Bab I Pendahuluan 11 Latar Belakang



Keterangan eBook
Producer GPL Ghostscript 8.64
CreationDate 2012-10-24T14:37:04-12:00
ModDate 2012-10-24T14:37:04-12:00
Title Tesis penelitian ekstraksi kayu manis
Creator PDFCreator Version 0.9.8
Author Hendi
Keywords
Subject
Pages 58 Page
Ukuran File 335 KB
Dibuka 13 Kali
Topik Contoh Proposal
Tanggal Unggah Sunday, 20 Nov 2016 - 11:28 PM
Link Unduh
Baca Halaman Penuh BUKA
Rating eBook
Bagi ke Yang Lain

Kesimpulan

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kayumanis merupakan salah satu tanaman yang kulit batang, cabang dan dahannya digunakan sebagai bahan rempah-rempah dan merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia. Tanaman kayumanis yang dikembangkan di Indonesia te rutama adalah Cinnamomum burmanii Blume dengan daerah produksinya di Sumatera Barat dan Jambi dan produknya dikenal sebagai cassia-vera atau Korinjii cassia . Selain itu terdapat Cinnamomum zeylanicum Nees , dikenal sebagai kayu manis Ceylon karena sebagian besar diproduksi di Srilangka ( Ceylon) dan produknya dikenal sebagai cinnamon. Jenis kayumanis ini juga terdapat di pulau Jawa. Se lain kedua jenis tersebut, terdapat pula jenis C. cassia yang terdapat di Cina (Abdullah, 1990). Sebagian besar kulit kayumanis yang diekspor Indonesia adalah jenis Cinnamomum burmanii . Kulit kayumanis dapat digunakan langsung dalam be ntuk asli atau bubuk, minyak atsiri dan oleoresin. Minya k kayu manis dapat diperoleh dari kulit batang, cabang, ranting dan daun pohon k ayu manis dengan cara destilasi, sedangkan oleoresinnya dapat diperoleh d engan cara ekstraksi kulit kayu manis dengan pelarut organik (Rusli dan Abdull ah, 1988). Sampai saat ini Indonesia hanya mengekspor produk k ayu manis ( Cinnamomum burmanii Blume) dalam bentuk kulit yang merupakan komoditas ekspor penting bagi daerah tertentu seperti Sumater a Barat. Pada tahun 1987, dari 29.917 ton ekspor kayu manis dunia, 60%-nya berasal dari Indonesia sebagai penghasil utama kayu manis. Negara pengimpor utama kayu manis Indonesia antara lain adalah Amerika, Kanada dan Jerman. Indo nesia dikenal sebagai produsen utama kayu manis tetapi harga jual komodi tas itu sangat rendah karena diekspor dalam bentuk bahan baku. Di masa depan seb aiknya harus diubah dengan terus berupaya melakukan diversifikasi produ k dalam upaya meningkatkan nilai tambah. Dengan mengolah kayu man is sebelum diekspor

2 maka dipastikan akan diperoleh nilai tambah yang lebih besar dan mampu menaikkan harga di tingkat petani. Salah satu produk olahan kayu manis disamping minya k kayu manis adalah oleoresin yang mempunyai nilai jual jauh leb ih tinggi dari harga kayu manis tanpa diolah. Oleoresin dan minyak atsiri rem pah-rempah banyak digunakan dalam industri makanan, minuman, farmasi, flavor (tembakau / rokok), fragrance, pewarna dan lain-lain. Oleoresin dalam industri pa ngan banyak digunakan sebagai pemberi cita rasa dalam produk-pr oduk olahan daging (misalnya sosis, burger, kornet), ikan dan hasil laut lainnya, roti, kue, puding, sirup, saus dan lain-lain. Penggunaan oleoresin dit injau dari segi teknis dan efisiensi penggunaan bahan baku lebih unggul diband ing dengan penggunaan rempah secara tradisional, khususnya bila diterapk an dalam skala industri. Keuntungan komparatif yang dapat diperoleh adalah b iaya produksi yang lebih rendah dengan adanya pengurangan biaya angkut bahan baku. Adanya keuntungan dari segi biaya produksi, disamping keun tungan-keuntungan lain dari segi teknis menyebabkan penggunaan oleoresin sebaga i bahan industri makanan dan minuman, kosmetik serta kesehatan, merupakan sa lah satu alternatif yang layak untuk dikembangkan. Meskipun dalam pembuatan oleoresin diperlukan teknologi dan tingkat keahlian yang tinggi, tetapi dengan semakin meningkatnya tuntutan efisiensi maka penggunaan oleoresin dapat ditingkatkan peranannya, terutama untuk memenuhi kebutuhan pada masa yang ak an datang. Disamping itu dengan semakin kompleknya permasalahan efisiensi bi aya produksi, tenaga kerja pada masing-masing tempat, maka pemilihan penggunaa n oleoresin, penggunaan bahan rempah secara tradisional atau kombinasi kedu anya perlu didasarkan pada pertimbangan yang tepat (Tan, 1981). Saat ini produksi dan konsumsi oleoresin masih dido minasi oleh negara-negara Eropa dan Amerika. Indonesia sebagai penghas il utama rempah-rempah berpeluang untuk dapat memproduksi oleoresin di dal am negeri. Indonesia merupakan salah satu negara produsen dan pengekspor rempah-rempah utama di dunia,oleh karena itu bahan baku oleoresin, baik be rupa rempah-rempah, hasil samping ataupun limbah pengolahan rempah-rempah, te rsedia cukup melimpah dan kontinyu. Potensi ini memungkinkan dikembangkan nya industri oleoresin di

3 Indonesia, meskipun untuk usaha tersebut masih diperlukan studi lebih lanjut mengenai potensi bahan baku, jenis, kuantitas dan kualitas, aspek teknik produksi dan alih teknologi, aspek manajerial dan tenaga ker ja, aspek pemasaran serta kaitannya dengan perkembangan perekonomian setempat . Meskipun produksi dan pemasaran oleoresin sudah didominasi oleh negara ne gara maju seperti Inggris dan Amerika, namun dengan adanya ketekunan dan adan ya keuntungan komparatif seperti pengurangan biaya angkut dan ten aga kerja yang relatif banyak tersedia, tidak mustahil produksi oleoresin di dala m negeri akan dapat bersaing di pasaran dunia. Konsumsi oleoresin juga masih didomi nasi oleh negara-negara Eropa, Amerika dan Australia, sedangkan konsumsi di dalam negeri belum tampak cerah. Oleh karena itu pengembangan produksi oleoresin di dalam negeri perlu diorientasikan ke arah ekspor. Berkembangnya industri-industri “makanan mudah” ( convenient food ) seperti makanan bayi, bumbu-bumbu siap pakai, jah e instan dan beberapa jenis soft drink dapat menciptakan angin segar bagi perkembangan industri oleoresin di Indonesia (Rusli dan Abdullah, 1988). Sundari (2001) menerangkan bahwa kayu manis adalah salah satu jenis rempah-rempah yang banyak digunakan sebagai bahan p emberi aroma dan citarasa dalam makanan dan minuman, dan bahan aditi f pada pembuatan parfum serta obat-obatan. Penggunaan rempah-rempah secara tradisional biasanya dilakukan dengan menambahkan langsung bahan asal ke dalam makanan dan minuman, baik dalam bentuk utuh, rajangan atau dala m bentuk yang telah dihaluskan. Cara tersebut merupakan cara yang seder hana tetapi mengandung beberapa kelemahan terutama bila diterapkan dalam s kala industri. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain : jumlah flavor yang terekstrak dan meresap ke dalam makanan atau minuman rendah, bahan tidak sera gam sehingga sulit untuk distandardisasi, kurang higienis, masih mengandung enzim lipase yang dapat merusak bahan pangan dan bahan sering terkontaminas i oleh jamur, kotoran dan bahan asing. Saat ini banyak industri makanan dan m inuman menggunakan rempah-rempah bukan dalam bentuk asal melainkan dal am bentuk produk olahan. Menurut Sulaswaty (2002), produk oleoresin dari e kstraksi kulit kayu manis memiliki beberapa keuntungan dibandingkan den gan penggunaan kulit kayu manis yaitu lebih ekonomis, lebih mudah dikont rol dan lebih bersih.

4 Keuntungan lain dibandingkan penggunaan minyak atsiri yaitu flavor stabil terhadap panas selama pengolahan. Ekstraksi oleores in dengan pelarut dipengaruhi oleh jenis dan polaritas pelarut yang d igunakan. Polaritas dan titik didih pelarut merupakan faktor yang perlu diperhati kan dalam pemilihan pelarut yang digunakan untuk mengekstraksi oleoresin. Pelar ut non polar dapat mengekstrak beberapa komponen volatile dan pelarut polar adalah pelarut yang cocok untuk mengekstraksi oleoresin. Ekstraksi oleo resin dapat juga dilakukan dengan teknik soxhlet selama 6 jam dengan menggunak an pelarut heksana, etanol, metanol dan air, dimana hasilnya dapat dilihat pada Tabel 1.1. Tabel 1.1. Ekstraksi oleoresin dengan berbagai pelarut (Sula swaty, 2002) Pelarut Polaritas Hasil oleoresin (%) Heksana Non polar 2.15 Etanol 0.68 14.88 Metanol 0.73 21.77 Air > 0.73 15.12 Dari percobaan yang telah dilakukan tersebut diatas , proses ekstraksi membutuhkan waktu yang lama dan suhu yang cukup tin ggi (titik didih pelarut) sehingga membutuhkan biaya energi yang cukup besar. Pada penggunaan air sebagai pelarut, nampak hasil oleoresin cukup tingg i, namun hasil oleoresin tersebut diduga bercampur dengan zat pati yang ada didalam bahan. Dari percobaan ekstraksi yang telah dilakukan oleh Araar (2009) diperoleh kadar cinnamic aldehyde sebesar 0,51 % apabila menggunak an pelarut air dan jauh lebih kecil dibandingkan bila menggunakan pelarut e tanol yaitu sebesar 2,07 %. Aguda (2007) menerangkan, pemilihan pelarut yang di ijinkan untuk produk makanan harus merujuk pada pelarut GRAS ( Generally Recognized as Safe ) yang tidak mengijinkan penggunaan pelarut berbah aya atau beracun bagi kesehatan. Pelarut pelarut tersebut telah dikumpulk an dan dipublikasikan oleh Food and Drug Administration (FDA) dan the Flavor and Extract Manufacturing Association (FEMA).

5 Selain cara ekstraksi tersebut diatas, cara ekstraksi sonikasi (ultrasonik) dapat dijadikan metoda alternatif , karena adanya g elombang ultrasonik yang mampu mengeluarkan zat yang diekstrak masuk kedalam pelarut. Pada reaktor ultrasonik / sonicator, gelombang ultrasonik digunakan untuk membuat gelembung kavitasi ( cavitation bubbles) pada material larutan. Ketika gelembung pecah dekat dengan dinding sel maka akan terbentuk gelombang kejut dan pancaran cairan ( liquid jets) yang akan membuat dinding sel pecah. Pecahnya dinding sel akan membuat komponen di dalam sel kelu ar bercampur dengan larutan. Cara ekstraksi ini biasanya lebih cepat da n lebih efisien dibandingkan cara cara ekstraksi yang terdahulu (Cintas dan Crav otto, 2005). Beberapa ekstraksi berbantu ultrasonik yang telah d ilakukan antara lain : 1. Expedited extraction of xylan from corncob by power ultrasound (Yang et al., 2009) Tongkol jagung yang telah dihaluskan diekstraksi d engan pelarut asam sulfat 2 % dan menggunakan ultrasonic bath. .Hasil ekstraksi menunjukkan bahwa yield (xylan) yang dihasilkan dari ekstraksi berbantu ultrasonik sebesar 39 % dalam waktu 43 menit . Hasil ekstraksi ini lebih be sar dan lebih cepat bila dibandingkan dengan metoda ekstraksi konvensional y ang menghasilkan 34 % xylan dalam waktu 24 jam. 2. Ultrasonic Assisted Extraction of Natural Pigments from Rhizomes of Curcuma Longa L . (Rouhani et al., 2009). Kunyit yang telah dihaluskan diekstraksi dengan pe larut etanol 70 % v/v dan menggunakan metoda ekstraksi : maserasi, maserasi d an digojok , soxhlet, ultrasonik, sehingga diperoleh ekstrak curcumin. Ha sil ekstraksi keempat metotoda tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.2.

6 Tabel 1.2. Hasil ekstraksi dengan berbagai metoda (Rouhani et al., 2009). Metoda Kondisi Total Curcuminniods % Pelarut Temperatur, oC Maserasi Etanol 70 % 25 4.43 Maserasi dan digojok Etanol 70 % 80 11.65 Soxhlet Etanol 70 % 25 12.39 Ultrasonik Etanol 70 % 25 18.34 3. Ultrasound-assisted extraction flavonoids from Lotu s (Nelumbo nuficera Gaertn) leaf and evaluation of its anti-fatigue act ivity (Zhang et al., 2009). Daun teratai (lotus) yang telah dihaluskan diekstra ksi dalam berbagai konsentrasi etanol (40 % v/v, 50 % v/v, 60 % v/v , 70 %, 80 % v/v dan 90 % v/v) dan menggunakan metoda ultrasonik. Rendemen ekstrak flavonoids yang terbesar diperoleh pada penggunaan konsentrasi etanol 70 % dan waktu ekstraksi 25 menit . Yield flavonoids dihasilkan se besar 7,15 % 1.2. Perumusan Masalah. Ekstraksi konvensionil yang selama ini dilakukan, ditinjau dari aspek ekonomis dan waktu masih kurang efisien karena biay a operasional tinggi dan waktu ekstraksi lama. Ekstraksi berbantu ultrasonik telah mampu mereduksi biaya maupun waktu ekstraksi. Dari beberapa penelitian ya ng telah dilakukan oleh Rouhani et al. (2009), Yang et al. (2009), dan Zhang et al. (2009) masih ada beberapa kekurangan terhadap pemilihan pelarut yang tidak merujuk pada pelarut yang drekomendasikan oleh FDA, variasi pelarut yang digunakan, dan ekstraksi oleoresin dari bahan rempah rempah. Ditinjau dari p enggunaan oleoresin yang sangat luas, maka ekstraksi dengan bantuan ultrason ik diharapkan dapat memberikan nilai lebih yang sangat bermanfaat. Ekstraksi oleoresin dari kulit kayu manis yang dila kukan dengan bantuan gelombang ultrasonik diharapkan dapat mempersingkat waktu ekstraksi dan jumlah yield yang sama atau bahkan lebih besar bila dibandingka n dengan metoda

7 konvensional.. Proses ekstraksi menggunakan pelarut polar diharapkan dapat menghasilkan produk oleoresin lebih besar dibanding kan pelarut non polar, karena oleoresin merupakan senyawa polimer yang ber bobot molekul besar dan lebih mudah larut dalam pelarut polar. Untuk menjaw ab permasalahan yang ada, perlu dilakukan penelitian ekstraksi dengan bantua n ultrasonik dan menggunakan 3 jenis pelarut yaitu metanol, etanol dan isopropil alkohol, dimana ketiga pelarut tersebut bersifat polar. Disamping itu juga dilaku kan ekstraksi pembanding dengan soxhlet dan juga kajian tentang laju ekstra ksi. 1.3. Tujuan Penelitian 1. Mengkaji waktu dan intensitas ekstraksi berbantu ul trasonik terhadap hasil cinnamic aldehyde dan oleoresin dengan menggunakan pelarut metanol, etanol dan isopropil alkohol 2. Menentukan model laju ekstraksi berbantu ultrasonik 1.4. Manfaat Penelitian 1. Memberikan informasi tentang cara ekstraksi dengan metoda ultrasonik dan pemilihan pelarut yang tepat, sehingga dapat di jadikan salah satu model atau menggantikan metoda ekstraksi yang lama. 2. Meningkatkan kesejahteraan petani kayu manis, kare na negara kita tidak lagi mengekspor kayu manis yang harga jualnya renda h, tetapi mengolah sendiri kayu manis menjadi produk olahan (oleoresi n) yang mempunyai nilai jual lebih tinggi. 3. Model laju ekstraksi ultrasonik dapat digunakan unt uk merancang ekstraktor

8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Bahan Baku 2.1.1. Kayu manis ( Cinnamomum Burmannii Blume ) Menurut Heyne (1987), pohon kayu manis merupakan tu mbuhan asli Asia Selatan, Asia Tenggara dan daratan Cina, Indonesia termasuk didalamnya. Tumbuhan ini termasuk famili Lauraceae yang memiliki nilai ekonomi dan merupakan tanaman tahunan yang memerlukan waktu lam a untuk diambil hasilnya. Hasil utama kayu manis adalah kulit batan g dan dahan, sedang hasil samping adalah ranting dan daun. Komoditas ini sela in digunakan sebagai rempah, hasil olahannya seperti minyak atsiri dan o leoresin banyak dimanfaatkan dalam industri-industri farmasi, kosmetik, makanan, minuman, rokok, dan lain lain. Gambar 2.1 . Tanaman kayu manis / cinnamomum burmannii blume (Potter and Lee, 1998)

9 2.1.1.1. Klasifikasi tanaman Kerajaan : Plantae Divisio : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Laurales Suku : Lauraceae Marga : Cinnamomum Spesies : Cinnamomum burmanii Bl Dari 54 spesies kayu manis ( Cinnamomum sp.) yang dikenal di dunia, 12 di antaranya terdapat di Indonesia. Tiga jenis kayu ma nis yang menonjol di pasar dunia yaitu Cinnamomum burmannii (di Indonesia) yang produknya dikenal dengan nama cassiavera, Cinnamomum zeylanicum (di Sri Lanka dan Seycelles) dan Cinnamomum cassia (di China) yang produknya dikenal dengan Cassia China. Jenis-jenis tersebut merupakan beberapa tana man rempah yang terkenal di pasar dunia. Tanaman kayu manis yang selama ini ban yak dikembangkan di Indonesia adalah C. burmannii Bl, yang merupakan usaha perkebunan rakyat, terutama diusahakan di Sumatera Barat, Jambi dan Su matera Utara. Jenis C. burmanii BL atau cassiavera ini merupakan produk ekspor tradis ional yang masih dikuasai Indonesia sebagai negara pengekspor utama di dunia. Gambar 2.2. Kulit dan bubuk kayu manis (Rusli dan Abdullah, 1988). 2.1.1.2. Deskripsi tanaman Tinggi tanaman kayu manis berkisar antara 5 – 15 m, kulit pohon berwarna abu-abu tua berbau khas, kayunya berwarna merah cok lat muda. Daun tunggal, kaku seperti kulit, letak berseling, panjang tangka i daun 0,5 – 1,5 cm, dengan 3

10 buah tulang daun yang tumbuh melengkung. Bentuk daun elips memanjang, panjang 4,00 – 14,00 cm, lebar 1,50 – 6,00 cm, ujun g runcing, tepi rata, permukaan atas licin warnanya hijau, permukaan bawa h bertepung warnanya keabu-abuan. Daun muda berwarna merah pucat. Bungan ya berkelamin dua atau bunga sempurna dengan warna kuning. Ukurannya kecil . Kelopak bunga berjumlah 6 helai dalam dua rangkaian. Bunga ini ti dak bertajuk bunga. Benang sarinya berjumlah 12 helai yang terangkai dalam emp at kelompok, kotak sarinya beruang empat. Persarian berlangsung dengan bantuan serangga. Buahnya buah buni berbiji satu dan berdaging. Bentuknya bulat me manjang. Warna buah muda hijau tua dan buah tua ungu tua. Panjang buah sekit ar 1,30 – 1,60 cm, dan diameter 0,35 – 0,75 cm. Panjang biji 0,84 – 1,32 c m dan diameter 0,59 - ,68 cm. 2.1.1.3. Syarat tumbuh Ketinggian tempat penanaman kayu manis dapat mempen garuhi pertumbuhan tanaman serta kualitas kulit seperti ke tebalan dan aroma. Kayu manis dapat tumbuh pada ketinggian hingga 2.000 m d pl. Cinnamomum burmannii akan berproduksi baik bila ditanam di daerah dengan ketinggian 500 – 1.500 m dpl. Kayu manis menghendaki hujan yang mera ta sepanjang tahun dengan jumlah cukup, sekitar 2.000 – 2.500 mm/tahun . Curah hujan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan hasil panen rendemennya t erlalu rendah. Daerah penanaman sebaiknya bersuhu rata-rata 25°C dengan b atas maksimum 27°C dan minimum 18°C. Kelembaban yang diinginkan 70 – 90 %, semakin tinggi kelembabannya maka semakin baik pertumbuhannya. Sin ar matahari yang dibutuhkan tanaman 40 – 70%. Kayu manis akan tumbuh baik pada tanah lempung berpasir, banyak humus, remah, kaya bahan o rganik dan berdrainase baik. pH tanah yang sesuai 5,0 – 6,5. 2.1.1.4. Budidaya tanaman Langkah-langkah budidaya kayu manis dilakukan denga n cara : Penyiapan lahan Lahan yang akan dijadikan tempat budidaya kayu mani s dicangkul dengan kedalaman lebih dari 20 cm. Lahan harus dibersihkan dari semak dan gulma.

11 Lubang tanam dibuat dengan ukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 4 m x 4 m atau 5 m x 5 m. Di Suma tera Barat, petani melakukan penanaman dengan jarak tanam yang lebih r apat yaitu 1,5 m x 1,5 m, 2 m x 2 m dan 3 m x 3 m. Jarak tanam yang terlalu rap at akan menyebabkan produksi dan kualitas kulit rendah. Penyiapan bibit Kayu manis dapat diperbanyak dengan biji. Pembibita n dapat dilakukan di bedengan atau menggunakan polibag. Biji yang disema ikan pada bedengan dapat dipindahkan ke lahan setelah 1 – 2 bulan atau sudah tumbuh sekitar dua helai daun. Bila menggunakan polybag, media tanam yang digunakan adalah campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 2. Biji kayu manis akan berkecambah dalam waktu 1 – 2 minggu. Setelah 4 – 6 bibit telah berdaun 2 – 4 helai dan siap dipindahkan ke lapangan. Penanaman Lubang tanam yang telah disiapkan diberi pupuk kand ang sebanyak 1 kg/lubang tanam. Apabila pembibitan dilakukan denga n menggunakan polibeg, bibit dimasukkan ke lubang tanam, polibeg disobek d engan hati-hati agar akar yang membungkus akar tidak ambruk. Kemudian tanah d i sekitar bibit dipadatkan agar pertumbuhannya kokoh. Pada saat penanaman dius ahakan agar leher akar tidak tertimbun tanah. Waktu tanam dilakukan pada a wal musim hujan dan kira-kira sebulan sebelumnya lubang tanam telah disiapka n. Pemeliharaan Selain pupuk kandang yang diberikan pada lubang tan am saat penanaman juga diberikan urea 50 kg/ha, setelah berumur 4 bul an diberikan lagi urea 50 kg/ha. Pupuk TSP atau SP-36 diberikan pada saat tan am dengan dosis 150 kg/ha dan pupuk KCl dengan dosis 200 kg/ha juga diberikan pada saat tanam. Penyulaman dilakukan pada tanaman yang mati atau pe rtumbuhannya tidak normal. Bibit yang digunakan untuk menyulam sebaikn ya berumur sama. Pemberantasan gulma dilakukan secara rutin biasanya 2 – 4 kali setahun. Untuk menjaga kesuburan tanah di sekeliling tanaman dalam dilingkaran tajuk, pembumbunan juga harus dilakukan secara rutin. Peny akit yang sering menyerang

12 tanaman kayu manis adalah kanker batang yang disebabkan jamur Phytophtora cinnamomi . Gejala yang ditimbulkan penyakit ini batang terli hat menjadi bengkak dengan lebar 1 – 5 cm atau berupa garis-garis. Peng endalian dapat dilakukan dengan cara memotong atau mengupas bagian kulit bat ang yang terserang, bekas luka diberi ter, dilumuri TB 192 atau diberi laruta n fungsida Dithane 45. Hama yang sering menyerang adalah Rynchytes sp yang mengakibatkan kematian pucuk, pengendalian dapat dilakukan dengan insektisida Azo drin. Panen dan pascapanen Saat panen terbaik ditandai oleh warna daun yang su dah menjadi hijau tua. Semakin tua umur tanaman maka hasil kulit kayu mani s akan lebih tebal. Panen pertama kayu manis dilakukan pada umur 8 tahun. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk pemane nan kayu manis, yaitu : 1. Batang ditebang sekaligus kemudian dikuliti. 2. Cara ditumbuk, yaitu 2 bulan sebelum ditebang selur uh kulit batang dikupas setinggi 80 – 100 cm dan dimulai kira-kira 5 cm dar i leher akar. Setelah 2 bulan, batang kayu manis ditebang. Cara pemanenan s eperti ini akan merangsang tunas baru yang akan dipelihara sebagai tanaman baru, 3. Batang dipukul-pukul dengan benda keras (kayu atau bambu) beberapa kali atau seperlunya sebelum ditebang. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kulit yang tebal dan mudah mengelupas. 4. Cara Vietnam, yaitu dengan memotong bagian batang b erselang-seling dengan ukuran 10 cm x 30 cm dan 10 cm x 60 cm. Setelah kul it hasil panen pertama bertaut maka dapat dilakukan pemanenan berikutnya. Setelah dipanen, kulit kayu manis langsung dikeringkan dengan sinar mataha ri selama 2 – 3 hari atau dengan menggunakan alat pengering. Selama proses pe ngeringan, kulit kayu manis akan menggulung secara alami. Kulit dinyataka n kering kalau bobotnya sudah susut sekitar 50 %. Thomas and Duethi (2001) menerangkan bahwa kayu ma nis mengandung minyak atsiri, eugenol, safrole, cinnamaldehyde , tannin, kalsium oksalat, damar, zat penyamak, dimana cinnamaldehyde merupaka n komponen yang terbesar yaitu sekitar 70 %. Komposisi kimia Cinnamomum burmanni, dapat dilihat pada Tabel 2.1.

13 Tabel 2.1. Komposisi kimia Cinnamomum burmanni (Thomas and Duethi, 2001) Parameter Komposisi Kadar air Minyak atsiri Alkohol ekstrak Abu Serat kasar Karbohidrat Lemak 7,90 % 2,40 % 10 – 12 % 3,55 % 20,30 % 59,55 % 2,20 % 2.1.2. Pelarut Pelarut yang digunakan untuk penelitian ini adalah metanol , etanol dan isopropil alkohol, dimana sifat-sifat dari ketiga pelarut tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.2 . Tabel 2.2. Sifat-sifat fisik berbagai alkohol (Church and Wi tting, 1997) Data fisik Metanol Etanol Isopropil Alkohol Formula CH3-OH CH3-CH2-OH CH3-CH-OH-CH3 Berat molekul 32,04 46,07 60,10 Titik didih ,oC (1 atm) 64,50 78, 30 82,30 Berat Jenis (20 oC) 0,792 0,790 0,785 Ujud Warna cair tak berwarana cair tak berwarna cair tak berwarana Aguda (2007) menerangkan bahwa pelarut yang digunak an untuk ekstraksi bahan makanan harus merujuk pada pelarut GRAS yang telah dipulikasikan oleh FDA dan FEMA, sehingga produk yang dihasilkan ama n untuk dimakan. Penggunaan pelarut heksana dan pelarut organik lain yang beracun tidak diperkenankan karena produk yang dihasilkan dikawat irkan masih mengandung atau terkontaminasi oleh pelarut tersebut. Beberapa pelarut yang

14 direkomendasikan untuk ekstraksi nutraceutical (a term combining the words “nutrition” and pharmaceutical”, is a food or food product that provides health and medical benefits) dapat dilihat pada Tabel 2.3. Tabel 2.3. Pelarut yang direkomendasikan oleh FDA dan FEMA (A guda, 2007) Solvent Common Uses in Food Acetic acid curing and pickling agent, flavor enha ncer, flavoring agent Anisole flavoring agent Butyl butyrate flavoring agent 1,3-butylene glycol extraction of natural and synt hetic flavoring Ethanol beverage Ethyl acetate decaffeination of coffee and tea Ethyl benzoate flavoring agent Ethyl butyrate flavoring agent Ethyl decanoate flavoring agent Ethyl formate flavoring agent Ethyl hexanoate flavoring agent Ethyl lactate flavoring agent Ethylene dichloride extraction of oleoresins from spice Glycerin solvent for flavoring agents, emulsifier Glyceryl monooleate flavoring agent, additive in n on-alcoholic beverages Glyceryl palmitostearate formulations use in tablets Isoamyl acetate flavoring agent Isobutyl acetate flavoring agent Isopropyl acetate flavoring agent Isopropyl alcohol extraction of hops and spice Isopropyl citrate solvent for extraction, flavor e nhancer, acidity Lactic acid solvent, flavor enhancer, anti-microbi al agent, acidity Linoleic acid flavoring agent, dietary supplement for heart health Methyl acetate flavoring agent Octanoic Acid Propionic acid flavoring agent flavoring agent, anti-microbial agent, preservative Propyl acetate flavoring agent Stearic acid naturally found in cooking oil Water beverage Ethyl vanillin flavoring agent Limonene flavoring agent

15 2.2. Tinjauan Oleoresin dan Cinnamic Aldehyde 2.2.1. Oleoresin Oleoresin merupakan senyawa polimer yang berbobot m olekul besar dan lebih mudah larut dalam pelarut polar. Senyawa poli mer ini merupakan campuran antara resin dan minyak atsiri yang dapat diekstrak dari berbagai jenis rempah rempah atau hasil samping dari limbah pengolahan re mpah rempah. Rempah rempah tersebut pada umumnya berasal dari buah, biji, daun, kulit maupun rimpang, misalnya jahe, lada, cabe, kapulaga, kunyi t, pala, vanili dan kayu manis . (Sulaswaty, 2002) Jenis-jenis oleoresin yang sudah dikenal antara lai n adalah: Anise oleoresin, Black Pepper oleoresin, Cardamom 8 oleor esin, Celery oleoresin, Capsicum oleoresin, Clove oleoresin, Coriander oleo resin, Cumin oleoresin, Fennel oleoresin, Fenugreek oleoresin, Garlic oleor esin, Ginger oleoresin, Nutmeg oleoresin, Onion oleoresin, Paprika oleoresi n, Rosemary oleoresin, Saffron oleoresin, Turmeric oleoresin dan Vanilla o leoresin. Ekstraksi oleoresin umumnya dilakukan dengan pelaru t organik, misalnya etilen diklhorida, aseton, etanol, metanol, heksan (Somaatmadja, 1981), eter dan isopropil alkohol (Moestofa, 1981). Pemilihan pelar ut yang tepat sangat berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas oleores in yang diperoleh. Pada umumnya ekstraksi oleoresin dilakukan dengan mengh aluskan bahan yang akan diekstrak, kemudian diekstraksi dengan cara perk olasi.. Ekstrak yang tertinggal merupakan oleoresin yang biasanya bercampur dengan minyak, lemak, pigmen dan komponen flavor yang terekstrak dari bahan asal . Oleoresin yang diperoleh merupakan cairan yang kental atau semi padat yang m empunyai karakteristik rasa dan aroma sama dengan bahan asalnya. Oleoresin dari kayu manis apabila diekstrak dengan etanol menghasilkan 10 - 12 % ole oresin dan dengan pelarut benzena menghasilkan 2,.5 – 4,3 %. Selanjutnya, ol eoresin yang diperoleh dapat diencerkan dengan minyak atsiri hasil penyulingan d ari bahan rempah yang sama. Perolehan oleoresin dipengaruhi oleh jenis pelarut dan temperatur dan meningkat dengan meningkatnya temperatur (Purseglove et al., 1981). Menurut Thomas and Duethi (2001), pelarut yang pali ng banyak digunakan untuk ekstraksi oleoresin adalah etanol.

16 2.2.2. Cinnamic Aldehyde Nama lain dari cinnamic aldehyde adalah cinnamaldehyde, cinnamal, 3-phenylpropenal, ß-phenylacrolein dan mempunyai rumus kimia C6H5CH=CHCHO. Cinnamic aldehyde merupakan senyawa yang terdapat dalam kayu manis dan diperoleh dengan mengisolasi minyak kayu manis. Kandungan cinnamic aldehyde dalam minyak kayu manis sekitar 74 %. (Clark, 1991 ) Sifat sifat cinnamic aldehyde ditunjukkan pada Tabel 2.4. Tabel 2.4 . Sifat-sifat fisik Cinnamic Aldehyde (Clark, 1991) Data fisik Cinnamic Aldehyde Warna Jernih, kekuning-kuningan Berat jenis, 25 oC 1,050 Indeks Bias, 20 oC 1,6219 Titik didih, oC 253 Titik Beku, oC -7,5 Titik Nyala, oC 71,0 Berat Molekul 132,16 Kelarutan Sedikit larut dalam air, larut dalam alk ohol, aldehyde, keton, ester, hidro karbon, terpene. Cinammic Aldehyde banyak digunakan sebagai pemberi aroma pada chewing gum, ice cream , permen, dan minuman dengan konsentrasi 9 - 490 0 ppm dan juga digunakan industri parfum (Clark, 1991 ). 2.3. Tinjauan Thermodinamika Menurut Aguda (2007) kelarutan merupakan informasi dasar pada proses ekstraksi dan larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih zat. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam laru tan disebut (zat) terlarut atau solute , sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripad a zat-zat lain dalam larutan disebut pelarut atau solvent. Proses pencampuran zat terlarut dan pelarut membentuk larutan disebut pelarutan atau solvasi. P ada proses pelarutan, molekul

17 komponen-komponen larutan berinteraksi langsung dalam keadaan tercampur dan tarikan antar partikel komponen murni terpecah dan digantikan dengan tarikan antara pelarut dengan zat terlarut. Jika pelarut da n zat terlarut kedua duanya polar, maka akan terbentuk suatu sruktur zat pelaru t mengelilingi zat terlarut; hal ini memungkinkan interaksi antara zat terlarut dan pelarut tetap stabil. Bila interaksi antar molekul komponen-komponen larutan s ama besar dengan interaksi antar molekul komponen-komponen tersebut pada keada an murni, akan terbentuk keadaan ideal yang disebut larutan ideal. Kelaruta n zat padat dalam zat cair dapat dinyatakan dengan persamaan :  -D=gT1T 1RHxlnmeltingfusion22 (2.1) Dimana : γ2 adalah koefisien aktifitas solute x2 adalah fraksi mol solute Hfusion adalah panas peleburan solute, J /mol Tmelting adalah titik leleh , K T adalah temperatur larutan, K R adalah konstanta tetapan gas = 8.314 J/mol-K Pada persamaan (2.1) perbedaan kapasitas panas dari solute dan solvent diabaikan. Jika solute dan solvent keduanya bersifat polar, maka larutan adalah ideal dan persamaan 2.1 dapat diubah menjadi persamaan kelaru tan ideal  -D=T1T 1RHxlnmeltingfusionideal2 (2.2) Kelarutan ideal tergantung pada sifat solute dan tidak tergantung pada sifat pelarut. Dalam memilih jenis pelarut organik, beberapa fakto r perlu diperhatikan antara lain adalah kelarutan zat terlarut dalam pel arut, hidrofobisitas pelarut, reaktivitas pelarut, densitas, viskositas, tekanan permukaan, toksisitas, mudah/tidaknya terbakar, masalah pembuangannya ke l ingkungan, serta masalah biaya. Dari berbagai faktor tersebut yang mendapat perhatian sangat besar adalah masalah hidrofobisitas pelarut. Hidrofobisitas pela rut organik sangat berpengaruh

18 terhadap aktivitas pelarut tersebut dan hidrofobisitas suatu pelarut dapat dinyatakan secara kuantitatif dengan berbagai param eter. Salah satu parameter yang dapat digunakan adalah : parameter kelarutan H ildebrand (δ) yang dapat dinyatakan dalam rumus : )V/)RTH(( mv-D=d (2.3) Parameter kelarutan Hildebrand (δ) adalah sifat dari zat murni yang dinyatakan terhadap energi penguapan (E) dan volume molar (Vm). Untuk zat cair dan zat padat , E = ΔHvaporization – RT (Aguda, 2007). 2.4. Tinjauan Ekstraksi Padat Cair Ekstraksi adalah proses pemisahan satu atau lebih k omponen dari suatu campuran homogen dengan menggunakan pelarut cair ( solvent) sebagai mass separating agent (tenaga pemisah). Proses pemisahan suatu campuran ditentukan melalui seleksi terhadap metoda operasi pemisahan, pelarut, alat pemisah dan kondisi operasi pemisahan. Ekstraksi padat cair ( solid-liquid extraction / leaching) adalah proses pengambilan zat terlarut dalam matrik padat dengan bantuan pelarut cair. Proses ini banyak digunakan dalam industri, d imana proses mekanis atau pemanasan sulit dilakukan untuk memisahkan suatu za t yang dikehendaki seperti pada pemisahan gula dari tebu, oleoresin dalam baha n rempah rempah. Proses pemisahan ini terdiri dari tiga tahap yaitu : difu si pelarut melalui pori pori zat padat, pelarut yang terdifusi untuk melarutkan zat terlarut dan perpindahan larutan dari rongga zat padat kedalam larutan yang ada dilu ar zat padat (Ballard, 2008). Ekstraksi bahan alam seperti kayu manis yang beru pa padatan merupakan proses ekstraksi padat cair, yaitu kontak antara matrik padat dengan pelarut. Menurut Danielski (2007), proses pelepasan zat terl arut dari bahan ke dalam pelarut akan terjadi perpindahan massa dari zat terlarut yang terjebak dalam bahan harus dilepaskan kedalam fluida melalui pro ses pelarutan (leaching). Zat terlarut akan berdifusi melalui pori pori menuju k e permukaan partikel padat. Akhirnya, zat terlarut bergerak melewati lapisan y ang mengelilingi partikel menuju ke fluida. Selama proses ekstraksi, inti b agian dalam akan mengecil dan

19 membentuk batas yang nyata antara bagian dalam (yang belum terekstrak) dan bagian luar (yang telah terekstrak). 2.5. Tinjauan Kinetika dan Mekanisme Proses Ekstraksi Berbagai penelitian dan studi telah dilakukan unt uk menggambarkan kinetika dan mekanisme dari proses ekstraksi, diman a proses ekstraksi padat cair dapat dimodelkan sebagai model orde dua (Sayyar et al., 2009). Proses ekstraksi tersebut merupakan tipikal proses orde dua yang be rlangsung pada dua tahap. Tahapan pertama, sebagian besar zat terlarut diekst rak secara cepat karena scrubbing dan pelarutan yang disebabkan oleh gaya dorong da ri pelarut segar dan kemudian pada proses selanjutnya akan lebih lam bat yang disempurnakan oleh difusi eksternal dari sisa zat terlarut kedala m larutan. Model mekanisme orde dua mempertimbangkan hukum laj u orde dua, dimana pelarutan minyak yang ada dalam bahan padat ke larutan dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut. 2tst)CC(kdtdC-=- (2.4) Dimana : k = konstanta laju ekstraksi orde 2 (L g 1 menit 1) Cs = Konsentrasi minyak pada kondisi saturasi ( g L 1) Ct = Konsentrasi minyak pada t (menit) (g L 1) Kondisi batas : pada t = 0 , maka Ct = 0 dan pada t = t, maka Ct = Ct. Integrasi persamaan (2.4) akan diperoleh : t k C1 t k CCs2st+= (2.5) Bentuk linear persamaan (2.5) adalah s2stC tkC 1C t+= (2.6)

20 Laju ekstraksi dapat ditulis sebagai berikut )C/t()kC/1( 1tCs2st+= (2.7) Jika t = 0 dan laju ekstraksi awal adalah h , maka dari persamaan (2.7) dapat diperoleh 2skCh = (2.8) Dengan memasukkan harga h kedalam persamaan (2.7), diperoleh : stCth 1tC+= (2.9) Bentuk linear dari persamaan (2.9) adalah h 1 t C 1 C tst+= (2.10) Harga h, Cs dan k dapat dihitung secara eksperimental dengan membuat kurva t /Ct versus t menurut persamaan (2.10) Menurut Yang et al. (2009), proses ekstraksi dapat dimodelkan sebaga i model orde 1 dan orde 2. Dari kurva linear diperole h R2 untuk model 1 dan 2 masing masing sebesar 0,70 dan 0,86. Model mekanism e orde satu mempertimbangkan hukum laju orde satu , dimana pela rutan minyak yang ada dalam bahan padat ke larutan dapat dinyatakan dalam rumus sebagai berikut. )CC(kdtdCtst-=- (2.11) Kondisi batas : pada t = 0 , maka Ct = 0 dan pada t = t, maka Ct = Ct. Integrasi persamaan (2.11) akan diperoleh t.kC CClns ts=-- (2.12)

21 2.6. Tinjauan Ultrasonik Ultrasonik, merupakan tekanan suara siklis dengan s ebuah frekuensi yang lebih besar daripada batas atas pendengaran manusia seperti yang terlihat pada Gambar 2.3. Rentang frekuensi ultrasonik adalah 20 kHz - l0 M Hz . Aplikasi ultrasonik pada reaksi kimia disebut sonochemistry. Efek kimia ultrasonik didalam cairan berasal dari beberapa fenomena akust ik non linear, dimana kavitasi adalah yang paling penting. Kavitasi akustik adalah pembentukan, pertumbuhan dan pecahnya gelembung didalam sebuah cairan yang d isinari dengan suara atau ultrasonik. Menurut Cintas and Cravotto (2005), kavitasi merupakan sebuah teknologi dimasa yang akan datang karena mempunyai beberapa kelebihan seperti : mereduksi waktu reaksi/ proses ekstraksi , meningkatkan yield, menggunakan kondisi operasi (temperatur, tekanan) y ang rendah dibandingkan cara konvensional. Gambar 2.3 . Frekuensi suara (Hz) (Cintas and Cravotto, 2005) Gelombang suara (Gambar 2.4) biasanya dinyatakan s ebagai sebuah rangkaian garis vertikal dengan intensitas yang sal ing berhubungan untuk pemisahan atau sebuah gelombang sinus yang berhubun gan dengan amplitudo. Penyinaran ultrasonik pada media cair memberikan ke naikan tekanan akustik (Pa) yang ditambah dengan tekanan hidrostatik (Ph) yang berada dalam media. Tekanan akustik tergantung terhadap waktu menurut p ersamaan :

22 Pa = PA. sin 2 p F t (2.11) Dimana F = gelombang frekuensi (>16 kHz). t = waktu PA = Tekanan amplitudo maksimum. Intensitas digunakan untuk mengukur kekuatan gelom bang bunyi. Jika terdapat suatu bidang datar imajiner tegak lurus ge lombang bunyi, maka daya (P) menyatakan laju besarnya energi gelombang yang mele wati bidang. Intensitas didefinisikan sebagai besarnya daya persatuan luas penampang yang dinyatakan dalam satuan watt/m². I = P / A (2.12) Dimana P = daya (watt) A = luas (m2) Spesifikasi ultrasonic cleaner yang digunakan: Ukuran : 330 mm x 300 mm Daya ultrasonik : 300 watt Frekuensi : 25 / 45 kHz Intensitas : 20 – 100 % Konversi intensitas (watt/m2) pada intensitas 20 % ; 40 % ; 60 % ; 80 % dan 100% ditunjukkan pada Lampiran 7. Gambar 2.4. Pembentukan, pertumbuhan dan pemecahan gelembung kavitasi akustik (Bendicho and Lavilla, 2000).

23 Intensitas gelombang ultrasonik yang merambat akan membawa energi pada suatu luas permukaan per satuan waktu. Jika e nergi gelombang ultrasonik tersebut melalui jaringan, maka akan melepaskan ene rgi kalor sehingga terjadi pemanasan yang mengakibatkan suhu jaringan meningka t dan kemudian menimbulkan efek kavitasi, yaitu pembentukan, pertu mbuhan dan pecahnya gelembung didalam sebuah cairan. Pecahnya gelembung kavitasi tersebut dapat menghasilkan suhu sekitar 5000 oC dan tekanan 2000 atm. Ketika gelembung kavitasi akustik pecah mendekati atau pada permuka an solid , maka permukaan solid tersebut memberikan resistensi terhadap alir an cairan. Hal ini menyebabkan cairan microjet diarahkan terhadap permukaan materi al dengan kecepatan sampai dengan 200m s-1 (Bendicho and Lavilla, 2000).

24 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Rancangan Pemikiran. Proses ekstraksi dengan bantuan gelombang ultrasoni k melibatkan pemilihan pelarut yang cocok seperti pada proses ek straksi konvensional. Oleoresin dari kayu manis merupakan campuran minyak atsiri yang mengandung komponen komponen yang mudah larut dalam pelarut po lar dan resin yang berbobot molekul besar, dimana resin tersebut mudah larut dengan pelarut yang mempunyai titik didih tinggi (pelarut polar). Metan ol, etanol dan isopropil alkohol merupakan pelarut polar dan sekaligus dapat melarut kan kandungan minyak atsiri karena sifat minyak atsiri yang mudah larut dalam p elarut metanol, etanol dan isopropil alkohol. Pemilihan pelarut tersebut dihar apkan dapat menghasilkan yield oleoresin optimal dan pelarut pelarut tersebut dii jinkan untuk mengolah bahan makanan (memenuhi regulasi GRAS-FAME). Meskipun me tanol merupakan pelarut yang tidak diijinkan, tetapi penggunaan met anol akan digunakan sebagai pembanding terhadap kemungkinan adanya pengaruh jum lah atom C dari pelarut. Disamping itu juga akan dilakukan ekstraksi konvens ional (soxhlet) untuk pembanding metoda ekstraksi berbantu ultrasonik. Skema proses ekstraksi oleoresin dengan u ltrasonik adalah sebagai berikut :

25 Gambar 3.1. Skema proses ekstraksi oleoresin Data pembanding Solven Metanol Etanol Isopropil Alkohol Solven Metanol Etanol Isopropil Alkohol Kayu Manis Perlakuan Bahan Ekstraksi Ultrasonik - Ukuran - Penetapan Kadar air Kajian : - Waktu - Intensitas Analisis Ekstrak Cinnamic aldehyde, Oleoresin Optimasi Variabel Kajian : - Waktu oleoresin Ekstraksi Ultrasonik Analisis Variabel Optimal Laju Ekstraksi Koefisien Laju ekstraksi Ekstrak TUJUAN 1 TUJUAN 2 Ekstraksi Konvensional (soxhlet)

26 3.2. Penetapan Variabel dan Optimasi 3.2 1. Percobaan dengan variasi waktu dan intensitas denga n pelarut metanol Tabel 3.1. Run percobaan dengan pelarut metanol RUN Variabel Respon (hasil yang diukur) Hasil Intensitas (%) Waktu (t, menit ) 1 60 11 CA, Oleoresin t optimal 2 22 3 33 4 44 5 55 6 66 7 77 8 88 9 99 10 110 11 121 12 132 13 20 t optimal CA, Oleoresin Intensitas optimal 14 40 15 60 16 80 17 100 CA = Cinnamic Aldehyde Kondisi : Suhu : 30 – 35 oC Tekanan : 1 atm. Ukuran partikel : 0.5 mm Konsentrasi bahan /pelarut : 1 gram / 10 mL Jenis pelarut : metanol

27 3.2 2. Percobaan dengan variasi waktu dan intensitas denga n pelarut etanol Tabel 3.2. Run percobaan dengan pelarut etanol RUN Variabel Respon (hasil yang diukur) Hasil Intensitas (%) Waktu (t, menit ) 1 60 11 CA, Oleoresin t optimal 2 22 3 33 4 44 5 55 6 66 7 77 8 88 9 99 10 110 11 121 12 132 13 20 t optimal CA, Oleoresin Intensitas optimal 14 40 15 60 16 80 17 100 CA = Cinnamic Aldehyde Kondisi : Suhu : 30 – 35 oC Tekanan : 1 atm. Ukuran partikel : 0.5 mm Konsentrasi bahan /pelarut : 1 gram / 10 mL Jenis pelarut : etanol

28 3.2 3. Percobaan dengan variasi waktu dan intensitas denga n pelarut isopropil alkohol. Tabel 3.3. Run percobaan dengan pelarut isopropil alkohol RUN Variabel Respon (hasil yang diukur) Hasil Intensitas (%) Waktu (t, menit ) 1 60 11 CA, Oleoresin t optimal 2 22 3 33 4 44 5 55 6 66 7 77 8 88 9 99 10 110 11 121 12 132 13 20 t optimal CA, Oleoresin Intensitas optimal 14 40 15 60 16 80 17 100 CA = Cinnamic Aldehyde Kondisi : Suhu : 30 – 35 oC Tekanan : 1 atm. Ukuran partikel : 0.5 mm Konsentrasi bahan /pelarut : 1 gram / 10 mL Jenis pelarut : isopropil alkohol

29 3.3. Penetapan Laju Ekstraksi Menggunakan data run 1 sampai run ke n (waktu opti mal) sesuai Tabel 3.1; 3.2 dan 3.3 pada intensitas tetap (60 %) dari mas ing masing pelarut. 3.4. Peralatan dan Bahan a . Peralatan Instrument ultrasonik (Ultrasonic Cleaner - Elma Tr anssonic – TI-H-25 ), Rotavapor (Heidolph, type W1), Gas Chromatography ( GC-Agilent 7890 A, Detektor : FID, Kolom : kapiler HP-5 (5 5-phenyl 0-methylpolysiloxane, nonpolar), Analytical Balance ( Mettler), Oven (Memmert), Grinder (Healthy Mix / DA700-G), Test Si eve 0.5 mm (Retsch), Soxhlet Extractor dan peralatan gelas b. Bahan Tabel 3.4. Spesifikasi bahan percobaan Bahan Kemurnian Supplier Fungsi Kayu manis CV. Surya Persada Bahan baku Etanol 96 % PT. Indo Acidatama Tbk. Solven ekstraksi Isopropil alkohol 99 % Shell Chemicals Solven ekstr aksi Metanol 99 % PT. Indo Acidatama Tbk Solven ekstraksi Cinnamic Aldehyde 99.5 % CV Bangkit Jaya Standart analisa Karl Fischer Reagent (Merck) 5 mg air / mL. KF PT. Merck Indonesia Penetapan kadar air Metanol (Merck) >99,99 % PT. Merck Indonesia Solven penetapan kadar air Semua bahan yang dipakai tidak dilakukan perlakuan lebih lanjut, kecuali bahan penelitian kayu manis.

30 3.5. Prosedur Percobaan a. Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah m etode ektraksi padat cair dengan bantuan ultrasonik, yakni mengamati pe rlakuan variabel waktu dan intensitas untuk mengekstraksi bahan se hingga dihasilkan yield yang optimal dan juga menentukan model laju ekstr aksi b. Preparasi bahan Kulit kayu manis dipotong dengan ukuran ± 2 cm, kem udian dihaluskan dengan grinder hingga halus, serbuk halus kemudian diayak dengan ayakan ( Test Sieve ) ukuran 0.5 mm hingga diperoleh serbuk halus denga n ukuran partikel yang seragam (0.5 mm) .Bahan yang t elah dihaluskan diukur kadar airnya dengan menggunakan Karl Fischer Titrator, sehingga kadar oleoresin dan cinnamic aldehyde dapat dihitu ng berdasarkan berat kering. Disamping itu ditetapkan uji homogenitas ba han dengan mengambil 10 titik pengambilan cuplikan secara ran dom dan cuplikan pada tiap titik diukur kadar air dan kadar cinnamic aldehyde. c. Persiapan ekstraksi dengan ultrasonik Proses ekstraksi dilakukan dengan bantuan ultrasoni k seperti pada Gambar 3.2, dimana bak ultrasonik diisi dengan air yang di campur sedikit detergent. Adanya air dimaksudkan sebagai media gel ombang ultasonik yang akan menembus dinding wadah yang berisi bahan yang akan diekstraksi dan pelarut (Gambar 3.3). Gambar 3.2. Ultrasonic bath (Cintas and Cravotto, 2005) Gambar 3.3. Skema ultrasonic bath (Cintas and Cravotto, 2005)

31 d. Proses Ekstraksi Ekstraksi dengan pelarut metanol : 2.5 gram kayu manis yang telah dihaluskan dan 25 mL. metanol dimasukkan kedalam b otol tutup ulir 100 ml, kemudian dicelupkan dalam tangki ultrasonik yan g berisi air dan detergent. Proses ekstraksi dilakukan pada intensit as tetap (60 %) . Setelah 11 menit, disaring dan filtratnya diambil c ontoh sebanyak 2 mL untuk penetapan kadar cinamaldehyde dengan menggun akan GC. Sisa filtrat diuapkan dengan oven untuk mengetahui kada r oleoresin. Langkah selanjutnya diulangi sesuai dengan Run 1 s eperti pada Tabel 3.1 dengan perlakuan ekstraksi pada berbagai interval w aktu untuk menentukan waktu optimal. Setelah diperoleh waktu o ptimal, langkah selanjutnya sesuai dengan Run 1 seperti pada Tabe l 3.1 dengan perlakuan ekstraksi pada berbagai interval intensitas untuk m enentukan intensitas optimal Ekstraksi dengan pelarut etanol : ulangi percobaan ekstraksi tersebut diatas dengan menggunakan solven etanol sesuai deng an Tabel 3.2. Ekstraksi dengan pelarut isopropil alkohol: ulangi percobaan ekstraksi tersebut diatas dengan menggunakan solven Isopropil alkohol sesuai dengan Tabel 3.3. e. Analisa kadar cinnamic aldehyde Kadar cinamic aldehyde ditetapkan dengan GC. f. Analisa kadar Oleoresin. Kadar oleoresin dtetapkan dengan oven g. Pemekatan ekstrak Ekstrak dipekatkan dengan rotavapor sehingga dipe roleh larutan pekat (oleoresin). h. Ekstraksi pembanding. Ekstraksi bahan dengan ratio konsentrasi bahan/pela rut yang sama dengan ekstraksi berbantu ultrasonik. Percobaan dilakukan dengan cara menimbang 5 gram serbuk kayu manis diekstraksi deng an soxhlet

32 ekstraktor menggunakan pelarut metanol, etanol dan isopropil alcohol masing masing sebanyak 50 mL. Ekstraksi dihentikan ketika warna larutan yang pada tabung ekstraktor menjadi tidak berwarna . Waktu ekstraksi untuk masing masing pelarut adalah 8 jam. 3.6. Pengolahan Data Dilakukan secara deskriptif, dimana produk oleoresin dibandingkan te rhadap tiga pelarut yang digunakan (metanol, etanol dan i so propil alkohol) dengan variabel waktu dan intensitas. 3.7. Prosedur analisa a. Penetapan kadar cinnamic aldehyde. Ditetapkan dengan menggunakan instrument Gas Chrom atography dengan kondisi operasi sebagai berikut : Kolom : kapiler HP-5 (5 5-phenyl0-methylpolysiloxan e, nonpolar) ; 30 m x 320 mm x 0.25 mm Carier : gas hidrogen UHP (Ultra High Purity); flo w rate 7,8 mL/min ; Constant flow. Temp. Oven : 130 – 160 oC at 5 oC /min for 0 min 160 – 200 oC at 5 oC /min for 3 min Injector : split, 225 oC split ratio 15 : 1 Detector : FID (Flame Ionized Detector), 250 oC Sample : 1 mL Std. : Cinnamic Aldehyde (kemurnian 99,5 %) Internal std. : Methyl Benzoate (kemu rnian 99,5 %) b. Penetapan kadar Oleoresin Ditetapkan dengan cara menguapkan pelarut dalam l arutan yang diperoleh dari proses ekstraksi menggunakan oven pada suhu 10 5 oC, hingga tidak

33 tercium bau pelarut. Perhitungan kadar oleoresin dengan memperhitungkan larutan (2 mL.) yang digunakan untuk penetapan kada r cinnamic aldehyde. c. Penetapan kadar air Ditetapkan dengan Karl Fischer Titrator dengan meni mbang 2 gram bahan yang telah dihaluskan dan ditambah 25 mL pelarut Me tanol (Merck). Bahan -bahan tersebut dimasukkan dalam erlenmeyer bertutup dan di gojok selama 1 jam. Filtrat sebanyak 1 mL dititrasi dengan Karl Fi scher Reagent hingga titik akhir titrasi. Hitung kadar air bahan.

34 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis dan Persiapan Bahan Baku Bahan baku yang digunakan untuk penelitian ini adal ah kayu manis yang sebelumnya telah digiling halus (lolos ayakan 0.5 m m). Proses penghalusan bahan merupakan proses mereduksi ukuran partikel yang dim aksudkan untuk memperbesar luas permukaan kontak dengan pelarut se lama proses ekstraksi. Disamping itu dilakukan analisis untuk memastikan homogenitas dari bahan yang digunakan (Tabel 4.1). Pada penelitian ini juga dip erhitungkan kecukupan bahan sehingga mencukupi kebutuhan seluruh run proses percobaan. Bahan yang telah dihaluskan disimpan dalam wadah tertutup untuk meng hindari perubahan kadar air. Analisis bahan untuk penelitian disajikan pada Tabel 4.1. Tabel 4.1. Kadar air dan cinnamic aldehyde dalam kayu manis NO. Kadar air (%) Cinnamic Aldehyde (%) 1 10,37 3,30 2 10,39 3,29 3 10,40 3,24 4 10,46 3,45 5 10,25 3,42 6 10,43 3,32 7 10,33 3,41 8 10,39 3,38 9 10,25 3,36 10 10,41 3,37 Rata2 10,37 3,35 STDEV 0,07 0,06

35 Dari hasil analisa kayu manis diperoleh tingkat homogenitas yang cukup homogen dan terlihat dari nilai standar deviasi ya ng kecil. 4.2. Pemilihan Pelarut Pemilihan pelarut merujuk pada Generally Recognized as Safe (GRAS) dan Flavor and Extract Manufacturing Association (FEMA) (Aguda, 2007) dan untuk percobaan ini ditetapkan metanol, etanol dan isopro pil alkohol sebagai pelarut ekstraksi. Metanol merupakan pelarut yang tidak dir ekomendasi oleh GRAS – FEMA, tetapi untuk percobaan ini digunakan sebagai pembanding sejauh mana jumlah atom C berpengaruh terhadap hasil ekstraksi. Pemilihan pelarut dapat juga menggunakan parameter kelarutan Hildebrand ( δ). Dengan menggunakan persamaan 2.3 dan data ΔHvaporization, density, berat molekul dari metanol, etanol, isopropyl alkohol , air (Lide, 2006), ΔHvaporization, density, berat molekul dari ciinamic aldehyde (Hazra et al., 2001) maka dapat dihitung nilai parameter kelarutan dari masing masing zat tersebut seperti yang terlihat pada Tabel 4.2. Tabel 4.2 . Parameter kelarutan Hildebrand (δ ) beberapa pelarut. Berdasarkan nilai parameter kelarutan Hildebrand, m etanol merupakan pelarut yang lebih polar dibandingkan etanol dan is opropil alkohol. Oleoresin dapat larut dalam metanol, etanol dan isopropil alk ohol karena oleoresin merupakan senyawa polimer yang berbobot molekul bes ar yang lebih mudah larut dalam pelarut yang bersifat polar (Sulaswaty, 2002) . Bahan BM gram/mol Density gram/cm3Vm mol/cm3∆ Hvap J/molT K R J/mol.Kd J1/2.cm-3/2d cal1/2.cm-3/2Metanol 32,04 0,786640,73237430 2988,31429,2914,31Etanol46,070,78858,464423202988,31426,1112,76Isopropil Alkohol60,1 0,786 76,4631 45390 298 8,314 23,69 11,58Air 18 0,997 18,054 43990 298 8,314 47,95 23,43Cinnamic Aldehyde132,16 1,05 125,867 52630 298 8,314 19,96 9,75

36 4.3. Pengaruh Waktu Ekstraksi Ultrasonik pada Intensita s Tetap (60 %) 05101520250 11 22 33 44 55 66 77 88 99 110 121 132 143Waktu (menit)Oleo res in (%)Solven met anolSolven et anolsolvent isop rop il alkohol Gambar 4.1 . Pengaruh waktu batch terhadap oleoresin yang dih asilkan. 0,000,501,001,502,002,503,003,504,000 11 22 33 44 55 66 77 88 99 110 121 132 143Waktu (menit)C in n amic A ld eh yd e (%)Solven met anolSolven et anolsolvent isop rop il alkohol Gambar 4.2 . Pengaruh waktu batch terhadap cinnamic aldehyde yang dihasilkan.

37 Gambar 4.1. dan 4.2. menunjukkan bahwa hasil oleoresin dan cinnamic aldehyde cenderung semakin besar seiring dengan semakin lam anya waktu ekstraksi. Dari kedua gambar tersebut diperoleh wa ktu optimal 66 menit, untuk mendapatkan yield oleoresin dan cinnamic aldehyde optimal. Pada waktu ekstraksi lebih dari 66 menit, produk ol eoresin maupun cinnamic aldehyde relatif tidak menunjukkan adanya perubahan. Oleore sin yang dihasilkan dari ekstraksi dengan menggunakan pelaru t metanol, etanol dan isopropil alkohol masing masing sebesar 23,33 % ; 17,96 % dan 14,.52 % , sedangkan cinnamic aldehyde yang dihasilkan dari ekstraksi dengan menggunakan pelarut metanol, etanol dan isopropil a lkohol masing masing sebesar 3,38 % ; 3,10 % dan 2,34 %. Hasil penelit ian ini menunjukkan bahwa produk oleoresin dan cinnamic aldehyde akan semakin besar , apabila digunakan pelarut yang lebih polar dan hal ini telah dibuktik an pada penelitian terdahulu dimana ekstraksi oleoresin yang menggunakan pelarut metanol dan etanol menghasilkan oleoresin masing masing sebesar 21,77 % dan 14,88 % (Sulaswaty, 2002). Hal lain yang tercermin pada percobaan ini a dalah adanya kecenderungan semakin kecil jumlah atom C yang terikat dalam pela rut akan memberikan produk oleoresin maupun cinnamic aldehyde semakin besar juga. 4.4. Pengaruh Intensitas Ekstraksi Ultrasonik pada Wa ktu Optimal (66 menit). Gambar 4.3 dan 4.4. menunjukkan bahwa pengaruh int ensitas terhadap produk oleoresin tidak memberikan perubahan yang be rarti pada penggunaan ketiga pelarut (metanol, etanol dan isopropil alkoh ol), akan tetapi memberikan perbedaan yang cukup berarti terhadap produk cinnam ic aldehyde yang menggunakan pelarut isopropil alkohol. Gambar 4.4 m enunjukkan bahwa pada intensitas rendah dihasilkan produk cinnamic aldehy de yang lebih besar pada penggunaan pelarut metanol, etanol dan isopropil al kohol. Oleoresin yang dihasilkan dari ekstraksi dengan men ggunakan pelarut metanol, etanol dan isopropil alkohol pada waktu 66 menit dan intensitas 20 % masing masing sebesar 22,86 % ; 17,87 % dan 14,64 % , sedangkan cinnamic

38 aldehyde yang dihasilkan dari ekstraksi dengan menggunakan pelarut metanol, etanol dan isopropil alkohol masing masing sebesar 3,33% ; 3,37 % dan 3,10 %. Dari Gambar 4.3 dan Gambar 4.5, terlihat bahwa prod uk oleoresin dan produk resin (oleoresin – cinnamic aldehyde) tidak menunjukkan perubahan berarti terhadap perubahan intensitas. 024681012141618202224260 20 40 60 80 100 120Inte ns itas (%)Oleoresin (%)solven M et anolsolven Et anolsolven Isop rop il Alkohol Gambar 4.3 . Pengaruh intensitas batch terhadap oleoresin yan g dihasilkan. 0,00,51,01,52,02,53,03,54,00 20 40 60 80 100 120Inte nsitas (% )Cinnamic Aldehyde (%)solven M etanolsolven Etanolsolven Isop rop il Alkohol Gambar 4.4 . Pengaruh intensitas batch terhadap cinnamic aldehyde yang dihasilkan.

39 024681012141618202224260 20 40 60 80 100 120Inte ns itas (%)Oleoresin -Cinnamic Aldehyde (%)solven M et anolsolven Et anolsolven Isop rop il Alkohol Gambar 4.5 . Pengaruh intensitas batch terhadap oleoresin - cinnamic aldehyde yang dihasilkan. Pada intensitas rendah dihasilkan produk cinnamic a ldehyde yang lebih besar pada penggunaan pelarut metanol, etanol dan i sopropil alkohol. Menurut Santos et al. (2009), hal ini disebabkan terjadi pembentukan gelembung kavitasi paling besar pada intensitas 20 %. Ketika gelembung pecah dekat dengan dinding sel maka akan terbentuk gelombang kejut dan pancara n cairan (liquid jets ) yang akan membuat dinding sel pecah. Pecahnya dinding s el akan membuat komponen di dalam sel keluar bercampur dengan larutan. Santos et al. (2009) menjelaskan bahwa untuk mencapai ambang ka vitasi digunakan intensitas minimum dan berarti bahwa inte nsitas tinggi tidak dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Intensitas tinggi biasanya digunakan untuk larutan dengan viskositas tinggi. P enggunaan intensitas tinggi untuk larutan encer akan memberikan dampak yang me rugikan yaitu kerusakan piranti transducer ultrasonik. Hasil percobaan menghasilkan oleoresin (alkohol eks trak) yang lebih tinggi dibandingkan komposisi kimia kayu manis sepe rti yang terlihat pada Tabel 2.1. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kondisi ta naman yang merupakan produk alam sehingga mutu produk bervariasi tergant ung faktor alam (antara lain : cuaca, kandungan unsur hara) dan juga pemupukan.

40 4.5. Kinetika Proses Ekstraksi 01234560 10 20 30 40 50 60 t (menit)-ln (Cs-Ct)/CsSolven MetanolSolven EtanolSolven IPAModel untuk Solven MetanolModel untuk Solven EtanolModel untuk Solven IPA Gambar 4.6. Uji model ekstraksi orde 1 terhadap hasil percoba an 024681012140 10 20 30 40 50 60 70 t (menit)t/CtSolven MetanolSolven EtanolSolven IPAModel untuk Solven MetanolModel untuk Solven EtanolModel untuk Solven IPA Gambar 4.7. Uji model ekstraksi orde 2 terhadap hasil percobaa n

41 Tabel 4.3. Persamaan linear laju ekstraksi orde 1 dan 2 Pelarut ekstraksi Persamaan linear R2 Orde 1 Orde 2 Orde 1 Orde 2 Metanol Y= 0,0976 X Y = 0,106 X + 0,115 -2,255 0,9998 Etanol Y= 0,0789X Y = 0,1359 X + 0,325 -0,6748 0,9989 Isopropil Alkohol Y= 0,0889 X Y = 0,1686 X + 0,319 -0,0764 0,9993 Percobaan dilakukan dengan mensimulasikan proses ekstraksi kayu manis dengan menggunakan model orde satu dan orde dua. Da ri Gambar 4.7 terlihat bahwa proses ekstraksi kayu manis memenuhi model re aksi orde 2 dan ditunjukkan dari R2 yang nilainya mendekati 1. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Sayyar et al. (2009) yaitu ekstraksi minyak dari Jatropha seeds selama 8 jam dengan pelarut heksana dan petroleum eter . Hasil percobaan dimodelkan sebagai model orde 2 dan memb erikan kurva linear dengan R2 =0,9996. Dari persamaan linear laju ekstraksi orde 2 (Tabel 4.3) diperoleh nilai k (konstanta laju ekstraksi) dari p enggunaan pelarut metanol, etanol, isopropil alkohol masing-masing sebesar 0,0 98 , 0,057 , dan 0,089. Dari nilai k tersebut dapat dinyatakan bahwa laju ekstra ksi dengan pelarut metanol dan isopropil alkohol berjalan lebih cepat dibandingka n penggunaan pelarut etanol. Yang et al. (2009) melakukan penelitian ekstraksi xylan dari j agung berbantu ultrasonik dan dimodelkan sebagai model or de 1 dan orde 2. Dari kurva linear diperoleh R2 untuk model 1 dan 2 masing masing sebesar 0,70 dan 0,86. Hal yang sama juga ditunjukkan pada ekstraksi kayu manis berbantu ultrasonik yang dimodelkan sebagai model orde 1 (Gambar 4.6), ternyata memberikan nilai R2 yang kurang bagus (Tabel 4.3.).

42 4.6. Ekstraksi Ultrasonik Dibandingkan dengan Ekstraksi Soxhlet Tabel 4.4. Perbandingan hasil ekstraksi ultrasonik dan soxhl et Pelarut Titik didih oC Tahap Oleoresin, % Cinnamic aldehyde, % Ultrasonik Soxhlet Ultrasonik Soxhlet Ultrasonik Soxhlet metanol 64,5 - 11 kali 22,86 23,11 3,33 3,21 etanol 78,3 - 10 kali 17,87 16,86 3,37 3,12 IPA 82,3 - 8 kali 14,64 13,59 3,10 3,08 IPA = iso propil alkohol Dari Tabel 4.4 terlihat bahwa ekstraksi berbantu u ltrasonik memberikan hasil yang sedikit lebih besar dibandingkan dengan cara soxhlet, kecuali kadar oleoresin dari ekstraksi berbantu ultrasonik yang m enggunakan pelarut metanol sedikit lebih kecil dibandingkan dengan ekstraksi s oxhlet. Hasil percobaan ini selaras dengan percobaan ekstraksi berbantu ultraso nik yang telah dilakukan oleh Yang et al. (2009), Rouhani et al. (2009) dan Zhang et al. (2009), dimana ekstraksi dengan ultrasonik menghasilkan yield rela tip lebih besar dan waktu lebih cepat dibandingkan metoda konvensional.

43 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan . Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat di simpulkan bahwa ekstraksi oleoresin dari kayu manis berbantu ultras onik dapat dijadikan metoda alternatif karena hasil yang diperoleh tidak berbe da nyata dibandingkan metoda terdahulu dan waktu ekstraksi optimal adalah 66 men it , yang mana lebih cepat bila dibandingkan dibandingkan metoda konvensional yang membutuhkan waktu 8 jam, sehingga biaya operasional menjadi lebih mur ah. Intensitas rendah tidak berpengaruh terhadap hasil oleoresin dan cinnamic aldehyde, tetapi pada penggunaan pelarut isopropil alkohol memberikan pengaruh yang cukup berarti terhadap hasil cinnamic aldehyde. Intensitas 20 % dipilih sebagai intensitas optimal karena dihasilkan produk oleoresin dan cinnamic aldehyde yang paling besar. Kinetika proses ekstraksi dapat dimodelkan sebagai model orde satu dan orde dua, dan dari penelitian ini diperoleh hasil yang lebih baik apabila digunakan model orde dua. Penggunaan pelarut metano l memberikan nilai R2 yang paling baik yaitu 0,9998 dan k (konstanta l aju ekstraksi) yang paling besar yaitu 0,098. Dasar pemilihan pelarut untuk proses ekstraksi tida k hanya berdasarkan kemampuan pelarut tersebut dalam mengekstraksi baha n untuk menghasilkan yield tinggi, tetapi juga harus mempertimbangkan regulasi FDA yang tidak mengijinkan bahan berbahaya bagi kesehatan digunaka n untuk proses produk makanan. Dari penelitian ini, pelarut etanol dan isopropil a lkohol dipilih sebagai pelarut yang akan digunakan untuk ekstraksi kayu ma nis, meskipun metanol memberikan hasil ekstraksi yang terbaik (Tabel 4.4) dibandingkan pelarut etanol dan isopropil alkohol. Hal ini disebabkan karena me tanol merupakan bahan kimia berbahaya yang tidak direkomendasikan oleh FDA.

44 5.2. Saran. Dari hasil penelitian ini, teknik ekstraksi berbant u ultrasonik perlu dikembangkan lebih lanjut baik dari aspek bahan yan g diekstraksi maupun untuk keperluan perancangan alat proses ekstraksi pada sk ala produksi. Perlu adanya penelitian lanjutan yang menggunakan p elarut selain etanol dan isoropil alkohol dengan merujuk regulasi GRAS - FEMA. Perlu dilakukan kajian ekstraksi berbantu ultrasoni k dengan pemanasan pada titik didih pelarut.

45 BAB VI RINGKASAN Latar belakang penelitian, perumusan masalah, tuju an penelitian, dan manfaat penelitian disajikan dalam Bab I. Latar be lakang penelitian berisi perihal tentang asal usul kayu manis dan potensi ka yu manis di Indonesia untuk diolah menjadi oleoresin sehingga diperoleh nilai t ambah yang lebih besar. Proses ekstraksi kayu manis menjadi oleoresin berbantu ul trasonik merupakan teknik ekstraksi yang memiliki kelebihan dibandingkan pro ses konvensional. Disamping itu juga dijelaskan pelarut yang diijinkan untuk p roduk makanan sesuai dengan regulasi FDA. Perumusan masalah menyajikan permasal ahan permasalahan tentang kajian waktu ekstraksi, polaritas pelarut s ehingga perlu dilakukan ekstraksi dengan bantuan ultrasonik. Tujuan penelit ian terdiri atas penentuan waktu optimal dan intensitas optimal ekstraksi berb antu ultrasonik yang menggunakan metanol, etanol, dan isopropil alkohol. Disamping itu juga tujuan penelitian untuk menentukan model laju ekstraksi ul trasonik. Manfaat penelitian menyajikan hal hal tentang informasi teknik ekstrak si berbantu ultrasonik, nilai tambah produk dan juga pemanfaatan model laju ekstr aksi untuk desain ekstraktor. Bab II menyajikan pustaka yang berhubungan dengan t opik penelitian, yang berisi tinjauan tentang bahan baku, produk yan g dihasilkan, pelarut, thermodinamika, ektraksi padat cair, kinetika dan m ekanisme proses ekstraksi, dan ultrasonik. Metodologi penelitian yang disampaikan dalam Bab II I meliputi rancangan penelitian, penetapan variabel dan optima si, peralatan dan bahan, prosedur percobaan, pengolahan data, dan prosedur a nalisa yang disajikan secara singkat, jelas dan terperinci. Bab IV meliputi hasil dan pembahasan yang terdiri atas analisis dan persiapan bahan baku, pemilihan pelarut, pengaruh w aktu ekstraksi ultrasonik pada intensitas tetap, pengaruh intensitas ekstraks i ultrasonik pada waktu tetap,

46 ekstraksi konvensional dibandingkan ekstraksi ultrasonik, dan kinetika dan mekanisme proses ekstraksi. Kesimpulan dan saran disampaikan pada Bab. V yaitu ekstraksi oleoresin dari kayu manis berbantu ultrasonik dapat dijadikan metoda alternatif ,metanol merupakan pelarut yang terbaik dari ketiga pelarut yang digunakan, terlihat dari hasil ekstraksi oleoresin yang paling besar yaitu 2 2,86 % tetapi metanol tidak dipilih sebagai pelarut karena berbahaya dan tidak sesuai dengan regulasi GRAS- FEMA. Dari penelitian ini, pelarut etanol dan isopr opil alkohol dipilih sebagai pelarut yang akan digunakan untuk ekstraksi kayu ma nis. Kinetika proses ekstraksi dapat dimodelkan sebagai model orde satu dan orde dua, dan dari penelitian ini diperoleh hasil yang lebih baik apab ila digunakan model orde dua. Penggunaan pelarut metanol memberikan nilai R2 yang paling baik yaitu 0,9998 dan k (konstanta laju ekstraksi) yang paling besar yaitu 0,098.

47 DAFTAR PUSTAKA Abdullah, A., (1990), Kemungkinan Perkembangan Tiga Jenis Kayu Manis di Indonesia, dalam Tanaman Industri Lainnya, Prosiding Simposium I Hasil Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri , hal..1231-1244. Aguda, R.M., (2007), Modeling the Solubility of Sc lareol in Organic Solvent Using Solubility Parameter, North Carolina American Journal of Applied Sciences 6 (7), pp. 1390-1395. Araar, H., (2009), Cinnamon Plant Extracts: A Comp rehensive Physico-Chemical and Biological Study for Its Potential Use as A Bio pesticide, Master Thesis , Istituto Agronomico Mediterraneo di Bari, Algeria , Ballard, T. S., (2008), Optimizing the Extraction o f Phenolic Antioxidant Compounds from Peanut Skins, Dissertation, the Faculty of Virginia Polytechnic Institute and State University, Blacksb urg, VA Bendicho, C. and Lavilla, I., (2000), Ultrasound Extractions, QuO & mica, Spain, pp. 1448-1453 Church, A.S.and Witting,M.D., (1997), Laboratory Te sting in Ethanol, Methanol, Ethylene Glycol and Isopropanol, Journal of Emergen cy Medical, 15, pp. 687-692 Cintas, P. and Cravotto, G., (2005), Power Ultrasou nd in Organic Synthesis: Moving Cavitational Chemistry from Academia to Inno vative and Large-Scale Applications, The Royal Society Journal of Chemistry (35), pp. 180-196, Clark, G.S, (1991), An Aroma Chemical Profile, Cinnamic Aldehyde , Commodity Sevices International Inc., Maryland, pp. 25-30. Danielski, L., (2007), Extraction and Fractionation of Natural Organic Compounds from Plant Materials with Supercritical C arbon Dioxide, Dissertation , Technischen Universität Hamburg, Harburg. Hazra, A., Dollimore, D. and Alexander, K., (2001), Thermal Analysis of the Evaporation of Compound Used in Aromatherapy Using Thermogravimetry, thermochimica acta, pp. 221-229. Heyne, K., (1987), Tumbuhan Berguna Indonesia II , edisi 2, Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta, Hal. 795-800. Lide, D.R., (2006), Handbook of chemistry and Physics, 86Th edition, CRC Press, pp. 3-118, 3-232, 3-442, 4-98, 6-96 - 6-99. Moestafa, A., (1981), Aspek Teknis Pengolahan Rempa h-Rempah Menjadi Oleoresin dan Minyak Rempah-Rempah, Makalah di dalam Hasil Perumusan dan Kumpulan Kertas Kerja Pekan Pengemban gan Ekspor Rempah-rempah Olahan di Tanjung Karang, Lampung. Perry, R.H. and Green, D.W., (1997), Chemical Engineers Handbook, Seventh Edition,Mc Graw Hill, pp. 18-1 – 18-116.

48 Potter, L. and Lee, J., (1998), Tree Planting in Indonesia : Trends, Impact and Derection, Cifor Occasional Paper , 18, pp. 38-39 Purseglove, J.W., Brown, E.G., Green, C.L. and Robb ins, S.R.J., (1981), Cinnamon and Cassia in Spices , Volume 1 (439), pp.. 100-173. Rouhani, S., Alizadeh, N., Salimi, S. and Ghasemi, T.H., (2009), Ultrasonic Assisted Extraction of Natural Pigments from Rhizom es of Curcuma Longa L., Journal of Progress in Color, Colorants and Coatings, 2, pp.103-113 Rusli, S. dan Abdullah A., (1988), Prospek Pengemba ngan Kayu Manis di Indonesia, Jurnal Litbang Pertanian , VIII (3), hal. 75-79. Santos, H.M., Lodeiro, C., Martinez, J.L.C., (20 09), The Power of Ultrasound, Ultrasound in Chemistry , WILEY-VCH Verlag GmbH & Co. KGaA, Weinheim pp.1-4 Sayyar, S.,Abidin, Z.Z., Yunus, R. dan Muhammad,A. , (2009), Extraction of Oil from Jatropha Seeds-Optimization and Kinetics, American Journal of Applied Sciences 6 (7), pp. 1390-1395. Somaatmadja, D., (1981), Prospek Pengembangan Indus tri Oleoresin di Indonesia“, Makalah di dalam Hasil Perumusan dan Kumpulan Kerta s Kerja Pekan Pengembangan Ekspor Rempah-rempah Olaha n di Tanjung Karang, Lampung. Sudiarto, A., Ruhnayat dan Muhammad, H., (1989), Ta naman Kayu Manis, Jurnal Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat . Sulaswaty, A., (2002), Proses Ekstraksi dan Pemurni an Bahan Pewangi dari Tanaman Indonesia, Ristek - Data riset, Pusat Penel itian Kimia – LIPI. Sundari, E., (2001), Pengambilan minyak atsiri dan oleoresin dari kulit kayu manis, ITB Central Library, Ganesha, Bandung. Tan, H.L., (1981), Mengenal Macam-Macam Bentuk Remp ah-Rempah Olahan, Keistimewaan dan Manfaatnya, Makalah di dalam Hasil Perumusan dan Kumpulan Kertas Kerja Pekan Pengembangan Ekspor Rem pah-rempah Olahan di Tanjung Karang, Lampung . Thomas, J. and Duethi, P.P., (2001), Cinnamon Handbook of Herbs and Spices . CRC Press, New York, pp.143-153 Yang, W., Ajapur, V.K., Krishnamurthy, K., Feng, H. , Yang, R., Rababah, T.H., (2009), Expedited Extraction of Xylan from Corncob by power ultrasound., International Journal Agric. & Biol. Eng. , 2(4), pp.76-83. Zhang,L., Shan, Y., Tang,K., Putheti,R., (2009), Ul trasound-Assisted Extraction Flavonoids from Lotus (Nelumbo nuficera Gaertn) Lea f and Evaluation of Its Anti-Fatigue Activity, International Journal of Physical Sciences, Vol. 4 (8), pp. 418-422,

49 LAMPIRAN Lampiran 1. Perhitungan parameter kelarutan Hildebrand Bahan BM gram/mol Density gram/cm3 Vm mol/cm3 ∆Hvap J/mol T K R J/mol.K d J1/2.cm-3/2 d cal1/2.cm-3/2 Metanol 32,04 0,7866 40,732 37430 298 8,314 29,29 1 4,31 Etanol 46,07 0,788 58,464 42320 298 8,314 26,11 12, 76 Isopropil Alkohol 60,1 0,786 76,4631 45390 298 8,314 23,69 11,58 Air 18 0,997 18,054 43990 298 8,314 47,95 23,43 Cinnamic Aldehyde 132,16 1,05 125,867 52630 298 8,314 19,96 9,75 Dengan menggunakan rumus tersebut dibawah ini dapat dihitung parameter kelarutan Hildebrand dari masing masing zat seperti terlihat pada tabel diatas Lampiran 2. Perhitungan kadar oleoresin dan cinnamic aldehyde (intensitas 60%) Solven Waktu menit Berat Sample gram KA % Berat wadah kosong gram Berat wadah kosong + oleoresin gram % oleoresin Cinnamic Aldehyde mg/2 mL % Cinnamic Aldehyde Metanol 11 2,5231 10,97 27,1575 27,6200 22,38 5,65 3,15 11 2,5007 10,97 27,2622 27,7074 21,74 5,43 3,05 22,06 3,10 22 2,5221 10,97 27,3064 27,7693 22,41 5,91 3,29 22 2,5039 10,97 28,3231 28,7801 22,28 5,68 3,19 22,35 3,24 33 2,5075 10,97 27,9822 28,4549 23,02 5,77 3,23 33 2,5138 10,97 31,3390 31,8000 22,39 6,09 3,40 22,70 3,32 44 2,5087 10,97 27,7351 28,2082 23,02 6,03 3,37 44 2,5093 10,97 27,4533 27,9245 22,93 6,10 3,41 22,97 3,39

50 Solven Waktu menit Berat Sample gram KA % Berat wadah kosong gram Berat wadah kosong + oleoresin gram Oleoresin % Cinnamic Aldehyde mg/2 mL Cinnamic Aldehyde % Metanol 55 2,5261 10,97 22,7397 23,2132 22,88 6,13 3,41 55 2,5095 10,97 21,9150 22,3921 23,21 5,87 3,29 23,05 3,35 66 2,5176 10,97 22,4976 22,9845 23,61 6,18 3,45 66 2,5101 10,97 22,3264 22,8001 23,04 5,94 3,32 23,33 3,38 77 2,5074 10,97 33,8589 34,3405 23,45 6,06 3,39 77 2,5072 10,97 28,0230 28,4974 23,10 6,06 3,39 23,28 3,39 88 2,5167 10,97 27,5243 28,0071 23,42 6,09 3,39 88 2,5243 10,97 27,4879 27,9673 23,19 6,08 3,38 23,30 3,39 99 2,5021 10,97 27,9767 28,4565 23,41 5,93 3,32 99 2,5017 10,97 28,3174 28,7951 23,31 6,00 3,37 23,36 3,35 110 2,5027 10,97 27,2569 27,7337 23,26 6,00 3,36 110 2,5118 10,97 27,7297 28,2101 23,35 5,98 3,34 23,31 3,35 121 2,5049 10,97 27,3006 27,7802 23,38 5,99 3,36 121 2,5113 10,97 31,3336 31,8133 23,32 6,09 3,41 23,35 3,38 132 2,5061 10,97 27,4479 27,9301 23,49 6,01 3,37 132 2,5011 10,97 27,1518 27,6269 23,19 5,96 3,35 23,34 3,36 Etanol 11 2,5515 10,97 27,3092 27,6445 16,04 4,18 2,30 11 2,5026 10,97 22,7379 23,0634 15,88 4,35 2,44 15,96 2,37 22 2,5031 10,97 27,8999 28,2543 17,29 4,72 2,65 22 2,5108 10,97 22,2480 22,5773 16,01 4,55 2,54 16,65 2,60 33 2,5075 10,97 22,4971 22,8410 16,74 5,17 2,90 33 2,5249 10,97 21,9138 22,2607 16,77 5,25 2,92 16,76 2,91 44 2,5180 10,97 27,8144 28,1710 17,29 5,37 2,99 44 2,5060 10,97 28,0239 28,3746 17,09 5,46 3,06 17,19 3,03

51 Solven Waktu menit Berat Sample gram KA % Berat wadah kosong gram Berat wadah kosong + oleoresin gram Oleoresin % Cinnamic Aldehyde mg/2 mL Cinnamic Aldehyde % Etanol 55 2,5134 10,97 27,1670 27,5261 17,44 5,42 3,03 55 2,5070 10,97 27,7351 28,0997 17,76 5,31 2,97 17,60 3,00 66 2,5036 10,97 29,3364 29,7051 17,98 5,58 3,13 66 2,5163 10,97 27,4880 27,8577 17,94 5,51 3,07 17,96 3,10 77 2,5185 10,97 27,8131 28,1857 18,06 5,43 3,03 77 2,5064 10,97 27,5249 27,8895 17,76 5,53 3,10 17,91 3,06 88 2,5055 10,97 27,4876 27,8519 17,75 5,43 3,04 88 2,5171 10,97 27,7344 28,1093 18,18 5,62 3,13 17,97 3,09 99 2,5198 10,97 27,4521 27,8169 17,68 5,52 3,07 99 2,5196 10,97 27,1558 27,5293 18,10 5,44 3,03 17,89 3,05 110 2,5114 10,97 22,3244 22,6912 17,83 5,45 3,04 110 2,5176 10,97 27,3052 27,6715 17,76 5,52 3,08 17,80 3,06 121 2,5263 10,97 27,9815 28,3544 18,02 5,66 3,14 121 2,5465 10,97 29,3359 29,7108 17,97 5,49 3,03 18,00 3,09 132 2,5270 10,97 33,8586 34,2313 18,01 5,46 3,04 132 2,5093 10,97 31,3515 31,7178 17,82 5,46 3,06 17,91 3,05 IPA 11 2,5370 10,97 9,3299 9,6102 13,49 2,37 1,31 11 2,5087 10,97 9,4074 9,6690 12,73 2,15 1,20 13,11 1,26 22 2,5067 10,97 9,3060 9,5649 12,61 2,14 1,20 22 2,5081 10,97 9,4481 9,7530 14,84 2,45 1,37 13,73 1,29 33 2,5041 10,97 9,4118 9,6964 13,88 2,48 1,39 33 2,5310 10,97 9,2240 9,5107 13,83 2,37 1,31 13,85 1,35 44 2,5102 10,97 9,2930 9,5878 14,34 3,71 2,08 44 2,5147 10,97 9,2525 9,5320 13,57 3,50 1,96 13,95 2,02

52 Solven Waktu menit Berat Sample gram KA % Berat wadah kosong gram Berat wadah kosong + oleoresin gram Oleoresin % Cinnamic Aldehyde mg/2 mL Cinnamic Aldehyde % IPA 55 2,5256 10,97 9,3883 9,6975 14,95 4,03 2,24 55 2,5055 10,97 9,3053 9,5889 13,82 3,92 2,20 14,38 2,22 66 2,5123 10,97 9,2909 9,5952 14,79 4,20 2,35 66 2,5054 10,97 9,4204 9,7128 14,25 4,17 2,34 14,52 2,34 77 2,5064 10,97 9,2619 9,5591 14,48 4,15 2,32 77 2,5358 10,97 27,4955 27,7976 14,54 4,22 2,34 14,51 2,33 88 2,5018 10,97 22,2473 22,5454 14,55 4,13 2,32 88 2,5310 10,97 27,7345 28,0369 14,59 4,22 2,34 14,57 2,33 99 2,5187 10,97 22,4959 22,7969 14,59 4,19 2,34 99 2,5348 10,97 27,5250 27,8241 14,41 4,21 2,33 14,50 2,33 110 2,5165 10,97 22,7369 23,0378 14,60 4,19 2,34 110 2,5055 10,97 21,9123 22,2075 14,38 4,23 2,37 14,49 2,35 121 2,5001 10,97 27,2618 27,5579 14,46 4,15 2,33 121 2,5128 10,97 27,8992 28,1999 14,61 4,22 2,36 14,53 2,34 132 2,5093 10,97 28,0237 28,3185 14,34 4,18 2,34 132 2,5041 10,97 43,4750 43,7758 14,67 4,16 2,33 14,50 2,34

53 Lampiran 3. Perhitungan kadar oleoresin dan cinnamic aldehyde (waktu 66 menit) Solven Inten sitas Berat Sample gram KA % Berat wadah kosong gram Berat wadah kosong + oleoresin gram Oleoresin % Cinnamic Aldehyde mg/2 mL Cinnamic Aldehyde % Metanol 20 2,5184 10,97 27,4533 27,9423 23,71 5,99 3,34 2,5101 10,97 27,4875 27,9403 22,02 5,92 3,31 22,86 3,33 40 2,5103 10,97 27,2619 27,7286 22,70 5,92 3,31 2,5079 10,97 28,0232 28,486 22,53 5,95 3,33 22,61 3,32 60 2,5176 10,97 22,4976 22,9745 23,13 6,18 3,45 2,5101 10,97 22,3264 22,7901 22,55 5,94 3,32 22,84 3,38 80 2,5039 10,97 27,7337 28,1996 22,72 5,95 3,34 2,5091 10,97 27,5246 27,9907 22,68 5,89 3,30 22,70 3,32 100 2,5051 10,97 27,9809 28,4472 22,73 5,82 3,26 2,5107 10,97 28,3223 28,7859 22,54 5,83 3,26 22,63 3,26 Etanol 20 2,5081 10,97 31,3392 31,6993 17,53 5,97 3,34 2,5076 10,97 27,9811 28,3550 18,20 6,08 3,40 17,87 3,37 40 2,5047 10,97 28,0232 28,3896 17,86 6,13 3,44 2,5140 10,97 33,8579 34,2298 18,06 6,01 3,36 17,96 3,40 60 2,5036 10,97 29,3364 29,7051 17,98 5,58 3,13 2,5163 10,97 27,4880 27,8577 17,94 5,51 3,07 17,96 3,10 80 2,5130 10,97 22,3254 22,6908 17,75 5,79 3,23 2,5083 10,97 27,4536 27,8263 18,14 5,78 3,24 17,95 3,24 100 2,5091 10,97 27,3048 27,6697 17,76 5,56 3,11 2,5205 10,97 29,3354 29,7089 18,09 5,85 3,26

54 Solven Inten sitas Berat Sample gram KA % Berat wadah kosong gram Berat wadah kosong + oleoresin gram Oleoresin % Cinnamic Aldehyde mg/2 mL Cinnamic Aldehyde % IPA 20 2,5219 10,97 27,1564 27,4508 14,25 5,48 3,05 2,5031 10,97 27,8988 28,2067 15,02 5,61 3,15 14,64 3,10 40 2,5258 10,97 27,8144 28,1215 14,84 4,94 2,74 2,5019 10,97 27,2618 27,5632 14,71 5,05 2,84 14,78 2,79 60 2,5123 10,97 9,2909 9,5952 14,79 4,20 2,35 2,5054 10,97 9,4204 9,7128 14,25 4,17 2,34 14,52 2,34 80 2,5103 10,97 22,4964 22,7884 14,20 4,43 2,48 2,5167 10,97 21,9130 22,2245 15,11 4,54 2,54 14,66 2,51 100 2,5018 10,97 22,2476 22,5499 14,75 4,61 2,59 2,5131 10,97 22,7369 23,0335 14,41 4,55 2,54 14,58 2,56 Lampiran 4. Perhitungan untuk penetapan kurva laju ekstraksi or de 2 pada intensitas 60 % Solven Waktu, menit Berat Sample gram KA % Berat wadah kosong gram Berat wadah kosong + oleoresin gram Oleoresin mg Ct, Oleoresin mg/ mL gram sample t/Ct Metanol 11 2,5231 10,97 27,1575 27,6200 462,50 8,95 11 2,5007 10,97 27,2622 27,7074 445,20 8,69 8,82 1,25 22 2,5221 10,97 27,3064 27,7693 462,90 8,96 22 2,5039 10,97 28,3231 28,7801 457,00 8,91 8,94 2,46 33 2,5075 10,97 27,9822 28,4549 472,70 9,21 33 2,5138 10,97 31,3390 31,8000 461,00 8,96 9,08 3,63

55 Solven Waktu, menit Berat Sample gram KA % Berat wadah kosong gram Berat wadah kosong + oleoresin gram Oleoresin mg Ct, Oleoresin mg/ mL gram sample t/Ct 44 2,5087 10,97 27,7351 28,2082 473,10 9,21 44 2,5093 10,97 27,4533 27,9245 471,20 9,17 9,19 4,79 55 2,5261 10,97 22,7397 23,2132 473,50 9,15 55 2,5095 10,97 21,9150 22,3921 477,10 9,28 9,22 5,97 66 2,5176 10,97 22,4976 22,9845 486,90 9,44 66 2,5101 10,97 22,3264 22,8001 473,70 9,22 9,33 7,07 Etanol 11 2,5515 10,97 27,3092 27,6445 335,30 6,42 11 2,5026 10,97 22,7379 23,0634 325,50 6,35 6,38 1,72 22 2,5031 10,97 27,8999 28,2543 354,40 6,91 22 2,5108 10,97 22,2480 22,5773 329,30 6,40 6,66 3,30 33 2,5075 10,97 22,4971 22,8410 343,90 6,70 33 2,5249 10,97 21,9138 22,2607 346,90 6,71 6,70 4,92 44 2,5180 10,97 27,8144 28,1710 356,60 6,92 44 2,5060 10,97 28,0239 28,3746 350,70 6,83 6,88 6,40 55 2,5134 10,97 27,1670 27,5261 359,10 6,98 55 2,5070 10,97 27,7351 28,0997 364,60 7,10 7,04 7,81 66 2,5036 10,97 29,3364 29,7051 368,70 7,19 66 2,5163 10,97 27,4880 27,8577 369,70 7,18 7,18 9,19 IPA 11 2,5370 10,97 9,3299 9,6102 280,30 5,40 11 2,5087 10,97 9,4074 9,6690 261,60 5,09 5,24 2,10

56 Solven Waktu, menit Berat Sample gram KA % Berat wadah kosong gram Berat wadah kosong + oleoresin gram Oleoresin mg Ct, Oleoresin mg/ mL gram sample t/Ct 22 2,5067 10,97 9,3060 9,5649 258,90 5,04 22 2,5081 10,97 9,4481 9,7530 304,90 5,94 5,49 4,01 33 2,5041 10,97 9,4118 9,6964 284,60 5,55 33 2,5310 10,97 9,2240 9,5107 286,70 5,53 5,54 5,96 44 2,5102 10,97 9,2930 9,5878 294,80 5,74 44 2,5147 10,97 9,2525 9,5320 279,50 5,43 5,58 7,88 55 2,5256 10,97 9,3883 9,6975 309,20 5,98 55 2,5055 10,97 9,3053 9,5889 283,60 5,53 5,75 9,56 66 2,5123 10,97 9,2909 9,5952 304,30 5,92 66 2,5054 10,97 9,4204 9,7128 292,40 5,70 5,81 11,36 Lampiran 5. Perhitungan untuk penetapan kurva laju ekstraksi or de 1 pada intensitas 60 % Waktu, menit Ct (Cs-Ct)/Cs -ln (Cs-Ct)/Cs mmetanol etanol IPA metanol etanol IPA metanol etanol IPA 11 8,82 6,38 5,24 0,05 0,11 0,10 2,9118 2,1965 2,3330 22 8,94 6,66 5,49 0,04 0,07 0,05 3,1692 2,6184 2,9080 33 9,08 6,70 5,54 0,03 0,07 0,05 3,6220 2,7062 3,0825 44 9,19 6,88 5,58 0,02 0,04 0,04 4,1964 3,1485 3,2475 55 9,22 7,04 5,75 0,01 0,02 0,01 4,4294 3,9122 4,6765 66 9,33 7,18 5,81

57 Lampiran 6. Perhitungan konstanta laju ekstraksi Pelarut Persamaan linear h Cs k Metanol Y = 0,106 X + 0,115 8,696 9,434 0,098 Etanol Y = 0,1359 X + 0,325 3,077 7,358 0,057 IPA Y = 0,1686 X + 0,319 3,135 5,931 0,089 t/Ct = 1/Cs t + 1/h y = a x + b 2skCh = Lampiran 7. Perhitungan konversi % power (intensitas) ke satuan watt/m2 Spesifikasi ultrasonic cleaner yang digunakan: Ukuran : 330 mm x 300 mm Ultrasonic power : 300 watt Menghitung intensitas (watt/m2) pada intensitas 10 0 %. I = 300 watt / (0.33 x 0.3)m2 I = 3030,30 watt / m2 Menghitung intensitas (watt/m2) pada Intensitas 20 % ; 40 % ; 60 % dan 80 % Intensitas ( %) Intensitas (watt / m2) 20 606,06 40 1212,12 60 1818,18 80 2424,24

58 Lampiran 8. Kromatogram Cinnamic Aldehyde dari analisis dengan GC

Dokumen Terkait

No 21 Tahun Ii Tgl 15 Juli 14 Agustus 2009 Diplomasi

No 21 Tahun Ii Tgl 15 Juli 14 Agustus 2009 Diplomasi

Daftar isi diplomasi tabloid media komunikasi dan interaksi.

Contoh Proposal / 15 kali tayang / 6,781KB

Rencana Anggaran Biaya Ruko Pdfsdocumentscom

Rencana Anggaran Biaya Ruko Pdfsdocumentscom

Rencana anggaran biaya rukopdf download here 1 2 httpwwwpdfs.

Contoh Proposal / 24 kali tayang / 27KB

Bab Iii Metode Penelitian A Jenis Dan Pendekatan Penelitian

Bab Iii Metode Penelitian A Jenis Dan Pendekatan Penelitian

39 bab iii metode penelitian a jenis dan pendekatan peneliti.

Contoh Proposal / 23 kali tayang / 190KB

Bab 2 Landasan Teori Librarybinusacid

Bab 2 Landasan Teori Librarybinusacid

Mendefinisikan ulang ruang lingkup kinerja industri dengan k.

Contoh Proposal / 9 kali tayang / 550KB

Bab Iv Penutup A Kesimpulan E Journaluajyacid

Bab Iv Penutup A Kesimpulan E Journaluajyacid

Makalah dan jurnal 78 peran jogja tv sebagai media pelestari.

Contoh Proposal / 6 kali tayang / 296KB

Daftar Isi Garuda Indonesiacom

Daftar Isi Garuda Indonesiacom

Profil perusahaan 210 corporate profile indonesia sebagai pe.

Contoh Proposal / 12 kali tayang / 7,052KB