Ali Topan Wartawan Jalanan To Pdf



Keterangan eBook
CreationDate D:191030527153222
Producer Acrobat Distiller 3.01 for Windows
Author unknown
Creator PageMaker 6.0
Title Ali Topan Wartawan Jalanan to PDF.pm6
Pages 330 Page
Ukuran File 1,037 KB
Dibuka 324 Kali
Topik Contoh Proposal
Tanggal Unggah Saturday, 19 Nov 2016 - 07:53 PM
Link Unduh
Baca Halaman Penuh BUKA
Rating eBook
Bagi ke Yang Lain

Kesimpulan

1TEGUH ESHA

2

3ALI T ALI TALI T ALI TALI TOP OPOP OPOPAN ANAN ANANwartawan wartawanwartawan wartawanwartawanJAL JALJAL JALJALANAN ANANANAN ANANANANPENERBITPT VISI GAGAS KOMUNIKAJAKARTA, 2000TEGUH ESHA TEGUH ESHATEGUH ESHA TEGUH ESHATEGUH ESHA

4ALI TOPANWARTAWAN JALANANNovel kar yaTEGUH ESHARevisi dari novel yang diterbitkan oleh Cypress tahun 1978, berjudul:ALI TOPAN DETEKTIF PARTIKELIRDesain Sampul:MERDEKA ADRAIIlustrasi:JAN MINTARAGADiterbitkan oleh:PT. VISI GAGAS KOMUNIKA (VISION 03)Jalan Jati Agung No. 3 Jati PadangPasar Minggu, Jakarta 12540Telp. (021) 78831022 – Fax. (021) 7815236Desain Grafis:SYAIFUL AZRAMCetakan PertamaSeptember 2000Percetakan:SMK GRAFIKA MARDI YUANAB OGOR

5Untuk anak-anak jalananyang berjuangkeluar dari kebodohandan kemiskinanTeguh Esha

6Sanksi Pelanggaran Pasal 44UU No. 7 Tahun 1987 TentangPerubahan atas Undang-Undang No. 6 Tahun 1982TentangHak Cipta:1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan ataumemperbanyak suatu ciptaan atau member i izin untuk itu, dipidanadenganpidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau didendapaling banyak Rp 100.000.000 (Seratus Juta Rupiah)2. Bar angsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, ataumenjual kepada umum, suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaranHak Cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 (satu), dipidana denganpidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyakRp 50.000.000 (Lima Puluh Juta Rupiah).Hak Cipta© TEGUH ESHA

7SATUJakarta, Juni 1978Satisfaction dari The Rolling Stones terdengarsanter dari kotak pengeras suara merek Sansui milikpenjual kaset bajakan seribu tiga di depan toko P&DSinar Pembangunan, di bagian selatan komplekspertokoan Melawai, Blok M.Seorang tukang parkir diguyur sinar matahari sibukmengatur parkiran sepeda motor, masih sempa t meng-goyang-goyang pantat seirama lagu rock itu. Peluhnyamengalir deras, membuat wajah dan kulit lengannya yanghitam berkilat-kilat. Jam dua siang waktu KebayoranBaru. Anak-anak pulang sekolah menambah keramaiansuasana. Di antara mereka ada yang ikut nimbrungmerubung penjual kaset obe tersebut.Ali Topan menyender di kozyn etalase toko,mendengarkan lagu yang diputar keras itu. Matanyabersinar redup, memandang acuh tak acuh kerumunanorang. Rambutnya yang hitam gondrong lebat sebatasbahu tampak awut-awutan. Untung rambutnya lurus danlebat, hingga tetap saja enak dipandang dalam keadaanacak-acakan begitu. Terbukti setiap cewek yang lewat didepannya, tak peduli nyonya atau perawan sekolahan,pasti memampirkan pandangan ke wajahnya yang jantan.Dan mereka sama sekali tak berusaha menyembunyikanperasaan kesengsem pada si anak muda. Tubuhnya yangkurusan dibalut kulitnya yang gelap berlumur keringat,menampilkan efek kejantanan yang khas.“Sssh… garcon idaman…,” bisik seorang cewek

8 berseragam rok biru muda SMA Stella yang bersama duatemannya melewati Ali Topan. Cewek itu menjawillengan temannya.“Ye-I, gout udah tokau…,” bisik temannya. Cewek-cewek itu berhenti melangkah. Mereka pura-pura melihatkaset obralan, diikuti teman-temannya. Kemudian,hampir bersamaan, mereka menoleh ke arah Ali Topan.Yang ditoleh melengos. Acuh tak acuh. Ketiga perawansekolahan saling memandang, hampir bersamaan.Mereka menyeringai, lantas bergegas mencabut langkahdari tempat kejadian.“Sialan! Nggak tau diri! Udah capek-capek kita liatin,sok melengos lagi! Sok superstar ye?” kata cewekpertama yang pipinya jerawatan. Suaranya cukup kerashingga terdengar oleh Ali Topan dan beberapa orangdisekitarnya. Orang-orang itu memandang ketiga ceweksekolahan y ang segera lenyap diantara.orang-orang yangberlalu lalang. Sekilas mereka menengok ke arah AliTopan. Yang ditengok tetap redup.“Heh! Olang gondlong jangan taloh badan disitu! Nantiowe punya owe gua pecah, apa lu olang mau ganti?”seorang Cina setengah baya menegur Ali Topan. Dia keluar toko P&D yang kozyn etalasenya disenderi AliTopan.Ali Topan menoleh, memandang orang itu daribahunya. Lantas dia melengos lagi. Si Cina tampakpenasaran. Ia berkacak pinggang dan lantas ngoceh.“Heh!Lu olang apa kaga dengarin owe punya omonganya? Gua bilang jangan taloh badan di situ, nanti kaca owepecah…owe bisa ru…”Belum habis dia ngoceh, Ali Topan melompat garangke arahnya. Tangan kanannya terkepal keras siapditimpakan ke kepala orang itu.

9 “Cina nyempong, lu! Sembarangan ngatain gue tuli!Mata lu tuh yang tuli! Lu liat apa kagak gue nyender dikayu?! Kaca pecah, kaca pecah, entar pale lu ya guepecahin, baru tau rasa lu!” hardik Ali Topan. Gerakannyayang sebat dan hardikannya yang mengguntur, bikinkaget orang-orang di sekitar situ.Terkesima mereka meliha t adegan yang tak terduga. Siorang itu pucat pias. Wajahnya yang kuning seperti tanpadarah. Kakinya bergetaran. Matanya berkejap-kejapseperti mata anak kecil yang ketakutan ketika hendakdihajar ayahnya. Untunglah mulutnya terkunci rapat.Kalaulah terloncat sepotong kata saja dari mulut itu, pastikepalan Ali Topan menyambarnya. Dan untung yanglebih besar lagi, Ali Topan cepat bisa menguasai diri.Rasa tak tega cepat sekali mengetuk hati Ali Topan,tatkala memandang wajah yang pias, mata yang berkejapketakutan dan merasakan gemetarnya badan orangsetengah baya yang dicengkeramnya.Seorang wanita Cina berlari dari arah penjual kasetobralan, ke arah Ali Topan. “Ali Topan! Ali Topaan!Jangan pukul itu gua punya sudara or ang angotan!” teriaksi wanita Cina. Ali Topan melihat ke wanita yangmendatangi.“Dia orang baru di sini, enci Hoa...?” tanya Ali Topan.Si enci Hoa memegangi tangan Ali Topan.“Iya... Dia itu gua punya engko bar u datang kemarendari Medan. Orangnya angot-angotan... Suka cari ributsama orang, “ kata si enci Hoa. Ali Topan melepaskancekalannya dari leher baju engkonya enci Hoa.“Gua lagi mau beli kaset waktu gua liat lu mau pukulengko gua ini... Untung gua liat..,” kata enci Hoa. Laludia melotot ke arah engkonya. “Engko Ceng! Lu guaudah bilangin jangan keluar dari toko. Lu kudu baek-

10 baek sama orang. Sini! Lu kaga denger kata! Lu tau kagadia ini siapa?” kata enci Hoa sambil menunjuk ke arahAli Topan. “Dia ini Ali Topan orang baek. Dia pernahkasi tulung besar sama gua... Waktu toko gua mau dirampok orang jaha t! Lu liat nih tangannya ada bekasbacokan golok. Dia tulungin gua tangkepin perampoksampe dianya kena bacok! Gua utang budi sama dia! Guasudah angkat sudara sama dia! Ayo lu minta maap!“lanjutnya.“Aah udahlah enci, urusan udah kadaluarsa nggak usahlu omongin lagi. Nulung orang emang hobi gua...,” ka taAli Topan. Langsung Ali Topan melepaskan cekalannyadari leher si engko Ceng dan mengendorkan kepalannya.“Lain kali jangan maki-maki orang sembarangan ye.Awas lu!” kata Ali Topan ke engko-nya enci Hoa. Iamenatap tajam mata orang itu, lalu menyapu pandanganorang yang menontonnya. Ali Topan risi ditonton olehbeberapa cewek, termasuk tiga cewek Stella yang tiba-tiba muncul di tempat kejadian, Ali Topan lantas cabutdari situ.Penjual kaset obe mengeraskan volume kasetdagangannya untuk menarik perhatian orang-orang lagi.Ali Topan cepat masuk ke sebuah toko, dan keluar daripintu belakang, menuju ke perut pasar Melawai.Tubuhnya yang tinggi semampai enak saja menyelinapdi antara orang-orang yang berbelanja. Ali Topan hafalakan setiap gerak-gerik begitu banyak orang.dan lika-liku lorong pertokoan situ. Dengan cepat ia sampai dilorong tempat toko-toko tekstil. Bau ramuan kimia yangmenguap dari kekainan membuat pedih hidung danmatanya. Segera pula ia ke luar dari lorong situ, menujuke bagian belakang, tempat buah-buahan.“Hallo, Boss. Manggisnya nih, item banget, isinya

11 ditanggung caem deh. Beli dong bakal mertue ente,” kataseorang penjual buah.“Gue bukan boss,” kata Ali Topan ke arah si penjualbuah.“Lu orang baru di sini ye?”“Tau aja ente,” kata orang itu sembari nyengir. AliTopan juga nyengir.“Jangan lagi tukang buah, ada ayam baru juga gue tau.”Seorang tukang buah, tetangga si tukang buah yangpertama nyeletuk: “Ah elu, Ding... ini die pembela rakyatBlok M nyang gue ceritain kemar enan... Lu kaga kenalinpadahal udah gua bilangin potongannye, jahitannye,ampe ke cara mandangnye... Maen bas-bos bas-bos ajelu...,” cerocos tukang buah itu. “Na die emang lurah sini.Ada tikus baru lahir juga mesti ngedaptar sama dienye,”tukang buah itu itu terus memuji Ali Topan.“Doi sedokur ogut, Pan.. Baru kawin kerjaannye miritkartu mulu, maka gua suruh ngikut dagang disini.Namanye Ending,” lanjutnya. ”Ke mane boss? Nyobainduku dulu ah, Condet punya nih. Legit banget kayakanoan…”Ali Topan mengambil segenggam duku yangdisodorkan oleh tukang buah itu. “Mekasih ah,” katanya.“Kawanannye mainnya pade ke mane Pan?” Tumbensendirian kayak ma ta wayang. Ngeliatnya juga asingbanget… heh... heh…”“Pada mudik semua Im... Nyari rejeki masing-masing.Jaman sekarang jaman masing-masing...”“Di mane orang buang rejeki Pan?”“Di kantor polisi ‘kali.”Sampai sebegitu Ali Topan diam. Ia makan sebuahduku, kem udian dengan sigap pandangannya diarahkanke seseorang berbadan tegap dengan mata tajam sedang

12 memandangnya dari ujung lorong, orang itu kaget. Tapirasanya dia lihai. Segera dia melengos ke arah lain sambiltangannya mengusap-usap baret merah lusuh sewarnadengan baret RPKAD di kepalanya.H ati Ali Topan berdetak. Dia ngah sedang dikuntitorang. Sek ejap diamatinya itu orang. Berbadan tegapkekar namun agak pendek. Sekitar 165 cm. Rambutnyagondrong berikal. Kumisnya Fu Man Chu punya.Bajunya kain kaki coklat model tentara, agak kombor.Celananya jeans Levi’s baru.Orang itu menengok sekilas ke Ali Topan. Ia menyulutrokok GG. Matanya agak sipit seperti mata Cina. Tapiprofil mukanya seperti Indo. Kesan Indo itu dipertebaldengan cambang brewok yang kasar di kedua pipinya.Siapa gerangan? Pikir Ali Topan. Tiba-tiba ia ingat.Orang itu ada di antara pengerumun kaset obe, saat iamencengkeram leher engko Ceng. Dan orang itu me-mang menatapnya tajam, walau sekilas, saat itu.“Aaah, gue cabut dulu, Ja’im! Makasih dukunye…,”kata Ali Topan. Ia sengaja berkata keras.“Kaga mau bawa setengah kilo, Pan… he… he…?”kata penjual buah. Ia ketawa renyah, nadanya nadaBetawi, model Benyamin S.Ali Topan sudah berlalu, bergegas masuk ke lorongarah Kebayor an Bowling Center. Gerakannya sebat. Iaingin menghilangkan jejak. Rasanya orang itu teke, katahatinya. Dan ia tak ingin cari setori. Pikirannya lagikurang pas. Lewat depan Bowling Center, ia menggeblas.Langkah kakinya yang panjang dipercepat. Sesaat iasampai di tempat parkir motor di depan toko roti Lauw, dipojok pasar. Dia ambil motornya dari tempat parkir,lantas dicemplaknya langsung. Ia keluar lewat garduparkir, bikin petugasnya melotot plus geleng-geleng

13 kepala. Soalnya gardu itu tempat kendaraan masuk,bukan tempat keluar.“Si Topan kumat gendenge,” kata seorang petugasparkir berlogat Surabaya.Ali Topan sudah menyeber angi jalan, melaju ke arahJl. Wijay a X. Lewat di depan studio Radio Amigos diujung jalan itu, ia melambaikan tangan. Gerombolanmuda-mudi yang sedang mangkal di depan Amigosmelambaikan tangan ke arahnya.“Mampir, Paan!” teriak seorang cewek.Ali Topan terus melaju. Rambutnya yang panjang lebatmelambai-lambai di tiup angin. Gagah dan romantissekali.Ali Topan tak tahu bahwa oknum berbaret merah yangdipergokinya tadi, sempat mengor ek informasi dari Jaimsi penjual duku, perihal dirinya. Begitu Ali Topan cabut,lenyap masuk ke toko, orang itu langsung menuju tukangduku. Gayanya prof esional.“Dukunya sekilo, Bang. Yang rata ya, jangan gede diatas kecil di bawah,” katanya kalem.“Rata pegimane, Oom? Emangnya jalan Jagorawi. Hehe. Condet asli mah, dikobok yang atas apa yang bawah,sama aje kasarnya, Oom. Rasain dulu dah,” kata tukangduku. Dia mengangsurkan dua biji duku. Orang berbaretmerah mengambil duku itu. Langsung didaharnya.“Ini baru duku, Bang. Manis.”“Saya kata juga apa, Oom. Dua kilo ye? Tanggung.Sekilo cuman ‘patratus.”“Sayang Sherlock nggak doyan duku, bang. Kalaudoyan sih, saya beliin dua kranjang. Sekilo aje deh.”Sambil menimbang duku, penjual itu bertanya:“Serlok? Siape Serlok?”Sambil mengeluarkan duit, orang itu menyahut:

14 “Anjing saya.”Penjual duku melengak, lantas ketawa terkekeh-kekeh.“Ngomong-ngomong, saya kerja di perusahaan filmnih. Saya disuruh boss saya nyari anak-anak muda yangkeren. Itu anak yang ente kasih duku siapa sih namanya?Di mana tinggalnya? Rasanya cocok banget jadi bintangpilem,” kata si baret merah.Jaim menaruh bungkusan duku di atas dagangannya,lalu mengambil uang kembalian untuk pembelinya.“Oo, si Topan tadi? Namanya Ali Topan, Oom. Emangjuga ganteng banget dia. Ting gi, potongan modern.Cuman badung banget dianya . Tukang morotin dagangansaya dia, oom. Untung aje dia tadi lagi waras. Kalo lagiangot mah, kagak mau dikasih duku segenggam. Maunyadua, tiga kilo. Kalo kagak dikasih, marah-marah dianya.Tukang-tukang dagang disini udah hapal banget lagaklagunya, oom. Majekin orang melulu kerjaannye.Padahal ngeliat tampangnya anak orang baek-baek,” siabang nyericis. Omongannya berlebih-lebihan. PadalahAli Topan tak pernah menarik “pajak” semacam itu.“Apa bener dia tukang narik pajek, Bang? Rasanyasaya liat tadi, ente yang ngasih duku sama dia, saya dengarAnda nawari setengah kilo?” kata si baret mer ah. Penjualduku gelagapan. Dia sadar sudah bicara berlebih-lebihan.Jaim tersipu-sipu malu.“Dienya sih kagak, tapi anak-anak yang laen sukamajekin di sini,” katanya . “Emangnya kenape, Oom? Eh,omongan saya tadi boong nih. Maap ya, Oom.”Sambungnya, mengalihkan omongan.Si baret merah memilin-milin kumisnya.“Rumahnya di mana si Ali Topan itu?” tanyanya.“Aduh, saya kagak ngah, Oom. Tapi ampir tiap ari dianongol di sini. Kayaknya dia anak rumahnya deket-deket

15 sini. Kalau oom punya mau sama die, besok dah sayabilangin,” kata Jaim.“Eit, jangan. Jangan dibilangin. Biar entar saya carisendiri. Kalau dia mau, kalau kagak kan saya malu…,”kata si oom. Dia bayar harga dukunya.“Ooh iye.”“Oke deh, Bang. Sampe ketemu.”“Mari, Oom. Makasih…,”Si baret merah menenteng bungkusan dukunya, berlaludari situ.Ali Topan, Ali Topan, gumamnya sambil berjalansantai. Di dalam benaknya terbayang sosok anak mudaitu. Untuk anak muda generasi sekarang pun, ia termasuktinggi. Sekitar 175 centi, atau lebih, kata hatinya. Tinggisemampai, tapi tidak loyo. Kurus berisi. Gerakannya takterduga. Sebat. Si baret merah membayangkan adeganAli Topan mencengkeram Cina di toko yang kebetulandisaksikannya.Adegan tersebut mempesona dirinya. Dan, entahapanya, yang pasti ada sesuatu di dalam diri anak mudaitu yang menarik perhatiannya. Matanya? Mata anak itucemerlang, tapi bersinar sedih. Bahkan pada saat beringastadi, k esedihan tetap melekat di mata itu. Itu mata khasmilik orang-orang yang berpikir cepat dan tajam.Lembutnya, atau sinar sedihnya, mungkin refleksi darigejolak batinnya. Garis-garis tajam dari hidung dandagunya, membedakan anak itu dari seorang sentimentilyang cengeng.Banyak anak-anak muda sekarang yang tampan, tapijarang yang mengesankan kejantanan. Dia sudah banyakmelihat dan bergaul dengan anak-anak muda tapi yangsatu ini berbeda sekali. Kebanyakan anak-anak sekarangganjen seperti perempuan. Ah! Ah! Si baret merah

16 tersenyum sinis sendiri.Ia sampai di bawah Kebayoran Teater yang terletak dibagian belakang komplek Pasar Melawai. Dua anaklelaki muda lewat di depannya, dari seberang jalan.Mereka berpakaian rapi, cakep-cakep, salingberangkulan dan tertawa genit seperti perempuan. Sibaret mer ah bersuit keras. Dua anak muda itu berhentiserentak, menengok ke arahnya. Keduanya mengerjap-kerjapkan mata dan mulut mereka manyun-manyun,lantas… serentak pula mereka berjalan, menggoyangkanpantat seperti peragawan.Si baret merah meludah ke aspal jalanan, mual melihatbencong-bencong itu. Ia batuk-batuk kecil, lalu bergeraklagi, menyeberang jalan, lewat toko jeans, ia menujuTaman Plaza yang kalau malam jadi pasar kaget yangterletak di sisi selatan terminal Blok M, di luar komplekpasar Melawai.Penjual kaki lima berteriak-teriak menjajakandagangan mereka. Kaos oblong, handuk, sandal jepit,gesper sampai batu akik. Teriakan mereka beradu kerasdengan lagu-lagu pop yang diputar oleh para penjualkaset obe.Si baret merah berjalan melewati Taman ChristinaMartha Tiahahu di ujung terminal, ke arah Garden Hall.Di seberang terminal matanya melihat banyak orang,pikirannya tersimpul pada bayangan Ali Topan. Guemesti dapet itu anak. Gue mesti dapet, gumamnya.Bayangan wajah anak muda itu tak hilang-hilang daripikirannya.“Oom, rokoknya Oom….,” seorang bocah pengecerrokok lewat di sampingnya. “Masih ada rokok gua,” ka tasi baret merah. Bocah itu pergi sambil cemberut.Si baret merah tiba-tiba merasa jar inya panas. Ternyata

17 rokoknya sudah pendek sekali. Apinya memanasi jari.Segera dia jatuhkan, lalu melumatkan puntung rokok itudi alas sepatunya.Menyeberangi jalan raya, ia masuk ke halaman GardenHall Teater. Sebuah warung nasi Tegal di pinggir jalan, dibelakang bioskop itu merupakan tempat yang ditujunya.Warung itu tempat Tekhab dan sopir-sopir President Taxidan beberapa seniman Bulungan mangkal.Matahari mencorong di atas. Peluh membasahiwajahnya. Tapi orang berbaret merah itu tampakgembira. Mulutnya menyiulkan lagu tema film Mannix.Ia bernama Robert Oui, bekas polisi yang kini merintisusaha sendiri di bidang penyidikan partikelir alias detektifswasta.***

18DUAMbok Yem sedang menyiapkan makan siangketika Ali Topan datang. Segera ia menyong-song Ali Topan.“Den Bagus, tadi ada telpon dari Maya, Neni dan Nana.Maya tilpon sampai dua kali, katanya ada yang penting,”kata Mbok Yem.”Kalo nggak brenti manggil aku Den Bagus-DenBagus... pulang aja ke ndesomu, Mbok Yem...!” kata AliTopan.“E iya lupa terus si mbok ini. maaf, maaf, maa...af...Pan...,” kata Mbok Yem, pembantu keluarga Amir yangtelah tiga belas tahun bekerja pada keluarga itu. Ia setia,jujur dan sangat menyayangi Ali Topan. Dan Ali Topanpula menyayangi si mbok yang telah mengasuhnya sejakia kelas satu Sekolah Dasar, hingga ia tamat SMA duabulan lalu.Ali Topan membuka jaket blue jeans yang lengannyaia buntungi di atas siku. Lalu ia membuka lemari es, danmengambil sebotol air dingin. Mbok Yem membawakancangkir besar putih bermerk ALI TOPAN.“Saya disuruh tilpon balik apa nggak?” tanya AliTopan.“Iya. Katanya penting sih. Tapi semuanya bilangpenting, penting. Mbok tanya apa pentingnya, dia takmau ngasih tau. Tapi yang bagus cuma Maya itu,nilponnya sopan. Yang namanya Neni sama Nana judesdeh, Den Bagus. Siapa sih?”“Aku nggak tau, Mbok. Kalo si Maya sih temen.

19 Sebentar aku tilpon dia. Trimakasih ya,” kata Ali Topan.Dia berjalan ke kamarnya. Mbok Yem berjalan ke kulkas,mengambilkan air buah jeruk untuk den bagusnya.Sambil makan jeruk, Ali Topan nilpon Maya.Maya sendiri yang menerima tilpon.“Hallo May, tadi tilpon ya,” kata Ali Topan.“Hei. Dua kali aku tilpon kamu. Kangen,” kata Maya.Ali Topan tersenyum. Mayapun tersenyum di rumah-nya.“Kangen itu sesuatu yang pentingkah?” tanya AliTopanMaya tak menyahut. Dia tertegun. Merasa tersindir.“Maya?” ucap Ali Topan lembut.“Kamu kok gitu sih! Ngga suka ya saya tilpon kamu?Udah lupa sama teman yang namanya Maya? KalauMaya sih inget terus sama kamu…dan sama temen-temenMaya semua…” kata Maya. Nada suaranya manja.Ali Topan mesem.“Oo, jadi kamu suka nilpon temen-temen yang laen?”goda Ali Topan.Uh, Maya merasa malu. Maya merasa Ali Topan mulaimenyindir lagi. Dia malu sebab dia memang memendamcinta ke Ali Topan, dari dulu sampai sekarang, setelahmereka sama-sama lulus dan tidak satu sekolah lagi.Maya masuk Arsitektur Universitas Panca Sakti.“Hallo, Maya. Kenapa diem? Sakit tenggorokan ya?”Ali Topan bertanya lagi.“Kamu jadi berobah ya?” sahut Maya. Lirih sekali.Ali Topan kini diam. Dia mer asa kasihan pada Maya.Sindirannya terasa kelewat tajam. Dia bukan tak tahukalau Maya memendam taksiran. Maya seorang gadisyang baik hati dan lembut. Tapi bukan gadis idaman AliTopan. Apala gi sejak hatinya rada sakit akibat putus cinta

20 pada kasus Anna Karenina tempo hari.“Topan…”“Ya, Maya? Mm… kamu bilang tadi saya berubah?Bukankah segala sesuatu memang berubah di dunia iniMay? Setiap saat berubah.” Yang tetap hanyalah yangtak berubah.“Tapi kamu dulu kan pernah bilang sama Maya, bahwabiarpun semua berubah tapi persahabatan kita tidakberubah. Begitu cepat lupa ya kamu? Masih patah hati yasama Anna?”Berani dia. Berani mengucapkan kata-kata yangspekulatif. Dia langsung menyebut patah hati dan AnnaKarenina. Padahal dia tahu itu sesuatu yang peka bagi AliTopan. Anak muda kita tersenyum pahit.“Hm, kamu pikir saya patah hati?”“Iya!”“Nggak, ah. Cuman benjut sedikit. Hati saya jadi radapeang, untung ha ti saya bentuknya nggak seperti daunwaru. Hati saya bentuknya kaya bola tenis, jadi kalaukesandung rada peang, tapi sebentaran juga bunder la gi.”Maya ketawa ngakak. Kekakuan telah cair. Keakrabanterjalin lagi. Maka Maya senang sekali.“Kenapa kamu ketawa?”“Saya seneng, kamu lucu lagi, seperti dulu.”“Ooh kamu seneng yang lucu-lucu y a? Liat aja tivi.”“Kok lia t tivi? Acara Warung Kopi Prambors?”“Bukan. Acara Dunia Dalam Berita. Itu yang bacaacaranya, yang dua orang tuh, kalo abis baca suka mainliat-liatan dan cengar-cengir kaya burung pelikan.Diliatnya lucu banget.”Maya ketawa berderai. Ali Topan juga.“Kamu suka memperhatikan yang kecil-kecil ya. Mayabaru mikir sekarang kalo pembawa acara Dunia Dalam

21 Berita suka main liat-liatan kaya burung pelikan. Nantimalam deh Maya tegesin. Lantas apa lagi yang lucu ditivi?”“Wah banyak. Nanti deh aku bilangin. Sekarang…”“Tung gu dulu dong. Kamu mau ke mana sih bur u-bur u? Maya kan kanget banget nih. Udah lima hari kitanggak ketemu kan? Apa kamu udah punya kenalanbaru?”“Ada, tukang copet di Blok Okem,”“Blok Okem?”“Iye, Blok Okem. Blok M itu bahasa prokemnya BlokOkem.”“Prokem? Prokem apaan?” Kamu tuh selalumemunculkan sesuatu yang baru, Ali Topan…”“Prokem itu preman, itu lho orang-orangunderground,narapidana kelas ketengan. Orang-or angyang kepepet nggak dapet kerjaan, jadi maling, rampok,copet, tukang tikam, culik dan sebagainya. Mereka kanpunya bahasa sendiri. Dilabak-labik, gokit, ngatri gara?”“Apaan sih? Maya nggak ngerti …”“Dilabak-labik itu dibolak-balik. Gokit itu gitu. Diberisisipan ok. Bodo banget sih kamu?”“Ih! Masih juga suka mbodo-bodoin orang. Kalo Mayabodo mana bisa masuk arsitektur universitas bergengsi.Bukannya sombong…..“Lho, kamu nggak pake nyogok masuk ke situ? Sayadenger kamu lewat Oom kamu yang jadi polisi?”“Enak aja! Oom saya cuma nolong fasilitas, tapi orangtua Maya nggak ngeluarin duit apa-apa. Sungguh mati.”“Pake fasilitas itu kan nyogok juga, May. Sogok-sogokan non-materiil namanya. Kalo nggak pake fasilitasapa kamu bisa masuk? Kan saingannya banyak tuh, anak-anak koruptor. Tapi ngga a pa-apa kok. Sorry deh kalo

22 kamu saya bodo-bodoin. Becanda sih.”“Becandaan kamu khas ya. Sejak dulu…”“Oo, gitu ya? Biarin deh. Udahan deh ya…”“Hey tunggu dulu Topan sayang… Topan keren…kangennya kan belon abis…”“Mau ngoceh apa lagi? Kelamaan ngobrol nantimengganggu waktu studi kamu. Duuh, studi, mack. Nantikalo ngga naik tingkat, aku disalahin…”“Nyindir lagi ya?”“Iya.”“Biarin deh disindir, pokoknya bisa ngobrol lama.”“Heh, bapak saya masang tilpon bukan buat ngobrolMay. Ntar rekeningnya mahal. Udahan dulu deh. Ka pan-kapan kalo sempet kita ngobrol face to face deh. Oke,May. Selamat belajar, semoga sukses…”“Eh, tunggu. Sebentar lagi. Dua menit.”“Semenit.”“Oke, oke. Merasa kamu ya. Merasa jadi cowok mahal.Kalo ngobrol pake dimenitin.”“Wah, gua sih cowok pengangguran, Maya. Sekolahkagak, kerja kagak. Rasa-rasanya saya bakal jadi tukangjambret deh. Tiap pagi saya udah latihan menjambretkembang flamboyan yang berguguran ketiup angin…”“Ih, kamu kok jadi begitu?”“Oke deh Ma y. Sampai ka pan-kapan, ya!”Klik. Ali Topan meletakkan tilpon. Ia menghela napassejenak. Bayangan Maya yang baik, cukup manistergambar di benaknya. Juga bayangan Anna Kar enina,Dudung, Gevaert, Bobby dan teman-temannya ex SMABulungan I dulu.“Kopinya sudah di ada di kamar, Den Bagus, eh AliTopan.” sapaan Mbok Yem menyadarkannya.“Kamsia, Mbok!”

23 Ali Topan bergerak ke kamarnya. Lewat di sampingMbok Yem, dia menonjok lengan mbok tua itu. Tonjokanlembut, tonjokan terima kasih dan sayang.***Ali Topan berdiri di tengah pintu kamarnya, melihatke dalam.Kamar itu kamar pribadi, kamar permenungan. Poster“A house is not a home” masih nempel di dinding, buku-buku pelajaran SMA masih berada dalam rak, radio masihada di atas meja. Deretan kaset-kaset Koes Bersaudara,The Beatles dan The Rolling Stones tertata rapi di rakkaca. Buku kumpulan syair Bob Dylan, buku-buku silatCina dan buku-buku lainnya tersusun dekat rak kaset.Dihidupkannya radio. Dona-dona Prambors Rasisoniamemenuhi r uang kamar.Ali Topan masuk dan duduk di lantai berkarpet Iran,Ali Topan merokok kretek. Dinikmatinya setiap hisapandan dipandanginya asap rokok yang mengepul sampai kelangit-langit kamarnya. Tubuhnya diam, jiwanya gelisahmerenungi hidupnya.Sejak menerima tanda lulus belajar dar i tangan PakBroto Panggabean, ia sudah memutuskan sebuah tekad.Ia memutuskan untuk tidak meneruskan pendidikan keperguruan tinggi. Ia tak ber minat mendaftarkan diri keUI atau ke perguruan tinggi manapun, walaupun ia sangatingin masuk UI. Dudung, Bobby, Gevaert tak berhasilmembujuk dirinya untuk membatalkan tekadnya itu. Takseorang pun mengerti kenapa dia bersikap begitu. Ia takpeduli. Ia lebih suka menggelandang di jalanan. Itu adalahsuatu pilihan.Teman-teman dekatnya mengira ia patah hati. Lantasbersikap nyentrik. Bobby bahkan bilang ia putus asa gara-gara cinta yang tak kesampaian. Dan ayahnya menuduh

24 sikapnya itu sebagai sikap anak yang tidak bertanggungjawab dan bikin malu orang tua saja.“Orang lain berlomba-lomba ke Universitas. Berapabanyak pun uang tak jadi persoalan untuk mengecappendidikan tinggi. Kamu malah berpikir tolol. Kalaukamu jadi gelandangan nama saya juga yang cemar.Ngawur kamu!” demikian omelan ayahnya tempo hari.Peristiwa ini terjadi dua setengah bulan yang lalu,menjelang pengumuman hasil ujian akhir SMA. Waktuitu siang hari. Ali Topan sedang tiduran di kamarnyamendengarkan lagu Go With Him dari The Beatles yangia putar berulang kali. Tiap lagu itu usai, diputar lagi...Syair lagu itu bercerita tentang seorang gadis bernamaAnna yang dicemburui pacarnya. Si pacar itu dulu pernahditinggal kabur ceweknya.Anna...the girl before you go nowI want you to know nowThat I still love you sobut if he loves you more go with him....Lagunya sih lagu pop sederhana tapi... berhubung yangdi-go with him-in itu bernama Anna, maka emosi laguyang dinyanyikan John Lennon itu nancep pas di relungnur ani Ali Topan yang sedang kecewa ditinggal AnnaKarenina. Maka, sembari mendengar lagu yang rada-rada cemen itu, lamunan Ali Topan melayang ke masa-masa menakjubkan bersama Anna.Dia nggak tau ayahnya yang sedang suntuk pulangsiang itu. Dan... setelah berkali-kali mendengar lagutersebut, Pak Amir makin nambah suntuknya.“Ali! Matikan la gu itu! Dan kamu bangun! Papa mau

25 omong sama kamu!” bentak Pa k Amir. Ia sudah berdiri didepan kamar dengan wajah tak sedap.Ali Topan yang sedang tengkurap menengok sekilaske arah ayahnya. Lalu, dengan kasar ia pencet tombol offpada tape recordernya hingga lagu Beatles lenyapseketika dari ruang kamarnya.“Kamu ndak sekolah hari ini?! Kenapa?! Jawab!”hardik ayahnya.Lamunan Ali Topan tentang Anna buyar. Ia bergerakperlahan, duduk di lantai dan meminum kopi beberapategukan. Asbak di dekatnya penuh puntung-puntungrokok. Ia menyalakan sebatang rokok, dan memandangke arah ayahnya. Pak Amir sewot. “Buang rokok itu!”hardik Pak Amir. Ali Topan mematikan rokoknya diasbak.“Kamu punya kuping ada tidak hah?!” lanjut pak Amir.“Punya,” kata Ali Topan.“Punya mulut?!”“Punya...”“Punya otak?!”“Punya..”“Kenapa kamu goblok begitu?1””Goblok?”“Dengar lagu yang sama berulang kali, volumenyadikeraskan, apa ndak goblok namanya?”“Aku kira Papa nggak di rumah...”“Aku kira, aku kir a... goblok kamu! Ini rumah, rumahPapa! Seisi-isinya papa yang beli! Kok bilang Papa nggakdirumah... Memangnya ini rumah kamu apa?! Papa maudi rumah atau tidak di rumah apa lantas kamu bolehsembarangan?!” gerutu Pak Amir.Ali Topan berdiri. Perasaannya nggak enak mendengargugatan ‘kepemilikan’ itu.

26 “Sori deh, Pa, kalo selama aku numpang di rumah iniaku dianggap sembarangan...,” kata Ali Topan dingin.Dan sedih... “Bagus, kalau kamu tahu kamu numpang di sini! Tau-tau dirilah sedikit... Biar Papa ndak di rumah kalauwaktunya sekolah ya sekolah. Bukan lantas mbolos-mbolosan begitu! Papa nyekolahin kamu supaya jadiorang pinter! Dan tertib! Tau kamu! Percuma Papa keluarduit kalau kamu gagal...,” kata pak Amir.“Hari ini sekolah diliburkan Pa... Guru-guru sedangmengikuti penataran P4,” kata Ali Topan kalem... PakAmir terperangah. Ada malunya juga dikit mendengarfakta yang dikemukakan Ali Topan.“Lalu... kalau kamu libur kamu mutar kaset itu terus-terusan, hah? Goblok...,” kata Pak Amir sambil ngeloyordari pintu kamar Ali Topan.Ali Topan merasa muak untuk kesekian kalinya.Makin hari makin yakin dia, betapa ayahnya tak punyakualitas sebagai seorang ayah. Ia menganggap ayahnyatelah melalaikan kewajiban dasar seorang ayah yanghakiki.Kewajiban seorang ayah menur ut ukurannya, bukansemata-mata memberi makan, minum, pakaian dan mem-beri tumpangan kamar buat tidur. Seorang ayah harusmemberi teladan utama dalam sifat dan sikap.Seorang ayah harus punya karakter bagus, dan itudicontohkan ke anaknya. Jika karakter itu bodol dancompang-camping seperti gombal, maka ayah itu jugaberkualitas gombal. Seberapa pun banyak duit dan materiyang diberikan pada anaknya, semua itu tak cukup lebaruntuk menutup kegombalannya.Maka Ali Topan menolak segala bentuk jaminanmaterial. Jika pola hubungan ayah dan anak hanya

27 semata-mata atas dasar memberi dan menerima materisaja, itu tak lebih dan tak kurang sebagai bisnis. Untukbisnis pun, Ali Topan malas menjalaninya. Dia sudahbertekad, sejak lulus SMA lepas pula ketergantunganekonominya dari orang tua. Dia mau car i hidup sendiri.Dan hidup itu berarti makan, minum, rokok, tempatberteduh dan kemajuan pribadinya.Ali Topan sudah menghitung secara gamblang, diabelum cukup mampu untuk membiayai dirinya ke tingkatuniversitas. Beli rokok masih ngeteng, apalagi belajarilmu lewat bangku universitas, demikian ucapnya padateman-temannya sebelum mereka berpisah tempo hari.Dudung melanjutkan ke Institut Pertanian Bogor.Gevaert meneruskan studi di Jerman. Bobby tidak lulusujian SKALU, dia masuk Akademi PimpinanPerusahaan.Wajah-wajah para teman terlukis di tembok kamar AliTopan. Bobby dengan sikapnya yang sengak. Gevaertyang serius dan Dudung yang norak tapi polos.Kemudian Anna Karenina membayang di benaknya.Ah!Sejak peristiwa cintanya di intervensi polisi di Depokbeberapa bulan yang silam, dua kali Anna menjumpaiAli Topan. Yang pertama pada har i pengumuman ujian,dan yang kedua be berapa hari sesudahnya. Padaperjumpaan pertama mereka saling memberi selamat atassukses melewati ujian sekolah. Mereka berjabatantangan, singkat sekali. Tak sempat bicara apa-apa selainucapan selamat, sebab Anna Karenina dikawal langsungoleh ibu dan Boy, si Oom yang kurang ajar itu. NyonyaSurya melipat-lipat wajahnya, judes sekali, sedangkanBoy sengak seperti biasanya. Ali Topan malas melihattampang mereka yang kurang seronok. Selesai memberi

28 selamat di gerbang sekolah, Ali Topan segera berlalu.Pertemuan kedua berlangsung di American Hamburgerdi sebelah timur pasar Melawai di Blok M. Annamenilpon Ali Topan pagi itu, ingin bertemu. Iamenentukan tempat di toko hamburger itu. Ali Topandatang, kemudian mereka bercakap-cakap dalamsuasana yang agak kaku.“Aku mau sekolah di Singapur,” kata Anna Karenina.“Sekolah apa?” tanya Ali Topan.“Kecantikan dan fashion.”“Kenapa ke situ?”“Maksud kamu?”“Saya baru tahu kalau kamu memilih sekolahkecantikan dan fashion. Saya pikir kamu nggak punyabakat di bidang itu.”Anna Karenina tersenyum. Senyumnya sih manis, tapiAli Topan tak suka melihatnya. Senyuman Anna tidaksepolos dulu, begitu menurut perasaannya. Ali Topanberpikir, apa mungkin gincu dan pupur agak tebal yangmerubah senyum Anna. Dengan gincu dan pupurkemerah-merahan di kedua belah pipinya, Anna memangtampak cantik sekaligus “berani.” Anehnya, Ali Topanpunya perasaan kurang nyaman melihat dia begitu. Dialebih suka Anna tak pakai lipstic k atau pupur merah. Dialebih suka melihat Anna sederhana seperti dulu. Tapi AliTopan tak bicara apa-apa tentang hal itu.“Kamu salah! Sebetulnya saya sejak dulu berminatsekali pada bidang kecantikan dan mode.”“Oh ya? Saya baru tahu. Kalau saya sih orangnya acak-acakan. Saya bukan pesolek,” kata Ali Topan, “dan...saya lebih suka gadis dengan kecantikan alamiah. Yangcantik tapi sederhana,” tambahnya.Anna Karenina tersenyum simpul mendengar

29 omongan itu. Ali Topan tersenyum pahit.“Kamu nggak keberatan kan saya pergi ke Singapur?Saya minta izin….”“Minta izin? Aneh,” kata Ali Topan.Anna mengernyitkan keningnya.” Kok kamu gitu sihsekarang? Dingin. Nyebelin...”“Saya memang nyebelin...”“Emang...”“”Buat orang-orang yang nyebelin...”Anna Karenina ganas. Ia mencomot hamburger,mengunyahnya. “Aku harus pergi...,” gumamnya di selakunyahannya. Ia memandang Ali Topan.“Kamu ‘kan memang sudah pergi..,” kata Ali Topan.Ada kesedihan di dalamnya, terungkap lewat pandanganmatanya, dan gerak bibir dan ekspresi wajahnya. Annatersentuh. Ia rasai duka itu... Anna menghela nafas. Lalu,mengambil kacamata hitam dari tasnya dan memakaikacamata itu. Ia tak tahan menatap sepasang mata jantanAli Topan yang dikabuti kesedihan dan kecewa.“Kamu masih sayang aku apa nggak?” tanya Anna.Ali Topan diam. Perasaannya tergolak. Cantik sekaliAnna memakai kacamata hitam itu. Baru kali itu iamelihat Anna memakai kacamata hitam yang modelnyaseperti kacamata Jackie janda Kennedy. Cantik. Modern.Tapi tak seperti dulu la gi.“Kamu masih sayang aku apa nggak, Ali Topan?” Annamengulangi pertanyaannya.Ali Topan memandangi wajah Anna. Dan... Ali Topanterperangah, luluh kekerasan hatinya ketika ia melihatairmata mengalir melalui celah mata hitam Anna,membasahi pipinya. Dan gadis itu terisak-hisak...“Aku sayang kamu Anna... kamu tahu itu...” bisik AliTopan lembut. Ia mengulurkan tangan dan mengusap

30 airmata di pipi Anna dengan jemarinya dengan perasaanterpilah-pilah.Anna menggenggam jemari Ali Topan danmenggigitnya. Rasa hatinya pun terpilah-pilah.Anna menggigit lebih keras. Jemari itu berdarah.“Sakiit, An...,” kata Ali Topan. Anna mengusap jemariAli Topan dengan kertas tisue putih. Kertas berdarah ituia taruh di asbak.“Aku nggak ingin kehilangan kamu...,” kata Anna.“Tapi mama dan papaku nggak suka sama kamu..”“Bukan cuma nggak suka. Mereka benci aku...,” kataAli Topan. Anna mengangguk sambil membersihkan sisaairmata di pipinya dengan saputangan besar warna putih.“Kamu siih... dulu ngasih saputangan ini ke aku... jadiberantakan deh hubungan kita,” kata Anna. “Aku bacaartikel di majalah, sesudah kamu ngasih saputangan inidulu... bahwa orang pacaran nggak boleh saling memberisaputangan. Pasti nggak langgeng. Putus,” lanjutnya.“Aku nggak percaya yang begituan...,” kata Ali Topan.“Kalo klenik begituan diikuti, orang-orang yangmemproduksi saputangan, para distributor, sampai kepedagang asongannya tukang bikin kacau semuanyadong...”“Ya udah kalau nggak percaya... Ta pi, buktinya kitaputus...,” kata Anna.“Mama kamu, kemudian papa kamu y ang tunduk patuhsama bininya itu nggak suka aku sebelum aku berisaputangan itu. Karena aku dianggap anak jalanan,krosboi, kurang ajar, urakan dan segala macem yangnggak sedap. Yang nggak cocok buat mereka. Ditambahkomporan Si monyet Boy yang memang sejak dulumauin kamu, maka akhir percintaan kita jadi unhappy.Nggak ada urusannya dengan saputangan itu...,“ kata Ali

31 Topan.“Okey... okey itu pendapat kamu... Sekarang.. kita‘kan masih saling sayang... dan kamu pernah nulis sajakbuat aku yang intinya masih ada hari-hari yang panjangnanti... Maka biarin deh sekarang kita putus-putusandulu. Kalau aku selesai sekolah di Singapur, dan akubalik ke Jakarta. ‘Kan kita masih bisa nyambung lagi...,”kata Anna.“Bisa kalau kamu nggak berubah dari Anna-ku dulu...”“Lho... aku ‘kan ng gak berubah?!” Anna membukakacamatanya.“Kamu sudah berubah, Anna. Tapi kamu nggak sadar?’“Apanya yang berubah?!” Anna berkata keras.Beberapa pemakan hamburger menengok ke ar ah Annadan Ali Topan.“Bahkan, sebelum kamu pergi pun kamu sudahberubah...” Ali Topan tersenyum. “Kita dulu ‘kan punyaperjanjian. Dan kamu udah melanggar perjanjian itu.Bahwa kita tidak akan mengikuti pendapat yang nggakbenar. Dan tidak menyerah kepada kemauan orang yangnggak lojik. Dan kita bersama-sama berjuangmenyelamatkan cinta dengan cara yang benar. Kitasepakat untuk saling setia dan membela, dan tidak akantunduk oleh tekanan manusia mana pun yang nggakbener, bahkan orang tua kita sekali pun. Kita tidak akanmenghianati cinta kita, Anna...,” kata Ali Topan.Wajah Anna tegang. Ia terhantam oleh kata-kata AliTopan yang diucapkan lembut tapi dingin. Dan sorot mataitu.. sorot mata yang kuat itu tak tertahankan dayanya!Sorot mata yang walau berkabut duka tapi menggugatkesetiaannya...Perasaan Anna tergucang. Ia ingin segera lepas darisuasana dramatis itu. Tapi ia pun tak ingin meninggalkan

32 Ali Topan yang ia tahu sangat kecewa, sedih dankesepian. Anna melihat sekilas ke arloji di tangan kirinya.“Kamu mau pergi?” tanya Ali Topan.Anna menangkap nada kaku dalam ucapan Ali Topan.“Ng… saya harus pergi. Saya ingin studi kecantikandan mode. Paling lama dua tahun saya sudah kembali kesini lagi. Kamu mau menunggu?”“Apa yang harus saya tunggu?”Anna membelalakkan matanya. Kata-ka ta Ali Topandatar, dingin.“Lho, kamu ini gimana sih? Kamu kan harus menunggusaya kembali. Dua tahun sebentar kok. Dan saya berjanjinulis surat seminggu sekali. Ya?” kata Anna penuh harap.“Kamu aneh,” kata Ali Topan.“Anehnya?”“Kamu memutuskan harus pergi dan kamumenetapkan saya harus menunggu, tapi kamu tidakmengharuskan saya mengeluarkan pendapat apa-apa.Kamu pikir saya ini budak kamu ya, yang harus, harus,harus menerima pendapat tanpa harus, harus memberipandangan yang berarti!” kata Ali Topan, kesal.Anna terdiam. Matanya memancarkan rasa tak enakdisemprot begitu macam. Apalagi Ali Topan bicaracukup keras, hingga beberapa orang di deka t merekaduduk menoleh ke arah mereka.“Kamu nggak ngerti. Saya pergi karena papa dan mamasudah berjanji, jika saya selesai studi dan pulang kembali,saya boleh menentukan jalan hidup sendiri. Saya bolehmenentukan pacar, saya boleh bikin salon kecantikan,pokoknya saya diberi kebebasan untuk menentukan apayang saya inginkan!” kata Anna.Ali Topan tersenyum. Sinis.“Saya kasihan sama kamu,” kata Ali Topan.

33 “Kasihan? Kasihan apa?” tanya Anna.“Untuk menentukan sikap masih dibebani persyaratanoleh orang tua kamu. Kalau mau menentukan sikap, kalaumau bebas, menurut saya nggak usah menunggu-nunggu,nggak usah pake syarat-syaratan. Kalau kita mau bebastapi kebebasan itu ditentukan oleh orang tua, itu namanyatidak bebas. Saya mah ogah begitu. Kalau saya inginbebas, saya yang menentukan kebebasan itu. Sepertisekarang, saya bebas menentukan untuk nggak masukuniversitas, biar bapak saya maksa seribu maksa, sayatetap aja ogah kuliah.”“Lho…katanya kamu kuliah di UI?”“Siapa bilang?”“Dulu, waktu kita mau ujian…”“Itu kan dulu. Sikap saya muncul pada saat sayamenerima ijazah, kemudian mau mendaftar di UI. Waktusaya liat orang ngantri mau masuk UI, ditambah lagiformulir pendaftaran dijual, saya jadi malas. Saya nggakpunya duit buat beli formulir.”“Lho, ayah kamu kan punya duit?”“Iya, itu duit dia sendiri, bukan duit saya. Pokoknyasaya punya prinsip, jika saya ingin kuliah, maka sayaharus cari biaya sendiri. Saya ogah dibia yai orang lain,”kata Ali Topan. Ucapannya yang keras mendadak jadibergetar ketika ia menyebut “orang lain.”Anna Karenina menangkap getaran itu. Iapunmenangkap sekejap mata Ali Topan bersinar redup.Sekejap saja, kemudian mata itu bersinar dingin pertandaAli Topan berhasil menindas keharuan yang mengalir didadanya. Selalu begitu.“Ayah kamu kan bukan orang lain?” bisik Anna,lembut.“Ah, sudahlah. Kamu nggak ngerti saya,” kata Ali

34 Topan.“Kalau kamu nggak kuliah, kamu jadi a pa nanti?” tanyaAnna, penuh perhatian.“Kalau kamu kuliah, kamu jadi a pa?” balas Ali Topan.Merah wajah Anna mendengar ceplosan itu.“Kaa… mu… ka… muu”“Aaah, gini aja deh. Kita lia t nanti, kamu jadi apa dansaya jadi apa,” kata Ali Topan tandas. Lalu iamelanjutkan: “Kapan kamu berangkat?”“Lusa.”Kag et Ali Topan. Tapi ce pat-cepat ia menekanperasaannya supaya normal kembali. Namun Annasempat menangkap perubahan ekspresi wajahnya.“Kamu kaget?”“Iya.”“Kenapa?”“Jadi kamu sudah pasti berangkat?”“Visa, exit permit dan tiket keberangkatanku sudahsiap. Aku nilpon kamu dan minta bertemu karena akumau pamit. Aku mau kamu mengizinkan aku berangkat,”kata Anna.Ali Topan tersenyum. Senyum yang gagah. Juga sedih.”Kamu hati-hati di sana ya? Aku nggak bisa menjagakamu. Dan nggak usah lagi berbicara tentang cinta diantara kita. Juga nggak usah ada janji lagi. Episode kitaudah selesai... Kita adalah sepasang anak muda yangmau dijadikan tumbal ketidak warasan orangtua-orangtua...,” kata Ali Topan. Suaranya bergetar. “Tapiaku nggak mau dijadikan tumbal! Aku ingin bangkit,Anna. Aku harus melawan...”Ali Topan menggemer etakkan gigi-gigi gerahamnya.Tangannya terjulur membelai rambut Anna yang hitamlurus dan panjang. Lalu jemarinya bergerak lembut

35 mencopot kacamata hitam Anna Karenina.Sepasang mata gadis itu dipenuhi airmata yang bening.Airmata hangat, airmata duka, cinta dan segala rasapelahan membasahi wajahnya yang indah.“Usaplah airmatamu... Mulai hari ini kamu harusberusaha menemukan dirimu yang sejati. Aku sedihkarena aku nggak ada di dekatmu ketika kamumembutuhkan seorang yang bisa kam u percayai...,” kataAli Topan.Anna Karenina hanya mampu bicara denganairmatanya yang makin deras mengalir, jatuh membasahimeja mereka. Dan isakannya yang mengguncang dada.“Aku minta maaf untuk semua hal yang nggak bagusdan nggak ngenakin kamu selama ini... Dan aku punmemaafkan kamu Anna Karenina...,” bisik Ali Topanlagi. “Okey, ayo kita pulang,” lanjutnya.Anna Karenina tidak sanggup lagi menahan kata-kataAli Topan yang terasa menghantam seluruh perasaannya.Anna meledakkan seluruh rasa dalam dirinya dalam kata-kata yang sangat mengharukan di sela isakannya yangmakin keras dan airmata yang semakin deras. ”Akku...aahku.. ahkku... Sayaang kammuuu...,” ratap Anna yangmalang itu.Ali Topan memasangkan lagi kacamata hitam padawajah Anna Karenina. Lalu ia berdiri dan menggenggamtangan Anna. “Ayo... daripada kita jadi tontonan gratis disini,” katanya untuk mengembalikan kesadaran Annapada kenyataan. Dan agar tak terhanyut dalam emosicinta, kasih dan sayang yang tak terpisahkan.Anna Karenina berdiri, lalu mengikuti Ali Topan keluardari resto hamburger itu. Dadanya serasa meledak olehpergolakan batin Ali Topan.

36 Di luar, udara panas. Ali Topan berhenti di trotoar.Anna Karenina berdiri di sampingnya.“Kamu pulang naik apa?” tanya Ali Topan.“Taksi,” bisik Anna. Ia mengecup tangan Ali Topan.Sebuah President Taxi lewat. Ali Topan bersuit. Taksiberhenti. Ali Topan menengok ke ara h Anna. Wajah Annategang. Ma tanya berkaca-kaca.“Kamu jahat!” kata Anna, lantas dia berlari masuk kedalam taksi. Pintu taksi dibantingnya dengan keras. Sopirtaksi melirik dar i kaca spoin. Ia menoleh ke arah AliTopan yang tegak di trotoar. Kemudian taksi berlalumembawa Anna Karenina dan air matanya...***Ali Topan merobek poster “A house is not a home”dengan tarikan keras untuk membuyarkan lamunannyatentang perpisahannya dengan Anna di AmericanHamburger.Sesungguhnya terasa kosong pula hati Ali Topan olehperpisahan itu. Kekosongan itu mengombang-ambingkan dirinya. Sering dia mengeluh sendiri sesudahperistiwa itu. Ia merasa ber sikap terlalu drastis pada AnnaKarenina. Sering ia mengeluh, mungkin kekosongan itutidak terasa dahsyat andaikan ia memakai cara yanglembut untuk mengantar perpisahan itu.Tapi akhirnya suara hatinya bergema dengan nadamenghibur, bahwa cara yang ditempuhnya tak lebih takkurang bersifat responsif saja. Kalau toh responsnyakelewat keras, hal itu disebabkan kenyataan yang jugakeras. Anna Karenina datang bukan sekadar untuk pamit.Anna membawa serta kepastian. Kepastian untukberangkat ke Singapura, tanpa memberi kesempatan padaAli Topan untuk mengemukakan pendapat, setuju atau

37 tidak. Itu namanya fait acompli.Asap rokok memenuhi kamar. Rasa sumpek menghan-tam dadanya. Tak terasa, sudah tiga belas puntung kreteklumat dalam asbak. Rokok keempat belas sedangdihisapnya, untuk menemani pikirannya yang sedanggawat karena kegalauan kalbunya.Kopi dan segelas besar air jeruk yang disediakan MbokYem sudah habis pula diminumnya. Kerongkongannyamasih terasa kering. Pada saat bersamaan, ia kebeletkencing.Ali Topan mematikan rokok keempat belas yang masihpanjang. Kemudian ia berdiri dan berjalan agaksempoyongan ke kamar mandi.Badannya terasa lebih ringan sesudah kencing. Airdingin yang diusapkan ke wajah dan tengkuknya punmenjadikan pikirannya agak segar. Sebagian besarbayang-ba yang tentang Anna Karenina tak mau pergi. Iamerasa letih. Kosong...Ali Topan minum air dingin dari kulkas. Lalu ia masuklagi ke dalam kamarnya. Ia merebahkan diri di tempattidur. Matanya tak ter pejam. Berbagai peristiwa nggakenak terbayang lagi.***Kisah cinta Ali Topan dengan Anna Karenina memangmirip dengan beribu-ribu pengalaman cinta yang ditulisorang dalam buku-buku novel yang pop maupun yangpup. Dua anak manusia kesandung cinta. Sandungannyaadalah batu berbentuk orang tua.Tempo hari. Tuan Surya, ayah Anna Karenina yangtidak sudi anaknya pacaran dengan Ali Topan, melaporke kantor polisi, ketika Anna minggat dari rumahbeberapa bulan yang lalu. Polisi dan orangtua Annamenemukan mer eka di rumah Ika, kakaknya. Anna yang

38 tadinya tak mau pulang, akhirnya mau sesudahmendengar kata-kata Ali Topan. Sedangkan Ali Topansendiri harus berurusan dengan polisi karena dituduhmelarikan Anna. Kisahnya rada kocak.Ali Topan dihadapkan kepada seorang perwira dikantor polisi itu. Melihat potongannya, Ali Topanmenduga perwira berpangkat kapten itu termasukpentolan di kantor situ. Supriyadi, kapten itu,menawarkan suatu job pada Ali Topan.“Kamu mau jadi anak buah saya?” kata si kapten.“Anak buah apa, pak?” tanya Ali Topan.“Kamu mau saya jadikan Tekhab?”“Apa itu Tekhab?” tanya Topan, belagak bodo.“Masa kamu nggak tau Tekhab? Bodo kamu.”Ali Topan nyengir. Ini manusia belon a pa-apa sudahmbodo-bodoin gua, gimana nanti kalau gua jadi anakbuahnye, pikirnya.“Kenapa kamu nyengir? Apa ada yang lucu?” kata sikapten.“Belon apa-apa Bapak sudah mbodo-bodoin saya, sayajadi geli. Lagian, kalo saya bodo, masa Bapak mau sayajadi anak anak buah Bapak. Gawat tuh,” kata Ali Topan.Polisi itu, yang bertampang sangar, toh bisa nyengirjuga mendengar jawaban Ali Topan.“Sialan kamu! Saya bilang bodo itu karena kamu nanyaapa itu Tekhab. Anak kecil aja tau, masa kamu nggak tau.Kalau bukan bodo, apa dong namanya?” kata kapten,sambil mengusap-usap kumisnya yang nyrongos modelNorman Sasono.Ali Topan masih nyengir. Dia berhasrat “ngerjain”kapten yang sok mbodo-bodoin dirinya itu.“Bapak tau bicokok apa nggak?” tanya Topan iseng.Kapten itu nyureng. Mikir.

39 “Kamu ngetes saya?” hardiknya.Ali Topan ngakak.“Saya nanya aja. Kalau nggak tau nanti saya kasih tau.”“Nggak! Saya nggak tau! Apa itu bicokok?”“Bicokok itu kurang lebih seperti oknum yang galaksama rakyat!”“Sialan kamu! Nyindir saya hah?” kata kapten itusambil melotot. Dan … pletak! Jidat Ali Topan dijitak.“Aduh! Sadis lu!” kata Ali Topan, spontan. Kaptenpolisi ketawa terbahak-bahak. Terpingkal-pingkal. Diamemegangi perutnya yang agak buncit. Geli hatinyamenghadapi Ali Topan. Kegalakannya hilang seketika.Tapi mendadak ia menghentikan ketawanya. Wajahnyadisetel kenceng kembali. Sok berwibawa.“Mau saya jitak lagi?” katanya. Sok diserem-seremkan.“Emangnya Bapak digaji negara buat njitakin orangya?”“Eh! Eh! Apa kamu bilang? Ngomong kurang ajar kau!Wah! Wah! Gawat kamu ini! Ngomong seenak perutsaja! Bapak kamu jendral ya?” kata kapten itu. Dia radamarah sungguh. Matanya melotot. Serem. Ta pi tidakmenjitak lagi.“Bapak saya tengjen,” sahut Ali Topan. Dia pikir sudahtanggung. Dugaannya, kapten polisi ini cumapotongannya saja serem, tapi sebetulnya orangnya lucu.Maka dia putuskan untuk nyableng, sekaligusmengeluarkan penasaran akibat diproses verbal. “Tengjen? Apa itu tengjen? Pangkat ABRI?” tanyakapten polisi. Nadanya hati-hati.“Sebelahnya,” sahut Ali Topan. Stelnya anteng.“Sebelahnya gimana? Kalau ng omong jangan muter-muter kamu!”“Tengjen itu tetangga jendral!”

40 Kapten polisi itu tertegun. Ada semacam hawa aneh keulu hatinya. Dia tidak ketawa, tidak pula tersenyum. Dianyureng. Mikir. Dalam pikirannya dia sedang menim-bang-nimbang, ini anak kok berani sekali omongannya.Kayak ngomong sama kawannya saja. Kapten polisi jadimikir, ini anak pasti ada apa-apanya, sehingga sika pnyamantap betul. Agak lama dia tertegun. Kemudian diasadar. Dia harus menancap wibawa lagi. Siapapun anakini, dia tidak boleh dibiarkan bebas aktif.“Eh. Eh. Kamu tahu apa nggak, sedang berhadap-hadapan dengan siapa saat ini?” tanya kapten polisi.Suaranya diantep-antepkan.“Pak Supriyadi.”“Kamu tahu bahwa saya ini perwira polisi, pangka tsaya kapten dan saya komandan Tekhab disini.”Ali Topan diam. Berlagak mikir.“Kamu orang berani ngomong seenak perut sama saya,itu tidak pantes, tau? Kamu pikir saya ini kawan kamuapa? He, saya perintahkan kamu supaya dimasukkandalam kerangkeng. Dibui! Mengerti?” kata kapten polisi.Ali Topan stel tenang.“Bapak salah paham ‘kali….,” katanya.Pak Kapten menggebr ak meja.“Salah paham apaan! Nanti saya bui kamu!” hardiknya.Kemudian dia mencet intercom: “Paimin! Ke sini kamu!”pak kapten manggil anak buahnya.Seorang bintara polisi berpangkat pentol satu masuk.Tampangnya galak. Dia berdiri sempurna, menghormatatasannya.“Siap, Boss! Eh, Pak!”Kapten mengangguk, lalu melirik Ali Topan.“Sel D masih muat satu orang lagi?”“Masih, Pak!” ka ta Paimin. Dia melirik Ali Topan.

41 “Ya, sudah!” kata pak kapten. Dia memberi kodedengan kepalanya. Paimin keluar. Jalannya seperti koboi.“Nah, kamu dengar?” tanyanya. Kalem.“Dengar a pa, Pak?” sahut Ali Topan. Kalem juga.“Sel D masih muat satu orang lagi. Kalau saya perintah-kan kamu masuk, kamu pasti masuk sel itu. Sel itu isinyamaling, pembunuh, garong dan sebangsanya. Paham?”Ali Topan sebel mendengar gertakan itu. Ini plokisbelagu amat. Emangnya apaan, pikirnya.Menghadapi situasi begitu, Ali Topan mengambil sikapserius. Soalnya dia tak mau ambil risiko dijadikan bulan-bulanan konyol. Dia banyak dengar kalau ada sementaraoknum polisi yang suka main hakim sendiri. Diaberwaspada. Sebab, gertakan kapten polisi bisa jadiberisi. Tapi dia telah memutuskan main sableng. Itukapten polisi main gertak, main ancam, dia tidak keder.“Bapak mau masukin saya ke sel, emangnya salah sayaapa, Pak?” Kalau saya maling boleh Bapak masukin kesel. Kalau saya nggak salah ya jangan dong. Bapak jangansembarangan begitu. Ngancem-ngancem saya, nanti sayalaporin ke Pak Jusuf baru tahu Bapak. Saya nggak senengdiancem-ancem…,” kata Ali Topan. Stil yakin.Kapten polisi itu melengak mendengar omonganTopan. Rasa-rasanya dia tak percaya kalau ada anaktanggung berani ngomong tandes di depannya . Wajahnyamerah tanda marah. Tapi mau marah lagi, dia mikir duakali.“Kamu nyebut-nyebut Pak Jusuf… Pak Jusuf siapa?Apanya kamu, dia itu?” tanyanya, kaleman dikit.Ali Topan masih pasang muka kenceng.“Pak Jusuf Pangab. Dia bukan apa-apa saya, tapi sayapernah baca di koran, Pangab bilang kalau ada oknumABRI main hakim sendiri dan berbuat sewenang-w enang

42 disuruh lapor langsung ke dia. Bapak tadi ngancem-ngancem saya, itu kan nggak bener. Polisi itu harusnyasayang sama rakyat kayak saya ini...,” kata Ali Topan.Kapten polisi sampai memajukan duduknya, untukmendengar lebih jelas perkataan anak muda di depannya.Ini anak gede betul nyalinya, pikirnya . Tapi omongannyamasuk akal juga. Kalau benar-benar dia melaporkan kePangab, urusannya jadi konyol. Melihat potongannya,anak muda di depannya ini bisa jadi membuktikan apayang diucapkannya. Dia jelas-jelas menyebut Pak Jusufbukan apa-apanya, jadi tidak seperti anak muda lain yangsuka bawa-bawa nama jendral untuk menggertak petugasnegara. Aneh, kapten polisi Supriyadi makin merasasimpati pada Ali Topan. Dia makin yakin, anak m uda inimerupakan bibit unggul untuk jadi Tekhab.“Omongan kamu antep juga ya . Apa benar kamu beranimenghadap Pak Jusuf?” tanya Kapten Supriyadi. Halusnadanya. “Jangan cuma ke Pak Jusuf, ke Pak Harto sayaberani menghadap, kalau memang perlu. Ngapain takut-takut? Orang yang punya salah itu biasanya yang takut.”Kata Ali Topan.“He he he… kamu pikir g ampang apa menghadap PakHarto? Beliau kan Presiden?” kata Kapten Supriyadi.Dia geli melihat semangat anak muda ini. Tapi dia salutjuga. Dia jadi lebih ingin tahu isi Ali Topan.”Kalau Presiden emang kenapa? Dia kan sepertiBapak, digaji buat ngurusin rakyat. Kalau nggak, sayabisa tulis melalui Surat Pembaca di Kompas dan SinarHarapan….”Kapten Supriyadi menahan napas begitu Ali Topanmenyebut Surat P embaca di dua koran berpengaruh itu.Dia tak meragukan lagi isi kepala anak muda ini.“Kamu bener-bener cocok jadi anak buah saya,”

43 tukasnya.Ali Topan menggeleng.“Kena pa?”“Saya khawatir jadi seperti Serpico…”Kapten Supriyadi membelalak. Kaget. Anak muda inikenal juga tokoh Serpico. Walaupun cuma tokoh dalamfilm yang diperankan oleh Al Pacino, namun namaSerpico dan perjalanan karier kepolisiannya yangdramatis cukup beken di kalangan perwira-perwirakepolisian di sini. Dia sendiri nonton film tersebut.Serpico, tokoh idealis dalam kepolisian Amerika,berhenti jadi polisi karena dikerjain atasannya sendiriyang bermental korup.“Kamu nonton film itu?” tanya Pak Kapten, kini nada-nya benar-benar bersahabat.Ali Topan tahu gelagat. Roman mukanya dikendorkandan matanya lembut kembali..“Iya, Pak. Sa ya nonton.”“Berapa kali?”“Sekali.”“Saya nonton sampai tiga kali.”Ali Topan tersenyum. Ma tanya memancarkan sinarnakal.“Kenapa ketawa?”“Bapak banyak duit dong, nonton film tiga kali,” kataAli Topan. Wajahnya benar-benar ceria.“Kamu nyindir saya? Kamu punya pikiran kalau sayasama seperti kawan-kawan Serpico yang korup itu y a?Sialan kamu! Saya nonton tiga kali karena dapat karcisgratis dari kawan saya yang punya bioskop Garden Hall,tau?”“Saya nggak bilang Bapak sama seperti kawan-kawan-nya Serpico. Saya cuman bilang, Bapak banyak duit.”

44 Kapten Supriyadi geleng-geleng kepala. Dia nyaris ke-habisan daya menghadapi Ali Topan yang ngomongnyaceplas-ceplos itu.“Nah kamu pikirkan deh tawaran saya. Kalau oke,kamu boleh datang setiap saat. Kamu boleh pulangsekarang,” kata si Kapten. ”Nih gue kasi duit buatongkos.”“Terima kasih, Pak. Saya akan pikirkan. Saya sungguhharu mendapat tawaran itu,” kata Ali Topan. Dan diamemang benar-benar merasa haru melihat keseriusankapten polisi yang baru dikenalnya itu. Ali Topan tidakmengira, kedatangannya di kantor polisi gara-gara urusancinta berbuntut begitu. Dia tak tahu, kapten itu memangsedang membutuhkan anak-anak muda yang maubekerjasama sebagai pembantu polisi, untukmenanggulang i kenakalan remaja.Kapten itu tersenyum ramah.“Kamu bisa juga haru ya?” katanya. Diangsurkannyatangannya ke Ali Topan. Keduanya berjabatan erat.Sampai beberapa lama sesudahnya, Ali Topan masihsuka nyengir sendiri jika mengenangkan peristiwa itu.Dudung, Gevaert dan Bobby tak habis ber-ck ck ck ketikaTopan menceriterakan kisahnya sejak dari Depok sampaike kantor polisi itu. Bayang-bayang berbagai peristiwaenak dan nggak enak itu mengantar Ali Topan tidur dikamarnya.***

45TIGAHari-hari yang hampa melingkupi diri Ali Topan,manakala perpisahan demi perpisahan melepas-kannya dari sahabat-sahabatnya, Perpisahandemi perpisahan itu makin terasa berat ditanggungnya,terasa makin mengosongkan jiwanya, terasa makinmengasingkan dirinya dari kegembiraan. Begituberurutan perpisahan itu menyalami dirinya. AnnaKarenina ke Singapura. Dudung ke Bogor. Gevaert keJerman. Bobby memang tetap di Jakarta, tapi tak terasamenghibur. Bobby boleh dikatakan telah mengambiljarak dengan Ali Topan. Hubungan mereka lantas terasaformil.Ali Topan sejak dulu memang merasa kurang pasdengan Bobby. Bobby terlalu menonjolkan kekayaan.Apa-apa diukur dengan duit. Bahkan Ali Topan merasasejak dulu, Bobby ikut nyampur dalam pergaulannyadengan Gevaert dan Dudung karena terpaksa. Dia takpunya teman, karena sombong itu. Jadi kerengganganhubungan dengan Bobby tak terasa menyedihkan bagiAli Topan. Tapi memang ada sesuatu yang lowong,karena, bagaimanapun mereka pernah bersama pada hari-hari yang cukup panjang.Pernah pada suatu hari, sesudah Dudung dan Gevaertpergi, Ali Topan datang ke rumah Bobby untuk mende-ngarkan Beatles. Seperti biasa, dia membawa kaset-kasetBeatles untuk didengarkan di kamar Bobby.“Wah, mack. Sorry deh. Ini hari jangan ganggu gue.Gue lagi ada urusan sama babe gue nih. Biasa, soal

46 bisnis,” kata Bobby. Omongannya kering, tak bersahabat.Ali Topan langsung membatalkan maksudnya. Sejaksaat itu pula dia mengambil jarak dengan Bobby. Dulu,sewaktu sama-sama sekolah, sewaktu Bobby masih me-merlukan teman belajar dan bergaul, walaupun sika pnyakurang pas, tapi tak pernah tegas-tegas bicara sengak.Dulu, malah Bobby yang menawarkan jasa. “Kalau lumau dengerin Beatles, puter aje kaset lu di kamar gue,Pan. Kite dengerin sama-sama,” demikian tawaranBobby yang masih diingatnya. Tapi itu dulu, dan dulu itusudah berlalu. Sedangkan waktu bisa mengubahsegalanya. Kenapa tidak, kata hati Ali Topan ketika iaberjalan dengan langkah gontai dan perasaan pahit darirumah Bobby.Sejak saat itu ia mencoret Bobby dar i daftar temannya.Ia memberitahukan sikapnya itu pada Gevaert danDudung via surat. Mereka bisa mengerti.***Dua hari dua malam Ali Topan di rumah, dua hari duamalam pula orang tuanya tidak pulang ke rumah. PadahalAli Topan sangat menantikan kedatangan mereka. Iasudah mengatur rencana, mau pergi meninggalkanrumah, memperjuangkan dirinya sendiri. Ia mau pergidengan cara terus terang.Tepat jam lima pagi, Ali Topan tak bisa lagi menahandiri. Sebuah kantong plastik berisi ijazah SMA-nyaditekuk jadi delapan, dimasukkan ke kantong bajujeansnya. Barang-barang lain pemberian orangtuanyadibiarkannya di dalam kamar. Surat-surat dan foto AnnaKarenina sudah dibakarnya, abunya dibuang ke tempatsampah.Kaset-kaset Koes Ber saudara Bea tles dan buku-bukuditaruhnya di sebuah kotak karton, dibawanya ke kamar

47 Mbok Yem. Pintu kamar Mbok Yem masih tutup. AliTopan mengetuk pintu.“Mbok… Mbok Yem…,” pang gilnya.Mbok Yem yang sedang bersiap-siap sholat Subuhmembuka pintu. Tubuhnya tertutup mukena. Wajahnyayang ramah tersenyum pada Ali Topan. Wajah MbokYem adalah wajah orang biasa, tidak cantik. Tapi AliTopan menyayangi wajah itu.“Ada apa Den Bagus, eh Ali Topan?’Mbok Yem menatap Ali Topan. Sinar mata keduanyabertemu. Tanpa kata-kata lagi, keduanya sama-samamerasa maklum apa yang hendak diucapkan, sebab hatikeduanya sudah begitu dekat, saling mengerti. MbokYem memandang kotak karton di tangan Ali Topan.“Aku mau titip ini, Mbok… tolong simpan ya…,” bisikAli Topan. Matanya berkaca-kaca. Mbok Yem meng-hampiri Ali Topan. Disentuhnya lengan Ali Topandengan lembut.“Apa ini?”“Ini kaset dan buku-bukuku, Mbok… aku titip ya…,”Mbok Yem menerima kotak itu. Dipegangnya denganhati-hati. Perempuan tua yang arif itu seakan-akan sudahmengerti a pa kehendak anak asuhannya itu.Keduanya berpandangan lagi.Air mata Ali Topan mulai mengalir. Mbok Yem meng-usap air mata itu, lembut sekali, seperti mengusap wajahanaknya sendiri.“Kamu mau ke mana?” bisik perempuan tua itu.“Akuu… akuu mau pergi… Mbok… aku nggaaktaahaan lagii…,” kata Ali Topan, tersendat-sendat. Ooh,Mbok Yem memejamkan matanya. Dadanya tiba-tibasesak oleh keharuan yang teramat dalam.Tapi tak percuma Ali Topan jadi anak jalanan yang

48 kuat hati. Di saat keharuan mulai menghanyutkan dirinyadan hendak mendorong airmatanya mengucur deras, AliTopan menahan diri. Ia menggertak gigi, gerahamnyadikatupkan kuat-kua t. Keharuan itu ditahannya di dalamhati, sekuat dayanya.Ia berhasil menguasai diri dan mencoba tersenyum.Senyum kepahitan...“Konci motor ada di a tas meja, tolong kasihkan Papaya Mbok,” kata Topan.“Lho, lho, lho…nanti kalo mbok ditanya, gimanaMbok mesti bilangnya? Nanti Mbok yang kena marah.Udah deh… di rumah aja, sama-sama Simbok, Den…,”Ali Topan menggeleng.“Supaya Mbok nggak kena marah, biar saya tulis sur atdeh,” kata Topan. Dia segera berjalan ke kamarnya.Di sebuah halaman kosong di buku tulisnya, Ali Topanmembuat surat.Tuan dan Nyonya Amir Yang….Saya pergi dari rumah ini.Mohon maaf atas semua kesalahan saya.Saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas semua yang saya terima selama ini.Semoga Tuhan membalas kebaikan dan tuan dan nyonya.Barang-barang yang pernah saya pakai, sayatinggalkan disini.Ter masuk motor yang selama ini saya pinjam.Salam.Ali TopanIa taruh buku itu ke meja makan. Kunci motor ditaruh-nya di atas suratnya. Kemudian ia menemui Mbok Yem

49 yang masih mendomblong di kamarnya.“Mbok…”Mbok Yem tersadar dari ndomblongnya.“Aku pergi… dan… aku minta maaf atas kesalahankuselama ini, ya Mbok. Aku minta didoain ya Mbok.Supaya hidupku tidak sia-sia…”Ali Topan menyalami mbok-nya.Si mbok menjabat tangan itu, dan tiba-tiba perempuanitu tak mampu menahan keharuan hatinya. Diciuminyatangan Ali Topan. Digenggamnya erat-erat, seakan takboleh pergi. Ali Topan menggertak gigi, namun ternyatacara itu tak cukup kuat untuk menahan haru.“Udah Mbok, jangan nangis…,” bisiknya walaupun iasendiri melelehkan air mata. Bisikan lembut itu justrumakin membuat Mbok Yem tersedu-sedu.“Mbok… biar aku pergi dulu deh… lain kali pasti kitaketemu lagi… Mbok…” kata Ali Topan, bergetar...Ali Topan menarik tangannya dengan lembut darigenggaman Mbok Yem. Perempuan tua itu dengan berathati melepaskan g enggamannya. Sesaat keduanyaberpandangan.“Mbok… aku pergi ya… Mbok tetap di sini aja..,”bisik Ali Topan, lalu ia berjalan gontai dari situ.Seperti teringat sesuatu, Mbok Yem dengan sebatmengambil sebuah kaleng bekas tempat rokok dari dalamkopernya. Sebuah gelang emas 30 gram dan lima lembaruang ribuan diambilnya.“Ali Topaan! Tunggu Naakk!” seru Mbok Yem.Dengan mencincing mukenanya, ia memburu Ali Topanyang sudah mencapai pintu. Ali TOpan berhenti.Panggilan ”nak” itu menyentuh nuraninya.“Bawa ini buat sangu, Nak!” kata Mbok Yem sambilmenaruh gelang dan uang ke telapak tangan Ali Topan.

50 “Nggak usah, Mbok, nggak usah!” kata Ali Topanbegitu tahu apa y ang ada di telapak tangannya. Ia cepatmemberikan gelang dan uang terse but ke Mbok Yem,tapi Mbok Yem menolak.“Mbok ikhlas, Nak… Bawa deh, buat jaga kalo adaapa-apa nanti. Mbok ikhlaaas…,” kata Mbok Yem.Ali Topan sangatlah haru memperoleh perhatian yangbegitu ikhlas dari Mbok Yem. Ia tahu gelang emas danuang itu berasal dari simpanan Mbok Yem. Rasanya iatak tahan menerima budi itu, namun untuk menolak ia taktega. Penolakannya pasti sangat mengecewakan hatiMbok Yem. Ia tak mau Mbok Yem kecewa. Ah, MbokYem begitu sayang padanya.Dengan haru, Ali Topan mengambil uang lima riburupiah, sedangkan gelang emas digenggamkannya lagike tangan Mbok Yem.“Uangnya aku terima, Mbok, untuk bekal. Gelangnyabiar Mbok simpan… terima kasih Mbok, terimakasih…,” kata Topan lirih.“Oo, Allah…!” bisik Mbok Yem.Ali Topan mengangguk. Cukup, lebih dari cukup.Mbok Yem sayang, demikian kata batinnya . Wajah MbokYem sedikit cerah. Hatinya lebih lega karena pemberian-nya diterima.“Ati-ati Nak, kalo perlu apa-apa ce pet pulang ke rumahya… Nak,” kata Mbok Yem.Ali Topan memegangi tangan Mbok Yem. Dan ia pan-dangi wajah teduh pembantu keluarga yang menga-suhnya sejak ia kecil dulu. ”Mamaku nggak pernahmemanggilku nak kepadaku, Mbok... Tapi hari ini MbokYem memanggilku nak. Aku bahagia dengerinnya,Mbok. Terima kasih... Dan mulai hari ini aku menjadikanMbok Yem ibu angkatku. Aku anakmu, Mbok...,” ka ta

51 Ali Topan lembut, penuh ketulusan.“Iyo, Nak... iyo, Mbok terima..,” kata Mbok Yemdengan airmata berlinang-linang.Ali Topan memeluk Mbok Yem erat-erat dan mengalir-kan air mata di dada ibu angkatnya. Airmata rindu,airmata kangen seorang anak yang haus cinta, kasih dansayang serta kemesraan dari orang tuanya yang takpernah menyadari kehausan itu.Mbok Yem pun menangis..Ia membelai kepala dan punggung Ali Topan danmenciumi wajah anak angkatnya itu dengan usapanpenuh kasih sayang dan cinta yang tulus.Tak lama kem udian, Ali Topan melepaskan pelukan-nya. Ia kendalikan perasaan haru, g embira dan bahagia.Hidup baruku dimulai pada hari ini, batinnya sendir i.Ia mengusap airmata Mbok Yem, lalu mengecuptangan ibu angkatnya itu.“Aku pergi Mbok...,” katanya.Angin dinihari berkesiur. Ali Topan melangkah keluar.Mbok Yem mengantar kepergian Ali Topan denganpandangan haru. Setiap langkah Topan ke depan serasamembawa serta serpihan-serpihan perasaannya. Ingin iaberteriak mencegah kepergian anak yang sejak kecildiasuhnya itu. Tapi, jauh di dalam hatinya justru timbulpengertian. Kepergian itu untuk kebebasan. Untukkebaikan...Sosok Ali Topan tak tampak lagi, namun bayangannyamasih tinggal di benak Mbok Yem yang menjublak ditempat perpisahan.Angin pagi berkesiur. Dinginnya menyelinap di celah-celah mukena. Dada Mbok Yem berdegup. Pipinya basaholeh air mata kehilangan…..Ia berbalik dan melangkah perlahan-lahan. Setiap

52 langkahnya terasa berat oleh beban kesedihan dan rasasunyi yang dalam. Seorang anak telah pergi dari rumahini, rumah ayahnya, dan ia tak tahu ke mana si anak pergidan apa yang bakal terjadi nanti.Masuk ke dalam rumah ia merasakan seperti masuk kedalam gua garba kesunyian yang belum pernah dialami-nya. Kepergian Ali Topan kali ini tidak seperti kepergi-annya pada hari-hari yang lalu. Sebelumnya, anak itusering pergi berhari-hari, namun ia pulang kembali. Tapikali ini?Di dekat meja, Mbok Yem termangu-mangu. Kuncimotor di atas buku di tengah meja membuatnya tertegun.Dalam kenangannya masih terdengar deraman sepedamotor memasuki rumah pada waktu-waktu yang lalu.“Gusti Allah, nyuwun kegangsaran kangge anakangkat kulo Ali Topan…’” bisiknya. Selepas bisikan itu,tiba-tiba ia tersadar. Ia belum menunaikan sholat Subuh.Mbok Yem bergegas ke kamar mandi untuk mengambilair wudhu lagi. Ia berniat memanjatkan doa lebih khusuk,untuk keselamatan Ali Topan anak angkatnya …***

53EMPATMenyusuri tepi jalan raya Fatmawati men uju kearah Blok A, ditemani angin pagi dinihar i bulanJuli dan sepi ha tinya sendiri, perasaan Ali Topancampur aduk. Ia sadar sepenuh sadar apa yang telahterjadi. Pergi dari rumah untuk mencari jalannya sendiri.Pada setiap langkahnya menuju ke de pan, ia menghitung-hitung kenyataan dirinya dan berpikir tentang pelbagaikemungkinan yang bakal muncul serta alternatif yangdipilihnya untuk hidup.Untuk hidup! Hidupnya sendiri! Karena tak adaseorang pun kecuali dirinya sendiri yang berkepentinganatas dirinya. Tidak ibu, tidak ayah, tidak pula teman-temannya yang paling dekat pun. Ya, setiap orang padaakhirnya berjuang untuk diri masing-masing, pikirnya.Saat bersama-sama dengan orang-orang rumah telahlewat, terpaku di masa lalu. Masing-masing peduli hanyapada diri masing-masing.Tersentak oleh kesadaran itu, Ali Topan mendadakberhenti melangkah. Ia menepi, menyender di sebuahtiang listrik y ang kaku dan dingin di mulut gang Abuserindi depan Sekolah Luar Biasa Santi Rama di kawasanCipete. Dilihatnya beberapa peda gang sayur-mayur danbuah-buahan memikul dagangannya, berjalan sigap danacuh tak acuh pada keadaan sekelilingnya . Beberapapedagang yang naik sepeda pun berwajah optimis danhanya menatap ke de pan. Semakin dekat dan akhirnyaorang-orang itu lewat di depannya.Ali Topan tersentuh oleh pengalaman baru yang segar.

54 Para pedagang buah dan sayuran itu, baik yang memikulmaupun yang bersepeda, berwajah segar dan yakin, wa-laupun membawa beban yang berat. Bahkan mereka ma-sih sempat melempar senyuman dan mengangguk kearahnya. Wah! Mengagumkan sekali! Orang-orang itusangat bergairah. Bersemangat. Wajah mereka cerah dansegar. Tanda jiwa tabah dan yakin akan kehidupan!Ali Topan berpaling, pandangannya mengikuti orang-orang itu. Cepat sekali mereka berjalan. Mendakitanjakan di depan Markas Kostrad di dekat gangAbuserin, kemudian hilang di turunan jalanan. Begitucepat, begitu sehat mereka.Berpaling lagi ke belakang, pikira n Ali Topan langsungterlontar ke masa lalu. Wajah ibunya, ayahnya, Dudung,Gevaert, Bobby, Mbok Yem dan… Anna Karenina ter-bayang dalam benaknya. Kesadaran akan sebuah kenya-taan hadir makin jelas dalam pikirannya. Waktu cepatberlalu dan tak mungkin kembali lagi! Serasa belum lamaia berkumpul dengan mereka, orang-orang yang dikenal-nya. Tapi kini mereka hanya tinggal bayang-bayang.Tawa ria, senyum simpul dan kata-kata manis telah lewatbersama hari-hari kemarin.Kini yang terhampar adalah kenyataan yang lain. Iaberdiri menyender di tiang listrik yang tegak memakubumi, sedangkan orang-orang yang dikenalnya selamaini sedang berada di titik-titik tempat yang lain. Itulahkesadaran dalam diri Ali Topan. Ada masa berpisah.Begitu cepat melintas.“Masing-masing orang memiliki garis hidup masing-masing,” ucapnya kepada dirinya sendiri-sendiri. Iamengusap tiang listrik dengan telapak tangannya.“Hai, jack, gue juga akan jalani garis hidup gue. Sekaliberarti lalu mati, kata Chairil Anwar lewat sajaknya,

55 jack…,” katanya, seolah-olah tiang listrik itu meng ertikata-katanya. “Sesudah mati di dunia ini, ada kehidupanlain yang abadi ” katanya lagi. “Oke, tiang listrik. Guepergi dulu. Sampai ketemu di lain waktu,” ucapnyasambil menepuk tiang listrik yang diam membisu.Ali Topan melangkah lagi. Seberkas kenyataan hidupyang masuk ke dalam diri, terasa kuat menggugah. Kinilangkahnya tak lagi gontai. Semangat berjuang menan-tang kehidupan mengalir deras, mengalahkan perasaansedih, mengisi ruang hampa dalam dadanya. Sunyi mulaiberisi.Ia berjalan cepat dan gagah. Pikirannya pun berjalancepat. Tempat pertama yang ingin ditujunya adalah BlokM. Persis, ia ingin duduk di tangga Pasar Melawai. Jikahari terang dan toko-toko buka, ia bermaksud menemuiMunir, pemilik kios koran dan majalah yang mangkal disamping rumah makan Padang Jaya. Di situ ia bisa pinjambaca koran-koran pagi dan mungkin bisa mengaturrencana jangka pendek lebih lanjut. Esok hari adalah harilain. Ia tak ingin membuang waktu.Fajar memancar di Timur. Sapuan warna merahnya dilangit terasa hang at di dalam jiwa Ali Topan. Iamelangkah lebih ce pat, mantap dan pasti. Ke depan...***Munir ketawa g eli mendengar kisah Ali Topan. Diamerasa geli betul, padahal Ali Topan mengisahkanpersoalan dirinya tidak main-main. Serius!“Baru sekarang lu minggat? Gue kira udah dari dulu-dulu, Pan,” kata Munir sambil ha ha he he.“Sialan lu, Nir! Gue serius nih!” kata Ali Topan, ber-semangat, “kalo dulu-dulu sih, gue masih bisa tahan. Se-karang udah kelewatan banget orang tua gue. Yang lakijadi bergajul, yang perempuan jadi tante girang. Blangsak

56 banget,”sambungnya.“Namanye juga jaman gilak. Tapi salah lu sendirikenapa mau punya orangtua begitu… Lu pilih dong orangtua yang baek-baek…,” kata Munir, bercanda.“Brengsek lu! Kalo sempet milih sih gue pilih orangtuayang modelnya kayak bapak lu. Lu kan bilang bapak lubaek…”“Kalo lu jadi anak bapak gue, pagi-pagi udah jadi anakyatim lu. Nyak lu kawin lagi sama dukun. Lu tau dukun?Itu jenis manusia yang paling gawat Udah, paling sip jadianak Blok M sini aje. Kalo nggak ada rokok bisa mintasama gue…,” kata Munir, maksudnya bercanda. Tapi AliTopan yang tadinya senang-senang saja, jadi tak enakhati mendengar buntut omongan kawannya yang jualsuratkabar dan majalah itu.Ali Topan berdiam diri. Kalo nggak ada rokok bisaminta sama gue, ditegaskannya omongan Munir dalamhati. Omongan itu tak sedap. Paling tidak, sekarang terasapahit, walaupun sering juga dia minta rokok sama Munirtempo-tempo hari. Setelah dia berketetapan hati untukhidup sendiri, dia jadi lebih peka.“Kenapa lu diem, Pan?” tanya Munir.“Gue mikir! Tadi lu bilang kalo nggak ada rokok bisaminta sama lu ya? Lu kira gue tukang minta-minta?”Munir melengak.“Kok jadi serius lu? Kan memang benar, kalo lu lagiboke, gue bagi lu rokok. Gue kan sering juga makanrokok lu,” kata Munir, “pagi-pagi jang an sok tersinggunglu. Nanti bisa mati kelaparan,” sambungnya. Hati Topanserasa kena tabok. Kata-kata Munir pahit betul. Tidakbersahabat rasanya. Padahal Munir kan kawan lama, pi-kirnya. Kok tega amat bilang dia bisa mati kelaparan?Anjing!

57 Wajah Ali Topan mengkerut. Sorot matanya serasamau memakan kepala Munir bulat-bulat. Munir stiltenang saja. Dia tau Ali Topan marah. Tapi orang asalMedan ini berlagak pilon. Kalem saja dia melayanibeberapa pembeli yang berdatangan.Ali Topan bermaksud menghajar Munir. Paling tidak,dia mau memaki-maki kawan yang omongannya nyelekititu. Ta pi dia masih bisa tahan emosi, karena melihatMunir sedang melayani pembeli. Pikirnya, dengan carabaik-baik dia menceriterakan ikhwal perginya darirumah, dengan harapan dia bersimpa ti sebagai kawan,kasih nasihat kek, menghibur hati kek, eh kawan satu inimalah nyelekit omongannya.Panas banget hati Ali Topan. Pingin merokok,rokoknya habis, belum beli lagi. Pengecer rokok pun takada satu pun yang mondar-mandir. Tambah kesal hati AliTopan. Dia mikir lagi, enaknya ditabok apa digamparsaja mulut Munir yang pahit itu. Dia sudah mengkepal-kepalkan tangannya. Berdirinya pun sudah diatur. Kayakjagoan.Munir selesai melayani para pembeli tadi. Duit dagang-an dimasukkannya kaleng . Tanpa meliha t ke Ali Topan,dia mengambil rokok dari dalam kaleng duit. Dia nya-lakan sebatang. Lalu dia sodorkan rokok dalam bungkus-an kepada Ali Topan.Plok! Ali Topan menampar tawaran itu. Rokok jatuh.Munir kaget! Lebih ka get lagi dia ketika melihat sorotm ata Ali Topan yang g anas dan gaya sia p pukul. AliTopan ser ius.Munir nyengir kuda. Dia tau kenapa Ali Topan begitu.“Kau kayak anak-anak nggak punya otak aja, Pan! Kaumarah karena omonganku? Tersinggung kau? Kayakbaru sehari dua hari aja lu kenal gue! Baru gue tes mental

58 segitu aja udah parah lu. Macam mana kau mau tabahmenghadapi tantangan hidup yang keras? Lu kira guemenghina? Buang pikiran sampah begitu kalo benar ada,”kata Munir dengan tenang. Tampang becandanya hilang.Serius Medannya digelar. Kata kau dan lu, aku dan gue,nyampur nggak karuan.Kejutan buat Ali Topan. Tidak nyana dia kalau Munirmalah memarahinya. Kemarahan seorang teman, yangdilambari simpati, langsung mengguyur panas hatinya.Segera Topan mungut rokok yang ditampelnya tadi.“Lu ambil deh, gue masih punya sebungkus,” kataMunir sambil memberikan api dari rokok y ang diisapnyakepada Ali Topan.“Thanks, Nir…,” bisik Ali Topan, haru. Sebetulnya diaingin ngobrol banyak dengan Munir, untuk memperolehpandangan tentang langkah-langkah yang bakal diambil-nya, tapi beberapa pembeli datang lagi. Diurungkannyaniat itu karena dia ogah mau mengganggu bisnis Munir.“Oke, jack! Gue cabut dulu. Kapan-kapan gue kemarilagi…,” kata Ali Topan.“Mau ke mane lu? Diam aja lu di sini.”“Lu lagi banyak pembeli. Entar-entaran aje gue datenglagi. Gue mau ngider-ngider dulu.”“Oke deh. Nanti sore gue tungguin lu. Jangan ka gakdateng ya? Kita tuker pikiran, Pan!” sahut Munir.“Pikiran gue lagi suntuk Kalo gue tukar pikiran amepikiran lu, entar lu yang suntuk…” kata Ali Topan. “Kitamusyawarah aje…”“Yei”“Jam brokap?”“Sehabis jam dagang deh. Sekitar setengah delapan.”“Oke!”Ali Topan meninggalkan Munir yang sibuk meladeni

59 pembeli yang makin banyak datang.Badannya terasa gerah. Dia ingin mandi. Dan dia tautempat mandi yang paling sip, yaitu di GelanggangRemaja Bulungan.***Gelanggang Remaja Jakarta Selatan berdiri di JalanBulungan, Blok C, Kebayoran Baru. Gedung itu di-bangun pada bulan Oktober 1970, ketika Bang Ali jadigubernur, bertetangga dengan SMA Bulungan I yangada di Jalan Mahakam. Jalan Bulungan dan JalanMahakam bersimpangan, jaraknya sekitar 400 meter dariPasar Melawai. Seorang anak muda dekil melambaikantangan dari auditorium.“Helo, Dirty Harry!” seru Ali Topan, membalas lam-baian anak itu.“He, Pan. Mau berak lagi ya,” sapa anak yang dipanggilDirty Harry. Ali Topan nyengir. Dia jabat tangan teman-nya.“Gue mau mandi, Har. Pinjem sa bun lu dong.”“Lu mau mandi apa mau nyabun?” cetus Dir ty Harry.“He, bacot lu simpen aje bakal besok, anjing!” kataTopan. Tak urung dia nyengir mendengar joke DirtyHarry.Harry nyengir juga.“Gue pergi dulu ya. Ada perlu nih,” kata Harry.Ali Topan mencengkeram lengan kawannya itu.“Mau ke mane lu? Di sini aje, temenin gue ,” kata AliTopan.“Ntar aje, gue bener-bener ada per lu penting! Sorrydeh! Gue mau nyari duit, Pan.”“Di mane ade orang buang duit? Gile lu.”Ali Topan melepaskan cekalannya. Harry mengusap-usap cekalan Topan yang menyakitkan tangannya. Ia

60 mengawasi Ali Topan dengan wajah muram.“Lu emang enak jadi anak orang kaya. Nggak usahmikir apa-apa. Gue ini musti nyari makan sendiri kalonggak pengen mati kelaparan, Pan,” kata Harry. Suaranyadatar.Ali Topan terkesiap oleh omongan Harry yang bernadapenyesalan itu. Rupanya Harry menanggapinya serius.“Lu kok serius? Ada apa sih? La gi nggak enak ati lu?”kata Topan.“Har!” Ali Topan berseru.Harry menengok.“Gue sekarang udah bukan anak orang kaya lagi! Gueudah minggat dari rumah orang tua gue! Rokum ogutsekarang di jalanan!” teriak Ali Topan. Dia bermaksudmenghibur Harry.“Ho oh!” seru Harry lalu ngeloyor pergi.Ali Topan garuk-garuk pantatnya yang gatel kenakeringet. Jeans-nya memang sudah kotor, tak dicuciberhari-hari. Kotoran yang melekat campur dengankeringat, menembus ke pantat, terasa gatel.Ali Topan melangkah masuk ke GerBul. Ia terusberjalan acuh tak acuh menuju kamar mandi yang terletakdi bagian belakang auditorium. Beberapa pengurus yangbaru datang memperhatikannya dengan pandangan acuhtak acuh. Ali Topan berjalan terus sembari menggaruk-garuk pantatnya yang rada tepos.***

61LIMAPagi itu, di motel Garuda yang lokasinya di kawasanCijantung, Pak Amir sedang asoy-asoyan samaEmmy, gendaknya yang paling gres. Emmy itupemudi putus sekolah y ang jadi pramur ia di nite clubNefertiti di Jalan Cendana. Sudah satu setengah bulan diajadi piaraan Pak Amir. Emmy jadi lengket dan sayangpada Tuan Amir, sejak oknum itu memberi gelangkroncong dari emas pada malam ulang tahunnya yangke-22, dua bulan yang lalu.Mereka ngamar di motel itu. Sedangkan Sidik, sopirserep Pak Amir, sedang asoy-asoyan pula di P Centr e,Boker. Sidik, bekas sopir taksi gelap, menggantikanSolihin, sopir setengah tua yang minta berhenti kerjakarena tak tahan punya majikan punya kelakuan bejat itu.Solihin, pria asal Bandung yang alim itu gerah mengi-kuti Pak Amir yang doyan nyemplak. Apala gi sejak AliTopan per nah menegurnya, menyindir dia makan komisiuntuk menutup-nutupi pekerjaan Tuan Amir. Solihin me-maklumi perasaan Ali Topan walaupun tak pernah intimdengan anak majikannya itu. Ali Topan apr iori kepada-nya. Dia kasihan pada anak yang baik itu. Solihin lebihsreg minta berhenti walaupun dia tahu usaha majikannyasedang rame dan persenan lancar untuknya.Sidik, asal Kediri, lain lagi modelnya. Pemuda itupunya mental bangor, jadi betah banget kerja dengan PakAmir. Dalam tempo singkat, sopir dan tuannya itukompak.“Pokoknya rapi, Pak. Rahasia aman di tangan saya.

62 Orang kantor dan ibu di rumah tidak bakal tahu,” ka taSidik tempo hari ketika Tuan Amir menanyakan sikapsetianya sebagai sopir.Tapi percuma juga Sidik menyimpan rahasia. Or ang-orang di PT Proyek Bangunan Kita sudah ngah akankelakuan Pak Amir, direktur operasional mereka.Nyonya Amir, memang juga tidak ambil peduli lagi padasuaminya. Demikian pula Ali Topan, y ang sejak Sidikmasuk kerja lima bulan lalu, sudah bersikap sangar. Sejakdia masuk kerja, Ali Topan tak pernah menegur sa pa.Sidik yang pernah menanyakan pada Mbok Yemmengenai Ali Topan akhirnya tahu, anak itu tidak bisadiajak “kompromi” seperti ayahnya. Pa k Amir pun sudahberpesan agar tidak bikin persoalan dengan anaknya.Sidik oke saja. Dasar anak Kediri ini punya prinsiphidup ini dicari enaknya saja, tak usah pusing-pusing,maka dia hanya tancep konsentrasi bagaimana meladeniPak Amir. Dan Sidik memang tau cara yang paling sip.Cuma jadi yes man, cukup. Modalnya cuma dua patahkata, yaitu inggih Pak, inggih Pak, atas segala ordertuannya. Pokoke dosa ditanggung dewe-dewe, begitupikirannya.Tak salah lagi, Pak Amir cepet kerebut hatinya. Sidikdisayang banget. Duit dicukupi, pakaian dibelikan yangbagus, rokok terjamin, bahkan sopir ini boleh bawa mobilke mana suka jika Pak Amir tidak memerlukannya.Setelah Solihin berhenti, Sidik jadi sopir tetap Pak Amir.***

63ENAMHujan gerimis membasahi kota Bogor sejak malamhari. Udara yang sejuk berubah makin dingin.Kota tertutup kabut tipis dan sinar matahari pagiseperti sengaja membiarkan keadaan demikian.Sudah lewat jam sepuluh, tapi di pangkalan bemo didepan Kebun Raya masih berjubel anak-anak sekolahdan kaum pekerja yang bersiap-siap menunggukendaraan.Di sebuah rumah makan Cina di depan Kebun Raya,Nyonya Amir sedang minum kopi dan makan makanankecil, ditemani Tommy, seorang mahasiswa tingkat duadi FKG Universitas Sutopo. Sudah berjalan tujuh bulanTommy menjadi piaraan Nyonya Amir. Dibandingkangigolo-gigolo lain yang sempat markir di dalamkehidupan Nyonya Amir, Tommy termasuk paling lamasampai saat ini. Anaknya memang ganteng. Tinggisemampai tubuhnya. Tampangnya boyis sepertipenyanyi Donny Osmond dari Amerika.Kawan-kawanya di kampus memang menjulukiDonny Osmond Sutopo kepadanya. Ayahnya petanisayur mayur di Ciawi, Jawa Barat, sangat kaya, punyaistri empat orang. Ibu Tommy, istri pertamanya,memisahkan diri, pulang ke r umah ayahnya di Sukabumikarena tidak mau dimadu. Statusnya jadi istri nganggur,dicerai tidak, digauli juga tidak. Tommy adalah anakbungsu. Kakak-kakaknya ada empat orang, perempuan,sudah kawin semuanya.Tommy mengidap oedipus complex. Ia bernafsu pada

64 perempuan yang lebih tua, terutama yang jadi istri orang.Ayahnya menitipkan dia pada seorang paman yang jadipegawai di Pemda Jakarta, karena si ayah mencium baukurang sedap di pekarangannya sendiri. Ada tanda-tandaTommy bernafsu pada ibu tirinya yang paling muda.Maka, sebelum ada kejadian yang tidak diinginkan,Tommy dijakartakan saja.Perkenalan Tommy dengan Nyonya Amir terjadisecara klasik di kampus Sutopo di jalan Hang LekirUjung, Kebayoran Baru dekat stadion Senayan. Waktuitu si nyonya merawatkan giginya disitu. Tommy sedangasyik memperhatikan rekan-rekannya tingkat empatberpr aktek di lab gigi. Pada saat berkumur, si nyonyasempat melirik Tommy yang duduk di dekat pintu. Iamelempar senyuman yang bikin kaget Tommy.Senyuman itu halus, seperti mekar tak sengaja di bibir sinyonya. Tapi Tommy yakin seyakin-yakinnya bahwasenyuman itu ditujukan kepadanya dan mengandungajakan untuk berasoy-asoyan.Ketika perawatan selesai, si nyonya menjatuhkan saputangannya di depan Tommy. Tommy memungut sapu-tangan itu, kemudian menyusul si nyonya yang berleng-gang ke halaman kampus. Eh, tante, barangnya jatuh,kata Tommy. Nyonya Amir berhenti dan menengok. Iamenerima saputangannya sambil tersenyum. Sayatunggu di depan Lembur Kuring, dik, bisiknya, lantasberjalan lagi men uju mobilnya. Adegan itu berlangsungcepat dan tampak wajar, hingga beberapa mahasiswa danmahasiswi y ang melihat tak mengira kedua insan ituberkode-kodean.Tommy menjumpai nyonya Amir di depan rumahmakan Lembur Kuring di Jalan Pintu Sembilan, sekitarseratus meter dari kampusnya. Hari itu juga mereka

65 langsung ke Hotel Morison di dekat pantai Jakarta Utara.Ngesex.Dan hubungan mereka berlanjut sampai hari ini.Gerimis makin deras, hawa makin dingin dan kopi sudahhabis di cangkir Nyonya Amir. Tommy memandang keHonda Civic yang kesiram gerimis di halaman restoran.Honda Civic milik nyonya Amir itu warna hitam bikinantahun 1975.Nyonya Amir melihat arloji G.P. di pergelangan tangankirinya . “Jam sepuluh liwat tiga menit,” katanya . Tommymenoleh. “Pulang kita?” tanyanya. Nyonya Amirmengangguk. Tomm y mengusap tangan si nyonyadengan lembut.“Tante pucat,” kata Tommy.“Gara-gara kamu,” sahut nyonya Amir.Keduanya tersenyum.“Ayo kita pulang. Perasaanku tidak enak saja sejak tadimalam,” kata nyonya Amir. Tommy tak bicara apa-apa.Anak muda itu melambai pelayan yang segera datangdengan bon di tangannya. Nyonya Amir membukatasnya, tapi Tommy lebih cepat. Ia memberikan selembarribuan kepada pelayan. “Ambil kembaliannya,” katanya.Pelayan itu membungkuk-bungkuk untuk menyatakanterimakasihnya memperoleh tip yang cukup besar. Bonkopi dan kue kecil pesanan kedua tamunya hanyaberjumlah enam ratus lima puluh rupiah.Tommy merasa aneh ketika Nyonya Amir tak maubergandengan tangan saat mereka berjalan menujumobil. Dilihatnya wajah si nyonya mur am, seperti orangmelamun.Di dalam mobil, si nyonya masih tetap diam.“Liwat Parung atau Jagor awi?” tanya Tommy.“Terserah kamu…’” gumam Ny onya Amir.

66 “Lewat Parung aja,” kata Tommy.Tommy menghidupkan mobilnya, kem udian berlalu.Dia heran tiba-tiba nyonya Amir diam dan wajahnya punmuram. Untuk mengisi kekosongan suasana, Tommymenyetel kaset Bimbo. Lagu Penggali Kubu r menggemadi dalam mobil. Nyonya Amir menyalakan sebatang DunHill. Dihisapnya kuat-kuat. Perasaannya makin takkeruan. Wajah Ali Topan terbayang di matanya.“Kok ngrokok sendiri? Nyalain dong satu, Tante,” pintaTommy. Nyonya Amir menyalakan sebatang lagi,diberikan kepada Tommy.“Terimakasih,” kata Tommy. Nyonya Amir cumamengangguk acuh tak acuh. Pandangan matanya tetap keaspal jalanan yang basah oleh hujan.Di depan Istana Presiden, Tommy menghentikanmobil. Dia tak suka didiamkan tanpa sebab oleh NyonyaAmir.“Tante kenapa sih kok diem-diem aja? Marah samasaya? Tanyanya. Ny onya Amir memandangnya redup.“Tak a pa-apa Tom. Tante tak marah sama Tommy.Ayolah,” sahut nyonya Amir.“Betul?”“Ya. Ayolah, biar cepat sampai.”“Tante mau cepat-cepat? Kita balik saja liwat jalan tolya? Kita bisa tancap gas,” kata Tommy. Nyonya Amirmembelai rambut Tommy dengan penuh kelembutan.Tommy senang sekali.“Lewat Parung bisa juga cepat. Tapi kan nggak enakcepat-cepat, tante? Kurang mesra,” kata Tommy. NyonyaAmir tersenyum sambil menepuk pundak Tommy. Mobilterus melaju.“Tante kenapa pingin cepat sampai? Kangen samaOom di rumah ya?” goda Tommy.

67 Nyonya Amir tak menjawab. Ia tetap membelai-belairambut Tommy. Tiba-tiba terbit perasaan sayangnya padaanak muda ini. Anak muda yang manja, yang sukabersifat kekanak-kanakan. Bayangan masa hangat ditempat tidur dengan anak muda ini melintas di benaknya.Kemudian bayangan itu hilang digantikan oleh bayangananaknya sendiri, Ali Topan. Aaaah, Nyonya Amirmengeluh tanpa sadar.“Kur ang enak badan?” tanya Tommy. Nyonya Amirmenggeleng. Ia menghisap rokoknya berkali-kalikemudian dibuangnya puntung rokok yang masih agakpanjang ke luar, lewat jendela.“Tante tiduran ya, Tom,” gumamnya.“Tommy bengong sendirian?” kata Tommy mengajuk.Nyonya Amir tak menjawab lagi. Ia sudah menutupkankedua kelopak matanya, lalu men utupi wajahnya dengansaputangan.Tommy mematikan kaset agar tidak mengganggu tidurNyonya Amir. Kemudian dia menancap gas, menggeblaske arah Jakarta.Dua puluh lima menit kemudian. Honda Civic itu sudahmasuk Parung, sebuah kota kecil antara Bogor danJakarta. Tommy melirik Nyonya Amir yang masih tetapdalam posisi semula, menutupi wajahnya dengansaputangan. Tommy menyalakan sebatang rokok,kemudian menancap gas lebih dalam la gi. Dia merasasafe hari ini. Kecepatan r ata-rata 80 km per jam tak terasabagi mobilnya.Lalu lintas memang tidak seramai dulu, waktuJagorawi belum dibuka. Sesudah jalan tol J akarta-Bogor-Ciawi itu dibuka, kendar aan yang lewat Parung agaks epi. Yang masih suka menggunakan trayek Jakarta-Parung-Bogor adalah truk, bis kota dan colt.

68 Kilometer demi kilometer diraih Tommy. Kendaraan-kendaran lain dilewatinya dengan anteng. Tak sampaisetengah jam ia sudah sampai di mulut Ciputat,perbatasan Parung dan Jakarta.Tepat sepuluh lima puluh lima, malapetaka terjadi.Honda Civic yang dikendarai Tommy masuk tikunganPondok Indah dengan kecepatan 60 km per jam, dihajartruk tentara y ang masuk dari arah Jalan Fatmawati.Dahsyat! Honda Civic terhajar sebelah kanannya,muter setengah lingkaran langsung berbalik masuk kekebon kar et di sisi jalan. Truk yang penuh dengan muatantanah urug oleng sedikit, lantas nyelonong menyilangjalan, masuk ke parit!Orang-orang kampung berlarian ke tempat kejadian.Lalu lintas langsung terhenti dan orang-orang nimbrungke situ. Mereka menyaksikan Tommy menggelepar-gelepar sekarat. Dadanya rem uk kena setir mobil, kepa-lanya pecah menghantam kaca. Darah mer ah muncrat,mengalir bagaikan sungai kecil memerahi sekujur tubuh-nya yang meregang-regang kemudian diam, kaku.Tommy tewas!Nyonya Amir terlempar ke luar mobil, tergeletak direrumputan tepat di bawah sebuah pohon karet yangbesar. Darah mengucur dari kepala dan bahu kanannya.Ia pingsan.Dua orang muda kampung berambut gondrong meng-angkat tubuhnya. Dengan sebuah taksi, mereka bawaorang pingsan itu ke Rumah Sakit Fatmawati.Sopir truk, kenek dan tiga kulinya hanya meringis-ringis di rerumputan. Tak ada korban di pihak serdaduyang ngompreng itu.***

69TUJUHAli Topan nongkr ong di tukang jual ketoprak depanGelanggang Bulungan. Sehabis mandi tadi, sudahsepiring ketoprak dimakannya. Perutnya kenyang,tapi rasa kantuknya mulai menghimbau. Dia kurang tidursejak tiga hari yang lalu.Rasa kantuk itu tak bisa dilunasinya secara tuntas,karena tubuhnya terus gerah. Kegerahan itu berasal darimandi pagi yang kurang menyegarkan, ditambah rasapliket di selangkangan akibat tidak ganti celana dalam.Ali Topan tak biasa mandi tanpa sabun. Dan kebiasaanselalu bercelana dalam bersih membuatnya tersiksamemakai celana dalam yang kotor. Dulu, semasa di SMAdia bahkan suka tak pakai celana dalam, seperti kebiasaanMick Jagger, vokalis The Rolling Stones. Sejak dia bacadi sebuah majalah hiburan, bahwa kebiasaan itu dapatmembahayakan kesehatan tititnya, sejak itu pula diamenghentikannya.Gelanggang remaja mulai ramai oleh anak-anaksekolah yang ngiseng ke situ. Kebanyakan mereka adalahsiswa-siswi SMABulungan I dan SMABulungan II yangsedang istirahat. Di antara mereka ada yang memangngiseng saja, ada pula yang nyari tempat untuk merokoksekaligus berdarling-darlingan.Ali Topan hapal kelakuan mereka. Dia acuh tak acuhsaja, sebab dia merasa sudah berada di luar lingkungananak-anak sekolah itu. Banyak di antar a mereka, terutamacewek-ceweknya yang kenal dan menegur Ali Topandengan manis, namun Ali Topan cuma membalas dengan

70 anggukan acuh tak acuh. Soalnya dia malas sekali hariini. Badannya gerah, jiwanya pun rada gelisah. Pergi darirumah dengan tekad ingin berdikari, tidak tergantungdari orang tua, merupakan pengalaman baru baginya.Dulu dia suka juga ngabur dari rumah, tapi cuma untukbeberapa hari. Pada waktu itu dia masih terjamin secaramaterial. Mau makan tinggal makan, mau tidur tinggaltidur, mau celana ber sih tinggal ambil di lemari. AdaMbok Yem yang mengatur itu semua. Walaupun adaganjelan dengan orangtuanya, tapi dulu tak pernah adabayangan kelaparan di otaknya.Tapi sekarang? Dan hari-hari yang akan datang? Diaharus menanggung hidupnya sendiri. Itu berartikelaparan dan kehausan, pakaian dan rokok serta segalakebutuhan hidupnya, dari ujung kaki sampai pucukrambut, ditanggungnya sendiri. Tak ada orang lain yangmenjamin hidupnya. Jika dia tak bekerja, dia tak punyauang, tak bisa beli makanan dan minuman. Jika tidakmakan, kelaparan bakal menyantapnya bulat-bulat. Iapernah membaca di sebuah buku tempo hari, orang yangkelaparan bisa jadi nekat, jadi maling a tau tak punyamalu, jadi tukang minta-minta. ”Gue nggak mau jadimaling atau tukang minta-minta,” demikian gumamnyakeceplosan.“Minta apa?” tanya tukang ketoprak yang mendengargumam Ali Topan.“Gue kagak mau minta-minta!” dengus Ali Topanspontan.Tukang ketoprak nyengir kuda. “Saya kira minta tehlagi,” kata tukang ketoprak.Ali Topan nyureng. Kemudian diambilnya uang darikantong celananya. Dibayarnya ketopr ak, lalu ngeloyorpergi ke arah Utara, menuju jalan Mahakam. Ia

71 bermaksud tiduran di pondok Fauzi, seorang tukangkembang di tepi kolam Blok C yang terletak di ujungjalan Mahakam.“Hai, Topan! Mau ke mana lu?” sapa seorang anak diperempatan jalan. Ali Topan menengok ke anak itu,Raggie anak SMA Bulungan II yang rumahnya dekatGevaert. Raggie menghampiri Ali Topan.“Mau jalan aja, Rag!”“Punya rokok, Pan? Bagi dong,” kata Raggie, kalem.“Last one, mack. Lu isep deh,” kata Topan sambilmemberikan r okok yang diisapnya. Raggie menerimadengan gembira. Mereka ngobrol sejenak.“Si Gevaert ke Jerman ya. Udah nyuratin lu apa belon?”“Belon.”“Dia bilang ke gue, dia mau nerusin ke elektro di sono.Kalo lu kuliah di mana sekarang, Pan?”Ali Topan mengernyitkan dahinya. “Gue nerusin keUniversitas Jalanan, jurusan preman,” sahutnya dengannada getir.”Ah, becanda lu.”“Eh, jam berape Rag? Gue mau buru-buru nih,” kataAli Topan. Raggie melihat arlojinya.“Jam sepuluh dua puluh lima. Mau bur u-buru ke manelu?”“Ke kuburan Tanah Kusir. Pak Broto Panggabeanbarangkali ditanam ini hari.”“Haaa? Yang bener lu! Pak Br oto direktur sekolah ludulu? Kapan meninggalnye? Sakit apa, Paaan??” Raggiebertanya dengan tampang heran.“Semalem. Katanya sih gara-gara digencet samabininya,” sahut Topan dengan tampang berduka. “Lukayaknya heran. Masih ada sangkutan utang piutangsama lu?” kata Topan lagi.

72 “Gue heran aja. Rasanya baru tiga ari yang lalu guengeliat die, waktu tanding basket di bekas sekolah lu!”kata Raggie. Dua orang teman Raggie datang, nimbrung.“Ade ape, Rag?” tanya salah seorang di antar a mereka.“Pak Broto udah game semalem, dig encet bininya.”“Ah! Yang betul?” kata teman satunya.Ali Topan menahan ketawa. “Oke eh, Rag. Gue cabutdulu,Ogut ngimpi itu...” kata Topan bergegas pergi.Sambil berjalan ia cengar-cengir sendirian.Fauzi yang sehari-hari dipanggil Oji, pemilik AnggrekUngu, salah satu kios kembang di kolam Blok C adalahkenalan Ali Topan. Sebenarnya, hampir semua tukangkembang di seputar kolam itu kenalan Ali Topan. NamunOji, anak Betawi Asli asal Rawa Belong itu lebih enaksikapnya. Ramah, supel dan penuh pengertian. Umurnyasudah 35 tahun, anaknya dua, tapi gayanya masih sokmuda-mudi.Dulu, bersama Dudung, Gevaert dan Bobby, Ali Topansuka jual kembang ke Oji. Jika ada orang yang bikinpesta kawin di Wisma Iskandarsyah atau Bhara WidyaSasana, Ali Topan cs ke situ, melihat medan. Kalau situasidan kondisi sip, sebubar pesta mereka langsung ikut sibukmengangkuti karangan bunga yang ada, dibawa pakaibecak ke kios Oji.“He, Pan. Baru nongol lu? Ke mane temen kita yanglaen?” sapa Oji ketika Ali Topan muncul.“Laris dagangan, Ji?” kata Ali Topan, “kawan yanglaen udah minggat semua. Gevaert ke Jerman, ngikutneneknya, Dudung ke Bogor, sekolah nanem padi,Bobby… Bobby masih tinggal di Kebayoran sini, cumandia lagi sakit,” sambungnya. Oji menyorongkan sebuahkursi rotan kecil padanya.“Sakit ape si Bobby? Awaknya kan keker tuh.”

73 “Sakit sarap!” kata Ali Topan.“Dagangan gue lagi pas-pasan aje, Pan. Untung hargaanggrek lagi miring. Kalo kagak sih, udah miskin darikemaren-kemar en gue.”“Berape harga sekarang?”“Dua puluh perak dari bandarnya. Minta-minta sihtetep segitu sampe lebar an sama taon baru. Tapi rasanyangikut naek juga entarnya, Pan. Yah, emang gitu dahnasib tukang jual kembang. Gue ini udah empat setengahtaon dagang kembang, belon kaya juga,” keluh Oji.“Lah, lu ngapain buru-bur u kaya. Entar lu lupa lagisama gue,” gurau Ali Topan. Oji ngakak. Beberapatemannya ikut nyengir mendengar celoteh Ali Topan.“Yaaah, kalo gue kaya, Pan, kagak bakalannya guelupa sama kawan. Jangan kate rokok sebatang dua batang,tiga bos sehari juga gue kirim ke rumah lu. Heh heh heh.”Ali Topan nyengir. Ujung cengirannya terasapahit.Gua udah minggat dari rumah bokap gua, Ji. Inijuga gue pengen numpang tidur di belakang kios itu.Ngantuk gue,” katanya. Entah kenapa, saat Ojimengatakan “gue kirim ke rumah lu” perasaan Ali Topanterasa hampa. Kalimat ini makin menyadarkan akankenyataan yang sedang dijalaninya, sebagai anak yangtak punya rumah.“Jam berapa sekarang, Ji?” tanya Topan. Oji tak me-nyahut, karena ada pembeli da tang.“Bagus dah kalo lu udah minggat. Lu bisa bantuin guadisini…,” kata Oji enteng.“Beli kembang, tuan? Boleh pilih. Kembang baru di-kirim, segar semua, Tuan,” kata Oji sambil berdiri meng-hadap pembeli yang terdiri dari seorang lelaki muda,seorang perempuan Eropa dan seorang bocah kecil bule.“Ini anak Tuan? Cakep banget,” kata Oji.

74 “Iya,” jawab lelaki muda itu. “He Markus, kasih salamsama Oom itu,” katanya lagi. Bocah kecil yang dipanggilMarkus itu cola-colo sebentar, kem udian dengan beranimenghampiri Oji dan mengulurkan tangannya. “Hallo,jack. Apa kabar, jack?” kata bocah kecil itu denganbahasa Indonesia yang lancar. Aksen asingnyakedengaran lucu. Oji langsung menjabat tangan Markus.Wajahnya tampak her an campur kagum.“Wah, wah, dia bisa ngomong bahasa kita. Pinter ba-nget. Berani lagi,” kata Oji. Mulutnya ber ck ck ck.Ali Topan mengawasi adegan itu. Sekilasdipandangnya ayah si bocah kecil. Orangnya berusiasekitar 30-an. Wajahnya bersih, profilnya agak aneh.Potongan wajahnya seperti jambu mete. Rambutnyamodel David Bowie. Kacamata polaorid pas di wajahnya.Yang paling menarik perhatian Ali Topan adalah celanajeans belel dan kaos oblong putih bergambar swastikamerah dengan tulisan ”Adolf Hitler is alive and nowliving in Argentina” yang sedap kali dipandang.“Hallo, jack. Lagi mengagumi saya?” kata lelaki itupada Ali Topan. “Saya baru datang dari Negeri J erman.Saya artis top di sana, tau? Ini bukan nyombong, tapipengumuman. Ha ha ha.,” katanya lagi. Ia mengulurkantangan ke arah Ali Topan.“Karyadi,” kata orang itu memperkenalkan dirinya.“Dan ini istri saya Angela.”Acuh tak acuh Ali Topan menyambutnya. Dia kurangbermina t menanggapi celotehan orang itu. Perasaannyaterasa sumpek. Denyut jantungnya lebih cepat, terasamenghantam-hantam dadanya secara tiba-tiba. Ali Topangelisah. Wajah mamanya terbayang-ba yang dalam ba-tinnya…“Ji, gue tiduran dulu ya. Sore-sorean tulung bangunin.

75 Kepala gue rada puyeng nih,” kata Ali Topan. Dia ngelo-yor pergi masuk ke dalam kios.“Masih sepagi ini dia mau tidur? Ck ck ck,” cetus orangbernama Karyadi itu. Rupanya dia tipe orang yang sukamau tau urusan orang lain. “Baru jam sepuluh lewat limapuluh empat…,” gumamnya, sambil melihat secara de-monstratif ke arloji Rolex di pergelangan tangannya. Sokaksi sekali.“Pilih kembang yang mana, Tuan?” Oji ber tanya.“Yang itu!” kata nyonya bule sambil menunjuk bunga-bunga mawar berwarna merah darah yang belum diran-cang.“Saya mau beli bunga saja. Lima belas tangkai.”“O, yang itu, Nyonya? Boleh, boleh… Bisa jugaberbahasa Indonesia?” kata Oji.“Saya mau pilih sendiri bunganya,” kata Angela.Angela melihat ke Oji. “Berapa rupiah satu tangkai-nya?” ia bertanya.“Murah, Nyonya. Seratus rupiah sebatang,”kata Oji.“Boleh ditawar?”“Buat nyonya saya kurangi lima perak deh sebatang-nya.”“Tidak boleh sembilan puluh rupiah sebatang?”Oji nyengir.Angela melihat ke Karyadi.“Biasanya saya beli enam puluh rupiah sebatang,” kataKaryadi.Oji menggaruk-garuk kepalanya. “Batangnya doangkali...,” Katanya.Akhirnya Angela memilih mawar-mawar merah itudengan teliti. Ia seperti menikmati setiap kelopak bungamawar yang indah.***

76 Ali Topan duduk termenung di bawah pohonflamboyan di tepi kolam. Pandangannya bertuju kepermukaan kolam yang ditumbuhi bunga-bunga teratai.Berkas-berkas sinar matahari membuat permukaankolam, bunga-bunga teratai dan dedaunan berkilauan.“Hai kamu sedang melihat apa?” terdengar suara se-orang bocah dalam bahasa Jerman di belakang Ali To-pan. Ali Topan menengok ke belakang. Markus, si bocahbule anak Karyadi berdiri di pintu belakang kios Oji. AliTopan melambaikan tangan ke arah Markus. Anak itubalas melambaikan tangannya dan berjalan menghampiriAli Topan.“Sedang melihat apa kamu?” tanya Markus lagi, masihdalam bahasa Jerman.Ali Topan memandangi wajah anak itu. “Saya sedangduduk,” jawab Ali Topan juga dalam bahasa Jerman. Iamemang pernah mendapatkan pelajaran bahasa Jermandi kelas dua SMA-nya. Karena itu, ia bisa mengimbangiMarkus.“Sedang duduk?” tanya Markus.“Ya,” kata Ali Topan. Ia mengusap kepala bocah itu.Karyadi muncul di pintu kios, melihat mereka.“Markuus! Ke sini!” suara Karyadi dalam bahasaJerman.Ali Topan menengok ke arah Kar yadi yang mengham-piri mereka. Ali Topan punya kesan orang itu sombongdan culas.“Markus, Papa sudah berkata, Markus tidak bolehberbicara dengan orang asing. Banyak orang jahat. Me-ngerti?” kata Karyadi sambil menarik tangan Markusdan membawanya ke kios lagi. Dikiranya Ali Topan tidakmengerti apa yang diucapkannya.Ali Topan melihat ke arah kolam lagi. Batinnya gelisah.

77 Potongan-potongan peristiwa terbayang dalam ruangkenangannya. Di antara potongan-potongan kenanganitu, wajah mamanya terasa paling jelas. “Ada apa mama?”bisiknya sendiri.“Heh Topan ngelamun lu?!” suara Oji terdengar. AliTopan menengok ke Oji yang berjalan mendekatinya.Ali Topan segera berdiri. Ia tak suka dibilang ngelamunoleh Oji.Ali Topan menghampir i serumpun pohon pisang didekatnya, lalu memukuli batang pohon pisang berkali-kali.“Heh, Pan... kenape lu? Ada ape?” tanya Oji.Bug! Ali Topan menendang batang pohon pisang.Nafasnya ngos-ngosan. Wajahnya tegang mengekspresi-kan kegelisahan dan berbagai perasaan lain yang meng-gumpal.Oji menyentuh lengan Ali Topan. “Lu, latihan karate,Pan?” tegurnya dengan lembut. Ali Topan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat. Rambut gondrongnyadiudal-adul dan ditarik-tariknya sendiri.“Paan! Ngomong dong lu! Ada persoalan apa? Guebantuin lu kalo ada persoalan sama orang!” kata Oji.Dipegangnya pundak Ali Topan hingga mereka berha-dapan wajah.“Pikiran gue kalut, Ji… Nggak tau kenapa, mendadakaje, perasaan gue gelisah banget. Gue kebayang nyokapgue terus… ah,” kata Ali Topan. Oji menyalakansebatang rokok untuk Ali Topan.“Lu baca istighfar, Pan… terus lu pulang buru-burudah. Lu tengokin sebentar nyokap lu,” kata Oji. “Kali doisedih karena lu minggat..”“Gue ogah balik lagi ke rumah, Ji. Percuma.”“Ah, lu ade-ade aja, Pan. Pake kagak mau pulang. Mau

78 jadi apaan lu? Udah kalo mau rebahan lu rebahan dulu dipangkeng situ. Gue mau ngatur dagangan dulu, ya? Te-nang aje lu, ntar gue bangunin.” Oji menepuk Ali Topan,kemudian berjalan ke depan lagi.Ali Topan merebahkan diri di bale-bale bambu yangterletak di bawah pohon cemara di tepi kolam. Ia mengu-capkan astaghfirullah berkali-kali, untuk menenangkanperasaannya yang sang at gelisah. Ada dorongan inginpulang, tapi tak diturutinya.***Suara banyak mobil di parkir menambah rasa gelisahAli Topan. Hari sudah sore. Berjam-jam sejak tadi pagiAli Topan rebahan di pangkeng, berusaha tidur namunsia-sia. Setiap menit kegelisahannya terasa makin me-muncak. Ia sendiri bingung, tak mengerti se babnya. Se-tengah mati ia berusaha untuk mencari sumber perasaangelisah yang mengacaubalaukan pikirannya, namun sia-sia. Perasaan aneh yang sangat mengganggu itu datangseperti air bah melanda batinnya . Ali Topan tersiksa betul.Ia tak bisa mengusir bayangan wajah mamanya yangmencengkeram sejak pagi.“Pan! Topaaan! Bangun Paan! Bantuan gue bikinkembang kematian! Ada orang beken mati nih!” teriakOji dari dalam. Sesaat kemudian kepalanya menyembuldi pintu.Tanpa bicara lagi Ali Topan bangkit dari pangkeng,berjalan ke depan. Dar ipada melamun tidak keruan, diapikir lebih baik membantu Oji. Dia cukup pandaimembuat karangan bunga, karena pernah diajari Oji.Ali Topan melihat mobil-mobil diparkir memenuhijalanan di depan kios kembang. Karangan bungakematian di setiap kios memberi kesan duka di dalam hatiAli Topan. Para pembeli bunga duka rata-rata mahasiswa

79 dan mahasiswi Universitas Sutopo. Itu terlihat dari badgeyang terdapat di jaket warna abu-abu yang merekakenakan.“Siapa yang mati, Ji?” tanya Topan.“Tommy katanya, mahasiswa Universitas Sutopo.Mati tabrakan kemar in,” sahut Oji. “Lu bantuin nulisinpita birunya, Pan. Kalo udah lu semprot pakai brons ye,”sambungnya, kemudian Oji berbisik di kuping Ali Topan,“Nyayur kite ini hari, Pan….”Ali Topan sigap dalam melaksanakan “tugasnya.” Pitabiru besar ditulisi dengan kalimat Turut Berduka Citapakai tinta bronse yang khusus untuk keper luan itu.Senja merayap turun. Lampu-lampu jalanan mulaimenyala. Ketika adzan terdengar dari radio milik tukangrokok yang berseberangan dengan kios Oji, menghen-tikan pekerjaannya.“Maghrib, Pan. Sembahyang dulu!” kata Oji.“Gue sembahyang laen waktu aje,” kata Ali Topan. “Ji!Jangan lupa bilang terimakasih sama Tuhan. Dikasih pa-nen hari ini. Kalau tiap hari ada sepuluh orang kaya mam-pus di Kebayoran sini, lu bisa cepet beli Volvo,” teriak-nya lagi.Oji terkekeh-kekeh masuk ke kios untuk mengambilkain sarung, baju koko, dan picinya.“Pan!” panggil Oji. Ali Topan menghampirinya. “Inibakal beli rokok. Kapan-kapan lu bantuin gue lagi ya?”bisiknya sambil menyelipkan uang ke telapak tangan AliTopan.“Terimakasih nih, Ji! Ikhlas lu?” kata Topan sambiltersenyum. Oji tersenyum lebar sambil menyemplaksepedanya.Go pek, gumam Ali Topan, melihat selembar Rp 500 ditelapak tangannya.

80 “Banyak banget, Ji.”“Udeh. Masukin kantong buru-buru! Ntar terbang tuhduit!” seru Ismail, tukang kembang tetangga Oji. AliTopan mengepalkan tinjunya ke arah Ismail, kemudianberjalan menuju kios rokok di seberang jalan sambilsenyum-senyum sendiri.Ali Topan membeli sebungkus rokok Jarum 76 di kiosrokok, kemudian berjalan menuju Pasar Melawaimenjumpai Munir, untuk bermusyawarah. Dar i kios Ojidi Blok L ke Blok M yang berjarak sekitar satu kilometerditempuh dalam waktu limabelas menit oleh Ali Topan.***Kios Munir Pasar ibu tetap ramai ketika Ali Topan tiba.Munir berjongkok di bawah, sibuk menghitung kirimanmajalah dari agennya, sedangkan Domo, bocah tanggungyang jadi pembantunya sibuk melayani pembeli yangberjubel-jubel lebih dari hari biasa. Ali Topan menowelpundak Munir.“Nir! Perlu bantuan?” kata Ali Topan. Munirmenengok sekejap. “Hei, udah datang lu, Pan? Banyakkiriman, nih. Lu tolong bantu Domo melayani pembelideh,” kata Munir dengan wajah cerah.Dengan gembira Ali Topan mengambil tempat di sudutkios.“Mas Topan bagian mbungkus ya,” kata Domo.“Oke! Oke!” sahut Ali Topan. Dengan sigap ia melak-sanakan “tugasnya”, menggulung majalah dengan kertas,mengikatnya dengan karet gelang, dan menyerahkanpada pembeli. Sekejap dia tahu kenapa begitu ramaiorang membeli majalah kali ini. Mereka berebut membelimajalah-majalah yang memuat cerita dan beritamengenai Bung Karno! Cerita tentang Bung Karnomuncul kembali di majalah-majalah sejak penguasa

81 mengumumkan rencana pemugaran makam Bung Karnodi Blitar.Pengumuman tersebut rupanya dimanfaatkan secaralihai oleh beberapa penerbit untuk melariskan daganganmereka. Majalah-majalah hiburan yang biasanyamenampilkan foto cewek sexy, menggusur kebiasaan itudengan memajang foto Bung Karno di sampul depan danposter di dalamnya. Dan cerita tentang Bung Karno, daritongkat wasiat sampai ke urusan kasur, bini m uda dantetek bengek lainnya diungkapkan dengan sangatmenyolok.“Berita tentang Bung Karno laris, Nir,” kata Ali Topankepada Munir setelah dagangan habis dan merekabersiap-siap untuk menutup kios.“Seolah-olah hidup lagi die,” sahut Munir Pasaribudengan wajah cerah.Sekitar jam setengah sembilan malam mereka menutupkios. Pembeli tak ada lagi dan toko-toko di sekitar situpun mulai ditutup oleh para pemiliknya.“Domo, kau pulang duluan. Saya masih ada perlu samaAli Topan. Tolong bilang sama istri saya di rumah,sebentar lagi saya pulang,” kata Munir.“Ya, bang,” sahut Domo dengan pa tuh. Ia berjalan keterminal biskota sedangkan Munir dan Ali Topan berjalanke arah Pasar Kaget yang terletak di Plaza Ali Sadikin, ditepi sebelah Selatan Taman Christina Martha Tiahahu.Pasar Kaget itu adalah pusat penjual makanan danminuman rakyat di waktu malam hari. Dibangun padajaman Gubernur Ali Sadikin, untuk menampungpedagang-pedagang kecil yang dulu bergerombol dibagian belakang Pasar Melawai. Tempat itu buka sejaksore sampai dinihari, sedangkan pada siang hari ia berupalapangan kosong untuk lewat pejalan kaki. Nama Pasar

82 Kaget bermula muncul di kalangan anak-anak sekolah,kemudian tersebar dan dipakai secara populer olehmasyarakat Kebayor an Baru.Ketika memasuki Pasar Kaget, Ali Topan melihat lelakisipit berbaret RPKAD bersama seorang cewek cakepsedang makan sate Madura di suatu meja. Lelaki ituadalah lelaki yang ia lihat di kios buah si Jaim di PasarMelawai. Orang itu melihat pula ke arah Ali Topan.Mereka saling memandang.“Mau makan apa kau, Pan?” tanya Munir.“Martabak aje,” ka ta Ali Topan. Mereka pun berjalanke kios martabak di ujung selatan lorong Pasar Kaget.Surman dan Tresno, pengamen Pasar Kaget yang sedangmenyanyikan lagu “Groovy Kind of Love” di kios nasiuduk tersenyum melihat Ali Topan. Ali Topan melam-baikan tangan ke mereka. Surman main gitar, Tresnomain biola.Sambil makan mereka bicara singkat.“Ini hari pertama gue melepaskan diri dari orang tuague,” kata Ali Topan. “Gue menanggung beban diri guesendiri,” lanjutnya.“Jadi sudah pas niat kau?” tanya Munir. Ali Topanmengangguk. Matanya menatap Munir yang bicaraserius.“Kau sudah hitung untung ruginya?”“Sudah!”“Lebih banyak untung apa rugi, kau pikir?”“Wah, belum tau dong!”“Nah, nah! Kau mesti tau itu! Kau musti hitung setiaplangkah yang kau ambil. Harus ada rencana!” kata Munir,“sekarang kau punya rencana apa?” sambungnya.“Mau kerja!”“Kerja apaan?”

83 “Apa saja, asal bisa hidup!” ka ta Topan, bersemangat.Munir tersenyum, sinis.“Kau mau jadi maling atau tukang pungut puntungrokok?” kata Munir, tandas. Ali Topan sampai kagetmendengarnya.“Kok gitu lu nanyanye, Nir?”“Makanye, jangan bilang kerja apa aja! Tukang pungutpuntung rokok pun bisa hidup, tau kau? Tapi apa maubegitu? Aku cuma mau kasih pandangan saja sama kaukarena aku sejak dulu simpati sama kau. Aku pun duluminggat dari rumah bapak tir iku di Medan, persoalannyatak usah kau tau. Pokoknya, sekali kau pergi dari rumahorangtua, jangan kembali dengan tangan kosong. Kaumusti punya prinsip, harus sukses! Itu baru namanya anaklaki-laki, Pan! Makanya kau musti pakai ini nih!” kataMunir sambil menunjuk keningnya sendiri.“Iya,” kata Ali Topan, pelahan.“Nah! Kau pikir kau punya modal apa sekarang?”Ditanya begitu, Ali Topan blingsatan. Munirtersenyum. “Untuk hidup kan perlu modal,” katanya.“Berangkat dari rumah, gue cuma punya duit seribuseratus. Mbok Yem, pembantu rumah ngasih go ceng.Jadi jumlahnya enem ribu seratus perak. Buat makan danrokok habis empat ratus perak. Tadi sore gue dapat g opekpersenan dari Oji yang dagang kembang kawan gue. Jadisekarang gue ada modal cash enem ribu dua ratus perak.Pakaian, sepatu, celana dalem, sama kaos kaki yanglengket di badan ini. Itu deh semua modal gue, Nir!” kataAli Topan. Munir ketawa mendengar uraian Ali Topan.“Modal yang lain ada?” tanyanya sembari ngulumsenyuman. Ali Topan berpikir sejenak.“Itu uang dan barang memang termasuk modal.”“Yah, jiwa raga gue deh, Nir… bakal fight!” cetusnya.

84 Munir bersiut ketika mendengar cetusan itu.“Nah, itu! Itu yang penting! Jiwa dan raga dipakai buatmodal untuk fight. Bertempur, Pan! Itu berarti kau siap!Sebab, banyak orang justru tak menyadari modal yangdia miliki itu! Gue seneng dengar omongan kau itu, Pan!”kata Munir. Ia menepuk-nepuk pundak Ali Topan,kemudian berkata lagi: “Kau mau dengar tiga syarat yangaku pakai buat berjuang, Pan!”“Apa itu?”“Jangan cengeng, jangan gentar dan jangan melanggarhukum! Kau pegang prinsip itu baik-baik, niscaya sukseskau!” kata Munir. Ia berdiri, menatap langit.“Aku mau pulang sekarang… ng… kau mau ikut?”katanya. Ali Topan menggelengkan kepalanya. “Terimakasih, Nir. Soal tidur gampang buat gue,” jawabnya.Munir menjabat tangan Ali Topan. Lalu, dia pergimeninggalkan Ali Topan. Ali Topan masuk ke dalamTaman Christina Martha Tiahahu di samping Pasar Kagetdan duduk di rerumputan.Beberapa saa t Ali Topan diam di tempat, merenungkanpercakapannya dengan Munir. Dar i seluruh pembicaraanitu dia cuma menangkap satu hal, Munir bersimpati pada-nya. Jangan cengeng, jangan gentar, jangan melanggarhukum, begitu kata Munir tadi. Dalam keadaannyasekarang, Ali Topan tidak menganggap istimewa ucapanitu. Orang idup memang mesti begitu, pikir Ali Topan.Menjelang jam sebelas malam Ali Topan beranjak dariTaman Christina, ia berjalan gontai menuju GelanggangRemaja. Ia bermaksud menemui Dirty Harry yangdiketahuinya sering menginap di salah satu ruang di situ.“Ada peraturan, anak-anak tidak boleh nginap. Di sinibukan hotel,” kata seorang penjaga dengan nada dingin.Ali Topan tak berminat untuk bertanya jawab dengan

85 penjaga y ang sok angker itu. Ia hanya mendengus, lalumeninggalkan tempat itu.Ia pergi ke kios kembang Oji, tidur di pangkeng bambudi tepi kolam. Udara dingin dan nyamuk-nyamuk yangganas membuat tidurnya kurang nyenyak. * * *

86DELAPANPagi semerbak di sekitar kolam Blok C. Sinarmatahari yang hangat dan burung-burung kecilberkicau dan berlompatan di ranting-ranting pe-pohonan, mengusa p-usap perasaan Ali Topan. Sudah jamtujuh lewat tapi ia belum mandi. Ia duduk di pangkeng,merokok dan minum kopi yang dipesannya dari warungBibi Min di seberang kios Oji. Letih dan gelisahnyabelum lenyap seluruhnya. Semalaman tak bisa tidurnyenyak. Kulit lengan dan mukanya penuh bintil merahbekas gigitan nyamuk.Oji muncul di pintu, melempar sekuntum mawar merahke arahnya. Ali Topan membiarkan bunga itu mengenaikepalanya.“Kayak Tarzan lu, gini ari belon mandi! Mandi gihPan!” kata Oji. Ia menghampiri Ali Topan yang antengmenghisap rokok.“Lu kagak pake racun nyamuk? Liat tuh, kulit lu merah-merah bekas gigitan nyamuk!” kata Oji.“Biarin aje, Ji! Tidur disini enak. Soal nyamuk sih,entar juga bosen sendiri ngegigitin gue,” sahut Topan.Oji duduk di sebelahnya.“Eh, Pan, gue mau nanya nih…”“Apaan?”“Lu kagak dicariin sama orang tua lu?”“Orang tua gue nggak sempet nyariin anak-anaknyeyang pergi. Kalo sendok di dapur ilang satu baru merekaribut,” sahut Ali Topan. Ditatapnya Oji sekilas, kemudianpandangannya dilepaskan ke pucuk-pucuk cemara yang

87 bergoyang-goyang dibelai angin pagi.“Bisa aja lu, Pan.”Oji mengulum senyuman. Kem udian ia bangkit danberjalan masuk ke dalam kiosnya. Sura, kongsiannya,yang sedang jongkok merangkai bunga, merasa heranmelihat Oji masuk sambil cengar-cengir.“Ade ape lu nyengir pagi-pagi?” tanya Sura.“Eh, Ra,” bisik Oji sambil berjongkok di sisi temannya,“feeling gue nih… kalo tiap hari si Topan nongkrong dikios kite, bakal laris dah kembang-kembang yang kitejual,” sambungnya.Dengan heran Sura memandang Oji. “Kenape begitu?”tanyanya.Oji menowel lengannya, lantas berbisik di kupingnya,“Psst! Lu liat apa kagak kemaren sore. Cewek-cewekkan banyak beli krans di tempat kite gara-gara ada ituanak. Kagak biasanye dagangan kita ngalahin kios siCucun. Gue perhatiin, cewek-cewek yang mau belikembang ngeliatin dulu si Topan. Kagak salah lagi dahpengamatan gue. Cewek yang sebareg-abreg itu matanyajelalatan ngeliatin Si Topan….”“Ah, yang bener?” bisik Sura.“Masak lu kagak perhatiin cewek-cewek itu ngerubungkayak laler ijo begitu.”Sura tersenyum, dan berkata pelan, ”Mata gue sihngeliat. Cuman gue kirain itu cewek-cewek ng erubungkarena ada gue di sini.”“Wa yooo! Tampang lu kayak anggrek kering begitu,mana ade cewek naksir.” Oji mendorong Sura sampaijatuh. Keduanya tertawa terbahak-bahak.Di belakang, Ali Topan masih merenung-renung, me-mikirkan nasibnya. Sudah habis tiga batang rokok kr etekdiisapnya, tapi masih belum diperolehnya ketetapan hati

88 tentang apa yang akan dibuatnya pada hari-hari menda-tang. Ia belum bisa merumuskan secara kongkr it, peker-jaan apa yang paling pas dilakukan. Sesung guhnya adabeberapa alternatif pekerjaan yang dipilihnya, untukmengatasi keadaan daruratnya. Persenan Rp 500 dari Ojikemarin, dirasakannya sebagai bukti, tak begitu sukaruntuk mencari sesuap nasi dan sebungkus rokok buathidupnya hari per hari. Kegelisahan hari kemar in tak mauhilang dari kalbunya.Sekuntum bunga mawar yang ditimpukkan oleh Ojidiambilnya dari tanah. Ditepuk-tepuknya bunga itusesaat, kemudian dilemparkannya ke tengah kolam.Beberapa ekor ikan menyerbu bunga itu. Merekamenyentuh kelopak bunga, yang mereka kira makanan,kemudian berenang pergi meninggalkannya.Ali Topan menggerak-gerakkan badannya untukmengusir kelesuan, lalu berjalan menghampir i seemberplastik berisi air di dekat pintu pondok, mencuci mukadan lehernya, berkumur-kumur dengan air itu, kemudianmasuk ke dalam pondok.Oji dan Sura menyambut kemunculannya dengansenyum.“Gue cabut dulu, Ji!” kata Ali Topan.“Heh, mau kemane lu pagi-pagi. Udah di sini aja ban-tuin gue kayak kemaren. Daripada ngayab kagak puguhlu, Pan,” ka ta Oji.“Gampang deh nanti. Gue mau nglemesin dengkuldulu.”“Dengkul lu kopong ye? Kebanyakan sih lu? Makanyakalo ada begituan bagi-bagi kawan dong, jangan dilalapsendiri Pan…,” kata Oji sambil senyam-senyum mesum.Ali Topan tersenyum lebar mendengar gurauan Oji.“Makasih Ji! Makasih Ra! Gua cabut dulu,” kata Ali

89 Topan. Ia keluar pondok kembang itu, berjalan ke jurusanjalan Bulungan.“Sering-sering kemari, Paan!” seru Oji.“Rebes!” balas Topan tanpa menengok lagi.***Dirty Harry duduk nyender di pintu Gelanggang,membaca koran Ibu Kota edisi hari ini. Sebuah tustelCanon tergantung di pundak kir inya, dan sebuah tas kulitbuatan Yogya di pundak kanannya. Perhatiannya terpusatke berita kecelakaan Tommy dan Nyonya Amir yangsudah ada di koran itu. Wajahnya tegang sekali. Ali Topanberjalan santai mendekatinya.“Hallo Dirty Harry!” sapa Ali Topan.“Heh! Pan! seru Har ry, “yang kecelakaan ini nyak luapa bukan,” katanya lagi dengan sangat serius.“Ah!” cuma itu yang terlontar dari mulut Ali Topan.Segera ia menjambret kor an yang memang disodorkanoleh Harry. Begitu membaca, jantungnya ter asa berdegupsangat kencang, dan perasaannya berdebar-debar denganhebatnya.“Bener ini! Nyak gue kecelakaan Har! Aaah! Maa!”kata Ali Topan setelah dia baca berita itu. Gue mesti kerumah sakit, Har!” katanya lagi, sambil berlari membawakoran si Harry.“Paaan! Gua ngikuuut!” teriak Harry sambil ber larimenyusul Ali Topan.Sebuah President Taxi yang sedang melintas diprapatan jalan di suiti oleh Ali Topan. Ziiit! Taksi ituberhenti. Ali Topan berlari seperti gila menuju taksi,Harry berada lima langkah di belakangnya. “Pan, guengikut!” seru Harry.Ali Topan tak menjawab. Ia langsung membuka pintutaksi dan masuk ke dalamnya. “Rumah Sakit Fatmawati,

90 bang!” kata Ali Topan. Sopir taksi menunggu sampaiHarry masuk dan duduk di sebelah Ali Topan, kemudianmenancap gas.”Cepetan, Bang!” kata Ali Topan pada sopir taksi itu.Pikirannya kalut! Ia panik sekali! Dan sopir taksi rupanyamemahami keadaan penumpangnya. Ia ngebut, menye-lap-nyelip di antara lalu lintas yang cukup padat di sepan-jang jalan. Harry tak bicara apa-apa. Ia cuma memegangilengan Ali Topan er at-erat untuk menenangkan hatinya.Begitu taksi berhenti di halaman Rumah Sakit Fatma-wati, Ali Topan sudah melompat tur un. Uang Rp 700diberikannya ke sopir taksi, kemudian ia berlari seken-cang-kencangnya ke bagian inf ormasi. Dengan na pasterengah-engah ia bertanya tentang ibunya kepadapetugas bagian informasi.“Nyonya Amir? Coba di cek di O.D,” kata petugas itu.“O.D.?” tanya Ali Topan.“Dinas Opname. Gedungnya di sana,” petug as menun-juk ke sayap kanan rumah sakit. Ali Topan dan Harrymencek ke O.D. bagian khusus pasien darur at.“Nyonya Amir ada di ruang VIP A. Di belakang sana,”kata suster yang bertugas di O.D.“Bagaimana keadaan ibu saya, suster?” tanya AliTopan dengan suara gemetar. Suster itu tersenyumramah. Ali Topan merasa sedikit terhibur oleh senyumyang memberi harapan itu.“Masa kritisnya sudah lewat, berhasil diatasi tadimalam. Tapi saya kir a sekarang masih belum bolehdiganggu. Coba saja adik ke sana, di kamar No.5,” katasuster ramah.Di depan kamar No.5 paviliun VIP, Ali Topan ampr okdengan ayahnya. Pak Amir berpakaian perlente sepertibiasa, tampak tenang-tenang mipa cangklong.

91 “Papa….,” tegur Ali Topan, spontan. Pak Amir cumamengernyitkan dahi sedikit, wajahnya sinis, sikapnyaseperti orang asing, dingin, kaku, acuh tak acuh. Nyeriperasaan Ali Topan mendapat sambutan seperti itu.Tertusuk perasaannya, nyeri sekali. Ia menyapu si ayahdengan pandangan dingin, dari kaki sampai kepala,menatap tajam muka ayahnya yang tetap sinis, kemudiansebat melangkah ke pintu.Pintu dikunci dari dalam. Melalui celah gordin dijendela kaca, ia melihat ke dalam kamar. Sesosok tubuhdengan perban di kepala dan dada tergolek di tempattidur, dikelilingi seorang dokter dan dua perawat. Matapasien itu terbuka separuh, mulutnya merintih halus.“Mama! Mama!” seru Ali Topan. Ia mengetuk kacajendela dengan keras, kemudian memutar-mutarpegangan pintu untuk masuk ke dalam. Dokter danperawat melihat ke arahnya dengan pandangan tak enak.Salah seorang perawat menyibak gordin jendela. Wajahdramatis Ali Topan terpampang di jendela.“Buka, suster, buka! Saya mau liat mama sa ya!” seruAli Topan. Perawat menoleh ke dokternya, dan sangdokter mengangguk tipis. Kunci pintu pun dibuka.“Pelan-pelan, nanti mamamu terkejut,” bisik perawat itu.Berjalan pelahan dengan perasaan tercekam, Ali Topanmenghampiri ibunya. Jari-jari tangannya gemetar,kerongkongannya terasa kering tiba-tiba. Berdiri disamping tempat tidur, ia memandang wajah ibunyadengan mata ber kaca-kaca.Wajah itu bengkak. Lembuttangan Ali Topan menyentuh perban yang membalutbahu ibunya. Mata sang ibu bekerjap sesaat,memancarkan rasa sakit. “Mama,” bisik Ali Topan.Nyonya Amir berusaha tersenyum, tetapi senyuman ituberubah bentuk seperti seringaian. Tak tertahan lagi, air

92 mata Ali Topan meleleh. Pandangannya kabur. Sekuattenaga ia menahan diri untuk tidak memeluk ibunya,karena ia masih sadar bahwa sentuhan paling lembut punakan menyakiti sang ibu. Sesungguhnya, ia sangatmenyayangi ibunnya.“Sudah, Dik… berdoa saja untuk Mama… biar kamiyang menjaga di sini,” dokter bicara halus. Perawatmenarik lengannya, membawanya keluar. “Di luar sajadulu ya, Dik. Mama belum boleh diganggu, nantiinfeksi,” kata perawat itu sambil memperhatikan pakaiankumel dan wajah dekil Ali Topan.“Terimakasiiih, Suster,….,” bisik Ali Topan, “tolongselamatkan mama sayaa,” sambungnya dengan suarabergetar. Sang perawat yang baik hati itu menganggukdan tersenyum ramah. Ali Topan ke luar deng an airma taberlinang-linang.Harry memeluk Ali Topan dengan penuh simpati.Sejak tadi ia bengong saja melihat sikap Pak Amir yangacuh tak acuh. “Kita ke sana dulu, ayo,” kata Harry.Dagunya digerakkan ke arah lapangan golf yang terletakbeberapa meter di sebelah timur paviliun. Pak Amirmelengos ketika Ali Topan dan Harry lewat di depannya.Mereka duduk di rerumputan di bawah pohon trembesibesar dekat lapangan golf. Pohon-pohon trembesi besardan flamboyan yang teduh dan padang rumput golf yangterhampar luas di depan mereka agak menyegarkanpikiran keduanya. Harry menyalakan sebatang rokokuntuk Ali Topan. Terharu sekali Ali Topan atas simpatiyang ditunjukkan oleh Harry.Ali Topan mengenal temannya yang satu ini sebagaianak yang pendiam, tak suka banyak omong danbercanda. Dulu ia merasa kurang pas, menganggap Harrykurang akrab, anak pasif dan misterius. Dibanding

93 Bobby, Gevaert, dan Dudung yang ceria dan terbuka,Harry memang jauh berbeda. Ali Topan dengan Harry.Tapi kini Ali Topan sadar betapa ia telah keliru menilaiseorang kawan. Tanpa banyak omong, Harry telahmenunjukkan simpati yang sangat dalam. Sikap danucapannya terasa menghibur, menguatkan dirinya. AliTopan tersentuh dan merasa malu sendiri mengingatsikapnya yang terkadang kasar dan tak bersahabat selamaini.“Har,” bisik Ali Topan, “lu baek ha ti bener sih. KenapaHar?” sambungnya. Ekspresi Harry tak berubahmenatapnya. Kebego-begoan, seakan-akan takmendengar bisiknya.“Har, kenapa lu bersikap baek sama gue,” Ali Topanmengulangi uca pannya.“Ah, lu kan juga baek,” sahutnya kalem dalam aksenJawa yang medok.“Ah! Kapan gue baek sama lu?” ucap Topan spontan.Harry menyeringai kecil.“Pokoknya gue tau kalo lu anak baek.”“Lu mau jadi kawan gue, Har?” kata Ali Topan dengansangat lembut.“Lho, dari dulu kan gue emang temen lu. Heh heh heh,”sahut Harry sambil ketawa geli. Dua codet di wajahnyamembuat wajahnya tampak aneh dan lucu ketika iaketawa.Ketawa Harry terhenti ketika mer eka melihat Pa k Amirberjalan ke mobilnya.“Tuh, babe lu pulang, Pan,” bisik Harry.“Biarin,” sahut Topan dengan nada kesal.Mobil Pak Amir bergerak dari tempat parkir danberjalan lambat. Sopirnya menghentikan mobil di dekatAli Topan. Pak Amir melongok keluar.

94 “Tuan Ali Topan! Ik sudah baca sur at jej!” kata TuanAmir bernada kering dan tandas. Ali Topan menengok.Pandangan matanya redup menatap sepasang mataayahnya yang bersorot angkuh. “Konci motornya jugasudah Ik terima, tapi kamu lupa belum mengasihkanSTNK-nya. Awas jangan kamu gadaikan surat itu, anakbuajingan!” ucap Pak Amir. Sambil meludah ke arah AliTopan. “Cuiih!”Saddiss! Gumam Harry spontan. Ia sampai bengongterlongong-longong mendengar ucapan dahsyat itu.Dipandangnya adegan ganjil antara ayah dan anak.Sepasang mata Ali Topan berkilau sesaat. Iapun kaget.Betapapun kering hubungan mereka, tapi bar u kali iniayahnya menghinanya begitu macam, menunjukkanbenci antipatinya. Terguncang batin Ali Topan.Wajahnya pias. P erasaannya nyeri sekali.Pa k Amir menutup kaca mobilnya, kemudian mobil itubergerak diiringi pandangan kosong Ali Topan danHarry.Harry membiarkan Ali Topan dalam kegalauanperasaannya sendiri. Ia sungguh merasa heran. Ia banyakmendengar tentang istilah broken home dan generationgap di koran-koran, tapi baru kali ini secara telakdisaksikannya dengan mata kepalanya sendiri buktinya.Sepasang mata Ali Topan berubah-ubah sorotnya.Redup dan garang saling bergantian. Tragik banget. TapiHarry tak melihat airmata setitik pun lagi di mata AliTopan. Padahal ia bisa menduga betapa hancur perasaanseorang anak y ang dihajar dengan kata-kata begitu sadisoleh ayahnya. Ali Topan kelihatan sangat berdukamemang, namun ia tak melelehkan airmata seperti ketikaia menghadapi ibunya di dalam kamar tadi.Agak lama Ali Topan berdiam dir i diamuk gelombang

95 perasaan yang mengharu-biru kalbunya. Sesaatkemudian ia berhasil menguasai diri. Ia menghela napaspanjang dan berat, mengusap-usap wajahnya kemudianmenengok Harry. Puntung rokok dibuangnya ke selokandi dekat kakinya. “Masih ada rokok, Har?”“Abis, Pan!” sahut Harry, “gue beli sebentar ya,”tambahnya cepat . Tanpa menunggu jawaban, Harry pergimencari tukang rokok.Duduk sendiri menatap padang golf yang luas, AliTopan merenungi nasibnya. Kata-kata ayahnya masihterngiang-ngiang di telinganya dan wajah ibunya yangbiru bengkak terbayang-bayang di pelupuk matanya.Betapapun sang ibu punya sikap yang tidak disetujuinya,dan ada jurang pemisah di antara mereka, tapi seketikajurang itu lenyap di dalam ha tinya. Ba gaimanapun iasangat mencintai ibunya. Dan ayahnya? Dahsyat sekalitadi. Di depan orang lain, sopir dan Harry, terang-terangan ia menghinanya. Mengingat itu, ia hanya bisamemendam duka yang teramat dalam.Setelah dipikirkannya sejenak, ia pun tak dapatmenyalahkan ayahnya. Mungkin papa tersinggung olehisi suratnya. Ia menyebut Tuan dan Ny onya Amir di situ,jadi pas saja jika ayahnya menyebut dia Tuan Ali Topanseperti tadi. Tapi… soal STNK dan hinaan yangdilontarkan oleh ayahnya adalah soal lain bagi Ali Topan.Baru kini dia sadar bahwa ia memang lupa menaruhSTNK sepeda motornya bersama-sama dengan kuncimotor dan surat di atas meja. Ia ingat STNK itu masih adadi dalam tas sekolahnya.Harry da tang membawa sebungkus Ji Sam Soe, yangia berikan kepada Ali Topan.“Banyak duit lu, Har?” tanya Ali Topan, “beli Jarum

96 yang go cap-an udah cukup buat kita. Ini kan rokokmahal.” Harry cuma nyengir.“Sekali-kali ngisep Sam Soe, kebanyakan ngejarumbisa berdarah-darah mulut kita,” selorohnya sambilmenyalakan korek api. Ali Topan g eli juga mendengarselorohan itu.“Gue pikir lu kagak bisa becanda, Har…”“Sekali-sekali, bakal menghibur lu, Pan…”Ali Topan terharu mendengarnya. Ucapan yangberwarna seloroh itu pas benar-terasa menghibur dirinya.Harry duduk disamping Ali Topan. Keduanyamelepaskan pandangan ke lapangan golf. Beberapaorang sedang bermain, diikuti caddy masing-masing.Burung-burung gereja bercereceh di pohon asem kecilyang ada di dalam lapangan.“Har,” kata Ali Topan, “hubungan lu sama orang tua lumulus apa kagak?”“Biase-biase aje. Orang tua gue di Yogya, jualan gudeg.Gue anak paling gede, adik-adik gue masih kecil, ada tigabiji. Babe gue baek, yah biasa-biasa deh,” kata Harry.“Kok lu ke Jakarta? Mustinya kan lu disono aje, kumpulsama orang tua dan adik-adik lu kan enak.”Harry melirik temannya. Dia paham, Ali Topan ingintahu tentang dirinya. Untuk menetralisir kekalutan di hatitemannya, ia pikir tak ada salahnya memberitahu.“Sesudah gue lulus SMA, di sana, babe gue bilangnggak kuat ngongkosin lagi. Gue disuruh nyari hidupsendiri,” katanya.“Lu disangonin berape duit sama babe lu?”“Nggak pake sangu duit. Gue dari dulu udah berdikariwalaupun kecil-kecilan. Gue bisa menggambar. Seringgue terima order menggambar potret. Duitnya guetabung. Malah kalo babe perlu, gue kasih die.”

97 Ali Topan manggut-manggut. Ia tertarik untukmengetahui lebih lanjut tentang temannya itu. Dilihatnyatustel Canon yang menggantung di bahu temannya.“Lu bawa-bawa tustel bakal apaan? Jadi wartawan lu?”“Gue tukang potret keliling. Motretin babu-babu.Soalnya gue sukar nyari order gambar di sini. Lebihgampang motret. Ada sodara sepupu gue yang jadiwartawan Berita Dunia, gue belajar motret dari die.Canon ini gue beli cicil, juga dari die. Masih kurangdelapan ribu.”“Kenapa lu kagak jadi wartawan aje?”“Gue suka juga masukin foto ke har ian Ibu Kota. Guekurang bisa nulis berita. Tapi memang gue lagi belajarnih.”“Kenapa ke Ibu Kota? Kenapa nggak ke BeritaDunia?”“Ibu Kota syaratnya lebih gampang. Obyeknya jugalebih asyik. Bis kota tebalik, motor nubruk becak, warungkebakar, pokoknya y ang kayak gitu deh, pasti masuk IbuKota. Sedangkan Berita Dunia atau koran lain, beritanyamusti berita politik kelas tinggi.”Diam-diam Ali Topan tertarik.“Honornya berapa lu dapet dari Ibu Kota?”“Lumayan. Satu foto go pek, berita kecil go pek. Sukalebih juga. Pokoknya sip deh, kalo lu mau gua ajarinmotret, Pan.”“Gue mau, Har! Gue mau!” kata Ali Topan, antusiassekali.Sesaat ia lupa akan kedukaan yang dialaminya.Tawaran Harry terasa sebagai satu jalan keluar yangmenyenangkan. Harry melihat mata Ali Topan bersinarkembali.“Dulu si Gevaert kan juga pinter motret, Pan. Lu nggak

98 belajar dari dia?”“Dulu gue nggak bermina t. Gevaert memang jago, Har.Dia hobi banget sih. Sekarang gue mau belajar serius darilu,” kata Topan. Harry tersenyum. Ia merasakan gembira,awan duka mulai melayang dari wajah temannya.“Mulai besok ya. Gue ke rumah lu deh,” kata Harry.“Gue udah kagak pulang ke rumah lagi, Har! Lu liatsendiri kan, sikap orang tua gue udah asing!” kata Topan.Harry tersirap. Ia sadar telah keceplosan omong.“Sorry, gue lupa,” katanya cepat, “yah, kita belajar dimana kek.”“Disini aje, Har. Gue musti nungguin nyokap guesampe sembuh. Gue tidur disini.”“Oke deh. Ng… lu udah makan apa belon, Pan? Kitamakan dulu yuk di warung depan sana. Kalo pagi nggaksarapan, lemes badan gue,” kata Harry. Ali Topan berpikirsesaat. Hatinya berat meninggalkan tempat itu. Ia inginselalu dekat ibunya dalam keadaan parah begitu. Harrybisa meraba pikiran temannya.“Nyokap lu pasr ahin aja pada Tuhan. Lu kan harusberjuang, ayo lu temenin gue.” Soalnya gue udah janjisama babu-babu di Kemang untuk nyerahin foto hariSabtu ini. Gue musti menepati janji, Pan,” kata Harry,sambil menepuk tas kulitnya.“Oke, thanks ya Har. Gue memang kudu berjuang ,”kata Topan.“Sama-sama, berjuang friend,” kata Harry. Merekaberjalan meninggalkan tempat itu. Mereka berjalan dijalanan setapak di halaman rumah sakit. Semangat AliTopan mengalir. Hidup penuh keajaiban.Ia merenung menatap padang rumput luas. Burung-burung gereja makin ramai bercereceh. Mereka terbangberkejaran dari pohon yang satu ke pohon yang lain.

99 Matahari meninggi, langit berwarna biru muda jernih.Disana-sini mega seputih kapas.Ali Topan mencabut sebatang rumput yang panjang,kemudian menggigit-gigit batangnya. Pikirannya penuhdengan berbagai persoalan yang menimpa dirinya. Iamerasa sedikit pusing memikirkan itu semua, tapi rasagelisah sudah hilang dari hatinya. Ia paham kegelisahanhari kemarin merupakan tanda terjadinya begitu banyakperistiwa dahsyat hari ini. Dan hari-hari esok menyimpanperistiwa-peristiwa lain lagi.***

100SEMBILANAli Topan dan Harry sarapan gado-gado di warungTegal depan rumah sakit. Sehabis makan ia naikbis Gamadi menuju Blok M, dari situ naik bis minike jurusan Ragunan. Mereka turun di Kemang , di dekatrumah pribadi Duta Besar Malaysia. Harry bercerita, situterdapat rumah besar yang ditempati Miss Carla Visser,seorang noni Indo berusia sekitar 27 tahun. Carla Vissercantik, bodinya kayak Edwige Fennech. Ia bekerja diperusahaan Belanda. Mobilnya Peugeot 504 warna sususapi.Harry beberapa kali melihat noni itu, ketika keluar darirumahnya. Juga dari foto-foto dirinya yang ada di ruangtamu rumahnya. Harry sudah hapal seluk-beluk rumahtersebut, karena ia sering masuk kesitu jika si noni tidakada di rumah. Harry kenal baik dengan Betty dan Prettyyang bekerja sebagai ba bu di rumah itu. Betty dan Pr ettyitu nama samaran. Harry tak tahu dan tak berminat untukmenyelidiki siapa nama asli Betty dan Pretty, babu-babuasal Solo asli itu. Urusan dia cuma memotret mereka danteman-teman satu korps mereka di rumah itu, sesuai orderyang ia terima.Kemang tumbuh sebagai daerah elite. Orang kaya danorang asing banyak tinggal di situ. Babu-babu merekagayanya lain dari mbok-mbok yang masih tradisionil.Mereka rata-rata berusia muda, genit-genit dan merekaseragam rok putih. Buat Harry tak ada problem. Merekayang penting suka dipotret dan bayarannya pun lancar.Harry dan Ali Topan nonkrong di pinggir jalan depan

101 rumah Duta Besar Malaysia, menunggu kode dari Betty.Janji pertemuan jam sepuluh kurang seperempat. Kurangtujuh menit lagi. Dua belas foto berwarna sudah ada didalam tasnya untuk Betty cs. Untuk se buah potr et diadapat Rp 200.Tepat pada waktunya, pintu halaman rumah MissVisser terbuka. Betty keluar, berdiri di depan pintu pakaislack merah. Setelah melihat Harry, Betty masuk lagi danpintu dibiarkannya terbuka sedikit. Itu kode mereka.Harry mengajak Ali Topan berjalan santai ke rumahitu. Longak-longok sebentar dan yakin tak ada orangmemperhatikan, mereka masuk dan menutup pintuhalaman. Di teras rumah sudah menunggu Betty dengangaya primadona lenong menyambut kekasih.“Hallo saay, pacarku yang ganteng, apa kabar saay?”seru Betty. Matanya dikerjapkan sebelah dan keduakakinya dikangkangkan.“Bawa temen, to… ganteng ya, hi hi”Harry y ang sudah biasa dengan sambutan semacamitu, kalem saja. Betty tidak jelek, malah pembawaannyamirip bintang sex Indonesia. Ali Topan berkenalandengan Betty.“Fotonya udah jadi nih,” kata Harry. Ia menyodorkanamplop berisi foto Betty dan Pretty.“Urusan foto nanti saja deh, saay…,” sahut Betty. Iamenggeraikan rambutnya, gayanya makin menantang.Tangan Harry dipegangnya. Harry mengelak.“Som som yaa…,” kata Betty, wajahnya merengutmanja.Harry tersipu-sipu.Pretty muncul di pintu.“Siah siah, kalo pacaran di kamar dong, jangan dipelataran, lho pacarku dateng juga…,” cetus Pretty. Gaya

102 kenesnya tidak di bawah rekan sejawatnya. Prettylangsung ngesun pipi Ali Topan.“Pacar kita som som, Pret… jual mahal…,” kata Betty,“abis kita or ang jelek sih…?” sambungnya. “Pacarkuganti Ali Topan aja deh… lebih okey...” katanya.“Nggak som som… kalo som som kan kita nggak kesini,” kata Harry. Kata-ka tanya mengikuti keadaan, tapisikapnya tetap waspada. Soalnya, dua langganannya itumakin menampilkan sikap panas, tanpa tedeng aling-aling. Betty menggaruk-garuk perutnya dan Prettybersidekap secara demonstratif hingga pangkal buahdadanya membuhul ke a tas. Ali Topan bersikap tenang .“Mau dibayar sekarang atau ngebon dulu?” kata Harry.Betty dan Pretty saling berpandangan. Keduanya salingmelempar senyum, seakan-akan memaklumikeengganan Harry.“Ngebon aja deh, biar bisa ketemu lagi, ya Pret?” kataBetty.“Tapi aku perlu uang untuk ngirim ke orangtuaku.Bapakku mencret-mencret di desa. Dan sodaraku iniperlu duit juga,” kata Harry.“Duit sih gampang asal mau jadi pacarku hi hi hi ,”sahut Pretty, “tapi kasian juga pacar kita. Bayar se parodulu, Bet.”“Gimana saay?” tanya Betty.“Boleh,” sahut Harry.”Sisanya minggu depan ya?”Pretty masuk ke dalam untuk mengambil uang. Bettymengamati fotonya sa tu per satu. Wajahnya kelihatangembira. Pretty datang, memberikan uang Rp 1.200kepada Harry.“Terimakasih,” kata Harry, kemudian ia dan Ali Topanminta diri. Betty dan Pretty mengantar kannya sampaipintu.

103 “Jangan bosen ya saay,” ka ta Betty sambil mencubitpantat Ali Topan.Ali Topan dan Harry menjawabnya dengan senyumanramah.Dari depan r umah itu mereka naik metromini ke BlokM. Dari terminal bis ia berjalan kaki ke Jakarta Fotoyang terletak di Plaza, membeli film hitam-putih. Darisitu mereka naik Metro mini ke rumah sakit, Harry inginsegera memberi kursus kilat fotografi kepada Ali Topan.Ia merasa gembira dan bang ga bisa menjadi “guru” AliTopan yang urakan itu. Sejak dulu dia diam-diammengagumi anak muda yang terkenal di Blok M dansekitarnya.Sesampai di rumah sakit lagi, Ali Topan dan Harryduduk di bawah pohon flamboyan, menghadap kelapangan golf. Harry menimang-nimang tustelnya.“Orang bilang... fotografi adalah menggambar ataumelukis dengan cahaya,” Harry memulai pengajarannya.“Siapa orang itu ?” tanya Ali Topan.“Harry tertegun . “Haah, siapa? Hampir semua orangfotografi bilang begitu. Kenapa?”“Lu bilangin orang-orang ahli, lebih tepat memakaikata merekam daripada menggambar atau merekam...,”kata Ali Topan. Serius.“Terserahlah”“Jangan maen terserahlah-terserahlah g itu, dong. Apa-apa kita usahain pakai pengertian yang tepat,” kata AliTopan.“Lu atau gue yang ngasih kursus ?” kata Harry sambilnyengir.“Gue kursus fotografi ke lu. Lu kursus nyusun kalimatke gue. Masing-masing dari kite dapet manfaat. Okey ?”Harry tersenyum lebar sambil mengangguk-

104 anggukkan kepalanya. “Okey-okey... Jadi.... menurut lufotografi adalah merekam dengan cahaya?”“Merekam suatu obyek yang tampak mata dengansuatu alat, yaitu tustel, dengan pertolongan cahaya . Tustelitu, cara kerjanya kayak mata kita,” kata Ali Topan. “Nah,lu lanjutin deh.”“Lho lu udah tau teorinya...”“Gue pernah baca tapi gue belum sempet mraktekin.Gue lebih suka nulis,” kata Ali Topan.“Oh ya ? Kalo gitu elu jadi wartawan aje, Pan.”“Pikiran gue emang kesitu. Tapi sekarang lu ajarin guemotret deh. Entar gue ajarin lu nulis.”Singkat cerita, Harry ngomong tentang lensa,diafragma, kecepatan, komposisi, pemasukan danpengeluaran film, dan sebagainya. Ali Topan mencatatdengan cepat pelajaran yang disampaikan oleh Harry.Tak terasa sore telah masuk pada jalur waktu. “Besokkita praktekkan,” kata Harry. “Gue mau ke Bulungan. Lugimana, Pan ?” lanjutnya.“Saya telah mengatakan bahwa saya mau menemaniibu saya yang sedang dirawat di rumah sakit ini. Terimakasih untuk fotografi yang anda telah ajarkan kepadasaya, Harry...,” kata Ali Topan.Harry terperangah. “Kok bahasa lu jadi tertib, Pan ?”“Bukankah saya telah berkata untuk mengajari Andamenyusun ka ta-kata, lisan dan tulisan ?” kata Ali Topan.Ia tersenyum sambil mengulurkan tangan kanannya yangseger a dijabat oleh Harry. Ya mereka berja bat tanganerat-erat sebagai ungkapan kegembiraan dan rasa setiakawan dalam perjuangan.***Sekitar jam sembilan malam, ketika Ali Topan sedangngobrol dengan Mbok Yem di ruang VIP, datanglah

105 Ages, Retno dan Qibor. Mereka seniman-seniman mudagelanggang Bulungan yang diberi info Harry tentangmusibah yang menimpa mama si Ali Topan. Maya, temanSMA-nya datang pula ber sama Londri, teman kuliahnya.“Tabah saja, Pan. Hidup memang penuh ujian. Semogamamamu lekas sembuh,” kata Ages, ketua grup teaterTelor Asin.“Iya, Pan. Musibah itu datangnya tak terduga. Terimaaja dengan iklas. Aku ikut berduka,” kata Retno, pacarAges. Retno itu anggota grup teater Telor Asin yangdipacari Ages.“Kembalikan saja kepada Yang Di Atas, Pan. Semuaitu ada hikmahnya,” kata Qibor, pelukis yang menjadikepala bagian artistik grup teater Telor Asin.Ali Topan pernah beberapa kali ikut berlatih teaterdengan mereka, tapi tak ia lanjutkan. Ia merasa takberbakat di teater. Padahal anak-anak teater itu ingin iabergabung dengan mereka.“Kami tak lama-lama, Pan. Kami harus berlatih teateruntuk pementasan minggu depan di TIM,” kata Ages.“Ter ima kasih Ages, Retno, Qibor... untuk simpatikalian. Dan salam pada teman-teman yang lainnya,” kataAli Topan.“Pan..,” kata Maya lembut, ketika anak-anak teater itutelah pergi. “Aku... aku ingin menyampaikan sesuatu...,”lanjutnya. Maya melihat ke Londri. Londri cukup tam-pan, sosoknya sosok anak gedongan yang alus, juga me-mandang Maya.“Londri, ada yang mau gue omongin berdua denganAli Topan. Lu tunggu di sini ya,” kata Maya. Londrimengangguk.Maya memegang tangan Ali Topan dengan mesra, danmengajak ia berjalan ke halaman paviliun VIP itu.

106 Mereka berhenti di dekat pohon flamboyan. Mayamemandang wajah Ali Topan dengan rasa sayang yangia pendam sejak SMA. Langit kelabu muda. Beberapaperawat berjalan di lorong-lorong rumah sakit.“Paan..,” kata Maya. “Aku mau nyampein sesuatu...”“Ya kamu omongin aja, May. Soal cowok lu ?” kata AliTopan.“Bukan! soal itu sih kapan-kapan aja. Aku juga barumenjajaki apa dia cocok sama aku apa nggak... Ini... Annanelpon aku dari Singapur... Dia pesan ke aku... supayaaku ngejagain kamu..,” kata Maya. Ia menunggu reaksiAli Topan.“Kamsudnya gimana itu anak orang kaya?” kata AliTopan. Ia menyalakan sebatang rokok jisokam.“Kamsudnya ?”“Maksudnya ”“Ya gitu. Anna pesen wanti-wanti supaya aku njagainkamu. Kasarnya dia nitiplah... nitip kamu ke aku.”“Jelasnya gimana sih, May ? Kalo njagain berarti kamuitu satpam. Kalo nitipin berarti gua ini dianggap barang.Nah, ogut bukan barang dan elo bukan satpam... Jadi...yang begituan kagak usah diomongin,” kata ali Topan. Iamengecup kening Maya. Cup! Maya kaget, seperti takpercaya.“Eh...” Maya melihat ke arah Londri yang berdiriseperti patung melihat ke arahnya. Wajah Mayamemerah, hangat, dialiri rasa bahagia. “Apa artinya yangbarusan itu ?” bisiknya lembut.“Kalo Anna nilpon lagi aku harus bilang apa?” tanyaMaya sebelum pergi bersama Londri.“Kamu bilang aja bahwa malam ini kening lu guakecup,” Kata Ali Topan sambil mengusap rambut Maya.***

107 Esoknya Harry memotret Ali Topan bercakap-cakapdengan seorang caddy di pinggir lapangan golf. Harrymenjepret mereka dengan kameranya. Crek! Crek!“Waduh! Jangan lu masukin Ibu Kota, Har! Ntar dikiraresidivis gue,” kata Ali Topan. Caddy tersipu-sipu,wajahnya senang dipotret Harry.“Kalo udah jadi bagi, Oom,” ka ta si Caddy.“Manggil oom lagi, emang tampang gue tua ya,”seloroh Harry sambil melompati pagar, masuk kelapangan.“Udah beres lu sama babu-babu?” tanya Topan. Wajah-nya nyengir. Har ry menafsirkannya sebagai ledekan.“Lu ngeledek ya?”Ali Topan mesem saja.“Oom, eh, Mas, saya pergi dulu ya. Caddy Mastermanggil saya,” kata si Caddy, “jangan lupa bagi fotonya,Mas,” sambungnya sambil berjalan ke arah caddy masteryang memanggilnya. “Sip,” kata Harry.Kemudian ia menarik Topan duduk di rerumputan.“Ngobrol apa tadi?” tanya Harry.“Gue nanya soal golf.”“Pingin jadi caddy?” kata Harry, nadanya datar.“Eh, gimana urusan lu. Beres? Ceritain dong,” AliTopan mengalihkan pembicaraan.“Beres. Sebagian duit gue beliin film. Lu jadi belajarpraktek apa nggak?”“Iya dong!” kata Ali Topan. Matanya bersinar-sinargembira. Tapi tiba-tiba ia diam, seperti ada sesuatupikiran. “Eh, Har! Harga filmnya berapa?”“Kena pa?”“Gue bayar ah! Kan gue yang perlu!”“Sama temen jangan gitu cara lu, Pan,” sahut Harry.Agak kesal nadanya. Ali Topan cepat memahami

108 perasaan Harry.“Oke, Har!” katanya. Ditepuk-tepuknya pundak Harrydengan haru. “Lu baik banget sih,” katanya dengan suaralembut.“Kita mulai?” tanya Harry. Wajahnya serius.“Oke!”“Ini kamera udah ada filmnya. Black and white. Isifilmnya 36 jepretan. Udah gue pake 6 je pretan. Isinyamasih 30 jepretan lagi. Nah, lu jepret apa saja deh sepuluhkali, baru kita ngomong lagi,” kata Harry.Ali Topan mengamati kamera Canon itu. Ditimang-timangnya sambil mengingat cara motret Gevaert. siHarry ini ngetes gue, pikirnya.Rasa ingin tahunya akan cara Harry memberi pelajaranmendorongnya berbuat serampangan. Dengan tampangserius, ia mulai mengokang, Crek! Ditembaknyamatahari! Dikokangnya lagi. Crek! Ditembaknya caddyyang mendorong kereta golf di ujung lapangan.Kemudian berturut-turut ditembaknya Harry, semak-semak, mobil-mobil di tempat parkir, perawat yangsedang berjalan dan burung-burung gereja yangbeterbangan sampai jatah yang ditentukan habis.Ia memberikan tustel pada Harry sambil tersenyum.“Hebat ya?” katanya.“Hancur lebur,” kata Harry, “dari sepuluh jepretanrusak sebelas,” guraunya.Ali Topan berlagak tersipu-sipu. “Kalo sepuluhjepretan yang jadi sebelas, gimana caranya Har?”katanya.“Nih! Gini nih!” kata Harry. Lantas dia mulai mengajaripraktek memotret Ali Topan memperhatikan denganseksama.“Pelajaran berharga ini musti gue catet, Har!” kata

109 Topan, “bagi kertas dong.”Harry suka hati menyobekkan kertas dari bukucatatannya.“Bolpennya juga dong,” kata Topan sambil mengambilbolpen Bic dari kantong Harry.Harry mengulangi pelajarannya, dicatat Ali Topandengan teliti. Kini ia benar-benar serius, sebab Harrymengajarinya sepenuh hati. Ia tak ingin mengecewakanHarry. Yang le bih penting lagi, ia bermaksud menguasaifotografi sebagai salah satu jalan untuk nyari makan.“Nanti malem gue cuci, besok pagi kite lia t hasilnya,”kata Harry.“Lu nyuci sendiri?”“Iya.”“Rupanya lu memang gape, Har. Tapi sebulan lagi sihkita liat, siapa yang lebih profesional di antara kita,” kataTopan.Harry tersenyum kecil sambil menggulung film.***Berhari-hari mereka sibuk dengan acara potretmemotret, dengan obyek sekitar rumah sakit. Harry puasdengan kemajuan yang diperoleh Ali Topan. Jika haripertama hasil 10 jepretan kurang bagus, maka pada harikelima satu rol jadi semua, meskipun komposisinyamasih kacau dan pengaturan cahaya kurang pas.Pada hari keenam, mereka istirahat, ngobrol di ter aspaviliun rumah sakit.“Tinggal mengatur komposisi, terus lu bisa prakteksendiri, Pan. Minggu depan kan ada parade drum band diThamrin, kita motret wadon-wadon SMA Stella, mack,”kata Harry.“Wadon sih wadon, tapi duit gue udah bures nih bakalbeli film, Har. Kita musti nyari puntung dulu bakal

110 makan,” seloroh Ali Topan.“Duit gue masih ada, kita bisa pake sama-sama.”“Gue ngerepotin lu ya, Har?”“Jangan ngomong gitu lagi, Pan. Kita kan take andgive. Lu lagi susah gue tolong, kalo gue susah kan lu yangnolong.”Ali Topan merangkul Harry dengan hangat. Kesedihanhatinya akibat peristiwa-peristiwa tak enak telah pergi,berganti dengan semangat baru untuk hidup. Dalam diriHarry ditemukannya benih-benih persahabatan. Benihini makin hari makin berkembang dengan indah,menghangatkan hatinya yang dingin berkabut duka.***

111SEPULUHSore hari, 22 Juni 1978.Jalan Mohammad Husni Thamrin penuh sesakoleh rakyat yang sudah berjam-jam menunggu Pa-rade drumb band menyambut Hari Ulang Tahun Jakarta.Jalan raya yang diberi nama tokoh rakyat Jakarta itu,bersambung dengan Jalan Jendral Sudirman di sebelahSelatannya, merupakan jalan utama ibukota yang palingpenting, terkenal sebagai tempat Malam Pesta MudaMudi Jakarta sejak tahun 1973 ketika IMADA —IkatanMahasiswa Jakarta— mengkoordinir pesta rakyatsemalam suntuk guna memberi kesempatan masyarakatberpenghasilan rendah menghibur diri.Lenong, orkes dangdut, grup band rock, wayang golek,dan beberapa kesenian tradisionil dibuatkan pang gung-panggung tersendiri di sepanjang jalan raya itu, sehinggamasyarakat kecil —terutama kaum mudanya— dapatmenghibur diri sesuai selera masing-masing, pada tahun-tahun yang lewat. Tapi sejak Tjokropranolo naik tahtamenjadi Gubernur Jakarta, ada kebijaksanaan untukmenghapus pesta rakyat di Jalan Thamrin itu.Rakyat kecil yang sangat haus hiburan banyak kecewaatas hal itu, tapi sebagaimana nasib rakyat kecil di mana-mana, mer eka tak mampu berbuat apa-apa sekalipun me-reka sangat ingin diberi hiburan yang sederhana danbersifat benar-benar dari rakyat, oleh rakyat untuk rakyat.Ali Topan dan Harry duduk di trotoar di depan BangkokBank Building yang berseberangan dengan BankIndonesia, menunggu parade mulai. Harry sudah mengisi

112 penuh Canon-nya dengan film hitam-putih ASA 200.Lampu blitz yang dia pinjam dari Mas Moel, sodarasepupunya yang jadi wartawan Berita Dunia, berisi 4buah batu batrei mini, siap untuk dipakai.Sebuah jam umum di perempatan jalan Thamrin danjalan Kebon Sirih mati. Ali Topan menowel seoranglelaki setengah baya yang duduk di sebelahnya,menanyakan waktu.“Kapan mulai bergerak drumb band-nya ya? Sayasudah capek nungguin. Sejak jam setengah tiga tadi sayasudah disini. Kalo bukan untuk nyenengin anak saya,saya ogah banget ke sini. Mendingan nyari obyekan bakalngasepin dapur,” kata orang itu. Ali Topan memperha-tikannya. Lelaki itu kurus, tampangnya pun seperti pe-gawai negeri kelas bawah.“Kerjanya di mana, Pak?” tanya Topan untuk menyam-bung pembicaraan.“Saya kuli Dik…,” kata orang itu dengan tekanan suaramengeluh. “Saya cuma pesuruh di Kantor DepartemenPendidikan dan Kebudayaan. Susah jadi orang kecil dik,anak saya satu, itu yang sedang berdiri di dekat tukangjual rokok,” kata orang itu sambil menunjuk seorang bo-cah berumur sekitar 6 tahun yang sedang melihat denganpenuh minat seorang bocah kecil lain yang asyik makanpermen. Tampak jelas oleh Ali Topan, anak itu menelanludahnya berkali-kali melihat bocah sebayanya makanpermen dengan nikmat.Tiba-tiba bocah itu berlari ke ayahnya. Dengan manjaia masuk ke pelukan sang ayah. “Paak, Pepen pengenpermen Sugus, Paak. Punya duit apa enggak buat belipermen Sugus, Paak,” kata si anak yang bernama Pepenitu. Ayahnya mengusap-usap wajah Pepen dengan penuhkasih sayang.

113 “Berapa duit?”“Go cap aja, Paak.”Si ayah merogoh saku celananya, dan mengambil uanglogam Rp 50. Uang itu masih diamat-amatinya, seolah-olah berat hati melepaskannya. Akhirnya toh uang itudiberikan pada Pepen yang langsung berlari dengan riangke tukang rokok untuk membeli permen yangdiinginkannya.“Yaah, namanya anak kecil… segala permen yangnggak bisa bikin kenyang perut dibeli. Sebetulnya uanglima puluh perak kan dapat secangkir beras,” gumamayah Pepen dengan wajar. Ia seperti bicara pada dirinyasendiri.Trenyuh hati Ali Topan mendengar gumam ayahPepen. Uang Rp 50 begitu berguna bagi orang ini,pikirnya. Lantas ia teringat beberapa anak di sekolahnyadulu yang uang jajannya paling sedikit Rp 5.000 setiaphari. Bahkan Ito, anak kelas III IPA dulu, pernah bikinsensasi di sekolah ketika pada hari ulang tahunnyamencarter American Hamburger dan mentraktir kawan-kawan sekelasnya di situ. Ali Topan ingat betul, sebab iabersama Dudung dan Gevaert ikut nimbrung, walaupuntak diundang. Ayah Ito yang kerja di kantor Bea danCukai malah sempat hadir dengan pakaian dinas,memberi setiap anak selembar Rp 1.000 yang masih baubank.Bergidik tengkuk Ali Topan meng ingat peristiwa itu.Ia tidak tega melihat langsung ke arah ayah Pepen yangduduk dengan wajah kosong. Ali Topan banyak kenalgembel-gembel, tukang becak, tukang-tukang parkir,bocah tukang semir sepatu, kaum gelandangan sejenisitu. Ia tahu, mereka juga kerja sangat keras untuk mencariuang, tapi wajah mereka jarang kelihatan sedih dan

114 muram seperti pesuruh kantor yang sekarang duduk disebelahnya. Wajahnya melompong seperti ada bebanberat mendekam di dalam pikirannya.“Yaah, pasrah saja, Pak,” cetus Ali Topan tiba-tiba.Maksudnya menghibur hati orang yang kelihatannyasusah betul itu. Ayah Pepen kaget mendengar ucapan itu.Dengan sorot mata aneh ia menatap anak muda yang takdikenalnya tapi sudah berani memberi naseha t itu.“Kalo tidak pasrah mau apa? Mau protes sama Tuhan?”cetusnya dengan geram. “Eh, umurmu berapa, Dik?”sambungnya dengan nada lebih kalem.“Delapan belas, Pak,” sahut Ali Topan.“Umur saya tiga puluh delapan. Jadi dua puluh tahunlebih tua dari kamu. Asem garemnya kehidupan sudahbanyak saya rasakan. Tidak perlu saya cer itakan padamu,tapi kalo saya tidak pasrah dan istri saya tidak tabah,barangkali sudah lama saya bunuh diri a tau masuk bui!Nasib saya memang nasib orang bodo. Ketiban susahmelulu di jaman yang ka tanya serba membangun ini!Apa yang dibangun? Gedung-gedung mewah dan pabr ik-pabrik mobil untuk orang kaya? Tapi nasib rakyat kecildan bodo kayak saya ini, siapa yang mikirin?Nyekolahkan anak satu saja setengah mati susahnya!”katanya dengan nada keras, seakan-akan melampiaskanbeban berat pikirannya kepada Ali Topan.Beberapa orang yang mendengar kata-kata kerasnyamenengok, kemudian acuh tak acuh lagi. Harry pun acuhtak acuh mengusap-usap kameranya.“Anaknya cuma sa tu ya, Pak? Masih kecil ya?” ka taAli Topan. Orang itu memandang ke anaknya yangsedang asyik mengunyah permen di dekat tukang rokok.Ia menghela napas panjang.“Untung anak cuma satu. Kalau saya punya anak lima

115 dengan keadaan super melarat begini, apa nggak ma tikapiran mereka,” dengusnya, “memang pemerintahsekarang…’” ia tak melanjutkan ucapannya. Wajahnyapucat tiba-tiba karena melihat seorang prajurit polisimuda bawa pentungan berhenti di bawah jembatanpenyeberangan tiga langkah dari tempat mereka duduk.Matanya memandang tajam ke arah ayah Pepen dan AliTopan. Rupanya sejak tadi ia mendengar ucapan ayahPepen yang bernada protes itu.Ali Topan dengan tenang memandang pula ke oknumpolisi yang umurnya kira-kira sepantaran deng an dirinya.Dengan pakaian seragam yang sangat ketat, bawapentungan, wajah sinis dan tangannya berkacakpinggang, kentara betul ingin mengesankan sebagaipolisi yang berwibawa. Di mata Ali Topan, ia lebih miripjagoan lenong yang menggelikan.“Ada apa kamu liat-liat, hah?” oknum polisi itumenegur Ali Topan. Matanya melotot, pentungannyadiketuk-ketukkan ke aspal. Sikapnya yang demonstratifdan tegurannya yang keras perhatian pub lik di sekitarsitu. Ayah Pepen gemetar ketakutan. Harry cemas, iakhawatir bakal terjadi sesuatu yang tak enak. Tapi AliTopan kambuh nekadnya. Sikap oknum yang sok jagoandan sewenang-wenang menegurnya itu, bikin gerahkalbunya. Ia tak mau digertak begitu macam di depanumum.“Har, gue pinjam tustel lu,” bisiknya. Harrymemberikan tustel. Dengan hati kebit-kebit iamenyaksikan Ali Topan berjalan santai menghampiri sioknum yang masih petenteng-petenteng.Orang banyak yang sudah yakin bakal menontonadegan seorang anak muda digebukin oknum polisimerasa heran tatkala mereka melihat si anak muda

116 membisikkan sesuatu di kuping si oknum. Mereka takmendengar apa yang dibisikkan itu, kenyataannya sikapkaku dan sok angker si oknum mendadak kempes. Ajaibbagi mereka menyaksikan ekspresi wajah si oknumberubah netral dan sikapnya jadi kikuk. Tanpa ba atau bulagi, si oknum ngeloyor pergi meninggalkan Ali Topan.Harry bengong, ayah Pepen melongo sambilmengusap-usap dadanya dan orang-orang lainnyamenampilkan pandangan aneh ketika Ali Topan denganwajah bodo berjalan kembali ke tempatnya semula.“Lu bisikin apa tadi, Pan?” Harry bertanya. Beberapaorang pasang kuping untuk mendengar jawaban anakmuda gondrong berpakaian jeans serampangan yangmampu bikin seorang oknum polisi ngeloyor pergi hanyadengan sebuah bisikan saja.“Gue tanya dia, minum berapa botol tadi malam, kokmaboknya baru sekarang…,” kata Ali Topan. Grrr!Orang-orang ketawa serempak mendengar jawabansembrono itu.“Ah, paling bokis ini anak. Plokis dibecandain,” cetusseseorang yang berdiri di belakang Harry. Ali Topanmenengok ke arah orang yang berbahasa prokem itu.Orang itu kecil, kurus, berwajah tikus, rambutnyagondrong kemerah-merahan memakai topi model Baretawarna coklat muda.“Kawan, gue teken brani lu, kawan!” kata orang itusambil menyeringai.Ali Topan tersenyum kecil saja. Ia lihat si penegur itucengar-cengir dengan dua orang kawannya yangbertampang kriminil. Iseng-iseng Ali Topanmengarahkan kamera ke arah mereka.“Jangde! Mau di foto lu!” kawan si penegur berserukaget. Ia langsung menarik temannya yang dipanggil

117 Jangde tadi, kemudian bergegas mereka cabut dari situ,dengan wajah was-was.Ali Topan batal memotret mereka. Kamera diserahkankembali Harry.“Gue rasa, tiga anak itu pasti tukang copet,” kata AliTopan. Dirty Harry tak menyahut. Ia mengawasi ayahPepen menggandeng anaknya, menyeberangi jalandengan tergesa-gesa.Barisan sepeda motor polisi lalu lintas dan pramukamenderu-deru, menertibkan jalan yang akan dilaluiparade drumb band. Orang-orang yang berjubel sampaike jalan berhamburan ke tepi. Ali Topan menggamittangan Harry, mengajaknya naik ke jembatanpenyeberangan.“Kita cari posisi strategis, Har,” kata Topan. Harrysetuju. Mereka ngambil posisi di jembatanpenyeberangan, tepat di atas jalan yang akan dilewatiparade.Tak berapa lama kemudian, bunyi deram genderangterdengar. Publik berdesakan ke depan, melongokkankepala mereka ke arah tikunga n Air Mancur. Drumb bandInstitut Teknologi Bandung yang berser agam jaket-jasbiru dan celana putih, muncul di tikungan, mengawali,parade. Pub lik bersor ak gemur uh menyambut tontonan.Nama ITB sempat top di kalangan anak muda Jakartaketika rektornya dulu menciptakan istilah “kejutanteknologi.” Istilah itu sempat bikin banyak orang latah,ikut-ikutan memakai istilah kejutan hampir di dalamsetiap persoalan sepele sekalipun. Kini, profesor yangpunya hobi bikin kejutan itu sudah dipecat dengan caraOrde Baru sebagai buntut huru-hara, tentara mendudukikampus ITB beberapa bulan yang lalu.Anak-anak ITB dengan gaya pahlawan masa depan

118 berbaris tegap lewat di bawah jembatan penyeberangan.Toh mereka melirik ke atas sekejap ketika melihat Harrymengarahkan kameranya.Ketika dr umb band SMA Stella muncul, Harry mem-berikan tustel pada Ali Topan. “Jangan gemetar motr etmereka, Pan,” seloroh Harry.Berdiri dengan aksi persis di atas jalan yang akan dilaluicewek-cewek SMA Stella itu, Ali Topan tampak menga-gumkan. Rambut gondrongnya hitam melambai dig eraiangin, kulit wajahnya yang gelap berwarna tembagadicium sinar matahari. Cewek-cewek Stella itu hampirserempak mendongak ke atas, memandang sosok yangmempesonakan itu, tatkala mereka memasuki kolongjembatan. Bahkan drum majorette mereka sempat grogimemainkan tongkat komando yang bentuknya se pertipentungan petugas Sabhara itu.Stel yakin, Ali Topan memotret tiga kali, tanpa sadarbahwa tembakannya melawan sinar matahari. Sesudahbarisan lewat, Harry menepuk pundaknya. “Gaya sepu-luh, hasil nol, Pan. Tembakan lu ngelawan srengenge,”kata Harry. Haaa, Ali Topan melongo. Seorang wartawanfoto berjaket Femina yang bertugas di dekat merekatersenyum geli.“Ntar gue lebih hati-hati, Har,” gumam Ali Topan. Didalam hatinya ia malu, tadi sudah bergaya profesional,ternyata membuat kesalahan fatal. “Cuma orang sakti’kali yang bisa motret matahar i pakek Canon, ye Har,”selorohnya untuk menutupi r asa jengahnya.Tustel diberikannya pada Harry. Ia sendiri duduk dianak tangga menyaksikan barisan demi barisan. SanctaTheresia lewat. Seperti halnya anak-anak SMA Stellatadi, cewek-cewek SMA Theresia melirik sekejap kearahnya dengan mata kagum. Beberapa di antara mereka

119 menggigit-gigit bibir karena grogi ketika tatapan AliTopan yang acuh tak acuh amprok dengan lirikan mereka.Drumb band mini dari murid-murid SD OrganisasiWanita Deplu menggugah mina t Ali Topan. Ia minjamtustel, lalu turun ke jalan memotr eti anak-anak kecil yanglucu-lucu itu. Mereka mungil-mungil, berbaris rapi danpenuh semangat.Selewat drumb band mini itu, Harry tur un mengham-piri Ali Topan. “Kita musti cari obyekan lain, Pan. Jangandihabisin filmnya . Yuk, kite jalan,” kata Har ry. Keduanyaberjalan sepanjang trotoar ke jurusan Sarinah.Di depan Speed Building beberapa cewek pinggiranmenggoda mereka. “He , cowok keren! Potretin kite dong,bakal KTP!” seru seorang cewek. “Gue juga dong! Kangue cakep!” kata temannya yang lain.“Pilemnya abis!” sahut Ali Topan.“Huuuu,” cewek-cewek itu berseru serempak.“Pedit lu! Nggak jadi gue bilang keren lu! Disetipkerennya! He, cowok jelek!” seru cewek pertama.Ali Topan dan Harry tersenyum geli. Mereka berjalanterus diiringi sorakan cewek-cewek pinggiran yangmenor itu.“He, cowok yang paket jaket bodol! Stil be’eng lu! Guemau jadi bini lu! Besok lamar ke babe gue ye!? Guetungguin di bawah pu’un jamblang!”Publik yang mendengar seruan itu grrr-grrr-an. AliTopan merasa dikilik-kilik kupingnya. Langkahnyadipercepat supaya tidak mendengar plas-plosan gawatitu. Tiba di depan Toserba Sarinah mereka melihat seo-rang bocah berumur sekitar 10 tahun menangis dikeru-muni orang banyak. Pakaian dan rupa bocah itu menun-jukkan anak orang kaya. Hanya kakinya yang bersandalplastik setengah rusak dan kegedean tampak tak seronok

120 dipandang.“Duit, Pan,” bisik Harry yang langsung memotret sibocah dengan latar belakang orang-orang yang menon-tonnya. Ali Topan mengawasi keadaan sekelilingnya,menganalisa secara singkat. Memang sudah ada pem-bagian tugas antara dia dan Harry. Ia bikin berita, Harryyang motret, setiap obyek berita untuk Ibu Kota.“Kenapa anak itu, Pak?” tanya Ali Topan pada seorangpenonton.“Ditodong orang. Arloji, sepatu, dan uangnya di-rampas,” jawab orang itu.“Kapan dan di mana peristiwanya?”“Dia bilang tadi, setengah jam yang lalu. Di belakanggedung ini,” katanya.“Dia sendirian?”“Wah saya nggak tau. Tanya saja sama anaknya?” sahutorang itu sambil berjalan ke pinggir jalan untuk menontondrumb band yang sedang beraksi.Ali Topan diam sejenak. Matanya menyapu orang-orang yang mengitari si bocah. Tak ada yang bertampangpreman menurut nalurinya. Satu persatu orang-orang itumulai meninggalkan si bocah sendiri.“Makanya jangan pakai barang mahal di tempat rame,”kata seorang berambut keriting.“Kalo belum kapok, laen kali pake arloji yang lebihmahal,” orang lain nimbrung.“Udaah, jangan nangis, minta ganti lagi sama papi dirumah,” orang ketiga menimpali.Ali Topan mengawasi orang-orang tua yang ngocehitu. Kesal hatinya mendengar ocehan yang tidak bermutuitu.“Bacot rusak mendingan disimpan di rumah aje, Oom,daripada bikin panas orang. Udah tau ada anak lagi sedih,

121 bukan dihibur malah dicomelin,” kata Topan dengandingin. Orang-orang itu melengak, wajah mereka kelihat-an tak senang. Tapi melihat tongkrongan si anak mudayang pas, mereka ng eloyor terus sambil menggerundel-kan kata-kata tak jelas.Ali Topan menghampiri si bocah malang. Disentuhnyapundak si bocah dengan lembut.“Siapa nama kamu, Dik?” tanyanya.“Ilham,” sahut si bocah sambil mengusap-usapmatanya. Ia tampak gembira ada orangmemperhatikannya.“Rumah kamu di mana?”“Di gang Madrasah, Cipete.”“Gang Madrasah? Yang masuknya di sampingkompleks Deplu Gandaria Udik itu?”Si bocah mengangguk. Ali Topan membawa bocah ituke sebuah sudut yang lebih lega dan menanyai si bocahlagi.“Kamu masih inget tampang dan potongan orang yangnodong? Coba kamu cerita semua kejadiannya. Mungkinmasih bisa kita cari orangnya,” kata Ali Topan. Ilhammengingat-ingat peristiwa yang menimpanya.“Saya diantar kakak saya pakek Honda Civic ke rumahAlex, teman saya di J alan Sumbawa. Saya di drop di situ.Kaka saya terus pergi ke rumah ceweknya. Alex sudahberangkat nonton drumb band di Sarinah, kata ibunya.Saya nyusul ke sini, jalan kaki. Waktu masuk Sarinah,saya dicegat oleh dua orang g ondrong . Yang satu bajunyakotak-kotak, satunya pakai batik warnanya ijo. Sayadipaksa ngikut ke belakang gedung. Di situ sudah adasatu orang nungguin bawa piso belati. Orangnya kurus,tampangnya serem kayak…”“Kayak tikus g ot? Pakai topi Bareta?” sela Topan.

122 “Iya! Kok tau? Temen kamu ya?” tanya Ilham,pandangannya curiga.“Bukan!” sahut Topan. “Mungkin mereka yang maugue potret tadi, Har?” katanya pada Harry.“Mungkin juga.”“Tadi ada tiga anak yang saya mau potret, terus merekangabur. Ciri-cirinya seperti or ang yang ngrampok kamu,Dik,” kata Ali Topan. Ia menjelaskan hal itu untukmenghapus kecurigaan yang tercermin di mata Ilham.“Terus gimana ceritanya?” tanyanya.Ilham berpikir sejenak. Ia melihat Ali Topan dan Harry.“Kami wartawan bukan orang jahat, Dik. Terus ajacerita,” kata Topan. Suaranya sabar. Kecurigaan Ilhamlenyap. Ia percaya.“Saya ditodong pakai belati, disuruh nyopot sepatuKickers dan arloji Seiko. Yang baju kotak-kotak merogohkantong saya, ngambil duit tiga ribu. Sepatu dan arlojisaya mereka masukkan ke dalam tas plastik, lalu merekabawa pergi. Saya disuruh pakai sandal plastik yang bututini,” tutur Ilham.“Kamu nggak berteriak atau minta tolong sama orangyang lewat?” tanya Ali Topan.“Saya ditodong di pojokan, nggak ada orang lewat.Saya juga diancam, kalo berteriak mau digorok lehersaya. Saya diem aja, saya takut.”“Coba tunjukin tempatnya,” kata Topan, “Har, ikutingue dari jarak lima langkah,” katanya pada Harry. Merekapergi ke bagian belakang Toserba Sarinah.Tempat itu memang sepi, berupa sebuah gang yangdipakai untuk menimbun sampah Toserba Sarinah. Ilhammenunjuk sebuah sudut tempat ia ditodong. Bau kencingmaling dan sampah busuk menyerbu hidung.“Har, tolong potret tempat ini,” kata Topan. Tanpa

123 banyak omong Harry mematuhi order itu. Kemudianmereka bertiga keluar dari tempat itu dan berhenti dipelataran parkir yang terletak di sebelah Selatan gedung.A gak heran Ali Topan melihat sebuah pos polisi disudut kanan pelataran. Hanya be berapa belas meter daripos polisi bisa terjadi penodongan dan tak seorang punmengetahuinya . Ali Topan mengajak Ilham dan Harry kepos itu. Kosong. ”Mungkinkah para penjaga ketertibanitu sedang asyik nonton parade drumb band hinggamereka lupa akan tugasnya?” pikir Ali Topan. Dengankesal ia pergi ke pos parkir diikuti Ilham dan Harry yangsudah pasrah menyerahkan semua soal pada Ali Topan.Seorang petugas parkir tua duduk sendirian, sikapnyawaspada mengawasi daerah parkirannya.“Selamat sor e, Pak,” tegur Ali Topan dengan sopan,“apakah Bapak melihat tiga orang penjahat menodongadik ini dengan belati dan mer ampok sepatu Kickers,arloji Seiko dan uang tiga ribu rupiah?”Petugas parkir yang her an melihat kedatangan mereka,makin heran saja mendengar omongan Ali Topan yangnyerocos itu. Pak tua berseragam kuning itu menekapmulutnya menahan geli. Tangan kirinya menuding-nuding ke tiga anak di depannya yang lucu sekali menurutpikirannya.”Orang gilak, lu pak! Ditanya baik-baik bukannyanjawab malah ketawa kayak kuda!” kata Topan dengangeram, kemudian ia menarik Ilham dan Harrymeninggalkan tempat itu. Pak tua kaget. Ta wan yaberhenti seketika.“Hee! Anak kurang ajaaar! Kau berani ngatain akugilak! Gue pelintir batang leher lu!” pekik orang tua itu.Matanya melotot.Ali Topan berhenti dan membalik badan.

124 “Salah bapak sendiri! Ditanya baik-baik kok ketawa-ketawa! Kalo bukan gilak, apa namanya?” kata AliTopan. Mulutnya tersenyum. Harry dan Ilham puntersenyum geli.Pak tua tak beranjak dari posnya. Nyalinya ciut melihattongkrongan si anak muda yang siap tempur itu.“Urusan perampokan bukan urusan gue! Mony…,” Iatak meneruskan kata monyet yang hendak dimakikan,karena melihat Ali Topan mengepalkan tinju ke arahnya.Beberapa orang melihat adegan itu. Mer eka diam saja.“Paan, udah ah. Ini bukan daerah kita. Jangan bikinsetori…;” bisik Harry. Ali Topan sadar. Ia menuruti kataHarry. Mereka lantas pergi ke luar kompleks toserba.Di depan Wisma Kosgoro yang tinggi dan berdindingkaca, mereka berhenti. Ilham sudah nor mal lagi rupanya.Ia merasa mantap bersama Ali Topan yang berani.Mereka berpandangan. Drumb band masih berderam-deram di jalanan.“Itu Alex temen saya!” tiba-tiba Ilham berkata.Tangannya menunjuk ke seorang anak sebayanya yangberdiri di antara orang banyak.“Leeex! Aleeex!” teriaknya. Temannya menengok,kemudian berlari menghampiri Ilham.“Maap, gue duluan ke sini. Soalnya gue tungguin lukagak dateng. Gue pengen buru-buru nonton sih,” kataAlex. Tiba-tiba ia melihat sandal plastik butut yangdipakai temannya.“Nyentrik amat lu,” kat a Alex sambil meng injak sandalbutut yang dipakai Ilham. Ali Topan dan Dirty Harrytersenyum melihat lagak Alex.“Kickers gue dirampok orang, Lex!” kata Ilham.Kemudian ia ceritakan secara singkat peristiwa yangdialaminya.

125 Alex mendengarkannya dengan penuh perhatian.Selesai cerita, Ilham menggandeng A l e x ,memperkenalkannya pada Ali Topan dan Harry.“Lebih baik kalian cepet pulang deh. Lapor sama orangtua kamu, Ham,” kata Ali Topan.“Ke rumah gue aja dulu, Ham, nanti gue anterin lu kerumah lu pake motor,” kata Alex. Ilham setuju.“Berani pulang berdua? Atau kami antar?” tanya AliTopan.“Anterin sampai ujung jalan saja, mas,” kata Ilham.Ali Topan dan Harry mengantarkan kedua anak itu keujung Jalan Sumbawa y ang berjarak sekitar seratus meterdari Sarinah.“Lain kali hati-hati, Ham,” pesan Ali Topan.“Iya, Bang. Terimakasih,” kata Ilham. Lantas keduaanak itu berlari ke r umah Alex yang tak jauh dari ujungjalan.Ali Topan dan Harry menunggu sampai mereka masukke rumah, kemudian keduanya berjalan kembali keSarinah.Dari situ mereka berjalan kaki ke ter minal bis Tosari,karena sepanjang jalan Thamrin ditutup untuk paradedrumb band. Dari Tosari mereka naik bis PPD menujuKebayoran.Sepanjang perjalanan mereka bercakap-cakap tentangperistiwa Ilham. Keduanya sama-sama yakin bahwaberita yang akan mereka buat tentang peristiwa itu pastimenggemparkan Jakarta.Harry mengajak Ali Topan ke rumah Muharjo dikawasan Pal Merah.Muharjo, sodara sepupu Har ry yang jadi war tawanBerita Dunia sedang dimarahi istr inya, ketika Harry danAli Topan sampai di rumah mereka. Harry bermaksud

126 mencuci film di kamar gelap Mas Muharjo dan numpangpinjam mesin tik untuk keperluan Ali Topan menulisberita. Har ry dan Ali Topan berdiri di rumah itu.Pintu rumah ditutup dari dalam, hingga mereka bisamendengar dengan jelas perkara yang diributkan, tanpasetahu suami-istri itu. Tersirap darah kedua anak mudaitu ketika nama Harry disebut-sebut oleh istri Muharjo.“Aku sudah bilang dari dulu, aku tak suka si Harry itunumpang disini. Sudah dulu aku curiga dapat uangdarimana dia kok bisa-bisanya beli tustel. E, e, e, kaumasih tak percaya dan menutup-nutupi. Sekarang maubilang apa? Siapa lagi yang mencur i kalung dan giwangemasku kalau bukan anak maling itu, he?”Rrrrp! Tersirap darah Harry mendengar perkataan istriMuharjo. Tangannya gemetaran, wajahnya merah dansepasang matanya tiba-tiba nyalang. Ali Topanmenyaksikan mata Harry hanya memancarkan sinaramarah dan terkejut, sedikitpun tak ada rasa bersalah didalamnya. Ali Topan percaya Harry bersih. Pelahan iamenyentuh lengan Harry.“Tenang , Har,” bisiknya.Tapi Harry tak bisa la gi ditenangkan, karena perkataanMbakyu Tuti, istri Muharjo makin keras ber isi umpatcaci yang jelas-jelas mendiskreditkan dirinya.“Tutii... jangan gampang-gampang menuduh orangtanpa bukti dan saksi. Apalagi dik Harry. Dia anakjujur...,” terdengar suara Muharjo menasehati istrinya.“Jujur apa ?! Wis ! Sudah ! Pokoknya aku tak mau dianumpang di sini ! Kalau dia masih di sini, aku yang akankeluar dari rumah ini ! Biar aku pulang ke rumah orangtuaku !” suara mbak Tuti masih keras.Dengan wajah merah padam, Har ry membuka pintudan berdiri tegak menatap Mbakyu Tuti yang tiba-tiba

127 salah tingkah.“Mas Muharjo… saya bukan maling,” kata Harrydengan bibir gemetar, “saya terima dicaci-maki karenanumpang disini… tapi… saya bukan maling… saya takpernah nyuri sepotong barangpun di rumah ini, MasMuharjo…”Ucapan Harry yang terputus-putus sangatmengharukan Ali Topan. Tapi ia tak bisa bikin apa-apaselain bersikap waspada, sebab dia belum kenal denganorang rumah ini. Ia yakin hati Harry yang bersih,walaupun baru beberapa hari mereka akrab. Nalurinyamengatakan bahwa istr i Muharjo itu bicara hal yang tidaksebenarnya. Ali Topan berdiri di belakang Harry. Ia bisamelihat Mas Muharjo yang kerempeng dan berwajahmuram dalam sikap bengong tak berwibawa berdiri loyodi depan istrinya yang g emuk terokmok dan berwajahbengis. Mas Muharjo tak bicara sepatah katapun.“Mbakyu Tuti, boleh geledah kamar dan koper saya,kalau memang menuduh saya nyuri kalung. Bolehmelaporkan saya ke polisi…,” kata Harry lagi.“Sudah! Jangan banyak omong! Kamu angkat kakisaja dari rumahhku sekarang!” Mbakyu Tuti berkatadengan bengis.Ali Topan menyaksikan bahwa perempuan terokmokitu tidak berani menatap Harry. Suaminya mencobamenyadarkan dia dengan kata-kata lembut. Tapi suamiitu kena bentak.“Sudah! Tak usah banyak omong lagi! Cepat kauambilkan kopernya! Atau aku yang keluar dari rumahini!” bentaknya.Sungguh mati Ali Topan merasa keki melihat tampangMas Muharjo yang loyo seperti hendak menangis itu.Uuuh kalo gue digituin, udah gue jejelin tai bacot itu

128 perempuan, pikir Ali Topan.Muharjo memandang Harry seperti minta pengertian.“Tolong ambilkan deh, Mas. Biar saya pergi saja…,”kata Harry. Melas nadanya.Muharjo berdiri ke belakang. Agak lama kemudian iakeluar membawa sebuah koper tua. Diberikannya koperitu kepada Harry.“Ini Dik, kopermu…,” gumamnya sambil menunduk.Harry membawa kopernya ke depan Mbakyu Tuti danmembukanya di situ. Semua barang-barangnya yangterdiri dari celana, baju, kaos oblong, ijazah-ijazah,peralatan menggambar dan beberapa barang laindikeluarkan di lantai. Kemudian kopernya dibalik-balikkan untuk memperlihatkan tak ada barang lagididalamnya. Mbakyu Tuti melengos, tak mau melihat.“Tolong diperiksa Mas Muharjo, barangkali adabarang-barang yang bukan punya saya…,” kata Harry.Mas Muharjo menggeleng-gelengkan kepalanya sebagaiisyarat ia percaya Harry.Harry memasukkan barang-barangnya ke dalam koperkembali. Sesudah menutup kopernya baik-baik, ia berdirimenghadap Mas Muharjo.“Mas Muharjo… terimakasih atas kebaikan MasMuharjo dan Mbakyu kepada sa ya. Moga-moga sa yabisa membalasnya,” kata Harry. Ia menjabat tangan MasMuharjo, kemudian mengulurkan tangannya ke MbakyuTuti.“Sudah! Tak pakai salam-salaman!” kata perempuanitu dengan ketus sambil mengibaskan tangannyamenampik tangan Harry.Ih, gatel tangan Ali Topan melihat kelakuan NyonyaMuharjo. Pengen sekali dia menggampari mulutperempuan itu sampai rompal giginya.

129 “Mbakyu Muharjo…,” kata Harry, suaranya parau,“jika benar saya mencuri barang Anda, saya rela matiketubruk mobil di jalan. Tapi…jika tuduhan itu fitnahterhadap diri saya, mudah-mudahan…,” Harry takmelanjutkan ucapannya.“Mudah-mudahan perempuan yang potongannyakayak babi ini dimasukin ke neraka oleh Tuhan,” kata AliTopan, membela Harry.“Pergiii! ”Mbakyu Tuti berteriak. Kedua tangannyaditutupkan ke kupingnya, tak mau mendengar ucapanAli Topan dan Harry lebih lanjut. Wajahnya tampakketakutan.“Cabut, Har!” Ali Topan memanggil Harry. Kepalanyadigerakkan sebagai isyarat mengajak keluar. Harrymenurut. Ia berjalan mendekati Ali Topan. Sampai dipintu Harry berhenti.“Mas Muharjo,” katanya, “secepat saya dapat uang,saya lunasi cicilan saya,” sambungnya. Lantas ia berjalanlagi. Di halaman ia melihat dua anak kecil, anak MasMuharjo memandangnya dengan mata yang bundar. Duaanak itu saling berpelukan. Harry mengusap kepalamereka, kemudian bergegas menyusul Ali Topan.Ali Topan mengulur kan tangan kirinya, meng ambilkoper yang dibawa Harry. Tangan kanannya menepukpundak Harry.”Orang miskin emang gampang dihina orang lain. Guepercaya lu bukan maling. Kalo ngeliat romannya sih,perempuan tadi itu potongan doyan ngesex. Bisa aje diamiara gendak. Doi jokul sendokir perhiasannye buatbayar gendaknye.” Ali Topan coba menebak-nebakkelakuan istri Muharjo.“Kok tajem perasaan lu, Pan. Mbaky u Tuti itu beberapakali ngajak aku ngesek kalo suaminya nggak di rumah.

130 Tapi gue nggak mau. Belakangan gue denger dia pacaransama seorang tukang becak...,” kata Harry.“Kenape nggak lu aduin ke lakinye ?” tanya Ali Topan.“Mas Muharjo itu takut sama bininya,” kata Harry.“Tapi itu urusan dialah. Gue sakit ati dituduh nyuri,”lanjutnya.“Kita bangkit Har. Bangkit ! Biar nggak gampangdihina orang !,” kata Ali Topan sambil mengepalkan tinjudi depan muka Harry, “jangan cengeng dan jangangentar!” sambungnya menirukan ucapan Munirkepadanya tempo hari. Sepasang matanya memancarkansemangat maju terus pantang mundur yang sangatmembesarkan hati. Harry merasakan semangat Ali Topanitu menghantam kemelut di dalam kalbunya. Sesuatuyang hangat terasa memenuhi dadanya, menguatkan hati.“Terimakasih, Paan…,” bisik Harry.Ali Topan menjawabnya dengan senyuman yangmenyejukkan hati. Tanpa berkata apa-apa lagi, Harrymengikuti langkah gagah teman yang dikaguminya itu.“Kita ngaso di tempat si Oji, teman gua yang jual bungadi kolam Blok C,” kata Ali Topan, “sesudah itu baru kitabikin strategi untuk menaklukkan Jakarta ini! Kita akankasih tunjuk pada setiap orang bahwa kita bukan bernyalikintel! Kita ini bernyali Rajawali, Har.” sambungnyadengan penuh semangat.Kata rajawali dan auman itu benar-benar diteriakkanAli Topan dengan suara sekeras-kerasnya, hinggamengejutkan orang-orang yang ada di sekitar mereka.Seorang tua yang sedang menyetir Corolla sampaimenengok ke Ali Topan. Kepalanya menggeleng-geleng,dan jari telunjuknya disetripkan ke dahinya. Seoranggadis berwajah bulat telur yang teramat manis denganrambut panjang dikepang dua, duduk di sebelah orang

131 tua itu. Matanya y ang jernih bercahaya dan mulutnyayang apik sedikit terbuka. Matanya terpesonamemandang wajah Ali Topan.Yang dipandang melirik sekejap dan berjalan terus, takpeduli, diikuti Harry.***Tengah malam.Duduk di pangkeng menggadang i langit dan bintang-bintang. Hawa dingin. Nyam uk banyak. Dua gelas kopitinggal separuh. Puntung-puntung rokok bertebaran diatas tanah. Suasana hening. Terdengar dentinganmangkuk yang dipukul dengan sendok. Dentingan itumenjauh.“Tukang sekoteng…’” gumam Ali Topan, “tukangsekoteng mencari uang setiap malam, sepanjang jalan.”Harry ber kedip-kedip matanya —seperti bintang dilangit— memandang wajah Ali Topan. Seperti mimpirasanya. Duduk di pinggir kolam, merenungi kenyataandiri.“Jakarta ketambahan dua orang gelandangan lagi hariini,” kata Harry.“Gelandangan kolong langit,” kata Ali Topan.“Aku sakit hati sekali dituduh maling,” kata Harry.“Padahal banyak maling yang berkedok orang baek-baek malah disanjung-sanjung banyak orang lainnya,”kata Ali Topan.“Gue harus nyusun rencana,” kata Harry.“Gue atau kite ?”Harry memandang Ali Topan. Ia menyalakan rokok.”Ya. Kita. Kita harus menyusun rencana, supaya nggakmati kelaperan,” katanya.Ali Topan melempar batu ke kolam. “Gue nggakpernah takut mati kelaperan di negeri lautan dan tumbuh-

132 tumbuhan ini. Gue hanya nggak mau hidup tanpajawaban,” kata Ali Topan.“Jawaban apa ?”“Pertanyaannya panjang. Ada di batin.”“Lu orang kebatinan ya ?”“Kebatinan dan kelahiran.”“Aliran apaan tuh ?”“Aliran komplit, ha ha hah ha.” Ali Topan tertawaterbahak-bahak. Harry juga. O, gampang sekalimengusap duka.Mereka sudah sama-sama lelah. Bercakap-cakap.Mengatur rencana. Menyusun strategi. Dan berkhayal.Kesepakatan telah kental, diram u dari hati mereka yangcair oleh pengalaman hidup sampai hari ini.“Kita sudah punya rencana. Jadi wartawan. MasMuharjo yang letoy, yang kalah sama bokinnye aje bisajadi wartawan, kenape kita yang orang-orang gagah garabokis ?” kata Ali Topan.“Sip,” ka ta Harry. ”Sekarang gue mau tidur dulu.““Gue mau nulis,” kata Ali Topan.Ali Topan membeli buku tulis dan bolpen Bic di warungrokok Andri yang terletak di depan Gedung Pertemuan“Puri Eka Warna” di jalan Barito II, sekitar dua ratusmeter dari kios Oji. Ia pun membeli dua gelas kopi diwarteg Mas Wongso di pertigaan jalan Mendawai, deka trumah yang pernah ditempati Koes Bersaudara.Kemudian Ali Topan kembali ke kios Oji, dan mulaimenulis berita tentang penodongan dan perampasan yangdialami Ilham siang tadi.Itulah berita yang dibuatnya pertama kali,menghabiskan 7 halaman buku tulis. Berita itu dibuatnyamirip cerita pendek yang acak-acakan. Judulnya:Perampokan Kickers di Sarinah, 20 langkah dari Pos

133 Polisi.” Dia puas dengan judul dramatis itu, dan yakinIbu Kota memuatnya. Fotonya? Belum dicuci oleh Harry.Mereka bermaksud esok pagi ke kantor Ibu Kota danminta tolong redaksi koran itu untuk mencuci danmencetak fotonya.Ali Topan dan Harry memang sudah membulatkantekad untuk nyari makan di koran Ibu Kota. Mereka tahu,peristiwa paling kecil pun di satu RT bisa masuk koranrakyat itu. Peristiwa-peristiwa kejahatan dan kecelakaanlalu lintas, ibarat tinggal mungut di jalanan. Merekacukup optimis, tidak akan mati kelaparan di Jakarta yangpadat peristiwa ini.Persoalan kejahatan itulah yang direnungkan oleh AliTopan saat ini. Sehari tadi, ada kasus yang menyentuhperasaannya dan mengganjal pikirannya. P eristiwa Ilhamdan tuduhan perempuan terokmok istri Muharjo terhadapHarry. Kasus Ilham cukup jelas baginya, itu kejahatanbiasa. Tapi tuduhan nyonya Muharjo terhadap Harry?Fitnah.Walaupun baru akrab beberapa hari, Ali Topan yakinHarry bukan potongan maling. Harry memang dekil,rambutnya bau karena jarang dicuci, tampangnya takpernah segar, tapi dia yakin Harry cuma dekil di badantak dekil di hati. Sedangkan Nyonya Muharjo? Sekalilihat saja dan mendengar omongannya yang judes tandes,Ali Topan mengambil kesimpulan bahwa perempuanyang tampangnya ciut, hidungnya melengkung sepertinenek penyihir dalam buku kanak-kanak, dan matanyamelihat ke bawah tak mau memandang lawan bicaranyaitu, meyakinkan sebagai orang berjiwa gombal, beranimenipu orang lain. Dan do yan nyeleweng.Ali Topan bisa membaca perasaan Harry. Ia bersedihhati. Sejak tadi tak banyak bicara. Ia melamun saja,

134 memikirkan tuduhan Mbaky u Tuti yang sadis itu. ’Bapakgue juga bilang lebih baik jadi tukang becak daripada jadimaling. Kalau orangtua gue denger gue dituduh maling,kan kasihan mereka,’ demikian kata Harry tadi. O, betapasusah hati teman ini, pikir Ali Topan. Tiba-tiba Harrybangun.“Gue nggak bisa tidur. Mikirin terus dituduh nyolongperhiasan Mbakyu Tuti,”kata Harry.“Ngopi tuh,” kata Ali Topan. Ali Topan menggeserduduknya, menghadapi Harry. Harry punmemandangnya. Ali Topan menepuk pundak temannya.Harry merasakan simpati mengalir dari telapak tanganTopan.“Lu lagi susah, jack. Gue ikut priha tin, Har!” kata AliTopan. Kata-kata yang tulus itu terdengar seperti gitamalam yang indah di telinga Harry.“Dengan adanya lu sebagai temen gue, itu udah lebihdari cukup, Pan. Lu orangnya mantep, penuh semangat.Lu membangkitkan semangat gue. Kalo gue sedih saatini, soalnya gue masih teringat tuduhan yang sadis itu,”kata Harry.”Gue yakin lu bukan maling, Har. Jangan khawatir.”“Terimakasih, Pan.”“Nah, sekarang kokit gintur dulu dah. Sebok nyetorberita ke Ibu Kokot,” kata Ali Topan sambil mengulumsenyum. Harry pun tersenyum mendengar kata-katapreman yang diucapkan Ali Topan.Mereka merebahkan diri di pangkeng. Langit luas yangmereka pandang lewat celah cemara memberikanketenangan dalam jiwa. Tak lama kemudian, dua anakjalanan itu lelap di kios penjual kembang. Bintang-bintang yang berkedip menemani mereka.Esok harinya, sekitar jam 9, Ali Topan dan Harry sudah

135 sampai di kantor redaksi Ibu Kota yang terletak di JalanGajah Mada, Jakarta Pusat.Harry memperkenalkan Ali Topan kepada Heni,Sekretaris Redaksi, seorang perempuan ramah berusiasekitar 26. Harry menyerahkan negatif film kepadaperempuan itu dan meminjam mesin tik untuk Ali Topan.Ali Topan dengan penuh semangat mengetik beritapertamanya, di sebuah meja redaksi yang kosong. Iahampir tak peduli beberapa orang wartawanmemperhatikannya. Bahkan Redaktur P elaksana yangbaru tiba sempat menanyakan hal dirinya kepadaSekretaris Redaksi.“Anak Kebayoran, kawan si Harry. Namanya AliTopan. Dia dapat berita bagus,” kata Sekretaris Redaksi.Redaktur Pelaksana yang biasanya acuh tak acuh itumenyempatkan diri datang ke Ali Topan.“Bikin apa, Dik?” tanyanya.Ali Topan menghentikan kerjanya, memandang kelelaki separuh baya yang roman mukanya berwibawa itu.“Nyoba bikin berita, Pak,” jawab Ali Topan. “Apa inimeja Bapak? Maaf, saya pinjam sebentar.”Lelaki itu menggerakkan tangannya dan berkatasimpatik.“Oh, tidak. Teruskan saja bekerja. Nanti kalau sudahselesai berikan saja pada mbak itu ya.” Ia menunjukSekretaris Redaksi yang sedang omong-omong denganHarry.“Iya, Pak. Terimakasih,” kata Topan.“Kenalan dulu, Pak. Saya Ali Topan!”“Ali Topan? Keren sekali namamu! Saya – panggilsaja Pak Gun, Mas Gun.”“Mm… fotonya ada ‘kan?”“Ada Pak. Kawan saya itu yang bikin.”

136 Redaktur Pelaksana mengangguk, menepuk bahu AliTopan, kemudian naik tangga menuju ruang kerjanya ditingkat II.Ali Topan segera meneruskan pekerjaannya. Selangbeberapa menit, selesai. Ia serahkan berita itu kepadaHeni yang menerimanya dengan senyum manis.“Ngetiknya kok cepat, Dik? Apa sudah per nah jadiwartawan?” tanya perempuan itu.“Kalau soal ngetik sih, lumayan Mbak. Waktu sekolahdulu bikin karya tulis sih. Tapi soal beritanya, saya bikinkayak laporan saja. Rasanya sih, seru juga,” kata AliTopan sambil nyengir.“Nanti kan diedit oleh Redaktur Pelaksana.”“Redaktur Pelaksana. Apaan sih?”“Itu lho, orang yang tadi omong-omong sama situ. Diayang memeriksa berita disini,” kata Sekretaris Redaksi.Harry menggamit Ali Topan. “Kita cabut yuk?”Ali Topan oke. Lantas keduanya minta diri pada Heni.“Salam untuk Redaktur Pelaksana, Pak Gun.” kata AliTopan sebelum melangkah keluar pintu. SekretarisRedaksi mengangguk sambil tersenyum manis sekali.Dia suka pada anak muda yang sikapnya enak ini.Bicaranya polos, tongkr ongannya mantep. Pakaiannyaserampangan, tapi tak mengurangi ketampananwajahnya, demikian penilaian Sekretaris Redaksi itu.Diam-diam dia berharap semoga anak jalanan itu seringdatang ke kantornya.Jalan Gajah Mada sejajar dengan Jalan Hayam Wuruk.Di antara keduanya, tergolek Kali Ciliwung yang lebihmenyerupai got besar penampung air, sampah dan debudari daerah sekitarnya, daripada sungai dalam artisesungguhnya. Keruh, kotor.Ali Topan menyeberangi jembatan setapak yang

137 melintang di antara dua jalan tersebut. Mereka naik bisSMS jurusan Kebayoran. Sepanjang perjalanan AliTopan berkhayal setinggi langit, seolah-olah berita yangdibuatnya itu mampu meledakkan Jakarta.Ali Topan hampir-hampir tak percaya, ketika esokpaginya di kios Munir ia dan Harry membaca berita danfoto hasil karya mereka dimuat pada halaman satu harianIbu Kota. Judulnya diganti “Anak kecil ditodong” dansub-judulnya “Kickers-nya dilucuti.”“Huuaaiyoo! Berita gue dimuaaat! Gue jadiwar tawaaan! Alhamdulillaaah...,” Ali Topan berteriak,meledakan segala perasaan gembira, takjub, bahagia dansebagainya yang ia rasai. Ia memeluk Harry danmengangkatnya sekejap. “Terima kasih, Har... terimakasih. Lu nanem budi besar ke diri gue, Har... ThankYo u,” kata Ali Topan lagi.Munir menepuk-nepuk bahu Ali Topan dengansenyum gembira. “Hebat lu, Pan. Aku salut. Cepat sekalikau menemukan jalan hidup. Selamat,” kata Munir.“Selamat juga buat kau, Har. Kompak-kompaklah terus,”lanjutnya pada Harry. “Dan kalau satu hari nanti kalianjadi wartawan besar, jangan lupa sama aku, tukang kiossuratkabar dan majalah, ya. Kalau lupa, aku nggak maujual suratkabar yang memuat tulisan kalian,” kata Munirlagi, menyemangati Ali Topan dan Harry.Ali Topan tersenyum lebar. “Gue bukan potonganorang yang melupakan kawan, Nir. Kawan bagi guaharganya nggak ternilai,” ucap Ali Topan. “Ngomong-ngomong kenapa nama kita ngga ditulis lengkap, Har ?Cuma AT dan H aje...,” lanjutnya.“Kalau soal nama, mungkin itu justru untuk melindungikeselamatan kau, supaya tidak diincar oleh penjahatnya,”kata Munir. Harry membenarkan.

138 “Itu memang peraturan suratkabar, Pan. Nggakpenting. Yang penting siang ini kita ambil honornya,”kata Harry.Mereka mengambil honorarium hari itu juga, sekitarjam satu siang. Lumayan, Rp 6.000. Yang lebih lumayanlagi, Heni memberitahu, bahwa Redaktur Pelaksanasecara khusus mengundang mereka untuk bicara di ruangkerjanya.Mereka harus menunggu setengah jam, karenaRedaktur Pelaksana sedang “rapat rutin” denganbeberapa reporter. Sementara menunggu itu, Harrymerasa agak tegang membayangkan undangan itu.Mimpipun ia tak pernah untuk dapat berbicara secarakhusus dengan salah satu pemimpin koran besar itu.Berulang-ulang ia bertanya kepada Sekretaris Redaksi,masalah yang kiranya menjadi motif undangan tersebut.Tapi Heni cuma menjawab tidak tahu, tunggu saja nanti.Ketegangan Harry berkembang menjadi perkiraannegatif. Dia berpikir tentang k emungkinan telah berbuatsuatu kesalahan dan bakal dapat sanksi dari Ibu Kota.Ali Topan tampak tenang-tenang saja mengisap rokokkretek Jie Sam Soe yang baru dibelinya di depan kantorIbu Kota dengan uang honorariumnya. Mereka membagidua sama besar honor Rp 6.000 itu. Harry Rp 3.000, AliTopan Rp 3.000.Pak Gun, Redaktur Pelaksana menyambut merekadengan hangat di ruang kerjanya yang sejuk oleh pendi-ngin udara. Ia tampak lebih luwes dan terbuka diban-dingkan pertemuan pertama tempo hari. Ia mengam-bilkan dua botol minuman ringan dari dalam kulkas kecildi sudut ruang untuk para tamunya.“Kita langsung saja ke maksud saya mengundang adik-adik ke sini,” katanya sesudah dua tetamunya membasahi

139 kerongkongan mereka dengan beberapa tegukan kecil.“Mm… kira-kira adik-adik tahu maksud saya?”katanya lagi.Kedua tamunya menggelengkan kepala. Orang itumemandang dua tamunya berganti-ganti. Matanya takmenyembunyikan sesuatu kegembiraan.“Harry,” katanya, “rupanya kau serius di bidang kewar-tawanan ya? Sejak pertama saya amati, fotomu ada ke-majuan. Penulisan berita mungkin kau kurang bakat…,”Harry mengangguk.Redaktur Pelaksana beralih ke Ali Topan yang menga-wasinya dengan tajam. Beberapa detik sang Redakturmencoba mengadu pandang dengan anak muda itu, untukmelihat sampai di mana ketegaran hati si anak muda. Taksedikitpun ia lihat sinar gugup atau kecut hati di mata sianak muda. Akhirnya ia menyulut sebatang rokok untukmengalihkan pandangannya. Perasaannya sempat ber-desir. Tak satupun reporternya pernah menatapnya begitutajam, berani dan mantap. Tapi si anak muda yang padaperjumpaan pertama sudah menarik simpatinya, punyatatapan mata yang menyelidik.“Ng… Ali Topan?” kata Redaktur Pelaksana.“Ya.”“Sudah baca beritamu yang dimuat hari ini?”“Ya.”“Ada komentar?”Ali Topan berpikir sejenak. Sejak Sekretaris Redaksimenyampaikan pesan, ia sudah punya perkiraan, un-dangan ini ada sangkut-pautnya dengan berita yang di-buatnya. Sejak mula ia menangkap simpati yangterpancar di mata orang itu. Sebagai orang yang barudikenal, ia merasa diperhatikan oleh sang RedakturPelaksana.

140 “Ada komentar?” Redaktur bertanya lagi.“Itu berita yang saya buat pertama kali dan langsungdimuat, di halaman depan lagi. Saya sangat senang,terima kasih Pak Gun.” jawab Topan hati-hati.“Senang karena dimuat atau karena honornya,” gurausi Pak Gun.“Dua-duanya.”“Komentar lain?”“Justru saya ingin tahu komentar anda sebagai orangtop disini.”“Tulisan kamu bolehlah. Tapi lebih mirip cerita krimi-nal. Terlalu panjang dan berliku-liku sebagai berita. Ma-kanya saya persingkat. Apa memang suka bikin cerpen?”“Belum pernah,” kata Ali Topan, “bikin berita itu jugakebetulan. Yang mendorong kawan saya ini,” sambung-nya sambil menengok ke arah Harry.“Sekolah atau kuliah? Di mana?”“Di jalanan.”“Hh?”Wartawan itu bertanya lebih lanjut tentang sekolah danlatar belakang keluarganya. Ali Topan menjawabseperlunya soal sekolah. Soal keluarganya ia mengelak.“Sebetulnya Bapak mau apa sih sama kami?” katanyamengalihkan pembicaraan yang menyangkut pribadinya.“Mmmm… saya tertarik sama kalian. Terus terang,jarang ada anak seumur kalian berminat di bidang ke-wartawanan. Saya tergoda rasa ingin tahu dorongankalian nulis di Ibu Kota. Kok tidak ke kor an lain? HarianIbu Kota suka dibilang koran tukang becak dan sopir-sopir bis? Yaah, koran rakyat kelas bawah lah, kasarnya.”“Bapak kelas bawah atau kelas atas?” tanya Ali Topansambil mengulum senyum nakal. Redaktur itu kaget men-dengar pertanyaan yang berani. Ia meraba maksud terten-

141 tu dalam pertanyaan Ali Topan. Hm rasanya belumpernah dia menemukan seorang anak muda yang sikapdan kata-ka tanya sepert i Ali Topan. Ia mengulum senyumcerah.“Kalian mau serius di bidang kewartawanan atau cumaiseng-iseng?”“Saya serius, Pak!”“Bagus? Cita-citamu dulu ingin jadi apa?”“Cita-cita lu apa, Har?” Ali Topan mengoper perta-nyaan ke Harry.“Saya… saya ingin jadi fotografer yang… yang…yang sukses,” kata Harry.“Kamu, Pan?” tanya si Redaktur.“Saya tanya kamu?”“Sederhana. Saya ingin jadi orang berilmu yangberguna dalam kehidupan ini, Pak,” kata Ali Topan.“Orang tua kamu siapa dan bekerja di mana ?” tanyaPak Gun. Ali Topan tertegun.“Ayah saya Amir namanya. Dia ber-bisnismen dansaya tidak suka membicarakan tentang dia,” kata AliTopan wajahnya mur am.“Ibumu bekerja juga?”Ali Topan diam, menatap muka Pak Gun, Harrymelihat ketegangan wajah Ali Topan.“Anda mengundang kami untuk urusan orang tua atauurusan diri kami sendiri?” tanya Ali Topan. Ia berdirisikapnya berwibawa.Naluri kewartawanan Pak Gun menangkap suatudrama keluarga di balik sikap Ali Topan yang engganberbicara tentang orang tuanya.Segera ia bersikap bijak. “Begini... Begini... sayaterkesan dan bersimpati pada kalian, anak-anak mudayang berjuang dalam kehidupan ini. Teruslah berkarya,

142 dan memperdalam ilmu kewartawanan,” katanya. PakGun membuka laci mejanya.“Saya mau memberi pinjaman beberapa buku tentangkewartawanan. Mungkin kalian tertarik dan ada minatmembaca buku-buku ini,” sambungnya. Empat buahbuku berbentuk stensilan tak terlalu tebal ia berikan padaAli Topan dan Harry.Ali Topan membaca sekilas judul buku-buku stensilanitu. Buku pertama, agak tipis, berjudul “Kode Etik Jurna-listik.” Buku kedua, lebih tebal, berjudul “WartawanIdeal.” Buku ketiga berjudul “Berita.” Buku ke empat“News Photography”. Buku pertama terbitan PWI,sedangkan dua buku yang lain cuma mencantumkaninisial pengarangnya, G.M. Buku “News Photography”berbahasa Inggris, terbitan Amerika Serikat.“Anda karang sendiri?” tanya Ali Topan.“Bawa dan baca semua isinya. Kukira itu lebih pentingdari sia papun pengarangnya.”“Mm… saya selalu menilai sebuah buku juga dari pe-ngarangnya. Sebuah buku toh bukan hanya kumpulankertas dengan barisan kata-kata?”“Right!” kata redaktur itu dengan mata bersinar, “Nah,saya pikir cukup untuk kali ini. Satu waktu kita bertemulagi. Okey? Terima kasih atas kedatangan kalian.”“Terimakasih atas undangan dan buku-buku ini,” sahutTopan. Ia berdiri diikuti Harry. Keduanya keluar danturun di tingkat bawah.Sekretaris Redaksi sedang sibuk melayani banyaktamu. Keduanya cuma melambaikan tangan dan berjalanterus meninggalkan kantor itu.Di dalam bis menuju Kebayoran, Harry menggamitAli Topan.“Lu kalau menghadapi orang mantap ya, Pan,” kata

143 Harry.“Sama-sama makan nasi. Kalo doi makan menyan barukita pasang kuda-kuda,” sahut Ali Topan.Beberapa orang penumpang ketawa geli mendengarucapan Ali Topan. Harry pura-pura melihat ke luarjendela. Ia malu banyak orang menengok ke arah mereka.Ali Topan mengalihkan perhatian dengan membacabuku “Wartawan Ideal.”***Harry tur un di bunderan Air Mancur di Jalan MerdekaBarat, J akarta Pusat. Dia hendak ke kantor Berita Duniadi Jalan Tanah Abang II, untuk membayar cicilan tustelpada Mas Muharjo.Ali Topan ter us ke Kebayoran. Dia bermaksud pergi keRumah Sakit Fatmawati, menengok ibunya yang masihberistirahat di sana. Di samping itu ia ingin duduk dibawah pohon di tepi lapangan golf yang berdampingandengan rumah sakit, untuk membaca tiga buku pinjamanredaktur Ibu Kota itu.**

144SEBELASSepanjang perjalanan Ali Topan merenung. Dalamhatinya ia bersyukur kepada Tuhan yang telahmengakrabkannya dengan Harry, dan lewat Harryia berkenalan dengan dunia kewartawanan.“Hari ini adalah satu hari yang ajaib,” gumamnya. Hariia menulis berita pertama, yang dimuat pada suratkabarIbu Kota.Ada suatu yang lepas bernama pertanyaan dan tan-tangan yang ia ucapkan kepada Anna Karenina tempohari, ketika gadis itu bertanya di restora n American Ham-burger, ”Kalau nggak kuliah kamu akan jadi apa?” Yangia jawab dengan pertanyaan pula, ”Kalau kamu kuliahakan jadi apa?”Itu adalah persoalan eksistensial: jadi, menjadi. Sejakdi sekolah dulu Ali Topan sudah bertanya-tanya mengapapara pejabat negara yang tamatan universitas-universitasdan perguruan-perguruan tinggi dalam maupun luarnegeri itu korupsi, dan boleh dibilang tidak ada prestasimereka sedikitpun untuk mengangka t derajat rakyat kelevel yang lebih tinggi.Ali Topan ingat ia pernah menulis artikel di majalahOSIS yang berjudul Sekolah Tinggi Tanda Tangan. Da-lam tulisan itu ia menyatakan: Jika para pejabat tinggipemerintahan kerjanya cuma menanda-tangani surat-su-rat hutang ke luar negeri, tak perlu sekolah tinggi-tinggi.Para pengemis dan abang-abang becak pun bisa menger-jakan itu semua.Ia tidak boleh menulis lagi, dan Majalah OSIS dikenai

145 sensor ketat, gara-gara tulisannya itu.Kini ia merasa ada sesuatu celah untuk membuktikan,tanpa kuliah di UI. Ia akan dapat menjadi seseorang yangberarti di masa depan. Perjalanan panjang untuk menjadiseseorang kumulai hari ini, kata hatinya sendiri.Ketika Ali Topan tiba di rumah sakit, mamanya sedangtidur. Ia meletakkan suratkabar Ibu Kota di atas mejaruang inap mamanya. Kepada Suster Cut Mina yangbert a ny a , Ali Topan berkata, “Berita yang saya tulisdimuat pada halaman satu Harian Ibu Kota itu.” Informasiitu segera tersebar di kalangan perawat dan dokter-dokter.Harian Ibu Kota yang dijual oleh dua orang pengecerlaku keras di rumah sakit siang itu. Dan Ali Topan —anak jalanan yang keren, berambut gondrong, bercelanablue jeans lusuh, berjaket blue jeans yang lengannyabuntung, dan yang setia menunggui mamanya di RuangVIP— ngetop di kawasan itu. Sebab sejak hari pertama iadatang menjenguk mamanya, sosok yang jantan dantampangnya menakjubkan telah menyedot perhatianperawat-perawat ruang VIP.Sore harinya, Dokter Romeo Sandi, Kepala BagianRuang VIP yang mengontrol kondisi Nyonya Amir men-dengar informasi dari seorang perawat tentang “berita”yang di tulis Ali Topan.Usai memeriksa Ny. Amir, dokter Romeo Sandi men-jabat tangan Ali Topan yang ikut melihat mamanya.“Saya baca berita yang Anda tulis di Harian Ibu Kota hariini. Saya tidak menyangka anda seorang wartawan.Selamat. Sa ya senang berkenalan dengan Anda,” katadokter yang simpatik itu.Ali Topan sempat bengong sesaat mendengar sikapdokter Romeo yang menghargai dirinya se bagai war-tawan.

146 “Wartawan?” gumam Ali Topan.Dokter Romeo Sandi menepuk bahu Ali Topan, kemu-dian melanjutkan pengontrolannya ke pasien-pasienlainnya.Betapa dahsyat penghargaan kepada seorangwartawan, katanya dalam batin. Buktinya, seorang doktersenior yang menduduki jabatan penting di rumah sakitbesar menyatakan salut. Demikian pula beberapa perawatyang sebelumnya bersikap kurang bagus, berubah lebihbaik.Betapa tinggi penghargaan orang kepada seorangwartawan. Itu fakta yang terrekam pada batin Ali Topan,meskipun ia tidak merasa sebagai wartawan. Ia hanya“kebetulan” ketemu seorang bocah yang dirampassepatunya oleh penjahat, dan “ceritanya” itu dimuat disuatu suratkabar. Tiba-tiba “peristiwa kebetulan itu”membuat dirinya terangkat ke suatu keadaan yangmenakjubkan !Seperti mimpi.Tapi bukan mimpi...***Hari-hari bulan Juni mendatangi Jakarta bersamapenyakit flu, muntaber dan beberapa jenis penyakitmassal lainnya. Udara panas, kering dan berdebu,terutama pada siang hari . Anak Gunung Krakatau di SelatSunda memang sedang aktif, menyemburkan lava dangas panas. Malam hari udara dingin oleh hujan deras dantiupan angin kencang.Sudah empat belas hari Ny. Amir dirawat di rumahsakit. Keadaan fisiknya berangsur sembuh, namun Ny.Amir masih suka bengong, tak mau bicara. Beberapa kalipada malam hari ketika hujan deras, Ny. Amir berteriakhisteris. Bayangan tragedi tabrakan mobilnya yang

147 menewaskan Tommy meneror jiwanya.Hari itu hari kelima belas Ny. Amir dirawat. Sejakkemarin Ali Topan merasa tak enak badan. Ia terkena flu: batuk, pilek, kepalanya pusing dan demam.Malam ini hujan deras sekali. Ali Topan menggigil dikursi ruang tunggu ruang VIP. Suhu tubuhnya ting gi,mulutnya terasa pahit. Perutnya laper, tapi ia tak berseleramakan. Pagi tadi ia cuma makan beber apa sendok nasi,sepotong tempe, sepotong tahu gor eng dan sebutir telorbebek asin dengan sambal kecap yang diberi potonganpotongan bawang merah dan cabe rawit sepuluh biji.Jam delapan lewat, usai menemani dokter RomeoSandi memeriksa para pasien, Cut Mina mendatangi AliTopan yang sedang menggigil. Jaketnya basah. “Andakena flu, kata perawat berma ta ebony itu sambilmenyentuh leher Ali Topan dengan punggung tangannya.“Panas sekali,” sambungnya. “Ayo ke dokter Romeosebelum ia pulang,” lanjutnya lagi. Ali Topanmengangguk. Kepalanya pusing sekali.Cut Mina bergegas ke ruang kantor dokter Romeo didalam ruang pavilyun itu. Ali Topan mengikuti perlahan.Dokter Romeo sedang mengenakan jaket kulit yangbiasa ia pakai pulang seusai tugas malamnya, ketika CutMina mengetuk pintu.Dokter Romeo membuka pintu. “Ada apa, Suster?” iabertanya. Ia melihat Ali Topan berjalan pelahan.“Ali Topan kena flu, Dok,” kata Cut Mina.“Memang sedang musimnya. Ayo masuk,” ka ta dokterRomeo. Ia berjalan ke mejanya, dan mengeluarkan alatpenyuntik serta sebotol kecil obat antibiotika dari lacimeja.Ali Topan masuk dan duduk di kursi. “Wartawan tum-bang juga oleh flu, ya?” kata dokter Romeo. Ia menyentuh

148 leher, pipi dan jidat Ali Topan. Ia pun memeriksa matadan tenggorokan Ali Topan. Lalu ia membersihkan jarumsuntik dengan alkohol dan menyedot obat cair beningbotol bertutup karet dengan alat penyuntik tersebut.“Mojok sana. Buka pantatnya, eh celananya,” kata dokterRomeo. Ali Topan melihat sekilas ke Cut Mina yangberdiri di pintu. “Nah, biar suster Mina yang menyuntik.”Mau tak mau Ali Topan berdiri dan melangkah ke pojokruang kecil itu. Ia meloloskan celananya sebatas pantat.Sambil berdiri, pantatnya disuntik oleh suster Mina.“Uhhh!” Ali Topan mengejang ketika jarum suntik me-nembus bagian pantatnya dan cairan obat disuntikan olehsuster Mina.“Kalau nyuntik ehhh.., kalau disuntik Uh !,” kata dokterRomeo, ngeledek.“Ah, saya belum pernah nyuntik, Dok. Masih orisinil,”kata Ali Topan.“Heh... heh... heh...,” dokter Romeo terkekeh-kekeh.“Suster terima kasih,” kata Ali Topan.Suster Mina mengusap bekas suntikan di pantat AliTopan dengan kapas berakohol lalu ia mematahkan jarumsuntik dari tabungnya yang terbuat dari plastik. Lalu iabuang jarum beserta suntikannya itu.Dokter Romeo mengambil tiga macam obat, yang iaperoleh sebagai contoh dari pabrik obat, dari tasnya,sementara Ali Topan duduk lagi di depannya.Dokter Romeo merinci obat-obatan tersebut di atasmeja. “Yang kemasan perak dan merah ini diminum tigakali sehari. Yang hijau ini multivitamin, minum dua kalisehari,” kata dokter Romeo.“Terima kasih, Dokter. Berapa saya harus bayar?” kataAli Topan.Dokter Romeo menatap wajah Ali Topan. ”Untuk

149 seorang anak yang berbakti kepada mamanya, nggakusah bayar. Gratis, okey?” katanya sambil berdiri.“Terima kasih, Dokter,” kata Ali Topan sambil mengu-lurkan tangannya yang disambut hangat oleh dokterRomeo. Ali Topan berdiri, meraup dan memasukan obatitu ke saku jaketnya. Lalu ia ke luar diikuti suster Mina.“Jaket Anda basah. Kalau mau, ayo kita ke asrama saya.Saya akan meminjami jaket saya,” kata suster Mina.“Anda baik hati sekali, suster... mau memperhatikansaya,” kata Ali Topan haru.“Panggil saja Mina, atau kakak...,” kata Cut Mina.“Ayo, kita berjalan kaki saja. Asrama saya di belakangrumah sakit ini,” lanjutnya.Cut Mina mengambangkan payungnya yangbergambar bunga-bungaan berwarna kuning merah. Dibawah payung itu mereka berjalan menyeberangihalaman yang disiram hujan, ke bagian belakan rumahsakit Fatmawati. Hujan makin deras disertai anginkencang. Ali Topan dan Cut Mina terus berjalan.***Bulan Juli, minggu pertama.Hujan mulai berkurang. Ny. Amir sudah pulang kerumahnya, diantar Ali Topan, minggu lalu. Pak Amir takdi rumah waktu itu. “Mbok mana tahu, Pan. Sudah duahari bapak ndak pulang,” kata Mbok Yem, ketika AliTopan menilpon ke rumah ayahnya untuk memberi tahubahwa mamanya sudah boleh pulang.Untunglah Windy, kakak Ali Topan, pulang. Windyusai shooting film “Setan, Sex, Kemenyan dan Kondom”ia dapat menemani mamanya dirumah.Windy sudah mendengar dari Mbok Yem tentang AliTopan yang meninggalkan rumah. Windy sebetulnyaberhati baik, tapi sejak kecil ia tidak diajari budi pekerti

150 yang baik dan tidak dilatih mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah, hing ga ia tumbuh jadi gadis bego.Sejak kecil Windy dimanjakan dengan limpahan harta-benda oleh papa dan mamanya. Ia dan Boyke —abang-nya— tumbuh dan besar menjadi orang-orang yang ber-kepr ibadian lemah, berwatak angkuh dan keras kepala.Mereka sejak kecil dicekoki basa-basi, bukan ketulusan.Mereka khas orang-orang materialis yang hanya meng-hargai materi, termasuk kalau memandang orang lainnya.Mereka hanya “menghitung” atau menganggap “ada”orang-orang yang kaya. Orang-orang yang miskin tidakdianggap oleh mereka.Mengapa Ali Topan berbeda? Karena dia dianugrahiwatak yang bagus. Dan sejak kecil diasuh oleh MbokYem dengan cinta, kasih-sayang yang tulus. Mbok Yempun melatih Ali Topan membersihkan kamarnya sendiri,mengepel, mencuci piring dan bahkan memasak. Yanglebih penting, si Mbok menyemaikan benih-benihkepercayaan atau keimanan dengan Allah kepada AliTopan, melalui observasi sederhana tentang berbagaiciptaan Allah yang bisa dilihat, didengar dan dirasai.Tentang langit, bumi, pepohonan, hujan, burung-burungyang terbang berkicau, ikan-ikan dalam akuarium,tentang petir dan guruh, awan yang berarak, buahan dansayur-mayur. Juga tentang bumi, bulan, bintang-bintangdan matahari. Tentang fajar, siang, senja dan malam hari.Dalam jiwa Mbok Yem ada unsur keibuan dan keguruanyang cocok dengan batin seorang anak yang memangmembutuhkan santapan rohani yang sehat.Siang itu, sehari setelah mengantarkan mamanyapulang dari rumah sakit, Ali Topan berbicara denganWindy di beranda rumah Pak Amir.“Pan! Kenapa sih lu?” Gue deng er dari Mbok Yem lu

151 nggak mau lagi tinggal di rumah ini. Apa mau lu, sih?”kata Windy dengan nada suara tinggi dan menghakimi.Ali Topan tak segera menjawab. Ia sejak dulu tak sukacara bicara Windy yang selalu membentak, mengumpatdan tak peduli perasaan orang lain. Dan memvonis tanpafakta!“Tega amat lu! Gue rasa mama kecelakaan itu gara-gara mikirin lu! Sadar dong lu!” bentak Windy lagi.“Eh, monyet! Lu bisa ngomong secara baik-baik apakaga?” kata Ali Topan.“Eh! Sialan lu! Ngatain gue monyet! Lu tuh yang kayakmonyet! Dasar anak keras kepala! Dari dulu lu begitu!Kagak kena dibilangin!” kata Windy. Ma tanya membe-lalak.“Lu yang keras kepala, ngatain gue keras kepala.Goblok! Lu tuh anak bego, Windy. Kayak Mama, Papadan si Boyke! Lu orang bego semua,” kata Ali Topan.“Lu yang bego!” kata Windy. Ia menyalakan rokokputih dan menghisapnya. “Sok lu! Ngatain semua orangbego! Yang bego elu! udah enak dirumah, apa-apa ada,malah lu pergi! Kagak mau kuliah! Mau jadi ape luentar?” lanjutnya.Windy tak pernah menang kalau ngomong dengan AliTopan. Ia —dalam batinnya— sejak dulu mengakui kalauadiknya itu memang pake fakta dan logika. SedangkanWindy hanya mengandalkan statusnya sebagai seorangkakak yang harus dituruti oleh adiknya. Dan ia tahu, AliTopan tak pernah mau menuruti omongan yang tidaklojik. Tapi Windy, seperti juga orangtuanya, dan orang-orang yang “merasa berkuasa” lainnya, selalu berusahamemaksakan, menekan dan menindas logika.Bagaimana mungkin?“Gue tau dari kecil lu kagak bisa dibilangin! Ta pi

152 sebagai kakak wajib hukumnya bagi gue untuk nasehatinelu!“ kata Windy.“Lu kira elu ngebilangin atau nasehatin gue? Lu tuhdari dulu bukannya ngasih nasehat! Lu cuma nyela,ngumpat, dan memvonis gue. Cara ng omongan lu ajeselalu ngebentak-bentak bikin sakit ati gue! Tapi ke oranglain, apalagi kalo ada mau lu, lu bisa ngomong alus,ngerayu... Sadar nggak lu?” kata Ali Topan.“Udah deh... percuma ngomong sama lu! Kayakngomong sama tembok!” kata Windy kesal.“Tunggu dulu.. belon tuntas omongan kita. Kan lukemaren yang minta gue dateng ke sini buat omong-omong. Gue perlu-perluin dateng. Kita ngomong buka-bukaan aje...,” kata Ali Topan dingin. “Kalo gue salah lubuktiin di mana salah gue, kalo elu bener lu tunjukin dimana kebenaran lu,” lanjutnya.“Gue cuma pengen tau, kenapa lu pergi dari rumahini?! Dan kenapa lu kagak mau kuliah?” kata Windysambil mengangka t kakinya ke atas meja.Ali Topan hendak menyepak kaki Windy dar i atasmeja, tapi tak jadi. Ia merasa ia kini bukan warga rumahorangtuanya. Ia sudah menyatakan ke luar. Ia seorangtamu. Windy pihak yang punya rumah, jadi suka-sukadia menaruh kaki di meja, begitu perasaan Ali Topan.“Kok lu diem?!” kata Windy lagi.“Daripada gue berantem sama papa, mendingan guepergi,” kata Ali Topan.“Itu salah! Lu ngalah dong! Emangnya lu maungebuang silsilah, nggak mau ngakuin papa sebagai papalu?!”“Eh Wind! Gue nggak pernah ngomong bahwa guenggak ngakuin papa sebagai papa gue. Itu udah takdir.Jadi elu jangan m uter balikin fakta. Gue pergi dari rumah

153 ini karena gue udah muak di rumah ini. Gue tertekan.Batin gue...,” kata Ali Topan sedih.“Itu salah lu sendiri kalo tertekan! Lagian siapa yangmenekan lu?! Rumah gede, makan tinggal makan, dokutinggal minta! Lu aje yang kagak mau bersandiwarakayak gue,” kata Windy.“Lu mau jadi gelandangan? Kumpul sama gembel-gembel, preman-preman dan manusia-manusia sampahlainnya?” tanya Windy, sinis.“Banyak orang-orang rumahan yang jiwanya lebihgembel, lebih preman dan lebih sampah dari orang-orangjalanan Windy...,” kata Ali Topan. Ia melayangkanpandangannya ke dalam rumah, lalu berbalik, berjalanmeninggalkan Windy yang terdiam.Ali Topan melewati halaman, menepuk bahu Amin,tukang kebun yang sedang memberi pupuk tanaman.Lalu keluar, berjalan kaki menyusuri jalanan. Ke depan.Ia harus ”jadi”. ”Menjadi” walau tak tahu apa yangterjadi.Percakapan dengan Windy memunculkan suatu ideyang bagus dalam benak Ali Topan. Ia akan melakukanserangkaian wawancara dengan apa yang dibilang Windysebagai “manusia-manusia sampah “.“Omongan kakakku itu aku nilai sebagai tantanganbuat kita, Har. Dan juga buat sodara-sodara dan teman-teman kita di jalanan. Omongan itu boleh dibilangmewakili anggapan orang-orang gedongan yang sok,sombong, angkuh dan goblok! Yang mengira makhluk-makhluk di jalanan itu sampah! Bukan orang! Jadi, kitaakan buktikan kepada monyet-monyet itu, bahwa orang-orang jalanan itu manusia juga. Dengan segalakekurangan dan kelebihan mereka,” kata Ali Topan,mendoktrin Harry.

154 Harry setuju saja. Karena memang dia merasa denganpikiran-pikiran Ali Topan. Dia merasa naik derajatbekerja sama dengan Ali Topan yang cerdas, sigap danberani.Untuk sementara, mereka menjadikan bagian belakangkios Oji sebagai tempat tinggal. Dan mereka menyusundaftar orang-orang jalanan yang akan merekawawancarai: Oji penjual kembang, Munir penjualsuratka bar dan majalah, Tresno pengamen Pasar Kaget.“Dan satu sohib gue, seorang preman yang udah sadar.Namanya Hasan Dinar, panggilannya Acang. Dia lulusanCipinang dan Nusakambangan. Sekarang jadi guru ngajidi kalangan preman,” kata Ali Topan.“Tapi... Pan..., apa redaktur I bu Kota mau memuatcerita-cerita tentang teman-teman kita itu?” tanya Harry.“Kita coba aja,” kata Ali Topan.***Wawancara dengan Fauzi alias Oji dilakukan malamharinya, sekitar jam delapan malam. Sebelumnya, soreharinya, Harry sudah memotret Oji dengan latar belakangbunga-bunga di kiosnya.“Lu mau nanya apa sih, Pan? Gue jadi malu. Lurahbukan, Camat bukan, pake diwawancarain lagi. Kagakbakal ada yang baca deh. Lu percaya gue ,” kata Oji, ber-pura-pura.“Lu mau kagak? Gue kagak maksa, nih..,” ka ta AliTopan.“Ya mauuu...,” kata Oji sembari cengengesan.“Nah, sekarang kita mulai. Lu jawab aje apa yang guetanya. Pertama, siapa orangtua lu, berapa orang lu beso-dara kandung , siapa nama bini lu, kalau udah punya anak,berapa anak lu, apa pendidikan lu, kapan lu mulai dagangkembang dan kenapa lu milih usaha da gang kembang,”

155 kata Ali Topan.“Atu-atu, Pan. Bingung gue ngejawabnye kalo lu nanyangeberontot begitu..,” kata Oji.“Itu gambaran umumnya. Nanti gue urut satu persatupertanyaannye,” kata Ali Topan sambil bersiap-siapmenuliskan cerita si Oji.Fauzi alias Oji usia 24 tahun adalah anak ke enam darisembilan bersaudara anak Pak Fuad, petani bunga di ka-wasan Rawa Belong, Jakarta Barat. Pendidikanfor malnya sampai kelas satu SMA. Sejak kecil ia bekerjamembantu ayahnya, hingga Oji cukup mengerti urusanperbungaan, utamanya bunga anggrek.Oji sudah kawin dengan Sanem, perempuan Tegal,beranak dua, namanya Siti Katleya dan Mawar Pagi.“Cakep nama anak-anak lu, Ji,” kata Ali Topan, “Ah,baru lu aje yang bilang nama anak-anak gue cakep, Pan.Waktu gue kasih nama dulu, ba ba gue, nyak gue, amepermili-permili gue pade nyap-nyap semua. Kate nyakgue, mentang-mentang petani kembang punya anakdinamain nama kembang. Entar layu lu,” celoteh si Oji.“Tapi gue antepin aje. Anak-anak gue, gue bikinnyacapek, terserah gue namenye, bener kagak, Pan. Merekasih pada ngusulin nama-nama perempuan Arab, tapi guecatet aje itu nama-nama. Kagak gue pake,” kata Oji.“Kenape?” sela Harry.“Alasan gue sih ringkes aje. Supaya anak-anak guedidemenin orang-orang kaya, orang-orang berpangkat,bagaikan... eh bagaikan lagi, kayak kembang anggreksama kembang mawar yang namenye gue pakein keanak-anak gue itu. Yang demen beli kembang kan orang-orang kaya ama orang-orang berpangkat, iya kagak?Kalo orang miskin bor o-boro beli kembang, beli beraspera iye bakal nangsel kampung tengahnye. Pan kagak

156 lucu kalo gue namain anak-anak gue Beras Pera atauTales Bogor,” kata Oji sembari ngakak.Ali Topan dan Harry ikutan ngakak terbahak-bahaksampai keluar airmata mereka. Tawa lepas di malam hariitu sungguh menghibur hati, meringankan beban ba tinAli Topan.Sampai ‘tuntas’ Ali Topan mewawancarai Oji yangternyata pandai bercerita. Ali Topan mencatat hampirsemua cerita tukang kembang yang baik hati itu.Usai wawancara, sekitar jam sepuluh lewat dua puluhmenit malam. “Bakal dimuat apa kagak cerita gue itu,Pan?!” tanya Oji.“Gue usahain,” kata Ali Topan.“Iya dah, terime kasi, sekarang gue mau pulang duluye,” kata Oji. Ia merogoh saku celananya, mengambiluang Rp 1.000 dan hendak menggenggamkannya ketangan Ali Topan. “Ini bakal beli roko ye,” katanya.“Apaan? Kagak perlu!” kata Ali Topan sambil menge-pret tangan Oji. “Wartawan itu kagak boleh terima duitdari or ang yang diwawancarai. Gue baru baca peratur-annye,” lanjutnya.“Emang ada peraturannye?” tanya Oji.“Ada,” sahut Ali Topan. “Udah lu pulang aje. Bini luentar kesemutan kelamaan nungguin elu,” sambungnya.“Iya dah. Salam lekum,” kata Oji sambil berjalan kedepan kiosnya . Ali Topan dan Harry membalas salam itu.Tak lama kemudian terdengar suara mesin motorHonda CB 100 dinyalakan Oji. “Gue cabut, Paan!” teriakOji.“Yei!!” balas Ali Topan.Suara sepeda motor yang dikendarai Oji memecahkesunyian malam, dan segera menjauh.“Dahsyat juga kisah si Oji, Pan. Mudah-mudahan

157 redaktur Ibu Kota mau memuatnya,” kata Harry.“Mudah-mudahan...,” kata Ali Topan.Bayangan bulan bergerak di permukaan danau kecilBlok C yang dikelilingi kios-kios bunga. Teratai-terataiputih dan ungu bermekaran mengambang.***

158DUA BELASSekitar jam setengah delapan pagi Ali Topan danHarry sudah berada di kios Munir. Harry langsungmemotret kesibukan Munir menata majalah dansurat-surat kabar di rak kiosnya.“Tumben-tumbenan kalian datang pagi. Dan lantasmain jeprat-jepret tanpa omong. Mau dimasukinsuratka bar,” kata Munir.“Iya, Nir. Kami mau wawancarai kau. Tentangperjuangan kau sebagai penjual majalah dan suratkabar,”kata Ali Topan.“Aah... nggak perlulah! Seperti apaan aja. Aku takmau,” kata Munir. “Baru bikin berita sekali saja gayakalian sudah seperti wartawan-wartawan kawakan. Pagi-pagi sudah cari mangsa. Aku lagi yang mau dijadikanmangsa hah hah hah,” lanjut Munir.“Tolonglah, Nir... Aku dan Harry baru mulai menapakkarir, nih. Kami bersepakat menuliskan kisah-kisahorang-orang jalanan. Kemarin kami sudahmewawancarai Oji, kawanku yang buka kios bunga diBlok C,” kata Ali Topan.“Aku tak mau. Titik. Kalian cari mangsa yang lainsaja,” kata Munir. “Kalau kau mau baca suratkabar ataumajalah seperti biasanya, baca saja, Pan,” lanjutnya . “Kaukira aku artis yang haus publisitas. Aku tak berminat jadiorang terkenal, Pan. Sorry,” lanjutnya lagi.“Serius, nih?” tanya Ali Topan.“Kapan aku main-main? Seperti baru kenal aku sebulandua bulan saja kau,” kata Munir.

159 “Kau bilang kemarin aku hebat dan kau semangati akuberjuang terus, tapi sekarang kau menolak akuwawancarai. Nggak klop dong omongan dengantindakan lu,” kata Ali Topan.Munir menghentikan kegiatannya mengatur majalahdan suratkabar. Ia menatap Ali Topan. “Nggak klopgimana? Kau jangan bikin aku tersinggung, Pan! Aku inisarjana pendidikan tamatan Univer sitas Medan Area,maka aku tahu kalau kegiatan tulis menulis itu sangatpenting untuk mencerdaskan sua tu bangsa! Aku sendiritak bisa menulis, maka ku bilang kau hebat... Dan akusepenuh hati mengatakannya. Aku turut gembira,bangga, bahagia kau ter nyata bisa menulis dan tulisankau dimuat di suratkabar! Kau sudah aku anggap sebagaiadikku sendiri . Aku kenal kau. Kau anak baik, kau cerdas,dan semangat juang kau tinggi. Maka aku semangati kausupaya maju terus sampai benar-benar mencapai sukses!Sukses buat kau sendiri, sukses buat beratus-ratus jutarakyat yang selama ini dibodohkan oleh orang-orangbodoh di negeri kita ini. Paham kau?” kata Munir.Ali Topan terdiam. Ia selalu terkesan pada Munir.Nasionalis.“Soal aku tak mau kau wawancarai itu soal lain. Takada hubungannya dengan dukunganku sama kau! Kautahu alasanku?” lanjut Munir.“Ia menyodorkan sebatang rokok ke Ali Topan danmenyalakan korek apinya untuk Ali Topan.“Apa alasan kau?” kata Ali Topan setelah menghisapbeberapa hisapan asap rokok.“Bapakku mau aku jadi politikus. Dia itu orang PNI,Partai Nasionalis Indonesia yang sudah dibubarkanpemerintah karena tak mau bergabung dengan PDI, PartaiDemokrat Indonesia bikinan Pemerintah. Dia mau aku

160 yang masuk PDI untuk membawakan aspirasi-aspirasiorang-orang nasionalis. Aku tak mau, karena aku merasatak cocok sama politik. Buat aku, politikus sudah gagalmembawa rakyat dan bangsa ini ke arah kemajuan.Berapa banyak politikus, tapi bangsa kita masih bodohsaja! Aku lebih percaya kepada profesi guru, pendidik.Aku bercita-cita mendirikan sekolah, tapi nasib bicaralain. Aku terdampar di ibukota, dan jadi penjualsuratka bar dan majalah. Nah, kalau kau wawancara akudan dimuat di suratkabar, maka akan ada dua or ang yangtertikam perasaannya. Aku dan bapakku di Siantar sana.Mengerti kau?” kata Munir.Ali Topan mengangguk. “Aku mengerti. Ta pi akumenolak alasan yang tidak tepat itu,” kata Ali Topan.“Haah? Apa kau bilang?” Munir tampak heran.“Tadi kau bilang, banyak politikus tapi rakyat masihbodoh. Tapi kau lupa, banyak jug a guru di Indonesia,bangsa kita pun masih tolol. Kesimpulannya, parapolitikus dan guru-guru yang banyak itu sama-samagagal mencerdaskan rakyat,” kata Ali Topan.Munir ternganga. “Iya juga ya,” katanya. “Hebat kau.Kritik kau mengena,” lanjutnya.“Udahlah, jangan menghebat-hebatkan aku. Akubiasa-biasa aja. Normal. Sewajarnya. Tapi... di jamanabnormal dan tidak wajar ini, orang-orang yang normaldan wajar tampak hebat. Nah, kembali ke soal tadi. Terlaumengada-ada kalau perasaan kau dan bapak kau tertikamhanya karena pandangan kau dimuat di suratka bar. Itucengeng namanya. Sedangkan lu sendiri ngebilangin guesupaya jangan cengeng...,” kata Ali Topan.Munir menggaruk-garuk kepalanya. “Yaah, terserahlu deh...,” katanya sambil melanjutkan kerjanya.“Jadi gue tulis omongan kita tadi ya?”

161 “Kau aturlah bagaimana baiknya,” kata Munir sambilmenunjukkan jempol tangan kanannya.“Makasih, Nir,” kata Ali Topan. Ia memandang Harryyang tampak lega . “Kita langsung ke Priok, Har, ke rumahHasan Dinar,” lanjutnya.“Kau aturlah bagaimana baiknya,” kata Harry meniruomongan Munir. Ali Topan dan Munir tertawamendengarnya.“Nir, kami cabut dulu. Horas!” kata Ali Topan.“Horas!” sahut Munir.Ali Topan dan Harry bergerak ke arah terminal biskotayang berjarak sekitar dua ratus meter sebelah Barat lautPasar Melawai.Langit cerah.Manusia berjubel, berjalan dengan wajah tegang,runyam dan tertekan seperti tentara-tentara kalahperang...***Mereka naik bis PPD jurusan Pasar Senen, JakartaPusat, dan dari sana nyambung lagi naik biskota keterminal Tanjung Priok di Jakarta Utara. Dari situ naikojek sepeda ke arah Cilincing di arah timur. Di situlahPasar Uler, tempat pedagang blue jeans, sepatu danbarang-barang bawaan para kelasi luar negeri yangberlabuh di pela buhan Tanjung Priok.Panas. Banyak manusia berbagai ras. Sibuk. Menggai-rahkan. Itulah suasana khas pelabuhan laut di mana-mana.“Ini kawasan sangar. Mata jangan jelalatan, berjalanmusti mantap tapi muka jangan tegang,” bisik Ali Topankepada Harry y ang baru per tama kali kekawasan itu.“Hasan Dinar buka kios kecil di belakang sana,” lanjutAli Topan. Ia berjalan beberapa langkah di muka. Harry

162 berjalan perlahan sambil memotret ke arah Ali Topanyang berjalan sigap di antara jubelan manusia yangmenyesaki lorong-lorong kecil di Pasar itu.Tiba-tiba seseorang bertubuh kurus, berpeci,menerjang Harry hingga terjengkang. Tustel Canonnyamengenai tubuh seseorang di belakangnya.“Mau apa di sini? Kamu espe ya!” hardik si penerjangsambil menodongkan pisau badik ke arah jantung Haryyang tergeletak di lorong itu.“Bunuh saja, Daeng!” teriak seseorang.Harry terbelalak, gemetar ketakutan. Orang-orangmengerumuni dia. Seseorang menginjak kakinya, sese-orang lainnya merampas tustelnya. Harry mengiradirinya bakal mati terbunuh tanpa tahu sebab-musababnya.“Berhenti! Dia kawan saya! Dan saya saudaranyaDaeng Acang!” Suara Ali Topan menghardik orang-orang y ang mengerumuni Harry. Mereka semua melihatke Ali Topan yang muncul di antara kerumunan orang.“Siapa kamu?” kata si orang berbadik sambil menoreh-kan badiknya ke baju Harry, hingga baju di bagian dadaHarry robek!Ali Topan menatap tajam orang berbadik dan orangyang tadi menginjak kepala Harry. Pandanganya kuatberwibawa.“Saya Ali Topan! Saya minta maaf kalau kawan sayamelakukan kesalahan di sini!” kata Ali Topan tegas.“Kamu apanya Daeng Acang?” tanya orang berbadikyang telah menyimpan badiknya di sela pinggangcelananya.“Dia sodara saya, Daeng Zaenal,” kata seseorangberperawakan tinggi, kurus, berwajah ke arab-arabanyang keras.

163 “Maafkan saya Daeng Acang. Saya kir a orang ini espe.Dia bikin foto-foto di sini tadi,” kata Daeng Zaenal, siorang berbadik itu.Ali Topan mengulurkan tangannya dan melangkah keDaeng Zaenal. “Sekali lagi saya mintakan maaf untukHarry, kawan saya ini. Dia baru belajar foto. Dia bukanespe,” kata Ali Topan.Daeng Zaenal menjabat tangan Ali Topan denganhangat. Keberingasan wajahnya hilang berganti wajahpersaudaraan. Ali Topan memeluk Daeng Zaenal, lalumengulurkan tangannya ke orang Ambon yang tadimenginjak kepala Harry.“Beta juga minta maaf,” kata orang Ambon yang tu-buhnya tinggi, besar, dan lengan kanannya dipenuhi tatto.“Nama beta Willem Siwabesi. Kalau ale Daeng Alisodara Daeng Acang, maka ale beta punya sodara juga,”lanjutnya. Ali Topan mengangguk-angguk, sambilmemandang Harry yang berdiri culun di sebelahnya.“Damai, Har... Maapin, mereka salah paham,” kata AliTopan.“Beta minta maaf, Bung,” kat a Willem Siwabesi sambilmenjabat tangan dan memeluk Harry. Daeng Zaenal punminta maaf, menja bat tangan dan memeluk Harry.Seseorang memberikan tustel Canon ke Harry.“Hampir saja pindah tangan tustelnya,” kata orang yangbadannya gem uk, pendek dan kepala botak. Semua yanghadir di situ tertawa.Ali Topan meng gandeng Harry, menghampiri DaengHasan Dinar. “Salam alaikum, Daeng Hasan,” kata AliTopan. Daeng Hasan membalas salam itu dengan wajahramah dan memeluk Ali Topan.“Har, kenalkan abang ogut, Daeng Hasan,” kata AliTopan ke Harry. Harry mengulurkan kedua tangannya ke

164 Daeng Hasan. Ia pun dipeluk oleh Daeng Hasan. Lalumereka bersama-sama ke kios Daeng Hasan.Kios itu berupa bangunan dari papan berukuran duakali tiga meter persegi. Atapnya dari sirap Kalimantan.Tiga sisi dinding ruangnya —kiri, kanan dan belakang—berfungsi pula sebagai rak-rak tempat, berslof-slof rokok555, John Player Special dan Benson & Hedges; tas-tassamsonite dan tas-tas kulit wanita; celana-celana danjaket blue jeans merk Lee dan Levi’s; sepatu-sepatubikinan Itali; baju-baju dan barang-barang luar negerilainnya.“Situasi negara saat ini sedang tegang. Gerakan-gerakan mahasiswa anti-korupsi, anti hutang luar negeridan anti ABRI marak di mana-mana. Intel-intel berkeliar-an, termasuk di kawasan Priok, khususnya di Pasar Ulersini yang dicurigai menjadi tempat barang-barang selun-dupan. Maka tadi itu, ketika Harry mempoto lantas diang-gap espe oleh Daeng Zaenal. Itu pelajaran penting kalaumemasuki daerah yang baru pertama kali di da tangi,”kata Daeng Hasan. “Untung Daeng Ali... he he he.”Daeng Hasan tertawa geli.Ali Topan tersenyum lebar. “Gara-gara peristiwa tadisaya dapat ceplosan nama Bugis dari orang Ambon.Daeng Ali... boljug,” kata Ali Topan.“Nokam itoku pantokes bakal loku, Pan... Kudokudiselokamin. Daeng Ali.. Daeng Ali... he he he he... Ento-kar malokem kokit selokaman, Pan,” kata Daeng Hasan.“Yei, bang. Trimkokas,” kata Ali Topan sambil mengu-lum senyum.Harry —yang rasa kaget dan ngerinya belum sirna—cuma diam saja. Ia sungguh merasa seperti baruterbangun dari mimpi buruk.Singkat cerita, malam harinya, Daen Hasan

165 menyelenggarakan acara “selamatan” untuk pengukuhannama Daeng buat Ali Topan di rumah makan Makassar diujung Pasar Uler. Daeng Zaenal, Willem Siwabesi danbeberapa tetua Bugis, Makassar, Ambon, Banten,Madura, dan pentolan-pentolan warga Tanjung Prioklainnya hadir atas undangan Daeng Hasan. Jumlahnyasekitar lima puluh orang, hingga Daeng Yusuf, pemilikrumah makan “Bugis Makassar” menggelar tikar dansuratkabar bekas di jalanan depan rumah makannyauntuk duduk para undangan.Para undangan itu umumnya memakai pakaian daerahmasing-masing.Daeng Hasan duduk bersila bersama Ali Topan, Harry,Daeng Zaenal, dan Willem Siwabesi di atas tumpukanpapan-papan kayu yang disusun, menjadi pentas, ditengah ruang.“Salamu alaikum Saudara-saudara, Bapak-bapak paratetua Bugis, Makassar, Banten, Madura, Irian, Aceh,Palembang, Riau, Minang, Batak, dan warga Priok yangterhormat. Terima kasih atas kehadiran Saudara-saudaradan Bapak-bapak sekalian memenuhi undangan saya.Sebelum bicar a lebih lanjut, saya perkenalkan duluadik batin saya yang bernama Ali Topan,” kata DaengHasan di awal acara . Ali Topan berdiri dan membungkuk-kan tubuhnya ke arah para hadirin yang menyambutnyadengan tepuk tangan riuh.“Dan seorang lagi, sahabatnya yang bernama Harry,”lanjut Daeng Hasan. Harry pun berdiri dan membung-kukkan badan ke arah para hadirin, yang disambut jugadengan tepuk tangan riuh.“Tadi siang ada peristiwa salah paham kecil yangalhamdulillah akhirnya menjadi perdamian dan persau-daraan. Tadi siang itu, adik saya Ali Topan dan Harry

166 yang baru jadi wartawan datang dengan maksud me-wawancarai saya untuk di muat di suratkabar. Harry yangsuka memotret, telah memotret kesibukan di Pasar Ulertadi siang. Daeng Zaenal menyangka Harry itu espe yangmau memata-matai kita, sehingga Daeng Zaenal danbung Willem Siwabesi mar ah.”Alhamdulillah salah paham itu telah selesai. SaudaraAli Topan yang pernah menyelamatkan diri saya darikejar an aparat waktu saya masih dinas aktip sebagaiperampok bank, bertindak bijak,” kata Daeng Hasan y angdisambut tepuk tangan riuh.“Bagaimana ceritanya, Daeng?” tanya seorang tuaberbusana hitam-hitam. Ia Tubagus Rahmat, tetua Bantendi Priok.“Seperti dalam pilem, Ki Tubagus Rahmat... sepertidalam pilem,” kata Daeng Hasan. Ia memandang AliTopan dan menepuk-nepuk lengan Ali Topan.“Waktu itu.., dua tahun yang lalu. saya bersamapartner saya merampok bank di Pasar Ma yestik,Kebayor an. Kami berhasil, tapi begitu keluar dari bankitu, ada orang y ang berteriak rampok, rampook! Pas didekat bank ada patroli gabungan. Kami dikejar. Saya larimasuk Pasar dan keluar di jalan belakang pasar. Duaaparat dan orang-orang mengejar. Sa ya ditembakin, tapiTuhan masih melindungi. Pelor aparat cumamenyerempet paha saya.”Di saat genting itu, ada anak muda gondrong naikmotor pelan. Saya melompat ke boncengannya dan sayabilang, tolong saya, tolong saya! Ng gak pake nanya lagi,anak muda itu ngegas motornya, menyelamatkan saya,lolos dari kejaran aparat,” tutur Daeng Hasan. Parahadirin bertepuk tangan riuh lagi.“Yang saya salut, si anak muda penyelama t itu, menge-

167 butkan motornya melawan arus lalu lintas. Dia meng-ambil jalan-jalan tikus sampai ke perkebunan karet didaerah Parung. Di Parung, saya ditampung oleh seorangsaudara. Dan anak muda penyelamat itu, yaitu Ali Topanini, kembali ke Jakarta!” kata Daeng Hasan. Tepuk tanganriuh menggema di rumah makan itu.Daeng Hasan memeluk Ali Topan. Lalu ia melanjutkan“pidatonya”. “Kembali ke acara malam ini... Tadi siangsewaktu terjadi peristiwa salah paham, Ali Topan menga-takan bahwa ia adalah saudara saya. Bung Willem Siwa-besi menyangka dia orang Bugis, sehingga diamemanggil Ali Topan dengan daeng. Daeng Ali.”Para hadirin bertepuk tangan lagi. Willem Siwabesitersenyum le bar. “Soalnya dia bilang doi sodara DaengHasan, Jadi beta kira doi orang Bugis. Beta panggil doiDaeng Ali...,” kata Willem Siwabesi. Para hadirintertawa.”Ya, ya. di Priok sini kita semua saudara. Saudarabatin, saudara hati. Saudara darah bisa berdarah-darah,tapi saudara batin atau saudara hati kita salingmenyayangi dan mengasihi, setuju Bapak-bapak,Sudara-saudara?” kata Daeng Hasan.“Setujuuuu!!” sahut para hadirin diiringi tepuk tanganriuh lagi.“Nah, saya rasa nama Daeng yang diberikan oleh sau-dara kita Willem Siwabesi kepada Ali Topan perlu disela-mati. Ini peristiwa langka. Orang Ambon beri nama daengyang khas panggilan orang Bugis kepada anak muda dariJawa. Dan Ali Topan suka dengan panggilan daeng itu.Nah, Bapak-bapak dan Saudara-saudara sebangsasetanah air, malam ini, saya Daeng Hasan binMuhammad Isa, dengan mengucapkanBismillahitohmanirrohim mengukuhkan panggilan

168 daeng buat penyelama t saya Ali Topan. Mulai hari inikita panggil doi Daeng Ali!” kata Daeng Hasan yangdisambut gemur uh tepukan tangan para hadirin.Daeng Hasan menjabat tangan Ali Topan, diikutiWillem Siwabesi, Daeng Zaenal, Harry, para tetua sukudan hadirin lainnya.Kemudian, acara selamatan yang menakjubkan malamitu dilanjutkan dengan acara makan Coto Makassar danhidangan khas Bugis yang menakjubkan.Usai acara, sekitar jam sepuluh malam, Ali Topan danHarry diberi masing-masing celana dan jaket bluejeansoleh Daeng Hasan. Dan masing-masing ransel USMarine dari Wllem Siwabesi. Sedangkan Daeng Zaenalmemberi masing-masing sepatu kets dan baju putihArrow, khusus untuk Harry, Daeng Zaenal memberibadiknya.Daeng Yusuf, ketua warga Bugis-Makassar, memberibadik dan kain sarung tenunan Bugis untuk Ali Topan.Julius Raweyai, ketua warga Papua memberi koleka dantameng Papua. Sutan Ahmad, ketua warga Minangmemberi buku resep makanan masakan Padang. EdwinSigarlaki, ketua warga Menado memberi sambal ikanRoa, makanan khas Menado yang lezat. Pak Nuzur, ketuawarga Riau memberi buku riwayat raja-raja Melayutulisan tangannya. Rampan Borneo, ketua warga Dayak -Kalimantan, memberi sekeranjang obat racikan dari akardan tumbuhan hutan.Ki Tubagus Rahmat memberi sebuah cincin perakbermata batu zamrud. Tubagus Rahmat meloloskancincin yang ia pakai itu ke jari manis Ali Topan. Pas.“Cincin ini pemberian uwak saya almarhum TubagusSalam Hidayatullah, seorang jawara yang memimpinperjuangan melawan penjajah Belanda dan Jepang di

169 Ujung Kulon. Di bagian dalamnya ada ukiran kalimatTauhid, Syahadat La ilahailla Allah yang artinya Tidakada sembahan kecuali Allah. Pakailah cincin ini untukkebaikan. Dan yang le bih penting, camkan syahadah atausatu kesaksian yang haq itu dalam dirimu,” fatwaTubagus Rahmat.Teuku Aziz, ketua warga Aceh memberikan sejilidBuku Al Quran dengan terjemahan Bahasa Aceh. “Kitabini diwahyukan oleh Allah Robbal alamin kepadaMuhammad Rosul Allah dan Pengkhotam para Nabi,sebagai Petunjuk untuk manusia. Kalau kau manusia,gunakan Al Quran sebagai Petunjuk keselamatanmu didunia dan akhirat, Daeng Ali,” kata Teuku Aziz dengansuara yang lembut menyejukkan kalbu.Jam sepuluh lewat sembilan belas menit malam, AliTopan dan Har ry pamit. Willem Siwabesi dan DaengZaenal mengantarkan mereka naik sepeda motor sampaike kios Oji.Malam itu bintang gemintang berkedip-kedip di langitnan cerah. Bulan menjelang punama raya. Kelelawar-kelelawar besar terbang bagaikan bayang-ba yang.Kolam Blok C tenang. Teratai-teratai ungu, putih danmerah muda bermekaran. Jengkrik dan belalang malammenyuarakan kebebasan.Ali Topan mandi di sumur kecil di pinggir kolam. Harrymeniup harmonika memainkan la gu Bob Dylan : Thetimes there are changing...*** Seminggu kemudian, tulisan Ali Topan tentang Oji,Munir dan “peristiwa” salah paham yang berakhirperdamaian serta pemberian nama Daeng, berturut-turutselama tiga hari dimuat oleh Harian Ibu Kota. Seri tulisanitu diberi judul “Rakyat Jalanan” oleh GM, sang Redak-

170 tur Pelaksana.“Tulisanmu ekspresif, kadang impresif, dan beranimenggunakan ungkapan-ungkapan khas jalanan. Bolehjuga. Rela tif orig inal, baik gagasan maupun penyam-paiannya,” kata GM, si Redpel pada hari pemuatan artikelpertama dari seri tersebut. “Tidak mudah memper-juangkan artikel serimu itu, Ali Topan. Ada juga yangmenentang dalam Rapat Redaksi kemarin. Khususnyabeberapa reporter muda yang mungkin merasa mendapatpesaing dan dua wartawan senior yang beranggapankamu terlampau cepat diberi peluang hingga kamu bisamerasa besar kepala,” lanjut GM.“Terima kasih, Pak,” kata Ali Topan terhar u oleh du-kungan yang diberikan GM. “Mudah-mudahan saya taudiri, nggak ge er,” lanjutnya.“Pemimpin Redaksi kirim pesan, apa kalian maumelanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Kewartawanan.Beliau punya yayasan yang dapat memberi beasiswa,”kata GM.Ali Topan melihat ke Harry. “Gimana, Har?” tanyanya.“Daeng Ali gimana?” Harry balik bertanya.Si Daeng Ali tersenyum. Ia memandang wajah GM.”Kami memasuki kewartawanan tanpa melalui SekolahTinggi. Maka biarlah kami menjadi wartawan dengancara jalanan. Sekolah kami di jalanan,” kata Ali Topan.“Baik, kalau itu sudah menjadi pilihan kalian.”“Sampaikan salam dan terima kasih kami kepada bapakPemimpin Redaksi dan seluruh teman yang bersimpati,”kata Ali Topan.“Insya Allah, Daeng Ali,” kata GM sambil tersenyumdan menjabat tangan dua anak jalanan itu erat-erat. DanGM menyuruh mereka terus mewawancarai orang-orangjalanan.

171TIGA BELASLangit kelam. Udara mulai kerontang. Pasar Kagetjam sepuluh malam. Ali Topan dan Harry minumOvaltine dan makan roti bakar di kios Edos. Merekaakan mewawancarai Tresno dan Surman, dua pengamenPasar Kaget yang sering tidur di Gelanggang Bulungan.Mereka bisa juga mengarang lagu-lagu balada bertemacinta dan sebagainya. Ali Topan pernah menuliskanbeberapa syair untuk lagu-lagu mereka.Tresno itu arek Malang, usianya 22 tahun. Ia pernahkuliah sampai tingkat II di Sekolah Tingg i Hukum diMalang. Perawakannya tinggi besar, suaranya lembut,wajahnya keras, hatinya baik. Sedangkan Surman anakCirebon, tamatan STM. Usianya 21 tahun, tinggi kurus,suka ngebodor, dan suaranya bariton. Mereka sangatberharap jumpa pemandu bakat di Pasar Kaget yang maumembawa mer eka ke pr oduser rekaman kaset. Sudahtiga tahun mereka di Jakarta, tapi harapan tersebut belummenjadi kenyataan.Tresno dan Surman sedang menyanyikan lagu di kiosbubur ayam Hens sekitar lima belas meter dari kios rotbaktempat Ali Topan dan Harry duduk. Mereka berduatersenyum melihat Ali Topan dan Harry.Lagu cinta usai dinyanyikan oleh Tresno dan Surman.Para pemakan bubur ayam memberi Rp 50 kepadamereka Surman. Lalu duo Pasar Kaget itu berjalan kekios Soto Betawi di samping roti bakar. Seorang lelakiberambut cepak y ang sedang makan soto segeramengusir Tresno dan Surman. “ Jangan mengganggu

172 orang makan!” katanya dengan mata tak enak.“Kami juga nyari makan, Mas...,” gerutu Surman.Sambil berjalan ke kios Sate Padang di sebelah kios buburayam.“Apa kamu bilang?” hardik lelaki berambut cepak itusambil berdiri. Temannya yang juga berambut cepakmenarik tangannya, hingga lelaki itu duduk kembali.“Anak ngamen saja kok diladeni,” kata temannya.Tresno memetik gitarnya. Surman mengangka t ukuleleyang diarahkan ke Ali Topan. “Dines malem dulu, Pan !,”kata Surman.Ali Topan melambaikan tangan ke arah Surman.Ia agak tertegun ketika pandangannya beradu denganpandangan seorang lelaki RPKAD yang menengok kearahnya dari kios sate Padang itu. Lalu lelaki itumelanjutkan makannya.Surman bicara. “Selamat malam saudara-saudarasebangsa setanah air. Saya Surman van Cirebon dankawan saya Tresno Ngalam akan menghibur Anda,”katanya dengan semangat.”Kami akan menyanyikan satu lagu yang syairnyaditulis oleh kawan sa ya Ali Topan yang sedang makanroti bakar. Judul syairnya Indonesia Kaya. Melodilagunya adalah refrein lagu Indonesia Raya karya WR.Supratman. Lagu ini mau diusulkan menjadi lagukebangsaan he... he... he.. Selamat mendengarkan he hehe,” celoteh SurmanLelaki berambut cepak di kios bubu ayam menengokke Surman. Yang ditengok mulai menyanyi:Indonesia kaya katanya siapatanahnya airnya punya siapaIndonesia kaya yang kaya siaparakyatnya kok makin miskin saja...

173 Indonesia kaya kok ban yak hutangnyaKatanya Indonesia Kaya...Demikianlah saudara-saudara sebangsa dan setanahair”“He! Kamu subversib ya!” lelaki cepak berteriak daritempat makannya sambil menuding Surman. Orang-orang di sekitar situ memusatkan pandangan mereka kelelaki yang segera berdiri dan berjalan menghampiriSurman. Lelaki itu mencengkeram lengan Surman.“Kamu mau makar ya?” katanya.”Mbakar apa, Pak?” kata Surman dengan muka bloon.“Jangan banyak omong! Ayo ikut saya!” lelaki cepakitu menarik lengan Surman. Tapi Surman bertahan.“Ini orang ngapain siih?” kata Surman sambil berusahamelepaskan cengkeraman orang itu.Ali Topan melihat adegan itu.“Kayaknya akan ada setori, Har,” kata Ali Topansambil bangkit dan bergegas menghampirii Surman.Harry menyusul sambil menyia pkan tustelnya.“Ada apa, Sur?” tanya Ali Topan.“Nggak tau nih, tiba-tiba orang ini marah-marah”“Kamu jangan ikut campur! Atau kamu saya bawa juga,mau!” hardik oknum cepak itu.“Urusannya apa dulu nih? Kawan saya ini salah apasama Anda?” tanya Ali Topan.“Urusan belakangan! Sekarang kalian ikut saya!” kataorang itu.“Lho anda ini siapa kok main bawa orang?” kata AliTopan. Harry memotret adegan itu.“Saya intel! Kamu mau apa? Ayo ikut semua!” Orangitu membuka jaketnya dan menongolkan sepucuk pistolkaliber 35 mm yang tergantung di dadanya. Lalu, dengan

174 kasar ia menarik Surman dan Tresno.Ali Topan berbisik ke Harry: “Kamu lekas cabut, Har...cuci filmnya, dan ganti dengan film baru. Aku maumendampingi Surman dan Tresno...”Harry segera pergi.Ali Topan menyusul oknum yang membawa Surmandan Tresno ke luar dari Pasar Kaget. Lelaki berbaretRPKAD di kios sate Padang memandangi kepergian AliTopan. “Ogut suka ngelokit tongkrongan na’ak itoku,”katanya kepada seorang gadis cantik yang duduk disebelahnya.***Surman, Tresno dan Ali Topan dibawa naik jip ToyotaKanvas oleh dua lelaki cepak yang mengaku intel itu kemarkas Kodim di jalan Hang Lekir. Bangunan markas itubertingkat dua. Temboknya bercat putih, yang sebagianplesterannya bocel-bocel dan berlumut. Suasananyaangker. Beberapa orang berpakaian tentara maupun sipilmemperlihatkan wajah dan sikap kaku ketika Surman,Tresno dan Ali Topan turun dari jip yang membawamereka.“Pak... kalau saya salah saya minta maaf, Paaak..,”rengek Surman dengan mimik ketakutan. ”Ampuun,Paak.. saya jangan dikerangkeng,” lanjutnya.“Tak usah minta ampun!” kata oknum cepak itu sambilmendorong Surman dan Tresno ke pintu markas.“Maling ayam, ya?” tanya seseorang berpakaiantentara yang duduk di meja piket dekat pintu masuk ruangdepan markas itu.“Kasus subversib! Mereka coba-coba bikin makar diBlok M,” kata intel yang membawa anak-anak jalananitu.“Wah, kita karungi saja,” kata si petugas piket.

175 “Pral, masukkan ke kamar kelas tiga kawanan premanjalanan ini, biar mereka istirahat dulu. Besok baru kitaperiksa,” kata seor ang kekar berkaos oblong putih yangpangkal lengannya bertato laba-laba.“Kalian ikut saya!” katanya kepada Surman, Tresnodan Ali Topan. Kopral itu membawa mereka ke satukamar berukuran tiga meter persegi yang berterali besi.Ali Topan, Surman, dan Tresno dimasukkan ke dalamsel tersebut, lalu pintu sel itu digembok dari luar. “Sudahbanyak orang yang mati di kamar ini,” kata si kopral,dengan ekspresi kaku.Surman menggerutu dengan dialek Cirebonan,“Ghara-ghara syair lagu kebangsaan lu... kita jadi appess,Pan...”“Aah... soal apes itu kan karena suara lu aja semberwaktu lu nyanyiin lagu itu,” kata Ali Topan kalem.“Wah, shuara oghut sudhah khayak Rulhing Setundibhilang shember, On. Buktinya oghut nghamheninlaghu-laghu lhaen khok nggha dhithangkhep. Inhisudhah pasthi ghara-ghara syahir lhu,” gerutu Surmanlagi. “Ghua shampe dibhilang shubvershib khan bherat,yha On,” lanjutnya. Ia memanggil On sebagai balikan Nodari nama Tresno. Bahasa walikan, pengucapan terbalikkata-kata khas arema-arek Malang, suatu kota di JawaTimu r.Tresno diam.“On... jhawhab dhong perthanyaan ghua. Shubvershibithu bherat yha?” Surman menanya lagi sambil menowellengan Tresno.“Embuh, Sur. Ayas kadit itreng,” kata Tresno.“Khitha bhisa dikharungin, On...,” kata Surmanmenowel lengan Ali Topan. “Lhu yhang thangghungjhawab yha.”

176 “Maksud lu?” tanya Ali Topan kesal.“Lhu ajha yhang dikharungin,” kata Surman.“Mana karungnya? Bawain sepuluh trok, entar gueborongin ke tukang loak Taman Puring,” kata Ali Topan.“Inhi anhak ghimanha shiih? Oghut nghomang sheriuskok mhalah bhecandha bhae..,” g erutu Surman.Ali Topan memandangi wajah Surman yang kayakbebek. “Sur! Daripada lu ngegerutu, mendingan kitanyanyi lagu Didalam Bui Koes Bersaudara. Suasananyapas banget. Kalo lu sama Tresno jadi penyanyi top nanti,lu bisa ceritain kalo diwawancarain wartawan bahwa lupernah nyanyiin lagu itu di dalam bui beneran,” kata AliTopan.“Nghomhong shamha lhu nggha mudheng ghua,”gerutu Surman. “Orhang dibhui bhukhannya prihathinkhok mhalah ngajhak nyhanyhi. Shushunan othak lhuithu ghimanha shih. Gimhanha menurhut lhu, On.”“Bener iku. Wis kita nyanyi ae bareng-bareng timbangdicokoti lam uk. Subversib opo subversob dudu urusanawak-awak, Rek. Ayo, Pan digetno pisan ceke rame,”kata Tresno. Ia mengambil gitarnya, lau memainkan laguDidalam Bui karya Tonny Koeswoyo yang ia tulis ketikaia dan adik-adiknya yaitu Nomo, Yon, dan YokKoeswoyo dibui di masa “Orde Lama” karenamenyanyikan lagu-lagu rock and roll yang dibilangmusik ngak ngik ngok oleh penguasa.“Kon suworo ijis ayas suworo orol, Pan,” kata Tresno.“Sur, kon nek wedi menengo ae, gak usah kolem-kolem,”lanjutnya kepada Surman.“Yha ngghak bhisa beghitu dhong. Dibhuinyha sham-ha-shamha, nyhanyhinyha yha shamha-shamha. Taphikalho dhikharunghin lhu ber dhua aja yha,” kata Surmansambil memetik senar ukulelenya.

177 Dan mereka pun bernyanyilah :Waktu ku di dalam buiKu bersedih dan bernyanyiDi malam sunyi...Ibu dan ayah menantiberdoa setiap hariaku kembali...Walaupun dirikudikurung selaluTetapi aku ingat selalu Tuhanku.Kuncikan semua pintuMatikan semua lampuKamar kurungkuHatiku kan tetap tenangKarena ada sinar terangdari Tuhanku..Usai mereka nyanyikan lagu itu, tiba-tiba lampu selmereka padam. Dan terdengar teriakan si kopral, “Ayonyanyi teruus! Lagu-lagu Koes Bersaudara ya! Kalauberhenti saya karungi kalian!” Lampu sel menyala lagi.Wah! Ali Topan dkk kaget gembira.“Apa ogut bilang ? Tentar a sekarang kan lagi setressemua. Jadi perlu kita hibur..,” kata Ali Topan.“Lho kok malah berhenti ?” kata si kopral yang menda-tangi mereka sambil melemparkan sebungkus rokok DjiSam Soe lewat terali besi. ”Komandan suka lagu-laguKoes Bersaudara dan Koes Plus. Ayo nyanyi lagi!” lanjut-nya.“Makasih, Kapten !” kata Ali Topan

178 “Lho kok malah pangkat saya dinaikkan? Sontoloyokamu. Memangnya kamu komandan saya... Ayo lekasmenyanyi!” katanya dengan nada riang.Mereka pun menyanyi lagu-lagu pop Koes Bersaudaradan Koes Plus.“Psst... kita nyanyikan lagu-lagu yang romantis, yangmenyentuh supaya tentara-tentara itu makin kendor uratsyarafnya,” bisik Ali Topan.“Iyo,” sahut Tresno. “Aturen ae, Pan. Kon sing apallagu-lagune Koes Bersaudara karo Koes Plus.”Maka mereka pun menyanyikan lagu-lagu yangdipilihkan Ali Topan :Telaga SunyiLagu Untuk IbuPagi Yang Indah SekaliKisah Sedih Di Hari MingguWhy Do You Love MeKembali ke JakartaAndaikan Kau Datangdan beberapa judul lainnya...Tiap usai sutu lagu terdengar tepuk-tangan dan sorak-an gembira tentara-tentara dari kopral sampai kolonelyang menonton mereka dari lapangan kecil di antaramarkas induk dan sel tempat Ali Topan dkk dikurung.Malah tentara-tentara itupun turut bernyanyi dengansuara dikoesplus-koesplus-kan.Sekitar jam sembilan Ali Topan, Tresno dan Sur mannyanyi, lalu disuruh berhenti. Mereka diberi makan nasibungkus berlauk rendang. Usai makan mer eka disuruhtidur. Esok harinya mereka dikeluarkan dari sel oleh sikopral. “ Komandan mau omong-omong sama kalian.Awas, jangan kurang ajar ya. Nanti dimasukin sel lagi

179 kamu,” kata si kopral. Nadanya bersahabat.“Kita malah kelebihan ajaran, Pak. Ajaran yang nggakbener,” kata Ali Topan.“Ya jangan mau,” kata si kopral.Singkat cerita, Ali Topan, Tresno, dan Surman dibawake ruang Komandan Kodim di markas induk. KomandanKodim itu berpangkat kolonel, wajahnya, wajah Batakyang tampan. Ia duduk di depan meja yang dipenuhibuku-buku suratkabar dan majalah. Seperangkat mebelada di sudut ruang.“Silahkan duduk, Adik-adik... Wah, nyanyian kalianbagus sekali semalam. Saya dan anak-anak buah sayasuka sekali,” kata komandan ber pangkat kolonel infantriitu. Namanya Sinaga.“Terima kasih, Pak Naga,” kata Ali Topan.“Pak Naga? Ha ha ha.. baru kali ini ada manusiamemanggil saya Naga. Biasanya Pak Sinaga.” PakSinaga tertawa.Ia berdiri, menghampiri Ali Topan, Surman dan Tresnoyang masih berdiri. Ia mengulur kan tangannya ke anak-anak jalanan itu. “Siapa nama Adik-adik ?”“Ali Topan”“Tresno”“Surman”“Ayo duduk,” kata Pak Sinaga.Terdengar ketukan di pintu. Seorang wanita berkainkebaya masuk membawa minuman kopi di atas nampan.“Kopinya, Dan,” katanya.“Yak. Terima kasih,” sahut komandan.Pelayan wanita itu menaruh cangkir-cangkir kopi dimeja, lalu ke luar lagi.Komandan menyodorkan rokok. Ali Topan dkkmasing-masing mengambil sebatang. Komandan

180 menyalakan kor ek apinya untuk menyulut rokok mereka.“Bagaimana? Enak r asanya di bui?” tanya komandan.“Lumayan, Pak,” sahut Ali Topan. Komandan tertawa.“Mengapa. Kok kalian disel? Bikin apa kalian?” tanyakomandan. Ali Topan memandang Tresno dan Surman.Dua kawan itu diam.“Saya menulis syair Indonesia Kaya, Pak,” kata AliTopan.“Oo, begitu?” kata komandan. Ia melihat ke Ali Topan.“Katanya kalian mengubah lagu kebangsaan IndonesiaRaya? Coba, saya ingin tahu bagaimana bunyinya?”Kolonel Sinaga memandangi tiga anak jalanan itu. Iaterkesan pada kejujuran Ali Topan. Dan ketenangannya.“Coba nyanyikan, saya ingin dengar,” kata KomandanKodim.Ali Topan menyanyikan sy air lagu Indonesia Kaya.Komandan Kodim menggeleng-gelengkan kepalanya.“Wah gawat bener, syairnya. Itu berbahaya, dik,” kataKomandan Kodim, usai mendengar Ali Topan menyanyi.“Anda sendiri yang mengarang syair itu ?” lanjutnya.“Iya, Dan,” sahut Ali Topan.“Bukan orang lain?”“Bukan...”“Maksud dan tujuannya apa?”“Menurut saya, lagu Kebangsaan Indonesia Raya yangdikarang oleh WR. Supratman, ka ta-katanya memangperlu dig anti karena terlalu panjang, dan syairnya terlalubombastis,” ka ta Ali Topan.“Wuaduh! Baru kali ini saya dengar kritik terhadaplagu kebangsaan Indonesia Raya. Kalau enggakmendengar sendiri saya tidak percaya...,” kata KomandanKodim.Terdengar ketukan di pintu.

181 “Masuk!” kata Komandan Kodim.Seorang tentara berpangkat Letnan Dua masuk. Iamemberi horma t militer kepada Komandannya. “Siap!Lapor! Letnan Giran sudah datang, ingin menghadapkomandan. Dan Pak Robert Oui juga ingin menghadap.Laporan selesai! Siaap!”“Persilahkan mereka masuk,” kata Dandim.“Siap! Laksanakan!” Letnan itu menghormat lagi lalukeluar. Tak lama kemudian ia masuk lagi mengantar intelyang membawa Ali Topan dkk. Ke markas kodim tadimalam. Kini ia berpakaian militer. Namanya Giran. Dansatu orang lainnya adalah lelaki berbaret RPKAD yangbeberapa kali berjumpa Ali Topan di Blok M.Letnan Giran menghormat komandannya, kemudiania dan lelaki berbaret RPKAD berjabat tangan denganKomandan Kodim.Mereka memandang dengan pandangan netral ke AliTopan dkk.“Nah ini Letnan Giran yang tadi malam mendengaryang kalian nyanyikan. Dan yang satu lagi Pak RobertOui, beliau kawan baik saya. Sudah kenal kan?” kataKomandan Kodim.“Belum..,” kata Ali Topan, Tresno dan Surman serem-pak.“Aaah.. nggak perlulah kenalan sama saya, saya initentara.... dan tentara itu, ABRI itu, kejam... mau me-nangnya sendiri... dan suka masuk ke kampus-kampusuntuk membubarkan acara mahasiswa... ya, nggak? Ya,nggak?” kata Letnan Giran dengan gaya dan ekspresiwajahnya seperti pemain ludruk. Gaya ngeledek dirisendiri untuk menyindir orang lain. Ia, Komandan Kodimdan Robert Oui memandang i Ali Topan, Surman danTresno.

182 “Iya apa enggak?” tanya Letnan Giran lagi.“Iyhaa..,” kata Surman.“Tidaaak,” kata Tresno.“Eh, thidhaak,” kata Surman lagi tersipu-sipu.Letnan Giran, Kolonel Sinaga dan Robert Oui menahantawa. “Iya apa tidak?” tanya Letnan Gir an lagi.“Tidaak...,” kata Tresno dan Surman.“Kok kamu diam saja?” kata Letnan Giran ke AliTopan.“Saya tidak berkomentar,” kata Ali Topan.“Takut ya? Kalau di Kodim sini takut komentar? Iya?”lanjut Letnan Giran.Ali Topan diam saja. Ia, berfikir letnan intel itu cumamau memancing-mancing reaksinya saja terhadap ABRI.Sudah menjadi fenomena umum sampai tahun 1978 ini,citra ABRI lebih membela kepentingan kekuasaannegara dan bisnis dar ipada menjadi pembela rakyat.Maka berkali-kali mahasiswa protes dan turun ke jalanmenuntut perbaikan penyelenggaraan negara yang pen uhpenyimpangan. Tentara masuk ITB, UI, dan lainnyauntuk membubarkan mimbar bebas mahasiswa berulangkali terjadi. Intel berkeliaran di mana-mana dan telahmenjadi semacam hantu yang menakutkan rakyat.Banyak aktivis mahasiswa, seniman dan tokoh-tokohpublik yang menyuarakan perbaikan negara ditangkapidan dijebloskan ke dalam penjara. Sungguh sangatmenyedihkan..Ali Topan terdiam merenungi kenyataan buruk yang iabaca melalui suratkabar dan majalah sejak kelas satuSMA, di kios Munir di Blok M. Kesan Ali Topanterhimbas oleh sosok dan citra buruk ABRI itu.Kini ia dan dua orang pengamen jalanan merasailangsung kesan tersebut, walau tidak persis sama.

183 Penuturan sinis Letnan Giran tentang tentaramembuktikan bahwa kalanga n ABRI sendiri mengetahuisosok dan citra mereka di negeri ini.Ali Topan pribadi selama ini tak punya pengalamanberurusan dengan ABRI, kecuali ketika ia dibawa kekantor polisi karena pengaduan orangtua Anna Kareninatempo hari. Sikap polisi menurut dia seperti manusialainnya, ada yang baik, ada yang bur urk.“Adik-adik, Saudara-saudara sekalian. Kata orang-orang bijak, kita ambil hikmah dari peristiwa ini.Terutama bagi adik-adik yang masih muda-muda, masihremaja. Jangan bersikap atau bertindak atau melakukansesuatu apapun tanpa difikir terlebih dahulu,” kata sangKomandan Kodim.“Bikin syair ya bikin syair.Itu bagus. Orang yang bisabikin syair itu termasuk orang-orang pinter lho! Tapi yabikinlah syair yang membangkitkan semangatpembangunan, membangun bangsa dan negara.Janganlah bikin syair seperti tadi itu. Apa judulnya?Indonesia Kaya? Judulnya bagus.Tapi itu tidak baik.Apalagi idenya untuk mengubah lagu KebangsaanIndonesia Raya. Itu akan membuat banyak orang marah,karena lagu kebangsaan Indonesia Raya itu sudahmerupakan sesuatu yang suci, yang tidak bolehdiganggu-gugat, seperti halnya Bendera Merah Putih,Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kalau itudiubah atau diganti, yang mengubahnya pasti akanberhadapan dengan ABRI, Pemerintah dan segenapkekuatan bangsa Indonesia, Faham maksud saya?”lanjutnya.“Iyha, Phaak,” sahut Surman segera.Tresno mengangguk.Ali Topan meminum kopinya, lalu menyulut sebatang

184 rokok. Ia tak ber komentar. Baginya, kata-kata yang ber-bau indoktrinasi sudah sering ia baca di surat-surat kabardan majalah-majalah. Dan ia lihat serta dengar di televisi.“Saya percaya, Adik-adik, terutama si pembuat syairtak bermaksud apa-apa. Karena iseng-iseng saja. Ataumungkin supaya dibilang gagah oleh teman-temannya.Orang yang protes-protes dan berani mengkritik pe-merintah itu sekarang kan dianggap gagah oleh kalang-annya? Seper ti mahasiswa-mahasiswa dan tokoh-tokohvokal itu.”“Saya kira tak usah melebar ke mahasiswa atau vokalisitu, Pak Kolonel,” Ali Topan memotong “ceramah”Kolonel Sinaga.“Lho, saya hanya memberi contoh. Kalau Anda tidakseperti mereka, itu bagus. Kita semua tahu, dan menya-dari, bahwa pembangunan yang dilaksanakan olehpemerintah itu tidak memuaskan semua pihak. Tapi itulahperjuangan. Ada proses...,” kata komandan Kodim.“Setuju ?” lanjutnya.“Shethujhuuu !,” kata Surman.Tresno mengangguk lagi.Ali Topan memandangi wajah si Komandan Kodim,Letnan Giran dan Robert Oui. Mereka pun memandangidia. Dan Ali Topan tidak tunduk pada pandangan mereka.Ada sesuatu yang terasa tidak pas dalam batinnya, tapi iatidak mengungkapkannya. Ia hanya ingin segera keluardari Markas Kodim itu.“Saya rasa cukup, Letnan.”“Siap, komandan!” sahut Letnan Giran.“Tolong Anda antarkan lagi mereka ke rumah masing-masing.”“Siap! Laksanakan!”“Saya tak usah diantar kan, komandan,” kata Ali Topan.

185 “Lho, mengapa?” tanya Kolonel Sinaga.“Tak apa-apa...,” kata Ali Topan.“Yang lainnya bagaimana?”Surman dan Tresno tidak segera menjawab.“Ayolah, biar diantar oleh Letnan Giran ini,” katakomandan Kodim.“Oyi, Pan,” kata Tresno.“Iyha, Phan,” Surman membeo.Ali Topan berdiri, mengulurkan tangannya ke Koman-dan Kodim, Letnan Giran dan Robert Oui. Tiga orang itumenjabat tangannya.“Permisi,” kata Ali Topan. Ia berjalan membawa ranselUS Marine yang berisi celana dalam, kaos oblong, sikatgigi, dompet berisi KTP dan beberapa ribu uang honordari harian Ibu Kota, serta buku catatan dan bolpen.“Itu anak memang istimewa,” kata Robert Oui.“Saya rasa begitu. Terasa punya pendirian anak muda.Dia berwibawa,” kata Komandan Kodim.***

186EMPAT BELASBeberapa hari kemudian, Ali Topan membawaartikel tentang peristiwa yang ia alami di markasKodim itu ke kantor Harian Ibu Kota, dan membe-rikannya langsung ke GM. Artikel itu disertai foto LetnanGiran hasil potretan Harry. Tapi artikel itu ditolak olehGM.“Jangan cari penyakit, Pan! Bisa dibredel suratkabarini kalau memuat tulisan itu!” kata GM. ”Dan kalauredaktur yang lainnya tahu artikel ini, mereka akanmemboikot semua tulisanmu. Sedangkan kamu baru maubelajar jadi wartawan,” lanjutnya.“Jadi... apa ar ti slogan yang dicetak di bawah judulharian ini, Pak?” tanya Ali Topan.“Yang mana? Saya lupa...”“Membangun Bangsa dan Negara Seutuhnya...”“Ooh itu? Kamu masih terlalu muda untuk mengetahuiartinya...” Kata GM. ”Sudahlah, saya mengerti kamukecewa. Kamu teruskanlah menulis serial rakyat jalananitu.”Ali Topan terdiam. Nggak di rumah ayahnya, nggak diluar rumah itu, selalu saja ada persoalan-persoalan yangmembikin kecewa dia punya nurani.Semangat menulisnya tiba-tiba kendor.Harry berusaha menghibur dia, dan mencoba mem-bangkitkan semangatnya untuk melanjutkan wawancaradengan rakyat jalanan, setelah dua senja Ali Topanberdiam diri saja di belakang kios Oji.”Fotoku dulu berkali-kali ditolak, tapi aku nggak putus

187 asa. Aku pernah dapat momen bagus, seorang oknummemukuli seorang tukang parkir di Pasar Senen, karenaban serep mobilnya hilang di tempat parkir. Foto ituditolak oleh GM karena bisa dianggap menjelek-jelekkanABRI. Seminggu kemudian aku memotret seorang letnankolonel berpakaian seragam menolong seorang gembelyang ditabrak-lari di jalan Melawai Raya. Perwira ituturun dari mobilnya, mengangkat gembel yangberlumuran darah dan membawanya ke rumah sakit. Fotoitu dimuat oleh GM dan dibayar dua kali lipat daribiasanya, Daeng Ali,” kata Harry.Ali Topan tersentak mendengar panggilan “Daeng Ali”itu. Spirit Bugis tiba-tiba mengaliri dirinya. Kilasanperistiwa di Tanjung Priok yang membuat dirinyamenyandang nama Daeng Ali terbayang. Ketulusan rasapersaudaraan warga di sana terkenang . Indah sekali. Dania pun teringat pesan Munir, penjual majalah dansuratkabar: Jangan cengeng, jangan gentar dan janganmelanggar hukum.Senja panas. Udara kering.Oji muncul dari pintu bersama seorang tukang kayu.“Pan! Ini kawan gue Asdi, tukang kayu. Gue suruh diebikinin rumah bedeng buat lu sama Harry. Biar legaandikit lu,” kata Oji. “Mulai besok die kerja ame keneknye.Gue minta dua ari kelar. Jadi selama dua ari ini lu pindahinharta-benda lu berdua ke dalem. Gue udah sediain kotakkardus dua biji,” lanjutnya.“Iye, terima kasih,” kata Ali Topan“Terima kasih, Ji.” ““Iye gue terima.. he he he he he,” kata Oji sambilterkekeh-kekeh. Lugu sekali. Omongannya tak pakaibasa-basi. Langsung. Apa yang ada dalam hati, itu yangdiucapkannya.

188 “Baru sebentar berjalan bersama kamu, aku mengalamibanyak kejutan, Daeng Ali,” kata Harry.“Hidup adalah rangkaian-rangkaian peristiwa yang takterduga. Duka derita, pilu dan kuciwa ada di sepanjangperjalanan manusia. Tapi cinta... ya, cinta... yangindahnya terungkapkan melalui mekarnya bunga-bungapada semua pagi yang penuh warna mampu mengha pussemua duka dan menyembuhkan semua luka. Dan doayang diterima menyempurnakan kita sebagaimanusia...,” kata Ali Topan. Harry bengong, terheran-heran.“Dari mana kam u dapetin kata-kata kelas tinggi itu,Daeng,” kata Harry.“Dari sobekan majalah pembungkus ikan asin kesuka-anku yang dibeli Mbok Yem dari tukang sayur keliling dirumah orangtuaku dulu,” kata Ali Topan. “Itu potongansajak seorang penyair yang dia tulis buat seorang hostesdalam cerita pendek y ang nama pengarangnya aku nggaktau karena tersobek,” lanjutnya.Senja panas. Udara kering seperti ikan asin.***

189LIMA BELASKios Munir tak begitu ramai. Dua orang ibu rumahtangga membuka-buka majalah hiburan, ketikaAli Topan datang. Ia sendirian. Harry sedangpulang ke Yogya menengok orangtuanya.“Selamat pagi, Mister Munir. Banyak ber kah hari ini?”sapa Ali Topan. Munir tersenyum lebar.“Kemana aja? Baru nongol, Pan?” kata Munir.Salah satu ibu rumah tangga yang dandanannya menormenengok ke arah Ali Topan. Ali Topan melihat ke wa-jahnya. Keduanya sama-sama kaget. Ekspresi wajah ibutadi berubah tak sedap. Ia tak pernah lupa pada anakmuda yang sempat bikin story yang gawat dengananaknya, Anna Karenina.“Selamat pagi, Tante Surya,” tegur Ali Topan yangcepat dapat menguasai keadaan. Tegurannya yang cukupsopan itu tak dijawab oleh Nyonya Surya.”Wie is hij, mevrouw,” tanya temannya dalam bahasaBelanda, dengan kening berkerut. Pandangannya seakan-akan menjilati jeans Ali Topan yang suwir-suwir danpenuh debu.“Hij is een idiote,” sahut Ny. Surya, “kom, we zullengaan,” katanya lagi. Tanpa permisi pada Munir, Ny.Surya dan temannya menaruh majalah itu sembarangan,kemudian mereka pergi dengan langkah cepat.Munir bengong melihat mereka pergi begitu saja.“Siapa dia, Pan? Apa lu kenal?” tanya Munir sambilmengatur majalahnya kembali.“Yang itu tadi Tante Surya namanya. Anaknya dulu

190 pernah macarin gue,” kata Ali Topan sembari nyengir.“Kok kelihatannya sewot banget?”“Nggak tau. ‘Kali di rumahnya tadi minum pil sewot.”Munir ketawa mendengar jawaban jenaka itu.“Ada majalah apa yang baru, Nir?”“Oh, Intisari tuh! Gue baca Wee Gee jadi ingat kau,Pan. Baca deh. Barangkali kau bisa ngetop kayak dia,”kata Munir. Dia mengambilkan Intisari untuk Ali Topan.“Wee Gee?” gumam Topan, “belum pernah dengargue.”“Baca aja dulu. Dia kayak lu juga, anak jalanan. Tapijalanan di New York,” kata Munir.Ali Topan menaruh pantat di anak tangga, lantas asyikmembaca tentang Wee Gee , seorang gelandangan yangkemudian menjadi tukang potret khusus peristiwa keja-hatan dan jadi jutawan serta terkenal di seluruh duniakarena prof esinya itu. Ia menyebut dirinya sendiri sebagaijuru potret Murder Inc yang artinya “perusahaan pembu-nuhan.”Begitu asyik Ali Topan membaca kisah yang menarikhatinya itu, sehingga ia tak menyadari ada dua oranglelaki mengawasinya dari sebuah Toyota Corolla yangdiparkir di depan toko sepatu Bata. Satu orang duduk dibelakang setir, agak tua, berkumis lebat. Yang seoranglagi duduk di sebelahnya, pakai kacamata polaroid.Munir tau Ali Topan diawasi oleh kedua orang itu, tapiia tak berkehendak mengusik keasyikan Ali Topan.Munir melihat orang berkacamata turun dari mobil,kemudian berjalan lurus ke arah Ali Topan.“Ssst! Pan, ada oknum nyariin lu,” bisik Munir. AliTopan menghentikan bacaannya. Ia melirik Munir yangmemberi kode ke arah si pendatang. Ali Topan langsungmenatap sosok yang menghampirinya. Ia mengenali

191 orang itu sebagai pembeli bunga di pondok Ojitempohari, yang mengaku sebagai penyanyi pop yangbaru datang dari luar negeri.“Helo, Jack,” tegur sosok itu, “masih ingat saya?”“Karyadi?” desis Ali Topan, “penyanyi pop yang kata-nya beken di Jerman?” sambungnya menirukan nadaKaryadi yang rada sok tempohari.Karyadi tertegun oleh teguran sinis Ali Topan. Iatampak likat, salah tingkah. Senyum “artis” berusaha iakembangkan, namun senyuman itu gagal menutupiwajah dan sikapnya yang tampak sangat tegang. Iamembuka kacamatanya. Matanya merah seperti orangkurang tidur. Sinarnya muram.“Hi jack! Maaf saya mengganggu ya… Ng… saya lagibingung sekali….,” katanya. Gaya sok-nya tak ada lagi.Ia benar-benar tampak kebingungan. Sebentar-sebentarkepalanya menengok sekitarnya, mengawasi orang-orang lain, seperti mencari seseorang.Ali Topan berpikir sejenak. Karyadi merupakan oranganeh baginya. Pada pertemuan pertama, sesungguhnyaAli Topan rada mpet dengan lagak lagunya yang sengak.Kini, orang ini datang dengan wajah bingung dan sinarmata kuyu seperti orang yang sedang ditimpa kesusahan.Ali Topan memutuskan untuk mengetahui lebih jauhtentang orang “aneh” ini. Ia menutup Intisari yang belumselesai dibacanya, kemudian menaruh majalah itu di tum-pukannya semula.“Nir, nanti gue baca lagi. Gue mau ada urusan bentarnih,” katanya.“Kalo mau bawa, bawa aja, Pan,” kata Munir. Ia mem-berikan Intisari itu kepada Ali Topan kembali.“Terima kasih, Nir,” kata Ali Topan. Ia berdiri, berha-dapan dengan Karyadi yang agak heran melihat

192 keakraban anak muda itu dengan penjual majalah.“Ada apa, jack?” kata Ali Topan sambil menyentuhlengan Karyadi.“Aduh, sa ya betul-betul ingin minta tolong. Ada yanghendak saya bicarakan. Kita bicara di restoran situ, yuk,”kata Karyadi sambil menunjuk restoran Padang Jaya ditingkat atas.Keduanya menaiki tangga, masuk ke restoran. Merekamengambil tempat di meja sudut ruang. Karyadi meng-awasi orang-orang di dalam restoran sejenak. Pelayanmenghampirinya.“Makan apa, jack?” kata Karyadi.Ali Topan yang masih belum bisa menerka maksuddan tujuan Karyadi, menggoyangkan tangannya. “Sayasudah makan,” katanya.“Jangan kuatir, saya yang ba yar,” Karyadi ngotot.“Ada apa sih, kok Anda kelihatan bingung sekali,” kataAli Topan. Ia langsung memblaaf Karyadi. Menghadapiorang yang dianggapnya aneh itu, Ali Topan tak mauterlalu lama bersikap pasif. Ia langsung menembak de-ngan kata-kata, agar persoalannya menjadi jelas. Taktik-nya tepat. Karyadi tampak makin bingung. Berulang-ulang ia mengusap keringat di dahinya dengan sapu-tangan.“Pesan apa, Oom?” kata pelayan.“Minum, minum saja,” sahutnya, kemudian ia men-dekatkan wajahnya ke Ali Topan, “minum apa, minumapa?” katanya.“Lemon tea… ng… teh manis dikasih jeruk nipis,”kata Ali Topan.“Saya juga lemon tea.”Pelayan mencatat pesanan itu, kemudian diberikan ketemannya di dapur.

193 Karyadi memasang rokok kretek pada pipa gading. AliTopan menyalakan a pi untuknya.“Thanks, jack. Ng… kita minum dulu, baru ngomongya. Ng… biar saya agak tenang sedikit…”Ali Topan yang mulai bosan menghadapi tingkahKaryadi yang kagak puguh juntrungannya itu, membukaIntisari, kemudian membaca kisah Wee Gee yangtertunda tadi dengan gaya tak memandang sebelah matapada Karyadi.“He, jack…jack! Baca apa?”Ali Topan menurunkan bacaannya karena Karyadimenowel-nowel lengannya.“Minum dulu, biar pikiran situ nggak kacau, baru bicarananti,” tembak Ali Topan.Pelayan datang menaruh dua gelas teh jeruk di meja.Karyadi menaruh segelas di de pan Ali Topan.“Ya, ya…kita minum dulu ya?”Ia minum sedikit, dilihat oleh Ali Topan denganpandangan lucu. Ini orang sarap, demikian pikiran AliTopan.“Nah, begini. Mm… oh, ya, sa ya musti panggil apa ya?Bung, Dik atau apa?”“Panggil saja Ali Topan,” sahut si anak muda.“Mm… tapi saya sudah lapor polisi… mm Markus …anak saya hilang…”Ali Topan mengerutkan keningnya.“Kamu bisa menolong carikan anak sa ya ? Tolong, sayaminta tolong?”Ali Topan menghirup minumannya sementara Karyadiberkisah lebih lanjut tentang anaknya yang hilang.“Kemarin sore, saya dan istri saya pergi ke rumahseorang famili di Jalan Radio Dalam. Markus di rumahbersama tiga orang pembantu. Ketika kami pulang sekitar

194 jam sebelas malam, mereka melapor bahwa Markus tidakada. Satu sama lain tidak ada yang tahu ke mana dia.Sampai hari ini, Markus belum ketemu. Saya dan istrisangat cemas memikirkannya,” kata Karyadi.Ia kemudian memandang Ali Topan seolah-olah AliTopan itu kawanan orang yang suka menculik anak kecil.Ali Topan menangkap pandangan mata yang tak enakitu, tapi dia diamkan saja. Pikirannya sedang penuhdengan khayalan dahsyat. Ia berpikir tentangkemungkinan menjadi semacam Wee Gee. Penculikananak kiranya bisa jadi headline di Ibu Kota, demikianpikirnya.“Kira-kira kamu tahu sindikat yang suka menculikanak kecil disini?” tanya Karyadi.Sungguh menyebalkan! Pandangan matanya, mimik-nya dan ucapannya, secara keseluruhan seperti ditujukanoleh seorang hakim kepada seorang terdakwa saja.Kini barulah Ali Topan menerka, motif Karyadimengajaknya bicar a, secara tidak langsung ia mengiradirinya termasuk kawanan orang yang suka menculikanak kecil. Karyadi memang berpikir begitu ketika me-lihat Ali Topan duduk membaca majalah di anak tangga.Paling tidak, ia punya dugaan bahwa Ali Topan itukrosboi yang tahu sedikit banyak soal-soal begituan.“Kamu ini mau jual obat, mau minta tolong atau maucari setori sama saya? Kita baru ketemu sekali. Kamubelum tau siapa saya dan saya nggak ada urusan samakamu. Jangan cari gara-gara deh,” kata Ali Topan dengandingin. “Anak kamu kek, atau bapak kamu yang ilang,masa bodo! Saya nggak senang sama cara kamu nanyasaya!” Ali Topan berkata keras.Karyadi tertegun mendengar ucapan tandas tanpatedeng aling-aling itu. Ia tak menyangka Ali Topan ber-

195 kata sekeras itu. Dengan wajah menyesal ia berusahamenetralkan keadaan. Tampangnya tak lagi sepa. “Maaf.Saya menyesal telah membuat Anda marah. Saya benar-benar bermaksud minta tolong,” ucap Karyadi terbata-bata.Ali Topan menyulut sebatang rokok dan memutuskanuntuk menahan emosinya. Sejak pertemuan pertama iamerasa tidak simpati pada pelagak ini. Tapi ada rasa pe-nasaran lain yang mendorongnya agar tetap bersabar.Urusan anak hilang itu berita, dan berarti duit, itu sajapikirannya.Sejak mula ia merasa ada sesuatu yang aneh di dalamdiri Karyadi itu. Kini, ia bermaksud mengikuti keanehantersebut dengan jalan membiarkan dirinya tetap duduk didepan lelaki itu.Keduanya duduk diam. Karyadi tak berani lagi meman-carkan pandangan “menghina” kepada Ali Topan.“Saya orang baru di sini. Baru datang dua bulan disini,bertahun-tahun di Eropa. Jadi maaf kalau kelakuan atausikap saya kurang begitu enak. Istri saya orang Jerman,namanya Angela. Sejak tadi malam menangis terus dirumah. Saya sudah ke polisi, pembantu rumah saya tigaorang sudah ditahan di sana, tapi anak saya belumketemu. Dari kantor polisi tadi, saya muter-muter kotadengan panik. Saya capek, saya ke Blok M sini dengantukang taksi di bawah itu. Kemudian saya lihat kamu.Saya ingat pertemuan kita di tukang kembang tempohari.Saya coba-coba minta tolong,” kata Karyadi, sepertibicara pada teman lamanya saja.“Jadi benar-benar anak kamu hilang? Anak yang duluikut ke tukang kembang itu?” tanya Ali Topan, kalem.“Iya, benar! Markus itu, anak sa ya satu-satunya!”“Jadi sudah lapor polisi? Lalu tiga pembantu rumah

196 kamu ditahan di kantor polisi? Apa menurut kamumereka yang jadi penjaha tnya? Siapa sih nama mereka?”“Polisi menahan mereka untuk minta keterangan saja.Pembantu rumah saya itu namanya Isah dan Mimah.Idris, suaminya Isah, mer eka yang sebetulnya menjagaMarkus jika saya dan istri pergi.”“Kau di sini tinggal di r umah siapa? Kok sudah bisapercaya sama pembantu rumah?”Karyadi diam sejenak, memandang anak muda kita.Sejak mula jumpa, ada sesuatu daya tarik yang mengesan-kannya. Ia yang banyak melihat hippies di Eropa tidakheran dengan gaya pakaian anak muda yangserampangan ini. Sesuatu yang menarik itu datang dariroman muka dan pancaran matanya yang cerdik danmantap, mengesankan wibawa. Istrinya sendiri,perempuan Jerman itu, sempat memberi komentarkhusus ketika melihat si anak muda pertama kali di tukangkembang. Matanya tajam ya, demikian komentar Angelayang dikatakan padanya tempo hari.“Bagaimana kalau kamu ikut saja ke rumah saya. Disana kita bisa lebih banyak bicara,” kata Karyadi.“Di mana rumah kamu?”“Di Jalan Tumaritis Tiga Nomor 28, Cilandak. Dekatkompleks Subud.”“Saya masih ada perlu lain. Nanti siang saja saya kesana.”“Jam berapa?”Ali Topan melihat jam dinding rumah makan. Pukul10.47.“Jam dua belas lewat lima saya datang,” kata Topan.“Kamu betul datang?”“Kebiasaan saya menetapi janji, kecuali jika Tuhanmengatur lain,” sahut Ali Topan dengan dingin.

197 “Saya tunggu,” kata Karyadi. Ia berdiri hendak mer o-goh uang untuk membayar minuman. Ali Topan cepatmenaruh Rp 100 di meja.“Saya bayar sendiri,” kata Ali Topan, lantasmendahului keluar restoran. Ia turun ke tempat Munir.Tak lama kemudian Karyadi lewat di depannya, terusberjalan menuju mobil.Ali Topan sempat mencatat nomor polisi taksi gelap ituketika mereka meninggalkan pelataran parkir.“Itu Karyadi ‘kan, Pan. Dimana lu kenal dia?” tanyaMunir setelah mereka lenyap dari pandangan. Ali Topanmemandang heran ke arah Munir.“Kok tau lu kalo dia Karyadi?”“Beberapa majalah muat berita dia.”“Ah, y ang bener? Coba gue lihat majalahnya.”Munir mengambilkan beberapa majalah hiburan daritumpukan majalah terbitan minggu lalu yang sudahlewat. Dia memberikan dua buah kepada Ali Topan.“Mula-mula gue nggak ngenalin, tapi begitu dia lewattadi, gue yakin dia Karyadi. Sejak jadi wartawan pungutdi harian Ibu Kota, malas baca majalah ya, Pan.”Ali Topan tak menjawab. Ia sibuk membalik-balik ma-jalah itu. Benar kata Munir, ada berita tentang Karyadi disitu, lengkap dengan foto-fotonya. Tiba-tiba ia makintertarik untuk mempelajari orang itu.“Gue sendiri baru tahu kalo dia orang populer, Nir.Sungguh mati. Gue pikir dia orang sarap yang kagakpuguh juntrungannye aje,” kata Ali Topan sambilmenutup majalah-majalah itu, “gue pinjem seharimajalah lu, Nir. Gue ada bisnis sama dia.”“Bisnis apaan? Mau ikut rekaman sama dia lu?”“Pokoknya lu denger kabar aje deh dari gue. Eh, Nir,kalo si Harry kesini nyari gue, lu tulung pesenin gue

198 tunggu di tempat biasa, ye. Makasih, Nir. Gue mau buru-buru nih,” kata Ali Topan sambil bergegas pergi.“Tempat biasa di mana, Pan. Blok P?” ter iak seoranganak muda beraksen Medan yang berjualan mainan anak-anak di depan kios Munir.Ali Topan mengepalkan tinju ke arahnya sambilmenyeringai. Ia berjalan cepat ke dalam pasar.Dari sebuah telepon umum disamping markas keaman-an Pasar Melawai, Ali Topan menghubungi redaksi IbuKota. Beruntung ia, sekali call bisa langsung menyam-bung. Sekretaris Redaksi menerimanya.“Halo Ibu Kota, Ali Topan disini.”“Halo Ali Topan. Apa kabar?”“Hey, Mbak. Pak Redpel ada? Saya dapat berita bagusnih buat halaman satu. Masih bisa masuk apa nggak?Tolong sambungkan ke Redpel deh.”“Sebentar, Topan.”Sekretaris Redaksi menyambungkan dengan RedakturPelaksana yang sedang mengedit naskah berita di ruangkerjanya.“Halo, G.M. disini.”“Selamat pagi, Pak. Ali Topan disini. Saya da pat beritabagus. Apa bisa dimuat di halaman satu besok?”“Soal apa? Faktanya bagaimana?”“Penculikan anak, pak. Markus anak Karyadi hilangkemarin. Sudah lapor polisi. Tiga pembantu rumah tang-ga ditahan di kantor polisi. Bagaimana pak?”“Apa kau sudah cek kebenaran sumber berita?”“Sudah. Sumber berita langsung Karyadi, ayah sikorban.”“Karyadi? Karyadi siapa?”“Itu, Pak. Penyanyi pop yang baru datang dari luarnegeri. Baru dua bulan di sini, anaknya ilang diculik

199 orang .”“Kantor polisi mana yang menangani perkara ini?”“Jaksel, Pak.”“Foto si korban dan orangtuanya kau dapat?”“Belum, tapi bisa saya dapatkan, Pak. Saya janji denganayah korban bertemu di rumahnya jam dua belas nanti,Pak.”“Kau garap deh! Soal penahanan tiga pembantunya dikantor polisi biar aku yang cek dari sini. Jika kau bisaserahkan naskah dan foto tidak lewat jam dua..”“Terima kasih, Pak!”Ali Topan memutuskan hubungan. Ia harus bergerakcepat. Semangatnya terangsang untuk memperoleh beritakesukaan pembaca Ibu Kota. Penculikan anak, bayang-kan! Sambil berjalan cepat ke sebuah toko buku untukmembeli bolpen dan notes kecil, pikirannya dibakarkhayalan menjadi seorang Wee Gee lokal.Dari toko buku ia bergegas ke terminal bis kota. Iaingin datang tepat pada waktu perjanjian.Gang Tumaritis setiap hari dilaluinya jika naik bis keRSF untuk menengok ibunya. Jaraknya sekitar setengahkilometer sebelum RSF.Ia naik bis Gamadi dan duduk tenang di kursi palingbelakang, persis dekat pintu. Ia melanjutkan membacakisah Wee Gee yang tertunda.Seekor herder sebesar anak sapi tiduran dengan malasdi teras rumah Karyadi. Pintu halaman berjeruji besidigembok dari dalam. Ali Topan berdiri di depan pintu,mencari-cari bel. Tak ada bel. Pintu r umah pun tertutup.Suasana sepi.Ali Topan yakin bahwa waktu perjanjian belum lagisampai. Tentu Karyadi belum datang, dan di rumah cumaada herder y ang malas itu, pikir Ali Topan.

200 Ia tidak tahu, sepasang mata coklat milik NyonyaKaryadi mengintip dari celah gordyn kaca rumahnya.Ali Topan memukul-mukul besi dengan sebuah batu.Tetap tak ada jawaban. Agak kesal, ia duduk di buk depanpintu, mengamati rumah dan sekitarnya.Rumah itu berukuran sedang, bentuknya seperti villadi Puncak. Halamannya ditumbuhi rumput rapi dantanaman hias yang sangat terpelihara, menandakansentuhan tukang kebun yang telaten.Tumaritis Tiga adalah gang buntu. Ali Topanmenghitung hanya ada dua belas rumah di gang itu.Masing-masing tertutup pagar besi. Rumah Karyadinomer dua dari ujung gang yang buntu. Ujung gang turundan membelok ke kanan bentuknya. Rumah terakhir dibalik tikungan, tak ter lihat dar i jalan. Ali Topan cumamelihat pintu pagar halamannya saja.Iseng-iseng, Ali Topan menyiuli anjing herder. Sianjing tidak bereaksi.“He, anjing bego! Ke mane boss lu? Suruh bukain pintugih!” serunya. Si anjing itu menengok pun tidak.Sekali lagi Ali Topan memukul-mukul pintu besi.Matanya yang tajam menangkap g erakan gor dyn yangtersingkap. Ali Topan bermaksud iseng, mencari sebutirkerikil untuk menimpuk herder bego di teras. Ia berharapanjing itu menggonggong dan si pengintip membukakanpintu. Dia timpuk pas kepala si anjing. Her der itu cumamenggeleng sesaat, lantas diam lagi seperti orang teler.Ia bermaksud menimpuk lagi, ketika instingnyamemberikan kisikan. Ali Topan secara reflek melihat kearah belakang. Sempat dilihatnya beber apa biji kepala dirumah sebelah. Ali Topan merasa yakin merekamemperhatikan gerak-geriknya.Mereka pikir gue tukang culiknya ‘kali, pikir Ali

201 Topan. Setengah kesal, dia timpuk sebuah kepala yangmenyembul dari balik pagar sebuah rumah.“Aduh!” teriak orang itu. Rupanya timpukan Ali Topanpas kena kepalanya. Ali Topan menunggu tukang ngintipitu keluar dari rumahnya. Sia-sia. Agaknya ia takut keluar.Sebuah mobil masuk gang. Ali Topan mengenaliCorolla yang dinaiki Karyadi.Mobil berhenti, Karyadi turun.“Tepat pada waktunya,” kata Karyadi, “saya barudatang, karena mampir dulu di kantor polisi. Ayo masuk.”Pintu rumah terbuka. Istri Karyadi muncul denganwajah kuyu. Ia membawa kunci pembuka gembok pintu.Perempuan bule itu tampak patah semangat, memandangAli Topan sekilas.“Thanks, Angie,” kata Karyadi. Ia mencium keningistrinya. “Masih ingat dia, Angie?” tanya Karyadi.Angela memandang Ali Topan kemudian menganggukperlahan. Matanya masih muram.Ali Topan menyalami nyonya rumah dengan jabattangan simpati. Ia melihat lingkaran hitam di mata ibuyang kehilangan anak itu.Karyadi memeluk istrinya, membimbingnya masuk,diikuti Ali Topan.“Silakan duduk dulu. Saya ke dalam sebentar,” kataKaryadi. Ia masuk ke sebuah kamar bersama istrinya.Ali Topan menanti dengan sikap setenang mungkin. Iasedang mencari akal untuk memperoleh potret keluargaini. Data berasal dari pembicaraan dengan Karyadi tadipagi, sudah dicatatnya di dalam buku kecil. Ali Topanbermaksud menurunkan berita penculikan ini secaradiam-diam. Ia tahu, Karyadi sedikitpun tak mengira iamenjadi pembantu reporter Ibu Kota. Yang ia tak tahu,alasan apa yang mendorong Karyadi minta tolong

202 padanya.Sepuluh menit kemudian, Karyadi muncul tanpaistrinya. “Istri saya minta maaf, dia tidak bisa menemanikita. Dia menyampaikan terima kasih atas kesediaankamu menolong kami,” katanya.Ia duduk di samping Ali Topan. Pandangannya setiapsaat tertuju ke kamarnya. Terdengar isak tangis darikamar itu.“Saya nggak lama,” kata Ali Topan.Karyadi tersentak. “Ng… gimana ya, saya inginbanyak bicara, tapi…”“Lain kali saja. Saya mengerti. Toh say a sudah taurumah ini. Kamu hibur istri kamu saja. Saya berusahamembantu…”“Oh, terima kasih!”“Saya berusaha membantu dengan cara saya. Setuju?”tanya Ali Topan.“Terimakasih! Moga-moga kamu bisa menemukanMarkus secepat mungkin. Saya percaya kamu punya carasendiri yang berbeda dengan polisi. Saya kenal anak-anak semacam kamu di Eropa dulu. Kalian kenal setiapsudut kota…”Ali Topan mengusap pipinya, kebiasaan khasnya jikasenang hati oleh pujian.“Boleh pinjam foto Markus? Dan… tolong kasih tauciri-ciri khasnya kalo ada,” kata Ali Topan.“Sebentar, saya ambilkan.”Karyadi masuk ke sebuah kamar lain, kemudian keluarmembawa album foto. Ia mengambil dua buah fotoberwarna. Satu foto Markus dalam ukuran kabinet, yanglainnya foto Markus, Angie dan dia sendiri. Foto-foto itudiberikan pada Ali Topan.Ali Topan mengamati foto-foto itu. Markus berambut

203 pirang, bermata biru muda, wajahnya agak lonjongseperti kebanyakan anak orang bule. Sama sekali tak adaciri Indonesia di wajahnya.“Ciri yang khas lainnya apa ya?” tanya Ali Topan.“Tingginya satu meter persis. Dia suka lalap pete!”“Mm…apa Markus bisa omong Indonesia?”“Bisa.”Ali Topan mengawasi wajah Karyadi dengan seksama.“Mm…kira-kira siapa yang paling mungkin menculikMarkus? Maksud saya, apa kamu merasa punya musuhdisini?”Karyadi menggeleng.“Nggak ada! Saya nggak punya musuh! Beberapafamili memang agak tegang dengan keluarga kami. Ituurusan masa lalu, urusan keluarga. Mereka tak suka sayakawin sama Angela. Ibu dan ayah saya ikut dimusuhioleh oom-oom dan beberapa tante yang tinggal disini.”“Orangtua kamu tinggal dimana?”“Di negeri Belanda.”“Warganegara sana?”Karyadi menggeleng.“Ayah saya bekas Atase Kesenian di Kedutaan Besarkita di Belanda. Sejak pensiun tahun tujuh puluh, ayahdan ibu saya menetap di Belanda.”“Kok nggak pulang ke Indonesia?”“Nggak. Mereka lebih suka tinggal di sana. Soalpolitik…”“Oh ya?”Karyadi menekap mulutnya. Ia merasa terlalu nyeplosbicara. Ali Topan masih menunggu, tapi Karyadi diamsaja.“Saya rasa cukup. Terima kasih atas keterangannya.”“Saya yang harus bilang terima kasih.”

204 Ali Topan berdiri. Karyadi menyalaminya.“Saya tunggu kabar, jack…”Ali Topan memberi kode “beres” dengan tangannya,kemudian keluar ruang dengan langkah mantap. Di luarhalaman ia melihat sopir taksi sewaan sedang mengkutik-kutik mesin mobil. Ia ingin melihat wajah si sopir, namunterhalang oleh kap mobil. Lagipula sopir itu menunduk,sedang membetulkan sesuatu.Ali Topan bergegas ke jalan raya. Ia harus segera kekantor Ibu Kota, untuk mengejar batas waktu yangdiberikan G.M.Jalan Gajah Mada ditempuh dengan dua kali naik bis.Ia sudah berpikir untuk naik taksi, tapi maksud tersebutdiurungkannya. Sayang uang, pikirnya.***Jam 13.40 ia sampai di kantor Ibu Kota. SekretarisRedaksi memberikan pesan dari Redaktur Pelaksana,berisi hasil checking tiga pembantu rumah Karyadi yangditahan di kepolisian. G.M. menulis pesan singkat:Topan! Tentang pembantu rumah tangga, eksposesecukupnya. Jangan lupa hanya inisial mereka yangdituliskan. Saya ada meeting di Press Club. Jika selesai,naskahnya kasih ke Sekretaris Redaksi. Kamu ikuti terusperkembangan. Kasusnya menarik! Tapi hati-hati,Topan! Besok pagi jam 8.00 hubungi saya!G.M.Duapuluh lima menit Topan mengerjakan beritapenculikan itu. Beberapa wartawan sinis melihatkesibukannya mengetik di meja Sekretaris Redaksi. AliTopan tak peduli pada sikap mereka. Beberapa wartawan

205 “asli” memang menunjukkan sikap sinis dan tak bersa-habat sejak ia dan Harry diundang khusus oleh RedakturPelaksana.Ia menyerahkan naskah berita dan dua foto Markuskepada Sekretaris Redaksi.“Bahasanya asal gobrek, Mbak. Tapi faktanya kuat!”“Telat lima menit! Saya musti cepat laporan ke Bossnih!”Sekretaris Redaksi menghubungi G.M. di Press Club.Lewat telepon ia bacakan tiga lembar naskah berita yangdibuat oleh Ali Topan.“Edit seperlunya, kasih cap H.L. terus kirim ke perce-takan, Hen! Sejam lagi saya kontrol ke sana!” order Re-daktur Pelaksana.“Siap, boss!”Heni meletakkan gagang tilpon. Mulutnya ternganga.Pemberian cap H.L. singkatan Head Line, baru kali ini iakerjakan. Biasanya Redaktur Pelaksana sendiri yangmencapnya. Cap itu dititipkan kepadanya oleh RedakturPelaksana. Pertama kali ia mencap H.L. sebuah berita.Dan, berita itu dibuat oleh Ali Topan. Ia tahu betul, belumada sebulan anak jalanan itu menjadi reporter lepas IbuKota, kartu pengenal pun belum punya, eh beritanyasudah bisa jadi H.L.***

206ENAM BELASHeadline Ibu Kota selanjutnya: “ANAK PENYA-NYI POP DICULIK!” dan sub-judul: ”Tiga Pem-bantu Rumah Ditahan Polisi”, diteriakkan olehpara pengecer kor an pagi di pelosok-pelosok Jakarta.Berita itu dengan cepat tersebar ke masyarakat danmenjadi bahan obrolan pagi di warung-warung kopi, diterminal-terminal bis, dan di tempat-tempat ngumpul dikampung-kampung.Berita itu tidak hanya menarik perhatian masyarakatumum, kalangan wartawan Ibu Kota sendiri sempat gegerdibuatnya. Yang paling nyap-nyap adalah wartawan-wartawan bagian kriminal. Tak seorang pun di antaramereka mengira bahwa Redaktur Pelaksana menurunkanberita itu sebagai headline! Bukan nilai berita yang bikinmereka penasaran, tapi kebijaksanaan G.M. mereka nilaisangat kontroversial.Jam 7.30 Sekretaris Redaksi dikerumuni tiga reporterkriminal. Mereka ribut menanyakan kenapa berita ituyang diturunkan, kenapa bukan berita yang mereka buat.Mereka tau persis, yang bikin berita “gila” itu si anaktanggung yang baru kemaren sore belajar jadi reporter!”Sialan!” gerutu seorang wartawan, “gue tersinggungkalo begini caranya! Ini sih terang-terangan tidak meng-hargai kerjaan kita! Kenapa bisa begini nih, Hen!”Heni tak banyak omong. Sejak membubuhkan cap H.Lkemaren sore, ia sudah merasa para reporter bakal gaduh!“Yang jadi boss disini bukan gue! Kalo lu mau protes,tungguin aja Boss. Lu protes sama dia!” Kata Heni.

207 Tiga rekannya terdiam. Mereka tau kebijaksanaanpimpinan tak bisa diprotes. Bukan Ibu Kota tak demo-kratis, tapi semua wartawan koran ini paham betul, setiapkebijaksanaan pimpinan mereka, entah itu PemimpinRedaksi ataupun Redaktur Pelaksananya, pasti denganpertimbangan matang.“Tuh, boss da teng. Lu pr otes gih!” Heni menunjukG.M. yang sedang berjalan masuk dengan wajah anteng.Tiga wartawan itu serentak mengubah stelan tampangyang rada asem. Ketiga-tiganya menghada pkan mukamanis ke arah G.M.“Selamat pagi, Boss!”“Selamat pagi . Tumben pagi sudah dateng. Gitu dong!”kata G.M. Ia berhenti sejenak, memperhatikan tampangpara anak buahnya. “Sepuluh menit lagi kalian naik keatas!” instruksinya.“Siap, Boss!”Heni melengoskan wajah, pur a-pura mencari sesuatudi laci mejanya. Mulutnya menggigit saputangan kuat-kuat, menahan ketawa yang hampir meledak.***Pagi itu di kios Munir, Ali Topan tersenyum riangmemandang dua temannya membaca Ibu Kota denganwajah takjub! Munir tak henti-hentinya mengulang bacaheadline tersebut, dengan suara keras. Harry tak dapatmenyembunyikan kekaguman atas “prestasi” yangdicapai Ali Topan dalam tempo singkat. Ia baru pulangdari Yogya tadi malam.“Pembuat headline! Dahsyat, Daeng!” cetus Harry.“Bikin headline mudah, jadi wartawan itu yang sukar,”kata Ali Topan, meniru pendapat G.M. dalam buku“Berita” yang dibacanya.Pukul 7.55 Ali Topan menghubungi G.M. dari pos

208 keamanan pasar. G.M. menginstruksikan untuk tetapmengikuti perkembangan kasus tersebut.“Ada baiknya kau cek perkembangan di kantor polisijuga . Aku sudah hubungi Pak Supriyadi. Dia bilang sudahpernah kenal kau,” kata G.M.“Dulu ada urusan dikit, Pak.”“Pemimpin Redaksi mengucapkan selamat buat kau.”“Terima kasih.”“Topan! Sejak sekarang kau harus siap tempur! Banyakorang sibuk akibat beritamu itu. Good luck!”“Terima kasih!”Pembicaraan selesai.Ali Topan kembali ke tempat Munir. Ia mengajak Harrysarapan nasi rames di kantin terminal bis.Selesai sarapan, keduanya naik bis ke kantor polisi diJalan Wijaya II. Kapten Supriyadi belum datang.Wakilnya juga belum. Ali Topan dan Harry duduk dibangku tunggu, memperhatikan beberapa polisi lalulintas di atas Honda 750 mereka, siap untuk bertugas.Beberapa polisi biasa duduk bergerombol di dekat AliTopan. Dua di antara mereka membaca Ibu Kota, yanglain sibuk memperbincangkan kasus penculikan MarkusKaryadi. Seorang agen berpotongan Tekhab—teamkhusus anti banditisme—paling ramai ditanggapi rekan-rekannya. Ali Topan menandai si Tekhab dari jaket bluejeans, celana Tetrex gelap dan pistol menonjol dipinggang.“Ini pasti culik endonan. Udah setaon kan nggak adaculik-culikan di daerah kita. Kalo kata gue temuin, guehajar habis dah culiknya. Bikin repot aje,” kata si Tekhabdengan dialek Betawi yang tak bisa menghapus lidahJawanya yang medok.“Apa sudah pasti diculik, Bung Bronto. Apa ngg ak

209 mungkin dimakan anjingnya sendiri. Di Ibu Kota ditulisrumah itu miara anjing herder yang gede. Mungkin an-jingnya nggak dikasih makan, dia gegares tuan kecilnya,”kata seorang bintara polisi yang berpakaian sempit danduduk di sebelah Harry. Nama Sakib terbaca di dadanya.“Ah! Mana ada kejadian anjing makan tuannya sih!Emangnya macan?”Ali Topan tersenyum mendengar jawaban lugas itu.“Kira-kira menurut Bung Bronto, apa motif penculikanini?”“Ini dia yang lagi saya pikirin, Bung Sakib! Tapi sambilmerem saya berani pastikan ini nggak lebih nggakkurang, urusannya duit juga! Bisaaa, pemerasan! Nggaklama sih kebongkar, percaya deh!”Ali Topan dan Harry memasang mata dan telinga,tertarik mendengar obrolan para polisi itu. Bronto bertu-buh kekar, pendek. Punggung tangannya kapalan, tandakhas seorang karateka. Menilik lagaknya, ia seorang yangpopuler dan dijagokan di kalangan polisi itu.“Kira-kira, kalau penculiknya tertangkap, kau apakandia, Bung Bronto?” tanya rekannya yang berpakaiandinas dengan tanda pangkat balok miring dua buah yangberarti Kopral Satu. Duduknya sejajar dengan Ali Topan,hingga tak terlihat nama yang tercetak di dadanya.Bronto mengusap-usap kepalanya. Ketika ia melihatdua anak muda memperhatikan dirinya, ia pun menyeng-gol gagang pistol yang menyembul dari balik jaketnya.“Biasanya diapain?” begitu saja jawabnya. Rekan-rekannya tertawa kecil, seakan-akan paham benardengan jawaban yang bertanya balik itu.Seorang polisi keluar dari ruang piket menuju kekantin. Ia melempar senyum ketika lewat di dekat teman-temannya. Ali Topan mengenalinya.

210 “Sssst, Har… itu Pak Gono, Letda Gono… yangnggiring gue dari Depok,” bisik Topan pada Harry.“Peristiwa si Anna Karenina tempohari?”Ali Topan mengangguk.Letda Gono kembali dari kantin sambil mengigit-gigitpembungkus rokok Gudang Garam yang dibelinya.Langkahnya terhenti ketika melihat Ali Topan. Iamenuding Ali Topan diikuti pandangan rekan-rekannya.“Lho, kok di sini? Ngapain? Bawa kabur cewek lagi,ya?” guraunya.Ali Topan berdiri dan menjabat tangan polisi itu. “Sayakangen sama Pak Gono, makanya saya ke sini lagi,” balasAli Topan.Letda Gono menepuk-nepuk pundak Ali Topan danberkata lantang ke arah rekan-rekannya.“Ini dia yang namanya Ali Topan! Yang bawa kaburcewek sampai ke Depok tempohari!”Ali Topan risi mendengar omongan itu, apala gi ketikaia melihat wajah-wajah tak seda p memandang kearahnya.“Gimana? Apa udah naek pangkat jadi Mayor?Katanya polisi y ang nangkep orang pacaran cepet naekpangkat, Pak Gono?” Ali Topan menembakkan sindiranberbisa.Pak Gono tersipu-sipu kena kik balik.“Bisa saja kamu…,” gerutunya, lantas berjalan kembalike ruang piket.Ali Topan mengerjapkan mata ke Harry. Ia tak tahubetapa hati temannya itu kebat-kebit, ngeri mendengarsindiran tajam Ali Topan pada Pak Gono. Ia ngeri polisiitu marah.“Gawat Daeng…,” gumamnya, “cabut aja yuk. Liattuh, orang-orangnya pada ngawasin lu…”

211 Ali Topan melirik ke gerombolan polisi. Mereka me-mang mengawasinya dengan pandangan aneh. Ia merasagerah diawasi secara begitu. Ditowelnya lengan Harry.“Gue mau cek Pak Supriyadi dulu ya.”Ia berjalan ke ruang piket. Harry mengikutinya.“Mau nglapor apa lagi nih?” tegur Letda Gono ketikaAli Topan menghadapnya.“Saya mau menghadap Oom Supriyadi, Pak.” AliTopan sengaja mengeraskan suaranya supaya terdengarsampai ke luar ruang .Letda Gono membelalak. “Kok Oom sih? Emangnyabeliau oom kamu?”Ali Topan tersenyum lebar. Harry yang nyalinya meng-kerut, pura-pura mengutak-a tik tustelnya di dekat pintu.“Mau ada perlu apa sih?” tanya Letda Gono.“Mau nanya soal tiga pembantu rumah yang ditahan disini karena…”“Penculikan anak kecil itu?”“Iya, Pak!”“Lho, kok kamu… Coba duduk dulu! Apa urusannyasama kamu?”Ali Topan duduk di bangku, berhadapan dengan LetdaGono. Terdorong oleh perasaan bang ga seorang muda, iamenceritakan seluruh persoalan pada polisi itu.“Ooo, jadi kamu sekarang sudah jadi wartawan y a?Tapi… saya nggak perca ya kalau kamu yang bikin beritaini,” kata Letda Gono sambil mengeluarkan Ibu Kotadari dalam lacinya.“Jangankan Pak Gono, saya sendiri aja hampir nggakperc aya ,” kata Ali Topan dengan polos. Lucunya, PakGono dan dua rekannya yang ada di ruang piket itu, meng-anggap Ali Topan memang main-main dengan ceritanya.Mereka pikir, Ali Topan sedang menggantang asap saja.

212 “Kamu kalau ngarang jangan kebanyakan kuah, ah!Orang Betawi bilang ngebelebeg. Ngarti nggak, ngebe-lebeg. Kalau sayur kebanyakan kuahnya! Sa ya tahu kamudoyan becanda, Pan… tapi urusan kriminil jangan main-main, dong. Mendingan kamu ngayab aja di jalanan, caricewek aja…,” kata Letda Gono sembari nyengir.“Ah, Bapak nggak percaya? Bener, Pak! Masa sayabecanda sih? Saya mau ketemu sama Pak Supriyadi. Sayakan tau, Pak, urusan apa yang boleh dibecandain danurusan mana yang serius!” Topan ngotot.Letda Gono mengulapkan tangannya, menyuruh AliTopan keluar. “Udah deh! Saya mau kerja nih!”Ali Topan merasa tak enak digitukan oleh Letda Gono.Wajah yang gelap bersemu tembaga. Gerah rasa ha tinyakarena disepelekan begitu. Untunglah dia menyadarisikon. Dipaksakannya tersenyum. Ia sendiri tahu persissenyuman itu tak banyak beda dengan seringaian kuda.“Ya udah deh, saya permisi, Pak Gono,” katanya.“Jangan ngebut di jalanan, ya,” sahut Pak Gono asbun.Mak, Ali Topan merasa di-kik habis. Tanpa bicara baatau bu lagi, ia mengangkat pantat, lantas ngeloyor. Dipintu seseorang bergegas masuk, hampir menabraknya.Orang itu menengok sekilas, kemudian berjalan acuh takacuh ke meja Letda Gono. Ali Topan mengenalinya, Pai-min, seorang anak buah Kapten Supriyadi. Sampai diluar halaman kantor polisi, barulah Harry bisa bernapaslega. Tak bosan-bosannya dia memandang Ali Topan,sembari geleng-geleng kepala.“Gawat kamu, Daeng. Becanda di kandang singa,” ka-tanya.“Abis gue dibecandain duluan, Har! Lu gile, dia kagakpercaya kalo gue yang bikin berita! Gue jelasin baek-baek, eh, die bilang kalo ngarang jang an kebanyakan

213 kuah! Pale gile tu plokis!” Ali Topan nyap-nyap.“Terus elu mau ke mane? Gue mau ngikut” Har ry ber-elu-gue-an. Kepalanya tlola-tlolo, kuatir kalau nyap-ny apan Ali Topan yang santer itu terdengar sampai kekantor polisi. Ali Topan nyengir mendengar Harry tidakber-aku-kam ua-an lagi.”Kite langsung ke rumah Karyadi aje, Har! Ntar Supri-yadi gue call lewat telpon aje.”“Sebetulnya, buat apa sih lu nguber informasi terus,Daeng? Menurut gue, headline lu udah cukup menggem-parkan! Buntut-buntutnya biar aje dikerjain sama orang-orang Ibu Kota sendiri. Kita kan cuma reporter lepas.Cari berita yang aman aje deh,” kata Harry.“Udah tanggung, Har! Lagian kita kan dapat supportdari G.M. Kalau lu mau cari berita yang aman, lu jadiwartawan majalah Bobo aje.”Mereka berjalan sampai prapatan Blok A, menunggubis ke jurusan RSF. Beberapa menit kemudian, Gamadidatang. Keduanya naik.Di depan kompleks Subud mereka turun. Dari situberjalan kaki ke arah rumah Karyadi.***Sebuah jeep Willys G.P. diparkir di depan rumahKaryadi. Di beranda de pan si empunya rumah ber-jeansbuntung dan kaos oblong batik sedang omong-omongdengan seseorang yang berpakaian safari coklat mudayang rapi. Angie diam di kursi malas, mengelus-elusherdernya. Karyadi mengkeplak-keplakkan Ibu Kota kekaki kursi rotan yang didudukinya. Roman mukanyategang.Karyadi seakan terlonjak dari kursinya ketika AliTopan dan Harry muncul di pintu pagar.“Itu dia si anak gila!” seru Karyadi sambil menuding

214 Ali Topan dengan kor annya. Ali Topan terkesiap men-dengar seruan tak sedap itu. Ia berdiri di pintu halaman,tegak dengan gagah. Ditatapnya Karyadi dengan tajam.Roman mukanya jelas menunjukkan perasaan tak sedapoleh makian itu.Si orang bersafari menggeser duduknya, menengok kepintu halaman. Dan… ah! Ali Topan terkesiap tatkalamelihat wajah or ang itu. Walaupun tak memakai baretdan gaya pakaiannya berbeda, ta pi Ali Topan mengenali-nya sebagai orang yang pernah dijumpainya di markasKodim..Sekilas matanya bercahaya memandang Ali Topan,kemudian normal kembali, acuh tak acuh.Karyadi mendekati Ali Topan, roman mukanya kecut.Mereka berhadapan dihalangi pintu halaman yang belumdibuka. Ali Topan hanya bisa berwaspada melihat sikappenyanyi pop yang beda jauh dengan kemar en.Karyadi meng angkat sebelah kakinya ke pintu, tepat didepan Ali Topan. Sebelah tangannya bertolak pinggang.Dan matanya yang merah, muram bersinar marah, taksedap ‘kali dilihat.“Kamu lancang bener! Kok kamu nggak bilang-bilangkalau mau memasukkan ke koran! Mustinya kamu bilangdong kalau kamu itu wartawan! Saya kir a kan kamu anakjalanan biasa!”Mendengar omelan keras itu, Ali Topan tak menjawabdengan omongan lagi. Langsung dia beri dua kepretandan satu kepalan ke wajah Karyadi. Cprot! Cprot? Degh!!“Ugh!””Semua terkesima menyaksikan gebr akan si anak mudayang sebat! Kar yadi menekap matanya. Angie menekapmulutnya, kaget. Harry melongo. Bahkan si orangbersafari mengernyitkan dahinya. Semua, tak terkecuali

215 anjing herder, melihat ke Ali Topan.“Adduuuh… adduuuh! Kamu… kamu…” Karyadimengaduh-aduh. Tangan kanannya masih menekapmata, tangan kirinya men uding Ali Topan. Murka betuldia.“Lu nyolong gua, ya!”“Mau gue beri lagi lu! Kalo nggak demen, boleh keluar!Keluar lu, babi,” hardik Ali Topan.Karyadi yang murka, tak tinggal diam. Mendadak iamelompat ke depan. Tangan kanannya menghajar wajahAli Topan. Desh!Maka, perkelahian yang tak direncanakan ituterjadilah! Ali Topan melompati pintu besi, masuk kedalam. Langsung ia menyerang Karyadi yang sudahpasang kuda-kuda boksen. Bagh! Bugh! Agh! Degh!Degh! Deshh! Dalam satu g ebrakan, Karyadi mukul duakali, Ali Topan menghajar tiga kali!“Heeei!” Angie memekik. Ia tampak bingung sekali.Dan… bahaya mengancam Ali Topan karena anjingherder milik tuan rumah mendadak berdiri, kupingnyategak pertanda siaga penuh.“Baron!” Angie mengorder anjingnya sambilmenunjuk ke leher Ali Topan. Si anjing melompat garang.“Paan! Awaas!” Harry berteriak, panik. Bersamaandengan itu, ia melemparkan tustelnya sekuat tenaga keherder yang menganga. Bregh! Pas kena moncong herdergarang itu. Sementara itu Ali Topan melayang, melom-pati pintu besi. Langsung dia menjemba sebuah batu kalibesar yang tergolek di dekatnya.Herder yang tertahan beberapa detik itu hendakmelompat pula.Klick!“Baron! Brenti!”

216 Orang bersafari membentak. Sebuah pistol di geng-gamannya tertuju kepada si herder. Baron berhenti!Ketegangan yang senyap! Semua terdiam. Hanya de-ngus Baron, si anjing herder, mengisi suasana.Kleck! Orang bersafari mengunci pistolnya kembali,kemudian menyelipkan senjata itu ke pinggangcelananya.“Fuah! Permainan konyol yang nyaris membawa ke-matian pa gi ini, tuan-tuan!” katanya dengan nada berang.Matanya menyipit, menyapu Karyadi dan Ali Topan.Karyadi mengusap-usap matanya yang bengap. AliTopan membuang batu kali ke tanah. Keduanyamemandang penengah itu dengan wajah muram. Sipenengah menyapu mereka sekali lagi, kemudian iamendongak dan melepaskan pandangannya ke langitjernih.“Saya, Robert Oui, bertahun-tahun bergaul denganmaut, telah mengenal beratus-ratus manusia aneka rupa,tapi baru pagi ini menyaksikan dua manusia kerbau!”katanya. Berdesir kalbu Ali Topan mendengar kata-ka talugas itu.Robert Oui melirik Ali Topan.“Tuan-tuan! Singkirkanlah kedunguan itu dan jadilahberadab kembali! Atau… tak malukah Tuan-tuan padadiri sendiri?”Ali Topan merasa betul kata-kata itu ditujukan kepada-nya. Perasaannya terasa nyeri. Anehnya, kata-kata tajamitu membuat darahnya surut seketika. Wajah orang itu,wajah yang memancarkan kepolosan dan kejujuranhatinya, serasa milik seorang sahabat.Karyadi pun tampak tersentuh oleh kata-kata RobertOui. Ia mengusap-usap matanya yang bengap.“I’m sorry, Robert,” gumamnya. Ia berbalik, berjalan

217 masuk kedalam rumahnya, diikuti istrinya.Robert Oui memungut tustel Harry yang pecahlensanya. Diusapnya dengan punggung tangannya.“Benda mati yang menjadi korban kegarangan man usiahidup…,” gumamnya, seakan pada diri sendiri. Topandan Harry jelas mendengarnya. Keduanyaberpandangan. Mata mereka memancarkan sebuahmakna. Respek! Ya, mereka jatuh respek pada RobertOui yang tenang, berwibawa dan simpatik itu.Robert Oui menghampiri Harry dan menyerahkantustel itu padanya . “Nanti betulkan dik! Barang ini sangatberjasa, toh?” katanya. Harry mengangguk. Mulutnyaserasa terkunci, hingga ucapan terimakasih dari hatinyatersendat di kerongkongan.Robert Oui memalingkan pandangannya ke Ali Topan.“Kita bertemu lagi, Mister Ali Topan,” tegurnyadengan wajah berbunga senyuman. Ia mengulurkantangan, menyalami sia anak muda.“Terima kasih, Anda menyelama tkan nyawa saya…,”kata Ali Topan.“Orang-orang kuat jiwanya selalu besar. Mari masuk.Kita jernihkan persoalan. Sesendok salah paham, jangansampai merusakkan jamuan persahabatan, Mister.” Iamembuka pintu, kemudian menyilakan Ali Topan danHarry masuk rumah bersamanya. Baron menggeram ditempatnya.“Jangan menyerang sahabat, Baron!” kata Robert Ouiketika mereka melewati anjing itu.Karyadi dan istrinya duduk di ruang tengah. Angeladiam saja, tapi Karyadi berdiri sambil melayangkansenyum kecil. Ganjelan hati akibat insiden tadi, begitucepat jernih rupanya.Ali Topan dan Dirty Harry menyalami Angie pula.

218 “Mau minum apa?” ka ta Angie. Nadanya datar, takmenunjukkan permusuhan, tak pula persahabatan.“Air putih saja,” kata Ali Topan. Datar pula nadanya.Angie berjalan ke dapur. Tak lama kemudian ia keluarmembawa empat gelas air teh manis. Dengan tenang iamembagi minuman itu di atas meja, kemudianmenyingkir ke dalam.“Minum dulu, tuan-tuan, baru kita bicara,” kata RobertOui, “anda minta air putih, diberi teh manis, tentu pahammaknanya toh?” sambungnya sambil memandang AliTopan. Ia menghirup minumannya, diikuti tuan rumahdan para tetamu.“Tuan-tuan, kita langsung saja bicara, untukmembuang sesendok kesalahpahaman agar takmenganggu pesta perjamuan sesama sahabat. Baiknyasaya mulai dari diri saya dulu, agar tuan-tuan muda initidak menyemaikan pertanyaan misterius di ladang hatidan pikiran,” katanya dengan kata-ka ta bersayap yangsejak tadi merupakan gaya bicaranya yang khas.Selanjutnya dengan bahasa orang normal, ia menggelarkisah secara singkat.Namanya Robert Oui. Pernah bertugas di kepolisiandengan pangkat Mayor. Satu setengah tahun yang lalu iaminta berhenti dari dinas karena alasan prinsip. Iamencintai profesi dan prinsip polisi sebagai penegakhukum, katanya, tapi ia membenci sementara polisi,rekan-rekannya, bawahan-bawahannya, bahkan atasan-atasannya yang banyak menyeleweng dari prinsip danjiwa kepolisian. Sebagai orang sipil, kemudian, ia tetapberkeinginan menegakkan hukum, keadilan dankebenaran yang sejalan dengan prinsip Tri Batra yangdicintainya.Ia bergerak sendiri, menjadi seorang detektif partikelir.

219 Orientasinya lebih ke segi ideal seorang detektif untukmemerangi kejahatan daripada upah yang besar. Denganbeberapa rekan sejawat yang masih punya idealismeprofesi di kepolisian, ia menjalin hubungan.“Dan…tadi pagi-pagi sekali, dalam koran kesayangansaya, Ibu Kota, saya membaca berita penculikan anaktuan Karyadi. Didorong oleh insting yang sangat kuatyang selalu saya turutkan, saya datang untukmenawarkan bantuan. Ah, ah, ah! Rupanya insting sayaitu memang lebih tajam dari rasio saya sendiri. Si pembuatheadline yang menggoda hati saya, ternyata seorangsahabat muda yang belum lama berselang menarik minatsaya untuk berkenalan! Ali Topan, nama yang dahsyat,terimalah rasa gembira saya yang tulus…,” katanya.“Dan tuan Karyadi, kiranya sudah tiba giliran tuan untukmenggelar kata-kata, menjelaskan duduk perkaramengapa pitam naik ke kepala yang Anda suguhkan padasobat kita, sang pembuat headline pagi ini!” sambungnyamengakhiri kisah.Karyadi menghirup tehnya dua tegukan, kemudianmemutar-mutar rokok di asbak untuk membuang abunya,lalu memandang para tamunya sekilasan. Tampaknyadia mencari kata yang te pat untuk digelar.“Mmmm…pertama-tama saya minta maaf atas sikapsaya yang kasar dan tidak pantas tadi. Tapi saya mintadimengerti, saya dalam keadaan kalut, panik danbingung. Gila rasanya kehilangan anak. Dan… sayaminta tolong Bung Ali Topan. Terus terang kita baruketemu satu kali, mungkin aneh kenapa sa ya berani mintatolong. Tapi hampir kepada setiap orang yang saya temui,saya minta tolong menemukan anak saya. Sayaberterimakasih sekali ketika bung Topan bilang maumenolong. Yang saya tidak sangka, kamu wartawan!

220 Saya pikir kamu straatjongen biasa. Saya jadi kagetketika Bung Robert bawa Ibu Kota tadi pagi. Mustinyabung Topan konsultasi dulu sama saya kalau bermaksudmempublikasikan soal ini. Ada dua alasan yang sa yakeberatan. Pertama, menjaga jangan sampai orang tuasaya di Belanda tau soal ini. Ibu saya sangat sayang padaMarkus. Dia orangnya jantungan. Kalau dia dengar beritaini, pasti gawat! Dan yang kedua, polisi bilang, segalasesuatu tentang masalah ini harus sepengetahuan polisi,”kata Kary adi. Wajahnya mur am kembali. Dar i dalamkamar terdengar isak-tangis Angie.Robert Oui melihat ke arah Ali Topan. “Nah! Sekarangbagaimana penjelasan anda sendiri?” ia bertanya.“Tak ada. Semua jelas buat saya.”Robert Oui mendehem. “Ya, ya, ya… ta pi rasanya perlumenjelaskan mengapa anda membuat berita itu, misterAli Topan?”“Saya pikir orang perlu tau, maka saya bikin beritanya.Motifnya sa ya cuma ingin membantu. Saya nggak pikirkalo berita itu bisa bikin persoalan baru. Orang jantunganatau apa, nggak kepikir oleh saya.”Karyadi tampak meradang lagi.“Mustinya kamu kan minta ijin dulu sama saya! Kananak saya hilang, bukan anak kamu!” katanya dengankalap.Ali Topan diam saja. Dia menahan diri karena tahu siKaryadi sedang a bnormal keadaannya. Tapi dalam batindia ngomel, kenapa lu kagak cari sendiri aje, ngapainpakek minta tolong orang!Semua diam. Suara tangis Angie makin santer,memanggil-manggil nama anaknya.“Ada lagi?” Robert Oui bertanya.Tak ada yang menjawabnya.

221 “Nah! Kita anggap persoalannya kelar, jernih.Sekarang kita pikir lagi bagaimana mengatur rencanauntuk menemukan Markus. Itu yang paling penting!”Tiga orang lainnya tampak tenggelam dalam pikiranmasing-masing.“Setuju?” ia bertanya lagi.“Kalo bantuan saya masih dibutuhkan, saya sih okesaja,” kata Ali Topan.“Menurut saya, sebaiknya kita serahkan sama polisideh. Biar nggak terjadi hal-hal di luar hitungan! Nantibukan ketemu, malah tambah gawat urusannya!” kataKaryadi. Tampaknya dia masih menyesalkan Ali Topan.Robert Oui dan Ali Topan berpandangan. Keduanyaserasa tau sama tau maksud dan tujuan ucapan itu.Karyadi kurang berminat lagi pada bantuan mereka.“Tegasnya bagaimana, Tuan Karyadi?” tanya RobertOui.“Yah! Kalau masih mau membantu, lapor dulu deh kepolisi. Jadi tidak ada yang ngacak semau-maunya. Begitujelasnya.”“Saya keberatan dengan sy arat anda. Tapi baiknya,kita ambil waktu untuk berpikir lebih tenang. Yang utamakan Markus kembali,” kata Robert Oui, “oke, kita permisidulu adik-adik.” Ali Topan dan Dirty Harry berdirimengikuti Robert Oui.Menyaksikan penampilan Robert Oui yang hangat, duaanak muda itu pun menganggapnya sebagai kawan.Sedikit “pertanyaan” di benak Ali Topan tentang “latarbelakang” si detektif, justru menambah rasa ingintahunya untuk mempelajari diri kawan baru ini. Maka iatak ragu-ragu ikut si detektif pergi dengan jip Willys.Begitu keluar dari mulut gang Tumaritis, sikap dangaya bicara Robert Oui berubah. Wajahnya cerah gem-

222 bira, bersiul-siul sambil mengebutkan Jip1944-nya, yangdirawat baik sekali.Ali Topan yang duduk di depan, mengerjapkan matake Harry di belakang . Keduanya tampak gembira dengankenalan baru yang kini menampilkan lagak berandalanseperti anak muda. Pandai sekali Robert Oui menjalankankomunikasi.“Ke rokum gout ye?” ka tanya.Mak! Ali Topan kena kejut sedikit mendengaromongan pr okem keluar dari mulut Robert Oui.“Ngatri omong prokem, gara? Kalo gara ngatri jangansewot ye?” kata si detektif lagi.“Di mokan rokumnye?” sahut Ali Topan sambilsenyum.“Naaa, gokit dong! Rokum gout di Garogol, bah! Gouttinggal sama bokin gout. Ntar ogut kenalin.”“Rokumnya beli pae ngontrak?”“Ngontrak! Dari mokan dokat kalo beli rokum diBetokaw sini, Pan! Untung bokin gout bokis nyokardokat juga! Dokter anak-anak die! Kalo punya anak sakitbawa ke bokin gout aje, gratisan deh! Heh heh heh heh…”Mereka ketawa sepanjang jalan. Harry y ang kurangpaham bahasa prokem cuma mesam-mesem saja. RobertOui melihatnya dari kaca spion.“Eh, siokap sih nokam kawan yang satu, Pan?”“Harry. Panggilannye Dirty Harry!”“Haa? Dirty Harry Clint Eastwood? Gape dongnembaknye. Boleh kite tes Magnumnye… he he he.”Harry tersipu-sipu. Soalnya dia bangga dengan namapopnya yang diambil dari nama Clint Eastwood dalamfilm Dirty Harry. Clint Eastwood memang pakai pistolMagnum.“Pistol gout S and W, Har. Smith and Wesson. Kalo

223 pistol ente pae, Pan?”“Pistol Triple Tree.”“Triple Tree? Apaan tuh?”“Pistol Titit!”Ketiganya meledakkan tawa yang segaaar sekali, sam-pai orang-orang yang mereka lewati menoleh. Menjelangkandang bis PPD, lalu lintas agak macet.“Lewat Haji Nawi aje, ye,” kata Robert Oui. Ia mem-belok ke kiri, masuk Jalan Haji Nawi. Mereka muncul di prapatan Jalan Radio Dalam, RadioRaya dan Jalan Gandaria Raya. Robert Oui terus, mem-belok ke Jalan Radio Raya.Jalanan lapang, Robert Oui menancap gas.***Dua wanita duduk di serambi ketika mer eka sampai.Yang satu, gadis sexy atletis, pakai short jeans dan T-shirts ketat putih dengan logo Universitas Panca Sakti,berdiri dengan kaki telanjang. Senyumnya mempesona.Yang satu lagi, berumur 30-an, duduk di de pan mejacatur. P erutnya hamil tua. Ia pun tersenyum manis kearah Robert Oui.“Manisku, Papa nemu dua teman di jalan,” kata RobertOui. “Pinky, kok nggak kuliah?” sambungnya ke arahgadis yang terpesona memandang Ali Topan!“Kenalin dulu, Mam! Yang ini Ali Topan, yang ituDirty Harry. Keduanya anak baik-baik walautampangnya sedikit lecek.”“Rini Robert,” Ny. Robert menyebut namanya ketikabersalaman dengan Topan dan Harry.Kemudian Pinky! Telapak tangan gadis itu terasaempuk dan hangat dalam genggaman Ali Topan.Wajahnya pun bersemu dadu.“Kalo Pinky mahasiswi Panca Sakti. Baru saja patah

224 hati,” Robert menggoda. Pinky tersipu-sipu. Wajahnyayang tirus makin merah. Matanya sedikit melotot keRobert Oui.“Huuu, Oom Robert siaran berita,” cetus Pinky. Ia me-mainkan rambutnya yang ikal sebahu, lantas berjingkat-jingkat masuk kedalam. Ali Topan tak menyembunyikan“bengongnya” melihat betis yang indah dan telapak kakiputih Pinky.“Heei, ayo silakan masuk, Adik-adik. Maaf, sayasedang asyik nih.”Robert Oui mengecup kening istrinya. “Papa ngobroldulu di dalam ya, maniskuuu.” Lantas ia masuk ke ruangtamu, diikuti Topan dan Har ry.Dari ruang dalam menggema sepotong nyanyian:Dan kau lilin-lilin kecilSanggupkah kau berpijarSanggupkah kau menyengat, seisi duniaaaa…“Pink! Ini hari merdu suara kamu!” seru Robert Oui,“apala gi kalau Pinky cepat bawa minuman, makin deh!”Ali Topan dan Harry tersenyum. Mereka pun hafallagu pop karangan James Sundah itu. Dan suara Pinkyrasanya memang merdu di kuping Ali Topan!“Dae feeling? Bokis diatur. Gout sponsorin dah…,”bisik Robert Oui, “doi gali pat-ar. Batangannye anjen,wakin sama hostes Venus…” Topan dan Harrytersenyum lebar melihat mimik kocak tuan rumahnya.Pinky datang bawa tiga gelas es sirop.“Silakan minum,” katanya. Ali Topan gemas melihatgadis manis itu menggigit bibirnya sedikit.“Nggak kemanisan, Pink?” tanya Robert.“Pas, kok! Udah dicobain duluan,” sahutnya sambilberjalan masuk.

225 “Sirupnya memang pas, saya takut manisnya kamuikut masuk ke dalam gelas!” goda Robert Oui.“Puji truss,” kata Pinky dengan mata ber kicap-kicap.Ia bergegas keluar, duduk menemani Nyonya Robertyang asyik bercatur sendiri.***Paviliun Robert Oui kecil. Bagian depan untuk praktekistrinya. Ruang tengah untuk tamu dan tiga rak buku-buku. Sa tu rak penuh buku kedokteran dan psikologimilik Nyonya Robert, satu rak berisi buku kriminologidan map-map dokumentasi miliki Robert Oui dan rakketiga y ang lebih kecil berisi buku-buku catur, novel-detektif, tape-deck dan beberapa benda souvenir. Sebuahfoto hitam-putih ukuran kabinet terletak di antara bendasuvenir itu. Dalam foto itu tampak Robert Oui sedangbersalaman dengan Pak Hoegeng dalam se buah upacar aresmi.“Itu foto kenangan saya sama Pak Hoegeng semasabeliau masih aktif sebagai Kapolri. Saya anggap beliauguru saya di bidang kepolisian. Beliau benar-benar polisisejati,” kata Robert Oui ketika melihat Ali Topanmengamati foto itu.“Sekarang kerjanya ngamen melulu di tivi sama Ha-waiian Senior nya, kok bisa begitu ya? Kalo ngeliat tam-pangnya waktu nyanyi, terharu gue ,”“Mukenye sedih mikirin mental lapan anem mantananak-anak buahnye, Daeng Ali,” kata Harry.Robert Qui heran, “Daeng Ali? Memangnye ente orangBugis?”“Cerokitnye seru,” kata Harry“Kalo Pak Hoegeng masih aktif, rasanya nggak bakalkejadian penyelewengan uang lima miliar di kepolisian,ya Pak Robert,” sela Ali Topan.

226 “Persis!” sahut Robert Oui. Wajahnya mendadakberubah geram. “Dan… taukah kalian, saya inilah korbanpertama kasus penyelewengan uang anggaran kepolisianitu. Sebelum ada rame-rame Opstib, sayalah orang perta-ma yang mencium ketidakberesan itu. Ketika saya lapor-kan ke atasan saya, eh malah saya dimarahi, dimaki-makihabis-habisan. Baru kem udian saya tahu makin jelas adapermainan vertikal-horizontal yang melibatkan tak ku-rang dari seorang deputi Kapolri dan beberapa perwiratinggi lainnya! Wuaah! Kalau ingat perlakuan yang sayaterima, hingga saya minta berhenti karena muak, mausaya rasanya jadi tukang tembak jika hukuman matidijatuhkan pada perwira-perwira polisi bermental bua-jingan itu,” ka ta Robert la gi dengan nada berapi-api.Kemudian, tanpa diminta, ia menggelar kisah lebihluas lagi soal kasus penyelewengan yang mengguncang-kan kepolisian itu. Roberti Oui waktu itu bertugas diKoserse, Mabak. Seorang rekannya yang bertugassebagai anggota tim audit intern di kepolisian memberikisikan ketidakberesan itu. Mayor Pol K dipindahkan keSorong, Irian Jaya, ketika Kepala Tim Audit-nya tahubahwa ia membocorkan info ke Robert Oui. Sebelumdipindahkan, Mayor Pol K sempat mengisik Robert Ouiagar hati-hati, karena ia diincar oleh apa yang K katakansebagai jaringan “Rayap-rayap Mabak.”Dua hari setelah K berangkat ke Sorong, seorang per-wira bagian logistik berpangkat kolonel menawarkan ru-mah dinas baru di Kompleks Pondok Karya, sedan Co-rolla pribadi untuk di-President Taxi-kan, dan sejumlahtunjangan ekstra setiap bulan, dengan syarat agar RobertOui “bekerja saja seperti biasa, tak usah repot-repot mem-bongkar ketidakberesan di bidang anggaran,” katanya.Robert Oui menolak dengan tegas, bahkan dia laporkan

227 soal itu ke atasannya langsung. Ia dapat keanehan baru,ketika atasannya yang terkenal “galak dan bersemangat”itu justru memberi nasehat agar Robert menerima ta-waran manis itu. “Kalau tidak kau terima, kapan lagi kaumimpi dapat rumah dinas yang bisa diatur cicilannya,sedan dan kesejahteraan lebih dari cukup, Mayor!” kataatasannya waktu itu, yang tidak akan pernah dilupakandan juga dimaafkan oleh perwira polisi idealis bernamaRobert Oui!Ia mencoba bergerak, tapi tak satupun rekan-rekannyamau membantunya, bahkan ada cemoohan “Robert Ouiingin jadi Serpico” dialamatkan kepadanya. Ia bergeraksendiri. Yang paling dia sesalkan cuma satu hal, yakniketika dengan penuh semangat, keyakinan dan kejujuran,ia menghadap kepada seorang pejabat teras, danmengadukan halnya, tak lama kemudian ia dipanggilatasannya dan diberi tahu bahwa ia akan dipindahkan kesebuah pos terpencil di perbatasan Kalimantan.Robert Oui menolak, karena ia menganggap keputusanitu tidak fair dan punya motif “penggeseran karena selerapribadi” bukan kar ena tugas negara. Konsekuensi logis-nya, ia minta berhenti dari dinas!“Sekarang mereka makan tai semua! Opstib bergerakmengaduk-aduk kepolisian! Wibawa para perwira tinggihancur di mata prajurit dan keperca yaan masyarakat punmakin rusak kepada lembaga kepolisian!” kata RobertOui berapi-api.Istrinya masuk sambil tersenyum.“Seru betul ceritanya, Papa. Si Alekhine sampai kaget,”kata Nyonya Robert sambil mengelus perutnya yangbesar.“Ini menceritakan kisah papa dulu pada mereka, biartahu siapa papa! Mereka kan kenalan baru. Lagipula,

228 anak-anak muda sekarang suka menyamaratakangenerasi tua sebagai bejat semua,” katanya. “Udah, siArthur suruh tidur lagi,” sambungnya deng an nada kasihke istrinya. Si istri tersenyum manis sekali, kemudianberjalan keluar lagi.“Istri saya itu hobinya catur. Di perutnya itu calon anakkami pertama. Kalau lelaki, di mau kasih nama Alekhine,mengambil juara dunia catur dari Rusia. Sedangkan sayamau kasih nama Arthur. Tau nggak darimana saya ambil,Pan?”“Jendral Mac Arthur?”Robert Oui menggeleng. “Sir Arthur Conan Doyle,bossnya Sherlock Holmes. Tau tokoh itu kan?”“Yaah, dulu pernah ketemu di Blok M,” sahut Ali To-pan. Robert Oui ngakak mendengar guyonan orisinil itu.Di luar terdengar deruman mobil dan suara beberapamuda-mudi.“Jadi ngikut, Pink?” teriak seseorang.“Jadi dong,” sahut Pinky.Pinky berkelebat ke dalam. Keluar lagi ia pakai sandaljepit dan bawa tas plastik.“Oom Robert, Pinky mau renang sama-sama temen diH.I. Daag,” kata Pinky. Ia pura-pura tak peduli pada AliTopan, tapi ekor ma tanya toh mengibas si anak jalanan.“Saya pergi dulu ya. Daah ka… daah kalian!” kataPinky, a gak gugup. Lalu dia berkelebat keluar.“Daaah!” seru Robert Oui. Topan dan Harry melambai-kan tangan.Sesaat kemudian Pinky dan teman-temannya berang-kat.“Pinky itu keponakan bokin gout,” kata Robert dalambahasa prokem lagi, “doi kuliah di Fakultas HukumPanca Sakti. Komak sama glintur di sini. Bokapnye

229 petani apel di Batu, Malang. Doi macan ye?” kata RobertOui.“Yoi,” kata Ali Topan jujur. Sekelebat terbayang se-nyum Pinky dan bodinya yang memikat, kemudian ba-yangan Anna Karenina seper ti mengawasinya.Ali Topan mengusap wajahnya. Ia minup es sirup de-ngan teguk-teguk besar. Senyuman Pinky yang manisserasa menambah manis minumannya…Beberapa saat kemudian mereka diam. Masing-masingmenikmati suasana. Harry dan Topan merasa bahwaRobert Oui teman baru tapi tidak asing.“Ngomong-ngomong… terus terang nih, gout pengenbikin jaringan plokis partikelir ka yak di Hong Kong .Anak-anak jalanan maupun anak sekolah di sana sukarelamembantu tugas plokis. Gout coba mraktekin, dan…begitu gout liat lu di Blok M dulu, Pan, instink gout bilanglu deh member pertamanye!” kata Robert Oui.Ali Topan baru ngah kini, mengapa orang ini mengun-titnya di Blok M dan bersika p simpatik padanya. Diamat-amatinya Robert Oui. Nalurinya mengisiki, bahwa iaboleh mempercayai perkataan orang ini. Tapi memangada sebuah pertanyaan yang dipendamnya, dan inginsekali disodorkannya ke teman barunya yang berciri khasitu.“Mikir pae?” tanya Robert Oui.“Anu… mm… gout mau nanya, Pak Robert…”“Jangan manggil pak, ah! Ntar cepet tua gue! Robertaje, Pan, lebih antep dan los!”“Begini, Rob! Gout mau tanya nih. Nama dan tampanglu dae bau cokinnye. Apa emang lua dae turunan cokin?”Robert Oui nyengir. Wajahnya penuh pengertian.“Emang gue keturunan cokin. Yang asli cokin engkonggue. Doi she Oei. Engkong wakin ame nyonye Belande ,

230 dapat anak bokap gout ame dua saudaranye. Bokap goutwakin ame Jokaw dari Semarang, anaknye tige juga.Yang paling keren gout ini, Robert Oui. Kalo engkonggout she-nya Oei pakai huruf o-e-i, gout pake nokam famgaya Perancis o-u-i. Disebutnya sama, wi, cuman lebihmodern yang pakai ejaan Perancis dong. Gitu silsilahnya,Pan!” kata Robert Oui, “oui artinye yes, tapi bukan yesman.”“O, g itu to.”“Eh, Pan, biar kate gout dae darah cokin nih, loyalitaskepada negara dan bangsa jangan diragukan deh! Tanahair dan tumpah darah gue Indonesia ini! Kata orang sheOui, “jangan kayak bokap-bokap yang di atas noh, yangkatanya darahnya tulen, kelakuannya pokay be’eng!”Ali Topan dan Harry diam. Mereka merenungkan ke-benaran di balik kata-kata Robert Oui yang bernadakecewa.“Kalian masih muda, jacks, tapi kaji deh omongan gout.Jangan bersikap rasialis buta! Rasialisme tak pernah bisajadi ukuran standar hubungan antar-manusia dalamsebuah negara! Bukan gue mau bilang kita diamkan ajeitu cokin-cokin yang doyan main gokil di negara kita,tapi kita musti mikir kritis, g imana menegakkan hukumdan menjalankan peraturan dan undang-undang dengansebenar-benarnya, seketat-ketatnya. Standarnya mustirasionil. Nah, kalo itu sudah pas, kagak pake kebijak-sanaan-kebijaksanaan, kagak pake famili-familian,nggak pake konco-koncoan, baru bisa kita babat segalabenalu dan penyakit yang bikin negara kita mau rubuhini, sampai ke akar-akarnya!” kata Robert Oui dengannada serius, “jangan kita di jalanan masih rasialis-rasialisan buta tapi di atas bokap-bokap kite mainrangkul-rangkulan ame itu cokin-cokin! Pake akal sehat

231 deh, jacks!”“Ngomong-ngomong, gimane urusan penculikananak, Rob. Soal politik begitu, gampang laen kali kitabicarain lagi,” tukas Ali Topan. Ia merasa omongandetektif itu makin melebar. Bukan tak tertarik soal-soalpolitik begituan, tapi saat ini ia sedang malas berdiskusisoal itu. Ia justru ingin segera mengatur rencana untukmenemukan kembali Markus Karyadi yang diculik.Robert Oui sadar, maka ia langsung kembali ke pokokmasalah.”Ooo ya… Soal itu sebetulnya sudah jelas.Karyadi mau agar kita joint dengan polisi. Pendapatmusendiri gimana, Pan?” ka ta Robert Oui.“Terus terang sih, saya penasaran untuk memecahkanpersoalan ini. Tapi saya sempat tersinggung oleh sikapKaryadi yang sengak itu. Di atas segalanya, secaranormal saya terlibat dalam kasus ini, sebagai orang yangmemberitakan di koran. Rasanya nggak fair kaloninggalin persoalan begitu aja,” kata Ali Topan. Ia punmengingat G.M. yang menunggu perkembangankeadaan.“Good! Kalau begitu kita putuskan saja untuk tetapterjun. Oke?”“Oke!”Robert Oui memandang Harry yang tak berkomentar.Ia menaksir-naksir fungsi Harry.“Dia ikut,” kata Ali Topan.Robert Oui tersenyum. Dalam hati ia memuji ketepatandugaan Ali Topan terhadap pikirannya. Tapi detektif inimasih tidak yakin sepenuhnya atas kualitas Ali Topan,apalagi Harry. Ia ingin mengetes kebolehan Ali Topan.“Nah, dari mana kita mulai?” tanyanya.“Anda yang berpengalaman, anda boleh putuskan,Rob,” kata Ali Topan dengan nada “resmi.”

232 “Sip!” cetusnya dengan riang sembar i mengeluarkanpistolnya dan meletakkan senjata api itu di meja, “seka-rang, saya ingin mengajukan beberapa per tanyaan kecil,sekadar meyakinkan saya apakah naluri saya sampai hariini berjalan beres. Soalnya, bidang penyidikan perkarakejahatan yang merupakan la pangan detektif sungguhbukan semacam lapangan sepakbola yang rata. Diper-lukan banyak persyaratan bagi siapapun orang yangpunya minat untuk bermain-main di atasnya. Boleh sayakatakan bahwa kaum detektif, baik partikelir maupundari lembaga resmi, adalah orang-orang yang mem-borg-kan sembilan puluh proses jiwa dan raganya kepadaMalaikat Maut!” kata Robert Oui. Bicaranya jernih, jelasdan sama sekali tidak jenaka. Dua anak muda “calonnya”tidak ngah betapa orang she Oui ini mulai ngetes mentalmereka.Harry gelisah. Matanya bersinar tegang. Degupjantungnya dag dug dag dug.“Apa…apa saya boleh permisi ke kamar kecil?”gumamnya. Ia mencoba ber tenang-tenang, namun jelassuaranya bergetar. Matanya tak lepas-lepas ke arah pistoldi atas meja.Robert Oui melirik sekilas. “Silahkan,” katanya sambilmenunjuk ke ruang belakang. Harry berjalan stel gagah,tapi mata sang detektif sempat melihat dengkul Harrybergoyang karena gemetar.“Mau kencing juga?” tanya Robert Oui ke Ali Topan.Si anak muda menangkap sinisme yang halus.“Ada syarat seorang detektif tidak boleh punya hobikencing jika menghadapi persoalan,” sahutnya dengankalem.Kini Robert Oui melengak. Tajam betul anak ini, pikir-nya. Ia tertarik untuk mengetes lebih lanjut, menurut

233 metodenya sendiri.“Apakah kamu takut mati?” tanyanya.“Apakah Anda pernah ketemu mati itu?”“Mengapa tanya?”“Soalnya saya tidak tahu, apakah saya takut atau tidakjika ketemu mati itu.”“Oh ya? Apa kamu berani hidup?”“Sampai hari ini ya!”Robert Oui makin kagum. Anak muda yang dihadapi-nya benar-benar khas. Ia berani memastikan bahwa na-lurinya beres.“Kira-kira, apa kamu tega membunuh orang?”Ali Topan yang sudah merasa pertanyaan Robert Oui“ada apa-apanya” sudah pula bersiap menjawab plas-plos.“Alasannya?”“Kalau orang itu seorang penjahat?”“Apa kejahatannya?”“Merampok, memperkosa dan membunuhkorbannya.” Robert Oui menatap tajam-tajam wajah AliTopan. Ia ingin sekali melihat kedipan mata yang palingkecil pun, yang menandakan si anak muda gentar atauperasaan semacam itu. Yang dilihatnya cuma wajah yangpolos dan dua bola mata yang menyembunyikankegelian.“Bagaimana?”“Kenapa si korban itu mau dirampok, diperkosa dandibunuh?” sahut Ali Topan dengan gaya PendekarBodoh, seorang tokoh dalam buku silat yang pernahdibacanya.Cukup sudah! Ledakan tawa Robert Oui taktertahankan lagi. Ia tertawa sekeras-kerasnya. Geli dankagum campur jadi satu.

234 Harry datang dengan wajah pongo. Robert Oui segeramenghentikan tawanya.“Udah kelar kencingnya? Wesenya disiram apanggak?”“Disiram dong,” kata Harry dengan suara ber at. Diamenyangka tuan rumah mentertawakan dirinya. Wajah-nya berubah merah. Memandang Ali Topan, matanyamengajak segera pergi.“Nah, teman-teman obrolan kita yang ngelantur sudahcukup rasanya. Mungkin ada pertanyaan?” ka ta RobertOui.“Mm… saya mau tanya. Menurut pengalaman anda dikepolisian dulu, berapa lama polisi boleh menahan orangyang belum terbukti bersalah dalam suatu kasuskejahatan, Rob?” tanya Ali Topan.“Oh! Menurut kenyataan, apa yang saya lihat, soal itusih bisa sesuka hati yang nahan.”“Lebih dari duapuluh empat jam?”“Bisa berbulan-bulan malah. Kenapa?”“Jika orang itu terbukti tidak bersalah, apa dia bisamenuntut?”“Oh bisa! Tapi… seingat saya belum pernah adakejadian begitu. Jangankan tahanan kiriminil biasa,orang-orang yang ditahan karena politik yang jelas ngertihukum sekalipun bungkam saja selepas dari tahanan,sedangkan mereka tidak terbukti bersalah.“Satu lagi, siapa sebenarnya yang berhak menentukansalah atau tidaknya seseorang?”“Pengadilan!” sahut Robert Oui, “dan di bidang IlmuHukum dikenal asas presumption of innocence. Pernahdengar istilah itu?”“Rasanya pernah saya baca di koran… tapi saya lupalagi artinya.”

235 “Seseorang dianggap tidak bersalah, sebelumdibuktikan kesalahannya oleh pengadilan.”“Prakteknya gimana?” tanya Topan, berkura-kuradalam perahu. Robert ngah pancingan itu.“Kamu toh sudah tahu, kalau di negeri ini ada satu dalilyang populer. Praktek boleh menyimpang dari teori!”cetusnya. “Saya ingat seorang teman saya di dalam dinasdulu. Pangkatnya Mayor dan sempat ditakuti oleh kaumpenjahat Jakarta pada awal karirnya, waktu itu sebagaisalah satu boss Tekhab. Ia bilang, yang penting untukseorang anggota Tekhab ada tiga hal: mahir menembak,punya IQ tinggi dan patuh pada atasan. Sa ya koreksisyarat ketiga, kepatuhan seorang polisi kepada atasannyadengan catatan sang atasan juga patuh kepada disiplinkorps, per aturan dan undang-undang! Jika atasan kitamenyeleweng, lantas kita tetap patuh, itu namanyakepatuhan kebo!” kisah Robert Oui lagi”Yang terjadi kemudian mirip sandiwara. Sayamenentang atasan-atasan saya yang menyeleweng,dengan akibat saya berhenti dari dinas. Dan teman sayaitu, y ang sangat patuh pada atasan, enam bulan yang laluberhenti pula dari dinas, alasannya capek. Saya dapatinfo dia tenang-tenang mengurus kebun cengkeh seluasdelapan hektar di daerah Sukabumi, hasil kerjanyaselama dua tahun!”Ck ck ck, decak Ali Topan. “Pensiunan Mayor Polisisaja mampu memiliki delapan hektar cengkeh hasil duatahun dinasnya, bagaimana jendral-jendralnya ya?”“Tidak semua jendral polisi begitu, Pan. Hanyasebagian saja.”“Sebagian besar?” ujar Topan dengan nada bercanda.Robert Oui angkat bahu. “Entah berapa gelintir perwirayang berkarakter di kepolisian sekarang ini,” keluhnya.

236 Senyum pahit di bibirnya.Mereka berbicara sampai saat makan siang tiba. RobertOui dan istrinya sendiri yang melayani tamu-tamumereka, dengan masakan siap makan yang tersedia didapur. Pinky yang memasak semua itu, kata Ny. Rober t.Beberapa saat seusai makan, Ali Topan dan Harrypamit. Mereka pergi ke kantor harian Ibu Kota untukmenemui G.M. melaporkan perkembangan situasi.“Di jaman sekarang, antara wartawan dengan detektifhampir baur teknik kerjanya. Bedanya, detektifbersenjatakan pistol sedangkan wartawan bersenjatakankamera dan tape-recorder. Kisah Bob Woodward danCarl Bernstein dari Washington Post yang berhasilmembongkar Skandal Watergate hingga mengakibatkanjatuhnya Presiden Amerika, adalah prestasi dahsyat dibidang kewartawanan dunia, sekaligus merupakan kisahnyata super detektif yang paling menggemparkan dunia!”kata G.M. “Kalian hati-hati saja. Sedapat mungkin akubantu.”Ali Topan lega mendengar support G.M.Dari Ibu Kota ia mengajak Harry ke RSF. Ia inginmengundang percikan-percikan ide untuk memecahkanperkara Markus Karyadi.***

237TUJUH BELASSiang itu Ali Topan menelpon ke rumah papanya.Mbok Yem yang menerima.“Tadi dari rumah sakit. Mbok yang nganterin. Dok-ternya ngasih obat penenang. Sekarang mama tidur se-habis minum obat,” kata Mbok Yem.“Kamu tadi ditanyakan sama suster Mina dan dokterRomeo,” lanjutnya. Usai mendapat informasi itu AliTopan ke RSF. Ia menemui Cut Mina. Perawat itu me-ngabarkan kedatangannya ke dokter Romeo.“Ali Topan ditunggu dokter Romeo di kamarnya. Adasesuatu yang ingin dibicarakan,” ka ta Cut Mina ketikaAli Topan sedang merenung-renung di lapangan golfsiang itu. Pesan yang disampaikan oleh perawat itumemutuskan jaringan pikiran yang dijalinnya untukmemecahkan kasus penculikan yang sedangdihadapinya. Dengan kepala sedikit pening—karenabelum menemukan kunci persoalan—ia bangkit darilamunannya lalu berjalan gontai ke kantor dokter Romeo.“Selamat siang, Dik Topan! Muram amat kelihatan-nya…’” tegur dokter yang ramah itu dari kur sinya yangmewah. Ia menyilakan Ali Topan duduk di depannya.Udara sejuk dari pendingin udara mengusir sebagianrasa pening anak muda kita. “Dokter memanggil saya,”tanyanya.“Iya, ngobrol iseng saja,” sahutnya sembari senyumramah seperti biasa, “minum yoghurt ya?”Keramahan Pak Dokter, kata-katanya yang rileks,pendingin udara dan segelas yoghurt di atas meja, begitu

238 segar, membangkitkan semangat baru. Punya ayah yangperhatian seperti dia, alangkah baha gia anak-anaknya,demikian pikirnya sambil memandang lekat ke wajahdokter Romeo.“Ada soal apa, Pak Dokter?” Tentang ibu saya?”tanyanya.“Yaah antara lain tentang ibu Dik Topan. Maksud saya,luka-luka fisik beliau sembuh. Cuma soal psikisnya, ibuDik Topan dapat shock cukup hebat rupanya… sehinggamentalnya belum bisa ce pat-cepat pulih se perti semula.”“Shock mental apa, dok?”“Istilahnya, depresive psychosis. Tekanan batin gitudeh. Kasihan, Dik. Musti banyak dibantu nih. Dik Topandeh yang lebih sabar dan lebih memperhatikan beliauya… Maksud saya… beliau perlu dihibur dengan penuhkasih sayang… supaya lambat laun bisa melupakanperistiwa itu. Maksud saya…”“Saya tahu, Pak Dokter,” gumam Ali Topan. Suaranyatersendat. Ia bilang saya tahu Pak Dokter, saya tahu PakDokter, tapi rasanya ia tak tahu persis apa yang hendakdilakukannya. Dadanya terasa sesak oleh perasaan yangbergalau. Perasaan yang sangat kering, seperti musimkemarau panjang di padang hatinya. Ah, dokter, dokteryang baik, tahukah betapa hati ini merindukan siramanhujan untuk menyuburkan persemaian kasih sayang yangdirindukan.“Dik Topan.”Si anak muda tersentak. Namun ia diam saja. Matanyamemandang tapi serasa tak melihat sosok di depannya.Perasaannya sedang terbantai oleh kerinduan dankekecewaan sekaligus. Wajah ibu dan ayahnyabergantian datang membayang, disusul oleh Tommy danperempuan gendak ayahnya. Matanya menyipit, jiwanya

239 meronta-ronta ingin mengusir bayangan yang selama inimembuat hari-harinya hampa.Ia tercenung bagai patung ketika Dokter Romeo Sandibangkit pelahan dan berjalan ke arahnya. Dokter itumenepuk bahunya dengan sikap kebapakan. Iamerasakan itu, seperti mimpi. O, mengapa bukan tanganayahnya yang menepuk bahu ini? Mengapa bukankelembutan ibunya yang menghangati jiwanya pada saat-saat yang penuh kepahitan?“Dik Topan… Minum dulu yoghurtnya, biar seger.Adik harus gagah dong, seperti Pak Dokter,” bisik PakDokter, “Oom sudah paham sem ua… nggak usah sedih.Oom pasti bantu.”Tuhan! Jerit hatinya. Tuhanku! Berikan cahaya-Mu!Jeritan jiwa itu yang mengguntur dari nurani, berhasilmemanggil kesadarannya lagi. Walaupun dada masihterasa pengap, namun pikiran lebih segar. Kesadaranakan diri dan sekelilingnya berangsur datang.Yoghurt direguknya. Habis se paruh gelas. Kemudiania taruh kembali gelas itu di atas meja. Celemot yoghurtdi bibirnya diusapnya dengan punggung tangan.Dokter Romeo Sandi menepuk-nepuk belakanglehernya. Ia paham, si anak m uda berhasil menguasaiperasaannya.“Terima kasih, Pak Dokter…,” bisik Ali Topan. Harusekali.“Yaah, sama-sama Dik Topan. Pokoknya apa yangsaya bisa bantu, saya bantu deh. Jangan sungkan-sungkansama saya. Bukan Dik Topan saja, kawan-kawan sayabanyak tuh anak-anak muda. Yang tukang minumlah,nyopetlah, udah deh, segala macem. Syukuralhamdullilah, semua akhirnya sadar. Kalau Dik Topansih, jauuuh dibandingkan dengan mereka.

240 ”Terus terang, bukan saya mengada-ada, rasanya sayabelum pernah ketemu anak muda yang begitu berbaktimemperhatikan ibunya yang sakit seperti Dik Topan.Betul deh! Saya ikut bangga, Dik!” ujar dokter Romeo. Iaduduk ke kursinya kembali. Dari dalam tas dinasnya iamengambil kaleng cerutu tipis yang segera dibukanya.“Cobain cerutu, Dik Topan. Ini cerutu Willem Two,long panatellas. Oleh-oleh kawan dari Singapur. Katanyasih sedaaap. Kita cobain sama-sama.”Ali Topan mengambil sebatang cerutu yang panjanglangsing terbungkus kertas kaca itu. Dibukanyapembungkus bening itu dengan jalan menarik pita kecilmerah jambu yang melingkar di ujung cerutu itu. DokterRomeo mencium-cium cerutunya. Mimiknya lucu sekali.Ia mengapikan cerutu Ali Topan lebih dulu, barukemudian menyulut cerutunya.Aaaagh. Dokter Romeo menghirup cerutunya dengannikmatnya, seolah-olah kepalanya tidak berisi satupunpersoalan yang rumit. Enteng-enteng saja semuanya,seenteng asap cerutu yang berkepul-kepul memenuhiruang. Ali Topan tersedak pada hisapan pertama, karenatak biasa. Asap cerutu itu memang gurih baunya, tapipahit di lidahnya.“Kalu belum biasa memang begitu, Dik Topan. Tapikalau sudah nyandu, wah! Semua pikir an kusut rasanyahilang deh. Jenis cerutu ini memang khas, biasa diisepoleh bankir-bankir di Eropa. Kalau Onassis dan Churchilllain lagi, model cerutunya segede jempol kaki, yang kataorang sekali isep harga asepnya go pek. He he he…”Ali Topan terpaksa nyengir mendengar lelucon itu. Diapikir, di Jakarta mungkin cuma dokter Romeo satu-satunya dokter yang paling unik. Orangnya gaya,jabatannya tinggi, terkenal, tapi los sekali berkawan de-

241 ngan anak muda. Ia hangat sekali, tapi tetap ada wibawa.Dan yang paling penting dia bukan homoseksual sepertioom-oom abnormal yang mulai banyak di Blok M.“Mikir apa lagi, Dik Topan. Bagi-bagi dong sama Oom,jangan dipendam sendiri itu pikiran. Kita stil kawan ajedeh,” kata dr Romeo.“Mikir banyak soal, Oom,” kata Ali Topan sejujurnya.Tanpa sadar, ia telah masuk ke dalam pola “komunikasi”yang diciptakan secara sangat halus oleh dr Romeo, untukmenenangkan jiwanya. Ia tak tahu bahwa dr Romeosudah mengumpulkan informasi tentang siapa danbagaimana keadaan diri dan lingkungan dekatnya daribeberapa sumber. Dokter yang berjiwa sosial dan sudahsering berhasil membantu memecahkan problem anak-anak muda Kebayoran ini, begitu terkesan pada dirinya,dan bertekad untuk membantunya.“Mikir banyak soal? Heh heh heh heh… Banyak manasih dibandingkan problem yang dihadapi oleh PakTjokropranolo ngurus kota Jakarta ini?”Ali Topan mengernyitkan dahinya. Ia sedang mikir,apa hubungannya dengan problem yang dihadapiTjokropranolo? Tentu saja dia tak mengerti, bahwa drRomeo sekadar membuat perbandingan yang beratsebelah itu, untuk menumbuhkan kepercayaan diri AliTopan, bahwa masih ada orang yang punya problem yangjauh lebih besar dari dirinya.“Saya sama Pak Tjokropranolo takeran problemnyalaen, Pak Dokter. Kecuali kalo sekarang nih, saya jadigubernur juga, baru bisa dipake takeran yang sama.Problem dia problem pejabat, sedangkan saya problemanak jalanan…”“Ha ha ha betul juga. Memang cerdas Dik Topan ini,”kata dokter dengan letupan tawa yang spontan. Ali Topan

242 merasa suka dengan pujian tak langsung itu. Dan…hatinya makin terbuka untuk berdialog, hal yang memangdiharapkan oleh dr Romeo.Syahdan, ketika ia merasa bahwa anak muda didepannya sudah menggeser problem dirinya, langsungsaja dr Romeo menggelar riwayatnya tanpa diminta,untuk lebih membuka pintu komunikasi. Ia berkisahbahwa ia orang Banten, ayahnya seor ang ulama yangsudah meninggal dunia digranat Belanda pada masaperang. Terdorong oleh nafsu membalas dendam, padaumur 9 tahunan ia ikut bersama pejuang-pejuang JawaBarat melawan Belanda.Ia sempat mencicipi perang 6 jam di Yogya, dan denganbeberapa temannya yang sepantaran, berhasil menar uhbom di sebuah jembatan yang dilalui dua buah truk tentaraBelanda di kali Kresek. Misi mereka berhasil gemilang.Jembatan terbelah oleh bom dan dua truk Belandaseisinya nyungsep ke kali. Dengan tangannya sendir i,Romeo kecil membedah perut lima tentara penjajah yangsedang sekarat di tebing kali.“Saya dulu buas dan ganas, Dik Topan! Betul-betulnekat karena dendam. Nggak ada perasaan jeri samasekali!” kata dr Romeo, mengenangkan masa lalunya.“Kebuasan saya mereda setelah pada suatu malam sayabermimpi didatangi oleh seorang tua. Beliau sepertimenyuruh saya berhenti menjadi pembunuh.”“Dahsyat!”“Ketika perang selesai saya disuruh milih mau terusaktif dalam ketentaraan atau mau tugas belajar. Saya pilihsekolah kedokteran, sampai jadi. Kalau saya inget-inget,rasanya kayak mimpi buruk saja masa perjuangan dulu,Dik Topan. Yaah, saya bersyukur semuanya sudah lewat.Mohon sama Tuhan, jangan sampai deh ada perang lagi

243 dinegara kita. Sengsara semua, Dik!”Ali Topan tercenung oleh kisah itu. Ia percaya padacerita dr Romeo. Tiba-tiba ia merasa kecil berhadapandengan pak dokter yang pada umur 9 tahunan sudahmembedah perut 5 tentara Belanda! Sedangkan dirinya?Sudah berumur 18 tahun dan belum punya prestasi yangmenggetarkan dada. Bikin headline? Ah! G.M. punbilang, bikin berita gampang, jadi wartawan sukar!Lagipula dia belum tahu persis, belum sadar persis, apamau jadi wartawan betul-betul atau iseng-iseng? J adidetektif? Wah! Dorongan ke dunia wartawan dan detektifseperti main-main saja. Ketemu Harry, G .M, lalu nulisberita kejahatan, dimuat, terus keterusan sampai lahirkisah headline yang lahir dari tangannya itu! Kayak main-main, kok serius. Kalau serius, kok gampang bang et?Demikian juga pendektektifan. Ketemu Karyadi,ketemu Robert Oui, lantas diajak jadi detektif! Buset dah!Kok kayak anak kecil main indian-indianan? Apa diamampu jadi wartawan yang benar-benar wartawan kelak,dia belum yakin. Apa dia mampu jadi detektif yang benar-benar detektif, dia pun belum yakin. Semuanya sepertisudah disediakan untuknya, pada saat dia sedangkelimpungan mengurus dirinya sendiri.Lantas dr Romeo Sandi. Kok orang ini baik betulkepadanya? Terbuka. Ramah. Berhasrat membantu. Ah!Dalam bulan-bulan akhir ini, m uncul soal plus dan minusberturut-turutan. Soal Anna Karenina, soal ayahnya, soalibunya di rumah sakit, semua hal-hal minus! Di pihaklain, Munir, Oji, Har ry, G.M, Robert Oui dan Dr RomeoSandi serta Cut Mina yang baik hati, mereka semuamasuk ke tumpukan plus! Masih ada Dudung danGevaert, walaupun berjauhan, tapi plus dalam batin.“Pak Dokter termasuk pahlawan yang hebat juga ya,”

244 kata Ali Topan, “saya salut deh.”“Ukuran kepahlawanan dilihat dari sudut mana, DikTopan?” tanya dr Romeo sambil tersenyum. Senyuman-nya lebih bersifat rasa gembira karena Ali Topan m ulaiaktif berdialog dibandingkan rasa bangga atas pujian itu.“Pak Dokter sudah pernah membunuh tentara musuhdalam umur semuda itu. Saya umur 9 tahun masih sukamain kyu-kyu sama abang-abang becak…”“Wah, situasi dan kondisinya berbeda, Dik. Lagipula,pahlawan itu bukan cuma tentara yang pernah membunuhmusuh. Tau kan arti kata pahlawan? Orang melakukanperbuatan berpahala. Ada pahlawan tanah air, ada pahla-wan agama, ada pahlawan kemanusiaan. Dan y ang bekensekarang, pahlawan pembangunan…”“Kalau saya…”“Dik Topan termasuk pahlawan lho! Sungguh! Sayabukan omong asal bikin senang hati saja. Saya lihat dikTopan telaten menunggu ibu yang sedang sakit. Itu kantermasuk pahlawan rumah tang ga. Nilai kepahlawan-annya…”“Aaah! Saya bukan seorang anak rumah yang baik,Pak Dokter. Saya sebetulnya…” Ali Topan merunduk,ingat ikhwal keluarganya.Dokter Romeo memasang kuping lebih tajam. Ia inginmendengar pengakuan si anak muda tentang dirinya.Tapi Ali topan tak meneruskan kalima tnya.“Dik Topan…”Pelahan Ali Topan menengadah.“Kalau memang bersifat rahasia pribadi yang besar,nggak usah cerita pada Oom,” kata Dr Romeo, “tapi kalaudik Topan ada kesukaran, apa saja, setiap saat Oom ber-sedia membantu. Insya Allah Oom usahakan bisa mem-bantu,” sambungnya. Kata-katanya adalah pancingan.

245 “Nggak! Ng gak! Tak ada rahasia, pak dokter! Kalautoh itu rahasia, itu sudah menjadi rahasia umum! Siapasih anak Kebayoran yang nggak tahu brengseknyakeluarga saya? Bapak saya tukang maen cabo, ibusaya…”“Pssst! Stop! Saya nggak mau denger yang itu!” tukasdr Romeo. Ia merinding mendengar pembukaan diri yangtanpa tedeng aling-aling itu!Dada Ali Topan turun naik menahan emosi. Akhirnyadia berhasil mengendalikan diri. Bayangan kelabu ru-mahnya digusur nya dari pikiran. Kini ia menghadapi drRomeo dengan lebih rasional. Sosok di depannya itu be-gitu antuasias menawarkan bantuan. Bantuan dalam ben-tuk apa?Yang jelas dan pasti, ia mendengar ucapan Pak Dokter,beliau tak mau mendengar hal-hal bur uk tentang ibu danayahnya. Itu pertanda yang baik. Sebab, banyak orangjustru paling doyan mendengar aib orang lain. Pak Dokterorang baik, itu kesimpulan yang dirumuskannya. Kenapatidak bicara masalah lain, soal profesi yang hendak dite-kuninya, misalnya. Mungkin Pak dokter bisa memberipandangan.Didorong oleh pikiran tersebut ditambah lagi olehdorongan batin yang muncul tiba-tiba dengan sangatkuat, sejenis perasaan hati yang sering menggelegak didadanya untuk bicara atau berbuat pada suatu saat—semacam instink—Ali Topan bermaksud memintapendapat dan pandangan dr Romeo tentang “karier” barusebagai reporter dan detektif partikelir yang dijalaninya.Dengan singkat tapi jelas Ali Topan menceritakanmasalah tersebut kepada dr Romeo Sandi yang penuhperhatian mendengarkannya.“Bukan main! Saya makin kagum pada Anda, Dik

246 Topan! Sungguh!” ucap dr Romeo sesudah Ali Topanbercerita singkat. Pujiannya itu sungguh spontan dantidak palsu. “Saya yakin, Dik Topan bakal jadi orangbesar jika benar-benar mampu menjalankan dua misiyang dahsyat itu! Kewartawanan dan penegak hukum!Itu bidang-bidang pekerjaan yang memerlukan mentaldan fisik yang kuat, Dik Topan.”Mm… bagaimana kalau saya mengusulkan kita tundadulu pembicaraan kita. Saya selesaikan sedikit urusandinas sekarang, dan nanti malam kita sambung lagi dirumah saya . Terus terang saya per lu memikirkan masalahitu sebelum memberi saran dan pendapat. Oke?”“Baik, Pak Dokter.”“Sudah tau kan alamat rumah saya di Simprug?”“Yang ada di kartu nama tempohari?”“Yak! Sekitar jam delapan kita jumpa?”“Ya, Oom! Terimakasih sebelumnya…”“Sama-sama!”Ali Topan pamit. Dokter Romeo membukakan pintuuntuknya. Wajah keduanya berser i-seri.***Jam delapan kurang sepuluh malam harinya, Ali Topansampai di Simprug, sebuah kampung yang mungkinpaling spektakuler di kawasan Kebayoran Lama, bahkandi DKI Jakarta. Lokasinya sekitar satu kilometer dariSenayan. Rumah-rumahnya bukan main! Besar danmegah dengan arsitektur r upa-rupa! Ali Topan pernahmendengar kabar burung bahwa sebuah rumah di Sim-prug itu menca pai harga Rp 400 juta. Kini ia saksikandengan matanya sendiri, kabar itu rasanya memanghinggap di atas kenyataan.Rumah dr Romeo Sandi terletak dua blok dariPerumahan Pertamina yang merupakan kompleks utama

247 di kawasan Simprug situ. Rumah besar berhalaman luasdengan taman teratur itu nyaris meragukan Ali Topanapa benar itu milik dr Romeo—seorang dokter dan bukanseorang pejabat korup—jika pak dokter yang budimanitu tidak mengawe-awenya dari ber anda ketika Ali Topanberdiri termangu di depan pintu halaman.“Masuuuk, Dik Topaaan!” seru dr Romeo. Di sisinyaberdiri seorang wanita semampai dengan senyum secerahbulan.Ali Topan membuka grendel pintu besi, lalu berjalanmenemui tuan rumahnya.“Ini, Mam, dik Ali Topan yang papa ceritakan,” kataDr Romeo. “Kenalkan istri saya, Dik Topan.” Ali Topanmenyalami tangan nyonya rumah yang berwajah tirusdan amat charming.“Tante cantik ya, Oom,” puji Ali Topan. Pujian polos-nya itu sangat komunikatif. Nyonya rumah membelalak,bibirnya dikembangi senyum. Suaminya tertawagembira.“Tuh, Mam, dipuji tuh,” ucap dr Romeo sambil menyo-rong tamu mudanya masuk ke ruang dalam.“Kalau tante masih gadis, bisa pingsan dapat pujianlangsung dari anak muda seganteng kamu, Dik Topan.Terima kasih, ya,” tukas Ny Romeo.Dokter Romeo mengajak anak muda kita duduk disebuah sofa. Istrinya menyetel cassete-deck. La g u Wo rd skarya The Bee Gees dinyanyikan oleh Elvis Presleymengisi kesejukan ruang ber-AC. Beberapa saat AliTopan tercenung, kesengsem penataan ruang yang nyeni.Matanya menjelajahi ruang. Mebel antik, vas bunga dariporselen berisi tiga tangkai anggrek, karpet empuk coklattua yang serasi dengan tembok berwarna beig e, jamdinding bundar dari perak, lukisan besar dua ekor kuda

248 yang sedang pacaran dan beberapa barang lain yang me-nunjukkan selera tinggi, memasuki lensa matanya. Se-buah foto keluarga dengan dua anak lelaki kecil di atasmeja kecil.Nyonya rumah keluar membawa nampan berisi duacangkir Ovaltine dan stoples kecil keripik singkong.“Silakan, Dik…,” Ny Romeo menaruh suguhan, lantaskembali lagi ke dalam.Ali Topan tersadar dari keterpesonaannya. dr Romeosenyum-senyum.“Rumah Pak Dokter bagus sekali.” cetus Ali Topan.“Terima kasih,” kata pak dokter sambil tertawa senang.“Istri saya ikut ngobrol, nggak apa-apa kan?” katanyalagi.“Saya juga ingin dengar cerita yang hebat, DikTopan…,” kata Ny Romeo dari ruang dalam dengansuara merdu. Ia berdiri dengan senyum charming-nya,menanti persilaan dari tam unya.“Cerita apa sih, Tante… cerita saya cerita anak brokenhome,” kata Ali Topan.“Putra-putranya ke mana, Tante?”“Mereka sedang jalan-jalan di kompleks sama bibipembantu.”Beberapa masalah ringan populer tentang film, musikdan cuaca jernih mereka percakapkan sebelum maksuddan tujuan pertemuan sore yang sebenarnya.“Saya sudah pikir-pikir mengenai rencana Dik Topanitu, dan saya dapat simpulkan bahwa kedua bidangpekerjaan itu boleh dijalankan Dik… asal memang dikTopan sendiri yakin dan mantep.” Dr Romeo membukaobrolan inti: “jika keyakinan dan kemantepan itu kua t,sisanya tinggal masalah teknik dan keberuntungan saja.”Ali Topan merenungkan ucapan dr Romeo: keyakinan,

249 kemantepan, teknik dan keberuntungan.“Gimana?” tanya dr Romeo.“Terus terang, Pak Dokter, dalam soal headline yangsaya buat, unsur keberuntungan paling banyak ada. Ke-beruntungan, atau kebetulan… yang jelas, awalnya sayacuma iseng-iseng mengikuti jalan yang ditempuh temansaya, Har ry, untuk mencar i uang sebagai reporter amatirharian Ibu Kota. Saya sendiri kaget sesudah menyadaribetapa hebatnya sebuah berita. Belum habis kejutan itu,datang tawaran Robert Oui itu. Ngajak jadi detektif!Buset! Kayak main-mainan aja, Pak Dokter.”“Hidup memang begitu, Dik Topan. Buat sebagianorang main-mainan, buat yang lain ser ius-seriusan.”Ali Topan teringat kata-kata Munir di Pasar Kagetmalam itu. Jangan gentar, jangan cengeng, janganmelanggar hukum…Nyonya Romeo Sandi duduk tenang sebagaipendengar yang baik. Matanya tak menyembunyikanperasaan kagum dan simpati kepada anak jalanan itu.Anak muda kali ini punya keistimewaan, fisik maupunpembawaannya. Gayanya urakan, tapi daya tarik pribadiyang terpancar dari sepasang mata magnetis dan kata-kata tangkas-tegas yang meng alir dari mulut berbibiracuh tak acuh itu sangat mempesona. Akan banyak gadisremaja dan wanita-wanita setengah tua yang denganmudah jatuh hati dan mabuk kepayang kepada anak mudakontemporer itu.Banyak anak muda masa kini yang berwajah bagus,necis dan “sopan-santun” tapi ia merasakan suatu perbe-daan menyolok antara mereka dengan anak mudabernama Ali Topan yang berpakaian non-challant ini.Ketampanan Ali Topan tegas menunjukkan sifat dansikap jantan yang kuat, sedangkan anak-anak muda lain

250 kebanyakan kebanci-bancian… Diam-diam iamembayangkan, gadis model apa yang beruntung jadipasangan anak muda keren ini.“Kalau langsung bicara masalahnya, bagaimana PakDokter? Terus ter ang, saya bingung mau memulai darimana untuk memecahkan soal penculikan itu. Tadinyasaya pikir gampang kayak film Mannix di tivi… eh, nggaktaunya ruwet banget.”“Namanya juga film Dik Topaaan… lakonnya sudahdiatur semua oleh penulis skenario… heh heh heh…,”cetus dr Romeo. “Iya apa nggak, Mam,” sambungnyasambil melihat ke arah istrinya. Anggukan lembut sangistri menjawabnya.“Apa Pak Dokter punya ide?” tanya Ali Topan dengannada tak sabar. Robert Oui, G.M, headline di kor an IbuKota yang dibuatnya, tiga pembantu rumah Karyadi yangditahan polisi dan wajah Markus yang lucu, tiba-tiba ter-bayang dalam benaknya, susul menyusul. Semua itu me-rupakan dorongan yang kuat untuk bergerak cepat. Jadidia enggan bertele-tele.Ia datang ke rumah dr Romeo bukan mau ng obrol takkeruan, pikirnya . Ada dorongan dari dalam dirinya untukbertindak aktif. Dia nekat dan penasaran… Itu motif yangpaling kuat. Ia merasa bertanggung jawab secar a moraluntuk membekuk penculik Markus dan membebaskanbocah cilik itu, a papun risikonya! Sejak awal, nalurinyamendorongnya untuk melibatkan diri. Samar-samar diayakin, ia bakal berhasil.“Ada ide, Mam?” dr Romeo bertanya ke istrinya.Sebelum menjawab, Ny Romeo berjalan ke cassete-deck,mengganti Elvis Presley dengan Everly Brothers. Bornto Loose dari Don & Phil Everly memberi suasana lebihsendu.

251 “Ide?” tanya Ny Romeo dengan gaya hati-hati sekali.Ali Topan meneguk ovaltine-nya, untuk mengeremketidaksabaran yang mengais-ngais hatinya.Ny Romeo memandangnya dengan gaya dan sorotmata bintang film Barat. Antara acuh tak acuh, hati-hatidan anggun. Ali Topan berdebar “menonton” gaya sepertiitu. Ia buru-bur u menyulut rokok dan mengisapnya cepat-cepat.“Ide? Ada… ada ide… tapi saya tidak tahu apa ide itucocok atau tidak untuk dijalankan,” gumamnya. Di luardugaan Ali Topan, nyonya rumah yang bergaya “lad y”itu mengambil sebatang JPS dari atas meja, menyulutdan mengisapnya dengan kalem.Ali Topan mulai mer asakan suatu keanehan. Kenapadr Romeo menanyakan ide pada istrinya? Dan istrinyastel yakin betul? Ide apaan, sih, pikirnya.“Dik Topan, istri saya ini penggemar buku-bukuAgatha Christie. Terus terang, saya bercerita perkarayang dihadapi Dik Topan. Pulang dari rumah sakit siangtadi, saya berdiskusi dengan beliau, dan… beliaumemang mendapatkan suatu ide yang bagus. Itu alasan,kenapa saya minta waktu untuk mikir tadi siang.Sebenar nya, tantelah yang saya andalkan… Paham?”kata dokter Romeo.Oooo, baru sekarang Ali Topan ngah! Begitu toh dudukpersoalannya? Kini dia langsung menancap konsentrasike arah beliau—nyonya rumah yang “wah” itu… Kinidia melihat dan merasakan, kecerdasan yang tajam danmeyakinkan tersorot dari sepasang mata indah si beliau.“Boleh saya tahu ide itu Tante?” tanya Ali Topandengan lembuuut sekali.“Oooh boleh, sangat boleh…,” sahut Ny Romeodengan kelembutan yang menyejukkan.

252 Kemudian dengan kata-kata panjang ia memaparkanide yang “dikarangnya” menjadi sebuah perencanaanuntuk memecahkan perkara penculikan Markus Karyadi.“Pertama saya ingin mengucapkan selamat dan semogasaya tidak lupa berdoa agar Dik Topan senantiasa menda-patkan keselamatan dalam langkah-langkah besar dalamhidup hidup Adik. Dua bidang pekerjaan yang entahkebetulan entah tidak, telah adik pilih memang sepertiimpian. Artinya, profesi jurnalis dan penegak hukum,indah dalam impian tapi belum tentu dalam kenyataan.Dua-duanya ber landaskan idealisme, dua-duanyamenuntut daya imajinasi yang kuat, tapi dua-duanya pulaharus didasarkan pada data dan fakta!” kata Ny Romeo.Kelembutannya sebagai wanita anggun mendadak jadikuat oleh ketangkasannya berbicara. Ali Topan kagum.“Jika Dik Topan belum mengerti, mungkin pada suatusaat kelak mengerti apa yang sa ya maksudkan. Nah, sayamau langsung saja memaparkan teori yang saya reka-reka berdasarkan informasi dari suami saya mengenaiperkara penculikan itu. Seharusnya, menurut buku-bukuyang pernah saya baca, orang tidak dibenarkan membuatteori dengan data yang bersifat seperti kicauan burungitu. Namun saya percaya pada apa yang dikatakan suamisaya, dan suami saya juga percaya penuh pada Dik AliTopan. Jadi, walaupun tidak langsung, saya anggapinformasi itu punya beberapa kebenaran…,” Ny Romeomenghentikan ucapannya. Matanya menatap tajam keAli Topan. Yang dipandang menatap balik, sorot matanyamencerminkan semangat dan pengertian.“Mikir apa?” kata Ny Romeo dengan nada manis. AliTopan tersenyum, tak kalah manis.“Saya mikir…seharusnya yang jadi detektif itutante…”

253 “Tuuh, tuuh, pujiannya nggak habis-habis, Mam,”tukas dr Romeo dengan gembira. Ia gembira mendengaristrinya sangat antusias kali ini. Biasanya, menghadapi“teman-teman mudanya” yang lain, sang istri cumamenanggapi biasa saja.“Pujiannya jujur kok, Pap…,” kata Ny Romeo.Ah! Ali Topan senang sekali mendengar dialog suami-istri yang hangat itu. Dadanya terasa hangat, turutmerasakan keharmonisan mereka. Bahagia sekali.“Saya teruskan ya Dik… Saya mulai dari fakta. Fakta-nya, ada seorang anak kecil hilang. Namanya MarkusKaryadi. Ayahnya penyanyi pop yang baru datang dariJerman. Ibunya seorang Jerman bernama Angela.Mereka baru beberapa bulan di Indonesia. Konon, kataKaryadi mereka tai mempunyai musuh. Tiga pembanturumah tangga mereka meringkuk di tahanan polisi karenadisangka ada hubungan dengan hilangnya korban, a taupaling tidak, mereka sehar usnya tahu dan oleh karenanyadiharuskan bertanggung jawab? Benar begitu, DikTopan?”“Ya! Benar!”“Kemudian saya tiba pada apa yang disebut motif ke-jahatan. Artinya, setiap kejahatan selalu punya motif ter-tentu. Ada motif ingin membalas dendam, ada motif inginmendapat keuntungan material dan lain sebagainya.Seorang penjahat, melakukan kejahatannya, langsungatau tidak langsung didorong oleh satu atau lebih interestatau kepentingan, begitu deh kesimpulan gampangnya.Nah, dalam perkara hilangnya Markus Karyadi sampaidetik ini yang namanya motif itu sama sekali belum jelas.Paling tidak, belum ada bukti kongkrit, apa bocah ituhilang diculik atau dimakan genderuwo atau nyasar kesarang macan atau dan atau lain lagi.”

254 Ali Topan ketawa geli mendengar kata-ka ta lucu itu.Pandai sekali wanita ini, pikirnya. Pandai mereka-rekateori dan pandai pula menghanyutkan orang dengan kata-katanya. Selera humornya pun tinggi pula. Pakai rayuanapa dr Romeo dulu berhasil memperistri perempuanistimewa ini?“Yang terakhir, soal teknik kejahatan. Jika memangbenar si korban hilang diculik orang, sampai detik inisaya cuma bisa menduga bahwa penculiknya memakaiteknik ala UFO. Tau UFO, Dik?”“Unidentified f lying object alias Gatotkaca,” sahut anakmuda kita dengan humor yang menggigit pula. NyRomeo dan suaminya tertawa.“Sekarang kita mau apa? Atau lebih tepatnya kita maumulai dari titik mana untuk menerangkan perkara ini?”tanya Ny Romeo melemparkan kembali problem kepadaAli Topan.Anak muda kita mengerti, si nyonya ingin nge-tesintelegensinya. Secara jujur saja, kali ini ia merasa bodobetul-betul. Belum bisa mikir apa-apa. Yang dia punyacuma feeling. Seorang anak kecil hilang di kota Jakartayang luas dan keruh, hilang seperti ditelanbumi.Informasi lainnya belum ada. Dari mana dia harusmulai? Tapi dia merasa penasaran jika hanya berdiamdiri tanpa bikin apa-apa. Lagipula, headline yangdibuatnya membuat perasaannya sebagai satu-sa tunyaorang yang paling bertanggung jawab untukmenerangkan perkara ini. Dia merasa ada di titik yang takmungkin kembali, yang dalam bahasa Inggrisnyadibilang “the point of no retur n.”“Kita mulai dari feeling,” gumamnya spontan. Sepertiada orang yang mendorong ucapan itu keluar, se pertibukan kesadarannya sendiri.

255 Tak dinyana Ny Romeo tersenyum lebar.“Ya! Dari feeling! Atau lebih tepatnya lagi dari intuisikita. Seperti orang tersesat dalam suatu tempat asing yanggelap gulita, maka feeling atau naluri kita yang biasanyamenunjukkan jalan keluar. Nah, feeling anda bagaimana,Dik Topan?” kata Ny Romeo.Gelo! Ceplosan gue pas betul! Tapi gue diuber lagisama tante yang cerdas ini, pikir Ali Topan. Kini diamemusatkan perhatian.“Feeling saya… atau naluri saya mengatakan bahwaMarkus Karyadi memang hilang diculik orang.”“Lalu?”Macet! Feeling Ali Topan macet sampai disitu. Ia takpunya gambaran tentang motif si penculik.“Baru sampai di situ saja, Tante ….”Ny Romeo memandang suaminya. “Gimana, Papa?”“Teruskan saja,” ka ta suaminya. Dia lebih mengambilsikap sebagai penonton atau pendengar saja.“Dik Topan sudah menyelidik orang yang bernamaKaryadi itu?”Ali Topan menggeleng.“Dalam setiap kejahatan, setiap orang dianggapmungkin melakukan kejahatan, sebelum ada petunjukyang pasti. Tiga pembantu rumahtangga yang ditahan itukena ciduk pertama kali, mungkin karena mereka orang-orang kecil yang tak berdaya. Di Amerika, menur ut buku-buku yang saya baca, polisi hanya dapat menahantersangka kejahatan paling lama dua puluh empat jam.Jika si tersangka terbukti bersalah, bisa ditahan lebihlama, tapi jika tidak terbukti, harus dilepaskan. Apakahdia sopir taksi atau anak kepala kepolisian federalsekalipun, sama kedudukannya di depan hukum. Tapi diIndonesia memang lain. Orang-orang kecil yang tak

256 berdaya dan tak punya beking, cenderung dianiaya.”Ali Topan teringat Robert Oui. Detektif Partikelir itumengatakan hal seperti itu.“Untuk apa kita perlu menyelidiki latar belakangkehidupan Karyadi?” tanya Ali Topan.“Untuk mencari latar belakang perkara ini. Mungkinada hubungan antara masa lalunya dengan penculikananaknya. Paham, Dik Topan?”“Saya belum bisa menangkap, Tante…”“Pihak yang paling terkena kan a yah dan ibu si Mar kustoh? Ibunya, orang Jerman itu, punya masa lalu di J ermandan baru pertama ke Indonesia. Jadi, jika ada pihak lainyang punya dendam atau ingin merugikannya, ada diJerman sana. Sedangkan Karyadi orang Indonesia,pernah punya masa lalu di sini, jadi kemungkinannyalebih besar. Mengerti?”“Jadi … hilangnya Markus mungkin ada hubungandengan masa lalu ayahnya sebelum ke luar negeri?”“Itu salah satu kemungkinan. Mungkin masih banyakkemungkinan y ang lain. Dan jangan lupa, teori ini kitadasarkan semata-mata dari rekaan, analisa. Ini berarti,bisa benar, bisa ngawur sama sekali.”Kini Ali Topan mengerti. Ia mengangguk-anggukkankepalanya.“Nah, itu lho ide dari teori saya, Dik Topan. Jika cocok,boleh dikembangkan, jika tak cocok, yaah, lupakansaja…,” kata Ny Romeo.“Jadi menurut Tante, kemungkinan Karyadi punyamusuh pada masa lalu yang ingin membalas dendamsekarang?” tanya Ali Topan. Dengan begitu, iamenunjukkan selera yang cocok dengan “teori” sinyonya.“Itu cuma kemungkinan saja. Tak ada salahnya kan

257 menyelidiki segala sesuatu yang mungkin adahubungannya dengan kasus ini?”Yak! Ali Topan merasa paham dengan teori Ny RomeoSandi. Wajahnya tampak puas. Matanya bersinar-sinarpertanda kagum pada wanita “hebat” itu.“Saya coba kembangkan, Tante. Terimakasih,”ucapnya. Ia menoleh ke ar ah Dr Romeo yang tenangmengisap cer utu Willem II. Sepasang mata Pak Doktertak menyembunyikan rasa bangga kepada istrinya.“Jika teorinya kena, hebatnya pangkat dua,” sahut pakdokter. “Nah, kita ngobrol yang lain yang enteng-entengdeh. Kalo kelewat serius, bisa cepet tua, Dik Topan,”sambungnya sambil menyodorkan cerutu pada anakmuda kita. Ali Topan menolak cerutu itu. Ia menunjuk keJPS milik Ny Romeo. “Kalau boleh saya merokok JPSsaja,” katanya, “Jin Pulang Subuh,” lanjutnya.“Silakan, silakan,” kata Ny Romeo. Nyonya budimanitu menjumputkan sebatang rokoknya untuk Ali Topan,sembari ngakak bersama suaminya.“Lucu,kamu!” cetusnya.“Sebelum saya lupa, mungkin tak ada salahnya kitamengontak IDA, Papa.”“Oke, nanti papa yang kontakkan,” sahut Dr Romeo.“Ida? Ida siapa Tante?” tanya Ali Topan.“Ikatan Dokter Anak. Menurut pikiran sa ya, jika benarsi Markus diculik, kemungkinan besar si penculik bisarepot oleh satu soal, anak yang diculik itu jatuh sakitkarena tekanan kejiwaan yang dialaminya. Alamat yangtepat kan dokter anak-anak. Di Jakarta ini ada beraparatus dokter anak-anak? Lewat organisasi mereka, kanlebih mudah mengusut jejak si penculik jika satu saat diaatau mereka benar-benar memerlukan seorang dokteruntuk si Markus.”

258 Sekali lagi Ali Topan mengakui keberlianan otak NyRomeo.“Prima, Tante!” pujinya.“Primadona Suci? Hih hih hih,” cetus Ny Romeo,“jangan terlalu banyak memuji, nanti melayang ke langitkalau saya nggak kuat,” ucapnya lagi. Namun ia takmenutupi keriangan hati oleh pujian jujur anak mudakita. Rasa kewanitaannya tergetar oleh pancarankejantanan Ali Topan…..Selanjutnya mereka berbincang-bincang ringan soalgadis-gadis cantik zaman sekarang, kisah pacaran suami-istri itu pada masa lalu, dan urusan pop lainnya . Walaupunbaru kenal, Ali Topan merasakan keintiman dalamhatinya.Setelah merasa cukup ngobrol, Ali Topan cabut.***

259DELAPAN BELASEsok harinya, Ali Topan menyampaikan teori NyRomeo ke Robert Oui. Detektif itu sangat tertariksekaligus mendukung “teori” ter sebut. “Palingtidak, sebagai alternatif pertama yang masuk akal, bisakita kembangkan,” katanya. Ia berjanji untuk menyelidikimasa lalu Karyadi untuk “menyempurnakan” teoriterse but.Kemudian Ali Topan ke Ibu Kota. G.M pun tertarikdan mendukung “teori” sederhana terse but. “Sederhana,nyaris naif, tapi tak bisa disangkal bahwa teori NyonyaRomeo Sandi itu mengandung hal-hal yang masuk akal,”katanya, “untuk eksperimenmu tak ada salahnya.” Secaramaterial pun, wartawan senior itu mendukung Ali Topan.Ia berjanji mengusahakan dana—dalam batas-batas yangmungkin—untuk kelancaran “tugas” wartawanjalanannya yang berbakat itu.Sesudah itu, hari-hari “perbur uan” pun berlangsung!Dari Dr Romeo Sandi masuk data informasi bahwaIDA siap berpartisipasi. Organisasi itu memberikandaftar nama anggotanya yang tersebar di 5 wilayah kotaJakarta dan berjanji untuk memberikan info lebih lanjutjika terjadi hal-hal yang terasa “aneh” dengan pasienmereka. Sebaliknya, IDA memperoleh beberapa r atuseksemplar Ibu Kota yang memuat berita utama y angdibu at Ali Topan. Suratkabar itu dikirimkan ke setiapanggota IDA agar lebih jelas memahami persoalan danbisa mengenali wajah si korban.Dari Robert Oui pun masuk info yang

260 menggembirakan mengenai masa lalu Karyadi!Penyanyi pop itu bernama lengkap Karyadi Purbanegara.Ayahnya, Kosasih Purbanegara, diplomat senior. Merekaberasal dar i Bogor. Famili Purbanegara termasuk familibesar dan terkenal di Jawa Barat. Karyadi anak sulung.Adiknya dua orang, lelaki dan perempuan. Yang lelakibernama Karyana, si bungsu perempuan bernamaKarnasih.Pada usia 15 tahun, Karyadi dan adik-adiknya turut keWina, Austria, karena ayahnya bertugas di kedutaannegeri itu. Karyadi, pemuda badung , berbeda denganadiknya yang termasuk “anak baik-baik” dan patuh padaorang tua. Dua adiknya lancar sekolah, sedangkanKaryadi putus dan jadi berandal bersama anak-anakIndonesia yang kacau balau. Ia lebih suka bertualang,menjelajahi kota-kota besar Eropa. Berfoya-foya danbikin skandal macem-macem.Beberapa kali ia membuat skandal yang memalukanbahkan membahayakan nama baik dan kehormatanayahnya. Pernah ditangkap polisi di sana karenamengisap marijuana dan menyimpan obat-obat bius,pernah pula diadukan oleh seorang pelacur dan digebukioleh tukang-tukang pukul pelacur itu karena “habis asoi-asoian tapi tak mau bayar.”“Ck! Ck! Ck! Darimana dapat info begituan, Rob?”tanya Ali Topan.“Dari beberapa sumber, antara lain dari mulut Karyadisendiri waktu saya tanya,” sahut Robert Oui., “dan masihada lagi yang lebih eksklusif!”“Apa?”“Umur tujuh belas tahun, ia dikirim pulang olehayahnya. Tapi di sinipun ia bikin skandal, lebih tepatlove-affair yang cukup gawat. Gawatnya itu bukan buat

261 dia tapi buat si perempuan yang konon jadi pacarnyawaktu itu. Dia pernah meniduri seorang perempuansampai hamil, ta pi kemudian kehamilan itu digugurkansecara ilegal, di Sukabumi. Nama perempuan itu Nurita.Karyadi kumpul setahun penuh dan berjanjimengawininya. Menurut kabar, Nurita jatuh hati betulpada penyanyi pop itu. Sampai pada suatu hari, dengantenang Karyadi terbang kembali ke Eropa, tanpa pesanpada Nurita. Dari sana ia cuma mengirim selembar kartupos bergambar kepada Nurita. Ia memutuskan hubungandengan gadis malang itu. Nurita langsung shock danbahkan sempat dirawat oleh psikiater selama berbulan-bulan akibat pengkhianatan Karyadi.”“Ck! Ck! Ck! Kalo yang ini info dari mana, Rob?”tanya Ali Topan takjub.“Info dari sumber lain. Info ini boleh dibilang berkah,boleh juga dibilang kebetulan, Pan! Yang kasih info ituseorang mahasiswi Kedokteran Panca Sakti. Dia temanPinky, namanya Nur Ranti. Nur Ranti itu adik sangpsikiater y ang merawat Nurita. Dia tahu banyak soalNurita setelah ditinggalkan Karyadi. Abangnya—sipsikiater itu—rupanya begitu simpati sampai akhirnyajatuh cinta pada Nurita. Tapi Nurita tak dapat melupakanKaryadi, entah cinta Karyadi entah pengkhianatannyayang tak bisa dia lupakan. Yang jelas dia menampik cintasang psikiater!”“Buset! Kayak cerita film aja, Rob! Dahsyat jugakelakuan tokoh kita itu, Rob! Rasa-rasanya teori NyRomeo sudah mulai berbentuk nih!”“Ogut pikir juga begokit, Pan! Kalo mau habis-habisan,masih ada lagi info tentang orang rusak itu.”“Gelar aje, Rob, gelaaar,” sahut Ali Topan.“Rupanya, di samping punya darah gile, tokoh kita itu

262 juga punya darah seniman. Entah g imana ceritanya, iaditerima kembali oleh ayahnya di Wina. Terus dia ambilkursus musik dan bergaul dengan m usisi di sana. Sampaiakhirnya dia sukses dan dapet nama sebagai penyanyipop di Eropa sana. Buntut-buntutnya, doi kokaw samaperempuan bule dan punya anak yang namanya MarkusKaryadih!”Ali Topan ngikik mendengar tekanan “h” ketika Rober tOui menyebut “Karyadih” dengan dialek Sunda.“Terus…dae lagi?”“Terus kite yang dikerjain sampe pusing nyarianaknye!”Begitulah hasil penyelidikan Robert Oui yang “disam-paikan” kepada Ali Topan. Dia menambahkan bahwaNurita menghilang dari rumah pamannya di JalanCisadane, Jakarta Pusat tempat ia “dititipkan” olehorangtuanya. Kini keluarganya sibuk mencari-cariNurita.Nyonya Romeo Sandi dan suaminya gembiramendengar infor masi yang positif itu, ketika Ali Topanmenghubungi mereka.“Jika ternyata teori Tante benar-benar pas, saya kasihbintang deh, Tante,” kata anak muda kita kepada NyRomeo.“Bintang apa?”“Bintang penghargaan dari prop Coca Cola.”“Emoh aku! Kalau kamu petikkan bintang betulan darilangit ke tujuh sih, Tante mau…”***Kemudian perburuan dilanjutkan!Robert Oui dan “asistennya” membagi tugas. Robmenggarap Karyadi, kantor polisi dan sumber-sumberlain, Ali Topan menggarap sumber dari Nur Ranti. Dar i

263 dua wilayah itu, mereka membuat titik pertemuan diNurita. Sementara itu, Harry tak bisa 24 jam penuhmenemani Ali Topan. Ia membur u berita kota yang rutindan “menggarap” babu-babu langganannya.Yang agak di luar dugaan, Pinky dengan sukarela“menawarkan” jasa untuk menemani Ali Topan “jikadibutuhkan.”“Ati-ati doi jato cinte sama lu, Pan,!” canda RobertOui.Ali Topan cukup paham. Rasanya memang Pinkymenampakkan gejala orang minta perhatian, tapi anakmuda kita yang baru berpisah dengan Anna Kareninaberhati-hati untuk tidak “gampang-gampang”kesandung! Walaupun ia akui Pinky seorang gadis yangmenarik hati.Dibandingkan dengan Anna Karenina, kemolekanPinky berbeda. Ali Topan menandai, sejak dia sering kerumah Robert Oui, Pinky tampak lebih “in” dalamberpakaian maupun berdandan. Walah, padahal AliTopan lebih sreg pada gadis yang natural. Tapi dia takberkomentar. Cuma memba tin saja.Pinky membentuk alisnya seperti bulan sabit, mem-blow rambutnya, pakai bayangan mata, merah-merahpipi, dan baju-baju dari butik, didiamkannya saja. Takpernah sedikitpun dia komentari. Padahal, Pinkysetengah mati mengharapkan pujian atau sepatahkomentar deh dari Ali Topan. Sering Pinky menawarkanberenang bersama-sama di Hotel Indonesia atau HotelBorobudur, main ice-skating di Senayan, main bowling,makan seafood di Yun Nyan yang kesohor “ngiler in” tapiAli Topan menolaknya dengan tenang.Lama-lama anak muda kita membaui semacam“pembelian perhatian” atau cara menarik perhatian

264 berbau material dar i Pinky. Sungguh mati dia tak sukayang macam begitu! Ia tinggalkan rumah dan hartapapanya yang melimpah karena bukan itu yang iabutuhkan.Satu hal yang pernah dia minta pada Pinky, yakni mintadikenalkan dengan mahasiswi yang bernama Nur Ranti,untuk keperluan informasi. Tapi Pinky berbelit-belit,yang inilah yang itulah, pokoknya dia sepertimenghalangi. Pinky tak memberi tahu alamat si gadisyang bernama Nur Ranti itu, dan dia pun tak maumembawa Nur Ranti ke rumah Robert Oui untukberkenalan dengan Ali Topan.“Dia sudah punya pacar! Nggak bagus kenal-kenalansama dia! Nanti pacarnya marah, kamu bisa ditembaklho? Pacarnya kan…”“Ya udah kalo nggak mau ngenalin,” tukas Ali Topanwaktu itu. Dia merasa aneh, kok Pinky ng otot nggak maungenalin dia ke Nur Ranti. Apa hubungannya Nur Rantisudah punya pacar atau udah punya anak kek. Gue kancuma mau nanya info, bukan mau macem-macem.Anjing nih si Pinky, demikian gerutuan batin Ali Topan.Maka dia memutuskan untuk mengkontak Nur Rantitanpa bantuan gadis itu. Nggak pake pinky-pinky-an,demikian tekadnya.***Kantin Fakultas Kedokteran Universitas Panca Saktidisesaki mahasiswa dan mahasiswi y ang sedang makan.Jaket-jaket biru, T-shirts dengan slogan-sloganmahasiswa, buku-buku tebal, tawa ria renyah dan sendaugurau khas kampus mewarnai suasana. Urakan tapinggak norak. Semuanya itu mer upakan tontonan barubagi Ali Topan yang duduk di sebuah kursi menanti NurRanti. Sudah lebih satu jam ia menanti, tapi mahasiswi

265 itu belum muncul di kantin. Pada waktu datang tadi, iabertanya kepada encim pemilik kantin dan encim ituberjanji akan menunjukkan secara diam-diam—sesuaipermintaan Ali Topan—bila mahasiswi itu datang.Ali Topan sudah menghabiskan dua gelas teh manisdan sepiring gado-gado. Asbak di mejanya sudahmenerima 4 batang rokok yang diisapnya dalampenantian itu. Sudah dua rombongan mahasiswi yangdatang dan pergi dari mejanya. Mereka—mahasiswiitu—setiap rombongan terdiri dari tiga orang dudukmengisi tiga kursi yang kosong di meja Ali Topan.Ali Topan tak tahu bahwa sudah enam mahasiswi—yang semeja dengannya—kesengsem oleh kehadirannyadi kantin fakultas.Ali Topan sudah mulai dirambati rasa kurang enak,ketika akhirnya ia menyadari beberapa mahasiswiberbisik-bisik dan mengikik kecil serta mencuri-curipandang ke arahnya. Berkali-kali Ali Topan memandangke arah encim tapi si encim rupanya sedang sibukmelayani pesanan makanan dan minuman untuk paramahasiswa.Ali Topan kebelet kencing. Ia menaruh sisa rokok dankorek apinya di mejanya sebagai tanda kursi itu“miliknya.” Kemudian ia bertanya kepada seorangmahasiswa di mana WC. Mahasiswa itu menunjuk kearah dalam gedung. “Di dekat laboratorium,” kata simahasiswa itu.Ali Topan berpapasan dengan empat mahasiswi manis-manis ketika mereka amprok. Empat gadis lawan satuAli Topan! Serrrr…! Tergetar perasaan Ali Topan ketikapandangan matanya amprok dengan tatapan seorang diantara empat mahasiswi itu. Cuma sedetik, bahkanmungkin tak sampai sedetik. Lantas mereka bersirobokan

266 jalan. Empat gadis menuju kantin, Ali Topan menujuWC.“Anak fakultas mana sih? Teknik ya?” bisik seoranggadis yang ber T-shirts Universiti Malaya.“Nggak tauk. Kayaknya nggak ada anak teknik sekerendia. Anak teknik kan tampangnya kayak mesin semua,”sahut rekannya yang pakai rok Levi’s. Tiga temannyaketawa serempak, terkikih-kikih mendengar joke yangpas itu. Seorang yang memakai kulot coklat dengankombinasi baju longar sutra krem dengan motif gor esanekspresionis merah bata cuma tersenyum renyah. Seder etgiginya yang putih bersih seper ti sederetan mutiara diwajahnya yang antik. Tatapan mata gadis inilah yangsepersekian detik tadi menggetarkan perasaan romantikdi hati anak muda kita.Ali Topan tertegun ketika kembali ke kantin, mendapatikursi-kursi mejanya sudah diduduki keempat gadis tadi.Yang paling menegunkan adalah, si gadis yangmenggetarkan hati itu menduduki kursi “miliknya.”Sesaat Ali Topan terdiam di pintu kantin. Gadis-gadistadi serempak melihat ke arahnya. Si gadis yang duduk dikursinya cuma melihat sekilas, kemudian merunduk acuhtak acuh.Ali Topan berjalan ke kursinya. Tadinya ia bermaksudmeminta kembali kursi yang masih menjadi haknya.Serenta dia berada tepat di dekat gadis-gadis itu, niatnyadibatalkan. Soalnya? Si gadis yang duduk di kursinyamelihat ke arahnya sekali lagi. Agak lama keduanyabertatapan. Sorot mata mereka seakan bersintuhanlembut sekali, seakan saling membelai dan salingmengikat di dalam simpul tali perasaan yang takterlukiskan.Ali Topan tak sedikit pun berusaha menyembunyikan

267 keterpesonaannya memandang si gadis. Wajahnyaperpaduan antara garis-garis cantik dengan sapuan manisyang natural. Kedua tulang pipinya menyembul pasmenjadikan wajahnya yang bulat telur sungguhmengesankan. Alisnya lebat dan asli menghias wajahnya,seperti milik seorang puteri dalam dongeng kanak-kanak.Rambutnya agak ikal, dipotong seperti Putri Caroline,istri Philippe Junot. Bibirnya membentuk keramahanyang sedikit merangsang namun sama sekali jauh darikesan murahan.Wah! Dalam majalah hiburan yang banyak memuatbintang film ayu pun, Ali Topan belum pernahmenemukan wajah seperti milik gadis yang mendudukikursinya itu.“Maaf, saya mau mengambil rokok dan korek apisaya,” kata Ali Topan pada si gadis yang menggetarkanitu, setelah ia tersadar dari detik-detik tak sadar yang barudirengkuhnya.“Oh!” Si gadis memekik halus. Wajahnya yang coklatmuda seperti tembaga, menahan perasaan gugup.“Apakah ini kursi kamu? Maaf, ya,” katanya sambilbergegas bangkit.“Nggak apa-apa, duduk saja. Saya cuma mau ngambilrokok…,” tukas Ali Topan dengan “gentle”. Si gadisduduk kembali dan… dengan sigap ia mengambilkanrokok dan korek api Ali Topan. Sempat telapak tanganmereka bersentuhan. Disertai senyuman yang hangatsekali dan sepasang mata yang berkejap-kejap menahanlikat, anak muda kita seperti tersihir seketika.“Terima kasih,” bisiknya.“Saya juga terima kasih ya,” bisik si gadis itu.Ali Topan masih menggenggam rokok dan koreknyaketika terpandang olehnya kerjapan mata encim pemilik

268 kantin. Pandangan mata si encim tertuju persis ke gadisyang menakjubkan itu. Srrr! Berdesir lagi hat i Ali Topan.Gadis yang dia nantikan, diakah gerangan?“Kamu mau pesen apa, Ranti?” tegur gadis ber T-shirtsUniversiti Malaya.“Allah! Memang dialah orangnya!” pekik hati AliTopan. Riang hatinya menemukan gadis yang dia cari—entah kenapa—menjadi riang berlipat-lipat ganda tatkalatahu gadis itulah orangnya.“Aku minum aja deh, Dita,” sahut sang gadis.“Gimana sih kamu Ranti, tadi bilang laper, pinginngebakso, kok sekarang mendadak nggak jadi. Ada apasih?” tegur gadis bernama Dita itu. Tegurannya sepertiseorang kakak terhada p adik yang dimanjakannya. AliTopan terkesiap ketika mata Dita berubah galak menyapumatanya. Untuk menjaga agar tidak salah tingkah, AliTopan segera berjalan ke amoy yang bertugas sebagaikasir. Ia membayar makanan dan minumannya. Dan…dalam tempo sepersekian detik, ia memutuskan untukmenegur gadis yang ditunggunya.Didengarnya Dita menyalak, memesan makanan danminuman. Ali Topan melirik. Srrr… lagi. Lirikannyaamprok dengan lirikan gadis natural itu.Sesudah menerima uang kembalian, Ali Topanmengempos semangatnya. Kemudian, dengan langkahyakin, dia menghampiri si gadis. Anak muda kita takpeduli betapa Dita dan dua temannya plus sekian pasangmata mahasiswi dan mahasiswa lain mengawasigerakannya dengan pandangan aneh. Ia berdiri disamping si gadis lalu berkata lirih: “Apakah kamubernama Nur Ranti? Saya menunggu kamu.”Si gadis tiba-tiba menatapnya dengan waspada.“Kamu siapa?” tegurnya dengan nada asing.

269 “Say a Ali Topan mmm saya kenalan Pinky. Kalauboleh, saya ingin membicarakan sesuatu dengan kamu.”“Soal apa?” suara si gadis meninggi.Dan …, “Eh! Eh! Kalau mau urusan sama Nur Rantimusti minta ijin dulu sama gue ya! Jangan slonong boybegitu caranya!” tegur Dita. Suaranya tandes, nadanyaketus memang, tapi Ali Topan tak melihat tampangnyebelin dari sang penegur. Tampaknya Dita mau main-main.“Ditaa, apa boleh saya omong-omong dengan NurRanti?” tanya Ali Topan dengan tenang.Mak! Si Dita tersipu-sipu.“Sialan lu, belum kenalan udah tahu nama gue!” kataDita dengan ketus yang dibikin-bikin. Tapi matanya takbisa lagi menyembunyikan riang hatinya.Nur Ranti dan dua temannya lagi tersenyum lebar. Ditamerah wajahnya. Dia tak sangka si “slonong boy” ituberani nyeplos begitu.“Boleh ngoceh, tapi keluarin dulu kartu mahasiswakamu, biar jelas identitas kamu. Sorry, sekarang banyakmahasiswa palsu.” Dita bergaya seperti seorang rakanitamemelonco camanya.Tiba-tiba Ali Topan merasa “neg .” C ew ek y a n gnamanya Dita dianggapnya kelewatan centil. Tadi sihmasih bagus, tapi lama-lama kok nyebelin? Ali Topanmerasa tertembak langsung ketika Dita nanya kartumahasiswa!“Saya bukan mahasiswa. Saya pengangguran, Mbah!”kata Ali Topan dengan dingin. Matanya menatap tajam,sadis dan meremehkan mahasiswi centil itu. Dita jadisalah tingkah dibegitukan.“Ranti…’” gumam Dita. Ia berusaha mengalihkanpandangan “mengerikan” itu.

270 Nur Ranti mengerti.“Kamu ada perlu apa sama saya? Mana Pinky?” tegurNur Ranti. Suaranya yang bening dalam nada“bersahabat” mencairkan rasa “neg” Ali Topan pada Dita.“Saya ingin bicara berdua saja. Bisa?”Nur Ranti nyureng. Ini anak kok nekat amat, maungapain sih? Pikirnya. Sekejap Nur Ranti memandangteman-temannya. Mereka memandangnya dengan netral.“Kalau kamu mau tunggu kami minum, boleh saja.Tapi saya cuma punya waktu sebentar.”“Terima kasih,” kata Ali Topan. Ia mengangguk sopanke arah Nur Ranti, Dita dan dua temannya, kemudianberjalan keluar.Nur Ranti seakan lupa pada persyaratan yangdiajukannya sendiri, ketika Ali Topan duduk dihadapannya. Mulanya, setelah tiga temannya pergi lebihdulu, ia agak was-was pada Ali Topan. Tapi, ketikadengan lembut, Ali Topan menyalami tangannya,kemudian dengan lembut pula menerangkan maksud dantujuannya, Nur Ranti malah ingin ber lama-lama ngobrol!Namun gadis ayu itu bisa menguasai perasaannya.Lagipula ia merasa gerah melihat beberapa mahasiswadan mahasiswi memandang ke arahnya dengan sinarmata curiga.Baru sedikit Ali Topan mener angkan maksudnya, NurRanti sudah memutus pembicaraan.“Eh, maaf y a…saya ada perlu lain saat ini,” katanya.Kemudian, dengan nada berbisik dia bilang: “Kalaukamu mau, kamu boleh dateng ke rumah saya nanti sore.Komplek MPR Cilandak, Nomer 41 BT.”Tanpa menunggu jawaban, ia segera bangkit danbergegas meninggalkan kantin itu. Ali Topan mer ekamalamat si gadis di dalam benaknya. Kemudian ia pun

271 berlalu dari situ.***Lain di kampus, lain pula sikap Nur Ranti ketika AliTopan mengunjunginya di rumahnya. Memakai kulotbiru muda dari bahan curduroy dikombinasikan denganT-shirts putih dengan lencana Merah-Putih—yangsedang jadi mode di kalangan anak muda—di dadakanannya, Nur Ranti menyambut Ali Topan denganwajah cerah. Kakinya nyeker, hingga Ali Topan denganjelas bisa mengagumi bentuk kakinya yang bagus danbetisnya yang indah. Untuk beberapa saat Ali Topan takmampu bicara apa-apa. Ia seperti tersihir oleh keindahanalamiah yang ditampilkan oleh Nur Ranti. Ayu-cantik-manis dengan tubuh semampai eksotik-sopan, Nur Rantisungguh menawan segenap sel jiwanya!Gadis dalam impian, begitu kata hati Ali Topan. Iakesengsem betul. Dan … Anna Karenina makin jadi titikyang jauuuh di hatinya.“Hah, jangan bengong! Kan kamu kesini bukan untukbengong-bengongan?” goda Nur Ranti.“Kamu maniiis sekali ya, Ranti,” bisik anak muda kitadengan spontan. Kejujuran hatinya tak terbendung lagi.“Heh! Baru kenal udah ngerayu lagi! Mau jadi playboyya kamu! Aku ngeri sama playboy, tau nggak? Kalaukamu ngerayu lagi, aku usir kam u lho,” tegur Nur Ranti.Ali Topan kaget.“Eh, maaf! Mulut saya nih emang suka plas plos. Maaf,ya Ranti. Nggak deh, saya nggak muji lagi. Saya bukanplayboy kok!”Nur Ranti bercekat mendengar kata-kata polos itu.Sekarang dia balik “bengong” merenungkan perkataantamunya. Mereka berpandangan sesaat, lantas salingtersenyum manis. Hati keduanya sama-sama berdesir.

272 Uuuuh, ada apa sih, kata hati mereka masing-masing.“Rumah sedang kosong, aku sendirian. Bapak, ibu danadik-adik pergi ke rumah kakak di Cipulir.Istri kakakkunujuhbulanin sore ini,” kata Nur Ranti.“Kok nggak nimbrung?”“Kan ada janji sama kamu.”“Jadi… saya mengganggu acara kamu dong?”“Mm… kalo dibilang mengganggu ya mengganggu,kalo dibilang nggak mengganggu ya nggak. Kami udahkirim kembang kok!”“Kami? Kami siapa?” tanya Ali Topan. Terbayangucapan Pinky bahwa Nur Ranti sudah punya pacar. O,kenapa mendadak timbul rasa jelus dan gerah ketika Rantibilang “kami.” Kami siapa?“Kami ya kami. Aku, adikku dan adikku lagi. Kenapa?”“Oh!” Ali Topan berseri lega. “Siapa sih nama adik-adikmu? Apa manis juga seperti kakak mereka?”“Hm, mulai ngerayu lagi, nih?” dengus Ranti.“Eit, sorry. Lupa kalo nggak boleh muji,” kata Topansambil menepuk mulutnya sendiri. Ranti ketawamelihatnya. Hatinya memang sudah ketawa sejakbertemu denga n Ali Topan tadi siang. Secara terus terang,pujian Ali Topan sangat menyenangkan hatinya. Rantimemang sering dipuji para cowok kenalannya, ta pi pujiandari Ali Topan rasanya lain. Polos dan… dan pokoknyalaen deh.“Denger nih baik-baik… adikku ada dua. Yang gedenamanya Wanti, yang bungsu namanya Ria. Soal manisapa nggak, lihat aja sendiri nanti,” kata Ranti, “sekarangmendingan kamu ngomong to the point, apa maksud dantujuan. Soalnya saya masih banyak kerjaan nih.”Ali Topan segera menerangkan maksud dan tujuannya.Padat, ringkas dan cepat. Tak lupa dia jelaskan posisi

273 yang diambilnya dalam kasus penculikan MarkusKaryadi.“Oooo, jadi kamu mau jadi detektif? Sekaligus jadiwar tawan harian jalanan? Uh, hebat amat. Apa kamujagoan karate?”“Apa hubungannya dengan karate?”“Kan banyak kejadian wartawan dipukuli orang… dandetektif kerjanya juga berantem melulu sama bandit-bandit.”Ali Topan mikir. “Ah, soal berantem sih nomer dua.Yang penting beresin kerjaan dulu deh. Terus terang sayanggak mikir soal itu, saya cuma mikir enaknya aja.Mudah-mudahan aja saya nggak sampai dipukuliorang…”“Kalo ada yang mau mukulin?”“Ya kita beri lagi…”Ranti merasa senang ketika Ali Topan menyebut kita.Berarti ia diikutsertakan di dalamnya. Mm, ia jengahsendiri memikir hal itu. Belum pernah ada cowokmenarik hatinya selama ini. Tapi, kenapa cowok yangsatu ini, yang gayanya geradakan, membetot-betothatinya dalam tempo sesingkat ini?Tadi siang di kampus, Ranti mati-matian bilang ke Ditabahwa cowok yang hensem ini baru dikenalnya. Dita—sobatnya sejak SMA III dulu—bahkan menuduhnya“mulai main rahasia-rahasiaan.” “Kalo emang itu cowoklu, gue sih ikut seneng aja, Ranti. Tapi jangan main umpet-umpetan gitu dong,” kata Dita tadi siang.Nur Ranti terbawa lamunan hingga dia kaget ketika AliTopan memanggil namanya. “Ranti, minta minum dong.Haus nih.”“Ooh, maaf, sampe lupa ngasih minum. Es sirop aja ya,biar cepet.” Ranti bergegas ke dalam. Tak lama kemudian

274 ia keluar membawa dua g elas es sirup.Sesudah membasahi kerongkongannya, mereka bicarasoal Nurita lagi.“Apa yang aku ketahui tentang Mbak Nuri, kan sudahkamu ketahui semua lewat Pinky. Kalo kamu mau lebihjelas, bisa tanya ke Mas Bambang, abangku yangmerawat dia dulu. Mungkin dia bisa memberi keteranganyang le bih jelas. Tapi… sebaiknya jangan ke rumahnya,istrinya cemburuan. Apala gi kalo kita nyebut soal MbakNuri.”“Baiknya gimana dong?”“Besok saja ke kantornya. Dia jadi psikiater Pertamina.Kalo kamu mau, nanti saya telpon dia, minta waktu.”“Terima kasih, Ranti,” ka ta Ali Topan. Dia gembirasekali karena Ranti mau berpartisipasi.“Saya bisa dapat kabar kapan?” tanya Ali Topan.“Ranti berpikir. “O ya, gimana ya? Mm… rumah kamuada tilponnya apa nggak?” tanya Ranti.“Nggak ada,” sahut Ali Topan dengan ce pat. “Apa sayajemput kamu di kampusmu?” sambungnya.“Jangan! Jangan ke kampus! Nggak enak …”“Nggak enak sama siapa?” Ali Topan merasa jelus lagi.“Nggak enak sama temen-temen…”“Cowok kamu? Saya minta ijin deh sama dia, biarnggak marah,” kata Ali Topan. Agak tersendat.“Ah, apaan sih cowok-cowokan… Bukan soal itu!”Ali Topan tercenung. Ia sedang memikirkan arti ucapanRanti.“Bingung juga ya?” gumam Ranti. “Gini aja deh. Sayabesok mbolos kuliah. Kamu jemput saya di sini, sekitarjam sebelas. Kita naik bis ke kantor kakak sa ya di JalanPerwira. Jam satu sampai jam dua biasanya kakak sayakosong, makan siang.”

275 “Kamu kok sampai mengorbankan kuliah besok? Sayajadi nggak enak nih.”“Nggak apa-apa deh. Demi …” Nur Ranti takmelanjutkan ucapannya.“Terima kasih, Ranti…,” kata Topan dengan haru dan“bahagia.” Jika g r-nya tidak meleset, ia merasa seutassimpati diikatkan oleh Ranti ke hatinya.Mereka ngobrol sampai ayah, ibu dan adik-adik Rantikembali. Gadis itu memperkenalkan Ali Topan padakeluarganya. Ramah tamah dan wajar sikap keduaorangtua Ranti. Wanti dan Ria yang manis-manis salingberpandangan dan mengulum senyum “rahasia.”***Esok harinya, mereka naik bis kota ke kantor pusatPertamina. Mereka masih harus menunggu kira-kirasetengah jam di ruang perpustakaan. Tepat jam satu, MasBambang menemui mereka dan mengajak mereka makansiang di restoran Sweet Corner di Jalan Pintu Air. MasBambang yang sudah diberi tahu tentang maksud dantujuan Ali Topan bersikap simpatik. Tapi dia toh tak bisamemberi tambahan info yang berarti mengenai Nurita.“Secara teori psikologi, Nuri memang sembuh, tapisecara teori cinta, aku tak bisa bilang apa-apa, dik Topan.Bayangkan, seorang perawan ting-ting sedang terbuai dipuncak impian cinta. Tiba-tiba badai menghempas-kannya ke lembah kenyataan yang mengerikan. Nuridihamili, digugurkan lalu ditinggalkan oleh Karyadi! Diamengatakan tak bakal dapat melupakan lelaki itu.Makanya, cintaku dia tolak. Sejak itu dia tak datang lagi,akupun tak mungkin mengubernya. Terakhir aku tahu iamengurung diri di rumah pamannya di Jalan Cisadane,”kata Mas Bambang pada Ali Topan.“Apa dia bilang dia menaruh dendam pada Karyadi?”

276 tanya Nur Ranti yang ikut nimbrung.Mas Bambang melihat ke arah adiknya dengan heran.Sejak kapan anak ini mau ikut campur urusan orang?Pikirnya. Yang ia tahu betul, Nur Ranti paling tak sukaurusan pribadinya dicampuri orang lain, demikiansebaliknya.“Dendam dan cintanya jadi satu, Ranti…”“Kira-kira dia punya bakat nekat apa tidak Mas?” tanyaAli Topan yang merasa senang dengan penimbrunganRanti.“Apa sih definisi nekat itu?”“Orang melakukan perbuatan yang tidak rasionaldengan dorongan emosi yang tak terkekang. Orang nekattidak memikirkan risiko negatif akibat perbuatannya itu.Yang penting dia berbuat untuk memuaskan emosinya,”sahut Ranti dengan lancar.Mas Bambang melengak. “Kamu tiba-tiba jadi pinter,Ranti. Belajar sama siapa?” katanya dengan senyumdikulum.“Belajar sama bapak guru,” ceplos Ranti dengan manja.Ia merasa Mas Bambang “heran” dan “nyindir”sekaligus.“Orang nekat itu biasanya karena cinta. Dapet cintaatau kehilangan,” ceplos Mas Bambang, “perubahantingkah lakunya sering mengherankan. Apalagi kalauyang kena cinta itu seorang gadis, perubahannya sukamengagetkan orang!”Nur Ranti merasa “panas” sekujur wajahnya. Sungguhmati ia merasa disindir habis-ha bisan oleh abangnya yanglihai itu. Ia merunduk. Cep klakep, kata orang J awa.“Contohnya Patricia Hearst. Gadis baik-baik darikeluarga kaya raya diculik teroris. Eee, dia jatuh cintapada penculiknya. Lantas ikut jadi teroris. Gitu, Ranti…,”

277 kata Mas Bambang yang “paham” perasaan adiknya.Tapi keterangan tambahan itu sudah terlambat. Nur Ranti“no comment” saja. Ia jengah kepada abangnya dan padadirinya sendiri.Dua muda-mudi kenalan baru itu pulang naik PPD daridepan Masjid Istiqlal. Ketika menyeberang jalan darimulut Pintu Air ke depan masjid, Nur Ranti merasagemetar digandeng Ali Topan. Digandeng cowok denganmantap dan polos—menjaganya dari serempetankendaraan bermotor yang lalu lalang—baru sekali itudirasakannya. Sungguh mati perasaannya mendenyut-denyut tidak keruan.Turun di terminal Blok M, mereka ganti Metr ominijurusan Jalan MPR-Cilandak. Di dalam bis miniMercedes yang tua, reyot dan apek oleh keringat rakyatitu pun, Nur Ranti merasa sesuatu yang baru. Setiaphari—pergi dan pulang kuliah—ia naik bis mini, dudukberdampingan dengan penumpang lain, ia tak merasaapa-apa. Tapi, duduk dengan teman barunya yang punyanama Ali Topan itu, rasanya lain sekali. Nggak tau apasebutan perasaannya itu. Terkadang rambut gondronganak muda itu menyentuh wajahnya . Walaupun bau apek,ia merasa senang deh. Buset, Ranti, ada apa denganmu?Bisik hatinya sepanjang perjalanan.Ali Topan tidak ngobrol lama di rumah Ranti. Setelahmembilang terimakasih, anak muda kita langsung cabut.Ia berjanji menghubungi Ranti “jika ada waktu lowong.”Sore hari, Ali Topan ke rumah Robert Oui. Jumpa Pinkydi pintu, langsung ia kena tembak sindiran si gadis.“Seneng dong ya, udah bisa ketemu Ranti! Wah bakalada gossip hangat di Panca Sakti nih!” Siniiis cara bicaraPinky. Ali Topan ‘mpet banget, tapi dia sudah memutus-kan untuk tidak menggubris cewek “salon” itu. Anak

278 muda kita cuma nyureng sekilas ke Pinky, kemudian“menyibukkan” diri dengan Robert Oui yang sudahmenunggunya.Mereka sepakat untuk menemukan Nurita.“Rasanya, kunci persoalan ada pada perempuan itu,Pan. Kalau ternyata benar dia yang punya hajat, ini benar-benar suatu surprise dalam dunia perdetektifanIndonesia. Bayangkan, dari teori feeling yang sepertidongeng itu, kita bisa sampai pada pemecahan persoalan.Nyonya dokter itu memang hebat,” kata Robert Oui, “jikabenar terjawab teka-teki ini karena teorinya, aku akankhusus datang untuk mengucapkan salut danmengangkat topi untuknya.”Ali Topan merasa itu bukan kata-kata kosong. Seorangdetektif prof esional—begitu pendapatnya setelahbergaul rapat—dengan kualitas Robert Oui sampaimenyatakan salut, itulah sesuatu yang istimewa. Diapribadi sejak mula memang mengagumi Ny RomeoSandi Ya kagum pada anggunnya, ya kagum padaotaknya.Sepulang dari Grogol, ia langsung ke rumah Merdi diCikini Raya. Merdi—temannya di SMA—anak geng Ce-co-ed, Cewek Cowok Edan yang punya daerah “kekua-saan” di kawasan Cikini dan sebagian Menteng. AliTopan minta bantuan info tentang Nurita yang pernahtinggal di Jalan Cisadane. Di SMA dulu, Merdi pernahnyombong, dia tahu setiap jidat licin yang ada di daerahCikini dan Menteng.“Waduh, gue belum pernah tau perempuan yang na-manye Nurita di daerah sini, Pan. Licin apa kagak jidatdia orang? Kalo jidatnya bruntelan sih, jelas gue kagakkenal, Pan,” kata Merdi.“Percuma lu ngaku jadi lurah Menteng-Cikini, Mer!

279 Segitu aje kemampuan lu. Br enti aje deh dari UI lu,”cetus Ali Topan. Setelah lulus SMA, Merdi mener uskanke Teknik Sipil UI.“Soal begini jangan bawa-bawa nama UI lu, Pan,”canda Merdi, “entar deh gue calling cee-qyu kambrat-kambrat gue. Lu emang paling bokis dari dulu, Pan.Gimana tuh urusan bokin lu si Anna! Kalo udah jandaboleh lu rojer ke gue . He he he …”“Bokin apaan? Bokapnya kuper begitu, dibayarin be-rape juta gue masih ogah jadi anak mantunya,” sodok AliTopan, “kalo lu berminat, susul gih ke Singapur. Dieudah di sonoh.”“Ke Singapur? Ngapain?”“Pengen nglamar jadi sekretarisnya Lee Kuan Yew‘kali.”“Wah, berat urusannya kalo udah gitu.”Keduanya ketawa renyah.Ali Topan diberi janji oleh Merdi untuk menyelidikiNurita dan keluarga pamannya. “Besok malem, gue kerumah lu, Pan.”“Jangan! Gue udah cabut dari rumah. Gue aje deh kesini,” kata Ali Topan. Merdi mengantarkannya denganmotor sampai Tosari.Pakai PPD, Ali Topan ke Kebayor an.***Info dari Merdi—esok malamnya—agak seronok.“Yang namanya Nurita memang pernah ngetem dirumah oomnya itu, Pan. Ta pi sekarang dia ngilang.Ooomnya udah lapor polisi. Mereka sekarang sibuknyari…”Ali Topan melaporkan info itu ke rumah Robert Oui.Hal-hal yang berur usan dengan polisi memang ditekeloleh Rob.

280 “Ogut dan Harry mau ngider dulu ke kampung-kampung nyari berita Agustusan buat rubrik RakyatJalanan,” kata Ali Topan.***

281SEMBILAN BELASSatu har i menjelang tanggal 17 Agustus 1978, HariProklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ke-33,kios-kios bunga dan kios-kios ikan hias di seputardanau Blok C dihisai bendera-bendera dan kertas-kertasmerah dan putih. Begitu pula rumah-rumah dan jalanandi dekitarnya. Seorang pedagang bendera dan tiang-tiangbambu yang dicat merah putih mangkal di pengkolanJalan Mendawai dan Jalan Lamandau Tiga,berseberangan dengan kios Oji.Sejak pagi hingga siang hari Oji dan Sura sibukmenyerut dan menghaluskan lima batang pohon pinangpesanan orang kaya di seberang kiosnya.Ia pun telah menyiapkan lemak sapi dan oli bekasbewarna hitam untuk melumuri batang-batang pohonpinang tersebut yang akan dipakai untuk lomba panjatpinang, yang di pucuknya nanti akan dipasangi lingkarandan belahan batang-batang bambu yang nantinya akandigantungi baju-baju, celana-celana, radio transistormurahan, rokok, termos, dan berbagai barang lainnyayang akan diperlombakan oleh rakyat di lapangan kecilyang terletak di prapatan jalan Lamandau Raya dan JalanSungai Pawan sekitar delapan ratus meter sebelah utaradari kios Oji.Usai mandi dari sumur, Ali Topan ke luar daribedengnya mau makan di warteg. Ia berdiri sejenakmelihat Oji dan Sura sedang mengampelas batang-batangpinang.“Mau ke mane, Pan?” tanya Oji sambil terus bekerja.

282 “Mau keme,” kata Ali Topan.Besok lu ngikut lomba manjat pu’un pinang, ye? Lu‘kan udah jadi warga Blok C,” kata Oji. “Lumayanhadiahnya, Pan. Katanye ade bungkusan duitnye. Limerebu katanye .”“Kate siape?”“Kate panitienye.”“Biar seratus rebu gua ogah,” kata Ali Topan.Oji menghentikan pengampelasannya, meliha t anehke Ali Topan.“Seratus rebu? Lu kagak mau? Emangnye kenape?”tanya Oji. Ali Topan memandangi Oji dan batang-batangpinang .“Ji! Elu tuh kan tukang kembang.”“Iye. Terus kenape?”“Lu ‘kan kudunye sayang ame pu’unan..”“La iyak, Pan! Gimane gue kagak sayang... gue rawatbanget pu’un-pu’un kembang di kebon gue...”“Lantas kenape lu tebangin pu’un-pu’un pinang itu.Perlunya ape?”Oji duduk di batang pinang dan memandang Ali Topan.“Lhah?? Emangnye lu kagak tau ape? Batang pinangini ‘kan bakal lomba panjat besok. Besok tanggal 17Agustus, Paan... Hari Kemerdekaan! Kita ‘kan kudungerayaain...,” kata Oji sambil meng geleng-gelengkankepalanya, seolah-olah Ali Topan itu anak bodo yangkagak ngarti uusan. “Lu kagak punya nasionalisme sih,”lanjutnya menggerutu.“Apaan?” Ali opan tersenyum.“Aah... udah ah! Kalo lu mau keme, keme aje. Pu’unpinang cuman lima aje lu ributin.. Setaon sekali, Paan,setaon sekali...”“Kalo perayaannye se Indonesia, berapa pohon pinang

283 yang ditebang, Ji?”Oji tertegun. “Iya juga, yak? Itungan lu ampe ke sono,Pan. Jauuh..,” kata Oji. “Tapi kalo kagak gue kerjainentar dibilang kagak punya kesadaran pembangunan...““Pembangunan model monyet-monyetan kagak perludisadarin, Ji...” kata Ali Topan sambil berjalanmenyebrangi jalanan.***Perayaan Hari Kemerdekaan pada keesokan harinya dilapangan itu memang ramai. Berbagai permainandilombakan untuk orang-orang dewasa dan anak-anak.Ada lomba balap karung untuk ibu-ibu, bapak-bapak dananak-anak Ada lomba makan kerupuk, lomba mengambiluang-uang logam di seputar jeruk Bali yang kulitnyadilumuri jelaga. Ada adu panco dan tarik tambang untukbapak-bapak. Ada lomba lari membawa sendok berisikelereng untuk anak-anak. Dan berbagai lomba lainnyayang umumnya diikuti oleh r akyat jelata. Orang-oranggedongan cuma jadi panitia dan penonton saja.Puncak acara yang ditunggu rakyat kecil maupunorang-orang gedongan adalah lomba memanjat, lombameniti, dan lomba bergelayutan pada batang pinang yangtelah dilumuri lemak sapi dan oli mesin.Rakyat —peserta, penonton dan penjual makananrakyat— yang memenuhi jalanan sekitar lapangan itubersorak sorai ketika panitia lomba memanggilkelompok-kelompok peserta yang telah mendaftarsebagai peseta. Tiap kelompok terdiri dari lima orang.Mereka bercelana pendek, tak pakai baju.Ali Topan berdiri di bawah pohon mangga denganrumah di ujung jalan Sungai Pawan. Di sekitar nya berdiriseorang muda bercelana sport yang pada baju kaosnyamemakai lencana panitia. Beberapa bapak gedongan

284 tampak bergembira. Omongan mereka diselipi bahasaInggris. Seorang wartawan foto dan seorang wartawatitulis Majalah Berita berdiri dengan gaya sok di depan AliTopan.Ali Topan yang berpakaian jalanan tampak bedadengan orang-orang ‘alus’ tersebut. Ia acuh tak acuhmemandangi kelompok-kelompok peserta yangmengitari pinang yang di pucuknya berbendera merahputih. Hadiah-hadiah lomba bergelantungan di bawahbendera itu.Jam 10.30 WIB terdengar pengumuman lewatpengeras suara.“Saudara-sudara sebangsa setanah air! Sebagaimanaapa yang telah ditetapkan oleh panitia, sebelumnya kitamemulai dengan apa kita punya acara menyambut harikemerdekaan proklamasi tujuh belas Agustus yang ketigapuluh tiga! Yang mana telah menjadi keramat daripadakita semua segenap rakyat dan bangsa daripada NegaraKesatuan Reublik Indonesia! Yang berajazz... kanPancasila dan Undang-Undang Dasar seribu sembilanratus empat puluh lima! Maka dengan semangat daripadapembangunan nasional dan manusia seutuhnya! Denganini atas nama ketua panitia dan beserta segenap bapak-bapak yang telah menyumbangkan daripada moral danmaterialnya! Maka...” Pida to ketua panitia itu terhentikarena mikrofonnya kor slet!Wajahnya yang bersemangat tampak kesal dipanggung tepi jalan. Beberapa kali ia mengetok-ketokmikrofon dengan totokan jarinya dan berhalo-halodengan mulutnya yang monyong. Tapi mikr ofon itu tetapkorslet! Dua petugas berpakaian tentara Jepang danmenyoren samur ai dari kayu tampak sibuk memeriksaperabotan sistem suara di bawah panggung.

285 Rakyat segera bereaksi. Ada yang menggerutu, adayang berteriak dan ada yang tertawa-tawa sambilbercanda bersama mereka.Ketua panitia mengusap keringat di wajah danlehernya. Lalu ia maju dua langkah dan berpidato lagitanpa pengeras suara.“Maka sebagai bangsa yang besar! Bangsa Pejuang!Dengan berlandaskan daripada tekad dan semangatmensukseskan pembangunan nasional! Maka! Sebelumkita memulai acara yang ditunggu-tunggu ini! Yaitulomba acara panjat batang pinang! Maka saudara-saudara! Mari kita sekalian sebagai bangsa yang besar!Memekikkan kata Mer! De! Kaaa!!” teriaknya sambilmenggepalkan tinju ke angkasa.“ Merdekaaaa!! ” sambut rakyat.“ Sekali merdekaa tetap merdeka!! ”“ Merdekaa! ”“ Hiduup Negara Kesatuan Republik Indonesiaa! ”“ Hiduuuup!! ““ Hiduup pembangunan nasional!! ““ Hiduup! ““ Hiduup Orde Baruuu!! ““ Hiduuupp!! “Ketua Panitia tampak tersengal-sengal. Ia berjalankembali ke tempatnya berdiri semula didepan mikrofon.“ Waaah... capek juga saya...,” celotehanya terdengarmelalui pengeras suara yang sudah normal lagi. Orangitu kaget. Rakyat tertawa.“Eh! Maaf! Saya nggak tahu kalau loadspikernya sudahhidup...,” katanya. Rakyat tertawa lagi. Lalu, KetuaPanitia itu, meminta bendera merah- putih ke seorangberpakaian tentara Jepang.Ia mengetok-ketok mikrofon lagi. Thuk! Thuk! Thuk!

286 Lalu ia ngablak lagi sambil mengibarkan bendera.“Kalau saya menghitung pada hitungan tiga! Makadengan ini! Atas nama Ketua Panitia! Saya menyatakanSatuu! ““ Huuuu! “ rakyat peserta yang berjumlah dua puluhorang berseru dan langsung menyerbu batang pohonpinang dan berebut memeluk dan berusaha memanjatbatang pinang bergaris tengah sekitar 60 cm yang licinkehitaman itu!Mereka saling berebut memanjat dengan caramenginjak bahu dan kepala peserta lainnya yang berjubeldipangkal batang pinang.Para penonton bertepuk-tangan dan bersorak-soraiserta tertawa terpingkal-pingkal bila ada peserta yangmerosot dari batang pinang karena ditarik oleh pesertalainnya..Ali Topan tak ikut bertepuk-tangan atau bersorak-sorak. Ia diam memandangi rakyat yang saling dorong,saling angkat, saling sikut, saling tarik dan saling injakdiseputar batang pinang. Ia pun mengamati betapagirangnya orang-orang kelas menengah di sekitarnyabersorak-sorai dan terbahak-bahak melihat rakyatberlumuran oli hitam!Sampai akhirnya, setelah pergulatan berlangsungsekitar dua puluh menit, ada seorang rakyat yang berhasildinaikan atau menaiki rakyat lainnya hingga ia dapatmenggapai batang-ba tang bambu pada lingkaranpenggantung hadiah-hadiah. Ia yang bertubuh sangatkurus dengan tulang-tulang iga menonjol di balikkulitnya yang berlepotan lemak dan oli hitam segeramengambilli transistor, celana jeans, termos dan sepatu.Yap lalu ia lemparkan ke bawah disertai sor ak-sorai dantepuk— tangan para penonton.

287 Dua rakyat lagi berhasil menyusul dia, dan segeramengambili hadiah-hadiah yang tersisa..“ Ritus “ perayaan HUT RI k e-33 di lapangan situadalah: si rakyat kurus mencopot bendera merah-putihdari bambu kecil di puncak batang pinang, dan melambai-lambaikan bendera itu sambil berteriak : “ Merdeka!Merdeka! Merdekaaa!” seruan itu disambut tepuk-tangan dan sorak-sorai serta teriakan merdeka! merdeka!merdekaa!sambil mengepalkan tinju oleh para penontondan rakyat lainnya. Kecuali Ali Topan.Tiga orang rakyat yang memenangkan lomba itu turunsatu persatu dengan car a merosot ke bawah..Kemudian mereka membagi-bagi hadiah pada sesamarakyat yang tampak kelelahan..Ali Topan masih berdiri dengan wajah mur am di bawahpohon mangga. Ia manunggu Harry. Ia melihat dua orangwartawan majalah Berita memotret dan mewawancaraiorang-orang kelas menengah di sekitarnya. Yangmemotret laki-laki, yang wawancara perempuan radacakep.Ooh, acara ini berlangsung sukses. Seperti andasaksikan sendiri.. warga atau hm... rakyat.. yang kitabilang the low income people antusias sekali, “kata seseorang.“ Ya ya ya... Kita perlu toh bersosial begini, bergabungbersama mereka untuk menunjukkan kesetiakawanansosial kita..,” kata seorang lainnya. Dan beberapakomentar lainnya yang bagus-bagus..Tiba-tiba dua wartawan itu mendekati Ali Topan. Siwartawan foto langsung memotret dia. Ali Topanmenatap tajam dua wartawan itu..“ Kalau anda, Dik.. apa komentar anda tentang acaraperayaan HUT Kemardekaan yang baru berlangsung

288 disini?” tanya si wartawati.“ Anda nanya ke saya?!” tanya balik Ali Topan.“ Ya! Anda mewakili generasi muda.. Apa komentaratau tanggapan anda tentang perayaan Agustusan ini??”“ Caur!” kata Ali Topan sambil mempertajampandangannya. Dua wartawan itu heran. Demikian pulabapak-bapak disekitarnya..“ Caur? Apa itu? tanya si wartawati.Sambil bersiapmenulis komentar Ali Topan.“Caur itu ancur!” kat a Ali Topan. Jawaban itu membuatdua wartawan dan bapak-ba pak kelas menengah di situmakin heran.“Istilah apa caur itu?” tanya si wartawati.“Bahasa Prokem,” kata Ali Topan.“Ooh... Kami belum tahu,” kata si wartawati.” Tapimengapa anda bilang ancur? Bapak-bapak ini bilangbagus, sukses,” lanjutnya.“Anda ‘kan nanya komentar saya? Nah, sayaberpendapat hanya orang-orang yang kurang beradabyang mengatakan acara monyet-monyetan ini bagus!”kata Ali Topan.“Waah! Itu sudah menyinggung saya! kata seorangbapak. Tapi Ali Topan tak memperdulikan diri. Ali Topantampak serius. Harry datang.“Itu anak siapa sih? Omongannya ngaco! Nggak usahdiminta komentarnya, Bung Wartawan!” celoteh seoranglainnya.“Tapi ini menarik,” sahut si wartawati. Ia mencatatkomentar Ali Topan.“Boleh tahu nama anda?”“Saya rakyat,” kata Ali Topan.“Nama anda..”“Ali Topan.”

289 “Kembali ke tanggapan anda tadi, mengapa andaberpendapat begitu?” tanya si wartawati. Bapak-bapakdan Ibu-ibu di sekitarnya bermuka masam. Danmenggerutu. Tapi mereka tak mau pergi. Mereka inginmendengar jawaban Ali Topan.“Tadi pagi saya menegur Oji, kawan saya yangmengerjakan batang-batang pinang itu. Penebanganpohon-pohon pinang atau kelapa yang masih produktifitu suatu tindakan bodoh. Kalau di sini saja lima batangpohon ditebang, ber apa jumlahnya pohon yang ditebangdi seluruh Indonesia?” kata Ali Topan. Si wartawati cepatmencatat omongan Ali Topan.“Itu ada kaitannya dengan per usakan lingkungan ya?”tanya si wartawati.“Itu sudah merusak! Bukan cuma ada kaitannya...gimana sih Anda?” kata Ali Topan.“Okey, okey.. Tadi anda mengatakan hanya orang-orang yang kurang beradab. Jelasnya gimana?” siwartawati nyengir.“Dia yang tidak beradab! cetus seorang bapak.“Acara lomba ini ‘kan cuma setahun sekali! Kitasebagai bangsa besar kan harus menghargai jasapahlawan-pahlawan yang telah berjuang untukkemerdekaan Indonesia! Sok tau amat sih anda!” seorangibu muda yang potongannya seperti wanita karir yangsuka selingkuh mencela Ali Topan.Tapi Ali Topan tetap tenang.“Apakah anda tidak berpikir bahwa acara lomba iniperlu untuk menghibur rakyat jelata?” tanya si wartawatilagi.“Saya berpikir tidak begitu. Kalau mau menghiburrakyat, anda catat! kalau kita mau menghibur rakyat,membahagiakan rakyat jelaga, didiklah rakyat, ajari

290 rakyat secara benar! Dan nggak usah minta bayaran kerakyat jelaga itu.” kata Ali Topan.“Rakyat jelata..” si wartawati menyela, maksudnyamau mengoreksi.“Rakyat jelaga! Atau... r akyat jalata yang dilumuri olidan jelaga hingga mirip monyet-monyetan.” kata AliTopan.“Hai! Kamu siapa sih kok ngomongnya sembarangan!Kamu warga erte erwe ber apa?!” hardik Ketua Panitiayang tadi berpidato.Ali Topan menatap oknum itu. “ Saya warga negaraIndonesia..” katanya.Sorot matanya beringas menatap mata oknum itu.“Kamu ngomong aja belepotan di panggung tadi,sekarang sok galak lagi! Sekali lagi lu ngebacot guagamparin lu!” kata Ali Topan.“Daeng Ali..” Harry memanggil Ali Topan. Iamemegang tangan Ali Topan yang sudah terangkathendak menggampar muka Ketua Panitia yang kayamonyet itu.Oknum itu tampak pucat. Perlahan tapi pasti diaberjalan meninggalkan tempat itu. Bapak-bapak dan ibu-ibu yang tadi ngomel pun bubar dari situ.“Saya akan kutip komentar anda. Satu pertanyaanlagi... jadi... menurut Anda acara-acara perayaaan HUTKemerdekaan semacam ini harus dihentikan?” tanya siwartawati.“Ya! Dan diganti dengan acara-acara yangmencerdaskan dan memajukan jiwa raga seluruh rakyatIndonesia yang selama ini dibikin goblok dan dibikinmelarat oleh para bandit yang berselubung slogan dandoktrin pembangunan,” kata Ali Topan.“Keras sekali pernyataaan Anda,” kata si wartawati.

291 “Kenyataannya memang begitu. Saya ngomong apaadanya,” kata Ali Topan. “Kalau Anda takut memuat itudi majalah Anda, ya ng gak ngapah-ngapah...” lanjutnyasambil senyum.“Kami cuma reporter. Keputusan memuat atautidaknya ditentukan dalam rapat redaksi.”Ali Topan makin mele barkan senyumnya. Pandanganmatanya nakal sekali ke wartawati tulis yang tersipu-sipu.“Pertanyaan terakhir, menurut anda, acara penggantimonyet-monyetan itu apa?” tanya si wartawati.“Tiap bulan Agustus, sebulan penuh, di tiap RT danRW semua warga ngumpul untuk mengevaluasikemunduran atau kemajuan tiap warga selama setahun.Gimana usaha dagangnya, gimana pendidikan anak-anaknya, g imana kesehatannya keluarganya, dansebagainya. Dan dibahas, atau diselidiki apakah adawarga yang jadi maling, copet, tukang gusur tanah rakyat,tukang tilep, tukang sogok, koruptor, dan sebagainya,”kata Ali Topan.“Wah, gagasan bagus ini. Ideal sekali,” kata siwartawati.“Kalau bagus Anda suruh saja rapat redaksi memuathasil wawancara Anda ini sebagai laporan utama,” kataAli Topan sambil mengedipkan matanya ke si wartawati,yang tak menyembunyikan pandangan syuurnya ke AliTopan.“Udahan dulu ya. Terima kasih nih..,” kata siwartawati.” Mm..boleh tau nggak.. alamat Anda?”“Di tepi danau kecil di sono,” kata Ali Topan sambilmenunjuk kearah danau Blok C.“Okey ya. Kapan-kapan aku main ke sana.” kata siwartawati. Lalu berlari ke temannya yang sudah

292 menghidupkan mesin motornya di dekat lapangan acaramonyet-monyetan tadi..“Wetengku luwe, Daeng.. Keme dulu, yo,” ka ta Harry.“Keme di warteg Gandaria jae, Har. Di sono dae semurjengkol sama ikan pindang gorengnya,” kata Ali Topan.Dua wartawan jalanan itu berjalan santai menyusurijalan Sungai Pawan yang menurun ke arah Barat. Lalumereka membelok ke kanan ke arah Mayestik. Terusberjalan melewati Pasar Loak di Taman Puring. Di ujungtaman itu mereka membelok ke kiri, dan berjalan terussekitar lima ratus meter, hingga sampai di Warung TegalMas Sukir, tempat Ali Topan biasa ngutang sejak SMAdulu.***“Kira-kira mereka akan muat apa enggak hasilwawancara dengan lu, Daeng?” tanya Harry disela-selamakan.“Dimuat paling sekalimat. Itu pun yang menurutmereka tidak berbahaya,” kata Ali Topan sambilmengkletus cabe rawit.“Yang berbahaya yang bagaimana?”“Yang bagaimana, ya? Ya karena mereka memakaicara pandang pejabat pemerintah yang takut menghadapikenyataan akibat kebobrokan mer eka sendiri, maka apa-apa yang berbahaya menurut pemerintah y a ditelen bulet-bulet nggak pake dikunyah lagi oleh para pejabat per s,”kata Ali Topan.“Mereka ‘kan majalah besar. Kok begitu Daeng?”“Yaah... Har... Namanya juga or ang dagang. Makinbesar majalahnya, makin kecit nyalinya. Tau kecit,nggak? Kecilnya kecil, ampir-ampir kagak punya nyali,”ka ta Ali Topan. “Makin tinggi oplah majalah atausuratka bar di negeri kita ini, makin rendah moral dan

293 sikap kewartawanan mereka.”“Kok begitu, Daeng?”“Kok begitu, kok begitu! Elu inih gimanah? Masihk ag ak ngarti juga ! ” kata Ali Topan berdialek Jakartapinggiran. “Tunggu! Gue abisin jengkol dulu. Entar guejelasin.”Usai makan mereka masih bercakap-cakap. Mas Sukir,pemilik warteg, yang badannya tinggi besar ikutmendengarkan.“Sampe di mana tadi?” tanya Ali Topan.“Soal moral dan sikap kewartawanan,” kata Harry.Ali Topan menghisap rokoknya. “Gue kan dipinjeminbuku-buku kewartawanan oleh GM, Har. Ogut bacasemua. Selain itu, ogut beli buku-buku bekas di PasarSenen dan di Kramat Raya. Khususnya buku-bukutentang kewartawanan di Amerika. Kenapa Amerika?Karena pers di sini ‘kan berkiblat ke Amerika. Nah, katapara penulis buku-buku itu, pers atau press itu harusdidasari moral yang tinggi. Bebas menyiarkan berita apasaja, kalau untuk kepentingan publik,” Ali Topan mengokke Mas Sukir. “Mas Sukir, jangan nguping aje. Tambahinaernya,” kata Ali Topan.“Aer putih?” tanya Mas Sukir.“Aer jernih ! Aer putih entar lu pakein tepung sagu...,”kata Ali Topan. Mas Sukir ketawa heh heh heh heh lantasmenuang air jernih dari teko plastik ke gelas Ali Topan.“Kalo denger lu ngomong, lama-lama gue bisa jadipinter, Pan,” kata Mas Sukir.” Ke mana aja sih, kok lamabaru kemari lagi? Apa sudah ada semur jengkol yanglebih top?”“Yaah elu, Mas... lu kagak tau apa, gue udah minggatdari rumah babe gue. Sekarang gue mesti nyari duitsendiri. Sibuk gue. Lagi belajar jadi wartawan. Doain aje

294 ye, biar gue sama si Harry ini sukses!” kata Ali Topan,lalu ia menenggak habis air jernihnya, dan memberikanuang Rp 1.000 ke Mas Sukir. “Kur ang lebihnya lu catet,tuh.” Lalu ia menengok ke Harry. “Cabut, Har.”***

295DUA PULUH18 Agustus 1978 pagi.Ali Topan berbagi tugas dengan Harry. Harrymengantar artikel bertajuk “Monyet-monyetan”yang ia ketik tadi malam di Gelanggang Bulungan.”Ogut ke Robert Oui,” kata Ali Topan.Penculikan Markus Karyadi masih gelap. Kodak MetroJaya sudah pula turun tangan, menyebar teke ke limapenjuru kota dan daerah sekitarnya. Bogor dan Bandungpun sudah pula diubleg-ubleg dengan bantuan KodakLanglang Buana.Robert Oui sudah memberi kisikan pada pihak polisibahwa kemungkinan besar ada hubungan antarahilangnya Markus dengan lenyapnya Nurita. Tapi, sejauhitu, polisi cuma selewatan saja menanggapi teori itu.Mungkin karena beberapa oknum sentimen dan antipatipada Robert Oui, maka pemikiran Robert Oui kurangdigubris. Polisi lebih percaya pada teori mereka sendiri,bahwa penculikan Markus Karyadi bermotif pemerasan.Pihak polisi berangkat dari pemikiran bahwa ada sindikatpenjahat yang khusus bergerak di bidang penculikan danpemerasan, yang jadi dalang. Maka mereka punmenghubungi para “langganan” maksudnya residivisuntuk mencari info, kalangan mana yang bikin ulah.Hasilnya nol.“Padahal, laporan hilangnya Nurita pun sudah masukke kantor polisi, tapi mer eka bilang bahwa Nurita jugakorban penculikan. Memang, sebaiknya kita bergeraksendiri, Pan,” kata Robert Oui. “Jika ada motif

296 pemerasan, kan penculik sudah menjalin kontak, apa pertelepon apa per surat ancaman, untuk minta uang tebusan.Sampai sekarang nggak ada sepotong pun tanda ke arahitu,” ka ta Robert lagi.Sesungguhnya Robert Oui dan Ali Topan pun sudahmulai macet menangani perkara ini. Semua teman, relasidan saudara Nurita yang kiranya per nah berhubungandengan perempuan itu sudah dimintai informasi, tapihasilnya belum menggembirakan. Kasus itu serasa teka-teki silang. Beberapa kotak sudah terisi jawaban, tapibeberapa lainnya masih kosong.Berkat semangat pantang menyerah dan rasa penasaransaja yang membuat Robert Oui dan Ali Topan tetapbertahan. Untuk merelakskan pikiran, mereka berjalan-jalan keliling kota tanpa tujuan dan menyambangibeberapa tempat anak muda mangkal. Kerja maksimalyang dibuatnya adalah membuat berita “hilangnya”Nurita di harian Ibu Kota. Berita kecil dua kolom lengkapdengan foto hasil wawancara dengan paman Nurita.Wawancara itu dikerjakannya sesudah dapat info dariMerdi tempohari.Hari-hari Agustus berlari cepat. Beberapa peristiwapribadi yang menggembirakan menyela celah kehidupanmereka. Istri Robert Oui melahirkan seorang bayi lelaki.Sesuai konsensus, si jabang bayi itu dinamai ArthurAlekhine.Tiap hari, jam delapan lewat enam menit, Ali Topanmenelepon Mbok Yem untuk mengetahui keadaanmamanya. Ali Topan yang menentukan waktu untukmenelepon itu, a gar Mbok Yem sendiri yang mengangkattelepon. Karena pernah dua kali ia menelepon yangmenerima ayahnya dan Windy. Ayahnya langsungmemutuskan sambungan ketika mendengar suara “hallo”

297 Ali Topan; sedangkan Windy langsung mencela AliTopan hangga Ali Topan yang memutuskan sambungan.Ali Topan menelepon dari tele pon umum di kios ikanhias “Ikan Cupang” yang berhadapan dengan gerejaKatolik, dua puluh langkah dari kios Oji.“Mamamu sedang tidur. Papamu kemarin keKalimantan, katanya... Mbak Windymu main film lagikatanya, jam enam tadi dijemput mobil film,” kataMmbok Yem. “Kamu ke sini saja, Naak..”Jam sembilan lewat empat menit Ali Topan sampai dirumah a yahnya. Ia meneng ok mamanya yang sedangtidur di kamar, mengambil buku syair Bob Dylan, lalu iangobrol sebentar dengan Mbok Yem.“Mbok, aku sudah kerja,” kata Ali Topan.“Kerja apa?” tanya mbok Yem.“Jadi wartawan, Mbok...”“Alhamdulillah. Bisa kuliah dong...”“Entar aja,“ kata Ali Topan. “Aku pulang dulu, mbok.Nih aku kasih duit. Bagi-bagi sama staf yang lain,” kataAli Topan. Ia memberikan uang Rp 1000 ke Mbok Yemyang diterima dengan senang hati.“Lekas masuk kuliah ya, Nak,” kata mbok Yem sambilmengusap kepala Ali Topan.“Entar aja kalau aku sudah putus asa... ha ha ha,” kataAli Topan. Lalu ia mengecup pipi ibu angkatnya itu, dancabut lagi dari rokum bokapnya.***Memasuki 2 September 1978, muncul perkembanganbaru. Ada info dari seorang anggota IDA dr BornokSimanjuntak yang berpraktek di Jalan Guntur. Iamengkontak dr Romeo Sandi. Ia menaruh curiga padaseorang perempuan yang datang untuk minta resepkemarin sore.

298 “Dia bilang untuk anaknya yang sakit panas, batuk danpilek,” kata dr Bor nok ketika Ali Topan dan Robert Ouimenemui esok sorenya, di antara kesibukan dr Bornokmelayani pasiennya.“Dokter memberi resep itu?” tanya Robert Oui.“Tidak dong! Saya tidak mau sembarangan ngasihresep. Saya suruh wanita itu kembali lagi membawaanaknya. Dia menyanggupi, tapi sampai saat ini ia tidakdatang lagi. Waktu itu pasien saya ramai, jadi saya tidaksempat melayaninya lama-lama. Baru malam harinyasaya terpikir pada masalah penculikan itu. Siapa tau adahubungannya, iya kan?”“Masih ingat wajah dan potongan perempuan itu,dokter?” tanya Ali Topan.“Cantik, wajahnya di-make-up tebal, tapi matanyamuram. Tubuhnya kurus tapi sexy. Rok dan blus-nya daribatik kelas mahal, tapi tampak kusut dan agak kotor,seperti belum dicuci beberapa hari.”“Orangnya seperti ini?” tanya Ali Topan sambilmenunjukkan sebuah foto Nurita yang dia dapat dari PakRakhmat Sutansah, paman Nurita yang di Jalan Cisadaneitu.Dr Bornok Simanjuntak memperhatikan foto itusekejap.“Ya dia orangnya…,” katanya.Ali Topan dan Robert Oui berpandang-pandangan.Jawaban dr Bornok serasa hujan deras di tengah musimkemarau y ang terik. Sejuk, menyegarkan pikir an. Kotakteka-teki sudah hampir penuh terisi.“Sebaiknya kami tunggu sampai anda selesai praktek,dokter, kem ungkinan besar wanita itu akan datang lagi,”kata Robert Oui.Dr Bornok setuju dan mempersilakan keduanya

299 menunggu di antara ibu-ibu yang membawa anak merekadi ruang tunggu.Pukul 19.40. Tinggal dua ibu dengan bayi mereka.“Rasanya oknum itu nggak muncul, Rob,” kata AliTopan.“Tunggu sebentar. Sabar. Kalau mau jadi detektif yangbaik harus sabar, Pan, seperti kesabar an orang mancingikan. Kalo nggak sabar, gimana dapet ikan gede?” RobertOui menyabarkan “asisten”-nya.Pukul dua puluh kurang dua puluh, pasien terakhirpulang. Dr Bornok dan Pa k Tisna, mantri suntiknya sudahmulai mengemasi alat-alat mereka. Biasanya merekatutup pukul dua puluh.Pukul 19.45 dr Bornok keluar dari ruang prakteknya,menemui dua detektif kita.“Bagaimana, tuan-tuan?” tegurnya“Hm, rasanya dia memang tidak muncul,” jawabRobert Oui. “Baiklah, dokter, kami kembali esok sore.Mungkin wanita itu membawa anaknya ke dukun,”Robert Oui menggamit Ali Topan. Keduanya pamit,meninggalkan tempat itu.Setengah menit sesudah jip yang ditumpangi RobertOui dan Ali Topan meninggalkan tempat praktek drBornok Simanjuntak, sebuah Corolla 73 kuning berhentidi tempat itu. Seorang wanita langsing berpakaian hitamdengan syal biru muda turun dari mobil itu, diikutiseorang lelaki bertubuh kekar menggendong seorangbocah cilik. Mereka bergegas masuk ke tempat praktekdr Bornok. Wajah dr Bornok melongok dari pintusetengah terbuka, melihat ke arah mereka. Doktersetengah baya itu tak bisa menyembunyikan rasakagetnya melihat wanita pendatang itu. Nurita,gumamnya. Si wanita tegak dengan wajah dingin-pucat

300 menatapnya.“Selamat malam. Saya datang lagi, dokter. Tolongobati anak saya,” kata wanita yang memang Nuritaadanya.Sekejap dr Bornok tertegun. Tatapan dingin dan wajahpucat Nurita serta pandangan serem lelaki penggendongbocah kecil kulit putih berambut pirang, membuatnyabergidik. Secara refleks dr Bornok menengok mantrisuntiknya yang sedang membereskan ruang.Segera dr Bornok memberi suntikan anti kejang. DahiMarkus dikompresnya dengan alkohol murni untukmenurunkan panasnya.Pertolongan pertama itu sebenarnya sudah cukupmengamankan Markus Karyadi, tapi dr Bornok sempatberpikir untuk “menjebak” Nurita. Dia memberi resepberupa vitamin dengan pikiran menghubungi polisi saa tNurita menukarkan resep tersebut.“Semenit saja terlambat, anak ini tidak tertolong lagi,”kata dr Bornok sambil mengawasi Nurita. Uh! Meremangbulu kuduk dr Bornok melihat sepasang mata Nuritabercahaya dan senyuman aneh terukir di sudut-sudutbibirnya.“Mati? Hih hih hik…,” ucap Nurita sambil tertawaringih yang sangat menyeramkan. Bolpen terjatuh daritangan dr Bornok bahna seramnya. Merinding sekujurtubuhnya. Pak Tisna dengan sigap mencengkam lenganmajikannya.“Lebih baik kalian segera mengambil obat di apotik!Anak itu harus segera kalian beri minum obatnya!” ucapPak Tisna dengan lantang.“ Hih hihik… hihihhik… mati? Hihihihik… Anak yangganteng ini harus mati? Hihihik… kasihan kalau mati?Hihik hihihihik…,” seperti orang mabuk Nurita tertawa

301 ringih. Mulutnya tertawa tapi matanya nyalang sepertimata ular sanca. Misterius, menyeramkan.Mendadak tawanya terhenti. Ekspresi wajahnya netralseperti orang baru tersadar dari sebuah mimpi yangmenyeramkan. Terburu-buru ia membuka tas tangannya,mengeluarkan selembar uang Rp 100 lalu diberikankepada dr Bornok.“Ini ongkosnya, Dokter!” ucapnya dengan lantang.Terbengong-bengong dr Bornok melihat uang Rp 100itu. Tapi dilihatnya wajah Nurita serius. Ia menyentuhjari Nurita, sebagai tanda menolak “bayaran istimewa”itu. Maksudnya, ia tak sudi dibuat obyek senda-gurauwanita y ang dianggapnya tidak waras itu. Tapi penolakanitu justru membuat Nurita meradang.“Ambil uang ini, Dokter! Ambil!” hardik Nuritadengan wajah berang. Sambil tersenyum pahit, dr Bornokmengambil uang itu dari tangan Nurita. “Sebaiknya Andasegera pergi ke apotik. Jika terlalu lama, apotik tutup,”kata dr Bornok tawar. “Apotik Walas, dekat sini, resep itubisa diobatkan ke sana,” sambungnya lagi. Suara drBornok bernada pasrah.Tanpa bilang a pa-apa lagi, Nurita berkelebat menyusulpengantarnya yang lebih dulu ke mobil. Tak lama kem u-dian terdengar mesin Corolla dihidupkan, lalu mengge-blas pergi.“Ooooh,” keluh dr Bornok sambil menjatuhkantubuhnya yang terasa lunglai ke kursinya. Matanyatercenung memandang Pak Tisna, mulutnya terkunci takmengeluarkan kata-kata.“Kita harus segera lapor polisi, Dokter!” ucapan PakTisna menyadarkan dr Bornok dari cekamanperasaannya. Kesadarannya itu mendorong bergeraksebat. Diambilnya buku telepon besar, mencari nomer

302 polisi untuk keperluan darurat! Dengan singkat drBornok melaporkan peristiwa yang dialaminya.“Tetap di tempat, Dokter! Kami segera datang! Dansebuah mobil patroli lain segera menuju ke ApotikGuntur!” kata polisi yang menerima tilponnya.Dr Bornok bernafas lega. Gagang tilpon diletakkannyapelahan-lahan di induknya.“Pak Tisna.”Ucapan dr Bornok ter potong oleh suara denyitan banyang berhenti di jalan. Wajah dr Bor nok tegang kembali.Pa k Tisna pun demikian pula hal-nya. Suar a langkah kakiberat mendekati pintu. Dr Bornok pucat. Pak Tisnabergeser ke sampingnya, menjaga segala kemungkinan.“Selamat malam, Dokter…,” suara seorang lelakimemecah sunyi. Kemudian pintu diketuk orang, dandibuka dari luar.Wajah Ali Topan ter senyum renyah tersembul di pintu!Aaaah! Bikin kaget saja kamu!” cetus dr Bornok.“Maaf, dok! Saya kehilangan buku catatan. Apakahtertinggal disini?” kata Ali Topan dengan sopan. Senyumrenyah anak muda kita mendadak sirna ketika ia melihatwajah dr Bornok dan Pak Tisna yang tegang.“Cepaaat! Mereka datang ke sini! Baru saja merekapergi! Ke Apotik Walas! Cepat susul ke sana! Cepaat!”teriak dr Bornok Ali Topan tertegun.“Siapa, Dokter?”“Itu! Wanita itu dan anak kecil yang hilang! Cepaatnanti mereka keburu pergi lagi! Mereka pakai mobil!”“Ke… ke mana mereka dokter…,” tergagap Ali Topan.“Apotik Walas di ujung jalan ini!”Tanpa bilang ba atau bu lagi, Ali Topan melompat balikdan berlari ke Robert Oui yang menunggu di dalam jip.“Cepat ke Apotik Walas, Rob! Mereka ke sana!”

303 “Nurita?” tanya Robert Oui.“Ya!”Langsung Robert Oui menancap gas. Seperti terbang,kendaraan itu diarahkan ke tempat sasaran.Nurita yang duduk di jok belakang dengan MarkusKaryadi di pangkuannya sangat terkejut melihat sebuahjip berhenti dengan kasar di samping kendaraannya.Begitu cepat Robert Oui dan Ali Topan lompat tur un darijip, langsung membuka pintu Corolla. Wanita itu tampakgugup. Ia peluk Markus erat-erat!“Semua sudah berakhir, Nurita!” kata Robert Oui.Lengannya rapat ke pinggang, siap siaga mencabut Smith& Wesson. Kemudian dengan sigap ia menggerayangitubuh Nurita, memeriksa kemungkinan wanita itubersenjata. Tas tangan Nurita diambilnya, digeledahlantas dikembalikan lagi.Mata Ali Topan menangkap gerakan sesosok lelakibergegas keluar dari dalam apotik. Sosok itu tertegunmelihat Corollanya ditongkrongi dua orang.Sosok itu—sopir Corolla—bergerak untuk lari!Dengan sebat Ali Topan mengejarnya.“Jangan lari! Nanti saya tembak!” seru Robert Oui.S&W sudah tergenggam di tangannya.Tapi si orang itu tetap berlari. Ali Topan menyusulnya.Dengan gerakan berani, Ali Topan menomprok lelaki itudari belakang, hingga keduanya sama-sama terguling.Bagh! Tendangan keras lelaki itu dengan dahsyat meng-hajar wajah Ali Topan! Anak muda kita terpental ke bela-kang. Lelaki itu bangkit lagi, dan bergerak untuk lari lagi.Melupakan rasa sakit, Ali Topan otomatis bangkit ke-mudian mengejar lelaki itu. Baru dua langkah si orang ituberlari, sebuah tendangan bergaya Arie Haan menghan-tam belakang dengkulnya. Tumbanglah lelaki itu! Ten-

304 dangan kedua dari anak m uda kita menyapu wajah lelakiitu. Bagh! Bagaikan bola FIFA kepala orang itu ter-dongkrak! Pingsan saja dianya!Para pegawai apotik dan beberapa pembeli obat ser tatukang-tukang becak berkerumun menyaksikan“pertempuran” itu.“Ringkus dia, Pan! Tali ada di dalam jip!” seru RobertOui. Ali Topan menyentuh wajah orang pingsan itu, sesu-dah yakin tak berkutik, anak muda kita bergegas ke jip,mengambil tali.Baru saja selesai mengikat kaki orang pingsan itu,terdengar sirene mengaung-ngaung. Polisi datangdengan Volvo dan VW kodok.Beberap petugas melompat keluar dengan senja t a “siaptempur.”“Semua sudah rapi, Kep!” seru Robert Oui kepada seo-rang Kapten Polisi yang baru datang.“Heh? Mayor Robert! Sselammat mallamm!” kata kap-ten itu sambil menghampiri Robert Oui. Tiga anak buah-nya “meng epung” Ali Topan yang sedang mengusap-usap wajahnya yang kena tendang tadi.Dengan singkat Robert Oui memberi penjelasankepada Kapten Suroso—pemimpin polisi-polisi itu.Langsung Kapten Suroso—rada kikuk—mentekelpersoalan itu.Nurita dan lelaki y ang pingsan dibawa langsung keKodak, sedangkan Markus Karyadi diantarkan oleh AliTopan dan seorang polisi ke Rumah Sakit Cipto Mangun-kusumo. Robert Oui menyusul kem udian, bawa obat dariapotik dan dr Bor nok Simanjuntak yang dijemputnyakemudian.Dr Bornok sukarela menunggui Markus Karyadi yangsegera dirawat oleh seorang dokter ahli di Bagian Anak,

305 sedangkan Robert Oui dan Ali Topan menunggang jipdengan santai menuju Markas Besar Komdak VII Metr o-jaya, untuk didengar keterangan mereka—sebagai orang-orang yang “menangkap” penculik Markus Karyadi.Empat polisi dalam sebuah VW meluncur dengan gesitdi Jalan Raya Sudirman, menuju ke arah Kebayoran. Me-reka bertugas memberi kabar kepada keluarga Karyadi.***

306DUA PULUH SATUBeberapa hari kem udian, jam sebelas hari Jumat, diterminal bis Grogol. Ali Topan dan Nur Rantiduduk sebangku di sebuah biskota jurusan BlokM. Mahasiswi manis itu baru pulang kuliah, dijemputoleh anak muda kita. Si mahasiswi manis kita bawa tasberisi buku-buku, berpakaian kulot—pakaian yangdikenakannya ketika jumpa anak muda kita pertamakali—tampak sangat terpelajar dan makin manis olehbunga-bunga senyum di sudut-sudut bibir nya. Sebentar-sebentar ia memandangi si anak muda kita yang makintampan saja dengan rambut lemas habis dikeramas—jatuh di pundaknya. Seragam jeans Levi’s yang sudahberminggu-minggu belum dicuci, tak mengurangiketampanan anak muda kita.Satu persa tu kursi biskota diduduki orang, ta pi sopirbis masih anteng-antengan menunggu penumpang lebihsesak lagi.Seorang pengecer kor an bertampang Medan naik de-ngan dua lembar koran Ibu Kota edisi pagi tadi. Sambilmenjentik-jentikkan telunjuknya ke koran, ia berteriaklantang. “Penculik Markus Karyadi, anak penyanyi poptelah di-Komdak-kan, Pak! Penculiknya seorang wanitasexy yang diduga sakit jiwa! Baca! Baca beritanya, Pak.Cuma lima puluh perak sazaa!”Dua lembar korannya laku disambar dua penumpangdi kursi de pan. Pengecer koran itu menepuk kedua belahtangannya yang kosong, lantas melompat turun dari biskota.

307 Nur Ranti mencubit lengan Ali Topan dengan mesra.Anak muda kita—si pembuat berita itu—menekantelapak tangan kiri si mahasiswi manis dengan telapaktangan kanannya yang kokoh. Mesra sekali deh!Sopir dan kondektur naik, karena penumpang bis kotamereka sudah mencukupi target, kursi-kursi sudah penuhdengan penumpang yang berdiri sudah pula berjejer dilorong bis—dari depan sampai belakang—sepertitentara.Biskota merangkak dari terminal. Di jalan raya, sopir-nya menancap gas dan kondekturnya menarik ongkosdari para penumpang.Ali Topan hendak mengambil uang Rp 100 dari kan-tong jaket bututnya, ketika jari lentik Nur Ranti menjawillengannya. Dua buah karcis mahasiswa seharga Rp 30diberikan kepadanya oleh sang gadis. Ali Topan mem-berikan karcis itu kepada kondektur yang rada bersungut-sungut menerimanya.Para mahasiswa memang dapat karcis khusus Rp 30per lembar untuk sekali jalan. Hal itu adalah pelaksanaankebijakan Pemerintah DKI Jakarta. Rakyat biasa—wa-laupun lebih miskin dari para mahasiswa—tidakmemperoleh kebijaksanaan yang istimewa tersebut.Rakyat biasa kudu bayar penuh Rp 50 jauh-dekat!Aneh sekali, tidak ada satu orang pun yang protes atasterjadinya ketidakadilan itu! Mungkin karena ketidak-adilan itu mengenakkan para mahasiswa, maka para pe-muda harapan bangsa tersebut diam-diam saja, karenasebagian mahasiswa—yang sempat menjadi tokohbrutal, kemudian “dipenguasakan” –menganutperibahasa pop yang membilang “diam itu emas.”Biskota digeber oleh sopirnya, walaupun stiker segedebaki yang berbunyi: “Sesama biskota dilarang saling

308 mendahului” lengket di kaca depan dan belakangkendaraan umum tersebut.Suara orang-orang ngobrol mendengung seperti lebahyang naik berahi. Tapi sepanjang perjalanan, Ali Topandan Nur Ranti tak sepatah kata pun bicara melalui mulut.Kali ini, bibir mereka cuma diberi tugas untuk tersenyum-senyum, sedangkan tugas untuk bicara banyak diberikankepada mata dan hati mereka.“Walah! Walah! Gawat maning! Sapa sing dobol kiyeyo! Nang jero bis nganggo kentut barang! Walah! Walah!Ambune kecut koyo asem kawak yo! Ga waat, gawaat!Kiye nek dudu entute copet wis mesti bapake maling…”omelan seseorang terdengar lantang.Gerrrrrrrrrr!! Semua penumpang, tak terkecuali AliTopan dan Nur Ranti meledakkan tawa mendengar cep-losan dialek Banyumasan dari bagian belakang biskota.Seorang perempuan setengah baya yang negoceh itumeludah cah cih cuh ke lantai. Selendang batiknyadikibas-kibaskan di depan hidungnya. Wajahnya gusarsekali.Para penumpang masih cengar-cengir ketika turun satuper satu di terminal Blok M.“Ah cukup aha ketawanya! Jangan dihabis-habisinsekarang ya? Disimpen buat hari-hari nanti …,” kata NurRanti kepada Ali Topan. Suara dan tarikan wajahnyalembut tapi cukup berpengaruh. Hingga Ali Topan cepatdapat mengontrol emosinya.“Buat hari-hari nanti?” tanya Ali Topan.“Mm mmh.” Ranti menggumam tanpa memandang.Ali Topan menangkap tangan gadis manis itu. Digeng-gamnya erat-erat. Si gadis manda saja. Cowok ini,geradakan, kasar, jeans-nya kumel bau apek lagi, tapi…tapi… tapi kenapa dirinya begitu kesengsem sejak perte-

309 muan pertama mereka? Demikian kata hati Nur Rantisambil berjalan bergandengan tangan menyeberangi ja-lan, menyusuri trotoar.Lho, seharusnya mereka berhenti di terminal Metro-mini yang bersebelahan dengan terminal bis-bis besar.Seharusnya mereka naik Metromini ke juruan MPR-Cilandak. Biasanya, Nur Ranti naik bis mini itu, turun dipengkolan dekat rumahnya, berjalan kaki beberapa puluhmeter dan sampai di rumah tepat pada waktu yangtertentu. Sendiri!Mengapa kali ini, dia tak berhenti di terminal Metro-mini? Mengapa tak naik bis itu agar segera sampai dirumah? Mengapa malah bergandengan tang an denganerat dengan seorang wartawan jalanan yang bernama AliTopan itu? Padahal belum pernah sekalipun Ranti maudigandeng—ah, jangankan digandeng, berjalan beren-dengan saja dengan seorang cowok, ogah selalu—me-ngapa enak saja tangannya ditangkap, telapak tangannyaditempelkan ke telapak tangan dia, lalu dibawa jalan kakientah ke mana? Nurut lagi! Uhu, Ranti, Ranti, kena apakamu hari ini? Kata hatinya.Gadis manis itu menengok ke penggandengnya. Yangditengok malah acuh tak acuh melihat ke gedung DepluIskandarsyah yang mereka lewati.“Topaaan,” bisik si gadis.“Hmm?”“Kamu mau mengajak aku jalan ke mana?”“Kamu maunya ke mana?”“Pulang!”“Di mana rumah kita?” gurau Ali Topan.“Di ujung duniaaa!” sahut Ranti.“Ayo kita ke ujung duniaaa!” seru Ali Topan sambilmenarik tangan si gadis agar berjalan cepat ke depan.

310 Langkah-langkah kaki Ali Topan terlalu cepat untuk Ran-ti. Gadis manis itu terpaksa setengah berlari agar “tidakterseret” oleh Ali Topan.Tingkah laku gradakan macam ini belum pernah dira-sakannya, bahkan dalam mimpi sekalipun. Tak sepatahkeluhan pun terucap dari celah bibirnya yang segar danbasah itu.Ranti merasa hatinya yang berbentuk daun waru sudahtercuri oleh Ali Topan. Apapun perlakuan yang diperbuatoleh si pencuri hatinya itu, rasanya dia bisa terima denganpasrah.Ada 100 langkah Ranti “dites” begitu oleh Ali Topan.Lalu berhenti mendadak. Nafas Ranti ngos-ngosan,wajahnya memerah, taapi mata dan bibirnya tetap manis.Tersenyum menantang. Menggemaskan.“Kok brenti?” goda si gadis.“Nantang, eh?” kat a Ali Topan sambil melotot-lototkanmatanya.“Gara! Gara nantang! Kalo lu jokul sih ogut bokel!”cetus Ranti dengan kalem. Mak!Tampang Ali Topan tampak seperti orang bodo bahnakaget mendengar Ranti berbahasa prokem itu.“Kamu, kamuuuu,” gumamnya sambil menunjuk sigadis yang berjalan di sampingnya dengan senyumsimpul dan wajah riang.Sulit sekali Ali Topan menahan kegemasan hatinya. Iabetul-betul gemas pada gadis ini. Ingin rasanya saat inimereka berdua ada di tengah padang rumput yang luasmenghijau. Ingin direbahkannya si gadis ke padang rum-put, lantas dikecupinya mata, cuping hidung, pipi kanan-kiri dan… dan sepasang bibir yang indah menantang itu.Ingin betul ia mengalami saat menyenangkan seperti itu.Demikian indah khayalan anak muda kita.

311 “Ranti?”“Hm-hmm?”“Kapan-kapan kita pergi ke sebuah padang r umputyang luas dan hijau yang terletak di lembah Seribu Bungadi kaki Bukit Taliputri, mau?”Ranti mesem mendengar kata-kata panjang itu.“Kamu mabok ya?”“Iya nih. Jalan sama kamu rasanya mabok hati saya,Ranti. Ranti? Dengar, Ranti?” kata anak muda kitadengan suara makin lembut.Ranti menatap anak muda kita dengan mata polosnya.Di mata itu tercermin seberkas cinta. Sekilas, kemudiansi gadis merunduk. Pandangannya mengarah ke pinggirjalan yang mereka lalui.***Kembangnya cinta seperti kembangnya bunga. Ber-mula dari kosong, tersintuh kemesraan, kemudianberwangi keindahan. Angin pagi dan ma tahari berlakusebagai kawan, yang menyemarakkan cinta denganbunga-bunga kasih sayang. Musim yang lewat? Gugurdan tersisihkan. Menjadi pupuk penyubur bagi citanyacinta hari ini.Ali Topan dan Nur Ranti… telah saling cinta. Si gadismemetik serbuk cinta dari nuraninya dan menaburkanbenih-benih indah itu di persemaian nurani si anakjalanan yang memang lagi kosong. Soal waktu yangsingkat tak jadi masalah, soal pertemuan pandangbeberapa kejap bukan pula hambatan. Keduanya merasabegitu klop bagai lagu Michelle dengan syairnya. Cocokdan serasi dah. Yang wadon ayu dan manis, yang lakianak ganteng dan keren, persis banget kayak sepasangkekasih di pilem-pilem roman. Ibarat prangko samaamplop, sekali dijilat lengket terus.

312 Memasuki minggu ketiga sesudah penangkapan Nuritadan “sopirnya” di Apotik Walas, oleh Robert Oui dan AliTopan, Markus Karyadi sudah berada di dekepan mami-nya yang asli. Mami culiknya, alias Nurita di-g ep. Demi-kian pula sopir taksi “gelap” yang menurut pemeriksaanpendahuluan berfungsi sebagai orang upahannya yangmelaksanakan penculikan itu. Nurita belum bisa dipe-riksa, karena penyakit syarafnya kumat. Ia diam-mem-bisu, mojok di sel khusus yang diperuntukkan baginya.Bambang, eks psikia ternya y ang khusus pula didatang-kan belum berhasil menormalkan sarap Nurita. Perem-puan itu tidak mau bicara apa-apa. Hasil maksi yangdiperoleh Bambang cuma membujuk Nurita makan danminum setelah ia mogok pada hari-hari pertama. Karyadidan istrinya sebenarnya tak hendak menuntut apa-apa.Mereka sudah gembira Markus kembali. Tapi pihakpolisi tak bisa melepaskan Nurita begitu saja tanpamelalui prosedur resmi.Betapapun keluarga Nurita memohon pembebasandengan alasan perempuan itu “sakit jiwa” pihakkepolisian tetap tidak mau memberikan kebijaksanaan.Bahkan pihak keluarga Nurita sempa t kena gebrak ketikamereka berusaha menyuap polisi. Sejak kasuspenyelewengan uang bermilyar-milyar rupiah dikepolisian yang melibatkan tak kurang seorang DeputiKapolri, aparat kepolisian lebih ketat dan sensitif dalamsoal-soal begituan.Yang manis adalah sikap Ali Topan dan Robert Oui.Begitu persoalan ditangani polisi resmi, keduanya lantasmundur ke belakang layar lagi. Mereka tak mau dipubli-kasikan oleh pers Jakarta yang berlomba memuat kasuspenculikan itu dengan huruf-huruf besar. Bahkan Ali To-pan minta pada G.M. agar tugas selanjutnya ditekel oleh

313 wartawan Ibu Kota yang khusus menggarap bidangkriminal. “Bagi-bagi tugas, Pak! Kelak, jika ada kasusyang lain, saya garap lagi. Sementara ini, biar saya garapberita Rakyat Jalanan seperti biasa. Biar lebih santai!”kata Ali Topan pada G.M. Redaktur Pelaksana yang arifitu memahaminya.Menurut penuturan Arsad, sopir taksi gelap yang jadikaki tangan Nurita, terungkaplah cara bagaimana merekamenculik Markus Karyadi. Kisahnya mirip sandiwaraanak-anak. Nurita adalah langganan taksi gelap Arsad.Sopir itu sering mengantarkan Nurita ke hotel-hotel dantempat lain jika Nurita—yang tanpa setahu keluarganyamenjadi wanita P—ada janji dengan lelaki P yangmemakainya. Mereka jadi intim, terutama sejak Nuritamembuka ‘kisah pahitnya’ pada Arsad. Sopir itu menaruhkasihan pada langganannya. Dan diam-diam menaruhminat pula. Lelaki yang sudah punya anak tiga itu sempatpula diberi jatah oleh Nurita, hingga makin “lengketlah”dia pada langganannya. Sampai Karyadi muncul dimajalah-majalah hiburan.“Sejak saat itu Nurita menunjukkan gejala abnormal.Beberapa kali ia minta diantarkan untuk menemui Kar-yadi, tapi dibatalkan begitu mobil sampai di dekat rumahkontrakan penyanyi itu. Hampir setiap hari kamimenguntit Karyadi. Setiap kali saya bertukar mobil de-ngan kawan-kawan saya, dan kami menyamar hinggaKaryadi tidak tahu penguntitan itu. Makin hari jiwaNurita makin goncang. Pernah dia bermaksud nekatmenikam Karyadi, tapi tak pernah dilaksanakannya.Rupanya ia begitu dendam sekaligus cinta pada orangyang pernah menodainya itu. Hingga hari itu, taksi sayamengalami kerusakan mesin sedangkan mobil kawan-kawan dipakai semua.

314 ”Nurita sudah bulat tekadnya untuk mendatangi Kar-yadi. Belum lagi masuk rumahnya, kami melihat Markusbermain sendiri di depan rumahnya. Suasana sekitar sepi.Nurita, menyuruh saya menculik anak itu. Saya sepertiorang bodo, mau menuruti perintahnya. Dengan tenangsaya angkut Markus lalu kami bawa. Kami sekap disebuah villa di daerah Cipayung. Villa itu milik seorangCina yang dipinjamkan kepada seorang pejabat tinggiDepartemen Keuangan yang menjadi langganan Nurita.Pada saat-saat Bapak itu datang, Mar kus disembunyikandi gudang. Saat bapak itu pulang, Markus dikeluarkanlagi. Sampai akhirnya anak itu sakit dan kami bawa ke drBornok…,” demikian sebagian penuturan Arsad.Alamat dr Bornok Simanjuntak diperoleh Nurita daribuku tilpon “Halaman Kuning.”Sementara menunggu Nurita “normal” kembali, Arsadterpaksa nginep di dalam bui. Dua orang dokter jiwakepolisian y ang memeriksa Nurita sama-sama berpen-dapat bahwa perempuan itu memang terganggu jiwanya.Mereka sepakat mengirimkan Nurita ke Rumah SakitJiwa untuk perawatan khusus.***

315DUA PULUH DUADi Gor ogol, Jakarta Barat pergunjingan di kalanganmahasiswa Panca Sakti sehubungan denganpercintaan Nur Ranti dan Ali Topan nyaris menya-ingi pergunjingan mengenai bekas rektor mereka yangterlibat dalam kasus penyelewengan uang bermilyar-mil-yar rupiah di kepolisian RI. Begitu cepat menyebar darimulut ke mulut. Banyak mahasiswa yang diam-diam“patah hati” ketika melihat fakta gadis yang paling di-senangi di kampus mereka disamber “oknum luar kam-pus”. Mereka yang gigit jari itu adalah oknum-oknumyang diam-diam menaksir Nur Ranti.Anak-anak Panca Sakti rada bingung, gadis kembangkampus Panca Sakti itu kok bisa-bisanya jatuh hati padaAli Topan yang bermodalkan jauh-dekat Rp 50! Padahalbanyak mahasiswa yang beken sebagai play boy kampusyang berkilauan deng an Honda Civic, Peugeot, Corolla,Volvo bahkan Mercedes, tak berhasil menaklukkan sanggadis. Perdebatan-perdebatan kecil menyemarakkansuasana kampus elite itu. Ada yang bilang Nur Rantidiguna-gunai, dipelet, dijampi-jampi oleh Ali Topan.Dan lain sebagainya. Namun satu fakta yang tak bisamereka bantah, diam-diam maupun secara terbuka, yakniwajah yang hensem dan tongkrongan yang sedap dari AliTopan memang sangat keren.Pada suatu Jumat siang, Ali Topan menjemput NurRanti di kampusnya. Ali Topan memakai T-shirtsbergaris merah-putih model tukang sate Madura . T-shirtsitu dibelinya Rp 1.100,- di pasar Grogol, langsung dia

316 pakai. Jaket Levi’s buntungnya dia masukkan ke dalamtas plastik. Dengan menenteng tas plastik itu, Ali Topanmasuk kampus Panca Sakti, menemui Ranti yang pasngumpul dengan sobat-sobatnya di kantin. Disaksikansobat-sobat itu dan beberapa mahasiswa lainnya, merekabergandengan tangan mesra keluar kampus.Di dalam bis menuju Kebayoran, Nur Ranti mesam-mesem memandangi kaos oblong pacarnya.“Baru beli nih, masih bau toko,” kata Ali Topan,“mur ah, ceng it.”Nur Ranti diam saja. Ia mengerti berapa duit ceng it itu,karena teman-teman kuliahnya banyak yang amoy. Rantidiam karena rada “serem” melihat kaos strip merah-putihitu. Kayak kaos tukang sate ayam begitu, baru beli lang-sung dipake lagi, gawat ini cowok, demikian Ranti mem-batin.“Kenapa sih diem aja?” Kasih komentar dong. Bagusapa jelek aku pakai kaos ini?”“Soal kamunya sih, pakai baju model apa aja, tetepcakep orangnya. Jangan ge-er lho. Cuma kaos yang inirada serem aku lihatnya,” kata Nur Ranti terus terang.“Serem gimana?”“Kalo boleh terus terang sih, kaosnya rada norak,”sahut Ranti, “tapi jangan marah ya?”“Noraknya di mana?”“Yang suka pake kaos strip merah-putih kan tukangsate. Kalo kamu pake itu, orang-orang bisa bingung,jualan sate kok nggak ada pikulannya,” tukas Nur Rantisambil tersenyum.“Biarin deh. Kamu liat deh, nanti saya bikin populerkaos beginian. Merah-putih kan warna paling bagus diIndonesia.”Ali Topan meremas jari Ranti, mengusap-usap ujung

317 jemari sang gadis. Biarpun bis penuh sesak, terasa lapangbagi mereka.“Omong-omong, si Pinky kelihatan sewot sama saya.Dia bahkan bilang ke Dita, katanya saya merebut kamudari tangannya. Ih! Amit-amit saya merebut pacarorang!”Ali Topan ngikik. Soalnya Ranti menggerundelkan‘amit-amit’ dengan gemas.“Ketawa lagi, bukannya mikir!” kata Ranti ketus.Ketusnya ketus manja. Garing di kuping, tapi renyah didada.“Pinky, Pinky… pokay banget itu anak. Nggak usahdigubris dia, Ranti…,” kata Topan, ”yang penting kansaya nggak ada apa-apa sama dia. Saya kan ada apa-apanya cuma sama kamu,” sambungnya dengan mesra.Kemesraan kata-kata itu masih ditambah dengan cubitankecil di telapak tangan, bikin syuur hati Nur Ranti.“Ranti, nanti malem saya ada acara. Pesta kecil dirumah dokter Romeo Sandi. Kamu bisa ikut?” tanya AliTopan.“Pesta apa?”“Robert Oui yang bikin acara. Syukuran sehabismenyelesaikan tugas sekalian merayakan kelahirananaknya.”“Kok di rumah dokter Romeo?”“Sebagai penghargaan kepada Ny Romeo. Berkat pe-mikiran dia yang cemerlang hingga penculikan MarkusKaryadi cepat selesai.”“Mm … kali ini kamu pergi sendiri saja ya. Saya banyaktugas sih. Ada beberapa catatan yang harus saya salin.Lain kali deh, kita pergi sama-sama. Saya ikut gembirabersama kamu…”“Selalu?”

318 “Selalu,” bisik Ranti. Ma tanya memancarkan kemesra-an. Jemarinya mengelus lengan Ali Topan.***Pesta kecil di rumah dr Romeo Sandi semarak suasana-nya. Robert Oui datang sendiri . Ali Topan bersama Harry.G.M. pun datang bersama istrinya. Tuan dan nyonyarumah mengundang beberapa teman dekat mereka.Acara makan malam dilanjutkan ngobrol sampai jamsebelas malam.***Esoknya—Sabtu petang—Ali Topan datang ke rumahNur Ranti. Anak muda kita menikmati suasana yangnyaman. Dia tak tahu per sis, apakah setiap anak mudamerasakan suasana nyaman ketika mereka berkunjungke rumah pacar masing-masing. Yang dia tahu, waktuberpacaran denganAnna Karenina tempo hari, rasanyamannya ber campur deg-deg-an.Berpacaran dengan Anna, nyaman dan indah ketikaberdua, bercampur rasa tak enak karena diteror oleh pihakketiga berupa ayah dan ibu si Anna. Belum lagi intrik danfitnah dari manungsa Oom Boy itu. Bersama Anna, diabackstreet. Main kucing-kucingan dan tikus-tikusan.Seru sih seru, sampai ada acara minggat ke De pok dandigusur teke ke kantor polisi pula, tapi buntutnya tohcemplang, terbukti dengan kepergian Anna ke Singapur.Sedangkan Nur Ranti? Walaupun pacarannya masihbaru, tapi Ali Topan dapat merasakan perbedaan suasana.Lebih tenang, lebih terbuka, lebih intelek dan intim. NurRanti lebih berpikiran dewasa dan mateng dibandingkanAnna Karenina. Keluarganya pun lebih intelek dan to-leran. Entah itu basa basi, entah dari ‘sononya’, keluargaNur Ranti—ayah dan ibunya—bersikap biasa. Tidakistimewa ramah, tidak pula istimewa sangar.

319 Kehadiran Ali Topan mereka anggap kehadiranseorang teman anaknya, seperti teman-teman Rantiselama ini. Datang, ngobrol, pamit, datang, ngobrol,pamit, begitu. Apakah mereka naik mobil, motor ataujalan kaki, tak berbeda penerimaan ayah dan ibu Ranti.Itu urusan Ranti, dan mereka cukup memberi kebebasanbergaul bagi anak-anak gadis mereka.Rumah Ranti mungil, bangunannya bergaya Spanyol.Halaman depannya seluas kira-kira 50 meter pesegi,dibikin taman yang bagus sekali. Rumpun palem merahdi sudut bergabung dengan rumpun melati yangsemerbak harum mewangi. Rumput Peking sepertipermadani memberi kesan segar sepanjang hari.Ali Topan ngobrol dengan Ranti di dekat rumput palemmerah. Lampu taman yang menyor ot ke rumpun palemitu, terhalang oleh rumpun melati dan tanaman hiaslainnya hingga tak langsung ke wajah mereka. SiaranRadio Prambors sayup sampai dari radio di kamar Ranti.Suasana begitu dibilang syahdu di kalbu sepsang kekasihbaru itu.Ali Topan baru selesai menggelar riwayat hidupsingkatnya. Tentang ibunya, bapaknya, Dudung, Bobby,Gevaert dan Anna Karenina!“Riwayat kamu banyak sedihnya ya,” kata Ranti,penuh simpati, “mengapa kamu ceritakan semua padaaku?” Ranti meng-aku-kan dirinya dengan manja.“Supaya kamu tau dong, terutama bagian-bagian yangjelek dan rusak-rusak dari saya. Daripada kamu dengerdari orang lain, kan lebih enak denger langsung darisaya.”“Lalu … untuk apa kamu ceritakan semua ini padaaku?”Ali Topan tak segera menjawab. Diamatinya wajah

320 Ranti: mulutnya y ang agak le bar digantungi dagu yangbagus, bertahta di rahang kua t pertanda orang keras hati.Sepasang matanya seperti kelinci punya, berbinar segardan manja. Dengan alis indah yang belum pernahdicukur, cantiknya seperti mengandung magnit.“Ngapain sih liat aku begitu. Serem ah!” cetus Ranti.Cetusan itu lebih karena grogi daripada tak senang. Justrukarena senang dan bahagia, Ranti jadi grogi. Jangankanberhadapan muka dengan muka, membayangkan wajahAli Topan di dalam kamar sendiri saja, Ranti suka grogi.“Kamu tanya apa?”“Aku serem dilia tin begitu.”“Kalu di-sun serem apa nggak?”“Ih! Ranti terpekik. Pernyataan langsung itu walaupunnadanya bercanda, tetap bermakna serius baginya. Sipolos ini tak menyangka begitu cepat proses percintaanmembelit dirinya. Seperti mimpi, kata syair lagu pop.Begitu mendadak, hatinya ditaklukkan. Dan si penaklukyang gagah ini, yang muncul dari dunia lain,pembawaannya dahsy at, menggetarkan. Belum pernahada cowok y ang berani berterus-terang seperti dia, dalamucapan maupun perbuatan.“Ranti…” bisik Ali Topan, “apakah kata-kata saya ter-lalu kasar untukmu? Apakah kamu tersinggung danmarah oleh sikap saya?”Ranti menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkindia bisa tersinggung atau marah pada sang penakluk ini?Andaikan orang lain, tentu dia akan bilang kasar, karenamemang demikian kenyataannya. Mengelus-elus jari,mencubiti telapak tangan, bicara balk-blakan… memangpenampilan yang jauh dari lemah lembut. Justru karenaAli Topan yang memiliki kekasaran itu, dia malahterpikat! Sejak pertama kali hatinya berdesir, di kantin

321 fakultasnya, sejak saat itu pula—tanpa sadar—dia sudahbersiap melukisi kanvas hatinya yang kosong denganwarna warni pribadi Ali Topan.“Rantiii…,” bisik Ali Topan. Lebih lembut, lebihmesra.“Apaaa,” bisik Ranti dengan hati berdebar.“Apakah rasa sayang itu perlu diucapkan?”Hati Ranti makin bergetar, getaran itu meng alir keujung jemarinya, ke telapak tangannya, ke segenap pori-pori perasaannya. Dalam hati ia memekik, aku tahusayang, aku tahu, ucapkanlah kata-kata sayanguntukku…“Nur Ranti…aku sayang sama kamu…”Oo! Oo! Ooooooo!! Rasa bahagia menghangatkan jiwasang gadis manis. Rasa bahagia menggelegak dalamdada, meng alir ke permukaan kulit, berbinar di matakelincinya. Berkejap-kejap mata yang indah itu.“Buat sobat-sobat yang sedang mesra-mesraan di ma-na saja, Prambors ucapkan salam paling hangat danpaling mesra buat kalian. Semoga kalian miliki malam-malam yang lebih indah dan hari-hari yang semanis ang-gur… selalu…,” suara penyiar Radio PramborsRassisonia terdengar jelas. Lantas terdengar suara adik-adik Ranti cekikikan. Rupanya mereka yang membesar-kan bunyi radio itu.Nur Ranti dan dan Ali Topan tersenyum oleh “gang-guan” itu. Perasaan mereka saling membelai, hati merekasaling berkasih mesra. Detik demi detik merambat pelantapi pasti, penuh getar-getar cinta.“Ranti sayaaaang…”Sang gadis menatap Ali Topan. Berbinar, berbinarmatanya. Kem udian redup, meredup, mereduuup. Lantas

322 terpejam.Hangatnya bibir Ali Topan menyentuh bibirnya terasabagai mimpi yang sangaaaaaaat indah.Angin malamSemerbak wangi bungaDalam hening khayalan asmaraNyanyian Chrisye yang dipancarkan oleh Pramborsserasa khusus ditulis Eros untuk mereka.“Eh, udah..., nanti dilihat adik-adikku,” kata Nur Rantisambil mendorong lembut wajah Ali Topan.“Maaf, Ranti… aku terhanyut,” bisik Ali Topan.“Aku juga ‘yang’...” bisik Ranti.Lalu mereka saling memandang lagi. Mata merekabicara, mengungkapkan segala rasa. Salah sa tu rasa ituadalah rasa terbelah yang tiba-tiba. Antara AnnaKarenina dan Nur Ranti.“Anna… eh… Ranti,” bisik Ali Topan. Ranti marah!Matany a marah! Wajahnya marah! Lalu ia berdiri danberlari masuk ke dalam rumah. Ali Topan terdiam. Laluia berjalan pulang.***Ali Topan menghisap rokok di dalam kamarnya. Jamweker di rak dinding menunjukkan 01.01 dinihari. Sepi.Ia berfikir tentang percintaannya dengan Nur Ranti yangmakin nyata Sabtu malam tadi, ketika ia mengecup bibirgadis indah itu di beranda rumahnya.Ali Topan merasa gembira namun ia belum yakin apa-kah dirinya telah sungguh-sunguh bahagia. Mengapa?Perjalanan masih panjang. Panjang dan berliku-liku.Ia mengambil selembar kertas dan bolpen dari rakbuku. Dan mengungkapkan perasaan dan kilasan-kilasan

323 pemikiran yang bergerak dalam batinnya.Tentang Perjalanan ItuAda terasa dalam kalbukuJalan panjang dan berliku-likuSeperti dalam mimpi malam hariYang ‘ku tak tahu ujungnya.Gadisku...Aku ingin bersamamuLewat jalan ituTapi aku tak tahu apakah kau akantabah menemani ku.Selama ini aku merasa sendiridan merintih dalam batinkuTak banyak orang tahubetapa sepi diriku.Ya, aku coba ber tahan. Selalu...Segala duka ‘ku simpan di sini :di relung ha tikuSemua rindu ku pendam di sini :di ruang nuraniku.Banyak jalan di dunia iniYang membahagiakan hanya satuApakah engkau sependapat denganku ?Ada sesuatu yang bergolakRasa gelisah

324 dan dahagakuPada apa yang bernama CintaTak hanya di antara kita...ALI TOPAN ANAK JALANANRumah Di Tepi Danau Kecil, 1978***Plung! Suara benda jatuh ke dalam air danau, menge-luarkan Ali Topan dari ruang krea tivitasnya. Sambil tetapmenggenggam bolpennya, ia bangkit dan melangkah kepintu itu, memandangi malam tanpa bulan danmendengar keresekan kelelawar di sela-sela dedaunan.Ia melangkah ke tepi danau dan mendengar gita malamdalam kesunyian. Sosok, wajah, senyuman dan sepasangmata cer ia Nur Ranti berkilasan dalam benaknya. Dan..kepingan-kepingan kenangan tentang Anna Kareninabergerak di antara kilasan-kilasan bayangan Nur Ranti.Lalu... sosok-sosok lainnya. Mamanya. Papanya.Mbok Yem. Wind y. Maya. Gevaert. Daeng Hasan.Munir. Oji. Cut Mina. dokter Romeo. Harry. GM.Kolonel Sinaga. Robert Oui... Lalu ke Anna Karenina,Nur Ranti dan dirinya sendiri dalam berbagai peristiwadukanya.Ali Topan menarik nafas berat dan mengeluarkannya.Ia seperti melihat dirinya sedang berjalan, dan terus ber-jalan pada suatu jalan kesunyian. Ia merasa kasihan padadirinya yang sedang berjalan itu ke suatu tujuan yangterasa jauh.Di balik punggung dirinya itu ia seperti melihat wajah-nya yang sawo matang, berdebu. Dan sepasang matanyayang mengungkapkan duka. Sepasang mata itu berli-nangan airmata..

325 Malam hitam.Langit kelam tanpa bulan.Angin dingin mengusap kulit dan ambut gondrongnyayang lebat. Sayup-sayup terdengar suara harmonika dariarah jalan Lamandau III. Harry pulang ngamen dari PasarKaget, katanya dalam hati.Segera ia usap pelupuk mata dan pipinya yang dibasahiairmata. Suara harmonika semakin mendekat mengalun-kan lagu Blowin’ in The Wind karya Bob Dylan.Baris-baris syair protes lagu folk era 1960-an yang me-rintih tajam, menggugat, menggetarkan dan berhasilmengguncangkan “kemapanan” dan kemunafikan parapolitikus dan jenderal-jenderal Amerika Serikat itu hadirdalam batinnya :How many roads must a man walk downbefore you call him a man?How many seas must a w hite dove sailbefore she sleeps in the sand?Yes,‘n’ how many times m ust the cannon balls flybefore they’re f orever banned?The answer, my friend, is blowin’ in the windThe answer is blowin’ in the wind.How many years can a mountain existbefore it’s washed to the sea?Yes, ‘n’ how many y ears can some people existbefore they’re allowed to be free?Yes, ‘n\22 how many times must a man turn his headand pretend he just doesn’t see?

326 The answer, my friend, is blowin’ in the windThe answer is blowin’ in the windYes, ‘n’ how man y times must a man look upbefore he can see the sky?Yes, ‘n’ how many ears must one man havebefore he can hear people cry?SELESAI

327 KAMUS PREMAN ALI TOPANIstilah di kalangan kaum preman, maling, copet tukang jambret,garong, rampok, tukang todong, pembunuh, dan narapidana yangterhormat itu.A ————————————awing, laming = malingB —\27—\27—227\27—\27—227—babi = Toyotabais = habisbaok = mabokBaon = Ambonba’ur = kabur, melarikan dir ibeceng = pistolbegokin = beginibegokit = begituBekokas = BekasiBetokaw = Betawibirut = ributboil, bolim, kebo = mobilboat, pun, bedak, setan, puti= morphinebokay = bayarboket = becakbokis = bisabokul = belibokap = bapakbokin = binibi-u = ibubioskop = tivibrokap = berapabrokis = brengsekC —227—227—\27—\27—\27—\27cabut, gerpi = pergica’ur = hancurcelokan = celanacerokit = ceritacokab = caricokin = cinacokip, casbr ino = cipok, sun,congki = konciD —227227\27———227227——\27das = adadaon, ijo, gele, nisan = marijuana, ganjaDapang = Padangdeglo = bongkar rumahdendeng = jemuran pakaiandepek = pendekdoi, doski = diadokat = duwit, uangdokir = dar iE —227227—227227—\27\27——\27es-pe = spionF —227227227\27——227227227——Fatima = FiatG —\27\27—227227227—227227227—gacip = hansipgajah = jendralgatut = takutgara = tidakgep, gepang = pegangglintur/ gintur = tidurgodfather = Kapolrigokil = gilagomba = cina kayagool = masuk penjarag.m.(gambar mata) = persenan,komisigrepe = grayanggris simon (grerr pang silang

328monas) = parkir di sekitarsilang monasgo’ut, ogut = gue, sayaJ ————————227———Jakarta bekelir = teriakan napibebas dar i penjaraJabu = bajuJa’ing = anjingJa’im = orang bloonJembre = jambretJengkol, tudu = tudu = ar lojijipem = pinjemji so kam = dji sam soejokan = jandajokal = jalanjokaw = Jawajokul = jualjutu = tujuK —227———227—227—\27\22—Kasmar = Makasarkatro = orang udikkaman, keme, komak = makanklabang, koblak = belakangkim = emas, perhiasanklokur = keluarkodu = duit, uangkokat = kotakokay = kayakokar, koro, oskar = rokokkokit = kitakompas, repes = peras (uang)kongen, habrus, ngokis, teje =bersenggamakosbun = bunting, hamilL —\27—227227——\22—\27—227lacep, macan = cewe cakeplaket = lelokat = lakilamem = malemlebi = belilebon = belon, belumlilis = jip willyslokap, lokar = larilokim = limalube = buleM —227227\22—\22——227227—227Medokur = MaduraMenokad = Manadomokai = judimokat = matimoltan = manamokal = malumonon = homoseksulalN —\27—\27—\27—\27\27\22\22—na’ak = anakne’ak = enakne’em = enamnembak = makan minum diwarung tidak bayarngebom = nipu atau berbuatkejahatan kelas kakapnokam = namanokas = nasinibla = nimpahnyadong, keme = makanny ayur = dapat rejeki/hasil besarnokis = nisanP —227227—\27\27—227227—\27—panla = delapanpae = ape, apapai = apipegokal = pegawaipenjokar = penjarapentokar,lango, lalat ijo = tentaraplokis = polisipokad = padapokay = payahpokes = pestapokis = piso

329poskul = pulangprokem = preman,kaum rimba hijauS ————————————samuk = masuksedokur,sedoker = saudarasejut, satu D = sejutasekubus = sebungkussembokay = sembahyangsembokil = sembilansendokal, gabus = sendalsendokir = sendirisenjokat = senjatasepokat = sepatusepokul = sepuluhseton = seribusetokep = seratussetabang = sebatangsiokap = siapasi mas = pegawai negerisimbah = dukun kleniksokat = satusokam-sokam = sama-samasoker = serangsuim luan = musin hujanT —227————227\22—\27\22—Tabak, kores = Batakte-e = ente, kamutengsin = ketangkap basahtoket = tetek, buah dadatokim = timpa, tikem, tusuktokap = empattokig = tigatrimkokas = terima kasihtu’ang, ko’ut = utangtukang bola = tukang copetU —227—227—\27—227227——227ubi = granatW —\27—\27———\27\27\22——wakin = kawinwatu, tokau = tauwece = cewek

330Penerbit:PT Visi Gagas Komunik aJl. Jati Agung No. 3 Jati PadangPasar Minggu, Jakar ta 12540Telp. (021) 78831022, 7815236e-mail: visiperspektif@plasa.comAli Topan bukan sekadar gayaIa adalah jiwaBerontak untuk bebasMasa depan taruhannyaTEGUH ESHATEGUH SLAMET HIDAYAT ADRAIAlias TEGUH ESHA dilahirkan di Banyuwangi, Jawa Timurpada tanggal 8 Mei 1947. Ayahnya Ahmad Adrai (alm) danibunya Wilujeng (alm).Selamat dari SMAN IX, Jakar ta, ia pernah kuliah diFakultas Teknik Universitas Trisakti, Fakultas PublisistikUniversitas Prof Dr Moestopo (Beragama) dan FakultasIlmu-Ilmu Sosial - Depar temen Ilmu Politik - UniversitasIndonesia, namun tak ada satu pun yang selesai.Tahun 1971, bersama abang-abangnya, Kadjat Adrai danDjoko Prajitno, ia menerbitkan Majalah Sonata danmenjabat Wakil Pemimpin Redaksi. Tahun 1975, iamenerbitkan Majalah Le laki dan menjabat sebagaiPemimpin Redaksi di situ.Ia pun menulis syair dan lagu-lagu pop. Di samping serinovel Ali Topan, ia juga menulis beberapa novel yang lain.

Dokumen Terkait

Majlis Perasmian Pesta Tamu Gadang Ke 12

Majlis Perasmian Pesta Tamu Gadang Ke 12

Majlis perasmian pesta tamu gadang ke 12 teks ucapan timbala.

Contoh Proposal / 15 kali tayang / 27KB

Menjana Pertumbuhan Melalui Perubahan Muamalatcommy

Menjana Pertumbuhan Melalui Perubahan Muamalatcommy

Lima kubah mewakili 5 rukun dalam islam dan 5 1472011 acara.

Contoh Proposal / 17 kali tayang / 9,563KB

Abstrak Repositorymaranathaedu

Abstrak Repositorymaranathaedu

Abstrak warung nasi ibu imas sudah berdiri dari tahun 1997 d.

Contoh Proposal / 20 kali tayang / 40KB

Sambutan Pelantikan Osis Pdfsdocumentscom

Sambutan Pelantikan Osis Pdfsdocumentscom

Erwan sebagai ketua osis smp harapan yang baru terpilih memb.

Contoh Proposal / 49 kali tayang / 27KB

Pengembangan Agregator Berita Ipb

Pengembangan Agregator Berita Ipb

Pengembangan agregator berita ipb herdi bintang perdana utom.

Contoh Proposal / 19 kali tayang / 1,074KB

Peresmian Korea Indonesia Root Technology Center Kirc D

Peresmian Korea Indonesia Root Technology Center Kirc D

Peresmian korea indonesia root technology center kirc depart.

Contoh Proposal / 33 kali tayang / 349KB