleh “orang-orang yang salah”. Oleh karena itu, orang tua, guru, konselor dan para pendidik lainnya seyogyanya dapat membimbing dan memfasilitasi agar anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan jamannya dan dapat memanfaatkan kehadiran teknologi secara tepat dan benar. Bukan melarang mereka untuk menjadi generasinya, tetapi yang paling penting adalah upaya membelajarkan mereka untuk dapat hidup secara well adjusment. 2) Dalam belajar, anak Generasi Z cenderung menyukai hal-hal yang bersifat aplikatif dan menyenangkan. Metode pembelajaran yang dikembangkan harus mampu mengakomodasi kecenderungan cara belajar yang mereka miliki. 3) Untuk mengakomodir kecenderungan anak Generasi Z dalam bermedia-sosial online, Bukik (2012) menawarkan pemikiran kreatifnya tentang “Twitter untuk Pendidikan: Melejitkan Kreativitas”. Disebutkan, bahwa men-tweet tidak sekedar menghafalkan pelajaran tetapi justru merupakan sebuah tantangan untuk menciptakan pelajaran. Proses men-tweet itu sendiri merupakan upaya menciptakan bangunan pemahaman. Otak tidak pasif, justru aktif melakukan penemuan dan penciptaan. Otak yang aktif ini merupakan tanda dari senyatanya pembelajaran. Sementara itu, Akhmad Sudrajat (2009), menggagas tentang Konseling FaceBook di Sekolah, yang intinya tentang upaya memanfaatkan kehadiran FaceBook untuk mendukung efektivitas pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah. b. Memahami karakter siswa Generasi Z mempunyai karakter yang berbeda dengan dengan generasi lama, mereka fasih teknologi, sosial yang luas dan multasking, lebih menyukai hal–hal yang berhubungan dengan multimedia, lebih menyukai berinteraksi lewat jejaring sosial,sosial network, seperti Facebook, Twitter, Yahoo Messenger dalam pembelajaran menyukai hal- hal yang lebih applicable dan menyenangkan. c. Menerapkan model pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswa Untuk mengimbangi generasi yang inginnya serba cepat dan tidak suka yang bertele-tele begitu juga dalam belajar mereka lebih suka dengan hal yang to the point karena informasi saat ini berada di dalam genggaman mereka. KetikaGenerasi Z ingin mengetahui sesuatu mereka cukup mengetikkan kata kuncil di search Engine di Google dan kemudian akan tersaji berbagai informasi mengenai topik yang mereka cari. Sehingga dalam pembelajaran yang sesuai tidak lagi memekai pendekatan tradisional apalagi jika hanya model ceramah yang satu arah atau suasana kelas tradisional yang melah membuat mereka bosan. Kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik yang mengedepankan penalaran induktif dan menempatkan bukti – bukti spesifik ke dalam relasi ide yang lebih luas dengan metode pembelajaran yang efektif dan menyenangkan misalnya Mnemonic, Mindmapping, dan permainan ular tangga. Dalam teknik Mnemonic menurut Marilee Sprenger (2011) teknik ini meningkatkan daya ingat antara lain peg system, akronim, metode loci, perantaian musik irama, yang membantu gambar visual dalam pikiran. Para murid diajak mengingat sejumlah informasi sederhana dengan cara membuat cerita imajinasi

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 266 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 antar informasi tersebut. "Syaratnya buatlah cerita imajinasi yang lucu, cerita boleh saling menyambung, namun bisa juga membuat cerita yang tidak masuk akal. Kemudian kalau perlu tambahkan bunyi, warna, bau maupun dengan memperbesar atau memperkecil obyek dan terakhir bayangkan cerita imajinasi tersebut," terang Subagio. Namun, terdapat beberapa hal yang harus dihindari, misalnya cerita yang terbalik, kurangi cerita dengan kata "berubah", kurangi cerita dengan kata "di sebelahnya" dan kurangi cerita yang sama. Teknik mind mapping dalam Tony Buzan yaitu cara kerja otak kita menyimpan informasi dengan menggabungkan kerja otak bagian kiri dan kanan, dinilai bisa meningkatkan daya ingat dengan baik. Dalam teknik ini yang dikembangkan adalah gaya belajar visual. Hal yang perlu di perhatikan: pastikan tema utama di tengah- tengah,dari tema utama akan muncul tema –tema turunan yang masih berkaitan dengan tema utama,cari hubungan antara setiap tema dan tandai garis, warna dan simbol, adanya kombinasi warna, simbol, bentuk dan sebagainya akan memudahkan otak dalam menyerap informasi yang diterima. Teknik permainan ular tangga menurut Moksha Patamu, yang nama aslinya “leela dari india” yang artinya takdir dan keinginan ditafsirkan dengan pembelajaran efek dari perbuatan baik melawan perbuatan buruk juga .Permainan ini sudah dekat dengan dunia anak-anak,melalui teknik ini tentu suasana belajar mengajar jadi lebih menyenangkan dan akan lebih mudah menerima setiap informasi,dalam hal tersebut juga di selipkan nilai – nilai karakter dalam pembelajaran. Selain itu harus di persiapkan guru yang melek ICT, guru-guru saat ini yang berada di sekolah merupakan generasi X dan generasi Y dengan kata lain merupakan pendatang baru dalam ‘Dunia Digital’. Sehingga perlu mendidik guru agar mampu mengimbangi Generasi Z dalam penggunaaan teknolgi informasi dan komunikasi. Pepatah Mengatakan, “Chiken stays, eagle flies.” Guru zaman digital harus seperti elang yang bisa terbang tinggi sehingga jarak pandangannya sangat luas dan jauh kedepan (Sumardianta, 2013: 176). Oleh karena itu. butuh sebuah perjuangan yang sulit tapi pasti bisa untuk menghasilkan guru-guru bagi Generasi Z. Guru harus terus meningkatkan kemampuannya dalam memahami teknologi Informasi dan Komunikasi. Guru juga harus melakukan pendekatan khusus kepada generasi Z dan generasi yang akan lahir pda periode berikutnya. Dalam mendidik generasi Z agar berkarakter bangsa bukan hanya menjadi tanggung jawab guru tetapi peran serta orang tua .Beberapa kiat yang dapat diterapkan oleh orang tua dan guru agar tidak salah langkah dalam mendidik anak generasi Z, antara lain: 1. Mendekati anak lewat peralatan digital, dengan langkah ini, orangtua atau guru menjadi setara dengan si anak dan nyambung dengan kemampuan si anak. 2. Memberikan keseimbangan perkembangan otak kepada anak. Menurut para ahli aneka peralatan digital hanya akan membuat salah satu sisi otak manusia yang terstimulasi. Padahal seharusnya kedua belahan otak, baik belahan otak kanan maupun kiri distimulasi secara seimbang. Cara menyeimbangkannya antara lain dengan melibatkan anak-anak dalam kegiatan seni, seperti melukis, menari, musik ,serta kegiatan olahraga yang dilaksanakan secara kelompok karena dengan begitu selain kedua belahan otak bekerja seimbang juga terjadi interaksi langsung dengan teman dan masyarakat sehingga tumbuh nilai- nilai saling menghormati dan menghargai di dalan kegiatan tersebut. 3. Menumbuhkan kebersamaan si anak dalam keluarga. Kita tidak boleh membiarkan anak berlarut-larut dalam kesendirian dan terlalu akrab dengan peralatan digitalnya. Oleh karena itu

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 267 orang tua harus menciptakan suasana yang hangat dalam keluarga sehingga anak menjadi pribadi yang peduli, dan senang bersosialisasi dengan orang lain. 2. Kendala – Kendalanya Kendala yang dihadapi dalam mendidik karakter generasi Z agar berkarakter bangsa: a. Kurangnya fasilitas laborat komputer dan internet yang memadai di sekolah-sekolah. b. Kurang guru yang menguasai ICT. c. Guru belum memahami karakteristik generasi Z. d. Kurangnya Pengetahuan guru tentang metode pembelajaran mampu mengakomodasi kecenderungan cara belajar yang mereka miliki. e. Kurangnya pemanfaat facebook dan twiter sebagai sarana pembelajaran. f. Orang tua tidak memahami perkembangan dan kebutuhan anak g. Orang tua tidak tlaten mendampingi anak pada saat anak menggunakan fasilitas digital dengan menanamkan karakter. KESIMPULAN Pendidikan adalah Usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan pembimbingan ,pengajaran,atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang.Dalam pendidikan karakter gerenasi Z atau “generasi digital” yang Fasih teknologi, Sosialnya sangat luas dan Multitasking guru diharap memahami: manajemen pendidikan, karakter siswa, mengenali problematik belajar siswa, menerapkan model pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswa. Mnemonic, Mindmapping dan permainan ular tangga merupakan model pembelajaran yang menekankan pada kreatif siswa. Saran diajukan: (1) bagi guru di harap memahami: manajemen pendidikan, karakter siswa, mengenali problematik belajar siswa, menerapkan model pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswa dan (2) bagi orang tua diharap tlaten mendampingi dan mengarahkan putra–putrinya dalam menggunakan fasilitas digital. DAFTAR PUSTAKA Ahmadi. 2008. Dikdaktik Metodik. Semarang: CV Toha Putra. Departemen Pendidikan Nasional Peraturan Pemerintah no 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Amin, M. Maswardi. 2011. Pendidikan Karakter Anak Bangsa. Jakarta: Badouse Media.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 268 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 PEMBELAJARAN ANAK DI SEKOLAH DASAR Kusnadi1 1SD Negeri 2 Temanggung Kecamatan Temanggung Kabupaten Temanggung ABSTRAK Pembelajaran anak di Sekolah Dasar hendaknya dilakukan sebuah pembelajaran yang sesuai dengan karakteristk yang dimiliki anak, kebutuhan ini diperlukan oleh anak karena dapat menumbuhkembangkan potensi dan semangat belajar anak. Artikel ini bermaksud mendiskripsikan pembelajaran anak di Sekolah Dasar untuk mengetahui karateristik perkembangan anak dalam menentukan proses pembelajaran yang efektif di Sekolah Dasar. Pembentukan kemampuan anak Sekolah Dasar dipengaruhi oleh proses belajar yang terbentuk berdasarkan pandangan dan pemahaman guru tentang karakteristk anak dan juga hakekat pembelajaran. Kata Kunci: pembelajaran efektif, anak sekolah dasar PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Setiap anak dilahirkan bersamaan dengan potensi-potensi yang dimilikinya. Tak ada satu pun yang luput dari Pengawasan dan Kepedulian-Nya. Hal ini merupakan tugas orang tua dan guru untuk dapat menemukan potensi tersebut. Syaratnya adalah penerimaan yang utuh terhadap keadaan anak. Anak adalah titipan tuhan yang harus kita jaga dan kita didik agar ia menjadi manusia yang berguna dan tidak menyusahkan siapa saja. Secara umum anak mempunyai hak dan kesempatan untuk berkembang sesuai potensinya terutama dalam bidang pendidikan. Masa usia Sekolah Dasar merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. Periode ini adalah tahun-tahun berharga bagi seorang anak untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulans terhadap perkembangan aspek kepribadian, kognitif, psikososial, maupun moralnya. Dalam bidang pendidikan seorang anak dari lahir memerlukan pelayanan yang tepat dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan disertai dengan Pemahaman mengenai karakteristik anak sesuai pertumbuhan dan perkembangannya akan sangat membantu dalam menyesuaikan proses belajar bagi anak dengan usia, kebutuhan, dan kondisi masing-masing, baik secara intelektual, emosional dan sosial. Untuk itu pendidikan anak untuk usia Sekolah Dasar dalam bentuk pemberian rangsangan-rangsangan (stimulasi) dari lingkungan terdekat sangat diperlukan untuk mengoptimalkan kemampuan anak. Pembentukan kemampuan anak di sekolah dipengaruhi oleh proses belajar yang ditempuhnya. Proses belajar akan terbentuk berdasarkan pandangan dan pemahaman guru tentang karakteristik anak dan juga hakikat pembelajaran. Dengan demikian, proses belajar perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak. Untuk mendukung hal tersebut, diperlukan pemahaman para guru mengenai rentang usia, karakteristik perkembangan dalam aspek kognitif, psikososial dan moral serta proses pembelajaran yang efektif untuk anak Sekolah Dasar. 2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: a. Berapa rentang usia anak Sekolah Dasar? b. Bagaimana karakteristik perkembangan anak usia Sekolah Dasar berdasarkan Teori Perkembangan Kognitif, Teori Perkembangan Psikososial dan Teori Perkembangan Moral? c. Bagaimana Pembelajaran Anak di Sekolah Dasar beradasarkan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 269 perkembangan kognitif, psikososial, dan moral anak usia SD? 3. Tujuan Adapun tujuan penulisan artikel ini adalah sebagai berikut: a. Mengetahui rentang usia anak Sekolah Dasar dan karakteristik yang dimilikinya serta peran guru dalam pembelajaran anak usia Sekolah Dasar. b. Mengetahui karakteristik perkembangan anak usia Sekolah Dasar berdasarkan Teori Perkembangan Kognitif, Teori Perkembangan Psikososial, dan Teori Perkembangan Moral. c. Mengetahui Pembelajaran Anak di Sekolah Dasar. 4. Manfaat a. Memudahkan guru dalam memahami karakteristik perkembangan anak Sekolah Dasar. b. Memberikan pandangan kepada guru dalam melakukan Pembelajaran Anak di Sekolah Dasar. c. Memudahkan guru untuk mengetahui cara pembelajaran anak di Sekolah Dasar. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Rentang Usia Anak Sekolah Dasar Tingkatan kelas di sekolah dasar dapat dibagi menjadi dua, yaitu kelas rendah dan kelas tinggi. Kelas rendah terdiri dari kelas satu, dua, dan tiga, sedangkan kelas-kelas tinggi terdiri dari kelas empat, lima, dan enam (Supandi, dalam Anitah, dkk., 2008). Di Indonesia, rentang usia anak SD, yaitu antara 6 atau 7 tahun sampai 12 tahun. Usia anak pada kelompok kelas rendah, yaitu 6 atau 7 sampai 8 atau 9 tahun. Anak yang berada pada kelompok ini termasuk dalam rentangan anak usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa yang pendek tetapi sangat penting bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal. Masa usia sekolah dasar sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga kira-kira usia sebelas tahun atau dua belas tahun. Karakteristik utama anak sekolah dasar adalah mereka menampilkan perbedaan-perbedaan individual dalam banyak segi dan bidang, di antaranya, perbedaan dalam intelegensi, kemampuan dalam kognitif dan bahasa, perkembangan kepribadian dan perkembangan fisik anak. 2. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar Perkembangan anak merupakan salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam proses belajar. Seluruh aktifitas proses belajar harus berpusat pada kebutuhan anak (child centered) dan pada aspek tuntutan masyarakat (society centered). Fase – fase perkembangan yang dialami anak harus dipahami oleh guru supaya dalam pembelajaran tidak mengalami hambatan psikologis yang mengakibatkan hasil belajar tidak optimal. Perkembangan anak sekolah dasar usia 6-12 tahun yang termasuk pada perkembangan masa pertengahan (middle childhood) memiliki fase-fase yang unik dalam perkembangannya yang menggambarkan peristiwa penting bagi anak yang bersangkutan. Tahap perkembangan anak dapat dilihat dari aspek Kognitif, Psikososial, dan Moral. Anak Sekolah Dasar merupakan individu unik yang memiliki karakteristik tertentu yang bersifat khas dan spesifik. Pada dasarnya setiap anak adalah individu yang berkembang. Perkembangan anak akan dinamis sepanjang hayat mulai dari kelahiran sampai akhir hayat, Dalam hal ini pendidikan maupun pembelajaran sangat dominan memberikan konstribusi untukek membantu dan mengarahkan perkembangan anak supaya menjadi positif dan optimal. Setiap anak memiliki irama dan kecepatan perkembangan yang berbeda – beda dan bersifat individual. 3. Teori Perkembangan Kognitif Dalam praktek pembelajaran, teori kognitif antara lain tampak dalam rumusan-

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 270 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 rumusan seperti: “Tahap-tahap perkembangan” yang dikemukakan oleh J. Piaget, Advance organizer oleh Ausubel, Pemahaman konsep oleh Bruner, Hirarki belajar oleh Gagne, Webteaching oleh Norman, dan sebagainya. Berikut akan diuraikan lebih rinci beberapa pandangan mereka. Jean Piaget membagi perkembangan kognitif anak ke dalam 4 periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia: Tahapan sensorimotor (usia 0–2 tahun), Tahapan praoperasional (usia 2–7 tahun), Tahapan operasional konkrit (usia 7–11 tahun) dan Tahapan operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa). a. Tahapan sensorimotor Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Bagi anak yang berada pada tahap ini, pengalaman diperoleh melalui fisik (gerakan anggota tubuh) dan sensori (koordinasi alat indra). Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan: 1) Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks. 2) Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan. 3) Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan. 4) Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek). 5) Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan. 6) Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas. b. Tahapan praoperasional Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra) Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda. Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 271 tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan. c. Tahapan operasional konkrit Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai sebelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah: 1) Pengurutan: kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil. 2) Klasifikasi: kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan) 3) Decentering: anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi. 4) Reversibility: anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya. 5) Konservasi: memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain. 6) Penghilangan sifat Egosentrisme: kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang. Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis, dan ditandai adanya reversible dan kekekalan. Anak telah memiliki kecakapan berpikir logis, akan tetatpi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkret. Operation adalah suatu tipe tindakan untuk memanipulasi objek atau gambaran yang ada di dalam dirinya. Karenanya kegiatan ini memerlukan proses transformasi informasi ke dalam dirinya sehingga tindakannya lebih efektif. Anak sudah tidak perlu coba-coba dan membuat kesalahan, karena anak sudah dapat berpikir dengan menggunakan model “kemungkinan” dalam melakukan kegiatan tertentu. Ia dapat menggunakan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 272 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 hasil yang telah dicapai sebelumnya. Anak mampu menangani sistem klasifikasi. d. Tahapan operasional formal Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit. Berdasarkan uraian di atas, siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional kongkrit, pada tahap ini anak mengembangkan pemikiran logis, masih sangat terikat pada fakta-fakta perseptual, artinya anak mampu berfikir logis, tetapi masih terbatas pada objek-objek kongkrit, dan mampu melakukan konservasi. Bertitik tolak pada perkembangan intelektual dan psikososial siswa sekolah dasar, hal ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai karakteristik sendiri, di mana dalam proses berfikirnya, mereka belum dapat dipisahkan dari dunia kongkrit atau hal-hal yang faktual, sedangkan perkembangan psikososial anak usia sekolah dasar masih berpijak pada prinsip yang sama di mana mereka tidak dapat dipisahkan dari hal-hal yang dapat diamati, karena mereka sudah diharapkan pada dunia pengetahuan. Pada usia ini mereka masuk sekolah umum, proses belajar mereka tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, karena mereka sudah diperkenalkan dalam kehidupan yang nyata di dalam lingkungan masyarakat. Nasution (1992) mengatakan bahwa masa kelas tinggi sekolah dasar mempunyai beberapa sifat khas sebagai berikut : (1) adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang kongkrit, (2) amat realistik, ingin tahu dan ingin belajar, (3) menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus, oleh ahli yang mengikuti teori faktor ditaksirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor, (4) pada umumnya anak menghadap tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha menyelesaikan sendiri, (5) pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolah, (6) anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk bermain bersama-sama. Seperti dikatakan Darmodjo (1992) anak usia sekolah dasar adalah anak yang sedang mengalami perrtumbuhan baik pertumbuhan intelektual, emosional maupun pertumbuhan badaniyah, di mana kecepatan pertumbuhan anak pada masing-masing aspek tersebut tidak sama, sehingga terjadi berbagai variasi tingkat pertumbuhan dari ketiga aspek tersebut. Ini suatu faktor yang menimbulkan adanya perbedaan individual pada anak-anak sekolah dasar walaupun mereka dalam usia yang sama. Dengan karakteristik siswa yang telah diuraikan seperti di atas, guru dituntut untuk dapat mengemas perencanaan dan pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa dengan baik, menyampaikan hal-hal yang ada di lingkungan sekitar kehidupan siswa sehari-hari, sehingga materi pelajaran yang dipelajari tidak abstrak dan lebih bermakna bagi anak. Selain itu, siswa

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 273 hendaknya diberi kesempatan untuk pro aktif dan mendapatkan pengalaman langsung baik secara individual maupun dalam kelompok. Guru juga dituntut untuk harus menjadi model/teladan yang baik bagi siswa serta guru harus berhati – hati dalam bersikap, berbicara, dan berbuat karenaa akan sangat bepengaruh terhadap kepribadian peserta didik. 4. Teori Perkembangan Psikososial Teori Erik Erikson tentang perkembangan manusia dikenal dengan teori perkembangan psiko-sosial. Teori perkembangan psikososial ini adalah salah satu teori kepribadian terbaik dalam psikologi. Seperti Sigmund Freud, Erikson percaya bahwa kepribadian berkembang dalam beberapa tingkatan. Salah satu elemen penting dari teori tingkatan psikososial Erikson adalah perkembangan persamaan ego. Persamaan ego adalah perasaan sadar yang kita kembangkan melalui interaksi sosial. Menurut Erikson, perkembangan ego selalu berubah berdasarkan pengalaman dan informasi baru yang kita dapatkan dalam berinteraksi dengan orang lain. Erikson juga percaya bahwa kemampuan memotivasi sikap dan perbuatan dapat membantu perkembangan menjadi positif, inilah alasan mengapa teori Erikson disebut sebagai teori perkembangan psikososial. Ericson memaparkan teorinya melalui konsep polaritas yang bertingkat/bertahapan. Ada 8 (delapan) tingkatan perkembangan yang akan dilalui oleh manusia. Menariknya bahwa tingkatan ini bukanlah sebuah gradualitas. Manusia dapat naik ketingkat berikutnya walau ia tidak tuntas pada tingkat sebelumnya. Setiap tingkatan dalam teori Erikson berhubungan dengan kemampuan dalam bidang kehidupan. Jika tingkatannya tertangani dengan baik, orang itu akan merasa pandai. Jika tingkatan itu tidak tertangani dengan baik, orang itu akan tampil dengan perasaan tidak selaras. Dalam setiap tingkat, Erikson percaya setiap orang akan mengalami konflik/krisis yang merupakan titik balik dalam perkembangan. Erikson berpendapat, konflik-konflik ini berpusat pada perkembangan kualitas psikologi atau kegagalan untuk mengembangkan kualitas itu. Selama masa ini, potensi pertumbuhan pribadi meningkat. Begitu juga dengan potensi kegagalan. Hal tersebut berkaitan dengan perkembangan dan perubahan emosi individu. J.Havighurst mengemukakan bahwa setiap perkembangan individu harus sejalan dengan perkembangan aspek lain seperti di antaranya adalah aspek psikis, moral dan sosial. Menjelang masuk SD, anak telah mengembangkan keterampilan berpikir bertindak dan pengruh sosial yang lebih kompleks. Sampai dengan masa ini, anak pada dasarnya egosentris (berpusat pada diri sendiri) dan dunia mereka adalah rumah keluarga, dan taman kanak‐kanaknya. Selama duduk di kelas kecil SD, anak mulai percaya diri tetapi juga sering rendah diri. Pada tahap ini mereka mulai mencoba membuktikan bahwa mereka "dewasa". Mereka merasa "saya dapat mengerjakan sendiri tugas itu, karenanya tahap ini disebut tahap "I can do it my self". Mereka sudah mampu untuk diberikan suatu tugas. Daya konsentrasi anak tumbuh pada kelas kelas besar SD. Mereka dapat meluangkan lebih banyak waktu untuk tugas tugas pilihan mereka, dan seringkali mereka dengan senang hati menyelesaikannya. Tahap ini juga termasuk tumbuhnya tindakan mandiri, kerjasama dengan kelompok dan bertindak menurut cara cara yang dapat diterima lingkungan mereka. Mereka juga mulai peduli pada permainan yang jujur. Selama masa ini mereka juga mulai menilai diri mereka sendiri dengan membandingkannya dengan orang lain. Anak anak yang lebih mudah menggunakan perbandingan sosial (social comparison) terutama untuk norma‐norma sosial dan kesesuaian jenis‐jenis tingkah laku tertentu. Pada saat anak‐anak tumbuh semakin lanjut, mereka cenderung menggunakan perbandingan sosial untuk mengevaluasi dan menilai kemampuan kemampuan mereka sendiri. Sebagai akibat dari perubahan struktur fisik dan kognitif mereka, anak pada kelas

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 274 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 besar di SD berupaya untuk tampak lebih dewasa. Mereka ingin diperlakukan sebagai orang dewasa.Terjadi perubahan perubahan yang berarti dalam kehidupan sosial dan emosional mereka. Di kelas besar SD anak laki‐laki dan perempuan menganggap keikutsertaan dalam kelompok menumbuhkan perasaan bahwa dirinya berharga. Tidak diterima dalam kelompok dapat membawa pada masalah emosional yang serius Teman‐teman mereka menjadi lebih penting daripada sebelumnya. Kebutuhan untuk diterima oleh teman sebaya sangat tinggi. Remaja sering berpakaian serupa. Mereka menyatakan kesetiakawanan mereka dengan anggota kelompok teman sebaya melalui pakaian atau perilaku.Hubungan antara anak dan guru juga seringkali berubah. Pada saat di SD kelas rendah, anak dengan mudah menerima dan bergantung kepada guru. Di awal awal tahun kelas besar SD hubungan ini menjadi lebih kompleks. Ada siswa yang menceritakan informasi pribadi kepada guru, tetapi tidak mereka ceritakan kepada orang tua mereka. Beberapa anak pra remaja memilih guru mereka sebagai model. Sementara itu, ada beberapa anak membantah guru dengan cara cara yang tidak mereka bayangkan beberapa tahun sebelumnya. Malahan, beberapa anak mungkin secara terbuka menentang gurunya. Salah satu tanda mulai munculnya perkembangan identitas remaja adalah reflektivitas yaitu kecenderungan untuk berpikir tentang apa yang sedang berkecamuk dalam benak mereka sendiri dan mengkaji diri sendiri. Mereka juga mulai menyadari bahwa ada perbedaan antara apa yang mereka pikirkan dan mereka rasakan serta bagaimana mereka berperilaku. Mereka mulai mempertimbangkan kemungkinan‐kemungkinan. Remaja mudah dibuat tidak puas oleh diri mereka sendiri. Mereka mengkritik sifat pribadi mereka, membandingkan diri mereka dengan orang lain, dan mencoba untuk mengubah perilaku mereka. Pada remaja usia 18 tahun sampai 22 tahun, umumnya telah mengembangkan suatu status pencapaian identitas. Adapun peranan guru dalam pembelajaraan psikososial di Sekolah Dasar, anatara lain: a. Guru/ pendidik hendaknya membekali peserta didik dengan nilai – nilai moral yang akan membentuk karakter siwa menuju sikap positif siswa. b. Nilai-nilai moral ini haarus ditanamkan agar siswa memiliki kepekaan sosial yang tinggi sehingga lingkungan sosial yang positif jugaa dapat terbentuk. Hal ini dapat membantu rasa percaya dirinya yang kuat dan karakter yang positif. 5. Teori Perkembangan Moral Dewey pernah membagikan proses perkembangan moral atas 3 tahap yaitu: tahap pramoral, tahap konvensional dan tahap otonom. Selanjutnya Piaget berhasil melukiskan dan mengolongkan seluruh pemikiran moral anak seturut kerangka pemikiran Dewey: (1) tahap “pramoral”, anak belum menyadari ketertikatannya pada aturan; (2) tahap “konvensional”, dicirikan oleh ketaatan pada kekuasaan; (3) tahap “otonom”, bersifat keterikatan pada aturan yang didasarkan pada resiprositas. Berdasarkan pada penelitiannya, Lawrence Kohlberg berhasil memperlihatkan 6 tahap dalam seluruh proses berkembangnya pertimbangan moral anak dan orang muda. Keenam tipe ideal itu diperoleh dengan mengubah tiga tahap Piaget/Dewey dan menjadikannya tiga “tingkat” yang masing-masing dibagi lagi atas dua “tahap”. ketiga “tingkat” itu adalah tingkat prakonvensional, konvensional dan pasca-konvensional. Meski anak prakonvensional sering kali berperilaku “baik” dan tanggap terhadap label-label budaya mengenai baik dan buruk, namun ia menafsirkan semua label ini dari segi fisiknya (hukuman, ganjaran kebaikan) atau dari segi kekuatan fisik mereka yang mengadakan peraturan dan menyebut label tentang yang baik dan yang buruk. Tingkat ini biasanya ada pada anak-anak yang berusia empat hingga sepuluh tahun. Tingkat kedua atau tingkat konvensional juga dapat digambarkan sebagai tingkat konformis, meskipun istilah itu mungkin terlalu

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 275 sempit. Pada tingkat ini, anak hanya menuruti harapan keluarga, kelompok atau bangsa, dan dipandangnya sebagai hal yang bernilai dalam dirinya, tanpa mengindahkan akibat yang segera dan nyata. Individu tidak hanya berupaya menyesuaikan diri dengan tatanan sosialnya, tetapi juga untuk mempertahankan, mendukung dan membenarkan tatanan sosial itu. Tingkat pasca-konvensional dicirikan oleh dorongan utama menuju ke prinsip-prinsip moral otonom, mandiri, yang memiliki validitas dan penerapan, terlepas dari otoritas kelompok-kelompok atau pribadi-pribadi yang memegangnya dan terlepas pula dari identifikasi si individu dengan pribadi-pribadi atau kelompok-kelompok tersebut. Pada tingkat ini terdapat usaha yang jelas untuk merumuskan nilai-nilai dan prinsip moral yang memiliki keabsahan dan dapat diterapkan terlepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpegang pada prinsip-prinsip itu. a. Tahap - Tahap Moral: Pada tingkat Prakonvensional kita menemukan: 1) Tahap I – Orientasi hukuman dan kepatuhan: Orientasi pada hukuman dan rasa hormat yang tak dipersoalkan terhadap kekuasan yang lebih tinggi. Akibat fisik tindakan, terlepas arti atau nilai manusiawinya, menentukan sifat baik dan sifat buruk dari tindakan ini. 2) Tahap 2 – Orientasi relativis-intrumental: Perbuatan yang benar adalah perbuatan yang secara instrumental memuaskan kebutuhan individu sendiri dan kadang-kadang kebutuhan orang lain. Hubungan antarmanusia dipandang seperti hubungan di tempat umum. Terdapat unsur-unsur kewajaran, timbal-balik, dan persamaan pembagian, akan tetapi semuanya itu selalu ditafsirkan secara fisis pragmatis, timbal-balik adalah soal ”Jika anda menggaruk punggungku, nanti aku akan menggaruk punggungmu”, dan ini bukan soal kesetiaan, rasa terima kasih atau keadilan. Pada tingkat Konvensional kita menemukan: 3) Tahap 3 – Orientasi kesepakatan antara pribadi atau Orientasi ”Anak manis”: Orientasi ”anak manis”. Perilaku yang baik adalah perilaku yang menyenangkan atau membantu orang lain, dan yang disetujui oleh mereka. Terdapat banyak konformitas dengan gambaran-gambaran stereotip mengenai apa yang diangap tingkah laku mayoritas atau tingkah laku yang ’wajar’. Perilaku kerap kali dinilai menurut niat, ungkapan ”ia bermaksud baik” untuk pertama kalinya menjadi penting dan digunakan secara berlebih-lebihan. Orang mencari persetujuan dengan berperilaku ”baik”. Adapun ciri – ciri Tahap Orientasi Anak Manis : a) Anak SD sudah mampu melakukan penalaran moral melalui struktur kognitifnya, yakni dengan melakukan penalaran moral. b) Penalaran moral anak usia SD/MI dapat dilakukan melalui contoh kisah teladan. c) Dengan kemampuan penalaran moral inilah maka nilai, moral, dan norma akan mempribadi dalam diri peserta didik. d) Penanaman nilai dan moral dapat dilakukan melalui “ Pendekatan dilema moral ” dalam pembelajaraan. e) Menurut Kohlberg, dilema moral dapat digunakan untuk menunjukkan tingkat penalaran moral anak, tetapi hanya setahap demi setahap. 4) Tahap 4 – Orientasi hukum dan ketertiban: Orientasi kepada otoritas, peraturan yang pasti dan pemeliharaan tata aturan sosial. Perbuatan yang benar adalah menjalankan tugas, memperlihatkan rasa hormat terhadap otoritas, dan pemeliharaan tata aturan sosial tertentu demi tata aturan itu sendiri. Orang mendapatan rasa hormat

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 276 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 dengan berperilaku menurut kewajibannya. Pada tingkat Pasca-Konvensional kita melihat: 5) Tahap 5 – Orientasi kontrak sosial legalistis: Suatu orientasi kontrak sosial, umumnya bernada dasar legalistis dan utilitarian. Perbuatan yang benar cenderung didefinisikan dari segi hak-hak bersama dan ukuran-ukuran yang telah diuji secara kritis dan disepakati oleh seluruh masyarakat. Terdapat suatu kesedaran yang jelas mengenai relativisme nilai-nilai dan pendapat-pedapat pribadi serta suatu tekanan pada prosedur yang sesuai untuk mencapai kesepakatan. terlepas dari apa yang disepakati secara konstitusional dan demokratis, yang benar dan yang salah merupakan soal ”nilai” dan ”pendapat” pribadi. hasilnya adalah suatu tekanan atas ”sudut pandangan legal”, tetapi dengan menggarisbawahi kemungkinan perubahan hukum berdasarkan pertimbangan rasional mengenai kegunaan sodial dan bukan membuatnya beku dalam kerangka ”hukum dan ketertiban” seperti pada gaya tahap 4. Di luar bidang legal, persetujuan dan kontrak bebas merupakan unsur-unsur pengikat unsur-unsur kewajiban. Inilah moralitas ”resmi” pemerintahan Amerika Serikat dan mendapatkan dasar alasannya dalam pemikiran para penyusun Undang-Undang. 6) Tahap 6 – Orientasi Prinsip Etika Universal: Orientasi pada keputusan suara hati dan pada prinsip-prinsip etis yang dipilih sendiri, yang mengacu pada pemaham logis, menyeluruh, universalitas dan konsistensi. Prinsip-prinsip ini bersifat abstrak dan etis (kaidah emas, kategoris imperatif). Prinsip-prinsip itu adalah prinsip-prinsip universal mengenai keadilan, timbal-balik, dan persamaan hak asasi manusia, serta rasa hormat terhadap martabat manusia sebai person individual. Adapun peranan guru dalam pembelajaran moral di Sekolah Dasar, antara lain: a) Guru hendaknya mengajarkan nilai dan moral setahap demi setahap melalui pendekatan Kisah Teladan, Dilema Moral, dan Keteladanan. b) Guru harus memberikan stimulus agar peserta didiknya terdorong untuk bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai, moral dan norma yang ada. c) Pemberian pjian atau hukuman secara spontan pada setiap perilaku siswaa yang kurang baik atau yang baik sangat diperlukan untuk merangsang perkembangan moral siswa. 6. Pembelajaran Anak di Sekolah Dasar Pada penerapan pembelajaran siswa di SD hendaknya dilakukan sebuah pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik yang dimiliki dan kebutuhan yang diperlukan oleh anak usia SD karena hal ini dapat menumbuhkan kembangkan potensi peserta didik dan menumbuhkan semangat belajar anak SD, seperti contoh : a. Anak usia SD Senang bermain Maksudnya dalam usia yang masih dini anak cenderung untuk ingin bermain dan menghabiskan waktunya hanya untuk bermain karena anak masih polos yang dia tahu hanya bermain maka dari itu agar tidak megalami masa kecil kurang bahagia anak tidak boleh dibatasi dalam bermain. Peranan guru SD yaitu harus mengetahui karakter anak sehingga dalam penerapan metode atau model pembelajaran bisa sesuai dan mencapai sasaran, misalnya model pembelajaran yang santai namun serius, bermain sambil belajar, serta dalam menyusun jadwal pelajaran yang berat(IPA, matematika dll.) dengan diselingi pelajaran yang ringan(keterampilan, olahraga dll.)

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 277 b. Anak usia SD Senang bergerak Anak senang bergerak maksudnya dalam masa pertumbuhan fisik dan mentalnya anak menjadi hiperaktif lonjak kesana kesini bahkan seperti merasa tidak capek mereka tidak mau diam dan duduk saja menurut pengamatan para ahli anak duduk tenang paling lama sekitar 30 menit. Peranan guru SD hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak. Mungkin dengan permaianan, olahraga dan lain sebagainya. c. Anak usia SD Senang bekerja dalam kelompok Anak senang bekerja dalam kelompok maksudnya sebagai seorang manusia, anak-anak juga mempunyai insting sebagai makhluk social yang bersosialisasi dengan orang lain terutama teman sebayanya, terkadang mereka membentuk suatu kelompok tertentu untuk bermain. Dalam kelompok tersebut anak dapat belajar memenuhi aturan aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajarai olah raga, belajar keadilan dan demokrasi. Peranan guru SD yaitu dapat membuat suatu kelompok kecil misalnya 3-4 anak agar lebih mudah mengkoordinir karena terdapat banyak perbedaan pendapat dan sifat dari anak - anak tersebut dan mengurangi pertengkaran antar anak dalam satu kelompok. Kemudian anak tersebut diberikan tugas untuk mengerjakannya bersama, disini anak harus bertukar pendapat anak menjadi lebih menghargai pendapat orang lain juga. d. Anak usia SD Senang merasakan/ melakukan sesuatu secara langsung Ditinjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkrit. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama. Jadi dalam pemahaman anak SD semua materi atau pengetahuan yang diperoleh harus dibuktikan dan dilaksanakan sendiri agar mereka bisa paham dengan konsep awal yang diberikan. Berdasarkan pengalaman ini, siswa membentuk konsep-konsep tentang angka, ruang, waktu, fungsi-fungsi badan, pera jenis kelamin, moral, dan sebagainya. Peranan guru SD hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih memahami tentang arah mata angin, dengan cara membawa anak langsung keluar kelas, kemudian menunjuk langsung setiap arah angin, bahkan dengan sedikit menjulurkan lidah akan diketahui secara persis dari arah mana angin saat itu bertiup. e. Anak usia SD Anak cengeng Pada umur anak SD, anak masih cengeng dan manja. Mereka selalu ingin diperhatikan dan dituruti semua keinginannya mereka masih belum mandiri dan harus selalu dibimbing. Peranan guru SD yaitu membuat metode pembelajaran tutorial atau metode bimbingan agar kita dapat selalu membimbing dan mengarahkan anak, membentuk mental anak agar tidak cengeng. f. Anak usia SD Anak sulit memahami isi pembicaraan orang lain Pada pendidikan dasar yaitu SD, anak susah dalam memahami apa yang diberikan guru. Peranan guru SD harus dapat membuat atau menggunakan metode yang tepat misalnya dengan cara metode ekperimen agar anak dapat memahami pelajaran yang diberikan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 278 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 dengan menemukan sendiri inti dari pelajaran yang diberikan sedangkan dengan ceramah yang dimana guru Cuma berbicara di depan membuat anak malah tidak memahami isi dari apa yang dibicarakan oleh gurunya. g. Anak usia SD Senang diperhatikan Di dalam suatu interaksi social anak biasanya mencari perhatian teman atau gurunya mereka senang apabila orang lain memperhatikannya, dengan berbagai cara dilakukan agar orang memperhatikannya. Peran guru SD untuk mengarahkan perasaan anak tersebut dengan menggunakan metode tanya jawab misalnya, anak yang ingin diperhatikan akan berusaha menjawab atau bertanya dengan guru agar anak lain beserta guru memperhatikannya. h. Anak usia SD Senang meniru Dalam kehidupan sehari hari anak mencari suatu figur yang sering dia lihat dan dia temui. Mereka kemudian menirukan apa yang dilakukan dan dikenakan orang yang ingin dia tiru tersebut. Dalam kehidupan nyata banyak anak yang terpengaruh acara televisi dan menirukan adegan yang dilakukan disitu, misalkan acara smack down yang dulu ditayangkan sekarang sudah ditiadakan karena ada berita anak yang melakukan gerakan dalam smack down pada temannya, yang akhirnya membuat temannya terluka. Namun sekarang acara televisi sudah dipilah-pilah utuk siapa acara itu ditonton sebagai calon guru kita hanya dapat mengarahkan orang tua agar selalu mengawasi anaknya saat dirumah. Contoh lain yang biasanya ditiru adalah seorang guru yang menjadi pusat perhatian dari anak didiknya. Peranan guru SD harus menjaga tindakan, sikap, perkataan, penampilan yang bagus dan rapi agar dapat memberikan contoh yang baik untuk anak didik kita. Dilihat dari karakeristik Perkembangan Kognitif, pembelajaran untuk anak di SD harus diarahkan pada konsep – konsep yang bersifat konkrit dan menyangkut dunia keseharian anak dan jangan mengajarkan anak dengan contoh – contoh yang abstrak. Pembelajaran untuk anak di SD harus ditekankan pada penanaman nilai – nilai oleh guru kepada anak dilakukan melalui keteladanan. anak membutuhkan contoh keteladanan melalui sikap yang ditunjukkan oleh guru/pendidik dan bukan contoh yang berupa kata – kata maupun konsep yang abstrak. Adapun peranan guru dalam Pembelajaran anak di SD yaitu dalam pembelajaran hendaknya sekonkrit mungkin baik dalam menjelaskan maupun memberikan contoh dan sebanyak mungkin melibatkan pengalaman – pengalaman fisik anak. Dilihat dari karakteristik Perkembangan Psikososial, pembelajaran seharusnya membentuk rasa kepercayaan diri anak pada usia SD karena mulai mengembangkan kemampuan berfikir dan konsep dirinya. Apabila pada tahap ini anak gagal membentuk kepercayaan dirinya maka anak tersebut akan memiliki konsep diri negatif atau rendah diri. Dalam pembelajaran interaksi anak dengan teman sebaya menjadi sangat penting, sebab jika anak mampu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, dapat membawa anak kearah pengembangan rasa mampu ( percaya diri ). Penanaman nilai – nilai moral seperti kerjasama, kasih sayang, toleransi, tanggung jawab, penghargaan, kedermawanan dan lain sebagainya dapat membantu anak melewati fase kritis, sebab lingkungan sosial yang terbentuk dapat memberikan kesempatan yang luas bagi anak untuk mengembangkan sikap positifnya. Guru/pendidik hendaknya membekali anak dengan nilai – nilai moral yang akan membentuk karakter anak menuju sikap positif anak. Nilai-nilai moral ini harus ditanamkan agar anak memiliki kepekaan sosial yang tinggi sehingga lingkungan sosial yang positif juga dapat terbentuk. Hal ini dapat membantu rasa percaya dirinya yang kuat dan karakter yang positif.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 279 Dilihat dari karakteristik Perkembangan Moral, pembelajaran dengan menumbuhkan penalaran moral pada anak SD dengan mengaitkan kisah- kisah tauladan seorang tokoh dalam suatu materi pelajaran. Guru hendaknya mengajarkan nilai dasar setahap demi setahap melalui pendekatan kisah teladan, dilema moral, dan keteladanan. Guru harus memberikan stimulasi agar peserta didiknya terdorong untuk bersikap dan berprilaku sesuai dengan nilai, moral dan norma yang ada. Pemberian pujian atau hukuman secara spontan pada setiap perilaku anak yang kurang baik atau yang baik sangat diperlukan untuk merangsang perkembangan moral anak. KESIMPULAN Pembelajaran anak di SD hendaknya: 1. Menyesuaikan karakteristik yang dimiliki oleh anak usia SD 2. Mengaitkan hal-hal yang bersifat konkrit pada setiap pembelajaran dengan tidak melibatkan hal-hal yang abstrak yang dapat membingungkan anak SD. 3. Menumbuhkan rasa percaya diri sedini mungkin sehingga meminimalisir timbulnya rasa rendah diri pada anak SD. 4. Memberikan contoh kisah keteladanan para tokoh yang diterapkan langsung oleh guru SD dalam setiap pembelajaran Diharapkan guru dapat menerapkan pembelajaran anak di Sekolah Dasar dengan menyesuaikan karakteristik yang dimiliki oleh anak SD. Sekolah Dasar harus memperhatikan perkembangan anak dalam melakukan proses pembelajaran yang efektif. DAFTAR PUSTAKA Sri Anitah, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka. Udin S. Winataputra, dkk. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Universitas Terbuka http://pembelajaranguru.wordpress.com/2008/05/20/ciri-kecenderungan-belajar-dan-cara-belajar-anak-sd-dan-mi/ http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PGTK/196510011998022-ERNAWULAN_SYAODIH/PSIKOLOGI_PERKEMBANGAN.pdf http://zhuldyn.wordpress.com/materii-lain/perkembangan-peserta-didik/karekteristik-perkembangan-kognitif-anak-sd/ http://belajarbarengkiddos.blogspot.com/2012/11/penerapan-disiplin-untuk-anak-usia.html http://zhuldyn.wordpress.com/materii-lain/perkembangan-peserta-didik/perkembangan-berpikir-anak-sd/ http://www.scribd.com/doc/45176852/Karakteristik-Anak-Usia-Sekolah http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/16/pembelajaran-anak-sd/ http://animenekoi.blogspot.com/2012/01/strategi-pendekatan-dan-teknik.html

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 280 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 SOLO HAPPY TOUR (MODEL PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER NILAI-NILAI BUDAYA JAWA UNTUK ANAK USIA DINI) Furi Pratiwi1,* 1PG-PAUD, FKIP, Universitas Muhammadiyah Surakarta. *Keperluan korespondensi: furi_pratiwi@yahoo.com ABSTRAK Pendidikan sangatlah luas dalam segi arti dan cakupan fungsi, manfaat dan modelnya. Dalam pendidikan terdapat berbagai unsur salah satunya pendidikan tentang nilai-nilai karakter yang berbasis nilai budaya. Pendidikan karakter ini sebaiknya dikenalkan sejak usia dini, melalui berbagai kegiatan yang sudah direncanakan dalam pembelajaran. Kebiasaan-kebiasaan baik dikembangkan dalam lingkungan budaya anak sehari-hari mulai dari kehidupan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keprihatinan kita adalah anak-anak sekarang kurang mengenal budaya nya sendiri yaitu budaya Jawa. Masing-masing daerah pasti memiliki aneka ragam kebudayaannya sendiri. Solo Happy Tour merupakan model pendidikan yang dikemas dalam bentuk karya wisata yang berbasis karakter nilai-nilai budaya untuk anak usia dini. Solo Happy Tour ini sangatlah menarik, pertama kegiatan karya wisata merupakan kegiatan yang menyenangkan terutama bagi anak, kedua selain berkarya wisata mereka dapat mengenal lebih mendalam tentang budaya lokal warisan leluhur. Solo Happy Tour merupakan model pendidikan yang memberikan pendidikan yang menarik dan menyenangkan bagi anak. Anak akan lebih mengenal budaya Jawa secara kontekstual. Pendidikan nilai-nilai budaya yang mengenalkan tentang kehidupan sosial, menghargai budaya di sekitar anak, mengenal bahkan meneruskan citra budaya yang berkarakter cinta tanah air pada lingkup seni dan karakter budaya di daerahnya yang unik serta mengembangkan berbagai aspek perkembangan pada anak. Kata kunci: pendidikan karakter, anak usia dini, nilai budaya Jawa, kota Solo. PENDAHULUAN Pengembangan dan pembentukan pendidikan karakter sebaiknya dimulai sejak dini, terutama didalam keluarga. Salah satu area pembelajaran bagi anak adalah sejak di bangku prasekolah melalui model pendidikan berbasis nilai-nilai budaya Jawa yang berupaya mengembangkan kemampuan anak dalam memahami individu dan kelompok yang hidup bersama dan berinteraksi di dalam lingkungan. Selain itu, anak didik dikenalkan dan dibimbing untuk mengembangkan rasa bangga terhadap warisan budaya yang positif, kritis, antisipatif, dan selektif terhadap yang negatif, serta memiliki kepedulian terhadap keadilan sosial, proses demokrasi, dan kelanggengan ekologis (Miftah, 2013: 205). Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh karakter masyarakat yang dimiliki. Solo merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki sejarah panjang. Adanya dualisme pemerintahan jaman dahulu berupa kraton Mangkunegaran dan Kasunanan yang menjadikan kota ini memiliki karakteristik tersendiri, sehingga berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia. Hal ini sangat disayangkan bahwa kota Solo merupakan kota yang memiliki keunikan dan kekayaan akan budaya serta karakter masyarakatnya. Pemerintah kota pun juga selalu berupaya untuk berbenah menjadikan kota Solo lebih maju, berkembang dan berbudaya. Untuk menjadikan kota Solo menjadi kota berbudaya, kita perlu mengembangkan kualitas sumber daya manusianya terutamanya sejak usia dini. Selama ini pengembangan pendidikan nilai budaya Jawa dan karakteristiknya belum begitu nampak dikembangkan untuk anak usia dini. Masih banyak anak didik jaman sekarang yang hilang akan Jawa-nya, seperti: tidak mampu berbahasa Jawa dengan baik, tidak memiliki unggah-ungguh atau tata krama, dan kurang menghormati dan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 281 menghargai orang yang lebih tua atau sesama. Pendidikan nilai budaya yang berkarakter dapat dikembangkan melalui kegiatan atau pembiasaan baik di sekolah maupun di rumah. Pendidikan di sekolah-sekolah kita masih banyak yang hanya mengembangkan salah satu aspek, yaitu aspek kognitif atau intelektual saja. Padahal, untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia itu tidak cukup hanya dengan pengembangan kognitif saja, tetapi juga psikomotor dan afektif. Anak didik tidak hanya pandai atau pintar dalam pelajaran tetapi mereka juga harus mempunyai karakter atau moral yang baik. Pendidikan nilai budaya berkarakter akan menjadikan ciri khas pendidikan di Indonesia yang berbeda. Solo Happy Tour merupakan salah satu kegiatan yang unik untuk anak usia dini. Dengan mengenalkan budaya Jawa di kota Solo dan sekitarnya, kegiatan ini dapat memberikan pengalaman langsung, menumbuhkembangkan berbagai aspek perkembangan nilai agama & moral, bahasa, kognitif, serta akan mengubah sosial emosi anak menjadi aset generasi penerus yang berupaya untuk memelihara dan mengembangkan karakter bangsa yang cinta tanah air, memiliki nilai budaya dan kode etik masyarakat Jawa yang baik. 1. Pendidikan Karakter Budaya Lokal Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada anak didik yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut (Al.Tridhonanto: 12). Di era globalisasi ini, banyak sekali pendidikan karakter yang dikembangkan untuk peserta didik. Namun, pendidikan karakter seharusnya benar-benar ditanamkan pada anak usia dini. Anak merupakan makhluk ciptaan Allah SWT. Mereka merupakan amanah yang masih suci serta masih memerlukan bimbingan, kasih sayang serta pendidikan dari orang tua, keluarga, bahkan lingkungan sekitar. Anak akan dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal jika mendapatkan stimulasi dari lingkungannya dengan baik. Stimulasi yang diberikan kepada anak akan berpengaruh terhadap perkembangannya di masa yang akan datang. Pendidikan karakter seharusnya dikembangkan dan dilestarikan melalui lingkup karakter positif di lingkungan sekitarnya, salah satunya pendidikan yang berbasis nilai-nilai budaya Jawa. Pendidikan nilai budaya lokal ternyata akan semakin luntur jika banyak pengaruh kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta budaya asing dari luar, jika diri sendiri tidak ada antisipasi dalam membentengi fenomena yang tidak bisa dihindarkan. Namun, cara yang lebih baik dalam melestarikan dan menjaga kebudayaan lokal Jawa dengan tetap menggunakan kebiasaan-kebiasaan positif dan mencintai budaya sendiri. Hal ini sangat berpengaruh penting dalam pembentukan karakter generasi bangsa dengan selalu memberikan pembelajaran melalui pembiasaan, yaitu dapat dikembangkan dalam sehari-hari pada anak. Dalam lingkup yang kecil sampai anak memiliki kebiasaan-kebiasaan nilai budaya Jawa yang baik. Pendidikan nilai budaya lokal Jawa memiliki kepribadian yang sangat unik. Maka dari itu, sebagai warga masyarakat Jawa patut bangga dan tetap menjaga serta merawat budaya karakter lokal. Nilai-nilai budaya Jawa ini memiliki kepribadian nilai budaya yang mengedepankan religius, budaya untuk hidup rukun dan gotong royong, sikap sepi ing pamrih rame ing gawe, nilai kesabaran dan musyawarah, mengedepankan rasa, dan nilai-nilai tradisional Jawa yang mengkristal dalam Pancasila (G.Saksono & Dwiyanto, 2011). 2. Pendidikan Nilai budaya Jawa melalui Karya Wisata. Menurut UU No.20 Tahun 2003 (dalam PERMENDIKNAS No.58 Tahun 2009) tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 butir 14 menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 282 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Salah satunya pendidikan yang dikembangkan dan harus digali adalah budaya lingkungan sekitar dengan nilai-nilai budaya lokal Jawa, karena budaya sangat penting terkandung nilai-nilai kebiasaan yang menjadi keunikan pada daerah tersebut. Budaya dalam bahasa sansekerta yang berarti Buddhayah merupakan bentuk arti Budi dan Akal manusia. Meningkatkan mutu pendidikan untuk kemajuan negara, sebaiknya sangat menarik jika dikembangkan kepada anak usia dini kalangan prasekolah meliputi: TK/RA, KB/Playgroup, TPA, SPS, dan sebagainya. Kegiatan yang menarik adalah melalui karya wisata. Menurut Moeslichatoen (dalam Nurbiana, 2008: 8.4) karya wisata merupakan salah satu metode pembelajaran di Taman kanak-kanak yang dilaksanakan dengan cara mengamati dunia sesuai dengan kenyataan yang ada secara langsung. Dengan mengamati secara langsung, anak dapat memperoleh kesan yang sesuai dengan pengamatannya. Pengamatan itu diperoleh melalui panca indera seperti: penglihatan, pendengaran, pengecapan, pembauan, dan perabaan, sehingga untuk membantu perkembangan belajar anak usia dini. Kota Solo merupakan kota budaya yang didalamnya memiliki banyak sekali nila-nilai budaya karakter lokal yang baik. Kota Solo yang terkenal dengan slogan pariwisatanya Solo The Spirit of Java yang secara kasarnya bahwa kota Solo merupakan jiwanya daerah Pulau Jawa. Bahkan Solo memiliki banyak tempat peninggalan bersejarah tinggi seperti Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran, lingkungan yang aman dan nyaman, seni yang indah serta karakter masyarakatnya yang unik dan memiliki sikap asli yang ramah tamah, sopan santun dan sebagainya. Untuk itu disusunlah kegiatan karya wisata sangat pantas dikembangkan pada anak usia dini untuk belajar sambil bermain pada anak, meningkatkan pengalaman langsung dan pendidikan yang berkarakter budaya serta cinta tanah air. 3. Solo Happy Tour Solo Happy Tour merupakan model pendidikan berbasis nilai budaya Jawa di kota Solo untuk anak usia dini. Dengan karya wisata budaya kota Solo dapat mengenalkan potensi budaya lokal yang bisa digali, dilestarikan, dan dikembangkan pada anak. Kegiatan ini dapat mempermudah dalam mengimplementasikan kepada anak usia dini dengan mengenalkan sehari-hari di lingkungan dekat sekitar sekolah, rumah dan masyarakat sekitar. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui mengunjungi tempat atau lokasi yang menarik untuk anak terlebih dahulu, seiring dengan menanamkan pembiasaan-pembiasaan karakter yang kental dimiliki warga Solo yaitu sikap sopan santun, saling menghargai, ramah tamah, dan berbahasa Jawa yang baik. Dalam kegiatan ini diharapkan akan menumbuhkan karakter cinta budaya lokal dan mengembangkan rasa ingin tahu yang tinggi pada anak dalam kehidupan sehari-hari. Dalam mengembangkan kegiatan model pendidikan ini, pendidik dan orang tua juga berperan penting, karena harus mampu menanamkan keteladanan, membantu mengenalkan budaya lokal Solo, serta mengembangkan pendidikan nilai budaya lokal yang secara real dapat dipahami oleh anak dan juga kegiatan ini mampu memberikan efek positif yang menyenangkan dan memberi kesan yang menarik pada anak. Dunia anak adalah dunia bermain (Deasy A., 2008: 35), salah satunya melalui karya wisata. Solo Happy Tour merupakan kegiatan karya wisata berbasis nilai-nilai budaya Jawa untuk anak usia dini. Kegiatan ini merupakan media yang menyenangkan untuk mengajak anak bermain, anak akan mendapatkan pengalaman secara nyata dan langsung di lapangan, Karya wisata ini menimbulkan banyak dampak positif pada anak bahwa dalam karya wisata anak bermain, tetapi mengandung unsur belajar yang menanamkan perubahan tingkah laku, berfikir, dan mengembangkan pengetahuan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 283 dan wawasan tentang berbagai hal pada anak. Karya wisata Solo Happy Tour sangat mendukung dalam proses pembelajaran anak, karena mampu mengembangkan beberapa aspek perkembangan didalamnya sesuai standar tingkat pencapaian perkembangan anak dalam Permendiknas No.58 Tahun 2009 yaitu perkembangan nilai agama dan moral, kognitif, bahasa, dan fisik motorik. Aspek nilai agama dan moral, anak dapat mengenal dan memperoleh pengalaman langsung dalam pendidikan nilai karakter dan moral. Kognitif anak dapat berfikir dan menumbuhkan rasa ingin tahu untuk menggali pengalaman nyata yang sebanyak-banyaknya, perkembangan bahasa, kosa kata atau perbendaharaan kata anak menjadi lebih banyak dan luas karena dapat berkomunikasi dengan lingkungan sekitar dan berbahasa Jawa dengan masyarakat lingkungan sekitar dengan baik. Perkembangan fisik motorik dalam bersikap dan melakukan sesuatu untuk mengolah gerakan-gerakan fisik dan otot anak dapat tumbuh dan berkembang, mampu bersikap sosial terhadap orang-orang di sekitar, memiliki rasa percaya diri dan berkarakter cinta nilai budaya lokal. Dalam pembelajaran untuk anak usia dini, diharapkan juga dapat mengembangkan pembelajaran pengembangan seni, karena pembelajaran seni secara umum memiliki manfaat yang dapat dirasakan secara langsung maupun tak langsung oleh anak didik yaitu sebagai media ekspresi diri, media komunikasi, media bermain, dan menyalurkan minat serta bakat yang dimiliki pada saat karya wisata dilakukan (Pekerti, 2008: 1.27). Mampu menanamkan anak sejak usia dini dengan pendidikan nilai budaya berkarakter bangsa, supaya mencintai dan mengenal budaya serta kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki di lingkungan kota Solo yang patut dikembangkan dan diwariskan kepada generasi penerus bangsa yang cinta tanah air. Anak usia dini juga akan mendapat stimulasi yang mengembangkan berbagai aspek perkembangan tersebut untuk membekali anak didik agar Solo Happy Tour berkualitas dan siap memasuki ke jenjang pendidikan selanjutnya yang memiliki nilai karakter cinta budaya sekitar dan tanah air. KESIMPULAN Penanaman dan pengembangkan model pendidikan karakter nilai-nilai budaya sejak usia dini sangatlah penting. Pendidikan yang menciptakan dan membentuk generasi muda sebagai penerus bangsa adalah dengan pendidikan berbasis nilai budaya, karena kemajuan negara Indonesia ini sangat ditentukan dari karakter masyarakatnya. Maka dari itu, untuk memupuk pendidikan yang lebih mengedepankan pembiasaan dan menumbuhkan karakter rasa cinta nilai budaya sekitar, yaitu dengan cara mengenalkan budaya Jawa kepada anak sejak dini. Baik dengan melihat sesuai minat dan kebutuhan anak, aspek perkembangan yang harus dikembangkan untuk anak. Karya wisata merupakan suatu kegiatan yang menarik dan menyenangkan untuk mengenalkan, mengembangkan, serta memberi wawasan kepada anak dalam mengeksplore sendiri dan mengamati nilai-nilai budaya dan karakteristik masyarakat kota Solo. Dalam kegiatan karya wisata Solo Happy Tour akan memberikan pengalaman nyata dan menyenangkan kepada anak melalui bermain sambil belajar, belajar sambil bermain dengan memperhatikan standar tingkat pencapaian perkembangan anak dalam Permendiknas No.58 Tahun 2009. Melalui Solo Happy Tour ini anak didik akan lebih mudah memahami dan mengenal nilai-nilai budaya Jawa yang ada. Anak mengalami suasana yang berbeda, menggembirakan dan menyenangkan. Kegiatan Solo Happy Tour ini sangat mendukung anak untuk mengembangkan nilai-nilai atau karakter positif dengan melihat dan mengenal beberapa daerah sekitar yang unik, peninggalan sejarah Jawa yang menarik, nilai budaya kota Solo yang tinggi dan unik, meliputi: tari-tarian Jawa dan berbagai alat musik tradisional (gamelan), melestarikan, menjaga dan merawat benda-benda tradisional khas kota Solo. Anak usia

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 284 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 dini juga akan lebih mudah mendapat pengalaman karakter untuk lebih peduli tentang etika sopan santun, tata krama, saling menghargai, mencintai negeri, dan memelihara serta merawat budaya sampai dimasa yang akan datang. DAFTAR PUSTAKA Andriani, Deasy. 2008. Early Learning & Schooling. Yogyakarta: Kanisius. Dhieni, Nurbiyana., dkk. 2008. Metode Pengembangan Bahasa. Jakarta: Universitas terbuka. G. Saksono, Ignas., Dwiyanto, Djoko. 2011. Terbelahnya Kepribadian Orang Jawa antara nilai-nilai Luhur dan praktik kehidupan. Yogyakarta: Keluarga Besar Marhaenis DIY. Miftah, M. 2013. ”Pengembangan Karakter Anak Melalui Pembelajaran Ilmu Sosial”.Pendidikan Karakter. III (2): 205-206. Diakses pada tanggal 19 Maret 2014 pukul 19.55 W IB. Pekerti, W idia.,dkk. 2008. Metode Pengembangan Seni.Jakarta: Universitas Terbuka. Tridonanto, Al. 2012. Membangun Karakter Sejak Dini. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 285 PENGELOLAAN UKS (USAHA KESEHATAN SISWA) DI TK COR YESU TEMANGGUNG Tambah Setyowati1, Dwi Kuntari2 1,2Magister Manajemen Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana ABSTRAK Salah satu wahana untuk menanamkam prinsip hidup sehat terhadap peserta didik adalah Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), oleh karena itu dalam pelaksanaan hendaknya dikelola dengan efektif. Pengelolaan UKS yang baik dan efektif diawali dengan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Jika salah satu program tidak terlaksana maka akan mempengaruhi program yang lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengelolaan kegiatan Usaha Sekolah (UKS) mulai dari kegitan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Kegiatan penelitian ini difokuskan di TK Cor Yesu yang merupakan salah satu PAUD formal di Kabupaten Temanggung yang memiliki reputasi yang baik dalam bidang pengembangan potensi anak usia dini dengan mencetak lulusan-lulusan yang cerdas, bertaqwa, terampil, mandiri, sehat jasmani dan rohani. TK Cor Yesu juga mendapatkan juara 2 nasional di bidang UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) pada tahun 2014. Metode yang digukan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif dengan pengambilan data secara observasi, wawancara, dan studi dokumen. Dari hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan di TK Cor Yesu perencanaan kegiatan pengelolaan telah dicantumkan di kurikulum. Dalam pengorganisasiaan TK Cor Yesu melakukan kerjasaman dengan komite sekolah, poliklinik, alumni, dan dinas kesehatan setempat. Dalam pelaksanaan kegiatan, setiap kegiatan yang direncanakan dilakukan sesuai tema yang ada diantaranya pemilahan sampah, pemberantasan sarang nyamuk, pemeriksaan air PAM dan sumur, pemberian makanan tambahan, pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut, dan pemeriksaan kesehatan badan. Selain kegiatan yang bersifat fisik dilakukan pula kegiatan-kegiatan yang akan mendorong kesehatan rohaniah baik akhlaq,budi pekerti, dan religi. Kegiatan tersebut berupa kegiatan kerohanian sesuai dengan agama siswa ( Kristen, islam, budha), kunjungan industry, praktik melakukan pekerjaan rumah tangga (menyiram bunga, menyapu, mencuci baju, menanam buah dan sayur). Semua kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan sesuai tema yang telah dijadwalkan. Semua kegiatan bisa berjalan dengan lancar karena TK Cor Yesu memiliki fasilitas, sarana, dan prasarana yang memadahi. Untuk tahap evaluasi TK Cor Yesu setiap triwulan melakukan kegiatan pelaporan / presentasi (RKAS, RKS, RKH, RKM) di Semarang yang dilaporakan secara online ke yayasan pusdaku. Yang perlu diperbaiki dari pengelolaan di TK Cor Yesu adalah jumlah tenaga kependidikan dan karyawan. Kata kunci: pengelolaan, UKS (Usaha Kesehatan Sekolah), TK Cor Yesu PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar yang dengan sengaja dirancangkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Salah satunya adalah yang tercantum dalam Undang-Undang Sitem Pendidikan Nasional Nomor 2 Tahun 1989 yang menyebutkan : Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta bertanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan”. Salah satu usaha untuk mencapai tujuan tersebut adalah adanya kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah yang dilaksanakan di sekolah-sekolah sebagai organisasi pendidikan. Berkenaan dengan itu melalui surat keputusan menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mentri Kesehatan, Menteri Agama, dan Menteri dalam Negeri Nomor 0408a/U/1984, Nomor : 319/Menkes/ SKB/VI/1984, Nomor: 74 Tahun 1984, dan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 286 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Nomor: 60 Tahun 1984, Tentang : Pokok Kebijaksanaan Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah dinyatakan bahwa “Pembinaan dan pengembangan prinsip hidup sehat jasmani dan rokhani merupakan salah satu upaya membentuk manusia Indonesia seutuhnya,… dan bahwa usaha kesehatan sekolah merupakan wahana untuk menanamkan prinsip hidup sehat kepada peserta didik sedini mungkin” dapat dinyatakan bahwa Usaha Kesehatan Sekolah perlu dikelola dengan efektif dan efisien oleh semua pihak yang terkait terutama kepala sekolah, dan guru yang bertanggungjawab mendidik siswa. Selain itu kesehatan rohani siswa dianggap penting dalam mendkung perkembangan emosi dan karakter siswa. Taman Kanak-kanak adalah tempat yang efektif untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat jasmani dan rohani karena TK berisi anak dengan kelompok umur yang mudah dirubah dan dipengaruhi perilakunya ( Efendy, 1995). Taman Kanak-Kanak Cor Yesu adalah salah satu PAUD formal di Kabupaten Temanggung yang memiliki reputasi yang baik dalam bidang pengembangan potensi anak usia dini dengan mencetak lulusan-lulusan yang cerdas, bertaqwa, terampil, mandiri, sehat jasmani dan rohani. TK Cor Yesu juga mendapatkan juara 2 nasional di bidang UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) pada tahun 2014. Oleh karena keberhasilan-keberhasilan positif yang dimiliki oleh TK Cor Yesu tersebut, perlu diketahui bagaimana pengelolaan UKS (Usaha Kesehatan Siswa) mulai dari tahap pengelolaan, pengorganisasian, dan pelaksanaan Usaha Kesehatan Sekolah. Dengan mengetahui pengelolaan yang dilakukan bisa diketahui kelebihan dan kekurangan pengelolaan yang dimiliki TK Cor Yesu dan bisa disimpulkan strategi yang terbaik untuk pengelolaan Usaha Kesehatan Sekolah. B. Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang tersebut di atas dapat dirumuskan bahwa dalam makalah ini akan diuraikan tentang “ Bagaimana pengelolaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di TK Cor Yesu Temanggung?” C. Tujuan Adapun tujuan penulisan makalah adalah mengetahui pengelolaan kegiatan UKS di TK Cor Yesu Kabupaten Temanggung. Sehingga dapat diketahui pula apa kelebihan dan kekurang pengelolaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di TK Cor Yesu Temanggung. D. Manfaat Penulisan Adapun manfaat penulisan makalah ini bagi sekolah, sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis a. Menambah ilmu pengetahuan tentang pelaksanaan pengelolaan kegiatan UKS di sekolah. b. Dapat memberikan sumbangan dalam meninkatkan kualitas pendidikan di bidang kegiatan UKS di sekolah. 2. Manfaat Praktis a. Bagi kepala sekolah, tulisan ini sebagai informasi mengenai pelaksanaan pengelolaan kegiatan UKS untuk memacu peningkatan ektifitas pengelolaan. b. Bagi guru, sebagai sarana untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pengelolaan UKS selama ini. Tinjauan pustaka A. Konsep Pengelolaan Pengelolaan berasal dari kata manajemen atau administrasi. Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh Husaini Usman (2004:3): Management diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi manajemen atau pengelolaan. Dalam beberapa konteks keduanya mempunyai persamaan arti, dengan kandungan makna to control yang artinya mengatur dan mengurus. Menurut M. Manullang (2006:5) manajemen merupakan sebuah seni dan ilmu perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengawasan sumber daya untuk mencapai tujuan yang sudah di tetapkan. Terkait dengan proses pelaksanaan manajemen, Nanang Fattah (2004:1) mengemukakan bahwa:

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 287 “Dalam proses manajemen terlihat fungsi-fungsi pokok yang ditampilkan oleh seorang manajer/pimpinan, yaitu: Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing), Pemimpinan (Leading), dan Pengawasan (Controlling). Oleh karena itu, manajemen diartikan sebagai proses merencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien”. Dari beberapa pendapat tentang definisi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya pengelolaan atau manajemen adalah suatu proses kegiatan perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan, pengendalian, serta pengawasan terhadap penggunaan sumber daya organisasi baik sumber daya manusia, sarana prasarana, sumber dana maupun sumberdaya lainnya untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. B. Usaha Kesehatan Sekolah UKS adalah upaya membina dan mengembangkan kebiasaan hidup sehat yang dilakukan secara terpadu melalui program pendidikan dan yankes di sekolah, perguruan agama serta usaha-usaha yang dilakukan dalam rangka pembinaan dan pemeliharaan kesehatan dilingkungan sekolah (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan). Sedangkan menurut Azwar (1988) UKS adalah upaya membina dan mengembangkan kebiasaan hidup sehat yang dilakukan secara terpadu melalui program pendidikan dan yankes di sekolah, perguruan agama serta usaha-usaha yang dilakukan dalam rangka pembinaan dan pemeliharaan kesehatan dilingkungan sekolah. Tujuan umum dari Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah meningkatkan kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan peserta didik serta menciptakan lingkungan sehat sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan anak yang harmonis dan optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Yang menjadi Alasan perlunya Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di sekolah adalah ( Efendi, 1995): 1. Anak usia sekolah merupakan kelompok umur yang rawan terhadap masalah kesehatan. 2. Usia sekolah sangat peka untuk menanamkan pengertian dan kebiasaan hidup sehat. 3. Sekolah merupakan institusi masyarakat yang terorganisasi dengan baik. 4. Keadaan kesehatan anak sekolah akan sangat berpengaruh thd prestasi belajar yang dicapai. 5. Anak sekolah merupakan klpk terbesar dari klpk usia anak-anak yang menerapkan wajib belajar. 6. Pendidikan kesehatan melalui anak-anak sekolah sangat efektif untuk merubah perilaku dan kebiasaan hidup sehat umumnya Prinsip-prinsip pengelolaan Usaha Kesehatan Sekolah adalah : 1. Mengikutsertakan PSM sekolah, meliputi : guru, peserta didik, karyawan sekolah, Komite Sekolah (orang tua murid). 2. Kegiatan yang terintegrasi. Yankes menyeluruh yang menyangkut segala upaya kesehatan pokok puskesmas sebagai satu kesatuan yang utuh dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan peserta didik. 3. Melaksanakan rujukan. Mengatasi masalah kesehatan yang tak dapat diatasi di sekolah ke fasilitas kesehatan ( puskesmas/ RS). 4. Kolaborasi Tim. Melibatkan kerja sama lintas sektoral  diperlukan kerja sama tim dan terorganisasi, tiap-tiap instansi mempunyai tugas yang jelas  tidak tumpang tindih dalam kegiatan METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di TK Cor Yesu yang beralamat di Jl. Jenderal Sudirman No 53 Desa Mardisari Kertosari, Kecamatan Temanggung Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Kegiatan penelitian ini dilakukan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 288 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 selama lima hari dari hari Senin, 6 Oktober 2014 hingga Jumat, 10 Oktober 2014. B. Metodelogi Penelitian Jenis dan Sumber Data Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Data kualitatif berupa hasil wawancara dengan pengelola Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di TK Cor Yesu Temanggung. 2. Data kualitatif hasil observasi di lapangan berupa kondisi sekolah, dan pelaksanaan kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). 3. Data kualitatif berupa data primer dokumen pengelolaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di TK Cor Yesu Temanggung. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa cara yaitu observasi, wawancara, dan pemeriksaan dokumen. 1. Observasi Teknik ini dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan langsung di lapangan terhadap kondisi sekolah, fasilitas sekolah, kegiatan pengelolaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), dan fenomena – fenomena yang terjadi dalam pengelolaan Usaaha Kesehatan Sekolah (UKS) TK Cor Yesu Temanggung. Data hasil observasi juga didukung dengan dokumentasi melalui foto. 2. Wawancara Teknik wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara terbuka. Peneliti bertanya langsung kepada informan yang dipilih, yaitu pihak-pihak pengelola UKS TK Cor Yesu yang dianggap mampu memberikan gambaran dan informasi yang digunakan untuk menjawab permasalahan yang ada dalam penelitian ini (Sugiyono, 2009). 3. Studi Dokumen Metode studi dokumen adalah metode pengumpulan data melalui sumber-sumber tertulis atau dokumen yang berkaitan dengan objek yang diteliti. Dalam penelitian ini dokumen yang diteliti adalah kurukulum yang didalamnya tercantum Rencana Kerja Anggaran Sekolah (RKAS) dan Laporan Pertanggungjawaban Kegitan Sekolah. Metode Analisis Data Analisis data yang dilakukan adalah analisis deskriptif kualitatif yaitu memberikan ulasan atau interpretasi terhadap data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan studi dokumen yang telah dilakukan. Dilakukan analisis terhadap kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh TK Cor Yesu dalam pengelolaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). HASIL DAN PEMBAHASAN Profil TK Cor Yesu Temanggung. TK Cor Yesu Temanggung berdiri sejak tahun 1958 di Jl. Jenderal Sudirman No 53 Desa Mardisari Kertosari, Kecamatan Temanggung Kabupaten Temanggung. TK Cor Yesu memiliki luas tanah 4.291m2. Luas bangunan seluruhnya 807m2. Bernaung di bawah Yayasan Penyelenggaraan Ilahi Indonesia (YPII). Visi Lembaga pendidikan yang mengembangkan potensi peserta didik berlandaskan ciri khas PI sehingga peserta mampu menghadapi tantangan hidup dan menjadi pelaku perubahan sosial. Misi 1. Mengembangkan profesionalitas para pelaku pendidikan yang dilandasi ciri khas PI. 2. Mengembangkan sistem pendidikan yang tepat dan sesuai dengan perkembangan jaman. 3. Mendampingi siswa secara holistik sehingga berkembang menjadi pribadi

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 289 berciri khas PI dan berwawasan internasional. Tujuan 1. Menanamkan ketaqwaan dan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 2. Menanamkan dan menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat sejak dini. 3. Memotivasi peserta didik untuk peduli terhadap lingkungan hidup. 4. Menumbuhkan sikap menghargai kerja keras. Berikut susunan organisasi di TK Cor Yesu: 1. Ketua yayasan Bidang Pendidikan Cabang Semarang: Sr. Cendrayani Tan PI, M.Ed. 2. Kepala Taman Kanak- kanak Cor Yesu Temanggung: Sr. Theodorin Tuti Romantika Pi, S.Ag. 3. Dewan Guru dan Tenaga Kepeendidikan TK Cor Yesu Temanggung: No Nama Mengajar 1 Theresia Sri Hartatik, S.Pd Toddler 2 Theresia Yuni Astuti KB 1 dan 2 3 Hildegardis Sutinah, S.Pd AUD Kelompok A1 4 Yustina Sri Mulatingsih, S.Pd AUD Kelompok A2 5 Sami Rahayu, S.Pd AUD Kelompok B1 6 Yuliana Tri Hernawati Kelompok B2 7 Sebastianus Suradi Penjaga 8 Sebastianus I Priyatna Satpam Pendidikan di TK Cor Yesu dididik oleh para suster dan guru-guru yang memiliki dedikasi yang tinggi. YPII yang ada di Semarang juga membawahi lembaga TK yang ada di Jakarta, Bandung, Bogor, maupun di luar Jawa. Gedung dan sarana prasarana masih baik, karena merupakan gedung peninggalan Belanda. Pengelolaan Usaha Kesehatan Sekolah di TK Cor Yesu Wardoyo memberikan definisi bahwa pengelolaan adalah suatu rangkaian kegiatan yang berintikan perencanaan, pengorganisasian pergerakan dan pengawasan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Perencanaan Menurut Erly Suandy (2001:2) secara umum perencanaan adalah proses pendefinisian tujuan organisasi dan kemudian menyajikan dengan jelas strategi-strategi, taktik-taktik (tata cara pelaksanaan program) dan tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam perencanaan pengelolaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di TK Cor Yesu, pengelola melakukan rapat perencanaan untuk membahas penyusunan RKAS (Rencana Kegiatan Anggaran Sekolah) , RKS (Rencana Kerja Sekolah) , RKH (Rencana Kerja Harian), RKM (Rencana Kerja Mingguan). Dalam penyusunan dokumen-dokumen tersebut melibatkan semua unsur yang ikut dalam struktur organisasi termasuk komite sekolah dan pihak yang bekerjasama dengan sekolah yaitu puskesmas, kelurahan, dan wali murid. Dokumen RKAS yang disusun oleh pengelolaa UKS Cor Yesu akan dikirim dan dipresentasikan ke Yayasan Pusdaku di Semarang. Jika dalam presentasinya disetujui oleh pihak yayasan maka kegiatan yang tertuang dalam RKAS bisa dilaksanakan dalam jangka waktu satu tahun. Setelah RKAS disetujui pengelolaa diwajibkan menyususun Rencana Kerja Harian (RKH) dan Rencana Kerja Mingguan (RKM) yang akan di kirim ke Yayasan Pusdaku setiap triwulan. Pengorganisasian (Pendelegasian) Pendelegasian diartikan sebagai pengalihan sebagian wewenang formal pimpinan kepada bawahannya. Tujuan utama pendelegasian adalah pembagian pekerjaan demi tercapainya efisiensi dan efektiitas suatu organisasi.Dalam mengelola Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dilakukan pembagian tugas sesuai dengan wewenang masing-masing elemen struktur organisasi

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 290 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 UKS di TK Cor Yesu, berikut struktur organisasinya: Gambar 1. Struktur Organisasi TK Cor Yesu Semua elemen terkait bekerjasama untuk melaksanakan semua kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang telah tercantum dalam RKAS. Pelaksanaan Kegiatan TK Cor Yesu merencanakan banyak kegiatan sebagai bentuk usaha kesehatan sekolah yaitu kegiatan untuk tujuan kesehatan fisik, mental, dan spiritual siswa. Berikut kegiatan-kegiatan UKS (usaha Kesehatan Sekolah) di TK Cor Yesu : 1. Penyuluhan Kesehatan gigi dan umum. 2. Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat/PHBS. 3. Pemeriksaan kesehatan gigi dan umum. 4. Kegiatan kurikulum dan kesiswaan yang terkait dengan UKS. 5. Jumpa dengan tokoh di bidang kesehatan. 6. Kegiatan Dokter Kecil. Contoh: Pemberantasan Sarang Nyamuk/PSN. 7. Pendidikan Kerokhanian. Kegiatan Rutin yang ada di TK Cor Yesu Temanggung. 1. Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan. 2. Pemberian makanan tambahan. 3. Pemeriksaan kebersihan rambut telinga dan kuku 4. Kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah. Termasuk kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk/PSN. 5. Pemilahan sampah. 6. Menyiram tanaman. 7. Senam bersama dan berenang. Selain kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan fisik, dilakukan pula kegiatan untuk menjaga kesehatan spiritual dan mental siswa. Misalnya kegiatan kerohanian berkelompok yang dilakukan sesuai dengan agama siswa (Kristen, Islam, Budha), kegiatan Fieltrip/perjalanan sekolah, dan kegiatan pembiasaan. Fieltrip/perjalanan sekolah ke pabrik tempe dan menanam padi di sawah. Siswa ikut aktif dalam praktek mencampur tanah dengan pupuk kompos, dan menanam buah dan sayur seperti tanaman jambu, tomat, cabe, terong. Peserta didik juga diajak praktek langsung yang dikaitkan denagn pembelajaran IPA, yaitu membuat banjir buatan, akibat sampah yang menyumbat. Sedangkan kegiatan pembiasaan yang dilakukan di TK Cor Yesu adalah : 1. Cuci tangan sebelum makan. 2. Berdoa sebelum dan sesudah makan 3. Gosok gigi setelah makan 4. LISA= Lihat Sampah Ambil. Artinya menempatkan sampah pada tempatnya. 5. Gerakan tabungan sampah. Setiap kegiatan dilakukan sesuai dengan Rencana Kerja Harian (RKH) dan Rencana Kerja Mingguan (RKM) yang telah disusun. Dalam setiap kegiatan banyak pihak yang ikut andil diantaranya alumni sekolah, Dinas Kesehatan Kecamatan Temanggung, dan wali murid. Pengawas sekolah sebagai tenaga teknik edukatif juga ikut menjadi Tim Pembina UKS tingkat kecamatan. Berusaha

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 291 untuk dapat mengupayakan TK Cor Yesu Temanggung menjadi maju dan meningkat baik pengelolaan administrasi proses pembelajaran dan kegiatan kesiswaaan/ekstrakurikuler. Pengawas berusaha melakukan pembinaan secara rutin dengan mengacu pada indikator yang ada pada instrumen LSS termasuk empat standar layanan pada pendidkan anak usia dini. Beberapa petugas kesehatan yang berasal dari alumni memberikan penyuluhan gigi dan mulut, penyuluhan kesehatan umum, penyuluhan PHBS dan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut. Selain itu mereka juga memberikan demonstrasi menggunakan alat-alat kesehatan, demonstrasi membuat minuman sehat dan bergizi, demonstrasi cara menyikat gigi dan mandi, demontrasi mencuci dan menjemur pakaian. TK Cor Yesu juga memiliki sarana dan fasilitas yang baik untuk mendukung semua kegiatan yang telah direncanakan. TK Cor Yesu memiliki luas 4.291m2 yang mendukung kegiatan Usaha Kesehatan Siswa. Sarana dan fasilitas yang dimiliki oleh TK Cor Yesu untuk mendukung kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah WC/kamar mandi, ruang bermain, ruang pembelajaran, ruang UKS, kebun sekolah, ruang bermain mandi bola, perpustakaan , ruang refleksi diri, ruang kepala sekolah, ruang guru, dapur, dan gudang, tanam bermain, kebun sekolah. Evaluasi Kegiatan Dalam tahap evaluasi dilakukan rapat evaluasi kerja yang dihadiri oleh semua elemen pengelola Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan pengawas sekolah. Dalam rapat evaluasi ini akan dirumuskan strategi-strategi untuk memperbaiki kinerja karyawan dalam pelaksanaan Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Selain itu pengelola juga menyusun laporan pertanggungjawaban kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah yang dilaporkan setiap triwulan. Dari uraian pengelolaan yang dilakukan di TK Cor Yesu dapat dilihat kelebiahan yang dimiliki TK Cor Yesu dalam pengelolaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), diantaranya: 1. Pengelolaan Kolaboratif Dalam kegiatan pengelolaa Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) Tk Cor Yesu melibatkan banyak elemen yang ikut andil baik dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Dengan adanya pengelolaan yang kolaboratif banyak ide yang masuk dalam proses perencanaan, menambah tenaga pendidik sukarela, dan mengurangi konflik kepentingan. 2. Ketersediaan Sumberdaya Manusia yang Unggul Kerjasama dengan wali murid dan alumni memberikan keuntungan dalam pengelolaan dalam ketersedian tenaga pendidik yang kompeten dan tenaga kesehatan (dokter) yang baik. TK Cor Yesu memiliki dokter yang merupakan alumni sekolah yang memiliki dedikasi yang tinggi untuk membantu melaksanakan kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Selain itu TK Cor Yesu juga memiliki tenaga kependidikan yang kompeten dan berdedikasi tinggi terhadap pekerjaanya. 3. Aktif dalam usaha kesehatan fisik, spiritual, maupun mental. Kegiatan yang dilakukan di TK Cor Yesu tidak hanya usaha menjaga kesehatan fisik, namun juga kesehatan rohani dan mental siswa. Dengan adanya kegiatan pembiasaan, kegiatan spiritual, dan kegiatan pengembangan karakter diri menjadikan lulusan-lulusan TK Cor Yesu menjadi anak yang sehat jasmani, cerdas baik fikir maupun soaial, dan mandiri. 4. Sarana dan fasilitas yang mendukung. TK Cor Yesu juga memiliki sarana dan fasilitas yang baik untuk mendukung semua kegiatan yang telah direncanakan. Sarana dan fasilitas yang dimiliki oleh TK Cor Yesu untuk mendukung kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah WC/kamar mandi, ruang bermain, ruang pembelajaran, ruang UKS, kebun sekolah, ruang bermain mandi bola, perpustakaan , ruang refleksi diri, ruang kepala sekolah, ruang guru, dapur, dan gudang, tanam bermain, kebun sekolah. 5. Peran Serta Masyarakat. Perjalanan TK Cor Yesu Temanggung hingga meraih Juara 2 Lomba Sekolah Sehat tingkat nasional sebuah usaha yang gigih

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 292 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 tidak kenal lelah. Dua komponen yang membuat TK Cor Yesu berhasil yaitu pengelolaan sumber daya yang ada di sekolah dan peran serta masyarakat. Pengelolaannya dengan memberdayakan semua pendidik dan tenaga kependidikan, Penerapan pendidikan perilaku hidup bersih dan sehat melalui manajemen sekolah dimulai dari ketika menyusun kurikulum, terintegrasi dalam pembelajaran, dan penambahan sarana prasarana untuk mendukung kegiatan UKS. Empat hal yang dilakukan dalam pengembangan pendidikan karakter berkaitan dengan peran serta masyarakat yaitu:mengintensifkan pertemuan berkala, mengintensifkan kunjungan rumah, menggali partisipasi, dan melibatkan orang tua. 6. Kegiatan Evaluasi yang Rutin Dari kegiatan evalaluasi akan dapat diketahui kelemahan dan bagian-bagian pengelolaan yang perlu diperbaiki sehingga akan memunculkan strategi-strategi pengelolaan baru yang lebih maju. Kegiatan evaluasi rutin yang dilakukan oleh yayasan Pusdaku terhadap kinerja TK Cor Yesu memberikan dorongan dan motivasi bagi pengelola TK Cor Yesu untuk memperbaiki kesalahan dan menjadi lebih maju. Namun ada yang masih kurang dalam pengelolaan di TK Cor Yesu, yaitu jumlah tenaga pendidik dan karyawan yang tidak sebanding dengan jumlah siswa dan luas sekolah. Agar fasilitas dan lingkungan sekolah tetap terjaga dengan baik lebih baik bila dilakukan perekrutan karyawan untuk petugas kebersihan dan perawatan fasilitas sekolah. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan. Pengelolaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di TK Cor Yesu Temanggung berjalan dengan baik dari mulai kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan kegiatan, dan evaluasi. Dalam pengorganisasiaan TK Cor Yesu melakukan kerjasaman dengan komite sekolah, poliklinik, alumni, dan dinas kesehatan setempat. Yang menjadi kelebihan TK Cor Yesu dalam bidang pengelolaan UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) adalah pengelolaan kolaboratif, keterlibatan banyak pihak, tenaga pengejar yag kompeten, dan kegiatan evaluasi yang rutin. Namun ada yang masih kurang dalam pengelolaan di TK Cor Yesu, yaitu jumlah tenaga pendidik dan karyawan yang tidak sebanding dengan jumlah siswa dan luas sekolah. B. Saran 1. Setiap lembaga pendidikan di Taman Kanak-kanak bisa maju, karena pengelolaan yang baik dan kekompakan internal lembaga itu sendiri. Iklim sekolah yang kondusif dapat dirasakan oleh warga sekolah. Guru merasa apa yang mereka lakukan saling menghargai antara satu ddan lainnya. 2. Perlu adanya kesesuain jumlah siswa dengan tenaga pendidik dan pendamping. Selain itu penting untuk merekrut karyawan kebersihan sesuai dengan luas kawasan sekolah agas kondisi sekolah selalu kondusif, bersih, sehat, dan rapi DAFTAR PUSTAKA Abin Syamsuddin Makmun. 1996 . Analisis Posisi Pembangunan Pendidikan. Jakarta. BiroPerencanaan Depdikbud RI Azml Azwar. 1988 . PengantarAdministrasi Kesehatan. P.T. Binampa Aksara Depdikbud, (1992 ),Petunjuk TeknisDisiplin dan Tata Tertib Sekolah Dasar. JakartaMulyasa. 2011. Manajemen & Kepemimpinan Kepala Sekolah. PT Bumi Aksara. Jakarta Mursyal. 2013. Thesis : Pengelolaan Usaha Kesehatan Sekolah untuk Menunjang Kegiatan Belajar Siswa di Sekolah Dasar Propinsi Riau: Studi Deskriptif Analitik di Sekolah Dasar Negeri Kotamadya Pekanbaru. Universitas Pendidikan Indonesia M.N. Nasution. 2010. Manajemen Mutu Terpadu. Ghalia Indonesia. Jakarta Nasml Efendi. 1995 . Perawatan Kesehatan Masyarakat.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 293 Kedokteran EGC, Jakarta.Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. CV Alfabeta. Bandung

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 294 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 GURU PROFESIONAL DAN BERMARTABAT Krisna Pebryawan ABSTRAK Guru adalah sebuah pekerjaan yang profesional dan bermartabat, sehingga menyadari pentingnya peranan guru dalam pengajaran. Mengingat pekerjaan guru adalah pekerjaan yang bukan statis, namun fleksibel dengan perubahan jaman, diharapkan guru mampu menjadi pribadi yang adaptif dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Selain itu juga menyadari bahwa guru adalah artis pendidikan, yang menjadi fokus perhatian anak didik, sehingga perlu memberikan teladan baik dalam perkataan dan perilaku. Kata Kunci: guru, profesional, bermartabat, dan perubahan PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Kemiskinan, ketidaktahuan, dan keterbelakangan peradaban menjadi tiga penyakit laten yang terdeteksi dari bangsa Indonesia. Setidaknya itu yang diungkapkan oleh Muh Nuh yang dimuat dalam laman kemdikbud 18 september 2014. Alasan itu pula yang membuat dirinya dan para jajaran kemudian merumuskan kurikulum 2013 berbasis pendidikan karakter. Terlepas dari pro dan kontra kurikulum yang baru, ketiga penyakit pendidikan tersebut memang benar adanya. Kepala BPS, Suryamin menambahkan penduduk miskin di Indonesia mengalami penurunan. Hasil survei hingga Maret 2014 menurun dibanding hasil survei September tahun lalu. Pada bulan Maret 2014 jumlah penduduk miskin sebesar 28,28 juta orang, bila dibandingkan dengan September 2013 terjadi penurunan dari 28,60 juta orang, dan persentasenya juga menurun dari 11,46 menjadi 11,25 persen. Perhatikan angka tersebut. Jika dilihat dari kacamata + (baca plus), maka kita wajib bersyukur karena ada progres positif. Angka kemiskinan berkurang. Artinya semakin bertambah masyarakat yang sejahtera. Apabila dilihat dari kacamata – (minus), angka yang ditunjukkan bukan main-main. Ada 28,28 juta orang. Jika dihitung dalam persen yaitu ada 11,25%. Sisanya adalah golongan tengah dan golongan atas. Angka tersebut sungguh sangat memprihatinkan. Sejak 1945 sampai sekarang. Dengan rentang tahun yang begitu lama masih tercatat angka yang begitu besar. Hal ini menandakan ada yang salah dengan sistemnya. Faktor kedua, ketidaktahuan atau kebodohan selama ini masih mengikat bangsa kita. Kebodohan adalah suatu kondisi kurangnya pengetahuan yang dialami individu ataupun kelompok masyarakat terhadap suatu informasi subjektif. Bodoh dalam artian bukan karena tidak mengetahui apa-apa, namun kurangnya pemahaman terhadap suatu pengetahuan. Dalam dunia akademisi masyarakat Indonesia sudah mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Sewaktu Indonesia merdeka tercatat ada 95% orang yang buta aksara, di tahun 2009 tercatat tinggal 5% orang yang buta aksara. Artinya 95% orang di Indonesia sudah melek aksara. Lalu timbul pertanyaan, mengapa jika warganya sudah melek aksara namun kebodohan tetap menjadi penyakit bangsa? Ini artinya bahwa masyarakat yang melek aksara tidak menjamin kesejahteraan hidupnya. Seperti halnya jalan. Ada hubungan antara kebodohan dan kemiskinan, seolah ada jembatan yang menghubungkannya. Dari tempat A menuju tempat B. Dapat diumpamakan A adalah kemiskinan dan B adalah kebodohan. Ketika kita membicarakan kebodohan maka juga membicarakan kemiskinan. Faktor ketiga, keterbelakangan peradaban membawa dampak yang tidak kalah dasyat. Keterbelakangan peradaban seperti main hakim sendiri, tidak mau bersabar, tak mau mengantri, sampai dengan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 295 mental menerabas. Semua itu telah membudidaya dan mengakar dikalangan anak muda. Banyak sekali pelanggaran moral seperti membuang sampah sembarangan, menerobos lampu apil, dan pencurian. Dari pencurian mangga milik tetangga sampai pencurian uang negara (baca koruptor). Kenyataannya, masyarakat yang kurang pendidikan atau tidak bersekolah bukan karena malas. Bukan karena tidak mau. Tetapi karena miskin. Karena sekolah bagi mereka adalah sesuatu yang mahal. Apabila dirunut lebih dalam lagi, mengapa ada anggota masyarakat yang kurang ikhlas menginvestasikan uangnya demi pendidikan, salah satunya adalah banyaknya lulusan yang tidak langsung mendapat pekerjaan. Sering terdengar kicauan dari masyarakat, untuk apa sekolah tinggi-tinggi, bila nantinya juga akan menganggur. Apakah pemerintah, lembaga-lembaga pencari tenaga kerja, dan perusahaan tidak mampu melihat kompetensi lulusan tersebut? Ataukah memberikan grade yang terlalu tinggi? Ataukah justru karena lulusan tersebut yang tidak memenuhi standar seharusnya sebagai seorang lulusan? Apakah lulusan tersebut belum siap terjun ke dunia kerja? Salah satu muara permasalahan tersebut adalah sistem pendidikan di negara kita. Ada yang salah dengan sistem pendidikannya. Dengan fenomena semacam itu, berarti ada yang harus dibenahi. Meminjam istilah dari saudara Sophyan, ada tiga hal utama dalam sistem pendidikan yaitu sofware, hardware, dan brainware atau humanware. Humanware terdiri dari guru, siswa, kepala sekolah, dosen, mahasiswa, dll. Hardware diartikan sebagai unsur fisik, seperti bangunan, meja, kursi, lab, perpustakaan, dan media pembelajaran. Yang ketiga adalah sofware, meliputi kurikulum, kebijakan-kebijakan lembaga, peraturan dan tata tertib. Namun disini penulis membatasi dengan membahas aspek brainwarenya, khususnya guru atau pengajar. Sudahkah guru-guru di Indonesia memenuhi standar sebagai seorang pengajar yang handal? Tanpa bermaksud memojokkan, kenyataan yang ada adalah masih banyak guru yang tidak bekerja dengan profesional. Jokowi mengatakan, perlu adanya revolusi mental. Guru harus dicerahkan. Guru harus berubah. Menyadari bahwa seorang pengajar memberikan andil yang sangat besar terhadap kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Senada dengan hal itu, Anies Baswedan mengatakan, guru memegang peran penting dalam pendidikan, jika gurunya berprestasi, muridnya juga akan berprestasi. Jika gurunya bermasalah, maka muridnya juga akan bermasalah. Dalam hal ini, Muh Nuh juga berpendapat serupa. Semakin banyak ditemukan guru-guru yang kurang berkompeten, bukan selalu dikarenakan dia tidak bisa, tetapi lebih karena tidak mau. Dengan kata lain para guru tersebut malas berpikir. Malas belajar. Golongan guru ini sering ditemukan pada angkatan lama, yang berpegang pada dalil-dalil pembelajaran yang telah lalu. Mereka mengacu pada kesuksesan pendidikan masa lalu. Padahal, jaman terus bergerak dan berubah. Guru yang bijak adalah yang lentur menanggapi perubahan. Seperti pohon bambu yang mampu mengikuti kemana angin berembus. Tidak kaku. Golongan lama ini, bahkan ada yang mengurung dirinya dalam mimpi masa lalu. Dia tidak mau terbuka melihat kenyataan yang ada. Perkembangan teknologi dan komunikasi adalah sarana yang empuk dalam proses pembelajaran. Kebanyakan dari mereka membutakan diri. Menutup mata. Dengan alasan sudah usia lanjut, susah belajar. Akibatnya tidak sedikit para guru dan bahkan dosen yang takbisa mengoperasikan komputer. Dampaknya, dia kesulitan ketika dihadapkan dengan murid-muridnya yang sudah begitu mahir berselancar dengan komputer dan internet. Yang terjadi adalah perbedaan kutub, ketika guru mengajarkan secara konvensional dengan materi-materi yang ada dibuku, dengan pengetahuan para siswa yang begitu luas tentang dunia sekitarnya. Ironisnya penyakit itu tidak hanya menjangkiti guru lama, namun guru baru juga tidak bisa menghindar. Apabila diperas lagi, maka intinya ada di mentalitas. Guru yang kolot. Tidak mau menerima perubahan. Masih

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 296 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 menggunakan cara-cara pengajaran yang lama dan bahkan sudah usang. Parahnya lagi ini juga ditiru oleh para guru muda, karena dianggap lebih praktis dan tidak perlu repot untuk belajar lagi. Parahnya lagi, penyakit kemalasan guru telah menjangkiti golongan guru-guru yang sudah sertifikasi. Padahal tujuan atau program awal sertifikasi guru dimaksudkan untuk mensejahterakan guru. Ketika guru sejahtera diharapkan akan semakin profesional dan semangat dalam mengajar. Bukan justru sebaliknya. Sertifikasi guru diatur dalam UU nomer 62 tahun 2013 dimaksudkan sebagai payung kesejahteraan guru. Karena selama ini, banyak pihak menyayangkan tentang kesejahteraan guru yang kurang diperhatikan. Namun ironisnya, setelah kesejahteraan ditingkatkan, bukannya semakin giat mengajar, justru malah giat meninggalkan ruangan kelas lebih awal. Bukannya rajin masuk sekolah, justru malah rajin absen ke sekolah. Di dalam kelas, guru berbicara panjang lebar tentang etika dan norma-norma. Dengan semangat yang berapi-api guru mengingatkan para siswanya untuk taat peraturan, dan sebagainya. Namun begitu keluar kelas, kata-katanya menguap seperti air dalam teko yang mencapai titik didihnya. Saat guru berbicara, siswa jangan terlambat. Eh, justru gurunya yang sering sekali terlambat masuk kelas. Lebih parahnya lagi, saat guru dan siswa sama-sama terlambat masuk sekolah. Siswa dihukum, dan guru jalan dengan santainya menuju ruang kelas. Hal ini membuat image guru menjadi rusak. Siswa tidak lagi hormat ataupun memiliki penghargaan. Siswa manis di depan, lebih karena takut. Takut terhadap peraturan yang mengikatnya. Para guru lupa, bahwa contoh yang paling efektif, adalah memberi teladan melalui perilaku. Bukan kata-kata. Tidak sedikit pula guru yang mengajar bukan karena panggilan jiwa, tetapi karena pekerjaan. Dia mengajar tidak dengan hati, namun karena tuntutan. Akibatnya banyak yang mengajar sekadar untuk memenuhi jam mengajar. Tidak adanya kesadaran dalam diri guru, sering terlihat mengajar dengan kurang semangat. Padahal guru yang tidak semangat, akan menular ke siswanya. Guru yang kurang kesadaran dan tanggungjawab terhadap siswanya akan mengajar apa adanya. Tidak ada inovasi baru. Terkesan asal-asalan. Mereka juga tidak terlalu memikirkan tentang penguasaan materi, toh siswa bisa belajar sendiri. Tidak sedikit pula yang mengajar tanpa adanya progres dan keterbukaan terhadap perkembangan teknologi. Mengajar di depan kelas dengan memegang buku. Mendikte atau menyuruh siswa untuk mencatat materi yang diucapkan guru. Padahal siswa generasi sekarang perlu dikenalkan sejak dini tentang teknologi. tak bisa dipungkiri, sekarang ini teknologi sedang berlari sangat kencang. Anak muda pun ikut berlari, hingga ada istilah conected generation. Diartikan sebagai generasi yang terhubung satu sama lain. Hal ini dikarenakan setiap informasi bisa diakses dan disebarkan dengan sangat cepat, bahkan hitungan detik. Siswa bukan lagi anak yang duduk di depan meja dengan buku dan alat tulisnya. Tapi sekarang sudah mengenal gadget, smartphone, dan i pad. Disaat guru sedang belajar menggunakan twitter dan facebook, banyak siswa sudah menggunakan skype. Disaat guru mencari arti kata dengan membuka literatur di depan kelas, para siswa sudah mempunyai kamus elektronik di ponsel masing-masing macam google translite dan KBBI. Seorang guru harus bisa membaca perubahan jaman. Semua akses informasi terbuka lebar. Siswa sekarang bisa lebih pintar dibandingkan gurunya, dikarenakan mempunyai literatur yang lebih kaya. Di google, mereka bisa mendapatkan apapun. Jika guru tidak fleksibel dengan perkembangan teknologi, hal ini akan menimbulkan ketidakpercayaan siswa terhadap kemampuan guru. Padahal pada poin ini, peran guru sangat penting sekali, sebagai mediasi antara siswa dengan teknologi. Bagaimana seorang guru bisa menjelaskan, dan memberikan contoh penggunaan dan pemanfaatan teknologi yang tepat bagi siswanya. Di google kita bisa menemukan apapun, dari situs yang

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 297 bermanfaat sampai situs yang membuat geleng-geleng kepala. Jika guru tidak menanamkan pentingnya seleksi dalam mengakses internet, tentu akan sangat berbahaya. Bertolak dari permasalahan tersebut, maka diperlukan adanya revolusi mental bagi rekan-rekan guru. Peran guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai seorang profesional yang bertanggungjawab terhadap anak didiknya. Guru harus terus belajar, membuka diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dan menemukan inovasi baru dalam pembelajaran. Untuk itulah perlu ditumbuhkembangkan pengertian-pengertian tersebut kepada para guru. Diharapkan tulisan ini bisa menjadi referensi dalam menumbuhkan kesadaran pentingnya profesi guru. 2. IDENTIFIKASI MASALAH DAN PERUMUSAN MASALAH Masih banyaknya guru atau pengajar yang kurang profesional, maka perlu dilakukan upaya-upaya untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Oleh karena masalah tersebut maka perlu dirumuskan yaitu bagaimana menjadi guru yang profesional dan bermartabat? 3. STUDI KEPUSTAKAAN Robinson (1988: 58) mengatakan bahwa guru memainkan otoritas dari sumber tertentu di dalam kelas. Berdasarkan kenyataan bahwa guru mewakili sekolah di dalam kelas, ia mendapatkan otoritas dari sekolah. Guru sendiri adalah orang dewasa yang mempunyai otoritas atas murid-murid yang diajarinya. Sumber lain dari otoritas guru-ialah otoritas yang diperoleh dari kepercayaan murid-muridnya, dan otoritas yang diperoleh dari pengetahuan mengenai mata pelajaran dalam kurikulum dan pengetahuan atau murid-muridnya. Sanjaya (2008: 15) mengatakan guru adalah pekerjaan profesional yang membutuhkan kemampuan khusus hasil proses pendidikan yang dilaksanakan oleh lembaga pendidikan keguruan. Berdasarkan pendapat keduanya dapat disimpulkan bahwa guru adalah sebuah profesi yang memerlukan keahlian khusus dan digunakan secara maksimal demi kemajuan siswanya. Untuk meyakinkan bahwa guru sebagai pekerjaan profesional, marilah kita tinjau ciri dan karakteristik dari proses mengajar sebagai tugas utama profesi guru, Sanjaya (2008:16): a. Mengajar bukanlah hanya menyampaikan materi pelajaran saja, akan tetapi merupakan pekerjaan yang bertujuan dan bersifat kompleks. Oleh karena itu pada pelaksanaannya diperlukan sejumlah ketrampilan khusus yang didasarkan pada konsep dan ilmu pengetahuan yang spesifik. b. Sebagaimana tugas seorang dokter yang berprofesi menyembuhkan penyakit pasiennya, maka tugas seorang guru pun memiliki bidang keahlian yang jelas, yaitu mengantarkan siswa ke arah tujuan yang diinginkan. c. Agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai dengan bidang keahliannya, diperlukan tingkat keahlian yang memadai. Menjadi guru bukan hanya memahami materi yang harus disampaikan, akan tetapi juga diperlukan kemampuan dan pemahaman tentang pengetahuan dan ketrampilan lain. d. Tugas guru adalah mempersiapkan generasi manusia yang dapat hidup dan berperan aktif dalam masyarakat. Oleh sebab itu, tidak mungkin pekerjaan seorang guru dapat terlepas dari kehidupan sosial. e. Pekerjaan guru bukanlah pekerjaan yang statis, tetapi pekerjaan yang dinamis, yang selamanya harus sesuai dan menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu guru dituntut untuk peka terhadap dinamika perkembangan masyarakat, baik perkembangan kebutuhan yang selamanya berubah, perkembangan sosial, budaya, politik, termasuk perkembangan teknologi. Sanjaya dengan jelas menulis peran guru, tugasnya, keahliannya, dan tanggungjawabnya terhadap anak didiknya.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 298 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Rhenald Kasali dalam bukunya Change (2013), bagian pendahuluan mengatakan perubahan, sekalipun menakutkan dan menimbulkan banyak kecemasan, tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. Kecemasan dan ketakutan-ketakutan bisa menghalangi jalan suci perubahan. Ini berlaku juga pada guru. Guru harus mau berubah. Merubah cara pandangnya sesuai dengan perkembangan peradaban tanpa meninggalkan nilai-nilai yang ada. Setelah berhasil mengubah dirinya, baru kemudian mengubah anak didiknya. Ini tidak mudah, tetapi perlu dilakukan. Rhenald Kasali (2013: 273) mengatakan perubahan menimbulkan rasa tidak pasti dan kurang nyaman bagi mereka yang tidak memegang kendali. Hal ini pula yang dirasakan oleh guru. Ketika mereka baru beradaptasi dengan kurikulum KBK dan KTSP, sudah disusul dengan kurikulum 2013. Guru tak kuasa untuk menolak kebijakan yang ada, akibatnya banyak yang mengeluhkan. Karena keluhan tidak ditanggapi, banyak guru pun bekerja di bawah tekanan. Bisa dibayangkan, apa jadinya siswa ketika diajar oleh guru tersebut? Perubahan memang tidak selalu menjanjikan kebaikan, tetapi tanpa perubahan tidak ada perkembangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Guru adalah sebuah profesi yang bermartabat. Namun banyak guru yang tidak menyadari hal itu. Profesi berarti suatu pekerjaan yang membutuhkan tanggungjawab yang besar. Seperti halnya profesi seorang dokter yang bertanggungjawab terhadap kesehatan pasiennya, seorang guru bertanggungjawab dengan kemajuan anak didiknya. Profesi guru juga bukan sesuatu yang statis, tetapi terus berkembang seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bermartabat berarti mempunyai martabat, tingkat harkat kemanusian. Jadi profesi guru adalah pekerjaan yang mulia. Tugasnya jelas, mencerdaskan anak didiknya berdasarkan nilai pancasila. Tidak bisa dipungkiri bahwa guru adalah inspirasi hidup dan yang paling dekat dengan siswa setelah orang tua. Bayangkan, sistem pendidikan yang selama ini kita anut, mengharuskan anak menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan sekolah. Dengan lamanya waktu tersebut, mereka lebih banyak berinteraksi dalam dunia akademik dibandingkan dengan dunia luar. Ada tiga hal penting yang perlu disadari oleh guru. Pertama, guru adalah pusat perhatian. Dalam setiap kesempatan, guru akan menjadi bahan pembicaraan para siswa. Setiap perilaku dan perkataannya akan diperhatikan. Siswa mempunyai kecenderungan untuk membanding-bandingkan antara guru yang satu dengan guru yang lain. Secara tidak sadar, siswa melakukan pengukuran dan penilaian. Guru perlu menyadari hal ini, bahwa dirinya menjadi artis pendidikan. Guru harus paham, bahwa profesinya selain menilai, dia juga dinilai. Oleh karena itu, guru harus berhati-hati dengan apa yang dikatakan dan diperbuat. Kedua, guru adalah pribadi yang kreatif. Rhenald Kasali mengatakan, bahwa guru yang kreatif adalah guru yang tidak hanya memindahkan isi buku ke otak siswanya, tetapi yang melatih cara berpikir anak didiknya. Dia tidak hanya memindah isi buku, tetapi dia melatih siswanya mengolah informasi yang didapat dan menyajikannya keluar. Bentuknya bisa beragam, dipengaruhi oleh kepribadian dan cara berpikir yang berbeda antara siswa yang satu dengan yang lain. Keberagaman itu nantinya yang akan menjadi impuls terbentuknya proses kreatif tiap lulusan baik dalam lingkungan kerja maupun sosial kemasyarakatan. Jadi tidak semata-mata nilai akademis yang dipentingkan, namun juga non-akademis. Ketiga, guru adalah pribadi yang adaptif terhadap perubahan. Mengembangkan metode pengajaran dan disesuaikan dengan kondisi siswa. Masih sering ditemukan seorang guru yang mengajar dengan metode konvensional. Misalnya ceramah, dilakukan oleh guru selama jam pelajaran berlangsung. Hal ini bagus, karena guru berhasil menunjukkan kompetensinya sebagai seorang pengajar, namun di sisi lain tidak. Guru yang terlalu mendominasi kelas, dia

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 299 akan mematikan potensi anak didiknya. Begitu juga guru yang mengajar dengan melulu menggunakan buku. Berkebalikan, guru ini dinilai kurang berkompeten. Dia hanya membaca, kemudian menyuruh siswa untuk mencatat di bukunya. Membuat ringkasan, memberi perintah untuk mempelajarinya, kemudian mengadakan tes. Tidak ada tempat bagi siswa untuk mengembangkan daya imajinatif dan kreatifitasnya. Hasil dari didikan ini adalah siswa-siswa yang hanya mengejar nilai dan peringkat di kelas. Mereka belajar mati-matian, demi mendapatkan nilai terbaik, tanpa adanya output yang tercipta. Guru yang adaptif, juga siap menerima perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bijak menggunakannya bagi kemajuan anak didiknya. Guru yang adaptif, tidak akan berontak akan datangnya perubahan. Karena selalu yakin, selalu ada kemajuan di dalam perubahan. Guru yang menyadari hal ini akan menjadi pribadi yang terbuka dan akan terus berkembang. Di kurikulum yang baru, guru semakin menjadi sorotan. Tanggungjawabnya lebih berat. Guru dituntut mampu mengetahui perkembangan setiap anak didiknya. Aspek penilaian pun ditambahkan. Tidak hanya prestasi akademik, tetapi juga sikap dan keterampilan. Diharapkan keseimbangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan dapat membangun soft skills dan hard skills. Dunia pendidikan juga tidak lepas dari berbagai kasus, sama halnya dalam ilmu bidang lain. Beberapa guru terkena kasus, mulai dari indisipliner sampai dengan pelanggaran moral. Satu contoh yang masih hangat dibenak kita yaitu kasus indisipliner di SMA Negeri Bungaraya, Kabupaten Siak, Riau. Menurut sumber (newdetik.com tanggal 9 Nopember 2014), ada tiga siswa yang dikeluarkan karena status facebook. Tiga orang siswa SMA di Kabupaten Siak, Riau dikeluarkan dari sekolah lantaran menulis status sindiran di akun Facebook. Dalam status Facebook yang ditulis oleh salah satu siswa itu berbunyi, murid terlambat dihukum, guru terlambat tidak dihukum. Status itu langsung dikomentari oleh dua siswa lainnya. Dampaknya ketiganya dikeluarkan. Menurut salah satu sumber mengatakan, siswa tersebut merasa mendapat ketidak-adilan. Oleh karenanya melampiaskan di dunia maya. Terlepas dari pelanggaran-pelanggaran lain yang mungkin dilakukan oleh ketiga anak tersebut, sehingga membuat sekolah mengeluarkan, harusnya siswa-siswa tersebut diberi pembinaan. Bukan hukuman. Dalam laman yang sama Menbuddikdasmen Anies Baswedan malah mengatakan "Kritis anak tak boleh dimatikan, harus dihidupkan. Mematikan mereka adalah mematikan masa depan bangsa. Anak seperti ini harus ditumbuhkan. Hadapi mereka bukan sebagai musuh, hadapi mereka sebagai anak didik yang memiliki kemampuan berpikir. Penulis setuju, bahwa seorang guru yang baik adalah guru yang mampu memberikan teladan tidak hanya lewat tulisan maupun perkataan, namun melalui tindakan. Contoh tersebut hanya salah satu dari banyaknya kasus yang terungkap ke publik. Hal ini tentu sangat memprihatinkan. Perlu diberikan perhatian yang serius. Pemerintah, sekolah, dan orang tua perlu bekerja sama mengatasi hal tersebut. Inti dari berbagai persoalan tersebut sebenarnya hanya satu, yaitu guru tidak menyadari profesinya sebagai pekerjaan yang profesional. Upaya yang bisa dilakukan untuk peningkatan profesionalisme guru, antara lain dengan diadakan seminar dan pelatihan. Hal ini perlu dilakukan, mengingat banyak guru yang tidak menyadari perannya. Seperti telah diungkapkan oleh Sanjaya. Selain itu, perlu adanya peran serta pihak sekolah terutama kepala sekolah. Kepala sekolah yang baik adalah yang mempunyai visi terciptanya sekolahan yang dikepalai menjadi sekolah inspiratif. Bisa dimulai dengan memberikan pengertian kepada para guru. Misal, diadakannya evaluasi sekali seminggu atau setiap hari sebelum bel pulang. Jadi para guru akan mendapat banyak masukan, baik dari rekan guru maupun kepala sekolah.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 300 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 SIMPULAN DAN SARAN A. SIMPULAN Berdasarkan tulisan di atas, dapat disimpulkan bahwa guru adalah pekerjaan yang profesional. Masih sedikit yang menyadari pentingnya peran dan profesi guru, dengan ditemukannya banyak kasus, seperti indisipliner, pelanggaran moral, kurangnya kompetensi guru dalam mengajar, dan lain sebagainya. Diharapkan, guru segera melakukan perubahan. Saling berlomba untuk menjadi guru profesional yang bermartabat dan inspiratif bagi para siswanya. Menjadi teladan baik perkataan dan perilakunya. B. SARAN/ REKOMENDASI Diharapkan tulisan ini bisa memberikan sumbangsih bagi perubahan sikap dan kompetensi guru. Sehingga guru benar-benar menjadi sebuah profesi yang dirindukan. Ditunggu-tunggu oleh siswanya. Guru inspiratif, dan menjadi teladan bagi siswanya. Upaya yang bisa dilakukan yaitu: 1. Kegiatan seminar dan workshop seperti Pengembangan Profesi guru dsb sering diselenggarakan. Dengan begitu guru akan terdorong dan termotivasi. Seorang pengajar juga membutuhkan input sebagai bahan referensi dalam pengajaran. 2. Diadakannya lomba karya ilmiah bagi para guru. Tema bisa menyesuaikan. Misalnya pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, dan atau tema-tema yang lain. Dengan begitu, guru akan terdidik untuk berpikir kreatif dan diharapkan hasilnya nanti bisa memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan dan pengajaran. 3. Diharapkan ada tulisan sejenis yang berbicara tentang profesionalisme guru dalam dunia pendidikan. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2007. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara. Kasali, Rhenald. 2013. Change. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. _____________. 2014. Lets Change. Jakarta: Kompas Media Nusantara. Robinson, D.N. Adjai. 1988. Asas-asas Praktik Mengajar. Jakarta: Penerbit Bhatara Sanjaya. W ina. 2008. Strategi Pembelajaran (Berorientasi Standar Proses Pendidikan). Jakarta: Kencana.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 301 PERKEMBANGAN ANAK SELAMA MASA SEKOLAH DASAR Sulasmi1 1Mahasiswa PPS MMP UKSW Salatiga ABSTRAK Tumbuh kembang seorang anak sangatlah penting untuk diketahui oleh seorang guru, dengan tahu perkembangan seorang anak seorang guru diharapkan dapat memberikan pelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didik. Istilah perkembangan merujuk kepada bagaimana seseorang tumbuh meyesuaikan diri, dan berubah sepanjang perjalanan hidupnya melalui perkembangan fisik, kepribadian, sosioemosi, kognisi, dan bahasa. Menurut Jean Piaget perkembangan seorang anak bergantung sebagian besar pada manipulasi dan interaksi aktif anak terhadap lingkungan. Bagaimana seseorang anak mengonseptualisasi dunia sangat erat kaitannya dengan perkembangan kognitifnya. Perkembangan oleh Piaget dikelompokkan dalam beberapa tahap perkembangan yaitu tahap sensorimotor, praoprasi, oprasi konkret, dan oprasi formal. Tahapan perkembangan anak selama sekolah dasar terutama pada anak-anak yang memasuki masa kelas satu merupakan salah satu fase penting dalam perkembangan anak. Dalam fase tersebut terjadi transisi dari fase pra sekolah menuju fase sekolah dasar. Perkembangan tersebut dapat diamati melalui perkembangan fisik, kognisi, dan sosioemosi anak tersebut. Kata kunci: perkembangan fisik, perkembangan kognisi, dan sosioemosi PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Perkembangan manusia sepanjang hayat mengalami beberapa periode perkembang menurut para ahli di bagi menjadi beberapa periode perkembangan. Hurlock membagi perkembangan manusia ke dalam lima periode perkembangan yang mencakup: Peroide pranatal (janin dalam kandungan), periode bayi, periode anak (awal dan akhir), periode remaja (awal dan akhir), serta periode dewasa (awal atau dini, madya, lanjut usia). Pada periode pranatal perkembangan itu dalam kandungan ibunya sudah dimulainya perkembangan baik kwalitas maupun perkembangan kuantitas. Seorang ibu yang sedang hamil, sikap dan kepribadiannya berpengaruh pada perkembangan motorik pada bayi yang dikandungnya. Asupan makanan bergizi sangat diperlukan dalam perkembangan si janin agar tumbuh sehat dan sempurna. Bahkan dalam kandunganpun si janin sudah diperkenalkan dengan mendengarkan suara-suara yang indah dengan maksud membentuk perkembangan motorik. Pendidikan dalam rumah tangga sangat besar pengaruhnya dalam perkemban anak. Pola asuh dalam rumah tangga sangat menetukan sikap dan kepribadian dalam berosialisasi terhadap teman-temannya. Sikap keteladanan orang tua sangat dominan bagi putra putrinya. Orang tua adalah orang yang paling dekat dengan anak-anaknya. Tutur kata,bahasa,tingkah laku,serta kebiasaan orang tua akan ditiru oleh anak-anaknya secara tidak sadar. Pepatah mengatakan buah tidak akan jauh dari pohonnya. Suasana rumah tangga yang harmonis, saling menghargai satu dengan yang lain, ada komunikasi yang terjalin, kehidupan agamis tercipta dengan baik, tentram, dan damai, ini berpengaruh membentuk kepribadian anak. Sebaliknya rumah tangga yang broken home, kehidupan yang keras terhadap anggota keluarga, sering bertengkar serta tidak terciptanya pendidikan karakter dengan baik, maka akan berpengaruh pada perkembangan kepribadian anak dalam bersosialisasi terhadap teman sebayanya. Penanaman sikap disiplin dalam beribadah, belajar serta sikap sopan santun, dan tata krama terhadap orang tua menjadi bekal dalam hidup anak sebagai pengalaman yang dapat diterapkan dalam kehidupan sendiri maupun bergaul dengan teman-temannya. Dalam bersosialasi anak tersebut akan diterima oleh teman-temannya, karena teman-temannya akan senang berinteraksi

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 302 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 menemukan teman yang bisa diajak bermain dan bekerjasama. Pada permulaan masa anak akhir ditandai dengan masuknya anak ke sekolah formal di SD kelas satu sebagai siswa baru dengan teman yang sebagian besar baru. Masuk sebagai siswa kelas 1 merupakan peristiwa yang sangat penting dalam kehidupan setiap anak untuk dapat bersosialisasi dengan teman-teman barunya. Hal ini dapat mengakibatkan perubahan dalam sikap dan perilakunya yang bisa menimbulkan anak nyaman dilingkungan baru namun bisa juga anak kurang nyaman terhadap teman barunya. Pada tahap penyesuaian diri ini di sekolah dengan tuntutan dan harapan sosial, kadang anak berada pada keadaan tidak seimbang. Ketrampilan motorik dapat terlaksana dengan baik melalui latihan dan berkembang menjadi kebiasaan. Anak kelas 1 karena belum terbiasa mandiri,maka yang terjadi anak menjadi mengompol, menangis bahkan ada yang tidak bisa menulis. Masa anak sangatlah pas untuk mempelajari ketrampilan motorik. Kesabaran orang tua untuk selalu melatih dan membimbing maka ketrampilan motorik akan dikuasainya. Dengan demikian proses perkembangan anak selama masa sekolah dasar, anak akan mengalami perkembangan fisik, perkembangan kognisi dan perkembangan sosioemosi. Salah satu persyaratan pertama pengajaran yang efektif adalah bahwa guru memahami cara siswa berpikir dan memandang bagaimana dunia mereka, sehingga strategi pengajaran yang efektif harus memperhitungkan usia dan tahap perkembangan siswa. Sehingga sangatlah penting bagi seorang guru untuk memahami perkembangan peserta didiknya. 2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: a. Bagaimanakah perkembangan fisik anak usia sekolah dasar ? b. Bagaimanakah perkembangan koqnisi anak usia sekolah dasar? c. Bagaimanakah perkembangan sosioemosi anak usia sekolah dasar? 3. Kerangka Teori a. Pengertian Perkembangan Suatu perkembangan tidak dapat dilepaskan dari perubahan, perkembangan sendiri merupakan proses perubahan yang progresif. Menurut E.B Hurlock ( Istiwidayanti dan dan Soedjarwo, 1991) mengemukakan bahwa perkembangan merupakan serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Proses perubahan tersebut dapat dilihat secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara kuantitatif proses perkembangan dapat terlihat dari perubahan fisik, berat, dan proporsi badan seseorang. Sedangkan perubahan kualitatif meliputi perubahan aspek psikofisik, seperti peningkatan kemampuan berpikir, berbahasa, perubahan emosi dan sikap. Perubahan progresif yang berlangsung terus menerus sepanjang hayat memungkinkan manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana manusia hidup. Sikap manusia terhadap perubahan berbeda-beda tergantung beberapa faktor, diantaranya pengalaman pribadi, streotipe dan nilai-nilai budaya, perubahan peran, serta penampilan dan perilaku seseorang. Perkembangan manusia meliputi perkembangan fisik, kognisi, pribadi, sosial, dan moral. Banyak dari pakar psikologi percaya bahwa perkembangan banyak dipengaruhi oleh alam dan pengasuhan. Terdapat dua masalah utama yang berkaitan dengan perkembangan, yaitu sejauhmana perkembangan dipengaruhi oleh pengalaman dan yang lain terkait dengan apakah perkembangan berlangsung secara bertahap. Teori perkembangan yaitu teori perkembangan berkelanjutan yang berfokus pada pengalaman sosial yang dilalui oleh seorang anak dan teori

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 303 perkembangan terputus yang menekankan faktor bawaan lahir bukan oleh lingkungan atau dengan kata lain perkembangan dipengaruhi oleh keturunan. b. Teori Perkembangan Kognitif Salah pakar psikologi perkembangan yang berkonsentrasi pada perkembangan kognisi adalah Jean Peaget. Perkembangan kognisi adalah perubahan bertahap dan teratur yang menyebabkan proses mental menjadi semakin rumit dan canggih (Robert E Slavin:2009). Teori perkembangan kognisi Piaget menyatakan bahwa kecerdasan atau kemampuan kognisi anak mengalami kemajuan melalui empat tahap dimana masing-masing tahap dicirikan oleh kemunculan kemampuan dan cara mengolah informasi yang baru. Piaget percaya bahwa semua anak yang dilahirkan mempunyai kecenderungan bawaan untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Anak yang masih mudah memperlihatkan pola perilaku atau pemikiran yang disebut dengan skema. Tahapan perkembangan kognisi anak menurut Piaget dibagi dalam empat tahap dimana setiap anak akan melalui tahapan tersebut walaupun dengan kecepatan yang sedikit berbeda antara satu anak dengan anak yang lain. Tabel 1. Tahapan-tahapan perkembangan kognisi menurut Piaget Tahap Perkiraan Usia Pencapaian Utama Sensorimotor Saat lahir hingga 2 tahun Pembentukan konsep keajekan objek dan kemajuan bertahap dari perilaku refleks ke perilaku yang diarahkan oleh tujuan. Praoprasi 2 hingga 7 tahun Perkembangan kemampuan menggunakan simbol untuk melambangkan objek di dunia. Sifat pemikiran masih terus bersifat egosentris dan terpusat. Oprasi konkret 7 hingga 11 tahun Perbaikan kemampuan berpikir logis. Kemampuan baru meliputi penggunaan pengoprasian yang dapat dibalik. Pemikiran tidak terpusat, dan pemecahan masalah kurang dibatasi oleh egosentrisme. Pemikiran abstrak tidak mungkin Oprasi formal 11 tahun hingga dewasa Pemikiran abstrak dan semata-mata simbolik dimungkinkan. Masalah dapat dipecahkan melalui penggunaan eksperimentasi sistematik. Tahap paling awal dalam tahapan perkembangan menurut Piaget adalah tahap Sensorimotor, pada tahap ini bayi dan akan kecil mulai menjajaki dunia mereka dengan indra dan kemampuan motorik mereka. Pada masa ini setiap bayi mempunyai perilaku bawaan yang disebut dengan gerakan refleks (reflex). Gerak reflek merupakan tanggapan otomatis terhadap rangsangan. Tanda masa sensorimotor lain adalah perkembangan pemahaman tentang keajekan objek (object permanence) atau fakta bahwa suatu objek ada sekalipun tidak terlihat. Tahapan kedua adalah tahap praoperasi dimana pada tahap ini anak-anak belajar melambangkan sesuatu ke dalam pikiran. Selama tahap ini bahasa dan konsep anak berkembang dengan pesat walaupun pemikiran anak tersebut masih primitif. Pada tahap praoprasi anak-anak belum memiliki pemahaman mengenai prinsip konservasi. Prinsip konservasi merupakan konsep bahwa sifat tertentu suatu objek akan tetap sama walaupun terjadi perubahan sifat lain. Misalnya sebuah roti dipotong sebanyak empat lembar akan memiliki berat yang sama walaupun terjadi perubahan jumlah.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 304 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Hal tersebut terjadi karena salah satu karakteristik anak pada usia ini memiliki karakteristik keterpusatan (centration) yaitu memberikan perhatian hanya pada satu aspek objek atau situasi. Karakteristik lain adalah reversibilitas atau kemampuan melakukan pengoprasian pikiran dan kemudian membalik pemikiran seseorang untuk kembali ke titik semula. Tahapan oprasi konkret yang terjadi pada anak usia 7 hingga 11 tahun terjadi ketika anak-anak mengembangkan kemampuan untuk bernalar logis dan memahami konservasi tetapi hanya dapat menggunakan keuda kemampuan ini dalam menghadap situasi yang sudah tidak asing lagi. Perbedaan mendasar antara anak praoprasi dan oprasi konkret adalah bahwa anak-anak pada usia yang lebih muda menanggapi sesuati dengan tampilan yang dipahaminya, sedangkan anak-anak pada usia oprasi konkret menanggapi realitas yang disimpulkannya. Pada tahap ini anak-anak sanggup menanggapi realitas yang disimpulkan atau makna rangsangan berdasar konteks informasi yang relevan. Salah satu tugas penting yang dipelajari anak-anak dalam tahap ini adalah pengurutan (seriation) atau menyusun sesuatu ke deret logis atau sesuai urutan yang berdasar pada satu aspek. Tahapan terkhir pada tahapan perkembangan Piaget adalah tahap oprasi formal pada usia 11 tahun hingga dewasa. Pada tahapan ini sudah muncul kemampuan anak dalam menghadapi situasi potensial atau hipotesis, pemikiran anak juga sudah mulai berkembang menyerupai ciri-ciri khas orang dewasa. c. Perkembangan Pribadi dan Sosial Ketika anak-anak mulai meningkat kemampuan kongnisinya mereka akan mulai mengembangkan konsep diri, cara berinteraksi dengan orang lain, dan sikap terhadap dunia ini. Seperti pada perkembangan kognisi, tahap perkembangan pribadi dan sosial juga dijelaskan melalui tahapan-tahapan yang mencerminkan tahapan-tahapan yang dialami oleh setiap orang. Salah satu ahli yang mengemukakan teori perkembangan pribadi dan sosial adalah Erik Erikson yang dikenal dengan teori psikososial. Teori psikosisial merupakan tahap perkembangan yang dipengaruhi oleh faktor sosial dan kultur. Erik Erikson mengemukakan bahwa dalam tahapan-tahapan kehidupan setiap individu terdapat tugas-tugas perkembangan penting yang perlu diselesaikan dengan baik. Keberhasilan seorang anak dalam menyelesaikan tugas perkembangan dalam suatu tahapan akan menjadi dasar tugas perkembangan selanjutnya. Pada fase ini sangat penting bagi anak yang beranjak dewasa untuk memiliki pandangan bahwa diri sendiri memiliki kemampuan untuk menguasai skill tertentu dan mampu menyelesaikan tugas. Menurut Erikson terdapat delapan tahap kehidupan yang masing-masing dicirikan dengan tugas utama yang harus diatasi.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 305 Tabel 2. tahap-tahap perkembangan pribadi dan sosial menurut Erikson Tahap Perkiraan usia Krisis psikososial Hubungan Penting Penekanan Psikososial I Lahir hingga 18 bulan Kepercayaan vs ketidakpercayaan Orang yang bergantung pada ibu Memperoleh Memberi sebagai balasan II 18 bulan hingga 3 tahun Otonomi vs keraguan Orang yang bergantung pada orang tua Mempertahankan Melepaskan III 3 hingga 6 tahun Inisiatif vs rasa bersalah Keluarga dasar Membuat Menyerupai IV 6 hingga 12 tahun Kemegahan vs inferioritas Tetangga, sekolah Membuat susuatu Menyatukan sesuatu bersama-sama V 12 hingga 18 tahun Identitas vs kebingungan peran Kelompok sebaya dan panutan kepemimpinan Menjadi diri sendiri Berbagai menjadi diri sendiri VI Dewasa Awal Keintiman vs keterasingan Mintra dalam persahabatan, seks, persaingan, kerja sama Kehilangan dan menemukan diri sendiri dalam diri orang lain VII Dewasa Pertengahan Daya regenerasi vs kesibukan diri Pembagian tenaga kerja dan rumah tangga bersama Memberi perhatian VIII Dewasa Akhir Integritas vs keputusan “umat manusia”, “kaum saya”=Menjadi seseorang,=melalui keterlibatan==Menghadapi= tidak menjadi seseorang==Pada= tahap ini aspekJaspek penting yang= dipelajari= anak= dari= proses=sosialisasi adalah :=- Belajar mematuhi aturan-aturan kelompok - Belajar setia kawan - Belajar tidak bergantung apda orang dewasa - Belajar bekerja sama - Mempelajari perilaku yang dapat diterima oleh lingkungannya - Belajar menerima tanggung jawab - Belajar bersaing dengan orang lain secara sehat atau bersikap sportif - Membelajari olah raga dan permainan kelompok - Belajar keadilan dan demokrasi METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dan studi literasi yang ada. HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Anak Selama Sekolah Dasar Permulaan awal masa anak akhir ditandai dengan masuknya anak tersebut ke sekolah dasar. Masa dimana seorang anak masuk kelas 1 sekolah dasar merupakan peristiwa penting bagi kehidupan setiap anak, karena pada masa tersebut terjadi perubahan dalam sikap dan perilaku. Rentang usia pada masa perkembangan ini adalah dari umur 6 sampai 12 tahun. Perkembangan pada masa anak usia sekolah dasar meliputi perkembangan berbagai aspek baik fisik maupun psikis.

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 306 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 Perkembangan fisik anak pada usia sekolah dasar meliputi pertumbuhan tinggi dan berat badan walaupun pada perkembangannya mengalami perlambatan dibandingkan dengan masa anak-anak awal. Anak-anak pada usia tersebut hanya mengalami pertumbuhan yang sedikit semasa sekolah dasar. Pertumbuhan dan perkembangan fisik pada usia tersebut akan mempengaruhi cara anak tersebut memandang dirinya sendiri dan orang lain, yang dapat memberikan dampak bagaimana anak tersebut menyesuaian dirinya dengan orang lain. Pertumbuhan fisik anak pada usia sekolah dasar menurut Dra Hj Ida Zusnani dapat dijelaskan sebagai berikut: - Pertumbuhan tinggi Pertumbuhan tinggi badan setiap anak pada usia sekolah dasar berbeda pada setiap anaknya, namun memiliki pola yang sama.  Anak usia 5 tahun Tinggi tubuh pada usia anak 5 tahun mempunyai ciri-ciri tinggi tubuh 2x dari tinggi/ panjang tubuh saat lahir, setelah itu melambat 7 cm setiap tahun.  Anak usia 12 atau 13 tahun Pada usia 12 atau 13 tahun tinggi anak rata-rata 150 cm dan akan bertambah sampai usia 18 tahun ketika mengakhiri usia remaja  Pada akhir usia SD dan anak masuk pada masa puber Pertumbuhan anak laki-laki lebih lambat daripada anak perempuan, namun setelah itu pertumbuhan laki-laki lebih cepat. - Pertumbuhan berat tubuh  Anak usia 5 tahun akan memiliki berat 5x dari berat setelah dilahirkan  Anak usia 10-12 tahun dalam permulaan masa remaja maka anak tersebut akan mengalami periode lemak, pematangan kelamin yang berasal dari hormone, nafsu makan anak yang semakin besar, pertumbuhan tubuh yang cepat, penumpukan lemak pada perut pinggang, pangkal paha, dada, sekitar rahang, leher dan pipi. Terdapat 3 kemungkinan bentuk primer yang dialami oleh anak pada usia sekolah dasar yaitu :  Bentuk tubuh endomorph yang tampak dari luar berbentuk gemuk dan berbadan besar  Bentuk tubuh mesomorf dengan bentuk tubuh kelihatannya kokoh, kuat, dan lebih kekar.  Bentuk tubuh ektomorf yaitu bentuk badan tampak jangkung, dada pipih, lemah dan seperti tidak berotot. Rata-rata pertumbuhan tinggi maupun berat seorang anak pada usia sekolah dasar anak berbeda satu antara yang lain hal tersebut disebabkan oleh jadwal pertumbuhan fisik setiap anak tidak sama, ada anak yang mempunyai waktu perkembangan fisik yang cepat adapula anak yang memerlukan waktu yang cukup lama untuk berkembang secara fisik. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan fisik seorang anak antara lain faktor pengaruh keluarga, lingkungan, jenis kelamin, gizi dan kesehatan, status sosial dan ekonomi, dan gangguan emosional. Perkembangan kognisi anak pada usia 5 hingga 7 tahun adalah dimana proses pemikiran anak-anak mengalami perubahan penting. Pada periode ini terjadi peralihan dari tahap pemikiran praoprasi ke tahap oprasi konkret. Perubahan ini membuat anak-anak pada usia sekolah dasar melakukan sesuatu secara mental yang hal tesebut sebelumnya dilakukan secara fisik. Selain memasuki tahap perkembangan oprasi konkret, anak-anak pada usia ini sudah dapat mengembangkan

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 307 kemampuan daya ingat dan kognisi secara pesat. Sebagai mahkluk sosial, seorang anak pada usia sekolah dasar membutuhkan orang lain untuk dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang utuh. Dalam perkembangannya, pendapat dan sikap peserta didik dapat berubah karena interaksi dan saling mempengaruhi antarsesama anak maupun dengan orang dewasa lain. Anak pada usia sekolah dasar telah mengembangkan kemampuan pemikiran, tindakan, dan pengaruh sosial yang lebih rumit. Tahap ini meliputi pertumbuhan tindakan mandiri, kerja sama dengan kelompok dan tampil dengan cara yang dapat diterima secara sosial dengan perhatian pada tindakan yang adil (McHale, Dariotis & Kauh, 2003). Perkembangan pribadi dan sosial yang penting bagi anak-anak sekolah dasar adalah konsep diri dan harga diri. Konsep diri merupakan persepsi seseorang tentang kekuatan, kelemahan, kemampuan, sikap, dan nilainya sendiri. Sedangkan harga diri merupakan nilai yang diberikan masing-masing orang pada karakteristik, kemampuan, dan perilaku kita sendiri. Kedua aspek perkembangan anak pada usia sekolah dasar ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman dalam keluarga, sekolah, dan dengan teman sebaya. Ketika usia anak-anak bertambah mereka akan cenderung menggunakan perbandingan sosial untuk mengevaluasi dan menilai kemampuan mereka sendiri. Perbandingan sosial merupakan proses membandingkan diri sendiri dengan orang lain untuk mengumpulkan informasi dan untuk mengevaluasi dan menilai kemampuan, sikap, dan perilaku seseorang. Hal yang utama tentang perkembangan pribadi dan sosial pada masa usia sekolah dasar adalah penerimaan atau status dalam kelompok sebaya. Pada masa ini anak-anak populer merupakan orang yang sering disebut dengan teman sebaya dan merupakan orang yang disukai, sedangkan anak-anak yang diabaikan merupakan orang yang sering tidak disukai atau dibenci. Anak yang tidak diterima dengan baik atau diabaikan oleh lingkungan pertemanan mempunyai resiko yang tinggi. Anak-anak yang tidak diterima ini kecenderungan lebih besar untuk putus sekolah, berperilaku nakal, dan mempunyai masalah emosi dan psikologis pada masa remaja dan dewasa daripada teman sebayanya. SIMPULAN DAN SARAN Suatu perkembangan tidak dapat dilepaskan dari perubahan, perkembangan sendiri merupakan proses perubahan yang progresif. Menurut E.B Hurlock ( Istiwidayanti dan dan Soedjarwo, 1991) mengemukakan bahwa perkembangan merupakan serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Permulaan awal masa anak akhir ditandai dengan masuknya anak tersebut ke sekolah dasar. Masa dimana seorang anak masuk kelas 1 sekolah dasar merupakan peristiwa penting bagi kehidupan setiap anak, karena pada masa tersebut terjadi perubahan dalam sikap dan perilaku. Perkembangan pada masa anak usia sekolah dasar meliputi perkembangan berbagai aspek baik fisik maupun psikis. Tumbuh kembang seorang anak sangatlah penting untuk diketahui oleh seorang guru, dengan tahu perkembangan seorang anak seorang guru diharapkan dapat memberikan pelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didik DAFTAR PUSTAKA Slavin, Robert E., Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik. PT Indeks, Jakarta Barat : 2011 Zusnani, Dra. Hj Ida, Pendidikan Kepribadian Siswa SD-SMP, PT Suka Buku, Jakarta Selatan : 2013 Ormrod, James Ellis, Psikologi Pendidikan Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang, Erlangga, Jakarta : 2008 Upton, Penny, Psikologi Perkembangan, Erlangga, Jakarta : 2012 Suhartin, Drs. R.I, Mengatasi kesulitan kesulitan dalam pendidikan anak,

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 308 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 PT BPK Gunung Mulia, Jakarta : 2004

PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN “Pengembangan Profesi Guru dan Dosen Melalui Penulisan Jurnal Ilmiah Pendidikan” Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Jawa Tengah Surakarta, 15 November 2014 ISBN: 978-602-19840-1-7 SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN ISPI JAWA TENGAH 2014 309 MEMBANGUN BUDAYA ILMIAH GURU MELALUI PENELITIAN DAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH Bambang Ismanto1 1Dosen Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga ABSTRAK Makalah ini mengkaji tentang upaya mambangun budaya ilmiah guru melalui penelitian dan publikasi karya ilmiah. Guru sebagai agen pembelajaran memiliki kepentingan untuk melakukan penelitian dan publikasi karya ilmiah dari berbagai fenomena di kelas dan manajemen sekolah. Penelitian dan publikasi karya ilmiah akan mengembangkan pola pikir yang kritis, kreatif, inovatif dan sistematik dalam mengkaji persoalan, merumuskan altrnatif, menetapkan keputusan hingga mempublikasikannya pada forum dan atau media (jurnal ilmiah). Persoalan kemampuan metodologi, rasa percaya diri, jaringan komunikasi dan pengalaman menjadi hambatan dan kendala para guru di Indonesia. Tugas dan panggilan profesi guru mengabdi pada peningkatan mutu pendidikan dan pengembangan karir berkelanjutan menjadi pendorong (driven) dalam melakukan kajian dan publikasi yang dilakukan sederhana hingga berkembang menjadi kompleks. Budaya ilmiah akan terbangun dengan penelitian dan publikasi karya ilmiah yang rutin dan berkelanjutan Kata kunci: Budaya, Penelitian dan Publikasi, Guru, Agen Pembelajaran PENDAHULUAN Memasuki abad XXI, kita diperhadapkan adanya perubahan secara fundamental dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Runtuhnya batasan geografis akibat agenda globalisasi dan aplikasi teknologi informasi telah mengubah dunia ini menjadi sebagaimana layaknya hunian luas dimana antar penghuninya dapat dengan mudah saling berinteraksi, berkomunikasi, dan bertransaksi kapan saja serta dari dan di manapun mereka berada. Menurut BSNP (2010:41), bersamaan dengan pembaharuan hidup berkebangsaan dengan ekonomi dan sosial sadar pengetahuan kita membangun manusia berdaya cipta, mandiri dan kritis tanpa meninggalkan wawasan tanggungjawab membela sesama untuk diajak maju menikmati kemampuan yan