Informasi Kefarmasian Dan Alat Kesehatan



Keterangan eBook
CreationDate D:20100723170111
ModDate D:20100723170111
Producer Corel PDF Engine Version 1.0.0.458
Creator CorelDRAW Version 12.0
Title Backup_of_Infarkes I Jan-Feb 2010
Pages 12 Page
Ukuran File 5,200 KB
Dibuka 22 Kali
Topik Contoh Proposal
Tanggal Unggah Monday, 21 Nov 2016 - 05:12 PM
Link Unduh
Baca Halaman Penuh BUKA
Rating eBook
Bagi ke Yang Lain

Kesimpulan

DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATANEdisi I - Februari 2010DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN R. I.Kementerian Kesehatan RI - Jln. Rasuna Said Kav. 4-9 Subbag Humas Lt. 8 R. 803 Telp.: 0215214869 / 5201590 #8176Informasi Kefarmasian dan Alat KesehatanlPencanangan Saintifikasi Jamu lRefleksi 2009, Rencana 2010 Kementerian KesehatanlRevitalisasi Obat Generik Di Sarana Pelayanan Kesehatan lPelantikan Pejabat di Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat KesehatanlFasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah Wajib Menggunakan Obat Generik lBack To Nature: Rahasia di Balik Buah NagaLiputanArtikel

SUSUNAN REDAKTUR SUSUNAN REDAKTURPengantarPENASIHATDirektur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan PENANGGUNG JAWABSekretaris Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan KETUA REDAKSIKepala Bagian Hukum, Organisasi, Dan Hubungan Masyarakat SEKRETARIS REDAKSIKepala Subbagian Hubungan Masyarakat ANGGOTA REDAKSI:Drs. Riza Sultoni, Apt., M.M.Drs. Rahbudi HelmiDrs. Syafrizal, Apt.Drs. Haryono, M.M.Sri Bintang Lestari, S.Si., M.Si., Apt.Dr. Ali SudjokoDra. Lili Sa diah, Apt.Tita Mintarsih, S.Si., Apt.Yulia Yuliarti Barkah, S.H.Febri Sri Lestari, S.Sos.Radiman Amd. Ak.SATUKAN HATI DAN PEMIKIRAN DALAM MENGEMBAN AMANAHLiputan lPenandatanganan Pakta Integritas di Lingkungan Kementerian Kesehatan - 03lPencanangan Saintifikasi Jamu - 04lRefleksi 2009, Rencana 2010 Kementerian Kesehatan - 05lRevitalisasi Obat Generik di Sarana Pelayanan Kesehatan - 06lPelantikan Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan - 08lPelantikan Eselon II di Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan - 08 ALAMAT REDAKSI:Kementerian Kesehatan RIJln. Rasuna Said Kav. 4-9 Subbagian Humas Lt. 8 R. 803 Telp.: 0215214869 / 5201590 #8176Informasi kefarmasian dan alat kesehatan Informasi kefarmasian dan alat kesehatanHal. 02 Buletin INFARKES Edisi I - Februari 2010 lPengantar PengantarDARI REDAKSI DARI REDAKSIlPelantikan Eselon III & IV di Lingkungan Direktorat JenderalBina Kefarmasian dan Alat Kesehatan - 09lSilaturahmi Keluarga Besar Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan - 09lWawancara RCTI tentang Obat Generik - 10lFasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah Wajib Menggunakan Obat Generik - 07lRasionalisasi Harga Obat Generik - 10lBack To Nature: Rahasia di Balik Buah Naga - 11 Artikel DAFTAR ISIDrs. H. Purwadi, Apt,M.M.,M.E.(Sesditjen Binfar & Alkes)Adalah tema yang digadangkan dalam acara SILATURAHMI KELUARGA BESAR DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN pada Senin, 8 Februari 2010. Alhamdulillah Ibu Dra. Sri Indrawaty, Apt.,M.Kes., Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, dan keempat pendahulunya, yaitu Bapak Drs. Holid Djahari, Apt., M.M., Bapak Drs. H.H. Krissna Tirtawidjaya, Apt., Bapak Drs. Richard Panjaitan, Apt., SKM., dan Ibu Dra. Kustantinah, Apt., M.App.Sc. hadir di tengah-tengah keluarga besar. Momen ini terjadi karena getaran hati yang saling menguatkan, kemudian mewujud menjadi tekad untuk hadir, berbagi cerita dan pengalaman.Tahun 2010 diawali kesan manis, memberi harapan melimpah agar segala ikhtiar dan kerja keras yang sedang dan akan dilaksanakan, nantinya memberikan hasil kinerja terbaik.Karya pertama adalah Permenkes Nomor HK.02.02/Menkes/068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah, diikuti dengan Kepmenkes Nomor HK.03.01/Menkes/159/I/2010 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penggunaan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah, memberi bukti bahwa jajaran Kementerian Kesehatan pro rakyat, inklusif, dan responsif.Karya kedua adalah Kepmenkes Nomor HK.03.01/Menkes/146/I/2010 tentang Harga Obat Generik, dengan harapan akses obat bagi masyarakat bukan merupakan hal yang mewah.Kita telah memulai tahun 2010 dengan satu hati dan pikiran serta terus bertekad untuk maju ke depan menggapai visi Kementerian Kesehatan yaitu Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan . Mari kita buktikan, segera hadirkan karya ketiga, keempat, dan karya seterusnya yang pro rakyat, inklusif dan responsif, efektif dan bersih.Wassalam

Informasi kefarmasian dan alat kesehatan Informasi kefarmasian dan alat kesehatanBuletin INFARKES Edisi I - Februari 2010 Hal. 03 lPenandatanganan Pakta Integritas merupakan komitmen aparatur negara untuk pro aktif mewujudkan dan melaksanakan Tata Pemerintahan yang Baik (Good Governance), Pemerin-tahan yang Bersih (Clean Governance) dan berwibawa, serta untuk mencipta-kan wilayah bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).Hal tersebut diungkapkan Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH., DR.PH. dalam sambutannya pada acara Penanda-tanganan Pakta Integritas oleh Eselon I dan II di Lingkungan Kementerian Kesehatan, pada Hari Senin, 2 Januari 2010, di Gedung Baru, Lantai 2, Kementerian Kesehatan, Jln. Rasuna Said, Jakarta.Menurut Menkes, Pakta Integritas adalah pernyataan janji tentang komitmen untuk melaksanakan segala tugas dan tanggung jawab sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Penandatanganan Pakta Integritas adalah penerapan sistem ekstra yudi-sial (di luar hukum) untuk mencegah terjadinya korupsi di jajaran birokrasi, khususnya korupsi administrasi, korupsi pengadaan barang/ jasa publik, dan korupsi dalam pelayanan publik.Penerapan mekanisme Pakta Integritas secara konsisten disertai pemberian reward and punishment yang konsekuen merupakan modal awal yang baik untuk mewujudkan Wilayah Bebas Korupsi (WBK). Hal ini sesuai dengan Inpres No. 5 Tahun 2004 Tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, Diktum 5, yaitu menetapkan Program dan Wilayah yang menjadi lingkup tugas, wewenang, dan tanggung jawab sebagai program dan WBK.Penandatanganan Pakta Integritas di Lingkungan Kementerian KesehatanDalam Pakta Integritas tercantum janji pejabat untuk mencurahkan tenaga dan pikiran demi kemajuan bangsa dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi, bersikap jujur, ber-tanggung jawab, dan tidak akan me-lakukan kegiatan yang menyimpang dari aturan yang berlaku termasuk KKN. Selain itu, para pejabat juga berjanji untuk menjalankan tugas secara bersih, transparan, dan pro-fesional. Jika terjadi pelanggaran, pejabat yang bersangkutan bersedia dikenakan sanksi moral, sanksi administrasi, serta dituntut ganti rugi dan pidana sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.Komitmen mewujudkan peme-rintahan yang bersih menjadi acuan dalam melaksanakan program 100 hari, program 5 tahun (2009-2014) dan seluruh program kerja di Kementerian Kesehatan. Reformasi birokrasi bertujuan memperbaiki sistem dengan membangun sistem yang ada menjadi sistem yang mampu mencegah korupsi.

Informasi kefarmasian dan alat kesehatan Informasi kefarmasian dan alat kesehatanInformasi kefarmasian dan alat kesehatan Informasi kefarmasian dan alat kesehatanJamu telah mengalami perkem-bangan yang signifikan, terbukti dengan diadakannya Pencanangan Saintifikasi Jamu pada hari Rabu, 6 Januari 2010, di Klinik Jamu, Kendal, Jawa Timur, oleh Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH.,DR.PH. Acara ini dihadiri pula oleh pejabat Eselon I dan II, termasuk Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Dra. Kustantinah, Apt.,M.App.Sc., Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Dra. Meinarwati, Apt., M.Kes., dan Direktur Bina Penggunaan Obat Rasional, Dra. Nasirah Bahaudin, Apt.,M.M.Di tempat ini, Menkes mengadakan peninjauan klinik jamu, melihat simulasi, dan menyimak penjelasan tentang klinik jamu. Setelah itu, Menkes membuka secara resmi seminar Implementasi Saintifikasi Jamu dalam Pelayanan Kesehatan .Pencanangan Saintifikasi Jamu dimaksudkan agar jamu dapat PENCANANGAN SAINTIFIKASI JAMUHal. 04 Buletin INFARKES Edisi I - Februari 2010 lmenjadi tuan rumah di negeri sendiri dan terciptanya infrastruktur pene-litian di bidang jamu. Saintifikasi jamu adalah upaya dan proses pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan. Tujuan dari saintifikasi jamu adalah memberi-kan landasan ilmiah (evidence based) penggunaan jamu secara empiris melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan karena para dokter dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) telah kuat keinginannya bersama ilmuwan/ akademisi mengangkat jamu sebagai icon Sehat, Bersama Rakyat . Pencanangan saintifikasi jamu juga mendorong terbentuknya jejaring dokter atau dokter gigi dan tenaga kesehatan lainnya sebagai peneliti dalam rangka upaya preventif, pro-motif, dan paliatif melalui penggunaan jamu; untuk meningkatkan kegiatan penelitian kualitatif terhadap pasien dengan penggunaan jamu; untuk meningkatkan penyediaan jamu yang aman, memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah, dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri maupun dalam fasilitas pelayanan kesehatan. Program sainti-fikasi jamu ini, mengharapkan adanya sinergis antara akademik, bisnis, dan pemerintah agar peran obat asli Indonesia (jamu) dapat meningkatkan pembangunan kesehatan dan upaya pemanfaatan jamu serta memberi kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk Indonesia.Dalam sambutan pembukaan seminar, Menkes menuturkan bahwa kedatangannya ke Kabupaten Kendal sebagai wujud keinginan kuat pemerintah untuk bersama-sama bergandengan tangan dengan Pemerintah Kabupaten Kendal dan Provinsi Jawa Tengah, akademisi/ profesi, peneliti dan pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Pengusa-ha Jamu serta seluruh rakyat Jawa Tengah untuk memajukan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya. Hal ini sekaligus untuk bersinergi menuju terwujudnya masyarakat mandiri untuk hidup sehat secara berkeadilan yang merupakan visi Kementerian Kesehatan. Tradisi kerja sama dan sinergi dengan pelbagai pemangku kepentingan ini sesuai dengan tagline/ moto Pemerintahan Indonesia saat ini, yakni: Pro-Rakyat, Inklusif, Responsif (tanggap sesuai wilayah dan masalah), Efektif, dan Bersih.

Informasi kefarmasian dan alat kesehatan Informasi kefarmasian dan alat kesehatanBuletin INFARKES Edisi I - Februari 2010 Hal. 05 lJumpa pers awal tahun bersama Ibu Menteri Kesehatan dengan tema Refleksi 2009, Rencana 2010  diadakan pada hari Jumat, 8 Januari 2010, di Ruang J. Leimena, Gedung Kementerian Kesehatan, Blok C, Lantai 2, Jln. Rasuna Said, Jakarta.Peserta jumpa pers terdiri dari Kasubbag Humas di lingkungan Kementerian Kesehatan, Kasubbag Humas di lingkungan Rumah Sakit yang berada di bawah Kementerian Kesehatan, Organisasi Profesi: IDI, PDGI, ISFI, IAKMI, PERSAGI, PPNI, IBI, dan wartawan dari berbagai media.Dalam jumpa pers, Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH., DR.PH. memapar-kan 3 poin utama, yaitu: (1) Adanya Perpres No. 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kemen-terian Negara, Departemen Kesehatan namanya berubah menjadi Kemen-terian Kesehatan; (2) Kemajuan yang telah dicapai dalam pembangunan kesehatan selama lima tahun terakhir dari 2004-2009; (3) Rencana pembangunan kesehatan pada tahun 2010-2014.Pembangunan kesehatan menun-jukkan kemajuan yang ditandai mem-baiknya indikator utama kesehatan yaitu meningkatnya umur harapan hidup, keberlangsungan Program REFLEKSI 2009, RENCANA 2010KEMENTERIAN KESEHATANJamkesmas, dan keberhasilan penanganan penyakit menular.Walaupun telah dicapai kemajuan, pada lima tahun mendatang masih dijumpai berbagai masalah, contoh-nya masalah multi burden penyakit, yaitu belum sepenuhnya dapat mengatasi penyakit infeksi tetapi sudah dihadapkan dengan penyakit degeneratif serta masalah gizi lebih, dan lain-lain.Pembangunan kesehatan pada tahun 2010-2014 diprioritaskan pada peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan yang dilakukan melalui peningkatan kesehatan ibu, bayi, dan balita; perbaikan status gizi masyarakat; pengendalian penyakit menular serta tidak menular diikuti penyehatan lingkungan; pemenuhan, pengembangan, dan pemberdayaan SDM kesehatan; peningkatan ketersediaan, keterjangkauan, pemerataan, keamanan, mutu, dan penggunaan obat serta pengawasan obat dan makanan; pengembangan sistem Jaminan Kesehatan Masya-rakat; pemberdayaan masyarakat dan penanggulangan bencana dan krisis kesehatan; peningkatan pelayanan kesehatan primer, sekunder, dan tersier.Berkaitan dengan bidang kerja Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Peningkatan kesehatan masyarakat untuk mempercepat pencapaian target MDGs meliputi penetapan pembatasan Harga Obat Eceran Tertinggi (HET) Obat Generik Berlogo (OGB), sampai saat ini telah dilakukan evaluasi/ kajian terhadap SK Menkes No. 307/2008 dan SK Menkes No. 696/2007 tanggal 7 Januari 2010. Selain itu, adanya revitalisasi Permenkes tentang kewajiban menuliskan resep dan menggunakan obat generik di sarana pelayanan kesehatan pemerintah hingga saat ini juga telah melakukan soft launching pencanangan penggunaan obat generik melalui media elektronik dan pengiriman media promosi ke RS se-Jabodetabek. Sementara itu, untuk SK Menkes tentang kewajiban menulis-kan resep dan penggunaan obat generik saat ini sedang dalam proses.

Informasi kefarmasian dan alat kesehatan Informasi kefarmasian dan alat kesehatanPada Selasa, 12 Januari 2010, diadakan seminar dengan tema Revitalisasi Penggunaan Obat Generik di Pelayanan Kesehatan dalam Rangka Meningkatkan Akses dan Keterjang-kauan Masyarakat di Bidang Obat . Tujuan seminar ini adalah mendorong peningkatan penggunaan obat generik dalam pelayanan kesehatan.Seminar yang diadakan di Hotel Bidakara ini dihadiri oleh Eselon I dan II di lingkungan Kementerian Kesehatan, Perwakilan Rumah Sakit se-Jabode-tabek, Dinas Kesehatan se-Jabode-tabek, Perwakilan Puskesmas se-Jabodetabek, Dekan Fakultas Farmasi, Kedokteran, dan Kedokteran Gigi Perguruan Tinggi se-Jabodetabek, Organisasi Profesi (IDI, PDGI, ISFI, ARSADA, PERSI, dan IRSJAM), Gabungan Pengusahan Farmasi (GP Farmasi).Pembukaan Seminar Revitalisasi Penggunaan Obat Generik diawali oleh Laporan Ketua Panitia Penyelenggara, Direktur Jenderal Bina Kefarmasian REVITALISASI OBAT GENERIKDI SARANA PELAYANAN KESEHATANHal. 06 Buletin INFARKES Edisi I - Februari 2010 ldan Alat Kesehatan, Dra. Kustantinah, Apt.,M.App.Sc.Seminar secara resmi dibuka oleh Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH.,DR.PH. Menurut Menkes, obat merupakan unsur penting dalam penyeleng-garaan upaya kesehatan. Sebagian intervensi medik menggunakan obat. Oleh karena itu, akses masyarakat terhadap obat harus diperluas mencakup ketersediaan jenis maupun jumlahnya. Selain itu, perlu diperhati-kan pula jaminan terhadap keamanan, khasiat, dan mutu obat serta penye-baran yang merata dan terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia. Untuk menggalakkan kembali penggu-naan obat generik di sarana pelayanan kesehatan utamanya milik peme-rintah, dilakukan langkah-langkah strategis sebagai berikut.a.Peningkatan efisiensi penggunaan obat melalui penggunaan obat yang rasional dan harga terjangkau, harus dilaksanakan dengan didasar-kan pada risk-benefit ratio dan cost benefit ratio. Diharapkan organisasi profesi kefarmasian, IDI dan PDGI berperan besar agar para dokter meresepkan obat generik.b.Peningkatan promosi penggunaan obat yang rasional utamanya obat esensial generik, untuk menyeim-bangkan promosi/ iklan obat yang berlebihan dengan pendekatan edukatif bagi masyarakat dan profesi kesehatan, dan ketentuan yang jelas tentang etika promosi obat yang lebih etis dan objektif serta implementasi dari code of conduct.c.Untuk menjamin kesinambungan suplai obat dilakukan dengan meningkatkan daya saing industri farmasi nasional dan infrastruktur jaringan distribusi dan jika diperlu-kan diberikan insentif ekonomi yang wajar, tanpa mengabaikan jaminan terhadap khasiat, keamanan, dan mutu.d.Sinergisme seluruh stakeholder terkait yakni pemerintah, lintas sektor, swasta, profesi, dan masyarakat itu sendiri dalam upaya untuk meningkatkan ketersediaan dan keterjangkauan obat.e.Mempererat program jangka pan-jang, melalui skim Managed Care atau Sistem Jaminan Sosial Nasional yang melibatkan provider (dokter, rumah sakit, dan pasien) dan thirt-party payer (managed care organitation/ MCO) yang men-jembatani antara provider dan pasien, dengan menyediakan jenis pelayanan sesuai kebutuhan melalui pembatasan utilisasi yang berlebihan dan pengendalian biaya yang dikeluarkan.Acara berlanjut dengan seminar yang diisi oleh beberapa narasumber: Prof. DR. Iwan Dwiprahasto, M.MedSc. PhD, menyajikan Materi berjudul, Dapatkah Obat Generik Menjadi Tuan Rumah di Pelayanan Kese-hatan? ; Prof. Dr. Arini Setiawati, PhD dengan materi Khasiat dan Mutu Obat Generik vs Obat Inovator ; Prof. Dr. Ascobat Gani dengan materi Cost Effectiveness Analysis Penggunaan Obat Generik ; Slamet Budiarto ,Dr, SH ,MH.Kes (Sekjen PB IDI) dengan materi Peranan IDI dalam Peresepan Obat Generik ; Ida Marlinda (YLKI) dengan materi Pandangan Masya-rakat terhadap Obat Generik ; Ir. Ferry Soetikno (GP Farmasi bidang Industri) dengan materi Peluang Usaha Obat Generik dan Tantangannya .

Informasi kefarmasian dan alat kesehatan Informasi kefarmasian dan alat kesehatanBuletin INFARKES Edisi I - Februari 2010 Hal. 07 lFasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah Wajib Menggunakan Obat GenerikFasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah wajib menggunakan obat generik. Untuk kebutuhan Puskesmas dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) lainnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi dan Dinkes Kabupaten/ Kota wajib menyediakan obat esensial dengan nama generik sesuai kebutuhan. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/MENKES/068/I/2010 tanggal 14 Januari 2010. Hal itu merupakan implementasi program 100 Hari Kementerian Kesehatan. Dalam 100 Hari terdapat 4 program di antaranya peningkatan kesehatan masyarakat untuk mempercepat pencapaian target MDGs (Millenium Development Goals). Salah satu rencana aksinya adalah Revitalisasi Permenkes tentang Kewajiban Menuliskan Resep dan Menggunakan Obat Generik di Sarana Pelayanan Kesehatan Pemerintah.Dalam Permenkes disebutkan, dokter (yang mencakup dokter, dokter gigi, dokter spesialis, dan dokter gigi spesialis) yang bertugas di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah wajib menulis resep obat generik bagi semua pasien sesuai indikasi medis. Dokter dapat menulis resep untuk diambil di apotek atau di luar fasilitas pelayanan kesehatan jika obat generik tidak tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan.Dokter di RS atau Puskesmas dan UPT lainnya dapat menyetujui pergantian resep obat generik dengan obat generik bermerek/ bermerek dagang jika obat generik tersebut belum tersedia. Apoteker dapat mengganti obat merek dagang/obat paten dengan obat generik yang sama komponen aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan dokter dan/ atau pasien.Instalasi farmasi rumah sakit wajib mengelola obat di rumah sakit secara berdaya guna dan berhasil guna. Juga wajib membuat prosedur perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pendistri-busian dan pemantauan obat yang digunakan fasilitas pelayanan kesehatan.Dinkes Provinsi/ Kabupaten/ Kota wajib membuat perencanaan, penga-daan, penyimpanan, penyediaan, pengelolaan dan pendistribusian obat kepada Puskesmas dan pelayanan kesehatan lain.Untuk pembinaan dan pengawasan, Pemerintah, Pemerintah Provinsi/ Kabupaten/ Kota dapat memberi peringatan lisan atau tertulis kepada dokter, tenaga kefarmasian dan pim-pinan fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah yang melakukan pelang-garan terhadap ketentuan dalam Peraturan Menteri ini.Peringatan lisan atau tertulis diberikan paling banyak tiga kali dan apabila peringatan tidak dipatuhi, Pemerintah dan Pemerintah Provinsi/ Kabupaten/ Kota dapat menjatuhkan sanksi administratif kepegawaian kepada yang bersangkutan.Dalam Permenkes yang disebut obat generik adalah obat dengan nama resmi International Non Propietary Names (INN) yang ditetap-kan dalam Farmakope Indonesia atau buku standar lainnya untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. Obat generik bermerek/ bernama dagang adalah obat generik dengan nama dagang yang menggunakan nama milik produsen obat yang bersang-kutan. Sementara itu, Obat Esensial adalah obat terpilih yang paling dibutuhkan untuk pelayanan kese-hatan bagi masyarakat mencakup upaya diagnosis, profilaksis, terapi dan tercantum dalam Daftar Obat Esensial yang ditetapkan oleh men-teri.Selain itu, pada tanggal 28 Januari 2010, ditetapkan pula Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Peng-gunaan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.03.01/MENKES/159/I/2010.(Sumber:Puskom)

Informasi kefarmasian dan alat kesehatan Informasi kefarmasian dan alat kesehatanPelantikan Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat KesehatanHari Selasa, 12 Januari 2010, Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH., DR.PH. melantik lima Pejabat Eselon I, Kepala Badan POM, dan dua pejabat Eselon II.Salah satu Pejabat Eselon I yang dilantik adalah Dra. Sri Indrawaty, Apt., M.Kes. sebagai Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Standardisasi Obat Tradisional, Kosmetik, dan Produk Komplemen Badan POM.Sementara itu, Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan sebelumnya, Dra. Kustantinah, Apt., M.App.Sc. dilantik sebagai Kepala Badan POM menggantikan dr. Husniah Rubiana Thamrin Akib, M.S., M.Kes., Sp.FK.Hal. 08 Buletin INFARKES Edisi I - Februari 2010 lInformasi kefarmasian dan alat kesehatan Informasi kefarmasian dan alat kesehatanPelantikan Eselon II di LingkunganDirektorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat KesehatanHari Senin, 1 Februari 2010, Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH., DR.PH. melantik para pejabat Eselon II di lingkungan Kementerian Kesehatan, di Gedung Baru, Kementerian Kesehatan.Pejabat Eselon II yang dilantik di Direktorat Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan adalah Drs. Purwadi, Apt., M.M.,M.E. sebagai Sekretaris Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, menggantikan Dra. Meinarwati, Apt., M. Kes. yang kini dilantik sebagai Kepala Pusat Pemberdayaan Profesi dan Tenaga Kesehatan Luar Negeri.Selain itu juga, dr. Setiawan Soeparan, MPH. dilantik sebagai Direktur Bina Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan, menggantikan Drs.Purwadi, Apt., M.M.,M.E.Sementara itu, acara Serah Terima Jabatan di kalangan Eselon II yang baru dilantik diadakan pada hari Rabu, 3 Februari 2010 di Ruang 606, Gedung Kementerian Kesehatan, Jln. Rasuna Said, Jakarta.

Buletin INFARKES Edisi I - Februari 2010 Hal. 09 lPelantikan Eselon III dan IVdi LingkunganDirektorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat KesehatanPelantikan Pejabat Eselon III dan IV di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan diadakan pada hari Kamis, 4 Februari 2010.Pejabat yang dilantik adalah Dra. Resworini, Apt. sebagai Kasubdit Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga, Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan; Drs. Syafrizal, Apt. sebagai Kabag Keuangan, Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan; Nur Hidayat, S.Si.,Apt. sebagai Kasi Non Pestisida Subdit Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga, Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan.Setelah pelantikan, diadakan pula Penandatanganan Pakta Integritas oleh para pejabat di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.Silaturahmi Keluarga BesarDirektorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat KesehatanSilaturahmi antarpegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan diadakan pada hari Senin, 8 Februari 2010 di Ruang Pertemuan PT Rajawali Nusindo. Satukan Hati dan Pemikiran dalam Mengemban Amanah  merupakan tema yang diusung pada acara ini sebagai itikad untuk bekerja lebih baik lagi di lingkungan Kementerian Kesehatan, khususnya di Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.Acara ini dihadiri pula oleh keempat Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan sebelumnya,yaitu Bapak Drs. Holid Djahari, Apt., M.M., Bapak Drs. H.H. Krissna Tirtawidjaya, Apt., Bapak Drs. Richard Panjaitan, Apt., SKM., dan Ibu Dra. Kustantinah, Apt., M.App.Sc. Selain silaturahmi, diadakan pula Pisah Sambut Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan antara Dra. Kustantinah, Apt., M.App.Sc. dan Dra. Sri Indrawaty, Apt.,M.Kes.

Informasi kefarmasian dan alat kesehatan Informasi kefarmasian dan alat kesehatanHal. 10 Buletin INFARKES Edisi I - Februari 2010 lWawancara RCTI tentang Obat GenerikRasionalisasi Harga Obat GenerikPada tanggal 10 Februari 2010, Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Dra. Sri Indrawaty, Apt., M.Kes. diwawancarai oleh media RCTI mengenai penggunaan Obat Generik.Pemerintah telah merevitalisasi kewajiban peresepan obat generik di sarana pelayanan pemerintah dengan diterbitkannya Permenkes No. HK.02.02/Menkes/068/I/2010 tentang Kewajiban Menggunakan Obat Gene-rik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah.Melalui peraturan ini, dokter di Puskesmas dan RS pemerintah wajib meresepkan obat generik.dikenakan sanksi administratif sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Mengenai masih ditemukannya peresepan obat selain obat generik oleh dokter-dokter di RS pemerintah, hal tersebut dapat dikarenakan belum tersedianya obat generik untuk keperluan medis penyakit terkait. Selain itu, pemerintah terus memper-barui daftar obat generik.Apoteker juga diberikan kewe-nangan untuk mengganti obat merek dagang/ obat paten dengan obat generik yang sama komponen aktifnya, dengan persetujuan dokter dan/ atau pasien.Pelaksanaan peraturan tersebut dipantau secara berjenjang dan diatur dengan Kepmenkes No. HK.03.01/ Menkes/159/I/2010 tentang Pedoman Pembinaan dan Penga-wasan Penggunaan Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah. Sebagai bagian dari pembinaan, maka pelanggaran terhadap kewajiban peresepan dapat Capaian Millenium Development Goals (MDGs) harus didukung oleh akses obat yang aman, berkhasiat, dan bermutu serta terjamin dalam jenis dan jumlah sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan.Kondisi faktual di lapangan menun-jukkan lebih dari 80 item obat generik tidak tersedia di pasar, sehingga terjadi kekosongan obat di unit-unit pela-yanan kesehatan, terutama di Kabupaten/ Kota di Indonesia Timur dan NAD. Sebagian besar obat generik yang tidak tersedia di pasar adalah obat fast moving  dan life saving  sehingga sangat mempengaruhi kualitas pelayanan kesehatan. Obat generik yang tidak tersedia di pasar utamanya obat dalam bentuk sediaan injeksi, sirup dan sediaan cairan infus disebabkan biaya distribusi yang tinggi terutama untuk wilayah Indonesia Tengah dan Timur. Untuk menjamin ketersediaan obat secara merata di seluruh wilayah Indonesia, telah dilakukan penilaian kembali dan rasionalisasi Harga Obat generik serta penetapan harga terhadap 453 item obat generik oleh Tim Evaluasi, yang meliputi penurunan harga terhadap 106 item, penyesuaian harga terhadap 33 item, sisanya 314 item dengan harga tetap. Dengan demikian hanya 7% obat generik yang mengalami kenaikan harga dibanding terhadap total 453 item obat generik.Ketentuan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.HK.03.01/Menkes/146/I/2010 tanggal 27 Januari 2010 tentang Harga Obat Generik.Pabrik obat dan/ atau Pedagang Besar Farmasi dalam menyalurkan obat generik kepada Pemerintah, Rumah Sakit, Apotek, dan Sarana Pelayanan Kesehatan lainnya harus menggunakan Harga Netto Apotek (HNA) + PPN sebagai harga patokan tertinggi.Mengingat bahwa lebih dari 98% industri farmasi berada di Pulau Jawa dan hanya beberapa ada di Sumatera (Palembang dan Medan), maka dalam rangka menjamin ketersediaan dan pemerataan obat generik di seluruh wilayah NKRI, pabrik obat dan/ atau Pedagang Besar Farmasi dalam menyalurkan obat generik kepada Pemerintah, Rumah Sakit, Apotek dan Sarana Kesehatan lainnya dapat menambahkan biaya distribusi maksimum 5% untuk Regional-II, 10% untuk Regional-III dan 20% untuk Regional IV dari HNA+PPN.Regional I meliputi Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D. I. Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Lampung dan Banten. Regional II meliputi Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung dan Nusa Tenggara Barat. Regional III meliputi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat dan Gorontalo. Regional IV meliputi Provinsi Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.Apotek Rumah Sakit dan Sarana Pelayanan Kesehatan lainnya yang melayani penyerahan obat generik harus menggunakan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebagai harga patokan tertinggi dan dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan.

Informasi kefarmasian dan alat kesehatan Informasi kefarmasian dan alat kesehatanBuletin INFARKES Edisi I - Februari 2010 Hal. 11 lBACK TO NATURE BACK TO NATURERahasia di Balik Buah NagaBuah naga bermanfaat bagi kesehatan manusia. Komposisi gizi per 100 gram daging buah naga: air (g) 82,5 - 83,0; protein (g) 0,16 - 0,23; lemak (g) 0,21 - 0,61; serat/dietary fiber (g) 0,7 - 0,9; betakaroten (mg) 0,005 - 0,012; kalsium (mg) 6,3 - 8,8; fosfor (mg) 30,2 - 36,1; besi (mg) 0,55 - 0,65; vitamin B1 (mg) 0,28 - 0,30; vitamin B2 (mg) 0,043 - 0,045; vitamin C (mg) 8 - 9; niasin (mg) 1,297 - 1,300.Nama buah naga (dragon fruit) belakangan ini menjadi buah bibir di masyarakat luas. Penampilan buah ini sangat unik dan menarik. Ukurannya sebesar mangga gedong gincu, dengan warna merah menyala. Kulitnya seperti sisik ular besar (naga). Rasanya manis segar dan sedikit asam.Ada empat jenis buah naga, yaitu buah naga daging putih (Hylocereus undatus), buah naga daging merah (Hylocereus polyrhizus), buah naga daging super merah (Hylocereus costaricensis), dan buah naga kulit kuning daging putih (Selenicerius megalanthus).Kandungan serat pada buah naga sangat baik. Serat sangat dibutuhkan tubuh untuk menurunkan kadar kolesterol. Kandungan serat pada buah naga juga sangat berguna dalam sistem pencernaan. Serat pangan (dietary fiber) mampu memperpendek transit time, yaitu waktu yang dibutuhkan makanan sejak dari rongga mulut hingga sisa makanan dikeluarkan dalam bentuk feses. Serat pangan akan mengikat zat-zat karsinogenik. Berkat transit time yang pendek, waktu zat karsinogenik bermukim dalam tubuh juga semakin pendek sehingga kesempatan membahayakan tubuh semakin kecil (Goldberg, 1994). Serat pangan sangat baik untuk mencegah penyakit diabetes melitus, jantung, stroke, kanker, dan penyakit kardio-vaskular lainnya.Buah naga terkenal sebagai salah satu sumber betakaroten. Betakaroten merupakan provitamin A yang di dalam tubuh akan diubah menjadi vitamin A yang sangat berguna dalam proses penglihatan, reproduksi, dan proses metabolisme lainnya.Betakaroten juga merupakan jenis antioksidan yang dapat berperan penting dalam mengurangi konsentrasi radikal peroksil. Kemampuan beta-karoten bekerja sebagai antioksidan berasal dari kesanggupannya untuk menstabilkan radikal berinti karbon. Karena efektif pada konsentrasi rendah oksigen, betakaroten dapat meleng-kapi sifat antioksidan vitamin E yang efektif pada konsentrasi tinggi oksigen.Betakaroten juga dikenal sebagai unsur pencegah kanker, khususnya kanker kulit dan paru. Betakaroten dapat menjangkau lebih banyak bagian-bagian tubuh dalam waktu relatif lebih lama dibandingkan dengan vitamin A sehingga memberikan perlindungan lebih optimal terhadap munculnya kanker.Badan Litbang Pertanian RI menye-butkan bahwa buah naga dapat menurunkan kadar kolesterol, menye-imbangkan gula darah, menguatkan fungsi ginjal dan tulang, serta meningkatkan kerja otak. Khasiat buah naga masih belum diketahui oleh masyarakat luas. Selain penelitian yang masih sangat terbatas, buah ini masih sangat langka. Bahkan, masih banyak di antara kita yang sama sekali tidak mengenal buah ini.Buah naga mengandung tiamin (vitamin 131) yang berperan sebagai koenzim dalam reaksi-reaksi yang menghasilkan energi dari karbohidrat dan memindahkan energi membentuk senyawa kaya energi yang disebut ATP. Kekurangan tiamin akan menyebab-kan polyneuritis (beri-beri kering), yang disebabkan oleh terganggunya transmisi saraf atau jaringan saraf menderita kekurangan energi. Gejala kekurangan tiamin mula-mula adalah lelah, hilang selera makan, berat badan menurun, dan gangguan pencernaan.Buah naga juga mengandung kalium, zat besi, protein, kalsium dalam jumlah yang cukup baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Zat-zat tersebut juga baik untuk menetral-kan racun dalam darah, meningkatkan daya penglihatan, dan mencegah hipertensi.Kandungan air pada buah naga juga cukup tinggi, yaitu mencapai 83 gram per 100 gram daging buah. Oleh karena itu, buah naga dapat juga dijadikan pencuci mulut yang lezat.Secara sederhana, buah naga dimakan dalam keadaan segar, yaitu setelah masak dan empuk. Ada pula yang menyantapnya sebagai dessert dalam bentuk es krim dan bahan baku salad. Buah naga yang belum masak dapat dimasak sebagai sup dan dicampur dengan daging ataupun tulang. Selain buahnya, bunga buah naga juga dimanfaatkan sebagai sayuran ataupun dikeringkan untuk dijadikan teh bunga.Buah naga yang segar biasanya masih diselaputi sulur atau sisik hijau kekuningan, sedangkan bagian luar buahnya berwarna merah jambu menawan.Disadur dari berbagai media(Sumber: carahidup.um.ac.id)

Laporan Perizinan PBF, PBBBF, Industri Farmasi, Industri Obat Tradisional, dan Kosmetika yang Diterbitkan Ditjen Binfar & AlkesBulan Januari 2010Informasi kefarmasian dan alat kesehatan Informasi kefarmasian dan alat kesehatanNo NAMA PERUSAHAAN No. IZIN Tanggal Terbit PROVINSI JENIS IZIN 1 PT. DJAJABIMA AGUNG HK.07.01/I/009/10 8 Januari 2010 DKI Jakarta PBF 2 PT. BUDI ADYANUGRA FARMA HK.07.01/I/010/10 8 Januari 2010 Jawa Tengah PBF 3 PT. UNIRAMA DUTA NIAGA HK.07.01/I/011/10 8 Januari 2010 DKI Jakarta PBF 4 PT. TRITAMA JAYA ABADI HK.07.01/I/012/10 8 Januari 2010 Jawa Timur PBF 5 PT. ASTELLAS PHARMA INDONESIA HK.07.PBBBF/I/013/10 8 Januari 2010 DKI Jakarta PBBBF 6 PT. ARJUNA YOGA SAKTI HK.07.IKOS/I/014/10 8 Januari 2010 Bali Kosmetika 7 PT. SURYA HERBAL HK.07.02/I/021/10 18 Januari 2010 Jawa Timur IOT 8 PT. INSULAR MULTI NATURAL HK.07.02/I/022/10 18 Januari 2010 Jawa Barat IOT 9 PT. MEGA CITRA SEJAHTERA HK.07.01/I/023/10 18 Januari 2010 Jawa Barat PBF 10 HOLLYWOOD SISTERS HK.07.IKOS/I/024/10 18 Januari 2010 Jawa Timur Kosmetika 11 PT. SANBE FARMA HK.07.IF/I/025/10 18 Januari 2010 Jawa Barat IF 12 PT. SETA SARI FARMA HK.07.PBBBF/I/047/10 20 Januari 2010 DKI Jakarta PBBBF 13 PT. GUNUNG MAS JAYA SENTOSA HK.07.01/I/048/10 20 Januari 2010 Jawa Timur PBF 14 PT. SURYAMAS INTI ARMINDO HK.07.01/I/049/10 20 Januari 2010 Jawa Tengah PBF 15 PT. B. BRAUN MEDICAL INDONESIA HK.07.01/I/050/10 20 Januari 2010 DKI Jakarta PBF 16 PT. PRIMA UNGGUL BAHAGIA HK.07.01/I/051/10 20 Januari 2010 Jawa Timur PBF 17 PT. SERUNI ADI FARMAKA HK.07.01/I/052/10 20 Januari 2010 Jawa Timur PBF 18 PT. AGUNG BERINGIN LESTARI HK.07.01/I/059/10 25 Januari 2010 Sumatera Utara PBF 19 CV. SAMUDRA HK.07.IKOS/I/060/10 25 Januari 2010 Jawa Tengah Kosmetika 20 PT. SINAR KALIMAN SEHAT HK.07.02/I/061/10 29 Januari 2010 Banten IOT 21 PT. NEO KOSMETIKA INDUSTRI HK.07.IKOS/I/062/10 29 Januari 2010 Jawa Barat Kosmetika 22 PT. AIR MANCUR HK.07.IKOS/I/063/10 29 Januari 2010 Jawa Tengah Kosmetika 23 PT. SINAR PERMATA LESTARI HK.07.01/I/064/10 29 Januari 2010 Sumatera Utara PBF 24 PT. GLORY KATRI PUTERA HK.07.PBBBF/I/065/10 29 Januari 2010 DKI Jakarta PBBBF 25 PT. ETERCON PHARMA HK.07.IF/I/066/10 29 Januari 2010 Jawa Tengah IF Hal. 12 Buletin INFARKES Edisi I - Februari 2010 l

Dokumen Terkait

Manual Prosedur Program Kreatifitas Mahasiswa

Manual Prosedur Program Kreatifitas Mahasiswa

9 bagi kelompok pkm yang lolos akan dibantu penyiapan ke jen.

Contoh Proposal / 13 kali tayang / 299KB

Kesiapan Rumah Sakit Umum Daerah Undata Palu Dalam

Kesiapan Rumah Sakit Umum Daerah Undata Palu Dalam

Bencana alam maupun buatan manusia bahkan laporan rsud undat.

Contoh Proposal / 29 kali tayang / 351KB

Apa Kabar Budaya Baca Fileupiedu

Apa Kabar Budaya Baca Fileupiedu

Pendukung buku contoh ketika industri film booming tahun 50.

Contoh Proposal / 20 kali tayang / 187KB

Minimum Wage Report Wageindicator

Minimum Wage Report Wageindicator

Authorship of minimum wage database with recommendation and.

Contoh Proposal / 17 kali tayang / 1,561KB

Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Universitas Negeri

Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Universitas Negeri

Kementerian pendidikan dan kebudayaan universitas negeri yog.

Contoh Proposal / 13 kali tayang / 123KB

Proposal Bazar Murah Pdfsdocumentscom

Proposal Bazar Murah Pdfsdocumentscom

Proposal bazar 10 httpxayimgcomkqgroups22370743881392099name.

Contoh Proposal / 97 kali tayang / 26KB