Masyarakat Linguistik Indonesia



Keterangan eBook
Title halaman judul.tif
CreationDate 2010-08-06T08:56:33+07:00
Author User
Creator PScript5.dll Version 5.2.2
ModDate 2014-12-20T18:49:33+00:00
Producer 3-Heights(TM) PDF Producer 4.4.36.0 (http://www.pdf-tools.com)
Pages 127 Page
Ukuran File 998 KB
Dibuka 42 Kali
Topik Contoh Proposal
Tanggal Unggah Saturday, 19 Nov 2016 - 01:38 PM
Link Unduh
Baca Halaman Penuh BUKA
Rating eBook
Bagi ke Yang Lain

Kesimpulan

MASYARAKAT LINGUISTIK INDONESIA Didirikan pada tahun 1975, Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) merupakan organisasi profesi yang tujuannya adalah untuk mengembangkan studi ilmiah mengena i bahasa. PENGURUS MASYARAKAT LINGUISTIK INDONESIA Ketua : Yassir Nasanius, Ph.D., Unika Atma Jaya Wakil Ketua : Umar Muslim, Ph.D., Universitas Indonesia Sekretaris : Faizah Sari, Ph.D., Unika Atma Jaya Bendahara : Ienneke Indra Dewi, Universitas Bina Nusantara DEWAN EDITOR Editor Utama : Bambang Kaswanti Purwo, Unika Atma Jaya Editor Penda mping : Faizah Sari, Unika Atma Jaya Anggota :A. Chaedar Alwasilah , Universitas Pendidikan Indonesia; E. Aminudin Aziz , Universitas Pendidikan Indonesia; Benny H Hoed, Universitas Indonesia; Bernd Nothofer , Universitas Frankfurt, Jerma n; Asmah Haji Omar, Universiti Malaya, Malaysia; Siti Wachidah, Universitas Negeri Jakarta; D. Edi Subroto , Universitas Sebelas Maret; I Wayan Arka, Universitas Udayana; A. Effendi Kadarisman , Universitas Negeri Malang; Bahren Umar Siregar, Unika Atma Jaya; Hasan Basri , Universitas Tadulako; Umar Muslim, Universitas Indonesia; Dwi Noverini Djenar, La Trobe University, Australia; Mahyuni, Universitas Mataram; Patrisius Djiwandono, Universitas Ma Chung. JURNAL LINGUISTIK INDONESIA Linguistik Indonesia dit erbitka n pertama kali pada tahu n 1982 da n sejak tahun 2000 dit erbitka n tiap bulan Februari dan Agustus. Dengan SK D irjen Dikti No. 108/DIKTI/Kep/2007, 23 Agustus 2007, Linguistik Indonesia telah terakreditasi. Jurnal ini dibagika n secara cuma-cuma kepada para anggota MLI yang keanggotaannyaumumnya melalui Cabang MLI di pelbagai Perguruan Tinggi, tetapi dapat juga secara perseorangan atau institusional. Iuran per tahun adalah Rp. 100.000 (anggota da la m negeri) dan US$25 (anggota luar negeri). Keanggotaan institusional dalam negeri adalah Rp.120.000 dan luar negeri US$45 per tahun. Naskah dan resens i dikirim ke Redaksi dengan mengikuti for mat Pedoma n Penulisan Naskah di bagian belakang sampul jurnal. ALAMAT Masyarakat Linguistik Indonesia Pusat Kajian Bahasa dan Budaya, Unika Atma Jaya JI. Jenderal Sudirman 51, Jakarta 12930, Indonesia e-mail: pkbb@atmajaya.ac.id, Ph/Fax: +62 (0)21 571 9560

Daftar Isi Bahasa dan Pola Berfikir Bangsa Kita Soenjono Dardjowidjojo .......................................................... 105 Riau Indonesian: What Kind of a Language Is It? David Gil ................................................................................ 113 Realisasi Makna Tekstual pada Artikel Jurnal Ilmiah dalam Bahasa Indonesia Tri Wiratno ............................................................................ 141 Upaya Bahasa Jawa dalam Mengakomodasi Tulisan Ilmiah: Tanda-tanda Impotensi atau Komplikasi? Djatmika ................................................................................ 167 Pragmatik Kritis: Paduan Pragmatik dengan Analisis Wacana Kritis P. Ari Subagyo ...................................................................... 177 Pemosisian dala m Genr e Teks Fiksi, Wawancara, Ilmiah, Tajuk Rencana, dan Teks Berita Sumarsih ............................................................................... 189 Tipe Proses dalam Berbagai Teks dalam Koran serta Pengungkapannya dengan Kelas Kata Verba Bahasa IndonesiaSiti Wachidah ......................................................................... 201 Resensi: Barbara C. Lust Child Language Acquisition and Growth Diresensi oleh Asisda Wahyu A.P. ......................................... 219 Resensi: Almut Koest er Investigating Workplace DiscourseDiresensi oleh Sri Endah Tabiati ............................................. 223

Linguistik Indonesia Copyright 2010 by Masyarakat Linguistik Indonesia Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010, 105-112 BAHASA DAN POLA BERP IKIR BANGSA KITA Soenjono Dardjowidjojo* Unika Atma Jaya Abstract The fact that Bahasa Indonesia has been adopted as a national language is something that every Indonesian should be grateful and proud. The language, which has been declared as the language of unity in Indonesia, has played a significant role in uniting the multicultural people of the country. At this point the language has developed into a language that is used in both formal as well informal situations. In the process of its development, however, the language has tolerate d a number of deviations from the rules. As language and thought are interrelated, the writer argues that this phenomenon reflects the speakers’ pattern of thinking that seems to be illogical. The phrase mengejar ketinggalan run after something that has fallen behind, for example, has been interpreted as catch up. This paper explores a number of phenomena which indicate the way the Indonesian speakers think. Key words: gejala kontradiksi, gejala keraguan, gejala anomali, gejala sintaktik, kolokasi. PENGANTAR Ditinjau dari keberhasilan bangsa kita dalam me lahirkan dan membina bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, kita boleh merasa bangga karena dari sekian banyak bangsa di Asia Selatan maupun Asia Tenggara, hanya Indonesialah yang boleh dikatakan berhasil dalam arti yang sebenarnya. Pemimpin nasionalisme Filipina, Emilio Aguinaldo, bersama rekan-rekan seperjuangan, misalnya, telah menyatakan ba hasa Tagalog sebagai bahasa resmi seawal tahun 1897 (Mahajani, 1971: 73). Akan tetapi, pada konvensi Constitutional Assembly tahun 1936, bahasa ini hanya berhasil menjadi bahasa “inti.” Status sebagai bahasa nasional juga tidak dicapai pada tahun kemerdekaan 1946, di ma na Tagalog hanya menjadi bahasa resmi, didampingi oleh bahasa Inggris. Keadaan di Malaya (kini Malaysia) juga tid ak jauh berbeda. Pada Congress of Malay Association bulan Desember 1940, di mana la gu kebangsaan juga dipilih, para wakil rakyat memutuskan agar bahasa Inggris lebih mudah di kuasai oleh rakyat Melayu (Roff, 1967:246). Seakhir tahun 1993 pemerintah Malaysia bahkan mengijinkan bahasa Inggris dipakai sebagai bahasa pengantar di sekolah. Dominasi bahasa Inggris terhadap bahasa Melayu secara eksplisit dinyatakan oleh ahli bahasa terkemuka Malays ia, Prof. Asmah Datuk Haji Omar, saat beliau berkata: “…it was the imposition of the English language which came as part and parcel of colonialization that demoted Malay from its status as an H(igh)-language to that of an L(ow)- language (Omar, 1993182). India juga tidak jauh berbeda. Meskipun kongres pertama bahasa Hindi diadakan seawal tahun 1893, negara ini gagal membuat bahasa Hindi sebagai bahasa nasional pada tahun kemerdekaan 1950 (Mehrota, 1993:126). Nehru sendiri tercatat pernah mengatakan bahwa “Hindi is the official language, but English will continue as long as the non-Hindi speakers want” (Bureau). Cengkeraman Inggris tampakny a bermula pada tahun 1935 di mana Thomas Babington Macaulay, Direktur Pendidikan Inggris di India, mengatakan bahwa tugasnya adalah “to form a class…Indian in blood and colour, but English in tastes, in opinions, in morals, and in intellect” (Chai, 1964:277). Mungkin karena tipe penjajahan yang berbed a, peran bahasa Belanda yang tidak terlalu dominan, dan keberanian para pejuang kemerd ekaan saat itu, bahasa Indonesia diangkat sebagai bahasa kebangsaan tanpa ada saingan. Bahasa kita terus berkembang dengan pesat, baik dalam

Soenjono Dardjowidjojo 106 bentuk yang formal maupun informal. Namun demikian, dalam proses pengembangan dan perkembangan ini, muncul gejala-gejala ya ng menyimpang dari kaidah maupun akal sehat. Misalnya, kita temukan bentuk-bentuk seperti sumbangan wajib, cukup jelas sekali, kurang tahu, mengejar ketinggalan, kopi banget , dsb. Makalah ini membahas gejala-gejala seperti ini dan mencoba mencari tahu alasan mentalistik yang mendasarinya. GEJALA KONTRADIKSI Tanpa mencoba merendahkan pol a berpikir bangsa kita, kenyataan dalam masyarakat menunjukkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita sering menyimpang dari norma-norma budaya dalam masyarakat. Hal-hal yang sepele sepe rti kemacetan lalu-lintas disebabkan antara lain, kalau bukan terutama, oleh para pengemudi yang menyimpang dari aturan yang ada. Begitu juga kursi-kursi DPR yang sering kos ong saat sidang berlangsung mencerminkan suatu perilaku yang menyimpang dari tanggung-jawab wakil rakyat. Dalam perkembangannya, bahasa kita juga te rpengaruh oleh perilaku para pemakainya. Marilah kita kaji frasa sumbangan wajib. Dalam bahasa tiap kata utama memiliki seperangkat fitur ( features), baik sintaktik maupun semantik (Katz dan Fodor, 1963; Clark, 2003). Di samping fitur sintaktik [+nomina], kata sumbangan memiliki fitur semantik, antara lain, [+pemberian], [+sukarela], dan [+/ abstrak], Lihat diagram pohon berikut: Sementara itu, kata wajib mengandung antara lain fitur-fitur berikut: [+adjektiva], [sukarela]. Kalau kedua diagram di atas diga bungkan – sehingga muncullah frasa sumbangan wajib – akan tampak bahwa penyimpangan terletak pada fitur sukarela, yang di satu pihak adalah [+] tetapi di pihak lain []. Dari segi fitur semantiknya jel as tampak bahwa kedua kata ini tidak layak untuk dikolokasikan. Frasa seperti cukup jelas sekali mencontohkan penyimpangan yang lebih menarik. Kata ini sekaligus mengingatkan saya pada suatu se minar di mana Prof. Anton Moeliono sebagai pembicara diperkenalkan dengan kalimat beriku t: “Saya kira tak seorang pun tidak mengenal Prof. Anton Moeliono karena dalam bidang kebahasaan beliau adalah pakar yang cukup terkenal. ” Kolokasi kata cukup dengan adjektiva di belakangnya, terkenal, memunculkan suatu pengertian bahwa deraja t adjektiva yang berkolokasi dengannya belum benar-benar tercapai.

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 107 Dengan demikian, frasa cukup terkenal memiliki kontradiksi pula dalam arti bahwa referen yang dirujuk belumlah memenuhi syarat untuk diberi derajat terkenal. Dengan kata lain, kata cukup menarik ke bawah deraja t adjektiva yang mengikutinya. Dengan fitur seperti ini, frasa cukup jelas sekali menyimpang lebih jauh lagi. Sesuatu yang beratribut “Adjektiva + sekali” tidak memenuhi syarat untuk dikolokasikan dengan cukup . Akan tetapi, bentukan seperti ini sangat sering kita dengar: dalam komentar sepakbola, misalnya, kita sering mendengar tendangannya cukup keras sekali sehingga penjaga gawang tak berdaya. Bagaimana mungkin sesuatu yang keras sekali hanya dianggap cukup saja! Tentunya kolokasi seperti sumbangan wajib dan cukup jelas sekali muncul bukan tanpa alasan. Sumbangan wajib tercipta atau diciptakan berdasarkan alasan psikolinguistik yang dapat dimengerti. Orang (dalam hal ini mungkin pejabat pemerintah) mencari suatu cara untuk memperoleh dana dari masyarakat dalam bentuk sumbangan. Akan tetapi, bila sumbangan ini bersifat sukarela maka jumlah yang dipe rlukan mungkin tidak akan tercapai. Untuk memecahkan soal ini, ditambahlah kata wajib. Dalam pelaksanaanya, ini sebenarnya bukanlah sumbangan karena orang tidak diberi pilihan. Implikasi kultural apa yang muncul dari fe nomena seperti ini? Tampaknya, frasa seperti sumbangan wajib yang telah “diterima” oleh penutur bahasa Indonesia ini sedikit banyak mencerminkan tata kehidupan kita di mana ma syarakat dibimbing untuk menyimpang dari norma-norma yang baku. Bila ditangkap polisi lalu-lintas, jalan “terbaik” adalah untuk berdamai ; bila gaji tidak cukup, banyaklah pengajar yang menjadi dosen biasa di luar; untuk balik modal anggota DPR mencarinya denga n tindakan-tindakan koruptif, dst. Frasa seperti cukup jelas sekali mencerminkan suatu pola budaya keraguan: di satu pihak ingin menyanjung tetapi di pihak lain ada sema cam ketidak-yakinan sehingga ditambahlah kata pelembut cukup. Yang menarik di sini adalah bahwa pemakai frasa seperti ini tampaknya tidak sadar bahwa dengan ditambahkannya kata cukup itu justru menurunkan martabat orang atau hal yang ingin disanjungnya. GEJALA KERAGUAN Kalau kita mencari alamat seseorang dan bert anya kepada penjual di warung “Bang, numpang tanya, ya, di mana Jalan Wibawamukti itu,” dan pemilik warung itu tidak mengetahuinya, jawaban dia dapat dipastikan berbunyi “Waduuh, kurang tahu ya, Pak.” Untuk suatu objek abstrak seseorang memang bisa tahu dalam kadar derajat yang hierakikal. Orang bisa berkata “Wah, saya kurang tahu soal matematik”; artinya , dia tahu tetapi tidak banyak. Akan tetapi, untuk suatu objek kongkrit, kata tahu tidak memiliki hierarki semantik. Untuk suatu alamat, orang hanya bisa tahu atau tidak tahu. Dengan demikian, kolokasi kurang tahu untuk suatu alamat logikanya tidak mungkin – tidak ada orang yang tahu alamat sedikit-sedikit saja! Sifat yang tidak pasti seperti ini tampak pula dalam pemakaian kata mungkin dan barangkali . Kata-kata ini sangat sering dipakai dalam pelbagai wacana bahkan secara berlebihan. Dalam meminta suatu penjelasan bisa muncul kalimat seperti “Mungkin bapak dapat memberikan penjelasan tentang hal ini.” Dalam suatu ceramah kita temukan kalimat seperti “Mungkin saya tidak akan bisa menawarkan ha l yang baru…” Bahkan ada seorang gurubesar linguistik yang beberapa kali saya tangkap memakai mungkin dan barangkali secara berurutan seperti pada contoh berikut: “Mungkin barangka li kita perlu mengkajinya lebih dalam. Pemakaian kata mungkin, apalagi digabungkan dengan barangkali, yang tidak pada tempatnya dan secara eksesif ini tampaknya mempunyai kaitan dengan pola budaya kita yang konon sopan-santun dan ka renanya tidak mau secara tegas mengatakan atau melakukan sesuatu. Ketidak-tegasan ini memberikan dampak seolah-olah manusia Indonesia itu diselubungi oleh sifat keraguan.

Soenjono Dardjowidjojo 108 GEJALA ANOMALI Hal lain yang menarik untuk disimak adalah adanya gejala anomali dalam perkembangan bahasa kita. Dimulai dari film “Kejarlah Daku Kau Kutangkap” kita memiliki ungkapan- ungkapan seperti mengejar ketinggalan, mengentas kemiskinan, dan mencerdaskan kehidupan bangsa . Sekali lagi, fitur semantik verba mengejar menunjukkan bahwa apa pun yang kita kejar, itulah yang akan kita peroleh. Dengan demikian, anak kecil bisa mengejar ibunya; begitu pula kita bisa mengejar burung yang lepas, dsb. Dari perbuatan ini si anak dapat menangkap ibunya dan kita dapat (atau tidak dapat) menangkap burung yang lepas tadi. Kalau mengejar dikolokasikan dengan ketinggalan maka yang kita peroleh bukanlah kemajuan tetapi ketinggalan itu sendiri. Kalau ini slogan kita, pantaslah kita tidak pernah bisa mencapai kemajuan. Kita ketinggalan terus. Seperti halanya dengan mengejar ketinggalan, ungkapan mengentas kemiskinan juga mengandung logika yang keliru. Mirip dengan mengejar, verba mengentas juga menyatakan bahwa apa pun yang kita entas, itulah yang kita peroleh. Waktu mau hujan dan kita mengentas pakaian yang dijemur, maka pakaian itu pulalah yang kita peroleh. Jadi kalau mengentas dikolokasikan dengan kemiskinan, maka perbuatan kita itu akan menghasilkan sesuatu yang berwujud kemiskinan. Kita jadi miskin terus. Dalam frasa mencerdaskan kehidupan bangsa, terdapat pula anomali. Kata mencerdaskan mempunyai fitur sintaktik [+verba]. Fitur si ntaktik selanjutnya adalah bahwa verba ini mensyaratkan adanya nomina sebagai objek dan nomina ini harus memiliki fitur semantik [+bernyawa]. Kolokasi antara ve rba ini dengan, misalnya, kata anak-anak atau para dosen akan memunculkan kalimat yang dengan mudah diterima akal kita – Kami wajib mencerdaskan anak- anak kita; Mencerdaskan para dosen merupakan tanggung-jawab pemerintah. Kita juga mengkolokasikan verba ini dengan nomina yang mewakili kelompok bernyawa. Dengan demikian, mencerdaskan bangsa Indonesia dapat kita terima tanpa harus dipikir-pikir terlebih dahulu. Akan tetapi, nomina kehidupan justru malah tidak memiliki fitur [+bernyawa]. Karena verba mencerdaskan mensyaratkan objek yang [+bernyawa], sedangkan kehidupan adalah objek yang [–bernyawa], maka kedua kata ini menimbulkan anomali bila dikolokasikan. Dari gambaran di atas tampak bahwa dala m mengembangkan bahasa nasional kita, kita sering keluar dari rel logika yang umumnya dimiliki orang. GEJALA SINTAKTIK: BANGET Dalam teori penyimpanan kata dinyatakan bahw a ada pelbagai cara untuk menyimpan kata pada otak kita, salah satu di antaranya adalah dengan menyimpan kata berdasarkan kategori sintaktiknya: nomina dalam kotak A, verba dalam kotak B, adjektiva dalam kotak C, adverbial dalam kotak D, dst. Menurut aliran generatif (Chomsky, 1965; White, 2003; Troike, 2006) kotak-kotak ini merupakan manifestasi dari Language Acquisition Device yang merupakan bagian dari faculties of the mind seorang manusia. Hubungan antara isi kotak-kotak ini adalah rule-governed , artinya, ada seperangkat prinsipel yang bersifat universal yang wajib diikuti. Bagaimana wujud akhir dari pene rapan prinsipel ini dipengaruhi oleh parameter yang ada pada masing-masing bahasa. Dalam bahasa Indonesia, kata banget termasuk kategori sintaktik adverbia. Sebagai adverbia, kata ini terkendala oleh aturan yang mewajibkannya menjadi keterangan pada adjektiva. Sesuai dengan parameter bahasa Indonesia, kita peroleh frasa kecil banget, tinggi banget, mahal banget , dsb. Namun dalam perkembangannya masa kini kita temukan frasa seperti kopi banget yang jelas menunjukkan bahwa bentukan semacam ini tidak rule-governed. Hal yang menarik adalah bahwa frasa seperti in i tampaknya difahami dan diterima oleh masyarakat sehingga muncul pula bentukan lain seperti cowok banget, sabun banget, dan eskrim banget.

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 109 Satu hal yang menarik adalah bahwa konstruksi seperti ini akan menjadi kurang berterima kalau dinyatakan dalam ragam bahasa yang formal: rasanya kita masih belum bisa menerima frasa seperti kopi sekali, sangat kopi, lelaki sekali, sangat lelaki, amat lelaki, lelaki amat, dst. GEJALA SINTAKTIK: PERHATIAN Bahwa suatu kata bisa berpindah kategori sintak tiknya kita temukan tidak hanya pada adverbia banget di atas, tetapi juga pada bentukan yang lain. Kata perhatian, misalnya, termasuk dalam kategori sintaktik nomina. Akan tetapi, kata in i sering dipakai sebagai verba pada saat ini sehingga terdapatlah kalimat-kali mat seperti “Dia perhatian banget, ya, sama Titiek,” “Kamu, sih, nggak perhatian sama aku,” dst. Kalau dalam kasus banget kita dapati kolokasinya dengan nomina, pada kasus perhatian kita dapati bahwa kata ini dapat berkolokasi dengan adverbia atau berdiri sendiri. Dengan demikian, kata yang be rkategori sintaktik nomina ternyata dipakai sebagai verba. Tidak dapat disangkal bahwa dalam bahasa memang ada kata yang memiliki keanggotaan ganda. Dalam bahasa Indon esia kita temukan kata jalan, cangkul, dan gunting yang dapat berfungsi sebagai nomina atau verba; begitu juga kata Inggris drill, block, dan group. Akan tetapi, ada satu perbedaan yang signifikan antara kata-kata seperti ini dengan kata perhatian. Kata jalan, drill, dsb. merupakan kata dasar (base) yang belum dibubuhi dengan afiks apa pun, sedangkan perhatian berfungsi sebagai nomina justru karena telah adanya afiks yang ditempelkan. Dengan kata la in, kita membentuk nomina perhatian, kemudian kita memakainya sebagai verba. Di samping penyimpangan kategori sintaktik yang mulai muncul dalam perkembangan bahasa kita, tampak pula adanya penyimpangan makna dari kata yang kita bentuk. Kata pengangguran, misalnya, termasuk kategori sintaktik nomina dengan telah adanya tambahan afiks peN-an. Kata ini merujuk pada keadaan yang dinyatakan oleh kata dasar – pengangguran adalah dalam keadaan menganggur. Kata dasar nganggur juga dapat dijadikan nomina dengan tambahan afiks peN- sehingga terbentuklah nomina penganggur. Kata ini bermakna “orang yang nganggur.” Yang kini kita temukan adalah bahwa kata pengangguran dipakai untuk merujuk kepada orang yang nganggur: “Saya sudah lama jadi pengangguran.” Kalau dalam kasus banget terjadi syntactic shift , dalam hal pengangguran terjadi semantic shift. Kedua-duanya menyimpang dari kaidah yang ada dalam bahasa kita. Bahwa suatu kata dipakai sebagai anggota dari kategori sintaktiknya tampak pula pada kata pinjaman. Dalam bahasa Inggris dibedakan antara emotion and emotional – yang pertama nomina dan yang kedua adjektiva. Kita hanya mengadopsi nominanya saja – emosi. Namun, dalam pemakaian sehari-hari, kata ini dipakai sebagai adjektiva. Sering kita dengar kalimat seperti “Dia memang sering emosi,” “Kamu janga n emosi, dong,” dst. Kita mungkin dapat memberikan penjelasan dengan mengatakan bahw a penyimpangan ini disebabkan oleh ketidak- tahuan si pemakai akan kategori sintaktik kata ini. Gejala lain yang berkaitan dengan kata pinjaman tampak pada kata-kata seperti mensubsidi, mengakomodasi, dan mengkoordinasikan. Sumber untuk kata subsidi adalah kata Inggris subsidy yang merupakan bentuk nomina dari verba subsidize. Dalam proses peminjaman, kita memilih bentuk nominanya, subsidy, yang kemudian kita jadikan verba mensubsidi . Tampaknya ada kecenderungan pada kita untuk meminjam kata yang berkategori nomina. Bila kemudian kita perlukan verb anya, kita berilah afiks verbal. Kata mengakomodasi, misalnya, berasal dari kata Inggris accommodation. Nomina ini berasal dari verba to accommodate . Yang kita ambil bukannya accommodate tetapi accommodation yang kemudian kita verbakan dengan menambahkan prefix meN- sehingga menjadi mengakomodasi. Begitu pula halnya kata mengkoordinasikan yang diambil dari nomina Inggris coordination, dan bukan verba coordinate.

Soenjono Dardjowidjojo 110 Penyimpangan sintaktik dan semantik juga kita temukan pada satu bentuk leksikal yang sama. Dengan intonasi tertentu, kata ta(h)u, misalnya, dipakai dalam wujud sintaksis yang positif tetapi dengan makna yang negatif. Di su asana kampus, mahasiswa A bertanya kepada mahasiswa B di mana Robi berada: A: Eh, Robi di mana sih? B: Tahu. Dari segi sintaksis, kalimat B tidak merupakan kalimat negatif, tetapi dari segi semantiknya makna kalimat ini negatif, yakni, “Saya tidak tahu di mana Robi berada.” Sementara itu, kata tahu juga dapat merujuk ke makna yang umum ditemukan pada tag questions. Dalam kalimat seperti “Ini mahal, tau” kata tau bermakna (dalam bahasa Inggris) dont you know it? KOLOKASI Aspek lain yang sangat menonjol adalah keke liruan dalam kolokasi. Suatu proposisi dalam kalimat memiliki argumen dan predikasi. Tiap pr edikasi memiliki persyaratan sintaktik yang perlu dipenuhi oleh argumen di sekitarnya. Verba memakamkan, misalnya, memerlukan dua argumen “pelaku perbuatan” dan “entiti yang dike nakan oleh perbuatan itu”. Dengan demikian, kalimat “Para korban TNI–AU dimakamkan di Kalibata” memenuhi syarat kolokasi. Akan tetapi, penyiar TV mengungkapka nnya dengan kalimat “Pemakaman para korban dimakamkan di Kalibata” (TV One, 8 April 2009). Di sini tampak adanya pelanggaran kaidah kolokasi antara predikasi dimakamkan dengan subjek pemakaman. Yang sangat menarik adalah bahwa fenomena seperti ini sangat banyak ditemukan dalam bahasa kita. Kita catat, misalnya, kalimat seperti: (1) Banjir itu membanjiri Kampung Melayu. (2) Jumlah korban Situ Gintung berjumlah 100 orang meninggal. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana hal sepe rti ini terjadi? Kalau kita percaya pada apa yang oleh Chomsky dinamakan Plato’s Problem, maka sangat aneh melihat orang dewasa membuat kekeliruan seperti ini. Bagaim ana manusia memperoleh pengetahuan (knowledge) kebahasaan bermula dari adanya innate properties yang dibawa sejak lahir. Dalam Teori Prinsipel dan Parameter, innate properties ini merupakan prinsipel yang sifatnya universal – siapa pun di dunia ini, tentunya termasuk orang I ndonesia, memiliki properti ini. Sementara itu, parameter berupa masukan ( input) dari lingkungan di mana manusia itu tumbuh. Kalau pun kita katakan bahwa anak memasangkan banjir-membanjiri dan jumlah- berjumlah berdasarkan masukan, jawaban ini belum menerangkan dari mana pemberi masukan (penutur dewasa) memperoleh masukan yang de mikian saat mereka dahulu memperoleh bahasa natifnya. Masih banyak masalah pemerolehan bahasa yang belum terjawab, dan tampaknya kasus ini merupakan salah satu yang perlu dikaji lebi h lanjut. Kekeliruan kolokasi dalam kaitannya dengan bahasa asing mudah dijelaskan. Mengapa kita berkata * We must hold our promise dapat dijelaskan dengan adanya interfere nsi dari bahasa kita “Kita harus memegang janji kita.” Akan tetapi, mengapa kita berkata pemakaman-dimakamkan, banjir-membanjiri, dsb masih merupakan misteri. Hal ini juga diperkuat ol eh kenyataan bahwa dalam bahasa-bahasa lain seperti bahasa Inggris kekeliruan ini tidak dite mukan. Tidak ada orang Inggris yang keliru berkata * We must hold our promise.

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 111 KAITANNYA DENGAN PERTUMBUHAN BAHASA NASIONAL Seperti dinyatakan dalam bagian pengantar makalah ini, bahasa Indonesia telah mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Dari segi leksikon ba hasa kita telah mencapai lebih dari 70.000 lema; dari segi fonologi, kita telah banyak mengadopsi bunyi-bunyi dari bahasa lain; dari segi sintaktik kita telah dapat mengungkapkan apa yang ingin kita nyatakan dalam bentuk kalimat yang kompleks. Dengan semua ini kita tela h dapat memakai bahasa Indonesia dalam wacana yang formal dan ilmiah. Perkembangan yang pesat ini secara tidak la ngsung memberikan unsur perekat yang lebih mempersatukan bangsa. Bahkan dapat dikatakan di sini bahwa dari tiga ikrar dalam Sumpah Pemuda tahun 1928, satu-satunya ikrar yang belu m pernah digoyang hanyalah “satu bahasa.” Ikrar “satu tanah air” dan “satu bangsa” tela h beberapa kali dicoba untuk dirobohkan: pemberontakan DI-TII, Permesta, RMS, dan GAM merupakan contoh-contohnya. Bahkan telah ada yang berhasil: Timor Timur. Namun di balik keberhasilan ini, ada bebera pa hal yang perlu diwaspadai. Contoh-contoh di atas seperti sumbangan wajib, mengejar ketinggalan, kopi banget, dia perhatian, dan pemakaman-dimakamkan bisa dikatakan sebagai cerminan dari pola berpikir yang keliru dan tidak nalar. Memang dalam bahasa tidak ada logika mutlak. Dalam bahasa Indonesia, kita dapat mengatakan mati keracunan, tetapi tidak *mati ketempean; kita bisa berkata jumlahnya diperbanyak tetapi tidak *jumlahnya dipersedikit. Dalam bahasa Inggris kita bisa berkata A teacher is a person who teaches tetapi tidak *An author is a person who auths atau *A person who pilots a plane is a piloter , dst. Namun demikian, masih saja kita perlu tahu landasan mental yang mendasari bentuk-bentuk yang tak nalar ini. Bentuk seperti sumbangan wajib mungkin mempunyai landasan mental yang berupa paksaan halus untuk memperoleh sesuatu. Dengan dasar seperti ini sesuatu yang [+sukarela] dan [–sukarela] dikolokasikan bersama. Akan teta pi, landasan mental apa yang dapat diajukan sebagai dasar pembentukan frasa seperti mengejar ketinggalan? Kopi banget dan dia perhatian menunjukkan kekacauan pola pikir kita dalam me nentukan kategori sintaktik – padahal, konon kategori sintaktik menurut aliran genera tif termasuk dalam kategori yang kodrati (innate). Saya tidak ingin mengatakan bahwa orang Indonesia itu la in dari yang lain, tetapi dalam hal bahasa masalah ini menjadi menarik: Apakah manusia Indonesia itu tidak memiliki Universal Grammar (UG), ataukah hanya kecerobohan kita saja yang me mbuat kita keliru dalam pemakaian bahasa kita sendiri? Kalau pun bahasa Indonesia itu di anggap sebagai bahasa kedua, apakah memang benar bahwa sudah tidak ada lagi UG yang ters isa dalam memperoleh bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua (lihat White, 2003; Troike, 2006; Gass & Selinker, 2001). Kalau pun UG dianggap telah habis dipakai untuk memperoleh bahasa pertama (Jawa, Sunda, Bali, dsb), apa yang dikenal dengan istilah Initial State (White, 2003) untuk bahasa kedua (Indonesia) digantikan oleh Final State dari bahasa pertama. Dalam Final State ini tentulah tidak terdapat kesalahan dalam urutan kata. Dengan memperhatikan pula keke liruan pemakaian kata seperti emosi sebagai adjektiva, tampaknya ada sesuatu yang “tidak beres” dalam LAD ( Language Acquisition Device) kita. Dugaan ini dilandaskan pula pada kenyataan ba hwa pada proses pemerolehan bahasa, anak memang membuat banyak kesalahan mengenai ka tegori sintaktik suatu kata. Anak Inggris, misalnya, memakai kata chocolate sebagai verba seperti pada kalimat “I wanna chocolate the milk”. Akan tetapi, apa benar bahwa orang dew asa kita berperilaku linguistik seperti anak kecil orang Inggris? Tampaknya, tidaklah demikian. Kekeliruan pemakaian emosi sebagai adjektiva rasanya semata-mata berdasarkan ketidak-ta huan pemakai akan kategori sintaktik kata emotion, atau hanya sekedar kecerobohan dalam berbahasa.

Soenjono Dardjowidjojo 112 PENUTUP: MENUJU KE DUNIA GLOBAL Kalau bahasa Indonesia memang dicanangkan sebagai salah satu bahasa yang dipakai di kalangan yang lebih luas, orientasi pengembanga n bahasa ini perlu benar-benar ditinjau ulang. Sejak Kongres pertama di Solo kita terlalu bernostalgia pada masa lalu dengan dalih nasionalisme. Kita digiring untuk mencari padanan kata dari bahasa-bahasa di tanah air maupun bahasa-bahasa yang serumpun sebelum kita “diizinkan” untuk memakai bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Rencana Pusat Baha sa dengan Undang-undang Bahasa, di mana diserukan pelarangan penonjolan bahasa asing/ Inggris menunjukkan pola pandang yang sempit. Globalisasi adalah tsunami bahasa dan teknol ogi yang tidak mungkin dibendung. Yang perlu kita lakukan adalah mencari strategi bagaiman a bahasa nasional kita ini terus dikembangkan dengan menyesuaikan diri pada arus glob alisasi tanpa melacurkan budaya bangsa. Pemanfaatan bahasa daerah sebagai pemerkay a kosakata bahasa kita adalah suatu usaha yang baik untuk mempertahankan budaya kita dari tsunami global. Akan tetapi, janganlah kita bertindak terlalu ekstrem dengan melarang pema kaian bahasa asing. Orang akan enggan untuk membeli rumah di Perumahan Pinggir Kali, tetapi akan berduyun-duyun bila namanya adalah River View Estate . Sementara itu, masalah-masalah mikro seperti digambarkan di atas hendaklah mendapat perhatian sehingga bangsa kita lebi h nalar dalam berpikir dan berbahasa. Pola pikir yang jernih memunculkan bahasa yang nalar; bahasa yang nalar mencerminkan pola pikir yang jernih. CATATAN * Penulis berterima kasih kepada mitra bebestar i yang telah memberikan saran-saran untuk perbaikan makalah. DAFTAR PUSTAKA Bureau of Parliamentary Reasearch (Tanpa Tahun). Official Language Controversy: Set at Rest. India. Chai, H.C. 1964. The Development of British Malaya: 1896-1909. London: Oxford University Press. Chomsky, N. 1965. Aspects of the Theory of Syntax. Cambridge: The MIT Press. Clark, E.V. 2003. First Language Acquisition. Cambridge: Cambridge University Press. Fishman, J. (ed.). 1993. The Earliest Stage of Language Planning. Berlin: Mouton de Gruyter. Gass, S.M. dan L. Selinker. 2001. Second Language Acquisition: An Introductory Course, Edisi Kedua. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates, Inc. Katz, J.J. dan J.A. Fodor. 1963. “The Structure of a Semantic Theory.” Language 39, 170-210. Mahajani, U. 1971. Philippine Nationalism: External Challenge and Filipino Response: 1865- 1946 . Queensland: University of Queensland Press. Mehrota, R.N. 1993. “The First Congress of Hindi.” Dalam: Fishman (ed.), 117-128. Omar, A.H. 1993. The First Congress for Malay. Dalam: Fishman (ed.) , 181-198. Roff, W.R. 1967. The Origin of Malay Nationalism. New Haven: Yale University Press. Troike, M.S. 2006. Introducing Second Language Acquisition. Cambridge: Cambridge University Press. White, L. 2003. Second Language Acquisition and Universal Grammar. Cambridge: Cambridge University Press.

Linguist ik IndonesiaCopyright 2010 by Masyarakat Linguistik IndonesiaTahun ke-28, No. 2, Agustus 2010, 113-140RIAU INDONESIAN: WHAT KIND OF A LANGUAGE IS IT? David Gil*Max Planck Institute for Evolutionary AnthropologyAbstrakMakalah ini mencoba menguak hal ikhwal dialek Indonesia Riau. Sejumlah kajian mengenai dialek ini telah mengundang kritikan-kritikan, antara lain, dialek ini dianggapbukan bahasa yang sepatutnya atau bahasa yang nyata. Di dalam makalah ini penulismenyoroti 12 anggapan tentang hakekat dialek Indonesia Riau. Misalnya, apakah dialek Indonesia Riau merupakan varietas bahasa yang tidak sempurna? Apakah dialek Indonesia Riau adalah bahasa yang tidak memiliki penutur asli? Apakah dialek Indonesia Riautercipta karena alih-kode? Apakah dialek Indonesia Riau sebuah kreol? Dari hasil kajiantentang dialek ini dari segi sosiolinguistis, yaitu kaitan dialek ini dengan bahasa-bahasasubstrat dan superstrat, dan dari segi geografis, yaitu kaitan dialek ini dengan berbagaivarietas bahasa Indonesia lisan sehari-hari, penulis berpandangan bahwa tidak ada halyang luar biasa dari dialek ini. Dengan kata lain, dialek ini tidak ada bedanya denganpelbagai bahasa lainnya. Sebagai kesimpulan, penulis berpendapat bahwa pelbagaibahasa-bahasa utama dunia mungkin juga memiliki sejumlah varietas bahasa, yangmemiliki kemiripan dalam hal profil sosiolinguistis dengan dialek Indonesia Riau. Akantetapi, mungkin saja kemiripan ini belum diakui atau dideskripsikan secara memadai.Kata kunci: dialek Indonesia Riau, varietas bahasa, alih-kode, kreol, substrat, superstratIN SEARCH OF A NAME, IN SEARCH OF AN IDENTITY Languages and dia lects do not present themselves to us with ready-ma de na mes, well- established identities, and their own individual profiles plus three-letter codes in the latest edition of Ethnologue . Often, several distinct languages or dialects share a single name;conversely, a single language or dialect may be known by several different names, or, alternatively, may not have any name of its own. Linguists try to clear up the mess, by engaging in careful descriptions, both of linguistic structure (lexicon, phonology, morphology, syntax,and so forth) and of the sociological and geographical landscape in which such structure is embedded. However, in order to describe a language or dialect, the linguist must have some prior notion of what that language or dialect is, some presupposed delimitation of the object ofinquiry. The identification of languages and dialects thus involves a continual back-and-forth interplay, with delimitation informing description which in turn contributes to further delimitation, and so on. My first serious encounter with these issues was in 1992, when I took up a position at theNational Universit y of Singapor e. My office window op ened out onto a vista of b eckoning tropical islands, part of the Riau archipelago of neighboring Indonesia, and I soon found myself visiting these islands on a regular basis, and picking up the local language. But what languagewas that? Indonesian, of course; that is what peop le said that they were sp eaking, and it certainly was some form or another of colloquial Indonesian. However, after a very short time it became evident that this was a very different variety, in just about every respect — lexically,phonologically and grammatically — from the Indonesian described in textbooks and familiar inits broad outlines to many general linguists. Obviously, this was some kind of local basilectal language variety; but what exactly? Back in Singapore, I tried asking my local linguist colleagues about what it was they were speaking over in Riau, but nobody seemed to know oreven care. A few persons suggested that what I was encountering on my trips to Riau might be therenowned R iau Malay, that loca l dialect which, according to historians, formed the basis for the

David Gil114creation of t he two standardized versions of t he language: Standard Malay and Standard Indonesian. But this was clearly not the case. Indeed, in a handful of rather remote villages, the majority of the population were indigenous ethnic Malays, and what they spoke was in fact Riau Malay. However, a large majority of the inhabitants of the islands were actually migrants fromother parts of Indonesia — Minangkabau, Batak, Javanese and others — and what they were speaking was clearly distinct from Riau Malay, lexically, phonologically and grammatically. Rather, it appeared to b e some kind of lingua franca, or contact variety of Indonesian. Alt houghseemingly dialects of the same language, the differences between Riau Malay and the localIndonesian were of sufficient saliency that speakers considered the two to be completely separate languages. In particular, whereas the local Malay was considered to be a distinct "regional language" (a concept for which Indonesian has a special term,bahasa daerah), on apar with other regional languages such as Minangkabau, Batak and Javanese, the local Indonesian was viewed to be a perhaps somewhat corrupted version of the "national language". So this strange new variety of Indonesian was not Riau Malay, but it was just as obviouslynot Standard Indonesian either. Soon I was about to publish a first description of this language variety (Gil 1994), but it still had no name. What was I going to call it? Speakers simply referred to it as Indonesian, but that was not good enough. So I decided to call it "Riau Indonesian". In the years since, I have published additional articles on Riau Indonesian, describingvarious aspects of its structure, and ma king various claims concerning its relevance forlinguistic theory (Gil 1999, 2000, 2001a,b, 2002a,b, 2003b, 2004a,b, 2005c,d,e, 2006a, toappear). At the same time, I have gained a better understanding into its sociolinguistic character. In a nutshell: Riau Indonesia n is the variety of colloquial Indonesian used in informa l every-day contexts as a lingua franca for interethnic and increasingly also intraethniccommunication by residents of the eponymous region. As a basilectal speech variety, it lies atthe bottom of a lectal cline, or continuum, extending all the way up to the acrolectal Standard Indonesian. Riau Indonesian is distinct from, albeit in close contact with, other varieties of Malay/Indonesian spoken in the same region: Riau Malay, mentioned above, Bazaar Malay, alocal variant of which is used for communication between speakers of Chinese and non-Chinese ethnicity, and Jakarta Indonesian, which is rapidly sprea ding thr ough the country and acqu iring the status of a pan-national mesolectal and somewhat "trendy" koiné. In its broadsociolinguistic profile, Riau Indonesian thus resembles many other regionally-based varieties of Malay/Indonesian used as basilectal lingua franca throughout the archipelago, such as Ambon Malay (van Minde 1997). One difference, however, is worthy of mention: whereas in easterncontact varieties such as Ambon Malay, the indigenous languages are at best distantly related toMalay/Indonesian, in many western contact varieties, including Riau Indonesian, the indigenous language is itself a dialect of Malay.My work on Riau Indonesian has attracted a wide range of reactions. One the one hand, itfeatured in a one-hour documentary movie ("The Ways of Babel", by Pierre Morize, Arte France, Movimento Product ion, 2002), and was reported on in the Economist ("Babel'sChildren", 10-16 January 2004, pp. 61-62). On the other hand, it has triggered a number of adverse and sometimes quite outspoken reactions, mostly verbal rather than written. Somecriticisms have been aimed at specific analyses proposed; however, in other cases, the negative reactions have quest ioned the validity of t he data on which such analyses are based. Indeed, ma ny of these reactions have r evolved around the suggest ion that, in one sens e or another, RiauIndonesian is "not a real language". The goal of this paper is to provide a refutation of such suggestions, by arguing that RiauIndonesian is indeed a real language, or at least as real as any other language. The followingsection of this paper, of an inevitably rather argumentative and polemic tone, formulates rebuttals of various specific claims concerning the nature of Riau Indonesian as something other

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010115than a proper language. The sectionsRIAU INDONESIAN AND ITS SUBSTRATE ANDS UPERSTRATE LANGUAGES andRIAU INDONESIAN AND ITS NEIGHBORING LANGUAGES ,of a more constructive and data-oriented flavour, examine the respective place of Riau Indonesian in sociological space, focusing on its relationship to its substrate and superstrate languages, and in geographical space, dealing with its relationship to its neighboring dialects. Emerging from the discussion is an answer to the question posed in the title of t his paper: WhatIs Riau Indonesian? The answer is a rather mundane one: Nothing at all exceptional, just another one of the world's language varieties. A DOZEN CLAIMS ABOUT RIAU INDONESIAN What does it mean to say that Riau Indonesian is not a real language? For orthodox generativists, no language is real, since language, (or "E-language") is epiphenomenal, and whatlinguists should instead be concerned wit h is grammar (or "I-language"). But the peop le who say that Riau Indonesian is not real are not (just) generativists; they hail from all walks of linguistic life, ranging from fieldworkers to philologists, and from typologists to historicallinguists. For the most part, suggestions to the effect that Riau Indonesian is not a proper languagegenerally involve claims that it is lacking some crucial feature perceived to be a sine qua non fortrue languagehood; typically, such claims invoke some kind of label with intended negativeconnotations. Following are 12 claims, each of which has been made at some point or another with regard to Riau Indonesian in order to argue that it is not a real language, or at least not an ordinary, run-of-the-mill, or prototypical one: 1. Riau Indonesian is just ... Claim 1: a hoaxClaim 2: a corrupt, broken, imperfect language varietyClaim 3: a language variety spoken only by uneducated peop leClaim 4: a language variety without native speakersClaim 5: a language variety without first-language speakersClaim 6: a local accent of IndonesianClaim 7: an artefact of code-switchingClaim 8: a mixed languageClaim 9: for eigner talkClaim 10: a trade jargonClaim 11: a pidginClaim 12: a creoleWhile largely independent of each other, the above 12 claims are nevertheless interrelated in various ways, as a result of which some of them sometimes end up being bundled into a single critique. This paper examines the above 12 claims one after another, and argues that each and every one of them is factually wrong. Claims 1-12 are ordered in very roughly increasing order of seriousness. Claims 1-3 areirreleva nt and prejudiced, and it is unfortunate and even a little embarrassing that time and spacestill need to be wasted in order to dismiss them. Claims 4-12 are at least substantive, howeverthey are all factually wrong the first eight manifestly so, the last one, being of historical nature, in the absence of any positive corroborating evidence.It should be noted, though, that with the exception of the first, the above claims shouldnot, even if true, have any bearing on whether Riau Indonesian is a "real language". (Try telling a creolist — cf. Claim 12 — that their object of investigation is not real!) Most commonly, notions of what constitutes a "real language" presuppose a host of normative assumptions about a language's past and present: for example that it should be the result of "normal" transmission

David Gil116down the generations, that it should be the native language of monolinguals pick your favourite prejudice. But if all of these assumptions were put together, there would be very few proper languages left. Even if one or more of Claims 2 - 12 turned out to be true, Riau Indonesian would still be worthy of serious linguistic investigation. However, as is argued here,there is good reason to reject each and every one of the 12 claims in (1) above. A Hoax In response to the publication of theEconomist article, a linguist writing on the sci.lang blog(http://groups.google.com/group/sci.lang/msg/f127f1ecf3a5e1d4) grumbled that "the only way you can experience the real [Riau Indonesian] seems to be to hang around down at the dock with David Gil. Which makes it hard to evaluate his hypothesis". Such doubts have been expressed in more outspoken terms. At a recent conference, the 12th International Symposium onMalay/Indonesian Linguistics (26-27 June 2008, Leiden, The Netherlands), during a panel discussion, one local linguist said that he could not believe in the existence of Riau Indonesian in the absence of any available published data, while a compatriot of his simply asserted thatthere is no such thing as Riau Indonesian. An Indonesian linguist in the audience went evenfurther, pronouncing Riau Indonesian to be a "hoax", comparing it to the "Great Eskimo Vocabulary Hoax", which held that the Eskimos had a huge number of different words for 'snow' (Pullum 1989). The litmus test for any scientific claim is t hat it be replicable. Well, for anybody wis hingto experience Riau Indonesian first hand, directions and travel tips for Riau are readily availablein any number of guidebooks. It's easy to get there: that infamous dock, where I collected someof my data, is just half an hour by luxury ferry from the even more luxurious Changi Airport in Singapore, and you're less likely to be mugged there than on most linguists' own university campuses. But the less mobile linguist also has ways in which to independently assess thevalidity of the data and there's a lot of it from the reassuring comfort of his or her desk.When I first started working on Riau Indonesian, I had no research budget or technical assistance; accordingly, the method I developed for collecting naturalistic speech data involved jotting down individual utterances that I heard into a notebook and then ent ering them int o adatabase. It is such data that is cited in my earlier wor ks on Riau Indonesian. In the mea ntime, however, my circumstances have greatly improved, and for the last few years the Max Planck Institute for Evolutionary Ant hropology has made it possible to employ a team of assistants inUniversitas Bung Hatta in Padang, whose task is to transcribe and annotate naturalistic speech in Riau Indonesian, alongside various other dialects and languages. The data, together with data collected from other sites across Indonesia, is housed in a database containing 5 basic fields,providing transliteration, phonetic transcription, interlinear gloss, free translation (into eitherEnglish or Standard Indonesian) and other comments; the database also provides rich metadata concerning the speakers, the situation in which the recording was made, and so forth, plus links to the original sound files. A subset of the data, including that from Riau Indonesian andclosely related languages, is posted on the web, where it is publicly accessible: just go to http://lingweb.eva.mpg.de/jakarta/data.php. Linguists are invited to make use of this resource, to reassure themselves that Riau Indonesian is not a hoax, and then hopefully join in the furtherstudy of Riau Indonesian and other language varieties. A Corrupt, Broken , Imperfect Language Variety Some linguists, accepting that it is not a hoax, are still reluctant to take data from Riau Indonesian seriously, on the grounds that it represents a "corrupt", "broken", or "imperfect"variety of Indonesian. Such attitudes stem from an entrenched tradition of prescriptivism and language engineering which views the standard language as the only legitimate variety and any deviation from it as undesirable. Whatever the possible merits of prescriptivism vis à vis

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010117society at large, from the point of view of descriptive linguistics, such attitudes are simply irrelevant. Modern descriptive linguistics takes for granted that, just as all of the world's languages are equally worthy of study, so all varieties of a single language, be they acrolectal or basilectal, are equally deserving of serious scientific investigation. Unfortunately, however, thedescriptive approach to linguistics still meets with substantial resistance in many parts of the world, including Indonesia.Indeed, one might arguably go one step further, turning the tables on the old prejudices, tosuggest that, if anything, basilectal varieties of a language are more real than their acrolectal standardized counterparts. Here, briefly, are some reasons why Riau Indonesian might actually claim to be more real that Standard Indonesian. First, Riau Indonesian has native speakers, whereas Standard Indonesian, by anybody's account, has none. Secondly, in Riau there aremany speakers of Riau Indonesian who have little or no competence in Standard Indonesian, but few or no speakers of Standard Indonesian without complete or near-complete competence in Riau Indonesian. T hirdly, even a mongst diglossic individuals with complete mastery of bothbasilect and acrolect, Riau Indonesian is used with massively greater frequency, and in anoverwhelmingly greater variety of situations, than Standard Indonesian. Fourthly, Riau Indonesian shares more typological features with neighboring Southeast Asian languages, while Standard Indonesian exhibits more areally atypical properties resulting from languageengineering, much of which involves attempts to mimic perceived characteristics of prestigious western languages. Some examples: (a) Riau Indonesian, like most languages of Southeast Asia, uses the same word for 'and' and 'with', while Standard Indonesian, like most languages ofEurope, has distinct words for both functions (Gil 2004a,b); (b) Riau Indonesian, like most languages of Indonesia, has adnominal distributive numerals, formed by reduplication, whereas Standard Indonesian, like English, Dutch and Arabic, has no distributive numerals (Gil 2005b);and (c) Riau Indonesian, like many languages of Southeast Asia, has neither rigid clausal wordorder nor case marking, whereas Standard Indonesian follows the general European pattern of having at least one of the two — in the case of Standard Indonesia n this being rigid clausal word order (Gil 1994, 2005e, 2008a). For these and other reasons, it would seem justified to considerRiau Indonesian (as well as other, similar basilectal varieties of Indonesian) as ontologically prior, and Standard Indonesian as derivative. Indeed, in view of the often inept and linguistically uninformed machinations of the language engineers, it would seem moreappropriate to characterize Standard Indonesian as being the "corrupt", "broken" and "imperfect" version of the real language. “A Language Variety Spoken Only by Uneducated People” In a related but still distinct complaint to the preceding one, data from Riau Indonesian is sometimes criticized by linguists as being obtained from uneducated, low-class speakers. True, most of the data from Riau Indonesian happens to come from uneducated speakers, but so what? Notwithstanding the provenance of perhaps most of its practitioners, linguistics has neverdefined itself as the study of middle- or upper-class language. In fact, in the case of basilectal language varieties such as Riau Indonesian, there aredistinct methodological advantages to working with uneducated speakers. Of course, educatedpersons also speak Riau Indonesian; however, their better mastery of Standard Indonesianmeans that, when asked to provide judgments in Riau Indonesian, their responses are more likely to be contaminated by their knowledge of the standard language, and their inability even when willing to differentiate between the two. For example, in a cross-linguisticexperiment currently in progress (see Gil 2007, 2008a for some preliminary results), speakers of Riau Indonesian and other colloquial varieties of Indonesian are asked to judge the availability of various interpretations of sentences involving constructions such as bare, unmarkedperipheral non-arguments (eg. Badut minum buku, literally 'clown drink book', with the

David Gil118interpretation 'The clown is drinking while reading a book') and non-canonical word orders (eg. Ayam makan, literally 'chicken eat', with the interpretation 'Something is eating the chicken').Consistently, in Riau Indonesian and other basilectal varieties, uneducated speakers are morewilling to accept such interpretations than their highly edu cated counterparts. As argued in Gil(2005a), this is due, at least in part, to the fact that more highly educated speakers are more likely to be influenced in their judgments by Standard Indonesian, in which such interpretations are not available. What this suggests, then, is that in situations involving diglossia, such as thatof Riau Indonesian, uneducated speakers may be better sources of information concerning thelanguage in question, and the data that they provide may in fact be more "real". A Language Variety without Native Speakers Adopting a somewhat different tack, it is sometimes claimed that Riau Indonesian is not a real language in the sense that it does not have any native speakers of its own. But this is patently false: most children growing up in Riau speak Riau Indonesian before they reach school age. Moreover, there is no reason to suppose that the facts were significantly different within thelifetime of all current speakers of Riau Indonesian. Of course, many children growing up inRiau may also speak other dialects of Malay/Indonesian and/or other languages before school age. However, multiglossia and multilingualism are the norm in Indonesia as in most other parts of the world, and this is not taken to suggest that any of the dialects or languages involvedare any less real for this reason. A Language Variety without First-Language Speakers In a variant on the preceding claim, it is occasionally suggested that, while young children may indeed be acquiring Riau Indonesian, it is never actually their first language variety: they are invariably acquiring some other dialect or language as their first and hence dominant language variety, and Riau Indonesian only at some subsequent stage of development. Again, this is notthe case. To begin wit h, it is clear that many young children are only acquiring RiauIndonesian; for such children this claim is trivially false. However, as mentioned in the preceding paragraph, there are also many children growing up with multiglossic and/or multilingual competence, and for such children, one or another of their language varieties mayindeed be first, in the sens e that it is acquir ed mor e rapidly and therefor e dominates the young child's usage. So which language variety is this? While no careful sociolinguistic studies have been made, impressionistically it would seem that there are a range of situations: while in somecases Riau Indonesian might be the first language, in other cases some other dialect or language would appear to have priorit y, and in yet other cases it is hard to pick out one of the two or more language varieties as being the dominant one. To summarize, then, it is clear that in very manycases, Riau Indonesian is a first or dominant la ngua ge, and that in many other cases, it shares this designation alongside one or more other language varieties. Moreover, even in those cases where it comes in second to some other language variety, it still retains its status as a native language acquired in early childhood, and is therefore no less r eal than the mor e dominantlanguage variety that the child has acquir ed. A Local Accent of Indonesian Riau Indonesian is sometimes characterized as nothing mor e than Indonesia n wit h a regional accent, reflecting the influence of the indigenous language, Riau Malay, and/or the languages ofmigrant communities, in particular Minangkabau. It is indeed the case that the pronunciation of Riau Indonesian differs from that of other regional varieties of Indonesian in ways that reflect the influence of Riau Malay and Minangkabau; some exa mples of t his are present ed in Table 2below on page ???. However, as commonly understood, the term "accent" refers only topronunciation, whereas the differences between Riau Indonesian and other regional varieties

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010119span the entire range of linguistic domains: lexicon, morphosyntax, discourse, and so forth. Thus, Riau Indonesian is not just Indonesian with a Riau accent. “An Artefact of Code Switching” It is occasionally claimed that Riau Indonesian is not a real language but rather a mere artefact of code switching: the speech that results when people mix the languages that they are familiar with, in case at hand Minangkabau, Riau Malay and Indonesian. The claim is a prima facie plausible one, given that, throughout Indonesia, as in other countries endowed with comparablelinguistic diversity, code switching is so widespread that it is often hard to find a stretch ofspeech that is completely devoid of code switching, and which may therefore be characterized as being a "pure" instance of some particular language or dialect.A characteristic feature of code-switching is that it occurs on the fly, reflecting the real-time performance of individual speakers. Accordingly, the product of code switching lacksstability, instead being characterized by a substantial amount of variation. For example, in texts exhibiting code switching, one may encounter the same word once in one language, once inanother, without any clear systematic reason. However, Riau Indonesian exhibits little of theinstability characteristic of the speech resulting from code switching. For example, if a particular Riau Indonesian word happens to be shared with Minangkabau but not Riau Malay, the corresponding Riau Malay word will never be used; conversely, if another Riau Indonesianword happens to be shared with Riau Malay but not Minangkabau, the corresponding Minangkabau word will never be used — see Table 1 on page ??? for examples. Analogous observations hold also with respect to other linguistic domains such as phonology andmorphosyntax. Thus, the stable nature of Riau Indonesian belies the claim that it is a mere artefact of code switching. Moreover, the arbitrary nature of the mixture as, for example, where one wor d is shared wit h Malay but another with Mina ngkabau — resists any analysis interms of general principles of code switching, and can only be attributed to a fixed set ofconventions part of the competence of speakers of Riau Indonesian. But there is another, knock-down argument against the characterization of RiauIndonesian as the product of code-switching. In addition to the features that Riau Indonesianshares, in various permutations, wit h Mina ngkabau, Riau Malay and/or Standard Indonesian, there are also features that are distinctively Riau Indonesian, that is to say, not present in any of those languages. Examples of such features are presented in the following section below. Quiteobviously, such features could never appear in speech that is mere code-switching between Mina ngkabau, Riau Malay and Standard Indonesian. Although Riau Indonesian is not a product of code switching itself, it must beacknowledged that speakers do frequently code-switch between Riau Indonesian and the languages with which it is in closest contact, Minangkabau, Riau Malay and Standard Indonesian; for examples and discussion of such code switching, see Gil (2004a). However, such code switching is clearly distinguishable from "straight" Riau Indonesian with itsconventionalized mixture of features from those three languages. Code switching occurs in well-defined contexts, and necessarily involves speakers who are fluent in all of the respective languages. In contrast, monolingual and monoglossic speakers of Riau Indonesian will still usewhatever features Riau Indonesian shares with Standard Indonesia n, Riau Malay andMinangkabau without being able to speak any of those other three languages, thereby showing that Riau Indonesian is not a mere artefact of code switching. A Mixed Language If the mixture of languages manifest in Riau Indonesian is a stable one, then perhaps — so it has been suggested — Riau Indonesian is a mixed language: the kind of language that results from the conventionalization over time of code switching. Other cases of mixed languages involving

David Gil120Malay/Indonesian have been proposed, including Sri Lankan Malay, a mixture of Malay and Tamil (Slomanson to appear), Semarangan, a mixture of Malay and Javanese (Tadmor 2005), and Steurtjestaal (van Rheeden 1999), a mixture of Malay, various regional languages and Dutch. In fact, in the case of Riau Indonesian, at least two different suggestions have beenmade with regard to the identity of the source languages: one that it is a mixture of Indonesian and Minangkabau, the other that it is a mixture of Indonesian and Malay, where the terms "Indonesian and "Malay" apparently refer to prestige versions of the two languages, either therespective standard varieties, or alternatively the colloquial varieties spoken in the respectivecapital cities, Jakarta and Kuala Lumpur.Obviously, since Riau Indonesian is in close contact with Minangkabau, it has taken on anumber of linguistic features from Minangkabau; several examples of such features areprovided in the next section. Similarly, given that Sumatra, on which Riau Indonesian is spoken is situated in-between Java, where Jakarta is located, and the Malay peninsula, where Kuala Lumpur is located, it is hardly surprising that, with respect to a wide range of linguistic features,Riau Indonesian occupies an intermediate position between Jakarta Indonesian and Kuala Lumpur Malay, or between Standard Indonesian and Standard Malay; see the section RIAUI NDONESIAN AND ITS NEIGHBORING LANGUAGES for further discussion.Nevertheless, Riau Indonesian clearly lacks certain characteristics that are generallyassociated with mixed la nguages. First, in mixed languages, the two source languages are generally manifest in different linguistic domains; most commonly, one is dominant in the lexicon while the other constitutes the lion's share of the morphosyntax. Thus, for example, in Sri Lankan Malay, the lexicon is predominantly Malay whereas the morphosyntax is largely Tamil. However, in Riau Indonesian, features from each of the two putative source languagesare spread across all of the linguistic domains, including the lexicon and the morphosyntax. This is shown clearly in the section RIAU INDONESIAN AND ITS SUBSTRATE ANDS UPERSTRATE LANGUAGES below, in Tables 1-4 and subsequent discussion. Secondly, inmixed languages, the two source languages are typically very different from each other, lexically and grammatically; for the most part it is easy to tell which bits of the mixed languagecome from one source language and which bits from the other one. However in RiauIndonesian, the would-b e source languages are so similar to each ot her that is it oft en very hard to tell whether a particular word or construction comes from Indonesian or from the other language, be it Riau Malay or Minangkabau. Thus, there would seem to be little reason tocharacterize Riau Indonesian as a mixed language. Foreigner Talk Occasionally, it is suggested that my picture of Riau Indonesian is coloured by my obvious outsider status, and that what I am describing is some kind of foreigner talk. This is not nearly as silly a suggestion as it might sound. Indonesians modulate their speech in many ways depending on the ethnicity of their interlocutor. To begin, even within a well-defined languagevariety, such as Riau Indonesian, there are different terms of address for Westerners, Chinese,Malays from Malaysia, Javanese, and indigenous people. For example, when addressing a male speaker of roughly similar age, a speaker might use ster,pek ,cik ,mas and bang respectively. Itis also customary to adopt the interlocutor's real or perceived accent; for example, whereas Riau Indonesian has no lexical stress (Gil 2003b, 2006a), people sometimes adopt penultimate stress when speaking to westerners, or final stress when talking to Chinese: this is not considered to be condescending or insulting as it might be in many other parts of the world. Indeed, since themost typical venue for communicating with foreigners is in the marketplace, Bazaar Malay,mentioned in the following section below, has come to assume the role of a conventionalized foreigner talk. Thus, Riau, like much of the region, is rife with foreigner talk, and it is therefore incu mbent on researchers to ma ke sure that their data is not contaminated b y this phenomenon.

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010121Still, anybody with a modicum of familiarity with the linguistic landscape of a particularregion of Indonesia can easily distinguish foreigner talk from the "real thing". In particular, in my own sojourns in Riau, it is easy to tell when the occasional stranger is addr essing me in some kind of foreigner talk. In general, people who know me would never use foreigner talkwith me, since to do so might be construed as an impolite expression of social exclusion. In any case, a large proportion of my data is based on conversations amongst locals in which I was not involved. Thus, Riau Indonesian is, quit e emphatically, not for eigner talk. A Trade Jargon Alt ernatively, Riau Indonesia n is sometimes taken to be nothing mor e than just a trade jargon, the language of marketplaces and merchant vessels. Sociolinguistically, however, Riau Indonesian is nothing of the sort. Unlike trade jargons, it has native speakers; unlike tradejargons, it is used in a wide range of everyday situations, in home, school, mosque, football field just about everywhere. In fact, throughout large parts of the archipelago, including Riau, there is a trade jargon wit h a traditional na me: Bazaar Malay. But Riau Indonesian is clearlystructurally distinct from Bazaar Malay. To cite just two differences: unlike in Bazaar Malay,genitives are usually postnominal; again unlike in Bazaar Malay, forms such as di- and N- areused to mark generalized passive and active voice (Gil 2002b). Thus, Riau Indonesian is notBazaar Malay, nor is it, in any sense of the term, some kind of trade jargon. A Pidgin Related to the two previous claims, it is occasionally suggest ed that Riau Indonesian might be a pidgin. Since one of the hallmar ks of a pidgin is a radically reduced gra mmar, such suggest ionsare generally motivated by my characterization of Riau Indonesia n as having a very simple grammar. Be that as it may, Riau Indonesian fails to meet the profile of a typical pidgin on multiple other grounds. Structurally, pidgins generally also have a small lexicon, but that ofRiau Indonesian is in the same ballpark as those of most other languages. Moreover, pidgins aretypically unstable, exhibit ing lots of variation, whereas Riau Indonesian, as argued in the section above, is as stable as any other language. Sociolinguistically, pidgins lack native speakers, whereas Riau Indonesian, as observed in the section A LANGUAGE VARIETY WITHOUTN ATIVE SPEAKERS , has lots. In addition, pidgins are typically used in a limited set ofcommunicative contexts, whereas Riau Indonesian, as noted above, is used in a wide range of contexts. So for these reasons, at least, Riau Indonesian is clearly not a pidgin. “A Creole” If not a pidgin, then perhaps Riau Indonesian is a creole. Other versions of Malay/Indonesian have been argued to be creoles, or the descendants thereof, such as Peranakan Malay (Pakir 1986), Jakarta Indonesian (Tadmor 2007), and several eastern Indonesian varieties (Paauw 2008). Moreover, as noted in Gil (2001a), the typological resemblance between RiauIndonesian and other "classical" creole languages is often cited as evidence that Riau Indonesianis also a creole language. This argument is made most forcefully by McWhorter (2001, 2005), who maintains that the apparent absence of grammatical complexity in Riau Indonesian could only have resulted from the kind of abrupt break in transmission that is criterial of creolelanguages. Moreover, in resp onse to the observation that other colloquial varieties of Malay/Indonesian share the typological profile of Riau Indonesian, McWhorter suggests that the creole label may in fact apply to most or all spoken varieties of Malay/Indonesian. However, even if some varieties of Malay and Indonesian are indeed creoles, there is noindependent evidence to the effect that, at some stage in the past, there was an abrupt break in transmission resulting in the radical restructuring of a language ancestral to Riau Indonesian. For McWhorter (2008), the absence of such independent evidence does not matter: on the basis

David Gil122of other cases where such evidence is available, he argues that the absence of grammatical complexity characteristic of Riau Indonesian couldonly have arisen as the result of an abruptbreak in transmission, and therefore we are ent it led to assume that this happened even in caseswhere the historical evidence is not available. However, while it may be true that radicalrestructuring results in a typological profile similar to Riau Indonesian, it is less obvious that the absence of grammatical complexity can only result from such an abrupt break in languagetransmission. Under an alternative scenario put forward in Gil (2001a), the overall absence of grammatical complexity in Riau Indonesian might more appropriately be construed as anaccidental confluence of a number of independent areally-motivated diachr onic processes of simplification in independent components of the grammar, each of which is attested elsewhere in the world, in clearly non-creole languages. Thus, the typological profile of Riau Indonesiancannot be invoked in support of its characterization as a putative creole language. Moreover, Riau Indonesian lacks one important sociolinguistic property typical of creolelanguages. Speakers of creole languages are invariably of an ethnicity distinct from that of thespeakers of the lexifier languages. This is clearly the case with respect to the classicalplantation creoles that developed far away from their European lexifier languages: one would not expect to find an English-based creole cropping up amongst an ethnically English communit y in Engla nd. But this is also equally the case wit h regard to the most reasonablecandidates for Malay/Indonesian-based creoles, none of which are spoken by ethnic Malays. Thus, for exa mple, P eranakan Malay is spoken b y the Peranakan Chinese, Jakarta Indonesia n is spoken by an urban population consisting of Betawi, Sundanese and Javanese and a medley ofother ethnicities, while eastern Indonesian varieties such as Ambon, Kupang and Papuan Malay are each spoken by people of many diverse ethnicities. In contrast, however, Riau Indonesian is spoken in a region where the indigenous population shares the ethnicity of the would-be lexifierlanguage, namely Malay. Indeed, the region where Riau Indonesian is spoken has been Malay-populated and Malay-speaking for the last 1500 or 2000 years at least. Admittedly, immigrants have been flocking into Riau for many hundr eds of years, but they have always adopted the local language the sa me way as immigrants to England have always adopted English, wit hout,usually, creating a creole. Thus, it is very implausible to assume that Malay speakers in an indigenously Malay region such as Riau would, suddenly and for no apparent reason, restructure their language in order to create a new Malay/Indonesian-lexifier creole language. This is not to deny that much of the structural simplicity of Riau Indonesian may resultfrom processes pertaining to language contact; indeed, in more recent work, McWhorter (2006)offers a plausible characterization of Malay/Indonesian as a Non-Hybridized ConventionalizedSecond Language (NCSL) — a language of a type, including other major world languages suchas English, Persian, Arabic and Mandarin, where rampant second-language acquisition results in a structure that is simpler than that of the language's close non-NCSL relatives. This is also not to dismiss the possibilit y that in the mor e distant part, some ancestor of Malay/Indonesia n oreven proto-Malayic may have been a creole language; thus, Donohue and Denham (to appear), citing a range of grammatical, archaeological and genetic evidence, suggest that the original expansion of Malayo-Polynesian languages south into the Indonesian archipelago may havebeen in the for m of a ha ndful of original cr eole languages from which most or all of the extantMalayo-Polynesian languages are descended. However, whatever the merits of their proposal, Donohue and Denham's Malayo-Polynesian creoles pertain to time depths that are just too far in the past to be of relevance to contemporary Riau Indonesian and whatever features maydistinguish it from other varieties of Malay/Indonesian or from other languages elsewhere. Interim Summary We have now examined and hopefully put to rest, in turn, each of the 12 claims in (1) concerning the nature of Riau Indonesian. The conclusion, then, is there is nothing "wrong"

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010123with Riau Indonesian and that it is a real language, or at least as real as any other of the world's thousands of languages. Of course, there would have been nothing "wrong" with Riau Indonesian even if it had turned out to be, say, an artefact of code-switching, or a creole. More generally, the preceding discussion suggests that the historical and sociological labels that weuse to describe languages and linguistic behaviour are not only too laden with undesirable connotations but also insufficient to capture the diversity of situations in which language occurs — the reader may well be left at this point wondering "what kind of language" Riau Indonesianactually is. Arguing what somethingis not, as we have done so far, is a rather unsatisfyingchore; it is far more interesting to assert what something is what it is like, and how itresembles and differs from other related entities. So in the next two sections below we turn toconsider the nature of Riau Indonesian, focusing on its relationships with the languages with which it is in closest contact, in sociological space in the section RIAU INDONESIAN AND ITSS UBSTRATE AND SUPERSTRATE LANGUAGES , and in geographical space in the section RIAUI NDONESIAN AND ITS NEIGHBORING LANGUAGES .RIAU INDONESIAN AND ITS SUBSTRATE AND SUPERSTRATE LANGUAGES Although, as argued in the section "ACREOLE "above, Riau Indonesian is not a creolelanguage, it makes sense to borrow from creolistic terminology in order to talk about its substrate and superstrate languages. The two main substrate languages are Riau Malay, the indigenous language of Riau, and Minangkabau, the language spoken by the largest number ofimmigrants to Riau. The superstrate language of Riau Indonesian is of course StandardIndonesian, with respect to which it stands in a basilect-to-acrolect relationship. One obvious difference between Riau Indonesian and most creole languages is that forcreoles, the substrate and superstrate languages are generally very different from each other;moreover, they are manifest in different linguistic domains — the substrate largely in the phonology and morphosyntax, the superstrate mostly in the lexicon. In contrast, for Riau Indonesian, the substrate and superstrate languages are closely related to each other, and, ipsofacto, also to Riau Indonesian; as a result, with respect to numerous features, Riau Indonesian is indistinguishable from its substrates and its superstrate. Thus, whereas in creole studies, the creolist's challenge is to find features of the creole language that originate in its substrate, RiauIndonesian turns the tables: here the challenge is to identify features that are notattributable toits substrate, or, for that matter, its very similar superstrate. In fact, it is precisely these features that attest to the reality of Riau Indonesian as distinct from its substrate and superstrate contact languages. Shared and Distinctive Features Some data reflecting the relationship between Riau Indonesian and its substrate and superstrate languages is presented in Tables 1-4. Tables 1-4 represent, respectively, four domains oflinguistic structure: lexicon, phonology, morphosyntactic matter (involving the specific phonological forms of grammatical items), and morphosyntactic pattern (involving the abstract structures into which various it ems ma y enter). The tables underscor e the ext ent of t hesimilarity between Riau Indonesian and its two substrate languages Minangkabau and RiauMalay, as well as its superstrate Standard Indonesian; since Riau Malay exhibits a substantial degr ee of geographical variation, one particular subdialect is chosen, na mely Siak Malay, spoken in the lower Siak river basin, some aspects of which are described in Gil (2001a, 2002a,2004a). Each table contains eight rows corresponding to the eight logically possible patterns of identity and non-identity between Riau Indonesian and the three languages in question, abbreviated Min(Minangkabau), SkM (Siak Malay) and StI (Standard Indonesian); each rowpresents an item in Riau Indonesian exemplifying that particular pattern of identity. Thus, row 1

David Gil124presents a Riau Indonesian item shared by all three languages, row 2 a Riau Indonesian item shared by Mina ngkabau and Siak Malay but not Standard Indonesian, and so on all the wa y down to row 8 presenting a Riau Indonesian item present in none of the three languages. Table 1: Shared and Distinctive Lexical Features1 Min SkM StI makan 'eat'2 Min SkM - tengok 'look'3 Min - StI kuap 'y awn'4 Min - - hijau 'gr ue'5 - SkM StI ikan 'fish'6 - SkM - pompong 'wooden boat with engine'7 - - StI celana 'trousers'8 - - - kasi 'give'Table 2: Shared and Distinctive Phonological Features1 Min SkM StI no word - final palatals (in ordinary wo rds)2 Min SkM - no lexical stress3 Min - StI no fronting of /a/ before coronal consona nts word - finally4 Min - - no phonemic / ə/ 5 - SkM StI word - final /t/ (in ordinary words)- no high vowel in word - final closed syllable (in or dinary wor ds)- final /r/ (in or dinary words)- final closed syllable overridden byidentical vowel harmony (in ordinary words)1 Min SkM StI patient - orientation di -2 Min SkM - agent - orientation N -3 Min - StI 2 PL pronoun kalian4 Min - - negative ndak5 - SkM StI p roximal future nanti6 - SkM - intensifier betul7 - - StI temporal int errogative kapan8 - - - applicative - inTable 4: Shared and Distinctive Morphosyntactic Pattern Features1 Min SkM StI optional numeral classifiers2 Min SkM - negative polarity p article3 Min - StI regular negation for 'want'4 Min - - sent enc e fina l particle 'one'5 - SkM StI single agent - orientation prefix6 - SkM - inclusory plural construction7 - - StI non - alternating associative enclitic8 - - - associative disjunction constructionAdditional clarificatory information regarding the contents of Tables 1-4 and the specific items therein is presented in the Appendix.

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010125What These Features Mean What do tables 1-4 tell us? The most obvious fact is that, in each table, each of the eight rows is exemplified with some linguistic item from Riau Indonesian; that is to say, wit hin each linguistic domain, all eight logically possible patterns of shared features with respect to the threecontact languages are actually attested. It should be acknowledged, however, that Tables 1-4 say nothing about the relative frequencies of these different patterns, which in fact are far from equal. Specifically, within each table, the pattern in row 1 is overwhelmingly more commonthan any of the others. In other words, the most common state of affairs is one in whichlinguistic features are shared by Riau Indonesian, Minangkabau, Siak Malay and Standard Indonesian, reflecting the fact that these four language varieties are very closely related to each other.In each table, rows 1,2,3,4 represent cases of identity between Riau Indonesian andMinangkabau, rows 1,2,5,6 identity between Riau Indonesian and Siak Malay, and rows 1,3,5,7identity between Riau Indonesian and Standard Indonesian. Thus, in four out of the eight rows,the Riau Indonesian item is identical to more than one of the three contact languages, in whichcase it is difficult to relate the Riau Indonesian item unequivocally to one specific contact language to the exclusion of one or more of the others. However, in three other rows, the Riau Indonesian item is identical to exactly one of the three contact languages, and in these cases, aconnection to the respective language is indicated. Thus, row 4 presents items which Riau Indonesian shares wit h Minangkabau to the exclusion of Siak Malay and Standard Indonesia n; these items thus constitute plausible candidates for a Minangkabau substrate influence on RiauIndonesian, though other potent ial scenarios are also conceivable, such as, for example, borrowing from a colloquial variety of Indonesian similar to Riau Indonesian into Minangkabau. Similarly, row 6 presents items which Riau Indonesian shares with Siak Malay to the exclusionof Minangkabau and Standard Indonesian; these items constitute likely candidates for a Malaysubstrate influence on Riau Indonesian, though, once again, alternative scenarios need also to be considered. C onversely, row 7 presents it ems which Riau Indonesia n shares wit h Standard Indonesian to the exclusion of Minangkabau and Siak Malay; these items constitute possiblecandidates for a Standard Indonesian superstrate influence on Riau Indonesian, though, given the derivative nature of the standard language argued for in the s ection "ACORRUPT ,B ROKEN ,I MPERFECT LANGUAGE VARIETY "above, it is perhaps more likely that such items entered intoStandard Indonesia n from some colloquial variety of Malay or Indonesian r esembling Riau Indonesian. Finally, row 8 presents items with respect to which Riau Indonesian differs from allthree contact languages, underscoring the distinctive nature of Riau Indonesian with respect to thos e thr ee language varieties. Tables 1-4 provide further evidence against some of the claims about Riau Indonesianlisted in (1) and dealt with in the section ADOZEN CLAIMS ABOUT RIAU INDONESIAN above,specifically, those pertaining to the relationship between Riau Indonesian and its contact languages. To begin with, the fact that in each of the four tables all of the rows are instantiatedwith items from Riau Indonesian shows that Riau Indonesian is not a mixed language as per Claim 8, or a creole as per Claim 12, since, if it were, then one would expect the lexicon to come mostly from one language and the grammar mostly from another. The same fact also shows that Riau Indonesian is not a mere artefact of code switching asper Claim 7. Consider, for example, Table 1, rows 2 and 7. Why does Riau Indonesian share the word for 'look' wit h Minangkabau and Siak Malay but the word for 'trousers' wit h Standard Indonesian? If Riau Indonesian were the result of code-switching, then one would also expectthe Standard Indonesian word for 'look', and the Minangkabau and Siak Malay words for 'trousers to make occasional appearances — but they do not. In view of this, the only way to uphold a code-switching analysis is to formulate a set of general principles that would explain,

David Gil126among other things, why 'look' always comes from Minangkabau and Siak Malay but 'trousers' always from Standard Indonesian. More generally, such principles would have to account for all of the data in Tables 1-4, and indeed for the entirety of the lexicon, phonology and morphosyntax of Riau Indonesian, explaining why speakers consistently chose the items thatthey do while rejecting other available items from other languages. However, the diversity of the data in Tables 1-4 suggests that no such set of principles is ever likely to be formulated. In other words, whether a given Riau Indonesian item is the same as its counterparts inMina ngkabau, Siak Malay and/or Standard Indonesian is an arbitrary and unpredictable propertyof Riau Indonesian, one that must be attributed to the native speakers' knowledge of their language, and therefore explicitly represented in the lexicon or grammar of Riau Indonesian. in other words, Riau Indonesian is not a mere product of code switching but rather a properlanguage with its own unique character.Finally, and most strikingly, within all four tables, the items in row 8 represent a smallresidue of features of Riau Indonesian that differ from Mina ngkabau, Siak Malay and StandardIndonesian. These features prove that Riau Indonesian is not just the result of these threelanguages coming together, as would be the case if it were the product of code switching as per Claim 7, or a mixed language as per Claim 8. The question arises where these features come from; and there is apparently no single answer. Some most likely originate in other adstratedialects with which Riau Indonesian is in contact, such as kasi 'give' from Bazaar Malay inTable 1, or applicative -in from Jakarta Indonesian in Table 3. Others, however, are probablymost appropriately analyzed as the results of internal developments within Riau Indonesian,such as the specific vowel harmony constraint in Table 2. Whatever their origins, though, the presence of these items provide the clinching argument for the distinctiveness of Riau Indonesian as a language in its own right, with its unique stable and well-defined lexicon andgrammar. RIAU INDONESIAN AND ITS NEIGHBORING LANGUAGES Having examined the sociolinguistic circumstances of Riau Indonesian, the question arises whether there is anything special about the sociolinguistic landscape of Riau, or whether,alternatively, Riau Indonesian has its counterparts in other colloquial varieties of Indonesianspoken in ot her parts of the vast archipelago. The answer to this quest ion is, most emphatically,the latter. Other Regional Varieties of Colloquial IndonesianAlthough every place in Indonesia has its own unique circumstances, there are sufficiently many commonalities across the diverse regions of Indonesia for colloquial varieties of Indonesian,corresp onding to Riau Indonesian, to have developed in most or all of them.Sociolinguistically, Riau Indonesian is anything but exceptional, except in the trivial sense thateach and every language and dialect has its own unique properties. Just as there is a RiauIndonesian, so there are varieties of Indonesian associated with most other regions of Indonesia. What is striking is how little attention such regional varieties of Indonesian have attractedfrom the linguistic community. For some reason, the eastern parts of the archipelago have faredrelatively better, and in recent decades there have been a number of studies of varieties such asManado Malay (Prentice 1994, Stoel 2005), North Maluku Malay (Voorhoeve 1983, Taylor1983), Ambon Malay (Collins 1980, van Minde 1997), Kupang Malay (Steinhauer 1983),Papuan Malay (Donohue and Sawaki 2007, Donohue to appear), and one or two others.(Alt hough such eastern varieties are traditiona lly r eferred t o as dialects of Malay, recent decadesha ve witness ed a terminological s hift wher eb y current sp eakers of thes e va rieties are mor elikely to refer to them as Indonesian; and indeed, with respect to their sociolinguistic functions,they closely resemble varieties of colloquial Indonesian sp oken in ot her parts of the country.) Incontrast, with r esp ect to colloquia l varieties of Indonesian, the cent er and west of t he country,

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010127totaling perhaps close to two hundred million speakers, are largely terra incognita. One obvious exception is the colloquial Indonesian of the capital city Jakarta, which has been the object of asignificant number of recent studies (Wouk 1989, 1999, Cole and Hermon 2005, Tjung 2006,Sneddon 2006, Gil 2006b, 2008b and others). However, to the best of my knowledge, otherthan Jakarta Indonesian, there ha ve been no published studies of any central or west ern varietiesof colloquial Indonesian other than my own on Riau Indonesian. As a result, we know next tonothing about the Indonesian spoken in most of Sumatra, Borneo, Java and Bali, includingma jor metropolitan cent ers such as Medan, Pontiana k, Surabaya and nu mer ous others. Indeed,in those cases where, as in Riau, the local language is a variety of Malay, there are often studiesavailable on the local Malay — but never, as far as I am aware, anything on the localIndonesian. For example, for the province of Jambi, situated just to the south of Riau, a recentNSF-funded project has greatly increased our knowledge of the Malay dialects spoken in thecity of Jambi and some surrounding villages (Durvasula 2008, Cole, Hermon and Yanti 2008,Yanti in preparation), while contributing little or no information on the Indonesian spoken in thesame places. Of course, part of the reason for this systematic lacuna is that the same prejudicesdiscussed in the sectionADOZEN CLAIMS ABOUT RIAU INDONESIAN in the context of RiauIndonesian are equally applicable to other regions. Accordingly, linguists are often not aware ofthe existence of local varieties of Indonesian, or if they are, they are not interested or otherwisedissuaded from studying them.On the basis of my own observations from years of traveling around Indonesia, it is myimpression that most regions of the country have a distinctive variety of colloquial Indonesianassociated with them, regardless of whether the local regional language also happens to be adialect of Malay. Perhaps not everywhere; there may well be some places in deepest Java orNew Guinea where Indonesian has not (yet) made significant inroads, but these would be theexceptions that prove the rule. Of course, each and every regional variety of colloquialIndonesian has its own particular sociolinguistic circumstances. In principle, then, thearguments put forward in the section ADOZEN CLAIMS ABOUT RIAU INDONESIANdismissing the 12 claims in (1) regarding Riau Indonesian need to be applied, again and again,to each and every regional variety of Indonesia n; and there is no guarantee that they will alwaysbe of equal appropriateness. Just because Riau Indonesian is a stable language variety and notan artefact of code switching, one cannot presuppose that the same is true also for, say, theIndonesian spoken in the province of Kalimantan Barat ('West Kalimantan'); this has to bedemonstrated specifically for Kalimantan Barat Indonesian. Similarly, just because there is noevidence that Riau Indonesian is a creole, this does not mean that other varieties of colloquialIndonesian are not creoles; indeed, as pointed out in the section "ACREOLE ", there is evidencethat some probably are. A huge amount of work on the sociolinguistics of colloquial Indonesiandialects is crying out to be done. Still, from my own observations, it would seem that in broadsociolinguistic outlines, Riau Indonesian is anything but exceptional, and that most regions ofIndonesia also have their own distinctive varieties of colloquial Indonesian, possessing nativespeakers, endowed with stable lexicons and grammars, and used in a wide range of situations. Isoglosses of Colloquial IndonesianThe existence of s ociolinguistically similar varieties of colloquia l Indonesia n in other regions makes it possible to examine Riau Indonesian in geographical perspective, comparing it toneighboring varieties of colloquial Indonesian. For the last several years, I have been engagedin collecting data and constructing dialect maps for colloquial Indonesian (some preliminaryresults were presented in Gil 2003a). The maps that result from this work look just like ordinarydialect maps, with neighboring dialects tending to exhibiting more similarities than dialectsfurther apart from each other, and isoglosses bundling together to demarcate distinct dialects. The maps for colloquial Indonesian can be superimposed on the corresponding maps forthe regional languages of Indonesia, resulting in a multi-dimensional picture of linguistic reality,where horizontal and vertical axes on the page represent geographical space, and up and out ofthe page represents sociolinguistic space and, in particular, the distinction between regional

David Gil128languages and the dialects of Indonesian spoken in the same places. For example, a map showing the relative order of nouns and genitives (attributive possessors) for colloquialIndonesian can be superimposed on a corresponding map for the regional languages ofIndonesia, such as that derivable from the world map in Dryer (2005). In broad outline, bothmaps exhibit a similar pattern, with noun-genitive order the rule in the west and genitive-nounorder prevalent in the east; this similarity is due in large part to the substrate influence of locallanguages on the coextensive local varieties of colloquial Indonesian. However, there are alsoinstances of mismatches, such as in northern Sulawesi, where local languages such as Tondanohave noun-genitive order whereas the local Manado Malay has genitive-noun order; suchmismatches attest to the reality of regional dialects of colloquial Indonesian as autonomouslanguage varieties and not mere relexifications of local languages. (In the case at hand, thegenitive-noun order of Manado Malay is one of a large number of features which suggests thatthe Malay/Indonesia n language ca me to Manado as the result of a back migration from T ernate,located further to the east, where genitive-noun order is widespread in both Malay/Indonesianand the local languages — see Prentice 1994, Paauw 2008.)Consideration of Riau Indonesian in its geographical context provides yet additionalevidence for its reality, and against some of the claims cited in (1) above. Figure 1 presents anidealized map showing Riau in relationship to four other locations strung out on a very roughnorth-south axis: to the north, Kuala Lumpur, the capital city of Malaysia, located just acrossthe straits of Malacca on the Asia n mainland; and to the south, Palembang, the capital cit y ofSumatra Selatan ('South Sumatra') province, Kalia nda, a small town in southern La mpungprovince, and Jakarta, the Indonesian capital, situated across the Sunda straits on the island ofJava. Figure 1 plots the distribution on the idealized map of 8 linguistic features: 4phonological ones in the middle column, and 4 morphosyntactic ones in the right column. ForKuala Lumpur, these features are plotted with respect to the local variety of colloquial Malay;for Riau with respect to Riau Indonesian, and for the remaining three points with respect to thelocal varieties of Indonesian corresponding sociolinguistically to Riau Indonesian. Each of the 8linguistic features distinguishes Kuala Lumpur Malay, at the top of the map, from JakartaIndonesian at the bottom; however, as evident from their values at the three intermediatelocations, Riau, Palembang and Kalianda, they do so in different ways. Specifically, these 8features define 4 isoglosses, numbered 1-4 in Figure 1, falling in each of the 4 logically possiblecut-off points defined by the five geographical locations. The features are all binary, with yesand no values characterizing the locations above or below the isogloss as indicated. Furtherexplanation of the particular features referred to in Figure 1 is given in the Appendix.Figure 1: Some Malay/Indonesian Isoglosses between Kuala Lumpur and JakartaKuala Lumpur nono 1 ----------------------------- word-final /r/negativenggak yes yesRiau no no 2 ----------------------------- word-final /əC/ deicticno yes yesPalembang no yes 3 ----------------------------- word-final / k/ > [?] negativetak yes noKalianda no no 4 ----------------------------- word-final /a/ > [e]negativekagakyes yesJakarta

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010129Focusing on Riau Indonesian, Figure 1 suggests that it occupies an intermediate position between Kuala Lumpur Malay and Jakarta Indonesian. Specifically, whereas with respect to the two features constituting isogloss 1, Riau Indonesian resembles Jakarta Indonesian, with respect to the six features constituting isoglosses 2, 3 and 4, Riau Indonesian resembles instead Kuala Lumpur Malay. It is facts such as these that give rise to the impression, cited in the section"AM IXED LANGUAGE "above, that Riau Indonesian might be a mixture of Indonesian (as spokenin Jakarta) and Malay (as spoken in Kuala Lumpur). But this is not really the right conclusion to be drawn from the map. The choice of Kuala Lumpur and Jakarta as beginning and end points is arbitrary; any number of other locations might have been chosen instead, point ingtowards different — and equally inappropriate — characterizations of Riau Indonesian in termsof la nguage mixture. In truth, any language or dia lect can be characterized as occupying an intermediate position between some language or dialect at an arbitrary distance on one side of it and some other language or dialect at an arbitrary distance on the other side, but such acharacterization contributes little towards a better understanding of the nature of the language in question. A mor e appropriate conclusion to be drawn from Figur e 1 is that dialect maps forcolloquial varieties of Indonesian look much like similar maps for other dialects and languages elsewhere. As noted previously, dialects and languages in general tend to bear a closer resemblance to their neighbors tha n to mor e distant languages, and Figur e 1 suggests that the same is true also for varieties of colloquial Indonesian. As evident from Figure 1, RiauIndonesian shares more features with Palembang Indonesian than it does with the Indonesian spoken in Kalianda, and more with Kalianda Indonesian than with the Indonesian spoken in Jakarta. Moreover, this is true independently of the regional languages which constitute thesubstrates for the respective varieties of colloquial Indonesian. Admittedly, the substrate for Palemba ng Indonesian, na mely Palembang Malay, is closer to Riau Indonesia n than is the substrate for Kalianda Indonesian, a southern dialect of Lampung; this is doubtlessly a large partof the reason why Palembang Indonesian is more similar to Riau Indonesian than KaliandaIndonesian is. However, moving down the map, the Lampung substrate for Kalianda Indonesian is no closer to Riau Indonesian than are the substrate languages for Jakarta Indonesian, primarily Sundanese and Javanese; and yet — as indicated by isogloss 4 — theIndonesian in Kalianda still shares features with Riau Indonesian to the exclusion of Jakarta Indonesian. For such features, then, horizontal contact between a language and its neighbors trumps vertical contact between a language and its substrates. In this particular case,geographical proximity also wins out over the massive onslaught of Jakarta Indonesian across the archipelago via the mass media, which is responsible for the spread of Jakarta Indonesian as a colloquial lingua franca throughout the country. Even in this day and age, colloquialIndonesian language change is carried by slow busses along the narrow, winding, bumpy roads of Sumatra at least as much as by satellite television broadcasts of music, soap operas, and other staples of popular culture. Thus, what Figure 1 shows is that whether Riau Indonesian possesses a particular featureis determined not just by its position in sociolinguistic space and the influence of substrate andsuperstrate languages, but also by its location in geographical space and contact with neighboring varieties of colloquial Indonesian. This in turn provides yet further evidence — ifsuch were still needed — that Riau Indonesian and other varieties of colloquial Indonesian arejust ordinary dialects, which, like other dialects and languages in other parts of the world, display the kind of geographical patterns that constitute the traditional subject matter of dialect and language atlases.

David Gil130But Is Riau Indonesian a Geographically Coherent Entity? So geographical considerations join forces with a host of other reasons for viewing Riau Indonesian as a bona fide language or dialect just like so many thousands of others. Yet having dismissed, in the course of this paper, all the proposed reasons for doubting the reality of RiauIndonesian, it must be acknowledged that geography also provides one good reason for questioning the identity of Riau Indonesian defined as "the variety of colloquial Indonesian spoken in Riau". At issue is whether the colloquial Indonesian in one part of Riau is, on the onehand, sufficiently similar to that in all other parts of Riau, and on the ot her, sufficient ly differentfrom that in all other places outside of Riau, to justify talking of a Riau Indonesian, as that dialect associated with all and only the particular geographical region known as Riau.In one trivial sense, the answer is almost preordained to be negative: this is because theactual location of "Riau" has been moving back and forth at the whims of Indonesianofficialdom. In the past, the term Riau referred to a historically and culturally prominent archipelago, consisting of Bintan, Batam, Karimun, Singkep, and ma ny ot her smaller islandslocated t o the south of t he Malay peninsula and to the east of central Sumatra. When Indonesiagained its independence in 1945, the islands became part of the province of Sumatra Tengah ('Central Sumatra'), but in 1957, this province was divided into three new provinces, one of which was named Riau. However, in addition to the Riau archipelago, the newly createdprovince also contained a largish chunk of t he central-eastern Sumatran mainla nd (including among others, the Siak river basin, where Siak Malay, referred to in the section RIAUI NDONESIAN AND ITS SUBSTRATE AND SUPERSTRATE LANGUAGES , is spoken). Since thiswas still the state of affairs when I started working in the region, it seemed reasonable to define Riau Indonesian as the variety of colloquial Indonesian spoken in what was then the province ofRiau. However, in 2004, the province of Riau was divided into two, with what was historically the Riau archipelago becoming the province of Riau Kepulauan ('Riau archipelago'), and the remainder, comprising the mainland part plus a few neighboring islands, retaining the simpleappellation Riau. So now, what I've been calling Riau Indonesian is actually the Indonesianspoken in two provinces, called Riau and Riau Kepulauan. Of course, this kind of toponymic ping-pong has no effect on the actual language situation; however, it underscores the arbitrariness of political boundaries and serves as a timely reminder that linguists should notexpect such artificial lines on the map to provide a reliable indication of linguistic boundaries. At present, nowhere near enough is known about the local varieties of colloquialIndonesian to be able to determine whether there is any geographical justification to talk of aRiau Indonesian as a well-defined dialect distinct from other neighboring and equally well- defined dialects. What is clear is that the combined linguistic boundaries of the two Riau provinces do correspond, at least roughly, to some linguistic isoglosses. For example, the border between Riau and neighboring Sumatra Barat ('West Sumatra') province alsoapproximates the isogloss separating, among others, the words for 'meet', jumpa in Riau andketemu in Sumatra Barat, and for 'put on (clothes)', pasang in Riau and pakai in Sumatra Barat.(Presumably, in this case, the similarity between administrative and linguistic boundaries is dueto the fact that both roughly follow the watershed defined by the mou ntain range that ext ends the length of the island.) However, it is also clear that there is some internal variation within the two provinces sharing the name of Riau. For example, the map similar in Figure 1 could befurther elaborated in order to distinguish between coastal and interior Riau. Such a map wouldcontain an addit ional isogloss grouping coastal Riau with Kuala Lumpur to the north, and interior Riau with Palembang, Kalianda and Jakarta to the south; some examples of features instantiating this isogloss and thereby cr oss-cutting Riau include the words for 'cuttlefish',sotong to the north and cumi (orcumi-cumi ) to the south, and for 'anchovy', bilis to the north andteri to the south. Thus, as presently available, the facts are equally consistent with the existenceof a geographically coherent Riau dialect of Indonesian, and alternatively with a state of affairs

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010131in which the Indonesian spoken in Riau does not constitute a well-defined dialect, in which latter case it could be either part of a larger dialect ranging over additional provinces, or, conversely, an aggr egation of smaller dialects wholly contained wit hin the r egion. Much mor e data is required before an empirically adequate answer can be provided to the question whetherRiau Indonesian is a geographically coherent entity.So in this specific sense, then, the reality of Riau Indonesian has yet to have beenconvincingly demonstrated. But this does not mean that the language provisionally labeled asRiau Indonesian is anything other than a proper language; as argued in this paper, it is as real asany ot her language or dialect. All that is missing is a clear picture of where it begins and ends in geographical space. My work on Riau Indonesian is based largely on data collected from a few specific locations: the islands of Bintan, Batam and Karimun, as well as the village ofSungai Pakning and the city of Pekanbaru on the mainland of Sumatra. In lieu of further data from addit ional places in neighboring pr ovinces, it ma kes s ens e to refer to the dialect of Indonesian spoken in these locations as Riau Indonesian, with the understanding that the term isbeing us ed provisionally, and that addit ional much-needed work on varieties of colloquialIndonesian in other parts of Sumatra may possibly lead to a reconsideration of its appropriateness and its replacement with some other term or set of terms. But in this respect, the situation wit h resp ect to Riau Indonesia n is no different from that which obtains in manyother linguistically-u nderstudied places t hroughout the world, whereby initial exp loratory descriptions of a particular speech variety assign it a name, often derived from a toponym, only to modify the na me at a later stage when mor e information on neighboring sp eech varietiesbecomes available. OTHER COUNTRIES, OTHER LANGUAGES Having suggested, in the section RIAU INDONESIAN AND ITS SUBSTRATE ANDS UPERSTRATE LANGUAGES above, that from a sociolinguistic point of view, Riau Indonesianis not at all exceptional, but, rather, resembles, in its broad outlines, other varieties of colloquial Indonesian spoken in other regions, one may now ask whether Malay/Indonesian as a whole isexceptional among the languages of the world with respect to its sociolinguistic complexity, orwhether other languages also have "their own Riau Indonesians", that is to say, specific varieties defined in terms of the intersection of sociological and geographical properties in ways similar to that of Riau Indonesian. While it does indeed seem clear that the sociolinguistic complexityof Malay/Indonesia n is significa ntly gr eater than that of ma ny other la ngua ges, it is not at all obvious that Malay/Indonesian is that exceptional when compared wit h other ma jor world languages with similarly large populations of speakers. In fact, there would seem to be goodreason to believe that ma ny or most of the world's major languages are associated wit h comparable degrees of sociolinguistic complexity. By far the best-docu mented and best-studied language is Englis h. In addit ion to the usualdescriptions and analyses of Standard English, there is a venerable tradition of studying theclassical English dialects, originally centered in Great Britain but subsequently, with the work of Labov and others, successfully transplanted to the USA and elsewhere. Alongside traditional dialectology, there is also a new and burgeoning field devoted to "World Englishes", varieties ofEnglish spoken in other parts of the world, in places as diverse as Ghana and the Philippines. And of course, this in turn blends into yet another large a nd closely r elated discipline, that of English-lexifier creolistics. Within this plethora of studies of English and English-originatedvarieties, it is not too hard to come up with plausible if not completely precise analogues of RiauIndonesian. For example, one might venture the suggestion that Standard Indonesian is to Riau Indonesian is to Riau Malay as Standard English is to so-called Estuary English is to the traditional dialects of London and the surrounding region. Or perhaps as Standard English is toa major urban dialect of Scotland is to Scots. Clearly, these two examples from Great Britain

David Gil132are not parallel to each other; a fortiori, there will be even mor e differences b etween them and the Riau case. Nevertheless, it is helpful to think of Riau Indonesian as being grosso modo the same kind of b east as Estuary English or an urban Scottish dialect. In particular, it is likely that if analogues to the 12 claims cited in (1) were proposed with respect to either Estuary English orsome major urban dialect of Scotla nd, most or all would be rejected, quit e r eadily, on grounds mor e or less similar to those which wer e invoked, in the sectionADOZEN CLAIMS ABOUTR IAU INDONESIAN above, in the context of Riau Indonesian.Similarly complex linguistic landscapes are probably characteristic of many other of theworld's major languages. Without specialist knowledge of other regions, or even — in many cases access to such knowledge, I am not in a position to make sweeping claims. Still, it islikely that many ot her languages have their own mor e or less precise analogues of Riau Indonesian, and that in at least some such cases, the varieties in question are underdescribed, or, worse, their very existence unacknowledged. One wonders what kinds of Mandarin are spokenin a city like Kunming, as a mor e general lingua franca alongside the loca l variety of S outhern Mandarin, or in Guangzhou, where the ma in local language is Cantonese, or even in Jakarta, where many ethnically Chinese speakers are in the process of switching from languages such asHokkien, Teochew and Hakka to Mandarin. Or what kinds of Hindi/Urdu are spoken in a placelike Jaipur, as a more general koiné alongside the closely related Rajasthani, or Kolkata, wher e the main local language is Bangla, or London, as a common language shared by part of the south-Asian immigrant community. At least some of these, as well as any number of othersimilar cases, are quit e likely to turn out to be language varieties associated with a population of native sp eakers, exhibiting stable lexicons and grammars, and used in a wide variety of communicative contexts, or in other words, regular languages and dialects. And it is a safe betthat at least some of t he aforementioned language varieties have not yet been described, or ha d their existence acknowledged, or even been given a name. If the take-home message from this paper for the Indonesian specialist is that RiauIndonesian exists as a real language variety, alongside many other similar varieties of colloquial Indonesian associated with other parts of the country, the corresponding message for the general linguist is that languages may exhibit greater sociolinguistic complexity tha n is sometimes assumed, involving a wider range of historical and sociolinguistic t ypes, and that field workersin a particular location should accordingly seek out all of t he langua ge varieties t hat are present there, rather than limiting their attention to just a favoured one. It is a peculiar irony that, as with Riau and other varieties of colloquial Indonesian, it is often the most widespread variety ofthe language, the dialect that presents itself first to researchers upon arrival, which ends up being unnoticed and accordingly undescribed. As they rush upriver into the jungle to record the speakers of an exotic and possibly endangered language, field workers sometimes payinsufficient attention to the speech of their boatman and his mates.APPENDIXThis appendix provides supporting data for Tables 1-4 in the section RIAU INDONESIAN ANDI TS SUBSTRATE AND SUPERSTRATE LANGUAGES and Figure 1 in the section RIAUI NDONESIAN AND ITS NEIGHBORING LANGUAGES . (In addition to the languageabbreviations Min,SkM and StI in Tables 1-4, RI is used here as an abbreviation for RiauIndonesian.) Whereas for RI, Min and StI the data is present ed in standard orthography, for SkM it is presented in a recently-developed specialized orthography that reflects its richer vowel system; in this orthography, e stands for [ә];for [e]; for [ ɛ]; for [o]; andfor [ɔ]).

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010133Table 1: Shared and Distinctive Lexical Features RI forms cited in the last column are presumed to occur also in Min, SkM and StI if, in those languages, forms exist that are identical in meaning, and similar in form up to the level of automatic and transparent sound correspondences. For example, in row 1 the RI formmakan isindicated as being present also in SkM even though, in the latter language, the second vowel is fronted, resu lting in a for m [ma kn], in accordance with a subphonemic rule sp ecific to SkM (which in fact is alluded to in Table 2 row 3).Row 1 'eat' : RI makan; Min makan; SkM makan (subject to the subphonemic alternationmentioned above); StI makan.Row 2 'look': RI tengok; Mintengok (alsocaliak); SkM tngk; StIlihat (in StI tengok occurswith a different, albeit related meaning, visit, while lihat has a somewhat wider range of usesthan RI tengok, corresponding also to 'see'.)Row 3 'yawn': RI kuap; Min kuok (regular sound correspondence); SkM sangap; StIkuap.Row 4 'grue' (the colour term denoting the disjunction of blue and green): RI hijau; Min hijau;SkM none ( hijau refers only to 'green', and biruto 'blue'); StI none ( hijau refers only to 'green',and biru to 'blue').Row 5 'fish': RI ikan; Min lauak; SkM ikan; StI ikan.Row 6 'wooden boat with engine': RI pompong; Min no specific term; SkM pómpóng; StI nospecif ic t er m. Row 7 'trousers': RI celana; Minsarawa ; SkMseluò; StIcelana .Row 8 'give': RI kasi; Min agiah; SkM beri; StI beri.Table 2: Shared and Distinctive Phonological FeaturesIn t his table, and in the comments that follow, phonemic repr esentations are enclosed in // and phonetic representations in []. In five of the rows, a parenthetical qualification "in ordinary words" indicates that the phonological feature in question does not apply to words that belong toa number of except ional classes, such as loan words, words for med by special neologistic processes involving truncation, acronyms and the like, and words of an onomatopoeic or sound- symbolic nature — see Row 5 below for illustration. Row 1: In all four languages, /c/, /j/ and /ɲ / occur freely in word-initial and word-medialposition, but not in word-final position (where, depending on the language, they are either completely absent, or present only in words belonging to the above-mentioned exceptional classes).Row 2: In RI, as argued in Gil (2003b, 2006a), there is no lexical stress; similar arguments holdalso for Min and SkM. In contrast, StI is generally described as having lexical stress on thepenultimate syllable, except when it is a schwa, in which case the stress falls on the finalsyllable. (In reality, however, the StI facts are probably more complex, with different speakers exhibiting different stress patterns reflecting those of their respective native languages.) Row 3: In SkM, /a/ is fronted to [æ] b efore cor onal consona nts /t/, /s/, /n/ and /l/ in word finalposition. This does not occur in RI, Min and StI.Row 4: In RI, there is no phonemic / ə/. Some speakers may have a phonetic [ ə] in thepenu ltimate syllable of words such as ketan'sticky rice', but this is in free alternation with [e]and can be argued to be the resu lt of epent hesis applying to a n underlying for m /ktan/. In M intoo there is no phonemic / ə/, though here there is no phonetic [ ə] either. In contrast, both SkMand StI clearly have a phonemic / ə/.Row 5: In RI, SkM and StI, /t/ occurs freely in word-final position. However, in Min, /t/ doesnot occur word-finally, except in words belonging to the exceptional classes mentioned in the general comments above, for example Rahmat, a proper name borrowed from Arabic; gatot'boast', derived by irregular truncation from gadang otak 'big brain'; and dangdut,a sound-symbolic name referring to a genre of popular music.

David Gil134Row 6: In RI, a phonotactic constraint dictates t hat high vowels may not occur in word-finalclosed syllables (except as qualified in Row 8 below, or in words belonging to the above- mentioned exceptional classes); this constraint is upheld by a productive phonological rule that lowers the relevant vowel. Thus, for example, the word patin, 'silver catfish', underlyingly/patin/, is realized as [pat ɪn]. The sa me phonotactic constraint exists also in SkM, though itsimplementation follows a different path: here the corresponding vowel is phonemically high-mid, as in /paten/. In contrast, in Min and StI, there is no such constraint: high vowels occurfreely in final closed s yllables, as in /patin/, realized [patin]. (T hough, once again, it is necessary to acknowledge that in StI, the facts may vary for speakers with different native accents.)Row 7 : In RI and in StI, /r/ occurs freely in all positions. In contrast, in Min and in SkM, /r/occurs only word-initially and word-medially; in word-final position it is absent (except inwords belonging to one of the exceptional classes).Row 8 : In RI, a rule of vowel harmony overrides the phonotactic constraint referred to in Row 6above in those cases where the penultimate vowel is identical to the final one; in such instances, lowering does not apply. For exa mple, contrasting with words such as /patin/ realized as [pat ɪn], are words such as 'candle', /lilin/ realized as [lilin], not [lil ɪn]. This rule of vowelharmony does not apply in SkM, where the word for 'candle' is /lilen/, and it is irrelevant for Min and StI, where the constraint against high vowels in word-final posit ion does not apply in the fir st pla ce. Table 3: Shared and Distinctive Morphosyntactic Matter Features As in Table 1, RI forms cited in the last column are presumed to occur also in Min, SkM and StI if, in those languages, forms exist that are identical in meaning, and similar in form up to the level of automatic and transparent sound corresp ondences. Row 1: In all four languages, patient-orientation is expressed by the generalized passive markerdi- (though its precise range of functions may differ from language to language; see Gil 2002b).Row 2: In RI, Min and SkM, agent-orientation ma y be express ed by the generalized activemarker N-, whose morphophonemic realization involves some form of nasal accretion ormutation, depending on the initial segment of the stem to which it attaches. (Note, however, than in Min, there are alt ernative ways of expr essing agent-orientation, as reflected in Table 4Row 5.) In contrast, in StI, agent-orientation is not express ed by N- but rather by thegeneralized active marker meN-.)Row 3: In RI, Min and Std I, kalianoccurs as a 2nd person plural pronoun. In SkM, however,the corresponding form is miko.Row 4: In RI a nd Min, ndak is used as a negative marker. While in RI other negative markers,tak and nggak , are also present, in Min it is the sole marker, and is an abbreviated form of thelonger indak. In contrast, in SkM and StI, ndak is absent, and other forms are used instead, suchas dak in SkM, tidak in StI, and tak, shared by SkM and StI, as well as RI. (The profusion ofnegative markers in Malay/Indonesian is also reflected in 3 out of the 4 items in the morphosyntactic matter column in Figure 1.)Row 5 : In RI, SkM and StI, nantiis used to express proximal future time. (Whereas in RI andStI it is the primary form fulfilling this function, in SkM the more common form is karang andits variants kang, rang andang). In contrast, in Min, nanti is absent, and the correspondingfor m is beko.Row 6: In RI and SkM, betul is used as an intens ifier of property words, corresponding to 'very',whereas in Min and StI it is not used with that meaning. However, in all four languages, betulhas other usages, such as 'real' or 'right'. Also, in all four languages, there are a variety of otherfor ms which share the funct ion of intens ifier. While in RI, sekali is the most commonly used

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010135intensifier, withbetul as a less frequent variant, in SkM, betul is the most frequently occurringintensifier. In Min, bana is the most common intensifier, while in StI it is sangat oramat .Row 7 : In Riau and StI, the content interrogative 'when' is expressed with kapan, whereas inMin the corresponding for m is bilo, and in SkM biló.Row 8 : In all four languages, there are one or more applicative suffixes or enclitics expressingincreased transitivity, causative and benefactive; however, RI alone of the four makes use of the form -in for this function. In actual fact, in RI, -in is a less frequent variant of the mor ecommonly used -kan, and is associated with more urban, upwardly mobile and trendy languageregisters. In contrast, SkM has -kan as the only applicative marker, Min has either -kan in mor efor mal r egisters, or -an mor e colloquially, and StI has either -kan or-i depending on a variety oflexical and grammatical factors. Table 4: Shared and Distinctive Morphosyntactic Pattern Features Row 1: In all four languages, numerals quantifying discrete individuated objects such as people,animals, houses, etc., may occur in construction with a sortal numeral classifier, but need not necessarily do so, the presence or absence of the classifier being dependent on a variety ofsemantic and discourse factors; for example RI tiga (ekor) ikan, Min tigo (ikua) lauak , SkMtigó(kw) ikan , StItiga (ekor) ikan for 'threeCLF fish', where RI ekorand its cognates, literally'tail', are numeral classifiers used for counting animals.Row 2: In RI, Min and SkM, the form do (in SkM d) is used as an optional negative polarityitem, at the end of a phrase containing a negative marker; for example RI Rinol tak makan ikan(do) , Min Rinol indak makan lauak (do) , SkMRinòl tak makan ikan (dó) literally 'RinolNEG eatfish NEG.POL ',for 'Rinol didn't eat any fish'. StI does not have do, or any other marker with suchfunct ion.Row 3 : In RI, Min and StI, the negation of 'want' is formed in regular fashion, with the negativemarker preceding the wor d for 'want': RI tak mau, Minindak nio , StItidak mau . In contrast, inSkM, the corresp onding collocation * tak nak does not occur; its place is taken by the suppletiveform tendak .Row 4: In RI and Min, the numeral 'one' may be used as a sentence final particle in the contextof a requ est or polit e imp erative, for exa mple RI ikut satu, Minikuik ciek , literally 'follow one',for 'Can I come with you'. In SkM and StI there is no corresponding usage of the numeral 'one'.Row 5: In RI, SkM and StI, there is a single generalized active marker expressing agentorientation: in RI and SkM it is N-, mentioned in Table 3 Row 2, while in StI it is meN-. Incontrast, in Min, there are three such markers, N-,ma- , and maN- (though their number mayconceivably be reduced t o two, if maN- is analyzed as a combination of ma- and N-), the choicebetween them being dependent on a variety of phonological, grammatical and stylistic factors(Crouch 2009). Row 6: In RI and SkM, meanings such as 'Kudin and I' are expressed by the collocation of theproper noun with a 1st person exclusive pronoun plus an additional grammatical marker such as the numeral 'two'; since the 1st person exclusive pronoun includes the proper noun in its reference, the construction is sometimes called an inclusory plural (Haspelmath 2004). For example, in RI 'Kudin and I' is expressed as kami dua Kudin, and in SkM as kami duó Kudin,literally '1 PL:EXCL two Ku din'. (If mor e tha n two peop le are involved, the numeral 't wo' isreplaced with a general comitative marker, in RI sama ordengan , in SkM samó ordengan .) Incontrast, in Min and StI, there is no inclusive plural construction, and instead the proper nounoccurs in construction with the 1st person singular pronoun: Min aden jo Kudin '1SG withKudin', StI aku dan Kudin '1SG and Kudin'.Row 7 : In all four languages there is an enclitic whose general meaning is that of association:attached to a word W, the mea ning of W-enclit ic can be express ed as 'W associated with x',where x is a variable whose r eference is determined by a combination of grammatical, discourse, and extralinguistic context. In RI, the form of the enclitic is -nya;attached to a word

David Gil136such asbuku 'book', the resulting bukunya means 'book associated with x', which in turn,depending on context, can be rendered into English as, among others, 'his book', 'our book', 'the library's book', 'the book mentioned in the preceding conversion', 'the book characteristically associated with the given situation', or simply 'the book'. In StI, the form of the associativeclitic is also -nya, and it has a similar if not quite identical range of usages. However, in bothMin and SkM, there are two different forms of the associative clitic, the choice between themdepending at least in part on grammatical and discourse fact ors at present not fu lly understood:in Min, the two forms are -nyo and -e, while in SkM they are -nyó and -N, the latter representinga homorga nic nasal consonant. Row 8: In RI there is a construction of the form X kek Ykek ... with the interpretation 'X, Y ...or associated things', for exa mple, buku kek koran kek 'books, newspapers, or things like that'.(In this construction, any nu mber of it ems ca n be conjoined.) An appropriate na me for thisconstruction, which I have not seen mention of in the general linguistic literature, might therefore be associative disjunction. However, none of the other three languages have a similarconstruction, with kek or any other marker.Figure 1: Some Malay/Indonesian Isoglosses between Kuala Lumpur and Jakarta The dialects associated with the locations repr esent ed in Figur e 1 are referred t o below wit h the following abbreviations: KLM Kuala Lumpur Malay, PI Palembang Indonesian, KI Kalia ndaIndonesian, JI Jakarta Indonesian.Phonological Features:Isogloss 1: To the north, word-final /r/ is absent; to the south it is present. For example: KLM/paga/, RI, PI, KI, JI /pagar/. (This is the same feature referred to in Table 2 row 7.) Isogloss 2: To the north, word-final / ə/ in closed syllables is absent; to the south it is present.For example: KLM, RI /malam/; PI, KI, JI /mal əm/ 'night'. (In KLM, this constraint appliesonly to native words; in loan words, / ə/ may occur in a final closed syllable, for exa mple/h ns əm/ 'handsome'.)Isogloss 3: To the north, word final /k/ is realized as [ ʔ]; to the south as [k]. For example,KLM, RI, PI [masa ʔ]; KI, JI [masak] 'cook'. The presence of an underlying /k/ in KLM, RI andPI is evidenced by alternations such as [masa ʔ] ~ [masakan] 'cuisine'. (Again, in KLM, thisconstraint applies only to native wor ds; in loan words, [k] ma y occur word-finally, for exa mple KLM [c ɛk] '(bank) check', RI, PI [ojek] 'motorcycle taxi', from Javanese, probably via JI.)Isogloss 4: To the north, word-final /a/ is only ever realized as a central vowel ([ ɨ] in KLM, [a]in RI, PI and KI); to the south, it has a stylistically-marked alternative realization as mid-front[e]. For example, from 'what' /apa/, KLM [ap ɨ], RI, PI, KI [apa], JI [apa] ~ [ape].Morphosyntactic Matter Features: Isogloss 1: To the north, the negative marker nggak is absent; to the south it is present.Isogloss 2: To the north, the distal demonstrative no is absent; to the south it is present.(Deictics in Malay/Indonesian generally occur in (at least) the following three series: simple demonstrative, complex demonstrative and complex locative, and typically express a three-waydistinction between proximal, medial and distal, eg. in JI, simple demonstratives ni, tu, no;complex demonstratives ini, itu, ono; and complex locatives sini, situ, sono. However, in manydialects, the paradigm is defective, with simple and complex demonstratives lacking a distal,eg. in RI, simple demonstratives ni, tu, [none]; complex demonstratives ini, itu, [none]; complexlocatives sini, situ, sana . Historically, the defective paradigm is apparently the original one,with the JI forms created by analogy and under Javanese influence and the simple distaldemonstrative no subsequent ly spreading north from JI to KI and PI via language contact.)Isogloss 3: To the north, the negative marker tak is present; to the south it is absent.Isogloss 4: To the north, the negative marker kagak is absent; to the south it is present.

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010137ACKNOWLEDGEMENTSThis paper owes its existence to many friends and colleagues who have challenged my work on Riau Indonesian in various ways. If I have chosen to avoid attributing certain claims to specific persons, this is in order to emphasize that, rather than trying to scor e points off each other, weshare the common goal of advancing our understanding of the issues under discussion. Indeed, my own understanding of what Riau Indonesian is has profited immensely from having to defend my case against the claims discussed in this paper. The main arguments in this paperwere first put forward at the Sevent h International Symposium on Malay/Indonesia nLinguistics, Nijmegen, The Netherlands, 28 June 2003; I am grateful to members of the audience there for their helpful comments.NOTE* Th e auth or would like to than k an anonymous reviewer for ver y helpful comments on th e earlier draft.REFERENCESAnsaldo, Car U. and S.J. Matthews (eds.). Deconstructing Creole: New Horizons in LanguageCreation . Amsterda m: John Benja mins.Carnie, A., H. Harley, and S.A. Dooley (eds.). Verb First: On the Syntax of Verb-InitialLanguages . Amsterdam: John Benjamins.Cohen, H. and C. Lefebvre (eds.). Categorization in Cognitive Science . Oxford: Elsevier.Cole, P. and G. Hermon. 2005. "Subject and Non-Subject Relativization in Indonesian." Journalof East Asian Linguistics 14, 59-88.Cole, P., G. Hermon, and Yanti. 2008. "Voice in Malay/Indonesian." Lingua 118.10, 1500-1553.Collins, J.T. 1980. Ambonese Malay and Creolization Theory . Kuala Lumpur: Dewan Bahasadan Pustaka.Colins, J.T. (ed.). 1983. Studies in Malay Dialects, Part II, NUSA 17 . Jakarta: Universitas AtmaJaya.Crouch, S. 2009. The Discourse and Pragmatic Effects on Voice and Verbal Morphology inMinangkabau . Tesis MA, University of Western Australia, Perth.Donohue, M. (to appear). "Papuan Malay." Donohue, M. and T. Denham (to appear) "Island Southeast Asia During the Mid-Holocene: Reframing Austronesian History." Current Anthropology.Donohue, M. and Y. Sawaki .2007. "Papuan Malay Pronominals: Forms and Functions." Oceanic Linguistics 46, 253-276.Dryer, M. 2005. "Order of Genitive and Noun." In: Haspelmath, Dryer, Gil, and Comrie (eds.), 350-353.Durvasula, K. 2008 "Multiple Categorical Sources for Surface Partially-Nasal Stops and the Nature of their Variability." Paper presented at the 31st Annual Colloquium of Generative Linguistics in the Old World (GLOW), Toulouse, France, 25 March 2008.Dutton, T. and D.T. Tryon (eds.). 1994. Language Contact and Change in the AustronesianWorld . Berlin: Mouton de Gruyter.Gagarina, N. and I Glzow (eds.). The Acquisition of Verbs and Their Grammar: The Effect ofParticular Languages . Dordrecht: Springer.

David Gil138Gil, D. 1994. "The Structure of Riau Indonesian."Nordic Journal of Linguistics 17, 179-200.Gil, D. 1999. "Riau Indonesian as a Pivotless Language." In: Raxilina dan Testelec (ed.), 187- 211.Gil, D. 2000 "Syntactic Categories, Cross-Linguistic Variation and Universal Grammar." Dalam: Vogel and Comrie (eds.), 173-216.Gil, D. 2001a. "Creoles, Complexity and Riau Indonesian." Linguistic Typology5, 325-371.Gil, D. 2001b. "Escaping Eurocentrism: Fieldwork as a Process of Unlearning." In: Newman dan Ratliff (eds.), 102-132.Gil, D. 2002a. "Ludlings in Malayic Languages: An Introduction." In: Kaswanti Purwo (ed.), 125-180.Gil, D. 2002b. "The Prefixes di- and N- in Malay / Indonesian Dialects." In: Wouk dan Ross (eds.), 241-283.Gil, D. 2003a. "Colloquial Indonesian Dialects: How Real Are They?" Paper presented at the Sevent h International Symposium on Malay/Indonesian Linguistics, Association for Linguistic Typology, Nijmegen, The Netherlands, 28 June 2003.Gil, D. 2003b. "Intonation Does Not Differentiate Thematic Roles in Riau Indonesian." In: Riehl and Savella (eds.), 64-78.Gil, D. 2004a. "Learning About Language from Your Handphone; dan,and and & in SMSsfrom the Siak River Basin." In: Sukamto (ed.), 57-61.Gil, D. 2004b. "Riau Indonesian sama, Explorations in Macrofunctionality." In: Haspelmath(ed.), 371-424.Gil, D. 2005a. "Can You Drink a Book in Malay/Indonesian? Variation Across Isolect, Socio- Economic Status and Age." Paper presented at the Ninth International Symposium onMalay/Indonesian Linguistics, Association for Linguistic T ypology, Ambun Pagi,Indonesia, 27 July 2005.Gil, D. 2005b. "Distributive Numerals." In: Haspelmath, Dryer, Gil, and Comrie (eds.), 222- 225.Gil, D. 2005c. "From Repetition to Reduplication in Riau Indonesian." In: Hurch (ed.), 31-64. Gil, D. 2005d. "Isolating-Monocategorial-Associational Language." In: Cohen and Lefebvre (eds.), 347-379.Gil, D. 2005e. "Word Order Without Syntactic Categories: How Riau Indonesian Does It." In: Carnie, Harley, and Dooley (eds.), 243-263.Gil, D. 2006a. "Intonation and Thematic Roles in Riau Indonesian." In: Lee, Gordon, and Büring (eds.), 41-68.Gil, D. 2006b. "The Acquisition of Voice Morphology in Jakarta Indonesian." In: Gagarina and Glzow (eds.), 201-227.Gil, D. 2007. "Creoles, Complexity and Associational Semantics." In: Ansaldo and Matthews (eds.), 67-108.Gil, D. 2008a. "How Complex Are Isolating Languages?" In: Karlsson, Miestamo, and Sinnemki (eds.), 109-131.Gil, D. 2008b. "T he Acquisit ion of Syntactic Categories in Jakarta Indonesian." Studies inLanguage 32, 637-669.

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010139Gil, D. 2009. "How Much Grammar Does It Take to Sail a Boat?" In: Sampson, Gil, andTrudgill (eds.).Gil, D. (to appear). "Riau Indonesian: A Language without Nouns and Verbs." In: Rijkhoff and van Lier (eds.).Haspelmath, M. 2004. "Coordinating Constructions, An Overview." In: Haspelmath (ed.), 3-39. Haspelmath, M. (ed.). 2004. Coordinating Constructions,Typological Studies in Language 58 .Amsterdam: John Benjamins.Haspelmath, M., M. Dryer, D. Gil, and B. Comrie (eds.). The World Atlas of LanguageStructures . Oxford: Oxford Universit y Press.Hurch, B. (ed.). Studies on Reduplication , Empirical Approaches to Language Typology 28.Berlin: Mouton de Gruyter.Karlsson, F., M. Miestamo, and K. Sinnemki (eds.). Language Complexity: Typology, Contact,Change . Amsterdam: John Benjamins.Kaswanti Purwo, B. (ed.). PELBBA 15, Pertemuan Linguistik Pusat Kajian Bahasa dan BudayaAtma Jaya: Kelima Belas . Jakarta: Unika Atma Jaya.Lee, C.M., M. Gordon, and D. Bring (eds.). Topic and Focus, Cross-Linguistic Perspectives onMeaning and Intonation , Studies in Linguistics and Philosophy 82. Dordrecht: Springer.Lefebvre, C. (ed.). (to appear). Creoles and Their Substrates [tentative title]. Amsterdam: JohnBenjamins.McWhorter, J. 2001. "What People Ask David Gil and Why." Linguistic Typology 5, 388-412.McWhorter, J. 2005. Defining Creole. Oxford: Oxford University Press.McWhorter, J. 2006. Language Interrupted: Signs of Non-Native Acquisition in StandardLanguage Grammars . New York: Oxford University Press.McWhorter, J. 2008 "Why Does a Language Undress? Strange Cases in Indonesia." In: Karlsson, Miestamo, and Sinnemki (eds.).Minde, D. van. 1997. Malayu Ambong: Phonology, Morphology, Syntax . Leiden: CNWS.Newman, P. and M. Ratliff (eds.). Linguistic Fieldwork. Cambridge: Cambridge UniversityPress,Paauw, S. 2008. The Malay Contact Varieties of Eastern Indonesia: A Typological Comparison .Disertasi Ph.D., State University of New York at Buffalo.Pakir, A. Geok-in Sim. 1986. A Linguistic Investigation of Baba Malay . Ph.D. Dissertation,University of Hawai'i, Manoa.Prentice, D.J. 1994. "Manado Malay: Product and Agent of Language Change." In: Dutton and Tryon (eds.), 411-441.Pullum, G.K. 1989. "Topic ... Comment: The Great Eskimo Vocabulary Hoax." NaturalLanguage and Linguistic Theory 7, 275-281.Raxilina, E.V. and Y.G. Testelec (eds.). 1999. Tipologija i Teorija Jazyka, Ot Opisanija kObjasneniju, K 60-Letiju Aleksandra Evgen'evicha Kibrika (Typology and LinguisticTheory, From Description to Explanation, For the 60th Birthday of Aleksandr E. Kibrik). Moscow: Jazyki Russkoj Kul'tury.

David Gil140Rheeden, H.A. van. 1999. "The Emergence and Structure of Steurtjestaal, A Mixed OrphanageLanguage of Colonial Java." Paper present ed at the Third International Symposium on Malay/Indonesian Linguistics, Association for Linguistic Typology, Amsterda m, TheNetherlands, 25 August 1999.Riehl, A. and T. Savella (eds.). Proceedings of the Ninth Annual Meeting of the AustronesianFormal Linguistics Association (AFLA9) , Cornell Working Papers in Linguistics 19.Rijkhoff, J. and E. van Lier (eds.). (to appear). Flexible Word Classes. Oxford: OxfordUniversity Press.Sampson, G., D. Gil, and P. Trudgill (eds.). 2009. Language Complexity as an EvolvingVariable . Oxford: Oxford Universit y Press.Slomanson, P. (to appear). "Substrate Features in Sri Lankan Malay." In: Lefebvre (ed.). Sneddon, J.N. 2006. Colloquial Jakartan Indonesian . Canberra: Pacific Linguistics.Sukamto, K.E. (ed.). KOLITA 2, Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya . Jakarta: PusatKajian Bahasa dan Budaya, Unika Atma Jaya.Steinhauer, H. 1983. "Notes on the Malay of Kupang (Timor)." In: Colins (ed.), 42-64.Stoel, R. 2005. Focus in Manado Malay: Grammar, Particles and Intonation . Leiden: CNWSPublications.Tadmor, U. 2005. "What Kind of Linguistic Creature is Semarangan?" Paper presented at the Ninth International Symposium on Malay/Indonesian Linguistics, Association for Linguistic Typology, Ambun Pagi, Indonesia, 28 July 2005.Tadmor, U. 2007. "Local Elements in Betawi Malay." Paper presented at the First International Symposium on the Languages of Java, Semarang, Indonesia, 16 August 2007.Taylor, P.M. 1983. "North Moluccan Malay: Notes on a 'Substandard' Dialect of Indonesian. " In: Colins (ed.), 14-27.Tjung, Y.N. 2006. The Formation of Relative Clauses in Jakarta Indonesian, A Subject-ObjectAsymmetry . Disertasi Ph.D., University of Delaware, Newark.Vogel, P.M. and B. Comrie (eds.). 2000. Approaches to the Typology of Word Classes ,Empirical Approaches to Language Typology. Berlin: Mouton.Voorhoeve, C.L. 1983. "Some Observations on North-Moluccan Malay." In: Collins (ed.), 1-13. Wouk, F. 1989. The Impact of Discourse on Grammar: Verb Morphology in Spoken JakartaIndonesian . Disertasi Ph.D., UCLA, Los Angeles.Wouk, F. 1999. "Dialect Contact and Koineization in Jakarta, Indonesia." Language Sciences21, 61-86.Wouk, F. and M. Ross (eds.). 2002. The History and Typology of Western Austronesian VoiceSystem s. Canberra: Pacific Linguistics.Yanti. 2010. Jambi Malay. Ph.D. Dissertation, University of Delaware, Newark.ABBREVIATIONSThis paper makes use of the following glossing abbreviations: CLFclassifier, EXCLexclusive,NEG negative, PLplural, POLpolarity, SGsingular, 1first person, 2second person.David Gil gil@eva.mpg.deMax Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Leipzig

Linguistik Indonesia Copyright 2010 by Masyarakat Linguistik Indonesia Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010, 141-166 REALISASI MAKNA TEKSTUAL PADA ARTIKEL JURNAL ILMIAH DALAM BAHASA INDONESIA Tri Wiratno* Universitas Sebelas Maret Surakarta Abstract This paper presents an analysis of the realization of textual meaning in four scientific articles in the fields of biology, economics, social science, and language. The analysis focused on how textual meaning is realized through thematization, lexical string, reference chain, and text structureIn terms of thematization, the choice of themes on the clausal level and patterns of topic development (in ThemeRheme and Hyper-theme Hyper-rheme relations) on the discoursive level reflects relatively high cohessiveness. In terms of lexical string, it is evident that th e choice of themes realizes textual meaning through various meaning relations, including repetition, synonymy, antonymy, hyponymy, cohyponymy, meronymy, dan co-meronymy. The relations indicate not only the scope of the subject matter presented in the articles ideationally, but also the cohessiveness of the lexes textually. In terms of reference chain, it is evident that the participants were identified in the texts according to reference systems. Textually, the way to refer things in reference chain can reflect the degree of text cohessiveness and can explain the things to be referred to under the principle of generalization. In terms of text structure, the text structures of Biology and Economics Articles are more inclusive than those of Social Science and Language Articles. The analysis of text structure also shows that Biology, Economics, and Language Articles have ex pository characterisitcs, whereas Social Science Article has descriptive characteristics. Different types of genre and social purposes lead the articles to employ different text structures. Key words: thematization, lexical string, reference chain, text structure. PENDAHULUAN Makalah ini berisi analisis rea lisasi makna tekstual pada empat artikel ilmiah di bidang biologi, ekonomi, sosial, dan bahasa. Masing-masing artikel diberi nama Artikel Biologi, Artikel Ekonomi, Artikel Sosial, dan Artikel Bahasa. Ma kna tekstual merupakan satu dari tiga makna metafungsional. Dua makna metafungsional ya ng lain adalah makna ideasional dan makna interpersonal. Makna metafungsional adalah makna yang secara simultan terbangun dari tiga fungsi bahasa, yaitu fungsi ideasional, fungsi in terpersonal, dan fungsi tekstual. Fungsi ideasional mengungkapkan realitas fisik dan biologis , serta berkenaan dengan interpretasi dan representasi pengalaman. Fungsi interpersonal mengungkapkan realitas sosial serta berkenaan dengan interaksi antara penutur/p enulis dan pendengar/pembaca. Sementara itu, fungsi tekstual mengungkapkan realitas semiotis/simbol dan berk enaan dengan cara penciptaan teks dalam konteks (Matthiessen, 1992/1995:6; Halliday dan Martin, 1993:29; Halliday dan Matthiessen, 1999:7-8). Makna yang berada pada lingkup ketig a fungsi tersebut disebut makna ideasional, makna interpersonal, dan makna tekstual. De ngan demikian, makna metafungsional melingkupi ketiga jenis makna tersebut, dan realisasinya di dalam teks dapat dilihat dari unsur-unsur leksikogramatika ( lexicogrammar)yaitu cara kata-kata disusun beserta segala akibat maknanya–dalam membentuk registernya, yaitu ragam bahasa yang dipengaruhi oleh konteks situasi yang melingkupi pokok persoalan yang di ungkapkan di dalam teks tersebut sedemikian rupa sehingga membentuk jenis teks pada konteks budaya ( genre) tertentu. Pembahasan pada makalah ini dipusatkan pa da bagaimanakah makna tekstual pada keempat artikel yang dianalisis direalisasika n. Makna tekstual dapat diungkapkan dengan

Tri Wiratno 142 berbagai cara, tetapi dalam paper ini makna tersebut pada artikel-artikel yang dipilih hanya dianalisis melalui tematisasi, rajutan leksikal, jalinan referensi, dan struktur teks. Karena keempat artikel tersebut dimuat pada jurnal ilmiah, artikel-artikel tersebut diasumsikan tergolong ke dalam teks ilmiah, meskipun ciri-ciri keilmiahannya perlu dibuktikan secara linguistik. MAKNA TEKSTUAL Sebagai salah satu wilayah makna metafungsional, makna tekstual tercipta dari gabungan antara fungsi ideasional dan fungsi interpersonal. Makna tekstual adalah makna sebagai hasil dari realisasi unsur-unsur leksikogramatika yang menj adi media terwujudnya sebuah teks, tulis atau lisan, yang runtut dan yang sesuai dengan situasi tertentu pada saat bahasa itu dipakai dengan struktur yang bersifat periodik (Martin, 1992: 10, 13, 21). Adapun yang dimaksud dengan teks adalah satuan lingual yang dimediakan secara tu lis atau lisan dengan tata organisasi tertentu untuk mengungkapkan makna dalam konteks terten tu pula” (Wiratno, 2009:77; lihat pula Wiratno, 2003-4). Dapat digarisb awahi bahwa di dalam teks terdapat sejumlah ciri sebagai berikut: (1) teks merupakan satuan lingual; (2) te ks mempunyai tata organisasi yang kohesif; (3) teks mengungkapkan makna; (4) teks tercipta pada sebuah konteks; dan (5) teks dapat dimediakan secara tulis atau lisan. Dalam makalah ini istilah “teks” dan “waca na” dianggap sama dan digunakan secara bergantian (Martin, 2008), meskipun terdapat beberapa pendapat yang menganggap keduanya berbeda (lihat, misalnya, Cook, 1989:156-158). Te ks mengacu kepada bentuk fisik, sedangkan wacana mengacu kepada makna (N unan, 1993:5-7). Pada makalah ini, diyakini bahwa bentuk dan makna merupakan dua hal yang bersifat komple menter; makna terungkap melalui bentuk, dan karenanya, bentuk yang berbeda menunjukkan makna yang berbeda. Secara teknis, wacana lebih bersifat abstrak dan merupakan r ealisasi makna dari teks. Oleh Martin (1992), makna pada tataran wacana disebut makna wacana ( discourse semantics). Untuk itu, meskipun secara teknis teks dan wacana dapat dibedakan, pada praktik analisis, keduanya tidak perlu dibedakan (Martin, 2008). Pada tataran kelompok kata dan klausa, makna tekstual diungkapkan dengan tematisasi, hubungan makna melalui repetisi, sinonimi, an tonimi, hiponimi, kohiponimi, meronimi, dan komeronimi untuk mengungkapkan kohesi leksikal . Pada tataran wacana, makna tekstual diungkapkan dengan rajutan leksikal, jalinan referensi, akumulasi penataan Tema-Rema pada tingkat klausa, Hiper-tema/Hiper-rema pada paragr af, dan struktur teks. Makna tekstual pada tingkat wacana sesungguhnya adalah persoala n bagaimana sebuah teks itu ditata dan dimediakan sehingga tercipta sebagaimana wujudnya. REALISASI MAKNA TEKSTUAL Tematisasi Dalam hal tematisasi pada tataran klausa, tema yang paling dominan pada teks-teks tersebut adalah Tema Topikal Takbermarkah, disusul Te ma Tekstual dan Tema Topikal Bermarkah yang kesemuanya mengungkapkan kekohesifan ya ng cukup tinggi pada tataran klausa. Pada tataran wacana, tematisasi direalisasikan ol eh pola pengembangan topik (dalam hubungan Tema–Rema dan Hiper-tema–Hiper-rema). Jenis Tema Tema dibagi menjadi Tema Topikal (yang me liputi Tema Topikal Takbermarkah dan Tema Topikal Bermarkah), Tema Tekstual, dan Tema Interpersonal. Sebaran pemilihan tema pada artikel-artikel ilmiah yang diteliti disajikan pa da Tabel 1. Tampak bahwa pada semua artikel tersebut Tema Topikal Takbermarkah merupaka n tema yang paling dominan (dengan rentang 52,4% 67,6%), disusul Tema Tekstual (dengan rentang 20% 27,4%), kemudian Tema Topikal

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 143 Bermarkah (dengan rentang 10,8%–20,2%), tetapi Tema Interpersonal tidak ditemukan sama sekali. Tabel 1. Sebaran Tema Jenis Tema Artikel Topikal Tekstual Interpersonal Takbermarkah Bermarkah Artikel Biologi Jumlah: 150 99 (66%) 21 (14%) 30 (20%) 0 (0%) Artikel Ekonomi Jumlah: 324 219 (67,6%) 35 (10,8%) 70 (21,6%) 0 (0%) Artikel Sosial Jumlah: 248 130 (52,4%) 50 (20,2%) 68 (27,4%) 0 (0%) Artikel Bahasa Jumlah: 174 101 (58,1%) 30 (17,2%) 43 (24,7%) 0 (0%) Tentang Tema Topikal Takberm arkah dapat diuraikan sebagai berikut. Telah diketahui bahwa Tema Topikal Takbermarkah berfusi de ngan Subjek klausa, dan telah diketahui pula bahwa penemaan berkaitan denga n distribusi informasi pada klausa. Tingginya persentase Tema Topikal Takbermarkah menunjukkan bahwa secara tekstual distribusi informasi pada artikel- artikel yang diteliti diorganisasikan melalui peleta kan Subjek di depan klausa sebagai alat untuk menitikberatkan pokok persoalan yang dibahas di dalamnya. Dengan demikian, pokok persoalan yang ditemakan pada klausa sesungguhnya adalah Subjek itu sendiri. Contoh-contoh Tema Topikal Takbermarkah yang diambil dari artikel -artikel yang diteliti disajikan pada Tabel 2. Bagian yang menunjukkan Tema Topi kal Takbermarkah dicetak tebal. Tabel 2. Contoh Tema Topikal Takbermarkah Klausa 9, Artikel Biologi Serangan PGDC dapat menyebabkan terhentinya pertumbuhan dan penurunan produksi [[yang cukup berarti]]. Subjek Finit Predikator Pelengkap Tema Topikal Takbermarkah Rema Klausa 5a, Artikel Ekonomi Suatu organisasi perlu belajar bagaiman a mengelola karyawan dengan struktur usia [[yang berbeda-beda]] Subjek Finit Predikator Pelengkap Tema Topikal Takbermarkah Rema Klausa 23, Artikel Sosial Pekerjaan [di tobong gamping dari mulai menambang sampai pemasaran] melibatkan tenaga kerja wanita. Subjek Finit/Predikator Pelengkap Tema Topikal Takbermarkah Rema Klausa 32, Artikel Bahasa Tanda-tanda [dalam bahasa] memiliki dua karakteristik, yaitu arbriter, dan linear. Subjek Finit/Predikator Pelengkap Tema Topikal Takbermarkah Rema

Tri Wiratno 144 Seperti terlihat pada Tabel 2, “Serangan PGDC”, “Suatu organisasi”, “Pekerjaan di tobong gamping dari mulai menambang sampai pemasaran”, dan “Tanda-tanda dalam bahasa” adalah contoh-contoh Subjek yang berperan sebag ai Tema Topikal Tabermarkah. Subjek yang ditemakan tersebut merupakan informasi lama ya ng disusul oleh informasi baru (yang disebut rema) yang diletakkan di belakangnya. Secara umum, pada Artikel Biol ogi, pokok persoalan yang ditemakan melalui Subjek tidak lain adalah pengetahuan yang berkaitan dengan tana man karet dan sifat-sifat ketahanannya terhadap PGDC yang dilihat dari sudut pandang ilmu genetika. Pada Artikel Ekonomi, pokok persoalan tersebut adalah pengetahuan yang berkaitan deng an hubungan antara usia dan kinerja manajer sebagai pengaruh dari hubungan antara komitmen organisasi dan partisipasi penganggaran. Pada Artikel Sosial, pokok persoalan tersebut adalah pengetahuan yang berkaitan dengan peranan wanita sebagai pekerja di tobong gamping. Adapun pada Artikel Bahasa, pokok persoalan tersebut adalah pengetahuan yang berkaitan dengan pemahaman makna dari segi komunikasi lintas budaya. Tentang Tema Topikal Bermarkah dapat diuraikan sebagai berikut. Pengetahuan sebagaimana diuraikan di atas sesungguhnya me rupakan wilayah yang perlu dipetakan melalui penggunaan batas-batas ruang, waktu, cara, al asan, dan tujuan (yang direalisasikan oleh Keterangan Tempat, Keterangan Waktu, Ketera ngan Cara, Keterangan Alasan, dan Keterangan Tujuan), atau batas-batas yang berupa Finit/Pre dikator dalam susunan inversi, kata tanya, dan klausa dependen. Batas-batas tersebut pada umumnya diletakkan di bagian depan klausa sebelum Subjek (dan pembatas yang berupa klausa dependen diletakkan sebagai klausa pertama), sehingga bukan lagi Subjek yang menj adi lebih penting, melainkan batas-batas itu sendiri. Kosekuensinya, batas-batas tersebut dite makan. Batas-batas tersebut menjadi pemarkah, sehingga tema yang timbul disebut Tema Topika l Bermarkah. Sementara itu, informasi yang diletakkan di belakang pembat as tersebut menjadi rema. Contoh-contoh Tema Topikal Bermarkah yang diambil dari artikel-artikel yang diteliti disajikan pada Tabel 3. Bagian yang menunjukkan Tema Topikal Bermarkah dicetak tebal. Tabel 3. Contoh Tema Topikal Bermarkah Klausa 5 Sejak awal tahun 1980 telah diketahui adanya penyakit gugur daun Corynespora (PGDC) yang menyerang beberapa perkebunan karet di Indonesia. Keterangan Finit Predikator Subjek Tema Topikal Bermarkah Rema Klausa 46, Artikel Ekonomi Dalam riset ini varibel perantara [[yang dianalisis]] adalah komitmen organisasi dan partisipasi penganggaran. Keterangan Subjek Finit Pelengkap Tema Topikal Bermarkah Rema Klausa 39, Artikel Sosial Ada batasan-batasan tertentu [[yang tidak boleh dilakukan oleh wanita karena alasan budaya atau tabu menurut norma dan etika]]. Finit/Predikator Subjek Tema Topikal Bermarkah Rema Klausa 9a, Artikel Bahasa Menurut Patterson (1976), kebudayaan merupakan sumberdaya pariwisata, Keterangan Subjek Finit Pelengkap Tema Topikal Bermarkah Rema

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 145 Dari contoh-contoh pada Tabel 3, dapat ditunjukkan bahwa cakupan wilayah pengetahuan pada Klausa 5 untuk Artikel Biologi dibatasi ol eh Keterangan Waktu: Sejak awal tahun 1980, pada Klausa 39 untuk Artikel Ekonomi dibatasi oleh Keterangan Tempat: “Dalam riset ini”, pada Klausa 39 untuk Artikel Sosial dibatasi oleh Finit/Predikator: “Ada”, dan pada Klausa 9a untuk Artikel Bahasa dibatasi oleh Ketera ngan Cara: “Menurut Patterson (1976)”. Secara berturut-turut, pembatas-pembatas tersebut dapat dijelaskan lebih jauh sebagai berikut. Keterangan Waktu: “Sejak awal tahun 1980” pada Artikel Biologi mengandung makna bahwa cakupan masalah “serangan PGDC kepada tanaman karet di Indonesia” dibatasi pada rentang waktu sejak awal 1980 hingga sekarang (p ada saat Artikel Biologi tersebut di tulis). Keterangan Tempat: “Dalam riset ini” pada Artikel Ekonomi mengandung makna bahwa pokok masalah yang dibicarakan dibatasi pada riset ya ng dilaporkan pada artikel tersebut saja, tidak meluas ke riset lain. Finit/Predikator: “Ada” digunakan untuk membatasi keberadaan jenis-jenis pekerjaan yang lazin dikerjakan oleh wanita menurut kriteria tertentu. Demikian juga, Keterangan Cara: Menurut Patterson (1976) merupakan pembatas bahwa deskripsi tentang “kebudayaan merupakan sumber pariwisata” hanya ditujukan kepada pendapat Patterson. Tentang Tema Tekstual dapat diuraikan sebag ai berikut. Tema Tekstual direalisasikan terutama oleh konjungsi, baik konjungsi ekst ernal (konjungsi intraklausa) maupun konjungsi internal (konjungsi antarklausa). Konjungs i eksternal digunakan untuk mengorganisasikan gagasan secara intraklausa pada tataran klau sa, sedangkan konjungsi internal digunakan untuk mengorganisasikan gagasan secara antarklausa pada tataran wacana. Ternyata, penyajian pokok pe rsoalan melalui penggunaan Tema Topikal Takbermarkah dan Tema Topikal Bermarkah da pat ditunjang oleh penggunaan Tema Tekstual. Dalam hal ini, fungsi Tema Tekstual adalah untuk mengkerangkai logika yang disampaikan pada klausa di dalam teks. Lebih tegas lagi, Tema Tekstual digunakan untuk mengorganisasikan keterkaitan antara gagasan yang satu dan gagasan yang lain pada tataran klausa atau wacana. Dengan demikian, terdapat dua jenis Tema Tekstual, yaitu Tema Tekstual yang direalisasikan secara intraklausa oleh konjungsi eksternal dan Tema Te kstual yang direalisasikan secara antarklausa oleh konjungsi internal. Realisasi Tema Tekstual pada artikel-artikel yang diteliti disajikan pada Tabel 5. Tampak bahwa Tema Tekstual yang direalisasikan oleh konjungsi internal terentang dari 21,4 % sampai dengan 40 %, lebih sedikit daripada Tema Tekstu al yang direalisasikan oleh konjungsi eksternal yang terentang dari 60 % sampai dengan 78,6 %. Hal ini berarti bahwa artikel-artikel yang diteliti cenderung berorientasi kepa da penataan gagasan pada tataran klausa dibandingkan pada tataran wacana. Tabel 4. Realisasi Tema Tekstual Tema Tekstual Artikel Konjungsi Eksternal (Intraklausa) Internal (Antarklausa) Artikel Biologi Jumlah: 30 18 (60%) 12 (40%) Artikel Ekonomi Jumlah: 70 51 (72,9%) 19 (27,1%) Artikel Sosial Jumlah: 68 41 (60,3%) 27 (39,7%) Artikel Bahasa Jumlah: 43 34 (78,6%) 9 (21,4%) Contoh untuk masing-masing jenis Tema Tekstu al yang diambil dari artikel-artikel yang diteliti secara berturut-t urut disajikan pada Tabel 5 dan Tabel 6. Bagian yang menunjukkan Tema Tekstual dicetak tebal.

Tri Wiratno 146 Tabel 5. Contoh Tema Tekstual secara Intraklausa Artikel Biologi: Klausa 11a Pengendalian PGDC dengan cara penyemprotan fungisida terbukti kurang bermanfaat Subjek Finit Predikator Pelengkap Tema Topikal Takbermarkah Rema Klausa 11b karena kurang efektif dan mahal (Hashim et al. 1996; Soepena et al. 1996). Subjek () Finit/Pelengkap Tema Tekstual Tema Topikal Takbermarkah (Ø) Rema Artikel Ekonomi: Klausa 119a Manajer [[yang memiliki komitmen tinggi]] merasa memiliki organisasinya Subjek Finit/Predikator Pelengkap Tema Topikal Takbermarkah Rema Klausa 119b sehingga () mau berpartisipasi dalam penyusunan anggaran. Subjek () Finit/Predikator Keterangan Tema Tekstual Tema Topikal Takbermarkah () Rema Artikel Sosial: Klausa 38a Pembagian kerja ini didukung oleh hukum alam Subjek Finit/Predikator Keterangan Tema Topikal Takbermarkah Rema Klausa 38b dan (Ø) dibentuk oleh budaya masing-masing. Subjek Finit/Predikator Pelengkap Tema Tekstual Tema Topikal Takbermarkah (Ø) Rema Artikel Bahasa: Klausa 31a Petanda bukanlah sesuatu [[yang diacu oleh tanda ( referent)]] Subjek Finit Pelengkap Tema Topikal Takbermarkah Rema Klausa 31b melainkan (Ø) semata-mata representasi mentalnya. Subjek () Keterangan Mood Finit/Pelengkap Tema Tekstual Tema Topikal Takbermarkah (Ø) Rema Dapat diperiksa pada Tabel 5 bahwa konjungsi karena dan sehingga adalah konjungsi hipotaktik, sedangkan dan dan melainkan adalah konjungsi parataktik. Dua konjungsi yang disebut pertama mengorganisasikan dua subklausa yang mengandung logika sebab-akibat dalam konteks enhansi, sedangkan dua konjungsi yang disebut terakhir mengorganisasikan logika persejajaran (untuk dan) dan logika kontras (untuk melainkan) dalam konteks ekstensi. Pengorganisasian secara intraklausa tersebut berkenaan dengan penataan re ntetan peristiwa yang terjadi sebagai aktualisasi dari pokok persoalan yang dibahas pada masing-masi ng artikel yang diteliti pada tataran klausa.

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 147 Tabel 6. Contoh Tema Tekstual secara Antarklausa Artikel Biologi: Klausa 54 Dengan model perbandingan fenotipe [[yang diharapkan]] adalah 3:1 untuk sifat tahan dan sifat rentan, (dari?) hasil analisis Khi kuadrat diperoleh nilai c2 hitung = 0.32 [[yang jauh lebih kecil dari c2 tabel 5 % db 1 = 3.84 (Tabel 2)]]. Keterangan Finit/Predikator Subjek Tema Topikal Bermarkah Rema Klausa 55 Dengan demikian hipotesis nisbah 3:1 [untuk kedua fenotipe tersebut] dapat diterima. Subjek Finit Predikator Tema Tekstual Tema Topikal Takbermarkah Rema Artikel Ekonomi: Klausa 94 Karyawan [[berusia tua]] umumnya mempunyai loyalitas dan komitmen [[yang relatif tinggi [[dibandingkan dengan yang berusia muda (ICF Inc., 1995)]] ]]. Subjek Keterangan Mood Fi nit/ Predikator Pelengkap Tema Topikal Takbermarkah Rema Klausa 95 Dengan kata lain, semakin tua usia karyawan semakin tinggi loyalitas dan komitmennya [pada organisasi]. Subjek Finit/Pelengkap Tema Tekstual Tema Topikal Takbermarkah Rema Artikel Sosial: Klausa 15 Mereka harus ikut menanggung beban ekonomi keluarga, baik sebagai penambah pendapatan maupun sebagai pencari nafkah utama. Subjek Finit Predikator Pelengkap Tema Topikal Takbermarkah Rema Klausa 16 Oleh karena itu, beban tugas wanita cenderung semakin berat. Subjek Finit/Predikator Pelengkap Tema Tekstual Tema Topikal Takbermarkah Rema Artikel Bahasa: Klausa 114 Komunikasi lintas bahasa berlandaskan pada filsafat relativisme [[yang menekankan pentingnya peranan pengalaman [untuk menentukan fungsi-fungsi kognitif] ]]. Subjek Finit/Predikator Keterangan Tema Topikal Takbermarkah Rema Klausa 115 Oleh sebab itu dalam aktivitas berkomunikasi diperlukan pengalaman dan pengetahuan [tentang berbagai budaya [termasuk di dalamnya pemahaman [tentang tanda-tanda dan makna budaya] ] ]. Keterangan Finit/Predikator Subjek Tema Tekstual Tema Topikal Bermarkah Rema Dari Tabel 6, Tema Tekstual yang direalisai kan oleh konjungsi internal dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada Artikel Biologi, Klausa 54 (beserta beberapa klausa sebelumnya) dan Klausa

Tri Wiratno 148 55 dirangkaikan oleh konjungsi dengan demikian yang berfungsi untuk mengantarkan kesimpulan bahwa hipotesis yang diajukan dapat diterima. Pada Artikel Ekonomi, Klausa 94 dan Klausa 96 dirangkaikan oleh konjungsi dengan kata lain untuk menunjukkan bahwa klausa yang disebut sesudahnya mempunyai isi yang sama dengan klausa sebelumnya, yaitu “semakin tua usia karyawan semakin tinggi loyalitas dan komitmennya”. Pada Teks Sosial, Klausa 15 dan Klausa 16 dirangkaikan oleh konjungsi oleh karena itu untuk menunjukkan alasan bahwa beban wanita menjadi semakin berat karena mereka harus ikut menanggung ekonomi keluarga. Adapun pada Artikel Bahasa, Klausa 115 dan Klausa 116 dirangkaikan oleh konjungsi oleh sebab itu juga untuk menunjukkan alasan bahwa pengalaman dan pengetahuan tentang berbagai budaya diperlukan dalam menjalin komunikasi secara lintas budaya. Berbeda dengan konjungsi eksternal, konjungsi internal seperti dicontohkan pada Tabel 7 tidak lagi merangkaikan rentetan peristiwa, tetapi pengalaman dunia yang terungkap pada klausa- klausa yang dirangkaikan tersebut. Oleh se bab itu, konjungsi internal yang demikian itu mengambil peran sebagai pembentuk struktur teks pada tataran wacana, bukan sebagai penata peristiwa pada tataran klausa. Tentang Tema Interpersonal dapat diuraikan sebagai berikut. Tema Interpersonal dapat direalisasikan oleh vokatif, Keterangan Mood tertentu, Finit dalam pertanyaan polaritas, kata tanya tertentu, dan kata seru. Sudah disebutkan di atas bahwa pada semua artikel yang diteliti tidak ditemukan Tema Interpersonal samasekali. Dengan tidak hadirnya Tema Interpersonal, dapat digarisbawahi bahwa artikel tersebut disajikan dengan lebih objektif, tanpa diwarnai oleh situasi yang menegaskan hubungan antara penulis artikel dan pembaca atau pihak lain dari seg i penemaan. Hubungan antara penulis artikel dan pembaca lebih banyak ditunj ukkan dengan cara lain, misalnya dengan Struktur Mood dan Modalitas dalam merealisasikan makna interpersonal, tetapi ha l-hal tersebut tidak dibahas pada makalah ini. Pengembangan Topik dalam Hubungan Tema-Rema Pada subbab ini, pengembangan topik dianalis is berdasarkan cara penyajian pokok pembicaraan pada setiap klausa yang ada di dalam setiap pa ragraf melalui pengorganisasian Tema–Rema pada klausa-klausa tersebut. Secara tekstu al, penggunaan Tema–Rema menunjukkan cara pengorganisasian informasi pada tataran klausa, yang pada akhirnya juga menunjukkan cara pengorganisasian informasi pada tataran wacana secara keseluruhan. Selain itu, analisis hubungan Tema–Rema secara antark lausa dapat mencerminkan kekohesifan paragraf. Pengembangan topik melalui pengorganisasi an Tema–Rema pada artikel-artikel yang diteliti dapat dipolakan menjadi tiga jenis, yaitu (1) Pola 1: Tema–Tema, (2) Pola 2: Tema–Rema– Tema, dan (3) Pola 3: TemaRemaTemaTema atau TemaTemaRemaTema. Pola-pola tersebut menunjukkan urutan peletakan Tema Rema dalam paragraf, dan TemaRema yang berada di luar ketiga urutan tersebut dianggap tidak berpola. Pola 1: Tema–Tema berarti bahwa Tema Topikal pada klausa (atau subklausa) berikutnya dikembangkan dari Tema Topikal pada klausa (atau subklausa) sebelumnya. Apabila dinyatakan dalam bentuk gambar, Pola 1 terlihat sebagai berikut. Tema Tema Tema Gambar 1. Pengembangan Topi k dengan Pola 1: Tema–Tema

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 149 Pola 2: Tema–Rema–Tema berarti bahwa Tema Topikal pada klausa (atau subklausa) berikutnya dikembangkan dari Rema pada kl ausa (atau subklausa) sebelumnya. Apabila dinyatakan dalam bentuk gambar, Pola 2 terlihat sebagai berikut. Tema Rema Tema Rema Tema Rema Gambar 2. Pengembangan Topik de ngan Pola 2: TemaRemaTema Pola 3: Tema–Rema–Tema–Tema atau Te ma–Tema–Rema-Tema berarti bahwa Tema Topikal pada klausa (atau subklausa) berikutnya dikembangkan dari Tema Topikal atau Rema pada klausa (atau subklausa) sebelumnya. Pola ketiga merupakan campuran dari pola pertama dan pola kedua. Apabila dinyatakan dalam bentuk gambar, Pola 3 terlihat sebagai berikut. Tema Rema Tema Tema atau Tema Tema Rema Tema Gambar 3. Pengembangan Topik dengan Pola 3: Tema–Rema–Tema–Tema atau Tema–Tema–Rema–Tema Sebaran pola pengembangan topik pada artikel-a rtikel yang diteliti disajikan pada Tabel 7. Dapat diamati bahwa Pola 3 merupakan pola pengembangan topik yang paling populer pada semua artikel, dengan persentase yang tertinggi terdapat pada Artikel Ekonomi (65,3%) dan terendah pada Artikel Biologi (57,3%). Untuk Pola 1, persentase tertinggi terdapat pada Artikel Biologi (19%) dan terendah pada Artikel Bah asa (7,1%). Adapun untuk Pola 2, persentase tertinggi terdapat pada Artikel Biologi (19% ) dan terendah pada Artikel Ekonomi (13%). Tabel 7. Pola Pengembangan Topik Pola Artikel Pola 1 Pola 2 Pola 3 Takberpola Artikel Biologi Jumlah Paragraf: 21 4 (19%) 4 (19%) 12 (57,3%) 1 (4,7%) Artikel Ekonomi Jumlah Paragraf: 46 7 (15,2%) 6 (13%) 30 (65,3%) 3 (6,5%) Artikel Sosial Jumlah Paragraf: 27 2 (7,4%) 4 (14,8%) 16 (59,3%) 5 (18,5%) Artikel Bahasa Jumlah Paragraf: 28 2 (7,1%) 3 (10,7%) 17 (64,4%) 5 (17,8%) Yang menarik adalah bahwa pada semua artik el yang diteliti terdapat paragraf yang pengembangan topiknya tidak dapat dipolakan. Pe nyebabnya adalah munculnya paragraf yang hanya terdiri atas satu klausa atau paragraf yang mengandung klausa minor. Paragraf yang tidak berpola lebih banyak terdapat pada Artikel Sosial (18,5%) dan Artikel Bahasa (17,8%) dibandingkan dengan yang terjadi pada Artikel Biologi (4,7%) dan Artikel Ekonomi (6,5%). Seperti akan ditunjukkan di bawah ini, pada para graf yang hanya terdiri atas satu klausa, aliran informasi hanya dapat dianalisis pada ta taran klausa, sedangkan pada paragraf yang mengandung klausa minor, aliran informasi terputus secara tematis.

Tri Wiratno 150 Pengembangan Topik dalam Hubungan Hiper-tema dan Hiper-rema Hiper-tema adalah tema sentral pada sebuah paragraf. Hiper-tema biasanya diemban oleh klausa topik yang diletakkan pada bagi an awal paragraf. Apabila Hiper-tema merupakan tema sentral pada sebuah paragraf, Hiper-rema adalah penjabar an terhadap tema sentral tersebut melalui klausa-klausa pendukung yang dile takkan sesudah klausa topik. Paragraf-paragraf pada artikel-artikel yang diteliti pada umumnya tersusun secara runtut. Klausa yang satu dan klausa yang lain pada paragr af-paragraf tersebut tejalin dengan baik secara tematis, sehingga arus informasi mengalir secar a tidak terputus-putus dari klausa yang satu menuju klausa berikutnya. Informasi tersebut ternyata bersumber dari klausa topik yang berfungsi sebagai Hiper-tema, dan dijabark an ke dalam klausa-klausa pendukung yang berfungsi senagai Hiper-rema. Sama halnya de ngan Tema dan Rema, Hiper-tema dan Hiper- rema mempunyai hubungan erat dan sekaligus menentukan kekohesifan. Perbedaannya adalah bahwa hubungan Tema dan Rema menunjukkan kekohesifan di tingkat klausa, sedangkan hubungan Hiper-tema dan Hiper-rema menunjukka n kekohesifan di tingkat paragraf. Contoh paragraf yang menunjuk kan hubungan Hiper-tema dan Hiper-rema disajikan pada Gambar 4. Contoh tersebut diambil dari Paragraf 2 pada Artikel Biologi. Terlihat bahwa klausa pertama pada paragraf tersebut adalah klau sa topik yang berperan sebagai Hiper-tema, dan klausa-klausa yang mengikutinya adalah klau sa-klausa pendukung yang berperan sebagai Hiper- rema. Sebagai tema sentral, klausa topik d ijabarkan menjadi klausa-klausa pendukung yang mengandung arus informasi yang segaris dengan klausa topik tersebut. Pada Gambar 4, tampak bahwa Hiper-tem a didukung oleh Hiper-rema. Sebagai Hiper- tema, klausa pertama dibatasi oleh unsur sirkumstansial waktu ( sejak awal 1980) untuk menegaskan bahwa penyakit gugur daun Corynespora (PGDC) telah diketahui sejak saat itu. Hiper-tema yang di dalamnya terk andung Tema Topikal Bermarkah (sejak awal 1980) tersebut adalah tema sentral yang menjadi sumber info rmasi pada paragraf yang dimaksud. Sebagai sumber informasi, tema sentral tersebut kemudian dijabarkan menjadi Tema Topikal Takbermarkah pada masing-masing klausa pendukung ( penyakit ini, pada klon-klon yang rentan , serangan PGDC, dan penyakit gugur daun Corynespora), yang kesemuanya terangkum di dalam Hiper-rema. Mengingat Hiper-tema di dukung oleh Hiper-rema, paragraf yang dicontohkan tersebut adalah paragraf yang kohesif. Gambar 4. Contoh Hubungan Hiper-tema dan Hiper-rema Hiper-temaPenyakit ini disebabkan oleh cendawan Corynespora cassiicola (Berk. & Curt) Weir. PGDC merupakan salah satu penyakit terpenting pada tanaman karet di Indonesia Pusat Penelitian Karet 1996). Pada klon-klon yang rentan , penyakit dapat berkembang sepanjang tahun karena serangan dapat terjadi pada semua tingkat umur fisiologi daun (Chee 1988). Serangan PGDC dapat menyebabkan terhentinya pertumbuhan dan penurunan produksi yang cukup berarti. Penyakit gugur daun Corynespora juga merupakan penyakit utama pada perkebunan karet di Srilanka (Jayasinghe & Silva 1996), Malaysia (Shukor & Hidir 1996), India (Rajalaksmy & Konthandaraman 1996), dan Thailand (Rodesuchit & Kajorchaiyakul 1996). Hiper-rema Sejak awal tahun 1980 telah diketahui adanya penyakit gugur daun Corynespora (PGDC) yang menyerang beberapa perkebunan karet di Indonesia.

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 151 Demikian pula, pada artikel-artikel yang diteliti, semua paragraf yang berpola (Pola 1, Pola 2, dan Pola 3) dapat d itayangkan dalam bentuk gambar seperti yang terlihat pada Gambar 4, sehingga paragraf-paragraf tersebut adalah juga paragraf-paragraf yang kohesif. Paragraf- paragraf tersebut mempunyai sumber informasi yang diwakili oleh klausa topik dan juga mempunyai penjabaran informasi yang diwa kili oleh klausa-klausa pendukung yang dapat dinyatakan ke dalam hubungan antara Hiper-tem a dan Hiper-rema. Sebaliknya, paragraf- paragraf yang tidak berpola tidak dapat dita yangkan dalam bentuk gambar, karena paragraf- paragraf tersebut tidak memiliki arus inform asi yang bergerak dari Hiper-tema menuju Hiper- rema. Seperti telah diungkapkan, penyebabnya adalah bahwa paragraf-paragraf tersebut mengandung klausa minor atau hanya terdiri atas satu klausa. Dengan mempertimbangkan kandungan paragr af yang tidak berpola (yaitu Artikel Biologi: 4,7%, Artikel Ekonomi: 6,5%, Artikel Sosial: 18,5%, dan Artikel Bahasa: 17,8%), dari sudut pandang hubungan Hiper-tema dan Hiper-rema, dapat dipastikan bahwa paragraf-paragraf tersebut tidak kohesif. Apabila keempat artikel tersebut dibandingkan, terbukti bahwa paragraf- paragraf pada kedua artikel yang disebut pert ama lebih kohesif daripada kedua artikel yang disebut terakhir. Rajutan Leksikal Rajutan leksikal adalah tautan makna yang timbul dari hubungan antara leksis yang satu dan leksis yang lain. Rajutan leksikal dapat di gambarkan ke dalam diagram yang merentangkan hubungan makna di antara leksis-leksis terse but. Hubungan makna tersebut meliputi repetisi, sinonimi, antonimi, hiponimi, kohiponimi, meronimi , dan komeronimi. Rajutan leksikal yang menunjukkan berbagai variasi hubungan makna tersebut selain dapat mengungkapkan makna ideasional juga dapat mengungkapka n makna tekstual. Pada tataran kelompok kata rajutan leksikal dapat menjelaskan hubungan semantis antaraleksis, dan pada tataran wacana rajutan leksikal dapat mencerminkan luasnya cakupan p okok persoalan yang dibahas di dalam teks. Rajutan leksikal merealisasik an makna tekstual melalui berbagai variasi hubungan makna (yang meliputi repetisi, sinonimi, antonimi, hiponimi, kohiponimi, meronimi, dan komeronimi) di atas. Hubungan tersebut menunjukkan tidak saja cakupan pokok persoalan yang disajikan secara ideasional tetapi juga kerekatan di antara leksis-leksis tersebut secara tekstual. Kerekatan leksis dalam berbagai variasi hubungan semantis tersebut menunjukkan bahwa artikel-artikel tersebut memiliki derajat kohesi leksikal yang cukup tinggi pada tataran wacana. Pada masing-masing teks yang diteliti, leksis yang direntangkan didasarkan pada leksis kunci yang digunakan. Setiap leksis dihubungan dengan garis yang direntangkan ke arah leksis yang lain untuk menunjukkan jenis hubungan makna ya ng terjadi. Namun, hal ini tidak berarti bahwa leksis-leksis yang lain yang tidak termas uk leksis kunci tidak dapat direntangkan menjadi rajutan leksikal. Selain itu, hubungan di anta ra leksis tidak hanya merupakan hubungan satu- satu, tetapi satu leksis dapat be rhubungan dengan dua atau lebih leksis yang lain. Akan tetapi, untuk menghemat ruang, tidak semua leks is yang memiliki lebih dari satu hubungan direntangkan dalam diagram. Rajutan leksikal untuk Artikel Biologi disa jikan pada Gambar 5. Leksis kunci yang digunakan sebagai dasar pembuatan diagram raju tan leksikal tersebut adalah: “genetika”, “pewarisan”, “sifat”, “tanaman”, karet, penyakit, gugur, daun, ketahanan, tahan, “rentan”, dan “keturunan”. Pada Gambar 5 tersebut rajutan leksikal didukung oleh berbagai jenis hubungan yang dapat diuraikan sebagai berikut. Leksis yang berhubungan secara repetisi adalah antara lain: genetika (2 kali), klon (31 kali), genotipe (25 kali), fenotipe (21 kali), pewarisan (2 kali), sifat (40 kali), tanaman (52 kali), kar et” (42 kali), “penyakit” (12 kali), gugur (4 kali), daun (9 kali), PGDC (22 kali), tahan/ketahanan/per tahanan (65 kali), rentan (23 kali), “virulen/virulensi” (4 kali), dan “keturunan” (9 kali).

Tri Wiratno 152 Leksis yang berhubungan secara sinomimi adalah antara lain: pewarisanketurunan, tanamanpohon, penyakitserangan, danta han–virulen”. Leksis yang berhubungan secara antonimi adalah: tahanrentan dan virulenrentan. genetika pewarisan sifat tanaman .hip.. karet penyakit gugur dauncorynespora(PGDC) rep (2x) rep (2x) rep (40x) rep (52x) rep (42x) rep (12x) rep (4x) rep (4x) rep (22x) genetika pewarisan sifat tanaman karet penyakit gugurcorynesporaPGDC hip sin hip sin kohip sin klon keturunan ketahanan pohon hipsawit serangan rep (31x) rep (9x) rep (38x) rep (12x) rep (4x) klon keturunan ketahanan pohon benih serangan hip rep mer rep (5x) hipgen pertahanan batang benih cendawanrep (9x) rep komer rep (5x) gen tahan daun cendawan hip rep (26x) rep (9x) mergenotipe tahan daun toksin rep (25x) ant sin genotipe rentan virulenkohip rep (23x) rep (4x) fenotipe rentan virulen(si) rep (21x) kohipfenotipe moderathip kohip alel rentan rep (7x) rep (23x)alel rentan Singkatan: rep (repetisi), sin (sinonimi), ant (anton imi), hip (hiponimi), kohip (kohiponimi), mer (meronimi) komer (komeronimi)

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 153 Leksis yang berhubungan secara hiponimi (yaitu hubungan antara klas dan subklas) adalah antara lain: “penyakit–gugur daun”, “seran gancendawan, perkebunankaret, perkebunan sawit, genetikaklon, klongen, genge notipe, genotipefenotipe”, “fenotipealel, “sifat–tahan”, “s ifatmoderat, dan sifatrentan. Leksis yang berhubungan secara kohiponimi (yaitu hubungan antara subklas dan subklas) adal ah antara lain: karetsawit, serangan cendawan, tahanmoderat, tahanrentan, mod eratrentan, tahanvirulen, dan moderat virulen”. Leksis yang berhubungan secara meronimi (yai tu hubungan antara bagian dan keseluruhan) adalah antara lain: tanamandaun, t anaman–batang”, “pohon–batang”, “pohon–daun”, dan “cendawan–toksin”. Leksis yang berhubungan secara komeronimi (yaitu hubungan antara bagian dan bagian) adalah: ”batang–daun”. Pada Gambar 5, terdapat 9 rentang tautan le ksikal yang dapat diuraikan sebagai berikut. Rentang pertama adalah rentang yang berkaitan dengan “genetika”. Leksis-leksis yang digunakan menunjukkan hubungan hiponimi/kohiponimi, yaitu leks is-leksis yang mencakup prinsip-prinsip teoretis tentang genetika, seperti klon, gen, genotipe, fenotipe, dan alel. Rentang kedua dan ketiga adalah rentang ya ng berkaitan dengan “pewarisan/keturunan”. Leksis-leksis yang digunakan berhubungan secara sinonimi dan secara hiponimi/kohiponimi, yaitu leksis yang menggambarkan “sifat-sifat tahan” bagi tanaman karet atau “sifat-sifat virulen” bagi cendawan. Rentang keempat dan kelima adalah rentang te ntang “tanaman karet” yang dideskripsikan melalui hubungan meronimi/komeronimi (hubunga n antara keseluruhan dan bagian atau hubungan antara bagian dan bagaian, misalnya ta naman karet dan bagian-bagian tanaman karet atau hubungan antara bagian tanaman karet yang sat u dan bagian tanaman karet yang lain), yaitu leksis seperti “batang–daun”. Akan tetapi, hubunga n tanaman karet dan tanaman lain dinyatakan secara kohiponimi (hubungan antara subklas yang satu dan subklas yang lain), yaitu leksis karetsawit. Rentang keenam sampai dengan kesembilan adalah rentang yang berkaitan dengan “penyakit gugur daun corynespora (PGDC)” yang menyerang tanaman karet. Leksis “penyakit” bersinomim dengan leksis “sera ngan” yang merupakan kohiponimi dari leksis “cendawan”, dan leksis “cendawan” itu sendiri berkomeronimi dengan “toksin”. Rajutan leksikal untuk Artikel Ekonomi disa jikan pada Gambar 6. Leksis kunci yang digunakan sebagai dasar untuk mebuat diagram rajutan leksikal adalah: “pengaruh”, “hubungan”, “variabel”, “usia”, “kinerja”, “manaj er, komitmen, organisasi”, “partisipasi”, dan “penganggaran”. Hubungan makna yang mendukung raju tan leksikal pada Gambar 6 dapat diuraikan sebagai berikut. Leksis yang berhubungan secara re petisi adalah antara lain: “pengaruh” (56 kali), “langsung” (4 kali), “hubunga n (67 kali), variabel (81 kali), perantara (33 kali), “independen” (11 kali), “dependen” (10 kali), komitmen (72 kali), loyalitas (3 kali), sikap (4 kali), “perilaku” (31 kali), “organisasi” (117 kali), partisipasi (61 kali), (peng)anggaran (71 kali), “usia” (215 kali), “umur” (5 kali), “tua” (11 kali), “muda” (7 kali), “kinerja” (111 kali), dan “manajer” (94 kali). Leksis yang berhubungan secara sinomimi adal ah antara lain: komitmenloyalitas, usiaumur, manajeratasan, dan angga ran–budget”. Leksis yang berhubungan secara antonimi adalah antara lain: “positif–nega tif”, “langsung–tidak langsung”, “tua–muda”, “independen–dependen”, dan “atasan–bawahan”. Leksis yang berhubungan secara hiponimi adalah antara lain: variabeldependen, variabelindependen”, “variabel–perant ara”, “atasan–bawahan”, dan “manajer–karyawan/bawahan”. Leksis yang berhubungan secara kohipo nim adalah antara lain: “variabel independen–variabel dependen, variabel independenvariabel perantara, variabel dependenvariabel perantara, karyawanbawahan, karyawanpensiunan, dan komitmen organi sasi–partisipasi penganggaran.

Tri Wiratno 154 pengaruh variabel rep (56x) rep (81x) pengaruh variabelhip hip mer hip hip hip langsung hubungan perantara independen dependen rep (4x) rep (67x) rep (33x) rep (11x) rep (10x) langsung hubungan perantara independen dependenant/kohip hip hip hip hip hiptidak langsung positif komitmen organisasipartisipasi peng(anggaran) usia kinerja .. manjer rep (3x) rep (37x) rep (72x) rep (117x) rep (61x) rep (71x) rep (215x) rep (111x) rep (94x) tidak langsung positif komitmen organisasipartisipasi peng(anggaran) usia kinerja .. manjerant/kohip sin hip sin sin sin signifikan negatif loyalitas perusahaan budget umur atasan rep (22x) rep (5x) rep (3x) rep (3x) mer rep (3x) rep (5x) rep (8x) signifikan negatif loyalitas perusahaan budget umur atasan kohip komer hip ant/hip hip tidak signifikan sikap mengusulkan tua bawahan karyawan rep (4x) rep (4x) rep (2x) rep (11x) rep (8x) rep (15x) tidak signifikan sikap mengusulkan tua bawahan karyawankomer komer ant kohipperilaku mendiskusikan muda pensiunan rep (31x) rep (2x) rep (7x) rep (6x) perilaku mendiskusikan muda pensiunanSingkatan: rep (repetisi), sin (sinonimi), ant (antonimi), mer (mernonimi), komer (komeronimi), hip (hiponimi), johip (kohiponimi)Gambar 6. Rajutan Leksikal pada Artikel Ekonomi

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 155 Leksis yang berhubungan secara meronimi adalah antara lain: “pengaruh–hubungan”, “komitmen–loyalitas”, “komitmen–sikap”, dan “komitmen–perilaku”, “partisipasi– mengusulkan”, dan “partisipasi–mendsiskusikan”. Leksis yang berhubungan secara komeronimi adalah antara lain: “loyalitas–sikap”, “loya litaspelaku, sikapperilaku, loyalitaspelaku, dan “mengusulkan–mendiskusikan”. Pada Gambar 6 tersebut, terdapat 2 rentang utama, yaitu rentang yang berkaitan dengan leksis “pengaruh” dan leksis variabel. Masing-masing rentang tersebut memiliki beberapa subrentang yang dapat diterangkan sebagai berikut. Rentang pertama yang berka itan dengan leksis “pengaruh” tersebut mencakup tiga subrentang. Subrentang pertama dan subrentang kedua menjelaskan bagaimana varibel-variabel yang diteliti saling berpengaruh. Tampak ba hwa bahwa secara hiponimi pengaruh tersebut merupakan hubungan langsung atau tidak langsung, serta hubungan yang signifikan atau tidak signifikan. Subrentang ketiga adalah rentang ya ng berkaitan dengan leksis “pengaruh” dan leksis “hubungan” yang menjel askan bahwa variabel-variabel yang diteliti mempunyai hubungan yang bersifat posif atau negatif secara hiponimi. Rentang kedua adalah rentang yang berkaita n dengan leksis “variabel” dan menjelaskan bagaimana varibel perantara, variabel independe n, dan variabel dependen saling berpengaruh. Rentang kedua mencakup tiga subrentang, yang dua di antaranya mencakup subrentang yang lebih rinci lagi. Subrentang pertama berkaita n dengan “variabel perantara” yang mencakup rincian komitmen organisasi (yang meliputi loya litas, sikap, dan perilaku) serta rincian partisipasi penganggaran (yang meliputi usulan dan diskusi tentang anggaran). Subrentang kedua berkaitan dengan “variabel independen”, yaitu usia atau umur (tua, muda). Subrentang ketiga berkaitan dengan “variabe l dependen”, yaitu kinerja manajer (yang mencakup karyawan, bawahan, dan pensiunan). Rajutan leksikal untuk Artikel Sosial disajik an pada Gambar 7. Leksis kunci yang digunakan sebagai dasar untuk mebuat diagram raju tan leksikal adalah: “wanita”, “perkerja”, “perkerjaan/bekerja”, “tobong”, dan “gamping”. Hubungan makna yang terjadi pada rajutan leksikal pada Gambar 7 dapat diuraikan sebagai berikut. Leksis yang berhubungan s ecara repetisi adalah antara lain: pekerja (12 kali), buruh (5 kali), tenaga kerja (4 kali), kerja (47 kali), wanita (79 kali), laki-laki (19 kali), “pekerjaan” (43 kali), “bekerja” (36 kali), “sektor” (13 kali), “publik” (3 kali), “domestik” (5 kali), rumah tangga (11 kali), tobong (32 kali), indust ri (11 kali), gamping (31 kali), dan batu (7 kali). Leksis yang berhubungan secara sinomimi adalah antara lain: “pekerja–buruh”, “pekerja– tenaga kerja”, “pekerjaan–sektor”, “domesti k–rumah tangga”, dan “gamping–batu (kapur)”. Leksis yang berhubungan secara antonimi adalah antara lain: “publik–domestik” dan “luar rumah–dalam rumah”. Leksis yang berhubungan secara hiponimi adalah antara lain: “industri–tobong”, “tenaga kerja–wanita”, “tenaga kerja– laki-laki”, “wanita–ibu rumah tangga”, “sektor–publik”, “sektor– domestik”, dan “sektor–pertanian”. Leksis ya ng berhubungan secara kohiponimi adalah antara lain: “tenaga kerja wanita–tenaga kerja laki -laki”, “ibu rumah tangga–pembantu laki-laki”, pembantu laki-lakipencari nafkah, jasapertanian, dan jasaperdagangan. Leksis yang berhubungan secara meronimi adal ah antara lain: “tobong–gamping”. Leksis yang berhubungan secara komeronimi ad alah antara lain: “gamping–kapur”. Pada Gambar 7 tersebut, terdapat 3 rentang utama pada rajutan leksikal untuk Artikel Sosial. Rentang pertama adalah rentang yang berkaitan dengan leksis “pekerja” yang juga dinyatakan dengan leksis “buruh” atau “tenaga kerja”. Pada rentang tersebut, terlihat bahwa menurut jenis kelamin, pekerja dibagi menjadi pe kerja wanita dan pekerja laki-laki. Ternyata, wanita yang juga berperan sebagai ibu rumah tangga ikut bekerja di tobong gamping. Sebagian pekerja wanita di tobong bahkan bertindak sebagai pencari nafkah utama untuk menopang ekonomi keluarga.

Tri Wiratno 156 pekerja pekerjaan/bekerja tobong … mer ... gamping rep (12x) rep (43x),(36x) rep (32x) rep (31x)pekerja pekerjaan/bekerja tobong gampingsin sin hip sin buruh sektor industri batu . kapur rep (5x) rep (13x) rep (11x) rep (7x)buruh sektor industri batusin hip hiptenaga .. . kerja publik pertanian rep (4x) rep (47x) rep (3x) rep (2x) tenaga .. . kerjapublik …. sin luar rumah pertanian hip kohip/ant ant kohipwanita domestik…. sin dalam rumah jasa rep (79x) rep (5x) kohipwanita domestik perdagangan hip kohip sin ibu rumah tangga laki-laki rumah tanggakohip rep (19x) rep (11x)pembantu laki-laki laki-laki rumah tanggakohippencari nafkah rep (3x) pencari nafkahSingkatan: rep (repetisi), sin (sinonimi), ant (antonimi), hip (hiponimi), kohip (kohiponimi), mer (meronimi), komer (komeronimi)Gambar 7. Rajutan Leksikal pada Artikel Sosial

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 157 Rentang kedua adalah rentang yang berkaitan dengan leksis “pekerjaan”. Rentang tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan dapat dibagai menurut sektor sesuai dengan lokasi pekerjaan (di dalam rumah dan di luar rumah) atau menurut jenis pekerjaan (jasa, pertanian, atau perdagangan). Dari sini, ter ungkap bahwa wanita lebih pantas mengerjakan pekerjaan yang termasuk ke dalam sektor domestik atau pekerjaan yang berada di dalam rumah, sedangkan laki- laki lebih baik mengerjakan pekerjaan yang te rmasuk ke dalam sektor publik atau pekerjaan yang berada di luar rumah. Akan tetapi, ya ng terjadi di Desa Jimbung adalah bahwa banyak wanita bekerja di luar rumah sebagai pekerja di tobong gamping. Rentang ketiga adalah rentang yang berka itan dengan leksis “tobong gamping”. Rentang tersebut menunjukkan bahwa tobong gamping merupakan salah satu bentuk industri yang menyediakan lapangan pekerjaan , termasuk kepada wanita. Rajutan leksikal untuk Artikel Bahasa disa jikan pada Gambar 8. Leksis kunci yang digunakan sebagai dasar untuk mebuat diagra m rajutan leksikal adalah: “semantik”, linguistik, (ber)komukasi, lintas”, dan “(ke)budaya(an)”. Rajutan leksikal pada Gambar 8 didukung oleh berbagai jenis hubungan makna yang dapat diuraikan sebagai berikut. Leksis yang berhubungan secara repetisi adalah antara lain: “semantik” (56 kali), “makna” (42 kali), “lin guistik” (2 kali), “pragmatik” (15 kali), “(ber)komunikasi” (29 kali), “(ber)interaksi” (3 kali), “lintas” (20 kali), “(ke)budaya(an)” (66 kali), bahasa (35 kali), timur (2 kali), b arat (5 kali), memahami (15 kali), dan (ke)salahpaham(an) (66 kali). Leksis yang berhubungan secara sinomimi adalah antara lain: “makna–arti”, “berkomunikasi–berinteraksi”, dan “berintera ksi–bertutur”. Leksis yang berhubungan secara antonimi adalah antara lain: “verbal nonverbal dan memahamisalahpaham. Leksis yang berhubungan secara hiponimi adal ah antara lain: “linguistik–semantik”, “linguistik–wacana”, “linguistik–pragmatik”, “ tindak tutur–lokusi”, “tindak tutur–ilokusi”, “budaya–barat”, “budaya–timur”, “barat–Inggr is”, dan “timur–Indonesia”. Leksis yang berhubungan secara kohiponimi adalah antara la in: “semantik–wacana”, “semantik–pragmatik”, “lokusi–ilokusi”, “barat–timur”, “Inggris Amerika, dan InggrisAustralia. Leksis yang berhubungan secara meronimi ad alah antara lain: “semantik–makna”, “pragmatik–tindak tutur”, “bahasa–tanda”, “bahas asimbol, bahasakomunikasi, bertutur memahami, dan IndonesiaBali. Leksis yang berhubungan secara komeronimi adalah antara lain: “bahasa–tanda”, “bahasa–simbol”, dan “Bali–Minang”. Pada Gambar 8 tersebut, terdapat lima re ntang utama, yang masing-masing mempunyai beberapa subrentang yang saling berkaitan. Rentang pertama adalah rentang yang berkaitan dengan leksis “semantik” yang be rsinonimi dengan leksis “arti”. Leksis tersebut mewadahi pembicaraan tentang makna atau arti yang secara hiponimi dapat dikategorikan menjadi makna “literal”, “denotasi”, dan “konotasi”. Rentang kedua adalah rentang yang berkaitan dengan leksis “linguistik”. Sebagai cabang ilmu, linguistik meliputi subcabang yang be rhubungan secara hiponimi, seperti linguistik semantik”, “linguistik–pragmatik”, “linguistik –semiotik”, dan “linguistik–wacana”. Leksis “pragmatik” sendiri mecakup pembicaraan tentang tindak tutur yang secara hiponimi melibatkan leksis “lokusi”, “ilokusi”, dan “perlokusi”. Rentang ketiga adalah rentang yang berka itan dengan leksis “(ber)komunikasi” yang menunjukkan aspek-aspek bahasa sebagai alat untuk memahamkan diri dalam interaksi. Untuk itu, leksis “(ber)komunikasi” berhubungan secar a meronimi dengan leksis “hahasa” dan berhubungan secara sinomini dengan leksis “(ber)in teraksi”. Sebagai alat komunikasi, leksis “bahasa” berhubungan secara meronimi dengan leksis tanda, signal, dan simbol. Sebagai media, leksis “bahasa” berhubungan secara hiponimi dengan leksis “verbal dan nonverbal. Adapun leksis “memahami” da n “(ke)salahpaham(an)” yang berhubungan secara sinonimi digunakan untuk menyatakan hasil interaksi atau komunikasi tersebut.

Tri Wiratno 158 semantik (ber)komunikasi lintas . (ke)budaya(an) rep (56x) rep (29x) rep (20x) rep (66x) semantik . hip

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 159 JALINAN REFERENSI Jalinan referensi berfungsi untuk mengidentifikasi partisipan yang ada di dalam teks menurut sistem pengacuan. Secara tekstual, pengacuan pada jalinan referensi dapat mencerminkan derajat kekohesifan teks. Sebagian besar partisipan pada artikel-artikel tersebut adalah partisipan benda umum, bukan partisipan benda manusia. Se lain itu, benda yang disebut sesudahnya bukan selalu merupakan benda yang disebut sebelumny a. Hal ini menunjukkan makna bahwa benda- benda yang dimaksud adalah benda-benda yang memenuhi konsep generalitas, yaitu benda- benda yang sudah diabstrakkan untuk menyatakan generalisasi, bukan benda-benda yang secara eksperiensial berada di sekitar manusia. S ecara tekstual, cara pengacuan di atas lebih berorientasi kepada makna te kstual pada tataran wacana. Jalinan referensi untuk artikel-artikel ilmia h yang diteliti dinyatakan pada Gambar 9 sampai dengan Gambar 12. Arah anah panah menunjukkan arah pengacuan yang dituju. Pada gambar-gambar tersebut, anah panah yang tid ak diberi keterangan menunjukkan pengacuan langsung (anafora), dan anak panah yang la in diberi keterangan sesuai dengan jenis pengacuannya, misalnya esfora, relevansi, atau homofora. Sebagian besar pengacuan yang diterapkan pada keempat artikel yang diteliti te rsebut adalah pengacuan anafora. Pengacuan yang dijumpai berikutnya adalah pengacuan rele vansi dan pengacuan esfora. Selain itu, pada Artikel Biologi, Artikel Ekonomi, dan Artikel Sosial ditemukan pengacuan homofora, sedangkan pada Artikel Bahasa tidak. Pengacuan anafora adalah pengacuan yang di arahkan kepada benda yang diacu di dalam teks secara langsung, misalnya pada Artikel Biol ogi, penyakit ini mengacu kepada penyakit gugur daun corynespora (PGDC)” (Gambar 9), pada Artikel Ekonomi, “hubungan tersebut …” mengacu kepada “hubungan antara usia dan kinerja manager” serta “hubungan antara komitmen organisasi dan partisipasi pengangga ran” (Gambar 10), pada Artikel Sosial, “para wanita yang mengacu kepada wanita pekerja di tob ong gamping” (Gambar 11), dan pada Artikel Bahasa, “perbedaan ini” mengacu kepada “o rang akan bertutur secara berbeda (Gambar 12). Pengacuan relevansi dimaksudkan sebagai pe ngacuan kepada benda yang tidak dalam bentuk pengulangan atau penggantian secara langs ung, tetapi benda yang disebutkan kemudian mempunyai pertalian yang erat dengan benda yang disebutkan sebelumnya. Sebagai contoh, pada Artikel Biologi “penelitian ini” mengacu secara relevansi dengan “penanaman klon-klon yang tahan (Gambar 9), pada Artikel E konomi, “keperilakuan organisasi” mengacu secara relevansi dengan “komitmen organisasi” (Gambar 10 ), pada Artikel Sosial “pekerjaan tersebut mengacu secara relevansi dengan para wanita yang bekerja di tobong gamping” (Gambar 11), dan pada Artikel Bahasa “jembatan pe mahaman mengacu secara relevansi dengan “kesalahpahaman” (Gambar 12). Pengacuan esfora merupakan pengacuan kepada benda yang berada di dalam kelompok nomina (KN). Benda yang diacu bukan benda te rtentu, melainkan benda umum, meskipun disebutkan berkali-kali di dala m teks. Contoh dari masing-masing artikel yang diteliti adalah: “penyakit gugur daun corynespora (PGDC) [[yang menyerang beberapa tanaman karet ...]]” (Artikel Biologi, Gambar 9) “hubungan [a ntara komitmen organisasi dan partisipasi penganggaran]” (Artikel Ekonomi, Gambar 10), “w anita pekerja [di tobong gamping]” (Artikel Sosial, Gambar 11), dan “semantik/makna [d alam perspektif komunikasi lintas budaya] (Artikel Bahasa, Gambar 12). Pada pembicaraan tentang KN, pengacuan esfora terjadi pada KN yang mengandung penegas, yang pada contoh di atas diletakkan di dalam tanda kurung siku tunggal ( [...] ) atau tanda kurung siku ganda ( [[...]] ). Penegas berfungsi untuk menyatakan kualifikasi atau spesifikasi benda yang dijelaskan. Pada artikel-a rtikel yang diteliti, sekitar 50% dari jumlah KN yang ada mengandung penegas, yaitu berjumlah 166 dari 226 (pada Artikel Biologi), 296 dari 605 (pada Artikel Ekonomi), 180 dari 328 (pada Artikel Sosial), dan 184 dari 263 (pada Artikel Bahasa). KN dengan penegas sebagai pengacuan esf ora menjadi ciri penting pada teks ilmiah.

Tri Wiratno 160 esfora penyakit gugur daun corynespora (PGDC) [[yang menyerang beberapa perkebunan karet … ]] anafora penyakit ini relevansi esfora penanaman klon-klon [[yang tahan …]] homofora menjadi cara pengendalian relevansi penelitian ini esfora anafora anafora esfora dua populasi benih F2 [[yang berasal tiga populasi benih F2 [dari pohon klon dari pohon klon PR 225 dan PR 303]] karet PB 260, RRIC 100, dan RRIM 712] anafora anafora anafora benih-benih tersebut dikecambahkan anafora anafora tiap populasi tanaman anafora anaforasemai tersebut … diuji penelitian ini tingkat ketahanannya anafora hasil uji ketahanan anafora sifat ketahanan anafora anafora klon PR 225 klon PB 260 (tahan, moderat, rentan) (tahan, rentan) klon PR 303 klon RRIC 100 (moderat) (tahan, moderat, rentan) klon RRIM 712 (tahan, moderat, rentan) Gambar 9. Jalinan Referensi pada Artikel Biologi

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 161 homofora studi ini anafora studi ini relevansi esfora esfora hubungan [antara usia dan kine rja manajer [di Indonesia] ] anafora anafora esfora usia kinerja manajer [di Indonesia] anafora anafora anafora esfora manajer [di Indonesia] esfora anafora hubungan [antara komitmen organisasi dan partisipasi penganggaran] esfora anafora anafora anafora manajer … [di Bursa hubungan tersebut positif Efek Jakarta] dan signifikan komitmen partisipasi organisasi penganggaran relevansi relevansi keperilakuan keperilakuan organisasi akuntansiGambar 10. Jalinan Referensi pada Artikel Ekonomi

Tri Wiratno 162 homofora studi di Desa Jimbung anafora penelitian ini relevansi esfora wanita pekerja [di tobong gamping] anafora esfora esfora para wanita [[yang bekerja [di tobong gamping tersebut] ]] relevansi anafora anafora mereka (bukan) pencari nafkah utama pekerjaan tersebut kurang pantas dilakukan oleh wanita anafora anafora anafora wanita Jimbung tulang punggung keluarga pekerjaan tersebut adalah pekerjaan laki-laki Gambar 11. Jalinan Referensi pada Artikel Sosial esfora semantik/makna [dalam perspektif komunikasi lintas budaya] relevansi relevansi tulisan ini esforapada masyarakat [[yang berbeda…]] or ang akan bertutur secara berbeda anafora perbedaan ini relevansi kesalahpahaman relevansi jembatan pemahaman Gambar 12. Jalinan Referensi pada Artikel Bahasa

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 163 Pengacuan yang terakhir adalah pengacuan homofora, yaitu pengacuan kepada benda di luar teks yang secara konteks budaya (dalam hal ini konteks budaya akademis) telah dimaklumi bersama. Benda-benda “penelitian ini” (Artikel Biologi, Gambar 9), “studi ini” (Artikel Ekonomi, Gambar 10), dan “studi di Desa Jimbung” (Artikel Sosial, Gambar 11) yang disebutkan untuk kali pertama adalah benda-benda yang berada di luar teks-teks tersebut, karena penelitian atau studi yang dimaks ud sudah berlangsung jauh sebelum teks (laporan penelitian atau studi itu) dibuat. Dengan demikian, pe ngacuan homofora berfungsi untuk membangun konteks yang melingkupi pokok persoalan yang disa jikan di dalam masing-masing teks tersebut. Dari pembicaraan tentang berbagai jenis pe ngacuan di atas, dapat digarisbawahi bahwa partisipan yang pada umumny a bukan manusia berhubungan secara referensial dapat mewadai dan mengorganisasikan pokok persoala n pada artikel-artikel yang diteliti tersebut. Untuk itu, makna jalinan referensi pada masing-masing artikel dapat diungkapkan sebagai berikut. Pertama, Artikel Biologi merupakan tuli san yang melaporkan hasil penelitian atau eksperimen tentang pengujian ti ngkat ketahanan dua populasi benih F2 (yaitu klon PR 225 dan klon PR 303) serta tiga populasi benih F2 (yaitu klon PB 260, klon RRIC 100, dan klon RRIM 712) terhadap penyakit gugur daun corynespora (PGDC). Anak panah pada Gambar 9 menunjukkan arah pengacuan partisipan yang menj elaskan hasil pengujian tersebut bahwa benih karet yang diuji memiliki tingkat ketahanan terh adap penyakit secara bervariasi. Pada populasi yang pertama, benih dari klon PR 225 memiliki ti ngkat ketahanan: tahan, moderat, dan rentan; benih dari klon PR 303 memiliki tingkat keta hanan: moderat. Adapun pada populasi yang kedua, benih dari klon PB 260 memiliki tingkat ke tahanan: tahan dan rentan; benih dari klon RRIC 100 dan klon RRIM 712 memiliki tingkat keta hanan: tahan, moderat, dan rentan. Kedua, Artikel Ekonomi merupakan laporan pe nelitian atau studi tentang hubungan antara usia dan kinerja manajer di Indonesia yang dipengaruhi oleh hubungan antara komitmen organisasi (yang merupakan peri laku organisasi) dan partisipasi penganggaran (yang merupakan perilaku akuntansi) . Anak panah pada Gambar 10 menunjukkan arah pengacuan partisipan yang menjelaskan bahwa hubungan di antara variabel-variabel tersebut merupakan hubungan yang positif dan signifikan secara statistik. Ketiga, Artikel Sosial merupakan laporan pe nelitian tentang peran wanita sebagai pekerja di tobong gamping di Desa Jimbung. Anak panah pada Gambar 11 me nunjukkan arah pengacuan kepada wanita tersebut sebagai partisipan utama. Sebagai partisipan yang diacu, wanita yang bekerja di tobong gamping tersebut mempunyai peran sebagai pencari nafkah yang dapat menopang ekonomi keluarga, meskipun bukan pencari nafkah utama. Keempat, Artikel Bahasa merupakan tulisan (bukan laporan penelitian) tentang semantik yang dilihat dari sudut pandang komunikasi lintas budaya. Arah panah pada Gambar 12 menunjukkan pengacuan partisipan yang menjelaskan bahwa apabila penutur yang berasal dari masyarakat yang berbeda melakukan komunikasi, kesalahpahaman berpotensi untuk terjadi, sehingga untuk mengatasi kesalahpahaman ters ebut, dibutuhkan jembatan pemahaman yang berupa studi lintas budaya. STRUKTUR TEKS Struktur teks adalah tata organisasi teks ya ng mendukung makna tekstual di tingkat wacana. Dilihat dari struktur teks, makna tekstual pada tingkat wacana sesungguhnya adalah persoalan bagaimana sebuah teks itu ditata dalam tahap-tahap pembabakan untuk mencapai tujuan atau fungsi sosial yang diharapkan. Akan tetapi, str uktur teks juga berorientasi kepada genre, sehingga analisis tentang struktur teks perl u dikaitkan dengan analisis tentang genre.

Tri Wiratno 164 Tabel 8. Struktur Teks pada Artikel Ilmiah yang Diteliti Tujuan Sosial Struktur Teks Artikel Biologi: Memberikan argumentasi bahwa untuk mengatasi penyakit gugur daun corynespora yang menyerang karet, program pemuliaan harus dilakukan untuk menemukan jenis karet yang tahan terhadap penyakit tersebut Artikel Biologi: • Pendahuluan • Bahan dan Metode • Hasil • Pembahasan • Ucapan Terima Kasih Artikel Ekonomi: Memberikan argumentasi bahwa pengelola perusahaan perlu mengetahui hubungan antara usia dan kinerja manajer yang dipengaruhi oleh hubungan antara komitmen organisasi dan partisipasi penganggaran Artikel Ekonomi: • Pendahuluan • Landasan Teoretis • Identifikasi Masalah dan Hipotesis • Metode Penelitian • Hasil Penelitian • Simpulan dan Saran Artikel Sosial: Memberikan paparan te ntang peran wanita yang bekerja di tobong gamping sebagai penopang ekonomi keluarga Artikel Sosial: • Pengantar (Permasalahan, Tujuan Penelitian, Landasan Teori) • Etos Kerja, Pandangan tentang Kerja dan Otonomi Wanita Pekerja di Tobong Gamping dalam Keluarga • Kesimpulan Artikel Bahasa: Memberikan argumentasi bahwa untuk menghindari kesalahpahaman, pengetahuan tentang komunikasi secara lintas budaya diperlukan Artikel Bahasa: • Pendahuluan • Makna dalam Komunikasi Lintas Budaya • Penutup Struktur teks untuk masing-masing artikel ilmiah yang diteliti disajikan pada Tabel 9. Struktur teks untuk artikel-artikel te rsebut adalah “Pendahuluan^Bahan dan Metode^Hasil^Pembahasan^ Ucapan Terima Kasih” untuk Artikel Biologi; “Pendahuluan^Landasan Teoretis^Identifikasi Masalah dan Hipotesis^Metode Penelitian^Hasil Penelitian^Simpulan dan Saran” untuk Artikel Ek onomi; “Pengantar (Permasalahan, Tujuan Penelitian, Landasan Teori)^Etos Kerja, Pandanga n tentang Kerja dan Otonomi Wanita Pekerja di Tobong Gamping dalam Keluarga^K esimpulan” untuk Artikel Sosial; dan “Pendahuluan^Makna dalam Komunikasi Lint as Budaya^Penutup” untuk Artikel Bahasa. Struktur teks untuk Artikel Biologi dan Ar tikel Ekonomi tampak lebih lengkap daripada struktur teks untuk Artikel Sosial dan Artikel Baha sa. Di pihak lain, kecuali pada struktur teks untuk Artikel Ekonomi, pada struktur teks untuk ketiga artikel yang lain terkandung nama-nama subjudul yang bukan nama-nama pembabakan. Pada struktur teks untuk Artikel Biologi terdapat “Ucapan Terima Kasih” (yang pada umumnya disa mpaikan secara terpisah dari struktur teks), pada struktur teks untuk Artikel Sosial terd apat “Etos Kerja, Pandangan tentang Kerja dan Otonomi Wanita Pekerja di Tobong Gamping dala m Keluarga” (yang mencerminkan isi materi yang dibahas), dan pada struktur teks untuk Ar tikel Bahasa terdapat “Makna dalam Komunikasi Lintas Budaya” (yang juga mencerminkan isi ma teri yang dibahas). Nama-nama subjudul yang bukan nama-nama pembabakan pada Artikel So sial dan Artikel Bahasa menunjukkan bahwa kedua artikel tersebut langsung me nyebutkan isi materi yang dibahas, sedangkan Artikel Biologi dan Artikel Ekonomi mewadahi isi materi tersebut dengan nama pembabakan.

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 165 Ditemukan bahwa struktur teks untuk Artikel Biologi dan Artikel Ekonomi tampak lebih lengkap daripada struktur teks untuk Artikel Sosi al dan Artikel Bahasa. Selain itu, kecuali pada struktur teks untuk Artikel Ekonomi, pada st ruktur teks untuk ketiga artikel yang lain terkandung nama-nama subjudul yang bukan na ma-nama pembabakan. Kenyataan tersebut terjadi karena artikel-artikel tersebut mempunyai tujuan sosial dan genre yang berbeda-beda (Cf. Paltridge, 1994). Artikel Biologi, Artikel Ekonomi, dan Artikel Bahasa bersifat ekspositoris, sedangkan Artikel Sosial bersifat deskriptif. Jenis genre dan tujuan sosial yang berbeda itulah yang membuat artikel-artikel tersebut menggunakan struktur teks yang berbeda. PENUTUP Hasil analisis di atas dapat diringkas kembali sebagai berikut: (1) Dalam hal tematisasi pada tataran klausa, tema yang paling dominan pada teks-teks tersebut adalah Tema Topikal Takbermarkah, disusul Tema Tekstual dan Tema Topikal Bermarkah yang kesemuanya mengungkapkan kekohesifan ya ng cukup tinggi pada tataran klausa. Pada tataran wacana, tematisasi direalisasi kan oleh pola pengembangan topik (dalam hubungan Tema–Rema dan Hi per-tema–Hiper-rema). (2) Dalam hal rajutan leksikal, terbukti bahwa rajutan leksikal merealisasikan makna tekstual melalui berbagai variasi hubungan makna (y ang meliputi repetisi, sinonimi, antonimi, hiponimi, kohiponimi, meronimi, dan komer onimi). Hubungan tersebut menunjukkan tidak saja cakupan pokok persoalan yang disajikan seca ra ideasional tetapi juga kerekatan di antara leksis-leksis tersebut secara tekstual . Kerekatan leksis dalam berbagai variasi hubungan semantis tersebut menunjukkan bahwa teks-teks tersebut memiliki derajat kohesi leksikal yang cukup tinggi pada tataran wacana. (3) Dalam hal jalinan referensi, terbukti bahwa jalinan referensi berfungsi untuk mengidentifikasi partisipan yang ada di dalam teks menurut sistem pengacuan. Secara tekstual, pengacuan pada jalinan referensi dapat mencerminkan derajat kekohesifan teks. Sebagian besar partisipan pada teks-teks te rsebut adalah partisipan benda umum, bukan partisipan benda manusia. Se lain itu, benda yang disebut sesudahnya bukan selalu merupakan benda yang disebut sebelumnya. Hal ini menunjukkan makna bahwa benda- benda yang dimaksud adalah benda-benda ya ng memenuhi konsep generalitas, yaitu benda- benda yang sudah diabstrakkan untuk menyat akan generalisasi, bukan benda-benda yang secara eksperiensial berada di sekitar manusia. Secara tekstual, cara pengacuan di atas lebih berorientasi kepada makna te kstual pada tataran wacana. (4) Dalam hal struktur teks, ditemukan bahwa struktur teks untuk Teks Biologi dan Teks Ekonomi tampak lebih lengkap daripada struktur teks untuk Teks Sosial dan Teks Bahasa. Selain itu, kecuali pada struktur teks untuk Teks Ekonomi, pada struktur teks untuk ketiga teks yang lain terkandung nama-nama s ubjudul yang bukan nama-nama pembabakan. Kenyataan tersebut terjadi karena teks-teks tersebut mempunyai tujuan sosial dan genre yang berbeda-beda. Teks Biologi, Teks Ekonom i, dan Teks Bahasa bersifat ekspositoris, sedangkan Teks Sosial bersifat deskriptif. Jenis genre dan tujuan sosial yang berbeda itulah yang membuat teks-teks tersebut me nggunakan struktur teks yang berbeda. CATATAN * Penulis berterima kasih kepada mitra bebestar i yang telah memberikan saran-saran untuk perbaikan makalah.

Tri Wiratno 166 REFERENSI Cook, G. 1989. Discourse. Oxford: Oxford University Press. Halliday, M.A.K. 1978. Language as Social Semiotic. London: Edward Arnold. Halliday, M.A.K. dan R. Hasan. 1976. Cohesion in English. London: Longman. Halliday, M.A.K. dan J. R. Martin. 1993. Writing Science: Literacy and Discursive Power. London: The Falmer Press. Halliday, M.A.K. dan C.M.I.M. Matthiessen. 1999. Construing Experience through Meaning: A Language-Based Approach to Cognition . London: Cassell. Hyland, K. 2008. “ Academic Clusters: Text Patterning in Published and Postgraduate Writing.” International Journal of Applied Linguistics 18.1. Martin, J.R. 1992. English Text: System and Structure. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Martin, J.R. 2008. “Difference between Te xt and Discourse.” (Email, 17 November 2008). Martin, J.R. dan D. Rose. 2003. Working with Discourse. New York: Continuum. Martin, J.R. dan R. Veel (ed.). 1998. Reading Science: Critical and Functional Perspective on the Discourse of Science . London: Routledge. Nunan, D. 1993. Introducing Discourse Analysis. London: Penguin. Paltridge, B. 1994. “Genre Analysis and th e Identification of Textual Boundaries.” Applied Linguistics 15.3. Wiratno, T. 2003. Kiat Menulis Karya Ilmiah dalam Bahasa Inggris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Wiratno, T. 2009. Makna Metafungsional Teks Ilmiah dalam Bahasa Indonesia pada Jurnal Ilmiah: Sebuah Analisis Sistemik Fungsional . Disertasi Doktor, Universitas Sebelas Maret. Tri Wiratno t_wiratno@yahoo.com Universitas Sebelas Maret Surakarta

Linguistik Indonesia Copyright 2010 by Masyarakat Linguistik Indonesia Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010, 167-176 UPAYA BAHASA JAWA MENGA KOMODASI TULISAN ILMIAH: TANDA-TANDA IMPOTENSI ATAU KOMPLIKASI? Djatmika* Universitas Sebelas Maret Surakarta Abstract The paper discusses the Javanese speaker’s ability in accommodating scientific texts. The analysis shows the range of exploitation for the texts. Two articles from a scientific column in a Javanese magazine, Panjebar Semangat, were selected as data. The results indicated that Javanese does not have many scientific abstractions and technical terms in the subject being discussed in the articles. This shortage of the words caused the writer of the articles exploited technical terms from other languages, mostly from Indonesian and English. In many constructions, the local language contributes to only the grammatical, as opposed to the functional aspect to the sentence construction, for example, ”Bisa wae muncul pnemunia bakteri sekunder dening Streptococcus pneumoniae, haemophilus influenzae, utawa Staphylococcus aureus.” This example shows that most of the words in the construction are borrowed from other languages because Javanese does not provide the concepts represented by the words in its lexicon. Although the language shows superiority in modifying borrowed words with its affixation system, the language exploitation for the articles still shows that Javanese lacks the lexicon for accomodating scientific texts. Key words: Javanese, lexicon, technical terms, abstractions PENDAHULUAN Permasalahan tentang kemampuan bahasa Jawa mengakomodasi tulisan ilmiah merupakan bahasan yang argumentatif antara para pakar sosi olinguistik. Pada satu sisi, bahasa Jawa kurang dinamis dalam hal perkembangan kosa katanyate rutama kosakata yang bersifat istilah teknis bidang-bidang ilmiah tertentu. Ketidak-dinamisan tersebut lebih disebabkan oleh sifat ketidak- dinamisan masyarakat Jawa sendiri sebaga i pemilik dan pengguna bahasa Jawa. Sebagai masyarakat yang kurang produktif akan perkem bangan dan kemajuan teknologi dan berbagai bidang ilmiah lainnya, penutur bahasa Jawa ce nderung mengimpor sebagian besar peristilahan yang ada di dalam bidang-bidang tersebut. Sebaga i akibatnya, apabila para penutur bahasa Jawa terlibat dalam pembahasan bidang-bidang itu, maka bahasa Jawa yang mereka gunakan akan banyak dihiasi oleh banyak istilah-istilah teknis ya ng diimpor dari bahasa dari masyarakat yang menemukan dan mengembangkan bi dang-bidang ilmu itu. Dalam hal ini, bahasa yang paling banyak masuk dan mewarnai bahasa Jawa denga n istilah-istilah teknis adalah bahasa Inggris. Pada sisi lain, sebenarnya bahasa Jawa menunjukkan sifat lenturnya berkaitan dengan pengambilan istilah-istilah teknis da ri bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Beberapa proses akuisisi istilah-istilah itu untuk menjadi bagian dari sistem bahasa Jawa menunjukkan bahwa meskipun masyarakat penutur ba hasa ini tidak menemukan dan mengembangkan berbagai hal dalam bidang teknologi dan bidang ilmiah lain, bahasa mereka mempu tetap berkembang untuk tetap berupaya mengakomodasi tulisan atau pembahasan berkaitan dalam bidang-bidang itu. Hanya saja tentu saja proses ini akan memberikan dampak yang dirasakan kurang bagus bagi perkembangan bahasa ini. Dari fenomena ini, maka makalah ini berusaha membahas kelemahan dan kekuatan dari bahasa Jawa di dalam menga komodasi tulisan ilmiah, khususnya di bidang kesehatan. Selain itu, makalah ini juga berusaha menjabarkan cara yang dilakukan oleh penulis artikel manakala menemukan masalah de ngan ketidakmampuan bahasa Jawa dalam mengakomodasi tulisan ilmiah bidang kesehatan.

Djatmika 168 METODOLOGI Tiga artikel ilmiah dari majalah Panjebar Semangat edisi bulan Juli-Agustus 2009 diambil sebagai sumber data. Segala hal yang berk aitan dengan upaya bahasa Jawa mengakomodasi pembahasan ilmiah di dalam tulisan itu diana lisis dan dibahas untuk melihat perkembangan bahasa Jawa dalam mengakomodasi tulisan dan pembahasan ilmiah. KAJIAN PUSTAKA Bahasa Jawa Bahasa ini merupakan rumpun bahasa Auston esia (Crystal, 1997; Wedhawati dan Laginem, 1981; Sudaryanto (ed.), 1991). Crystal lebih la njut menjelaskan bahwa jumlah penutur bahasa ini diperkirakan sekitar 75 juta orang yang menyebar di pulau Jawa dan daerah lain di Indonesia, serta beberapa daerah di luar I ndonesia seperti Malaysia, Suriname dan Kaledonia Baru. Daerah sebaran penutur yang sangat luas ini menyebabkan konsekuensi dari munculnya berbagai dialek geografis. Sementara itu, dilih at dari beranekanya lapisan masyarakat yang memakainya, sangat menonjol pula adanya perbed aan pemakaian yang dipengaruhi oleh usia pemakai. Perbedaan yang menonjol ini tampak jelas manakala mereka menerapkan “unggah- ungguh” di dalam berbahasa Jawa. Salah satu bentuk “unggah-ungguh” yang sangat penting adalah pemilihan raga m tingkat Bahasa Jawa (ngoko, krama madya, krama inggil) di dalam berkomunikasi yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya kelas sosial, usia, jenis kelamin, topik pembicaraan, dan lain sebaga inya. Lebih jauh, perbedaan yang menonjol itu sesekali diperlemah; akan tetapi, sesekali justru diperkuat manakala Bahasa Jawa dipergunakan oleh dua generasi usia, tua dan muda, di dalam konteks profesi, lingkungan sosial, pokok pembicaraan, dan tujuan tertentu. Di dalam konteks yang tidak memprasyaratkan perbedaan tua- muda di dalam berbahasa, maka perbedaan in i diperlemah, misalnya di dalam karya sastra, berceramah di muka umum, mengurai gagasan di majalah atau surat kabar, dan sejenisnya. Adapun di dalam konteks yang memprasyaratkan perbedaan tua-muda dalam berbahasa maka perbedaan tersebut akan diperkuat, misalnya dalam lembaga pendidikan tertentu, di lembaga kenegaraan tertentu, dan di dalam keluar ga tertentu (Sudaryanto (ed.), 1991). Berkaitan fakta-fakta tentang masyarakat dan Bahasa Jawa, maka dapat dijabarkan disini bahwa di dalam masyarakat tutur Jawa, seorang penutur di dalam memilih jenis Bahasa Jawa yang mana yang akan digunakan akan selal u melihat aspek-aspek sosial yang melatar- belakangi kondisi sosial si penutur sendiri da n juga kondisi sosial pelibat lain di dalam percakapan yang akan dilakukan. Seorang penutur dengan usia yang lebih muda dari petutur, ditambah dengan latar belakang ekonomi (status sosial) yang lebih rendah dari petutur pasti akan memilih jenis bahasa Jawa Krama untuk berbicara dengan petutur yang bersangkutan. Sebaliknya seorang penutur yang mempunyai lata r belakang sosial yang lebih tinggi, misalnya usia lebih tua, ekonomi lebih kuat, dan status sosial yang lebih tinggi daripada seorang petutur akan memilih Bahasa Jawa Ngoko (atau paling tidak Ngoko alus). Register Tulisan Ilmiah Seperti bahasa alamiah yang lain, bahasa Jawa juga menunjukkan variasi dan keanegaramanan yang berkaitan dengan pengguna dan penggunaan ba hasa daerah ini. Variasi yang berkaitan dengan pengguna disebut sebagai dialek bah asa Jawa yang ditunjukkan oleh aneka ragam bahasa Jawa dengan berbagai dialek seperti di alek Surakarta, Jogjakarta, Jawa Timuran, Banyumasan, atau bahkan bahasa Jawa dialek Suri name. Jenis-jenis dialek ini disebut sebagai dialek yang sifatnya geografis. Selain itu, di alek bahasa Jawa juga dapat disebabkan oleh kurun waktu dari digunakannya bahasa ini. Tentu saj a bahasa Jawa yang digunakan pada tahun empat puluhan akan menunjukkan perbedaan dengan bah asa Jawa yang digunakan era sekarang. Jenis dialek ini disebut sebagai dialek yang bersifat temporal. Kemudian, jenis dialek yang ketiga lebih bersifat sosial; jenis in i ditunjukkan oleh jenis bahasa Jawa yang digunakan oleh para

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 169 bangsawan di dalam lingkup kraton yang berbeda dengan bahasa Jawa yang digunakan oleh masyarakat luas di luar kraton. Pada sisi lain, variasi dan keanekarag aman bahasa Jawa yang disebabkan oleh penggunaannya ditunjukkan oleh jenis-jenis variasi bahasa Jawa yang digunakan dalam berbagai keperluan penggunaan. Masing-masing penggunaan dalam kepentingan yang berbeda itu menunjukkan ciri-ciri dan perilaku bahasa Jawa yang unik dan berlainan. Variasi bahasa jenis ini disebut sebagai register (untuk dialek dan register lihat Wardhaugh, 1998). Istilah register sendiri pertama kali dipergunakan secara umum pada tahun 1960-an. Register didefinisikan sebagai sebuah variasi bahasa berdasarkan penggunaan. Setiap penutur mempunyai serangkaian variasi dan pilihan pe nggunaan bahasa yang dipergunakannya secara berbeda pada waktu yang berbeda pula. Berka itan dengan hal ini, Halliday (1994: 33) sudah memberikan deskripsi bahwa pemilihan va riasi bahasa yang didasarkan atas tujuan penggunaannya dan bukan karena penggunanya (y ang disebut dialek) ini menunjukkan faktor- faktor konteks situasi yang menentukan variasi bahasa mana yang harus dipergunakan. Setiap variasi biasanya menunjukkan ciri kebahasaan yang berlainan. Dengan mengikuti tradisi semantik-fungsional yang dilontarkan oleh Firth, Halliday merumuskan konsep register sebagai sebuah abstraksi yang menghubungkan variasi bahasa dengan variasi konteks sosial dan menyebutkan bahwa terdapat tiga aspek di dalam setiap situasi yang mempunyai konsekuensi keba hasaan, yaitu yang disebut dengan medan, tenor, dan wahana (Eggins, 1994:35). Menurutnya, medan be rkaitan dengan apa yang sedang terjadi, yaitu berkaitan dengan kondisi tindakan sosial yang sedang berlangsung; tenor berkenaan dengan siapa mengambil peran apa di dalam interaksi yang sedang berlangsung, kondisi mereka, dan status mereka; dan wahana berkaitan dengan bagaimanakah partisipan interaksi itu mengharapkan peran bahasa di dalam interaksi yang terjadi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa register merupakan ciri-ciri kebahasaan yang secara khas berkaitan dengan konfigurasi ciri-ciri konteks situasi—dengan ciri-ciri tertentu dari medan , tenor dan wahana yang merupakan realisasi dari tataran di atasnya, yaitu genre Salah satu jenis variasi bahasa Jawa yang mempunyai ciri dan perilaku yang menarik adalah bahasa Jawa untuk tulisan ilmiah. Pa da dasarnya setiap bahasa bisa digunakan sebagai bahasa pengantar sebuah tulisan ilmiah, demikian pula dengan bahasa Jawa. Namun demikian kekuatan sebuah bahasa untuk mengakomodasi sebua h tulisan ilmiah itu sangat berkaitan dengan konteks budaya dan konteks sosial dari masyarakat pengguna bahasa tersebut dan masyarakat tempat bahasa itu berkembang. Apab ila dinamika perkembangan sebuah masyarakat itu lebih condong ke bidang pertanian, maka te ntu saja bahasa yang digunakan oleh masyarakat itu akan sangat kaya akan segala hal yang be rkaitan dengan bidang ini. Fenomena ini akan terjadi dengan pola yang sama untuk dina mika perkembangan pada bidang lain. Dinamika perkembangan yang terjadi dala m masyarakat Jawa pada umumnya lebih berkaitan dengan aspek budaya dan seni dari pada dengan aspek ilmiah. Perkembangan ilmu pengetahuan lebih banyak terjadi di luar masy arakat ini dan mereka hanya berlaku sebagai pengguna segala hal yang sudah terjadi dan digunaka n oleh masyarakat lain. Oleh karena sifat masyarakat Jawa yang lebih cenderung konsumtif akan segala perkembangan ilmu pengetahuan daripada inovatif, maka bahasa mereka pun pada akhirnya berkembang secara konsumtif terhadap semua perkembangan ilmu pengetahuan. Pa da giliran selanjutnya, manakala bahasa ini akan digunakan sebagai pengantar sebuah wacana ilmiah maka bahasa ini terlihat impotent dan menunjukkan gejala komplikasi untuk dapat me nyebut bahasa daerah ini pada kondisi sakit yang apabila kondisi ini berlangsung terus tidak mustahil bahasa ini akan mati. Tulisan ini melihat sejauh mana kemampuan bahasa Jawa yang terjadi di dalam mengakomodasi artikel ilmiah yang dimuat di dalam majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat.

Djatmika 170 HASIL DAN SIMPULAN Bahasa Jawa yang digunakan untuk menuangka n ide ilmiah di dalam artikel majalah Panjebar Semangat ini menunjukkan ciri-ciri kebahasaan yang dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu ciri yang menunjukkan kelema han bahasa Jawa dalam mengakomodasi tulisan ilmiah dan ciri yang menunjukkan potensi bahasa Jawa untuk bisa menjadi sebuah bahasa pengantar tulisan ilmiah. Tentu saja ma sing-masing kelompok mempunyai ragam yang berlainan. Ciri pertama yang merepresentasikan kelema han bahasa daerah ini untuk menjadi bahasa tulisan ilmiah ditunjukkan oleh banyaknya kata-k ata pinjaman yang sebagian besar diambil dari bahasa Indonesia. Kata-kata pinjaman ini sendiri dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu kata pinjaman yang sifatnya umum dan ka ta pinjaman yang berbentuk istilah teknis (technical terms ). Tabel 1 di bawah ini mendaftar kata-kata pinjaman dari bahasa Indonesia yang sifatnya umum. Dari daftar kata di dalam tabel ini, kata kebutuhan dan kata jantung sebenarnya juga dimiliki oleh bahasa Jawa. Sementara itu, kata-k ata yang lain diambil dari bahasa Indonesia secara utuh karena kata-kata tersebut tidak ditem ukan di dalam bahasa daerah ini. Oleh karena itu, sebenarnya penulis teks melakukan sebuah a lih kode manakala di dalam pembahasan dia beralih dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indon esia, seperti yang ditunjukkan oleh kalimat- kalimat berikut ini. - Secara khusus ana ing Kamus Lengkap Kedokteran kang disusun dening Ahmad AK Muda (Penerbit Gita Media Press 1994 kaca 107)... - kang muncul dadi kasus seje-seje, epidemi atau pandemi, wujud serologis.. Tabel 1. Kata Umum dari Bahasa Indonesia umum menggigil ajaib disusun brengsek kasus musim panas paru kebutuhan ragam efektif serius secara khusus jantung tipe muncul Sementara itu, kata pinjaman yang berbent uk istilah teknis ditemukan dalam jumlah yang besar. Karena materi ilmiah yang dibahas di dalam artikel-artikel ini berkaitan dengan kesehatan, maka istilah teknis kedokteran mendomin asi jumlah kata-kata pinjaman dari bahasa Indonesia. Sebagian besar istilah teknis tersebut sebenarnya juga merupakan istilah-istilah yang diambil dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dan mengalami penyesuaian kaidah fonologis atau gramatika untuk kemudian dipinj am untuk digunakan di dalam artikel berbahasa Jawa ini. Tabel 2 yang berikut ini menunj ukkan istilah-istilah pinjaman tersebut. Beberapa istilah pinjaman yang mengalami penyesuaian kaidah fonologis bahasa Indonesia di antaranya adalah: alternatif, sistem, influensa, terminologi, dan sebagainya. Adapun, istilah pinjaman yang mengalami peny esuaian kaidah gramatika bahasa Indonesia (dan biasanya pada saat bersamaan mengalami penyesuai an kaidah fonologis) adalah sebagai berikut: virus-virus (reduplikasi untuk jamak), influensa Asian (word order), pendemik flu virus (word order dan fonologis), dan sebagainya. Kedua tipe istilah pinjaman di dalam bahasa Indonesia tersebut kemudian diambil secara utuh untuk digu nakan di dalam artikel ilmiah berbahasa Jawa ini. Seperti penggunaan kata pinjaman yang sifa tnya umum di atas, penggunaan istilah-istilah teknis ini di dalam artikel merepresentasikan kasu s alih kode dari bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan ketidakmampuan penulis artikel untuk menemukan istilah-istilah tersebut di dalam bahasa Jawa, sehingga ma u tak mau dia harus mengambil dari bahasa Indonesia. Beberapa contoh kalim at di bawah ini memberikan gambaran yang lebih jelas tentang penggunaan istila h-istilah pinjaman itu.

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 171 - Lha yen secara terminologi (peristilahan) pengertene influensia kuwi piye? - Penyakit influensa iku gampang banget nular disebabake dening virus-virus kang nyerang saluran pernapasan. - Bisa wae muncul pnemunia bakteri sekunder dening Streptococcus pneumoniae, haemophilus influenzae, utawa Staphylococcus aureus. Tabel 2. Istilah Teknis dari Bahasa Indonesia resep demam aktivitas antisipasi avian virus (flu burung) iku kepiye ta? musim panas alternatif virus-virus (inggris) sistem syaraf pusat virus flu burung penyakit influensa saluran pernapasan perg eseran tipe antigenik organ internal kamus kedokteran Kamus Lengkap Kedokteran influensa Asian, pendemik flu virus Penerbit Pustaka Kedokteran disusun influensa Rusian populasi burung Kitab Kamus Latin-Indonesia Penerbit Gita Media Press PENYAKIT INFLUENSA NEWSCASTLE populasi terminologi (peristilahan) disebutake penyakit influensa Penyakit Avian Influensa faktor influensa, influensia Kamus Kedokteran Flu Burung ancaman virus influensa Kamus Besar Bahasa Indonesia Penerbit Djambatan Flu Spanish proses produksi vaksin Penerbit Balai Pustaka virulen flu hongkong serangan virus influensa penyakit selesma epidemi flu babi sistem ketahanan selaput wabah lembaga kesehatan masyarakat vaksin virus influensa rongga hidung masa inkubasi antisipasi enzim reproduksi virus virus flu burung H5N1 Kelemahan kedua dari bahasa Jawa di dala m mengakomodasi tulisan ilmiah dalam artikel majalah ini adalah kesulitan me ngungkapkan definisi dari sebuah konsep ilmiah. Dikarenakan tertalu teknisnya ekspresi kebahasaan yang dibutuhkan untuk menjabarkan sebuah konsep ilmiah, maka penulis artikel itu cenderung menga mbil kutipan penjelasan konsep tersebut dari penjabaran dalam bahasa Indonesia secara ut uh tanpa ada upaya mengganti bagian-bagian penjabaran tersebut dengan bahasa Jawa . Sebagai misal, untuk menjelaskan konsep influo yang menjadi makna dasar dari penyakit influen sa, terlihat keterpaksaan penulis untuk mengatakannya sebagai bermuara kedalam (Copiae in Italian), masuk diam-diam, merembes, menyusup, menyelinap, in sesus oratio, in aures, lsp. Kutipan di atas menunjukkan tidak adanya upaya mengganti jabaran konsep tersebut dengan bahasa Jawa, misalnya dengan mengatakan mlebu manjero, mlebu tanpa suara, mrembes, ndlesep, nglimpekke, dan sebagainya. Bahkan terdapat dua istilah bahasa Latin yang diambil secara utuh, yaitu in sesus oratio dan in aures. Kata bahasa Jawa yang digunakan untuk penjabaran itu hanyalah kata lan sapanunggalane (dan lain-lainnya) yang disingkat dengan ( lsp). Kasus yang sama terjadi untuk semua kutipan yang lain. Ketidakmampuan bahasa Jawa (penulis) artikel menemukan pengungkapan konsep ilmiah mengharuskan penulis teks mengambil kutipan utuh dalam bahasa Indon esia tanpa upaya mengganti atau melakukan paraphrasing dalam bahasa Jawa untuk kutipan tersebut. Hal ini tentu saja mendukung

Djatmika 172 kenyataan tidak mampunya bahasa daerah ini untuk digunakan sebagai bahasa pengantar tulisan ilmiah. Tabel yang berikut ini menunjukkan kutipan-kutipan tersebut. Ciri lain yang menunjukkan kelemahan bah asa Jawa sebagai bahasa pengantar tulisan ilmiah adalah penggunaan istilah teknis pinjaman dari bahasa Inggris melalui bahasa Indonesia. Dengan cara lain dapat dikatakan bahwa peminjaman istilah-istilah ini sifatnya tidak langsung dari bahasa Inggris, melainkan melalui proses penyesuaian kaidah fonologis bahasa Indonesia dahulu baru kemudian digunakan di dalam artikel ilmiah berbahasa Jawa ini. Dari sejumlah istilah yang ditampilkan dalam Tabel 4, hanya ad a beberapa istilah bahasa Inggris yang tidak mengalami perubahan kaidah fonologis, yaitu kata headline, Fowl Plague, Medical Subject Heading , dan virus. Istilah Fowl Plague, Medical Subject Heading, dan virus itu merupakan istilah yang merepresentasikan nama kasus. Dengan demi kian, penulis teks tidak perlu berusaha mengatakannya dalam bahasa Jawa (yang seben arnya apabila dia ingin mengungkapkannya dalam bahasa Jawa, ketiga istilah itu tidak akan dapat diakomodasi oleh bahasa daerah ini). Hal ini juga berlaku untuk kata headline yang tidak ditemukan padanannya di dalam bahasa Jawa, sehingga kata itu dipinjam secara utuh dari bah asa Inggris tanpa mengalami perubahan kaidah fonologis. Tabel 4. Istilah dari B Inggris ada yang lewat B Indonesia epidemi prostasi strain virus A mikrobiologi Medical Subject Heading miokardium interval elemen pandemi bronkhitis nektrotasi mialgia glaxo wellcomes relenza serologis pneumonia intersisi virus influensa B tamiflu strain virus pnemunia bakteri sekunder avian influensa patogenik radhang mukosa nasal Streptococcus pneumoniae Fowl Plague avian influensa faring haemophilus influenzae headline neuromidasi konjungtiva Staphylococcus aureus virus infiltrasi Tabel 3. Kutipan dalam Bahasa Indonesia 1. influo itu duwe makna ing antarane bermuara kedalam (Copiae in Italian), masuk dengan diam-diam, merembes, menyusup, menyelinap, in sesus oratio, in aures lsp. 2. Penyakit akut yang disebabkan oleh virus dengan gejala demam, radang kataral traktus respiratorius atau gas trointestinalis. Mungkin menyerang otak, menimbulkan nyeri kepala, insomnia, delirium, konvulsi, depresi mental, neuritis. Dapat juga menimbulka n inflamasi reaksi tubuh atas jasad renik. 3. Penyakit influenza bersifat akut yang disebabkan oleh virus, ditandai dengan demam, radang selaput lendir salura n napas atau saluran cerna, mungkin melibatkan otak, sehingga terjadi nyeri kepala dan gejala-gejala mental (yang amat menjengkelkan). 4. Flu Mematikan Siap Menyerang!

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 173 Kelemahan yang lain yang ditunjukkan oleh bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar artikel ilmiah ini adalah rasa percaya diri yang kurang dari bahasa ini (atau dari penulis teks) akan kepopuleran istilah-istilah bahasa Jawa bagi para pembaca sasaran. Sebenarnya penulis sudah berusaha menggunakan istilah tekni s dalam bahasa Jawa untuk konsep-konsep ilmiah tertentu. Akan tetapi penulis merasa perlu memberikan back-up penjelasan konsep tersebut dalam bahasa Indonesia untuk mengantisipasi seandainya pa ra pembaca itu tidak memahami istilah teknis dalam bahasa Jawa yang dia gunakan. Sebagai misal, dalam kalimat: - Mujudake radhang selaput lendhir ana ing growongane irung (rongga hidung) - Influensa tipe C dumadine ora ajeg (sporadis) virus tipe C - Virus Influensa Hongkong iki ing kurun wektu 48 jam bisa nyerang organ internal kaya dene uteg, jantung, kebuk (paru), ginjel lsp Di dalam ketiga kalimat di atas, kata growongan irung, ora ajeg, dan kata kebuk merupakan kata asli bahasa Jawa yang pada kasus di atas sebenarnya sudah dipilih oleh penulis artikel untuk merepresentasikan konsep ilmiah. Namun de mikian dukungan konsep dari bahasa lain tetap diperlukan untuk mengantisipasi ketidakpa haman para pembaca untuk istilah-istilah dalam bahsa Jawa tersebut. Hal ini kemungkinan disebabka n oleh kekhawatiran penulis artikel akan tingkat kepopuleran istilah bahasa Jawa ini bagi para pembaca. Kasus yang sama juga terjadi untuk beberapa istilah ilmiah yang lain yang ditampilkan dalam Tabel 5. Tabel 5. Kata/istilah Pinjaman untuk menerangkan Kata/istilah bahasa Jawa lirwa (lalai) truthukan (menggigil)kang anyar (strain baru)ngawekani (mengantisipasi)Selain itu, ciri kelemahan terakhir dari bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar tulisan ilmiah di dalam majalah ini ditunjukkan oleh kons truksi kalimat yang disusun atas kata-kata fungsional pinjaman; kata-kata bahasa Jawa yang digunakan di dalam kalimat-kalimat itu hanya merupakan kata-kata yang sifatnya gr amatikal. Sebagai contoh, kalimat Aktivitas antisipasi Avian Virus (Flu Burung) iku kepriye ta? ini disusun atas kata-kata fungsional aktivitas, antisipasi , Avian Virus, Flu Burung yang semuanya merupakan kata pinjaman dari bahasa Indonesia/ Inggris. Sementara itu, kata iku, kepriye, dan ta adalah asli dari bahasa Jawa, namun kata-kata ini di dalam konstruksi kalimat di at as hanya berfungsi sebagai elemen gramatikal. Kasus yang sama terjadi pula pada beberapa konstr uksi kalimat lain yang ditunjukkan oleh tabel di bawah ini. Tabel 6. Klausa dg Kata gramatikal untuk bahasa Jawa Miturut Medical Subject Heading (MeSH) Influensa iku infeksi virus akut ing saluran pernapasan kang muncul dadi kasus seje-seje, epidemi atau pandemi, wujud serologis kang disebabake dening strain virus kang beda disebut A, B, C. Gejalane piye Bisa wae muncul pnemunia bakteri sekunder dening Streptococcus pneumoniae, haemophilus influenzae, utawa Staphylococcus aureus. Kajaba Flu Burung uga ana Flu Hongkong lan Flu Singapura Aktivitas antisipasi Avian Virus (Flu Burung) iku kepiye ta? Tabel di atas menunjukkan bahwa untuk istilah-istilah teknis yang bercetak tebal di atas, bahasa Jawa belum mampu menyediakan kosa kata padanannya. Oleh karena itu, satu-satunya jalan adalah mengambil kata-kata itu untuk digunakan seperti apa adanya di dalam kontruksi kalimat bahasa Jawa. Kejawaan kalimat-ka limat itu sebenarnya hanya didukung oleh penggunaan kata-kata bahasa Jawa yang berfungsi sebagai elemen gramatikal seperti kata iku sebagai sebuah artikel, kepriye sebagai kata ganti tanya, dan kata ta untuk sebuah question tag. Dengan demikian, konstruksi-kons truksi beberapa kalimat di atas merepresentasikan kelemahan bahasa Jawa di dalam mengakomodasi ekspresi ilmiah.

Djatmika 174 Pada sisi yang lain, artikel ilmiah di dalam majalah ini menunjukkan potensi dari bahasa Jawa untuk bisa bekembang sebagai sebuah bahasa pengantar tulisan ilmiah. Potensi yang pertama ditunjukkan oleh keluwesan kaidah fonolog is dari bahasa ini di dalam mengakomodasi kata-kata/istilah-istilah teknis pinjaman dari bahasa asing untuk disesuaikan dengan aturan yang ada di dalam bahasa ini dan kemudian digunakan sebagai bahan dalam tulisan ilmiah berbahasa Jawa. Proses pengubahan kata/is tilah asing itu terjadi melalui tahap sebagai berikut. Pertama kata/istilah teknis asing (bahasa Inggris) itu s udah mengalami proses peminjaman melalui bahasa Indonesia, sehingga sudah disesuaikan dengan kaidah fonologis bahasa Indonesia. Kata/istilah asing itu juga bisa diambil langsung dari bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Sebagai misal, kata bahasa Inggris existence dipinjam dan mengalami perubahan kaidah fonologis bahasa Indonesia menjadi eksistensi atau etymology menjadi etimologi. Selanjutnya kata-kata ini diambil ke dalam bahasa Jawa , dianggap sebagai kata/istilah bahasa Jawa, sehingga kata/istilah itu akan mengalami pro ses konjugasi morfologis bahasa Jawa, seperti misanya eksistensine dan etimologine dalam kalimat: Eksistensine penyakit influensa iku muncul ...... Mangkono mau etimologine tembung Influensia kasebut.... Penambahan akhiran bahasa Jawa - ne membuat kata/istilah pinjaman tersebut sangat berasa Jawa. Untuk kata/istilah yang berasal dari bahasa I ndonesia, tahapan yang dilalui menjadi lebih pendek. Setelah kata/istilah bahasa Indonesia itu di ambil dan dianggap sebagai kosa kata bahasa Jawa, tahap berikutnya adalah memperlakukan mere ka seperti kosa kata bahasa Jawa (asli) yang lain. Sehingga penulis dapat mengolahnya dengan aturan morfologis bahasa Jawa untuk bisa berfungsi secara sintaksis di dalam sebuah tulisan ilmiah. Sebagai misal, kata muncule dibentuk dengan mengambil kata muncul dalam bahasa Indonesia, kemudian kata ini dianggap sebagai kosa kata bahasa Jawa, dan kemudian diperla kukan dengan proses morfologis bahasa Jawa yang ditunjukkan dengan penggunaan akhiran ne. Demikian pula dengan kata ngancurake yang dibentuk dengan mengambil kata hancur atau menghancurkan, kemudian menambah atau mengganti imbuhan yang ada dengan imbuhan bah asa Jawa, sehingga kedua kata tersebut menjadi berasa Jawa. Namun demikian, terdapat beberapa kata/is tilah yang dipinjam dari bahasa Indonesia yang mengalami penyesuaian kaidah fonologis dahulu sebelum dianggap sebagai kosa kata bahasa Jawa dan kemudian diperlakukan seper ti kosa kata bahasa Jawa yang lain. Kata tandha- tandhane dibentuk dengan mengambil kata tanda-tanda dari bahasa Indonesia yang kemudian dipinjam dengan menyesuaikan ejaannya menjadi tandha-tandha untuk bisa diterima dan dianggap sebagai kosa kata bahasa Jawa. Kem udian barulah kata ini mengalami proses morfologis dengan afiksasi penambahan imbuhan ne. Seperti dalam kalimat Tandha- tandhane yaiku anane radhang mukosa nasal, faring, lan konjungtiva...”. Selain itu, ada juga kata/istilah yang dipinjam dari bahasa Indonesia yang hanya mengalami perubahan kaidah fonologis dan belum mengalami proses morfologis seperti kata radhang dan lendhir yang berasal dari kata radang dan lendir di dalam kalimat sebagai berikut, Mujudake radhang selaput lendhir ana ing growongane irung (rongga hidung) Bahasa Jawa mempunyai bunyi [dh] yang lebih alveolar seperti yang terdengar dari konsonan /d/ dalam kata bahasa Indonesia tanda. Di dalam bahasa ini juga terdapat bunyi [d] yang lebih dental yang tidak terdapat dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, manakala penulis artikel mengambil istilah radang dan lendir dari bahasa Indonesia, maka untuk menganggap dua kata itu sebagai kata bahasa Jawa dia harus menyesuaikan ejaannya agar terbaca dengan benar secara kaidah. Oleh ka rena itu, kalimat di atas menunjukkan radhang dan lendhir sebagai kosa kata bahasa Jawa dan kata hidung sebagai kosa kata bahasa Indonesia, padahal kualitas /d/ yang dimiliki ketiga kata tersebut terbaca sama. Tabel di bawah ini menunjukkan lebih banyak istilah yang serupa ya ng digunakan di dalam tulisan ilmiah berbahasa Jawa.

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 175 Tabel 7. Istilah/kata Pinjaman yang Disesuaikan dg Kaidah B. Jawa etimologine tandha-tandhane dipahami kesehatane ekistensine muncule diwaspadai pusate perdagangan disebabake variasine ginjel mutasine gejalane intervale panaliten ngancurake PENUTUP Ciri-ciri kelemahan dan kekuatan bahasa Jawa yang ditemukan dalam tulisan ilmiah Kesarasan dalam majalah Panjebar Semangat merupakan bukti terjadinya kondisi impotensi dan juga komplikasi dari bahasa Jawa dalam mengakomodasi tulisan ilmiah. Kedua kondisi tersebut ditunjukkan oleh ketidakberdayaan bahasa daerah ini dalam menyediakan istilah-istilah padanan untuk berbagai macam istilah teknis yang di perlukan untuk mengemukakan ide-ide ilmiah. Berangkat dari kondisi ini, maka jalan yang di ambil penulis artikel dalam mengemukakan ide- ide itu adalah dengan meminjam istilah-istilah te knis secara utuh dari bahasa sumbernya (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris), misalnya dalam kalimat: Lha yen secara terminologi ( peristilahan) pengertene influensia kuwi piye?”. Kelemahan lain yang ditunjukkan oleh bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar tulisan ilm iah ditunjukkan oleh peminjaman ekspresi definisi dari bahasa lain untuk mendefin isikan konsep-konsep ilmiah, misalnya: Penyakit influenza bersifat akut yang disebabkan oleh virus, ditandai dengan demam, radang selaput lendir saluran napas atau saluran cerna, mungkin melibatkan otak, sehingga terjadi nyeri kepala dan gejala-gejala mental (yang amat menjengkelkan). Kekhawatiran tingkat popularitas istilah bahasa jawa juga menjadikan penulis artikel menyediakan istilah/konsep pinjaman dari bahasa lain unt uk membantu pembaca memahami istilah konsep ilmiah yang diungkapkan dalam ba hasa Jawa, sebagai contoh: Influensa tipe C dumadine ora ajeg ( sporadis) virus tipe C Namun demikian, kondisi impoten ini kemudian berlanjut menjadikan kondisi komplikasi bagi bahasa ini. Hal ini sebenarnya sudah be rusaha dikurangi oleh sifat lentur bahasa Jawa dalam mengakomodasi semua kata pinjaman denga n aturan dan kaidah yang luwes, misalnya dengan akomodasi kaidah fonologis dan morfolo gis bagi kata-kata pinjaman seperti dalam contoh sebagai berikut: “ Mangkono mau etimologine tembung Influensia kasebut....”. Akan tetapi pada akhirnya tetap saja di dalam banyak konstruksi kalimat bahasa Jawa hanya mampu menyumbang elemen gramatikal di dalam struktur kalimat yang dibuat; bagian lain yang lebih penting perannya diambil oleh semua kata pinjaman dari bahasa lain—baik itu bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Bahka n untuk mengungkapkan definisi konsep- konsep ilmiah, bahasa Jawa di da lam tulisan ini sama sekali tidak berdaya dan tidak berfungsi. Penulis artikel selalu mengutip definisi konsep-k onsep ilmiah tersebut secara utuh di dalam bahasa aslinya. Fenomena ini juga merupakan kelemahan dari bahasa Jawa. Temuan ini menunjukkan pola perkembangan dan kondisi bah asa Jawa yang sejalan dengan pernyataan Suwanto (dalam presentasi KLN X di Bali 2002) bahwa banyak istilah yang berkaitan dengan nama-nama alat rumah tangga yang hilang da ri bahasa Jawa. Hal ini dikarenakan oleh masuknya alat-alat rumah tangga modern ya ng hanya “diimpor” oleh masyarakat Jawa, sehingga bahasa Jawa tidak mampu mengakomodasi untuk memberikan nama alat-alat modern itu dalam bahasa Jawa. Berdasarkan kesimpulan di atas, maka seharusnya para penulis artikel ilmiah perlu melihat kemampuan bahasa Jawa di dalam meleburkan kata-kata pinjaman untuk diakulturasikan dengan sistem dan kaidah grama tika bahasa Jawa. Selain itu, para ahli bahasa Jawa seharusnya juga memikirkan kemungkinan ad anya sistem tata pembentukan istilah ilmiah dalam bahasa Jawa. Dengan adanya aturan pe mbentukan itu, diharapkan para penulis ilmiah dalam bahasa Jawa akan mempunyai pedoman di dalam mencari atau membuat istilah-istilah ilmiah yang dapat berterima di dalam bahasa Jawa.

Djatmika 176 CATATAN * Penulis berterima kasih kepada mitra bebestari yang telah memberikan saran-saran untuk perbaikan makalah. DAFTAR PUSTAKA Crystal, D. 1997. The Cambridge Encyclopedia of Language. Cambridge: Cambridge University Press. Eggins, S. 1994. An Introduction to Systemic Functional Linguistics. London: Pinter Publishers. Gerot, L. dan P. Wignell. 1995. Making Sense of Functional Grammar: An Introductory Workbook . Cammeray: Gerd Stabler Antipodean Educational Enterprises. Halliday, M.A.K. 1994. An Introduction to Functional Grammar. London: Edward Arnold. Sardjono, M.A. 1992. Paham Jawa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Sudaryanto (ed.). 1991. Tata Bahasa Baku Bahasa Jawa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press. Suwanto, Y. 2002. Istilah Alat-Alat Rumah Tangga dan Perkembangan di Kodya Surakarta. Makalah disajikan dalam KLN MLI X Denpasar Bali, Juli 2002. Thomas, L. dan S. Wareing. 2001. Language, Society and Power. New York: Routledge. Wardhaugh, R. 1998. An Introduction to Sociolinguistics. Cambridge: Blackwell. Wedhawati dan Laginem. 1981. Beberapa Masalah Sintaksis Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa De partemen Pendidikan dan Kebudayaan. Djatmika djatmika@uns.ac.id Universitas Sebelas Maret Surakarta

Linguistik Indonesia Copyright 2010 by Masyarakat Linguistik Indonesia Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010, 177-187 PRAGMATIK KRITIS: PADUAN PRAGMATIK DENGAN ANALISIS WACANA KRITIS P. Ari Subagyo* Universitas Sanata Dharma Abstract Discourse analysis deals with formal, empirical-sociological (or pragmatic), and critical approaches. This paper offers “critical pragmatics” as a combination of the empirical- sociological approach (pragmatics) and the critical approaches (Critical Discourse Analysis or CDA). From the empirical and theoretical point of views, the combination is possible and applicable as an approach for understanding discourses that reflect unequal power relations in society. Key words: discourse, discourse analysis, pragmatics, critical discourse analysis (CDA) PENGANTAR Analisis wacana ( discourse analysis) diperkenalkan oleh Zellig Harris melalui artikel berjudul “Discourse Analysis” yang dimuat pada jurnal Language, No. 28/1952, 1-30. Dalam artikel itu Harris membicarakan wacana iklan dengan mene laah saling hubungan antara kalimat-kalimat yang menyusunnya dan kaitan antara teks dengan masyarakat dan budaya (lih. Renkema, 2004:7). Sementara itu, Asher dan Simpson, ed. (1994940) membagi pendekatan dalam analisis wacana menjadi tiga, yaitu (i) pendekatan formal, (ii) pendekatan sosiologis-empiris, dan (iii) pendekatan kritis. Pendekatan formal memahami wacana sebagai teks atau tataran kebahasaan yang lebih tinggi dari kalimat. Oleh karena itu, wacana didefi nisikan sebagai “struktur yang lebih tinggi dari kalimat” (Halliday dan Hassan , 1976:10; Kartomihardjo, 1992:1; Stubbs, 1983:10), atau “satuan bahasa terlengkap; dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi dan terbesar” (Kridalaksana, 1993:23). Pe ndekatan formal mengkaji wacana dari segi internalnya, misalnya jenis, struktur, dan hubungan bagian-bagia nnya (Baryadi, 2002:3; Thornbury, 2005:6-7). Pendekatan sosiologis-empiris memahami wacana sebagai peristiwa tutur yang terikat konteks situasi (Asher dan Simpson, 1994:940) . Berbeda dengan pendekatan formal yang melihat segi internal wacana, pendekatan sosiologis-empiris mengkaji wacana dari segi eksternalnya. Dari segi eksternal, wacana di kaji keterkaitannya dengan tiga hal yang menurut Sudaryanto (1995: 38) sebagai pilar pembentuk ba hasa, yaitu pembicara, hal yang dibicarakan, dan mitra bicara; atau keterkaitan wacana denga n konteksnya, yaitu siapa penuturnya, ditujukan kepada siapa, dituturkan dala m situasi macam apa, dimaksudkan untuk apa, dan seterusnya (lih. Kaswanti Purwo, 1990:10; Wijana, 1996:5; Baryadi, 2002:4, 40). Berbicara tentang analisis wacana sebagai telaah hubungan wacana dengan k onteksnya, berarti analisis wacana dikaji secara pragmatis.1 Sementara itu, pendekatan kritis menempatkan wacana sebagai power (kuasa) (Asher dan Simpson, 1994: 940), atau memandang wacana seb agai sebuah cerminan dari relasi kekuasaan dalam masyarakat (Renkema, 2004: 282). Pendekatan kritis yang lazim disebut critical discourse analysis (CDA) memahami wacana (penggunaan bahasa secara lisan maupun tertulis) sebagai bentuk social practice (praktik sosial) (Fairclough dan Wodak, 1997: 55; periksa juga Wodak, 1996: 15; Titscher, et al., 2000: 147; Eriyanto, 2001: 7; Renkema, 2004). Dalam praktik sosial, seseorang selalu memiliki tujuan berw acana, termasuk tujuan untuk menjalankan kekuasaan. Jika hal itu terjadi, praktik wacan a akan menampilkan efek ideologi, yakni memroduksi dan mereproduksi hubungan kekuasaan yang tidak imbang antara kelas sosial, laki- laki dan wanita, juga kelompok mayoritas da n minoritas. CDA memfungsikan wacana (bahasa)

P. Ari Subagyo 178 sebagai ”jendela” untuk melihat motif-motif ideologis dan ketimpangan hubungan kekuasaan yang terjadi dalam masyarakat. Dalam makalah ini coba dipadukan dua pe ndekatan, yaitu pendekatan pragmatis dan kritis, menjadi ”pragmatik kritis”. Mengapa pende katan pragmatis dan kritis? Karena dijumpai sejumlah fenomena empiris yang tidak cukup dikaji hanya dengan pendekatan pragmatis. Dengan memadukan pendekatan pr agmatis dan kritis, diperoleh penjelasan yang lebih komprehensif. CONTOH PENERAPAN PRAGMATIK KRITIS Berikut contoh sekadarnya tentang penerapan ”pra gmatik kritis”. Fenomena empiris yang dititik adalah penggunaan deiksis persona kita dalam wacana tajuk (editorial) di media massa. Dalam kajian pragmatik, kata kita merupakan bentuk inklusif atau gabungan antara persona pertama ( aku, daku, saya) dan kedua (kamu, kau, dikau) (lih. Kaswanti Purwo, 1984: 24). Namun, penjelasan semacam itu kur ang mencukupi ketika deiksis persona kita ditemukan dalam dua wacana tajuk (editorial) yang muncul pada hari yang sama dan mengulas tentang hal (topik) yang sama, tetapi digunakan oleh medi a massa (koran) yang berbeda. Subagyo (2009), misalnya, mencermati perbedaan penggunaan kata kita dalam wacana tajuk di harian Republika dan Suara Pembaruan edisi 10 November 2008 yang sama-sama mengangkat topik tentang eksekusi mati tiga pelaku Bom Bali I, 12 Oktober 2002 (Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudera) di pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, 9 November 2008. Ada perbedaan berarti dari segi jumlah penggunaan deiksis persona kita. Republika menggunakan 19, sedangkan Suara Pembaruan hanya 4. Dengan pragmatik, perbedaan jumlah tersebut tidak dapat dijelaskan. Namun, jik a pragmatik diberi sentuhan CDA, penggunaan deiksis persona kita dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, Republika lebih banyak menggunakan kata kita untuk membangun ”perspektif kita”2 di kalangan khalayak pembaca untuk bersama-sama bersimpa ti kepada Amrozi, dkk. Rasa simpati itu pada gilirannya membentuk solidaritas dan kesepahaman bahwa Amrozi dkk. bukan teroris. Mereka korban tindakan ”pihak tertentu” sebagaimana para kor ban ledakan Bom Bali I dan peristiwa peledakan bom lainnya. Mereka adalah bagian dari ”kita”. Kedua, kata kita baik dalam wacana tajuk Republika maupun Suara Pembaruan secara umum memang dimaksudkan sebagai kita inklusif, yakni semua pembaca apa pun latar belakangnya. Namun, karena ideologi masing-masing surat kabar identik dengan latar belakang pembaca, kita lalu bisa menjadi eksklusif. Dalam Republika , kita menjadi eksklusif umat Muslim, sedangkan kita dalam Suara Pembaruan eksklusif umat Kristen.3 KEMUNGKINAN TEORETIS DAN DINAMIKA PRAGMATIK Pragmatik dan CDA memiliki tujuan yang berbed a. Pragmatik merupakan kajian bahasa dalam komunikasi yang berusaha memahami makna dalam kaitannya dengan situasi tutur (lih. Leech, 1983:13). Adapun CDA berusaha mengungkap – atau membongkar – praktik penggunaan bahasa yang menunjukkan relasi kekuasaan yang tid ak imbang dan situasi sosial yang timpang. Apakah mungkin memadukan pragmatik dengan CDA? Secara teoretis kemungkinan itu terbuka karena pragmatik dan CDA memiliki kesesuaian , yakni sama-sama memperhitungkan konteks sekalipun dalam lingkup atau jangkauan yang tidak sama. Dalam pragmatik, konteks merupakan la tar belakang pengetahuan apa pun yang diasumsikan dimiliki bersama oleh penutur maupun pendengar, dan membantu pendengar menafsirkan apa yang dimaksudkan oleh pe nutur (Leech, 1983:13). Pemahaman atas konteks menjadi dasar pemahaman atas fenomena baha sa. Dengan memahami konteks, pengguna bahasa menyesuaikan kalimatnya sehingga patut atau tepa t diujarkan (lih. Levinson, 1983). Penjelasan

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 179 ini menunjukkan bahwa konteks dalam ranah pragmatik sebatas pada latar situasional yang melingkupi pertuturan antarpersonal. Berbeda dengan pragmatik, CDA melibatkan kontek s dalam lingkup latar, situasi, historis, kekuasaan, dan juga ideologi (van Dijk, 1997; Fairclough dan Wodak, 1997). Konteks latar dan situasi dalam CDA relatif sama dengan kontek s situasi, pengetahuan latar belakang, maupun pengetahuan latar belakang apa pun dalam pendekatan pragmatis. Dalam hal konteks historis, pemahaman atas wacana hanya akan diperoleh jika konteks historis saat wacana itu diciptakan juga diperhitungkan. Untuk memahami teks selebaran mahasiswa menentang Soeharto, misalnya, situasi Indonesia masa Orde Baru menjadi konteks yang penting (Eriyanto, 2001:11). CDA juga memasukkan intertekstualitas ( intertextuality) buah pemikiran Kristeva (1980) yang antara lain mengemukakan panda ngan bahwa teks (baca: wacana) tidak pernah ahistoris, dan memiliki kaitan dengan teks-teks lainnya. Kaita n antara wacana tajuk tentang eksekusi mati Amrozi, dkk. di Republika dan Suara Pembaruan, misalnya, terwadahi oleh konsep intertekstualitas Kristeva. Adapun kekuasaan dan ideologi merupakan konteks penting karena kekuasaan akan menjadi kontrol atas produksi wacana, dan ideologi menjadi penentu proses reproduksi wacana.4 Meskipun ada perbedaan dengan CDA dalam hal jangkauan konteks, beberapa ahli pragmatik telah meluaskan perspektif dan ranah kajiannya. Cummings (1999) dalam buku Pragmatics: A Multidisciplinary Perspective mencatat sekaligus menawarkan konsep pragmatik multidisipliner yang memungkinkan pragmatik me ncapai “titik-titik pertemuan” dengan disiplin-disiplin lain, seperti filsafat, psikologi, inteligensi artifisial, dan patologi bahasa. Di samping itu, Cummings juga mengajukan beberapa topik dan disiplin baru yang dapat digarap pragmatik dalam lingkup multidisipliner. Terjadi pula dinamika dalam kajian pragmatik yang mulai menyentuh ranah CDA, atau menjadi isyarat munculnya “pragmatik kritis”. Kajian itu misalnya dilakukan Verschueren (1999) yang menelaah editorial dalam The Economist edisi 31 Desember 1995, berjudul “The World in 1996”. Verschueren sendiri tidak me nyebut telaahnya sebagai kajian CDA. Ia menempatkan telaah tersebut sebagai bagian dari Bab 8 mengenai “Macropragmatic issues”, dan secara khusus dalam subbab tent ang Discourse and Ideology. Macropragmatics adalah perspektif pragmatik yang menaruh perhatian pada penggunaan bahasa dalam tataran makro, seperti persoalan komunikasi interkultural da n internasional (Verschueren, 1999:227). Adapun micropragmatics lebih memberi atensi pada penggunaan bahasa skala kecil, seperti interaksi bersemuka ( face-to-face interaction) (Verschueren, 1999:203). Telaah atas editorial itu didasari pandangan bahwa peristiwa atau fenomena komunikasi dalam level makro sulit dipisahkan dari proses “ideologis” (Verschueren, 1999:237).5 Menurut Verschueren (1999:239), the world (dunia) yang dimaksud sebenarnya terbatas pada ‘dunia dari perspektif Inggris (konservatif)’ sekalipun maksud itu sepenuhnya implisit. Pada taraf permukaan, the world seolah-olah dalam arti ‘dunia seluas-luasnya’. Maksud yang implisit “ditandai” oleh (atau ditarik dari) fakt a kontekstual bahwa penerbit editorial itu The Economist, yang – sekalipun abstrak – merupakan sumber nyata informasi tersebut. Sebagai sumber informasi, The Economist terwakili oleh penulis editorial Dudley Fishburn yang memiliki otoritas personal sebagai Anggota Parlemen untuk Kensington dan Board of Overseers (Badan Pengawas) Harvard University. Otoritas personal Dudley Fishburn itu menjadi bahan penting untuk memahami atau menafsirkan editorial yang ditulisnya. Pelacakan ideologi yang tersembunyi di ba lik teks semacam itu membawa Verschueren (1999:240) pada pendapat bahwa persoalan besar dalam pembangkitan makna sebuah teks seperti editorial “The World in 1996” ialah how a text of this kind generates its own context (bagaimana sebuah teks semacam itu memba ngkitkan konteksnya sendiri). Karena itu, Verschueren meminta pembaca untuk melacak konteks beberapa pernyataan dalam editorial tersebut, misalnya rangkaian tuturan: Most of the 90m extra people in the world in 1996 will be

P. Ari Subagyo 180 Asian. They will be born poorer than the average reader of this article. They will die richer. Untuk melacak konteks tuturan itu, diperlukan pe mahaman tentang ideologi komunikasi media massa yang bersangkutan (dalam hal ini The Economist) serta pemahaman luas perihal situasi sosial dan politik. NUANSA KRITIS DAN KEUNIKAN PRAGMATIK KRITIS Apa sesungguhnya nuansa kritis dari CDA yang pe rlu disuntikkan pada pendekatan pragmatis untuk membentuk ”pragmatik kritis”? Dalam tradisi CDA, atribut ”kritis” mencerminkan dua latar CDA (periksa Titscher, et al., 2000:144-145; Wodak, 2006:2-3). Pertama, C DA dibangun berdasarkan gagasan-gagasan kritis Sekolah Frankfurt (terutama Jurgen Habe rmas). Menurut Habermas, ilmu kritis (critical science ) harus sampai pada refleksi diri, yakni harus merefleksikan interes-interes awal yang menjadi dasarnya, dan mengindahkan konteks histor is dari interaksi yang dilibatinya. Terkait dengan linguistik, kajian bahasa mestinya tidak hanya berhenti pada perian segi-segi bahasa, tetapi membahas fungsinya dalam komunikasi , bahkan sampai merefleksikan manusia penggunanya. Kedua, CDA merupakan kelanjutan dari tradisi linguistik kritis. Istilah ”linguistik kritis” pertama kali muncul terkait dengan kajian para pengikut Halliday (terutama Roger Fowler, Gunter Krees, dan Bob Hodge) tentang fungsi baha sa dalam masyarakat. Situasi darurat yang memunculkan perspektif kritis dalam linguistik dapat dipahami sebagai reaksi terhadap pragmatik kontemporer (terutama atas teori tinda k tutur Austin dan Searle) dan sosiolinguistik kuantitatif-korelatif William Labov. Jacob Mey (1985) dalam buku Whose Language? bicara berapi-api mendukung arah kritis dalam prag matik. Kress dan Hodge (1979) dalam buku Language as Ideology mengemukakan pandangan bahwa wacana tidak mungkin ada tanpa makna sosial, dan karenanya terjalin kaitan erat antara struktur kebahasaan dan struktur sosial. Pandangan tersebut kemudian d iterima para peneliti dari tradisi yang berbeda-beda, lalu berkembanglah pendekatan CDA yang berciri interdisipliner. Pendekatan CDA selaras pula dengan analisis framing dalam kajian media (Sobur, 2001:3).6 Jadi, berdasarkan dua latar CDA di atas, nuansa kritis dalam ”pragmatik kritis” dapat dirumuskan sebagai kemampuan atau daya dalam mengungkap makna sosial wacana bahasa serta merefleksikan manusia penggunanya. Untuk dapat mencapai kemampuan atau daya itu, ”pragmatik kritis” perlu memiliki ”prasangka ideologis” dalam setiap telaahnya, tanpa kehilangan identitasnya sebagai kajian pragmatik. Lebih jelasnya demikian. Topik-topik kajian pragmatik meliputi (i) deiksis (deixis), (ii) praanggapan ( presupposition), (iii) tindak tutur (speech acts), dan (iv) implikatur percakapan ( conversational implicature) (Kaswanti Purwo, 1990:17; Levinson, 1983:27), juga (v) prinsip kerja sama, (vi) prinsip kesopanan, dan (vii) prinsip-prinsip komunikasi lainnya (Leech, 1983). Itulah identitas kajian pragmatik. Kajian atas t opik-topik pragmatik tersebut tetap dilakukan, namun disertai ”prasangka ideologis”. Fenomena de iksis, praanggapan, tindak tutur, implikatur percakapan, maupun prinsip-prinsip komunukasi dikaji secara pragmatis, lalu interpretasinya sampai pada asumsi bahwa fenomenon-fenomenon te rsebut tidak terbebas dari motif kekuasaan sang penutur sehingga memberi efek ideologis bagi mitra tutur dalam menafsirkannya. RANAH JELAJAH ”PRAGMATIS KRITIS” Pisau roti tidak cocok untuk mengiris daging, begitu pula sebaliknya. Hal itu berlaku pula untuk ”pragmatik kritis”. Tidak setiap wacana dapat – dan perlu – dianalisis dengan ”pragmatik kritis”. Ranah jelajah ”pragmatik kritis” ia lah wacana-wacana (penggunaan bahasa lisan maupun tertulis) yang di dalamnya terkandung motif dan relasi kekuasaan dan motif ideologi yang bisa berdampak luas.

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 181 Wacana media massa (berita, tajuk, maupun pojok), pidato pejabat, pernyataan politisi, dsb. sangat potensial menjadi data kajian ”p ragmatik kritis”. Namun, perbincangan santai suami-istri di ruang keluarga, dialog anak -anak yang sedang bermain bersama di halaman rumah, atau surat elektronik sepasang kekasih atau beberapa orang sahabat lama, bukanlah wacana yang cocok menjadi data kajian ”pragmatik kritis”. Khusus untuk wacana media massa, perbandi ngan wacana-wacana berita, tajuk, maupun pojok menjadi menarik karena dapat memperlih atkan peta ideologi media massa. Contoh berikut terkait dengan peristiw a setelah Soeharto mundur dan menyerahkan jabatan presiden kepada B.J. Habibie (21 Mei 1998). Saat itu ABRI menghentikan aksi mahasiswa yang menduduki gedung DPR/MPR. Terhadap peristiwa itu, surat kabar Republika, Angkatan Bersenjata , dan Suara Karya edisi 24 Mei 1998 menulis judul berita yang berbeda-beda. (1) Aparat Bersihkan Mahasiswa di Kompleks DPR. (Republika) (2) Koopsjaya bersihkan gedung DPR/MPR dengan damai. (Angkatan Bersenjata) (3) Evakuasi Mahasiswa dari Gedung DPR Berlangsung Menegangkan. (Suara Karya) Tiga judul di atas memperlihatkan perspektif yang berbeda. Judul Aparat Bersihkan Mahasiswa di Kompleks DPR yang dibuat surat kabar Republika tampak memperlihatkan perspektif yang memihak mahasiswa. Kata mahasiswa dijadikan objek dari tindakan bersihkan yang dilakukan aparat. Lain halnya dengan judul Koopsjaya ”bersihkan” gedung DPR/MPR dengan damai yang dibuat oleh surat kabar Angkatan Bersenjata. Judul tersebut memperlihatkan perspektif yang memihak aparat. Tindakan bersihkan tidak berobjek mahasiswa, tetapi gedung DPR/MPR. Kemudian frasa dengan damai makin menguatkan perspektif keberpihakannya kepada ap arat Koopsjaya. Pilihan surat kabar Angkatan Bersenjata tentu saja dapat dijelaskan karena surat terse but milik ABRI yang sekaligus menjadi pelaku dalam ”pembersihan” gedung DPR/MPR. Surat kabar Suara Karya juga memperlihatkan perspektif memihak aparat. Judul Evakuasi Mahasiswa dari Gedung DPR Berlangsung Menegangkan mengesankan bahwa para mahasiswa sulit diajak bekerja sama dan suka melawan. Suara Karya membuat rumusan judul semacam itu karena surat kabar tersebut dimiliki oleh Golkar yang tidak la in merupakan pendukung Soeharto. ”Pragmatik kritis” dapat membawa kajian waca na pada persoalan-persoalan masyarakat luas. Misalnya, sekitar Maret-Agustus 2008 masyarakat Indonesia disuguhi drama tentang situasi penegakan hukum di negeri ini. Pada tanggal 2 Maret 2008, jaksa Urip Tri Gunawan ditangkap oleh aparat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jl. Terusan Hang Lekir, Simprug WG 9, Jakarta Selatan. Penangkapan itu berawal dari penyadapan pembicaraan telepon genggam antara jaksa Urip dengan Artalyta Suryani (Ayin) – pemilik rumah di Simprug itu – sebagai orang yang dekat dengan pengusaha Sj amsul Nursalim, buron yang terjerat perkara penyimpangan Bantuan Likuiditas Bank Indonesi a (BLBI) sebesar Rp 28,4 triliun. Kehadiran Urip di rumah Ayin dalam rangka mengambil ua ng gratifikasi sekitar Rp 6 miliar ($AS 660 ribu) untuk penghentian kasus penyimpangan dana BLBI yang melibatkan Sjamsul Nursalim. Di samping Urip, Ayin kemudian juga ditangkap dan ditahan oleh aparat KPK. Penangkapan Urip dan Ayin ber buntut panjang karena – selain menyita perhatian publik – juga mengungkap skandal jual-beli perkara yang me libatkan para penegak hukum di Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung). Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kemas Yahya Rahman (Kemas) dan Jaksa Agung Muda Perdata Tata Usaha Negara (Jampidtun) Untung Udji Santoso (U ntung) juga terlibat sehingga harus dicopot dari jabatannya. Terlepas dari kenyataan bahwa peristiwa itu merupakan fenomena atau kasus hukum, ada kenyataan lain yang juga tidak terbantahka n. Kenyataan itu adalah bahwa peristiwa terungkapnya mafia hukum di Ke jagung pertama-tama merupakan sebuah peristiwa bahasa atau peristiwa wacana. ”Pragmatik kritis” memiliki daya untuk turut mengungkap kasus tersebut dengan menelaah rekaman ataupun transkrip pembicaraan telepon para pelakunya. Berikut ini transkrip

P. Ari Subagyo 182 percakapan Ayin–Kemas pada tanggal 1 Maret 2008, sehari sebelum Urip ditangkap, atau sehari setelah Kejagung mengumumkan penghentian penyelidik an kasus BLBI pada 29 Februari 2008 (sumber: http://hukumonline.com):7 (4) Ayin : Halo …. Kemas : Halo . Ayin : Yah, siap! Kemas : (Sambil tertawa) Sudah dengar pernyataan saya kan? Ayin : Good, very good! Kemas : Jadi, tugas saya sudah selesai, kan? Ayin : Siap, tinggal .... Kemas : Sudah jelas kan? Itu gamblang! Sekarang tidak ada permasalahan lagi. Ayin : Bagus itu! Kemas : Tetapi saya di caci maki. Sudah baca Rakyat Merdeka? Ayin : Aaaah, Rakyat Merdeka gak usah baca! Kemas : Saya disebut mau dicopot, ha ha ha …. Jadi gitu ya! Ayin : Sama ini, Bang, saya mau informasikan. Kemas : Yang mana? Ayin : Masalah si Joker. Kemas : Oh, nati, nanti, nanti .... Ayin : Saya kan perlu jelasin, Bang! Kemas : (Dengan nada tergesa-gesa) Nanti, nanti itu. Tenang saja, nanti ada cara lain. Nanti saja. Ayin : Selasa sa ya ke situ ya. Kemas : Gak usah! Gampang itu! Nanti, nanti. Saya sudah bicarakan dan sudah mendapatkan informasi dari sana. Ayin : Tapi begini, Bang .... Kemas : (memotong) Jadi begini, ini sudah saya umumkan. Ada alasan lain, nanti dalam perencanaan. Dengan ”pragmatik kritis” transkrip pembi caraan di atas dapat mengungkap banyak hal. Pertama, kedekatan antara Ayin dan Kemas ya ng antara lain tercermin lewat penyebutan Bang oleh Ayin kepada Kemas. Sebutan Bang untuk seorang Jampidsus bukanlah sebutan resmi, tetapi sarat dengan fitur keintiman relasi . Sebutan resmi seorang Jampidsus tentulah Pak. Apalagi ada sebutan Joker sebagai nama yang sengaja disamarkan oleh Ayin dan Kemas. Kedua, adanya tindak tutur tidak langsung dan tidak literal (dengan elipsis) seperti dalam penggalan berikut yang digunakan untuk menyembunyikan maksud: (5) Kemas : Jadi, tugas saya sudah selesai, kan? Ayin : Siap, tinggal .... Kemas : Sudah jelas kan? Itu gamblang! Sekarang tidak ada permasalahan lagi. Ayin : Bagus itu! Tuturan Kemas, Jadi, tugas saya sudah selesai, kan? merupakan tuturan tidak langsung. Maksud tuturan tersebut jika dilihat dengan kaca mata ”pragmatik kritis” agaknya semacam ”laporan” sekaligus ”tagihan” kepada Ayin at as pekerjaan yang telah dilakukan Kemas. Jika dikaitkan dengan praanggapan, tuturan Kemas jelas menunjukkan bahwa di antara mereka pernah terjadi pembicaraan (baca: transaksi) tentang kasus BLBI yang melibatkan Sjamsul Nursalim. Apalagi hal itu didukung tuturan balasan Ayin, Siap, tinggal .... . Kalimat elips itu jika dilanjutkan agaknya menjadi: Siap, tinggal menerima upahnya. Terlebih Kemas pun memberikan semacam jaminan: Sudah jelas kan? Itu gamblang! Sekarang tidak ada permasalahan lagi. Kasus jual-beli perkara dan penyuapan yang melibatkan para petinggi Kejagung semakin menarik karena Ayin dan Urip – meskipun bera da dalam ruang tahanan – masih terus saling

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 183 kontak lewat telepon genggam. Mereka membuat skenario agar dapat memberikan kesaksian yang sama saat ditanya oleh para hakim. (6) Ayin : (menelepon Urip) Urip : Iya Halo Ayin : Halo Pak Guru Urip : Iyaa... Ibu Guru Ayin : Jadi gini ya. In tinnya, besok itu sesuai keterangan beliau-beliau, sama yang kemarin. Itu kan dia itu sudah membantu Anda itu. Dia menyatakan itu dari awal 1, 2, 3 itu tidak ada indikasi. Jadi, besok seperti itu saja, seperti keterang an itu bapak 1 dan 2 yang dibaca di BAP saya. Itu bagus. Terus... Intinya, beso k tetep konsisten pada jumlah itu, angka itu. Perbengkelan itu kan sudah kan in inya, apa namanya.... Urip : Tempatnya? Ayin : Bukan, ininya proposal bengkel .... Urip : Iya. Ayin : Jadi semula itu bengkel kan juga logis itu. Urip : Ya. Ayin : Saya bilang, itu kan dulu ada tanah di situ, mengenai tanah.. U : Iya. Ayin : Minta inilah ... gitu ... nanti kan .... Tapi ditanyain bagaimana saudara terdakwa keterangannya. Nanti .... Sa ya bilang, ’Ya udah cukup, begitu memang ceritanya’ .... Gitu kan .... Urip : Iya... hmm .... Ayin : Tapi, ini yang diinget besok, itu pasti, itu, satu itu, yang paling ujung. Urip : Ya, hmm .... Ayin : Anda kan menghadap ke depan yang paling kiri. Anda kan menghadap lima rektor itu. Anda kan menghadap lima rektor, nah itu yang paling kiri (anggota majelis hakim Andi Bachtiar PAS ). Pasti, nanti dia .... pasti ngulitin. Biasa, namanya ujian. Jadi, dia pasti keras ininya. Tapi Anda kan ini juga sebagai Urip ngerti hukum. Saya juga gini ngerti hukum, pasal ini, ini, ini, enggak boleh men- judgement orang. Dia kan pokoknya negative thinker. Sama saya juga gitu. Satu itu aja. Ya kan?! Urip : Ya. Ayin : Pokoknya, ulangannya saya, enggak naik-naik aja. Urip : Ya. Ayin : Terus kalau yang masalah surat itu, ungkapan itu, terserahlah Anda membuatnya bagaimana. Anda yang paling penting intinya, begitu. Jadi mengambil alih seolah-olah dalam keadaan seperti ini, saya juga bagaimanalah. Saya enggak tega sama ibu, dia terlalu baik begini kan,, memberikan soal-soal ujian pada saya. Jadi saya juga tidak tahu harus mengembalikan ini. Mohonlah! Beginilah keadaan saya sebenarnya saya bicara. Pokoknya seperti yang semula, saya punya awal itu, kan saya buatannya. Paham kan?! Urip : Ya, saya konsisten kok orangnya. Ayin : Ok! Ok! Urip : Saya sebenarnya, anu, sungkan. Saya biasa anu kok malah ngalor-ngidul gitu. Ayin : Enggak, sebenarnya saya kan sudah konsultasi itu kan, itu baiknya kan, karena..... Ini Saudara aman enggak sih kalau saya giniin. Kalau saya ini nomor Singapura. Urip : Iya. Enggak, ini cuma sama is tri aja kok, cuma saya sendiri kok. Ayin : Nggak ada orang lain kan, nelpon-nelpon orang lain kan? Ke si itu, si Arab juga enggak? Urip : Enggak-enggak. Pembicaraan Ayin–Urip di atas dalam kaca mata “pragmatik kritis” amat kaya fenomena. Misalnya, antara lain, pertama, dalam keseluruha n wacana, tampak bahwa Urip berada di bawah kendali Ayin. Jawaban Ya dan Iya menunjukkan ketertundukan Urip kepada Ayin. Selain itu,

P. Ari Subagyo 184 Ayin menyebut Urip dengan Anda dan Saudara, bukan Bang sebagaimana jika Ayin menyebut Kemas. Kedua, Ayin dan Urip sudah saling kenal. Pe nanda saling kenal mereka tampak di awal percakapan ketika mereka saling menyapa dengan sebutan Pak Guru dan Ibu Guru meskipun setelah itu Ayin cenderung menjadi “atasan” Urip. Ketiga, digunakannya tindak tutur tidak litera l dengan metafora. Setelah dibuka dengan sebutan Pak Guru dan Ibu Guru, Ayin memegang kendali dengan menciptakan “konteks” di sekolah atau perguruan tinggi. Oleh karena itu, muncul metafora ujian, ulangan, rektor, dan enggak naik-naik aja . Metafora ujian dan ulangan digunakan untuk mengungkapkan maksud pertanyaan hakim di persidangan, rektor untuk ‘hakim’, dan enggak naik-naik kelas aja untuk ‘jawabannya jangan berubah’ atau ‘jawaban nya tetap sama dengan jawaban saya’. PENUTUP Makalah ini hendak menawarkan pendekatan “pragmatik kritis” sebagai paduan antara pragmatik (pendekatan sosiologis-empiris) da n CDA (pendekatan kritis). Alasannya, karena untuk menelaah atau menangani wacana-wacana tertentu, penjelasan pragmatik tidak mencukupi. Secara empiris maupun teoretis “pragmatik kritis” terbukti dapat diwujudkan. Tidak semua wacana dapat – dan perlu – ditangani dengan “pragmatik kritis”. Ranah jelajah ”pragmatik kritis” adalah wacan a-wacana (penggunaan bahasa lisan maupun tertulis) yang di dalamnya terkandung motif ideologis dan relasi kekuasaan yang bisa berdampak luas. Dengan “pragmatik kritis”, wacana-wacana seperti berita me dia massa, tajuk, pidato pejabat, pernyataan politisi, hingga perbincangan telepon mereka yang tersangkut kasus jual-beli perkara dan suap di Kejagung dapat diungkap lebih menyeluruh. Jika dikembalikan pada esensi “kritis” yang menjadi bagian dari CDA, “pragmatik kritis” diharapkan dapat menjadi kemampuan atau daya dalam mengungkap makna sosial wacana bahasa serta merefleksikan manusia penggunanya. CATATAN 1 Pendekatan sosiologis-empiris sebenarnya juga terkait dengan sosiolinguistik. Namun, pragmatik yang diacu karena lebih mengaitkan bahasa dengan konteks situasional daripada sosiolinguistik yang lebih berurusan dengan variabel-variabel sosial. 2 Dalam CDA dan kajian wacana media, kata kita menyangkut ”perspektif.” Renkema (1993: 144) membandingkan ”perspektif” dengan kamera dalam dunia sinematika. ”Perspektif” dapat dipersamakan dengan posisi kamera dalam melihat suatu objek. 3 ”Ideologi” Republika sebagai koran umat Islam dan ”ideologi” Suara Pembaruan sebagai koran umat Kristen terlihat jelas dalam opini dan keseluruhan wacana tajuknya. Judul yang dibuat kedua harian tersebut sekilas menunj ukkan sikap mereka yang berbeda terhadap eksekusi mati Amrozi, dkk. Republika membuat judul ”Amrozi dan Kawan-kawan”, sedangkan Suara Pembaruan memberi judul ”Mematahkan Terorisme”. Menurut rekonstruksi opini ya ng dilakukan Subagyo (2009), Republika beropini: ”Amrozi dkk. bukan teroris, dan kekerasan (teroris me) harus diakhiri.” Karena menurut Republika Amrozi dkk. bukan teroris, tetapi juga hanya korban, mereka patut didoakan bersama para korban lainnya. Hal itu juga selaras dengan penjelasan Mustofa Kamil Ridwan (Redaktur Bidang Khusus) dalam wawancana pada 3 Fe bruari 2003 tentang peristiwa Bom Bali I. Republika memiliki frame bahwa ”pelakunya ialah pihak asing, yakni Amerika Serikat (Fauzi, 2007: 206).

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 185 Di pihak lain, Suara Pembaruan beropini: ”eksekusi mati Amrozi dkk. merupakan penegakan hukum dan rasa kead ilan, tapi bukan akhir dari perang melawan terorisme.” Menurut Redaktur Senior Sabar S ubekti, dalam wawancara 11 Mei 2007, Suara Pembaruan memiliki frame: ”pelaku Bom Bali I adalah Amrozi dkk. beserta jaringan teroris.” 4 Ideologi dalam hal ini bukanlah yang dimaksud Foucault (1979) sebagai will to power (hasrat untuk berkuasa), melainkan dalam pengertian yang netral, yakni worldview (pandangan tentang dunia); atau ideologi dalam arti semiotik, yakni titik tolak ( term of reference) untuk melakukan produksi dan interpretasi pesan; bisa j uga nilai moral dari suatu simbol yang oleh Roland Barthes disebut mitologi (periksa Ha mad, 2004: 20). Atau, menurut van Dijk (1996), interpretation frameworks which ‘organize set of attitudes’ about other elements of society (kerangka tafsir yang me ngatur seperangkat perilaku’ atas elemen-elemen lain dari masyarakat). Karena itu, ideologi memberikan ‘ cognitive foundation (pondasi kognitif) bagi perilaku berbagai kelompok dalam masyarak at. Setiap kelompok memiliki ideologinya masing-masing sesuai kepenti ngan dan kedudukannya dalam kehidupan sosial (Fairclough, 1995: 17). Ideologi menyangkut power (kekuasaan) dan relation of power (relasi kekuasaan). Menurut van Dijk (1996: 84), kekuasaan adalah a property of relations between social groups, institutions or organization (sifat/kelengkapan hubungan antara kelompok, lembaga, atau organisasi sosial). Social power (kekuasaan sosial) berwujud kendali yang dijalankan oleh suatu kelompok atau organisasi (atau anggota-anggotanya) untuk mengatasi tindakan dan/atau pikiran (anggota-anggota) kelompok la in sehingga membatasi kebebasan bertindak pihak lain, atau mempengaruhi pengetahuan, perilaku, dan ideologinya. Kekuasaan kelompok atau lembaga akan “tersebar” sekaligus akan “terbatasi” untuk ranah atau lingkup sosial tertentu, seperti politik, media, hukum dan perunda ngan, pendidikan, atau perusahaan bisnis, sehingga membentuk ‘pusat-pusat’ kekuasaan dan kelompok elit (yang mengendalikan pusat- pusat itu) yang berbeda. 5 Dijelaskan Verschueren (1999:238), ideologi adalah any constellation of fundamental or commonsensical, and often normative, beliefs and id eas related to some aspect(s) of (social) ‘reality’ (‘konstelasi dari gagasan-gagasan dan keyakinan-keyakinan yang mendasar atau sesuai dengan pendapat umum, dan sering norma tif, terkait dengan sejumlah aspek dari kenyataan (sosial)). Ciri sesuai pendapat umum” dari gagasan dan keyakinan tersebut terwujud sebagai kenyataan bahwa gagasan atau keyakinan itu jarang dipersoalkan oleh anggota sebuah kelompok atau masyarakat. Itu berarti gagasan atau keyakinan bisa jadi dipersoalkan (meskipun tidak selalu dan tidak semata-mata) lebih secara implisit daripada dirumuskan secara eksplisit. 6 Sobur (2001: 3) mengakui bahwa pendekatan kua litatif, seperti analisis wacana dan analisis semiotik, masih tergolong baru dalam kajian me dia di Indonesia. Banyak kajian media masih dilakukan dengan pendeka tan kuantitatif model content analysis (analisis isi). Pengakuan Sobur itu menyiratkan bahwa model kajian medi a dengan analisis wacana (termasuk analisis wacana kritis), sebagaimana dilakukan dalam pene litian ini, memberi perspektif baru dan perlu terus dikembangkan. 7 Rekaman pembicaraan Ayin-Kemas sempat beredar di masyarakat, bahkan dijadikan nada panggil ( ring back tone, RBT) sebagai ungkapan kemarahan masyarakat sekaligus simbol memerangi korupsi. * Penulis berterima kasih kepada mitra bestari yang telah memberikan saran-saran untuk perbaikan makalah.

P. Ari Subagyo 186 DAFTAR PUSTAKA Asher, R.E. dan J.M.Y. Simpson (ed.). 1994. The Encyclopedia of Language and Linguistics, Volume 2. Oxford: Pergamon Press. Baryadi, I.P. 2002. Dasar-dasar Analisis Wacana dalam Ilmu Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Gondho Suli. Coulthard, C.C. dan M. Coulthard (ed.). 1996. Texts and Practices: Readings in Critical Discourse Analysis . London: Routledge Cummings, L. 1999. Pragmatics: A Multidisciplinary Perspective. New York: Oxford University Press. Eriyanto. 2001. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKIS. Fairclough, N. 1989. Language and Power. Harlow: Longman. Fairclough, N. 1995a. Critical Discourse Analysis: The Critical Study of Language. London: Longman. Fairclough, N. 1995b. Media Discourse. London and New York: Arnold. Fairclough, N. 2006. “Critical Di scourse Analysis as a Method in Social Science Research.” Dalam: Modak dan Meyer (ed.), 121-138. Fairclough, N. dan Ruth Wodak. 1997. Critical Discourse Analysis: An Overview. Dalam: Teun van Dijk (ed.). Discourse and Interaction. London: Sage Publications, 67-97. Halliday, M.A.K. 1978. Language as Social Semiotic: The Social Interpretation of Language and Meaning . Baltimore: University Park Press. Hamad, I. 2004. Konstruksi Realitas Politik dalam Media Massa: Sebuah Studi Critical Discourse Analysis terhadap Berita-berita Politik . Jakarta: Granit. Kaswanti Purwo, B. 1984. Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Kaswanti Purwo, B. 1990. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa: Menyibak Kurikulum 1984. Yogyakarta: Kanisius. Leech, G. 1983. Principles of Pragmatics. London: Longman. Levinson, S.C. 1983. Pragmatics. Cambridge: Cambridge University Press. Mey, J.L. 1993. Pragmatics: An Introduction. Oxford: Blackwell. Nasanius, Y. (e d.). 2009. KOLITA 7. Jakarta: Pusat Kajian Bahasa dan Budaya, Unika Atma Jaya. Renkema, J. 1993. Discourse Studies: An Introductory Textbook. Amsterdam: John Benjamin and Co. Publishing. Renkema, J. 2004. Introduction to Discourse Studies. Amsterdam/Philadelphia: John Benjamin Publishing Company. Sobur, A. 2001. Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing . Bandung: Remaja Rosdakarya. Subagyo, P.A. 2009. “Eksekusi Mati Amrozi, dkk. di Mata Republika dan Suara Pembaruan: Telaah Sekilas Critical Discourse Analysis atas Dua Wacana Tajuk.” Dalam: Nasanius (ed.), 201-207. Thornbury, S. 2005. Beyond The Sentence: Introducing Discourse Analysis. Oxford: MacMillan. Titscher, S., M. Meyer, R. Wodak, dan E. Vetter. 2000. Methods of Text and Discourse Analysis. London: Sage Publications.

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 187 van Dijk, T.A. 1996. “Discourse, Power and Access. Dalam: Coulthard dan Coulthard (ed.), 84- 104. Verschueren, J. 1999. Understanding Pragmatics. London: Arnold. Wijana, I D.P. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi. Wodak, R. 1996. Disorders of Discourse. London: Longman. Wodak, R. 2006. What CDA is about: A Summary of its History, Important Concept, and its Development.” Dalam: Wodak dan Meyer (ed.), 1-13. Wodak, R. dan M. Meyer (ed.). 2006. Methods of Critical Discourse Analysis. London: SAGE. P. Ari Subagyo parisana@staff.usd.ac.id / ari130267@yahoo.com Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Linguistik Indonesia Copyright 2010 by Masyarakat Linguistik Indonesia Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010, 189-199 PEMOSISIAN DALAM GENRE TE KS FIKSI, WAWANCARA, ILMIAH, TAJUK RENCAN A, DAN TEKS BERITA Sumarsih* Universitas Negeri Medan Abstract The present study attempts to look into engagement resources in five text genres, i.e. fiction, interview, academic, editorial, and ne ws story texts, in terms of the Appraisal theory. The result shows that engagement is prominent in the selected academic texts as they have the highest distribution of engagement tokens among the five genres. Specifically, the fiction genre has been characterized by the highest distribution of engagement resource of mau in the context of Engagement: Heterogloss: Expand: Entertain: Modality: Modulation among the genres while the academic genre does not record any of its use in the texts. In addition, news story is related to factualness as Heterogloss: Expand: Attribute: Acknowledge is used to support the news story being written. Key words: appraisal, engagement, genre PENDAHULUAN Sejak akhir 1990an satu kerangka eksplanatoris mu lai dikembangkan oleh satu tim peneliti yang bekerja dengan mengikuti tradisi Linguistik Fung sional Sistemik (LFS) dan dipengaruhi oleh tulisan-tulisan awal LFS tentang makna interp ersonal seperti tulisan-tulisan Lemke 1989; Macken-Horarik 1996; Poynton 1985, 1990; Thib ault 1992. Dengan merujuk kepada teori yang disebut dengan voice theory (periksa Coffin 2000:381399; White 1998: 176), kerangka eksplanatoris ini berkembang ke dalam satu kerangka yang dikenal kemudian dengan nama APRAISAL (Martin 1997, 2000).1 Kerangka ini merupakan jari ngan sistem pilihan semantik untuk menilai orang, benda, dan gejala. Tulisan ini mencoba melihat pemosisian dalam genre teks fiksi, wawancara, ilmiah, tajuk rencana, dan teks berita surat kabar dengan menggunakan pendekatan dan teori APRAISAL. Tulisan ini ingin menemukan apakah genre teks yang berbeda mengkodekan PEMOSISIAN dengan cara tertentu. Teori APRAISAL digunakan untuk menjawab perm asalahan ini karena teori ini dianggap mampu memberikan penjelasan yang lebih baik. Pendekatan APRAISAL menempatkan evaluasi sebagai salah satu kategori apraisal seperti yang dapat dilihat dalam defenisi yang diberikan White (2001). APRAISAL merupakan pendekatan yang meneliti, mendeskripsikan da n menjelaskan bagaimana bahasa digunakan untuk mengevaluasi, mengambil pendirian, meny usun persona tekstual dan mengelola penempatan dan hubungan interpersona l. Dengan demikian pendekatan APRAISAL meneliti bagaimana penutur bahasa dan penulis menilai orang secara umum, menilai penutur/penulis lainnya dan ucapan/tulisannya, objek material, kejadian dan keadaan sehingga dengan demikian penutur/penulis membentuk aliansi dengan or ang-orang yang berpandangan sama dan juga menjaga jarak dengan orang-orang yang berp andangan berbeda. Teori apraisal meneliti bagaimana sikap, penilaian dan tanggapan emo tif secara tegas diungkapkan dalam teks dan bagaimana kategori ini secara tidak langsung tersirat, dipraduga, atau diasumsikan. TEORI APRAISAL Berbeda dengan kerangka stansial yang bertum pu pada dua kategori utama seperti afek dan evidensialitas, kerangka teori APRAISAL ini mempunyai kategori lainnya yang disebut dengan

Sumarsih 190 PERTIMBANGAN (JUDGEMENT) dan APRESIASI (APPRECIATION), dua dimensi evaluasi yang menggunakan norma sosial untuk menilai bentuk da n perilaku manusia, konstitusi, dampak dan presentasi objek maupun entitas. Kerangka APRAISAL ini pada awalnya didasarkan pada tulisan- tulisan Martin tentang semantik wacana AFEK (Martin 1992, Martin 1997; 2000, dan beberapa lainnya). Perkembangan Teori APRAISAL Gambaran yang diberikan penutur tentang segi postif atau negatif sesuatu atau seseorang ini merupakan bagian dari jenis APRAISAL dalam bahasa. APRAISAL ialah cara penutur/penulis mengungkapkan evaluasi dan juga mencoba memp engaruhi reaksi petutur/pembaca. Martin (2000: 145) membatasi sistem APRAISAL sebagai “sumber daya leksikogramatika yang digunakan untuk menunjukkan em osi, pertimbangan (judgments) dan evaluasi, bersama-sama dengan sumber daya lainnya yang digunaka n untuk memperkuat dan melakukan evaluasi.” Sistem APRAISAL memberikan kita realisasi semantik interpersonal karena sistem ini harus berhubungan dengan bagaimana pe rasaan penutur, penilaian yang dibuat terhadap perilaku orang lain dan nilai yang diberikan kepada berbagai gejala pengalaman. Perhatian terhadap APRAISAL muncul dari proyek keberaksaraan (literasi), khususnya tentang peran evaluasi dalam naratif (Martin 1996, 1997b). Kemudian APRAISAL dikembangkan ke topik lainnya seperti kritik sastra, persoalan objektivitas dalam media, karya ilmiah, wacana sejarah, dan berbagai teks lainnya. Menggunaka n paradigma LFS, kajian-kajian ini memetakan sumber daya APRAISAL yang dapat digunakan da lam analisis wacana. APRAISAL bisa tersurat atau tersirat. APRAISAL disebut tersurat apabila terdapat pemarka linguistik yang jelas tentang evaluasi yang dilakuka n, apabila terdapat unsur yang dievaluasi, dan selama penilai tertentu bisa tentukan di dalam teks. Pemarka linguistik yang jelas ini misalnya bisa berupa modus, modalitas, unsur leksikal sikap, dan lainnya. Teori APRAISAL berkaitan dengan sumber daya li nguistik yang digunakan oleh penutur atau di dalam teks untuk mengungkapkan, me nunjukkan dan menaturalisasikan posisi atau pendirian antarsubjektif dan juga akhirnya posisi atau pendirian ideologis. Dalam ruang lingkup yang luas ini, teori APRAISAL secara khusus berkaitan dengan bahasa evaluasi, sikap dan emosi . Oleh karena itu, teori ini berkaitan dengan makna yang digunakan penutur atau di dalam teks untuk membeda-bedakan tingkat keter libatan penutur/penulis dengan bahasanya. Teori APRAISAL Awal (Martin 1992; 1994) Teori APRAISAL awal dimulai sejak akhir 1990an. Awalnya teori ini terdiri atas lima kategori pokok, yaitu MODALITAS, APRESIASI, AFEK, PERTIMBANGAN, dan AMPLIFIKASI. MODALITAS terdiri atas modalisasi dan modulasi. APRESIASI terdiri atas reaksi, komposisi, dan valuasi. AFEK meliputi kebahagiaan, keamanan, dan kepuasan. PERTIMBANGAN mempunyai subkategori sanksi sosial dan penghargaan sosial. Sementara itu, AMPLIFIKASI mempiliki subkategori pengayaan dan penguatan, yang masing-masi ng terdiri atas beberapa subkategori lagi. Sistem APRAISAL Terakhir (Martin dan Rose, 2003; Martin 2004) Dalam perkembangan terakhirnya, sistem APRAISAL dibagi tiga, yaitu PEMOSISIAN ( engagement), SIKAP (attitude), dan GRADUASI (graduation). SIKAP berkaitan dengan nilai yang digunakan penutur/penulis mengevaluasi perilaku manusia dan objek dan mengaitkan tanggapan emosional/afektual terhadap peser ta dan proses. “Sikap berkaitan dengan pengevaluasian sesuatu, sifat seseorang dan per asaan” (Martin dan Rose 2003:22). Evaluasi bisa dipertegas (yang berhubungan denga n graduasi) dan bisa tersurat di dalam teks atau bahasa atau tersirat (yang disebut juga dengan APRAISAL tersurat dan tersirat). Sikap bisa bersifat positif atau negatif. Perkembangan mutakhir Teori APRAISAL, yang mengelompokkan APRAISAL ke dalam tiga kategori ini dapat dilihat pada Gambar 1.

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 191 SIKAP terdiri atas tiga sistem: AFEK, PERTIMBANGAN dan APRESIASI. Sistem utama dalam sikap ialah afek. Afek berkaitan dengan perangkat sumber daya yang sering digunakan untuk memahami atau menafsirkan tanggapan dan kecondongan emosional positif dan negatif manusia. Martin dan Rose mendefinisikan AFEK sebagai “sumber daya untuk pengungkapan perasaan”, pertimbangan sebagai “sumber daya untuk memandang watak”, dan apresiasi sebagai “sumber daya untuk menghargai nilai sesuatu” (2003:24). Ketiga sistem ini bisa juga dipahami sebagai berikut: afek berhubungan dengan perasaan orang; pertimbangan berhubungan dengan watak dan perila ku orang; dan apresiasi berhubungan dengan nilai sesuatu dan gejala. Gambar 1. Kerangka APRAISAL (Martin, 2004:325) GRADUASI berkaitan dengan penguatan atau pene gasan evaluasi. Sikap sering berkaitan juga dengan tingkat karena sika p bisa dperkuat dan diperlemah. Graduasi dengan demikian berkaitan dengan sumber daya bahasa yang digunakan untuk meningkatkan atau menurunkan perasaan dan sikap. Graduasi terdiri atas Daya dan Fokus. Daya digunakan untuk memperkuat dan memperlemah tingkat evaluasi sementar a Fokus digunakan untuk mempertajam atau memperlunak kualitas sesuatu yang dibicarakan. PEMOSISIAN berkaitan dengan pemosisi an penutur/penulis dalam bahasanya. Pemosisian menggunakan sumber daya bahasa untuk memposisik an suara penutur/penulis berkaitan dengan proposisi dan proposal yang dibawakan bahasa atau teks. Sistem ini berkenaan dengan siapa yang membuat evaluasi di dalam teks. Di dalam teks mungkin terdapat sejumlah suara atau suara tunggal saja, yaitu suara penutur/penulis. Keterlibatan terdiri atas monoglos dan heteroglos.

Sumarsih 192 DATA DAN METODE Sampel sumber data yang berasal dari korpus web dikelompokkan ke dalam jenis atau genre teks berikut: a. teks fiksi, terdiri atas 5 cerita pendek dan 1 novelet yang berasal dari www.cybersastra.net, salah satu situs kesusasteraan Indon esia yang tersedia di internet. b. teks wawancara, terdiri atas 5 teks wawancara yang berasal dari: KOMPAS Cyber Media di http://www.kompas.com; WartaJazz.com di http://www.wartajazz.com/index.html; dan Blog Pemilu 2004 di http://enda.goblogmedia .com/blog-baru-blog-pemilu.html dan di http://pemilu.radio68h.com/news.asp?id=1621. c. teks ilmiah, yang terdiri atas 4 artikel ilmiah, yang terdiri atas 2 artikel berasal dari jurnal dan majalah ilmiah nasional. d. teks tajuk rencana, yang terdiri atas 3 teks tajuk rencana dari harian KOMPAS dan 3 teks tajuk rencana dari harian Media Indonesia. e. teks berita, yang terdiri atas 3 teks berita utama dari harian KOMPAS dan 3 teks berita utama dari harian Media Indonesia. Beberapa alasan yang dijadikan dasar untuk memilih kelompok teks di atas sebagai sumber data untuk penelitian ini ialah: (a) kem udahan akses terhadap sumber data; (b) masing- masing sumber data secara teoretis bisa merepr esentasikan genre penggunaan bahasa dalam teks tulis yang berbeda; (c) teks tulis merealisasika n sumber daya semantik interpersonal dengan cara yang berbeda dengan teks lisan; (d) masing-m asing jenis teks dalam sumber data di atas diasumsikan memanfaatkan sumber daya semantik interpersonal secara berbeda karena keempat kelompok teks di atas diasumsikan merealis asikan konteks situasi yang berbeda pula dalam penggunaan bahasanya; dan (e) keempat kelompok teks yang berbeda ini belum pernah diteliti secara bersama-sama dari segi bahasa evaluatif, khususnya teori apraisal. Metode analisis yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode konkordansi dan distribusi dengan menggunakan pera ngkat lunak program konkordansi Simple Concordance Program (SCP)2. Melalui program konkordansi, tiap kata apraisal yang termasuk ke dalam kategori PEMOSISIAN diteliti dari segi bentuk, kolokasi dan korkondansi dalam setiap distribusi frasa dan klausa dengan menggunakan model analisis (T abel 1). Selanjutnya, bagian-bagian data yang berhubungan secara semantik dengan parame ter evaluasi didistribusikan ke dalam beberapa konteks klausa secara sintagmatik dan paradigmatik. Setelah itu distribusi yang berbeda ditafsirkan secara gramatika dan seman tik untuk melihat status dan tipe kategori gramatika dan semantik yang muncul. Metode distribusi juga akan memperhatikan konteks ujaran. Konteks memang berpengaruh pada makna evaluatif karena ka jian evaluatif berkaitan dengan ruang yang melibatkan makna hurufiah, figur atif, dan fungsional. Kata bisa dapat memiliki makna evaluatif yang berbeda berdasarkan konteksnya atau di stribusinya dalam konteks ujaran. Kata ini bermakna ‘kemampuan’ atau modulasi dan ‘keizinan’ atau modalisasi dalam teks Dia bisa mengambil ujian itu .

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 193 Tabel 1. Model Klasifikasi PEMOSISIAN PEMOSISIAN HETEROGLOS Kontraksi ( Contract) Menyangkal ( Disclaim) Mengingkari ( Deny) Menandingi ( Counter) Menyatakan ( Proclaim) Menyetujui ( Concur) Menegaskan (Affirm) Mengakui (Concede) Mengucapkan ( Pronounce) Menyokong ( Endorse) Ekspansi ( Expand) Menerima ( Entertain) Modalisasi Modulasi Merujuk ( Attribute) Membenarkan ( Acknowledge) Menjauhi ( Distance) MONOGLOS Representasi HASIL DAN PEMBAHASAN Bagian ini menguraikan hasil an alisis terhadap leksis APRAISAL dalam genre fiksi, wawancara, ilmiah, tajuk rencana, dan berita surat kabar untuk membahas bagaimana keterlibatan (PEMOSISIAN) penutur/penulis dalam proposisi yang di bicarakan atau ditulisnya dikodekan dalam kelima genre ini. Secara khusus dibah as bagaimana pemetaan masing-masing kategori PEMOSISIAN dalam genre fiksi, wawancara, ilmiah, tajuk rencana, dan berita surat kabar. PEMOSISIAN, yang disebut dalam teori APRAISAL sebagai engagement, merupakan pemosisian suara penutur/penulis di dalam te ks. Pemosisian menggunakan sumber daya untuk menetapkan posisi penutur/penu lis dalam kaitannya dengan berbagai proposisi dan proposal yang dimaksudkan atau dimunculkan oleh teks . Pemosisian ini menggunakan dua cara, yaitu MONOGLOS dan HETEROGLOS. MONOGLOS adalah pernyataan yang jelas dan non-dialogis. MONOGLOS tidak merujuk dan melibatkan posisi terten tu dalam klausa. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini monoglos tidak dianalisis tetapi an alisis difokuskan pada wacana heteroglosik. HETEROGLOS adalah pernyataan dialogis yang melibatkan wujud lain di luar diri penutur/penulis. Dalam wacana heteroglosik penutur/penulis memberi ruang untuk posisi alternatif. Sumber daya HETEROGLOS terdiri atas dua kategori, yaitu KONTRAKSI dan EKSPANSI. Tabel 2. Analisis Kosakata dan Rasio Tipe Token Leksikon PEMOSISIAN Teks Analisis Fiksi Wawancara Ilmiah Tajuk Rencana Berita Tipe 52 47 56 38 29 Token 809 746 865 239 104 VL* 06,42% 06,30% 06,47% 15,89% 27,88% VL = Variasi Leksikal Tabel 2. menggambarkan jumlah tipe dan token leksis sumber daya PEMOSISIAN dalam genre fiksi, wawancara, ilmiah, tajuk rencana, da n berita surat kabar. Jumlah leksis Pemosisian yang paling banyak ditemukan pada genre teks ilmiah namun dengan variasi lekikal yang relatif rendah bila dibandingkan dengan ge nre teks tajuk rencana dan genre teks berita surat kabar. Perbedaan variasi leksikal di antara kelima genre teks ini di antaranya disebabkan oleh jumlah tipe atau leksis secara keseluruhan tidak berimbang. Jumlah tipe dalam genre teks fiksi,

Sumarsih 194 wawancara, dan ilmiah memang jauh lebih besar dibandingkan jumlah tipe atau kata dalam teks tajuk rencana dan berita sura t kabar. Dengan demikian, perbedaan ini juga mempengaruhi jumlah token pada masing-masing teks. Fokus pembahasan pada bagian ini ad alah bagaimanakah keterlibatan (PEMOSISIAN) penutur/penulis dalam proposisi yang dibicarakan atau ditulisnya dikodekan dalam teks. Untuk itu, dua hal dilakukan, yaitu (a) menganalisis leksis PEMOSISIAN yang ditemukan pada kelima genre teks; dan (b) me nganalisis leksis PEMOSISIAN yang unik pada setiap genre teks, yaitu leksis PEMOSISIAN yang kemunculannya hanya dite mukan pada satu genre saja. Untuk memperoleh leksis PEMOSISIAN agar dapat digunakan bagi dua tujuan di atas, daftar kata PEMOSISIAN dari teks fiksi, wawancara, ilmiah, tajuk rencana, dan berita surat kabar digabung dalam satu kolom. Ke mudian dengan menggunakan SCP, gabungan daftar kata dari kelima genre teks ini dianalisis untuk memp eroleh frekuensinya. Hasil analisis akan mendaftarkan leksis PEMOSISIAN yang mempunyai frekuensi 1 sampai 5 kemunculan. Jumlah 5 kemunculan berarti bahwa leksis ini muncul pada seluruh genre teks. Jumlah 4, 3, atau 2 kemunculan berarti leksis terse but hanya muncul dalam 4, 3, atau 2 genre teks saja. Sementara itu, jumlah 1 kemunculan menunjukkan keunikan leksis tersebut terhadap satu genre teks karena leksis tersebut hanya muncul pada satu genre saja. Leksis PEMOSISIAN dalam Semua Genre Tabel 3 menggambarkan 15 leksis dan frekuensinya dari sumber daya PEMOSISIAN yang ditemukan pada semua genre teks. Frekuensi m asing-masing leksis ini berbeda dari satu genre teks ke genre teks lainnya. Leksis akan ditemukan paling tinggi frekuensinya dalam teks fiksi. Tiga genre teks mempunyai le ksis yang sama, yaitu leksis tidak sebagai leksis tertinggi frekuensinya. Ketiga genre teks ini adalah teks wawancara, teks ilmiah, dan teks tajuk rencana. Sementara itu dalam teks berita surat kabar ditemukan leksis mengatakan sebagai leksis tertinggi frekuensinya. Tabel 3. Leksis PEMOSISIAN yang Ditemukan dalam Seluruh Genre No Leksis Teks Fiksi Wawancara Ilmiah Tajuk Berita 1 akan 55 44 48 12 10 2 bahwa 14 53 123 11 6 3 belum 16 23 11 4 2 4 benar 5 14 6 4 1 5 bisa 40 71 3 40 3 6 bukan 46 35 23 7 2 7 dapat 15 11 111 6 3 8 harus 35 41 31 12 1 9 ingin 14 9 7 3 2 10 mau 30 19 7 2 1 11 mengatakan 3 3 21 2 14 12 menurut 1 42 22 2 6 13 pernah 32 24 13 2 2 14 tetapi 3 18 27 11 2 15 tidak 44 150 141 69 11

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 195 Tidak seluruh kelima-belas leksis PEMOSISIAN ini menyebar dalam semua kategori PEMOSISIAN. Untuk mengetahui penyebaran leksis ini dalam model PEMOSISIAN diperlukan analisis konteks klausa masing-masing leksis pa da masing-masing genre teks. Alat konkordansi SCP digunakan untuk memindai konteks klausa ini dalam kelima genre teks. Dalam teknik konkordansi istilah ini disebut Key Word in Context (KWIC). Analisis ini akan menentukan status apraisal leksis in i dan menetapkan kategori PEMOSISIAN yang seusai terhadapnya. Leksis PEMOSISIAN yang Unik dalam Setiap Genre Dengan menggunakan SCP, dalam genre teks yang diteliti juga ditemukan sejumlah leksis APRAISAL yang unik terdapat pada genre tertentu saj a. Misalnya, genre teks fiksi mempunyai 5 leksis PEMOSISIAN dengan frekuensi atau token yang berki sar dari 1-8 kemunculan dalam teks, yang tidak ditemukan pada genre teks wawancara, teks ilmiah, teks tajuk rencana, dan teks berita. Dalam teks wawancara, te ks ilmiah, dan teks berita masing-masing ditemukan 4, 7, dan 3 leksis PEMOSISIAN yang unik utuk jenis teks ini saja. Namun, dalam teks tajuk rencana tidak ditemukan satupun leksis PEMOSISIAN yang unik. Gambaran tersebut dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini. Tabel 4. Leksis PEMOSISIAN yang Unik dalam Seluruh Genre No Leksis Genre Teks Fiksi Wawancara Ilmiah Tajuk Rencana Berita 1 berkata 8 0 0 0 0 2 bolehlah 1 0 0 0 0 3 janganlah 2 0 0 0 0 4 menyerukan 1 0 0 0 0 5 mungkinkah 1 0 0 0 0 6 faktanya 0 1 0 0 0 7 memutuskan 0 2 0 0 0 8 mendeklarasikan 0 1 0 0 0 9 Rasanya 0 1 0 0 0 10 Disebutkan 0 0 1 0 0 11 Gemar 0 0 1 0 0 12 Jelaslah 0 0 2 0 0 13 Membantah 0 0 1 0 0 14 Menambahkan 0 0 5 0 0 15 mengemukakan 0 0 13 0 0 16 Wajib 0 0 5 0 0 17 Dilaporkan 0 0 0 0 1 18 Rela 0 0 0 0 1 19 Menegaskan 0 0 0 0 1 Total Tipe/Token 5/13 4/5 7/28 0/0 3/3 Analisis konkordansi dilakukan terhadap k esembilanbelas leksis yang unik ini untuk mengetahui status pemosisiannya. Dari konteksnya dapat diamati apakah leksis ini termasuk kedalam kelompok PEMOSISIAN atau tidak. Seperti yang tertera pada Tabel 4, teks fiksi mencatat 5 leksis PEMOSISIAN dalam teks. Berdasarkan analisis konteks masing-masing le ksis ini dalam baris konkordansi ditemukan bahwa tidak semua frekuensi mempunyai makna PEMOSISIAN. Dari konteksnya diketahui bahwa leksis berkata tidak seluruhnya melibatkan diri penutur/penulis ataupun orang lain dalam proposisi. Hanya dua token leksis berkata yang mempunyai makna PEMOSISIAN: HETEROGLOS:

Sumarsih 196 EKSPANSI: MERUJUK: MEMBENARKAN (diberi cetak miring dalam konteks konkordansi di bawah ini): bagus, ia bilang busuk akupun berkata busuk. Orang-orang sekelilingku mengambil seluruh hidupku dan berkata itu semua ia lakukan demi harus mati dulu," Jelihim berkata sendiri. /Matanya yang " Orang-tua berjingkrak itu berkata ke Jelihim. /"Bangsat, makimu. Supaya kau bisa berkata baik besok, ha ha ha,. Dalam terbang Jelihim berkata, "Maaf bila ku tak sopan yang ada di dekatnya setiap berkata itu./"Ada apa Rentasan bukan kekuasaanmu," Jelihim berkata pelan. Udara perlahan normal Leksis lainnya yang mempunyai makna interpersonal PEMOSISIAN adalah bolehlah dan janganlah . Masing-masing leksis ini mempunyai konteks sebagai PEMOSISIAN berikut: bolehlah PEMOSISIAN: HETEROGLOS: EKSPANSI: MENERIMA: MODALITAS: MODULASI janganlah PEMOSISIAN: HETEROGLOS: KONTRAKSI: MENYANGKAL: MENGINGKARI mungkinkah PEMOSISIAN: HETEROGLOS: EKSPANSI: MENERIMA: MODALITAS: MODALISASI Dalam genre teks wawancara terdapat empat lesis yang unik untuk teks ini. Artinya, leksis ini tidak ditemukan dalam teks lainnya yang me njadi objek kajian. Dari keempat leksis ini hanya tiga leksis yang termasuk PEMOSISIAN, yaitu memutuskan, mendeklarasikan, dan rasanya . Dari dua token leksis memutuskan ternyata hanya satu yang mempunyai makna interpersonal PEMOSISIAN (lihat cetak miring), yang diikuti dengan klausa bahwa. Konteks klausa ketiga leksis ini dalam genre wawancar a dapat dilihat dalam baris konkordansi berikut: asumsi itu dengan apakah ada faktanya di lapangan./Bukan itu sebagian pihak untuk memutuskan hubungan diplomatik Itu misalnya praperadilan memutuskan bahwa memang penangkapan peristiwa itu, Presiden Bush mendeklarasikan perang terhadap dengan amplifier 50 watt yang rasanya sudah hebat waktu itu. Ketiga leksis ini, yaitu memutuskan, mendeklarasikan, dan rasanya mempunyai konteks PEMOSISIAN yang tidak sama. Kedua leks is pertama termasuk jenis MERUJUK sementara yang terakhir mempunyai kategori MENERIMA. Konteks ketiganya dapat diamati sebagai berikut: memutuskan PEMOSISIAN: HETEROGLOS: EKSPANSI: MERUJUK: MEMBENARKAN mendeklarasikan PEMOSISIAN: HETEROGLOS: EKSPANSI: MERUJUK: MEMBENARKAN rasanya PEMOSISIAN: HETEROGLOS: EKSPANSI: MENERIMA: MODALITAS: MODALISASI Dalam genre teks ilmiah terdapat tujuh lesis yang unik untuk teks ini. Ini berarti, ketujuh leksis ini tidak ditemukan dalam teks lainnya yang menjadi objek kajian. Semua leksis ini termasuk PEMOSISIAN. Frekuensi atau jumlah token ketu juh leksis ini berbeda-beda. Yang terbanyak adalah leksis mengemukakan dengan 15 frekuensi kemunculan dalam teks. Genre teks tajuk rencana surat kabar tidak mempunyai leksis pemosisian yang unik. Sementara itu, dalam genre teks berita surat kaba r terdapat tiga leksis yang unik untuk teks ini. Semua leksis ini termasuk PEMOSISIAN. Konteks klausa ketiga leksis ini dalam genre teks berita surat kabar dapat dilihat da lam baris konkordansi berikut: Seorang pemimpin Talib lokal dilaporkan mengancam menyambut Rawalpindi. "Para ahli bedah menegaskan bahwa dia telah meninggal yang dihadapinya. /"Saya rela menempatkan diri saya dalam

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 197 Leksikon PEMOSISIAN yang Unik dalam Setiap Genre Dalam kelima genre teks yang di analisis, terdapat 19 leksis PEMOSISIAN yang bersifat unik, yaitu hanya ditemukan pada jenis teks terten tu saja. Berdasarkan analisis konteks klausa masing-masing leksis melalui an alisis konkordansi terhadap leksis unik yang ditemukan pada kelima genre, berikut ini juga ditawarkan sat u model bagi kelima genre teks yang dijadikan kajian. Model ini didasarkan pada 19 leksis PEMOSISIAN yang unik yang ditemukan dalam genre teks fiksi, teks wawancara, teks ilmiah, teks tajuk rencana, dan teks berita surat kabar. Seperti yang telah diuraikan di atas, ternya ta tidak semua 19 leksis yang terjaring dari seluruh genre teks deng an menggunakan kata kunci PEMOSISIAN mempunyai makna PEMOSISIAN. Makna interpersonal PEMOSISIAN sangat ditentukan oleh konteks leksis tersebut di dalam klausa. Misalnya, leksis menurut termasuk ke dalam leksis APRAISAL yang sama dengan mengatakan , yaitu PEMOSISIAN: HETEROGLOS: EKSPANSI: MERUJUK: MEMBENARKAN. Teks fiksi mencatat hanya satu kemunculan leksis menurut di dalam teks. Leksis menurut yang ditemukan dalam genre teks fi ksi tidak termasuk ke dalam PEMOSISIAN: HETEROGLOS: EKSPANSI: MERUJUK: MEMBENARKAN. Dari segi konteksnya, leksis ini tidak mempunyai makna pemosisian sama sekali. layang-layang./Sebagian menurut. Berlari dengan benang Dari segi konteksnya, genre teks berita bersifat faktual. Token PEMOSISIAN: HETEROGLOS: EKSPANSI: MERUJUK: MEMBENARKAN digunakan untuk mendukung laporan berita yang ditulis. itu masih simpang siur. Menurut saksi mata, terdengar suara di bagian kepala dan dada. Menurut keterangan polisi, pelaku Negeri Pakistan kepada AFP. // Menurut sumber di kementrian dan saat ini," katanya. // Menurut Cheema berdasarkan kesaksian massa mulai membubarkan diri. Menurut wartawan AFP di lokasi rapat umum kampanye, demikian menurut para pembantunya. Bersama KESIMPULAN Dari segi sumber daya APRAISAL, sumber daya PEMOSISIAN dapat dikatakan sebagai ciri genre teks ilmiah karena genre teks ini mempunyai distribusi yang paling tinggi dari segi token PEMOSISIAN dibandingkan genre teks lainnya.Token PEMOSISIAN: HETEROGLOS: EKSPANSI: MENERIMA: MODALITAS: MODULASI mau juga menjadi ciri genre teks fiksi karena distribusinya yang sangat tinggi dalam teks ini. Token ini tidak menjadi ciri dalam genre teks ilmiah karena tidak satu pun ka ta modal ini dalam token PEMOSISIAN: HETEROGLOS: EKSPANSI: MENERIMA: MODALITAS: MODULASI. Peran konteks sangat penting dalam mengungkapkan sumber daya semantik evaluasi seperti PEMOSISIAN. Konteks sangat menentukan apakah kategori atau unit linguistik merepresentasikan atau tidak termasuk merepresentasikan sumber daya semantik evaluasi yang ada. CATATAN 1 Sesuai konvensi kategori Apraisal akan ditulis dalam huruf kapital kecil (small caps). 2 SCP adalah program konkordansi dan daftar kata, yang bisa digunakan untuk membuat daftar kata dan menelusuri teks bahasa alami untuk mencari kata, frasa, dan polanya. Perangkat lunak ini dapat diunduh secara cuma-cuma dari lamannya di internet: http://www.textworld.com/scp/. * Penulis berterima kasih kepada mitra bebestar i yang telah memberikan saran-saran untuk perbaikan makalah.

Sumarsih 198 DAFTAR PUSTAKA Christie, F. dan Martin, J.R. (ed.). 1997. Genres and Institutions: Social Processes in the Workplace and School . London: Cassell. Coffin, C. 2000. History as Discourse: Construals of Time, Cause and Appraisal. Disertasi Ph.D., University of New South Wales. Davies, M. dan L. Ravelli. (ed.). 1992. Advances in Systemic Linguistics. Recent Theory and Practice. London: Pinter Publishers. Foley, J. (ed.). 2004. Language, Education and Discourse. London: Continuum. Halliday, M.A.K. 1994. Introduction to Functional Grammar, Edisi Kedua. London: Arnold. Hovy, E.H. dan D.R. Scott (ed.), Computational and Conversational Discourse: Burning Issues – an Interdisciplinary Account . Heidelberg: Springer. Hunston, S. dan G. Thompson. (ed.). Evaluation in Text. Oxford, Oxford University Press. Lemke, J.L. 1992. “Interpersonal Meaning in Discourse: Value Orientations.” Dalam: Davies dan Ravelli (ed.). Macken-Horarik, M. 1996. Construing the Invisible: Specialized Literacy Practices in Junior Secondary English. Disertasi Ph.D, University of Sydney. Martin, J.R. 1992. English Text: System and Structure. Amsterdam: Benjamins. Martin, J.R. 1994. “Macro-Genres: the Ecology of the Page.” Network 21, 29-52. Martin, J.R. 1996. “Types of Structure: Decons tructing Notions of Constituency in Clause and Text.” Dalam: Hovy dan Scott (ed.), 39–66. Martin, J.R. 1997a. “Linguistics and th e Consumer: Theory in Practice.” Linguistics and Education 9.4, 40946. Martin, J.R. 1997b. “Analysing Genre: Functiona l Parameters.” Dalam: Christie dan Martin (ed.), 3-39. Martin, J. R. 2000. “Beyond Exchange: APPRAISA L Systems in English.” Dalam: Hunston dan Thompson (ed.). Martin, J.R. 2004. “Sense and Sensibility: Text uring Evaluation.” Dalam: Foley (ed.), 270–304. Martin, J.R. dan D. Rose. 2003. Working with Discourse: Meaning Beyond the Clause. London: Continuum. Poynton, C. 1985. Language and Gender: Making the Difference. Geelong, Vic.: Deakin University Press. Poynton, C. 1990. Address and the Semiotics of Social Relations: a Systemic–Functional Account of Address Forms and Practices in Australian English . Disertasi Ph.D, University of Sydney. Siregar, B.U. 2005. “Menjajaki Bahasa Evalua tif: Evaluasi, Sikap Mental, dan Apraisal. Naskah yang tidak dipublikasikan. Sumarsih. 2009. Penggambaran Sikap, Pendirian, dan Penilaian dalam Teks Dan Konteks Melalui Bahasa Evaluatif . Disertasi Doktor, Universitas Sumatera Utara. Thibault, P. 1992. “Grammar, Ethics and Unde rstanding: Functionalist Reason and Clause as Exchange.” Social Semiotics 2.1, 13575.

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 199 White, P. 2001. http://www.grammatics.com/appraisal/Appraisal Guide [7 Juni 2005]. White, P.R.R. 1998. Telling Media Tales: The News Story as Rhetoric. Disertasi Ph.D., University of Sydney. White, P.R.R. 2003. “ Beyond Modality and Hedging: A Dialogic View of the Language of Intersubjective Stance.” Text 23.2, 259284. Website : http://enda.goblogmedia.com/blog-baru -blog-pemilu.html [14 Juni 2005] http://pemilu.radio68h.com/new s.asp?id=1621 [14 Juni 2005] http://www.kompas.com [12 Juni 2005] http://www.textworld.com/scp/ [11 Juli 2007] http://www.wartajazz.com/index.html [12 Juni 2005] Sumarsih isih58@yahoo.com Universitas Negeri Medan

Linguist ik IndonesiaCopyright 2010 by Masyarakat Linguistik IndonesiaTahun ke-28, No. 2, Agustus 2010, 201-217TIPE PROSES DALAM BERBAGAI TEKS DALAM KORANSERTA PENGUNGKAPANNYA DENGAN KELAS KATA VERBA BAHASA INDONESIASiti Wachidah*Universitas Negeri JakartaAbstractThe paper reports on a study that investigated the various Indonesian newspaper texts with the systemic functional approach for the purpose of identifying the process types andthe lexicogrammatical patterns representing each process type. This is concerned with the metafunction of the clause to represent experience (experiential metafunction). According to Systemic Functional Linguistics, the only kind of experience expressible inlanguage is the process, which incorporates the participant(s) and the circumstance(s)surrounding it. The data consisted of 420 clauses from 16 texts on various topics,including newspaper columns, editorials, letters from the readers, and public figurefeatures from eight prominent newspapers in Indonesia. Results revealed five types ofprocess deployed in the newspaper textsmaterial, relational, verbal, mental andexistential processes. Each process is represented always by a verb (not a verbal group),with or without affixes. The relational process is the highest for the tendency to ellipsizethe verb from the clause. This, however, does not reduce the importance of the verb asthe primary element of the predicate of the clause. The study also found that everyprocess type has its unique preferences of the lexicogrammatical forms of the verb. Key words: clause, material process, relasional process, verbal process, mental process, existential process, affixes.PENDAHULUAN Tata bahasa bahasa Indonesia yang ada selama ini pada umumnya merupakan hasil pemerian secara formal pada tataran sintaksis berdasarkan bentuk bahasa yang tampak secara kasat mata serta mempertimbangkan unsur yang berada di sebelah kiri atau kanannya (lihat a.l. Alwi, dkk., 1998; Kridalaksana, 2002; Chaer, 2009). Klausa merupakan satuan yang biasa digunakan untuk memerikan tata bahasa bahasa Indonesia karena dapat secara lengkap menampung semua satuansintaksis pada tataran di bawahnya. Menurut buku ‘Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia’ edisiketiga (Alwi, dkk., 1998) klausa adalah satuan sintaksis yang memiliki konstituen pokok predikat, yang “disertai konstituen subjek di sebelah kiri dan, jika ada, konstituen objek, pelengkap, dan/atau keterangan wajib di sebelah kanan (hal. 326). Subjek adalah fungsi sintaksis terpenting kedua setelah predikat (hal. 327). Dinyatakan dalam buku ini bahwa setiap konstruksi sintaksis yang terdiri atas unsur subjek dan pr edikat (tanpa memperhatikan intonasi atau tanda baca akhir) adalah klausa (hal 313). Dengan demikian, secara lengkapklausa terdiri atas dua konstituen wajib, yakni subjek dan pr edikat dan tiga konstituen tida k wajib, yakni objek, pelengkap, dan keterangan. Dalam bahasa Indonesia, kelima unsur tersebut menghasilkan enam tipe kalimat dasar: (1) S-P, (2) S-P-O, (3) S-P-Pel, (4) S-P-Ket, (5) S-P-O-Pel, dan (6) S-P-O-Ket (hal. 322). Konstituen predikat pada umumnya berupa verba/frasa verbal, namun dapat juga berupaberupa adjektiva/frasa adjektival, nomina/frasa nominal/pronomina persona, numeral, atau frasapreposisional. Fungsi predikat juga seringkali ditandai oleh partikel –lah yang melekat pada kataatau frasanya. Konstituen subjek biasanya berupa nomina/frasa nominal/pronomina persona, atau klausa. Objek juga berupa nomina/frasa nominal/pronomina persona, atau klausa. Namun, berbeda denga n subjek, nomina objek untuk benda tak bernyawa, atau personal ketiga tungga l

Siti Wachidah202dapat diganti dengan pr onomina–nya; pronomina aku atau kamu (tunggal) dapat diganti denga nku dan mu. Konstituen pelengkap berwujud nomina/frasa nominal/pronomina persona,adjekt iva/frasa adjektival, verba/frasa verbal, frasa prepos isional, serta klausa. Konstituen keterangan, yang letaknya dalam klausa tidak pasti, biasanya berupa adverbia/frasa adverbialatau frasa preposisional (Alwi, dkk., 1998:326-332). Denga n menggunakan pendekatan fu ngsional sistemik, ternyata didapat hasil analisistentang klausa bahasa Indonesia yang berbeda (lihat Wachidah, 2005). Tidak sa ma halnyadengan pendekatan struktural, kajian bahasa dala m tradisi Linguistik Fungsional Sistemik (LFS)dikerjakan dengan menggunakan korpus yang terdiri atas teks dari sumber-sumber yang benar- benar digunakan dalam kehidupan nyata (Halliday dan Matthiessen, 2004:3). Hal ini sesuai dengan definisi t eks yang diberikan oleh Hallida y dan Hassan (1985:10), yaitu s ebagai bahasayang memerankan suatu fungsi nyata bagi manusia. Teks dihasilka n mela lui proses pemilihan dan penentuan makna serta cara pengu ngkapannya dalam bentuk dan struktur yang dipilih dari sekian banyak yang tersedia dalam suatu jaringan sistem leksikogramatika ( lexicogrammar)bahasa yang bersangkutan (Halliday dan Matthiess en, 2004:23). Dala m panda ngan ini teksbukan terdiri atas satuan-satuan sintaksis, melainkan sebagai sistem yang terdiri atas konfigurasi ma kna utuh yang terwujud dala m satuan-satuan sintaksis berupa klausa. Sama halnya dengan pendekatan struktural, pendekatan LFS juga menempatkan klausasebagai satuan pokok untuk analisis bahasa (Halliday dan Matthiess en, 2004:10). Kalimat tida kdianggap sebagai satuan makna tersendiri tetapi hanya sebagai satuan ortografis untuk penyampaian secara tertulis. Namun berbeda dengan pandangan tentang klausa selama ini,dala m pandangan LFS, setiap klausa memera nkan tiga metafu ngsi sekaligus (Hallida y da n Matthiessen, 2004:29-30). Pertama, klausa berperan mengungkapkan pengalaman, yaitu hal-hal yang dilakukan/terja di, dirasakan, dipikirkan, dikatakan, diasosiasika n, dsb. Metafungsi inidisebut ideasional atau eksperiensial ( clause as representation). Pada saat yang sama klausajuga berfu ngsi mela kukan hubungan denga n orang lain, untuk mela kukan interaksi sosia l dan personal, seperti memberitahu, bertanya, menyarankan, menawarkan, dsb. Dalam hal ini klausa memerankan metafu ngsi int erpersonal ( clause as exchange). Metafungsi lainnya adalah tekstual( clause as message ) yang mengatur urutan makna dala m diskursus yang memungkinka npenyampaian pesan secara koheren dan mengalir secara lancar sehingga pesan dapattersampaikan dengan tepat dan muda h. Metafungsi ini bersifat fasilitatif terhadap keduametafungsi lainnya. Dalam analisis struktur sintaksis klausa sebagai alat pengungkap pengalaman terhadap382 klausa yang berasal dari 15 teks yang diambil dari delapan koran terkemuka di Indonesiayang membahas berbagai topik dalam berbagai jenis teks, Wachidah (2005) menemukan bahwapada dasarnya hanya ada satu varian klausa dalam bahasa Indonesia karena memang hanya ada satu varian makna eksperiens ial yang dapat direpresentasikan klausa, yaitu proses yang merupakan satuan dari tiga unsur: proses, partisipan, dan lingkup situasi. Satuan sintaksis klausaterbentuk secara bersama-sama oleh kelas kata verba, yang merepresentasikan proses, kelas kata nomina/kelompok nominal/klausa nominal dan pronomina, yang merepresentasikan partisipan, dan kelas kata adverbia/kelompok adverbial/klausa adverbial dan frasa preposisional (preposisi+ nomina/kelompok nominal/klausa nominal pronomina persona), yang merepresentasikanlingkup situasi. Penelitian yang dilaksanakan pada tahun 2005 tersebut juga menemukan bahwakonstituen predikat bahasa Indonesia selalu diduduki hanya oleh kelas kata verba. Temuan iniberbeda denga n pandanga n yang didasarkan pada bukti for mal ya ng kasat mata, yang mengidentifikasi empat kelas kata yang dapat berfungsi sebagai predikat, yaitu adjektiva/frasa adjektival, nomina/frasa nominal/pronomina persona, numeral, atau frasa preposisional (Alwi,dkk., 1998:332). Berdasarkan analisis LFS, variasi tersebut hanya merupakan akibat dari penerapan teknik pelesapan jenis kata kerja tertentu dalam bahasa Indonesia, yang tampaknya

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010203didasarkan pada suatu prinsip bahwa jika suatu unsur makna telah diketahui oleh si pendengar atau pembaca melalui konteks situasi komunikatif yang ada, pengungkapan makna tersebut secara eksplisit dala m bentuk kata-kata dapat dianggap sebagai ha l yang tidak perlu atau bahka n tida k bisa diterima.Temuan tersebut baru memberikan ga mbaran umum tentang satuan-satuan sintaksispembentuk klausa, dan belum mengga mbarkan satuan s intaksis apa saja yang dipilih untukmengungkapkan setiap jenis pengala man (proses) dala m teks yang dipilih dala m suatudiskursus. Adalah suatu keharusan dalam tradisi LFS untuk mengaitkan bentuk bahasa denganma kna atau fungsi yang diperankannya da la m setiap proses u ntuk mencapai tujuan teks. Menurut Halliday and Matthiessen (2004: 170), pengalaman manusia dapat digolongkan hanya ke da la m beb erapa tipe pros es ( process types) yang masing-masing memilih unsurleks ikogra matika tertentu untuk mengungkapkannya dari yang tersedia dala m setiap bahasa. Ada ena m tipe proses yang telah diidentifikasi, yait u (1) proses material (terwujud) b erupa tinda kan atau kejadia n, (2) proses mental, (3) proses relasional (pengaitan), (4) proses verbal,(5) proses eksistensial (keberadaan), dan (6) proses behavioral. Sistem transitivitas setiap bahasamenyedia kan kata-kata dan tata bahasa yang mengatur pemilihan kata serta bentuk dan tatanannya untuk mer epr esentasikan setiap tipe proses. Pemaha man terhadap struktur klausa menca kup p emahaman t erhadap ketiga unsur didalamnya, yaitu kelas kata verba (sebagai alat pengungkap proses), kelas kata nomina (sebagaialat pengungkap partisipan), dan kelas kata adverbia atau frasa preposisional (sebagai alat pengungkap lingkup situasi). Fokus penelitian kali ini adalah pada sistem transitivitas yangterkait hanya dengan unsur pokok klausa, yaitu kelas kata verba. Untuk mendapatkan hasil yang dapat merepresentasikan berbagai wacana, penelitian ini menggunakan data yang diambil dari berbagai teks yang dimuat di koran, seperti berita, tajuk rencana, surat pembaca, dan pemaparantokoh. Berbagai teks tersebut melibatkan penggunaan ragam bahasa lisan dan tulis, formal sertainformal, sehingga diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang pemilihan dan penggunaan unsur leksikogramatika dalam klausa dibandingkan dengan jenis teks lain. Pertanyaan penelit ian yang diajukan adalah (1) tipe-tipe proses apa saja yang dipilih,dan (2 ) b entuk leks ikogra matika apa saja yang dipilih untuk satuan sintaksis verba yang mer epr es entasika n s etia p tip e proses? METODE PENELITIAN Pengumpulan Data Data yang diguna kan dala m penelitia n kali ini adalah 420 klausa dari 16 teks p endek (berkisar antara 15 klausa sampai 49 klausa per teks) dalam rubrik berita, surat pembaca, tajuk rencana dan tokoh, dari delapan koran terkemuka di Indonesia. Teks koran dipilih karena jenis teks tersebut digunakan (ditulis, dibaca, diucapkan, disimak) secara luas oleh berbagai kalangan masyarakat, dan di dalamnya terdapat ragam bahasa tulis dan lisan, formal serta informal. Datadikumpulkan dengan cara menyalin setiap teks. Teks kemudian diurai menjadi sederetan klausa,dan diberi identitas dengan angka sesuai urutan kejadiannya di dalam teks.Angka tersebut kemudian dilengkapi dengan nomor urut teks pada tabel di atas. Sebagai contoh, 29 klausa dalam teks nomor 1 (teks berjudul Bawaslu segera Tindak KPU dari Jawa Pos edisi Minggu26 Juli 2009) diberi identifikasi dari 1-1 sampai dengan 1-29. Tabel 1 menunjukkan rincian dari semua teks yang dianalisis dalam penelitian ini serta sumbernya.

Siti Wachidah204Tabel 1. Data penelitian dan sumbernyaNo. Sumber(Koran) Judul TeksJudul Rubrik EdisiHalaman JumlahKlausa IdentitasKlausa 1. Jawa PosBawaslu Segera Tindak KPUPolitikMinggu,26 Juli2009 2291-1 s.d1-292. Jawa Pos Mahal karena takAda Subsidi SupertivoMinggu,26 Juli200916362-1 s.d.2-363. Kompas Afgan Nama danPeristiwaMinggu, 31 Mei 200932253-1 s.d.3-254. Kompas Gunung EsPersoalan TKITajuk RencanaRabu,17 Juni2009 6284-1 s.d.4-285. MediaIndonesia BersatuMembangunBangsa-Kamis,13 Agustus2009 1235-1 s.d.5-236. Media Indonesia Menunggu Izin Pemeriksaan Bupati BombanaTanah AirKamis, 13 Agustus 2009 7156-1 s.d.6-157. Pos Kot a Digembleng diMarkas Akmil: PBPBSI Tinjau AtletPratama Jumat,5 Juni 20092A-1227-1 s.d.7-228. Pos Kot a Kartu CitibankSusah Ditutup-Jumat,5 Juni 20093288-1 s.d.8-289. Radar Bali Jebol Plafon,Kamera Disikat-Minggu,26 Juli2009 24229-1 s.d.9-2210. Radar Bali Jawa Timur Kreatif2009 WahanaBudaya danEkonomiKreatifMinggu,26 Juli2009272610-1 s.d.10-2611. RepublikaOnline PDAM KeluhanWarga-Jumat, 11 September2009 pukul01:28:00 2611-1 s.d.11-2612. RepublikaOnline FRI MintaMendiknas NonPartisanNewsroomSabtu,12September2009pukul13:09:00 2912-1 s.d.12-2913. SuaraMerdeka Lepuh-LepuhBerairCantik SerhatMinggu, 6 September2009245013-1 s.d.13-5014. Suara Merdeka Sosialisasi KeaslianUang SekilasEkonomiSabtu, 25 Juli200942014-1 s.d.14-2015. Suara Pembaruan DKI Rehab 46 Pasar Tradisional: Pungutan Pedagang Harus ProporsionalMetropolitanKamis, 4 Juni 2009102415-1 s.d.15-2416. Suara Pembaruan PT KA RintisPerusahaanPariwisataEkonomiKamis,4 Juni 2009131716-1 s.d.16-17Jumlah 420

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010205Perlu ditegaskan kembali bahwa klausa merepresentasikan proses, yang terdiri atas palingbanyak tiga kelas kata, yaitu verba untuk merepresentasikan proses itu sendiri, kelas kata nomina untuk merepresentasikan partisipan yang terlibat dalam proses, dan kelas kata adverbia atau frasa preposisional untuk merepresentasikan lingkup situasi yang menyertai proses. Padaprinsipnya setiap unsur proses tersebut dapat terwujud secara eksplisit dalam satuan sintaksis yang akan menghasilkan klausa secara lengkap, na mun tidak jarang ada satuan sintaksis yang dilesapkan. Unsur yang dilesapkan ini biasanya dapat diperkirakan adanya berdasarkan kontekssituasi dalam teks. Setiap klausa ditulis terpisah dalam satu baris dan diberi identitas denganangka di kolom sebelah kiri sesuai urutannya. Angka tersebut berfungsi sebagai nomor identitas klausa. Dalam setiap satuan ortografis yang lazim disebut kalimat seringkali terdapat lebih dari satu klausa yang dihubungkan oleh kata sambung. Istila h kata sambung di sini bukan ha nyamencakup konjungsi, tetapi juga kata-kata lain yang juga berfungsi menghubungkan dua klausa, sep erti untuk,agar , dsb. Berikut ini adalah contoh penguraian teks menjadi satuan-satuanklausa (dua paragraf pertama dalam teks nomor 7 berjudul “Digembleng di Markas Akmil: PB PBSI Tinjau Atlet Pratama”, Pos Kota, Jum’at, 5 Juni 2009, halaman 2A-1).JAKARTA (Pos Kota) – Untuk lebih memastikan penggemblengan 39 atlet pratamabulu tangkis Indonesia yang dikirim sejak bulan Maret 2009 lalu ke markas Akademi Militer (Akmil) di Magelang, pengurus PB-PBSI dan sejumlah wartawan meninjaukeberadaan mereka hari ini, Jum’at (5/6). Menurut Marsekal Madya (purn) I Gusti Made Oka, Wakil ketua Umum II PB-PBSI,peninjauan tersebut merupakan kegiatan silaturahmi, agar seluruh atlet yang sedang dalam pembinaan Akmil tetap menjaga semangat dan motivasi.Setelah diurai, kedua paragraf tersebut ternyata terdiri atas enam klausa. Unsur prosesterwujud secara eksplisit dalam satuan sintaksis verba (tertulis dengan huruf tebal) di lima klausa (klausa 1 s.d. klausa 5), sedangkan di klausa 6 satuan sintaksis yang berpotens i mewujudka n proses dilesapkan. Diperkirakan kata itu adalah {berada} (kurung kurawalmena ndaka n unsur ya ng dilesapkan). Juga terlihat dalam contoh tersebut, bahwa kata sambung tida k termasuk dala m struktur int ernal klausa karena fungsinya adalah menghubungkan dua klausa.No.KataSambung KLAUSA7-1 Untuklebih mema stikan penggemblengan 39 atlet pratama bulu tangkisIndonesia yang dikirim sejak bulan Maret 2009 lalu ke markas Akademi Militer (Akmil) di Magelang,7-2 [yang dikirim sejak bulan Maret 2009 lalu ke markas Akademi Militer (Akmil)di Magelang]7-3 pengurus PB-PBSI dan sejumlah wartawan meninjau keberadaan merekahari ini, Jumat (5/6).7-4 Menurut Marsekal Madya (purn) I Gusti Made Oka, Wakil ketua Umum IIPB-PBSI, peninjauan tersebut merupakan kegiatan silaturahmi,7-5 agar seluruh atlet yang sedang dalam pembinaan Akmil tetap menjagasemangat dan motivasi.7-6 [yang sedang {berada} dalam pembinaan Akmil]Dari keenam klausa tersebut terdapat dua klausa adjektival (klausa 2 dan 6), yangtentunya tidak dapat berdiri sendiri mewujudkan salah satu unsur proses, karena fungsinya adalah sebagai bagian dari perwujudan partisipan, yaitu sebagai pewatas nomina. Klausa 2sebelumnya menjadi bagian dari klausa 1 sebagai pewatas frasa nominal atlet pratama bulutangkis Indonesia’. Klausa 6 sebelumnya menjadi bagian dari kalusa 5, sebagai pewatas dari nomiuna atlet. Sebagai pewatas nomina/frasa nominal, klausa adjektival sebenarnya tidak perlu dipisahkan dari nomina yang diwatasi. Namun karena fokus penelit ian ini adalah padastruktur internal klausa, klausa adjektival dianggap p erlu dianalisis seba gai klausa tersendiri.

Siti Wachidah206Denga n cara penguraian demikia n inilah akhir nya diperoleh 420 klausa yang digunakan sebaga i data untuk penelitian ini. Analisis Data Untuk mengident ifikasi satuan sintaksis dala m setiap klausa, digunakan tabel ya ng terdiri atas beberapa kolom: satu kolom untuk nomor identitas klausa, satu kolom untuk kata sambung, satu kolom untuk satuan sintaksis yang merepresentasikan proses (verba), satu kolom atau lebihuntuk satuan sintaksi yang merepresentasikan partisipan (nomina/kelompok nominal/klausa nominal), dan satu kolom atau lebih untuk merepresentasikan lingkup situasi (frasa preposisi atau adverbia/kelompok adverbial/klausa adverbial). Dengan demikian tidak ada satu pun satuansintaksis dalam setiap klausa yang tidak tertampung dalam tabel analisis ini. Di bawah ini adalah contoh analisis keenam klausa tersebut di atas.N O KATAS AM -BUNG LINGKUPS ITUAS I PARTISI-PAN LING -KUPS ITUAS I PROSES PARTIS IPAN LING -KUPS ITUAS I LING -KUPS ITUAS I 7-1Untuklebihmemastikan penggemblenga n 39 atlet prata mabulu tangkis Indonesia yang dikirim sejakbulan maret 2009 lalu ke markas Akademi Militer (Akmil) di Magelang7-2 [yangdikirimsejak bulan maret 2009 laluke markas Akademi Militer (Akmil) di Mage- lang7-3 pengurus PB-PBSI dan sejumlah wartawanmeninjaukeberadaan mereka hari ini,Jumat (5/6).7-4 MenurutMarsekalMadya (purn) I Gusti Made Oka, Wakil ketua Umum II PB-PBSI,peninjauan tersebutmerupakankegiatansilaturahmi,7-5 agarseluruh atlet yang sedang dalam pembinaanAkmiltetapmenjaga semangat danmotivasi.7-6 [yangsedang{berada} dalam pembinaanAkmilAnalisis kemudian difokuska n pada kelas kata verba yang mer epr esentasikan proses.Tujuannya adalah untuk mengident ifikasi (1) t ipe proses yang ada, (2) kata yang digunakan atau dilesapkan, dan (3) b entuk sintaksis yang diguna kan untuk menyataka n tipe proses. Karena ada ena m klausa maka ada ena m kata dalam kelas kata verba yang dija dika n fokus analisis, yaitu memastikan ,dikirim ,meninjau ,merupakan ,menjaga , dan satu yang dilesapkan yaitu { berada}.Berdasarkan analisis terhadap pada enam kata tersebut diperoleh jawaban terhadap pertanyaan penelitian ini, yang tentunya kebenarannya masih sangat terbatas. Pertama, ada tiga tipe proses yang dipilih, yaitu (1) tipe proses mental ( memastikan), (2) tipe proses material ( dikirim,meninjau , danmenjaga ), dan (3) tipe proses relasional ( merupakan dan {berada}). Kedua,ternyata unsur proses t ersebut selalu dinyatakan dala m bentuk satu kata (bukan kelompok kata)

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010207yang dala m data ini semuanya mengala mi proses afiks asi. Tipe proses mental memilih konfiks me-ka n, tipe proses material memilih awalan di- dan me-, da n tipe proses relasional memilih konfiks me-ka n dan awalan ber-. Namun berbeda dengan konfiks me-kan yang dipilih tipe proses mental, konfiks me-kan dala m tipe proses relasional seola h-olah sudah tida kdapat terpisahkan denga n kata dasarnya rupa tetapi sudah membeku menja di kata merupakan. Begitu juga halnya denga n awalan b er- yang seolah-ola h tidak terpisahka n lagidengan kata dasarnya ada, dan sudah beku menyatu menja di kata berada.HASIL PENELITIAN Analisis terhadap data sebanyak 420 klausa dengan metode yang sudah dipaparkan di atas menghasilkan jawaban atas dua permasalahan yang diteliti yaitu (1) tipe proses yang dipilih oleh berbagai teks yang dimuat di koran dan (2) b entuk leksikogra matika dari satuan sintaksis verba yang dipilih untuk mer epr esentasikan setiap tipe proses. Tipe Proses Ada lima tipe proses yang digunaka n dala m teks berita koran, yaitu (1) verbal, (2) material, (3) relasional, (4) mental, dan (5) eksistens ial. Tipe behavioral tidak dit emukan sa ma sekali. Berikut ini adalah distribusi jumlah kejadian tipe proses dalam persentase. Material Relasional Verbal Mental Eksistensial 49,5%28,1%12,9% 6,4% 3,1% Temuan ini mencerminkan fungsi diskursus koran sebagai wahana publik untukmenya mpaikan infor masi berupa kegiatan, tindaka n, dan peristiwa (mela lui proses material,relasional, eksistensial, mental), secara obyektif dari sumber yang dapat dipercaya (melalui proses verbal). Di sa mping itu juga ada tempat untuk menya mpaikan harapan dan pemikiran, sepeti pada rubrik surat dari pembaca dan tajuk rencana (yang seringkali melibatkanpenggunaan tipe proses mental, di samping proses-proses lainnya). Satuan Sintaksis Verba Terkait denga n satuan sintaksis verba, penelit ian ini menemukan ba hwa dala m bahasa Indonesia, setidaknya berdasarkan data sebanyak 420 klausa yang digunakan dalam penelitianini, unsur verba secara konsisten dinyatakan dala m bentuk satu kata (bukan kelompok kata).Jika ada dua kata kerja berurutan, kata kerja kedua sebenarnya mer epr esentasika n suatu proses lain yang s eda ng berfungsi sebagai partisipan dari proses yang dinyatakan oleh kata kerja pertama. Sebagai contoh:BADANPengawas Pemilu (Bawaslu) tak maudisebut terlibat dalam perubahandaftar pemilih tetap (DPT). (Data 1-1 s.d. 1-3)Karena dalam kalimat tersebut terdapat tiga verba, dapat dipastikan bahwa ada tiga klausa yang merepresentasikan tiga proses di dalamnya. Klausa pertama menyatakan proses mental mauyang melibatkan partisipan si perasa ( senser),Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) , danfenomena yang dirasakan oleh si perasa. Fenomena tersebut berupa proses, disebut terlibatdalam perubahan daftar pemilih tetap (DPT) . Klausa kedua menyatakan proses verbal denganverba disebut , yang melibatka n partisipan si pengu cap ( sayer) ya ng keb etula n dilesapkan, ya itu{dirinya} , dan hal yang dilaporka n ( reported), yang dua unsur pertamanya juga dilesapka n,yaitu {bahwa} {dirinya} terlibat dalam perbuahan daftar pemilih tetap (DPT) . Klausa ketigamer epr esentasikan proses r elasiona l dengan verba terlibat yang menga it kan partisipan sipembawa atribut ( carrier) da n atributnya ( attribute) yang menyatu dalam verba terlibat. Contohlainnya:

Siti Wachidah208 BIberusaha meningkatkan pemahaman masyarakat soal bahaya peredaran uangpalsu melalui informasi untuk mengenali keaslian uang rupiah. Kali ini dilakukan lewat pendekatan budaya supaya memberi makna lebih dalam, jelas Zaeni, kemarin.Kalimat pertama dalam kutipan tersebut menggunakan dua verba berurutan, berusahameningkatkan , dan oleh karena itu mer epr esent asikan dua proses. Verba berusahamerepr esentasikan proses materia l yang melibatka n partisipan si pelaku, BI, dan tujua n tindaka ntersebut yang juga berupa proses, yaitu meningkatkan pemahaman masyarakat soal bahayaperedaran uang palsu melalui informasi untuk mengenali keaslian uang rupiah . Verbameningkatkan juga mer epr esentasika n proses material yang melibatkan pela ku yang dilesapkanyaitu {BI} da n tujuan tinda kan itu, yaitu pemahaman masyarakat soal bahaya peredaran uangpalsu .Di sa mping itu, kata-kata yang disebutkan sebelum kata kerja yang menga ndung maknapolaritas ( tak,tidak ,bukan ,tidak pernah ,jangan ), aspek perfektif ( sudah,telah ,belum ,masih ,tetap ), modalitas ( harus,akan ,bakal ,dapat ,bisa ,mampu ,berhasil ,mungkin ) dan kebesertaan( ikut ,turut ) juga tidak dapat digolongkan sebagai verba dalam bahasa Indonesia. Kata-katatersebut lebih tepat digolongkan pada kelas kata adverbia, yang oleh Kridalaksono (2007) didefiniska n sebagai kategori yang dapat menda mpingi ajekt iva, numeralia, atau proposisi dala m konstruksi sintaksis (hal. 81). Proses Material Diskursus koran ternyata didominasi oleh penyampaian informasi berupa kegiatan, tindakan, dan peristiwa, sebagaimana terungkap oleh proses material yang mencapai hampir mencapai separoh dari keseluruhan proses yang ada, 208 proses (49,5%). Perlu dicatat bahwa jenis partisipan yang berpotensi disebutkan secara eksplisit dalam klausa material adalah pelakutinda kan ( actor), tujuan tindaka n ( goal), lingkup tindakan ( scope/range ), penerima barang( recipient ), dan penerima jasa ( client).Sebagai contoh, teks berita no 1, yang berjudul Bawaslu segera Tindak KPU (Jawa Pos,Minggu 26 Juli 2009, hal. 2), yang melaporkan pernyataan Bawaslu terkait dengan terjadinyaperubahan daftar pemilih tetap (DPT). Kejadian ini tercermin oleh penggunaan verba terjadi,keluar ,ditemukan ,menyampaikan ,mengubah , danberubah . Teks no. 4, yaitu tajuk rencanayang memba has kasus penga nia yaan yang menimpa seorang TKI di Malaysia ya ng berna ma SitiHajar yang berjudul “Gunung Es Persoalan TKI” (Kompas, Rabu 17 Juni 2009, hal. 6) melibatka n penggunaan proses material membuka,berulang ,menambah ,mengalami ,menimpa ,meninggal ,melindungi ,mendominasi ,dibarengi ,menyumbang ,melilit ,dilakukan ,membenahi ,ditempatkan , danmenindak . T eks no. 15 yang ada dalam rubrik C ANTIKSEHAT yang berbentuktanya jawab antara pembaca dengan dokter pengasuh rubrik yang berjudul Lepuh-LepuhBerair” (Suara Merdeka, Minggu 6 Sweptember 2009, hal. 24) membahas penderitaan berupa lepuh-lepuh berarir di kulit yang diala mi ibu si pembaca, dan oleh karenanya melibatkanpenggunaan proses timbul,pecah ,meninggalkan ,menimbulkan ,makan ,dibawa ,diberi ,tidur ,melekat ,disembuhkan ,terkena ,diobati ,bertambah ,ditemukan , danmencegah , yang beberapadi antaranya diulang dua atau tiga kali. Bentuk Sintaksis Verba Material Dari semua contoh yang disebutkan, terlihat bahwa unsur proses selalu dinyatakan oleh satu kata yang termasuk dalam kelas kata verba, dengan atau tanpa proses afiksasi (penambahan awalan, akhiran, atau konfiks yang mengkombinasikan awalan dan akhiran pada kata dasar). Kridalaksana (2007: 51-58) menggunakan istilah verba dasar bebas untuk kata yang tidakmenga la mi afiksasi, dan verba turunan untuk yang telah menga la mi afiksasi. 1) Dari sebanyak 208 verba yang merepresentaskan proses material, hanya ada sembilan yang berbentuk verba dasar bebas, yaitu lulus,masuk ,terjun ,timbul ,pecah ,makan , dantidur

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010209(ada yang digunaka n lebih dari satu kali). Bentuk ini mengindikasikan ma kna aktif s i pelaku (actor ) yang tidak ditujukan untuk mempengaruhi partisipan lain.2) Ada beberapa verba dasar bebas yang seolah-olah (atau memang asalnya) telah mengalamiafiksasi, yaitu keluar,terjadi ,meninggal ,bekerja , danbekerja sama . Bentuk ini jugamengindikasikan makna aktif si pelaku yang tidak mempengaruhi partisipan lain.3) Verba turunan dengan awalan me- yang mer epr esent asikan ma kna aktif si pela ku untukmempengaruhi partisipan yang disebutkan sesuda hnya . Verba turunan dengan awalan me-ini menduduki hampir seperempat dari keseluruhan verba material yang ada (49 dari 208).Berikut ini adalah verba turunan dengan awalan me- yang dit emukan dala m data, yangbeberapa di antara terjadi lebih dari satu kali: mengubah,menambah ,mengulang ,memperoleh ,mendapat ,memberi ,membuka ,menimpa ,mendominasi ,menyumbang ,menindak ,membuat ,menunggu ,memeriksa ,meninjau ,menjaga ,meraih ,membayar ,menutup ,membobol ,menjebol ,memanjat ,mengundang ,mendorong ,melekat ,mencegah ,menggelar ,memberantas ,merevitalisasi ,merehab ,membentuk ,menggandeng , danmenggarap .4) Verba turunan dengan awalan di-, yang mengindikasikan bahwa partisipan yang menjaditujuan tindakan lebih pent ing untuk disebutka n daripada pelakunya. Oleh karena itulahverba dengan awalan di- selama ini dianggap memiliki makna pasif, karena partisipan yangdisebutka n hanya menjadi sasaran atau tujuan dari tindakan yang dinyatakan verbanya. Penyebutan si pelaku bersifat opsional, dan jika itu dilakukan biasanya diawali kata oleh. Bentuk verba ini ternyata tidak terlalu banya k digunakan dala m teks yang dimuat di koran(26 dari 208). Berikut adalah verba turunan dengan awalan di-ya ng dit emukan, yangbeberapa di antaranya diguna kan lebih dari satu kali: dibuka,diterima ,dirilis ,dikirim ,ditahan ,diperiksa ,dibentuk ,dikunci ,digondol ,diundang ,dibantu ,dipasang ,dibawa ,diberi ,dipakai ,direhab ,direvitalisasi , dandirenovasi .5) Verba turunan dengan awalan ter- terjadi hanya dua kali, yaitu terkena dantercipta . Awa lanter- mengindikasikan makna yang hampir sama dengan awalan di-, na mun tersirat maknaketidaksengajaan tindakan tersebut oleh pelakunya. Oleh karena itu dengan verba turunanberawalan ter- si pelaku ha mpir tidak pernah disebutkan.6) Ada satu verba yang tertulis seba gai verba dasar, namun sebenarnya sudah mendapatka nimbuhan pronomina yang menjadikannya menjadi verba pasif yang ditulis terpisah, yaitusaya bayar . Bentuk ini hampir sama dengan verba turunan dengan awalan di-, yangmengindikasikan peran pasif partisipan yang disebutkan sebelumnya, na mun awalantersebut diga ntikan oleh pronomina ( saya) untuk memungkinkan si pelaku masih dapatdisebutka n (tanpa menggunakan kata oleh).7) Verba turunan dengan awalan ber-, yang juga mengindikasikan ma kna aktif pada dirisendiri, dan tidak ditujukan untuk mempengaruhi partisipan lain. Ada 12 kejadian verba material da la m bentuk ini (a da yang digunaka n lebih dari satu kali), yaitu berubah,berlaga ,berulang ,berlatih ,berubah-ubah ,berganti-ganti ,berlangsung ,berkurang ,bertambah ,berusaha ,berkompetisi , danbergerak .8) Verba turunan dengan konfiks me-kan ya ng mengindikasikan peran aktif si pelaku. Tidaksama halnya imbuhan ya ng telah disebutkan di atas, konfiks me-kan ternyata memilikibeberapa kategori makna yang berbeda. Berikut ini adalah semua verba turunan dengan konfiks me-kan yang dit emukan dala m data (terjadi 36 kali), yang telah dikelompokka nberdasarkan kemiripa n makna yang ditimbulka n oleh adanya imbuhan tersebut. a. Verba menyelenggarakan ,melaksanakan ,mendapatkan ,menggunakan ,melakukan ,meninggalkan , yang menyiratkan makna aktif si pelaku untuk mempengaruhi partisipanyang menjadi tujuan tindakan.b. Verba menyampaikan ,menunjukkan ,memberikan ,mempromosikan melibatkansedikitnya tiga partisipan, yaitu si pelaku, tujuan tindakan, dan si penerima barang. Kata

Siti Wachidah210kepada diperlukan sebelum si penerima barang jika partisipan tersebut tidakdisebutkan langsung setelah verba.c. Verba merampungkan ,menyiapkan ,melibatkan ,membangkitkan ,merealisasikan ,menyediakan ,menjalankan ,menimbulkan ,meningkatkan ,mengalahkan ,menegakkan ,mengintegrasikan , danmemaksimalkan menyiratkan bahwa si pelaku menyebabkanterjadinya tindakan atau keadaan yang dinyatakan oleh kata dasarnya, atau dapat dikatakan ‘membuat …’ atau ‘membuat menjadi …’ yang mempengaruhi partisipanberikutnya.d. Verba mengupayakan , yang dapat diartika n melakuka n tindaka n ya ng dinyatakan olehkata dasarnya, yaitu melakukan upaya’.9) Verba turunan dengan konfiks di-kan terjadi 18 kali. Konfiks ini mengindikasikan bahwatujuan tindakan lebih penting disebutkan daripada si pelaku. Dapat dikatakan bahwa imbuhan di-kan merupakan bentuk alternatif dari me-kan jika partisipan yang menjaditujuan tindakan disebutkan sebelum verba. Dari data ditemukan beberapa kategori makna yang sama dengan konfiks di-kan, yaitu:a. verba ditemukan ,dilakukan , diadakan , digunakan , disalahgunakan , yang menyiratkanmakna pasif partisipan yang disebutkan sebelum verba sebagai tujuan tindakan yangdinyatakan oleh verba;b. verba dibayarkan , yang dapat melibatkan si penerima barang dan partisipan yang wajibada yaitu tujuan tinda kan. Kata kepada diperluka n sebelum si penerima barang;c. verba disesuaikan , disembuhkan , ditingkatkan ,dikeluarkan , dandiremajakanmenyiratkan bahwa tujuan tinda kan dipengaruhi oleh tindaka n atau keadaan yang dinyatakan oleh kata dasarnya. Dengan kata lain, tujuan tindaka n dibuat atau dibuat menjadi sebagaimana tersebut dalam kata dasar;d. verba ditempatkan , yang dapat diartikan menga la mi tinda kan untuk diletakkan padasuatu tempat.10) Ada satu verba turunan yang mengindikasikan bahwa tujuan tindakan lebih pentingdisebutkan daripada si pelaku, sehingga menyiratkan makna pasif partisipan tersebut, yaitumereka lakukan . Bentuk ini ha mpir sama dengan verba turunan dengan awalan di- namunawalan tersebut diga ntikan oleh pronomina mereka untuk memungkinkan si pelaku tersebutmasih dapat disebutkan (tanpa menggunaka n kata oleh).11) Verba turunan dengan konfiks me-i, yang terjadi 13 kali (ada yang terja di lebih dari satukali). Sama halnya denga n konfiks yang telah diident ifikasi sebelumnya, konfiks me-i jugamenyiratkan beberapa kategori ma kna, yaitu:a. verba mengikuti ,menghadapi ,memperingati , yang mengindikasikan ma kna aktif s ipelaku melakukan tindakan untuk mempengaruhi partisipan yang menjadi tujuan tinda kan;b. verba mengarsiteki , yang menyiratkan ma kna melakukan tindakan yang layaknyadila kuka n seorang aristek untuk mempengaruhi partisipan yang menja di tujuan tinda kan;c. verba membenahi ,melindungi ,melayani , yang menyiratkan makna melakukan tindaka npembenaha n, perlindungan, pelaya nan bagi partisipan yang menja di tujuan tindakan;d. verba menyurati , yang menyiratkan arti memberi atau mengirim surat kepada partisipanyang menjadi tujuan tindakan;e. verba melakoni , yang menyiratkan makna menjala ni lakon.12) Verba turunan dengan konfiks di-i, ya ng hanya terja di delapan kali. Konfiks inimengindikasikan bahwa tujuan tindakan lebih penting disebutkan daripada si pelaku. Dapat dikatakan bahwa imbuhan di-i ju ga merupakan bentuk alt ernatif dari me-i jika partisipanyang menja di tujuan tinda kan disebutka n sebelum verba. Dari data dit emuka n dua kategori ma kna yang serupa denga n konfiks me-i, yaitu:

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010211a.verba diikuti ,dibarengi ,distaroni , yang mengindikasikan makna pasif partisipan yangdisebutkan sebelum verba sebagai tujuan tindakan yang dinyatakan oleh verba;b. verba disponsori ,ditandatangani ,disikapi ,diobati , yang menyiratkan arti diberi sesuatuyang dinyatakan kata dasarnya ( sponsor,tandatangan ,sikap ,obat ).13) Pelesapan verba yang terjadi pada lima verba, yang diperkiran verba {berlangsung},{dilaksanakan} ,{mendorong} ,{mengikuti} , sebagaima na dicontohkan oleh data berikut:Acara tersebut diadakan dalam rangka memperingati Hari kemerdekaan ke-64 Republik Indonesia, {mendorong} pengembangan industri kreatif, dan {mengikuti} arahanpresiden RI dalam PPBI (Pekan Produk Budaya Indonesia) 2009 di beberapa kesempatan untuk mengembangkan ekonomi gelombang keempat. (Data 10-11 dan 10-12)Proses Relasional Pemaparan kegiatan, tinda kan, da n peristiwa dala m berbagai teks di koran seringkali melibatkan proses mendes kripsika n orang/benda, dengan men yebutkan sifatnya, ident itasnya, serta bagiannya. Proses tersebut disebut dengan istilah proses relasional (pengaitan). Dalam dataterjadi 118 proses relasional atau 28,1% dari 420 verba dalam data. Perlu disebutkan bahwa jenis partisipan yang berpotensi disebutkan secara eksplisit dalam klausa relasional adalah ‘pembawa’ atribut ( carrier), atribut ( attribute), pemilik identitas ( identified), pemberiidentitas ( identifier), pemilik ( possessor), dan milik ( possessed).Sebagai contoh, teks no. 2, teks berita yang berjudul Mahal Karena Tak Ada Subsidi(Jawa Pos, Minggu 26 Juli 2009, hal. 16), yang melaporkan informasi yang diperoleh dari pihakPSSI tentang penambahan pelatih berlisensi A untuk Jawa Timur. Ada 15 proses relasional yangdigunakan dalam teks tersebut, yang beberapa diantaranya dilesapkan atau terjadi lebih dari satu kali. Verba relasional yang digunaka n dala m teks ini adalah berpeluang,berlisensi ,terletak ,menjabat ,adalah ,berasal ,berhak ,tersebar , dan beberapa yang dilesapkan yaitu {merasa},{menjadi} ,{adalah} , dan{berjumlah} . Teks no. 8, teks surat pembaca ber judul Kartu CitibankSusah Ditutup” (Pos Kota, Jum’at 5 Juni 2009, hal. 3), yang isinya mengeluhkan tentang layanan Citibank terhadap penulis sebagai pelanggan kartu kredit yang menga la mi kesulitankeuanga n, melibatkan penggunaan tujuh proses r elasional, ya ng ena m di antaranya dilesapkandan hanya satu yang disebutka n secara eksplisit, yaitu menjadi,{adalah} ,{merasa} , dan{bersifat} . Teks no. 16, teks berita berjudul PT KA Rintis Perusahaan Pariwisata (SuaraPemaruan, Kamis 4 Juni 2009, hal. 13) melibatkan penggunaan proses relasional merupakan,mencapai ,memiliki ,menjadi , dan satu yang dilesapka n {berjumlah}.Bentuk Sintaksis Verba Relasional Ada 123 kejadian proses r elasional ya ng terident ifikasi dala m data, namun ha nya mengguna kan beberapa verba yang digunakan secara berulang-ulang. Berikut adalah verba yang digunakan yang dikelompok berdasarkan fungsi dan/atau bentuk sintaksisnya. 1) Verba yang merepresentasikan proses relasional atributif adalah terlibat,berstatus ,adalah ,terletak ,merasa ,menjadi ,bersifat ,terasa ,berada ,terpuji ,berkesinambungan .2) Verba yang termasuk dalam proses relasional identitas adalah merupakan,adalah ,berfungsi ,menjabat ,berjumlah ,menjadi ,dibawakan ,mencapai , danberarti .3) Verba yang menyatakan kepemilikan paling banyak menggunaka n awalan (klitik) ber-dengan kata dasar benda yang dimiliki: berpeluang,berlisensi ,bersumber ,bersuara ,berhak ,berujung ,bermental ,bertujuan ,berair , dan berorientasi . Ada b eb erapa pr osesrelasional kepemilikan ya ng menggunakan kata memiliki.4) Verba dengan imbuhan ber- seperti berstatus ,bersifat ,berasal ,berada ,berusia leb ih t epatdisebut verba relasional atributif karena kata-kata tersebut lebih lazim diikuti oleh atributdaripada milik. Ada beberapa verba yang sekaligus menyatakan atribut, seperti berhasil danbersyukur .

Siti Wachidah2125)Verba turunan ya ng menyatakan proses relasional seperti adalah,terletak ,merasa ,menjadi ,bersifat ,terasa ,berada ,berarti dapat dikatakan sudah b eku dima na kata dasar danimbuhannya sudah tidak teruraikan la gi.6) Verba relasional yang lazim dilesapkan yang teridientifikasi dalam data adalah {bersifat},{berjumlah} ,{adalah} ,{menjadi} ,{merupakan} ,{merasa} ,{terasa} , dan{berfungsi} .Proses Verbal Proses verbal pada umumnya terdapat pada teks berita karena sesuai dengan fungsinya menya mpaikan infor masi tentang suatu kegiatan, tindakan, dan peristiwa, berdasarkan pernyataan orang atau institusi yang menjadi sumber berita. Cara yang lazin digunakan adalahdengan melaporkan atau mengutip langsung pernyataan sumber berta secara langsung tanpa mengubah kata-katanya. Proses verbal pada umumnya melibatkan partisipan yang menjadi sumber informasi ( sayer), hal yang dinyatakan ( verbiage), pernyataan yang dilaporka n( reported ), atau pernyataan yang dikutip langsung ( quoted), serta si penerima informasi( receiver ). Sebagai contoh:Perubahan DPT hampir di seluruh provinsi, nyatanya hanya ada beberapa panwas yang merekomendasikan perubahan itu,kata Ketua Bawaslu Nur Hidayat Sardini di MediaCenter KPU, Jakarta, kemarin (25/7). Sebelummnya, Ketua Komisi Pemilihan Umum(KPU) Abdul Ha fiz An sh ar y menuding Bawaslu ikut merekomendasikan perubahan DPT.… (Data 1-15, 1-8, dan 1-9) Adapun masalah ini telah kami sampaikan kepada Gubernur (Bapak H Fauzi Bowo) padasekitar April 2009 yang lalu pada saat beliau meninjau daerah kami. (Data 11-4)Dari 420 proses yang ada dalam data terjadi 54 kali proses verbal (12,9%). Sebagaicontoh, teks no. 1, teks berita yang berjudul Bawaslu segera Tindak KP U (Jawa Pos, Minggu 26 Juli 2009, hal. 2), menggunakan sembilan proses verbal yang dinyatakan dengan verba disebut ,kata ,merekomendasikan ,menuding ,mengeluarkan , danmenegaskan . Teks no. 12, teksberita berjudul FRI Minta Mendiknas Non Partisan (Republika Newsroom, Sabtu 12 September 2009 diakses pada jam 13:09:00) juga memuat beberapa proses verbal, yaitu mengeluhkan ,sampaikan ,memerintahkan , dankatanya . Proses verbal juga diguna kan beberapakali di teks no. 8, teks surat pembaca yang berjdul Kartu Citibank Susah Ditutup (Pos Kota, Jumat 5 Juni 2009, hal. 3), yaitu mengajukan,katanya ,mengeluh ,menelepon , danmeneror .Bentuk Sintaksis Verba Verbal Verba untuk menyatakan proses verbal dapat berupa verba dasar bebas atau verba turunan yang bentuknya bervariasi. 1) Verba dasar bebas yang diguna kan untuk menyatakan proses verbal yang dit emukan di dataadalah kata,jelas ,sahut ,ujar , dan lanjut . Bentuk pernyataan yang disebutkan selalu berupakutipan lansung. Si pengucap ( sayer) biasanya disebut langsung setelah verba. Sebagaicontoh: Perubahan DPT hampir di seluruh provinsi, nyatanya hanya ada beberapa panwas yang merekomendasikan perubahan itu, kata Ketua Bawaslu Nur Hidayat Sardini di MediaCenter KPU, Jakarta, kemarin (25/7). (Data 1-5) Kali ini, tidak ada subsisi dari PSSI seperti tahun lalu yang sampai Rp. 5 juta, jelasManajer Diklat PSSI R. Sumaryadi di Jakarta kemarin (25/7). (Data 2-29)2) Verba dasar bebas seringkali juga diikuti pronomina yang menggantikan si pengucap. Sebagai contoh:

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010213Pengin yang sederhana dan padat, h e-he-he,sahutnya. (Data 3-23)Rekan-rekan media bisa melihat langsung apa yang mereka lakukan setiap hari di bawah bimbingan militer. Tidak ada perlakuan diskriminasi, semua sama. Kita memang sangatmemperhatikan pembentukan mental, fisik dan semangat para atlet, lanjutnya. (Data 7-16) Pembentukannya menunggu persetujuan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara, kata dia , di Bandung, Rabu (3/6). (Data 16-5)3) Proses verbal juga banya k dinyatakan oleh verba turunan dengan imbuhan me-. Bentuk initerjadi 10 kali, yaitu menuding,memprediksi ,mengutip ,menolak ,mengeluh ,menelepon ,meneror ,mengaku ,meminta , danmenunjuk , yang ada di antaranya diguna kan lebih darisatu kali. Sebagaimana awalan me- pada tipe proses lain, dengan proses verbal awalan inimenyiratkan ma kna aktif si pelaku menyebutkan pernyataan dari sumber denga n cara melaporkan atau mengutip langsung.4) Verba turunan dengan awalan di- hanya terjadi satu kali dari sebanyak 54 proses verbalyang ada, yaitu disebut. Imbuha n ini menyiratkan kur ang pent ingnya menyebutkan pelakudibandingkan dengan partisipan yang menjadi sasaran ucapan, sehingga tersirat makna pasif partisipan tersebut sebagai sasaran dari proses verbal yang terjadi.5) Verba turunan yang paling sering digunakan untuk menyatakan proses verbal adalah yangmenga la mi proses afiksasi dengan konfiks me-kan (terjadi 23 kali dari 54 proses verbalyang ada). Imbuhan tersebut hampir semuanya menyiratkan peran aktif si pengucap ( sayer)memberikan pernyataan, na mun hanya dala m dala m bentuk laporan ( reported) atau sebutanyang diguna kan untuk mena maka n jenis infor masi yang dinyatakan ( verbiage); tidak pernahkutipan langsung. a. Verba turunan dengan konfiks me-kan yang diikuti sebutan yang diguna kan untukmena ma kan jenis infor masi yang dinyatakan ( verbiage) adalah merekomendasikan ,mengeluarkan ,mempertanyakan , mengindikasikan , menetapkan , mengeluhkan ,mempromosikan , mencontohkan . Sebagai contoh:Banyaknya kasus TKI mengindikasikan kepentingan ekonomi lebih mendominasipenempatan TKI selama ini. (Data 4-14) … kegiatan itu juga untuk memperingati ulang tahun ke-56 BI serta mempromosikangerakan Ayo ke Bank. (Data 14-6)b. Verba turunan dengan konfiks me-kan yang diikuti penyataan yang dilaporka n( reported ) adalah menegaskan ,mengatakan , menuturkan , memerintahkan ,menambahkan ,menjelaskan , memastikan ,menyimpulkan , dan menyatakan . Sebagaicontoh, Hidayat menegaskan , rekomen dasi tersebut keluar setelah ditemukan masalah dalam DPTpilpres. (Data 1-14)c. Verba turunan dengan konfiks me-kan yang diikuti hanya oleh penerima infor masi:mengingatkan , yang terjada dala m klausa berikut.Jajaran kami sudah bekerja dengan benar walaupun dalam konklusi MK mengingatkanKPU.d. Verba turunan dengan konfiks me-kan yang diikuti oleh penerima informasi sertapernyataan yang diucapkan: menjelaskandan memerintahkan .Putusan MK itu telah menjelaskan kepada publik proses pemilu yang terjadi. (Data 5-15)Gubernur telah memberikan r espons positif atas keluhan warga Kalibaru, dengan memerintahkan pimpinan PT TPJ sebagai pengelola PDAM wilayah Jakarta Utara untukmengupayakan air bersih di wilayah Kalibaru dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejakkunjungan beliau. (Data 11-7)

Siti Wachidah2146)Ada satu verba turunan yang mengindikasikan bahwa pernyataan lebih penting disebutkan daripada si pelaku, sehingga menyiratkan makna bahwa pernyataan tersebut hanya menjadi sasaran yang diucapkan, yaitu kami sampaikan. Bentuk ini hampir sama dengan verbaturunan denga n a walan di- na mun awala n tersebut digantikan oleh pronomina kami untukmemungkinkan si pelaku tersebut masih dapat dis ebutkan (tanpa menggunaka n kata oleh).Adapun masalah ini telah kami sampaikan kepada Gubernur (Bapak H Fauzi Bowo)pada sekitar April 2009 yang lalu pada saat beliau meninjau daerah kami. (Data 11-4)Proses Mental Proses mental adalah proses yang terjadi di pikiran, hati atau perasaan, dan panca indera. Partisipan yang terlibat dalam proses mental adalah si perasa ( senser) dan fenomena yangdirasakan ( phenomenon ). Secara keseluruhan hanya ditemukan 27 proses mental. Verba yangmerepresentasikan persepsi panca indera adalah kita dengar,melihat ,mendengar .; yangmerepresentasikan kegiatan kognitif adalah memutuskan,memastikan ,diduga ,mengenali ,kamiketahui ,diketahui ,memperhatikan ,digubris ; yang mer epresentasikan keinginan adalah mau,ingin ,pengin ,ditagetkan ,diputuskan ,berharap ,direncanakan , danmengharapkan ; dan yangmerepresentasikan suasana emosi adalah mengalami,kami nikmati , danmengabdi .Bentuk Sintaksis Verba Mental Verba untuk menyatakan proses mental dapat berupa verba dasar bebas atau verba turunan yang bentuknya bervariasi. 1) Verba dasar bebas yang ditemukan adalah mau,ingin , dan pengin , yang semuanya termasukpada proses mental berupa pengharapan. Sebagai contoh,Untuk sementara, Afgan ingin memberi judul The One. (Data 3-20)Dalam proses tersebut Afgan adalah si perasa dan fenomena yang dinginkannya adalahsebuah proses untuk memberi judul The One.2) Ada tiga proses mental yang dinyatakan dengan verba turunan denga n imbuhan awalan me-,yaitu melihat ,mengabdi ,mendengar . Awalan ini menyiratkan datangnya suatu pengalaman( phenomenon ) yang diterima oleh pancara indera ( melihat,mendengar ) dan pelibatanperasaan emosional ( mengabdi).3) Verba turunan yang mengalami afiksasi dengan konfiks di-terjadi sebanyak dua kali, yaitudigubris dandiduga . Imbuhan ini menyiratkan bahwa fenomena yang dirasakan ataudipikirkan lebih pent ing untuk disebutkan daripada si perasa.4) Verba turunan yang menga la mi afiksasi dengan konfiks me-kanterjadi ena m kali, yaitumemutuskan ,memastikan ,memperhatikan ,mengharapkan (terjadi dua kali). Imbuhan inimenyiratkan peran aktif pikiran si perasa terhadap fenomena yang dirasakan atau dipikirkan. Sebagai contoh:Cuma {saya} masih bingung memutuskan judul album … (Data 3-19)Kita memang sangat memperhatikan pembentukan mental, fisik dan semangat paraatlet (Data 7-21).5) Verba turunan dengan imbuhan konfiks di-kan terjadi tiga kali, yaitu ditargetkan,diputuskan , dandirencanakan , ya ng semuanya adalah proses yang menyiratka n keingina natau harapan. Imbuhan di-kan menyiratkan bahwa fenomena lebih penting disebutkandaripada si perasa.6) Verba turunan dengan konfiks me-i terjadi dua kali yaitu mengetahui danmengenali . Keduaproses mental tersebut termasuk pada proses kognitif. Imbuhan ini menyiratkan adanya pengalaman kognitif yang diterima si perasa dalam bentuk suatu fenomena.7) Sebaliknya verba dengan imbuhan konfiks di-i terjadi hanya sekali juga dengan kata dasartahu , yaitu diketahui . Imbuha n ini diperluka n karena fenomena lebih pent ing disebutkandaripada si perasa.

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 20102158)Verba turunan denga n unsur yang menggantikan a walan di-dengan pr onomina jugadiguna kan untuk merepresentasikan proses mental, ya itu kita dengar,kami nikmati ,kamiketahui . Proses mental yang disampaikan bisa berupa persepsi panca indera, pengalamankognit if, ataupun perasaan emot if. Imbuha n ini digunakan karena fenomena nya lebih penting untuk disebutkan daripada si perasa. Penggunaan pronomina tersebut memungkinkan si perasa masih dapat disebutkan dengan tanpa menggunakan kata oleh.Proses Eksistensial Proses eksistens ial adalah proses ya ng mengindika sika n keberadaan sesuatu. Dalam data dit emukan 13 proses eks istensial. Verba yang paling sering digunakan adalah ada (10 kali).Sebagai contoh,Perubahan DPT hampir di seluruh provinsi, nyatanya hanya ada beberapa panwas yangmerekomendasikan perubahan itu,” kata Ketua Bawaslu Nur Hidayat Sardini di Media Center KPU, Jakarta, kemarin (25/7). (Data 1-7)AKSI pencurian ada saja caranya. (Data 9-1)Verba lainnya adalah terdapat,tersedia ,terjadi . Sebagai contoh,Namun, terdapat fakta bahwa KPU mengubah DPT. Perubahan tersebut terjadi hampirdi semua provinsi. (Data 1-25 dan 1-27) Tersedia 36 stan UKM. (Data 10-6).Proses eksistens ial dapat juga dilesapkan seperti halnya dalam kutipan berikut, dan katayang diperkiran dilesapkan adalah {terjadi}. Perbahan DPT {terjadi} hampir di seluruh provinsi, nyatanya hanya ada beberapapanwas yang merekomendasikan perubahan itu,” kata Ketua Bawaslu Nur Hidayat Sardini di Media Center KPU, Jakarta, kemarin (25/7). (Data 1-6)IMPLIKASI UNTUK PEMERIAN TATA BAHASA BAHASA INDONESIA Penelitian telah membuktikan bahwa pendekatan fungsional sistemik memang sangat bermanfaat untuk membantu kita memperoleh pemahama n yang lebih rinci tentang teks, unsur proses yang digunaka n, serta bentuk leks ikogramatika untuk mer epresentasikan unsur proses di dalam satuan sintaksis klausa. Khususnya melalui penelitian ini telah dihasilkan pemerian kelaskata verba bukan hanya deskripsi bentuk ya ng ta mpak kasat mata, tetapi juga pemilihan verbaserta bentuknya untuk menyatakan setiap tipe proses. Ternyata setiap tipe proses menentukan sendiri verba yang diperlukan serta bentuk yang dianggap paling tepat untuk mencapai tujuan teks. Pendekatan bottom-up yang menjadi ciri dari pendekatan LFS, selalu diawali dengankenyataan yang ada di masyarakat untuk kemudian dirumuskan abstraksinya secara sistematis. Pendekatan ini bertolak bela kang denga n pendekatan top-down, ya ng berawal dari pemega ngotoritas ke pemakai, ya ng telah la ma menja di tradisi dala m penelitian bahasa Indonesia, yangtelah terbukti menimbulkan banyak masalah terka it antara lain dengan keberterimaan, releva nsi, kemutakhiran, keluwesan, dan keabsahan data. Pendekatan LFS yang berakar pada kenyataan diharapkan dapat memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan tersebut. Salah satu halyang perlu ditanamka n adalah bahwa LFS bukan bertujuan mengga ntikan pendekatan formal/struktural, tetapi lebih memberikan alternatif pemikiran untuk semakin menyempurnakan pemahaman kita tentang bahasa Indonesia. Semata-mata demi perkembangan dan kejayaanbahasa Indonesia, diperlukan kerjasama yang baik antara para peneliti dengan pendekatan formal dengan para peneliti dengan pendekatan fungsional sistemik, bukan persaingan yang saling menjatuhkan. Meskipun di banyak negara lain hal ini sulit untuk diwujudkan, diIndonesia kerjasama ya ng sinergis akan jauh lebih mudah diwujudkan karena sifat-sifat bangsaIndonesia yang menjunjung tinggi asas Bhineka Tunggal Ika

Siti Wachidah216Perlu diingat bahwa apa yang dihasilkan melalui penelitian ini masih sangat terbatas,mengingat banyaknya jenis teks serta ragam bahasa dalam bahasa Indonesia, fungsi serta kedudukannya dirasakan semakin penting bagi perkembangan kehidupan manusia Indonesia saat ini. Penelitian ini perlu diikuti oleh penelitian serupa terhadap berbagai jenis teks denganberbagai ragam bahasa yang digunaka n. Di sa mping it u penelitia n denga n pendekatan LFS juga perlu dilakukan untuk memer ikan unsur-unsur lain di dala m da n yang terka it denga n klausa. Yang perlu segera dilakukan adalah pemerian kelas kata nomina (alat pengungkap partisipan)dan kelas adverbia dan frasa preposisional (alat pengungkap lingkup situasi). Selanjutnyapenelitia n perlu dilakuka n pada satuan sintaksis di luar klausa, yaitu kompleks klausa, kompleks kata dan frasa, koherens i dan diskursus, dan ragam bahasa metaforik. Setiap hasil peneltian perlu dikomunikasikan bukan hanya kepada para peneliti denganpendekatan LFS tetapi tidak kalah pentingnya adalah dengan para peneliti dengan pendekatanlain. Tanpa adanya jalina n komunikasi antar pandangan yang berbeda, sangat kecil kemungkinan terja di perkembangan ilmu tentang bahasa Indonesia yang sahih dan andal yangdihor mati buka n hanya di kancah pergaulan ilmiah nasional tetapi juga internasional.CATATAN* Penulis berterima kasih kepada mitra bebestari yang telah memberikan saran-saran untuk perbaikan makalah.DAFTAR RUJUKANAfgan. 2009. Kompas31 Mei, 32.Alwi, H., S. Dardjowidjojo, H. Lapoliwa, dan A.M. Moeliono. 1998. Tata Bahasa Baku BahasaIndonesia . Jakarta: Balai Pustaka.Bawaslu Segera Tindak KPU. 2009. Jawa Pos26 Juli, 2.Bersatu Membangun Bangsa. 2009. Media Indonesia13 Agustus, 1.Chaer, A. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses . Jakarta: Rineka Cipta.DKI Rehab 46 Pasar Tradisional: Pungutan Pedagang Harus Proporsional. 2009. SuaraPembaruan 4 Juni, 10.Jawa Timur Kreatif 2009. 2009. Radar Bali26 Juli, 27.Jebol Plafon, Kamera Disikat. 2009. Radar Bali26 Juli, 24.Digembleng di Markas Akmil: PB PBSI Tinjau Atlet Pratama. 2009. Pos Kota5 Juni, 2A-1.FRI Minta Mendiknas Non Partisan. 2009. Republika Online12 September. Didapatkan pada 12September 2009, pukul 13:09:00 dari http://koran.republika.co.id/berita/76040/ FRI_Minta_Mendiknas_Non_Partisan.Gunung Es Persoalan TKI [Tajuk Rencana]. 2009. Kompas17 Juni, 6.Halliday, M.A.K. 1985. Part A. Dalam: Halliday and Hasan (ed.). Halliday, M.A.K. dan R. Hasan (ed.). 1985. Language, Context, and Text: Aspects of Languagein a Social-Semiotic Perspective . Geelong, Vic.: Deakin University.Halliday, M.A.K. dan C.M.I.M. Matthiessen. 2004. An Introduction to Functional Grammar.Edisi Ketiga. London: Arnold.Kridalaksana, H. 2007. Kelas kata dalam bahasa Indonesia . Jakarta: Gramedia.

Linguist ik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010217Kartu Citibank Susah Ditutup. 2009.Pos Kota5 Juni, 3.Lepuh-Lepuh Berair. 2009. Suara Merdeka6 September, 24.Mahal karena tak Ada Subsidi. 2009. Jawa Pos26 Juli, 16.Menunggu Izin Pemeriksaan Bupati Bombana. 2009. Media Indonesia13 Agustus, 7.PDAM Keluhan Warga. 2009. Republika Online. Didapatkan pada 11 September 2009, pukul01:28:00 dari http://koran.republika.co.id/berita/76040/ PDAM_Keluhan_Warga.PT KA Rintis Perusahaan Pariwisata. 2009. Suara Pembaruan4 Juni, 13.Sosialisasi Keaslian Uang. 2009. Suara Merdeka25 Juli, 4.Wachida h, S. 2005. “Konstituen L engkap Klausa Sebagai Alat Pengu ngkap Penga la man dala m Bahasa Indonesia: Analisis Berdasarkan Teori Gramatika Fungsional. Jurnal Bahasadan Sastra 3.2, 18-36.Siti Wachidah wachida hdja wad@yahoo.co.id Universitas Negeri Jakarta

Linguistik Indonesia Copyright 2010 by Masyarakat Linguistik Indonesia Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010, 219-222 Resensi Buku Judul: Child Language Acquisition and Growth Penulis: Barbara C. Lust Penerbit: Cambridge: Cambridge University Press. 2006 Tebal: 389 halaman Asisda Wahyu A.P. Universitas Negeri Jakarta PENDAHULUAN Pemerolehan bahasa anak dan perkembangannya sangatlah menarik untuk dikaji. Di seluruh dunia, dalam pemerolehan bahasa pertama atau bahasa ibu, anak-anak menganut suatu jadwal biologis tertentu yang tidak dapat ditawar-taw ar. Kemudahan anak dalam mempelajari bahasa pertamanya tidak lepas dari masa keplastisan otak atau masa golden age yang hanya berlangsung singkat hingga anak mengalami masa puber atau masa lateralisasi (penyebelahan otak). Sesudah masa puber kemampuan pe nguasaan bahasa secara alamiah sudah tidak memungkinkan lagi. Pada masa-masa keemasaan itulah kemampuan belajar bahasa anak mencapai puncaknya. Penguasaan aksen dapat berjalan dengan sempur na, namun kemampuan logika (sintaktikal) belum berkembang dengan baik. Inilah yang memb edakan antara belajar bahasa asing pada masa kanak-kanak dan belajar bahasa asing yang dimulai pada masa remaja. Kemampuan menguasai aksen tidak akan ditemui pada ora ng dewasa yang baru belajar bahasa asing sesudah masa pubernya. Buku Child Language Acquisition and Growth menjelaskan proses-proses tahapan pemerolehan bahasa anak tersebut dengan lengkap dan mendalam. Penjelasan yang diberikan dilengkapi dengan c ontoh-contoh dari berbagai bahasa di dunia. Buku ini wajib dibaca bagi mereka yang tertarik dengan ma salah pemerolehan bahasa pertama anak. FORMAT DAN GAYA PENULISAN Buku ini terdiri atas dua belas bab dan tujuh apendik: bab 1. The Growth of Language, bab 2. What is Acquired? , bab 3. What is the problem of language acquisition?, bab 4. How we can construct a theory of language acquisition , bab 5. Brain and language development, bab 6. The nature of nurture , bab 7. How can we tell what children know? Methods for the study of language acquisition , bab 8. The acquisition of phonology, bab 9. The acquisition of syntax, bab 10. The acquisition of semantics, bab 11. On the nature of language growth, dan bab 12. Conclusion: toward an integrat ed theory of language acquisition. Tujuh apendik turut melengkapi buku yang ditulis dengan gaya bahasa yang mudah difahami dan disertai dengan permasalahan dan topik-topik penelitian terbaru yang memancing kita untuk mendalami lagi. Tujuh apendik tersebut adalah 1. Developmental milestones in motor and language development (adapted from Lenneberg 1967) , 2a. Developmental milestones in infant speech perception, 2b. Examples of sound distinctions perceived by infants , 3. Developmental milestones in infant speech production, 4. Developmental milestones in infant syntax: perception, 5. Developmental milestones in infant syntax: production , 6. Developmental milestones in infant semantics., 7. Abbreviations and notations . Huruf yang dipakai dalam buku ini meskipun agak kecil namun masih nyaman dibaca. Selain memaparkan teor i-teori secara berurutan disertai contoh-contoh yang bervariasi dan relevan pada akhir setiap bab, buku ini juga dilengkapi dengan kesimpulan dan daftar bacaan lebih lanjut. Bahasa yang di gunakan mudah dipahami, tidak berbelit,Cukup ringkas, namun mendalam. Bila melihat daftar pustaka yang digunakan penulis, maka jelaslah

Asisda Wahyu A.P. 220 penulis mampu merangkum beragam teori beserta contohnya tersebut ke dalam intisari yang cukup memudahkan pembaca untuk memahaminya. ISI BUKU Bab satu The Growth of Language Bab pertama memaparkan secara ringkas isi dalam buku, misalnya tentang logika dan pengembangan teori yang digu nakan, pertanyaan-pertanyaan penting seputar penelitian pemerolehan bahasa, teori-teori dasar, strukt ur penulisan buku, hingga kepada pembentukan teori yang komprehensif dalam pembentukan teor i pemerolehan bahasa. Pada bagian akhir bab ini dan bab-bab selanjutnya dilengkapi dengan buku-buku bacaan pendukung untuk memperdalam setiap pembahasan ya ng dikaji dalam setiap babnya. Bab dua What is Acquired? Bab ini dimulai dengan pertanyaan mendasar tent ang apa itu bahasa? apa itu pemerolehan?. Dimulai dengan penjelasan bagaiman a bahasa diperoleh, pembentukan grammar dalam otak, penerimaan otak secara auditory, pembentukan konsep-konsep sehingga manusia dapat mewujudkan tujuan atau maksud mereka dalam berkomunikasi. Penjelasan dalam bab ini cukup jelas dan terinci karena disertai contoh-c ontoh yang menjelaskan tentnag konsep-konsep tersebut. Bab tiga What is the problem of language acquisition? Bab ini memfokuskan kepada hambatan-hambata n yang dialami anak-anak dalam pemerolehan bahasanya. Hambatan ini ada yang bersifat positif (pengalaman kebahasaan) dan bersifat negatif (pembelajaran dari lingkungan). Selain dua hal tersebut diterangkan secara panjang lebar mengenai sebab-sebab yang bersifat alamia h seperti menguraikan pertumbuhan fisik yang beriringan dengan pertumbuhan bahasa hi ngga sebab-sebab secara linguistis. Bab empat How we can construct a theory of language acquisition. Dalam upaya memahami konstruksi teori pemerole han bahasa ini, pada bab empat dikemukakan tentang metode/pendekatan teor itis baik yang bersifat induktif deduktif maupun pendekatan secara empiris dan rasionalisme. Pembahasan selanjutnya diarahkan kepada Language Acquisition Device (LAD) hingga Universal Grammar-nya Chomsky. Penjelasan teori tersebut cukup spesifik dilengkapi contoh-c ontoh dari bahasa Inggris dan Spanyol. Selain itu untuk lebih mendalami tentang teori dalam merekonstr uksi pemerolehan bahasa maka dilakukan perbandingan antara teori tersebut dengan teori lainnya misalnya teori Functionalism and Competition Model (F&CM), model-model konektivisme, hingga Language Making Capacity- nya Slobin. Bab lima Brain and language development Pembahasan tentang pemerolehan bahasa tidak dapa t dilepaskan dari salah satu organ terpenting dalam diri manusia : otak. Otak memegang pe ranan penting dalam proses kebahasaan. Otak terbagi menjadi dua bagian yaitu otak kiri dan otak kanan. Dalam masa perkembangannya, menurut Lenneberg kita mengenal apa ya ng dinamakan dengan masa keemasan atau Golden Age . Selama masa ini, dimana otak masih plastis/menyatu, merupakan masa-masa terbaik anak belajar bahasa. Sayangnya, masa ini hanya be rlangsung hingga seorang anak mengalami masa puber atau masa menuju kedewasaan. Setelah masa ini secara alamiah kemampuan belajar bahasa sudah tidak dimungkinkan lagi. Teori ini telah dibuktikan dengan ketidakmampuan Genie dalam menguasai bahasa. Selain itu ba b lima ini secara ringkas membahas tentang bagian-bagian otak yang berhubungan dengan bahasa beserta efek yang ditimbulkan oleh rusaknya bagian tersebut misalnya afasia.

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 221 Bab enam The nature of nurture. Bahasa adalah salah satu elemen utama dan mendasar dalam hidup manusia. Kehadirannya pun merupakan keajaiban yang dianugrahkan Tuhan ke pada manusia. Berkaitan dengan hal tersebut pada bab ini dimulai dengan membahas pemerole han bahasa pada anak-anak yang tuli. Jika bahasa merupakan proses peniruan, apa yang dapa t ditirukan oleh anak yang tuli? Pembahasan selanjutnya dilanjutkan dengan pembahasan mengenai proses penerimaan bahasa itu yang dimulai dari proses babbling hingga terbentuknya kata maupun kalimat. Proses penerimaan ini dilakukan antara lain dengan membandingkan kemampuan pemerolehan bahasa pada anak-anak di beberapa negara seperti Pera ncis, Inggris, Swedia, hingga Jepang. Bab ini diakhiri dengan pembahasan mengenai tahapan-tahapan dala m pengalaman komunikasi kebahasaan. Bab tujuh How can we tell what children know? Methods for the study of language acquisition. Dalam bab ini dibahas tentang metode-metode dalam studi pemerolehan bahasa. mulai dari metode naturalistic hingga eksperimental. Selu ruh teori disertai contoh-contoh dan penggagas teori tersebut. Penjelasan tentang teori-teor i beserta contohnya tersebut disajikan secara bertahap mulai dari metalinguistic/grammatically judgment, speech production, imitation hingga model-model comprehension. Bab delapan The acquisition of phonology. Dalam tahap awal setelah kelahiran, bayi akan belajar mengucapkan vokal. Tahap ini merupakan jenjang tahapan pe rtama sebelum melangkah dalam pengucapan konsonan atau kombinasi keduanya sehingga menghasilkan kata -kata sederhana. Tahapan fonological inilah yang menjadi topik bahasan utama dalam bab dela pan ini. Pada bab ini juga diberikan contoh- contoh dalam banyak bahasa yang kesemuanya menunjukkan kekhasan dalam tahapan proses penguasaan fonologi seorang anak. Bab Sembilan The acquisition of syntax. Dalam tahapan selanjutnya setelah pemeroleha n fonologi, anak mulai belajar menyusun tata bahasa atau grammar. Tahapan susunan kata hi ngga membentuk kalimat yang utuh dijelaskan secara lengkap disertai contoh-contoh dalam be rbagai bahasa. Contoh yang disajikan cukup menarik karena kita dapat melihat pola-pola kebahasaan yang ditampilkan secara detil dengan penekanan pada kata-kata tertentu yang me nunjukkan tuturan tertentu seorang anak ketika mereka sedang belajar bahasa. Bab sepuluh The acquisition of semantics Kemampuan memahami makna ka ta dan rangkaiannya dalam kalimat sangat menarik untuk dikaji. Dalam bab ini dijelaskan mengenai “kreativitas” anak dalam menyusun pemahaman mereka terhadap makna suatu kata dan ra ngkaiannya. Kemampuan ini diperoleh melalui pengalaman linguistis dan pragmatik. Sama seperti bab-bab sebelumnya setiap teori selalu disertai dengan contoh-contoh yang c ukup banyak dan bervariasi. Bab sebelas On the nature of language growth Bab ini secara panjang lebar membahas tentang proses perkembangan bahasa anak. Kemampuan anak dalam merangkai kata hingga menjadi kalimat yang bermakna merupakan suatu kemampuan yang luar biasa. Jika merujuk kepada Universal Grammarnya Chomsky maka anak itu secara alamiah telah dibekali denga n kemampuan berbahasa, namun jika merujuk kepada pengalaman dalam pros es belajar dengan lingkungannya maka anak harus melewati tahapan linguistik yaitu mulai dari tahapan pe merolehan fonologi, sintaksis hingga semantik. Inilah komponen dasar dalam membangun kemampua n berbahasa anak yang dibahas dalam bab ini.

Asisda Wahyu A.P. 222 Bab dua belas Conclusion: toward an integrated theory of language acquisition Bab terakhir ini berisi rangkuman teori-teor i dalam pemerolehan bahasa. Pokok bahasan terfokus kepada kesimpulan umum yang mera ngkum berbagai pola, metode maupun berbagai pendekatan bagi anak dalam memperoleh bah asa pertamanya. Secara keseluruhan bab ini berusaha Buku karya Barbara C. Lust ini cukup le ngkap memaparkan teori beserta contoh- contohnya. Pemaduan beberapa teori yang saling mundukung dan menguraikannya secara objektif mampu membawa pembaca untuk dapat memahami pembahasan masing-masing teori dengan leluasa tanpa adanya keterpaksaan untuk me nerima teori tertentu sebagai teori yang terbaik. Contoh-contoh yang digunakan untuk menjel askan teori cukup lengkap dan bervariasi, mulai dari bahasa Inggris hingga ke bahasa Sinha la. Buku-buku rujukan lain yang diberikan di setiap akhir bab menunjukan re ferensi mana yang dapat digunakan untuk menambah pengetahuan kita tentang masa lah yang sedang dibahas. Penulis buku ini mampu menguraikan konsep -konsep yang sesungguhnya rumit dengan menggunakan bahasa yang tidak berbelit dan cont oh-contoh yang cukup bervariasi sehingga memudahkan pembaca untuk memahami maksudnya. Secara keseluruhan buku ini dapat menjadi salah satu buku teks wajib bagi dosen dan mahasiswa yang berminat mempelajari m asalah pemerolehan bahasa. Masih banyak permasalahan maupun topik penelitian yang dapat digali dari pemerolehan bahasa pada anak- anak, karena hal ini merupakan suatu masalah ha kiki yang ada dalam diri manusia itu sendiri, dan masih banyak rahasia yang belum tersingkap di dalamnya. Asisda Wahyu A.P. azizopera@yahoo.com Universitas Negeri Jakarta

Linguistik Indonesia Copyright 2010 by Masyarakat Linguistik Indonesia Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010, 223-226 Resensi Buku Judul: Investigating Workplace Discourse Penulis: Almut Koester Penerbit: London: Routledge. 2006 Tebal: 183 halaman Sri Endah Tabiati Universitas Brawijaya Earlier studies on discourse have revealed that investigating language in use is not only very interesting but also complicated. The varieties and complexities of the theories, methods and approaches applied in such studies have remark ably been able to present sophistication and explicitness of language in use (Brown and Yule 1983; Gee 1999; Salkie 1995; Van Dijk (Ed) 1985). Moreover, the integration of theoretical approaches in discourse investigation is assumed to yield more convincing findings as to balance the limitation of the research instruments employed (Van Dijk (Ed) 1985). Such an insight seems to inspire Koester to conduct research on discourse confined to a particular genre, i. e. work place talk, and published the findings in the book “Investigating Workplace Discourse”. Among the 8 chapters of the book, 6 chapters (ex cept for the first and the last chapter) provide systematic outlines which begin with introductio n and end with conclusion that preludes the subsequent topic. The introduction section in each chapter successfully guides the reader to focus on the topic discussed in the chapter. The sequence of the presentation of each section in the chapter is clear and, thus, the content is easily understood. The presentation of conclusion section serves as useful guidelines for the reader to anticipate the subsequent topics discussed in the following chapters and how each topic rela tes to the issues discussed in the previous chapters. In Chapter One (pp.1-5) Koester assists the r eader to visualize workplace discourse through the presentation of extracts of relatively long conver sation occurring in workplace, varying in terms of genres, task-orientation, attention to the re lational aspects of the encounters, the institutional context and the roles the speakers playing within it. The clear explanation describes the kinds of workplace interaction and the many different aspects and reasons underlying the speakers’ choice of lexico-grammatical items. The overv iew of the previous studies on workplace discourse presented in the chapter (pp.6-9) s hows that the study conducted by Koester was based on extensive reviews of related literatu re to support his arguments throughout the book and provide effective illustrations in the book.. Even readers with insufficient background of workplace discourse may easily be informed about the different elements, aspects, contexts, settings, roles of the participants involved in communication in the workplace. Koester assumes that small talk and issues such as politeness a nd relationship-building in workplace talk having been extensively and deeply ex plored in the previous studies still leaves much space for further investigation using more integrated approach es, i.e. the approaches which combine corpus linguistics and genre analysis (p. 9). In Chapter two Koester presents a critical revi ew of a range of approaches to analyzing workplace discourse. The thorough descriptions of approaches provide the reader with clear description of the strength and weakness of each approach. Koester suggests that workplace discourse is best analyzed using both qualitativ e and quantitative approaches. The sequential and interactional features of talk are identifie d using a qualitative approach, and the recurring features over a wide set of data can be identif ied quantitatively using corpus-based methods for

Sri Endah Tabiati 224 a comprehensive data analysis (pp 20-23). In th e chapter Koester describes the reasons for his decision on obtaining the sources of the data and the time when the data were taken. The data were collected from three different types of offi ces in Britain and the USA: university offices, editorial offices of a publishing company, and companies in the private (non-publishing) sectors with a particular purpose to broaden the scope of the study and investigate the nature of the office talk in two of the main varie ties native-speaker English (p 29). In Chapter three Koester focuses on transactional goals and accomplishment of workplace tasks. Here the ABOT (American and British Office Talk) corpus described in the previous chapter is referred in the overview and the illustrative ex amples of the most commonly occurring spoken workplace genres, such as decision-making, nego tiation and procedural/instructional discourse. Through the illustrative examples the reader learns that in relation to the pursuit of transactional goals, workplace encounters can be categorized in to “transactional” encounters (those where the participants focus on workplace task) and “non-tr ansactional” ones (those where the participants do not focus on workplace task). The transacti onal encounters are, then, categorized into “unidirectional” encounters (where one of the pa rticipants plays a dominant role to instruct, inform, order the other participants). Such encounters include “briefing”, “procedural and directive discourse”, “requesting”, and repor ting”. The second category is “collaborative” encounters (where all the participants equally c ontribute in reaching the goal of the encounters) which include “making arrangement”, discu ssing and evaluating”, “decision making” and luminal talk (pp 32-34). Between the two ki nds of transactional encounters Koester (p.47) identifies that “advice giving” is a discourse par tly belonging to “unidirectional” and, partly, collaborative” encounters. The kind of discourse uses deontic modality, such as, I dont know, I was thinking, may be, or you may to imply directives in which the other participants do not feel that an order is imposed (pp 48-49) and concludes that analysis of genres in terms of speakers’ transactional goals is felt not adequate and, thus, to examine workplace interaction, relational goals ha ve to be included, as described in the following chapter. Chapter four fills the gap in the analysis of wo rkplace interaction as mentioned in chapter three. It focuses on relational goals and provides a frame work for analyzing interpersonal dimensions of workplace talk. Within this framework non-tran sactional conversations usually take place, for example, office gossip and small talk, phatic communion (e.g. “greeting” and “leave taking”), relational episodes (small talk and office gossips occurring in the middle of transactional talk), relational sequence (remarks that are task re lated but do not actually contribute to the accomplishment of the job) (p. 58) and interperso nal markers (the use of linguistic features such as personal pronoun, specialized lexis a nd evaluative language to build group identity and cohesion) (pp. 53-58). To clarify the framework the chapter begins with the description of workplace and business relationship. Koester ar gues that relational goals and relationship buildings can be found in all aspects of wor kplace interaction. People in workplace do not only transact business but also bring with them in th e transaction some kind of individual, group or personal features and, therefore, build some kind of relationship among each other (p. 52).The chapter discusses relational goals and genre. Relational exchanges and sequences can occur within genres with clear transactional goals. During the interaction, “phatic” communication which is considered purposeless and trivial can app ear and in fact has also a role in building relationship in the interaction. There is a possi bility that a speaker switches the genre during the interaction depending on the relational goals of th e interaction. The elaborate description seems to be confusing. For this reason the chapte r provides an overview of a range of lexico- grammatical features which frequently perform in terpersonal functions, including modality (the expression of the speaker’s stance towards the pr opositional content of utterance, p 64), hedges and intensifiers (another way of expressing either commitment or detachment, p.65) , vague

Linguistik Indonesia, Tahun ke-28, No. 2, Agustus 2010 225 language (a strategy to avoid direct or clear expression, p.66) and idioms (a way to perform indirect and “off record” evaluation p.68) In chapter five Koester presents a corpus-b ased comparison across a variety of workplace genres of the linguistic features identified in the previous chapter. The chapter aims at demonstrating the application of corpus linguistic methods to the analysis of workplace data in general and comparison of genres in particular. Koester illustrates how workplace genre can be analyzed and compared using corpus linguistic methods (ABOT corpus) which have not been used extensively in previous studies of workpl ace talk. The corpus-based study discussed in the chapter shows that the frequency and use of th e interpersonal markers investigated vary considerably according to genre (p. 106). All th e investigated interpersonal markers, for example, modal verbs ( can, will, should, think), hedges (just, a bit, sort of) and intensifiers ( really, very), vague language (about, stuff, or something), idioms and metaphors (hanging over our head, par for the course ) can perform transactional as well as relational functions, and can therefore play an important role in terms of th e transactional goals of particular genre (p.72). The corpus–based study reveals many insights, but it gives unsatisfactory and incomplete picture of workplace discourse because of limited number of individual lexico-grammatical items. The speakers’ transactional and relational goa ls are not instantly revealed, but are jointly negotiated in discourse as it unfolds and develops overtime (p.107) The focus of chapter six is in-depth analysis of individual encounters to deal with the discursive and linguistic strategies employed to negotiate consensus and manage conflicts. Reading the chapter the reader learns the great variety of speakers’ strategies to pursue transactional and relational goals in workplace interaction which is asymmetrical and unequal in terms of power relationship involved because of institutional iden tities. Speakers use idioms categorized as “cultural allusion” (proverbs, maxims, a nd catch phrases, p.109) as devices in negative evaluation. The illustrative examples (pp.109- 114) convincingly present to readers the significant roles of idioms to negotiate conflicts between encounters, and thus to avoid blunt expressions which potentially pose a threat and cause other participants to lose face. It is described in the chapter (pp.115-123) that solidarity strategies are frequently applied in accomplishing institutional goals (to instruct, to re quire others to perform an action) with power relationship which is at the same time building and maintaining relationship. Chapter seven uses the frame work discussed in Chapter 4 and provides a comprehensive account in relation to speakers’ relational goals. Th e various types of relational talk identified in Chapter 4 are described in detail with illustrativ e examples (p 137). Comparing relational talk in the different genres and making a close analysis of various encounters Koester reveals the occurrence, placement and function of relationa l talk within transactional discourse (p138). The data from ABOT corpus proves that physical setting contributes to the occurrence of relational talk within transactional encounters. The length of the encounters and the nature of the task provide great possibility of relational talk occurrence. (p.138). A question whether the systematic links between genres and the occurrenc e and distribution of relational talk are found in the data is answered in Chapter 7 Chapter eight accumulates and provides key points of all the issues concerning the complicated yet challenging workplace discourse, and conclud es with suggestion for further research and areas of practical application. Future research ers on workplace discourse can use the book as an excellent reference, especially by adopting the approaches employed in the book, i.e. supplementing genre analysis and conversation anal ysis with a corpus-based approach to yield a more complete description of data (p.162). The book raises our awareness of the linguistic complexity in the workplace discourse occurring in different kinds of encounters – transacti onal and non transactional encounters, unidirectional

Sri Endah Tabiati 226 or collaborative encounters, encounters involving relational talk, etc. As Koester postulates (p.162) the insights from researchers on workplace discourse can function as feedback and input for organizations for improving the communicati on among co-workers. Relational dimension is an extremely important aspect of spoken inte raction for it gives positive influence in the achievement of the goals in business communicati on. Therefore, syllabus designers, material developers, and instructors of Business English Program are strongly suggested not to neglect interpersonal talk and relational dimension of workplace discourse. Indeed, Koester’s book generously supplements earlie r textbooks such as the ones written by McCarthy (1991) and Celce-Murcia and Olstain (2000), commonly re ferred to by those engaging in language pedagogy as the guidelines for language practitioners. REFERENCES Brown, G. and G. Yule. 1983. Discourse Analysis. Cambridge: Cambridge University Press. Celce-Murcia, M. and E. Olshtain. 2000. Discourse and Context in Language Teaching: A Guide for Language Teachers . Cambridge: Cambridge University Press. Gee, J.P. 1999. An Introduction to Discourse Analysis: Theory and Method. New York Rouledge. McCarthy, M. 1991. Discourse Analysis for Language Teachers. Cambridge: Cambridge University Press. Salkie, R. 1995. Text and Discourse Analysis. New York: Rouledge. van Dijk, T.A. (ed.). 1985. Handbook of Discourse Analysis, Volume 2 dan 3. London: Academic Press. Sri Endah Tabiati stabiati@yahoo.co.uk Universitas Brawijaya

Terima Kasih Redaksi Linguistik Indonesia mengucapkan terima kasih kepada para mitra bebestari yang telah berkena n mereview artikel-artikel ya ngditerbitkan dalam Linguistik Indonesia edisi Februari dan Agustus 2010, yaitu:1. Patrisius Istiarto Djiwandono Universitas Ma Chung 2. M. Umar Muslim Universitas Indonesia 3. Hasan Basri Universitas Tadulako 4. E. Aminudin Aziz Universitas Pendidikan Indonesia 5. Siti Wachidah Universitas Negeri Jakarta 6. A. Effendi Kadarisman Universitas Negeri Malang 7. Mahyuni Universitas Mataram 8. Dwi Noverini Djenar La Trobe University, Australia 9. Bahren Umar Siregar Unika Atma Jaya 10. Faizah Sari Unika Atma Jaya 11. Bambang Kaswanti Purwo Unika Atma Jaya 12. Yassir Nasanius Unika Atma Jaya Jakarta, Agustus 2010 Redaksi Linguistik Indonesia

FORMAT PENULISAN NASKAH Naskah, yang diketik dengan menggunakan MS Word, dikirimka n ke Redaksi, melalui e-mail pkbb@atmajaya.ac.id atau dalam bentuk disket dan satu printout. Panjang naskah, termasuk daftar pustaka, adalah minima l 15 ha laman dan maksima l 30 hala ma n, dengan spasi rangkap. Naskah disertai dengan abstrak sekitar 150 kata dan diletakkan setelah judulnaskah dan afiliasi penu lis. Abstrak untuk naskah dalam bahasa Indonesia ditulis da la m bahasa Inggris; abstrak untuk naskah bahasa Inggris ditulis dala m bahasa Indonesia. Kutipan hendaknya dipadukan dalam kalimat penulis, kecuali bila panjangnyalebih dari tiga baris. Dalam hal ini, kutipan diketik dengan spasi tunggal, diberi indensi sepu luh huruf, centered, dan tanpa tanda petik. Nama penulis yang disitir atau dirujuk hendaknya ditulis dengan urutan berikut:na ma akhir penulis, tahun penerbitan, dan nomor hala ma n (bila diperlukan). Misalnya, (Radford 1997), (Radford 1997:215). Daftar pustaka ditulis berdasarkan abjad dengan urutan berikut: Untuk buku: (1) nama akhir, (2) koma, (3) nama pertama, (4) titik, (5) tahun penerbitan, (6) titik, (7) judul buku dalam huruf miring, (8) titik, (9) kota penerbitan, (10) titik dua/kolon, (II) nama penerbit, dan (12) titik. Contoh: Hutabarat, Samuel. 1995. Pemerolehan Fonem Bahasa Batak Karo pada Anak-anak Usia Tiga Tahun. Jakarta: Gramedia. Gass, Susan M. dan. Jacqueliyn Schachter, eds. 1990. Linguistic Perspectiveson Second Language Acquisition . Cambridge: Cambridge University Press. Untuk artikel: (I) nama akhir, (2) koma, (3) nama pertama, (4) titik, (5) tahun penerbitan, (6) titik, (7) tanda petik buka, (8) judul artikel, (9) titik, (10) tanda petik tutup, (11) nama jumal dalam huruf miring, (12) volume, (13) nomor, dan (14) titik. Bila artikel diterbitkan di sebuah buku, berilah kata "Dalam" sebelum na ma editor dari buku tersebut. Buku ini harus pula dirujuk secara lengkap dalam lema tersendiri. Contoh: Gleason, Jean Berko. 1998. "The Father Bridge Hypothesis." Journal of Child Language , Vol. 14, No.3. Wahab, Abdul. "Semantik: Aspek yang Terlupakan dalam Pengajaran Bahasa." Dalam Dardjowidjojo, 1996. Catatan ditulis pada akhir naskah (endnote), tidak pada akhir hala man ( footnote).

Dokumen Terkait

Sistem Pendukung Keputusan Evaluasi Kinerja Karyawan Untuk

Sistem Pendukung Keputusan Evaluasi Kinerja Karyawan Untuk

Dalam perusahaan atau instansi yang memiliki data akademis m.

Contoh Proposal / 28 kali tayang / 356KB

The European Rendez Vous For Young Footballers

The European Rendez Vous For Young Footballers

The whole of european football at as part of its bid proposa.

Contoh Proposal / 22 kali tayang / 2,863KB

Permenpora Nomor 0059 Tahun 2013 Tentang Kepemimpinan

Permenpora Nomor 0059 Tahun 2013 Tentang Kepemimpinan

Pelatihan kepemimpinan pemuda adalah kegiatan simulasi dan p.

Contoh Proposal / 29 kali tayang / 229KB

Penjualan Paket Wisata Domestik Studi Deskriptif Upaya

Penjualan Paket Wisata Domestik Studi Deskriptif Upaya

Penjualan paket wisata domestik studi deskriptif upaya upaya.

Contoh Proposal / 17 kali tayang / 43KB

Warta 30 November 2008 Orpcorgsg

Warta 30 November 2008 Orpcorgsg

2 renungan minggu renungan minggu 30 30 30 november november.

Contoh Proposal / 21 kali tayang / 437KB

Usulan Program Kreativitas Mahasiswa Judul Program Bidang

Usulan Program Kreativitas Mahasiswa Judul Program Bidang

3 13 tujuan tujuan program kreativitas mahasiswa pengabdian.

Contoh Proposal / 25 kali tayang / 1,291KB