Siaran Pers Chopshots Documentary Film Festival Southeast



Keterangan eBook
Author Administrator
Creator Microsoft® Word 2010
CreationDate 2014-04-14T20:02:32+07:00
ModDate 2014-04-14T20:02:32+07:00
Producer Microsoft® Word 2010
Pages 3 Page
Ukuran File 233 KB
Dibuka 7 Kali
Topik Contoh Proposal
Tanggal Unggah Monday, 21 Nov 2016 - 08:25 AM
Link Unduh
Baca Halaman Penuh BUKA
Rating eBook
Bagi ke Yang Lain

Kesimpulan

Siaran Pers ChopShots Documentary Film Festival Southeast Asia Siap Dibuka Pada Selasa, 22 April 2014 Jakarta, 15 April 2014 – Hitung mundur dimulai. Edisi kedua ChopShots Documentary Film Festival Southeast Asia akan dimulai pada Selasa, 22 April 2014 dengan resepsi pembukaan dan penayangan sebuah produksi terkini dari Indonesia, Jalanan yang disutradarai oleh Daniel Ziv. Selain film pembuka ini, 57 film lain dari negara-negara Asia Tenggara, Inggris, Jepang, Korea Selatan dan banyak lagi menanti penonton selama minggu festival. .****************************************************************************************************************** Semuanya bermula pada 2012 dengan sebuah proyek yang diberi nama DocNet Southeast Asia. Goethe-Institut dan Uni Eropa di Indonesia memulai proyek membangun jejaring untuk mendukung pembuatan film dokumenter di Asia Tenggara dan untuk menyatukan inisiatif-inisiatif lokal yang bervariasi yang telah lama ada di wilayah tersebut. Untuk menjadi puncak kegiatan dari proyek ini, penyelenggaraan suatu festival film dokumenter rasanya terlihat sebagai sebuah niat yang lumrah. Kemudian lahirlah edisi perdana ChopShots Documentary Film Festival Southeast Asia pada Desember 2012 yang akan berlanjut tahun ini untuk merayakan cara menuturkan sebuah cerita dengan unik dan tajam. "Uni Eropa (EU) sangat bangga bisa menjadi bagian kelahiran ChopShots Documentary Film Festival Southeast Asia dan masih mendukungnya hingga hari ini. Pentingnya mendukung inisiatif-inisiatif kebudayaan telah lama menjadi fokus kebijakan-kebijakan pembangunan Uni Eropa. Hal ini sangat penting untuk membangun hubungan dan mendorong dialog antarbudaya di negara dan kawasan manapun,“ kata Franck Viault, Kepala Kerjasama Delegasi EU. Lebih dari 247 film dari 49 negara diterima oleh tim ChopShots Documentary Film Festival Southeast Asia tahun ini. Hal ini menunjukkan betapa minat dan keterampilan pembuatan film dokumenter di Asia Tenggara telah terbangun lebih kuat. Lanskap film di kawasan ini semakin padat dengan proyek-proyek yang lebih kreatif yang membawa suara-suara yang tidak dapat diabaikan. Itulah apa menjadi tujuan festival ini menurut Katrin Sohns, Kepala Program Budaya Goethe-Institut di Asia Tenggara, Australia dan Selandia Baru. "Kami ingin menyediakan wadah untuk semua bakat-bakat yang ada di luar sana dan membuat film-film dokumenter dari Asia Tenggara bisa diakses lebih banyak pemirsa di seluruh dunia," kata Sohns dalam sebuah pernyataannya. Dalam kategori Kompetisi terdapat dua kelompok film – International Competition dan Best SEA Shorts – yang akan bersaing untuk mendapatkan uang tunai senilai total 10.000 Euro. Marc Eberle, direktur artistik ChopShots Documentary Film Festival Southeast Asia mengatakan, "Kami sangat puas dengan 12 film dokumenter

panjang yang terseleksi tahun ini untuk kategori International Competition. Kami ditantang untuk memilih yang terbaik dari begitu banyak film yang menginspirasi. Juga 18 film berdurasi pendek di kategori Best SEA Shorts adalah film-film yang cerdas." Film-film terbaik dari kategori Kompetisi akan ditentukan oleh dua kelompok juri yang terdiri dari pembuat film dan akademisi dari Belanda, Filipina, Indonesia, Jerman, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Sementara itu, kategori Non-Kompetisi terbagi menjadi empat program yaitu Docs Animated!, ChopShots Specials, Why Poverty? dan International Shorts. Seluruh film yang terpilih mengangkat isu-isu aktual kawasan Asia Tenggara namun juga kisah-kisah pribadi yang luar biasa. Film pendek karya Aryo Danusiri (Indonesia) yang berjudul Flaneurs #3 dan film-film durasi panjang seperti War Is A Tender Thing karya Adjani Arumpac (the Philippines) dan Wukan: The Flame of Democracy yang disutradarai oleh Lynn Lee & James Leong (Singapura) menunjukkan lapisan-lapisan politik yang beragam yang saat ini diisi oleh entitas-entitas baru yang memiliki beragam kepentingan pula. Juga menjadi satu tema aktual kawasan ini adalah pertanyaan apakah keuntungan-keuntungan maksimal dari perspektif ekonomi harus diraih dengan mengorbankan prinsip-prinsip universal mengenai kesetaraan dan keseimbangan antara hak dan kewajiban antara pemerintah dan rakyatnya. By the River karya Nontawat Numbenchapol (Thailand), A Life Forgotten karya Brian Chew (Malaysia) dan Children of Kubu yang disutradarai oleh Benny Sumarna (Indonesia) mengangkat isu ini dengan berfokus pada kerusakan-kerusakan lingkungan hidup yang telah terjadi akibat tindakan-tindakan pro-pembangunan. Sementara itu, beberapa film seperti The Cat That Lived a Million Times karya Tadasuke Kotani (Jepang) dan 9 Muses of Star Empire yang disutradari oleh Hark Joon Lee (Korea Selatan) memilih untuk melihat lebih dekat kehidupan sehari-hari tokoh-tokohnya sambil tetap merefleksikan apa yang tengah terjadi di masyarakat tempat tokoh-tokoh itu hidup. Selain pemutaran film, DocNet Campus, sebuah pelatihan selama tujuh hari, juga akan dilaksanakan dalam rangka ChopShots Documentary Film Festival Southeast Asia. Tiga tutor internasional akan mengajar dan bekerja sama dengan 15 sineas terpilih asal Asia Tenggara. Di akhir pelatihan, sineas dengan proposal terbaik akan mendapat tunjangan perjalanan untuk menghadiri Sheffield Doc/Fest di Inggris. Tak ketinggalan, beberapa kelas master, kuliah umum dan bincang-bincang dengan tutor Docnet Campus, anggota dewan juri dan praktisi profesional di bidang film lainnya telah dirancang sebagai acara yang terbuka bagi umum. Sesi-sesi ini akan mengupas dan menambah wawasan pengunjung mengenai tren dan kecenderungan terkini terkait pembuatan film dokumenter. Acara pendamping lain yang tak kalah menarik dari festival ini adalah sebuah pameran berjudul Early Images of Southeast Asia yang akan berlangsung di GoetheHaus pada 16-27 April 2014. Pameran ini akan menyuguhkan rekaman gambar bergerak paling awal yang pernah ada mengenai kawasan dan masyarakat Asia Tenggara.

Dua direktur pelaksana ChopShots Documentary Film Festival Southeast Asia, Lulu Ratna dan Amelia Hapsari menjawab pertanyaan tentang apa yang mereka harapkan untuk festival ini dan penonton Jakarta dengan semangat positif yang sama. “Film-film ini akan meninggalkan dampak yang mendalam pada penontonnya. Anda bisa tertawa, menangis, bersorak, dan merenungkan bagaimana kita hidup di planet ini," kata Amelia yang juga akan bertanggung jawab untuk semua program DocNet Campus. “Penonton film di Jakarta sejauh ini adalah penonton paling reseptif. Saya pikir, mereka selalu siap untuk dikejutkan dan akan merangkul segala jenis pengalaman baru yang unik. Dan tentu saja kesempatan untuk melakukan percakapan langsung dengan pembuat film, yang karyanya baru saja Anda lihat di layar, pasti menjadi bonus yang tidak bisa didapatkan setiap hari di kota ini,” kata Lulu. Pertanyaan terkait kepentingan media dapat ditujukan kepada: Dinyah Latuconsina Telepon: +62-21-23550208 – 147 (Senin-Jumat, 10:00–17:00 WIB) Seluler: +6287878737514 Surel: dinyah.latuconsina@jakarta.goethe.org Informasi seputar ChopShots Documentary Film Festival Southeast Asia tersedia di: Situs web: http://www.chopshots.net Twitter: https://twitter.com/chopshotsfest dan Facebook: https://www.facebook.com/ChopShots

Dokumen Terkait

003 Peningkatan Sistem Pengelolaan Dan Bantuan Pendidikan

003 Peningkatan Sistem Pengelolaan Dan Bantuan Pendidikan

Peningkatan infrastruktur manajemen pelayanan pendidikan 18.

Contoh Proposal / 7 kali tayang / 2,604KB

Uji Antikanker Ekstrak Metanol Daun Benalu Kelor

Uji Antikanker Ekstrak Metanol Daun Benalu Kelor

I uji antikanker ekstrak metanol daun benalu kelor helixanth.

Contoh Proposal / 11 kali tayang / 2,124KB

Pendahuluan E Journaluajyacid

Pendahuluan E Journaluajyacid

Kampung batik vertikal sebuah integrasi ruang hunian produks.

Contoh Proposal / 6 kali tayang / 306KB

Panduan Kuliah Kerja Nyata Kkn Mahasiswa Mandiri

Panduan Kuliah Kerja Nyata Kkn Mahasiswa Mandiri

Melakukan kunjungan ke lokasi kkn b presentasi proposal oleh.

Contoh Proposal / 13 kali tayang / 116KB

Bab Ii Profil Instansi A Sejarah Perusahaan

Bab Ii Profil Instansi A Sejarah Perusahaan

Menjadi perusahaan agrobisnis kelas dunia dengan kinerja unt.

Contoh Proposal / 8 kali tayang / 660KB

Bab I Pendahuluan 11 Latar Belakang

Bab I Pendahuluan 11 Latar Belakang

9 bab i pendahuluan 11 latar belakang dengan beribu ribu gug.

Contoh Proposal / 13 kali tayang / 556KB