Bab I Pendahuluan A Latar Belakang Masalah



Keterangan eBook
Producer GPL Ghostscript 8.70
CreationDate 2015-08-03T19:02:55-07:00
ModDate 2015-08-03T19:02:55-07:00
Title Microsoft Word - i.doc
Creator PScript5.dll Version 5.2
Author pdf
Pages 13 Page
Ukuran File 89 KB
Dibuka 52 Kali
Topik Contoh Proposal
Tanggal Unggah Saturday, 19 Nov 2016 - 09:41 AM
Link Unduh
Baca Halaman Penuh BUKA
Rating eBook
Bagi ke Yang Lain

Kesimpulan

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Agama Hindu adalah agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk India. Agama ini dinamakan Hindu, karena di dalamnya mengandung ada t-istiadat, budi pekerti, dan gambaran kehidupan orang Hindu. Agama ini juga dinamakan Agama Brahma, dari agama inilah diambil kata Brahmana yang merupakan gelar bagi pemuka agama yang dipercaya karena keting gian ilmunya.1 Masyarakat pada hakekatnya terdiri dari kelas-kelas sosial se bagai unsure dan komponen dari kehidupan berkelompok (kolekif). Di dalam agama Hindu ajaran tentang masyarakat disebut dengan Kasta. Di dalam ajar an agama Hindu tentang Kasta, masyarakat dibagi menjadi empat golongan yang dapat dikategorikan sebagai kelas-kelas atau strata sosial, yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. 2 Berkenaan dengan Kasta, Kasta lahir di India berawal dari data ngnya bangsa Turan dan Arya, dimana bangsa penjajah sangat merendahkan bangsa lokal (pribumi). Kasta ini lahir dari pertemuan bangsa Arya de ngan bangsa Turan serta Bumiputera. Awal mulanya Kasta berdasarkan jenis bangsa , hal ini diperkuat 1 Ahmad Shalaby, Perbandingan Agama, Agama Agama Besar di Dunia, Hin du-Jaina-Budha (Jakarta: Bumi Aksara, 1998), h. 18. 2M. Bagri Ghazali, Studi Agama-Agama Dunia (Bagian A gama non Semetik) (Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya, 1994, h. 34.

2 oleh pendapat Weech yang mengatakan bahwa; “Bangsa Arya adalah suatu bangsa yang mempunyai kecerdasan dan tingkah laku kehidupan diatas para penduduk asli. Mereka benar-benar percaya terhadap ketinggian bang sa mereka di atas bangsa-bangsa yang lain. Perkataan “Arya” yang dinamaka n pada mereka berarti orang bangsawan. ”3 Di Indonesia, stratifikasi sosial berdasarkan Kasta dapat kita jumpai pada masyarakat Bali. Sistem Kasta yang ada di Bali merupakan prop aganda yang dilakukan oleh bangsa Portugis untuk menguasai Bali. 4 Ketika Bali dipenuhi dengan kerajaan-kerajaan kecil dan Belanda datang mempraktekkan polit ik pemecah belah, Kasta dibuat dengan nama yang diambilkan dari ajaran agama Hindu, yaitu dari Catur Warna. Lama-lama orang Bali mulai bing ung, kebingungan itu terus berlanjut yang menyebabkan susah untuk membedakan yang mana Kasta dan yang mana ajaran Catur Warna. Kesalahpaha man itu terus berkembang dan menyebar ke seluruh penjuru Nusantara. 5 Pada masyarakat Hindu di Bali telah terjadi kesalahpahaman mengenai Kasta , kekaburan dalam pemahaman atau pemaknaan Warna, Kasta, dan wangsa yang berkepanjangan. Dalam agama Hindu tidak dikenal istilah Kasta, istilah Kasta di Indonesia hanya di kenal di Bali. 6 3 Shalaby, Perbandingan Agama, h. 33. 4 Made Budiarsa, Pelaksana Bimas Hindu Kanwil, Kemena g Kal-Sel. Wawancara Pribadi, Rabu 26 Maret 2014. 5Lihat situs http://jerosetia.blogspot.com/2009/04/k asta-di-bali-kesalahpahaman-yang-sudah.html, diakses tanggal, 18/03/2014. 6Lihat situs http://cakepane.blogspot.com/2012/07/si stim-kasta-di-bali.html, diakses tanggal, 18/03/2014.

3 Di Banjarmasin, menurut Bapak Gede Budiarsa Kasta tidak ada dalam kitab Weda, Kasta adalah propaganda yang dilakukan bangsa Portugis y ang mau masuk ke Bali, itulah Kasta. Kasta sendiri berasal dari b ahasa Portugis yaitu “ Caste ” yang berarti penggelopokan atau penggolongan. Jadi Kasta yang ada di Indonesia hanya ada di Bali. Yang ada dalam agama Hindu adalah Catur Warna yaitu penggolongan berdasarkan profesi, sedangkan Kasta berdasarkan ga ris keturunan. 7 Tampaknya adanya pandangan penganut agama Hindu di Banjarmasin yang menyatakan bahwa konsep Kasta dalam agama Hindu tidak ada, ta pi yang ada adalah Catur Warna. Dan pemahaman kita selama ini mengenai Kasta adalah salah satu ajaran pokok dalam agama Hindu padahal Kasta adalah produk P ortugis dalam usaha memecah belah agama Hindu di Bali agar bisa mengua sai Bali. Dengan propaganda yang dilakukan oleh Portugis ini maka berkembanglah konsep Kasta di Bali. Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis ingin mengetahui lebih jauh mengenai konsep Catur Warna dalam agama Hindu berdasa rkan perspektif penganut agama Hindu di Banjarmasin. Bagaimana konsep Ka sta bisa berkembang dan dialamatkan pada agama Hindu? Apakah persamaan dan perbedaan konsep Catur Warna dengan Kasta? Apakah kondisi ekonomi, profesi dan pendidikan seseorang bisa mengubah posisi Catur Warnanya? Beberapa hal inilah yang menurut penulis penting untuk diteliti dari perspektif penga nut agama 7 Made Budiarsa, Pelaksana Bimas Hindu Kanwil, Kemena g Kal-Sel. Wawancara Pribadi, Rabu 26 Maret 2014.

4 Hindu di Banjarmasin. Dari latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk mengangkat skripsi dengan judul: “Catur Warna dalam Perspektif P enganut Agama Hindu di Banjarmasin”. B. Rumusan Maslalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, yang menjadi per masalahan pokok dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah konsep Catur Warna da lam perspektif penganut agama Hindu di Banjarmasin? maka demi ter arahnya penelitian ini, maka penulis menetapkan subpokok masalah sebagai berikut: 1. Apakah persamaan dan perbedaan Catur Warna dengan Kasta dalam perspektif penganut agama Hindu di Banjarmasin? 2. Apakah status ekonomi, profesi dan pendidikan seseorang dalam agam a Hindu bisa mengubah posisi Catur Warnanya? C. Penegasan Judul Untuk menghindari kesalahpahaman terhadap judul dan permasalahan di dalam penelitian ini, maka penulis perlu memberikan penegasan judul, yaitu sebagai berikut: 1. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia Catur Warna adalah pem bagian kasta ke dalam empat tingkatan, yakni Brahmana, Ksatria, Waisya dan S udra.8 Catur 8 KBBI offline Versi 1,3 Freeware ©2010-2011 by Ebta Setiawan.

5 Warna adalah penggolongan berdasarkan profesi dalam agama Hindu yang dibagi menjadi Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. 9 2. Perspektif berarti sudut pandang; pandangan. 10 Yang dimaksud perspektif di sini adalah pandangan atau pendapat Penganut agama Hindu di Banjarm asin yang meliputi konsep Catur Warna, persamaan dan perbedaan Catur Warna dan Kasta, serta kemungkinan terjadinya perubahan status ekonomi, prof esi dan pendidikan seseorang dapat berubah posisi Warnanya dalam agama Hindu. 3. Penganut agama adalah orang yang mengikuti atau menganut suatu a gama.11 Yang dimaksud di sini adalah orang yang menganut agama Hindu, mereka adalah orang yang mengerti dan menguasai ajaran agama Hindu teruta ma mengenai konsep Catur Warna, mereka adalah Pandita, Pinandita, To koh agama, Guru agama yang berdomisili di Banjarmasin. Jadi yang dimaksud penelitian ini adalah pandangang penganut a gama Hindu tentang konsep Catur Warna yang meliputi, pandangan merek a tentang konsep Catur Warna, persamaan dan perbedaan Catur Warna dengan Kasta, serta kemungkinan terjadinya perubahan status ekonomi, profes i dan pendidikan seseorang dalam konsep Catur Warna. D. Tujuan dan Signifikansi Penelitian 9 Gede Rudia Adiputra, Gita Saraswati (Mengenal Agama Hindu) (Banjarmasin: tp 1995), h. 64. 10Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pembangunan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), h. 675. 11 Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 44.

6 1. Tujuan penelitian Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mengetahui perspek tif penganut agama Hindu di Banjarmasin tentang konsep Catur Warna. Se cara khusus untuk mengetahui pandangan mereka mengenai persamaan dan perbe daan Catur Warna dengan Kasta, serta untuk mengetahui pandangan mereka kemungkinan adanya perubahan status ekonomi, profesi, dan pendidikan dala m Catur Warna. 2. Signifikansi Penelitian Signifikansi penelitian ini diharapkan berguna sebagai sumbangan ilmu pengetahuan terhadap studi agama-agama terutama pada agama Hindu tentang konsep Catur Warna. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan pencerahan terhadap pandangan masyarakat tentang konsep Catur War na dalam agama Hindu dan Perbedaannya dengan Kasta. E. Tinjauan Pustaka Setelah penulis melakukan kajian pustaka secara cermat dengan mencari naskah hasil penelitian, dan berusaha mencari tulisan-tulisan ora ng lain yang menulis tentang agama Hindu. Penulis menemukan beberapa skripsi, di antaranya: 1. Penelitian yang dilakukan oleh Noorligayati mahasiswi Jurusan P erbandingan Agama Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari Banjarmasin pada tahun 1998 . Dengan judul skripsi: “Varna dalam Pandangan Masyarakat Hindu Dhar ma di Kota Madya Banjarmasin”.

7 Pada skripsi ini, Norligayati membahas mengenai tugas-tugas dari masing-masing Varna, serta hubungan antar individu di antara varna-varna, se rta nikah beda Kasta dan peneliti terdahulu tidak terlalu luas dal am membahas kemungkinan perubahan status ekonomi, profesi dan pendidikan dapat mengubah Varnanya. Sementara, peneliti yang akan lakukan berbeda dari sisi obyeknya, yaitu berkenaan dengan persamaan dan perbedaan Catur Wa rna dengan Kasta, serta kemungkinan terjadinya perubahan posisi ekonomi, profesi, dan pendidikan dalam catur warna. 2. Penelitian yang dilakukan oleh Jamilah mahasiswi Jurusan Perbandi ngan Agama Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari Banjarmasin pada tahun 1 998. Dengan judul skripsi: “Perkawinan Menurut Agama Islam dan Agama Hi ndu (Studi Perbandingan)”. Pada skripsi ini, hal yang menjadi dasar masalah oleh penulis sebelumnya adalah mengenai bagaimana perkawinan, hakikat, tujuan dan meng apa manusia harus kawin serta perceraian dan rujuk. Sementara, pa nelitian yang akan penulis lakukan adalah menyangkut masalah Catur Warna saja dan tidak membandingkan dua agama yang berbeda, sehingga dapat penulis katakan tidak terdapat kesamaan objek yang diteliti pada skripsi in i. 3. Penelitian yang dilakukan oleh Siti Asyiah mahasiswi jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari Banjarmasin tahun 2000. D engan judul skripsi, "Konsep Keluarga Sejahtera Menurut Agama Islam d an Hindu".

8 Adapun yang dibahas dalam skripsi ini mengenai hakikat, tujuan, kriteria dan upaya mewujudkan keluarga sejahtera hidup dalam perkawinan. Adapun yang membedakan dengan penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan penulis lakukan adalah penulis akan membahas Konsep Catur Warna dalam agama Hindu. Penelitian terdahulu bersifat perbandingan dua agama sedangkan penulis tidak dan berbeda pula baik dari topik serta masalahnya. F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian dan Pendekatan Proposal penelitian ini termasuk jenis penelitian lapangan ( field research ) karena informasi atau data diperoleh di lapangan. Peneliti an ini akan berusaha mendiskripsikan pemikiran-pemikiran serta pandangan dari p enganut agama Hindu dalam bentuk uraian-uraian mengenai Catur Warna dal am agama Hindu di Banjarmasin, oleh karena itu penelitian ini termasuk penelitian kualitatif. Adapun Penelitian ini mengunakan pendekatan normatif dan sosiologis , pendekatan normatif adalah pendekatan yang beracuan pada norma-norm a (kaidah-kaidah, patokan-patokan, sastra suci agama, maupun yang me rupakan adat istiadat kebiasaan yang berlaku). 12 Jadi yang dimaksud dengan pendekatan normatif disini adalah mengunakan doktrin-normatif ajaran a gama 12 Hilman Hadikusuma, Antropologi Agama Bagian 1, cet. 1, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1983), h.12-13.

9 Hindu sendiri untuk melihat kesamaan atau ketidaksamaan ajaran dengan perspektif penganut agama Hindu di Banjarmasin terkait dengan kons ep Catur Warna. Adapun pendekatan sosiologis adalah pendekatan tentang interaksi masyarakat serta bentuk-bentuk interaksi yang terjadi antarmere ka. Menurut pendekatan sosiologi, dorongan, gagasan, dan lembaga agama mempengaruhi , dan juga dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial organisasi dan str atifikasi sosial. 13 Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui bagaimana konsep Catur Warna dalam Perspektif penganut agama Hindu di Banjarmasin j ika dihadapkan pada konsep stratifikasi sosial. 2. Objek Penelitian Yang menjadi objek penelitian ini adalah tentang Konsep Catur Warn a, persamaan dan Perbedaan Catur Warna dengan Kasta dalam Agama Hindu Dharma di Banjarmasin, kemungkinan terjadinya perubahan status ekonom i, profesi dan pendidikan seseorang dalam Catur Warnanya. 3. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini berkenaan dengan sumber data yang akan di cari atau lebih tepatnya dimaknai sebagai seseorang atau sesuatu yang mengenainya ingin di peroleh keterangan. Subjek ini adalah orang pada latar peneli tian, yaitu orang yang di manfaatkan untuk memberikan informasi tentang si tuasi dan kondisi latar penelitian. 14 Untuk menentukan siapa yang dipilih sebagai 13 Dadang Kahmad, Metode Penelitian Agama (Bandung: CV Pustaka Setia, 2000), h. 52. 14 Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif (Jakarta: Rineka, 2008), h. 188.

10 subjek yaitu, (a) Pemeluk agama Hindu yang merupakan tokoh agama Hindu seperti Pandita, Pinandita, Pemuka agama, Guru agama, dan ( b) mereka yang bisa dimintai informasi mengenai penelitian ini. Teknik pemil ihan subjek penelitian ini mengunakan metode Purposive sampling . Adapun kriteria yang menjadi subjek adalah penganut agama Hindu yang berdomisili di Banjarmasin dan menguasai pesoalan-persoalan dalam agama Hindu terutama mengenai konsep Catur Warna. 4. Sumber Data Primer dan Sekunder Yang di maksud sumber data dalam penelitian ini adalah diman a data tersebut di peroleh. Sumber data utama dalam penelitian kualitat if adalah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumenter da n lain-lain. 15 Sumber data tersebut adalah terbagi menjadi dua macam yaitu: a. Sumber Primer Sumber primer dalam penelitian ini adalah para penganut agama Hindu yang berdomisili di Banjarmasin untuk memperoleh data mengenai konsep Catur Warna, persamaan dan perbedaan Catur Warna dengan Kasta serta apakah status ekonomi, profesi dan pendidikan seseorang bisa mengubah dalam Catur Warnanya. b. Sumber Sekunder Sumber sekunder adalah dokumen terkait dengan, populasi penganut agama Hindu di Banjarmasin dan dimana saja tempat ibadah mer eka 15 Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif, h. 169.

11 termasuk juga tentang kondisi geografis dan demografis wilayah Banjarmasin. 5. Metode Pengumpulan Data Penelitian ini adalah penelitian lapangan ( field research ), dengan lokasi penelitian di Banjarmasin, kemudian dalam pengumpulan data penul is menggunakan beberapa metode sebagai berikut: a. Wawancara yaitu percakapan yang dilakukan antara peneliti (waw ancara dalam bentuk dialog) dengan informan guna memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian. 16 Adapun teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara tidak terstruktur, yaitu wawancara yang dil akukan tidak mengunakan pedoman wawancara, akan tetapi dilakukan dengan dialog bebas dengan tetap berusaha menjaga dan mempertahankan fokus pembicaraan yang relevan dengan tujuan penelitian. 17 Wawancara ini digunakan untuk menggali informasi yang berkenaan dengan konsep Catur Warna, persamaan dan perbedaan Catur Warna dengan Kasta ser ta apakah status ekonomi, profesi dan pendidikan seseorang bisa mengubah dalam Catur Warnanya di Banjarmasin. b. Studi dokumentasi yaitu mencari data yang telah tersimpan, yakni dengan mengamati catatan, transkripsi, buku, notulen rapat agenda, rekama n, dan lain-lain, 18 teknik ini dipakai untuk mencari data tentang jumlah penganut, rumah ibadah, dan persebaran penganut agama Hindu di Banjarmas in. 16 Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif, h. 127-128. 17 Rahmadi, Pengantar Metodologi Penelitian (Banjarmasin: Antasari Press, 2011), h. 68. 18 Tim Prima Pena, Kamus Ilmiah Populer (Jakarta: Gitamedia Press, 2006), h. 96.

12 c. Observasi yaitu teknik pengumpulan data atau keterangan mengenai suatu hal atau keadaan melalui pengamatan secara langsung di lapangan, 19 yaitu dengan cara mendatangi tempat ibadah, berkunjung kerumah, untuk mengali dan mengumpulkan data berkenaan dengan objek penelitian. Observasi yang digunakan adalah observasi nonsistematik. Obseva si nonsistematik adalah peneliti tidak menentukan atau mempersiapka n terlebih dahulu lingkup observasi yang akan dilakukan, 20 artinya peneliti tidak menentukan dari awal objek yang akan di observasi dilap angan. 6. Metode Analisis Data Setelah data yang telah diproses sudah dianggap sinkron, maka tahap terakhir dari laporan penelitian ini adalah analisis data. Pad a tahapan ini penulis berusaha menemukan dan mengemukakan jawaban terhadap semua permasalahan sesuai dengan objek penelitian. Metode analisis yang digunakan penulis dalam penelitian ini adala h Analisis-Diskriptif, Analisis-diskritif yaitu memberikan urai an-uraian diskripsi terkait perspektif penganut agama Hindu di Banjarmasin tentang konsep Catur Warna, mengenai persamaan dan perbedaan Catur Warna deng an Kasta serta kemungkinan terjadinya perubahan status ekonomi, profesi dan pendidikan seseorang bisa mengubah posisi Catur Warna dalam agama Hindu. G. Sistematika Penulisan 19 Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif, h. 93-94. 20 Rahmadi, Pengantar Metodologi Penelitian , h. 73.

13 Dalam sistematika penulisan penelitian ini, penulis membagi menjadi lima bab yang meliputi: Bab pertama , yaitu pendahuluan yaitu berisikan latar belakang masalah, rumusan masalah, penegasan judul, tujuan dan signifikansi peneli tian, tinjauan pustaka, metode penelitian, serta sistematika penulisan . Bab kedua , landasan teori, berkenaan dengan Catur Warna dalam agama Hindu dan konsep Stratifikasi Sosial dengan subbab agama Hindu, Penyeba ran agama Hindu di Dunia, ajaran agama Hindu serta stratifikas i Sosial. Bab ketiga , paparan data penelitian berisikan gambaran umum lokasi penelitian dan Catur Warna dalam perspektif penganut agama Hi ndu di Banjarmasin. Bab keempat, analisis data yaitu dengan mengunakan analisis normatif dan sosiologis . Bab kelima, penutup, berisikan kesimpulan dan saran-saran.

Dokumen Terkait

Tata Tertib 2014 2015 Smanlaschid

Tata Tertib 2014 2015 Smanlaschid

Peserta didik wanita memakai baju muslim dan rok pramuka 2pe.

Contoh Proposal / 16 kali tayang / 265KB

Managing Kotagede Heritage Districts After 2006 Earthquake

Managing Kotagede Heritage Districts After 2006 Earthquake

Universitas teknologi yogyakarta the project of proposal of.

Contoh Proposal / 18 kali tayang / 684KB

Masyarakat Linguistik Indonesia

Masyarakat Linguistik Indonesia

Linguistik indonesia tahun ke 31 no 2 agustus 2013 117 bahas.

Contoh Proposal / 31 kali tayang / 2,047KB

Proposal Usaha Rumput Laut Pdfsdocumentscom

Proposal Usaha Rumput Laut Pdfsdocumentscom

Proposal usaha penjualan bakso document skripsi teknik indus.

Contoh Proposal / 73 kali tayang / 27KB

Kompleksitas Pengelolaan Sumberdaya Hutan Di Era Otonomi

Kompleksitas Pengelolaan Sumberdaya Hutan Di Era Otonomi

Kut kelompok usaha tani lhp laporan hasil produksi psdh prov.

Contoh Proposal / 17 kali tayang / 719KB

Penelitian Tindakan Kelas Ptk Staffunyacid

Penelitian Tindakan Kelas Ptk Staffunyacid

Matematika fmipa uny untuk peningkatan mutu pendidikan siste.

Contoh Proposal / 12 kali tayang / 125KB